Anda di halaman 1dari 121

i

S k r i p s i

HUBUNGAN EGOSENTRISME DENGAN
KOMPETENSI SOSIAL REMAJA SISWA SMP
MUHAMMADIYAH 22 SETIABUDI PAMULANG

Diajukan untuk memenuhi persyaratan kelulusan jenjang strata satu








Oleh:
Fauzi Rahman
NIM: 102070026038




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1431 H/2010 M

ii

HUBUNGAN EGOSENTRISME DENGAN KOMPETENSI SOSIAL
REMAJA SISWA SMP MUHAMMADIYAH 22 SETIABUDI
PAMULANG


Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana
Psikologi


Oleh:
Fauzi Rahman
NIM: 102070026038


Di Bawah Bimbingan:
Pembimbing I,


Dra. Diana Mutiah, M.Si
1967102 199603 2 001
Pembimbing II,


Natris Indriyani, M.Psi
150 411 200





FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1431 H/2010 M


iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul Hubungan Egosentrisme dengan Kompetensi Sosial Remaja Siswa
SMP Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang telah diujikan dalam sidang Munaqosyah
Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada 6 September
2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Program Strata 1 (S1) pada Fakultas Psikologi.
Jakarta, 6 September 2010
Sidang Munaqosyah

Dekan/
Ketua Merangkap Anggota




Jahja Umar, Ph.D
130 885 522
Pembantu Dekan/
Sekretaris Merangkap Anggota




Dra. Fadhilah Suralaga, M.Si
19561223 198303 2 001

Anggota:





Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si
19620724 198903 2 001





Gazi, M.Si
19711214 200701 1014







Dra. Diana Mutiah, M.Si
1967102 199603 2 001





Natris Indriyani, M.Psi
150 411 200


iv

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Fauzi Rahman
NIM : 102070026038
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Hubungan Egosentrisme dengan
Kompetensi Sosial Remaja Siswa SMP Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang adalah
benar merupakan karya saya dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunannya.
Adapun kutipan-kutipan yang ada dalam penyusunan skripsi ini telah saya cantumkan sumber
pengutipan dalam daftar pustaka.
Saya bersedia untuk melakukan proses yang semestinya sesuai undang-undang jika ternyata
skripsi ini secara prinsip merupakan plagiat atau jiplakan dari karya orang lain.
Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sebaik-baiknya.

Jakarta, September 2010

Fauzi Rahman
NIM: 102070026038

v

MOTTO



Ego adalah budak yang baik, namun tuan yang sangat buruk.
(Robert Frager, Ph.D)





Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-
suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Al Quran, surat Al Hujurat: 13)

vi

PERSEMBAHAN



Kupersembahkan Karya Penuh Makna Ini Untuk Kedua Orang Tua Tercinta,
Mama dan Papa

vii

ABSTRAK

(A) Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
(B) September 2010
(C) Fauzi Rahman
(D) Hubungan Egosentrisme dengan Kompetensi Sosial Remaja
(E) xv + 55 halaman + lampiran
(F) Remaja perlu memiliki kompetensi sosial, yakni sekumpulan kemampuan personal
individu untuk berperilaku yang sesuai dan tepat dalam berinteraksi dengan orang lain,
hingga menghasilkan hubungan sosial yang baik. Sementara itu seiring dengan
perkembangan, dalam diri remaja terdapat kecenderungan pola pikir yang dapat
menghambat penyesuaian tersebut, yakni adanya egosentrisme.
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan antara egosentrisme dengan
kompetensi sosial remaja serta mengungkap hubungan antara usia dan jenis kelamin
dengan egosentrisme dan kompetensi sosial remaja. Pendekatan yang digunakan adalah
kuantitatif dengan metode korelasional, yakni mencari hubungan antara dua variabel
yang melekat pada suatu populasi. Populasi penelitian ini adalah siswa/siswi SMP
Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang, kelas VII dan VIII, berjumlah 120 orang.
Diambil sampel secara non-probabilitas purposif sejumlah 88 orang. Dari sampel
penelitian, data dikumpulkan menggunakan dua instrumen skala perilaku model Likert.
Skala egosentrisme remaja merupakan hasil modifikasi dan penyesuaian dari dua skala
baku egosentrisme (Imaginary Audience Scale milik Walters, dkk. (1991), dan The New
Personal Fable Scale dari Alberts, dkk. (2007)). Dan skala kompetensi sosial remaja
juga merupakan hasil modifikasi dan penyesuaian dari skala baku keterampilan sosial
milik Gresham & Elliot (1990).
Dari hasil uji validitas skala, pada skala egosentrisme memuat 20 aitem valid dari 25
aitem yang diuji, dan pada skala kompetensi sosial remaja memuat 23 aitem valid dari
34 aitem yang diuji. Reliabilitas kedua skala adalah kuat, sebesar = 0,892 (N = 23)
untuk skala kompetensi sosial dan sebesar = 0,800 (N = 20) untuk skala egosentrisme
remaja. Hasil uji hipotesis dengan rumus korelasi prodect moment dari Pearson,
diketahui terdapat hubungan signifikan antara egosentrisme (baik imaginary audience
maupun personal fable) dengan kompetensi sosial remaja. Di antara subjek penelitian
tergambar bahwa rendahnya egosentrisme remaja cenderung diikuti dengan tingginya
kompetensi sosial. Sementara itu, pada variabel usia dan jenis kelamin tidak didapat
hubungan yang signifikan dengan egosentrisme dan kompetensi sosial remaja.
Selanjutnya, untuk penelitian lebih lanjut disarankan agar memperhatikan variasi dan
jumlah subjek yang diteliti, serta dapat mengembangkan instrumen penelitian yang
sebaik-baiknya.
(G) Bahan Bacaan: 30 (1976 2009)\

viii

KATA PENGANTAR

Bismillhirrahmnirrahm.
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan
nikmat, hidayah, serta pertolongan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan dan
penulisan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan Allah SWT kepada
Rasul-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW, beserta kepada seluruh keluarga, para sahabat, dan
pengikut-pengikutnya hingga akhir zaman.
Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini, penulis merasa wajib menyampaikan
rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas keterlibatan semua pihak yang telah memberi
bantuan, dorongan, serta memfasilitasi penulis selama menjalani prosesnya. Oleh karena itu,
penulis sepantasnya menyampaikan terima kasih kepada:
1) Dekan Fakultas Psikologi, Bapak Jahja Umar, Ph.D, beserta jajaran dekanat lainnya,
yakni Ibu Dra. Fadhilah Suralaga, M.Si., Ibu Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si, dan Bapak
Bambang Suryadi, Ph.D.
2) Pembimbing I, Ibu Dra. Diana Mutiah, M.Si, dan pembimbing II, Ibu Natris Indriyani,
S.Psi, M.Si. yang dengan ketulusan hati telah mencurahkan tenaga dan pikiran, serta
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyusun
skripsi ini dengan semaksimal mungkin.
3) Bapak dan Ibu dosen Fakultas Psikologi yang tidak bisa disebutkan satu per satu, yang
telah membagi ilmu serta pengetahuannya kepada penulis selama studi di kampus ini.
4) Bapak dan Ibu staf Fakultas Psikologi yang telah banyak membantu memfasilitasi
berbagai urusan penulis.
5) Bapak pimpinan beserta staf perpustakaan Fakultas Psikologi, perpustakaan utama
Univeristas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang telah membantu memfasilitasi bahan-
bahan bacaan untuk penulis selama melakukan studi dan menyusun skripsi.
6) Bapak Kepala SMP Muhammadiyah 22 Setabudi Pamulang beserta dewan guru yang
telah memfasilitasi penulis dalam penelitian, dan Bapak Kepala SMP Nusantara Plus
beserta para guru yang telah membantu penulis dalam melakukan tryout.
ix

7) Ibunda Idiniah (mama) tercinta, dan ayahanda Suyono Mulya (papa) tersayang, atas
semua cinta, kasih, doa, motivasi, dan ketulusan yang diberikan dari awal hingga akhir
penyusunan skripsi ini, serta semua yang telah dicurahkan untuk kebaikan ananda.
8) Kakak-adikku tercinta, Firmansyah, Fahmi Rifani beserta istri, Murniwati, dan Feny
Cattleya atas dorongan, dukungan, serta semangat yang diberikan.
9) Teman-teman seperjuangan, teman-teman angkatan 2002 atas perhatian, bantuan, kerja
sama, dan semangat yang diberikan.
10) Sahabat-sahabat di Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Ciputat, Ikatan Abiturient Darul Arqam, DeA 19/7, Komunitas Hijau, dan alumni SDI
Muslimat atas dorongan, perhatian, celaan membangun, guyonan menggugah, serta
semangat yang diberikan.
11) Pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu namun tak kalah memberikan
kontribusi berarti dalam penyusunan skripsi ini.


Jakarta, September 2010

Penulis

x

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN ......................... iii
LEMBAR PERNYATAAN . iv
MOTTO ............................................................................................ v
PERSEMBAHAN ............................................................................. vi
ABSTRAK ........................................................................................ vii
KATA PENGANTAR ...................................................................... viii
DAFTAR ISI ..................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ........................................................................ xiii
DAFTAR TABEL ............................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................... xv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................. 1
1.1. Latar Belakang Masalah ................................................... 1
1.2. Batasan Masalah ............................................................... 5
1.3. Rumusan Masalah ............................................................. 5
1.4. Tujuan Penelitian .............................................................. 6
1.5. Manfaat Penelitian ............................................................ 6
1.6. Sistematika Penulisan ....................................................... 7
BAB II KAJIAN TEORI ................................................................. 8
xi

2.1. Kompetensi Sosial ............................................................. 8
2.1.1. Pengertian .................................................................... 8
2.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Sosial 10
2.1.3. Kompetensi Sosial Remaja ........................................... 14
2.1.4. Aspek-aspek Kompetensi Sosial Remaja ..................... 19
2.2. Egosentrisme ...................................................................... 20
2.2.1. Pengertian ..................................................................... 20
2.2.2. Egosentrisme dalam Perkembangan Kognitif .............. 21
2.2.3. Egosentrisme Remaja ................................................... 24
2.2.4. Penyebab Egosentrisme Remaja .................................. 27
2.3. Kerangka Berpikir ............................................................. 30
2.4. Hipotesis ............................................................................ 32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN....................................... 33
3.1. Jenis dan Pendekatan penelitian ........................................ 33
3.2. Variabel Penelitian ......................... 33
3.3. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel ............. 33
3.3.1. Definisi Konseptual Variabel ... 33
3.2.2. Definisi Operasional Variabel ...................................... 34
3.4. Populasi dan Sampel .......................................................... 35
3.4.1. Populasi ........................................................................ 35
3.4.2. Sampel .......................................................................... 35
3.5. Pengumpulan Data ............................................................. 35
xii

3.5.1. Metode Pengumpulan Data .......................................... 35
3.5.2. Instrumen Penelitian ..................................................... 36
3.5.3. Pengujian Instrumen dan Analisis Data ....................... 37
3.6. Prosedur Penelitian ............................................................ 37
BAB IV HASIL PENELITIAN ....................................................... 39
4.1. Gambaran Subjek penelitian .............................................. 39
4.2. Presentasi dan Analisis Data .............................................. 40
4.2.1. Uji Instrumen Penelitian ............................................... 40
4.2.1.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala
Kompetensi Sosial ...............................................

40
4.2.1.2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala
Egosentrisme Remaja ..........................................

41
4.2.2. Deskripsi Hasil Penelitian ............................................ 43
4.2.2.1. Kategorisasi Variabel .............................................. 43
4.2.2.2. Uji Hipotesis ........................................................... 45
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN ........................ 49
5.1. Kesimpulan ........................................................................ 49
5.2. Diskusi ............................................................................... 49
5.3. Saran .................................................................................. 51
DAFTAR RUJUKAN ....................................................................... 53

xiii

DAFTAR GAMBAR


Gambar 2.1. Bagan Kerangka Berpikir ........................................................... 31

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Cetak Biru Skala Egosentrisme ................................................ 36
Tabel 3.2. Cetak Biru Skala Kompetensi Sosial Remaja ......................... 37
Tabel 4.1. Distribusi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia ....... 39
Tabel 4.2. Cetak Biru Skala Kompetensi Sosial Remaja Setelah Uji
Validitas .....................................................................................

41
Tabel 4.3. Cetak Biru Skala Egosentrisme Remaja Setelah Uji
Validitas .....................................................................................

42
Tabel 4.4. Deskripsi Statistik Masing-masing Variabel ........................... 43
Tabel 4.5. Kategorisasi Egosentrisme ........................................................ 43
Tabel 4.6. Kategorisasi Kompetensi Sosial ................................................ 44
Tabel 4.7. Tabulasi Silang Kategori Variabel ........................................... 44
Tabel 4.8. Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial dengan Egosentrisme.. 45
Tabel 4.9. Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial dengan Imaginary
Audience ...

46
Tabel 4.10. Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial Dengan Personal
Fable ....

46
Tabel 4.11. Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial, Egosentrisme dan
Usia ..

47
Tabel 4.12. Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial, Egosentrisme dan
Jenis Kelamin ..

48


xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Kompetensi Sosial Remaja (tryout)
Lampiran 2 Skala Egosentrisme Remaja (tryout)
Lampiran 3 Skor Hasil Tryout
Lampiran 4 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Lampiran 5 Surat Keterangan SMP Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang
Lampiran 6 Skala Kompetensi Sosial Remaja
Lampiran 7 Skala Egosentrisme Remaja
Lampiran 8 Skor Penelitian
Lampiran 9 Descriptive Statistics dan Uji Korelasi

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Proses sosialisasi merupakan salah satu tugas perkembangan terpenting
bagi anak-anak juga remaja. Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1980) tugas
perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar suatu periode
tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa
bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas
berikutnya; dan kalau gagal, menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam
menghadapi tugas-tugas berikutnya. Ditambahkan bahwa beberapa dari tugas-
tugas perkembangan itu muncul sebagai akibat dari sejumlah faktor, pertama
faktor kematangan fisik, seperti belajar berjalan; kedua faktor tuntutan budaya
dari masyarakat, seperti belajar membaca; dan ketiga faktor aspirasi individual,
seperti memilih dan mempersiapkan pekerjaan. Namun pada umumnya, tugas-
tugas perkembangan muncul dikarenakan ketiga faktor tersebut secara sekaligus.
Seiring pertumbuhan dan perkembangan individu, aktivitas sosialisasinya
terus meningkat. Pada tiap-tiap tahap perkembangan muncul berbagai keadaan
tipikal yang dapat mendukung atau malah menghambat proses sosialisasi tersebut.
Salah satu tahap perkembangan yang paling krusial dan juga kritis adalah saat
mencapai masa remaja. Masa remaja dikenal sebagai masa transisi dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa. Di masa tersebut individu muda banyak mengalami
perubahan, meliputi perubahan pada fisik, mental, emosional, serta sosial.
Perubahan-perubahan itu cenderung membuat remaja mengalami kesulitan dalam
menyesuaikan diri. Dahsyatnya perubahan dalam fisik, mental-psikis, serta sosial
2


remaja menyebabkan kegoncangan dalam dirinya. Hingga remaja seringkali
menampilkan perilaku-perilaku yang buruk, atau bahkan menyimpang dari norma.
Dalam laporan tahunan dari Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro
Jaya), dinyatakan bahwa angka kenakalan remaja mengalami kenaikan sepanjang
tahun 2009 . Kenaikan yang terjadi bahkan melonjak drastis jika di banding tahun
2008. Di tahun 2009, terjadi 26 kasus kenakalan remaja, yaitu mengalami
kenaikan 160 persen jika dibanding tahun 2008 yang hanya mencapai 10 kasus
(Republika, 2009/12/30).
Dalam konteks tugas perkembangan dan proses sosialisasi, fenomena
kondisi remaja tersebut jelas menjadi hambatan dalam perkembangan sosialnya.
Para remaja yang terjebak dalam kecenderungan perilaku-perilaku bermasalah
akan mendapat stigma buruk yang kuat dari masyarakat. Akibatnya mereka akan
menemui kesulitan untuk mengembangkan perilaku sosial yang baik karena
lingkungan sosial terlanjur memberi cap buruk terhadap mereka. Untuk
penyesuaian diri serta sosial yang baik, remaja sebenarnya dapat mengembangkan
sejumlah kemampuan dan perilaku positif dalam pergaulannya di lingkungan
sosial. Kemampuan itu dapat disebut sebagai kompetensi sosial. Secara sederhana,
kompetensi sosial dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bertindak secara
bijaksana dalam hubungan antar manusia (Thorndike, 1920, dalam Smart &
Sanson, 2003).
Sebuah penelitian baru-baru ini di Amerika menyebutkan bahwa anak-
anak muda yang memiliki masalah perilaku diketahui memiliki kompetensi sosial
yang rendah (Groot, 2009). Penelitian tersebut dilakukan pada 113 remaja (62
orang laki-laki, dan 51 orang perempuan) yang diidentifikasi mengalami
3


gangguan emosional berat (serious emotional disturbances-SEDs) dan dirawat
pada sebuah pusat perawatan setempat. Hasilnya ditemukan bahwa subjek
penelitian tersebut memang memiliki masalah perilaku yang serius dan
kekurangan dalam kompetensi sosialnya. Jadi, terdapat hubungan negatif
signifikan antara masalah perilaku remaja dengan kompetensi sosialnya.
Secara positif kompetensi sosial banyak terkait dengan sejumlah perilaku
sosial yang baik dan memberi kontribusi terhadap tercapainya penyesuaian
terhadap lingkungan sosial yang baik. Sebuah studi dilakukan oleh Smart &
Sanson (2003) terhadap 940 anak muda Australia (41 persen laki-laki dan 59
persen perempuan) yang berusia 19-20 tahun untuk mengungkap hubungan antara
kompetensi sosial dengan beberapa aspek dari penyesuaian dan kebaikan diri
(seperti memiliki hubungan yang erat dengan orangtua, kemampuan komunikasi
yang baik, kualitas pertemanan yang baik, dan sikap sosial yang baik). Kemudian
diketahui bahwa anak-anak muda yang memiliki kompetensi sosial yang tinggi
diketahui lebih memiliki hubungan yang erat serta jarang mengalami konflik
dengan orangtua mereka. Di samping itu, mereka juga lebih dapat memiliki
hubungan pertemanan yang berkualitas dan sedikit mengalami keterasingan oleh
teman-teman. Jadi disimpulkan bahwa sejumlah aspek dari kompetensi sosial
yang dimiliki para subjek dapat menjadi faktor penting dalam penyesuaian dan
kebaikan diri mereka.
Studi mengenai kompetensi sosial remaja yang dilakukan di Indonesia
juga mengungkapkan fakta yang sejalan. Misalnya, berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Amri (2005) diketahui bahwa remaja putri yang memiliki body
image yang positif memiliki kompetensi sosial yang tinggi, demikian sebaliknya
4


yang memiliki body image negatif memiliki kompetensi sosial yang rendah.
Selain itu, menurut hasil penelitian Santoso (2009), didapat remaja perempuan
memiliki kepercayaan diri dan kompetensi sosial yang lebih tinggi ketimbang
remaja laki-laki. Dari kedua penelitian tersebut, diketahui bahwa kompetensi
sosial memiliki kaitan yang positif dengan kepercayaan dan pencitraan diri
remaja.
Saat memasuki masa remaja mulai muncul suatu ciri pemikiran khusus
yang disebut dengan egosentrisme remaja. Secara umum, egosentrisme dimaknai
sebagai keterbatasan membedakan hubungan subjek-objek (Piaget, 1929 & 1958,
dalam Greene, Walters, Rubin, & Hale, 1996). Secara lebih spesifik, egosentrisme
remaja merujuk pada kesadaran individu bahwa ia menjadi pusat perhatian
lingkungan sosialnya, dibarengi dengan pemikiran bahwa selain dirinya tidak ada
orang yang memahaminya. Beberapa studi melaporkan bahwa egosentrisme
berkaitan dengan hubungan interpersonal remaja, yakni tingkat egosentrisme yang
tinggi pada diri remaja berhubungan dengan macam-macam masalah dalam
hubungan interpersonalnya (Jahnke, HC & Blanchard-Fields, F, 1993; Vartanian,
LR, 2001; Burack, JA, Flanagan, T, Peled, T, Sutton, HM, Zygmuntowicz, C, &
Manly, JT, 2006; dalam Yamamoto, M, Tomotake, M, & Ohmori, T, 2008).
Penelitian lain mengenai egosentrisme remaja menunjukkan bahwa nilai
yang tinggi pada aspek egosentrisme remaja berhubungan dengan rendahnya nilai
penyesuaian (adjusment), serta besarnya depresi dan perasaan kesepian
(loneliness) (Goossens, dkk, 2002; Schonert-Reich, 1994, dalam Smetana &
Villalobos, Lerner, & Steinberg, 2009). Diketahui pula bahwa tingginya
egosentrisme berhubungan dengan rendahnya harga diri remaja (Ryan &
5


Kuczkowski, 1994, dalam Smetana & Villalobos, Lerner & Steinberg, 2009). Dari
beberapa hasil temuan penelitian mengenai egosentrisme di atas dapat dikatakan
bahwa fenomena egosentrisme remaja memiliki hubungan dengan sejumlah
perilaku sosial remaja.
Berdasarkan fakta tersebut di atas serta menyadari pentingnya aspek
kompetensi sosial pada diri remaja, maka penulis merasa tertarik untuk
mengungkap hubungan antara egosentrisme remaja dengan kompetensi sosialnya
melalui penelitian ini.

