Anda di halaman 1dari 1

TIDAK banyak masyarakat yang

tahu dan peduli bahwa Januari lalu


pemerintah menerbitkan Peraturan
Presiden (Perpres) tentang Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Ketidaktahuan dan sepinya res-
pons masyarakat bisa disebabkan
oleh ketidaktahuan tentang apa
gunanya KKNI dan apa konsekuen-
sinya bagi perikehidupan.
Padahal, di belahan dunia lain, KKNI atau yang dikenal luas
sebagai National Qualification Framework (NQF) adalah isu
besar yang menyeret secara bersama-sama elemen dunia pen-
didikan, ketenagakerjaan, dan dunia kerja.
Menurut Perpres Nomor 8 Tahun 2012 tentang KKNI, kerang-
ka kualifikasi adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompe-
tensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan menginte-
grasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja
serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan
kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai
sektor (Pasal 1).
KKNI terdiri atas sembilan jenjang yang dimulai dari tamatan
pendidikan dasar (kualifikasi 1), pendidikan menengah baik SMA
maupun SMK (kualifikasi 2), lulusan Diploma 1 sampai Diploma 3
(kualifikasi 3, 4, dan 5), dan lulusan pendidikan profesi (kualifikasi 6)
serta S-1/Diploma 4, S-2 dan S-3 (berurutan kualifikasi 7, 8, 9).
Apa makna dan konsekuensi dari sembilan level kualifikasi
tersebut dalam konteks menyandingkan dan menyetarakan?
Sebagai contoh, sesama sarjana teknik (kualifikasi 7), tidak peduli
dari kampus perguruan tinggi negeri (PTN) top, PTN kelas bawah,
perguruan tinggi swasta (PTS) kelas top ataupun kelas ruko harus
bisa disandingkan dan disetarakan kualifikasinya, disamakan
gajinya, disamakan beban kerjanya, dan harus mampu
melakukan hal yang sama. Apakah kira-kira pendidikan tinggi di
Indonesia sudah siap disandingkan dan disetarakan seperti ini?
Demikian pula untuk jenjang sekolah menengah. Sebagai
contoh, apakah dapat terima apabila SMK disamakan kuali-
fikasinya dengan SMA? Belum lagi fakta bahwa variasi mutu
SMA/SMK juga sangat lebar. Apakah semudah itu menyand-
ingkan dan menyetarakan kualifikasi dari lulusan SMA/SMK
yang kesenjangan kualitasnya masih bagai bumi dan langit? (60)
Penulis adalah dosen Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta, mahasiswa S-3 di Newcastle University Australia.
KAMIS, 6 SEPTEMBER2012
Mahasiswa Undip
Hadiri Konferensi Munist
SEMARANG - Kebanggaan ditorehkan mahasiswa
program studi Hubungan Internasional (HI) Universitas
Diponegoro (Undip) dengan hadir sebagai undangan
dalam Konferensi Model United Nations Istanbul
(Munist) III, belum lama ini. Kegiatan itu diadakan
Yeditepe University, Istanbul, Turki.
Kepala UPT Humas Undip Agus Naryoso men-
gatakan, konferensi Internasional itu dihadiri oleh tim del-
egasi pelajar dan mahasiswa dari benua Eropa, Afrika,
dan Asia. Konferensi Internasional itu merupakan ben-
tuk simulasi sidang PBB.
Setiap pelajar dan mahasiswa berperan mewakili
negaranya. Ini konferensi ketiga yang mengangkat tema
Promoting International Peace & Security and Improving
Global Economy, katanya, kemarin.
Menurutnya, delegasi mahasiswa dari Prodi HI Undip
itu merupakan perwakilan dari Indonesia sebagai satu-
satunya negara anggota ASEAN yang ikut berkontribusi
dalam acara tersebut.
Delegasi dari Undip itu terdiri atas Bagus Wahyu
Romodon, Dewi Ayu Wulandari, Indira Anjani, dan Siva
Anggita Maharani.
Kegiatan tersebut diharapkan mahasiswa dapat
membangun jaringan lebih luas dan mampu berinterak-
si secara global. Selain itu, melalui acara tersebut, para
mahasiswa juga dapat lebih meningkatkan rasa percaya
diri. (J9-60)
Olimpiade IPASMP/MTs di Unnes
SEMARANG - Himpunan Mahasiswa IPA (Hima)
FMIPA Unnes, Sabtu 8 September 2012, pukul 07.00
menyelenggarakan olimpiade IPA terpadu tingkat
SMP/MTs atau sederajat, se eks Karesidenan Semarang,
di gedung D3 dan D4 FMIPA. Olimpiade kali kedua ini
dengan tema Build up Scientific Behavior and Critical
Thinking with Science.
