Anda di halaman 1dari 4

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2011 (SNIPS 2011) 22-23 Juni 2011, Bandung, Indonesia

Pembuatan Kumpulan Pembahasan Miskonsepsi pada Beberapa Topik Materi Mekanika

Arwan Isliyanti* dan Rizal Kurniadi

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis miskonsepsi yang sering dialami siswa pada materi mekanika.Teknik pengambilan data dilakukan dengan mengujikan soal-soal konsep mekanika kepada siswa. Jumlah sampel seluruhnya adalah 74 siswa yang dianggap mempunyai kemampuan heterogen. Sedangkan jumlah soal yang diujikan sebanyak 80 butir soal. Tipe soal adalah pilihan ganda dengan lima buah pilihan jawaban. Data hasil penelitian dianalisis dalam bentuk prosentase.Berdasarkan jenis-jenis miskonsepsi yang telah diperoleh, selanjutnya dibuat kumpulan pembahasan yang dapat digunakan sebagai panduan guru dalam mempelajari mekanika terutama pada bagian-bagian yang sering terjadi miskonsepsi. Melalui kumpulan pembahasan ini, guru diharapkan mampu menyusun rencana pembelajaran yang paling efektif sehingga siswa mampu memahami konsep mekanika dengan benar.

Kata-kata kunci: miskonsepsi, mekanika, pembahasan

Pendahuluan

Fisika merupakan ilmu paling mendasar yang sangat berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengingat begitu pentingnya peranan ilmu fisika, sudah semestinya konsep fisika ini dapat dipahami dengan benar oleh siswa. Kesulitan dalam mempelajari fisika ini dapat menyebabkan terjadinya miskonsepsi. Penyebab miskonsepsi ada lima kelompok yaitu siswa, guru, buku teks, konteks dan cara mengajar [1]. Tingkat miskonsepai fisika siswa SMA di Bandar Lampung sangat tinggi yaitu sebanyak 65% [2]. Dalam fisika, mekanika Newton adalah salah satu konsep yang paling banyak mengalami miskonsepsi [3].

Mengingat masih banyak terjadinya miskonsepsi dalam ilmu fisika terutama cabang mekanika maka diperlukan penelitian lebih lanjut tentang jenis-jenis miskonsepsi dan selanjutnya dibuat kumpulan pembahasan yang dapat digunakan guru sebagai panduan dalam mempelajari mekanika terutama pada bagian- bagian yang paling sering terjadi miskonsepsi. Setelah guru mengetahui bagian-bagian mekanika yang sering terjadi miskonsepsi serta memahami konsep yang benar maka diharapkan guru mampu menyusun rencana pembelajaran yang paling efektif sehingga siswa mampu memahami konsep mekanika dengan benar.

Teori

Miskonsepsi adalah suatu konsepsi yang bertentangan dengan konsepsi para fisikawan [4]. Dari pengertian tersebut dapat diartikan sebagai suatu konsepsi yang tidak sesuai

dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para ilmuwan.

Walaupun sulit untuk mengatasi miskonsepsi, tetapi tetap ada cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi miskonsepsi pada siswa. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi atau setidaknya mengurangi miskonsepsi yaitu sebagai berikut:

mendeteksi

1. Langkah

pertama

adalah

prakonsepsi siswa.

2. Langkah yang kedua adalah merancang pengalaman belajar yang bertolak dari prakonsepsi tersebut dan kemudian menghaluskan bagian yang sudah baik dan mengoreksi bagian konsep yang salah.

latihan

pertanyaan dan soal untuk melatih konsep baru dan menghaluskannya.

Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode penelitian miskonsepsi pada siswa dengan menggunakan soal-soal konsep mekanika. Adapun jumlah sampel seluruhnya adalah 74 siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen. Semua siswa yang menjadi sampel sudah pernah mempelajari mekanika. Teknik pengambilan data dilakukan dengan mengujikan soal-soal konsep mekanika kepada siswa. Jumlah soal yang diberikan sebanyak 80 butir soal. Soal tersebut berupa pilihan ganda dengan lima buah pilihan jawaban. Setelah soal-soal konsep diujikan, kemudian dilakukan analisis jawaban untuk mengetahui jenis-jenis miskonsepsi yang sering terjadi pada siswa dan selanjutnya dibuat kumpulan pembahasan miskonsepsi.

