Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
A.LatarBelakang

Tujuan pembangunan kesehatan menurut Sistem Kesehatan Nasional (SKN), adalah
tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk yang
ditandai dengan bertempat tinggal di lingkungan bersih dan berperilaku hidup sehat dan
masyarakat mampu untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata
serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia
(Depkes RI, 2000).
Derajat kesehatan masyarakat ditentukan dari berbagai indikator upaya-upaya yang
diambil untuk tujuan tersebut salah satunya adalah peningkatan gizi masyarakat. Empat masalah
gizi utama di Indonesia adalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Anemia Gizi
Besi (AGB) Kurang Vitamin A (KVA), Kurang Energi Protein (KEP). Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang dapat ditimbulkan karena tubuh
penderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang lama (Depkes RI, 2000) .
Gangguan akibat kekurangan Yodium sangat berdampak secara langsung mempengaruhi kualitas
sumber daya manusia, tingkat kecerdasan dan sosial ekonomi, dampak secara tidak langsung
dipengaruhi oleh jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, pola asuh anak kurang memadai,
kurang baiknya kondisi sanitasi lingkungan serta rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah
tangga.
Pokok masalah masyarakat adalah rendahnya pendidikan, pengetahuan, ketrampilan
serta tingkat pendapatan masyarakat. Sebagian besar dari penderita GAKY adalah juga
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang pola konsumsi garam yang beryodium serta
cara penggunaan dan penyajian garam yang baik dan benar sebelum dikonsumsi (Depkes RI,
2000).
Adapun upaya penanggulangan akibat kekurangan yodium melalui peningkatan cakupan
suplemen kapsul minyak beryodium 200 mg yang didistribusikan di sarana kesehatan
dikonsumsi WUS 2 kapsul/tahun Depkes RI (2000). Banyak faktor yang mempengaruhi
terjadinya gangguan akibat kekurangan yodium. Dari beberapa kepustakaan ternyata bahwa
faktor pengetahuan mempengaruhi status gizi sehingga dapat terjadi gangguan akibat kekurangan
yodium Depkes RI (1997). Faktor internal yang diduga dapat dipengaruhi antara lain : faktor
pengetahuan ibu terhadap kesehatan. Aspek ini dipandang penting karena biasanya semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap kemampuannya untuk bersikap
dan mengambil keputusan penting dalam berbagai aspek kehidupan, terutama kesehatan
keluarganya (Notoatmodjo,1993).
Pada anak-anak yang kekurangan yodium kemungkinan lahir dari wanita usia subur yang
kekurangan yodium. Anak-anak yang lahir dengan kekurangan yodium akan mempengaruhi
tingkat pertumbuhan fisik dan kecerdasannya Robins & Vinary (1995). Hal ini sangat
berpengaruh terhadap pembangunan bangsa Indonesia yang saat ini dititik beratkan pada
peningkatan sumber daya manusia.
Dari data di Wilayah Puskesmas Anggrek, selang tahun 2006 sampai dengan 2008
terdapat 63 orang wanita usia subur yang teridentifikasi menderita gangguan akibat kekurangan
yodium (2%) dari 2784 WUS yang ada di wilayah Puskesmas Anggrek.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa tertarik mengambil judul "Faktor-faktor yang
Berhubungan Dengan Kejadian Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (Gondok)"
B.RumusanMasalah
Dari uraian di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Adakah hubungan
tingkat pendidikan, pengetahuan, penggunaan garam beryodium dan kebiasaan konsumsi bahan
goiterogenik dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium (Gondok) di wilayah
Puskesmas Anggrek Kabupaten Gorontalo utara ?


PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Masalah gizi di negara berkembang termasuk Indonesia masih
didominasi oleh Kurang
Energi Protein (KEP), anemia besi, Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY), Kurang
Vitamin A (KVA) dan obesitas (Supariasa, 2001). Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium
merupakan masalah serius mengingat dampaknya mempengaruhi
kelangsungan hidup dan
kualitas sumber daya manusia yang mencakup aspek perkembangan,
kecerdasan,
perkembangan sosial dan perkembangan ekonomi. Kelompok yang sangat
rawan masalah
dampak defisiensi yodium salah satunya adalah anak usia sekolah
(Fadilah, 2003).
Kekurangan yodium tidak hanya menyebabkan gondok tetapi juga anak-
anak yang mengalami
defisiensi yodium akan terganggu kecerdasannya (Ali Khomsan,
2004). Studi pendahuluan di
SDN Sidorejo 2 Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi menunjukkan hasil
yaitu terdapat 8 dari
10 siswa dengan defisiensi yodium memiliki prestasi di bawah rata-
rata kelas dan 10 siswa
yang tanpa defisiensi yodium semuanya memiliki prestasi di atas
rata-rata kelas.
Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 48
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mensyaratkan angka gondok di
bawah lima persen
(Siswono, 2001). Pada tahun 2007 prevalensi GAKY masih diderita
9,1% anak SD meskipun
terjadi penurunan, GAKY masih dianggap masalah kesehatan
masyarakat karena secara
umum prevalensi masih di atas 5% (Admin, 2007). Di Desa Sidorejo
Kecamatan Kendal
Kabupaten Ngawi terjadi peningkatan prevalensi defisiensi yodium
pada anak SD dari 24,39 %
tahun 2003 menjadi 51,65 % tahun 2007. GAKY dapat menyebabkan
gangguan pada
perkembangan otak. Anak-anak penyandang GAKY memiliki kapasitas
mental di bawah
normal, daya motoriknya berupa kecekatan dan keterampilannya juga
cenderung terbelakang,
dan intelegensinya sangat kurang, dan cenderung bodoh (Anonim,
2002). Kekurangan
yodium akan mengakibatkan penurunan kecerdasan/IQ sebanyak 13,5
poin (Anonim, 2002).
Dalam mengatasi GAKY, Depkes melaksanakan upaya jangka pendek
yaitu
suplementasi yodium atau distribusi kapsul minyak beryodium pada
kecamatan endemik
GAKY berat dan sedang, dengan pemberian kapsul minyak beryodium
untuk SD Kelas I-VI di
daerah yang kurang yodium berat satu kapsul pertahun. Upaya jangka
panjang berupa
yodisasi garam, penyuluhan gizi seimbang, menghindari zat
goitrogenik (Anonim, 2002).