1.2. Batasan Masalah
Adapun pada penelitian ini, masalah penelitian dibatasi seperti sebagai
berikut:
Egosentrisme remaja yang dimaksud adalah kecenderungan untuk
memandang dunia dari perspektif pribadi seseorang tanpa menyadari bahwa
orang lain bisa memiliki sudut pandang yang berbeda. Kecenderungan
tersebut memiliki dua bentuk berbeda, yakni imaginary audience dan
personal fable.
Kompetensi sosial remaja adalah sejumlah kemampuan dan perilaku remaja
yang digunakan untuk bertindak secara bijaksana dalam hubungan sosial.
Sebagai subjek pada penelitian ini adalah remaja awal siswa/siswi SMP
Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang dengan rentang usia 11-14 tahun.

1.3. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah seperti dipaparkan di
atas, maka masalah-masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut:
6


Apakah terdapat hubungan antara egosentrisme dengan kompetensi sosial
remaja?
Apakah terdapat hubungan antara imaginary audience dengan kompetensi
sosial remaja?
Apakah terdapat hubungan antara personal fable dengan kompetensi sosial
remaja?
Apakah terdapat hubungan antara usia, egosentrisme dengan kompetensi
sosial remaja?
Apakah terdapat hubungan antara jenis kelamin, egosentrisme dengan
kompetensi sosial remaja?

1.4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan bertujuan untuk mengungkap hubungan
antara egosentrisme dengan kompetensi sosial remaja serta mengungkap
perbedaan usia dan jenis kelamin dalam hubungan egosentrisme dengan
kompetensi sosial remaja.

1.5. Manfaat Penelitian
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam
menyediakan/menambah data-data empiris mengenai tema penelitian, sekaligus
menambah khazanah dan wawasan keilmuan di bidang psikologi perkembangan
atau pendidikan.
Sedangkan secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi
informasi kepada orangtua dan guru mengenai perkembangan perilaku sosial
7


remaja sehingga dapat dikembangkan pola asuh dan didik yang sesuai dengan
perkembangannya.

1.6. Sistematika Penulisan
Penelitian ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab 1, merupakan pendahuluan. Mencakup latar belakang masalah
penelitian, lalu identifikasi, pembatasan, serta rumusan masalah.
Selanjutnya tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
Bab 2, kajian teori. Berisi penjelasan teoritis mengenai permasalahan yang
diteliti, kerangka berpikir peneliti, dan pengajuan hipotesis oleh peneliti.
Bab 3, metodologi penelitian. Mengungkapkan metodologi penelitian yang
digunakan dalam penelitian, meliputi pendekatan penelitian, variabel-
variabelnya, teknik pengambilan sampel dan pengumpulan data, serta
prosedur penelitian.
Bab 4, presentasi dan analisa data. Menjelaskan tentang hasil-hasil
penelitian yang diperoleh mencakup gambaran umum responden, hasil uji
instrumen penelitian, dan deskripsi hasil akhir penelitian.
Bab 5, merupakan penutup. Berisi kesimpulan umum penelitian, diskusi,
dan saran-saran.

8


BAB II
KAJIAN TEORI

2.1. Kompetensi Sosial
2.1.1. Pengertian
Definisi dari kompetensi sosial adalah sama banyaknya dengan jumlah
peneliti yang mengkajinya (Rubin & Rose-Krasnor, 1992 dalam Meisels,
Atkins-Burnett, & Nicholson, 1996), sekaligus memuat variasi makna yang
banyak pula. Berikut beberapa pengertian kompetensi sosial menurut
beberapa peneliti.
Kompetensi sosial dapat diartikan sebagai sejumlah kemampuan serta
perilaku yang meliputi aspek sosial, emosional, dan kognitif yang dibutuhkan
anak-anak untuk dapat menyesuaikan diri sebaik-baiknya dengan masyarakat
(Welsh & Bierman, 2001).
Ford (1982), Waters & Sroufe (1983), & Zigler (1973) dalam Chen,
Li, Li, Li, & Liu (2000) mendefinisikan kompetensi sosial sebagai
kemampuan untuk bertindak secara efektif dan tepat pada berbagai situasi
sosial. Ditambahkan bahwa aspek efektivitas dan penerimaan sosial
merupakan dua hal yang paling sering ditekankan dalam pengertian
kompetensi sosial. Artinya, seseorang yang memiliki kompetensi sosial yang
tinggi cenderung menampilkan perilaku yang efektif dan dapat diterima
dalam hubungan sosialnya.
Senada dengan pengertian di atas, Meisels, Atkins-Burnett, &
Nicholson (1996) berpendapat bahwa kompetensi sosial adalah sejumlah
keterampilan dan perilaku dari seorang anak yang menuntunnya menuju hasil
9


hubungan sosial yang baik dan menghindarkannya dari respon-respon sosial
yang buruk. Mereka lantas mengajukan beberapa kriteria pencapaian
kompetensi sosial, di antaranya:
a) Adanya kebaikan (kindness), kerja sama (cooperation), dan kerelaan
yang pantas (appropriate compliance), serta tidak menampilkan sikap
bermusuhan atau menentang.
b) Ekstroversi (kecenderungan untuk menampilkan minat terhadap orang
atau sesuatu hal), seperti bersosialisasi secara aktif, dan tidak takut-
takut atau menarik diri dalam berinteraksi dengan orang lain.
c) Memiliki kemampuan komunikasi sosial, misalnya mampu memahami
bahasa non-verbal orang, mampu berhumor dan menanggapi humor
orang, serta mampu secara tepat mengajukan dan merespon usul.
Selanjutnya, Gresham & Elliot (1990, dalam Smart & Sanson, 2003)
memaknai kompetensi sosial sebagai cara-cara berperilaku yang dipelajari
agar seseorang dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Cara-cara
tersebut meliputi sejumlah tindakan dan respon individu yang pantas secara
sosial, seperti berbagi, menolong, bekerja sama, memulai hubungan
interpersonal, peka dalam berinteraksi dengan orang, dan menghadapi situasi
konflik dengan baik.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil titik temu bahwa
kompetensi sosial adalah sekumpulan kemampuan personal individu untuk
berperilaku yang sesuai dan tepat dalam berinteraksi dengan orang lain,
hingga menghasilkan hubungan sosial yang baik.

10


2.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Sosial
Fabes, Gaertner, & Popp (dalam McCartney & Philips, 2006)
mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kompetensi
sosial. Ke semuanya menggambarkan berbagai kondisi dasar yang dapat
memberi kontribusi terhadap pencapaian kompetensi sosial di kemudian hari.
Di antaranya adalah sebagai berikut.
a) Temperamen
Istilah temperamen secara umum digunakan untuk merujuk pada pola
perilaku secara mendasar dan menjelaskan perbedaan individu dalam
bertingkah laku sejak dari tahun pertama masa kanak-kanak awal. Perilaku
yang dimaksud mencerminkan kondisi khas emosi, motorik, dan perhatian
terhadap stimulus bagi setiap individu; dan perilaku tersebut secara
potensial mempengaruhi kemampuannya dalam membentuk hubungan
sosial yang positif.
Chess & Thomas (1977, 1987, 1991, dalam Santrock, 2002)
mengemukakan bahwa sejak kanak-kanak, seorang individu telah memiliki
kecenderungan memiliki temperamen tertentu, seperti sebagai berikut.
1) Anak bertemperamen sedang (easy child), pada umumnya memiliki
suasana hati yang positif, cepat membangun rutinitasnya yang teratur
pada masa bayi, dan mudah menyesuaikan diri dengan pengalaman-
pengalaman baru.
2) Anak bertemperamen tinggi (difficult child), cenderung bereaksi
secara negatif dan sering menangis, melibatkan diri dalam hal-hal
11


rutin sehari-hari secara tidak teratur, dan lambat menerima
pengalaman-pengalaman baru.
3) Anak bertemperamen rendah (slow-to-warm-up child), memiliki
tingkat aktivitas yang rendah, agak negatif, memperlihatkan daya
adaptasi yang rendah, dan memperlihatkan intensitas suasana hati
yang rendah.
Banyak peneliti meyakini temperamen telah menjadi karakteristik yang
tetap pada diri individu sejak masa yang amat muda (bayi), tetapi dapat
terus terbentuk dan diperbarui oleh pengalaman-pengalaman hidup seiring
dengan perkembangannya (Goldsmith, 1988; Thomas & Chess, 1987,
dalam Santrock 2002). Jadi, seseorang terlahir dengan memiliki
karakteristik tertentu pada temperamennya, namun pada perkembangan
selanjutnya temperamen tersebut dipengaruhi oleh respon-respon yang
diterima selama dalam pengasuhan orangtua dan juga pengalaman hidup
individu dalam lingkungan sosialnya.
b) Faktor keterampilan sosio-kognitif
Disebutkan bahwa kognisi sosial merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kompetensi sosial. Ia merupakan fungsi kognitif yang
dengannya seseorang belajar untuk mengenal dan menginterpretasikan
informasi mengenai orang lain, teman sebaya, situasi-situasi sosial, serta
belajar tentang perilaku dan respon sosial secara efektif. Fungsi tersebut
memberi dukungan terhadap perkembangan keterampilan kognisi sosial
yang memungkinkan individu membentuk pemahaman yang lebih baik
mengenai pikiran, perasaan serta kecenderungan perilaku orang lain.
12


Dengan demikian, saat individu berinteraksi dengan orang lain, atau
berperilaku dalam situasi sosial pikirannya membantu mengatur tingkah
laku yang akan dimunculkan sedemikian rupa hingga memungkinkannya
bersosialisasi secara efektif.
Paling tidak terdapat dua hal penting dalam kognisi sosial, yaitu
pemrosesan informasi dan pengetahuan sosial. Dodge (1983, dalam
Santrock, 2002) meyakini bahwa ketika seseorang melakukan interaksi
sosial, ia melampaui lima tahap dalam memroses informasi tentang dunia
sosialnya, yaitu membaca kode/sandi isyarat-isyarat sosial,
menginterpretasikan, mencari suatu respon, memilih respon yang optimal,
dan bertindak. Jadi, bagaimana seseorang berperilaku dalam interaksi
sosialnya ditentukan oleh bagaimana ia mempersepsi perilaku-perilaku
orang lain, dan juga bagaimana pikirannya memberi pertimbangan tentang
pilihan respon/tindakan yang akan diambil orang tersebut.
Di samping itu, pengetahuan sosial juga dilibatkan dalam kemampuan
individu agar dapat akrab dengan lingkungan sosialnya. Yaitu pengetahuan
tentang arti dan tujuan-tujuan dari relasi sosial, nilai-nilai yang berlaku
dalam berhubungan sosial, pentingnya membangun interaksi sosial yang
baik, serta pengetahuan tentang kondisi emosi dirinya ataupun orang lain.
Semua pengetahuan tersebut terus berkembang sesuai dengan pengalaman
individu menjalani interaksi sosial dari waktu ke waktu, dan sejalan dengan
pengertian yang ditanamkan oleh pengasuh atau orangtua.
c) Keterampilan berkomunikasi
13


Bahasa merupakan cara utama bagi seseorang untuk membangun
interaksi, mengelola hubungan dengan orang lain, dan membangun kontak
interpersonal. Dapat dipahami bahwa individu dengan keterampilan bahasa
yang rendah tidak dapat menjalin hubungan sosial dengan baik. Kapasitas
untuk memahami orang lain, serta menunjukkan kebutuhan, pikiran, dan
tujuan-tujuan individu seringkali tergantung pada kemampuan
berbahasanya. Jika seseorang mampu mengkomunikasikan keinginan dan
kebutuhnnya dengan baik dalam interaksi sosialnya, maka dapat dikatakan
bahwa ia adalah orang yang kompeten secara sosial. Bagaimanapun, bahasa
dan komunikasi merupakan sarana terpenting dalam hubungan sosial atau
proses sosialisasi.
Di samping tiga hal di atas beberapa faktor lain dapat pula memberi
kontribusi terhadap kompetensi sosial anak, di antaranya yaitu:
a) Faktor keluarga
Keluarga merupakan lingkungan sosial paling awal bagi individu
untuk melakukan sosialisasi. Kompetensi sosial seseorang berkembang
seiring pengalamannya mendapat perlakuan sosial dalam keluarga.
Atkinson, Atkinson, Smith, & Biem (1990) mengungkapkan, cara
bagaimana orangtua merespon terhadap kebutuhan-kebutuhan anaknya
secara sabar, dengan kehangatan dan perhatian, atau secara kasar, dengan
sedikit kepekaan akan mempengaruhi hubungan si anak dengan orang lain
hingga kelak di kemudian hari setelah ia dewasa.
b) Pengalaman sosialisasi di masa paling awal
14


Seseorang yang di masa kecilnya mengikuti program pendidikan
prasekolah atau mendapatkan kesempatan lebih awal untuk berinteraksi
sosial dengan pihak selain keluarga, cenderung lebih mudah mencapai
kompetensi sosial yang matang. Ketersediaan kesempatan yang luas sejak
masa paling dini memungkinkan seseorang memperoleh latihan dan
pengalaman sosial yang kaya hingga dapat mendukung terhadap pencapaian
kompetensi sosial yang tinggi. Hurlock (1980) menyatakan, kalau pada saat
anak berusia empat tahun telah mempunyai pengalaman sosialisasi
pendahuluan, biasanya ia mengerti dasar-dasar permainan kelompok, dan
sadar akan pendapat orang lain. Pengertian akan dasar-dasar interaksi sosial
dalam permainan serta kesadaran akan adanya pandangan orang lain
sangatlah penting dalam menunjang kompetensi sosial anak.
Dari beberapa faktor di atas, tiga yang awal dapat dikategorikan
sebagai faktor internal (inheren dalam diri individu) dan dua yang terakhir
merupakan faktor eksternal (berasal dari luar diri individu). Meskipun faktor-
faktor internal cenderung dipahami sebagai faktor bawaan, tapi faktor-faktor
tersebut terus berkembang sesuai dengan pengalamannya belajar dalam
lingkungan sosial.

2.1.3. Kompetensi Sosial Remaja
Perkembangan dari anak menuju remaja sering dicirikan dengan
perubahan yang dramatis bagi orang muda, meliputi perubahan pada fisik,
mental-psikis, maupun sosial. Seiring dengan perubahan-perubahan tersebut
remaja juga menerima sejumlah tugas perkembangan baru. Menurut Hurlock
(1980), salah satu tugas perkembangan yang paling sulit bagi remaja adalah
15


yang berhubungan dengan penyesuaian sosialnya. Remaja harus
menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya
belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar
lingkungan keluarga dan sekolah.
Agar mencapai perkembangan sosial yang optimal, remaja harus
membuat banyak penyesuaian baru. Di antara yang paling penting adalah
penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya (peers).
Selama masa kanak-kanak, seseorang baik laki-laki atau perempuan sangat
terorientasi pada peran orangtua. Ketika memasuki remaja, peran orangtua
menjadi berkurang dan digantikan oleh peran kelompok sebaya yang
pengaruhnya begitu kuat. Hurlock (1980) mencontohkan, sebagian besar
remaja mengetahui bahwa bila mereka memakai pakaian yang sama dengan
anggota kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk diterima
oleh kelompok menjadi lebih besar. Demikian pula bila anggota kelompok
mencoba minuman alkohol, obat-obat terlarang, atau rokok, maka remaja
cenderung mengikutinya tanpa memperdulikan perasaan mereka sendiri akan
akibatnya.
Di samping penyesuaian terhadap menguatnya pengaruh kelompok
sebaya, remaja juga harus menyesuaikan diri akibat adanya perubahan dalam
perilaku dan hubungan sosial. Di antara perubahan sikap dan perilaku sosial
yang menonjol pada remaja adalah dalam hubungan heteroseksual. Hurlock
(1980) mengemukakan bahwa dalam waktu singkat remaja mengadakan
perubahan radikal, dari tidak menyukai berteman dengan lawan jenis menjadi
lebih menyukai teman dari lawan jenis daripada dengan yang sejenis. Lalu
16


terjadi pula pengelompokan sosial baru. Teman-teman di masa kanak-kanak
dulu berangsur-angsur berganti dengan teman-teman baru disertai adanya
pola hubungan yang lebih serius dan matang ketimbang masa kanak-kanak.
Penyesuaian yang juga penting bagi remaja adalah karena munculnya
nilai-nilai baru dalam pola pergaulan remaja. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai
dalam seleksi persahabatan, dalam dukungan dan penolakan sosial, serta
dalam memilih pemimpin kelompok (Hurlock, 1980). Para remaja tidak lagi
memilih teman berdasarkan kemudahannya sebagaimana halnya pada masa
kanak-kanak. Remaja menginginkan teman yang mempunyai minat dan nilai-
nilai yang sama, yang dapat mengerti dan membuatnya merasa nyaman, dan
yang kepadanya ia dapat mempercayakan hal-hal yang tidak dapat dibicarakan
dengan orangtua ataupun guru. Remaja juga mempunyai nilai baru dalam
menerima atau menolak teman-teman sebaya sebagai bagian dari kelompok.
Utamanya didasarkan pada nilai kelompok sebaya yang digunakan untuk
menilai anggota-anggota kelompok. Dalam hal menentukan pemimpin
kelompok, remaja menginginkan pemimpin yang berkemampuan tinggi yang
akan dikagumi dan dihormati oleh orang-orang lain, dan dengan demikian
akan menguntungkan mereka. Ini didasari pada pemikiran bahwa pemimpin
kelompok sebaya mewakili diri mereka dalam masyarakat yang lebih besar.
Dalam berbagai upaya penyesuaian tersebut, dibutuhkan keterampilan
yang dapat membantu remaja dalam menyesuaikan diri, atau disebut sebagai
kompetensi sosial. Smart & Sanson (2003) menyatakan bahwa kompetensi
sosial yang dikembangkan dengan baik dapat memudahkan anak-anak muda
17


(youngsters) untuk mengatasi sekaligus melampaui macam-macam kesulitan
dalam proses penyesuaian.
Dalam studinya Smart & Sanson (2003) memberi gambaran tentang
kompetensi sosial remaja. Remaja dengan kompetensi sosial yang tinggi
sedikit sekali mengalami perasaan tertekan (depressed), cemas (anxious),
ataupun stres. Mereka juga amat kurang menampilkan perilaku yang buruk,
dan merasa sangat puas dengan kehidupan yang dijalaninya.
Welsh & Bierman (2001) mengungkapkan bahwa remaja yang
menampilkan tingkat kompetensi sosial yang tinggi selalu dapat diterima
dengan baik dalam komunitas sosialnya. Mereka begitu bersahabat, mudah
bekerja sama, dan bercakap-cakap dengan amat baik dengan orang lain.
Teman-teman sebaya sering menggambarkan mereka sebagai orang yang suka
menolong, baik, pengertian, atraktif, serta bagus dalam permainan. Remaja
yang kompeten dalam hubungan sosial, biasanya mampu menyadari cara
pandang orang lain dan mampu menghadapi situasi konflik dengan tetap
tenang.
Sebaliknya, para remaja yang kurang memiliki kompetensi sosial
cenderung mengalami banyak masalah dalam hubungan sosial, dan sering
terkait dengan macam-macam masalah perilaku dan kenakalan (Hair, Jager, &
Garrett, 2001). Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan sejumlah
remaja yang memiliki gangguan emosional serius dan terbukti mengalami
berbagai masalah perilaku menunjukkan bahwa para remaja itu memiliki
kompetensi sosial yang rendah. Lebih parah, disebutkan bahwa mereka
18


mempunyai pemahaman dan kecakapan hubungan sosial yang tidak matang
dan terbelakang (Groot, 2009).
Selanjutnya Smart & Sanson (2003) menjelaskan bahwa terdapat
perbedaan tingkat kompetensi sosial di antara remaja laki-laki dan perempuan.
Berbagai kecakapan yang menjadi bagian dari kompetensi sosial cenderung
ditampilkan lebih menonjol oleh remaja perempuan ketimbang remaja laki-
laki. Dijelaskan bahwa dorongan dari norma serta harapan sosial yang
menginginkan remaja perempuan agar lebih kooperatif (penurut, hormat
terhadap figur orangtua/guru), dan memiliki tanggung jawab (taat, memenuhi
tugas-tugas yang diberikan) lebih membantu mereka dalam mengembangkan
kompetensi sosial ketimbang remaja laki-laki. Demikian pula, proses
sosialisasi dalam keluarga dan pengalaman-pengalaman mendapat pengasuhan
selama kanak-kanak turut menyokong perkembangan emosional dan rasa
empati para remaja perempuan, sementara remaja laki-laki kurang
mendapatkan dorongan tersebut.
Mengembangkan kompetensi sosial yang baik selama remaja adalah
mutlak diperlukan. Kompetensi sosial memungkinkan remaja melakukan
penyesuaian terhadap berbagai perubahan yang dialaminya secara optimal dan
tanpa kesulitan. Selanjutnya kompetensi sosial dapat membantu remaja untuk
memiliki hubungan sosial yang berkualitas. Kompetensi sosial bahkan dapat
membantu remaja dalam perkembangan sosial berikutnya di masa dewasa,
misalnya dalam menjalin hubungan pernikahan yang harmonis, atau
mengembangkan hubungan yang positif dengan anak-anak yang dimiliki
(Hair, Jager, & Garrett, 2001).
19



