Anda di halaman 1dari 7

Werdiningsih

08/270327/GE/6531

RANGKUMAN SEMINAR NASIONAL
PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA\
Mitigasi dan Strategi Adaptasi dari Tinjauan Multidisiplin

Keynote speaker (Dr.Syamsul Maarif, Dr.Sugiarta Wirasantosa, dan Dr. Andi Eka
Sakya,M.Eng)
Perubahan iklim yang terjadi di Indonesia pada tahun 2010 antara lain adalah :
- Kejadian banjir pada bulan September sebanyak 169 kali
- 70% bencana adalah bencana hidrometeorologi
Dari hal tersebut diatas, maka perlu gerakan meminimalkan bencana mitigasi bencana.
Selain itu diperlukan adapatasi, yaitu sistem manusia atau alam dalam menanggapi kondisi yang
actual terhadap dampak-dampak yang dapat menyebabkan gangguan kehidupan.
Dalam hal ini, kerentanan diukur dengan:
- Paparan (exposure)
- Sensitivitas
- Kapasitas adaptif
Dari paparan tersebut, diharapkan masyarakt perlu mengtahui tingkat bahaya. Peran BMKG
adalah melakukan pengamatan-pengamatan parameter iklim, sehingga dari data yang dihasilkan
dapat digunakan sebagai dasar analisis untuk memprediksikan fenomena-fenomena yang akan
terjadi.
Perubahan iklim bukanlah sesuatu yang baru, dalam arti sudah terjadi sejak tempo dulu. Dalam
jangka panjang, yaitu menurut skala geologi (jutaan tahun) dan dalam jangka pendek (ribuan
tahun) telah mengiindikasikan bahwa iklim selalu berubah-ubah menurut waktu.
Pemanasan Global yang terjadi di Indonesia menyebabkan beberapa fenomena alam, yaitu :
Werdiningsih
08/270327/GE/6531

- Tropikalisasi
- Perubahan per-awanan
- Badai
- Variasi suhu yang ekstrim perubahan suhu di Jakarta semakin tinggi (dilihat dari data
suhu 100 tahunan) dan semakin ke timur wilayah Indonesia, variasi suhu semakin tinggi
padahal kegiatan industry rendah (meningkat 3,5%, di dunia hanya 0,7%)
Indonesia diapit oleh dua samudera besar, yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Di
Samudra Pasifik, memiliki kolam laut uang sangat besar, sehingga jika terjadi kenaikan sebesar
0,5 derajat akan memiliki pengaruh besar dalam jumlah uap air yang dihasilkan (La Lina
kenaikannya tidak lebih dari 2 derajat). Akibat memanasnya kolam di Pasifik tersebut akan
mengubah fenomena yang ada di Indonesia, sehingga di Indonesia seolah-olah terdapat satu
musim saja. Dismaping itu, fenomena dipole mode juga mempengaruhi pola musim di
Indonesia. Hujan dan kemarau yang bervariasi diakibatkan oleh fenomena La Lina dan El Nino,
seta dipole mode di Samudra Hindia.
Perbedaan suhu yang ada di Indonesia semakin tahun semakin tampak perbedaanya. Hal ini akan
mempengaruhi fenomena-fenomena yang telah ada sebelumnya. Dalam waktu 30 tehun telah
terjadi pergeseran musim, sehingga Indonesia sangat berpotensi terhadap bencana
hidrometeorologi.
Peningkatan CO2 juga akan mempengaruhi fenomena iklim di Indonesia. Indonesia masih dapat
dikatakan aman karena memiliki ambien CO2 di bawah 0,5 (0,5 = di Hawai).

Pemakalah
1. I Gusti Bagus Arjana,M.S
Perubahan Iklim Global dan Dampak Geografis terhadap Lepulauan Indonesia
Perubahan iklim merupakan isu yang menarik perhatian di kalangan pemerintahan
maupun akademisi. Iklim yang terjadi di permukaan Bumi dapat dibedakan
menjadi empat macam, yaitu iklim tropis, iklim sub tropis, iklim sedang, dan
iklim kutub, dimana masing-masing tersebut terdiri atas beberapa musim.
Werdiningsih
08/270327/GE/6531