PENDAHULUAN
Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium (GAKY) merupakan salah satu
masalah gizi yang menjadi faktor
penghambat pembangunan sumber daya
manusia karena dapat menyebabkan
terganggunya perkembangan mental dan
kecerdasan terutama pada anak-anak
(WHO, 1995, PAHO, 2001; Arisman,
2004; Fardiaz, 2005). Gangguan tersebut
dapat berakibat pada rendahnya prestasi
belajar anak usia sekolah. Dari sejumlah
20 juta penduduk Indonesia yang menderita
GAKY diperkirakan dapat kehilangan
140 juta angka kecerdasan atau IQ
points (Tim GAKY Pusat, 2005). Lebih
spesifik Zimmermann (2003) menyebutkan
dari hasil pemeriksaan ekskresi
yodium dalam urin (EYU) sebanyak 2 milyar
individu di dunia menderita defisiensi
yodium dan 285 juta diantaranya adalah
anak-anak usia sekolah.
Kekurangan yodium dalam tubuh
manusia disebabkan karena keadaan
tanah, air dan bahan pangan kurang mengandung
yodium. Suatu wilayah menjadi
kekurangan yodium disebabkan lapisan
humus tanah sebagai tempat menetapnya
yodium sudah tidak ada, karena akibat
erosi tanah secara terus menerus dan sering
terjadi pembakaran hutan yang mengakibatkan
yodium dalam tanah hilang,
daerah yang mempunyai karakteristik ini
disebut sebagai daerah endemis GAKY
(Boyages, 1993; Siswono, 2001; Ritanto,
2003, Arisman, 2004). Dengan demikian
untuk menjamin kecukupan asupan
yodium pada masyarakat yang tinggal di
daerah endemis, diperlukan cara-cara
penambahan yodium dalam berbagai cara
baik jangka pendek maupun jangka
panjang.
Secara universal yodisasi pada garam
telah dapat diterima dan banyak digunakan
oleh masyarakat sebagai alternatif jangka
panjang (Depkes RI, 2002 ; Kartono, et al,
2004), sedangkan penanggulangan jangka
pendek dapat dilakukan melalui program
pemberian kapsul yodium. Sejauh ini
search aimed to prove relation between iodine status (Iodine Urine Excretion/IUE) and
cognitive function (Inteligence Quotient/IQ). This observational research use 50 sample of
child at elementary school at Kiyaran I Subdistrict Cangkringan Sleman Regency. The
measurement of IUE trough Atomic Absorption Spectrophotography (AAS) method and
measurement of IQ with Colour Progressive Matrices (CPM) method. The result of this
research show that the average of IUEs samples are 76,66 g/dl, minimum value 10 g/dl
and maksimum value 259 g/dl. The catagory distribution of samples based on IUE are
severe hypothyroid 14 %, moderate hypothyroid 30 %, light hypothyroid 26 %. Amount of
normal catagory 20 % and ecxessive category or hyperthyroid 10 %. Measurement of IQ
result show the mean 27,34, minimum value 17 and maximum value 36. IQ category of
samples are average 66 % and below average 34 %. Statistics test cant prove the significant
relation between IUE and IQ (p = 0,366). Conclusion of this research find the hypothyroid
and hyperthyroid cases on school age children at Kiyaran I Subdistrict Cangkringan
Sleman Regency. Based on this research recommend to the government to increase the real
attention from several sector related to prevent and solce the IDD problem together.
Keywords: Iodine status, cognitive, elementary school, and children.
52 Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 10, No. 1, 2009: 50 - 60
pasokan kapsul yodium sangat terbatas
sehingga masih diprioritaskan untuk
daerah endemis pada kelompok wanita usia
subur (WUS) saja dan masih sangat jarang
menjangkau anak-anak usia sekolah (Tim
GAKY Pusat, 2005). Hal tersebut bila
dibiarkan maka anak usia sekolah terutama
di daerah endemis akan semakin berisiko
menderita GAKY dengan akibat yang
sangat serius yakni terganggunya perkembangan
kognisi yang ditandai berkurangnya
angka kecerdasan sebesar 13,5 IQ points
(Hetzel, 2000 ; WHO, 2001 ; Jukes et al,
2002; Zimmermann, et al, 2005;
Zimmermann et al, 2006).
Hasil survei pendahuluan mengenai
konsumsi garam beryodium di Kabupaten
Sleman menunjukkan dari 86 desa hanya
ada 6 desa yang mengkonsumsi garam
beryodium dengan kadar cukup dengan
cakupan 75,3 %. Cakupan tersebut belum
sesuai target USI (Universal Salt Iodization)
sebesar 90 %. Kondisi ini dapat menjadi
justifikasi meningkatnya angka TGR (Total
Goiter Rate) atau angka pembesaran
kelenjar gondok sebagai indikator masalah
GAKY menjadi 18,1 %. Walaupun
dikategorikan sebagai daerah endemis
ringan (TGR > 5 - 19,9 %), tetapi dari 17
kecamatan yang ada, 5 diantaranya termasuk
endemis berat, dengan angka TGR
tertinggi di Kecamatan Cangkringan
sebesar 39,5 % (Dinkes Sleman, 2003).
Berdasarkan latar belakang yang
terurai maka dapat diidentifikasi bebe-rapa
permasalahan yang terkait dengan GAKY
yakni dampak negatif GAKY sangat luas
mencakup semua kelompok umur termasuk
penurunan angka kecerdasan pada
anak usia sekolah. Kecamatan Cangkringan
Kabupaten Sleman merupakan
kecamatan endemis dengan angka GAKY
tahun 2003 sebesar 39,5 %. Pengukuran
besaran GAKY di Kabupaten Sleman
masih menggunakan angka pembesaran
kelenjar gondok dengan palpasi (WHO
merekomendasikan menggunakan metode
biokimia dengan pemeriksaan EYU).
Secara umum penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan status
yodium urin dan fungsi kognitif pada
anak sekolah dasar di SDN Kiyaran I
Kecamatan Cangkringan Kabupaten
Sleman, dengan tujuan khusus sebagai
berikut mengukur kadar yodium dalam urin
pada anak sekolah dasar, mengukur fungsi
kognitif pada anak sekolah dasar, mengetahui
hubungan status yodium urin dan
fungsi kognitif pada anak SD di SDN
Kiyaran I Kecamatan Cangkringan Kabupaten
Sleman.

Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium merupakan masalah yang sangat serius
mengingat dampaknya secara langsung dapat mempengaruhi kelangsungan hidup manusia
terutama berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia baik menyangkut pertumbuhan,
kecerdasan, maupun produktivitas kerja. Untuk mempercepat penurunan prevalensi GAKY,
pemerintah telah memberikan perhatian besar dan ingin lebih mengintensifkan upaya
penanggulangan GAKY. Melalui Proyek Intensifikasi Penanggulangan GAKY yang
dilaksanakan sejak tahun 1997 secara lintas program dan lintas sektor dengan fokus utama : 1)
Distribusi Kapsul minyak beryodium pada kecamatan endemik berat dan sedang (TGR > 20%)
sebagai upaya jangka pendek 2) Yodisasi garam atau peningkatan konsumsi garam beryodium
sebagai upaya jangka panjang, yang pelaksanaannya dipantau dengan kegiatan pemantauan
garam beryodium melalui murid SD/MI (Depkes RI, 2002). Berbagai definisi inteligensi
diajukan oleh beberapa ahli psikologi. Santrock (1995) mendefinisikan inteligensi sebagai
Status Yodium dan Fungsi Kognitif Anak Sekolah Dasar ... (Mutalazimah dan Setya Asyanti) 53
kemampuan verbal, ketrampilan-ketrampilan pemecahan masalah dan kemampuan untuk belajar
dari pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari dan menyesuaikan diri dengannya. Terman
mendefinisikan inteliensi sebagai kemamuan untuk berfikir abstrak, sedangkan David Weschler
berpendapat intelegensi merupakan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak terarah,
serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif (Sarwono, 2000). Gardner dalam
Santrock (1995) menyebutkan ada 7 macam inteligensi yaitu verbal. Matemats, spasial, musik,
ketampilan menganalisis diri sendiri, ketampilan menganalisis orang lain, ketrampilan gerakan.
Pengukuran inteligensi dilakukan dengan tes inteligensi. Beberapa tes yang dikenal untuk
mengukur inteligensi anak Sekolah Dasar antara lain Stanford Binet, Wechsler Inteligence Scale
for Children (WISC), Culture Fair Intelegence Test skala 2 (CFIT), dan Colour Progressive
Matrices (CPM). Yang menjadi sorotan dalam psikologi adalah bahwa tes inteligensi seringkali
bias budaya, yaitu lebih menguntungkan anak-anak perkotaan daripada anak-anak pedesaan,
anak-anak kelas menengah dari pada anak-anak kelas bawah, dan anakanak klit putih dari pada
anak-anak kuli hitam (Miller-Jones, dalam Santrock 1995). Biasanya tes yang bias budaya
karena menggunakan tes verbal. Tes kecerdasan yang paling umum dipakai untuk mengetahui
kemampuan kognitif secara umum dan tidak mengandung bias budaya adalah tes CPM.
Penelitian mengenai perbaikan status yodium dan peningkatan perkembangan mental pada anak
sekolah di Benin menyimpulkan bahwa anak yang mendapat Sulementasi yodium mengalami
peningkatan EYU dengan nilai p 0,007 dan secara signifikan mengalami kenaikan skor tes
perkembangan mental dengan nilai p 0,000 (Van den Briel, et al, 2000). Perbedaan
perkembangan psikomotorik pada anak yang difisiensi yodium di India terbukti setelah anak
berusia kirakira 2,5 tahun. Sedangkan perbedaan dari kemampuan belajar dan motivasi juga
terlihat pada anak umur 9 15 tahun, defisiensi yodium tingkat sedang dan berat menyebabkan
keterlambatan dalam belajar dan kurang motivasi untuk menyelesaikan pelajaran. Di
Bangladesh, anak dengan kadar T4 rendah memilihi hasil test yang lebih rendah dibandingkan
dengan anak yang T4-nya normal, baik pada kemampuan mengeja, membaca dan kemampuan
kognitif secara umum, bahkan defisiensi yodium pada tingkat yang lebih rendah dapat
melemahkan fungsi mental dan motorik. Hasil meta analisis dari 18 penelitian menyebutkan
bahwa dari hasil tes kognitif rata-rata menunjukkan adanya penurunan IQ sebesar 13,5 point
pada anakanak yang defisiensi yodium (WHO, 2001). Penelitian lain di Columbia suplementasi
yodium pada anak sekolah yang defisiensi yodium selama 22 bulan dengan metode randomized
placebo controlled trials menyimpulkan bahwa ada peningkatan Skor IQ. Di Equador, 51 anak
usia 6 sampai 10 tahun dari komunitas yang mengalami defisiensi yodium kemudian diberi
suntikan minyak yodium dan setelah dua tahun kemudian dibandingkan dengan yang tidak
diintervensi (non placebo) maka yang anak sekolah yang diberi suntikan menunjukkan hasil tes
IQ yang lebih baik. (Pan America Health Organization /PAHO, 2001) Anak sekolah usia 6 11
tahun di Afrika Selatan di beri biscuit yang difortikasi yodium, zat besi dan beta karoten hasilnya
prevalensi anak dengan kadar 54 Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 10, No. 1, 2009: 50 - 60
yodium urin yang rendah turun signifikan dari 97 % menjadi 5%. Implikasi yang didapat dari
penelitian ini adalah bahwa kadar yodium dalam urin mempunyai sifat lebih peka sebagai
indikator untuk efektivitas program pemantauan defisiensi yodium pada satu populasi
(Stuijvenberg, 2002). Studi dengan rancangan randomized controlled double blind yang
bertujuan mengetahui efek suplementasi yodium pada 310 anak sekolah usia 10 12 tahun di
Albania selama 24 minggu juga menghasilkan signifikansi dengan meningkatnya EYU dan
kemampuan kognitif yang diukur dengan metode CPM dengan nilai p 0,0001 (Zimmermann, et
al, 2006).