2.1.4. Aspek-aspek Kompetensi Sosial Remaja
Sebagaimana telah dikemukakan di bagian awal, kompetensi sosial
didefinisikan dengan amat bervariasi oleh para ilmuwan. Dengan demikian,
aspek-aspek yang berkaitan dengannya juga bervariasi. Misalnya, Hair, Jager,
& Garrett (2001) mengajukan bahwa kompetensi sosial meliputi dua ranah,
yaitu macam-macam keterampilan dalam hubungan interpersonal
(interpersonal skills), dan sejumlah atribut personal (personal attributes).
Termasuk dalam keterampilan-keterampilan dalam hubungan sosial di
antaranya, kemampuan penyelesaian konflik/masalah, keakraban dengan
orang lain, dan perilaku prososial. Dan yang termasuk di antara atribut
personal, yaitu kemampuan pengendalian diri, kepercayaan sosial (social
confidence) meliputi perilaku asertif, efikasi diri, dan inisiatif dalam hubungan
sosial, serta sikap empati dan simpati.
Berikut merupakan aspek-aspek kompetensi sosial remaja
sebagaimana dikemukakan oleh Gresham & Elliott (1990, dalam Smart &
Sanson, 2003).
a) Assertif, yaitu perilaku berinisiatif seperti menanyakan informasi
kepada orang lain, memperkenalkan diri, dan menanggapi tindakan
orang lain.
b) Kooperatif, meliputi perilaku seperti menolong orang, berbagi sesuatu,
menaati aturan, serta memenuhi permintaan orang.
c) Empati, yaitu perilaku yang menunjukkan kepedulian serta
penghargaan terhadap perasaan dan pandangan orang lain.
20


d) Tanggung jawab, yaitu menggambarkan kemampuan berkomunikasi
dengan orang dewasa dan penghormatan terhadap kepemilikan benda
atau pekerjaan yang dilakukan.
e) Pengendalian diri, yaitu perilaku-perilaku yang muncul saat situasi
konflik, meliputi tindakan tepat ketika menghadapi hal-hal yang
mengganggu, atau berkompromi akan sesuatu.
Aspek-aspek kompetensi sosial menurut Gresham & Elliott di atas
akan digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur tingkat kompetensi
sosial subjek.

2.2. Egosentrisme
2.2.1 Pengertian
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, egosentrisme didefinisikan
sebagai sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat
segala hal. Sedangkan dalam wikipedia, istilah egosentrisme (egocentrism)
disebutkan berasal dari kata bahasa Yunani dan Latin ego yang artinya
saya, aku, atau diri. Egosentrisme merupakan istilah psikologi yang bermakna
diferensiasi yang tidak sempurna antara diri (the self) dengan dunia di luar diri
(the world), termasuk orang lain; kecenderungan individu untuk melihat
(perceive), memahami (understand), dan menafsirkan (interpret) dunia
menurut pandangan dirinya.
Dalam kamus istilah psikologi (Kartono dalam Chaplin, 2008),
egosentris didefinisikan sebagai menyangkut diri sendiri, keasyikan terhadap
diri sendiri; menurut Piaget, berkaitan dengan kemampuan berbicara dan
berpikir yang diarahkan pada kebutuhan pribadi. Sementara egosentrisme
21


didefinisikan sebagai kecenderungan menilai obyek-obyek atau peristiwa-
peristiwa berdasarkan kepentingan pribadi dan menjadi kurang sensitif
terhadap kepentingan-kepentingan atau hal-hal yang menyangkut orang lain;
menurut Piaget, merupakan ketidakmampuan memahami bahwa orang lain
juga mempunyai kepentingan atau pandangan yang mungkin berbeda dengan
yang dimilikinya (Kartono & Gulo, 2003).
Shaffer (2009) mendefinisikan egosentrisme sebagai kecenderungan
untuk memandang dunia dari perspektif pribadi seseorang tanpa menyadari
bahwa orang lain bisa memiliki sudut pandang yang berbeda.
Dari beberapa pengertian umum yang telah dikemukakan di atas,
dapat diambil titik temu bahwa egosentrisme adalah kemampuan persepsi
yang terbatas pada kepentingan dan/atau kebutuhan pribadi, tidak berorientasi
pada pemisahan/pembedaan antara diri sendiri dengan orang/objek lain.

2.2.2. Egosentrisme dalam Perkembangan Kognitif
Diketahui bahwa terminologi egosentrisme berhubungan dengan teori
perkembangan kognitif Piaget (1896-1980). Maka perlu dibahas secara singkat
mengenai salah satu pokok teori Piaget tersebut, yaitu tentang stadium
perkembangan kognitif. Berdasarkan observasinya, Piaget menjadi yakin
bahwa kemampuan berpikir dan bernalar anak berkembang melalui sejumlah
stadium yang berbeda secara kualitatif bersamaan dengan kematangan mereka
(Atkinson, Atkinson, Smith, & Bem, 1990).
Stadium pertama dari perkembangan kognitif adalah sensori-motorik.
Tahap sensori-motorik berlangsung dari sejak kelahiran hingga kira-kira 2
tahun, sama dengan periode perkembangan masa bayi (Santrock, 2002).
22


Selama masa ini, perkembangan mental dicirikan oleh beberapa kemampuan
bayi (Atkinson, Atkinson, Smith, & Bem, 1990).
a) Diferensiasi antara diri dengan objek, yaitu kesadaran pemikiran bayi
bahwa dirinya terpisah/berbeda dari dunia luar.
b) Bayi mengenali dirinya sebagai subjek/pelaku dari suatu tindakan dan
mulai bertindak dengan sengaja, misalnya menggoyang-goyangkan
mainan untuk menghasilkan bunyi.
c) Mencapai kepermanenan objek (object permanency), yaitu menyadari
bahwa benda-benda terus ada walaupun tidak lagi tertangkap indera.
Stadium kedua adalah praoperasional. Berlangsung mulai usia 2
hingga 7 tahun. Ciri-ciri perkembangan mental yang utama di antaranya,
anak mulai belajar menggunakan bahasa dan merepresentasikan objek
melalu citra dan kata-kata; munculnya egosentrisme, yaitu keterbatasan
pemikiran yang kesulitan dalam memandang dari sudut pandang orang lain;
dan mengklasifikan objek dengan ciri tunggal, contohnya mengelompokkan
semua balok merah tanpa memandang bentuknya atau semua balok persegi
tanpa memandang warnanya.
Stadium perkembangan kognitif berikutnya adalah operasional
konkret. Terentang mulai usia 7 sampai 11 tahun. Beberapa ciri
perkembangan pemikiran di tahap ini ialah, anak dapat berpikir logis tentang
objek dan peristiwa meski hanya untuk hal-hal yang konkret, mencapai
keterampilan konservasi (yaitu pemikiran tentang ketetapan atribut suatu
objek atau situasi tertentu, terlepas dari perubahan yang bersifat dangkal),
23


dan mampu mengklasifikasikan objek menurut beberapa ciri sekaligus dapat
mengurutkannya secara serial mengikuti dimensi tunggal, seperti ukuran.
Stadium perkembangan kognitif yang terakhir adalah operasional
formal. Dimulai sejak usia 11 tahun hingga tahun-tahun selanjutnya. Pada
tahap ini individu telah sampai pada model pemikiran dewasa atau mencapai
tahap kematangan intelektual. Di antara cirinya seperti, mampu berpikir
secara logis tentang masalah abstrak lalu menguji hipotesis secara sistematik.
Selain itu, dengan kematangan pemikiran yang diperoleh, individu dapat
memahami masalah-masalah kompleks seperti cinta, masa depan, atau yang
menyangkut dengan idealisme.
Dari penjelasan mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif di atas,
diketahui bahwa masing-masing tahap memiliki ciri-ciri yang khas dari
kemampuan berpikir individu. Meski egosentrisme disebut sebagai salah satu
ciri yang menonjol dari pemikiran praoperasional, namun diyakini bahwa
egosentrisme (sebagai keterbatasan dalam membedakan hubungan subjek-
objek) timbul pada permulaan tiap-tiap pencapaian kemampuan kognitif
baru. Piaget (1962, dalam Alberts, Elkind, & Ginsberg, 2007) menyatakan
bahwa egosentrisme dapat terwujud secara unik dalam pemikiran-pemikiran
serta tindakan-tindakan pada setiap tahap perkembangan mental.
Jadi, munculnya egosentrisme ialah pada tiap transisi di antara tahap-
tahap dari perkembangan kognitif. Alberts, Elkind, & Ginsberg (2007)
memberikan gambaran, seorang anak kecil dengan pemikiran praoperasional,
gagal/tidak mampu membedakan antara sebuah nama dengan benda. Di usia
ini si anak tidak dapat menerima fakta bahwa suatu objek/benda yang sama
24


bisa saja memiliki nama yang berbeda, begitu pula bahwa nama bisa saja
diubah untuk objek yang sama. Setelah usia 6 atau 7 tahun dan mencapai
pemikiran operasional konkret, anak terbebas dari egosentrisme kata-kata
dan benda, tetapi terkena sasaran timbulnya bentuk baru dari egosentrisme.
Pada tahap ini anak tidak mampu membedakan antara diri yang dibangun
dalam pikiran dengan yang ada pada kenyataan. Ketika sedang bermain
sebuah permainan yang memerlukan strategi, anak usia sekolah lebih terpaku
pada strategi awal dan mencoba memaksakan fakta-fakta baru agar cocok
dengan pemikiran akan strategi awal tersebut. Ketika pemikiran operasional
formal tercapai, individu terbebas dari model pemikiran egosentrisme
hipotetis seperti yang dilakukan anak sekolah tersebut. Tetapi muncul sebuah
tipe baru dari egosentrisme, yaitu egosentrisme yang menimbulkan
keyakinan bahwa pikiran-pikiran orang lain tertuju pada diri subjek.

2.2.3. Egosentrisme Remaja
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, egosentrisme remaja terjadi
dalam transisi dari pemikiran operasional konkret menuju operasional formal.
Elkind (1967, 1976, & 1978, dalam Santrock, 2003) mengemukakan dua
bentuk egosentrisme remaja, yaitu imaginary audience dan personal fable.
a) Imaginary audience
Imaginary audience merupakan bentuk egosentrisme remaja yang
melibatkan pemikiran sendiri yang kebingungan terhadap anggapan adanya
penonton yang memperhatikannya dan membuat ia menyimpulkan bahwa
orang lain berbagi keasyikan dengannya (Shaffer, 2009). Jadi para remaja
(dalam pikirannya) seperti yakin bahwa orang lain memiliki perhatian yang
25


amat besar terhadap diri mereka sebesar perhatian mereka sendiri, dan
melebihi dari apa yang sesungguhnya terjadi.
Greene, Rubin, & Hale (1995) menambahkan, para remaja yang
terlalu memperhatikan dirinya secara berlebihan memperluas keasyikannya
tersebut dan menganggap bahwa orang lain sama asyiknya seperti mereka
dalam memperhatikan diri mereka.
Santrock (2003) mengemukakan bahwa gejala imaginary audience
mencakup berbagai perilaku untuk mendapatkan perhatian seperti keinginan
agar kehadirannya diperhatikan, semua aktivitasnya disadari oleh orang lain
dan menjadi pusat perhatian. Ditambahkan bahwa remaja terutama merasa
bahwa mereka ada di atas panggung dan beranggapan bahwa merekalah
pemeran utamanya, sementara orang lain adalah penontonnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gejala imaginary audience
lebih merupakan produk dari pikiran atau hanya ada dalam pikiran remaja,
dan bukan yang sebenarnya terjadi.
b) Personal fable
Sedangkan personal fable adalah bagian egosentrisme remaja
berkenaan dengan perasaan keunikan pribadi yang dimiliknya. Elkind (1967
& 1978, dalam dalam Greene, Rubin, & Hale, 1995) menyatakan bahwa
personal fable merupakan kecenderungan remaja untuk meyakini bahwa diri
mereka sangat unik, dan karenanya tidak ada orang lain yang dapat
memahami mereka ataupun pernah merasakan pengalaman-pengalaman
seperti yang mereka alami.
26


Alberts, Elkind, & Ginsberg (2007) menjelaskan bahwa personal
fable merupakan akibat wajar dari imaginary audience. Dengan remaja
berpikir bahwa dirinya sebagai pusat perhatian orang lain membuatnya
percaya bahwa perhatian orang tersebut adalah karena dirinya spesial dan
unik. Greene, Walters, Rubin, & Hale (1996) menyatakan bahwa personal
fable dicirikan oleh ketidakmampuan untuk membayangkan bahwa diri (the
self) bisa saja sama dengan orang lain, dan menghasilkan perasaan ke-diri-
an yang ekstrim (extreme individuation). Keyakinan akan keunikan tersebut
membuat remaja berpikir seperti misalnya, orang lain bisa saja tidak
menyadari keinginan mereka, tapi saya tidak demikian; atau, orang lain bisa
saja kecanduan narkoba, tapi saya tidak akan seperti itu, dan sebagainya.
Karenanya, gejala-gejala dari personal fable dipercaya sebagai pemicu
sejumlah perilaku ceroboh remaja
Menurut Lapsley (1991, dalam Greene, Walters, Rubin, & Hale, 1996)
egosentrisme remaja yang berupa personal fable terdiri dari tiga dimensi,
yaitu kedigdayaan (omnipotence) yaitu pikiran bahwa remaja mampu dan
lebih dari siapapun dalam melakukan segala hal, keunikan (uniqueness)
yaitu perasaan bahwa diri remaja sangat unik dan tidak ada orang lain yang
dapat memahaminya, serta ketangguhan (invulnerability) yaitu pikiran
bahwa dirinya sanggup menghadapi berbagai risiko dan kesulitan. Namun
demikian, sebagai pengagas utama dari ide tentang egosentrisme remaja
Elkind (1967, dalam Alberts, Elkind, & Ginsberg 2007) mengajukan bahwa
personal fable memuat dua aspek saja, yakni perasaan ketangguhan
(invulnerability), yaitu pikiran bahwa dirinya tidak terancam bahaya seperti
27


orang lain dan sanggup menghadapi berbagai kesulitan, dan kekhususan
(speciality), yaitu perasaan bahwa diri remaja sangat khusus dan unik, serta
tidak ada orang lain yang dapat memahaminya.
Greene, Walters, Rubin, & Hale (1996) mengungkapkan bahwa secara
teoritis egosentrisme remaja (imaginary audience dan personal fable)
semestinya muncul di usia 11 atau 12 dengan dimulainya transisi pemikiran
menuju operasional formal. Dan tergantung pada proses perkembangan,
biasanya egosentrisme mulai berkurang di usia 16 atau 17, atau mungkin saja
di usia 15. Secara umum, egosentrisme memiliki hubungan terbalik
(inversely related) dengan usia, artinya semakin bertambahnya usia maka
egosentrisme akan semakin berkurang.
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa egosentrisme remaja
adalah fenomena yang wajar dan umum terjadi di masa remaja sebagai bagian
dari perkembangan kognitifnya. Egosentrisme remaja merupakan sebuah fase
transisi model pemikiran yang terjadi sebelum remaja mencapai model
pemikiran yang lebih matang sesuai perkembangannya. Secara akademis,
mengkaji egosentrisme remaja lebih lanjut adalah penting. Bertujuan untuk
mengungkap berbagai aspek yang berkaitan dengannya hingga gambaran yang
lebih utuh mengenai fenomena tersebut dapat diperoleh.

2.2.4. Penyebab Egosentrisme Remaja
Para ilmuwan masih terus meneliti mengenai fenomena egosentrisme
remaja, dan masih belum bersepakat dalam beberapa hal. Di antara hal yang
para peneliti masih berbeda adalah mengenai sebab-sebab munculnya
egosentrisme pada diri remaja.
28


Santrock (2003) mengemukakan bahwa Elkind (1985) sebagai
penggagas utama ide egosentrisme remaja dan beberapa ilmuwan lain
berbeda pandangan dalam memahami bagaimana egosentrisme remaja
muncul. Dinyatakan bahwa Elkind (1985 dalam Santrock, 2003)) meyakini
munculnya egosentrisme remaja adalah disebabkan oleh adanya cara
berpikir operasional formal.
Menurut Elkind (1976), cara berpikir operasional formal
memungkinkan remaja untuk menyadari betul segala perasaan dan pikiran
yang dimilikinya, serta yang dimiliki oleh orang lain. Dengan keasyikannya
(preoccupation) memikirkan dan memperhatikan berbagai perubahan fisik
serta kemunculan perasaan-perasaan baru pada dirinya, remaja lalu
membentuk anggapan bawa orang lain turut memperhatikan apa yang
diperhatikannya. Elkind (1976) menyebut hal tersebut sebagai assumptive
psychologies, yakni anggapan bahwa apa yang khas dimiliki olehnya,
merupakan sesuatu yang umum bagi orang-orang lain; dan apa yang umum
bagi orang kebanyakan adalah sesuatu yang unik bagi dirinya. Pikiran
semacam inilah yang menjadi dasar atas timbulnya pemikiran egosentrisme
pada remaja berupa imaginary audience dan personal fable.
Sementara itu, ahli lainnya berpendapat bahwa egosentrisme remaja
tidaklah sepenuhnya merupakan gejala kognitif. Para ahli tersebut
memandang bahwa selain karena adanya kemampuan berpikir operasional
formal, egosentrisme remaja muncul karena remaja memiliki kemampuan
untuk keluar dari diri sendiri dan membayangkan reaksi orang lain dalam
suatu situasi imajinatif, atau disebut juga sebagai kemampuan
29


pengambilalihan cara pandang (perspective-taking) (Gray & Hudson, 1984;
Jahnke & Blanchard-Fields, 1993; Lapsley, 1985, 1990, 1991, 1993;
Lapsley, dkk., 1986; Lapsley & Murphy, 1985; lapsley & Rice, 1988;
OCoor &Nikoli, 1990; dalam Santrock, 2003). Berdasarkan teori dari
Robert Selman (1980, dalam Santrock, 2003), perspective-taking dimaknai
sebagai kemampuan untuk mempergunakan cara pandang orang lain dan
memahami pemikiran serta perasaan orang tersebut.
Di samping itu, sejalan dengan pendapat para ilmuwan di atas, secara
tegas Lapsley (1991 & 1993, dalam Greene, Walters, Rubin, & Hale, 1996)
bahkan membantah pendapat Elkind dengan menyatakan bahwa
egosentrisme remaja tidak berkaitan dengan perkembangan kognitif, tetapi
berhubungan dengan perkembangan ego remaja. Jadi, egosentrisme pada
diri remaja muncul seiring dengan perkembangan kesadaran remaja akan
dirinya (self).
Selanjutnya, beberapa studi menunjukkan bukti bahwa egosentrisme
pada remaja terkait dengan status sosio-ekonomi. Greene, Kremer, Walters,
Rubin & Hale (2000, dalam Smetana & Villalobos, Lerner & Steinberg,
2009) menunjukkan bahwa tingginya aspek invulnerability (sebagaimana
diukur pada subskala personal fable) berhubungan dengan tingginya tingkat
pendidikan orang tua. Yang lain menyebutkan bahwa tingkat kelas sosial
yang tinggi di kalangan perempuan, berhubungan dengan perilaku
imaginary audience yang menonjol dan rendahnya nilai pada subskala
personal fable; sementara tingkat kelas sosial yang tinggi di kalangan laki-
30


laki, berhubungan dengan aspek personal fable yang menonjol (Schonert-
Reichl, 1994, dalam Smetana & Villalobos, Lerner & Steinberg, 2009).
Dengan demikian diketahui bahwa paling tidak terdapat dua
pandangan pokok tentang fenomena egosentrisme remaja. Yakni pandangan
yang berdasar pada perkembangan kognitif, dan pandangan yang berdasar
pada perkembangan ego. Pendapat-pendapat mengenai penyebab timbulnya
egosentrisme pada remaja tampaknya berkisar pada dua poros pandangan
tersebut.

