Anda di halaman 1dari 58

LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.

Bangkep
II- 1

BAB II
KAJIAN LITERATUR



2.1 Revitalisasi Kawasan Perkotaan
2.1.1 Pengertian Revitalisasi
evitalisasi adalah usaha pengembalian vitalitas suatu kawasan. Vitalitas kawasan merupakan
kualitas fungsi lahan yang dapat memberikan kontribusi peningkatan kegiatan sebagai daya tarik,
sehingga meningkatkan kegiatan ekonomi sebagai faktor pertumbuhan kawasan. Menurut
Departemen Kimpraswil (2002) revitalisasi dapat dijelaskan, adalah rangkaian upaya menghidupkan
kembali kawasan yang cenderung mati, meningkatkan nilai-nilai vitalitas yang strategis dan signifikan dari
kawasan yang masih mempunyai potensi dan atau mengendalikan kawasan yang cenderung kacau atau
semrawut. Dalam lingkup kawasan, vitalitas dapat diartikan kemampuan, kekuatan kawasan untuk tetap
bertahan hidup. Hidupnya suatu kawasan dapat tercermin dari kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan
sepanjang waktu di mana orang datang, menikmati, dan melakukan aktivitas-nya di sini. Namun dalam konteks
perkotaan sebuah vitalitas atau revitalisasi tidak hanya menekankan pada aspek ekonomi saja, tetapi perbaikan
fisik dalam kawasannya yang akan dijadikan objek juga harus mendapat perhatian khusus. Vitalitas terlihat dari
kualitas kehidupan di sepanjang jalan (Abramson 1981:82). Kualitas kehidupan ini dinikmati oleh suluruh lapisan
masyarakat, baik pengunjung maupun pekerja, yang ditandai dengan peningkatan penjualan dan menjadi daya
tarik pengunjung (Wiedenhoeft 1981:5).
Revitalisasi ialah kegiatan pemugaran yang bersasaran untuk mendapatkan nilai tambah yang optimal
secara ekonomi, sosial, dan budaya dalam pemanfaatan bangunan dan lingkungan cagar budaya dan dapat
sebagai bagian dari revitalisasi kawasan kota lama untuk mencegah hilangnya aset-aset kota yang bernilai
sejarah karena kawasan tersebut mengalami penurunan produktivitas (Ref. UNESCO.PP. 36/2005, Ditjen PU-
Ditjen Tata Perkotaan dan Tata Pedesaan). Menurut Danisworo (2000) revitalisasi adalah upaya untuk mendaur-
ulang (recycle) lahan kota yang ada dengan tujuan untuk memberikan vitalitas baru, meningkatkan vitalitas yang
ada atau bahkan menghidupkan kembali vitalitas (re-vita-lisasi) yang pada awalnya pernah ada, namun telah
memudar. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu
kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup akan tetapi kemudian mengalami
kemunduran/degradasi.





R
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 2

2.1.2 Alasan Dilakukan Revitalisasi
Berdasarkan Kimpraswil (2003) dalam www.kimpraswil.go.id/Ditjen-Kota/Revitalisasi, revitalisasi
diperlukan saat terjadi kondisi sebagai berikut:

Tabel II.1
Kondisi Lingkungan

Kondisi Karakteristik
Penurunann vitalitas ekonomi kawasan perkotaan Ekonomi tidak stabil
Kemunduran ekonomi kawasan
Penurunan pertumbuhan kawasan
Menurunnya nilai properti
Penurunan produktivitas kawasan
Meluasnya kantong-kantong kumuh yang terisolir Tidak terjangkau secara spasial
Terputusnya pelayanan sarana dan prasarana
Terisolirnya kegiatan ekonomi sosial budaya
Ketidakmandirian sarana dan prasarana Penurunan kondisi dan pelayanan prasarana (jalan,air
bersih, drainase, dan persampahan)
Penurunan kondisi dan pelayanan sarana (pasar, sarana
transportasi, ruang ekonomi formal dan informal)
Penurunan kualitas lingkungan Kerusakan ekologis perkotaan
Kerusakan fasilitas kawasan
Kerusakan bentuk dan ruang kota Kerusakan diri sendiri
Kerusakan karena kreasi baru
Penurunan kualitas sosial Pudarnya tradisi sosial, budaya setempat
lemahnya kesadaran berpolitik ruang
Sumber: www.kimpraswil.go.id/Ditjen-kota/revitalisasi, 2003

2.1.3 Pendekatan Revitalisasi
Pada dasarnya dapat dikatakan bahwa revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu
kawasan atau bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami
kemunduran/degradasi. Untuk itu, revitalisasi dapat dikatakan sebagai salah satu pendekatan dalam
meningkatkan vitalitas suatu kawasan kota yang bisa berupa:
1. Penataan kembali pemanfaatan lahan dan bangunan
2. Renovasi kawasan maupun bangunan-bangunan yang ada, sehingga dapat ditingkatkan dan
dikembangkan nilai ekonomis dan sosialnya
3. Rehabilitasi kualitas lingkungan hidup
4. Peningkatan intensitas pemanfaatan lahan dan bangunannya.
Keberhasilan pendekatan revitalisasi dalam suatu kawasan dipengaruhi oleh aspek sosial dan
karakteristik kawasan yang merupakan image atau citra suatu kawasan, bukan pada ide atau konsep yang
diterapkan tanpa penyesuaian dengan lingkungan kawasan tersebut. Pendekatan revitalisasi berdasarkan
tingkat, sifat dan skala perubahan yang terjadi di dalam kawasan dapat dilakukan dengan preservasi/konservasi,
rehabilitasi dan pembangunan kembali (redevelopment).
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 3

Revitalisasi kawasan diarahkan untuk memberdayakan daerah dalam usaha menghidupkan kembali
aktivitas perkotaan/perdesaan dan vitalitas kawasan untuk mewujudkan kawasan layak huni (livable),
mempunyai daya saing pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, berkeadilan sosial, berwawasan budaya serta
terintegrasi dalam kesatuan sistem kota/desa. Revitalisasi pada prinsipnya tidak hanya menyangkut masalah
konservasi bangunan dan ruang kawasan bersejarah saja, tetapi lebih kepada upaya untuk mengembalikan atau
menghidupkan kembali kawasan dalam konteks kota yang tidak berfungsi atau menurun fungsinya agar
berfungsi kembali, atau menata dan mengembangkan lebih lanjut kawasan yang berkembang sangat pesat
namun kondisinya cenderung tidak terkendali.

2.1.4 Ruang Lingkup Revitalisasi
Ruang lingkup revitalisasi meliputi:
1) Fisik
Revitalisasi kawasan mencakup aspek fisik kawasan yang berkenaan dengan rehabilitasi fisik prasarana
lingkungan yang pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas bangunan dan prasarana kawasan
bersagkutan.
2) Ekonomi
Revitalisasi kawasan mencakup aspek ekonomi yang bertujuan meningkatkan taraf hidup dan ekonomi
masyarakat sehingga memperkuat basis keuangan pada suatu kawasan
3) Sosial budaya
Revitalisasi menempatkan manusia pada kedudukan sentral, interaksi sehari-hari yang sangat dibutuhkan
guna menciptakan kondisi yang memungkinkan keberhasilan masyarakat secara ekonomi dan sosial.
Revitalisasi kawasan merupakan sebuah program berkelanjutan yang dimulai dari tahap jangka pendek
sampai dengan tahap jangka panjang. Kegiatan revitalisasi mencakup tiga aspek (Danisworo, 2000:5)
1. Sosial budaya
Revitalisasi kawasan tidak lepas dari aspek sosial budaya karena pada setiap kawasan terdapat aktivitas
sosial budaya yang dapat dilihat pada interaksi warga/prosedur hidup tetangga, pelaksanaan upacara
keagamaan, dan lain-lain yang mencakup kehidupan warga.
2. Ekonomi
Aspek ekonomi dalam upaya revitalisasi kawasan selalu menjadi sorotan utama yang mempengaruhi
perkembangan suatu kawasan karena berdampak pula bagi pertumbuhan suatu kota. Cakupan ekonomi ini
meliputi aktivitas perdagangan dan jasa yang dapat diperinci lagi misalnya menjadi perdagangan eceran
maupun grosir yang akan dikembangkan yang keberadaannya didukung program-program dan warga;
aktivitas perdagangan tradisonal/pasar yang dikelola secara modern dengan manajemen pengelolaan yang
modern; kemudian pembentukan koperasi oleh warga guna kesejahteraan warga; PKL.
3. Fisik
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 4

Aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan aspek fisik antara lain, perbaikan jalan yang sudah mengalami
kerusakan, perbaikan drainase kawasan dan lain-lain yang berkaitan dengan perbaikan kualitas
lingkungan.

2.1.5 Tahapan dalam Revitalisasi
Pelaksanaan revitalisasi harus melalui beberapa tahapan, di mana masing-masing tahapan harus
memberikan upaya untuk mengembalikan atau menghidupkan kawasan dalam konteks perkotaan. Dengan
demikian konservasi bangunan dan kawasan bersejarah merupakan tempat yang dapat difungsikan kembali
menjadi kawasan yang mempunyai nilai sosial-ekonomi tinggi. Tahapan-tahapan yang dapat kita cermati di
antaranya adalah:
1. Intervensi fisik
Intervensi fisik mengawali kegiatan fisik revitalisasi dan dilakukan secara bertahap, meliputi perbaikan dan
peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, sistem tanda/reklame dan
ruang terbuka kawasan. Mengingat citra kawasan sangat erat kaitannya dengan kondisi visual kawasan
khususnya dalam menarik kegiatan dan pengunjung, intervensi fisik ini perlu dilakukan. Isu lingkungan
(environmental sustainability) pun menjadi penting, sehingga intervensi fisik pun sudah semestinya
memperhatikan konteks lingkungan. Perencanaan fisik tetap harus dilandasi pemikiran jangka panjang.
2. Rehabilitasi ekonomi
Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak urban harus mendukung proses rehabilitasi
kegiatan ekonomi. Perbaikan fisik kawasan yang bersifat jangka pendek, diharapkan bisa mengakomodasi
kegiatan ekonomi informal dan formal (local economic development), sehingga mampu memberikan nilai
tambah bagi kawasan kota (P.Hall/U.Pfeiffer, 2001). Dalam konteks revitalisasi perlu dikembangkan fungsi
campuran yang bisa mendorong terjadinya aktivitas ekonomi dan sosial (vitalitas baru).
3. Revitalisasi sosial atau institusional
Keberhasilan revitalisasi sebuah kawasan akan terukur bila mampu menciptakan lingkungan yang menarik
(interesting), jadi bukan sekedar membuat beautiful place. Maksudnya, kegiatan tersebut harus berdampak
positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat/warga. Sudah menjadi sebuah
tuntutan yang logis, bahwa kegiatan perancangan dan pembangunan kota untuk menciptakan lingkungan
sosial yang berjati diri dan hal ini pun selanjutnya perlu didukung oleh suatu pengembangan institusi yang
baik.
Tujuan utama revitalisasi : Meningkatkan nilai kehidupan kawasan melalui intervensi yang mampu
menciptakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, terintegrasi dengan sistim kota, layak huni, berkeadilan
sosial, berwawasan budaya dan berkelanjutan. Langkah-langkah sasaran yang ingin dicapai dalam revitalisasi
kawasan adalah :
Meningkatnya kegiatan yang mampu mengembangkan vitalitas ekonomi kawasan.
Meningkatnya ekonomi kawasan
Meningkatnya nilai properti kawasan.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 5

Berkurangnya kantong-kantong kawasan kumuh yang tidak memiliki akses terhadap sistem jaringan
prasarana kota.
Meningkatnya kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana kawasan
Meningkatnya fasilitas kenyamanan kawasan
Terciptanya konservasi aset warisan budaya kawasan lama.
Mendorong partisipasi komunitas, investor dan pemerintah lokal.
Mencegah terjadinya penurunan produksi ekonomi melalui penciptaan usaha lapangan kerja dan
pendapatan ekonomi daerah;
Meningkatkan stabilitas ekonomi kawasan dengan upaya mengembangkan daerah usaha dan pemasaran
serta keterikatan dengan kegiatan lain;
Meningkatkan daya saing ekonomi kawasan dengan mengatasi berbagai permasalahan lingkungan dan
prasarana sarana yang ada;
Mengembangkan amenitas kawasan.

2.1.6 Manfaat dan Fungsi Revitalisasi
Revitalisasi membawa berbagai keuntungan dalam masyarakat, yaitu keuntungan budaya, ekonomi,
sosial, dan perencanaan (California dalam Shirvani, 1985:45)
Keuntungan budaya meliputi sumber-sumber bersejarah yang berkaitan dengan kawasan kawasan
bersejarah yang menjadi obyek penelitian
Keuntungan ekonomi meliputi nilai properti, kenaikan penjualan eceran dan sewa, penghindaran
terhadap biaya penggantian dan kenaikan pajak pendapat
Keuntungan sosial dan perencanaan meliputi kegiatan pelestarian yang tidak terukur.
Menurut Attoe dan Logan (1989:13), empat motif dilakukan revitalisasi yaitu:
Melindungi kawasan budaya atau bersejarah sebagai urban artefak
Menjamin variasi dalam pembangunan perkotaan sebagai tuntutan aspek estetis dan variasi budaya
masyarakat.
Motif ekononomi yang menganggap bangunan yang dilestarikan dapat meningkat nilainya bila
dipelihara dengan baik dan biasanya merupakan investasi yang baik sehingga memiliki komersial yang
digunakan sebagai modal lingkungan
Motif simbol yang menganggap bentuk fisik merupakan identitas dari suatu kelompok masyarakat
tertentu yang pernah menjadi kegiatan suatu kota.
Revitalisasi dianggap sebagai upaya pemvitalan kembali suatu kawasan yang mempunyai beragam
fungsi, antara lain:
a. Meningkatkan kemampuan kawasan baik secara fisik, ekonomi, dan sosial budaya.
b. Membuat suatu kawasan jadi penting kembali.
c. Menigkatkan fisik kawasan (sarana dan prasarana)
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 6

d. Meningkatkan stabiltas lingkungan, pertumbuhan pekonomian masyarakat, pelestarian, dan pengenalan
budaya.
e. Memberikan kehidupan baru yang produktif yang akan mampu memberikan kontribusi positif pada
kehidupan sosial budaya, dan ekonomi
f. Meningkatkan nilai sejarah suatu tempat.

2.1.7 Pengaruh Revitalisasi
Menurut Soegijoko (2004:4) revitalisasi dapat membawa pengaruh sebagai berikut:
1. Pengaruh revitalisasi terhadap kondisi fisik
Revitalisasi dikatakan berhasil apabila mampu memperbaiki kondisi fisik suatu kawasan. Peningkatan
kualitas lingkungan fisik berperan pada perbaikan bangunan. Revitalisasi mampu mengembalikan citra
bangunan yang telah memudar.
2. Pengaruh revitalisasi terhadap kondisi sosial
Proses pembangunan akan berjalan jika terdapat manusia. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki
sifat dinamis dan selalu ingin melakukan perubahan menuju kemajuan. Revitalisasi diharapkan
membawa perkembangan terhdap masyarakat.
3. Pengaruh revitalisasi terhdap kondisi ekonomi
Revitalisasi akan membawa kelancaran dalam aktivitas ekonomi yang terjadi pada lingkungan .
Sujarto (2002:8) menyebutkan pada dasarnya esensi pokok dari suatu kegiatan revitalisasi adalah
meningkatkan nilai basis ekonomi dan sosial kawasan tersebut secara keseluruhan. Ada beberapa faktor yang
menjadi pertimbangan dalam proses revitalisasi (Sujarto, 2002:49):
1. Adanya sifat dualisme dari pola sosial budaya, sosial ekonomi, dan struktur fisik sehingga perlu
menyerasikan keadaan tersebut guna mencapai tujuan yang diharapkan.
2. Mengingat adanya pola perekonomian yang tumbuh dan adanya pola dualisme, maka revitalisasi
merupakan salah satu usaha meningkatkan perekonomian masyarakat yang dapat mewadahi
perekonomian formal maupun informal.

2.1.8 Strategi Revitalisasi
Konsep revitalisasi menegaskan bahwa konservasi bukan bertujuan untuk mengawetkan kawasan
bersejarah, namun menjadi alat dalam mengolah transformasi dan mengembalikan vitalitas kawasan. Upaya ini
bertujuan untuk memberikan kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik berdasar kekuatan asset lama, dan
melakukan pencangkokan program-program yang menarik dan kreatif, berkelanjutan, serta merencanakan
program partisipasi dengan memperhitungkan estimasi ekonomi (Rido M Ichwan, 2004; Laretna Adisakti, 2005 ).
Sebuah kawasan lama bisa mengalami penurunan fisik prasarana dan sarana, utilitas, serta lingkungannya.
Penurunan fisik mengakibatkan vitalitas kota menurun. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk memelihara
dan melestarikan pusaka budaya merupakan awal dari kemerosotan vitalitas kawasan. Penurunan vitalitas fisik
akan diikuti oleh penurunan vitalitas ekonomi kawasan lama (Rido M Ichwan, 2004).
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 7

Fungsi baru pada suatu tempat harus bisa meminimalkan perubahan pada bahan dan fungsi yang
signifikan, menghargai asosiasi dan makna, dan jika layak harus mendukung kesinambungan kegiatan-kegiatan
yang member kontribusi pada signifikasi budaya tempat tersebut (ICOMOS, 1981). Ada hal-hal yang harus
dipertahankan dan boleh diubah dalam revitalisasi kawasan. Untuk lebih jelasnya, hal-hal tersebut dapat dilihat
pada tabel berikut ini:

Tabel II.2
Hal-Hal Yang Dipertahankan Dan Boleh Diubah Dalam Revitalisasi

No. Harus dipertahankan Boleh diubah Ketentuan Perubahan
1 Siginiaksi budaya
Fungsi dari elemem-elemen dalam
kawasan
Memperhatikan signifikansi budaya
2
Kegiatan/karakter non fisik
kawasan
Kegiatan-kegiatan lain yang tumbuh
kemudian dan tidak sesuai dengan
karakter kawasan
Kegiatan lain sebagai pengganti harus
mendukung kegiatan/karakter khas
kawasan
3 Fisik khas kawasan
Fisik kawasan yang tidak atau kurang
khas dan secara fungsi sudah tidak
signifikan, termasuk bangunan,
infrastruktur jalan, sanitasi, drainase
Perubahan harus mendukung karakter
kawasan, mendukung usaha
konservasi dan meningkatkan vitalitas
kawasan
4
Ciri/langgam arsitektur
pada bangunan kuno
- Elemen structural bangunan yang
sudah mengalami penurunan fungsi
- Utilitas bangunan yang sudah tidak
berfungsi dengan baik
- Elemen arsitektural yang bukan
elemen sebagai penanda cirri/langgam
arsitektural
- Fungsi bangunan
- Peruangan bangunan jika diperlukan
guna mengikuti fungsi bangunan
Perubahan elemen struktural,
arsitektural, utilitas, peruangan, dan
fungsi bangunan tidak merusak
cirri/langgam arsitektur pada
bangunan kuno
Sumber: Doby, 1978

