Anda di halaman 1dari 2

KEPEMIMPINAN NASIONAL KUNCI UTAMA SUKSESNYA SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL

Oleh: Zukra Budi Utama


Banyak hal menarik dari forum diskusi Speakup Apindo Training Center (ATC) tanggal 1 Juli 2014, yang dibuka
Ketua Umum DPN Apindo Sofyan Wanandi. Diskusi yang diwasiti direktur ATC M. Adityawarman ini membahas
tentang implementasi Undang-undang Badan Pelaksana Jaminan Sosial (UU BPJS) bidang kesehatan. Anggota
forum diskusi terdiri dari Wamenkes Ali Gufron, dari BPJS Sri Endang, unsur pekerja Andi Gani Nena Wea
(Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) dan Timboel Siregar (Sekjen Organisasi Pekerja
Seluruh Indonesia), pengusaha Haryadi Sukamdani dan Arwin dari Apindo, Anggota DJSN Bambang Purwoko
dan Timoer Soetanto, serta pengamat pakar asuransi Nurhaidah Ahmad. Terlihat jelas masih banyak kendala
yang ditemukan di lapangan berkaitan dengan implementasi BPJS bidang Kesehatan.
Kendala utama berkisar pengelolaan data dan kualitas pelayanan. Kelemahan pengelolaan data dijawab BPJS
dengan rencana memaksimalkan kartu peserta ke basis data virtual, sehingga pada kondisi tertentu peserta
tidak harus menggunakan kartu. Sedang kualitas pelayanan lebih fokus pada tindaklanjut pelaksanaan
koordinasi manfaat (COB) bagi peserta yang jaminan kesehatannya lebih baik. Resiko utama dari dua kendala
tersebut bagi perusahaan adalah perselisihan (dispute) hubungan industrial, mengingat jaminan sosial
merupakan bagian dari kesejahteraan pekerja yang wajib dipenuhi perusahaan sesuai UU 13 Tahun 2003,
sebagai hak yang akan diperjuangkan Serikat Pekerja sesuai UU 21 Tahun 2000.
Pada kesempatan yang diberikan, penulis menyorot dua hal. Pertama tentang tidak sesuainya sanksi pidana
ditempatkan di UU BPJS karena bertentangan dengan semangat gotong royong yang diusungnya. Semangat
gotong royong tentulah berlandaskan moral, maka sanksi yang tepat untuk itu adalah sanksi moral. Dalam era
global sanksi moral ini sangat ditakuti perusahaan, karena mematikan usaha disebabkan pasarnya yang ditutup
akibat tuntutan lembaga sosial dan masyarakat konsumen. Sanksi administrasi dan pidana sudah mulai
ditinggalkan, seiring makin berkurangnya intervensi negara dalam bisnis di era global.
Poin Kedua adalah yang dibahas dalam tulisan ini, yaitu tentang pentingnya semangat politis kepemimpinan
nasional yang akan menjadi sumber kendala yang ada dalam implementasi UU BPJS, mengingat dominannya
peran pemerintah, antara lain sebagai berikut.
1. Pemerintah menentukan penetapan Dewan Pengawas dan Dewan Direksi BPJS
Dewan Pengawas diatur dalam Pasal 21 UU BPJS antara lain menyatakan bahwa Anggota Dewan
Pengawas diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dan ketua Dewan Pengawas ditetapkan oleh
Presiden. Direksi diatur Pasal 23 UU BPJS antara lain menyatakan bahwa Anggota Direksi diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden dan direktur utama ditetapkan oleh Presiden.
2. Pemerintah menentukan tarif dasar nilai klaim dengan standar tarif INA CBG
Pasal 37 PerPres Nomor 12 Tahun 2013 menyatakan bahwa besaran pembayaran kepada Fasilitas
Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan BPJS Kesehatan dengan asosiasi Fasilitas Kesehatan
di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri. Dalam hal tidak
ada kesepakatan atas besaran pembayaran, Menteri memutuskan besaran pembayaran atas program
Jaminan Kesehatan yang diberikan Asosiasi Fasilitas Kesehatan.
