Anda di halaman 1dari 6

Laporan Final

Audit Pemanfaatan Ruang Kecamatan Bantar Gebang TA 2012 I - 1



1.1. LATAR BELAKANG
RTRW KotaBekasi Tahun 2011-2031 telah ditetapkan dengan Peraturan DaerahKotaBekasi Nomor 13
Tahun 2011. Berdasarkan RTRW Kota Bekasi 2011 2031 pengalokasian kawasan perumahan adalah 11.321
hektar (54%), kawasan perdagangan dan jasaadalah 6.943 hektar (33%), dan kawasan peruntukan industri adalah
seluas 1.235 hektar (6%). Sedangkan ruang terbukahijau (RTH) ditargetkan seluas 6.315 hektar atau 30%, yang
terdiri dari RTH publik seluas 4.210 hektar dan RTH privat 2.105 hektar. Berdasarkan data penggunaan lahan
tahun 2010 tercatat RTH yang ada baru sekitar 774 hektar dan sekitar 292 hektar kawasan lindung berupa
sempadan sungai dan lain-lain, sehinggaRTH di KotaBekasi baru mencapai sekitar 5,3%.
Untuk mengimplementasikan RTRW KotaBekasi diperlukan datadan informasi pemanfaatan ruang yang
ada di masing-masing kecamatan. Data dan informasi pemanfaatan ruang yang dibutuhkan diantaranya adalah
perizinan tata ruang yang telah dikeluarkan, penggunaan lahan saat ini, status kepemilikan tanah, ketersediaan
infrastruktur dan sarana kota serta dukungan utilitas kawasan seperti jaringan air bersih, jaringan listrik,
telekomunikasi dan lain-lain.
Dari segi pertumbuhan dan perkembangan, KotaBekasi banyak mendapatkan pengaruh dari DKI J akarta,
baik positif maupun negatif. Dari sisi positif, J akartasebagai IbukotaNegarasekaligus sebagai pusat pertumbuhan
telah memberikan dampak berupaaliran investasi dan sedikit pengalihan pusat kegiatan dari J akarta. Salah satu
pengalihan kegiatan tersebut adalah ditetapkannyaBekasi sebagai kawasan industry karenaperalihan fungsi dari
J akarta menjadi kota jasa. Kawasan industri di Kota Bekasi terdapat di Kecamatan Bantargebang. Hal ini
merupakan sebuah potensi ekonomi yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian. Selain itu juga
terdapat TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantargebang di Kecamatan Bantargebang sehingga secara ke-
wilayahan,kawasan ini memiliki peran yang sangat besar. Kecamatan Bantargebang terdiri atas 4 (empat)
kelurahan, yaitu : Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Bantargebang, Kelurahan Ciketingudik dan Kelurahan
Sumurbatu dengan luas wilayah 1.855 Haatau 8,81% dari luas KotaBekasi.
J umlah penduduk Kecamatan Bantargebang pada tahun 2009 adalah 69.137 jiwa dengan kepadatan
penduduk sekitar 34 jiwa/hektar. Kondisi pemanfaatan ruang yang ada di Kecamatan Bantargebang akan
diklasifikasikan menjadi permasalahan dan potensi yang dapat dikembangkan pada setiap jenis peruntukan.
Permasalahan kawasan perumahan, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan industri dan ruang terbukahijau serta
TPA DKI J akartadan TPA KotaBekasi di Bantargebang harus diuraikan dengan jelas dan lengkap.