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya konservasi bangunan dan kawasan bersejarah
adalah organisasi pengelola revitalisasi, dokumentasi dan inventarisasi data, sosialisasi, kegiatan yang akan
dikembangkan, masterplan, serta upaya peningkatan ekonomi setempat. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan
dalam rangka melakukan revitalisasi antara lain: peraturan mengenai konservasi, promosi dan sosialisasi, serta
pemberdayaan masyarakat (Laretna Adhisakti, 2005). Materi-materi yang perlu disiapkan dalam upaya
revitalisasi adalah:
1. Pendaftaran pendaftaran dan inventarisasi bangunan atau kawasan
2. Pengklasifikasian kelompok bangunan atau kawasan berdasarkan parameter-parameter tertentu, mana
yang harus ditangani segera, penanganan beikutnya dan mana yang belum perlu diadakan penanganan
3. Pengklasifikasian berdasarkan tingkat potensi konservasi
4. Penetapan serta regulasi (ICOMOS, 1981).
Berbagai langkah nyata bahkan dilaksanakan secara bersamaan agar upaya revitalisasi kawasan lama
dapat berhasil (Eko Budiharjo,1997 B). Langkah-langkah tersebut yaitu adanya perundang-undangan,
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 8

masterplan oleh tim ahli, kerjasama pemerintah dan swasta, kepemilikan, menggairahkan iklim investasi, dan
keringanan pajak. Keberadaan objek-objek konservasi yang telah teridentifikasi dan terdaftar semakin banyak
dan beragam, misalnya bangunan-bangunan kuno, monumen-monumen, dan artefak-artefak.Dengan fungsi-
fungsi yang signifikan terhadap pemanfaatan kembali/revitalisasi bangunan-bangunan kuno seperti taman atau
public space, kafe-kafe, restoran, motel dan lain-lain, objek konservasi bisa dianggap sebagai potensi kota yang
bisa mendukung pertumbuhan perekonomian kota (Clark, 2000). Dengan kondisi, kebijakan, dan permasalahan
yang berbeda di masingmasing daerah, maka tingkat kesuksesan dalam mewujudkan revitalisasi sebagai
kerangka mobilisasi masyarakat setempat juga berbeda-beda (Paulsen, 2006).
Berdasarkan hasil telaah pustaka, maka langkah-langkah yang perlu ditinjau dalam penanganan
masalah revitalisasi adalah:
1. Perbaikan lingkungan fisik kawasan
2. Regulasi
3. Pendanaan revitalisasi
4. Pengembangan kegiatan khas kawasan
5. Sosialisasi
6. Penentuan pelaksana revitalisasi
7. Pemberdayaan masyarakat
8. Kegiatan pendampingan
9. Masterplan

2.1.9 Kriteria Kawasan Yang Membutuhkan Revitalisasi
Penataan dan revitalisasi kawasan adalah:
Rangkaian upaya untuk menata kembali kawasan perkotaan yang tidak teratur.
Meningkatkan vitalitas kawasan yang memiliki potensi dan nilai strategis.
Mengembalikan vitalitas kawasan yang telah atau mengalami penurunan agar kawasan kawasan
tersebut meningkat produktifitas ekonominya.
Melihat rentang kegiatan yang luas tersebut, maka setting lokasi kegiatan revitalisasi dapat menjadi
sangat beragam seperti pada kawasan pusat kota, kawasan permukiman, kawasan bisnis/perdagangan,
kawasan industri, suatu koridor jalan tertentu, kawasan kota lama, atau pun pusat kegiatan ekonomi masa lalu
seperti pelabuhan (waterfront). Meskipun demikian mengingat bahwa pusat kawasan/kota merupakan suatu
lokasi yang sangat multidimensi dan sangat dinamis, maka dalam kegiatan revitalisasi lebih banyak mengarah
pada lokasi ini. Juga perlu diperhatikan bahwa program revitalisasi haruslah bertumpu pada komunitas,
sehingga harus mempertimbangkan faktor-faktor nilai lokal, sejarah, budaya maupun lingkungan alam setempat.
a. Kawasan Mati
Tidak mampu merawat dan memanajemen pertumbuhan
Kepemilikan majemuk
Nilai property 'negatif'
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 9

Rendahnya intervensi publik, menyebabkan rendahnya investasi oleh masyarakat.
Residential flight (pindahnya penduduk)
Business flight (pindahnya kegiatan usaha)
b. Kawasan Hidup tapi Kacau
Infrastructure distress dan pertumbuhan ekonomi tidak terkendali
Nilai property tinggi, namun menyebabkan : penghancuran secara creative tehadap aktifitas
tradisional, pembangunan tidak kontekstual, dan penghancuran nilai-nilai lama.
c. Kawasan hidup tapi kurang terkendali
Kegiatan cukup hidup, namun kurang kontrol
Terjadinya pergeseran fungsi dan nilai lama yg signifikan
Pergeseran setting tradisionalnya.
Menurut Lynn M Ross, AICP bila kegiatan revitalisasi masih dalam proses awal penentuan visi dan
perencanaan, maka pendekatan community based sangat cocok digunakan, karena dapat memfokuskan pada
eksplorasi dan identifikasi atribut-atribut komunitas seperti sejarah dan budaya lokal, termasuk kondisi alami
setempat. Pemahaman terhadap kondisi lokalitas tersebut bermanfaat untuk menetapkan atau memfokuskan
pada obyek awal revitalisasi yang sesuai karakter dan nilai-nilai local, misalnya perbaikan atau penambahan
kebutuhan fasilitas baru (infill), perubahan fasade bangunan atau perbaikan faslitas jalan (streetscape). Untuk
merealisasikan pendekatan tersebut Lynn mengusulkan penggunaan metode berikut sebagai instrument
implementasi yaitu:
Design guidelines, sebagai alat, pedoman atau arahan untuk melindungi dan memperkuat karakter,
estetika dan sejarah lokal yang unik, yang telah eksis di kawasan perencanaan
Special district regulation, sebagai alat untuk memberikan karakter khusus pada suatu kawasan yang
berbeda dengan kondisi kawasan lain maupun kota pada umumnya, sehingga mejadi lebih unik, menarik
dan spesifik;
Mix it up, menciptakan kawasan dan atau koridor yang multi fungsi yang unik dan spesifik, sehingga
menjadi daya tarik ekonomi, maupun pengunjung, untuk berusaha/berbisnis, tinggal/hidup, dan bekerja di
kawasan ini.

2.1.10 Kebijakan dan Strategi Revitalisasi
a. Kebijakan:
Pada kawasan yang menurun produktifitas ekonominya, kawasan potensial dan strategis lainnya
Meningkatkan aksesibilitas, keterkaitan serta fasilitas kawasan
Memberikan bantuan teknis dan stimulan untuk mengembangkan kawasan berwawasan budaya
lokal
Mengembangkan manajemen revitalisasi kawasan
Mengembangkan kapasitas institusi serta tumbuhnya kesadaran pemerintah, komunitas lokal dan
perangkat hukum yang baik dalam rangka good governance and management
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 10

Menggerakkan terjadinya investasi pada kawasan lama dan kawasan potensial lainnya.
b. Strategi
Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemberian STIMULAN
Meningkatkan kualitas pelayanan P/S, utilitas kawasan serta aksesibilitas kawasan dalam rangka
mewujudkan integrasi kawasan dengan sistem kota
Memprioritaskan pelaksanaan PRK yang signifikan secara sejarah, kultural dan ilmu pengetahuan
Menyusun agenda yang lebih partisipatif terhadap aspirasi dan permasalahan komunitas lokal
Menggali sumber-sumber pendanaan pembangunan yang lebih luas
Mendorong tumbuhnya komitmen untuk melakukan preservasi, restorasi, rehabilitasi, dan adaptasi
terhadap kawasan lama termasuk pembentukan kelembagaan pengelolaan kawasan
Memberdayakan institusi pemerintah kab./kota dan masyarakat
Mengembangan sistem monitoring dan evaluasi
Dokumentasi dan diseminasi

2.1.11 Klasifikasi Kawasan Revitalisasi
a. Ditinjau dari fungsi kawasan :
Revitalisasi Kawasan Perniagaan
Revitalisasi Kawasan Perumahan
Revitalisasi Kawasan Perindustrian
Revitalisasi Kawasan Perkantoran pemerintah
Revitalisasi Kawasan Olah Raga, dan Fasilitas sosial lainnya
Revitalisasi Kawasan Khusus


Gambar 2.1
Revitalisasi Kawasan Permukiman Nelayan
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 11

b. Ditinjau dari letak kawasan
Revitalisasi kawasan pegunungan / perbukitan
Revitalisasi kawasan tepian air (sungai, laut, dan dana)
Revitalisasi kawasan perairan / rawa


Gambar 2.2
Revitalisasi Kawasan Pasar Tradisional
c. Ditinjau dari kekunoan dan kesejarahannya
Revitalisasi kawasan bersejarah
Revitalisasi kawasan baru


Gambar 2.3
Revitalisasi Kawasan Bersejarah
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 12


2.1.12 Lingkup Kegiatan Program Penataan Dan Revitalisasi Kawasan
1. Penyusunan Kebijakan dan Strategi
2. Penyusunan NSPM
3. Identifikasi Lokasi
4. Studi dan Penyusunan Masterplan Revitalisasi Kawasan:
5. Penyusunan DED
6. Pelaksanaan Fisik dan Supervisi
7. Pengelolaan Kawasan Revitalisasi
8. Penguatan Kelembagaan (Capacity Building)
9. Sosialisasi, Pelatihan/diseminasi,
10. Promosi dan Pemasaran Kawasan
11. Kerjasama dengan Swasta dalam pengelolaan kawasan
12. Penyusunan Rencana Operasi dan Pemeliharaan Kawasan
13. Pembinaan Pelaku Usaha
14. Pengembangan Atraksi Budaya
15. Dokumentasi dan Publikasi
2.1.13 Elemen Fisik Revitalisasi
Perancangan kawasan kota merupakan proses menciptakan atau memandu penciptaan lingkungan
binaan yang mampu mewadahi aktivitas masyarakatnya dengan nyaman, berkualitas tinggi dan mampu
meningkatkan harkat kemanusiaannya. Dengan perkataan lain, urban design harus merupakan proses yang
memberikan arahan bagi terwujudnya suatu lingkungan binaan fisik yang layak, yang sesuai dengan aspirasi
masyarakat, kemampuan sumber daya setempat, serta daya dukung lahannya.
Hamid Shirvani dalam bukunya THE URBAN DESIGN PROCESS (1985), menyatakan bahwa urban
design adalah bagian dari proses perencanaan yang berhubungan dengan kualitas fisik lingkungan, yaitu yang
berkaitan dengan desain fisik dan spatial dari lingkungan. lingkup urban design memiliki batas dari eksterior
bangunan pribadi ke Iuar. Konsepsi urban design dari system pola struktur ruang dasarnya adalah penciptaan
jalan (street) dan ruang terbuka (open space) seolah-olah dari cungkilan (carving out) dari sebuah massa yang
sebelumnya solid. Proses pertumbuhan kota semacam ini tentu saja diawali dengan pembangunan beberapa
bangunan. Namun pada evolusi selanjutnya yang menjadi semakin kompleks sebagai akibat logis dari tradisi
yang masih homogen, aglomerasi ekonomi, kohesi sosial dan keamanan pertumbuhan in fill dimana modern
cenderung merusak struktur ruang yang ada.
Mohammad Danisworo dalam bukunya STRATEGI PENERAPAN RANCANGAN KOTA (1994),
menyakinkan bahwa unsur-unsur arsitektur kota yang berpengaruh terhadap (proses) pembentukan ruang harus
diarahkan serta dikendalikan perancangannya sesuai dengan skenario pembangunan yang telah digariskan.


LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 13

Tabel II.3
Elemen Fisik dalam Urban Design Guidelines

ELEMEN UTAMA RINCIAN
PERUNTUKKAN (Tata Guna Lahan)
- Makro-Mikro
- Horisontal Vertikal
- use Mixed Used
- Fasos-Fasum
INTENSITAS PEMBANGUNAN
- Land-Use-Intensity (LUI)
- Integrasi Antara Floor-Area Yang Diizinkan (KLB), Setbacks,
Ketinggian, Bentuk Massa/Selubung Dan Pengendalian Site-Coverage
(KDB),
TAUTAN (LINKAGE)
- Circulation And Parking (Sirkulasi Dan Area Parkir)
- Pedestrian Ways (Area Pejalan Kaki)
- Activity Support (Kegiatan Pendukung)
RUANG TERBUKA/HIJAU
- Lansekap
- Tata Hijau
- Ruang Terbuka
- Badan Air (Sungai, Laut, Danau)
- Street Furniture/Fixture
TATA BANGUNAN
- Pengendalian Bentuk Massa Bangunan (sosok, tinggi, kepadatan, jarak
bebas, dan sebagainya).
- Pengendalian Dampak (aspek ekonomi, sosial, budaya, psikologi, dan
sebagainya.
- Pengendalian Lingkungan (orientasi, aliran udara, sinar matahari,
bayangan, yang kesemuanya berkaitan dengan iklim, warna, tekstur,
dan sebagainya).
- Bangunan Baru Infill serta Bangunan Konservasi
- Tetenger/Landmark
Sumber: Danisworo, 1994

2.1.14 Rencana Pengembangan Kawasan
1. Skenario Penataan dan Revitalisasi Kawasan (PRK)
2. Rencana Penataan dan Revitalisasi Kawasan: meliputi : konservasi, pembangunan baru/new
development, perbaikan/upgrading, pemindahan/relokasi-resetlement, dan peremajaan/renewal)
3. Rencana Penataan dan Revitalisasi Fisik Kawasan; Rencana Tapak, Rencana Pergerakan, Rencana
Tata Hijau
4. Rencana Pelayanan Prasarana (air bersih, drainase, persampahan, air limbah, jalan), sarana (pasar
rakyat, pedagang kecil, pedagang kaki lima /PKL, pertokoan, fasilitas sosial, fasilitas transportasi) dan
utilitas (listrik, gas, telepon)
5. Rencana Sirkulasi dan Aksesibilitas
6. Rencana Detail (Design Guidelines)
7. Rencana Pengembangan Ekonomi Lokal
8. Rencana Pengembangan Lingkungan, Tradisi Sosial dan Budaya
9. Rencana Pengembangan Sumber-sumber Pendanaan
10. Rencana Pengembangan Kelembagaan
11. Program Investasi PRK
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 14

12. Rencana Tindak Pengembangan/Peningkatan Keuangan Kawasan
13. Rencana Tindak Pengembangan/peningkatan Kelembagaan Kawasan

2.1.15 Pelembagaan Dan Penataan Revitalisasi Kawasan
Untuk dapat melaksanakan hasil-hasil perencanaan revitalisasi, maka upaya-upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan cara melibatkan stakehoder terkait (masyarakat, swasta/dunia usaha, pemerintah kota,
pemerintah propinsi dan pemerintah pusat). Pada tahap ini melibatkan instansi pemerintah terkait, masyarakat,
pelaksana konstruksi, pengawas konstruksi, perencana konstruksi dan pengelola proyek untuk mewujudkan
DED ke dalam bentuk fisik. Bentuk pelibatan ini dapat dalam wujud Badan Pengelola Kawasan yang
melibatkan stakeholder yang akan berperan sebagai fasilifator dan katalisator untuk pemerintah, swasta dan
masyarakat dalam suatu Kemitraan (partnership) dalam manajemen pengelolaan kawasan. Hal-hal yang dapat
diatur dalam landasan hukum terdiri dari:
Keberadaan organisasi Badan Pengelola Kawasan.
Kawasan sebagai kawasan Revitalisasi dan Konservasi dan batas-batasnya.
Proses Perijinan, bagi pembangunan dalam kawasan
Sanksi bagi pihak-pihak yang melanggar ketentuan
Insentif/ disinsentif, Retribusi dan pajak.
Berupa Peraturan Daerah baik ditingkat Kabupaten/Kota ataupun Provinsi atau dapat berupa Surat
Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh Kepala Daerah.
Pengendalian pembangunan dan pemanfaatan kawasan.
Pemeliharaan dan perawatan kawasan.
Pelayanan terpadu dibidang perijinan.
Fasilitator dan katalisator antara Pemerintah, Swasta dan Masyarakat.
Promosi, pemasaran, dan penyelenggaraan acara.
Penggalangan dana masyarakat baik berupa tanah maupun berupa investasi
Pengembangan atraksi budaya yang diharapkan dapat merangsang kegiatan ekonomi
lokal baik berkala maupun secara terus menerus.
Promosi dan Pemasaran Kawasan.
Pengendalian Pembangunan Kawasan
Penyusunan Rencana O & M
Pembinaan pelaku usaha

