Anda di halaman 1dari 5

REFLEKS, BEKAL BAYI UNTUK BERTAHAN

HIDUP
Ada refleks yang menetap sampai dewasa, ada juga yang harus
menghilang. Indikasi perkembangan bayi juga bisa dilihat dari ada
tidaknya refleks ini.
Mengapa si mungil yang baru kenal dunia langsung tahu cara
mengisap puting ibunya? Itu karena setiap bayi sudah dibekali refleks.
Ya, refleks adalah gerakan primitif yang tak terkontrol atau involuntary.
Sebagian bahkan sudah muncul sejak dalam kandungan. Gerakan ini tak
diajarkan, tapi ada dalam diri bayi secara biologis. Contohnya refleks
rooting (memalingkan muka bila pipinya disentuh dan mulut akan
langsung membuka) serta sucking (mengisap). Kedua refleks ini muncul
hampir berbarengan.
Jika kita sentuh pipinya atau kita dekatkan sebuah objek ke arah
mulutnya, maka secara refleks bayi akan menoleh sambil membuka
mulutnya lalu melakukan gerakan mengisap. "Refleks inilah yang
membantu bayi mendapatkan makanan," kata dr. Jonardi, Sp.A.
Di bulan-bulan pertama kehidupannya, manakala sistem saraf pusat dan
otaknya belum berkembang optimal, bayi bertahan hidup dengan
mengandalkan refleks. Rooting dan sucking sering disebut sebagai refleks
pertahanan diri karena dengan kedua refleks inilah bayi memulai kegiatan
pemenuhan kebutuhan makanan, yaitu dengan mengisap ASI. Kedua
refleks ini akan menghilang ketika bayi berumur 3 sampai 4 bulan, yang
selanjutnya digantikan dengan kepandaian mengisap ASI.
Jonardi yang adalah Kepala Unit Kesehatan Anak RSU Tangerang
menekankan, fungsi refleks merupakan alat proteksi diri alamiah. Refleks
juga dianggap sebagai gerakan motorik yang penting bagi bayi baru lahir.
Melalui refleks ini, kelak si bayi akan mengembangkan kemampuan
motoriknya agar dapat tumbuh dan berkembang dengan normal.
Ada banyak refleks pada bayi, tapi umumnya yang dikenal hanya 9 refleks
(lihat boks "9 Refleks Bayi"). Ada pula refleks-refleks kecil seperti
coughing atau batuk. Awalnya batuk tidak digolongkan sebagai refleks,
tapi penelitian lebih lanjut membuktikan batuk termasuk refleks. Selain
itu, ada refleks yawning, yakni refleks seperti menjerit kalau bayi merasa
lapar, biasanya kemudian disertai tangisan.
INDIKATOR KELAINAN
Begitu pentingnya refleks-refleks ini sehingga dijadikan salah satu sarana
mengindikasi ada-tidaknya kelainan dalam perkembangan bayi. "Bila
refleks tak muncul, hal ini bisa dikarenakan perkembangan otak yang
lambat atau ada kerusakan, semisal trauma di kepalanya ketika lahir.
Bagaimanapun, refleks-refleks
berada dalam susunan saraf di otak. Kalau tidak punya refleks sama
sekali, pasti si bayi akan meninggal begitu dia lahir. Refleks merupakan
survival mechanism. Jadi, refleks itu selalu ada meskipun gradasinya
mungkin kecil atau muncul kemudian setelah berkali-kali dirangsang,"
lanjut Jonardi.
Untuk mengenali refleks, seorang dokter anak yang ikut dalam tim
persalinan akan melakukan uji stimulus terhadap refleks-refleks bayi baru
lahir. "Umumnya, bayi yang normal dan sehat sekali dirangsang langsung
menunjukkan respons pada tempat yang menjadi refleksnya."
Misalnya, begitu matanya disinari lampu, si bayi akan langsung
menunjukkan refleks blinking. Bila tidak menunjukkan reaksi apa pun,
biasanya dokter akan melihat urutan kejadian sejak kehamilan hingga
persalinan ibu. Bila si bayi lahir prematur, dokter memberlakukan gradasi
refleks karena umumnya respons bayi prematur terhadap rangsangan
lemah.
Perangsangan untuk melihat refleks Moro dilakukan dokter dengan cara
mengejutkan bayi, apakah itu menggunakan suara keras atau melepaskan
kepala bayi secara tiba-tiba selama sesaat dalam posisi telentang.
Respons yang ditunjukkan bayi adalah terkejut, lalu melengkungkan
punggungnya, menjatuhkan kepala, menangkupkan kedua lengan dan
kakinya ke tengah badan dan diikuti tangis yang keras. Dengan kata lain,
gerakannya simetris.
Pada anak yang lahir sungsang atau ada bagian tubuhnya yang cedera
(fraktur), refleks Moro adakalanya menghasilkan gerakan yang asimetris.
Ini karena bagian yang terganggu (terkena fraktur) tidak ikut bergerak.
"Kalau setelah dilakukan refleks Moro ada bagian tubuh yang tak bereaksi
atau bergerak, dokter anak akan segera meneliti dan berkonsultasi pada
ahli rehabilitasi medik atau ahli bedah ortopedi. Refleks yang asimeteris ini
kan, sudah menggambarkan gangguan."
MENGHILANG ATAU TERKENDALI
Yang jelas, refleks-refleks ini nantinya ada yang hilang, ada pula yang
berubah jadi lebih terkontrol. (Lihat boks "9 Refleks Bayi). Jika suatu
refleks tidak hilang pada saatnya harus menghilang, berarti ada sesuatu
yang salah. "Misalnya, pada usia empat bulan, tangan bayi masih
menggenggam tanpa mau membuka, berarti ada kelainan. Untuk itu perlu
diteliti lebih lanjut, apakah karena perkembangannya terlambat atau ada
kerusakan otak," urai Jonardi.
Pendeknya, semua fenomena refleks yang muncul sejak hari kelahiran
bayi harus dipantau terus perkembangannya. Termasuk refleks yang
sifatnya menetap seperti blinking atau mengerjap bila mata terkena
cahaya menyilaukan. Gerakan mata tak normal bisa menunjukkan adanya
kelainan saraf di otak. "Gerakan blinking normalnya sampai usia 6 bulan
memang belum stabil. Tapi kalau dalam satu waktu terjadi blinking
berkali-kali misalnya, dan mata hanya melihat ke atas, kita bisa
mencurigainya sebagai kejang, meskipun dia tidak sedang demam."
Pengetahuan mengenai aneka refleks bayi juga dapat menjadi patokan
orang tua dalam mencermati perkembangan motorik dan sensorik si buah
hati. Refleks mengindikasikan adanya perkembangan otak dan
perkembangan
otak sangat erat kaitannya dengan kecerdasan si bayi kelak. Saran dokter,
setidaknya sekali dalam sebulan, bayi rutin diperiksa. Tujuannya agar bila
terjadi gangguan dalam proses tumbuh kembangnya, hal itu dapat
diketahui sejak awal.