Berdasarkan RDTR Kota Bekasi, rencana pengembangan pusat lingkungan sebagai pusat pelayanan
ekonomi, sosial dan / atau administrasi lingkungan kotauntuk Kecamatan Bantar Gebang berpusat di Kelurahan
Bantar Gebang. Proyeksi jumlah penduduk padatiap kelurahan di tahun 2031 berdasarkan asumsi adalah sebagai
berikut :
Tabel. Luas Wilayah, Banyaknya Penduduk dan Kepadatan per-km2 Tiap Kelurahan di Kecamatan Bantar Gebang 2010
KELURAHAN LUAS
(HA)
JUMLAH
PEND
KEPADATAN
PEND
Ciketing Udik 4,835 20.420 4.208
Sumur Batu 5,689 9.861 1.733
Cikiwul 5,253 18,841 3,462
Bantar Gebang 4,185 24,983 5,970
Sumber. Laporan Akhir 2012 Lanjutan Inventarisasi, Identifikasi Status Lahan
untuk RTH dalam Rangka Pencapaian RTH Kota Bekasi
Tabel.Proyeksi Penduduk Tiap Kelurahan di Kecamatan Bantar Gebang 2031
KELURAHAN TAHUN
2015 2020 2025 2030 2031
Ciketing Udik 22,107 23,234 24,420 25,665 25,922
Sumur Batu 10,628 11,734 12,955 14,304 14,590
Cikiwul 16,307 14,624 13,114 11,761 11,507
Bantar Gebang 20,975 17,610 14,785 12,413 11,987
TOTAL 70,017 67,202 65,274 64,143 64,005
Sumber. Laporan Akhir 2012 Lanjutan Inventarisasi, Identifikasi Status Lahan untuk RTH dalam
Rangka Pencapaian RTH Kota Bekasi
Permasalahan umumyang terjadi di KotaBekasi, terutamaKecamatan Bantar Gebang dapat dinyatakan
dalamisu-isu strategis. Isu-isu strategis penataan ruang Kota Bekasi berdasarkan Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS) RTRW KotaBekasi Tahun 2010, antaralain:
1. Tingginya laju pertumbuhan penduduk.
Laju pertumbuhan penduduk rata-rataKotaBekasi padakurun waktu 2004-2007 sangat tinggi, yaitu sebesar
3,85%, bilalaju pertumbuhan ini tidak dapat dikendalikan dengan baik, makapenduduk KotaBekasi dalam
kurun waktu 18 tahun yang akan datang menjadi dua kali lipat atau menjadi sekitar 4,2 juta jiwa. J umlah
penduduk yang besar tersebut akan berimplikasi padakebutuhan ruang yang meningkat pula.
2. Tidak meratanyadistribusi penduduk.
Periode tahun 1998-2008, sebaran penduduk berdasarkan administrasi kependudukan tidak merata dengan
disparitas berkisar antara3,44% sampai 22,74%. Konsentrasi penduduk KotaBekasi paling banyak terdapat
di Kecamatan Bekasi Barat dan yang paling kecil terdapat di Kecamatan J atisampurna. Sebaran yang tidak
merata ini memerlukan penanganan tersendiri agar pemerataan pembangunan dapat menyentuh semua
lapisan masyarakat.
PENDAHULUAN
Laporan Final
Audit Pemanfaatan Ruang Kecamatan Bantar Gebang TA 2012 I - 2
3. Tingginyatingkat urbanisasi.
KotaBekasi sebagai wilayah metropolitan, memiliki dayatarik yang besar untuk tujuan urbanisasi. Kondisi
ini dapat memacu pertumbuhan penduduk dan menimbulkan ekses berupa permukiman kumuh dan
kebutuhan lapangan kerja.
4. Masih banyaknyajumlah kawasan kumuh.
Kawasan kumuh merupakan ekses dari jumlah penduduk miskin yang tinggi, yang dicirikan oleh
permukiman yang tidak memiliki prasarana sanitasi dasar dan prasarana wilayah lainnya. Sebagian dari
permukiman kumuh juga menempati kawasan ilegal yang bukan merupakan peruntukan permukiman, oleh
karena itu akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial yang memerlukan penanganan tersendiri.
Kawasan kumuh tersebar di 46 kelurahan dari 10 kecamatan di KotaBekasi.
5. Semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH)
Kecenderungan penggunaan lahan terbangun meningkat pesat di KotaBekasi, telah menekan ruang terbuka
hijau (RTH) baik yang berupa kawasan lindung maupun budidaya pertanian, menjadi kawasan terbangun.
Diperlukan upayamempertahankan RTH yang adauntuk memenuhi proporsi ruang terbukahijau perkotaan
sebesar 30%, melalui implementasi pengaturan zonasi (zoning regulation) yang efektif.
6. Tekanan terhadap keanekaragaman hayati.
Berkurangnyaruang terbukahijau (RTH) berimplikasi terhadap ekosistemalamdan binaan di KotaBekasi.
Ruang terbuka hijau pada kawasan lindung seperti sempadan sungai dan situ harus dipertahankan dan
direhabilitasi, agar kondisi ekosistemdapat pulih menuju kondisi yang lebih ideal.
7. Semakin menurunnya ketersediaan air.
Kondisi sungai dan situ sebagai sumber air permukaan semakin menunjukkan degradasi yang serius.
Sementara itu, kondisi air tanah juga semakin berkurang akibat pengambilan yang berlebih. Pemulihan
kondisi sempadan sungai dan situ, pemulihan fungsi situ, dan pengendalian pengambilan air tanah harus
menjadi upayayang perlu ditingkatkan agar deplesi air dapat diatasi.
8. Penurunan kualitas air.
Tingginyabuangan limbah domestik dan industri telah menyebabkan penurunan kualitas air. Air permukaan
di KotaBekasi umumnyatercemar ringan sampai berat. Upayapemulihan kualitas air harus menjadi program
pembangunan yang diprioritaskan.
9. Semakin memburuknya kualitas udara.
Tingginya aktivitas lalu lintas dan industri, merupakan sumber pencemaran udara. Peningkatan gas rumah
kaca(GRK) dan peningkatan debu merupakan parameter kualitas udarayang semakin menurun. Keterpaduan
dengan programlain seperti peningkatan luas RTH, merupakan upayayang diperlukan untuk menanggulangi
penurunan kualitas udara.
10. Kurang optimalnya tingkat pengelolaan TPA.
Pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Sumur Batu dan Bantar Gebang harus lebih
ditingkatkan, sehinggatidak menimbulkan dampak negatif terhadap air permukaan, air tanah, kualitas udara,
dan sosial.
11. Kemacetan lalu lintas.
Kota Bekasi sebagai wilayah metropolitan, juga berhadapan dengan tingginya jumlah kendaraan bermotor.
Kondisi ini menyebabkan kemacetan lalu lintas, terutama pada jam-jam sibuk, sehingga menimbulakn
pemborosan BBM dan pencemaran udara. Peningkatan prasaranajalan, perbaikan manajemen lalu lintas, dan
penerapan angkutan massal (rapid mass transport) merupakan kebutuhan yangmendesak bagi KotaBekasi.
12. Semakin tingginyaintensitas kejadian/ bencanabanjir.
Bencanabanjir merupakan bencana yang selelu melandaKotaBekasi. Pengembangan sistemdrainasekota
yang baik dan pengaturan tata bangunan, merupakan upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi banjir
yang selalu melanda.
13. Disparitas pertumbuhan pusat pelayanan kota.
Terdapat pusat-pusat pelayanan kota yang berkembang melebihi rencana yang telah ditentukan seperti Sub
Pusat Pelayanan KotaKawasan Pondok Gede, sementaradi sisi lain terdapat pusat-pusat pelayanan kotayang
tidak berkembang sebagaimanamestinya, seperti di Bantar Gebang dan J atisampurna.
14. Terpusatnyapelayanan kota.
Polakegiatan masyarakat masih terpusat di Kawasan Pusat Kotasehinggabangkitan dan tarikan terbesar di
Kota Bekasi masih terdapat di Kecamatan Bekasi Timur dan kelurahan-kelurahan yang beradadi Kawasan
Pusat Kota.