2.1.16 Revitalisasi Kawasan
Revitalisasi kawasan merupakan rangkaian upaya untuk menghidupkan kembali kawasan yang
cenderung mati, meningkatkan nilai-nilai vitalitas yang strategis dan signifikan dari kawasan yang masih
mempunyai potensi, dan/atau mengendalikan kawasan yang cenderung tidak teratur untuk mengembalikan atau
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 15

menghidupkan kawasan dalam konteks kota yang tidak berfungsi atau menurun fungsinya agar berfungsi
kembali, atau menata dan mengembangkan lebih lanjut kawasan yang berkembang sangat pesat namun
kondisinya cenderung tidak terkendali. Revitalisasi kawasan dilakukan melalui pengembangan kawasan-
kawasan tertentu yang layak untuk direvitalisasi baik dari segi setting kawasan, sosio cultural, sosio ekonomi,
dan sosio politik. Kegiatan revitalisasi merupakan proses pembangunan kembali ekonomi, sosial, dan budaya
suatu lingkungan permukiman bersignifikansi budaya dan/atau kawasan bersejarah (tradisional) dengan pola
penanganan:
a. Berazaskan tridaya (daya usaha, daya lingkungan dan daya manusia) sebagai suatu kesatuan upaya
dalam setiap kegiatan penanganan.
b. Menggunakan pendekatan pembangunan bertumpu pada masyarakat
c. Mengacu pada kebijakan penataan ruang, penyelenggaraan bangunan gedung dan lingkungan, dan
kebijakan lain terkait dengan upaya pemberdayaan dan pelibatan mayarakat dalam pembangunan.
Secara khusus penataan dan revitalisasi kawasan untuk meningkatkan vitalitas kawasan terbangun
melalui intervensi perkotaan yang mampu menciptakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi local, terintegrasi
dengan sistem kota, layak huni, berkeadilan sosial, berwawasan budaya dan lingkungan, maka sasaran yang
dapat dilakukan dalam revitalisasi kawasan adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan kegiatan melalui intervensi yang mampu mengembangkan penciptaan lapangan kerja,
peningkatan jumlah usaha dan variasi usaha serta produktivitas kawasan.
b. Meningkatkan stabilitas ekonomi kawasan melalui intervensi untuk mengembangkan penciptaan iklim yang
kondusif bagi kontinuitas dan kepastian usaha, menstimulasi faktor-faktor yang mendorong peningkatan
produktivitas kawasan, mengurangi jumlah capital bergerak keluar kawasan dan meningkatkan investasi
yang masuk ke dalam kawasan.
c. Meningkatkan nilai property kawasan dengan mereduksi berbagai faktor eksternal yang menghambat
sebuah kawasan sehingga nilai properti kawasan sesuai dengan nilai pasar dan kondusif bagi investasi
jangka panjang.
d. Terintegrasinya kantong-kantong kawasan kumuh yang terisolir dengan sistem kota dari segi spasial,
prasarana, sarana serta kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya.
e. Meningkatkan kuantitas dan kualitas prasarana lingkungan seperti jalan dan jembatan, air bersih, drainase,
sanitasi, dan persampahan, serta kawasan sarana seperti pasar, ruang untuk industri, ruang ekonomi
informal dan formal, fasilitas sosial dan budaya, dan sarana transportasi.
Keberhasilan revitalisasi sebuah kawasan akan terukur jika mampu menciptakan lingkungan yang
menarik (interesting), bukan sekedar membuat beautiful place, kegiatan tersebut harus berdampak positif
terutama dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat.
1) Revitalisasi Pusat Kota Lama
Konservasi kota lama adalah suatu upaya untuk melindungi, menjaga, mencegah, dan mengurangi
degradasi lingkungan kawasan akibat kegiatan masyarakat. dalam konteks revitalisasi, konservasi juga
menyertakan kehidupan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam bentuk penyertaan potensi
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 16

masyarakat setempat dan fungsi-fungsi baru tanpa harus menghilangkan ciri dan karakteristik yang melekat
pada kawasan atau kota tersebut.
Banyak kegiatan revitalisasi yang dilakukan dengan memperbaiki kualitas fisik, sosial, dan ekonomi
kawasan yang hanya bermotivasi ekonomi-komersial dengan meningkatkan pembangunan fisiknya saja,
sehingga mengaburkan hal-hal yang menyangkut citra, psikologi ruang, dan persepsi warga kota. Kegiatan
revitalisasi yang hanya mementingkan ekonomi komersial semacam itu menyebabkan terjadinya penggusuran
terhadap bangunan-bangunan kuno yang menjadi ciri khas kawasan perdagangan lama, padahal bangunan-
bangunan tersebut merupakan saksi sejarah kota yang seharusnya dilestarikan, sehingga kota tidak kehilangan
masa lalunya (Budiharjo, 1997: 221). Beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan kegiatan untuk revitalisasi
antara lain (Budiharjo; 1997:222-225):
1. Berkaitan dengan peraturan perundang-undangan. Perda tentang konservasi bangunan dan lingkungan
bersejarah seyogianya segera disahkan. Dengan berlakunya Undang-undang Benda Cagar Budaya, perda
yang disusun memiliki patokan hukum yang kuat. Dengan adanya Perda Konservasi, keberadaan dan
kelestarian bangunan kuno bersejarah dapat lebih terjamin. Kemungkinan kecolongan yang
mengakibatkan lenyapnya bangunan kuno sangat tipis.
2. Pemda beserta pakar dan konsultan yang kompeten dalam bidang konservasi perlu segera menyusun
panduan perencanaan dan perancangan kawasan konservasi. Dengan adanya panduan tersebut
diharapkan agar keunikan, karakter, dan kekhasan bangunan kuno maupun kawasan bersejarah dapat
terjaga atau ditingkatkan.
3. Menyangkut kemitraan pemerintah dengan pihak swasta, dalam bentuk joint venture. Melalui
penggalangan dana dan daya kemitraan tersebut, dapat diupayakan revitalisasi kawasan pusat kota lama
yang tidak sekadar berorientasi pada kepentingan budaya maupun kesejahteraan, tetapi juga berwawasan
ekonomis finansial. Dengan demikian bukan hanya bangunan terjaga lestari, tetapi kehidupan ekonominya
juga berkembang.
4. Berkaitan dengan upaya pemilikan oleh Pemda atau public acquisition. Beberapa bangunan kuno yang
bermakna sebagai landmark yang berskala kota sebaiknya dimiliki oleh Pemda atau paling tidak Pemda
memiliki saham cukup besar pada bangunan tersebut agar tetap memegang peran yang menentukan masa
depan bangunan kuno yang dimaksud.
5. Sistem insentif dan disintensif, reward and punishment agar diterapkan dalam menggairahkan iklim
investasi di kawasan pusat kota lama. Sektor swasta yang berminat menanam modal diberi insentif yang
menarik. Selain itu juga bisa diterapkan sistem transfer of development rights atau pemindahan hak
membangun dari kaawsan bersejarah yang dikonvensi ke tempat lain.
6. Pemberian keringanan pajak pada pengusaha atau pemilik bangunan kuno di kawasan bersejarah.
Keringanan pajak tersebut disertai dengan persyaratan yang mengikat tentang pelestarian dan
pemanfaatan bangunan kunonya.
2) Revitalisasi Permukiman Nelayan
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 17

Menurut buku panduan penjelasan umum RPIJM Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen
Pekerjaan Umum, untuk mendukung revitalisasi permukiman, maka telah disusun cakupan dan kegiatan pokok
dari setiap cakupan tersebut adalah:
a. Revitalisasi kawasan permukiman tradisional/bersejarah:
b. Revitalisasi penataan bangunan dan lingkungan:
- Penataan dan revitalisasi kawasan perkotaan
- Rehabilitasi bangunan istana presiden dan kebunnya.
Kegiatan revitalisasi lingkungan permukiman tradisional/bersejarah memiliki tujuan untuk meningkatkan
kualitas lingkungan kawasan lingkungan permukiman tradisonal/bersejarah sehingga dapat mendorong
pengembangan potensi ekonomi dan wisata yang diharapkan dapat mendukung kondisi ekonomi
kabupaten/kota serta mendukung kelestarian nilai budaya kawasan. Adapun kriteria penanganannya adalah
sebagai berikut:
Nilai historis bangunan bersejarah berskala nasional
Bangunan bersejarah atau lingkungan permukiman tradisional tersebut mampu mendukung kelestarian
nilai budaya kawasan.
Adanya potensi kegiatan ekonomi masyarakat yang spesifik dan menonjol (kerajinan daerah dan
potensi wisata)
Kondisi lingkungan budaya yang kondusif, dalam arti dapat menerima pembaharuan yang dibawa oleh
pembangunan dan program pemerintah.
Luas kawasan antara 5 sampai 40 Ha
Telah sesuai dengan RUTR/RDTR
Revitalisasi kawasan permukiman tidak saja bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan
kualitas lingkungan dan masyarakat tersebut sebagai obyek wisata sejarah yang menarik. Perbaikan
permukiman dilakukan melalui peningkatan kebersihan dan penghijauan lingkungan, serta melalui kegiatan
composting.

Gambar 2.4
Revitalisasi Kawasan Permukiman
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 18

3) Revitalisasi Pasar Tradisional
Revitalisasi pasar berarti mensinergikan sumberdaya potensial yang dimiliki oleh pasar tradisional
dengan mempertimbangkan seluruh aspek secara komprehensif, terintegrasi, dan holistic sehingga mampu
meningkatkan daya saing pasar tradisional dengan mempertahankan kekhasan maupun keunggulan yang
dimiliki pasar tradisional tersebut. Revitasilasi pasar tradisional bisa dilakukan dengan menata dan membenahi
pasar tradisional. Revitalisasi pasar tradisional membutuhkan kebijakan yang berpihak baik pemerintah maupun
pelaku usaha terkait. Adapun kebijakan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah dalam rangka revitalisasi
pasar tradisional adalah:
1. Mengubah wajah pasar tradisional agar bisa lebih higienis, lebih nyaman, dan lebih teratur.
Pembenahan pasar tradisional hendaknya mengutamakan kepentingan para pedagang dan konsumen,
bukan kepentingan investor semata.
2. Melakukan kampanye masal untuk mendorong kesadaran pedagang dalam melakukan sanitasi
lingkungan, kesehatan, dan menjual produk yang higienis.
3. Mendorong dan membangun kesadaran masyarakat dan pedagang akan pentingnya atribut mutu dan
keamanan produk.
4. Menggunakan instrument CSR perusahaan-perusahaan distributor untuk membina pedagang pasar
tradisional
Diperlukan koordinasi dan kerjasama yang erat antar semua pihak agar tidak terjadi kerancauan dalam
menyikapi kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan.

2.1.17 Best Practice Revitalisasi
Revitalisasi Kawasan Monumen Panglima Besar jenderal Soedirman
Monumen Panglima Besar jenderal Soedirman terletak di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan,
Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Bangunan monumen ini berdiri tepat pada puncak pegunungan dan telah
diresmikan sejak tahun 1993. Kawasan monumen panglima besar Jenderal Soedirman merupakan pusat
aktivitas baru yaitu sebagai napak tilas rute gerilya, serta dijadikan tempat wisuda bagi para taruna angkatan
darat, laut, dan udara. Kondisi eksisting sarana dan prasarana kawasan masih belum memadai, yaitu
aksesibilitas dalam kawasan yang masih kurang, kesulitan air bersih, fasilitas komunal seperti toilet umum, dan
sebagainya.
Sebagai pusat aktivitas baru, akan dirancang fasilitas seperti perpustakaan, galeri, amphitheater, dan
lain sebagainya. Upaya revitalisasi kawasan monument Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman juga untuk
mengkonservasi patung dan rumah yang semula dijadikan markas diwaktu gerilya melawan penjajah untuk
merebut kemerdekaan RI. Konsepsi Revitalisasi Kawasan mempertimbangkan adanya kebutuhan peningkatan
kualitas sarana dan prasarana kawasan, maka Departemen Pekerjaan Umum menyusun konsepsi revitalisasi
sesuai dengan kriteria penataan dan revitalisasi kawasan. Fungsi pelataran upacara vital untuk mendukung
penyelenggaraan kegiatan TNI, yaitu wisuda angkatan. Nilai sejarah kawasan juga membantu menanamkan
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 19

pendidikan akan nilai semangat kejuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman di masa lampau bagi generasi
penerus bangsa untuk terus berjuang demi bangsa dan Negara Indonesia.

Revitalisasi Pusat Kota Nagahama, Jepang
Kota Nagatama merupakan kota kecil yang berada di pinggiran danau Biwako ini banyak memiliki
peninggalan lama, mulai dari machiya (rumah tradisional) hingga lumbung-lumbung beras yang kosong,
membentuk wajah kota yang sangat khas. Pada suatu waktu, sebuah toko serba ada akan dibangun di tengah
kota. Namun penduduk menolak, karena akan merusak wajah pusat kota serta ekonomi rakyat yang ada.
Gagasan pemerintah setempat, toko besar tersebut kemudian akan dibangun di pinggiran kota. Masyarakat
kembali menolak, mereka berfikir pusat kota akan menjadi area yang mati, banyak orang nanti memilih pergi ke
area baru tersebut. Apalagi, pada umumnya, pusat kota selalu memiliki persoalan dengan lalu lintas yang padat
dan jalan-jalan yang relatif kecil.
Agar toko serba ada tetap dapat dibangun, dan pusat kota lama tidak menjadi mati, sebuah program
peniupan kehidupan untuk pusat kota dilakukan dengan memilih program yang inovatif, bernilai jual tinggi dan
berkelanjutan. Dipilih industri kecil yaitu kerajinan gelas, yang tidak dimiliki di kota itu dan justru didatangkan dari
Tokyo, sebagai citra industri kota yang baru. Alasan pemilihan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Industri kerajinan gelas yang dapat diwujudkan dalam bentuk peralatan rumah tangga, perhiasan wanita,
dan cenderamata diprediksi akan mampu mendatangkan wanita dari berbagai penjuru Jepang ke sana
untuk berbelanja. Apabila disain terus berkembang, mereka akan datang kembali dan kembali lagi.
2. Kerajinan ini dapat dilakukan langsung oleh masyarakat sendiri sehingga akan mendukung kegiatan
ekonomi rakyat setempat.
3. Kerajinan tersebut baik dari segi pengolahan maupun penataan penjualan dapat adaptif menempati
peninggalan lama yang ada, sehingga bangunan tradisional dapat dipugar dan dikembangkan sesuai
kebutuhan tanpa merusak keasliannya.
Tiupan kehidupan di kota Nagahama ini dikelola langsung oleh pemerintah kota bekerja sama dengan
masyarakat dan melakukan kemitraan dengan berbagai pihak swasta. Untuk perencanaan dan pelaksanaan
revitalisasi yang bekerja sama dengan masyarakat ini dilakukan melalui pertemuan-pertemuan yang
dilaksanakan di Community Center yang memakan waktu hingga tahunan. Berbagai program perbaikan fisik,
infrastruktur, dan keindahan kota mulai dari penutup jalan, hiasan jembatan, lampu kota serta street furniture
lainnya dilaksanakan untuk mendukung revitalisasi tersebut. Beberapa festival masyarakat juga dibangkitkan
kembali. Dan kini, memang banyak wanita dari berbagai penjuru lalu lalang di kota tua ini berburu kerajinan
gelas, dan masyarakat lokal dapat memenuhi kebutuhan modern di lingkungan tradisional yang sehat, serta
pusaka kota bersejarah ini secara berkelanjutan terpelihara dan lestari dengan baik.




LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 20

2.2 Pengertian Kota
Berdasarkan UU Tata Ruang no. 26 Tahun 2007, kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai
kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
Perancangan Kota merupakan suatu proses yang memberikan arahan bagi terwujudnya suatu
lingkungan binaan fisik yang layak dan sesuai dengan aspirasi masyarakat, kemampuan sumber daya setempat
serta daya dukung lahannya. Perancangan kota tidak akan terlepas dari rentetan kolektif memori dari masa lalu
yang ditengarai menjadi urban heritage (Widodo, 2004). Peninggalan sejarah dalam wujud artefak kota menjadi
pusaka mampu menciptakan keunikan sebuah tempat, membangun brand dan kondisi yang kuat terhadap skala
makro kota (Rossi,1982) . Selain itu, peningkatkan citra dan identitas kota dengan pengenalan pada asset
pusaka terbukti menumbuhkan kebanggaan pada warganya sehingga memberi semangat pada komunitas untuk
lebih aktif membangun kotanya.
Tiap kota memiliki kawasan yang bernilai historis sebagai salah satu cikal bakal dari pusat kegiatan
masyarakat. Di mana nilai historis tersebut dapat menjadi salah satu potensi yang sangat bermanfaat bagi
seluruh masyarakat. Potensi pariwisata dapat tumbuh dan berkembang dengan baik diantara pesatnya
pembangunan di pusat kota.
Namun seiring dengan berjalannya waktu dan gencarnya pembangunan dan pengembangan wilayah
perkotaan, kawasan ini justru sering terabaikan dan kehilangan identitasnya. Eksistensi kawasan tersebut
mengalami degradasi fungsi, peranan, fisik, dan kualitas visual kawasan Pusat kota. Penyebabnya antara lain
akibat kurangnya rasa memiliki dari masyarakat. Untuk itu, pemerintah setempat gencar menggelar upaya
peningkatan program wisata setempat yang tentunya telah diintegrasikan dengan prioritas program pada sektor
transportasi, kebersihan dan pertamanan, kependudukan serta penataan bangunan dan lingkungan.
Isu lingkungan hidup sedang menjadi perhatian nasional dan internasional dalam penanganan
pembangunan. Selama ini masalah tersebut ditanggapi sebagai satu bagian dari program pembangunan, tetapi
sesuai dengan perubahan paradigma pembangunan akan menjadi salah satu arus utama (mainstream) konsep
pembangunan yang mengharuskan seluruh sektor dalam program pembangunan menempatkan issue
lingkungan hidup sebagai pertimbangan utama, dimana setiap tindakan harus menjadikan isu tersebut tertangani
dengan baik.
Kota-kota yang berusaha mengatasi masalah tersebut dan menjaga kebersihan, relatif aman dari
bencana dan lebih menjamin unhik dihuni, akan mendapatkan keuntungan dalam orangorang dan bisnis yang
mereka perlukan pada masa mendatang.
Abad sekarang ini lebih dikenal sebagai abad perkotaan, dimana permasalahan perkotaan semakin
mencuat ke permukaan. Pada awalnya, kota merupakan suatu magnet, tempat dimana orang saling bertemu,
melakukan transaksi perdagangan dan jual beli hasil bumi. Tempat asal mula pertumbuhan kota tersebut, yang
seringkali kita sebut sebagai kawasan kota lama, dalam perkembangannya seringkali menjadi :
Mati karena ditinggalkan penghuninya, karena kondisi fisik dan infrastrukturnya sudah tidak memadai
dengan dinamika perkembangan dewasa ini.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 21

Berkembang namun masih menyimpan potensi untuk berkembang lebih lanjut.
Berkembang sangat pesat, bahkan cenderung kacau, semrawut dan tidak terkendali.
Melihat hal tersebut kegiatan perencanaan kota (city planning) juga mengatur dan
mengalokasikan sumber daya di lahan-lahan kota, agar hasilnya dapat terdistribusi dengan merata.
Hubungan ini tercermin dalam pengaturan ruangruang melalui sistem zoning. Kecenderungan
pembangunan sekarang, peruntukan campuran di pusat kota dalam perencanaan kota semakin kuat
sejalan dengan maraknya area development. Selain itu, peruntukan kawasan ini perlu dilengkapi
dengan perencanaan aksesibilitas. Dengan meningkatkan sistem tautan ini, daerah belakang yang
semula under-use dapat ditingkatkan menjadi use. Dengan bertambahnya tingkat pencapaian akan
menambah nilai lahan dari lahan kawasan tersebut. Beberapa aspek perencanaan kota dapat dibagi
aspek fisik dan aspek social ekonomi kota.

2.2.1 Aspek Fisik Kota
Aspek ini meliputi: daya dukung alam, bentukan fisik kota, fotografi / geologi, transportasi kota, iklim
makro, dan vegetasi. Temuan dari aspek fisik ini antara lain akan menentukan nilai itensitas pembangunan yang
diberikan untuk setiap jenis peruntukan lahan. Hal ini harus didasarkan kepada kemampuan daya dukung yang
dipenggaruhi oleh beberapa faktor lain. Antara lain meliputi: tingkat aksesibilitas, potensi lokasi, daya dukung
tanah, dan intervensi teknologi.

2.2.2 Aspek Sosial-Ekonomi Kota
Aspek ini meliputi: populasi (ukuran komposisi), peran kota (konteks kompetisi regional), struktur ekonomi
kota, demografi, finansial, dan sebagainya. Beberapa hal yang dapat ditentukan berdasarkan aspek ini, adalah:
Program kegiatan kawasan haruslah berdasarkan studi yang lebih luas, sehingga fasilitas yang disiapkan
tidak akan mematikan kawasan di sekitarnya, dan justru akan memperkuat (bersinergi) fasilitas sekitar.
Keberadaan sektor informal pada ekonomi perkotaan adalah untuk mendukung kehidupan kota.
Masyarakat marginal ini perlu mendapat perhatian dan juga menjadi target group bagi pembangunan ini.
Perlu adanya perbaikan kualitas lingkungan pada hunian masyarakat ini, dengan berbagai cara, antara lain
relokasi setempat pada kawasan peremajaan.
Peraturan dan kebijakan pembangunan kota, termasuk kebijakan pola menejemen pembangunan/
kawasan perkotaan yang melibatkan semua pihak yang potensial (publicprivat partnership).
Strategi pemasaran kawasan. Beberapa hal yang ikut menentukan faktor pemasaran kawasan antara lain
adalah; citra yang positif (aman, bagus, dan cantik), atraksi berkala (event), dan program atraksi, serta
fasilitas/ jasa yang ada. Beberapa jenis atraksi yang mungkin pada kawasan ini adalah: atraksi alam &
binaan (pantai, tepian air, taman), bangunan bersejarah, kegiatan outdoor (restoran terbuka), atraksi baru
(distrik hiburan, pasar festival), perayaan dan sebagainya.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 22

Dengan diterapkannya Otonomi Daerah yang memberikan kewenangan kebijakan pembangunan pada
pemerintah daerah, diharapkan terdapat panduan dan manual program pembangunan kota yang berlaku dan
mudah diterapkan/ dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia dengan memberikan fleksibilitas dan kesempatan
pada nilai-nilai lokal untuk berkembang dan menjadi ciri positif bagi tiap-tiap kota.