2.3. Kerangka Berpikir
Salah satu tugas perkembangan yang paling sulit bagi remaja adalah
yang berhubungan dengan penyesuaian sosialnya. Oleh karena itu, remaja perlu
mengembangkan sejumlah kecakapan untuk membantunya melakukan berbagai
penyesuaian baru dalam hubungan sosial, yakni kompetensi sosial. Kompetensi
sosial dapat diartikan sebagai sekumpulan kemampuan personal individu untuk
berperilaku yang sesuai dan tepat dalam berinteraksi dengan orang lain, hingga
menghasilkan hubungan sosial yang baik.
Diketahui bahwa kecenderungan cara berpikir seseorang tentang
lingkungan sosialnya memberi pengaruh terhadap kompetensi sosialnya.
Sementara saat memasuki masa remaja mulai muncul suatu ciri pemikiran khusus
yang disebut dengan egosentrisme remaja. Egosentrisme remaja dapat timbul
dalam dua bentuk berbeda, yakni imaginary audience dan personal fable. Dengan
pemikiran imaginary audience, remaja selalu merasa bahwa kehadirannya
diperhatikan oleh orang, dan dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang.
Kondisi tersebut sering membuat remaja merasa sangat canggung atau malah
31


terlampau percaya diri dalam berperilaku dalam situasi sosial. Sementara itu,
sejumlah perilaku nekat dan ceroboh oleh remaja disinyalir merupakan hasil dari
pemikiran personal fable. Menurut Elkind (1976), cara berpikir remaja yang amat
menonjol dalam egosentrisme seringkali menimbulkan salah pengertian dari orang
lain. Gejala-gejala egosentrisme seperti dikemukakan di atas sering membuat
remaja menampilkan sikap dan perilaku yang tidak bisa diterima dengan baik oleh
lingkungan sosial, terutama orang-orang dewasa seperti orangtua dan guru.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa egosentrisme remaja (baik
imaginary audience maupun personal fable) sebagai keterbatasan fungsi kognitif
memiliki hubungan dengan pencapaian kompetensi sosial remaja. Menonjolnya
egosentrisme pada diri remaja baik dalam imaginary audience maupun personal
fable mungkin bisa menghambat pencapaian kompetensi sosial yang optimal.
Demikian pula sebaliknya, bila egosentrisme pada diri remaja tidak mewujud
dengan kuat, maka remaja dapat mengembangkan kompetensi sosialnya secara
optimal.
Gambar 2.1.
Bagan Kerangka Berpikir




Egosentrisme
Remaja
Imaginary Audience
Personal Fable
Kompetensi Sosial
32


2.4. Hipotesis
Penulis mengajukan hipotesis penelitian seperti sebagai berikut:
a) Hipotesis alternatif (H
a
)
Terdapat hubungan signifikan antara egosentrisme dengan kompetensi
sosial remaja.
Terdapat hubungan signifikan antara imaginary audience dengan
kompetensi sosial remaja.
Terdapat hubungan signifikan antara personal fable dengan kompetensi
sosial remaja.
Terdapat hubungan signifikan antara usia, egosentrisme dengan
kompetensi sosial remaja.
Terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin, egosentrisme
dengan kompetensi sosial remaja.
b) Hipotesis nol (H
0
)
Tidak terdapat hubungan signifikan antara egosentrisme dengan
kompetensi sosial remaja.
Tidak terdapat hubungan signifikan antara imaginary audience dengan
kompetensi sosial remaja.
Tidak terdapat hubungan signifikan antara personal fable dengan
kompetensi sosial remaja.
Tidak terdapat hubungan signifikan antara usia, egosentrisme dengan
kompetensi sosial remaja.
Tidak terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin, egosentrisme
dengan kompetensi sosial remaja.
33


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
korelasional. Menurut Sevilla (1993) penelitian korelasi dirancang untuk
menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu
populasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian
yang menggunakan data-data berupa angka yang kemudian diolah memakai
teknik statistik.

3.2. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel bebas
(independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).
Variabel bebasnya adalah egosentrisme remaja. Dan variabel
terikatnya adalah kompetensi sosial remaja.

3.3. Definisi Konseptual dan Operasional Variabel
3.3.1. Definisi Konseptual Variabel
Egosentrisme remaja sebagai variabel bebas didefinisikan sebagai
kecenderungan untuk memandang dunia dari perspektif pribadi seseorang
tanpa menyadari bahwa orang lain bisa memiliki sudut pandang yang berbeda
(Shaffer, 2009). Terdiri dari dua bentuk, yakni imaginary audience dan
personal fable.
34


Sedangkan variabel terikat yaitu kompetensi sosial remaja
didefinisikan sebagai cara-cara berperilaku yang dipelajari agar seseorang
dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain (Gresham & Elliott, 1990
dalam Smart & Sanson, 2003).

3.3.2. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional dari egosentrisme remaja yakni skor yang didapat
dari skala perilaku egosentrisme remaja yang terdiri dari sub-skala imaginary
audience dan sub-skala personal fable yang meliputi 2 dimensi yaitu:
a) Kekhususan (speciality) yaitu pikiran bahwa diri remaja sangat
khusus dan unik, serta tidak ada orang lain yang dapat
memahaminya.
b) Ketangguhan (invulnerability) yaitu pikiran bahwa dirinya tidak
terancam bahaya seperti orang lain dan sanggup menghadapi
berbagai kesulitan.
Sedangkan definisi operasional dari kompetensi sosial yakni skor yang
didapat dari skala perilaku kompetensi sosial remaja yang meliputi beberapa
aspek, yakni:
f) Perilaku assertif, yaitu perilaku berinisiatif seperti menanyakan
informasi kepada orang lain, memperkenalkan diri, dan menanggapi
tindakan orang lain.
g) Kerja sama, meliputi perilaku seperti menolong orang, berbagi sesuatu,
menaati aturan, serta memenuhi permintaan orang.
h) Empati, yaitu perilaku yang menunjukkan kepedulian serta
penghargaan terhadap perasaan dan pandangan orang lain.
35


i) Tanggung jawab, yaitu menggambarkan kemampuan berkomunikasi
dengan orang dewasa dan penghormatan terhadap kepemilikan benda
atau pekerjaan yang dilakukan.
j) Pengendalian diri, yaitu perilaku-perilaku yang muncul saat situasi
konflik, meliputi tindakan tepat ketika menghadapi hal-hal yang
mengganggu, atau berkompromi akan sesuatu.

3.4. Populasi dan Sampel
3.4.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Muhammadiyah
22 Setiabudi Pamulang, kelas VII dan VIII. Secara keseluruhan berjumlah
120 orang.

3.4.2. Sampel
Sampel diambil secara non-probabilitas dengan jenis purposive
sampling (pengambilan sampel bertujuan). Artinya penarikan sampel
dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan dengan strata ataupun
random, tapi didasarkan pada tujuan tertentu (Arikunto, 2006). Menurut,
Danim (2004), sampel yang diambil secara purposif harus dipilih peneliti
dengan pertimbangan bahwa sampel tersebut betul-betul sesuai dengan apa
yang hendak ditelitinya. Oleh karenanya, dengan mempertimbangkan
kecenderungan teori peneliti menentukan sampel dengan menggunakan
syarat-syarat sebagai berikut:
Sampel adalah benar siswa SMP Muhammadiyah 22 Setiabudi
Pamulang kelas VII dan VII.
36


Berusia minimal 11 tahun, dan maksimal 14 tahun.
Pada saat pengumpulan data dilakukan subjek hadir dan menyatakan
bersedia menjadi sampel dalam penelitian ini.

3.5. Pengumpulan Data
3.5.1. Metode Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen skala perilaku
model Likert, baik untuk variabel bebas maupun variabel terikat.

3.5.2. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 2 pokok
skala. Yaitu skala egosentrisme remaja yang terdiri dari 2 sub-skala (skala
imaginary audience dan skala personal fable) serta skala kompetensi sosial
remaja.
Sub-skala imaginary audience yang digunakan merupakan hasil
modifikasi dan penyesuaian dari Imaginary Audience Scale (IAS) yang
dikembangkan oleh Walters, dkk (1991, dalam Greene, Walters, Rubin, &
Hale, 1996). Subskala personal fable yang memuat 2 dimensi (kekhususan
dan ketangguhan) merupakan hasil modifikasi dan penyesuaian dari The New
Personal Fable Scale seperti yang diajukan oleh Alberts, Elkind, & Ginsberg
(2007). Berikut adalah cetak biru (blue-print) dari skala egosentrisme yang
memuat 2 sub-skala.


37


Tabel 3.1.
Cetak Biru Skala Egosentrisme
No. Aspek Aitem Jumlah Aitem
Sub-skala 1
1 Imaginary audience 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,
11
11
Sub-skala 2
1 Ketangguhan
(Invulnerability)
2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 7
2 Kekhususan (speciality) 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13 7
25

Sementara skala kompetensi sosial remaja yang digunakan merupakan
hasil modifikasi dan penyesuaian dari skala keterampilan sosial (social skills)
sebagaimana dikembangkan oleh Gresham & Elliot (1990, dalam Smart &
Sanson, 2003). Berikut adalah cetak biru dari skala kompetensi sosial remaja.
Tabel 3.2.
Cetak Biru Skala Kompetensi Sosial Remaja Setelah Uji Validitas
No. Aspek
Aitem Total
Aitem Favorable Jml Unfav. Jml
1 Perilaku asertif 1, 2, 13, 18,
24, 26, 33
7 7, 23 2 9
2 Empati 3, 8, 14, 19,
25, 34
6 9 1 7
3 Tanggung jawab 4, 10, 20, 27,
32
5 15 1 6
4 Pengendalian
diri
5, 16, 21, 28,
30
5 11 1 6
5 Kerja sama 6, 12, 22, 29,
31
5 17* 1 6
34






38


3.5.3. Pengujian Instrumen dan Analisis Data
Sebelum instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data,
akan diuji terlebih dahulu melalui uji validitas dan reliabilitas skala. Validitas
skala diuji dengan teknik korelasi product moment dari Pearson. Sedangkan
reliabilitas skala diuji melalui teknik alpha dari Cronbach. Dan untuk
menganalisis data yang telah terkumpul digunakan uji korelasi product
moment dari Pearson.

3.6. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa prosedur:
a) Persiapan
Pada tahap ini peneliti merumuskan masalah, menentukan variabel, dan
melakukan studi kepustakaan. Di samping beberapa hal tersebut, peneliti juga
mempersiapkan instrumen, melakukan uji coba, serta mempersiapkan
lapangan penelitian.
b) Pengambilan dan pengolahan data
Pada tahap ini peneliti mulai memasuki lapangan penelitian. Dan segera
setelah data diperoleh maka langsung dilakukan pengolahan, berupa
pemberian skor
c) Analisis data
Pada tahap ini, semua data yang telah diolah akan dianalisis untuk
mendapatkan pemahaman yang jelas mengenai hasil penelitian. Selanjutnya
dibuatlah kesimpulan dari keseluruhan proses penelitian beserta laporannya.

39


BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Subjek Penelitian
Keseluruhan subjek dalam penelitian ini (populasi) adalah remaja awal
yakni, siswa/siswi kelas VII dan VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang yang berjumlah 120 orang. Dari
keseluruhan populasi diambil sampel secara accidental sejumlah 88 orang.
Berikut gambaran jelas mengenai subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin dan
usia.
Tabel 4.1.
Distribusi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia
No Jenis Kelamin
Usia
Jumlah
11 th 12 th 13 th 14 th
1. Laki-laki 3 25 13 1 42 (48%)
2. Perempuan 5 24 17 - 46 (52%)
Jumlah 8 (9%) 49 (56%) 30 (34%) 1 (1%) 88 (100%)

Berdasarkan data dari tabel di atas diketahui bahwa di antara subjek
yang digunakan dalam penelitian ini subjek berjenis kelamin laki-laki berjumlah
42 orang (48%) dan perempuan berjumlah 46 orang (52%). Dari seluruh subjek
yang terbanyak ialah yang berusia 12 tahun yakni berjumlah 49 orang (56%),
diikuti oleh yang berusia 13 tahun yakni berjumlah 30 orang, lalu yang berusia 11
tahun berjumlah 8 orang (9%), dan yang paling sedikit ialah yang berusia 14
tahun yaitu 1 orang (1%).

40


4.2. Presentasi dan Analisis Data
4.2.1. Uji Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 2 pokok
skala. Yaitu skala egosentrisme remaja yang terdiri dari 2 sub-skala (skala
imaginary audience dan skala personal fable) serta skala kompetensi sosial
remaja. Sebelum instrumen penelitian digunakan untuk mengumpulkan data
dilakukan pengujian instrumen terlebih dahulu (try out). Uji instrumen
dilakukan pada 26 Agustus 2010 dengan sampel berjumlah 60 orang,
keseluruhannya merupakan siswa-siswi SMP Nusantara Ciputat.
Penghitungan uji instrumen menggunakan program SPSS versi 17 for
Windows. Berikut merupakan hasil uji validitas dan reliabilitas untuk dua
skala yang digunakan.

4.2.1.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Kompetensi Sosial
Remaja
Hasil penghitungan yang didapat dengan menggunakan rumus korelasi
product moment dari Pearson dengan taraf signifikansi sebesar 0,05 yakni x
> 0,3. Dari total 34 aitem didapatkan butir-butir aitem yang tidak valid
berjumlah 11 butir aitem dan yang valid berjumlah 23 butir, dan semuanya
masih mewakili tiap aspek yang hendak diukur.
Berikut merupakan cetak biru (blue-print) dari skala kompetensi sosial
remaja.



41


Tabel 4.2.
Cetak Biru Skala Kompetensi Sosial Remaja Setelah Uji Validitas
No. Aspek
Aitem
Jml
Aitem
Jml
Aitem
Valid
Favorable Jml Unfav. Jml
1 Perilaku asertif 1*, 2*, 13,
18*, 24*,
26*, 33*
7 7, 23 2 9 6
2 Empati 3*, 8*, 14,
19*, 25*,
34*
6 9 1 7 5
3 Tanggung
jawab
4*, 10, 20*,
27*, 32*
5 15 1 6 4
4 Pengendalian
diri
5*, 16*,
21*, 28, 30
5 11 1 6 3
5 Kerja sama 6*, 12*,
22*, 29*, 31
5 17* 1 6 5
34 23
(*) aitem valid

Pengujian reliabilitas instrumen menggunakan rumus alpha dari
Cronbach. Dari hasil penghitungan diperoleh skor reliabilitas = 0,892 (N
aitem = 23). Dengan demikian, merujuk pada klasifikasi koefisien
reliabilitas Guilford yang menyebut bahwa skor reliabilitas 0, 7 0,9 adalah
relaibel, maka skala kompetensi sosial remaja yang digunakan pada
penelitian ini adalah reliabel.

4.2.1.2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Egosentrisme Remaja
Berdasarkan hasil uji coba terhadap 25 aitem pada instrumen
egosentrisme remaja dengan taraf signifikansi sebesar 0,05 yakni x > 0,3,
didapatkan aitem yang valid hanya berjumlah 15 butir. Sebagian besar aitem
tidak valid adalah untuk aspek personal fable, yakni 8 aitem, hingga hanya
menyisakan 6 butir aitem untuk dua aspek turunan (invulnerability dan
speciality). Khawatir tidak dapat mewakili aspek yang hendak diukur, maka
42


koefisian validitas diturunkan dengan melihat nilai kritik pada tabel r
product momen, menjadi x > 0,213 (N subjek = 85, dengan taraf signifikansi
0,05). Hingga kemudian didapat aitem valid berjumlah 20 butir. Penurunan
standar koefisien validitas tersebut adalah dimungkinkan
mempertimbangkan pendapat dari Azwar (2003) yang menyatakan bahwa
seringkali suatu tes yang memiliki koefisien validitas kurang tinggi masih
berguna dalam membantu keputusan. Berikut cetak biru (blue-print) dari
skala egosentrisme remaja.
Tabel 4.3.
Cetak Biru Skala Egosentrisme Setelah Uji Validitas
No. Aspek Aitem
Jumlah
Aitem
Jumlah Aitem
Valid
Sub-skala 1
1 Imaginary
audience
1*, 2*, 3*, 4*,
5*, 6*, 7*, 8*,
9*, 10*, 11*
11 11
Sub-skala 2
1 Ketangguhan
(Invulnerability)
2*, 4, 6, 8*,
10, 12*, 14
7 3
2 Kekhususan
(speciality)
1*, 3*, 5*, 7,
9*, 11*, 13*
7 6
25 20
(*) aitem valid

Sementara untuk reliabilitas, diperoleh skor = 0,800 (N aitem = 20).
Maka instrumen egosentrisme remaja reliabel dan layak digunakan dalam
penelitian ini.

4.2.2. Deskripsi Hasil Penelitian
4.2.2.1. Kategorisasi Variabel
43


Kategorisasi variabel dibuat untuk mengetahui tingkat egosentrisme
dan kompetensi sosial pada subjek penelitian. Kategorisasi dibuat
menggunakan kategorisasi jenjang ordinal. Kategorisasi jenjang ordinal
bertujuan untuk menempatkan individu ke dalam kelompok-kelompok yang
terpisah menurut suatu kontinum berdasar pada atribut yang diukur (Azwar,
2004). Tingkatan masing-masing variabel dibuat dalam tiga kategori, yaitu
tinggi, sedang, dan rendah. Berikut penghitungan statistik untuk kategorisasi
kedua variabel.
Tabel 4.4.
Deskripsi Statistik Masing-masing Variabel

Mean Std. Deviation N
Egosentrisme 39.6818 6.32191 88
Kompetensi Sosial 61.0227 9.76150 88

Tabel 4.5.
Kategorisasi Egosentrisme
Kategori Klasifikasi Skor Interval Jumlah Persentase
Tinggi
X > (M + 1SD)
X > (40 + 6)
X > 46 7 8 %
Sedang
(M - 1SD) < X < (M + 1SD)
(40 6) < X < (40 + 6)
34 46 67 76 %
Rendah
X < (M - 1SD)
X < (40 6)
X < 34 14 16 %
Jumlah 88 100 %
Dari tabel 4.5. di atas diketahui bahwa di antara subjek yang diteliti
yang masuk dalam kategori egosentrisme tinggi berjumlah 7 orang (8%),
sedang 67 orang (76%), dan rendah 14 orang (16%).
Tabel 4.6.
Kategorisasi Kompetensi Sosial
Kategori Klasifikasi Skor Interval Jumlah Persentase
Tinggi X > (M + 1SD) X > 71 14 16%
44


X > (61 + 10)
Sedang
(M - 1SD) < X < (M + 1SD)
(61 10) < X < (61 + 10)
51 71 67 76 %
Rendah
X < (M - 1SD)
X < (61 10)
X < 51 7 8 %
Jumlah 88 100 %

Dari tabel 4.6. di atas diketahui bahwa di antara subjek yang diteliti
yang masuk dalam kategori kompetensi sosial yang tinggi berjumlah 14
orang (16%), sedang 67 orang (76%), dan rendah 7 orang (8%).

Tabel 4.7.
Tabulasi Silang Kategori Variabel
Kategori Egosentrisme
Total
Rendah Sedang Tinggi
Kategori
Kompetensi
Sosial
Rendah 1 6 0 7
Sedang 13 50 4 67
Tinggi 0 11 3 14
Total 14 67 7 88

Dari data hasil tabulasi silang sebagaimana di atas, diketahui bahwa di
antara subjek penelitian, yang terbanyak adalah yang masuk kategori sedang
pada dua variabel sekaligus, yaitu berjumlah 50 orang. Dan tidak ada subjek
yang masuk kategori tinggi pada egosentrisme yang memiliki kompetensi
sosial rendah. Sama hal dengan sebaliknya, tidak ada subjek yang termasuk
kategori rendah dalam egosentrisme yang memiliki kompetensi sosial yang
tinggi.