15. Masih kurangnyaprasaranadasar perkotaan.
Pertumbuhan penduduk yang pesat, membutuhkan peningkatan penyediaan prasaranadasar perkotaan yang
jugasemakin besar. Prasaranadasar wilayah KotaBekasi yang masih perlu ditingkatkan meliputi: air minum,
drainase, listrik, air limbah, dan persampahan.
Laporan Final
Audit Pemanfaatan Ruang Kecamatan Bantar Gebang TA 2012 I - 3
Tabel. Rangking Nilai Isu-isu Strategis Kota Bekasi
KODE ISU STRATEGIS NILAI %
RANGKING
ISU-11 Kemacetan lalu lintas 38 8,520
1
ISU-5 Semakin berkurangnya ruang terbuka hijau 35 7,848
2
ISU-8 Penurunan kualitas air 35 7,848
2
I SU-15 Masih kurangnya prasarana dasar perkotaan 35 7,848
2
I SU-1 Tingginya laju pertumbuhan penduduk 34 7,623
3
I SU-12 Semakin tingginya intensitas kejadian/ bencana banjir 33 7,399
4
I SU-3 Tingginya tingkat urbanisasi 31 6,951
5
ISU-9 Semakin memburuknya kualitas udara 31 6,951
5
ISU-7 Semakin menurunnya ketersediaan air 30 6,726
6
I SU-4 Masih banyaknya jumlah kawasan kumuh 29 6,502
7
ISU-10 Kurang optimalnya tingkat pengelolaan TPA 28 6,278
8
I SU-2 Tidak meratanya distribusi penduduk 27 6,054
9
I SU-14 Terpusatnya pelayanan kota 22 4,933
10
I SU-13 Disparitas pertumbuhan pusat pelayanan kota 21 4,709
11
ISU-6 Tekanan terhadap keanekaragaman hayati 17 3,812
12
Kajian Lingkungan Hidup Strategis Kota Bekasi 2010
Sumber. Laporan Rencana Akhir Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Sub Pusat Pelayanan Kota
Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan oleh Dinas Tata Kota Pemerintah Daerah Bekasi
2010, maka isu-isu strategis kotadiatas dapat dikategorikan dalamrangking, sebagai isu strategis dengan bobot
tertinggi padaisu kemacetan lalu lintas dan semakin menurunnya jumlah RTH (ruang terbukahijau kota), yang
akan berimbas kepada semakin memburuknya kualitas udara, menurunnya ketersediaan air tanah, dan tekanan
terhadap keanekaragaman hayati kota.
Selain itu padaisu dengan bobot menengah yang lain, adalah kurangnyaoptimalisasi tingkat pengelolaan
TPA (di Kelurahan Ciketing Udik, Sumur Batu dan Cikiwul), yang salah satunya juga dapat mengakibatkan
semakin memburuknyakualitas udara.
1.2 TUJUAN DAN SASARAN KEGIATAN
Maksud kegiatan ini adalah untuk mengetahui dayadukung pemanfaatan ruang di KotaBekasi, khususnya
di Kecamatan Bantar Gebang. Tujuan kegiatan ini adalah tersedianya data-data tentang pemanfaatan ruang di
wilayah Kecamatan Bantar Gebangbaik berupadataspasial maupun datanon spasial padatingkatan yang cukup
detail sehinggapermasalahan dan kendalapemanfaatan ruang dapat dipetakan dengan baik dan komprehensif.