2.2.3 Paradigma Pembangunan Kota
Perubahan paradigma pembangunan juga diarahkan pada pembangunan yang komprehensif tidak
sektoral. Pembangunan dengan pola pikir sektoral yang selama ini dilakukan kurang memiliki koordinasi yang
baik masing-masing sektor menyusun programnya sendiri tanpa terintegrasi satu sama lain sehingga
pembangunan yang terjadi tidak berkesinambungan dan berjalan tanpa tujuan dan sasaran yang bersifat lebih
luas. Terjadinya program yang tumpang tindih (overlapping), ketidaksinambungan tindak lanjut program pada
tahap-tahap berikutnya, dan tidak tertanganinya suatu masalah atau wilayah, adalah hal-hal yang selama ini
terjadi akibat sektoralisasi pembangunan.
Kawasan perkotaan merupakan kawasan yang memiliki kompleksitas yang tinggi baik pada tatanan
fisik, sosial, maupun ekonomi. Untuk itu penanganan pembangunan kota memerlukan perencanaan yang
mengarah pada lintas sektoral dan komprehensif. Dalam sub-bab ini akan diuraikan mengenai tinjauan program
pembangunan perkotaan yang sedang dan telah dilaksanakan.
Pergeseran tersebut bertujuan untuk memberi arah yang lebih tepat dan lebih baik sesuai dengan
perubahan-perubahan yang selama ini terjadi. Berbagai penyesuaian dilakukan sejalan dengan perkembangan
di dalam masyarakat (sosial) maupun pada lingkungan fisik. Pergeseran paradigma tersebut secara umum
adalah:

2.2.4 Pembangunan Berdasar Pada Kelompok Masyarakat
Merupakan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat yang menekankan pada nilai guna (use
value) dan mendudukan penghuni sebagai pelaku utama dan penentu dimana semua keputusan dan tindakan
pembangunan didasarkan atas aspirasi masyarakat, kepentingan masyarakat, kemampuan masyarakat, dan
upaya masyarakat. Jadi pola kebijakan yang dilakukan bersifat bottom-up, dari bawah (masyarakat) kepada atas
(pemerintah). Konsep CBD dikembangkan berdasarkan kenyataan bahwa masyarakat merupakan pemilik
sumberdaya terbesar dan tersebar, dimana 80 % kebutuhan perumahan nasional dipenuhi secara swadaya dan
informal. Konsep CBD sangat mendukung paradigma pembangunan saat ini yang menekankan pada
pembangunan yang berbasis kepada masyarakat.
Pembangunan yang terjadi selama ini lebih bersifat top-down approachment atau pendekatan atas-
bawah, menempatkan pemerintah sebagai pelaku utama yang tidak jarang hanya berupa pembangunan satu
arah. Beberapa program dinilai merugikan masyarakat sehingga pada akhirnya menimbulkan masalah yang sulit
untuk diselesaikan. Pemihakan pembangunan pada masyarakat harus menjadi pertimbangan utama program
pembangunan, karena kepentingan masyarakat merupakan kepentingan yang harus diutamakan.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 23

Pada pola ini tetap memerlukan pelaku-pelaku pembangunan lainnya dan mendudukkan pemerintah
sebagai katalisator, fasilitator, dan sekaligus pengawas, sedangkan sektor swasta sebagai penunjang. Kedua
sektor terakhir secara konseptual dikelompokkan dalam pengertian enabler, dipaparkan dalam bentuk-bentuk
berikut :
Sektor Pemerintah. Mewakili unsur-unsur pemerintah baik pemerintah pusat, pemerintah daerah dan
Badan Usaha Milik Negara/Daerah yang mempersiapkan produk-produk pengaturan yang mempermudah
proses pembangunan dan membuka akses ke berbagai sumber daya kunci yang diperlukan seperti
informasi lahan, dana, perijinan, teknologi, dll.
Sektor Swasta. Mewakili unsur-unsur swasta baik di bidang industri maupun jasa, misalnya developer
swasta dan konsultan pembangunan yang semuanya berperan penting sebagai mitra pemerintah untuk
penanganan kawasan kumuh, penyediaan dana murah, pembimbing dan pendamping komunitas dalam
penyelenggaraan pembangunan permukiman.
Sektor Kelompok/Komunitas. Mewakili kelompok-kelompok kepentingan bersama, misalnya kelompok
masyarakat (pokmas), kelompok usaha bersama (KUB), dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).
Sektor Individu. Mewakili individu-individu baik sebagai anggota kelompok maupun anggota masyarakat
lepas.
Paradigma pembangunan saat ini lebih menekankan pada pembangunan yang melibatkan peran
masyarakat dalam keikutsertaan pengambilan keputusan, sedangkan pemerintah bertindak sebagai
penyelenggara yang menampung, membina, dan mengelola. Hal ini dimaksudkan untuk dapat menghasilkan
kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat sehingga berbagai program yang
direncanakan dapat terlaksana secara tepat guna dan sasaran. Konsep Community Based Development
(CBD) merupakan suatu pendekatan yang tepat diterapkan dalam peningkatan partisipasi masyarakat.
Pendekatan CBD memiliki kemungkinan implementasi yang optimal pada masyarakat karena langsung
maupun tidak langsung masyarakat diberikan kesempatan dalam merumuskan dan memilih komponen-
komponen program (detail program) yang dianggap merepresentasikan tingkat kebutuhannya. Pembangunan
kawasan dengan CBD juga dapat secara menyeluruh menetapkan pola pembangunan tribina yaitu bina
lingkungan (perencanaan kawasan sesuai dengan potensi dan keinginan masyarakat), bina manusia (pelibatan
masyarakat sebagai salah satu pelaku utama pembangunan), dan bina usaha (peningkatan kegiatan ekonomi
masyarakat yang diintegrasikan dengan upaya penataan kawasan secara keseluruhan).

2.3 Pelestarian Kawasan Bersejarah di Perkotaan
Pelestarian adalah upaya pegelolaan pusaka melalui kegiatan penelitian, perencanaan, perlindungan,
pemeliharaan, pemanfaatan, pengawasan,dan/atau pengembangan secara selektif untuk menjaga
kesinambungan, keserasian, dan daya dukungnya dalam menjawab dinamika jaman untuk membangun
kehidupan bangsa yang berkualitas (Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003). Pelestarian adalah segenap
proses pengelolaan suatu tempat dan bangunan atau artefak agar secara historis, makna kultural yang
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 24

dikandungnya, terpelihara dengan baik (www.pu.go.id). Menurut Kevin Lynch (1960: 46-90) benda-benda
pusaka terdiri dari:
- Benda-benda arkeologi
- Bangunan-bangunan kuno/bersejarah
- Lingkungan, baik lingkungan tradisional, colonial atau lingkungan arkeologi
- Kota bersejarah
Pelestarian kota merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam perkembangan suatu kota/
kawasan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :
Benda cagar budaya memiliki arti penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan
dan kebudayaan.
Suatu benda menjadi bagian/ merupakan bagian dari kehidupan masa lalu.
Benda alam maupun benda buatan manusia dapat berupa karya rumah tinggal, bangunan komersial,
benda budaya dan keagamaan, bangunan industri atau bangunan pemerintah, taman, jembatan dan
sebagainya, kota lama, kawasan bersejarah maupun kelompok hunian tradisional. Benda atau tempat
cagar budaya memperkaya kehidupan manusia, sering memberikan ikatan rasa pada masyarakat dan
lansekapnya, kepada masa lalu dan berbagai pengalaman hidup.
Tempat tempat budaya adalah rekaman sejarah yang penting sebagai ekspresi nyata dari sejarah
negara/tempat.
Adanya perkembangan pembangunan Kota yang saat ini mengalami peningkatan dan perubahan yang
pesat, sehingga dapat berpengaruh terhadap kelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya.

2.3.1 Signfikansi Konservasi Kawasan Bersejarah di Perkotaan
Kawasan strategis dan warisan budaya adalah merupakan salah satu issue pokok yang perlu mendapat
penanganan serius dalam pembangunan perkotaan di Indonesia. Untuk melaksanakannya dibutuhkan upaya
revitalisasi dan konservasi melalui analisa dan pendekatan pembangunan perkotaan yang terintegrasi.
Berdasarkan riset kawasan warisan budaya di perkotaan dan perdesaan yang pemah kami lakukan, dapat
disimpulkan adanya beberapa preposisi umum mengenai logika sosial yang timbul dari dampak urbanisme
dalam revitalisasi dan konservasi.
Dalam hal ini, urbanisme dapat didefinisikan sebagai suatu rasa romantik : perhatian holistik terhadap
built environment yang meliputi konteks fisik, historis dan sosial ekonomi yang mengeksplotasi hubungan antara
aspek kreatif bentukan kota dan pemaanfaatan ruang ekonomi dan sosial. Misalnya adalah disain riset preposisi
yang merupakan cara untuk menemukan kemampuan disain revitalisasi dalam mengembangkan kesempatan
yang menyatu dengan strategi urban townscape dalam pengembangan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat
dan sektor ekonomi.
Dalam revitalisasi kawasan warisan budaya terbangun maka kawasan tersebut harus dikembangkan
sehingga menjadi suatu kawasan yang vibrant dan viable untuk kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan pariwisata
yang modern dalam rona arsifektural dan lingkungan warisan budaya sehingga tercipta kawasan yang hidup.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 25

Pendekatan yang harus dilakukan adalah:
a. Pengembangan Signifikasi Historis Konservasi
Dalam pengembangan signifikasi historis konservasi ini, program dan komponen proyek yang
dikembangkan antara lain:
Menentukan dan mendefinisikan struktur ruang eksisfing dari kawasan warisan budaya dengan cara
mengidentifikasi dan mendefiniskan bentukannya baik dari aspek sejarah maupun keberadaannya
saat ini sehingga dapat digunakan untuk merumuskan bentukan ruang yang baru.
Pelestarian dan pengembangan kawasan inti (curtilage area) dan akumulasi kawasan warisan budaya
yang ada.
Pelestarian terhadap bangunan dan ruang kuno yang merupakan prioritas konservasi dan memiliki
potensi historis.
Fungsi ulang untuk artefak kuno bersejarah sebagai penghargaan historis dan atau adaptif re-used
lewat penerapan fungsi-fungsi yang compatible dengan citra kawasan.
Pengembangan jaringan wisata arsitektur kawasan warisan budaya.
Pengembangan museum, perpustakaan dan pusat pusat inforrnasi kawasan warisan budaya.
b. Pengembangan Signifikasi Budaya
Dalam pengembangan signifikasi budaya ini, program dan komponen proyek yang dikembangkan antara
lain:
Pengembangan museum.
Pengembangan komunitas seni dan budaya yang memiliki signifikasi budaya khas.
Pelestarian dan pengembangan living culture dan fungsi-fungsi khas yang masih ada, diantaranya
budaya khas, kesenian tradisional, kerajinan tangan, souvenir, makanan tradisional dan lain
sebagainya.
Guidelines revitalisasi kawasan warisan budaya.
Pengembangan atraksi wisata melalui paket wisata budaya, festival, karnaval dan promosi
kesenian.
Pengembangan signage, intepretasi presentasi dan representasi sejarah.
c. Pengembangan Infrastruktur Perkotaan dan Perdesaan
Dalam revitalisasi kawasan warisan budaya perlu diikuti dengan penyediaan infrastruktur perkotaan dan
perdesaan yang memadai dan terintegrasi dengan sistim kota serta mampu mendukung dan
memberdayakan potensi kawasan warisa budaya yang bersangkutan. Program dan komponen proyek
yang dikembangkan adalah:
Peningkatan aksesibilitas dari dan ke arah kawasan warisan budaya serta peningkatan kualitas
jalan yang ada.
Penanganan sanitasi dan drainase.
Penyediaan air bersih yang memadai.
Peningkatan sarana penerangan jalan umum, penerangan pedestrian, penerangan taman atau
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 26

ruang terbuka publik.
Penyediaan transfer station persampahan dan sistem penanganan persampahan terkait.
Penyediaan fasilitas listrik dan telepon.
Peningkatan kualitas lansekap kota.
Penyediaan fasilitas transportasi publik yang murah dan terdistribusi dengan baik.
d. Pengembangan Perumahan dan Lingkungan yang Sehat
Dalam pengembangan perumahan dan lingkungan yang sehat ini maka pembangunan infrastruktur
perkotaan dan perdesaan menjadi salah satu fokus utama. Program dan komponen proyek yang
dikembangkan antara lain:
Memfungsikan kembali bangunan-bangunan kuno yang pernah digunakan permukiman.
Mengembangkan kawasan untuk perumahan.
Perlindungan dan penciptaan lingkungan pedestrian dan ruang publik yang manusiawi.
Perencanaan ruang terbuka publik sebagai unsur kenyamanan kota, lengkap dengan street
furniture, vegetasi dan penandaan.
Pengembangan potensi riverfront untuk wisata air dan pemandangan.
Revitalisasi dapat diukur berdasarkan tingkat vitalitas yang signifikan pada kawasan terbangun yaitu
melalui beberapa variabel berikut:
1. Populasi, menyangkut tingkat kepadatan, flight dan status stakeholder. Indikator utama yang
dibahas adalah mengenai:
Densitas yang mengacu pada angka kepadatan penduduk per hektar.
In-out migration yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi tingkat perpindahan yang ada.
Perhitungannya merupakan hasil pertambahan jumlah penduduk (penghuni baru dan
kelahiran) yang dikurangi dengan angka perpindahan penduduk (penghuni yang pindah dan
angka kematian).
Status hunian bangunan menyangkut legalitas hunian dan kepemilikan properti aset warisan
budaya tersebut.
2. Ekonomi, menyangkut pendapatan kawasan dan besamya layanan. Indikator utama yang dibahas
adalah:
PADS kawasan yaitu menyangkut pendapatan kawasan dibanding kawasan lain di sekitamya,
apabila kawasan warisan budaya tersebut memiliki PADS yang jauh kebih rendah
dibandingkan dengan PADS kawasan di sekitamya maka hal ini akan menunjukkan bahwa
kawasan yang dimaksud perlu didekati dengan cara revitalisasi.
Active commercial use. Penghitungannya adalah berdasarkan profit yang didapat selama
kurun waktu lima tahun terakhir.
Jenis usaha meliputi variasi jenis usaha dan pangsa pasar yang terlayani oleh kawasan yano
bersangkutan. Penilaian vitalitas kawasan juga ditentukan berdasarkan perkembangan jumlah
unit usaha yang ada.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 27

3. Sosial, menyangkut tingkat kriminalitas / keamananan, tingkat kesehatan dan tingkat keamanan.
Indikator utama yang dibahas adalah mengenai:
Penilaian keamanan ditentukan berdasarkan angka / kejadian kriminalitas yang dapat
membahayakan keselamatan jiwa, properti dan kelestarian kawasan warisan budaya yang
bersangkutan. Penilaian ini dilakukan kaema dampak dari kondisi ini adalah buruknya image
kawasan sehingga menyebabkan orang menjadi enggan untuk mengunjungi atau bahkan
tinggal dan berusaha di sana.
Kondisi kesehatan lingkungan / epidemi dalam kawasan adalah untuk mengindikasikan apakah
kondisi kawasan / lingkungan tersebut cukup nyaman dan sehat.
Penilaian terhadap keselamatan meliputi kemungkinan terjadinya kecelakaan dan bencana
alam yang dapat membahayakan keselamatan nyawa, properti dan kelangsungan kawasan
warisan budaya. Faktor yang mempengaruhi kondisi keselamatan kawasan adalah mungkinan
buruknya layanan aksesibilitas, transportasi, traffic system management, turunnya kondisi
warisan budaya terbangun, gempa bumi, tanah longsor, banjir dan lain sebagainya. Dampak
dari rendahnya keselamatan kawasan adalah rusaknya kawasan warisan budyaa dan matinya
investasi akibat kurang terjaminnya keselamatan jiwa dan properti yang ada di dalamnya.
Budaya, menyangkut eksistensi warisan budaya intangible. indikator utama yang dibahas:
Keberadaan komunitas budaya, yaitu mengenai jumlah, variasi pelaku, variasi penikmat.
Eksistensi kepercayaan setempat baik itu berupa belief maupun relasi ritual kawasan warisan
budaya,
Keberadaan produksi built ervironment baik berupa art, handycraft, ataupun arsitektur serta
lingkup layanan yang dijangkaunya.
4. Sarana, menyangkut kualitas dan kapasitas penyediaan serta distribusi. Indikator utama yang
dibahas adalah mengenai ketersediaan infrastruktur perkotaan seperti Air bersih, Drainage,
Persampahan, Sanitasi, Jalan, Listrik, Telepon.
e. Pengembangan ekonomi
Dalam pengembangan ekonomi, nantinya perlu diperhatikan masalah globalisasi, modemisasi dan
pengaruh urbanisasi baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan. Secara umum program dan
komponen proyek yang dikembangkan antara lain:
Penciptaan kesempatan pertumbuhan usaha baik bagi masyarakat maupun investor (job creation,
full employment)
Pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan pasar (enabling the market). Penguatan kemampuan ekonomi pemerintah kota.
Pengembangan properti dan bisnis.
Pengembangan minat investasi dan pengembangan usaha.
f. Pengembangan Aspek Legal
Dalam pengambangan aspek legal ini, hal - hal yang harus diatur antara lain:
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 28

Penetapan delineasi kawasan.
Pelestarian terhadap bentuk kota dan bangunan, pembangunan baru dan lain sebagainya.
Hak dan kewajiban stakeholder.
Penghargaan dan sanksi harus diberikan kepada para stakeholder revitalisasi dalam kawasan
warisan budaya tersebut.
g. Pengembangan Institusi
Program dan komponen proyek yang dikembangkan antara lain:
Pemasaran properti dan investasi
Pengembangan pariwisata.
Konservasi bangunan dan lingkungan.
Pengelolaan bangunan dan kawasan.
Perijinan.
Pengaturan peraturan.
Pengarsipan dan penyusunan data base yang baik.
Urgensi konservasi dapat diukur melalui beberapa variabel menyangkut peran historis, peran signifikasi
kultur dan level kerusakan. Indikator utama yang dibahas adalah mengenai:
Historical significance dibedakan atas bangunan dan kawasan bersejarah. Parameter yang menentukan
urgensinya adalaah apabila kawasan warisan budaya tersebut tergolong sangat memenuhi kriteria
konservasi yakni usianya telah mencapai 50 tahun atau bahkan lebih dari satu abad. Selain itu untuk
mengidentifikasi apakah kawasan tersebut memiliki potensi sebagai suatu locus solus maka kawasan
tersebut harus memiliki nilai lebih yang merekam peristiwaperistiwa penting yang berhubungan dengan
sejarah sosial, ekonomi dan atau peristiwa politik baik yang berskala lokal, regional, nasional hingga
internasional.
Cultural significance Untuk bangunan bersejarah atau memenuhi kriteria sebagai warisan budaya yang
perlu dilestarikan maka penilaian yang dilakukan adalah berdasarkan tipologi dan estetika/ arsitektur yang
meliputi penilaian terhadap elemen arsitektur, gaya, detail/ornamen, material bangunan, warna, tata ruang
dan kejamakan. Penilaian terutama dikaitkan dengan eksistensi dan intensitasnya. Nilai lebih dapat
ditambahkan apabila bangunan bersejarah tersebut sudah jarang atau keberadaannya sangat mencolok di
urban fabric disekitarnya. Bangunan warisan budaya tersebut temyata sangat dominan dalam arti tidak
dapat lagi ditemui di tempat lain dan atau peran kehadirannya sangat mempengaruhi keberadaan urban
fabric lain. Sedangkan untuk kawasan warisan budaya yang bersejarah, penentuan penilaian adalah
berdasarkan keutuhan dan eksistensi keseluruhan morfologi bangunan, path, batas tepian, landmark,
distrik, nodes, ketinggian bangunan.

