Anda di halaman 1dari 3

Megawan Handra Kharisma

10/305091/EK/18149

#hina yang tidak hina

Pikiran saya sedikit kacau ketika teman-teman memberi kabar bahwa esok pagi para peserta expo kewirausahaan harus berkumpul di tempat pada pukul 05.00 WIB. Jelas saya tidak bisa berangkat sepagi itu, wong malamnya ada pertandingan bola yang baru berakhir pada pukur 04.45 WIB, dan saya adalah orang yang harus tidur paling tidak sejam-dua jam tiap malam, kalau tidak saya pasti akan menderita pusing-pusing atau malah masuk angin keesokanharinya.

Malam sebelum expo, kelompok kami, #hina melakukan persiapan untuk menata dan menghias booth stand kami agar tidak terlalu terlihat hina. Sumber daya mema ng terbatas, tetapi itu bukanlah suatu alasan untuk tidak memberikan kreatifitas dan semangat yang maksimal. Ketika melihat booth milik kelompok lain; ada yang menggunakan pembatas yang kelihatan mewah dari kayu, ada yang menggunakan hiasan megah dari kain perca, sejujurnya hati saya agak ciut akan hasil akhir dari booth #hina kelak. Apakah booth kami nanti akan cukup menarik perhatian pengunjung dengan dekorasi dan tata letak yang semenjana ini? Ah, masa bodoh, yang penting coba dulu.

Kami bekerja sampai sekitar pukul 21.00. Yang kami lakukan adalah membuat backdrop booth yang berasal dari kertas, membuat tulisan #hina yang berasal dari gabus yang disambungkan dengan tali, dan memasang kertas berwarna yang kelak akan ditembel dengan ber bagai testimoni dari pengunjung. Ada banyak ide dari teman-teman kelompok mengenai mau dijadikan seperti apa dekorasi booth ini, tapi tentu saja tidak semua ide-ide tersebut dapat terakomodasi dikarenakan anehnya ide-ide tersebut. Alhamdulillah, hasilnya lumayan dan yang penting tidak terlalu hina.

terakomodasi dikarenakan anehnya ide-ide tersebut. Alhamdulillah, hasilnya lumayan dan yang penting tidak terlalu hina. 1
terakomodasi dikarenakan anehnya ide-ide tersebut. Alhamdulillah, hasilnya lumayan dan yang penting tidak terlalu hina. 1

Setelah beristirahat sejenak, kami pun berangkat pulang pukul 22.00 WIB. Saya tidak tidur sampai pukul 01.45 menjelang pertandingan bola dimulai karena takut keterusan tidur dan tidak bangun sama sekali. Maklum, pertandingan bola itu adalah pertandingan yang mahapenting. Rencana saya adalah tidak tidur sampai pertandingan bola itu selesai (pukul 04.45), tidur sejenak sampai pukul 05.30, dan kemudian langsung berangkat tanpa mandi.

Namun apa daya, yang saya takutkan benar-benar terjadi, saya kesiangan. Ketika terbangun pada pukul 06.30, terlihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari teman-teman (saya memang terbiasa tidak mendengar alarm ataupun nada telpon ketika sedang tertidur pul as). Dibarengi rasa menyesal dan tidak enak dengan teman-teman, saya langsung bangkit dan bergegas menaiki motor menuju lokasi expo di halaman depan D3 Ekonomi UGM.

Ketika sampai kira-kira pukul 07.00, saya langsung mengeluarkan barang-barang bawaan saya seperti toples yang berisi tester produk #hina, nampan, dan beberapa alat lain. “Sorrrrymeeen, aku ketiduran, hehe”, saya berkata sambil memohon maaf ke teman-teman. Mereka pun mengiyakan entah ikhlas atau tidak. Saya langsung berinisiatif untuk berkeliling ke sunmor untuk menjajakan produk #hina bersama Anita, salah satu teman kelompok. Pagi itu terlihat lokasi halaman D3 Ekonomi UGM masih sepi pengunjung, yang ada hanya beberapa mahasiswa FEB yang mendatangi stand temannya untuk sekedar bermain-main atau melihat-lihat.

temannya untuk sekedar bermain-main atau melihat-lihat. Setelah berputar-putar sunmor sampai beberapa kali, produk

Setelah berputar-putar sunmor sampai beberapa kali, produk #hina kami hanya terjual satu buah. Setiap kami menawari orang, orang itu sepertinya tidak tertarik dan menanggapinya sambil lalu. Saya berpikir sepertinya hal itu bukan karena tidak menariknya barang dagangan kami, melainkan karena orang-orang yang berjalan di sunmor cenderung melihat-lihat dengan berjalan berkeliling sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. Kami berdua pun memutuskan kembali ke halaman depan D3 Ekonomi dan berfokus untuk berjualan di daerah sekitarnya saja.

Pelan tapi pasti, produk kami mulai laku. Yang membeli juga sangat beragam, ada orang yang belum kami kenal sama sekali, ada dosen kami (yang kebetulan merupakan dosen pembimbing skripsi saya), dan bahkan ada teman-teman kami yang membeli dengan sedikit paksaan dari kami. Pukul 11.00 WIB barang kami hampir habis, dimana saya lihat kelompok-kelompok lain masih memiliki stok barang dagangan yang sangat banyak. Hari itu kami memangmemproduksi 60 buah #hina dengan empat rasa saja, yakni barbeque, jagung bakar, keju, dan pedas setan. Kami berpikir akan lebih puas bila seluruh dagangan kami habis walaupun hanya sedikit yang kami bawa daripada membawa banyak dagangan tetapi tersisa banyak pula.

Tidak lama kemudian, dagangan kami benar-benar habis, dan sepertinya memang kelompok kami yang dagangannya sold out partama kali. Mungkin barang kami bisa cepat habis karena harganya yang murah (Rp 3.000,00), atau barangkali memang #hina ini adalah suatu produk yang sangat berpotensi, saya tidak tahu.

Kamipun memulai beres-beres dan mengarsipkan data pengunjung serta testimoninya yang diberikan kepada kami. Lumayanlah, kami kedatangan 49 pengunjung. Tentu bukan jumlah yang sedikit untuk sebuah produk yang #HINA!! =D =D =D

yang sedikit untuk sebuah produk yang #HINA!! =D =D =D Selamat tinggal hina, pengelaman ini takkan
yang sedikit untuk sebuah produk yang #HINA!! =D =D =D Selamat tinggal hina, pengelaman ini takkan

Selamat tinggal hina, pengelaman ini takkan terlupakan :’). Oh ya, jangan lupa follow @hina_scrapfood ya!