Sasaran dari kegiatan ini adalah tersedianyadatadan informasi pemanfaatan ruang di KecamatanBantar
Gebang dalambentuk datateks(non spasial) dan datapeta(spasial) sebagai berikut :
a. Tersedianyakondisi dayadukung lahan terhadap aktifitas perkotaan yang adadi Kecamatan Bantar Gebang.
b. Tersedianyadatadan informasi pemanfaatan ruangmeliputi datapenggunaan lahan, datakepemilikan lahan,
dataketersediaan saranakota, infrastruktur kota,datautilitas sertadataperizinan tataruang (IPPL, Rencana
Tapak dan IMB) yang telah diterbitkan.
c. Tersusunnyarekomendasi tindak lanjut terhadap hasil auditpemanfaatan ruang
1.3. RUANG LINGKUP KEGIATAN
1.3.1. Lingkup Wilayah Perencanaan
Wilayah pekerjaan berlokasi di Kecamatan Bantar Gebang, yang meliputi 4 (empat) kelurahan, yaitu:
Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Bantargebang, Kelurahan Ciketingudik dan Kelurahan Sumurbatu dengan luas
wilayah 1.855 Haatau 8,81% dari luas KotaBekasi.
1.3.2. Lingkup Kegiatan
Ruang Lingkup Pekerjaan mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Melakukan kajian terhadap RTRW Kota Bekasi 2031 dan RDTRK Mustikajaya yang telah disusun untuk
mengetahui rencanadan kebijakan terkait wilayah Bantargebang.
b. Melakukan pengumpulan data-datahasil studi yang relevan dan informasi yang dibutuhkan terkait wilayah
Bekasi Selatan.
c. Melakukan survei terhadap pemanfaatan ruang di Kecamatan Bantar Gebang dengan menggunakan peta
minimal skala1:2500 untuk setiap kelurahan, termasuk ketersediaan prasarana, saranadan utilitas kota. Hasil
survey pemanfaatan ruang dituangkan dalambentuk SistemInformasi Geografis (SIG).
d. Menyusun rekomendasi tindak lanjut audit pemanfaatan ruang di Kecamatan Bantar Gebang
1.3.3. Lingkup Hasil Kegiatan
Keluaran dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:
a. Datakondisi pemanfaatan ruang kota(existing land use) di Kecamatan Bantar Gebang dalambentuk Sistem
Informasi Geografis (SIG).
b. Audit pemanfaatan ruang Kecamatan Bantar Gebang.
Laporan Final
Audit Pemanfaatan Ruang Kecamatan Bantar Gebang TA 2012 I - 4
1.4 PENDEKATAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN KEGIATAN
Pendekatan Kajian Pemanfaatan Ruang yang akan dilakukan adalah melakukan studi perbandingan dan
kajian terhadap kondisi pemanfaatan ruang dan kondisi infrastruktur/utilitas padatahun 2012(petafoto udaraper
blok skalakelurahan) dengan rencanadetail tata ruang kota Bekasi (RDTRK) pusat pelayanan kotaKecamatan
Bantar Gebang 2011-2031.
Materi kajian adalah sebagai berikut :
Pengkajian terhadap kecenderungan (fenomena/trend) yang terjadi terhadap pelaksanaan pemanfaatan
tata ruang (zonasi tata guna lahan) dan kondisi infrastruktur / utilitas kota yang ada di Kecamatan Bantar
Gebanghinggatahun 2012.
Pengkajian / Analisis kesesuaian pemanfaatan ruang kawasan dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota
(RDTRK 2011-2031) sebagai instrumen pengendali pemanfaatan ruang.
Perumusan rekomendasi konsep/model pengendalian pemanfaatan ruang kawasan perkotaan dan
suburban.
Secaraumum, metodeanalisis yang akan digunakan dalamkegiatan studi ini merupakan gabungan dari
analisis kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dipergunakan terutama di dalam kajian tentang
perkembangan fenomenaperubahan pemanfaatan ruang dan suburbanisasi. Pendekatan kualitatif akan diterapkan
dalamkajiantentang pelaksanaan dan prosedur pengendalian yang selamaini sudah dan sedangberjalan. Metode
analisis kuantitatif menggunakan prosedur yang terukur dan sistematis yang didukung oleh data-datanumerik.