9 REFLEKS BAYI
Refleks Stimulasi Respons
Pola
Perkembangan
Bila Tak Ada
Respons,
Menunjukkan
Blinking
Kilatan cahaya
atau hembusan
udara
Bayi akan
menutup kedua
matanya
Menetap
Kelainan pada
saraf di otak
Babinski
Telapak kaki
digoyang atau
disentuh
Jari-jari kaki
akan membuka
Menghilang di
usia 1 sampai 2
tahun
Kelainan pada
saraf otak
(bila menetap)
Darwinian
(Grasping)
Telapak tangan
disentuh
Jari-jari
mengatup,
membentuk
genggaman
Melemah di usia
3 bulan,
menghilang di
usia 1 tahun
Kelainan pada
saraf otak
atau bila
menetap
Moro
Tiba-tiba
dikejutkan oleh
suara atau
gerakan
Terkejut, lalu
melengkungkan
punggungnya,
menjatuhkan
kepala,
menangkupkan
kedua lengan
dan kakinya ke
tengah badan
Menghilang di
usia 3 sampai 6
bulan
Fraktur atau
cedera pada
bagian tubuh
tertentu
Rooting
Disentuh pipi
atau ujung
mulutnya
Mulut akan
langsung
membuka dan
melakukan
Menghilang di
usia 3 sampai 4
bulan
Bayi kurang
bulan
(prematur)
atau
gerakan seperti
orang
mengisap
(mengenyot)
kemungkinan
adanya
kelainan
sensorik
Steping
Bila tubuhnya
diangkat dan
diposisikan
berdiri di atas
permukaan
lantai
Kakinya akan
menjejak-jejak
seperti akan
berjalan
Menghilang di
usia 3 sampai 4
bulan
Kelainan pada
motorik kasar
Sucking
Bila ada objek
disentuhkan
atau
dimasukkan ke
mulut
Bayi langsung
melakukan
gerakan seperti
mengisap
Menghilang di
usia 3 sampai 4
bulan
Kelainan
saluran
pernapasan
dan kelainan
pada mulut
termasuk
langit-langit
mulut
Swimming
Ditelungkupkan
di dalam air
Secara
otomatis
tubuhnya akan
membuat
gerakan-
gerakan seolah
berenang
Menghilang di
usai 6 sampai 7
bulan
Bayi prematur
atau gangguan
motorik kasar
Tonic neck Ditelentangkan
Memutar
kepala bayi
dalam posisi
ditelentangkan;
akan tampak
gerakan
berlawanan
arah antara
kepala dan
tubuhnya.
Maksudnya,
bila kepala
menengok ke
arah kanan,
maka bagian
tubuhnya
seperti
bergerak ke
arah sebaliknya
dengan kedua
tangan
biasanya
Menghilang di
usia 7 bulan
- Jika waktu
lahir
menunjukkan
respons yang
stereotip
(justru
searah) dan
sangat
menonjol,
pertanda ada
kerusakan
otak yang
berat.
- Bila menetap
setelah usia 7
bulan
kemungkinan
ada kelainan
otak.
menggenggam.
Posisinya akan
tampak seperti
pemain anggar
(the fencer
pose).

Anda mungkin juga menyukai