4.2.2.2. Uji Hipotesis
Berdasarkan penghitungan program SPSS versi 17 for Windows
dengan menggunakan rumus korelasi Pearson untuk menguji hipotesis
45


pertama, yakni hubungan dari variabel kompetensi sosial dan egosentrisme
remaja, diperoleh hasil hitung seperti sebagai berikut:
Tabel 4.8.
Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial dengan Egosentrisme
Kompetensi sosial Egosentrisme
Kompetensi sosial Pearson Correlation
1 .327
**

Sig. (2-tailed)

.002
N
88 88
Egosentrisme Pearson Correlation
.327
**
1
Sig. (2-tailed)
.002

N
88
88
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Dari hasil tersebut diketahui bahwa antara variabel kompetensi sosial
dan egosentrisme remaja diperoleh skor korelasi sebesar 0,327 dengan
tingkat signifikansi sebesar 0,002, jadi x < = 0,01. Maka, di antara kedua
variabel terdapat hubungan yang signifikan. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa hipotesis nihil (H
0
) yang menyatakan tidak ada hubungan
yang signifikan antara egosentrisme dengan kompetensi sosial remaja
adalah ditolak, dan hipotesis alternatif (H
a
) yang menyatakan ada hubungan
yang signifikan antara egosentrisme dengan kompetensi sosial remaja
adalah diterima.
Penghitungan rumus korelasi Pearson untuk menguji hipotesis kedua,
yakni hubungan antara variabel kompetensi sosial dengan imaginary
audience, diperoleh hasil seperti berikut:
Tabel 4.9.
Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial dengan Imaginary Audience
Kompetensi sosial Imaginary audience
46


Kompetensi sosial Pearson Correlation
1 .261
Sig. (1-tailed)
.007
N
88 88
Imaginary
audience

Pearson Correlation
.261 1
Sig. (1-tailed)
.007

N
88
88

Dari hasil tersebut diketahui bahwa antara variabel kompetensi sosial
dengan imaginary auidience diperoleh skor korelasi sebesar 0,261 dengan
tingkat signifikansi sebesar 0,007, jadi x < = 0,05. Maka, di antara kedua
variabel terdapat hubungan yang signifikan. Jadi, hipotesis alternatif (H
a
)
yang menyatakan ada hubungan yang signifikan antara imaginary auidience
dengan kompetensi sosial remaja adalah diterima.
Selanjutnya, penghitungan korelasi antara variabel kompetensi sosial
dengan personal fable sebagai pengujian terhadap hipotesis ketiga diperoleh
hasil seperti berikut:
Tabel 4.10.
Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial dengan Personal Fable
Kompetensi sosial Personal fable
Kompetensi sosial Pearson Correlation
1 .285
Sig. (1-tailed)

.004
N
88 88
Personal fable

Pearson Correlation
.285 1
Sig. (1-tailed)
.004

N 88
88

Data di atas menyatakan bahwa antara variabel kompetensi sosial
dengan personal fable diperoleh skor korelasi sebesar 0,285 dengan tingkat
signifikansi sebesar 0,004, jadi x < = 0,05. Maka, di antara kedua variabel
terdapat hubungan yang signifikan. Oleh karenanya, hipotesis alternatif (H
a
)
47


yang menyatakan ada hubungan yang signifikan antara personal fable
dengan kompetensi sosial remaja adalah diterima.
Uji korelasi terhadap hipotesis keempat, yakni hubungan antara
kompetensi sosial, egosentrisme (imaginary audience & personal fable) dan
usia, diperoleh hasil hitung sebagai berikut:
Tabel 4.11.
Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial, Egosentrisme dan Usia

Kompetensi
sosial
Imaginary
audience
Personal
fable
Usia
Kompetensi
sosial

Pearson Correlation
1 .261 .285 .124
Sig. (1-tailed)

.007 .004 .124
N
88 88 88 88
Imaginary
audience
Pearson Correlation
.261 1 .368 -.173
Sig. (1-tailed)
.007 .000 .053
N
88 88 88 88
Personal
fable

Pearson Correlation
.285 .368 1 -.071
Sig. (1-tailed)
.004 .000
.255
N
88
88 88 88
Usia Pearson Correlation
.124 -.173 -.071 1
Sig. (1-tailed)
.124 .053 .255
N
88 88 88 88

Dengan hasil seperti tersebut di atas, diketahui bahwa variabel usia
tidak berkorelasi secara signifikan dengan tiga variable lain. Maka hipotesis
alternatif (H
a
) yang menyatakan ada hubungan yang signifikan antara usia,
egosentrisme (imaginary audience & personal fable) dan kompetensi sosial
remaja adalah ditolak. Dan hipotesis nihil (H
0
) yang menyatakan tidak ada
hubungan yang signifikan antara usia, egosentrisme (imaginary audience &
personal fable) dan kompetensi sosial remaja adalah diterima.
48


Terakhir, penghitungan atas korelasi antara variabel kompetensi
sosial, egosentrisme (imaginary audience & personal fable) dengan jenis
kelamin untuk menguji hipotesis kelima diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.12.
Hasil Uji Korelasi Kompetensi Sosial, Egosentrisme dan Jenis Kelamin

Kompetensi
sosial
Imaginary
audience
Personal
fable
Jenis
Kelamin
Kompetensi
sosial

Pearson Correlation
1 .261 .285 -.148
Sig. (1-tailed)

.007 .004 .085
N
88 88 88 88
Imaginary
audience
Pearson Correlation
.261 1 .368 .023
Sig. (1-tailed)
.007 .000 .415
N
88 88 88 88
Personal
fable

Pearson Correlation
.285 .368 1 -.094
Sig. (1-tailed)
.004 .000
.192
N
88
88 88 88
Jenis
kelamin
Pearson Correlation
-.148 .023 -.094 1
Sig. (1-tailed)
.085 .415 .192
N
88 88 88 88

Hasil tersebut menyatakan bahwa variabel jenis kelamin tidak
berkorelasi dengan signifikan terhadap tiga variable lain. Maka hipotesis
alternatif (H
a
) yang menyatakan ada hubungan yang signifikan antara jenis
kelamin, egosentrisme (imaginary audience & personal fable) dan
kompetensi sosial remaja adalah ditolak. Dan hipotesis nihil (H
0
) yang
menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin,
egosentrisme (imaginary audience & personal fable) dan kompetensi sosial
remaja adalah diterima.

49


BAB V
KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data hasil penelitian sebagaimana dipaparkan di
bab 4, diambil kesimpulan, terdapat hubungan signifikan antara egosentrisme
dengan kompetensi sosial remaja pada siswa/siswi kelas VII dan VIII Sekolah
Menengah Pertama Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang. Begitu pula pada
imaginary audience dan personal fable, keduanya memiliki hubungan yang
signifikan dengan kompetensi sosial remaja.
Variabel usia dan jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan
egosentrisme baik imaginary audience maupun personal fable. Demikian pula
dengan kompetensi sosial remaja.

5.2. Diskusi
Temuan penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara egosentrisme dengan kompetensi sosial pada remaja adalah
sejalan dengan beberapa studi terdahulu yang menemukan bahwa egosentrisme
remaja memiliki kaitan dengan sejumlah perilaku remaja dalam relasi sosial
(Goosens, dkk., 2002; Schonert-Reichl, 1994; Ryan & Kuczkowski, 1994, dalam
Smetana & Villalobos, Lerner & Steinberg, 2009).
Pada kelompok subjek penelitian ini diketahui bahwa meski
kebanyakan dari mereka menunjukkan tingkat egosentrisme pada level sedang,
yakni berjumlah 67 orang (76%), tapi tak sedikit di antaranya berada pada tingkat
egosentrisme yang rendah, yaitu 14 orang (16%). Dan sedikit yang berada pada
50


tingkat egosentrisme tinggi (7 orang atau sekitar 8% dari keseluruhan). Sementara
pada aspek kompetensi sosial, sebagian besar subjek juga termasuk pada kategori
sedang, yaitu sejumlah 67 orang (76%). Sedikit di antara mereka termasuk
kategori rendah, yakni 7 orang (8%), dan cukup banyak yang termasuk kategori
tinggi (14 orang atau sekitar 16% dari keseluruhan). Namun demikian, secara detil
tidak ditemukan adanya subjek yang menunjukkan egosentrisme yang rendah
diikuti dengan adanya kompetensi sosial yang tinggi. Begitu pula sebaliknya,
tidak ditemukan subjek yang menunjukkan egosentrisme yang tinggi disertai
dengan adanya kompetensi sosial yang rendah.
Hasil temuan mengenai tidak adanya hubungan antara usia dengan
egosentrisme baik imaginary audience maupun personal fable tidaklah seperti
yang diharapkan. Hal ini semakin menambah variasi temuan studi-studi terdahulu.
Beberapa penelitian terdahulu ada yang menemukan bahwa egosentrisme (baik
imaginary audience maupun personal fable) berkorelasi secara negatif dengan
usia, sementara studi lain menemukan bahwa personal fable berkorelasi positif
(Greene, Walters, Rubin & Hale, 1996). Namun demikian sebagai tambahan
dalam penelitian ini, perbedaan nilai rata-rata egosentrisme menunjukkan bahwa
remaja dengan usia lebih muda yakni 11-12 tahun (M = 21.37 untuk imaginary
audience, dan M = 18.42 untuk personal fable) adalah lebih tinggi ketimbang
remaja yang lebih tua yakni 13-14 tahun (M = 21.29 untuk imaginary audience,
dan M = 18.19 untuk personal fable).
Meski pada studi ini jenis kelamin ditemukan tidak berkorelasi dengan
egosentrisme maupun kompetensi sosial, diketahui terdapat perbedaan nilai antara
laki-laki dengan perempuan pada kedua variabel. Dalam imaginary audience,
51


subjek laki-laki ditemukan memiliki nilai yang lebih rendah (M = 21.24)
dibanding subjek perempuan (M = 21.44). Sedang dalam personal fable subjek
laki-laki ditemukan memiliki nilai yang lebih tinggi (M = 18.67) ketimbang
subjek perempuan (M = 18.04). Hasil tersebut sesuai dengan studi sebelumnya
oleh Greene, Walters, Rubin & Hale (1996). Sementara dalam kompetensi sosial,
secara cukup signifikan subjek laki-laki memiliki nilai yang lebih tinggi (M =
62.52) dibanding subjek perempuan (M = 59.65). Hal ini berbeda dengan yang
ditemukan oleh Smart dan Sanson (2003) bahwa perempuan cenderung lebih
tinggi kompetensi sosialnya dibanding dengan laki-laki.

5.3. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan dengan
mempertimbangkan hasil analisis beserta kesimpulannya, penulis mencatat
beberapa saran yang dapat menyempurnakan penelitian lanjutan. Saran dimaksud
terdiri dari saran teoritis dan saran praktis. Saran teoritis diajukan kepada pihak-
pihak yang ingin menyempurnakan penelitian yang penulis lakukan, sedangkan
saran praktis diajukan terutama kepada subjek penelitian beserta pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap hasil penelitian ini.
a. Saran teoritis
Penelitian ini dilakukan hanya pada satu sekolah saja, maka untuk
penelitian selanjutnya agar dapat meneliti subjek yang lebih bervariasi
dan dalam jumlah yang lebih besar.
Dalam penyusunan instrumen pengumpul data, bagi para peneliti yang
berminat untuk melakukan studi lanjutan hendaknya dapat
52


mengembangkan alat ukur yang sebaik-baiknya dengan
mempertimbangkan kondisi subjek dan tempat penelitian dilakukan.
b. Saran praktis
Penulis memberikan saran kepada beberapa pihak, yaitu:
1) Kepada siswa-siswi SMP Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang yang
menjadi subjek penelitian, agar dapat meningkatkan kesadaran akan diri
pribadi serta terus melatih diri untuk memperoleh kompetensi sosial yang
sebaik-baiknya.
2) Kepada dewan guru, diharapkan dapat mengembangkan pola pengajaran
dan pendidikan yang dapat meningkatkan kompetensi sosial para anak
didik.
3) Kepada orangtua, diharapkan dapat meningkatkan perhatian serta
dukungan terhadap anak untuk mencapai perkembangan sosial yang
sebaik-baiknya.
Demikian saran-saran penulis, semoga dapat bermanfaat bagi banyak
pihak.

53


DAFTAR RUJUKAN

Alberts, A., Elkind, D., & Ginsberg, S. (2007). The personal fable and risk-taking
in early adolescence. Journal Youth Adolescence, 36, 71-76.
Amri, Elly Septriyani & Retnaningsih. (2005). Hubungan antara body image
dengan kompetensi sosial pada remaja putri. Skripsi. Jakarta: Universitas
Gunadarma.
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., Smith, E.E., & Bem, D.J. (1990). Pengantar
psikologi. Edisi ke-11. Jilid 1. Batam: Interaksara.
Azwar, Saifuddin. (2004). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Azwar, Saifuddin. (2003). Validitas dan reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Chaplin, James P., Kartono, Kartini (alih bahasa). Kamus lengkap psikologi.
Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2008
Chen, X., Li, D., Li, Z., Li, B., and Liu, M. (2000). Sociable and prosocial
dimensions of social competence in chinese children: Common and unique
contributions to social, academic, and psychological adjustment.
Developmental Psychology, Vol. 36, 302-314.
Danim, Sudarwan. (2004). Metode penelitian untuk ilmu-ilmu perilaku. Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Elkind, David. (1976). Child development and education. New York.
Greene, K., Rubin, D. L., &Hale, J. L. (1995). Egocentrism, message explicitness,
and AIDS messages directed toward adolescents: an application to the theory
of reasoned action. Journal of Social Behavior and Personality, volume10,
nomor 3, halaman 547-570.
Greene, K., Walters, L. H., Rubin, D. L., &Hale, J. L. (1996). The utility of
understanding adolescent egocentrisme in designing health promotin
messages. Health Communication, 8 (2), 131-152. Lawerence Erlbaum
Associates, Inc.
Groot, Jodi Morstein. (2009). Assesing behavior and social competence of
severely emotionally disturbed youth admitted to psychiatric residential
treatment. Journal of Child and Adolescent Psychiatric Nursing, Volume 22,
Nomor 3, Halaman 143-149.
54


Hair, Elizabeth C., Jager, J., & Garrett, S. (2001). Background for community-
level work on social competency in adolescence: reviewing the literature on
contributing factors. Child Trends: John S. & James L. Knight Foundation.
Hurlock, Elizabeth B. (!980). Psikologi perkembangan: suatu pendekatan
sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Kartono, Kartini, & Gulo, Dani. (2003). Kamus psikologi. Bandung: Pionir Jaya.
McCartney, K., & Philips, D. (Editors). (2006). Blackwell handbook of early
childhood development. Blackwell Publishing.
Meisels, S.J., Atkins-Burnett, S., Nicholson J. (1996). Assessment of social
competence, adaptive behaviors, and approaches to learning young children.
Working Paper. Washington, D.C.: National Center for Education Statistic.
Santoso, Singgih W. (2009). Kepercayaan diri, kompetensi sosial remaja
perkotaan dan pedesaan. Laporan penelitian. Yogyakarta: UGM.
Santrock, John W. (2003). Adolescence. Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. (2002). Life-span development: perkembangan masa hidup.
Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga.
Sevilla, Consuello G., dkk. (1993). Pengantar metodologi penelitian. Jakarta: UI
Press.
Shaffer, David R. (2009). Social and personality development. Edisi 6.
Wadsworth, Cengage Learning.
Smart, Diana, dan Sanson, Ann. (2003). Social competence in young adulthood,
its nature and antecedents. Family Matters, no.64. Australian Institute of
Family Studies.
Smetana, JG & Villalobos, M; Lerner, RM & Steinberg, L, (editor). (2009). Social
cognitive development in adolescence. Handbook of Adolescent Psychology,
vol.1: Individual Bases of Adolescent Development. Edisi ketiga. New Jersey:
Wiley & Sons, Inc.
Welsh, Janet A. & Bierman, Karen L. (2001). Social competence. Encyclopedia of
childhood and adolescence. The Pennsylvania State University. Diunduh dari
http://findarticles.com/p/articles/mi_g2602/is_0004/ai_2602000487/, pada Juli
2010
Yamamoto, M, Tomotake, M, & Ohmori, T. (2008). Construction and reliability
of the Japanese version of the Adolescent Egocentrism-Sociocentrism (AES)
scale and its preliminary application in the Japanese university students. The
Journal of Medical Investigation Vol. 55. Jepang: University of Tokushima
Faculty of Integrated Arts and Sciences.

55




Situs Web:
http://en.wikipedia.org/wiki/Egocentrism, diunduh pada Juni 2010.
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php, diunduh pada Juni 2010.
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/metropolitan/09/12/30/99026-
tingkat-pelanggaran-sipil-turun-pelanggaran-polisi-naik, diunduh pada
Agustus 2010.

Blue print skala egosentrisme remaja

No. Aspek Penjelasan Aitem
1 Penonton imajiner (imaginary
audience)
anggapan palsu remaja bahwa orang lain
berpikir tentang mereka, dan terus-menerus
(asyik) dengan pemikiran tentang mereka itu
1, 2, 3, 4, 5,
6, 7, 8, 9, 10,
11
2 Ketangguhan (Invulnerability) pikiran bahwa dirinya tidak terancam
bahaya seperti orang lain dan sanggup
menghadapi berbagai kesulitan
2, 4*, 6*, 8,
10*, 12, 14*
3 Kekhususan (speciality) pikiran bahwa diri remaja sangat khusus dan
unik, serta tidak ada orang lain yang dapat
memahaminya
1, 3, 5, 7*, 9,
11, 13

(*) aitem tidak valid, tidak digunakan pada penelitian


Skala Egosentrisme Remaja (Try out)
Petunjuk:
Berikut beberapa pernyataan tentang suatu keadaan yang mungkin dialami. Di antara 4 pilihan
respon (tidak pernah, kadang-kadang, sering, dan selalu), silakan tentukan yang paling sesuai
dengan kondisi Anda. Misalnya, saya selalu seperti pada keadaan no.1; atau, saya jarang seperti
keadaan no.2, dan seterusnya.
Perlu diingat, tidak ada respon/jawaban yang betul atau salah! Tentukan respon sejujur-jujurnya
sesuai dengan keadaan pribadi Anda.
Menentukan pilihan respon dengan memberi tanda silang (X) pada kolom yang tersedia.
Subskala Imaginary Audience
No Pernyataan
Respon
Tidak pernah Kadang2 Sering Selalu
1. Saya merasa tidak nyaman kalau semua
orang memperhatikan saya ketika ada yang
salah dengan penampilan saya

2. Saya merasa gugup karena khawatir kalau-
kalau orang tidak menyukai saya

3. Saya merasa akan terlihat jelek karena saat
dalam perjalanan ke suatu acara penting
bersama teman-teman pakaian saya terkena
noda

4. Saya merasa malu kalau orangtua tidak
membolehkan saya pergi ke suatu acara
bersama teman-teman populer yang lebih tua

5. Saya merasa sangat malu kalau ada jerawat
besar di hidung saya

6. Saya merasa malu kalau datang ke acara
teman dengan setelan yang tidak pas

7. Saya merasa malu kalau berpikir bahwa orang
lain akan melecehkan sebab saya tidak punya
pacar

8. Saya merasa malu kalau tidak diajak mengikuti
acara teman-teman

9. Saya merasa malu kalau berpikir teman-teman
akan kecewa karena saya tidak memiliki cukup
uang untuk mentraktir jajan teman

10. Saya membayangkan apa yang akan teman-
teman pikirkan tentang saya kalau saya
datang ke suatu acara dan saya tidak kenal
satu pun orang di sana

11. Saat harus maju ke depan kelas, saya merasa
gugup karena saya tahu teman-teman
memikirkan banyak hal tak enak tentang saya


Subskala Personal Fable
No Pernyataan
Respon
Tidak pernah Kadang2 Sering Selalu
1. Walaupun teman-teman mendapat nilai bagus
dalam tugas mengarang, saya rasa guru tetap
menyukai tugas buatan saya sebagai yang
terbaik

2. Sementara teman-teman menemui masalah
akan sesuatu, saya tahu saya bisa keluar
dengan mudah

3. Ketika sadar saya telah berkata/melakukan hal
menyakitkan terhadap teman baik saya, bagi
saya itu seperti tindakan paling buruk yang

belum pernah orang lain lakukan
4. Para remaja (termasuk saya) merasa tidak
takut terluka saat melakukan olahraga