METODE PENELITIAN
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium:
GAKY, atau Gangguan Akibat Kekurangan Yodium merupakan salah satu masalah yang muncul
sejak lama. Pada awalnya, hubungan unsur yodium dengan gondok endemik dilihat sebagai
hubungan secara langsung yang ditunjukkan dengan praktek kedokteran Cina yang
menggunakan biji ganggang Sargassum dan Laminaria japonica yang kaya yodium sebagai obat
gondok.
Akan tetapi, mulai tahun 1960-an pandangan para ahli terhadap defisiensi yodium berubah dari
memandang defisiensi yodium berakibat pada gondok endemik dan kretin endemik saja ke
perubahan yang lebih luas.
Dengan demikian istilah defisiensi yodium dahulu yang diidentikkan dengan gondok endemik
digantikan dengan gangguan akibat kekurangan iodium yang efeknya amat luas, dapat
mengenai semua segmen usia sejak dikandung ibu hingga pada orang dewasa.

Neonatus dan Ibu hamil
Ketika kita bicara mengenai neonatus dan ibu hamil maka terbayang proses pertumbuhan fetus
intrauterin, yang umumnya mengikuti satu pola. Perkembangan otak dan intelegensi tepat mutlak
perlu untuk manifestasi yang sempurna di kemudian hari.
Perkembangan fetus ibu hipotiroidisme primer yang hamil berbeda dengan perkembangan fetus
ibu hipotiroidisme yang disebabkan karena defisiensi yodium. Patofisiologi yang jelas dan tegas
belum terbukti hingga sekarang, sebab model binatangnya belum ditemukan. Sumbangan
pengetahuan di atas tidak hanya penting untuk memahami dan mendalami peristiwa yang terjadi
di daerah dengan defisiensi berat saja (dengan adanya sindrom GAKI, lebih-lebih mekanisme
terjadinya kretin endemik baik miksudematosa maupun kretin tipe nervosa) tetapi juga penting
untuk upaya pencegahan.

Langkah Preventip
Untuk pencegahan, dibutuhkan informasi yang cukup tentang sebab. Bagi yang bersebab tunggal
pencegahannya tunggal (cf :vaccinasi). Bagi bersebab banyak, multifaktorial pencegahan juga
menghilangkan faktor risiko tersebut. Bagi GAKI upayanya dengan memberikan unsur yodium.
Bagaimana peran pemberian unsur yodium dalam bentuk garam beryodium dalam berbagai
bentuk (garam curai, garam briket, shelf-lifenya, penyebarannya, harga, tingkat konsumsinya)
perlu diteliti lebih lanjut. Juga larutan yodium dalam minyak diberikan secara oral (OIO, oral
iodinated oil) maupun suntikan, efek obat ini berjangka panjang: oral dapat diberikan setiap 6-12
bulan sekali sedangkan suntikan 3-4 tahun sekali. Di daerah tertentu melarutkan yodium (bentuk
tetesan atau slow-release products) dalam air minum atau sumur.
Pemberian suntikan lipiodol sebelum diproduksi yodiol pun sebenarnya memberi hasil baik dan
terlihat dari menurunnya prevalensi gondok, tercegahnya variabel kretin, misalnya EEG bayi dan
sebagainya. Meskipun demikian masih ditemukan gejala sisa di replete area.
Walaupun begitu dengan dosis yang diberikan sekarang ini, dan dengan kriteria beratnya
masalah dinilai dari prevalensi anak sekolah, masih cukup banyak ibu hamil yang rawan GAKI
bagi anak yang dikandungnya. KIE. Penanggulangan GAKI sering dilupakan orang adalah KIE
ini. Meskipun nampaknya sebab GAKI telah diketahui dan juga sarana pencegahannya dikuasai,
namun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Dalam bidang public health, litbang gizi telah
melihat berbagai aspek baik dalam hubungannya dengan program pencegahan gangguan gizi
lain, misalnya kadar yodium dalam ASI ibu menyusui yang mendapat yodiol, kestabilan yodium
dalam garam di pelbagai masakan Indonesia dan pengaruh yodium tinggi pada reaksi vaksinasi.
Berhasil tidaknya upaya penanggulangan masalah GAKY di masyarakat, di samping sistem
penanggulangan sendiri di tingkat program, tidak kalah pentingnya adalah masalah lingkungan
dan sosial budaya yang ada di masyarakat.
Secara terperinci, menjelaskan bahwa dampak kekurangan yodium, di samping kretin endemik
adalah (1) kemampuan mental dan psikomotor berkurang (2) angka kematian perinatal
meningkat, demikian gangguan perkembangan fetal dan pasca lahir (3) hipotiroidisme neonatal
banyak ditemukan di daerah dengan endemik berat (4) pada penduduk normal ditemukan
hipotiroidisme klinis dan biokimiawi (5) di daerah gondok endemic kadar yodium air susu ibu
lebih rendah dibandingkan dengan daerah non endemic (0,44 vs 10,02 ug/dl) (6) pada otak
terlihat kalsifikasi ganglion basal, hipofisis membesar, tetapi arti klinik belum diketahui (7)
terdapat minimal brain damage di daerah yang terkesan sudah iodine replete, dengan IQ point
yang terlambat 10-15 point meskipun status tiroid sudah kembali normal (8) ada keterlambatan
per-kembangan fisik anak, misalnya lambatnya mengangkat kepala, tengkurep, berjalan,
hiporefleksi, strabismus konvergen, hipotoni otot.