2.3.2 Kegiatan Pelestarian Kawasan Bersejarah
Penanganan pelestarian menurut Burra Charter dapat dibedakan atas:
a. Preservasi
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 29

Adalah upaya / tindakan pelestarian suatu tempat sama dengan keadaan aslirrya tanpa ada
perubahan termasuk upaya mencegah kehancuran. Preservation Adalah kegiatan mempertahankan
bangunan sepertil kondisi saat akan diawetkan. Pengawetan merupakan kegiatan pelestarian yang paling
sederhana dan bertujuan agar tidak rusak atau berubah bentuk pada masa yang akan datang. Preservasi
juga usaha mempertahankan bentuk tanpa menambah atau mengurangi jumlah elemen urban artefak. Jika
perlu, urban artefak dapat dipertahankan kondisi fisiknya terhadap api, pencurian, perubahan udara panas
dan dingin secara mendadak, cahaya, dengan mempergunakan berbagai alat bantu seperti zat pengawet
maupun teknologi. Penggunaan alat bantu ini perlu dilakukan secara tersamar, sehingga tampilan urban
artefak tetap alamiah. Tahapan kegiatannya adalah:
- Merekam kondisi eksisiting bangunan yang akan dipreservasi secara utuh termasuk kondisi
kerusakan yang terjadi.
- Kondisi eksisting bangunan dipertahankan tanpa menambah atau mengurangi elemen yang ada.
Kondisi eksisting bangunan dipertahankan dan kerusakan akibat api, pencurian, perubahan udara
panas dan dingin secara drastis maupun cahaya dengan menggunakan pengawet maupun teknologi.
b. Restorasi
Adalah upaya tindakan mengembalikan kondisi fisik bangunan seperti semula dengan membuang
elemen tambahan serta memasang kembali elemen orisinil yarrg telah hilang tanpa menggunakan bahan
baru. Prinsip-prinsip pokok yang harus di pahami antara lain pendekatan restorasi digunakan bila tersedia
bukti konkrit tentang kondisi aslinya dan bahwa signifikasi budaya dari kawasan warisan budaya tersebut
hanya bisa dikembalikan melalui pemasangan kembali elemen orisinil tersebut.
Melalui restorasi harus dapat ditunjukkan aspek-aspek budaya yang signifikan dari kawasan warisan
budaya tersebut. Dasarnya adalah penghargaan akan semua peninggalan fisik, dokumen dan bukti-bukti
lain yang memperkuat dugaan tersebut. Tindakan restorasi adalah pemasangan kembali komponen yang
telah dipindahkan. Bila kawasan warisan budaya tersebut mewakili beberapa periode yang berbeda maka
setiap signifikasi budaya yang ada harus dihargai.
c. Rehabilitasi
Adalah upaya/tindakan untuk mengembalikan kondisi bangunan rusak atau menurun,
sehingga berfungsi seperti sediakala, dalam hal ini kesan sejarah dan kesan yang khas harus tetap
terjaga.
d. Renovasi
Upaya merubah sebagian atau seluruh interior bangunan, sehubungan dengan perlunya
adaptasi bangunan yang bersangkutan terhadap fungsi baru.

e. Rekonstruksi
Adalah upaya/ tindakan untuk mengembalikan suatu tempat semirip mungkin dengan keadaan
semula dengan menggunakan bahan baru melalui suatu penelitian. Prinsip-prinsip pokok yang harus
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 30

dipahami antara lain pendekatan rekonstruksi dapat diterapkan bila kawasan warisan budaya tersebut
menjadi tidak lengkap akibat rusak atau berubah sehingga agar kelestariannya dapat terjaga maka seluruh
signifikasi budaya yang ada harus dipulihkan. Batasan rekonstruksi hanya pada tindakan untuk
melengkapi kesatuan fabric dari kawasan warisan budaya. Selain itu batasan juga dilakukan terhadap
repkonstruksi fabric, bentuk yang dapat dideteksi secara fisik atau lewat dokumen.
f. Adaptasi
Adalah upaya / tindakan merubah bangunan / tempat agar dapat digunakan untuk fungsi baru yang
lebih sesuai (kegunaan yang tidak mengakibatkan perubahan drastis terhadap signifikasi budaya atau
harrya memerlukan sedikit dampak minimal). Prinsip-prinsi pokok yang harus dipahami antara lain
adaptasi dapat diiakukan bilamana konservasi kawasan warisan budaya tidak dapat dilakukan dan
tersebut tidak melemahkan substansi budaya yang signfikan. Tindakan adaptasi dibatasi oleh pemanfaatan
ruang yang esensial yaitu compabble uses. Keseluruhan signifikasi budaya kawasan warisan budaya yang
terpaksa harus dipindahkan selama proses adaptasi harus tetap dijaga sehingga dapat digunakan bila
sewaktu-waktu dibutuhkan.

2.3.3 Manfaat Pelestarian
Secara umum, Manfaat tindakan pelestarian antara lain:
Pelestarian memperkaya pengalaman visual, menyalurkan hasrat berkesinambungan, memberi kaitan
kesinambungan yang berarti antara masa kini dengan masa lalu, serta memberi pilihan untuk tinggal dan
bekerja berdampingan antara masa lalu dengan lingkungan modem masa kini.
Pelestarian memberi pengalaman psikologis bagi seseorang untuk dapat melihat, menyentuh dan
merasakan bukti - bukti sejarah.
Pelestarian mewariskan karya-karya arsitektur, menyediakan catatan historis tentang masa lalu dan
melambangkan keterbatasan masa hidup manusia.
Kelestarian lingkungan lama dapat dimanfaatkan sebagai suatu asset komersial dalam kegiatan wisata
intemasional.
Tujuan dari pelestarian (Catanese, 1986) antara lain:
Melindungi kawasan budaya atau bersejarah sebagai urban artefak
Menjamin variasi dalam pembangunan perkotaan sebagai tuntutan aspek estetis dan budaya masyarakat
Bangunan yang dilestarikan dapat meningkatkan nilai dan suatu investasi sehingga memiliki nilai
komersial.Ben
Bentuk fisik merupakan identitas atau sense of place dari suatu kelompok masyarakat yang pernah
menjadi bagian dari suatu kota.




LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 31











Gambar 2.4
Konservasi dinamis
(Sumber: Adhisakti)

Upaya pelestarian tidak lepas dari kegiatan perlindungan dan penataan serta tujuan perencanaan kota
yang bukan hanya secara fisik saja, tetapi juga stabilitas penduduk dan gaya hidup yang serasi yakni,
pencegahan perubahan sosial. Mengingat hal itu, dalam upaya konservasi perlu digariskan sasaran yang tepat,
antara lain (Budihardjo dan Sidharta,1989):
- Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian
- Memanfaatkan peninggalan obyek pelestarian yang ada untuk menunjang kehidupan masa kini
- Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu yang tercermin
dalam obyek pelestarian tersebut.
- Menampilkan sejarah pertumbuhan kota/ lingkungan dalam wujud fisik tiga dimensi
Pelestarian peninggalan sejarah dan purbakala (bangunan bersejarah) mempunyai manfaat antara lain
sebagai berikut (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Proyek
pelestarian/pemanfaatan peninggalan sejarah dan purbakala Jakarta, 1991 : 5) :

2.3.4 Sasaran Pelestarian
Adapun sasaran kegiatan pelestarian adalah sebagai berikut:
Mengembalikan wajah pada obyek pelestarian
Memanfaatkan peninggalan obyek pelestarian yang ada untuk menunjang kehidupan masa kini
Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu yang tercermin
dalam obyek pelestarian tersebut
Menampilkan sejarah pertumbuhan kota/lingkungan dalam wujud fisik tiga dimensi

2.3.5 Obyek dan Lingkup Pelestarian
Lingkup Pelestarian menurut Kevin Lynch dalam The Image of The City (1960: 46-90) meliputi:
- Benda-benda arkeologi
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 32

- Bangunan-bangunan kuno/bersejarah
- Lingkungan, baik lingkungan tradisional, kolonial, atau lingkungan arkeologi.
- Kota bersejarah
Objek dan lingkup pelestarian menurut Budihardjo dan Sidharta dalam Konservasi Lingkungan dan
Bangunan Kuno Bersejarah di Surakarta (1989: 11-12) digolongkan ke beberapa luasan antara lain:
- Satuan areal
Adalah satuan areal dalam kota yang dapat berwujud sub wilayah kota (bahkan keseluruhan kota itu
sendiri sebagai suatu system kehidupan). Ini dapat terjadi pada bagian tertentu kota yang dipandang
mempunyai ciri-ciri atau nilai khas kota bersangkutan atau bahkan daerah dimana kota itu berada.
- Satuan pandangan/visual/landscape
Adalah satuan yang dapat mempunyai arti dan peran yang penting bagi suatu kota. Satuan ini berupa
aspek visual, yang dapat memberi bayangan mental atau image yang khas tentang suatu sesuatu
lingkungan kota. Dalam satuan ini ada lima unsur pokok penting yaitu:
Jalur (path)
Tepian (edges)
Kawasan (district)
Pemusatan (node)
Tetenger (landmark)
Termasuk ke dalam golongan ini adalah jaringan fungsional route bersejarah atau jalur angkutan
tradisional.
- Satuan fisik
Adalah satuan yang berwujud bangunan, kelompok atau deretan bangunan-bangunan, rangkaian
bangunan yang membentuk ruang umum atau dinding jalan, apabila dikehendaki lebih jauh hal ini bisa
diperinci sampai kepada unsur-unsur bangunan, baik unsur fungsional, struktur atau entesis ornamental.
Sedangkan secara umum bentuk konservasi meliputi kota dan desa, distrik, lingkungan perumahan, garis
cakrawala wajah garis dan bangunan.
Menurut Attoe, 1986 lingkup pelestarian tidak hanya terbatas pada bangunan, melainkan mencakup:
- Lingkungan alami seperu kawasan pesisir, kehutanan, kawasan arkeologi dan sebagainya.
- Kota dan desa
- Garis langit (sky line) dan koridor pandang (view corridor).
- Kawasan yang mewakili gaya tradisi tertentu dan patut dilindungi.
- Wajah jalan (streetscape) seperti pelestarian facade bangunan dan kelengkapan jalan.
- Bangunan tua yang memenuhi kriteria untuk dilestarikan.
- Benda seperti puing sejarah, trem listrik, kereta kabel dan sebagainya yang memiliki arti penting.

2.3.6 Dasar Hukum Pelestarian
Dasar hukum pelestarian adalah sebagai berikut :
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 33

a. UU No. 23/1997 Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 ayat 15
Konservasi sumber Daya alam merupakan Pengelolaan sumberdaya alam tak terbaharui untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana dan sumberdaya alam yang terbaharui untuk menjamin
ketersediaannya dg tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya.
b. UU No. 5/1992 Benda Cagar Budaya
Undang-undang ini merupakan salah satu kebijakan Indonesia yang berisi mengenai benda cagar budaya
dan di dalamnya berisi antara lain hal-hal mengenai penguasaan, pemilikan, pendaftaran dan pengalihan,
penemuan dan pencarian, perlidungan dan pemeliharaan, pemanfaatan, pembinaan dan pengawasan,
beserta ketentuan lain dan ketentuan pidana.
c. The Burra Charter 1988 (The Australia ICOMOS/ International Council on Monuments and Sites, charter
for places of cultural significance)
Menerangkan mengenai arti konservasi dan perbedaannya dengan preservasi, beberapa terminologi
mengenai konservasi, dan cultural significance (nilai-nilai estetik, sejarah, ilmu pengetahuan, dan sosial
untuk generasi masa lalu, sekarang dan mendatang).
d. Piagam Indonesia Tahun 2003
Piagam ini mengenai kesepakatan konservasi di Indonesia, keprihatinan mengenai kondisi kegiatan
konservasi di Indonesia dan agenda tindakan untuk memperjuangkan pelestarian pusaka Indonesia.

2.3.7 Kriteria Pelestarian
Estetika: bangunan atau bagian kota yang dilestarikan karena mewakili prestasi khusus dalam suatu
gaya sejarah tertentu
Kejamakan: karya yang tipikal, mewakili jenis atau ragam tertentu
Kelangkaan: karya yang sangat langka, hanya ada satu dari jenisnya, tidak dimiliki daerah lain, atau
contoh terakhir yang masih ada
Kesejarahan: lokasi bagi peristiwa-peristiwa bersejarah yang penting untuk dilestarikan sebagai kaitan
simbolis antara peristiwa dahulu dan sekarang
Kualitas pengaruh: keberadaannya akan meningkatkan citra lingkungan sekitar dan juga investasi
Superlativitas: bangunan/lingkungan kota yang dilindungi karena memiliki keistimewaan, misal: tertua,
tertinggi, terpanjang, dll
Nilai sosial: untuk bangunan yang bermakna bagi masyarakat banyak
Nilai komersial: peluangnya untuk dimanfaat- kan bagi kegiatan ekonomis
Nilai ilmiah: perannya untuk pendidikan dan pengembangan ilmu


2.3.8 Jenis-jenis Pelestarian
Jenis pelestarian menurut Piagam Burra, meliputi :
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 34

a. Pengawetan (preservation)
Adalah kegiatan mempertahankan bangunan sepertil kondisi saat akan diawetkan. Pengawetan
merupakan kegiatan pelestarian yang paling sederhana dan bertujuan agar tidak rusak atau berubah
bentuk pada masa yang akan datang.
Usaha mempertahankan bentuk tanpa menambah atau mengurangi jumlah elemen urban artefak.
Jika perlu, urban artefak dapat dipertahankan kondisi fisiknya terhadap api, pencurian, perubahan udara
panas dan dingin secara mendadak, cahaya, dengan mempergunakan berbagai alat bantu seperti zat
pengawet maupun teknologi. Penggunaan alat bantu ini perlu dilakukan secara tersamar, sehingga
tampilan urban artefak tetap alamiah.
Preservasi merupakan tindak pelestarian suatu tempat sama dengan keadaan aslinya tanpa ada
perubahan termasuk upaya mencegah kehancuran. Tahapan kegiatannya adalah:
- Merekam kondisi eksisiting bangunan yang akan dipreservasi secara utuh termasuk kondisi
kerusakan yang terjadi.
- Kondisi eksisting bangunan dipertahankan tanpa menambah atau mengurangi elemen yang ada.
- Kondisi eksisting bangunan dipertahankan dan kerusakan akibat api, pencurian, perubahan udara
panas dan dingin secara drastis maupun cahaya dengan menggunakan pengawet maupun teknologi.
b. Pemugaran (restoration)
Pemugaran merupakan pengembalian urban artefak ke kondisi bentuk awal dari perkembangan
morfologinya.
Penetapan bentuk awal didasarkan atas perfimbangan sebagai hasil analisis sejarah dan estetika
secara utuh dan menyeluruh. Perubahan dalam kegiatan ini lebih radikal daripada bentuk pengawetan.
Pengertian lain tentang restorasi adalah upaya mengembalikan kondisi fisik bangunan seperti
semula dengan membuang elemen tambahan serta memasang kembali elemen orisinil yang telah hilang
tanpa menggunakan bahan baru. Tahapan kegiatannya :
- Menelusur data mengenai kondisi original bangunan atau kawasan baik dari segi bentuk maupun
fungsi.
- Membuang elemen-elemen tambahan yang ada pada bangunan jika bangunan telah mengalami
penambahan dari bentuk aslinya.
- Memasang kembali elemen orisinal yang hilang agar sama dengan kondisi semula.
- Melakukan penelitian mengenai bahan bangunan dan struktur yang dipakai pada bangunan aslinya.
- Pemasangan kembali elemen orisinal menggunakan bahan bangunan yang asli/original.
c. Penguatan (consolidation)
Penguatan adalah mempertahankan bentuk dan bangunan urban artefak dengan menggunakan alat
bantu kebendaan. Misalnya penguatan dinding dengan zat aditif.
Tahapan kegiatannya :
- Meneliti kekuatan sisa dan bentuk bangunan yang akan dikonsolidasi
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 35

- Membuat perkuatan pada elemen bangunan yang dianggap perlu dengan menggunakan teknologi
maupun treatment tertentu

d. Pembangunan ulang atau penataan ulang (reconstruction)
Pembangunan ulang adalah pembangunan untuk menyelamatkan bangunan yang runtuh.
Rekonstruksi dapat dilakukan melalui menyusun kembali elemen - elemen bangunan satu per satu pada
areal lama atau areal baru.
Upaya rekonstruksi dapat dilakukan pula dengan membangun kembali bangunan yang sudah hilang.
Merekonstruksi bangunan yang sudah hilang seringkali didasarkan pada hipotesis yang hasilnya
kadangkala subjektif.
Rekonstruksi dapat diartikan pula sebagai upaya mengembalikan suatu tempat semirip mungkin
dengan keadaan semula, dengan menggunakan bahan baru melalui penelitian. Tahapan kegiatannya :
- Menelusur data mengenai kondisi original bangunan atau kawasan baik dari segi bentuk maupun
fungsi, melalui gambar (IMB), foto, narasumber atau hipotesa pakar. Penelusuran bentuk diupayakan
se-detail mungkin agar dapat digunakan untuk memperoteh bentuk yang menyerupai aslinya.
- Hipotesa pakar dilakukan apabila bangunan yang hendak dilestarikan sudah hilang.
- Melakukan penelitian mengenai bahan bangunan yang dipakai pada bangunan yang akan di
rekonstruksi untuk memperoleh bahan bangunan baru yang sepadan sehingga dapat digunakan
untuk membuat tiruan yang mirip/menyerupai aslinya.
e. Pemakaian baru (adaptive re-use/Revitalisasi)
Kegiatan memanfaatkan bangunan lama untuk fungsi baru didasakan atas pertimbangan ekonomi,
dalam upaya menyelamatkan bangunan atau lingkungan lama. Fungsi baru pada umumnya dipilih
berdasarkan pertimbangan secara ekonomis menguntungkan walaupun fungsi baru tersebut berbeda jauh
dengan fungsi lama.
Pengertian adaptasi ini hampir sama dengan revitalisasi, dimana revitalisasi lebih menekankan pada
upaya menghidupkan kembali suasana / aktivitas kawasan yang pernah ada dengan penyesuaian terhadap
masa kini. Tahapan kegiatannya :
- Mempelajari peluang ekonomi pada kawasan dimana bangunan hendak diadaptasi untuk melihat
kemungkinan masuknya fungsi baru pada bangunan atau kawasan tersebut.
- Memilih fungsi/kegunaan pada bangunan yang mempunyai dampak negatif yang minimal serta
keuntungan yang maksimal, memungkinkan masuknya fungsi baru yang berbeda jauh dengan fungsi
semula
- Fungsi baru tersebut harus mampu menyelamatkan bangunan dan lingkungannya.
f. Pembuatan kembaran (replication)
Dalam bidang seni berarti penciptaan yang meniru secara utuh warisan budaya yang masih ada.
Dalam bidang arsitektur, replikasi merupakan konstruksi baru yang merupakan tiruan urban artifak yang
utuh seperti aslinya. Tahapan kegiatannya adalah:
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 36

- Menelusuri data mengenai kondisi original bangunan atau kawasan baik dari segi bentuk maupun
fungsi.
- Membuang elemen-elemen tambahan yang ada pada bangunan jika bangunan telah mengalami
penambahan dari bentuk aslinya.
- Memasang kembali elemen orisinal yang hilang agar sama dengan kondisi semula.
- Melakukan penelitian mengenai bahan bangunan dan struktur yang dipakai pada bangunan aslinya.
- Pemasangan kembali elemen orisinal menggunakan bahan bangunan yang asli/original.
g. Demolisi
Penghancuran atau perombakan suatu tempat dan atau bangunan karena dianggap membahayakan
atau akibat tingkat perubahan yang sudah tidak sesuai lagi. Demolisi merupakan bagian dari upaya
pelestarian, karena bagian atau bangunan yang dihilangkan dimaksudkan untuk meningkatkan atau
mempertahankan bagian bangunan atau kawasan lainnya. Tahapan kegiatannya :
- Mempelajari bangunan dari segi struktur maupun arsitektural (estetis).
- Apabila bangunan ternyata secara struktur membahayakan, maka harus dirombak atau bahkan
dihancurkan.
- Apabila bangunan tersebut telah mengalami penambahan (infill) yang tidak sesuai/kontekstual lagi
dengan lingkungan sehingga telah melenceng atau mengaburkan filosofinya.