3. Langkah

yang

ketiga

adalah

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2011 (SNIPS 2011) 22-23 Juni 2011, Bandung, Indonesia

<Paragraf baru> Bagian ini dapat berjudul Model atau Eksperimen. Dapat juga suatu manuscript memiliki bagian Teori dan Eksperimen sekaligus bila diperlukan. Setiap paragraf baru masuk sejauh 0.5 cm seperti paragraf ini, sedangkan paragraf lanjutan yang terpotong oleh tabel, persamaan, dan gambar tidak perlu menggunakan indentasi 0.5 cm tersebut.

Hasil dan diskusi

Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh jenis-jenis miskonsepsi yang sering terjadi pada siswa. Tabel 1 menunjukan beberapa contoh miskonsepsi yang sering terjadi pada siswa beserta prosentase siswa yang mengalami miskonsepsi tersebut.

Tabel 1. Jenis-jenis Miskonsepsi yang Sering Dialami Siswa Beserta Prosentasenya.

No Jenis Miskonsepsi yang Sering Terjadi pada Siswa Prosentase 1 Berdasarkan grafik posisi terhadap waktu
No
Jenis Miskonsepsi yang
Sering Terjadi pada Siswa
Prosentase
1
Berdasarkan grafik posisi
terhadap waktu di bawah
ini, jika dua benda berada
pada posisi yang sama
maka harus memiliki
kecepatan yang sama.
78,38%
2
Dalam keadaan gesekan
udara diabaikan, benda
yang massanya lebih besar
sampai ke lantai lebih
awal.
59,46%
3
Jika
resultan
gaya
60,81%
eksternal
yang
bekerja
pada benda sama dengan
nol
maka
benda selalu
diam.
4
Dalam keadaan gesekan
udara diabaikan, benda
yang massanya lebih besar
menyentuh lantai dengan
kelajuan yang lebih besar.
45,95%
5
Jika benda didorong tapi
tetap diam maka gaya
dorong lebih kecil daripada
gaya gesekan
67,57%
6
Pada benda yang sedang
bergerak vertikal ke atas
bekerja gaya ke atas yang
lebih besar daripada gaya
gravitasi.
60,81%

Tabel 2. Kumpulan Pembahasan.

 

Kumpulan Pembahasan

 

No

Pedoman

 

Pembahasan

 

Pembahasan

1

Gerak lurus

Pada waktu t B , kedua kereta memiliki posisi yang sama.

beraturan (GLB)

adalah gerak

pada lintasan

lurus dengan

Kereta A bergerak lurus beraturan (kelajuan tetap atau percepatan nol).

kelajuan konstan

(percepatan nol).

Sedangkan gerak

lurus berubah

beraturan (GLBB)

Kereta B bergerak lurus berubah beraturan (diperlambat)

adalah gerak

pada lintasan

lurus dengan

besar percepatan

Kedua kereta memiliki kecepatan yang sama pada beberapa saat sebelum t B .

konstan [5].

2

Untuk gerak jatuh bebas, semua benda akan jatuh dengan percepatan konstan yang sama jika hambatan udara diabaikan. Percepatan ini disebabkan oleh gravitasi pada Bumi, dan diberi simbol g [6].

Sebuah benda yang bergerak jatuh bebas dengan gesekan udara diabaikan, akan membutuhkan waktu untuk mencapai tanah

sebesar

t =

2 h g
2
h
g

Jadi kedua benda akan mencapai tanah dalam waktu yang sama.

3

Hukum I Newton:

Jika resultan gaya eksternal pada sebuah benda sama dengan nol maka benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan bergerak dengan kecepatan konstan. Hal ini berarti bahwa benda akan selalu mempertahankan keadaannya.

jika gaya total yang bekerja pada suatu benda sama dengan nol, maka benda yang diam akan tetap diam dan benda yang bergerak akan tetap bergerak dengan kecepatan tetap

[5].

4

Untuk gerak jatuh bebas, semua benda akan jatuh dengan percepatan konstan yang sama (sebesar g) jika hambatan

Kelajuan benda saat mencapai tanah

adalah

v = g t .