Upaya Preventip Terkait dengan Sosial Budaya
Setelah melalui pengkajian yang seksama baik dari segi teknis maupun operasional, ditetapkan
bahwa garam merupakan bahan makanan yang paling cocok dan memenuhi kriteria untuk
dilakukan fortifikasi.
Di Indonesia, penggunaan garam beryodium dengan kadar yodium 40 ppm, dengan anggapan
konsumsi garam 10 gram sehari, sehingga konsumsi 400 g potassium iodine per hari dan ini
sesuai dengan 237 gram iodide.
Konsumsi dalam keluarga juga dipengaruhi oleh faktor persepsi dan aseptasi terhadap
penanggulangan kekurangan yodium dalam masyarakat.
Persepsi merupakan hasil proses pengamatan yang berasal dari komponen kognisi. Persepsi
dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, wawasan, pemikiran dan
pengetahuannya. Proses pembentukan persepsi meliputi proses konseptualisasi dan abstraksi.
Pada tahap ini bahasa memegang peranan yang sangat penting. Hal ini disebabkan, bahasa
merupakan alat untuk menyederhanakan dan mengkategorisasikan berbagai stimulus yang
sampai kepada individu. Melalui bahasa, kognisi individu dan segala sesuatu digambarkan dan
dikomunikasikan. Proses kognisi akan mempengaruhi pembentukan persepsi. Reaksi tiap
individu terhadap seseorang atau segala sesuatu yang ada di sekitarnya dibentuk oleh apa yang
dia lihat atau dunia kognisinya.
Sebenarnya Health Belief Model dikembangkan dari teori perilaku, yang antara lain berasumsi
bahwa perilaku seseorang tergantung pada: (1) nilai yang diberikan individu pada suatu tujuan;
dan (2) perkiraan individu terhadap kemungkinan bahwa perilakunya akan dapat mencapai
tujuan tersebut.
Berdasarkan hasil temuan di Jawa Tengah diketahui bahwa pengetahuan, sikap dan perilaku
masyarakat terhadap lipiodol suntik dan garam beryodium sangat rendah. Pada umumnya
responden dalam studi tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 66,7% belum pernah mendengar
suntikan lipiodol baik di daerah gondok endemik sedang maupun berat. Rendahnya pemahaman
mengenai kapsul yodium disebabkan karena rendahnya pelaksanaan penyuluhan akan manfaat
kapsul yodium di dalam masyarakat. Penggunaan garam beryodium dalam rangka iodisasi juga
ada masalah, mengingat bahwa penguapan kadar yodium dalam garam menyebabkan turunnya
kadar yodium. Tidak satupun kebudayaan di dunia ini yang bebas dari pantangan terhadap
makanan tertentu. Biasanya pantangan tersebut diberlakukan terhadap golongan masyarakat atau
individu berdasarkan umur, jenis kelamin, agama, yang ada di dalam sistem sosial.
Ibu yang sedang hamil atau menyusui merupakan individu yang biasanya diberlakukan terhadap
pantangan makanan yang sukar diterangkan secara alamiah yang akan berpengaruh pada bayi.
Biasanya jenis makanan yang dilarang adalah susu, telur, ikan asin, ikan segar, dan sebagainya.
Ikan, susu, telur, merupakan makanan sumber protein yang sangat baik dan diperlukan bagi ibu
hamil maupun menyusui.

Penilaian Masalah GAKY di Indonesia
Hasil survei nasional membuktikan bahwa status GAKY di sebagian besar daerah di Indonesia
membaik secara nyata. Kriteria diatas didasarkan atas TGR anak sekolah, namun TGR wanita
hamil selalu lebih tinggi. TGR anak sekolah yang baik (non-endemik / ringan) belum menjamin
bahwa wanita hamil di daerah tersebut bebas dari rawan GAKY, untuk ini diperlukan tolok ukur
tambahan. Di daerah lain ( Maluku, NTB, NTT dsb) masih termasuk endemi berat. Beberapa
faktor yang dihubungkan dengan gondok ini, tetapi faktor utama masih tetap defisiensi yodium.



Faktor-faktor yang Dianggap Berkaitan dengan Kejadian Gondok pada Siswa SD di Daerah
Dataran Rendah

Spektrum GAKY seluruhnya terdiri dari gondok dalam pelbagai tingkat (stadium), kretin,
terhambatnya pendengaran, gangguan pertumbuhan pada anak dan orang dewasa, kejadian lahir
mati meningkat, demikian juga dengan kematian bayi. Kekurangan unsur Iodium terutama
dipengaruhi faktor lingkungan yang keadaan tanah dan airnya amat miskin unsur iodium,
akibatnya penduduk yang tinggal di daerah tersebut akan selalu kekurangan iodium. Di Jawa
Timur, penanggulangan GAKY merupakan prioritas utama dalam penanggulangan masalah gizi.
Masalah GAKY di Jawa Timur berdasarkan survei GAKY nasional yang dilakukan pada tahun
1998, prevalensi gondoknya cukup tinggi (16,3 %).

Prevalensi GAKY Berdasarkan Hasil Palpasi Kelenjar Gondok
Pemeriksaan kelenjar gondok (palpasi) dilakukan pada seluruh anak SD Negeri Kejayan I (kelas
1 sampai dengan kelas 6) sejumlah 203 (dua ratus tiga) anak sesuai jumlah yang hadir.
Sebagian besar anak yang menjadi sampel (97,96%) adalah penduduk asli di daerah penelitian
(tinggal di daerah penelitian sejak lahir) dan hanya 2,04% yang bukan berasal dari daerah
penelitian, namun mereka sudah tinggal di daerah penelitian selama minimal 7 (tujuh) tahun.
Sebagian besar anak (55,10%) berada pada kisaran umur 11 12 tahun, dengan ratarata umur
10,86 tahun dan SD = 1,21. Berdasarkan jenis kelamin 36,7% laki-laki dan 63,3% perempuan.
Semua anak (100%) tidak pernah mendapat suntikan lipiodol. Sebagian besar (91,8%) anak
pernah mendapat kapsul minyak beriodium, hanya 8,2% tidak pernah mendapat kapsul minyak
beriodium.

Frekuensi Konsumsi Pangan Sumber Iodium dan Goitrogenik
Diketahui bahwa sebagian besar anak (73,5%) di daerah penelitian tidak pernah mengkonsumsi
ikan tawar basah dan 100% anak SD juga tidak mengkonsumsi ikan tawar kering (dalam satu
tahun terakhir). Ikan laut basah hanya dikonsumsi kurang dari tiga kali per minggu (18,4%) dan
dikonsumsi 3-5 kali per minggu (4,1%). Hanya 12,2% anak SD mengkonsumsi ikan laut basah
dalam frekuensi 1 kali per hari, 6,1% mengkonsumsi 2 kali sehari dan 4,1% mengkonsumsi 3
kali sehari. Tampaknya ikan laut basah/segar belum masuk dalam pola konsumsi harian anak
SD. Faktor lain yang diduga ikut berperan dalam menimbulkan kejadian gondok adalah
miskinnya Iodium dalam air minum (dan tanah) 22. Sumber air minum keluarga pada umumnya
(40,8%), berasal dari Air PAM, mata air (34,8%) dan 20,4 % air sumur. Sebelum mengkonsumsi
air minum pada umumnya responden (65,3%) merebus air sampai mendidih. Berdasarkan
palpasi kelenjar gondok, ditemukan Total Goiter Rate sebesar 23,65% dan Visible Goiter Rate
sebesar 0,98%, daerah penelitian tergolong daerah endemik sedang. Bila ditinjau dari nilai
median Iodium urin (253 ug/l), maka daerah penelitian belum termasuk daerah endemik gondok
(masih di atas 100 ug/l).
Perlu dilakukan upaya membudayakan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) agar anak SD
dapat memenuhi kecukupan gizinya, terutama meningkatkan konsumsi pangan sumber energi
dan Iodium yang masih kurang dari kecukupan yang dianjurkan.
Diperkirakan prevalensi gondok dunia adalah 12%. Dari 5 milyar lebih penduduk dunia,
sebanyak 38% atau sekitar 2.2 milyar penduduk berisiko kekurangan iodium karena bertempat
tinggal di daerah kekurangan iodium dimana TGR lebih dari 5%.
Data yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa dari 6 milyar lebih penduduk 159 negara, sekitar
50% kekurangan iodium dan 3% kelebihan iodium.
Daerah basis kekurangan iodium di Indonesia ditemukan di seluruh kepulauan mulai dari
Sumatera di bagian barat hingga Papua di bagian timur. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
(GAKY) di masa lalu identik dengan gondok yaitu pembesaran kelenjar tiroid.