2.3.9 Pelestarian dan Pengembangan Kawasan Bersejarah
Pelestarian merupakan sesuatu yang dapat diterima secara mutlak/pasti dan tidak dapat diganggu
gugat dengan pertimbangan :
Dari sisi masyarakat penggunanya
Antara benda cagar budaya, situs, dan/atau kawasan dengan masyarakat (tradisional) telah terjalin
ikatan yang sangat erat, memiliki kosmologi dan nilai-nilai emosional
Dari sisi benda cagar budaya sebagai karya arsitektural
- Urban artifact yang ada selalu dibangun dengan maksud tertentu, maka upaya pemanfaatan
merupakan kemutlakan
- Pemanfaatan adalah suatu upaya untuk memberdayakan urban artefact sebagai aset budaya
untuk berbagai kepentingan yang tidak bertentangan dengan pelestariannya
Faktor yang berpengaruh dalam upaya pemanfaatan:
- Penuaan alami
- Tradisi pemeliharaan yang ada pada masyarakatnya
- Desakan pertumbuhan
- Pergeseran nilai-nilai yang berpengaruh pada penafsiran dan pemaknaan
- Surplus sumberdaya yang tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat setempat
- Pengaruh eksternal, berkaitan dengan kemajuan teknologi transportasi, infokom
- Pendudukan atau penjajahan
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 37

- Continuity, discontinuity berdampak pada pemerosotan/pematian
Panduan/guidelines pengelolaan harus mencakup :
- Kemutlakan penelitian, selalu memperhatikan kalau ada penemuan-penemuan baru
- Kondisi akibat penuaan alami dan pemeliharaan dengan penyisipan teknologi untuk mengatasi ketuaan
- Kontinyuitas pemanfaatan dengan sasaran pada bangunan dan cara penggunaan untuk aktivitas di
dalamnya
- Pemanfaatan teknologi baru yang sifatnya mendasar, misal struktur pendukung bangunan untuk
perpanjangan usia benda cagar budaya
- Pengalihan penggunaan dengan memperhatikan nilai-nilai pelestarian

2.4. Elemen-elemen Perancangan Kota
2.4.1. Peruntukan Lahan
Menurut Danisworo (1994), alokasi lahan (atau realokasi lahan untuk kasus peremajaan) harus
didasarkan kepada kebutuhan dari organisasi sosial masyarakat pemakainya sejalan dengan skenario
pembangunan yong telah digariskan bagi kawasan yang dimaksud. Gejala pembangunan semakin mengarah
kepada peruntukan yang bersifat campuran (mixed-used). Peruntukan lahan tidak lagi hanya bersifat horizontal,
tetapi juga sudah menjurus ke arah vertikal.
Sedangkan menurut, Shirvani, rencana tata guna lahan bersama-sama dengan kebijakan tata guna lahan
menentukan hubungan antara rencana dan kebijakan yang menjadi dasar untuk menetapkan fungsi yang sesuai
untuk area spesifik tertentu.
Zoning dari suatu kota menurut Leon Krier, menghasilkan distribusi acak dari bangunan privat maupun
publik, maka ruang kota terbagi dalam 3 kategori yang harus dicermati, yaitu: Blok kota sebagai hasil daripada
sebuah pola dari jalan dan square. Pola jalan dan square ebagai hasil daripada penempatan blok. Jalan dan
square adalah tipe formal yang terencana
Penyusunan tata guna tanah dan tata guna ruang dilakukan antara lain berdasarkan hasil analisa jenis
penggunaan ruang, relasi fungsional, KDB, KLB, skala pengembangan serta jenis insentif untuk pengembangan
tertentu. Konsep paling penting yang harus digunakan adalah konsep externalities (secondary, repercussion
effects, spillovers) yang harus bulit-in dalam proses analisis keputusan tata guna tanah termasuk development
impact fee untuk menginternalisasi biaya pembangunan. Perbedaan penggunaan atau aktifitas di analisis untuk
memutuskan mana yang bisa atau tidak bisa dilokasikan dalam suatu pendekatan spasial.
Pada kawasan built-herritage yang memenuhi kriteria konservasi, rencana pemanfaatan ruang ini harus
memprioritaskan fungsi-fungsi yang compatible dengan citra kawasan. Compatible adalah kegunaan yang tidak
mengakibatkan perubahan drastis terhadap signifikasi budaya atau hanya memeriukan sedikit dampak minimal.
Pemanfaatan bangunan dan lingkungan harus mempertimbangkan faktor kelayakan baik dari segi
ekonomi, sosial, dan budaya. Rekomendasi yang disusun harus berbasis pada konsep serta visi dan misi
pengembangan kawasan, meliputi pengembangan fungsi dan upaya-upaya pelestarian. Arahan konservasi
bukan sekedar kepada proteksi namun lebih kepada preservasi dan pembangunan yang terintegrasi serta
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 38

didasarkan kepada masalah konseptual dan fungsional yang sesuai dengan latar belakang masa lalu dan
tuntutan masa kini dan masa datang.
A. Pemanfaatan Ruang
Segmentasi pemanfaatan ruang dibagi ke dalam 3 rnacam fungsi pokok, yaitu :
Fungsi hunian seperti meliputi hotel/ penginapan, permukiman dan fasilitas penunjangnya.
Fungsi bisnis seperti meliputi perkantoran swasta, perkantoran pemerintahan dan perbelanjaan baik
berupa retail maupun grosir serta fasilitas penunjangnya.
Fungsi budaya dan rekreatif seperti meliputi museum, teater, bioskop, eksibisi, ruang terbuka, rekreasi
kolam, rekreasi sungai dan fasilitas penunjangnya.
B. Peruntukan Ruang
Ditentukan berdasarkan prosentase pemanfaatan ruang pada masing-masing segmentasi kawasan.
Kesesuaian terhadap standar yang berlaku, daya dukung bangunan dan atau ruang konservasi, daya
dukung infrastruktur yang ada, kebutuhan fasilitas pada saat itu, kondisi alam, posisi kawasan terhadap
lingkungan sekitar/ kota dan lain sebagainya. Konservasi fungsi-fungsi lama yang bernilai sejarah, masih
sesuai dengan perkembangan jaman dan atau sesuai dengan tema kawasan (lama).
Fungsi yang direkomendasikan antara lain:
Konsentrasi kegiatan budaya dan pendidikan seperti museum, perpustakaan, kantor arsip dan lain
sebagainya.
Fasilitas perbelanjaan seperti pertokoan, supermarket, pasar tradisional, grosir, retail, dan lain
sebagainya.
Konsentrasi kegiatan seni dan budaya seperti galeri seni, pasar seni, pentas/ festival budaya, dan lain
sebagainya.
Perkantoran dengan kegiatan bisnis atau mobilitas tinggi seperti perbankan, bursa saham; maupun
kantor-kantor pemerintahan, dan lain sebagainya.
Fasilitas penunjang wisata seperti hotel, money changer, biro perjalanan wisata, tourist information,
toko cindera mata, dan lain sebagainya.
Fasilitas hiburan seperti bioskop, gedung teater, rekreasi kota, dan lain sebagainya.
Fasilitas makan dan minum seperti coffee shop, restoran khas, dan lain sebagainya.
Fasilitas umum seperti kantor pos, rumah sakit, dan lain sebagainya.
Fungsi penunjang dimaksudkan sebagai pendukung utama fungsi kawasan oleh karena itu
prosentasenya tidak boleh mengaburkan fungsi utama kawasan. Besarnya prosentase pemanfaatan
ruang disesuaikan dengan kepadatan bangunan, interaksi sosial dan mengacu rencana tata ruang kota
sepanjang rencana tata ruang kota tersebut sesuai dengan vitalitas dan fungsi kawasan (lama) tersebut.

2.4.2. Intensitas Pembangunan
Nilai intensitas pembangunan yang akan diberikan untuk setiap jenis peruntukan lahan harus didasarkan
kepada kemampuan daya dukung dari lahan kawasan. Kemampuan daya dukung ini dipengaruhi oleh beberapa
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 39

faktor, seperti: tingkat aksesibilitas kawasan (transportasi/sirkulasi), potensi lokasi kawasan, dilihat dari tatanan
kota yang lebih Iuas, daya dukung lahan, sumber daya alam yang dimiliki kawasan, intervensi teknologi yang
sampai batas-batas tertentu dapat meningkatkan kemampuan lahan.
Nilai intensitas pembangunan yang diberikan mencerminkan daya tampung kawasan tersebut, yang
dinyatakan dengan Iuas total lantai bangunan efektif yang boleh dibangun di kawasan tersebut. Distribusi
intensitas ke dalam kawasan disesuaikan dengan sifat serta jenis peruntukan mikro lahan. Intensitas
pembangunan yang dinyatakan dengan Koefisien lantai Bangunan (KLB), akan menentukan skala
pernbangunan kawasan.
Shirvani (1985) mengemukakan bahwa building form, massing and intensity mengkonsentrasikan diri
kepada pengukuran bentukan urban secara tiga dimensional. Terdapat dua tipe pengukuran, yaitu:
konvensional, yang meliputi Floor area ratio (FAR/KLB), sky-exposure plan (bentuk selubung), dan
density (kepadatan).
inovatif, merupakan metode pengembangan inovatif yang dibuat untuk mengefektifkan pengukuran-
pengukuran di atas bagi perancangan kota, misalnya:
- Sistem land-use-intensity (LUI) adalah skala numerik yang dirancang untuk mengukur intensitas
guna lahan pada pengembangan daerah hunian. Sistem ini dimaksudkan untuk mencari hubungan
antara bangunan dengan lahan, dimana sistem ini menginterpretasikan hubungan antara Iuas lantai
dengan Iuas lahan. Dari ratio ini akan ditemukan jumlah ruang yang harus dialokasikan untuk jalan,
parkir dan ruang terbuka, tidak hanya dalam bentuk angka prosentase, namun juga kriteria
berdasarkan tapak yang ada untuk menentukan jenis ruang terbuka yang harus disediakan
- Integrasi antara Floor-area yang diizinkan (KLB), setbacks, ketinggian, bentuk massa/selubung dan
pengendalian site-coverage (KDB), dengan peruntukan lahan dan elemen perancangan kota
lainnya, seperti jalur pejalan kaki, preservasi vista dan koordinasi dengan sistem sarana
transportasi.

2.4.3. Sistem Tautan (Linkage)
Sistem linkage merupakan faktor yang menghubungkan berbagai jenis peruntukan lahan, baik secara
makro aiau mikro. Sistem penghubung ini sangat vital untuk membuat fungsi kawasan bekerja secara efisien.
Sistem penghubung merupakan jalur-jalur sirkulasi, baik kendaraan bermotor maupun pejalan kaki. Pada faktor
penghubung inilah semua aktivitas masyarakat berlangsung.
Skeleton of urbanism menampilkan konsepsi perencanaan yang disamping mengikuti rencana tala
ruang akan tetapi juga berkemungkinan faktor kerangka pada perencanaan tata ruang atau membentuk
struktur tata hijau kota yang faktor menjadi landasan bagi perencanaan tata ruang. Pada dasarnya berusaha
menstrukturalisasikan ruang kota melalui desain dengan formasi lansekap terutama pohon pohon. Morfologi
struktur terkonfigurasi dan terbentuk akan berperan sebagal basic structuring function yang akan mengendalikan
perkembangan dan pertumbuhan kota. Skeleton of urbanism juga berfungsi sebagai penguat struktur kawasan,
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 40

Menjadi elemen penguat faktor ruang terbuka. Mengkoneksi elemen, elemen urban design dan menyangga
ruang kota. Menetapkan ruang ruang yang terbentuk menjadi tidak mudah berubah.
Shirvani, menyebutkan elemen-elemen dari komponen faktor linkage ini, yaitu:
1. Manajemen Sistim Trafik
Traffic System Management harus dapat memberikan kemudahan bagi pejalan maupun kendaraan yang
melintasinya. Perencanaan transportasi memiliki sasaran utama:
memperbaiki mobilitas di central business district.
mengurangi pemakaian kendaraan pribadi.
mendorong peningkatan penggunaan sarana transportasi umum.
memperbaiki akses ke central business districts.
Jalur trafik harus mampu mengatasi tingginya intensitas trafik yang mungkin timbul akibat pembangunan
kawasan. Apabila disain awal jalan pada kawasan historis tersebut tidak direncanakan untuk menampung
intensitas trafik yang tinggi dan atau kendaraan bermotor yang berat maka:
- Jenis kendaraan bermotor yang diijinkan harus dibatasi.
- Jenis kendaraan bermotor yang tidak diijinkan diidentifikasi dengan jelas.
- Atau dapat juga diberlakukan zona khusus pejalan kaki
- Dispensasi dapat diberikan untuk bis pariwisata berukuran sedang dan atau truk yang akan melakukan
kegiatan bongkar muat barang pada malam hari sepanjang sarana transportasi tersebut dibutuhkan
untuk menunjang aktivitas kawasan.
- Rekomendasi aksesibilitas lingkungan meliputi penyelesaian sirkulasi pada simpul interaksi dengan
lingkungan sekitarnya, dan rencana prasarana sarana pendukung seperti jembatan penghubung, ruang
terbuka, penghijauan, jalan tembus, dan lain-lain.
- Rekomendasi aksesibilitas dimaksudkan untuk mengakomodasi kepentingan umum serta
mengoptimalkan kapasitas ruang sebagai antisipasi terhadap kemacetan talu lintas dan dampak
lingkungan lainnya.
- Diupayakan adanya sarana transportasi pada lokasi strategis dengan jurnlah yang mencukupi sehingga
dapat mengurangi tingginya intensitas sekaligus memberikan kenyamanan dan kemudahan akses bagi
pejalan kaki.
- Moda transportasi tradisional yang khas harus disediakan.
- Moda transportasi lain sesuai perkembangan teknologi namun dengan persyaratan kontekstualitas
serta tidak mengganggu signifikasi khas kawasan.
2. Sirkulasi Kawasan
Jalur aksesibilitas memanfaatkan potensi alam terbesar kawasan, termasuk jalan setapak, sungai, danau
dan lain sebagainya. Sistem sirkulasi internal maupun eksternal harus saling mendukung, efisien dan
jelas sehingga perlu dilengkapi dengan perabot jalan dan penandaan sebagai pendukung. Sistem
sirkulasi harus memberikan kemudahan dan kenyamanan pencapaian baik bagi pengguna jalan, pejalan
maupun bagi sirkulasi kendaraan layanan kota dalam keadaan darurat seperti pemadam kebakaran, dan
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 41

lain sebagainya.
Oleh karena itu akses terhadap daerah milik pribadi dan area merupakan dua hal utama yang harus
tercakup dalam agenda urban design. Penyediaan area parkit yang memadai dengan dampak visual
terkecil sangat penting dalam keberhasilan urban design. Beberapa cara mengatasi masalah perparkiran
adalah penyediaan lokasi parkir di suatu area yang secara struktur tidak didesain, multiple use program,
package-plan parking, urban-edge parking.
3. Parkir Kawasan
Elemen parkir memiliki dua dampak langsung terhadap kualitas lingkungan, yaitu:
kelangsungan hidup aktivitas komersial.
dampak visual yang kuat terhadap bentuk fisik kota.
Penataan parkir harus berorientasi pada kepentingan pejalari, memiliki aksesibilitas yang mudah
dari arah ruang parkir serta tidak mengganggu sirkulasi kendaraan.
Setiap gedung yang berkegiatan baik itu berupa komersial, perkantoran dan lain sebagainya yang
mengakibatkan traffic generator, wajib menyediakan fasilitas parkir yang jumlahnya ditentukan
berdasarkan fungsi dan luas bangunan serta standar yang berlaku/ ditentukan kemudian.
Jenis parkir yang dapat disediakan meliputi ruang parkir terbuka, parkir bawah tanah atau multi level
parking di dalam bangunan.
Ruang parkir terbuka hanya diijinkan pada beberapa lokasi yang telah ditentukan, baik yang
menggunakan badan jalan maupun lahan kosong yang diperuntukkan khusus bagi taman parkir
Ruang parkir terbuka dapat diterapkan hanya pada kawasan (lama) yang masih banyak memiliki
lahan kosong, terutama pada kawasan rural.
Ruang parkir terbuka harus dilengkapi dengan vegetasi.

Tabel II.4
Tabel Elemen Parkir Kawasan

NO ELEMEN UTAMA RINCIAN
1. Circulation and parking Pendistribusian lalu-lintas di kawasan perencanaan
Sistem sirkulasi meminimalkan titik-titik konflik di kawasan
Perencanaan dan sekitarnya
Arus pergerakan diatur dan diperjelas fungsi kawasan sebagai hisioric
district, cultural district, tourism district dan commercial district.
Pernerataan pencapaian tujuan ke seluruh penjuru kawasan.
Perletakan fragmen-fragmen yang merangsang terpolanya jaringan
transportasi yang efektif. Penyediaan sarana angkutan umum yang
memadai.
Keterkaitan dengan jalur transportasi kota secara keseluruhan
diterapkan ketentuan jalur satu arah dan dua arah pada beberap
tempat.