5. Meski saya tahu banyak orang lain tidak
pernah menyadari tujuan dan keinginan
mereka, saya yakin saya pasti menyadarinya

6. Para remaja yakin, meski mencoba
mengkonsumsi narkoba mereka tidak akan
kecanduan

7. Saat suatu tim olahraga akan dibentuk, saya
tahu saya pasti akan terpilih

8. Saya tidak khawatir dengan apa-apa yang
saya makan karena saya tahu saya tidak akan
jadi gemuk

9. Ketika orangtua atau teman-teman saya
berkata bahwa mereka tahu apa yang saya
rasakan, saya tidak yakin mereka betul-betul
begitu

10. Para remaja yakin mereka tidak perlu
memakai sabuk pengaman saat naik mobil

11. Suatu waktu kalau saya melihat anak
perempuan/laki-laki yang cantik/ganteng, saya
pikir dia melihat saya dengan rasa suka

12. Para remaja berpikir bahwa memakai helm
saat main papan seluncur (skateboard),
sepeda, atau sepatu roda (roller-blade)
tidaklah perlu, karena tidak akan terjadi apa-
apa pada diri mereka

13. Saya yakin, teman-teman tidak memiliki ide
sebagus yang saya punya

14. Saya tidak khawatir melakukan hal-hal baru
meskipun menurut orang itu berbahaya

Skala Egosentrisme Remaja (Penelitian)
Petunjuk:
Berikut beberapa pernyataan tentang suatu keadaan yang mungkin dialami. Di antara 4 pilihan
respon (tidak pernah, kadang-kadang, sering, dan selalu), silakan tentukan yang paling sesuai
dengan kondisi Anda. Misalnya, saya selalu seperti pada keadaan no.1; atau, saya jarang seperti
keadaan no.2, dan seterusnya.
Perlu diingat, tidak ada respon/jawaban yang betul atau salah! Tentukan respon sejujur-jujurnya
sesuai dengan keadaan pribadi Anda.
Menentukan pilihan respon dengan memberi tanda silang (X) pada kolom yang tersedia.
Subskala Imaginary Audience
No Pernyataan
Respon
Tidak pernah Kadang2 Sering Selalu
1. Saya merasa tidak nyaman kalau semua
orang memperhatikan saya ketika ada yang
salah dengan penampilan saya

2. Saya merasa gugup karena khawatir kalau-
kalau orang tidak menyukai saya

3. Saya merasa akan terlihat jelek karena saat
dalam perjalanan ke suatu acara penting
bersama teman-teman pakaian saya terkena
noda

4. Saya merasa malu kalau orangtua tidak
membolehkan saya pergi ke suatu acara
bersama teman-teman populer yang lebih tua

5. Saya merasa sangat malu kalau ada jerawat
besar di hidung saya

6. Saya merasa malu kalau datang ke acara
teman dengan setelan yang tidak pas

7. Saya merasa malu kalau berpikir bahwa orang
lain akan melecehkan sebab saya tidak punya
pacar

8. Saya merasa malu kalau tidak diajak mengikuti
acara teman-teman

9. Saya merasa malu kalau berpikir teman-teman
akan kecewa karena saya tidak memiliki cukup
uang untuk mentraktir jajan teman

10. Saya membayangkan apa yang akan teman-
teman pikirkan tentang saya kalau saya
datang ke suatu acara dan saya tidak kenal
satu pun orang di sana
11. Saat harus maju ke depan kelas, saya merasa
gugup karena saya tahu teman-teman
memikirkan banyak hal tak enak tentang saya


Subskala Personal Fable
No Pernyataan
Respon
Tidak pernah Kadang2 Sering Selalu
1. Walaupun teman-teman mendapat nilai bagus
dalam tugas mengarang, saya rasa guru tetap
menyukai tugas buatan saya sebagai yang
terbaik

2. Sementara teman-teman menemui masalah
akan sesuatu, saya tahu saya bisa keluar
dengan mudah

3. Ketika sadar saya telah berkata/melakukan hal
menyakitkan terhadap teman baik saya, bagi
saya itu seperti tindakan paling buruk yang
belum pernah orang lain lakukan

4. Meski saya tahu banyak orang lain tidak
pernah menyadari tujuan dan keinginan
mereka, saya yakin saya pasti menyadarinya

5. Saya tidak khawatir dengan apa-apa yang
saya makan karena saya tahu saya tidak akan
jadi gemuk

6. Ketika orangtua atau teman-teman saya
berkata bahwa mereka tahu apa yang saya
rasakan, saya tidak yakin mereka betul-betul
begitu

7. Suatu waktu kalau saya melihat anak
perempuan/laki-laki yang cantik/ganteng, saya
pikir dia melihat saya dengan rasa suka

8. Para remaja berpikir bahwa memakai helm
saat main papan seluncur (skateboard),

sepeda, atau sepatu roda (roller-blade)
tidaklah perlu, karena tidak akan terjadi apa-
apa pada diri mereka
9. Saya yakin, teman-teman tidak memiliki ide
sebagus yang saya punya



Blue-print skala kompetensi sosial remaja:
No. Aspek Penjelasan
Aitem
Favorable Unfavorable
1 Perilaku asertif perilaku berinisiatif seperti
menanyakan informasi kepada orang
lain, memperkenalkan diri, dan
menanggapi tindakan orang lain
1, 2, 13*,
18, 24, 26,
33
7*, 23*
2 Empati perilaku yang menunjukkan kepedulian
serta penghargaan terhadap perasaan
dan pandangan orang lain
3, 8, 14*,
19, 25, 34
9*
3 Tanggung jawab menggambarkan kemampuan
berkomunikasi dengan orang dewasa
dan penghormatan terhadap
kepemilikan benda atau pekerjaan
yang dilakukan
4, 10*, 20,
27, 32
15*
4 Pengendalian diri perilaku-perilaku yang muncul saat
situasi konflik, meliputi tindakan tepat
ketika menghadapi hal-hal yang
mengganggu, atau berkompromi akan
sesuatu
5, 16, 21,
28*, 30*
11*
5 Kerja sama meliputi perilaku seperti menolong
orang, berbagi sesuatu, menaati
aturan, serta memenuhi permintaan
orang
6, 12, 22,
29, 31*
17

(*) aitem tidak valid, tidak digunakan pada penelitian


Skala Kompetensi Sosial Remaja (Try out)
Petunjuk:
Bagi tiap pernyataan, silakan tentukan respon berdasarkan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.
Misal, saya selalu dalam keadaan sebagaimana disebut no.1; atau, kadang-kadang saya pada
keadaan sebagaimana disebut no.2.
Perlu diingat, tidak ada respon/jawaban yang betul atau salah! Tentukan respon sejujur-jujurnya
sesuai dengan keadaan pribadi Anda.
Menentukan pilihan respon dengan memberi tanda silang (X) pada kolom yang tersedia.

No Pernyataan
Respon
Tidak pernah Kadang2 Sering Selalu
1. Saya mudah menjalin pertemanan
dengan orang lain

2. Saya mengajak orang untuk
mengikuti aktivitas bersama

3. Saya mencoba memahami
perasaan teman-teman saya saat
mereka marah, kecewa, atau sedih

4. Saya bertingkah laku dengan rasa
tanggung jawab

5. Saya bisa menyatakan pendapat
tanpa berselisih atau berdebat

6. Saya menerima arahan dari orang
yang memimpin

7. Saya sulit menyampaikan apa yang
saya inginkan

8. Saya mencoba untuk jadi orang
yang baik dan peduli

9. Saya merasa biasa saja saat teman
saya sedang murung

10. Saya melaksanakan tugas dengan
tepat waktu, meski batas waktunya
ditentukan oleh orang lain

11. Saya ikut emosi bila ada teman
yang bertengkar

12. Saya dapat bekerja dalam situasi
kelompok/tim
13. Saat berkumpul dalam suatu
kelompok, saya memulai
percakapan

14. Teman-teman datang kepada saya
untuk berbagi tentang masalah-
masalah mereka

15. Saya lalai terhadap tugas yang
diberikan pada saya

16. Saya berunding dan berkompromi
dengan orang jika kita tak sepaham

17. Saya mengabaikan masukan dari
teman bila sedang bekerja
kelompok

18. Saya pantas jadi pemimpin/ketua
kelas

19. Saya merasa turut berduka saat
sesuatu yang buruk terjadi pada
orang lain

20. Saya memenuhi kewajiban-
kewajiban saya

21. Saya menerima kritikan yang
membangun

22. Saya mengesampingkan
kebutuhan-kebutuhan pribadi saya
untuk orang lain

23. Saya ragu mengawali perkenalan
dengan teman baru

24. Saya mengemukakan kenginan
saya dengan jelas

25. Saya menunjukkan kepedulian
saya saat orang lain mengalami
kesulitan

26. Saya mengemukakan alasan untuk
tiap tindakan yang saya ambil

27. Saya dapat dipercaya untuk
melaksanakan sesuatu dengan

baik
28. Saya bersikap biasa saja terhadap
teman yang mengejek

29. Saya menunjukkan rasa hormat
saya terhadap orang lain

30. Saya tetap tenang meski teman
saya berteriak-teriak kesal di depan
saya

31. Jika teman saya terlambat
mencatat pelajaran, saya
meminjamkan catatan saya

32. Saya menjaga barang-barang tidak
hanya milik pribadi tapi juga yang
miliki orang lain

33. Saat bertemu dengan orang baru
saya mengawali perkenalan

34. Saya ikut sedih jika teman baik
saya sedih



Skala Kompetensi Sosial Remaja (Penelitian)
Petunjuk:
Bagi tiap pernyataan, silakan tentukan respon berdasarkan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.
Misal, saya selalu dalam keadaan sebagaimana disebut no.1; atau, kadang-kadang saya pada
keadaan sebagaimana disebut no.2.
Perlu diingat, tidak ada respon/jawaban yang betul atau salah! Tentukan respon sejujur-jujurnya
sesuai dengan keadaan pribadi Anda.
Menentukan pilihan respon dengan memberi tanda silang (X) pada kolom yang tersedia.

No Pernyataan
Respon
Tidak pernah Kadang2 Sering Selalu
1. Saya mudah menjalin pertemanan
dengan orang lain

2. Saya mengajak orang untuk
mengikuti aktivitas bersama

3. Saya mencoba memahami
perasaan teman-teman saya saat
mereka marah, kecewa, atau sedih

4. Saya bertingkah laku dengan rasa
tanggung jawab

5. Saya bisa menyatakan pendapat
tanpa berselisih atau berdebat

6. Saya menerima arahan dari orang
yang memimpin

7. Saya mencoba untuk jadi orang
yang baik dan peduli

8. Saya dapat bekerja dalam situasi
kelompok/tim

9. Saya berunding dan berkompromi
dengan orang jika kita tak sepaham

10. Saya mengabaikan masukan dari
teman bila sedang bekerja
kelompok

11. Saya pantas jadi pemimpin/ketua
kelas

12. Saya merasa turut berduka saat
sesuatu yang buruk terjadi pada
orang lain
13. Saya memenuhi kewajiban-
kewajiban saya

14. Saya menerima kritikan yang
membangun

15. Saya mengesampingkan
kebutuhan-kebutuhan pribadi saya
untuk orang lain

16. Saya mengemukakan kenginan
saya dengan jelas

17. Saya menunjukkan kepedulian
saya saat orang lain mengalami
kesulitan

18. Saya mengemukakan alasan untuk
tiap tindakan yang saya ambil

19. Saya dapat dipercaya untuk
melaksanakan sesuatu dengan
baik

20. Saya menunjukkan rasa hormat
saya terhadap orang lain

21. Saya menjaga barang-barang tidak
hanya milik pribadi tapi juga yang
miliki orang lain

22. Saat bertemu dengan orang baru
saya mengawali perkenalan

23. Saya ikut sedih jika teman baik
saya sedih




Scale: VALIDITAS & RELIABILITAS KOMPETENSI SOSIAL

Item-Total Statistics

Scale Mean if
Item Deleted
Scale Variance if
Item Deleted
Corrected Item-
Total Correlation
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
item1 86.8644 141.499 .498 .867
item2 87.2542 145.469 .313 .870
item3 86.8305 139.523 .497 .866
item4 87.0847 139.838 .602 .864
item5 87.3051 141.181 .442 .867
item6 86.7458 140.434 .542 .866
item7* 86.9322 148.995 .075 .875
item8 86.4068 140.452 .500 .866
item9* 86.3559 147.957 .181 .872
item10* 87.4068 149.349 .065 .875
item11* 86.5085 148.634 .073 .876
item12 86.7458 138.227 .628 .863
item13* 86.8644 145.671 .246 .872
item14* 87.2203 145.313 .241 .872
item15* 86.4915 149.806 .082 .874
item16 86.8983 143.196 .332 .870
item17 86.2034 144.820 .333 .870
item18 88.0169 141.120 .513 .866
item19 86.4068 138.935 .549 .865
item20 86.7966 138.199 .648 .863
item21 86.8983 138.886 .585 .864
item22 87.6949 144.905 .308 .870
item23* 86.6271 148.824 .069 .876
item24 87.2034 144.406 .332 .870
item25 86.8983 136.196 .659 .862
item26 87.2203 139.864 .485 .866
item27 87.1525 140.373 .573 .865
item28* 87.3390 144.607 .270 .871
item29 86.5932 137.659 .674 .863
item30* 87.6102 146.414 .168 .874
item31* 86.8983 145.300 .280 .871
item32 87.2373 142.770 .400 .868
item33 87.0339 142.378 .344 .870
item34 86.8305 137.419 .490 .866
(*) Aitem tidak valid

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.872 34


Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.892 23



Scale: VALIDITAS & RELIABILITAS EGOSENTRISME


Reliability Statistics
Cronbachs Alpha N of Items
.776 25


Item-Total Statistics

Scale Mean if Item
Deleted
Scale Variance if
Item Deleted
Corrected Item-
Total Correlation
Cronbachs Alpha
if Item Deleted
Sub-scale 1
item1 47.1167 67.495 .332 .767
item2 47.5000 67.237 .383 .764
item3 47.8333 67.599 .378 .765
item4 48.2500 66.903 .441 .761
item5 47.8500 68.367 .269 .771
item6 47.6667 65.718 .469 .759
item7 48.5833 69.705 .336 .768
item8 48.2000 66.129 .537 .757
item9 48.3500 69.350 .331 .768
item10 47.9667 68.067 .347 .766
item11 47.5667 69.470 .233 .773
Sub-scale 2
item1 47.7667 70.216 .223 .773
Item2 47.6833 68.932 .277 .770
Item3 47.6333 69.050 .227 .774
Item4* 47.4167 71.230 .133 .778
Item5 47.3667 67.999 .365 .766
Item6* 48.4167 70.315 .180 .776
Item7* 47.9333 71.351 .102 .780
Item8 47.9667 66.101 .480 .759
Item9 47.6333 67.287 .448 .761
Item10* 47.8500 73.587 -.041 .787
Item11 47.8667 66.050 .424 .761
Item12 48.1500 67.858 .329 .767
Item13 48.1000 66.702 .428 .762
Item14* 48.1333 71.440 .105 .780
(*) Aitem tidak valid

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.801 15


Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha N of Items
.800 20



Lampiran 9: Descriptive Statistics dan Uji Korelasi
Descriptive Statistics

Mean Std. Deviation N
EGOSENTRISME 39.6818 6.32191 88
KOMPETENSISOSIAL 61.0227 9.76150 88




Imaginary Audience Personal Fable Kompetensi Sosial
Mean Standard Dev. Mean Standard Dev. Mean Standard Dev.
Laki-laki 21.2381 4.9771 18.6667 3.5999 62.5238 9.2743
Perempuan 21.4348 3.5756 18.0435 3.0909 59.6522 10.0912
Usia 11-12 21.3684 3.7208 18.4211 2.3856 61.0175 10.0933
Usia 13-14 21.2903 5.2166 18.1936 4.3391 59.5807 10.2949


Correlations 2
Correlations 1

Egosentrisme Kompetensi Sosial
Egosentrisme Pearson Correlation 1 .327
**

Sig. (2-tailed)

.002
N 88 88
Kompetensi Sosial Pearson Correlation .327
**
1
Sig. (2-tailed) .002

N 88 88
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Kompetensi
Sosial
Imaginary
Audience
Personal
Fable
Usia
Jenis
Kelamin
Pearson Correlation Kompetensi
Sosial
1.000 .261 .285 .124 -.148
Imaginary
Audience
.261 1.000 .368 -.173 .023
Personal Fable .285 .368 1.000 -.071 -.094
Usia .124 -.173 -.071 1.000 -.020
Jenis Kelamin -.148 .023 -.094 -.020 1.000
Sig. (1-tailed) Kompetensi
Sosial
. .007 .004 .124 .085
Imaginary
Audience
.007 . .000 .053 .415
Personal Fable .004 .000 . .255 .192
Usia .124 .053 .255 . .428
Jenis Kelamin .085 .415 .192 .428 .
N 88 88 88 88 88