Total Goiter Rate
TGR anak sekolah untuk tingkat nasional tahun 1996/1998 adalah 9.8% sedangkan tahun 2003
adalah 11.1%. Propinsi dengan TGR tertinggi tahun 1996/1998 maupun tahun 2003 adalah
Maluku yaitu 33.39% dan 31.6%. Propinsi dengan TGR yang terendah tahun 1996/1998 adalah
Riau yaitu 1.1% sedangkan tahun 2003 Sulawesi Utara yaitu 0.7%. Intensitas dari kekurangan
yodium dapat dilihat dari pembesaran kelenjar gondok.
Hubungan TGR Anak Sekolah dengan Konsumsi Garam Beriodium Rumah Tangga Hubungan
antara TGR dan proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi garam beriodium dalam suatu
daerah adalah negatip, berarti semakin tinggi proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi garam
beriodium semakin rendah TGR.
Indikator TGR telah sejak lama digunakan di Indonesia dalam survei maupun sebagai dasar
penetapan kebijakan program penanggulangan GAKY. TGR tidak menunjukkan penurunan
dalam 1998-2003 walaupun dilaksanakan program penanggulangan intensif. Masalah yang
sering dijumpai pada palpasi kelenjar tiroid adalah inter-observervariation (variasi antar palpator)
demikian juga nilai sensitivitas dan spesifisitas. Sebagian pakar dan lembaga yang kompeten di
bidang GAKY yang tidak lagi merekomendasikan penggunaan indikator TGR untuk memantau
kemajuan eliminasi GAKY.

Faktor yang Berhubungan dengan Ketersediaan Garam Beryodium di Rumah Tangga: Sebuah
Studi Kasus di Probolinggo.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden memilih atau menyediakan bentuk
garam beryodium dengan alasan beryodium penting bagi kesehatan sebesar 67,2%. Responden
yang tidak pernah membeli atau menyediakan garam beryodium sebesar 32,8%. Diantara 32,8%
responden yang tidak pernah membeli atau menyediakan garam beryodium tersebut beralasan:
karena hanya tersedia bentuk garam itu saja (42,9%), harga garam beryodium lebih mahal
(19,0%) dan dengan alasan tidak tahu (28,6%). Adapun tempat membeli garam konsumsi sehari-
hari responden adalah toko/warung dekat rumah (98,4%) dan dari tambak sebesar 1,6%.
Sebagian besar pedagang garam setuju jika garam non yodium tidak beredar di pasaran (66,7%)
atau ada peraturan larangan menjualnya (83,3%). Oleh karena garam non yodium banyak beredar
di pasaran dan dengan alasan untuk memenuhi permintaan konsumen, maka sebagian besar
pedagang juga menyediakan garam non yodium (terutama dalam bentuk krosok). Sebagian besar
pedagang sebenarnya sudah mendengar dan mengetahui manfaat garam beryodium, yaitu: untuk
mencegah gondok (76,7%).
Tingkat pengetahuan responden tentang garam beryodium masih kurang. Sikap responden
terhadap ketersediaan garam beryodium di rumah tangga sebagian besar mendukung, namun
karena pada umumnya pedagang masih menyediakan garam non yodium di tingkat pasar, maka
hal ini berdampak pada rendahnya ketersediaan garam beryodium di tingkat rumah tangga.
Hanya sebesar 34,8% garam di tingkat pasar kan-dungan yodiumnya cukup, Warung/toko yang
termasuk kriteria baik hanya 20%. Dapat dikatakan bahwa ketersediaan garam yodium di tingkat
pasar kurang. Tingkat pendidikan responden, tingkat pengetahuan dan sikap responden tentang
garam beryodium serta ketersediaan garam beryodium di tingkat pasar berhubungan dengan
ketersediaan garam beryodium di tingkat rumah tangga.















Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 47
HUBUNGAN ANTARA DEFISIENSI YODIUM DENGAN PRESTASI
BELAJAR
Anis Nurwidiawati*, Rahayu Sumaningsih*
*=Program Studi Kebidanan Magetan Jurusan Kebidanan Poltekkes
Depkes Surabaya
ABSTRAK
Kekurangan yodium tidak hanya menyebabkan gondok tetapi juga menyebabkan
terganggu kecerdasannya (Ali Khomsan, 2004). Di Desa Sidorejo Kecamatan Kendal
Kabupaten Ngawi terjadi peningkatan prevalensi defisiensi yodium pada anak SD dari 24,39 %
tahun 2003 menjadi 51,65 % pada tahun 2007. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan
antara defisiensi yodium dengan prestasi belajar.
Penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional ini dilakukan pada populasi
siswa SDN Sidorejo 2 Kelas I-VI sebanyak 185 anak. Sampel diambil secara proportionate
stratified random sampling sebanyak 127 siswa. Variabel bebas adalah defisiensi yodium dan
variabel terikat adalah prestasi belajar. Data dikumpulkan melalui observasi, selanjutnya
dianalisis dengan uji chi square dengan <0,05.
Hasil penelitian menggambarkan sebanyak 41 (73,2%) siswa defisiensi yodium dengan
prestasi belajar tidak baik, 15 (26%) siswa defisiensi yodium dengan prestasi belajar baik.
Sebanyak 27 (38%) siswa tidak defisiensi yodium dengan prestasi belajar tidak baik, 44 (62%)
siswa tidak defisiensi yodium dengan prestasi belajar baik. Analisis X2 hitung 15,582, X2 tabel
=3,841 maka Ho ditolak. Simpulan penelitian adalah ada hubungan antara defisiensi yodium
dengan prestasi belajar. Hasil penelitian dapat dipertimbangkan dalam rencana tindak lanjut
penanggulangan gondok endemis, dalam bentuk survei, monitoring dan penyuluhan
kesehatan masyarakat.
Kata kunci: defisiensi yodium, prestasi belajar
Telepon: 08155636967
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Masalah gizi di negara berkembang termasuk Indonesia masih didominasi oleh Kurang
Energi Protein (KEP), anemia besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kurang
Vitamin A (KVA) dan obesitas (Supariasa, 2001). Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
merupakan masalah serius mengingat dampaknya mempengaruhi kelangsungan hidup dan
kualitas sumber daya manusia yang mencakup aspek perkembangan, kecerdasan,
perkembangan sosial dan perkembangan ekonomi. Kelompok yang sangat rawan masalah
dampak defisiensi yodium salah satunya adalah anak usia sekolah (Fadilah, 2003).
Kekurangan yodium tidak hanya menyebabkan gondok tetapi juga anak-anak yang mengalami
defisiensi yodium akan terganggu kecerdasannya (Ali Khomsan, 2004). Studi pendahuluan di
SDN Sidorejo 2 Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi menunjukkan hasil yaitu terdapat 8 dari
10 siswa dengan defisiensi yodium memiliki prestasi di bawah rata-rata kelas dan 10 siswa
yang tanpa defisiensi yodium semuanya memiliki prestasi di atas rata-rata kelas.
Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 48
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mensyaratkan angka gondok di bawah lima persen
(Siswono, 2001). Pada tahun 2007 prevalensi GAKY masih diderita 9,1% anak SD meskipun
terjadi penurunan, GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat karena secara
umum prevalensi masih di atas 5% (Admin, 2007). Di Desa Sidorejo Kecamatan Kendal
Kabupaten Ngawi terjadi peningkatan prevalensi defisiensi yodium pada anak SD dari 24,39 %
tahun 2003 menjadi 51,65 % tahun 2007. GAKY dapat menyebabkan gangguan pada
perkembangan otak. Anak-anak penyandang GAKY memiliki kapasitas mental di bawah
normal, daya motoriknya berupa kecekatan dan keterampilannya juga cenderung terbelakang,
dan intelegensinya sangat kurang, dan cenderung bodoh (Anonim, 2002). Kekurangan
yodium akan mengakibatkan penurunan kecerdasan/IQ sebanyak 13,5 poin (Anonim, 2002).
Dalam mengatasi GAKY, Depkes melaksanakan upaya jangka pendek yaitu
suplementasi yodium atau distribusi kapsul minyak beryodium pada kecamatan endemik
GAKY berat dan sedang, dengan pemberian kapsul minyak beryodium untuk SD Kelas I-VI di
daerah yang kurang yodium berat satu kapsul pertahun. Upaya jangka panjang berupa
yodisasi garam, penyuluhan gizi seimbang, menghindari zat goitrogenik (Anonim, 2002).
Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara defisiensi yodium dengan prestasi belajar di SDN Sidorejo
2 Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi ?
Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasi kejadian defisiensi yodium, 2)
mengidentifikasi prestasi belajar 3) menganalisis hubungan antara defisiensi yodium dengan
prestasi belajar Semester Ganjil Tahun Ajaran 2008/2009 pada siswa SDN Sidorejo Kelas I-VI.
BAHAN DAN METODE
Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan rancangan cross sectional dan
dilaksanakan di SDN Sidorejo 2, Kecamatan Kendal, Kabaupaten Ngawi pada bulan Januari
sampai dengan Juli 2009. Populasi penelitian adalah Siswa SDN Sidorejo 2 Kelas I-VI
Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi dengan sampel 127 orang yang ditentukan secara
random. Variabel bebas adalah defisiensi yodium sedangkan variabel terikat adalah prestasi
belajar siswa. Data dikumpulkan dengan cara observasi langsung melalui pemeriksaan fisik
pada siswa menggunakan pedoman klasifikasi pembesaran kelenjar gondok. Data prestasi
belajar diperoleh dari catatan raport semester ganjil. Instrumen pengumpulan data berupa
lembar observasi. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan uji chi square. Kriteria
penolakan Ho: bila harga X2 hitung > harga X2 tabel, dengan =0,05.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian menggambarkan bahwa 56 (44,1%) siswa mengalami defisiensi yodium
dan 71 (55,9%) siswa tidak mengalami defisiensi yodium. Ada 68 siswa (53,5%) yang memiliki
prestasi belajar tidak baik dan 59 siswa (46,5%) memiliki prestasi belajar baik.Vol.I No.1
Januari 2010 ISSN: 2086-3098 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 49 Tabel 1
menunjukkan bahwa siswa yang mengalami defisiensi yodium dan memiliki
prestasi belajar baik sejumlah 15 (26,8%) sedangkan siswa yang tidak mengalami defisiensi
yodium dan memiliki prestasi belajar baik sejumlah 44 (62%).