Tujuannya untuk memperkenalkan IPA terpadu secara
luas kepada masyarakat dan meningkatkan persaingan,
khususnya di eks Karesidenan Semarang. Info, Wuri
085643413680, Yuyun 081902983540, Sujiono
085641673964. (C15-60)
Mahasiswa Baru Wajib
Seragam Hitam Putih
SEMARANG - Mahasiswa baru Tahun Akademik
2012/2013 Universitas Diponegoro (Undip) diharuskan
mengenakan seragam hitam putih sampai 28 Sep-
tember. Menurut Rektor Undip Prof Sudharto P Hadi,
aturan itu dimaksudkan untuk melatih kedisiplinan
mahasiswa. Selama satu bulan ini, setiap Senin maha-
siswa baru wajib mengenakan atasan putih dan bawa-
han gelap, sedangkan setiap Jumat pakai batik atau
lurik, ungkapnya.
Keharusan mengenakan seragam itu selain untuk
melatih kedisiplinan juga untuk memelihara momentum
pendidikan karakter yang baru saja mereka terima pada
saat penerimaan mahasiswa baru.
Selain itu, kebijakan ini juga untuk menumbuhkan
kebersamaan yang kuat. Harapannya, dengan menggu-
nakan seragam, mahasiswa baru akan saling mengenal
antara yang satu dan yang lain, tambahnya.
Sudharto juga menyatakan sangat baik bila antarma-
hasiswa meski beda fakultas saling mengenal. Selain
bisa mengembangkan persahabatan, hal itu juga bisa
menanamkan jejaring pada saat mereka sudah lulus
kuliah kelak. (J9-60)
OlehMuhammad Sayuti
SM/dok
Makna Kerangka Kualifikasi
Nasional Indonesia (KKNI)
DALAM beberapa tahun terakhir
Unissula terus menata diri, baik dari segi
fisik maupun nonfisik. Tak heran jika kemu-
dian kampus tampak semakin rindang,
menarik, dan diminati calon mahasiswa dari
berbagai wilayah di Indonesia.
Secara nonfisik, tentu saja konsep
pengembangan sebagai World Class
Islamic Cyber University menjadi nilai plus
yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lain.
Pesona kampus yang mengundang
keingintahuan mahasiswa mungkin hal
biasa. Menjadi hal yang membanggakan
jika kampus yang berlokasi di Jalan Raya
Kaligawe Km 4 Semarang itu juga dilirik
menjadi salah satu tempat syuting film
nasional. Salah satunya film produksi
CinemArt yang saat ini sedang hit dan
diputar di jaringan 21 dan XXI, yaitu Cinta
Suci Zahrana.
Beberapa adegan film yang diangkat
dari novel karya Habiburrahman Elshirazy
dan disutradarai sutradara senior Chairul
Umam itu mengambil lokasi di Unissula,
antara lain di kampus Fakultas Kedokteran
Gigi, ruang kerja Rektor, Badan Public
Relations, perpustakaan, taman kampus,
dan aula biro rektorat.
Syuting di Unissula baru-baru ini meli-
batkan tokoh utama antara lain Meyda
Sefira, Miller, Citra Kirana, Faradina, dan
Kholidi Asadil Alam. Kehadiran para selebri-
ti di kampus menjadi perhatian tersendiri
bagi warga kampus, termasuk orang tua
dan calon mahasiswa yang sedang
mendaftar di Unissula.
Tidak hanya menjadi tempat syuting,
bahkan beberapa mahasiswa, dosen, dan
karyawan juga ikut berpartisipasi menjadi
pemeran dan figuran dalam film tersebut.
Mereka tampak antusias dalam proses
pengambilan gambar karena selain dapat
melihat proses syuting dan bertemu aktor
ataupun aktris secara langsung, mereka
juga mendapatkan pengalaman menarik
seputar dunia film yang selama ini hanya
mereka tahu lewat televisi ataupun layar
bioskop.
Positif
Head of PR & Creativity Unissula
Trimanah MSi mengatakan, pemilihan
Unissula sebagai salah satu tempat syuting
film merupakan sebuah hal positif. Artinya,
Unissula tidak hanya sebuah tempat yang
representatif untuk mencari dan mengem-
bangkan ilmu pengetahuan untuk maha-
siswa tetapi juga mendukung aktivitas di
bidang kesenian kreatif.
Unissula memang memiliki potensi
untuk terus dikembangkan karena areal
kampusnya yang cukup luas, sekitar 35
hektare, dan strategis karena berada di tepi
jalur pantura Jateng. Pemilihan Unissula
juga membuktikan bahwa kampus tersebut
merupakan rumah yang ramah bagi semua
yang ingin berpartisipasi mengembangkan
bangsa melalui industri kreatif, termasuk
film. (Cocong AP-60)
Kementerian Lain
Diminta Buka Akses
JAKARTA- Pemerintah, dalam hal
ini Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud),
berjanji akan memberikan
kesempatan kepada para siswa
berprestasi sampai ke jenjang
pendidikan tertinggi. Namun
Kemdikbud tidak bisa memberikan
mereka akses ke dunia kerja.