Analisis kuantitatif yang dipakai dalamkegiatan ini adalah : Metode Analisis Sistem (analisis faktor-faktor
penyebab dalamproses pemanfaatan ruangkawasan perkotaan dan sub-urban, analisis identifikasi permasalahan
suburbanisasi, dan analisis permasalahan dalamkegiatan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan
dan sub-urban beserta faktor-faktor penyebabnya); Metode Peramalan/forecasting (analisis memperkirakan
perkembangan (trend) yang terjadi di masa depan terkait perubahan gunalahan); dan Metode Analisis Spasial
(Analisis spasial ini penting untuk mendapatkan gambaran keterkaitan di dalampermasalahan antar-wilayah
dalamwilayah studi).
Padatahap kajian/analisaterhadap kecenderungan pemanfaatan ruang (budidayadan non budidaya) serta
kecenderungan kondisi fisik infrastruktur dan utilitas kota, indikator analisauntuk tiap sub blok kawasan di tiap
Kelurahan dapat dilihat dalamtabel pembanding berikut ini.
Table. Kajian Trenda Pemanfataan Ruang (perbandingan kondisi 2010 dengan kondisi tahun 2012) di Kecamatan Bantar
Gebang
NO PEMANFAATAN RUANG KONDISI
2010
TREND
PEMANFAATAN
RUANG 2012
KECENDERUNGAN
PEMANFAATAN
RUANG (+) (-)
POLA RUANG
A. ZONA BUDIDAYA
1. PERMUKIMAN (R)
2. INDUSTRI (I)
3. PERDAGANGAN/JASA (K)
4. FASILITAS PELAYANAN
UMUM (FP)
5. RTH (H)
6. PERKANTORAN (PK1)
7. PERTAHANAN &
KEAMANAN (PK2)
B. ZONA NON BUDIDAYA
1. RTH LINDUNG (KL)
INFRASTRUKTUR
A. JARINGAN JALAN
1. ARTERI
2. KOLEKTOR
3. LINGKUNGAN
B. JARINGAN SUNGAI
C. JARINGAN SUTET
Keterangan :
(+) : perubahantatagunalahansesuai RDTRK
(-) : perubahantatagunalahantidak sesuai RDTRK
Sedangkan untuk melihat kesesuaian perkembangan tahun terkini (2012) dengan perencanaan yang akan
dijadikan acuan penataan ruang (RDTRK Bekasi 2011-2031) maka disusun tabel perbandingan kondisi fisik
struktur kotadan polaruangdalamtabel pembanding berikut ini.
Laporan Final
Audit Pemanfaatan Ruang Kecamatan Bantar Gebang TA 2012 I - 5
Table. Kajian Kesesuaian Pemanfataan Ruang (perbandingan RDTRK dengan kondisi tahun 2012) di Kecamatan Bantar
Gebang
NO PEMANFAATAN RUANG
RDTRK
2011-
2031
KESESUAIAN TATA
GUNA LAHAN
DENGAN RDTRK
(2012)
KECENDERUNGAN
PEMANFAATAN
RUANG
(+) (-)
POLA RUANG
A. ZONA BUDIDAYA
1. PERMUKIMAN (R)
2. INDUSTRI (I)
3. PERDAGANGAN/JASA (K)
4. FASILITAS PELAYANAN
UMUM (FP)
5. RTH (H)
6. PERKANTORAN (PK1)
7. PERTAHANAN &
KEAMANAN (PK2)
B. ZONA NON BUDIDAYA
1. RTH LINDUNG (KL)
INFRASTRUKTUR
A. JARINGAN JALAN
1. ARTERI
2. KOLEKTOR
3. LINGKUNGAN
B. JARINGAN SUNGAI
C. JARINGAN SUTET
Keterangan :
(+) : perubahantatagunalahansesuai RDTRK
(-) : perubahantatagunalahantidak sesuai RDTRK
Selain table perbandingan secara makro diatas, terhadap kondisi pemanfaatan ruang (pola ruang dan
struktur ruang kawasan) maka dilakukan perhitungan dan perbandingan sehingga terlihat deviasi nilai
penyimpangan terhadap kondisi pemanfaatan ruang (polaruang dan struktur ruang kawasan) tahun terkini 2012
terhadap dokumen perencanaan yang akan dijadikan acuan penataan ruang (RDTRK Bekasi 2011-2031) yang
tertuang dalamtableberikut ini. Kajian deviasi penyimpangan tersebut dilakukan terhadap kondisi pemanfaatan
ruang di tiap Kelurahan di Kecamatan Bantar Gebang. Perhitungan deviasi penyimpangan dengan rumusan
sebagai berikut :
Data RDTRK (X) Data Eksisting 2012 (Y)
------------------------------------------------------ x 100%
Data Eksisting 2012 (Y)
1.5 SISTEMATIKA PEMBAHASAN
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..........................................................................................................................