Tabel 1. Prestasi Belajar Siswa Menurut Kejadian Defisiensi Yodium
Di SDN Sidorejo 2 Kecamatan Kendal Kabupaten Ngawi
Defisiensi yodium Prestasi belajar Jumlah
Tidak baik Baik
f % f % f %
Mengalami defisiensi yodium 41 73,2 15 26,8 56 100
Tidak mengalami defisiensi yodium 27 38 44 62 71 100
Jumlah 68 53,5 59 46,46 127 100
Analisis hubungan antara defisiensi yodium dengan prestasi belajar dengan uji chi
square dengan =0,05 dan df=1 didapatkan X2 hitung 15,582 dan X2 tabel 3,841, maka H0
ditolak, artinya ada hubungan antara defisiensi yodium dengan prestasi belajar. Koefisien
kontingensi C=0,331, menunjukkan defisiensi yodium dengan prestasi belajar memiliki tingkat
hubungan rendah.
Dampak kekurangan Yodium bagi manusia cukup besar, terutama dalam upaya
peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, karena dapat menurunkan sekitar 140 IQ poin
dalam setahun (Haris Fadilah, 2003). Berdasarkan hasil penelitian, GAKY bisa menyebabkan
gangguan pada perkembangan otak. Anak-anak penyandang GAKY memiliki kapasitas mental
di bawah normal, daya motoriknya berupa kecekatan dan keterampilannya juga cenderung
terbelakang, dan intelegensinya sangat kurang, sehingga kemampuannya untuk menyerap
informasi pun menjadi terbatas, dan cenderung bodoh (Sianturi, 2002).
Penelitian pada anak sekolah yang tinggal di daerah kekurangan yodium menunjukkan
prestasi sekolah dan IQ kurang dibandingkan dengan kelompok umur yang sama yang berasal
dari daerah yang berkecukupan yodium. dari sini dapat disimpulkan kekurangan yodium
mengakibatkan ketrampilan kognitif rendah. Semua penelitian yang dikerjakan di daerah
kekurangan yodium memperkuat adanya bukti kekurangan yodium dapat menyebabkan
kelainan otak yang berdimensi luas. Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan, dengan
pemberian koreksi yodium akan memperbaiki pretasi belajar anak sekolah (Siswono, 2001).
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan hasil penelitian adalah: 1) hampir setengahnya siswa SDN Sidorejo 2 Kelas IVI
tahun 2009 mengalami defisiensi yodium, 2) sebagian besar siswa SDN Sidorejo 2 Kelas IVI
pada semester ganjil tahun ajaran 2008/2009 memiliki prestasi belajar tidak baik, 3) ada
hubungan antara defisiensi yodium dengan prestasi belajar.
Saran yang diajukan adalah: 1) untuk institusi pendidikan Sekolah Dasar, diharapkan
memantau keadaan murid dan mengarahkan siswa didik/orang tua untuk meningkatkan
konsumsi yodium, 2) bagi puskesmas khususnya pelaksana gizi, hasil penelitian dapat
Vol.I No.1 Januari 2010 ISSN: 2086-3098
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes 50
digunakan sebagai data dalam merencanakan tindak lanjut pemeriksaan kelenjar gondok dan
garam beryodium secara berkesinambungan.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar Hawadi, Reni. 2006. Akselerasi. Jakarta: Grasindo.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
EGC.
Depkes RI. 2000. Pedoman Distribusi Kapsul Minyak Beryodium. Jakarta: Depkes RI.
_________. 1998. Pedoman Pelaksanaan Pemantauan Garam Beryodium di Tingkat
Masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Direktorat
Bina Gizi Masyarakat.
_________. 2004. Peningkatan Konsumsi Garam Beryodium Tim Penanggulangan Pusat.
Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Dinkes Propinsi Jatim. 2003. Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)
bagi Petugas Kesehatan Tingkat Kabupaten/Kota. Puskesmas dan Pokja
Penanggulangan GAKY. Surabaya: Dinkes Propinsi Jatim.
Hadi dan Haryono. 2005. Metodelogi Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Hari S, Ratna. 2004. Perbedaan Prestasi Belajar Antara Penderita gondok dan Bukan
Penderita Gondok Siswa SLTPN II Bangorejo Di daerah Endemik Gondok Kecamatan
Bangoreji kabupatan Banyuwangi. adln.lib.unair.ac.id (diakses 18 Maret 2009 pukul
10.30 WIB).
Indriastuti, W. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). gemari.or.id (diakses 18 Maret
2009 pukul 10.00 WIB).
Khomsan, Ali. 2004. Defisiensi Micronutrients Dan Nasib Bangsa Kita. www2. kompas.com
(diakses 18 Maret 2009 pukul 12.00 WIB).
Moehji, Sjahmien. 2003. Ilmu Gizi. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.
Palupi, Laksmi. 2008. Stabilkah Yodiat Dalam Garam. bahanpang.sumutprov. go.id. (diakses
18 Maret 2009 pukul 13.30 WIB).
Ridwan. 2008. Ketercapaian Prestasi Belajar. ridwan202.wordpress.com. (diakses 18 Maret
2009 pukul 11.00 WIB).
Shakira, Ghana. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa.
syakira-blog.blogspot.com (diakses 18 Maret 2009 pukul 12.30 WIB).
Siswono. 2001. Jutaan Poin IQ Hilang Karena Kekurangan Yodium. www.gizi.net (diakses 18
Maret 2009 pukul 11.00 WIB).
Sudrajat, Ahmad. Tes Penilaian Pengukuran. ahmadsudrajat.wordpress.com (diakses 18 April
2009 pukul 12.55).