Kementerian hanya mengantarkan siswa-
siswa berprestasi sampai di tingkat pendidikan
tertinggi. Jadi, kalau sudah masuk urusan dunia
kerja, itu sudah bukan urusan Dikbud, ujar
Direktur Jendral Pendidikan Menengah (Dirjen
Dikmen) Kemdikbud Hamid Muhammad,
kepada Suara Merdeka, kemarin.
Seperti diketahui, saat ini Kemdikbud sedang
menyelenggarakan Olimpiade Sains Nasional
(OSN) 2012. OSN merupakan ajang kompetisi
siswa berprestasi di bidang sains dan pen-
yaringan bibit unggul untuk dapat berkompetisi
di ajang internasional. Kepada para juara,
pemerintah berjanji akan memberikan pembi-
naan dan beasiswa.
Hamid menuturkan, siswa berprestasi
memang harus diberdayakan demi kemajuan
bangsa.
Diharapkan, perusahaan-perusahaan milik
negara ataupun nasional dapat melihat peluang
dan memberikan akses kepada mereka.
Jangan sampai, kemampuan dan potensi
baik yang dimiliki anak bangsa itu justru diman-
faatkan oleh negara lain. Kita harap, kementeri-
an lain seperti BUMN dan perusahaan-perusa-
haan nasional, multinasional dapat melihat dan
menangkap kemampuan mereka sehingga
mereka dapat diberdayakan di negara sendiri,
ungkapnya.
Membuka Akses
Terhadap lembaga penelitian, Hamid juga
berharap dapat membuka akses bagi para siswa
berprestasi itu.
Sebab, tidak sedikit dari siswa berprestasi,
khususnya di bidang sains, yang tertarik untuk
menjadi peneliti, imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Mohammad Nuh mengakui
kurang memantau keberadaan siswa-siswa
berprestasi, khususnya yang pernah mengikuti
OSN dan olimpiade sains internasional.
Untuk itu, dia berencana membuat satu sis-
tem sehingga keberadaan para siswa berprestasi
tersebut dapat terus terpantau.
Selama ini mereka terus terlepas dan tidak
terpantau. Ke depan, kita buat satu sistem yang
baik sehingga dapat kita pantau keberadaan
mereka ada mana saja. Mungkin bisa dibuat satu
komunitas, terang Nuh. (K32-60)
TEPAT pukul 12.00, bel di sekolah
SMAN 70 Jakarta berbunyi, tanda
waktu uji Olimpiade Sains Nasional
(OSN) bidang kimia berakhir. Satu per
satu peserta mulai meninggalkan
ruang ujian.
Miftau Rahman Taufik (17), ber-
jalan sembari bercanda dengan
temannya. Dia adalah salah satu
peserta OSN 2012 yang mewakili
Provinsi Jawa Tengah. Dia berasal dari
SMA Sragen Bilingual Boarding
School (SBBS) Sragen.
Kecintaan Taufik akan sains sudah
tumbuh sejak masih duduk di bangku
SMP. Dia pernah menjadi finalis OSN
bidang fisika sewaktu SMP. Namun
keberuntungan belum berpihak
kepadanya, dia tak berhasil membawa
pulang medali saat itu.
Seiring dengan berjalannya waktu,
ketika duduk di bangku SMA, remaja
kelahiran 1995 itu mulai tertarik ter-
hadap ilmu kimia. Berbagai kompetesi
di daerah pun diikutinya. Persiapan
demi persiapan dilakukannya jauh
sebelum menyambangi Jakarta untuk
berkompetesi dalam OSN kali ini.
Pembinaan di sekolah dan provinsi
pun dilakoninya dengan harapan
dapat membawa pulang medali untuk
mengharumkan Jawa Tengah.
Saya tertarik dengan kimia karena
menyenangkan. Ke depan, saya ingin
kuliah di jurusan kimia murni. Saya
ingin menjadi peneliti di luar negeri
karena penelitian di Indonesia belum
begitu dihargai, ungkapnya.
Dipinang SBBS
Sebenarnya, Taufik bukanlah putra
asli Jawa Tengah. Keberadaannya di
Sragen karena menerima pinangan
sekolah yang saat ini menjadi tempat
menimba dia ilmu. Beberapa tahun
lalu, setelah tampil di OSN tingkat
SMP, Sragen Bilingual Boarding
School menawarkan beasiswa kepa-
da remaja kelahiran Sampit, Kali-
mantan Tengah itu. Kesempatan itu
pun langsung disambutnya.
