Anda di halaman 1dari 11

DISUSUN OLEH :

Gabriele Emi Badia Siburian


0961050153

PEMBIMBING :
Dr. AYUB L. PATTINAMA, SpS


PENDAHULUAN
Tiga selaput otak atau
meningen yang
membungkus otak :
duramater, araknoid,
dan piamater.
Rongga subdural ialah
rongga yang terletak
antara duramater
bagian dalam dan
araknoid.


Definisi
Perdarahan Subdural adalah pengumpulan darah di
ruangan antara bagian dalam dan bagian luar selaput
pembungkus otak. Gejala sering terjadi singkat setelah
head injury

Etiologi
Subdural hematom
biasanya disebabkan oleh
sobeknya vena di tempat
vena itu melalui rongga
subdura.
Hematom subdural kronik
biasanya dihubungkan
dengan atrofi
serebral.Perdarahan yang
lambat dari sistem vena
yang bertekanan rendah
sering bisa memperbesar
bentuk hematom sebelum
nampak tanda-tanda klinis

Perdarahan terjadi akibat trauma kecil. Anak-anak
( karena anak-anak memiliki vena-vena yang halus )
dan orang dewasa dengan atropi otak ( karena
memiliki vena-vena penghubung yang lebih panjang )
memiliki resiko yang lebih besar.
Karena otak yang bermandikan cairan cerebrospinal dapat
bergerak, sedangkan sinus venosus dalam keadaan terfiksir,
berpindahnya posisi otak yang terjadi pada trauma, dapat
merobek beberapa vena halus pada tempat di mana mereka
menembus duramater
Perdarahan subdural paling sering terjadi pada permukaan
lateral dan atas hemisferium dan sebagian di daerah
temporal, sesuai dengan distribusi bridging veins .
Patofisiologi
Karena perdarahan subdural sering disebabkan oleh perdarahan
vena, maka darah yang terkumpul hanya 100-200 cc
saja.Perdarahan vena biasanya berhenti karena tamponade
Setelah 5-7 hari --> hematom ber-reorganisasi (selesai) dalam
10-20 hari.
Darah meninggalkan jaringan yang kaya pembuluh darah -->
timbul perdarahan kecil --> hiperosmolalitas hematom subdural
--> terulang lagi timbulnya perdarahan kecil dan pembentukan
kantong subdural [cairan dan sisa darah ( higroma )]
Pergerakan sagital kepala oleh akselerasi angular (kaku ) -->
ruptur batang vena parasagital dan suatu hematom subdural
yang berat.

Klasifikasi dan Gejala
Subdural Hematom Akut
gejala neurologick yang serius dalam 24-48 jam setelah
cedera. Berkaitan dengan trauma otak berat dan
berkaitan dengan mortalitas yang tinggi.
disebabkan oleh tekanan pada jaringan otak dan
herniasi batang otak ke dalam foramen magnum, yang
selanjutnya menimbulkan tekanan pada batang otak -->
Defisit neurologik progresif --> henti napas dan
hilangnya kontrol atas denyut nadi dan tekanan darah

Hematom Subdural Subakut 48-72 jam, < 2 minggu
Gambaran klinis khas : trauma kepala menyebabkan
ketidak sadaran --> perbaikan status neurologik yang
bertahap --> tanda-tanda status neurologis yang buruk


Tingkat kesadaran menurun secara bertahap dalam
beberapa jam; Pergeseran isi intracranial dan
peningkatan tekanan intracranial akibat timbunan darah
--> herniasi unkus atau sentral --> tanda neurologic
akibat kompresi batang otak.

Penilaian tingkat kesadaran, dilakukan secara kualitatif:
a. Komposmentis
Bereaksi segera dengan orientasi sempurna, sadar akan sekeliling
orientasi, baik terhadap orang, tempat dan waktu
b. Apatis
Acuh tak acuh dengan lingkungannya
d. Samnolen
Dapat dibangunkan bila disentuh/dipanggil
e. Sopor
Dengan Rangsang nyeri yang cukup kuat penderita baru bangun
f. Soporos Coma
Keadaan tidak sadar menyerupai koma, respon terhadap nyeri masih
ada, biasanya ada inkontinensia urine, belum ada gerakan motorik
sempurna
f. Coma
Tidak sadar dan tidak berespon terhadap rangsangan nyeri

Kuantitatif GCS N 15
Perdarahan Subdural Kronik
trauma penyebab sangat sepele.
Gejala timbul setelah beberap minggu, bulan, bahkan tahun setelah cedera awal. Pada
orang dewasa, menyerupai gejala awal demensia.
Trauma pertama merobek satu vena ruang subdural perarahan lambat ke dalam ruang
subdural. Dalam 7-10 hari setelah perdarahan, darah dikelilingi oleh membrane fibrosa.
Terjadi kerusakan sel-sel darah dalam hematoma sehingga terbentuk peredaran tekanan
osmotic yang menyebabkan tertariknya cairan ke dalam hematoma. Bertambahnya
ukuran hematoma menyebabkan perarahan lebih lanjut akibat robekan membrane atau
pembuluh darah di sekelilingnya sehingga meningkatkan ukuran dan tekanan
hematoma.
Hematoma subdural kronik seringkali disebut peniru karena gejala dan tandanya tidak
spesifik, tidak terlokalisasi, dan dapat disebabkan oleh banyak proses penyakit
lain.Gejala yang paling khas adalah perubahan progresif dalam tingkat kesadaran (apati,
letargi, berkurangnya perhatian, menurunnya kemampuan menggunakan kecakapan
kognitif ). Hemianopsia, hemiparesis, kelainan pupil ditemukan pada kurang dari 50%
kasus.