3. Pemerintah menentukan sendiri tingkat performa kualitas pelayanan.
Kualitas pelayanan diatur dalam Peraturan BPJS Nomor 1 Tahun 2014, namun acuan performanya
diatur dalam PerPres Nomor 108 Tahun 2013 tentang Bentuk Dan Isi Laporan Pengelolaan Program
Jaminan Sosial. Dalam lampiran bentuk laporan terlihat bahwa kriteria utama Kinerja Operasional
BPJS adalah perkembangan kepesertaan, sedang kriteria pelayanan hanya diukur secara pasif atas
dasar keluhan peserta, padahal pasal yang mengaturnya menempatkan kualitas pelayanan sebagai
salah satu kriteria kinerja.
Dengan demikian sangat jelas dominasi pemerintah dalam menjalankan UU BPJS, sehingga semangat politis
kepemimpinan nasional merupakan syarat wajib keberhasilan pelaksanaan Jaminan Sosial ini, dapat dilihat
dalam dua ekstrim sebagai berikut.
Ekstrim pertama adalah fokus program pada kepesertaan dengan pemaksaan melalui Undang-undang. Sekilas
memperlihatkan hasil yang mengagumkan dalam peningkatan kepesertaan dan kekayaan, namun sebagai
jaminan sosial program tersebut gagal walau sulit dibuktikan. Ekstrim ini menomorduakan pelayanan secara
sengaja atau tidak. Kurangnya fokus pada pelayanan secara otomatis akan mengurangi peserta yang
memanfaatkan fasilitas, sehingga otomatis klaim akan menurun seiring dengan peningkatan jumlah peserta,
yang berdampak nyata pada penumpukan kekayaan yang luar biasa.
Indikator Kepemimpinan Nasional ekstrim pertama adalah kepemimpinan yang dibangun atas dasar politik
transaksional, dengan basis kekuatan ada pada partai politik. Dominasi partai menyebabkan orientasi
pelayanan bagi rakyat terbagi, dimana persentasi partai jelas lebih besar. Politik transaksional akan
menomorduakan kebenaran dan menomorsatukan kepentingan kelompoknya, sehingga banyak orang yang
takut mendukung yang benar. Akibatnya tidak ada yang peduli dan mengingatkan nilai-nilai substansi dari
Sistem Jaminan Sosial Nasional.
Ekstrim kedua adalah fokus program jaminan sosial pada kepesertaan melalui kepuasan peserta. Pada ekstrim
ini indikator performa ada pada kenyamanan peserta dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan. Seluruh unsur
pelayanan dimaksimalkan agar berjalan efektif dan efisien, sehingga membuat peserta benar-benar
memanfaatkan fasilitas BPJS dengan maksimal. Klaim berada dalam tingkat riil atau 100% memenuhi
kebutuhan peserta. Peserta merasa sistem jaminan ini benar-benar berjalan sesuai harapan, sehingga optimis
atas jaminan masa depan mereka. Dampak positifnya motivasi dan produktifitas kerja meningkat, dan roda
ekonomi bergerak positif.
Indikator kepemimpinan nasional ekstrim kedua berbasis politis murni yang bertumpu pada kehendak rakyat,
sehingga dengan tegas menolak politik transaksional atau menolak campur tangan partai politik dalam
menjalankan pemerintahan.
Sejatinya ekstrim kedua inilah yang mampu menggerakkan positif perekonomian suatu bangsa, sebagaimana
terjadi di Jepang pada masa jayanya sehingga menjadi raksasa ekonomi dunia.
Begitu pentingnya semangat politis kepemimpinan nasional dalam menjalankan program jaminan sosial
mengingat pentingnya jaminan sosial dalam membangun ekonomi bangsa, menyisakan satu harapan dalam
diskusi speak up ATC; semoga dalam pilpres 2014 ini kita mendapatkan pemimpin nasional yang objektif dalam
menetapkan ukuran keberhasilan program jaminan sosial dan mampu memisahkan pemerintahan dari
campurtangan partai politik. Semoga. (zukrab@gmail.com/jkt 02 jul-14).


-----------------