Waktu itu, daerah sama sekali
tidak memberikan penghargaan, tidak
memberikan pembinaan. Tidak ada
satu sekolah pun di tanah kelahiran
saya yang mengundang, justru provin-
si lain yang memberikan penghar-
gaan, tutur anak terakhir dari sembilan
bersaudara itu.
Selain berharap menjadi juara
dalam OSN, dia juga berharap kepada
pemerintah untuk dapat lebih memper-
hatikan siswa-siswa berprestasi.
Dia meminta pemerintah tak
mengabaikan siswa-siswa yang telah
berkompetisi di bidang sains dan perlu
terus memberikan pembinaan.
Saya harap siswa-siswa ber-
prestasi lebih dihargai oleh negara, dan
universitas bisa membuka kesem-
patan untuk menerima kita, harap
remaja yang hobi renang tersebut.
(Satrio Wicaksono-60)
SM/CocongAP
SYUTING DI UNISSULA: Adegan film Cita Suci Zahrana di kampus
Unissula. (60)
Unissula Jadi Tempat Syuting Cinta Suci Zahrana
Siswa Berprestasi Harus Diberdayakan
Olimpiade Sains Nasional 2012
Ingin Dihargai Negara
SM/SatrioWicaksono
KERJAKAN SOAL: Salah satu peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2012 jenjang sekolah
menengah mengerjakan soal, di SMAN 28 Jakarta, Rabu (5/9). (60)
SOLO - Universitas Sebelas
Maret (UNS) Surakarta dan Uni-
versiti Utara Malaysia (UUM)
mendorong bahasa Indonesia dan
Melayu menjadi bahasa tamba-
han internasional. Sebab, banyak
penduduk di dunia yang menggu-
nakan dua bahasa tersebut.
Rektor UNS Prof Dr Ravik
Karsidi MS mengharapkan Ba-
dan Pengembangan dan Pembi-
naan Bahasa yang dikenal dengan
sebutan Pusat Bahasa memper-
juangkan bahasa Indonesia dan
bahasa Melayu menjadi bahasa
internasional.
Melihat jumlah penduduk di
dunia sebenarnya memang pantas
kita perjuangkan sebagai salah
satu tambahan bahasa interna-
sional, baik dalam bahasa Melayu
maupun Indonesia, kata Ravik,
Minggu (2/9), di sela-sela seminar
internasional bertema Masa
Depan Bangsa-Bangsa Melayu di
Tengah Krisis dan Perubahan
Politik Global.
Dia mengungkapkan, saat ini
bahasa Indonesia yang mengin-
duk kepada bahasa Melayu digu-
nakan di Indonesia dengan jumlah
penduduk sekitar 240 juta jiwa.
Belum lagi di Malaysia dan seba-
gainya yang berjumlah hampir
400 juta. Ravik menilai hal itu
akan berhasil diterapkan bila
Indonesia dan Malaysia memiliki
posisi tawar yang kuat di tingkat
global.
Namun meski pengguna dua
bahasa itu banyak jumlahnya,
tidak begitu saja bisa menjadi
penekan karena unsur lain seperti
kekuatan ekonomi juga turut
memengaruhi. Jika bangsa-
bangsa di ASEAN, terutama
rumpun Melayu, bersatu dan
berjuang bersama, kemungkinan
besar hal itu bisa terwujud.
Kendala
Sementara itu, Naib Canselor
dari UUM Prof Dr Mohamed
Mustafa Ishak mengatakan,
kendala terbesar dalam memper-
juangkan kedua bahasa itu karena
banyak orang lebih suka menggu-
nakan bahasa Inggris.
Menurutnya, bila Malaysia
dan Indonesia menggerakkan dan
memasukkan bahasa kedua
negara itu ke Brunei dan diper-
bolehkan masuk misalnya, bisa
semakin membuka peluang.
Tidak ada masalah dari segi
penutur bahasa Melayu karena di
kalangan ASEAN banyak digu-
nakan. Di negara-negara Islam
hanya sekitar satu juta penutur
bahasa Arab, tetapi bahasa Me-
layu lebih dari 200 juta penutur.
Jadi, sebetulnya dasar (bahasa) di
kalangan umat Islam itu bahasa
Melayu, bukan bahasa Arab,
papar Mustafa.
Ketua Dewan Penyantun UNS
Akbar Tandjung menambahkan,
yang paling utama saat ini adalah
indikasi dari segi ekonomi perlu
ditingkatkan, baik dari kemam-
puan maupun kemajuan.
Dia tidak menampik dunia
dipengaruhi bidang itu. Apalagi
akar bahasa Indonesia juga bahasa
Melayu yang egaliter dan mem-
perlihatkan kesederajatan serta
nilai-nilai yang sangat berkaitan
dengan demokrasi itu. Menurut-
nya, hal itu tidak akan mengurangi
pilihan dari negara-negara terse-
but. (G18-37)
UNS dan UUM Dorong Bahasa Melayu Jadi Bahasa Internasional