Indonesia berada di wilayah tropis, sehingga memiliki dua musim saja, yaitu
musim kemarau dan musim penghujan. Baik musim kemarau maupun musim
penghujan, berlangsung selama enam bulan. Namun untuk saat ini, telah terjadi
pergeseran musim, sehingga saat musim kemarau berlangsung, timbul bencana
banjir maupun longsor. Sedangkan pada saat berlangsung musim penghujan,
terjadi pergeseran iklim berupa musim kering yang berkepanjangan.
Metode yang digunakan untuk mengkaji fenomena perubahan iklim ini adalah
studi literature dan analisis dokumentar, serta info actual yang diperoleh dengan
penelusuran terhadap berbagai situs internet. Adapun tujuan penelitian ini adalah
mengkaji perubahan iklim yang sifatnya global, memahami dampak geografis
yang ditimbulkan,dan antisipasinya.
Kesimpulan dari makalah ini adalah bahwa : Indonesia telah mengalami
perubahan iklim, dibuktikan dengan bergesernya durasi musim secara siklikal;
perubahan iklim tersebut berdampak pada aspek fisiogeografi dan sosiogeografi;
dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim tersebut, dipengaruhi oleh aspek
topografi.

2. Ahmad Cahyadi
Pengelolaan Kawasan Karst Indonesia dan Perannya Dalam Siklus Karbon di
Indonesia
Sebanyak 5% dari luas total wilayah Indonesia, ditutupi oleh bentuklahan asal
proses solusional, yaitu karst. Walaupun hanya seluas 5% dari luas toal wilayah
Indonesia, kawasan inti memiliki peranan penting dalam siklus karbon di
Indonesia, yaitu secara spesifik dalam proses penyerapan CO
2
yang terjadi dalam
proses pelarutan. Peranan kawasan karst dalam penyerapan CO
2
berkaitan dengan
adanya fenomena ITCZ, dimana fenomena ini menyebabkan adanya aliran udara
yang berasal dari 30
0
LU dan 30
0
LS menuju daerah tropis. Aliran udara ini tidak
hanya membawa uap air, tetapi juga membawaberbagai gas rumah kaca dan
polutan udara lainnya.
Curah hujan di Indonesia yang tinggi merupakan salah satu factor yang
memungkiinkan terjadinya proses pelarutan yang intensif, seingga proses
Werdiningsih
08/270327/GE/6531

penyerapan CO
2
berjalan dengan baik. Karena adanya fenomena ITCZ tadi, maka
dibutuhkanlah penyerap CO
2
agar tidak berdampak negative terhadap lingkungan.
Disinilah peran kawasan karst, yaitu sebagai penyerap CO
2
tersebut. Berdasarkan
pernyataan tersebut, maka pengelolaan kawasan karst menjadi hal yang sangat
penting untuk dilakukan. Pengelolaan tersebut antara lain dengan melakukan
zonasi kawasan karst, sehingga kawasan karst tidak dimanfaatkan masyarakat
sebagai bahan tambang.


3. Eddy Hermawan
Analisis Interkoneksi Fenomena Atmoosfer di Kawasan Indonesia terkait dengan
Proyeksi Iklim di Masa Mendatang

Indonesia merupakan salah satu dari tiga kawasan pusat pengetahuan iklim
global, disamping Peru dan Amerika Latin. Indonesia merupakan kawasan yang sangat
kompleks, dua per tiga merupakan perairan sehingga disebut sebagai benua maritime,
dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km.
Dinamika atmosfer Indonesia dipengaruhi oleh dua kekuatan besar, yaitu fenomena
monsson, yang bertanggung jawab penuh terhadap dinamikan atmosfer Indonesia karena
posisi pergerakan semu matahari terhadap Bumi ; dan oleh dua kekuatan lain, yaitu
regional (MJO,dipole mode indeks,ENSO) dan local (orografik dan sebagainya)
dinamika gambaran atmosfer Indonesia.
Ketika dipole mode indeks bernilai negative, maka pusat tekanan rendah, sehingga
Indonesia kaya akan awan-awan penghasil hujan dan sebaliknya ketika dipole mode
indeks bernilai positif, Indonesia miskin akan awan-awan penghasil hujan.
Tipikal monsoon adalah basah dan kering. Berdasarkan data monsoon tanggal 12 Oktober
2010 tidak ada suatu indikasi penyimpangan iklim. Dari semua data iklim global, data
monsoon merupakan data yang dominan. Pada tahun 1997, Indonesia mengalami musim
kering selama 9 bulan dan pada tahun 1998 juga mengalami musim kering 9 bulan, pada
tahun 1996 tidak kering. Jika hanya satu fenomena atmosfer saja, Indonesia tidak akan
mengalami kering yang panjang, tetapi ketika dua fenomena alam bergabung (El Nino
Werdiningsih
08/270327/GE/6531

dan dipole mode indeks) dampaknya akan sangat besar. Berdasarkan trend, maka dalam
waktu 15 tahun, yaitu tahun 2012, diestimasi akan terjadi bulan kering yang panjang (9
bulan). Tahun 2011 iklim akan kembali normal, tetapi mulai bulan Oktober 2012
Indonesia akan mengalami musim kering selama 9 bulan.
Dilihat dari data emisi CO2 yang ada, maka akan terjadi lonjakan CO2 yang sangat
panjang pada tahun 2012.
Dilihat dari data matahari, saat ini matahari mencapai minimum, sehingga hujan dimana-
mana. Namun pada tahun 2012, yaitu pada siklus ke 24, matahari akan menunjukkakn
eksistensinya sebagai matahari.

