Anda di halaman 1dari 2

Tangis

Senin, 11 Agustus 2014


Siapa tahu matahari seorang yang buta?
Les Miserables
Matahari bisa begitu terang, tapi begitu jauh dan tak peduli kesengsaraan manusia. Les Miserables, yang
terbit pertama kali 1 April 1862, ingin lebih dekat ke bumi dan peka kepada tangis Prancis. Satu baris
kalimatnya yang termasyhur: "Siapa yang tak menangis, tak melihat."
Victor Hugo ingin mata kita basah dan melihat, dengan peka, ke sekitar. Pada umumnya ia berhasil,
setidaknya di antara pembacanya 200 tahun yang lalu. Konon penerbitan pertama novel ini di Brussel
tertunda karena para juru cetak terisak-isak waktu membaca manuskripnya.
Sang novelis tak ingin jadi pemikir besar. Ia tak mau menatap semesta dan melihat sejarah semata-mata
sebagai survei wilayah. Ia tak mau sibuk dengan tata zodiak hingga ia tak melihat anak kecil yang
mencucurkan air mata.
Tak mengherankan bila novel yang terdiri atas lima bagian panjang ini padat dengan tokoh kecil yang
melata, kaya akan adegan yang menyayat hati dengan khazanah kata yang tak habis-habisnya. Paragraf
demi paragraf bergerak antara renungan sang pengarang dan dialog para peransebagian besar les
miserables, para nestapa. Fantine, gadis yang hamil, ditinggalkan pacar dan jadi pelacur; Cosette, yatim
yang terdampar; Jean Valjean, lelaki yang dihukum keras karena mencuri sepotong roti.
Tapi tak hanya itu. Novel ini memang terkadang terasa seperti sebuah melodrama yang majemuk, tapi Les
Miserables sesungguhnya sebuah novel politik. Melalui bab demi bab, kita berangsur-angsur masuk ke
dalam latar Paris menjelang Revolusi 1830. Suara rakyat, khususnya kaum buruh, makin nyaring di depan
umum, di kedai-kedai anggur dan di salon-salon pertemuan. "Demam revolusi berjangkit. Tak ada titik di
Kota Paris atau di Prancis yang bebas darinya. Urat nadi berdenyut keras di mana-mana. Bagaikan
membran yang tercipta dari inflamasi dan membentuk tubuh manusia, jaringan perkumpulan rahasia mulai
menyebar ke seluruh negeri."
Dalam jaringan itu, di kamar-kamar belakang yang setengah tersembunyi, para buruh bersumpah akan
segera turun ke jalan begitu tanda pertama dibunyikan. Dan barikade pun dibentuk. Aparat kekuasaan
ditantang. Tembak-menembak terjadi. Darah tumpah dan asap memenuhi trotoar. Di celah-celah itu,
tampak "mulut-mulut yang menyemburkan napas api", "wajah-wajah yang luar biasa".
Di adegan seperti itu kita lihat: politik adalah sebuah tiwikrama, ketika manusia bergulat untuk mengubah
keadaan jadi sebuah dunia yang lebih baik. Politik mentransformasi manusia yang rutin, terbatas, dan
terpisah-pisah, menjadi subyek yang menggerakkan dan digerakkan tuntutan yang melebihi keterbatasan
dan kepentingan dirinya.
Di Indonesia kita telah menyaksikan transformasi itu dalam politik di awal abad ke-20 semasa pergerakan
nasional dan ketika perang kemerdekaan meletus pada 1940-an: di saat seperti itu, politik tumbuh dari
tuntutan dan empatidari "melihat" dan "menangis".
Menangis, dalam pengertian ala Hugo, adalah sebuah "pengalaman ethis". Kata ini saya pinjam dari Simon
Critchley dalam Infinitely Demanding: sebuah pengalaman ketika datang tuntutan ethis dan "aku siap
mengikatkan diriku kepadanya". Dengan itu aku bertekad penuhtak sekadar memenuhi akidah
normatifkarena ada sesuatu yang keji yang terjadi.
Tuntutan itu datang dari diriku sendiri, tak diperintah. Tapi tak hanya itu. Jika ia disebut sebagai hasil nalar
atau akal budi, akal budi itusebagaimana ditunjukkan Hegel dan Marxbersifat sosial, dari proses
saling-asah-saling-asih-saling-asuh dalam sejarah. Ia bertolak dari sebuah situasi yang konkret dan
terbatas, tapi menjangkau nilai yang universal. Itulah yang tumbuh dalam diri Jean Valjean: tuntutan ethis
yang dalam, sejak ia diampuni sang padri yang ia curi perabot peraknya dan ia pukul kepalanya. Ia jadi
seorang penolong yang tanpa pamrih, tanpa ingin diakui.
Bagaimana itu mungkin? Mungkin hati nurani. Tapi dalam kata yang ringkas itu terkandung cerita
kemanusiaan yang seluruhnya terjelaskan. "Untuk menulis tentang hati nurani," kata Hugo, "andai kata pun
tentang seorang manusia semata-mata, andai kata pun tentang orang yang paling dihujat, harus kita
cernakan semua kisah epik yang definitif dan bernilai."
Kisah epik itu agaknya yang mengingatkan kita tentang tuntutan ethis yang dalam yang membuat Jean
Valjean jadi orang baik, Revolusi 1830 tak hanya huru-hara dan politik tergerak menjangkau nilai yang
universal. Saya kira Critchley benar: ethik tanpa politik itu kosong, politik tanpa ethik itu buta.
Goenawan Mohamad