Data Tryout Hubungan Egosentrisme dengan Kompetensi Sosial
Skala Egosentrisme
NO NAMA KLS JK ITEM 1 ITEM 2 ITEM 3 ITEM 4 ITEM 5
1 MWS VII P 2 2 1 4 4
2 AA VII P 2 3 2 3 3
3 AN VII P 2 3 2 2 1
4 AD VII P 3 2 3 2 4
5 MF VII P 1 2 1 3 2
6 AS VII P 2 2 2 3 2
7 AMP VII P 2 2 2 3 2
8 AS VII P 2 3 3 2 1
9 AAK VII P 1 4 3 2 3
10 MIS VII P 3 2 2 1 4
11 CA VII P 1 2 2 2 1
12 MI VII P 2 3 3 3 1
13 DD VII P 2 3 2 3 2
14 DTO VII P 2 2 2 2 3
15 DAP VII P 2 2 3 4 4
16 DDN VII P 1 2 2 2 2
17 ARM VIII P 4 3 4 4 2
18 ANS VIII P 2 2 3 3 4
19 AVW VIII P 2 4 2 4 2
20 AJN VIII P 2 2 3 2 2
21 EE VIII P 2 4 1 2 2
22 IM VIII P 4 3 4 2 4
23 ME VIII P 1 2 2 4 3
24 MD VIII P 2 4 2 1 2
25 NWN VIII P 2 4 1 2 2
26 ROS VIII P 2 4 1 3 1
27 ROS VIII P 2 1 1 1 1
28 RNL VIII P 2 3 2 3 1
29 SSD VIII P 2 3 2 3 2
30 TLF VIII P 2 4 2 3 2
31 ET VII L 2 4 2 3 4
32 FR VII L 4 3 2 3 2
33 GBP VII L 2 1 3 1 2
34 GR VII L 3 4 4 2 3
35 HT VII L 2 4 1 3 2
36 IP VII L 2 2 2 2 3
37 MRA VII L 2 3 2 2 1
38 M VII L 1 3 2 2 1
39 A VII L 2 3 3 3 2
40 BAF VII L 2 2 4 1 4
41 AC VII L 3 3 2 2 3
42 DK VII L 1 4 3 3 1
43 MAA VII L 3 3 2 2 3
44 MA VII L 1 3 1 3 2
45 AA VIII L 3 3 2 3 2
46 AB VIII L 3 4 3 2 2
47 AAL VIII L 2 3 1 3 2
48 SN VIII L 1 4 4 4 1
49 FAP VIII L 2 2 1 1 2
50 K VIII L 2 4 2 2 3
51 JI VIII L 1 1 2 1 2
52 SF VIII L 2 4 3 2 4
53 RMN VIII L 4 2 2 1 1
54 IF VIII L 2 1 1 1 1
55 GBS VIII L 1 4 2 3 3
56 SPA VIII L 2 3 2 1 2
57 MHP VIII L 3 1 1 1 2
58 NEW VIII L 2 1 1 3 1
59 MA VIII L 3 2 3 2 2
60 WAS VIII L 2 2 3 2 2
Skala Kompetensi Sosial
NO NAMA KLS JK ITEM 1 ITEM 2 ITEM 3 ITEM 4 ITEM 5
1 MWS VII P 2 3 3 2 1
2 AA VII P 2 2 3 2 3
3 AN VII P 3 3 3 2 2
4 AD VII P 3 4 4 3 2
5 MF VII P 3 3 3 3 2
6 AS VII P 2 3 3 2 3
7 AMP VII P 2 3 3 2 3
8 AS VII P 2 2 2 2 2
9 AAK VII P 2 2 2 2 2
10 MIS VII P 3 2 4 2 3
11 CA VII P 2 2 2 2 2
12 MI VII P 2 2 4 3 2
13 DD VII P 2 2 3 2 2
14 DTO VII P 2 1 2 2 2
15 DAP VII P 3 3 2 2 1
16 DDN VII P 3 2 2 2 2
17 ARM VIII P 3 2 4 3 2
18 ANS VIII P 3 3 4 3 2
19 AVW VIII P 2 2 4 4 2
20 AJN VIII P 3 2 3 3 2
21 EE VIII P 2 3 4 2 2
22 IM VIII P 4 3 4 4 2
23 ME VIII P 4 4 4 4 4
24 MD VIII P 2 2 2 2 2
25 NWN VIII P 2 2 2 2 2
26 ROS VIII P 2 3 4 2 1
27 ROS VIII P 2 2 3 2 1
28 RNL VIII P 3 2 4 3 4
29 SSD VIII P 3 2 2 2 2
30 TLF VIII P 2 2 4 3 2
31 ET VII L 2 2 4 4 3
32 FR VII L 4 4 4 2 2
33 GBP VII L 4 4 4 4 4
34 GR VII L 2 2 3 4 4
35 HT VII L 2 2 2 1 2
36 IP VII L 3 2 2 2 2
37 MRA VII L 2 1 3 2 2
38 M VII L 1 1 2 2 1
39 A VII L 3 2 2 2 2
40 BAF VII L 4 2 2 3 4
41 AC VII L 4 2 2 3 2
42 DK VII L 3 2 2 2 2
43 MAA VII L 4 2 2 2 2
44 MA VII L 3 3 2 2 2
45 AA VIII L 3 2 2 3 2
46 AB VIII L 4 2 4 3 2
47 AAL VIII L 2 2 3 2 2
48 SN VIII L 2 3 3 2 1
49 FAP VIII L 2 3 2 4 1
50 K VIII L 2 2 2 2 3
51 JI VIII L 3 2 2 3 2
52 SF VIII L 3 2 2 3 2
53 RMN VIII L 4 2 3 2 4
54 IF VIII L 3 2 1 4 3
55 GBS VIII L 3 2 2 2 3
56 SPA VIII L 4 2 3 4 4
57 MHP VIII L 3 3 1 2 1
58 NEW VIII L 3 3 1 2 1
59 MA VIII L 3 2 3 3 3
60 WAS VIII L 3 3 2 2 4
Data Field-test Hubungan Egosentrisme dengan Kompetensi Sosial
Skala Egosentrisme
NO NAMA USIA JK ITEM 1 ITEM 2 ITEM 3 ITEM 4 ITEM 5
1 ER 2 P 2 2 2 2 2
2 DNN 2 P 2 2 2 2 2
3 NC 2 P 2 2 2 2 2
4 SR 1 P 2 2 2 2 2
5 AS 2 P 2 2 2 2 2
6 DM 2 P 2 2 2 2 2
7 FSR 1 P 2 2 2 2 2
8 NF 2 P 2 2 2 2 2
9 JS 2 P 2 2 2 2 2
10 NFK 2 P 2 2 2 2 2
11 CS 2 P 2 2 2 2 2
12 IS 1 P 2 2 2 2 2
13 RH 2 P 2 2 2 2 2
14 RA 2 P 2 2 2 2 2
15 GF 2 P 3 2 3 2 4
16 EL 2 P 1 2 1 3 2
17 RD 2 P 2 3 3 2 1
18 IS 1 P 2 4 2 3 2
19 NF 2 P 2 3 2 3 1
20 MD 2 P 2 4 2 1 2
21 FR 1 P 2 4 1 2 2
22 ND 2 P 2 2 3 2 2
23 CN 2 P 2 4 1 2 2
24 ID 2 P 2 2 3 3 4
25 WIN 2 P 2 2 3 4 4
26 RS 2 P 1 2 2 2 2
27 AD 2 P 2 3 2 3 2
28 MC 2 P 1 2 2 2 1
29 DY 3 P 2 2 1 4 4
30 RM 3 P 2 3 2 3 3
31 NNS 3 P 2 3 2 2 1
32 MGF 3 P 3 2 3 2 4
33 ELZ 3 P 1 2 1 3 2
34 YF 3 P 2 2 2 3 2
35 AF 3 P 2 2 2 3 2
36 DR 3 P 2 3 3 2 1
37 HZS 3 P 1 4 3 2 3
38 RL 3 P 3 2 2 1 4
39 MK 3 P 1 2 2 2 1
40 IBP 3 P 2 3 3 3 1
41 DA 2 P 2 3 2 3 2
42 YS 3 P 2 2 2 2 3
43 WL 3 P 2 2 3 4 4
44 RSY 3 P 1 2 2 2 2
45 PR 3 P 4 3 4 4 2
46 JD 3 P 2 2 3 3 4
47 MIR 2 L 3 4 3 2 2
48 APD 1 L 2 3 1 3 2
49 MIH 1 L 1 4 4 4 1
50 ATP 2 L 2 2 1 1 2
51 AP 2 L 2 4 2 2 3
52 LAW 2 L 1 1 2 1 2
53 JAS 2 L 2 4 3 2 4
54 MRF 2 L 4 2 2 1 1
55 FJ 3 L 2 1 1 1 1
56 SFU 1 L 1 4 2 3 3
57 HAM 3 L 2 3 2 1 2
58 YCN 2 L 3 1 1 1 2
59 ER 2 L 2 1 1 3 1
60 MAA 2 L 3 2 3 2 2
61 MRA 2 L 2 2 3 2 2
62 IS 2 L 2 3 3 3 2
63 RA 2 L 2 2 4 1 4
64 MI 2 L 3 3 2 2 3
65 DE 2 L 1 4 3 3 1
66 AJ 2 L 3 3 2 2 3
67 MAF 2 L 1 3 1 3 2
68 AA 2 L 3 3 2 3 2
69 AM 2 L 3 4 3 2 2
70 SU 2 L 2 3 1 3 2
71 AS 2 L 1 4 4 4 1
72 APH 2 L 2 2 1 1 2
73 MI 2 L 2 4 2 2 3
74 HIA 2 L 1 1 2 1 2
75 MHF 2 L 2 4 3 2 4
76 YIS 2 L 2 1 3 1 2
77 MLR 3 L 3 4 4 2 3
78 MI 3 L 2 4 1 3 2
79 CDE 3 L 2 2 2 2 3
80 RMP 3 L 2 3 2 2 1
81 WGD 4 L 1 3 2 2 1
82 MAR 3 L 2 3 3 3 2
83 JP 3 L 2 2 4 1 4
84 MYS 3 L 3 3 2 2 3
85 CAM 3 L 1 4 3 3 1
86 BA 3 L 3 3 2 2 3
87 MF 3 L 1 3 1 3 2
88 HA 3 L 3 3 2 3 2
Skala Kompetensi Sosial
NO NAMA USIA JK ITEM 1 ITEM 2 ITEM 3 ITEM 4 ITEM 5
1 ER 2 P 2 2 4 4 2
2 DNN 2 P 3 2 3 3 2
3 NC 2 P 2 3 4 2 2
4 SR 1 P 4 3 4 4 2
5 AS 2 P 4 4 4 4 4
6 DM 2 P 2 2 2 2 2
7 FSR 1 P 2 2 2 2 2
8 NF 2 P 2 3 4 2 1
9 JS 2 P 2 2 3 2 1
10 NFK 2 P 3 2 4 3 4
11 CS 2 P 3 2 2 2 2
12 IS 1 P 2 2 4 3 2
13 RH 2 P 2 2 4 4 3
14 RA 2 P 4 4 4 2 2
15 GF 2 P 3 4 4 3 2
16 EL 2 P 3 3 3 3 2
17 RD 2 P 2 2 2 2 2
18 IS 1 P 2 2 4 3 2
19 NF 2 P 3 2 4 3 4
20 MD 2 P 2 2 2 2 2
21 FR 1 P 2 2 2 2 2
22 ND 2 P 3 2 3 3 2
23 CN 2 P 2 3 4 2 2
24 ID 2 P 3 3 4 3 2
25 WIN 2 P 3 3 2 2 1
26 RS 2 P 3 2 2 2 2
27 AD 2 P 2 2 3 2 2
28 MC 2 P 2 2 2 2 2
29 DY 3 P 2 3 3 2 1
30 RM 3 P 2 2 3 2 3
31 NNS 3 P 3 3 3 2 2
32 MGF 3 P 3 4 4 3 2
33 ELZ 3 P 3 3 3 3 2
34 YF 3 P 2 3 3 2 3
35 AF 3 P 2 3 3 2 3
36 DR 3 P 2 2 2 2 2
37 HZS 3 P 2 2 2 2 2
38 RL 3 P 3 2 4 2 3
39 MK 3 P 2 2 2 2 2
40 IBP 3 P 2 2 4 3 2
41 DA 2 P 2 2 3 2 2
42 YS 3 P 2 1 2 2 2
43 WL 3 P 3 3 2 2 1
44 RSY 3 P 3 2 2 2 2
45 PR 3 P 3 2 4 3 2
46 JD 3 P 3 3 4 3 2
47 MIR 2 L 4 2 4 3 2
48 APD 1 L 2 2 3 2 2
49 MIH 1 L 2 3 3 2 1
50 ATP 2 L 2 3 2 4 1
51 AP 2 L 2 2 2 2 3
52 LAW 2 L 3 2 2 3 2
53 JAS 2 L 3 2 2 3 2
54 MRF 2 L 4 2 3 2 4
55 FJ 3 L 3 2 1 4 3
56 SFU 1 L 3 2 2 2 3
57 HAM 3 L 4 2 3 4 4
58 YCN 2 L 3 3 1 2 1
59 ER 2 L 3 3 1 2 1
60 MAA 2 L 3 2 3 3 3
61 MRA 2 L 3 3 2 2 4
62 IS 2 L 4 4 4 4 4
63 RA 2 L 3 3 2 2 4
64 MI 2 L 2 2 2 1 2
65 DE 2 L 3 2 2 2 2
66 AJ 2 L 4 2 2 3 4
67 MAF 2 L 3 3 2 2 2
68 AA 2 L 3 2 3 3 3
69 AM 2 L 4 2 3 4 4
70 SU 2 L 3 2 2 2 3
71 AS 2 L 3 2 2 3 2
72 APH 2 L 2 2 2 2 3
73 MI 2 L 4 2 4 3 2
74 HIA 2 L 3 2 2 3 2
75 MHF 2 L 3 3 2 2 2
76 YIS 2 L 4 4 4 4 4
77 MLR 3 L 2 2 3 4 4
78 MI 3 L 2 2 2 1 2
79 CDE 3 L 3 2 2 2 2
80 RMP 3 L 2 1 3 2 2
81 WGD 4 L 1 1 2 2 1
82 MAR 3 L 3 2 2 2 2
83 JP 3 L 4 2 2 3 4
84 MYS 3 L 4 2 2 3 2
85 CAM 3 L 3 2 2 2 2
86 BA 3 L 4 2 2 2 2
87 MF 3 L 3 3 2 2 2
88 HA 3 L 3 2 2 3 2
ITEM 6 ITEM 7 ITEM 8 ITEM 9 ITEM 10 ITEM 11 ITEM 12 ITEM 13 ITEM 14
2 3 1 2 2 1 2 1 1
3 3 1 3 3 1 2 2 1
2 1 1 2 2 1 3 1 1
3 2 1 2 1 1 2 1 1
2 1 1 2 2 1 3 2 1
2 3 1 2 2 3 2 2 1
3 2 1 2 3 3 2 3 2
2 1 1 3 2 3 2 1 1
3 2 1 4 1 3 1 1 1
2 4 1 3 4 1 2 1 1
1 2 1 1 2 1 2 1 1
2 3 1 4 2 1 1 1 1
2 2 2 2 2 1 2 2 1
2 2 1 2 2 1 2 2 1
2 2 1 1 4 1 4 1 1
1 2 1 2 2 1 2 1 1
4 2 3 4 2 4 4 2 4
3 3 2 3 2 1 2 3 1
3 3 2 3 3 1 2 2 1
1 3 2 2 2 1 2 3 2
2 2 1 2 2 1 2 2 2
2 3 1 4 1 1 3 4 1
2 3 4 3 4 1 4 2 1
1 1 1 2 1 1 1 2 1
4 2 1 2 3 3 4 1 1
2 2 1 2 1 1 4 2 2
1 2 2 2 1 1 1 2 2
4 2 2 2 1 1 2 2 1
2 2 3 2 2 1 2 2 1
2 2 4 3 4 1 2 1 1
3 3 2 3 3 1 2 2 2
2 3 4 2 1 1 4 2 1
1 3 2 4 1 1 1 2 1
4 3 2 3 1 1 3 2 2
4 2 2 2 4 1 2 2 4
2 2 1 2 2 1 2 1 1
2 1 1 2 2 1 1 1 1
1 2 1 1 1 3 1 1 1
2 3 1 2 4 4 1 1 1
1 2 1 2 2 3 2 2 1
2 3 1 2 1 1 2 2 1
3 4 3 2 2 1 3 1 1
2 3 1 2 1 1 2 2 1
1 2 1 2 2 1 3 1 2
2 3 2 3 2 1 3 2 1
2 2 2 4 1 2 2 2 1
2 2 2 2 3 1 3 1 2
2 4 2 4 3 1 2 2 1
2 1 2 2 1 1 2 4 1
2 4 1 2 1 1 2 2 1
2 3 2 3 2 1 2 2 1
1 2 1 4 1 2 4 2 1
1 2 3 4 1 1 1 4 2
1 4 1 3 1 1 1 4 1
1 3 3 4 4 3 4 4 1
2 2 2 3 3 1 1 2 1
1 3 1 2 2 1 1 4 1
1 4 1 2 1 1 1 1 1
2 2 1 2 2 3 2 3 2
1 3 2 2 1 2 3 2 1
ITEM 6 ITEM 7 ITEM 8 ITEM 9 ITEM 10 ITEM 11 ITEM 12 ITEM 13 ITEM 14
2 1 4 3 2 3 2 3 2
3 2 3 4 3 3 3 2 2
2 3 3 2 2 3 2 3 3
3 3 4 4 3 4 4 2 2
2 4 3 4 1 3 3 2 2
2 3 4 3 2 3 3 2 2
2 3 3 3 2 4 2 2 3
2 4 2 2 2 3 3 3 2
2 3 3 3 2 3 2 3 2
4 3 3 4 2 4 4 2 3
3 3 4 3 2 3 3 2 1
4 3 4 4 2 4 2 3 2
2 2 3 3 2 3 3 2 3
3 3 3 4 2 3 3 2 3
2 3 4 3 1 3 4 4 2
4 3 2 3 2 3 3 3 2
2 4 4 4 2 2 4 2 4
3 3 4 3 3 1 2 2 4
4 2 3 3 3 2 3 4 3
2 2 2 4 2 4 2 2 3
2 4 4 4 2 3 2 3 2
4 2 4 4 4 4 4 4 4
4 1 4 3 2 3 4 4 4
2 2 2 2 2 1 2 2 4
2 3 2 4 1 4 2 2 4
3 2 4 4 2 1 2 3 4
1 3 3 4 1 4 2 3 1
3 3 2 3 2 4 4 3 2
3 3 4 4 2 3 2 2 3
3 3 4 3 3 3 2 2 3
3 2 4 3 2 3 3 2 4
2 3 3 3 1 3 3 4 2
4 3 4 3 2 4 4 4 2
4 3 4 4 3 3 4 2 2
2 2 3 4 2 4 3 2 1
3 2 2 3 3 3 3 3 2
4 3 4 4 2 3 4 2 1
2 1 1 2 4 4 1 2 1
3 3 2 3 2 3 3 2 2
4 3 4 3 2 4 4 4 2
3 3 3 3 2 3 2 4 2
2 1 3 3 2 1 2 3 2
3 3 2 3 3 4 2 3 2
3 2 2 3 3 4 2 3 2
3 3 3 3 2 3 3 2 3
4 3 4 3 2 2 4 4 2
2 3 3 4 2 4 2 2 2
3 2 3 4 1 3 3 3 3
3 1 4 2 3 3 3 2 1
3 1 4 3 2 3 3 4 2
3 3 4 3 3 3 3 2 1
3 4 3 3 2 3 4 2 2
3 1 2 4 4 4 2 4 1
3 4 4 3 1 1 2 2 2
4 2 4 3 2 4 2 4 2
4 3 4 3 2 4 4 2 2
3 2 4 3 1 4 4 3 2
3 3 2 2 2 1 3 3 2
2 3 3 3 3 4 3 2 3
3 3 2 2 4 2 3 4 3
ITEM 6 ITEM 8 ITEM 9 ITEM 10 ITEM 12 ITEM 14 ITEM 15 ITEM 16 ITEM 17
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 2 2 2 2 2 2
3 1 2 1 2 1 1 2 3
2 1 2 2 3 1 2 1 2
2 1 3 2 2 1 1 1 3
2 4 3 4 2 1 2 3 2
4 2 2 1 2 1 2 1 2
1 1 2 1 1 1 2 1 2
4 1 2 3 4 1 2 2 4
1 2 2 2 2 2 3 1 2
2 1 2 2 2 2 1 1 2
3 2 3 2 2 1 2 3 3
2 1 1 4 4 1 1 1 4
1 1 2 2 2 1 2 2 2
2 2 2 2 2 1 2 2 2
1 1 1 2 2 1 1 1 2
2 1 2 2 2 1 2 2 2
3 1 3 3 2 1 2 2 2
2 1 2 2 3 1 1 1 2
3 1 2 1 2 1 1 2 3
2 1 2 2 3 1 2 1 2
2 1 2 2 2 1 2 1 3
3 1 2 3 2 2 1 1 3
2 1 3 2 2 1 1 1 3
3 1 4 1 1 1 2 2 1
2 1 3 4 2 1 4 1 2
1 1 1 2 2 1 1 1 2
2 1 4 2 1 1 1 2 4
2 2 2 2 2 1 2 2 2
2 1 2 2 2 1 2 1 2
2 1 1 4 4 1 1 1 4
1 1 2 2 2 1 2 2 2
4 3 4 2 4 4 4 3 3
3 2 3 2 2 1 2 3 3
2 2 4 1 2 1 2 2 2
2 2 2 3 3 2 2 3 2
2 2 4 3 2 1 2 2 2
2 2 2 1 2 1 3 2 2
2 1 2 1 2 1 1 1 2