4. Shelter Transportasi Umum
Penempatan shelter harus terpadu dengan sirkulasi jalan dan pejalan kaki, jembatan penyeberangan,
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 42

dan penghijauan.
Shelter harus ditempatkan pada simpul-simpul kegiatan lingkungan, strategis, mudah dicapai dan tidak
mengganggu kelancaran lalu lintas.
Shelter harus didisain kontekstual, aman dan nyaman bagi penggunanya, dilengkapi dengan rute
ransportasi 42actor dan bila perlu dengan jam-jam pelayanan.
5. Jalan ( Street )
Jalan adalah ruang pergerakan linier baik bagi kendaraan maupun manusia. Berdasarkan
penggunaannya, dibedakan atas:
Jalur terbuka untuk kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor.
Jalur terbuka untuk kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor dimana sebagian badan
jalan dimungkinkan untuk parkir linier.
Jalur khusus pejalan dan kendaraan tidak bermotor dimungkinkan untuk dilalui kendaraan bermotor
dan kegiatan bongkar muat yang waktunya akan ditentukan kemudian.
Jalan tembus khusus pejalan yang melewati lahan kepemilikan pribadi boleh dilengkapi dengan
pagar pengaman dengan disain yang kontekstual. Khusus point ini, sebagai kompensasinya pemilik
masih tetap diijinkan untuk mengkombinasikan jalan tembus tersebut dengan fungsi-fungsi
komersial di bawah pengelolaannya
Fasilitas penunjang kawasan adalah lansekap, perabot jalan dan penandaan, termasuk tiang-tiang
pengaman bagi pejalan.
Jalan harus dibebaskan dari segala macam instalasi infrastruktur yang dapat disembunyikan di
bawah tanah karena keterbatasan lahan dan nilai estetis lingkungan.
6. Pedestrian Ways (Area Pejalan)
Jalur/area pejalan adalah elemen penting dalam urban design, karena berperan sebagai
kenyamanan dan pendukung vitalitas ruang-ruang kota. Sistem pedestrianisasi yang baik dapat
mereduksi ketergantungan terhadap kendaraan di daerah pusat kota, meningkatkan daya tarik ke pusat
kota, mendukung peningkatan kualitas lingkungan dengan skala manusiawi, mendorong kegiatan
komersial dan membantu memperbaiki kualitas udara. Elemen pedestrian harus membantu:
interaksi antara elemen urban design.
berhubungan erat dengan lingkungan binaan dan pola aktivitas.
sesuai dengan peruntukan fisik masa mendatang dari kota.
Kunci perencanaan jalur pedestrian adalah keseimbangan antara jalur pejalan dan jalur kendaraan,
yaitu keseimbangan penggunaan elemen pedestrian untuk mendukung ruang yang hidup dan menarik,
serta memungkinkan kegiatan pencapaian, pelayanan jasa dan kebutuhan pribadi berlangsung dengan
optimal. Keseimbangan ini menyangkut interaksi antara pejalan dan kendaraan, di mana keselamatan
memegang peran utama.
Perancangan dan pemrograman jalur pedestrian meliputi:
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 43

Ruang pejalan kaki harus tersedia serta aman, nyaman dan menerus. Termasuk di dalamnya
adalah pertimbangan khusus bagi orang cacat, ibu hamil, anak kecil dan prioritas pejalan lainnya.
Ruang pejalan kaki tidak boleh terganggu oleh lalu lintas kendaraan. Kenyamanan berjalan
sepanjang jalur pedestrian yang menarik orang untuk mau melaluinya.
Harus dilengkapi dengan lansekap, penandaan, perabot jalan dan tiang-tiang pengaman bagi
pejalan. Elemen pedestrian, seperti pagar, tanaman, penerangan dan sebagainya.
Pada tiap persimpangan jalan harus dilengkapi dengan zebra cross dan atau jembatan
penyeberangan.
Dalam perkembangannya, dimungkinkan adanya promenade beratap sehingga koridor jalan dapat
juga difungsikan sebagai mal sekaligus memberikan perlindungan bagi pejalan terhadap pancaran
sinar matahari dan hujan.
Aktivitas pendukung, seperti hiburan, penjualan makanan, ruang-ruang pertemuan, yang
kesemuanya akan menghidupkannya.
Penyeberangan bagi pejalan berupa zebra cross atau pun jembatan penyeberangan harus
disediakan pada area dengan intensitas trafik tinggi, terutama berdekatan dengan lampu trafik yang
dilengkapi dengan lampu pengaturan pejalan. Dimensi, ketinggian, jumlah, perletakan dan
penyeberangan diarahkan agar tetap memenuhi persyaratan kenyamanan, keamanan serta memberikan
kontribusi bagi peningkatan kualitas lingkungan.
Menyeimbangkan ruang jalan merupakan masalah perancangan sekaligus masalah manajemen,
karena hal tersebut dapat dicapai deagan membuat perubahan fisik dalam suatu jalan, atau dengan
mengubah regulasi yang mengendalikan fungsi jalan.

2.4.4. Activity Support (Kegiatan Pendukung)
Meliputi segala penggunaan dan aktivitas yang membantu memperkuat ruang-ruang publik kota, karena
pada hakekatnya ruang fisik dan aktivitas saling melengkapi satu sama lainnya. Bentuk, lokasi dan karakter area
spesifik akan menarik fungsi; penggunaan dan aktivitas yang spesifik pula, sehingga suatu aktivitas cenderung
berlokasi di tempat yang paling sesuai dengannya. Interdependensi antara ruang dan penggunaannya
merupakan hal kritis dalam urban design.
Aktivitas pendukung tidak hanya meliputi penyediaan jalur pedestrian atau plaza, tapi juga pertimbangan
elemen fungsional utama kota yang mampu membangkitkan aktivitas, seperti department store, taman rekreasi,
civic centre, perpustakaan umum dan sebagainya. Sebuah mal kemungkinan tidak berhasil jika tidak
menghubungkan dua buah pusat kegiatan. Tujuan perancangannya seharusnya berupa alokasi kegiatan utama
pada tempat paling fungsional yang paling disukai masyarakat, yang dikombinasikan dengan fungsi-fungsi
pelengkap dengon rnelalui jalur pedestrian yang aman, unik, menarik serta khusus didesain sesuai dengan
kebutuhan dan fungsi pejalan.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 44

Segi terpenting dari perencanaan aktivitas pendukung adalah integrasi dan koordinasi pola kegiatan.
Cara bagaimana aktivitas pendukung dibangun, dikoordinasikan dan diintegrasikan dengan lapisan kondisi fisik
urban yang telah ada merupakan titik kritisnya. Isu kritis lainnya adalah masalah:
Persimpangan lalu lintas kendaraan, parkir, yang mengganggu kegiatan komersial (retailer) di sepanjang
jalan
Sempitnya jalur pejalan, kerumunan di sekitar perhentian bis, persimpangan dengan pejalan yang
berbahaya
Ketidakteraturan selubung pertokoan di sepanjang jalan.
Salah satu alternatif penyelesaiannya adalah dengan membuat daerah bebas kendaraan, dimana area
parkir berada di blok terpisah yang berdekatan untuk mereduksi konflik lalu lintas parkir, sekaligus memperluas
fasilitas parkir. Perencanaan akitivitas pendukung perlu juga mempertimbangkan integrasi antara kegiatan di
dalam ruangan (indoor activities) dan kegiatan di luar ruangan (out door activities).

2.4.5. Ruang Terbuka Dan Tata Hijau
Ruang publik adalah ruang eksterior kota yang mencakup dua aspek ruang publik sebagai konstruksi
formal dan ruang publik sebagai institusi publik yang terbangun dari konstruksi ekonomi dan politik. Pada
hakekatnya adalah teknik perencanaan lansekap yang berdasarkan tipologi yang disangga oleh komunitas
kebudayaan yang, berupa simbol, makna, tanda dan lain-lain. Setiap elemen formasi ruang, pohon-pohon
mempresentasikan simbol dan memberi makna tertentu, sebagi hasil dari suatu perkembangan sejarah budaya
yang sering bersifat lokal genius.
Pada open space atau ruang terbuka peran keberadaannya ditentukan oleh bangunan-bangunan yang
melingkupinya, sehingga terbentuk Urban Space (ruang kota). Kualitas bangunan yang melingkupinya
berpengaruh terhadap kualitas space tersebut. Peran sosial dalam urban space dapat dipengaruhi oleh elemen-
elemen fisik arsitektur yang bias dikategorikan dari dua sudut pandang yaitu:
Public & Private Domain
Makna dan tujuan akhir urban design adalah menciptakan Dunia Public atau Public Domain yang berkualitas
buat kemanusiaan. Dalam konteks urban design, public domain menjadi ruang publik atau ruang milik rakyat.
Dunia publik mencakup dua aspek:
Ruang publik sebagai konstruksi formal dan fisik
Ruang publik sebagai institusi publik yang terbangun dari konstruksi ekonomi dan politik.
Menurut Hannah Arendt, Public Par Excellence adalah dunia politikal, oleh karena itu dunia publik adalah dunia
yang digunakan bersama (Common Shared) oleh warga masyarakat untuk bertemu dan menggunakan ruang
kota pada teritorial tertentu, dalam sebuah suasana kebebasan (freedom) dan kesamaan derajat (equality) Di
dalam publik, berlangsung berbagai mode asosiasi dan forum opini publik. Ruang publik pada dasarnya adalah
ruang bagi representasi kepentingan masyarakat.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 45

Private Domain adalah open space yang terdapat pada lahan milik perorangan ataupun open space yang
merupakan bagian dari suatu bangunan. Secara umum elemen void / ruang terbuka ini dibedakan menjadi dua,
yaitu:
lnternal Void, Adalah ruang terbuka dalam lingkup suatu bangunan. Kualitas internal void ini dapat
dipengaruhi oleh konfigurasi bangunan serta keunikan dari fasade-fasade interior bangunan yang
melingkupinya. Internal void ini merupakan private domain.
External Void, Adalah ruang terbuka di luar lingkup suatu bangunan. Kualitas ruang yang ditimbulkan
dipengarubi oleh fasade dari bangunan yang melingkunginya. Melalui figure ground dapat diketahui
antara lain:
- Pola tipologi kawasan
- Konfigurasi solid dan void yang merupakan sifat elemental kawasan/ pattern kawasan.
Ruang terbuka kota mencakup dua aspek, yaitu:
aspek fungsional, yaitu sebagai wadah bagi sistem penghubung di mana segala bentuk aktivitas
masyarakat berlangsung.
aspek ekologis, yaitu untuk menjaga agar keseimbangan ekosistem lingkungan binaan tidak terganggu.
Bentuk dan sifat ruang terbuka yang bersifat fungsional ditentukan oleh sifat dari aktivitas manusia yang
berlangsung di dalamnya, oleh karenanya harus dibentuk berdasarkan konsep sosiologis yang disusun secara
matang. Sedangkan Shirvani menyatakan bahwa open space (ruang terbuka) meliputi lansekap, hardscape
(jalan, trotoar, dan sebagainya), taman, dantempat rekreasi dalam kota.
Elemen ruang terbuka adalah taman dan plaza (square), ruang terbuka hijau kota, termasuk pepohonan,
semak-semak, tumbuh-tumbuhan, badan air, penerangan, perkerasan, kios, pembuangan sampah, air mancur
minum, patung jam dan sebagainya yang terdapat di dalamnya. Area pejalan, rambu dan tanda termasuk
elemen ruang terbuka.
Ruang terbuka merupakan elemen penting urban design, dan merupakan titik kritis dalam pertimbangan
perencananya. Perencanaan ruang terbuka yang berhasil adalah ruang terbuka yang mendukung kegiatan yang
bervariasi, seperti area pejalan, rute sepeda, area historis, tepi pantai dan keterkaitan struktur ruang terbuka
yang mengkoordinasikan area kultural, komersial dan pemerintahan. Ruang publik menjadi penting karena
memiliki ciri sebagai dunia publik.
Struktur dan sequen ruang terbuka adalah unik dan berbeda antara setiap tempat. Oleh karenanya,
perencanaannya harus meliputi:
kemampuan ruang terbuka tersebut untuk menampung pertumbuhan kegiatan rencana jangka panjang
sebagai fasilitas publik
konservasi untuk lansekap yang khusus
studi sirkulasi di ruang terbuka sebagai urat nadi komersial
Perencanaan ruang terbuka yang tepat bukan sekedar jumlahnya yang sesuai dengan kebutuhan, tetapi
bagaimana ruang terbuka itu ditata dalam hubungannya dengan perkembangan yang mungkin terjadi.
Kegiatan yang dapat diwadahi di ruang terbuka yang signifikan adalah festival market place, pasar atau
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 46

bazaar terbuka, kegiatan publik, budaya, rekreatif, religius dan kegiatan lain yang dapat menunjang citra
kawasan sebagai kawasan (lama); kontekstual serta menyesuaikan dengan dimensi dan tipologi ruang terbuka
yang ada. Nodes yang ada, terutama pada kawasan inti seyogyanya dipreservasi apabila masih feasible serta
sesuai dengan tuntutan jaman. Apabila nodes tersebut sudah tidak sesuai dengan tema atau fungsi kawasan
maka dapat dilakukan pendekatan adaptasi. Nodes adalah pusat aktivitas tradisional yang sudah diwariskan
secara turun temurun.
Dalam setiap pengembangan kota diharapkan untuk dapat menghargai topografi, drainase alam, ciri khas
tapak, pohon, angin dan lain - lain sebelum mengintervensi site. Pohon - pohon yang berkualitas harus
dikonservasi dan intervensi bangunan lebih bersifat infill. Jenis tanaman yang digunakan harus kontekstual dan
tidak menimbulkan dampak jelek terhadap kualitas lingkungan hidup di sekitarnya. Jenis tanaman yang
digunakan sebaiknya disesuaikan dengan karakter lama atau otentisitasnya. Pohon dan tanaman yang signifikan
secara historis dan budaya harus dikonservasi dan bila dirasa perlu dapat ditambahkan pagar pengamari untuk
melindunginya dari gangguan eksternal sekaligus sebagai memperkuat fungsinya sebagai tetenger/landmark.

2.4.6. Perabot Jalan dan Penandaan
Yang dimaksud dengan perabot jalan tersebut adalah lampu penerangan jalan penerangan pedestrian,
penerangan taman, lampu gantung, lampu trafik, tempat duduk, tempat sampah, halte bus, bis surat,
telepon umum, pos polisi, pos tiket/ informasi, collumn net, toilet umum, jembatan penyeberangan, pot
bunga dan lain sebagainya.
Penandaan adalah papan informasi kawasan maupun gedung (intepretasi situs), zebra cross, papan nama
jalan, papan penunjuk jalan, papan reklame, rambu-rambu lalu lintas, dan lain sebagainya.
Informasi kawasan adalah penjelasan tentang kawasan baik dari aspek historis, pariwisata dan lain
sebagainya. Wujudnya dapat berupa prasasti, papan informasi, perangkat elektronik yang berisi data base
kawasan dan lain sebagainya.

Tabel II.5
Perabot Jalan
ELEMEN UTAMA RINCIAN
URBAN FIXTURE Lampu jalan

Lampu parkir
Lampu pedestrian
Lampu teras

Papan reklame
Papan info
Boks telepon

Pos polisi
Tempat sampah
Gapura / tetenger

Sitting groups
Halte / shelter

LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 47

Intepretasi situs merupakan penjelasan tentang situs yang dimaksud. Wujudnya dapat berupa prasasti,
papan nama, tugu peringatan, poster, patung dan lain sebagainya.
Papan reklame adalah billboard (papan reklame jalan berukuran besar, papan reklame bangunan yang
menempel atau tergantung pada fasade bangunan dan tulisan yang menempel atau tergantung pada
fasade bangunan.
Penanda lainnya antara lain tugu, gapura, gerbang, jembatan, air mancur, kolam ikan dan lain sebagainya
dimaksudkan untuk memperkuat designasi kawasan sebagai tetenger.
Perabot jalan dan penandaan harus disediakan sesuai tuntutan jaman, peruntukan ruang serta didisain
sehingga dapat memperkaya kualitas ruang yang ada serta memperkuat identitas kawasan.
Penyesuaian penanda terhadap obyek agar tidak menimbulkan distorsi nilai.
Tidak memasang papan penanda di tempat yang diperuntukkan bagi pandangan tak
terhalang ke arah bangunan konservasi dan bangunan yang indah.
Tidak memasang papan penanda tanpa rnengindahkan keindahan, dan kesucian obyek.
Membuat dan memasang papan penanda sedemikian rupa sehingga tidak merusak suasana harmonis di
sekitar obyek.
Mengembangkan penanda yang mampu mendukung struktur obyek yang ada dan dengan demikian
meningkatkan maknanya.
1. Pagar
Penggunaan pagar yang bukan merupakan bagian dari disain awal bangunan konservasi dan tidak
memiliki makna historis sebaiknya dihilangkan karena dapat mengurangi kualitas ruang dan disain
bangunan. Penggunaan pagar dapat dilakukan bila:
Dibutuhkan untuk melindungi suatu benda cagar baik yang bersifat alam (misalnya pohon keramat)
maupun buatan manusia (misalnya prasasti, tugu) dengan tujuan untuk mempertahankan
keamanan dan kelestariannya.
Merupakan konsep asli.
Bangunan-bangunan khusus seperti pesantren, biara, dan lain sebagainya.
Areal yang dianggap keramat, sakral dan atau membahayakan dapat kepentingan umum.
2. Papan Reklame
Disain harus kontekstual dan mendukung citra kawasan.
Perletakan papan reklame berukuran besar (billboard) hanya di sudut jalan dan tidak boleh
mengganggu kesan visual kawasan serta tampilan fasade bangunan maupun ruang kota yang ada.
Untuk bangunan-bangunan dengan disain arkade (pedestrian beratap), papan reklame dapat
digantungkan dengan mengacu guidelines disain.
Apabila dirasa sangat penting, pembatasan ukuran papan reklame dan jenis huruf yang digunakan
dapat diberlakukan untuk kawasan yang sangat khas.


LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 48

2.4.7 Tata Bangunan
Tata bangunan dimaksudkan untuk mengelola volume pembangunan serta mendapatkan bentuk ruang
kota yang diinginkan, sesuai dengan distribusi KLB serta jenis aktivitas yang berlangsung di dalam ruang
tersebut. Oleh karena itu perletakan bangunan harus diatur sedemikian rupa agar dapat didefinisikan ruang
secara baik. Tiga aspek yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam menata bangunan adalah:
aspek pengendalian bentuk massa bangunan (sosok, tinggi, kepadatan, jarak bebas, dan sebagainya).
aspek non-teknis yang harus diperhatikan sebagai dampak (aspek ekonomi, sosial, budoya, psikologi, dan
sebagainya.
aspek lingkungan (orientasi, aliran udara, sinar matahari, bayangan, yang kesemuanya berkaitan dengan
iklim, warna, tekstur, dan sebagainya).
Bangunan kuno harus tetap dilestarikan namun juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain sesuai tuntutan
jaman atau kebutuhan (adaptive re-used) tanpa merubah elemen aslinya. Adaptive re-used harus bisa harmonis
dengan tipologi bangunan.
Visual Connection adalah hubungan yang terjadi karena adanya kesamaan visual antara satu bangunan
dengan bangunan lain, jalan dan ruang dalam suatu kawasan, sehingga menimbulkan image tertentu pada
kawasan tersebut. Lebih mencakup ke non-visual atau ke hal yang lebih bersifat konsepsi dan simbolik, namun
dapat memberikan kesan kuat antara lain dari kerangka kawasan.
Melalui strategi ini, tekstur kota atau matriks jalan, ruang terbuka blok bangunan bervariasi dalam
kontinuitas tatanan tipologikal dapat dalam bentuk grid ataupun acak, akan lebih terformasi secara visual dan
konseptual. Bila koneksi-koneksi visual konseptual sudah terdefinisikan, maka variabel dari tekstur rnenentukan
derajat keteraturan, proporsi solid dan void dan kepadatan kawasan akan dapat dikendalikan secara lebih
konseptual pula.
Melalui taktik koneksi dari urban design ini maka diperoleh:
Interpenetrasi kawasan. Overlapping dari sudut dan pola kawasan untuk membangun relasi majemuk.
Kontinuitas tekstur
Strukturalisasi ruang kota dengan design landscape melalui pembentukan Pattern of Urbanism.
Sumbu-sumbu atau aksis konseptual dan hubungan konseptual/ simbolik antar elemen kota/struktur.
Relasi ini bisa ditinjau dari aspek budaya yaitu menyangkut bentuk-bentuk dari elemen-elemen bangunan yang
menunjukkan suatu karakter budaya yang khas dan dapat menimbulkan suatu ciri dari suatu kawasan. Seperti
misalnya daerah perkantoran umumnya dekat dengan perdagangan atau fungsi-fungsi lain yang kiranya memiliki
hubungan yang relevan, sesuai dengan kebutuhannya.