1. Konsep Dasar tentang Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini taraf setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia,
yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 1993).
Pengetahuan akan membentuk kepercayaan yang selanjutnya memberikan perspektif pada
manusia dalam mempersiapkan kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan
menentukan sikap terhadap objek tertentu. Pengetahuan berhubungan dengan jumlah informasi
yang dimiliki seseorang (Rahmat, 1998).
b. Tingkat Pengetahuan
Notoatmodjo (1993), ada enam tingkatan pengetahuan, yaitu :
1). Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke
dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh sebab itu tahu ini
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2). Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk rnenjelaskan secara benar tentang objek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3). Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4). Analisis (Analysis)
Analisis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada
kaitannya satu dengan yang lain.
5). Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian
di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6). Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi
objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang ada.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi
materi yang ingin diukur dan subjek penelitian atau angket yang menanyakan isi materi yang
ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut (Notoatmodjo, 1993).
2. Konsep Pendidikan
Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi
proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan
lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Konsep ini berangkat dari asumsi
bahwa manusia sebagai mahluk sosial dalam kehidupannya untuk mencapai nilai-nilai hidup di
dalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang mempunyai kelebihan (lebih
dewasa, lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu). Dalam mencapai tujuan tersebut, seorang
individu, kelompok atau masyarakat tidak terlepas dari kegiatan belajar.
Pendidikan menurut ensiklopedia pendidikan (1979) dapat diartikan sebagai semua perbuatan
dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan serta
ketrampilannya kepada generasi muda sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi
fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani.
Menurut bentuknya ada 3 jenis pendidikan yang sama-sama mempunyai kepentingan dan
memberkan manfaat sendiri dibagi tiga jenis:
a. Pendidikan formal dengan tingkatan pendidikan dari SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi.
b. Pendidikan informal.
c. Pendidikan non formal
Pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku melalui upaya pembelajaran yang
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam mencapai kehidupan dan
kepribadian yang mantap.
3. Konsep Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
a. GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) adalah sekumpulan gejala yang dapat
ditimbulkan karena tubuh penderita kekurangan yodium secara terus menerus dalam waktu yang
lama.
Terjadinya kekurangan unsur yodium terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dimana tanah
serta air di suatu daerah amat miskin unsur tersebut (Depkes RI, 2000).
Gondok endemik merupakan reaksi adaptasi terhadap kekurangan yodium di dalam tubuh.
Disebut endemik bila prevalensinya lebih dari 10% populasi (Arisman, 2001).
b. Etiologi dan Patogenesis
Beberapa keadaan yang sering dihubungkan dengan gondok endemik, yaitu :
1). Defisiensi Yodium
Defisiensi yodium merupakan sebab pokok terjadinya gondok endemik dimana-mana. Dengan
dasar perhitungan PII (Plasma lnorganik Iodine) kebutuhan ini diduga antara 100-200 g1.
2) Faktor Goitrogen
Goitrogen adalah zat/bahan yang dapat mengganggu hormogenesis tiroid sehingga dapat
membesarkan kelenjar gondok. Bahan goitrogen antara lain : cyanogenik glucoside (tiosianat),
glukosinolat, sulphurated hydrocarbon. Kedua zat yang pertama (cyanogenik glukoside dan
glukosinolat) terdapat pada beberapa tumbuhan, yakni : kubis, singkong. Akan tetapi belum jelas
bahwa makanan atau zat yang ada pada binatang berpotensi bersifat goitrogen akan bertindak
sebagai penyebab gondok pada manusia.
3) Faktor Trace Elements
Artinya dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam jumlah kecil tetapi mempunyai fungsi khusus.
4) Faktor Nutrisi
Mekanisme terjadinya adalah sebagai berikut, kekurangan. yodium menghambat pembentukan
hormon tyroid oleh kelenjar tyroid dan akibatnya tidak terdapat hormon yang menghambat
pembentukan TSH oleh hipofisis anterior, hal ini memungkinkan hipofisis mensekresi TSH
dalam jumlah besar. Kemudian TSH menyebabkan set-set tyroid mensekresi tiroglobulin dalam
jumlah besar ke dalam folikel dan kelenjar tubuh makin lama makin besar.
5) Faktor Genetik
c. Manifestasi Klinik
Akibat kekurangan yodium maka terjadi pembesaran kelenjar gondok. Pada tingkat yang ringan
hanya memberi dampak kosmetik, tetapi gondok yang besar dapat menimbulkan keluhan sesak
napas. kesulitan menelan, meningkatnya frekuensi denyut jantung dan merasa cepat lelah. Pada
tingkat yang lebih berat lagi, akan lahir bayi-bayi kreatin dengan kelainan yang bersifat menetap.
Pada wanita usia subur gondok dapat menyebabkan gangguan kesuburan dan kehamilan berupa
abortus (Noer,1997).
Wanita usia subur adalah wanita usia 15-49 tahun dan tidak hamil. Sasaran kapsul minyak
beryodium yaitu untuk WUS, ibu hamil dan ibu meneteki yang tinggal di daerah GAKY berat
dan sedang.










Tabel 2.1
Spektrum gangguan akibat kekurangan yodium
Tahap perkembangan Bentuk gangguan
Janin Keguguran (aborsi)
Lahir mati
Kelainan kongenital
Kematian perinatal
Kematian bayi
Kreatinisme saraf
Kreatinisme miksedema
Kerusakan psikomotor
Bayi baru lahir Gondok neonatus
Hipotiroidisme neonatus
Anak dan keluarga Gondok
Hiptiroidisme juvenile
Fungsi mental
Perkembangan fisik terhambat.
Dewasa Gondok dan penyakit
Hipotiroidisme
Fungsi mental
Hipertiroidisme diimbas oleh yodium

Semua usia Kepekaan terhadap radiasi nuklir
Meningkat




d. Diagnosa
Beberapa cara yang digunakan dalam mendiagnosa adanya goiter pada seseorang, yakni (Noer,
1997).
1). Pemeriksaan fisik
a) Orang (sampel) yang diperiksa berdiri tegak atau duduk menghadap pemeriksa.
b) Pemeriksa melalukan pengamatan pada bagian leher sampel
terutama pada lokasi kelenjar gondoknya.
c) Amatilah apakah sampel menderita gondok yang tanmpak nyata (tingkat II dan III).
d) Bila langkah ke-3 negatif, pemeriksa menyuruh sampel menengadah dan menelan ludah. Pada
gerakan menelan kelenjar akan ikut terangkat ke atas.
e) Pemeriksa berdiri di beiakang orang yang diperiksa kernudian pemeriksa meletakkan dua jari
tengahnya pada rnasing-masing lobus kelenjar gondok. Selanjutnya sampel disuruh menelan.
f) Kemudian pemeriksa mendiagnosa sampel apakah menderita gondok atau tidak. Jika salah
satu atau kedua lobus kelenjar lebih kecil dari ruas terakhir ibu jari berarti normal. Jika salah satu
kelenjar atau lobus ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari sampel berarti menderita
gondok.

Pembesaran kelenjar gondok berdasarkan modifikasi Perez, yaitu :
Grade 0 :
Tidak ada pembesaran kelenjar
Grade IA :
Pembesaran tidak nampak walaupun leher pada posisi tengadah maksimum Pembesaran
kelenjar teraba ketika dipalpasi
Grade IB :
Pembesaran terlihat jika leher pada posisi tengadah maksimum Pembesaran kelenjar teraba
jelas ketika dipalpasi
Grade II :
Mudah terlihat pada posisi kepala biasa dan terlihat dari jarak 1 meter, palpasi tidak
diperlukan untuk diagnosa.
Grade III :
Pembesaran kelanjar gondok tampak nyata dari jarak jauh (5-6) meter.
2). Pemeriksaan laboratorium EYU (Ekskresi Yodium Urin) Pada gondok endemik didapatkan
kadar yodium dalam urin kurang dari 50 g/gr kreatinin. Dengan pemeriksaan EYU., maka. Pan
Amerika Health Organization Scientific Group (PAHO) pada tahun 1973 membangi derajat
endemia gondok berdasarkan median EYU.
Tabel 2.2
Derajat Endemia Gondok Berdasarkan Median EYU
Derajat Endemia Median EYU (gl/gr kreatinin)

Derajat I Endemia gondok dengan EYU rata-rata lebih dari
Derajat 11 50 ql/gr kreatinin
Endemia gondok dengan EYU rata-rata antara. 25
Derajat III 50 ql/gr kreatinin.
Endemia gondok dengan EYU rata-rata kurang dari
25 ql/gr kreatinin.