1.2. TujuandanSasaranKegiatan.....................................................................................................
1.3. RuangLingkupKegiatan...........................................................................................................
1.3.1. LingkupWilayahPerencanaan.................................................................................
1.3.2. LingkupKegiatan....................................................................................................
1.3.3. LingkupHasil Kegiatan...........................................................................................
1.4. PendekatandanMetodologi PelaksanaanKegiatan....................................................................
1.5. SistematikaPembahasan............................................................................................................
BAB 2. KAJIAN PEMANFAATAN RUANG DI KECAMATAN BANTAR GEBANG
2.1. KajianRuangTerbukaHijaudi KecamatanBantar Gebang........................................................
2.1.1. RuangTerbukaHijauBudidaya...............................................................................
2.1.2. RuangTerbukaHijauNonBudidaya(Lindung) .......................................................
2.2. KajianPemanfaatanRuangdi KecamatanBantar Gebang..........................................................
2.2.1. KajianPemanfaatanRuangdi KelurahanSumur Batu..............................................
2.2.2. KajianPemanfaatanRuangdi KelurahanBantar Gebang ........................................
2.2.3. KajianPemanfaatanRuangdi KelurahanCiketingUdik...........................................
2.2.4. KajianPemanfaatanRuangdi KelurahanCikiwul ....................................................
2.3. KesimpulanPerkembanganPemanfaatanRuangdi KecamatanBantar Gebang..........................
BAB 3. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI PENATAAN RUANG DI KECAMATAN BANTAR
GEBANG
3.1. KesimpulandanRekomendasi PemanfaatanRuangdi KelurahanBantar Gebang........................
3.1.1. KesimpulanPemanfaatanRuangdi KelurahanBantar Gebang.................................
3.1.2. Rekomendasi PenataanPemanfaatanRuangdi KelurahanBantar Gebang................
3.2. KesimpulandanRekomendasi PemanfaatanRuangdi KelurahanSumur Batu.............................
3.2.1. KesimpulanPemanfaatanRuangdi KelurahanSumur Batu......................................
3.2.2. Rekomendasi PenataanPemanfaatanRuangdi KelurahanSumur Batu.....................
3.3. KesimpulandanRekomendasi PemanfaatanRuangdi KelurahanCikiwul...................................
3.3.1. KesimpulanPemanfaatanRuangdi KelurahanCikiwul............................................
3.3.2. Rekomendasi PenataanPemanfaatanRuangdi KelurahanCikiwul...........................
3.4. KesimpulandanRekomendasi PemanfaatanRuangdi KelurahanCiketingUdik.........................
3.4.1. KesimpulanPemanfaatanRuangdi KelurahanCiketingUdik..................................
3.4.2. Rekomendasi PenataanPemanfaatanRuangdi KelurahanCiketingUdik.................
3.5. KesimpulanRekomendasi PenataanPemanfaatanRuangdi KecamatanBantar Gebang...............
Laporan Final
Audit Pemanfaatan Ruang Kecamatan Bantar Gebang TA 2012 I - 6
Table. Deviasi Penyimpangan Pemanfataan Ruang (perbandingan RDTRK dengan kondisi tahun 2012) di Kecamatan Bantar Gebang