Karena waktu yang dibutuhkan kedua benda sama maka kelajuan kedua benda saat

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2011 (SNIPS 2011) 22-23 Juni 2011, Bandung, Indonesia

udara diabaikan

menumbuk tanah

[6]

juga sama.

5 Gaya gesek statik adalah gaya gesekan yang bekerja ketika benda belum bergerak. Besar gaya gesekan statis ini selalu sama dengan gaya eksternal yang searah dengan kecenderungan benda bergerak

Jadi gaya gesekan yang bekerja adalah gaya gesekan statis yang besarnya sama dengan gaya tariknya.

[6].

6 Pada saat melempar bola ke atas maka gaya dorong dari tangan hanya digunakan untuk memberi kecepatan awal. Dengan menganggap gesekan udara diabaikan. Pada gerak vertikal ke atas hanya dipengaruhi oleh sebuah percepatan yang besarnya konstan yaitu percepatan gravitasi [6].

Gaya dorong pelempar hanya digunakan untuk memberi kecepatan awal. Dengan menganggap gesekan udara diabaikan, pada saat benda bergerak vertikal ke atas hanya bekerja gaya gravitasi yang arahnya ke bawah.

Dari tabel jenis-jenis miskonsepsi yang terdapat pada Tabel 1, kemudian dibuat kumpulan pembahasan yang terdiri dari pedoman pembahasan dan pembahasan dari miskonsepsi tersebut. Beberapa contoh kumpulan pembahasan yang telah dibuat dapat dilihat pada Tabel 2.

Beberapa contoh pembahasan dari soal-soal yang telah diujikan dapat diuraikan sebagai berikut:

Dalam soal yang menguji pemahaman siswa tentang GLB dan GLBB, hanya 9,46% siswa yang menjawab benar yaitu jika benda A bergerak lurus beraturan dan benda B bergerak lurus berubah beraturan diperlambat maka sebelum benda A dapat menyalip benda B keduanya harus memiliki kecepatan yang sama. Sedangkan kebanyakan siswa yaitu 78,38% siswa menganggap bahwa jika dua benda berada pada posisi yang sama maka harus memiliki kecepatan yang sama.

Dalam soal yang menguji pemahaman siswa tentang gerak jatuh bebas, hanya 4,05% yang menjawab benar yaitu benda yang massanya besar dan benda yang massanya kecil akan sampai ke lantai secara bersamaan (pada sistem hanya dipengaruhi gaya gravitasi). Sedangkan 59,46% siswa menjawab bahwa benda yang massanya lebih besar sampai ke lantai lebih awal. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan pemahaman bahwa benda yang massanya lebih besar akan mengalami percepatan yang lebih besar atau percepatan gravitasi dipengaruhi oleh massa benda (pemahaman yang tidak tepat).

Dalam soal yang menguji pemahaman siswa tentang hukum I Newton, terdapat 24,32% siswa yang menjawab benar yaitu jika resultan gaya eksternal yang bekerja pada benda sama dengan nol, maka benda akan selalu mempertahankan keadaannya. Kebanyakan siswa masih menjawab salah atau mengalami miskonsepsi yaitu 60,81% menganggap jika resultan gaya eksternal yang bekerja pada benda sama dengan nol maka benda selalu diam.

Untuk soal yang masih menguji pemahaman tentang gerak jatuh bebas, terdapat 10,81% siswa yang menjawab benar yaitu percepatan benda yang jatuh adalah sama dan tidak tergantung massa benda (pada sistem hanya dipengaruhi gaya gravitasi). Kesalahan yang dimiliki siswa antara lain 45,95% siswa menganggap bahwa benda yang massanya lebih besar menyentuh lantai dengan kelajuan yang lebih besar, 27,03% siswa menganggap bahwa benda yang massanya lebih besar memiliki percepatan lebih besar. Kesalahan- kesalahan ini muncul karena siswa menganggap bahwa benda yang massanya lebih besar mengalami percepatan yang lebih besar sehingga akan sampai ke lantai lebih awal dan memiliki kelajuan yang lebih besar ketika menumbuk lantai.