Berat ringannya endemisitas suatu daerah ditentukan dengan angka prevalensi dan eksresi
yodium dalam urin dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.3
Derajat Endemia Gondok Berdasarkan Prevalensi dan EYU
Derajat Endemia Prevalensi Median EYU
Derajat 1
Endemia ringan 10-20% > 50 ql/gr kreatinin
Derajat II
Endernia sedang 21-30% 25 - 50 ql/gr kreatinin
Derajat III
Endemia berat > 30% > 25 ql/gr kreatinin





e. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan merupakan upaya prioritas terutama di daerah kantong-kantong gondok endemik.
Dalam pelaksanaannya ada beberapa program, yaitu : edukasi, penyuntikan lipiodol, iodisasi
gararn, rote beniodium, pil KI, iodisasi air minum, dan pemberian kapsul minyak beryodium
(Arisman. 2001). GAKY derajat ringan, dapat dikoreksi dengan pemberian garam beryodium
sebanyak 10-25 mg/kg. GAKY ringan ini biasanya akan lenyap dengan sendirinya jika
masyarakat memahami, mengetahui tentang pengobatan yang dianjurkan (Arisman, 2001 ).
Dosis pemberian kapsul minyak beryodium.
Kapsul minyak beryodium 200 mg diberikan kepada kelompok sasaran dengan dosis sebagai
berikut :
Wanita usia subur : 2 kapsul/tahun
Ibu hamil : 1 kapsul/masa hamil
Ibu meneteki : 1 kapsul/selama masa nifas
Anak SD : I Kapsul / tahun
Kebutuhan minyak beryodium hanya diberikan 1 kali dalam 1 tahun (Depkes RI. 2000).
Dalam Pelita V, penanggulangan GAKY di Indonesia meliputi 2 kegiatan, sebagai berikut :
(Kartono, 1997).
1). Jangka panjang, yaitu : iodisasi garam (sejak tahun 1977), iodisasi air minum (masih terbatas
di beberapa provinsi).
2). Jangka pendek, yaitu : pemberian kapsul minyak beriodiun terutama bagi penduduk di daerah
endemik sedang dan berat, dan cara ini merupakan pengganti penyuntikan lipiodol yang telah
dilaksanakan sejak tahun 1974. Pemberian kapsul ini mulai tahun 1992-199
B. Kerangka Berpikir
Dalam meneliti Faktor-faktor yang berhubungan tingkat pendidikan, pengetahuan, Penggunaan
Garam Beryodium dan Kebiasaan Mengkonsumsi bahan goiterogenik dengan kejadian gangguan
akibat kekurangan yodium di wilayah Puskesmas Anggrek maka kerangka berpikir dapat
divisualisasikan sebagai berikut :

Ringan

Sedang

Berat
Keterangan :
= Variable Independent (bebas)
= Variable Dependent (terikat)
Variabel Penelitian
Adapun Variabel yang diteliti adalah :
1. Variabel Bebas (Independent) adalah variabel yang dapat memberikan pengaruh terhadap
variabel terikat dalam hal ini menjadi variabel bebas adalah pendidikan, pengetahuan,
penggunaan garam beryodium dan kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik
2. Variabel Terikat (Dependent) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas dalam hal
ini variabel terikat adalah gangguan akibat kekurangan yodium.
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari masalah yang diteliti.
1. Hipotesis Nol (H0)
a. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian gangguan akibat kekurangan
yodium (Gondok).
b. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian gangguan akibat kekurangan yodium
(Gondok).
c. Tidak ada hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan kejadian gangguan akibat
kekurangan yodium (Gondok).
d. Tidak ada hubungan antara kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik dengan kejadian gangguan
akibat kekurangan yodium (Gondok).
2. Hipotesis alternatif (Ha)
a. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian gangguan akibat kekurangan
yodium (Gondok).
b. Ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian gangguan kekurangan yodium (Gondok).
c. Ada hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan kejadian gangguan kekurangan
yodium (Gondok).
d. Ada hubungan antara kebiasaan konsumsi bahan goiterogenik dengan kejadian gangguan
kekurangan yodium (Gondok).














BAB V
PENUTUP
A.Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada 139 responden penderita GAKY
diwilayah Puskesmas Anggrek hasil pengujian hipotesis dan pembahasan dengan tingkat
kemaknaan<0,05dapatdisimpulkan
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan penderita gangguan akibat
kekurangan yodium, artinya pendidikan yang berpendidikan kurang mempunyai peluang
besar untuk terjadi GAKY dibanding penderita GAKY dengan latar belakang pendidikan
baik.

2. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian GAKY (Gondok) yang
artinya penderita yang pengetahuan kurang mempunyai peluang besar untuk terjadi GAKY
dibanding penderita GAKY dengan pengetahuan baik.

3. Terdapat hubungan antara penggunaan garam beryodium dengan kejadian
GAKY(Gondok), yang artinya penderita yang penggunaan garam beryodium tidak baik
mempunyai peluang besar untuk terjadi GAKY dibanding penderita GAKY dengan
penggunaan garam beryodium yang baik.

4. Terdapat hubungan antara kebiasaan mengkonsumsi bahan goitrogenik dengan kejadian
GAKY (Hondok), artinya penderita yang kebiasaan mengkonsumsi bahan goitrogenik yang
sering mempunyai peluang besar untuk terjadi GAKY dibanding penderita GAKY dengan
kebiasaan mengkonsumsi bahan goitrogenik yang jarang.




B. Saran
Berdasarkan uraian diatas maka melalui kesempatan ini peneliti menyarankan :
1. Hendaknya diupayakan program penyuluhan pengetahuan GAKY pada masyarakat,
kelompok dan individu baik dalam gedung maupun diluar gedung Puskesmas sebagai
implementasi awal untuk mengurangi prevalensi GAKY yang lebih tinggi.
2. Untuk peneliti berikutnya, agar melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang
berhubungan dengan terjadinya gangguan akibat kekurangn yodium pada variabel yang belum
diteliti.


















Beberapa cara yang digunakan dalam mendiagnosa adanya goiter pada seseorang, yakni
(Noer,1997).
1). Pemeriksaan fisik
a) Orang (sampel) yang diperiksa berdiri tegak atau duduk menghadap pemeriksa.
b) Pemeriksa melalukan pengamatan pada bagian leher sampel
terutama pada lokasi kelenjar gondoknya.
c) Amatilah apakah sampel menderita gondok yang tanmpak nyata (tingkat II dan III).
d) Bila langkah ke-3 negatif, pemeriksa menyuruh sampel menengadah dan menelan ludah.
Pada gerakan menelan kelenjar akan ikut terangkat ke atas.
e) Pemeriksa berdiri di beiakang orang yang diperiksa kernudian pemeriksa meletakkan dua
jari tengahnya pada rnasing-masing lobus kelenjar gondok. Selanjutnya sampel disuruh
menelan.
f) Kemudian pemeriksa mendiagnosa sampel apakah menderita gondok atau tidak. Jika salah
satu atau kedua lobus kelenjar lebih kecil dari ruas terakhir ibu jari berarti normal. Jika salah
satu kelenjar atau lobus ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari sampel berarti
menderita gondok.
2) Pembesaran kelenjar gondok berdasarkan modifikasi Perez, yaitu :
Grade 0 :
Tidak ada pembesaran kelenjar
Grade IA :
Pembesaran tidak nampak walaupun leher pada posisi tengadah maksimum
Pembesaran kelenjar teraba ketika dipalpasi
Grade IB :
Pembesaran terlihat jika leher pada posisi tengadah maksimum
Pembesaran kelenjar teraba jelas ketika dipalpasi
Grade II :
Mudah terlihat pada posisi kepala biasa dan terlihat dari jarak 1 meter, palpasi tidak
diperlukan untuk diagnosa.
Grade III :
Pembesaran kelanjar gondok tampak nyata dari jarak jauh (5-6) meter.