4. Bambang Suprayogi, Andi G.Tantu, dan Angky Soedrijanto
Cadangan Karbon Ekosistem Mangrove di Coastal Carbon Corridor Pantai Timur
Sumatera Utara untuk Mitigasi Greenhouse Gas
Upaya mitigasi paerubahan iklim dilakukan dengan program pengembangan
potensi dan mekanisme carbon credits. Program tersebut merupakan kegiatan
restorasi dan perlindungan ekosistem mangrove untuk land-used carbon offset
Program tersebut telah dilakukan sejak tahun 2007 yang berguna dalam
pengurangan emisi greenhouse gas di Pantai Timur Sumatera Utara. Program
dalam restorasi dan perlindungan ekosistem mangrove tersebut dilakukan
menggunakan standar set yang dikembangkan oleh the Climate, Community and
Biodiversity Alliance (CCB-A). Program ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan ekosistem mengrove dalam mengabsorbsi emisi CO
2
dari industry
dan polutan lainnnya.
Program ini dilakukan pada kawasan mangrove sepanjang 332 km dengan luas
95.762 ha, meliputi daerah Langkat sampai Labuhan Batu, yaitu dengan
pengembangan Coastal Carbon Corridor. Hingga samapai saatt ini, lebih dari 5,8
juta pohon mangrove telah ditanam serta melakukan perlindungan ekosistem
mangrove secara terpadu.
Hasil studi CCB menunjukkan bahwa jika kawasan tersebut mampu dikelola
secara efisien, maka ekosistm mangrove di Pantai Timur Sumatera Utaea
memiliki pengurangan emisi karbon sebesar 4,46 juta CO
2
per tahun (untuk 30
Werdiningsih
08/270327/GE/6531

tahun mendatang). Namun sebaliknya, jika konversi lahan dan illegal logging
tetap dibiarkan, maka ekosistem mangrove akan mengalami kerusakan rata-rata
4% per tahun dan mengalami pengurangan 30% stok karbon dalam waktu 30
tahun.

5. Samliok Ndobe, Abigail Moore, Sri Handayani
Pentingnya Pelestrian Terumbu Karang dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim
dan Strategi Perubahan Iklim dan Strategi Restorasi dengan Metode Fish Homes di
Sulawesi Tengah
Tujuan dari adanya penelitian in adalaj mengevaluasi pantingnya pelestarian
ekosistem terumbu karang dalam rangka mitigasi perubahan iklim dan efektivitas salah
satu metode restorasi sebagai strategi mitigasi. Penelitian ini menggunakan metode dan
pendekatan desk study terhadap data dan informasi yang tersedia mengenai hubungan
ekosistem terumbu karang dan perubahan iklim (data sekunder), serta dengan monitoring
terhadap efektivitas metode restorasi terumbu buatan Fish Homes di Sulawesi Tengah
(sebagai data primer).
Efektifitas upaya-upaya restorasi dengan metode Fish Homes ditentukan antara lain
dengan ketersediaan bibit, yaitu source reefs dan sink reef, kondisi lingkungan (substrat
dan kualitas air), dan kerentanan terhadap peningkatan suhu lapisan permukaan air laut.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terumbu karang merupakan salah satu ekosistem
yang beperan sebagai upaya dalam rangka mitigasi dan strategi adaptasi terhadap
perubahan iklim di Indonesia. Kegiatan-kegiatan konservasi sangat penting dan
mendesak, yang mana meliputi evaluasi, pengurangan tekanan terhadap terumbu karang,
dan rehabilitasi. Metode restorasi terumbu buatan Fish Homes dapat dikatakan
berhasil, dimana pada terumbu buatan Fish Homes telah memicu pertumbuhan terumbu
karang dan dapat digunakan sebagai tempat tinggal ekosistem laut, yaitu ikan-ikan hias.
Metode ini memerlukan monitoring jangka panjang, evaluasi yang lebih jauh terhadap
factor-faktor yang menentukan keberhasilan restorasi, dan peningkatan jumlah modul
pada lokasi-lokasi yang berhasil, serta peningkatan upaya sosialisasi


Werdiningsih
08/270327/GE/6531