Anda di halaman 1dari 3

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya memberikan pengalaman
belajar bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur
komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, guna meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan Advokasi, Bina Suasana (Social
Support) dan Gerakan Masyarakat (Empowerment) sehinga dapat menerapkan cara-cara
hidup sehat, dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat
Depkes RI (2002).

Adapun sasaran dari program PHBS tersebut mencakup lima tatanan, yaitu: tatanan
rumah tangga, institusi pendidikan, tempat kerja, tempat umum dan sarana kesehatan
(Puspromkes Depkes RI, 2006).

Menurut Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI (2006), PHBS di rumah tangga adalah
upaya memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau mampu mempraktekkan
perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.
Adapun tujuan PHBS di rumah tangga adalah sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan dukungan dan peran aktif petugas kesehatan, petugas lintas sektor,
media massa, organisasi masyarakat, LSM, tokoh masyarakat, tim penggerak PKK dan dunia
usaha dalam pembinaan PHBS di rumah tangga.
2. Meningkatkan kemampuan keluarga untuk melaksanakan PHBS berperan aktif dalam
gerakan kesehatan di masyarakat.

Sasaran PHBS tatanan rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga secara keluarga, yaitu:
pasangan usia subur, ibu hamil dan atau ibu menyusui, anak dan remaja, usia lanjut, dan
pengasuh anak (Puspromkes Depkes RI, 2006). Indikator adalah suatu petunjuk yang
membatasi fokus perhatian suatu penilaian. Adapun indikator PHBS tatanan rumah tangga
(Puspromkes Depkes RI, 2006) adalah:
a. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, yaitu pertolongan pertama pada persalinan
balita termuda dalam rumah tangga dilakukan oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan dan
paramedis lainnya)
b. Bayi diberi ASI ekslusif, adalah bayi termuda usia 0-6 bulan mendapat ASI saja sejak lahir
sampai usia 6 bulan
c. Mempunyai Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, adalah anggota-anggota rumah tangga
mempunyai pembiayaan praupaya kesehatan seperti askes, kartu sehat, dana sehat, Jamsostek
dan lain sebagainya
d. Ketersediaan air bersih, adalah rumah tangga yang memiliki akses terhadap air bersih dan
menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari yang berasal dari air dalam kemasan, air
leding, air sumur terlindung dan penampungan air hujan. Sumber air pompa, sumur dan mata
air terlindung berjarak minimal 10 meter dari tempat penampungan kotoran atau limbah
e. Ketersediaan jamban sehat, adalah rumah tangga yang memiliki atau menggunakan jamban
leher angsa dengan tangki septik atau lubang penampung kotoran sebagai pembuangan akhir
f. Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni, adalah rumah tangga yang mempunyai luas
lantai rumah yang ditempati dan digunakan untuk keperluan sehari-hari dibagi dengan jumlah
penghuni (9m2 per orang)
g. Lantai rumah bukan tanah, adalah rumah tangga yang mempunyai rumah dengan bawah atau
dasar terbuat dari semen, papan ubin dan kayu.
h. Tidak merokok dalam rumah, adalah penduduk/anggota keluarga umur 10 tahun keatas tidak
merokok dalam rumah selama ketika berada bersama anggota keluarga selama 1 bulan
terakhir.
i. Melakukan aktifitas fisik setiap hari, adalah penduduk/anggota keluarga umur 10 tahun
keatas dalam 1 minggu terakhir melakukan aktifitas fisik (sedang maupun berat) minimal 30
menit setiap hari
j. Makan buah dan sayur setiap hari, adalah anggota keluarga umur 10 tahun keatas yang
mengkonsumsi minimal 3 porsi buah dan 2 porsi sayuran atau sebaliknya setiap hari dalam 1
minggu terakhir

Program PHBS ini merupakan program nasional, sehingga tidak membuat perbedaan
indikator penilaian untuk wilayah atau kawasan tertentu, seperti wilayah pantai. Dengan
demikian dalam pelaksanaan program PHBS di kawasan pantai juga menggunakan 10
indikator PHBS yang telah ditetapkan tersebut.

Dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan PHBS tatanan rumah tangga, dibuat
suatu klasifikasi tingkat pencapaian berdasarkan 10 indikator yang ada. Target yang ingin
dicapai dari program PHBS pada substansi dasarnya adalah klasifikasi IV, sehingga
penggolongan pada klasifikasi I, II, III dapat saja digabungkan menjadi satu klasifikasi
tersendiri tanpa mengurangi makna target yang dicapai. Namun dari aspek pemantauan
pelaksanaan program hasil pelaksanaan maka dilakukan stratifikasi untuk melihat sejauh
mana hasil yang telah dicapai. Penggabungan klasifikasi I, II, dan III merupakan tingkat
PHBS yang belum mencapai target dapat dijadikan satu klasifikasi tersendiri selain tidak
mengurangi makna target, juga dapat terjadi keluarga yang berada di klasifiksi langsung
mencapai klasifikasi IV tanpa melalui tahapan klasifikasi I, II, dan III.

Pada Renstra Depkes 2005-2009, PHBS merupakan salah satu program prioritas
pemerintah melalui puskesmas dan menjadi sasaran luaran dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan (Depkes RI, 2006).
Indonesia saat ini menghadapi permasalahan masih tingginya angka penyakit infeksi juga
peningkatan penyakit degeneratif. Buruknya kondisi lingkungan serta belum baiknya perilaku
hidup bersih dan sehat di masyarakat diduga menjadi penyebab permasalahan tersebut.
Implementasi program PHBS yang telah dicanangkan pemerintah, masih menemui banyak
kendala di berbagai daerah (Timisela, 2005).

Berdasarkan hasil Susenas (Survey Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2001
menyatakan bahwa 92,0% dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok di dalam rumah
ketika bersama anggota rumah tangga lainnya, hal ini biasa dilakukan pada pagi hari disaat
sarapan bersama anak-anak dan sore sampai malam hari ketika sedang berkumpul dengan
anggota keluarganya Berdasarkan survei environmental service program (ESP) tentang
perilaku masyarakat terhadap kebiasaan mencuci tangan yang dilakukan Depkes dan instansi
lainnya pada tahun 2006 - walau penetrasi sabun telah masuk ke hampir seluruh rumah
tangga di Indonesia, rata-rata hanya 3% saja yang menggunakan sabun untuk cuci tangan,
hanya 12% yang mencuci tangan pascabuang air besar, hanya 9% yang melakukan CTPS
setelah membantu buang air besar bayi, hanya 14% CTPS dilakukan sebelum makan, 7%
sebelum memberi makan bayi dan 6% sebelum menyiapkan makanan.

Menurut Gochman dalam Notoatmodjo (2003), perilaku sehat (health behaviour)
dapat dilihat sebagai atribut-atribut personal seperti kepercayaan-kepercayaan, harapan-
harapan, motif-motif, nilai-nilai, persepsi dan unsur-unsur kognitif lainnya, sebagai
karakteristik individu meliputi unsur-unsur dan keadaan afeksi dan emosi dan sebagai pola-
pola perilaku yang tampak yakni tindakan-tindakan dan kebiasaan-kebiasaan yang
berhubungan dengan mempertahankann, memelihara dan untuk meningkatkan kesehatan.
Green (1980) menjelaskan secara umum bahwa kualitas hidup dipengaruhi oleh kesehatan,
sedangkan kesehatan dipengaruhi oleh perilaku dan gaya hidup serta lingkungan. Perilaku
dan gaya hidup dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu predisposing factors, reinforcing factors,
dan enabling factors. Ketiga faktor tersebut dipengaruhi oleh pendidikan kesehatan dan
kebijaksanaan, peraturan dan organisasi. Semua faktor-faktor tersebut merupakan ruang
lingkup dalam pelaksanaan suatu promosi kesehatan.