Dalam soal yang menguji pemahaman siswa tentang gaya gesekan, hanya 4,05% siswa yang menjawab benar yaitu jika benda didorong tapi tetap diam maka besar gaya dorong sama dengan besar gaya gesekan. Miskonsepsi yang paling banyak dialami siswa (67,57% siswa) adalah jika benda didorong tapi tetap diam maka gaya dorong lebih kecil dari gaya gesekan. Terlihat bahwa siswa masih belum memahami tentang gaya gesekan terutama gaya gesekan statis, mereka menganggap bahwa jika benda didorong tetapi tetap diam maka gaya gesekan lebih besar dari gaya dorongnya. Padahal besar gaya gesekan statis ini selalu sama dengan gaya eksternal yang searah dengan kecenderungan benda bergerak.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2011 (SNIPS 2011) 22-23 Juni 2011, Bandung, Indonesia

Dalam soal yang menguji pemahaman siswa tentang gerak vertikal ke atas, hanya 4,05% siswa yang menjawab benar tentang gambar gaya yang bekerja pada benda yang sedang bergerak vertikal ke atas yaitu terdapat gaya gravitasi yang arahnya ke bawah (pada sistem hanya dipengaruhi gaya gravitasi). Kebanyakan siswa (60,81%) mengalami miskonsepsi bahwa pada benda yang sedang bergerak vertikal ke atas bekerja dua buah gaya yaitu gaya ke atas yang lebih besar dari gaya gravitasi yang arahnya ke bawah. Ada juga 27,03% siswa yang menganggap bahwa pada benda yang sedang bergerak vertikal ke atas bekerja dua buah gaya yaitu gaya ke atas yang lebih kecil dari gaya gravitasi ke bawah. Jadi kesalahan umum yang dialami siswa adalah ketika benda sedang bergerak vertikal ke atas maka harus ada gaya ke atas yang bekerja pada benda.

Kesimpulan

Dari hasil analisis dan pembahasan di atas, dapat diperoleh jenis-jenis miskonsepsi yang sering terjadi pada siswa. Miskonsepsi yang terjadi pada siswa bukan dikarenakan siswa tidak mampu mengetahui maksud dari soal yang diujikan, hal ini ditunjukkan dari hasil tes keterbacaan soal. Hasil tes tersebut menunjukkan tingkat keterbacaan soal-soal konsep mekanika yang diujikan cukup tinggi yaitu 88,87%. Berdasarkan miskonsepsi yang terjadi pada siswa tersebut, maka tersusunlah kumpulan pembahasan yang dapat digunakan sebagai panduan guru dalam mempelajari mekanika terutama pada bagian-bagian yang sering terjadi miskonsepsi.

Ucapan terima kasih

Penulis mengucapkan terima kasih Kementrian Agama Republik Indonesia selaku penyandang dana serta Fakultas Matematika

dan

dukungannya.

Ilmu

Pengetahuan

Referensi

Alam,

ITB

atas

[1] Paul Suparno, “Miskonsepsi & Perubahan Konsep Pendidikan Fisika”, Penerbit Grasindo, Jakarta, 2005 [2] Nengah Maharta, “Jurnal Analisis miskonsepsi fisika siswa SMA di Bandar Lampung”, UNILA Lampung, 2010, h. 1 [3] Adam Lark, “Students misconceptions in Newtonian mechanics. A Thesis Submitted to the Graduate College of Bowling Green State University, 2006, h. 3-5 [4] Berg, E., Berg, R., Arum, C.S., Boko, K.S., Huis, C., Katu, N., Licht, P., Minstrell, J., Sundaru., Taylor, P., Treagust, D., “Miskonsepsi Fisika dan Remidiasi”, Sebuah Pengantar Berdasarkan Lokakarya yang Diselenggarakan di Universitas Kristen Satya Wacana, Berg, E. (editor), Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, 1990, h. 5-10 [5] D. Halliday, R. Resnick dan J. Walker, “Dasar-dasar Fisika Versi Diperluas Jilid 1”, Penerbit Binarupa Aksara Publiser, Jakarta, 1990, h. 47-157 [6] D.C. Giancoli, ”Fisika Jilid 1”, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1998, h. 38-115

Arwan Isliyanti*

Magister Pengajaran Fisika Institut Teknologi Bandung arwanisliyanti@yahoo.com

Rizal Kurniadi

Kelompok Keahlian Fisika Nuklir dan Biofisika Institut Teknologi Bandung rijalk@fi.itb.ac.id

*Corresponding author