2 2 3 2 2 1 1 2 2
1 1 4 1 4 1 2 1 2
1 3 4 1 1 2 3 1 4
1 1 3 1 1 1 1 1 1
1 3 4 4 4 1 2 3 3
2 2 3 3 1 1 1 1 2
1 1 2 2 1 1 3 2 2
1 1 2 1 1 1 1 2 1
2 1 2 2 2 2 3 2 2
1 2 2 1 3 1 2 1 2
2 1 2 4 1 1 2 1 2
1 1 2 2 2 1 2 2 2
2 1 2 1 2 1 1 1 2
3 3 2 2 3 1 2 2 4
2 1 2 1 2 1 1 1 2
1 1 2 2 3 2 3 2 2
2 2 3 2 3 1 3 2 2
2 2 4 1 2 1 2 2 2
2 2 2 3 3 2 2 3 2
2 2 4 3 2 1 2 2 2
2 2 2 1 2 1 3 2 2
2 1 2 1 2 1 1 1 2
2 2 3 2 2 1 1 2 2
1 1 4 1 4 1 2 1 2
1 2 4 1 1 1 2 1 2
4 2 3 1 3 2 4 3 2
4 2 2 4 2 4 1 1 2
2 1 2 2 2 1 1 1 1
2 1 2 2 1 1 1 1 1
1 1 1 1 1 1 1 1 1
2 1 2 4 1 1 2 1 2
1 1 2 2 2 1 2 2 2
2 1 2 1 2 1 1 1 2
3 3 2 2 3 1 2 2 4
2 1 2 1 2 1 1 1 2
1 1 2 2 3 2 3 2 2
2 2 3 2 3 1 3 2 2
ITEM 6 ITEM 8 ITEM 12 ITEM 16 ITEM 17 ITEM 18 ITEM 19 ITEM 20 ITEM 21
4 3 3 3 4 1 4 4 2
2 2 2 2 4 2 3 2 2
2 4 2 2 4 2 3 4 3
4 4 4 3 4 2 4 4 4
4 4 4 4 4 3 4 4 4
2 2 2 3 3 1 4 2 2
2 2 2 4 3 2 4 2 2
3 4 2 2 2 1 4 2 1
1 3 2 1 3 1 2 2 2
3 2 4 3 2 1 4 4 4
3 4 2 4 1 1 4 2 2
3 4 2 2 3 1 1 3 3
3 4 3 2 4 1 4 3 3
2 3 3 4 3 2 4 2 2
3 4 4 4 3 2 4 3 2
2 3 3 2 4 1 3 2 3
2 2 3 3 3 1 4 2 3
3 4 2 2 3 1 1 3 3
3 2 4 3 2 1 4 4 4
2 2 2 3 3 1 4 2 2
2 2 2 4 3 2 4 2 2
2 2 2 2 4 2 3 2 2
2 4 2 2 4 2 3 4 3
3 4 2 3 4 3 3 3 3
2 4 4 4 4 1 4 4 2
4 2 3 1 4 1 2 2 2
2 3 3 3 3 2 3 2 2
3 4 3 2 3 1 3 2 3
2 4 2 3 3 1 2 3 3
3 3 3 2 4 1 2 3 3
2 3 2 3 4 1 4 4 2
3 4 4 4 3 2 4 3 2
2 3 3 2 4 1 3 2 3
2 4 3 3 4 1 3 3 2
2 3 2 2 3 1 2 2 1
2 2 3 3 3 1 4 2 3
2 3 2 2 4 2 2 2 2
4 3 4 4 4 2 4 4 4
3 4 3 2 3 1 3 2 3
4 4 2 4 4 2 3 3 4
2 3 3 3 3 2 3 2 2
3 3 3 3 4 1 3 2 3
2 4 4 4 4 1 4 4 2
4 2 3 1 4 1 2 2 2
2 4 4 3 4 4 4 4 4
3 4 2 3 4 3 3 3 3
4 4 4 2 4 4 4 4 4
2 3 2 2 2 2 3 2 2
3 3 3 2 3 1 3 2 3
3 4 3 1 2 3 1 2 1
3 4 3 4 4 1 3 2 3
3 4 3 2 4 1 3 3 2
3 3 4 1 3 1 3 3 3
3 2 2 2 3 1 3 4 3
3 4 2 3 3 1 1 3 1
4 4 2 3 4 2 4 2 3
4 4 4 4 3 3 4 4 2
3 4 4 1 3 3 4 4 3
3 2 3 3 3 1 2 2 2
2 3 3 2 4 2 3 3 3
3 2 3 3 3 2 4 3 4
4 4 4 2 4 1 4 4 4
3 2 3 3 3 2 4 3 4
2 3 3 2 4 1 4 2 3
3 2 3 4 3 2 4 3 3
4 4 4 4 4 2 4 3 4
3 2 2 2 3 1 3 2 2
2 3 3 2 4 2 3 3 3
4 4 4 4 3 3 4 4 2
4 4 2 3 4 2 4 2 3
3 3 4 1 3 1 3 3 3
3 4 3 4 4 1 3 2 3
4 4 4 2 4 4 4 4 4
3 3 3 3 3 2 3 3 3
3 2 2 2 3 1 3 2 2
4 4 4 2 4 1 4 4 4
4 4 4 3 4 2 4 3 4
2 3 3 2 4 1 4 2 3
3 2 3 4 3 2 4 3 3
4 4 4 2 4 2 3 3 3
2 1 1 2 2 1 1 2 2
3 2 3 2 3 2 3 2 2
4 4 4 4 4 2 4 3 4
3 3 2 3 4 1 3 2 2
2 3 2 4 2 1 2 2 3
3 2 2 2 4 1 2 3 2
3 2 2 2 3 1 3 2 2
3 3 3 3 3 2 3 3 3
ITEM 15 ITEM 16 ITEM 17 ITEM 18 ITEM 19 ITEM 20 ITEM 21 ITEM 22 ITEM 23
2 2 2 1 1 2 1 3 1
2 2 2 1 1 2 2 3 1
1 1 2 1 2 2 1 3 1
1 2 3 1 2 1 1 2 2
2 1 2 1 2 1 1 2 1
2 1 3 1 2 3 2 3 2
1 1 3 2 1 3 3 3 1
1 1 3 1 3 2 1 2 3
2 2 1 2 1 1 2 2 1
4 1 2 1 1 1 2 2 2
1 1 2 1 2 1 1 2 1
1 2 4 1 2 2 1 3 1
2 2 2 1 1 2 1 3 3
2 1 2 1 1 1 1 2 1
1 1 4 1 4 1 1 4 1
2 2 2 2 3 1 2 2 3
4 3 3 4 3 3 4 2 1
2 3 3 2 2 1 2 1 1
2 2 2 1 2 2 1 3 1
3 1 2 1 2 1 2 2 2
1 1 2 2 3 2 3 3 1
1 1 4 1 1 4 1 2 1
3 4 3 1 2 1 4 4 4
2 1 2 1 2 1 3 2 2
2 2 4 2 2 2 2 2 2
1 1 2 1 2 2 4 4 1
2 1 1 2 2 1 1 1 1
2 1 2 1 2 2 2 1 1
2 2 2 2 2 2 2 1 2
2 3 2 2 2 2 3 2 2
4 2 3 2 2 3 3 3 4
1 4 2 2 2 1 4 3 4
2 1 2 2 1 1 1 2 1
4 3 2 3 1 4 4 2 1
1 1 2 1 1 4 4 2 1
1 1 1 2 3 2 2 2 1
1 1 1 1 3 2 2 2 1
1 1 1 1 4 1 1 2 1
2 1 2 3 3 1 2 2 3
2 2 2 1 2 2 2 1 2
1 1 2 1 1 2 1 2 1
2 2 4 2 1 3 2 4 2
1 1 2 1 1 2 1 2 1
3 2 2 2 3 3 2 4 4
3 2 2 1 2 2 1 3 2
2 2 2 2 2 2 2 4 3
2 3 2 3 1 2 1 2 1
2 2 2 1 2 2 2 1 2
3 2 2 2 4 2 2 4 2
1 1 2 2 2 2 2 2 1
1 2 2 1 2 2 1 1 2
2 1 2 1 3 2 2 3 2
3 1 4 1 3 1 1 2 3
1 1 1 1 1 1 2 2 1
2 3 3 1 3 3 2 3 3
1 1 2 1 2 2 2 2 1
3 2 2 1 3 2 3 2 1
1 2 1 2 1 4 4 1 1
3 2 2 3 1 1 3 1 2
2 1 2 2 3 1 2 1 2
ITEM 15 ITEM 16 ITEM 17 ITEM 18 ITEM 19 ITEM 20 ITEM 21 ITEM 22 ITEM 23
3 3 3 1 2 3 3 3 4
2 2 4 1 2 3 3 2 3
3 3 4 1 4 4 2 2 3
4 4 3 2 4 3 2 3 3
3 2 4 1 3 2 3 2 4
3 3 4 1 3 3 2 2 2
3 2 3 1 2 2 1 1 1
3 3 3 1 4 2 3 2 2
3 2 4 2 2 2 2 3 2
3 4 4 2 4 4 4 2 4
3 2 3 1 3 2 3 2 3
3 4 4 2 3 3 4 2 4
3 3 3 2 3 2 2 2 4
3 3 4 1 3 2 3 1 3
4 4 4 1 4 4 2 2 4
3 1 4 1 2 2 2 2 3
4 3 4 4 4 4 4 1 1
3 3 4 3 3 3 3 3 4
3 3 4 1 4 4 2 2 2
3 2 4 2 3 2 2 1 4
3 2 4 2 3 4 3 2 3
3 3 4 2 4 4 4 1 4
3 4 4 3 4 4 4 4 3
3 3 3 1 4 2 2 2 1
3 4 3 2 4 2 2 2 3
4 2 2 1 4 2 1 1 1
4 1 3 1 2 2 2 1 4
3 3 2 1 4 4 4 2 3
3 4 1 1 4 2 2 2 3
3 2 3 1 1 3 3 1 4
3 2 4 1 4 3 3 3 2
3 4 3 2 4 2 2 1 3
3 2 4 1 4 4 4 4 3
3 3 4 2 4 3 4 3 3
2 2 4 1 4 2 3 2 3
3 4 3 2 4 3 3 2 2
4 2 4 2 3 3 3 1 3
3 2 2 1 1 2 2 1 2
3 2 3 2 3 2 2 2 3
3 4 4 2 4 3 4 2 4
3 3 4 1 3 2 2 1 3
2 4 2 1 2 2 3 1 4
3 2 4 1 2 3 2 1 3
2 2 3 1 3 2 2 2 3
3 3 3 2 3 3 3 3 1
4 2 4 4 4 4 4 2 3
3 2 2 2 3 2 2 1 3
3 2 3 1 3 2 3 2 3
3 1 2 3 1 2 1 2 3
4 4 4 1 3 2 3 2 3
3 2 4 1 3 3 2 1 4
3 1 3 1 3 3 3 2 3
3 2 3 1 3 4 3 1 3
4 3 3 1 1 3 1 2 4
3 3 4 2 4 2 3 2 2
2 4 3 3 4 4 2 1 3
4 1 3 3 4 4 3 3 4
3 3 3 1 2 2 2 2 4
4 2 4 2 3 3 3 2 3
3 3 3 2 4 3 4 2 2
ITEM 18 ITEM 20 ITEM 21 ITEM 22 ITEM 23 ITEM 24 TOTAL
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
2 2 2 2 2 2 40
1 1 1 2 2 1 38
1 1 1 2 1 2 33
1 2 1 2 3 2 38
2 2 3 2 2 2 49
1 2 2 1 1 2 37
1 1 3 2 2 1 33
2 2 2 2 2 1 45
1 1 2 2 2 1 37
2 2 3 3 1 1 38
2 1 2 1 1 3 45
1 1 1 4 1 1 43
2 1 2 2 3 2 36
1 2 1 3 3 1 40
1 1 1 2 1 1 27
1 2 1 3 1 1 38
1 2 2 3 1 2 43
1 2 1 3 1 1 34
1 1 1 2 2 1 38
1 1 1 2 1 2 33
1 3 2 3 2 2 40
2 3 3 3 1 1 42
1 2 1 2 3 2 38
2 1 2 2 1 1 38
1 1 2 2 2 2 42
1 1 1 2 1 1 27
1 2 1 3 1 3 41
1 2 1 3 3 1 40
1 1 1 2 1 1 33
1 1 1 4 1 1 43
2 1 2 2 3 2 36
4 3 4 2 1 4 66
2 1 2 1 1 3 45
2 2 2 4 3 1 46
3 2 1 2 1 1 42
1 2 2 1 2 1 43
2 2 2 4 2 4 41
2 2 2 2 1 1 36
1 2 1 1 2 1 32
1 2 2 3 2 2 44
1 1 1 2 3 4 42
1 1 2 2 1 1 25
1 3 2 3 3 2 52
1 2 2 2 1 2 36
1 2 3 2 1 3 35
2 4 4 1 1 2 33
3 1 3 1 2 3 43
2 1 2 1 2 1 35
3 1 2 2 3 2 42
1 2 2 1 2 2 38
1 2 1 2 1 2 35
2 3 2 4 2 3 50
1 2 1 2 1 2 35
2 3 2 4 4 2 45
1 2 1 3 2 2 44
2 2 2 4 3 1 46
3 2 1 2 1 1 42
1 2 2 1 2 1 43
2 2 2 4 2 4 41
2 2 2 2 1 1 36
1 2 1 1 2 1 32
1 2 2 3 2 2 44
2 1 1 2 1 1 32
3 4 4 2 1 4 58
1 4 4 2 1 2 48
2 2 2 2 1 2 35
1 2 2 2 1 1 31
1 1 1 2 1 1 25
3 1 2 2 3 2 42
1 2 2 1 2 2 38
1 2 1 2 1 2 35
2 3 2 4 2 3 50
1 2 1 2 1 2 35
2 3 2 4 4 2 45
1 2 1 3 2 2 44
ITEM 22 ITEM 24 ITEM 25 ITEM 26 ITEM 27 ITEM 29 ITEM 32 ITEM 33 ITEM 34
2 2 3 3 3 4 4 2 4
1 3 2 2 2 3 2 3 2
2 2 3 2 2 4 3 2 4
1 4 4 4 3 4 3 4 4
4 2 4 4 3 4 4 3 3
2 2 2 2 2 2 2 1 2
2 2 1 1 2 2 2 1 1
1 4 2 2 2 3 1 3 4
1 1 1 1 2 2 1 1 2
2 2 2 2 2 3 2 3 4
2 2 4 2 2 4 2 4 4
1 2 2 2 3 3 2 2 3
3 2 4 2 3 4 2 2 4
1 2 4 2 4 4 2 4 4
3 3 3 4 3 4 3 2 4
2 3 3 2 2 3 2 2 4
2 2 2 4 2 2 1 4 2
1 2 2 2 3 3 2 2 3
2 2 2 2 2 3 2 3 4
2 2 2 2 2 2 2 1 2
2 2 1 1 2 2 2 1 1
1 3 2 2 2 3 2 3 2
2 2 3 2 2 4 3 2 4
3 3 4 2 2 4 2 3 4
2 2 4 2 2 4 1 2 4
2 2 2 2 2 3 2 2 2
2 1 2 2 1 2 2 3 3
2 2 2 2 2 2 2 2 1
3 1 1 2 3 2 2 3 3
2 2 3 3 2 3 3 2 2
2 3 3 2 2 4 2 2 3
3 3 3 4 3 4 3 2 4
2 3 3 2 2 3 2 2 4
2 2 2 2 2 2 2 2 3
1 2 2 3 2 2 2 1 3
2 2 2 4 2 2 1 4 2
3 2 2 2 2 3 2 2 2
2 2 3 4 4 4 2 2 4
2 2 2 2 2 2 2 2 1
2 2 2 2 3 3 2 4 4
2 1 2 2 1 2 2 3 3
1 3 3 2 3 2 3 2 2
2 2 4 2 2 4 1 2 4
2 2 2 2 2 3 2 2 2
1 4 4 4 4 4 4 4 2
3 3 4 2 2 4 2 3 4
2 3 4 2 4 4 3 4 4
1 3 3 3 2 2 2 3 3
2 3 2 3 2 2 2 2 2
2 2 1 1 2 4 2 4 1
2 2 2 2 3 4 2 4 2
1 2 2 3 1 2 2 2 1
2 4 4 4 2 3 3 2 4
1 2 2 1 2 2 3 2 1
2 4 3 2 2 4 1 4 1
2 2 3 2 4 3 3 2 3
1 4 4 2 2 4 4 4 1
3 2 4 1 4 4 2 3 3
2 2 2 1 3 2 2 4 1
2 3 3 2 3 3 3 2 3
2 2 3 1 3 3 4 3 2
4 2 3 4 3 3 2 2 4
2 2 3 1 3 3 4 3 2
2 3 4 2 2 3 2 1 4
2 2 3 4 2 3 2 2 3
2 4 3 4 3 3 2 4 4
2 2 2 3 2 3 2 2 2
2 3 3 2 3 3 3 2 3
1 4 4 2 2 4 4 4 1
2 2 3 2 4 3 3 2 3
2 4 4 4 2 3 3 2 4
2 2 2 2 3 4 2 4 2
2 3 4 2 4 4 3 4 4
3 2 3 3 2 3 3 3 2
2 2 2 3 2 3 2 2 2
4 2 3 4 3 3 2 2 4
3 3 4 3 3 4 4 2 4
2 3 4 2 2 3 2 1 4
2 2 3 4 2 3 2 2 3
1 2 2 2 3 2 3 2 1
1 2 1 1 1 2 2 1 1
2 2 2 2 2 3 2 3 2
2 4 3 4 3 3 2 4 4
1 2 2 2 2 3 2 3 3
1 2 2 2 2 2 4 4 3
1 2 2 2 2 2 2 2 2
2 2 2 3 2 3 2 2 2
3 2 3 3 2 3 3 3 2
ITEM 24 ITEM 25 TOTAL
1 3 47
2 2 52
1 1 40
1 1 45
2 1 40
2 2 52
1 2 53
2 1 47
1 1 46
2 4 53
1 2 35
3 2 50
1 1 47
1 1 40
1 1 52
2 3 46
4 1 78
3 3 57
1 2 53
1 2 48
1 1 47
1 3 57
1 1 64
1 4 43
1 1 54
2 1 49
1 1 34
2 1 45
1 1 48
2 1 56
2 4 68
3 1 61
1 2 41
4 2 67
2 3 57
2 2 44
1 1 38
1 1 36
2 2 55
2 1 48
2 2 44
3 2 59
2 2 44
2 1 53
2 2 54
1 1 55
1 1 48
1 2 54
4 1 52
1 2 47
1 2 42
2 3 56
4 1 53
1 1 36
2 2 67
2 2 45
3 3 49
2 1 41
3 1 53
1 2 47
ITEM 24 ITEM 25 ITEM 26 ITEM 27 ITEM 28 ITEM 29 ITEM 30 ITEM 31 ITEM 32
1 1 2 3 3 2 3 2 2
2 3 3 2 2 3 2 2 3
3 3 2 2 2 4 1 3 2
3 3 4 3 4 4 3 3 3
3 3 2 2 1 3 1 3 2
2 2 2 2 4 2 2 3 2
2 2 3 2 2 2 2 3 2
2 2 4 2 3 2 1 3 1
2 2 2 2 2 3 2 2 2
2 3 4 4 2 4 2 4 2
2 2 2 2 2 2 1 2 2
2 2 2 3 3 3 4 3 2
1 2 2 1 3 2 2 3 2
3 3 2 3 2 2 2 3 3
2 4 2 2 2 4 1 2 1
2 2 2 2 2 3 2 2 2
4 4 4 4 4 4 4 1 4
3 4 2 2 2 4 1 4 2
2 3 3 3 2 4 2 3 4
3 2 2 2 2 3 2 3 2
2 3 2 2 1 4 2 3 3
4 4 4 3 3 4 3 4 3
2 4 4 3 2 4 1 3 4
2 2 2 2 2 2 1 2 2
2 1 1 2 4 2 2 2 2
4 2 2 2 1 3 1 1 1
1 1 1 2 1 2 1 2 1
2 2 2 2 4 3 2 2 2
2 4 2 2 2 4 4 4 2
2 2 2 3 2 3 4 2 2
2 4 2 3 3 4 3 3 2
2 4 2 4 2 4 1 4 2
2 3 4 3 4 3 4 3 2
3 4 3 3 2 4 2 3 4
3 4 2 2 3 3 1 1 2
2 3 4 2 3 3 2 2 2
2 2 2 3 3 2 2 3 3
2 1 1 1 1 2 4 3 2
2 2 2 2 2 3 2 2 2
4 3 4 3 2 3 2 4 2
2 2 2 2 2 3 2 3 2
2 2 2 2 1 2 1 3 4
2 2 2 2 2 2 2 3 2
2 2 3 2 3 3 3 3 2
2 3 3 2 2 3 2 2 3
3 4 2 4 2 4 1 2 3
3 3 3 2 2 2 3 3 2
3 2 3 2 1 2 1 2 2
2 1 1 2 4 4 1 2
2 2 2 3 4 4 2 2 2
2 2 3 1 2 2 2 3 2
4 4 4 2 2 3 1 2 3
2 2 1 2 3 2 1 4 3
4 3 2 2 2 4 1 3 1
2 3 2 4 2 3 2 2 3
4 4 2 2 2 4 2 4 4
2 4 1 4 1 4 3 2 2
2 2 1 3 1 2 1 3 2
3 3 2 3 1 3 1 3 3
2 3 1 3 2 3 2 3 4
TOTAL
69
54
63
81
86
48
47
55
39
65
60
55
68
68
74
60
54
55
65
48
47
54
63
70
63
51
52
51
54
58
61
74
60
57
49
54
51
74
51
67
52
55
63
51
78
70
79
53
54
51
61
53
64
54
70
79
53
54
51
61
53
64
54
57
64
75
65
50
63
64
78
64
56
61
77
52
63
75
64
64
61
79
62
52
78
77
56
61
ITEM 33 ITEM 34 TOTAL
3 3 83
2 2 85
2 3 89
2 4 109
2 4 88
2 3 86
1 3 77
4 2 82
2 2 78
2 4 107
2 1 76
4 4 102
3 3 82
2 2 85
2 4 92
2 2 79
4 2 110
3 4 100
2 4 98
3 2 85
2 4 93
4 4 120
3 3 115
1 2 70
1 1 79
3 4 79
1 2 67
3 4 96
4 4 93
2 3 87
2 4 98
4 4 97
2 4 113
2 4 107
1 4 81
2 3 89
2 1 87
1 1 60
3 2 80
4 4 110
3 3 86
4 3 77
2 2 81
2 2 83
3 2 88
4 4 107
3 3 84
2 2 80
4 1 74
4 2 91
2 1 82
2 4 91
2 1 86
4 1 84
2 3 92
4 1 104
3 3 94
4 1 75
2 3 93
3 2 94