2.4.8 Utilitas Kawasan
Penyediaan prasarana kawasan bertujuan untuk mengembangkan sistem infrastruktur terpadu yang
dapat mendukung revitalisasi kawasan. Penyediaan prasarana harus sesuai kebutuhan, berfungsi optimal,
efisien, efektif serta mudah dalam pengelolaan O & M. Prasarana yang berhubungan langsung dengan penataan
bangunan antara lain hidran lingkungan, jarangan air bersih, drainase, limbah/ sampah, listrik, telepon dan gas.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 49

Prasarana yang harus terpadu dengan penataan ruang antar bangurian antara lain seperti pedestrian, jalan, dan
ruang terbuka. Instalasi prasarana hendaknya tidak mengganggu badan jalan dan diletakkan di bawahtanah
dengan mempertimbangkan kemudahan pengoperasian dan perawatannya. Dilarang melakukan peninggian
elevasi/ peil jalan pada kawasan (lama) yang dapat mengakibatkan rusaknya struktur bangunan ataupun kualitas
arsitektur bangunan konservasi. Penyediaan dan pengelolaan secara public-private-community partnership
dapat dilakukan, yaitu:
Prasarana dan instalasi yang disediakan oleh sektor publik.
Jalan umum.
Polder dan drainage termasuk penutupnya.
Sanitasi.
Penerangan jalan umum.
Penerangan pedestrian.
Penerangan taman atau ruang terbuka publik.
Transfer station persampahan.
Prasarana dan instalasi yang disediakan oleh sektor publik bekerjasama dengan swasta.
Air bersih bekerjasama dengan PDAM.
Listrik bekerjasama dengan PLN.
Telpon bekerjasama dengan PT Telkom.
Fasilitas yang harus disediakan oleh penghuni/ pemilik bangunan : penerangan bangunan, tempat
sampah, dan lain-lain.

2.5 Lingkungan yang Tanggap
Perencanaan bangunan dan kawasan yang responsif terhadap publik sudah menjadi kebutuhan saat ini.
Sikap responsif yang dihadirkan disini untuk membangun lingkungan menjadi lebih demokratis dan banyak
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bersosialisasi, berkumpul dan serta memberikan
kenyamanan dalam komunikasi urban. Tidak hanya itu, lingkungan yang responsif ini juga menghilangkan
ruang-ruang negatif yang sering timbul akibat bangunan yang tertutup.
Namun sebelum mengupas lebih jauh mengenai lingkungan yang responsif, perlu dipahami bahwa
kualitas lingkungan dan ruang publik dari suatu tempat, bangunan, kelompok bangunan dikatakan
signifikan/bermakna, bila:
a. Mudah dipahami, dikenali (kontinuitas visual)
b. Menunjang keanekaragaman (kegiatan dan permakai)
c. Menunjang penggunaan beragarn (fungsi/aktifitas)
Sikap perencanaan dan pembangunan yang responsif ini akan memberikan citra terhadap lingkungan
yang lebih luas yaitu citra kota. Kenangan positif yang menjadi ciri suatu kota ini akan menjadi memori yang
kolektif dari orang yang tinggal didalamnya maupun yang sekedar melintas ataupun berkunjung.
Untuk membentuk lingkungan yang responsif (Bentley, Responsive Environment, 1985) terdapat tujuh kriteria
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 50

yang menentukannya yaitu:
1. Permeabilitas
Lingkungan yang aksesibel akan memberikan kesempatan pada publik berinteraksi lebih dinamis.
Dengan memberikan aksesiblitas yang semakin besar kepada publik dalam suatu lingkungan, maka
dikatakan tempat ini sebagai tempat yang responsif. Dalam permeabilitas terdapat beberapa yang
menjadi pertimbangan yaitu hubungannya dengan ruang publik dan ruang privat, hirarki sirkulasi,
perbedaan jalur sirkulasi yang jelas antara pedestrian, jalur kendaraan pribadi, jalur bus, dan lain
sebagainya.


Gambar 2.5
Ilustrasi Desain Jalur Pedestrian


Gambar 2.6
Analisis Figureground Teory Oleh Roger Trancik, Pola Grid Kawasan Terlihat Jelas Dengan
Memperlihatkan Hirarki Jalan.

2. Variety/Mix Uses (keragaman fungsi)
Dalam satu lingkungan, bila terdapat beragam fungsi bangunan akan membuat lingkungan menjadi hidup
dan lebih manusiawi. Dengan keragaman fungsi juga akan memperkaya lingkungan tersebut dan
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 51

terkonsentrasinya kegiatan orang dalam satu lingkungan.
.
Gambar 2.7
Penataan Fungsi Lahan Dengan Desain Mix Uses

Gambar 2.8
Lingkungan Dengan Keragaman Fungsi

3. Legibilitas (kemudahan atau kejelasan)
Maksudnya adalah kawasan yang memiliki identitas dan karakter yang jelas. Identitas ini dapat melalui
bentuk fisik kawasan maupun pola aktifitas yang ada. Legibilitas ini akan memudahkan membedakan
antara kawasan tradisional dan kawasan modern, atau dalam
satu kawasan dapat dilihat dimana stasiun, pusat perbelajaan, perkantoran dan lainnya. Dengan
legibilitas akan memudahkan orang untuk bergerak dan menuju suatu lokasi. Untuk fisik, terdapat lima
elemen utama pembentuk kawasan (Kevin Lynch, 1960) yaitu:
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 52


Gambar 2.9
Penataan Lingkungan Yang Memiliki Legibilitas Yang Jelas

2.6 Elemen Citra Kota
1) Path/Jalur.
Berupa jalur sirkulasi dengan berbagai hirarki dan fungsinya seperti jalan arteri, jalan lingkungan, jalur
pejalan kaki (pedestrian), jalur bus, jalur kereta, dan lain-lain.

Gambar 2.10
Jalur Jalan Lingkungan Yang Membedakan Antara Pedestriandan Jalur Kendaraan

2) Nodes/Simpul
Merupakan penanda atau vokal poin suatu tempat. Nodes ini dapat berbentuk apa saja, kadang nodes
ini juga berupa pengulangan tertentu. Contoh nodes ini adalah perempatan jalan, taman kota, dan
sebagainya.
3) Landmark/tetenger.
Sangat berbeda dengan nodes, landmarks memiliki skala yang lebih besar dan biasanya tunggal.
Landmark juga penanda suatu tempat, namun lebih membekas pada memori seseorang karena
karakternya yang kuat.
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 53


Gambar 2.11
Jembatan 4 Palu Yang Menjadi Landmark Kota Palu
4) Edge/ Batas
Adalah elemen linier. Bedanya dengan jalur, batas dapat berbentuk apa saja dan merupakan batasan
fisik tertentu seperti deretan pohon, dinding, tepi sungai, dan sebagainya.

Gambar 2.12
Jalur Yang Jelas Akan Mempermudah Aksesibilitas Orang

5) Distrik/kawasan.
Suatu wilayah yang batasannya berdasarkan pengamatan tertentu.

2.7 Teori Budaya Masyarakat dalam pembangunan
Budaya
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang
rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan
karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar
dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 54

koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku
orang lain.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan
Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat
ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah
Cultural-Determinism. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai
sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain,
tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah
sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat
abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya
pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang
kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Masyarakat
Masyarakat adalah sekumpulan manusia-manusia yang memiliki ide, pikiran, kebiasaan, perilaku dan
aspirasi yang berbeda-beda untuk setiap individu. Mattessich (1997: 6-7) mengartikan komunitas (community)
sebagai orang-orang yang tinggal di dalam suatu wilayah (tempat) tertentu secara geografis dan yang memiliki
ikatan tertentu baik secara sosial maupun emosional antara satu orang dengan yang lainnya dan dengan tempat
dimana mereka tinggal. Marsh (1999) lebih jauh lagi malah menyebutkan kedaan atau peristiwa tertentu
memungkinkan pembentukan suatu komunitas. Kenny (1999) menambahkan satu karateristik masyarakat yang
dibentuk karena adanya kesamaan interest. Komunitas pengusaha, komunitas intelektual, komunitas pencinta
sepak bola dan sebagainya.
Adapun cirri-ciri masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Adanya sejumlah orang
2. Tinggal dalam satu daerah tertentu
3. Mengadakan atau mempunyai hubungan yang tetap dan teratur satu sama lain
4. Sebagai aktivitas hubungan yang membentuk satu system hubungan antar manusia
5. Mempunyai tujua bersama
6. Mengadakan ikatan/kesatuan unsur-unsur obyeknya
7. Adanya perasaan solidaritas
8. Berdasarkan sistem yang terbentuk, akan membentuk norma-norma.
9. Berdasarkan unsur-unsur di atas membentuk kebudayaan bersama melalui hubungan antar manusia.
Ciri-ciri masyarakat tradisional di Indonesia secara umum adalah (Koentjaraningrat, 1980: 165):
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 55

1. Hubungan dalam keluarga dan masyarakat setempat sangat kuat.
2. Organisasi sosial yang pada pokoknya didasarkan atas adat istiadat yang terbentuk menurut tradisi di
masyarakat.
3. Kepercayaan kuat pada kekuatan-kekuatan gaib yang mempengaruhi kehidupan manusia akan tetapi tidak
dikuasai olehnya.
4. Tidak ada lembaga-lembaga khusus untuk memberikan pendidikan dalam bidang teknologi keterampilan
diwariskan oleh orang tua kepada anak sambil berpraktek dengan sedikit teori dan pengalaman dan tidak
dari hasil pemikiran atau eksperimen.
5. Tingkat buta huruf tinggi
6. Hukum yang berlaku tidak tertulis, tidak kompleks dan pokok-pokoknya diketahu dan dipahami oleh hampir
semua masyarakat yang sudah dewasa.
7. Perekonomian masyarakat tersebut meliputi produksi untuk pasaran kecil setempat, sedangkan uang
sebagai alat pengukur harga berperan secara terbatas sekali.
8. Kegiatan ekonomi dan sosial yang memerluakan kerjasama antara orang banyak yang dilakukan secara
tradisional dengan gotong royong tanpa hubungan kerja antara buruh dan majikan.
Budaya tradidional sangat dan selalu terkait dengan proses perubahan ekonomi, social, dan politik dari
masyarakat pada tempat mana budaya tradisional tersebut melekat. Budaya tradisional selalu mengalami
perubahan yang dinamis, dan oleh karena itu budaya tradisional tidak mengganggu proses pembangunan
(Suwarsono, 1994:62)
Konsep pembangunan biasanya melekat dalam konteks kajian suatu perubahan, pembangunan disini
diartikan sebagaiu bentuk perubahan yang sifatnya direncanakan; setiap orang atau kelompok orang tentu akan
mengharapkan perubahan yang mempunyai bentuk lebih baik bahkan sempurna dari keadaan yang
sebelumnya; untuk mewujudkan harapan ini tentu harus memerlukan suatu perencanaan. Selo Soemardjan
(1974) menyatakan bahwa perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang
diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh fihak-fihak yang hendak mengadakan perubahan
di dalam masyarakat (Soemardjan-Soemardi, 1974: 490).
Secara umum, pembangunan diartikan sebagai usaha untuk memajukan kehidupan masyarakat dan
warganya. Pembangunan sebenarnya meliputi dua unsur pokok; pertama, masalah materi yang mau dihasilkan
dan dibagi, dan kedua, masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif, yang menjadi manusia pembangun.
Bagaimanapun juga, pembangunan pada akhirnya harus ditujukan pada pembangunan manusia; manusia yang
dibangun adalah manusia yang kreatif, dan untuk bisa kreatif ini manusia harus merasa bahagia, aman, dan
bebas dari rasa takut. Pembangunan pada hakekatnya adalah suatu proses transformasi masyarakat dari suatu
keadaan pada keadaan yang lain yang makin mendekati tata masyarakat yang dicita-citakan; dalam proses
transformasi itu ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu keberlanjutan (continuity) dan perubahan (change).



LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 56

2.8 Peremajaan Kota
2.8.1 Pengertian Urban Renewal
Urban renewal atau yang biasa disebut dengan peremajaan atau pembaharuan kota merupakan salah
satu bentuk adanya partisipasi sekaligus pemberdayaan masyarakat. Dalam urban renewal partisipasi
masyarakat merupakan sesuatu yang penting dikarenakan adanya perubahan kebijakan dalam berbagai bidang,
keinginan masyarakat dan kemampuan untuk menerapkan, dan mengikuti pembangunan atau perbaikan kota.
Isu partisipasi sekaligus pemberdayaan masyarakat juga terkait dengan Urban renewal, semakin
banyak dibicarakannya dalam banyak forum diskusi baik oleh pemerintah, atau yang lain. Hasil yang didapat
berupa persoalan mengenai rendahnya partisipasi masyarakat baik dalam pembangunan, penolakan
masyarakat terhadap beberapa proyek pembangunan, ketidakberdayaan masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan serta pemecahan masalahnya. Meskipun kritik ini ada benarnya, tetapi dengan hanya menyalahkan
masyarakat tanpa mencari faktor-faktor penyebabnya maka permasalahannya tidak dapat dipecahkan.
Berdasarkan deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwa Urban renewal terkait pula dengan suatu
bentuk sistem sosial, yang mana didalamnya terdapat kelompok kelompok sebagai unit unit penting meliputi
masyarakat, pemerintah dan pihak lainya misalnya di Kota. Sistem sosial yang ada di dalamnya dapat
menimbulkan dampak yang sangat luas (multiplier effect) bagi kehidupan perkotaan. Multiplier effect yang
ditimbulkan tidak hanya bersifat positif, melainkan juga dapat bersifat negative. Diantara dampak negative yang
ditimbulkan adalah peningkatan kepadatan kota dengan segala aktifitas di dalamnya yang menuntut
terpenuhinya kebutuhan akan lahan dan ruang, dan pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya penggunaan
lahan perkotaan yang semrawut.
Sedangkan maksud Urban renewal itu sendiri diantaranya adalah untuk perubahan fisik kota atau
bentuk area dan juga peningkatan sosial peningkatan mutu hidup masayarakat sekarang dan yang akan datang
dengan peran serta semua pihak yang tidak hanya masyarakat saja. Kegiatan ini pada umumnya merupakan
bentuk pemecahkan masalah perkotaaan misalnya urbanisasi, serta bagian dari perencanaan kota. Pemerintah
yang mana tidak dapat berjuang sendiri untuk penataannya secara ideal tanpa adanya dukungan dari
masyarakat. Oleh karena itu masyarakat selaku salah satu penentu kesuksesan pembangunan harus berperan
secara aktif, dan pemerintah harus dapat memberdayakan masyarakatnya.
2.8.2 Upaya yang dilakukan dalam Urban renewal
Urban renewal sering dikenal dengan sebutan Peremajaan Kota atau bahkan sebagian ada yang
menyebutnya Pembaharuan Kota. Urban renewal merupakan upaya perbaikan kualitas kota yang bersifat fisik
(sumber: Bahan Ajar Perencanaan Kota, 2004) meliputi :
1. Konsolidasi lahan
Yaitu menyediakan tanah untuk kepentingan pembangunan dan meningkatkan kualitas lingkungan
hidup serta pemanfaatan lahan secara optimal. Adapun prinsip-prinsip konsolidasi lahan adalah
sebagai berikut:
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 57

Partisisipasi masyarakat
Musyawarah dan mufakat
Penyesuaian dengan pembangunan daerah dan rencana tata ruang
2. KIP (kampong improvement project )
yaitu program pengadaan prasarana secara terpadu dalam skala kecil tingkat lingkungan pemukiman.
3. P3KT (Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu)
Yaitu program perbaikan dan pembangunan prasarana perkotaan berskala kota atau kabupaten melalui
bottom-up planning dan top-down planning. Contohnya adalah perbaikan pengelolaan jaringan sampah
yang melibatkan peran serta masyarakat dan atas dukungan atau binaan dari pemerintah. Program
Pembangunan Prasarana Kota Terpadu (P3KT) yang prinsipnya meliputi langkah-langkah berikut :
1) Setiap sektor prasarana dan sarana perkotaan (seperti air bersih, perbaikan kampong, drainase,
persampahan, air limbah, dan lainnya) menyiapkan Rencana Induk dari masing-masing sistem
prasarana dan sarana. Atas dasar Rencana Induk ini, kemudian dilakukan Studi Kelayakan
(Feasibility Study) untuk mendefinisikan prioritas program dan proyek dengan menguji kelayakan dari
semua aspeknya (teknis, ekonomi, finansial, lingkungan, manajerial, dan lainnya). Dari prioritas
program dan proyek ini kemudian digunakan untuk melakukan pekerjaan persiapan teknis awal
(preliminary engineering design) untuk memperkirakan agar mendekati ketepatan besarnya investasi
yang diperlukan, sebagai dasar pengajuan kebutuhan anggaran untuk setiap sektor;
2) Dalam kerangka P3KT , dipersiapkan Program Jangka Menengah (PJM) sebagai penjabaran dari
strategi pembangunan perkotaan, dan disiapkan suatu matriks program menurut sektor prasarana
untuk jangka menengah (umumnya lima tahun) dan digambarkan dalam bentuk target fisik serta
program komitmen sumber pendanaan setiap tahun.
4. Resettlement
Resettlement ini merupakan suatu program perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana
permukiman. Program ini dapat dilakukan melalui penataan permukiman yang telah ada menjadi suatu
pola permukiman yang teratur dengan nilai estetika yang baik dalam jangka waktu yang relative singkat.
5. Redevelopment.
Redevelopment merupakan suatu program perbaikan, penataan kembali dan pembangunan sarana dan
prasarana yang mencakup cakupan wilayah lebih besar dalam skala kawasan kota maupun kabupaten
sehingga membutuhkan waktu yang relative lebih lama.
6. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya untuk mengembalikan kondisi suatau bangunan atau unsur-unsur kawasan kota
yang telah mengalami kerusakan, kemunduran atau degradasi kepada kondisi aslinya sehingga dapat
berfungsi kembali sebagaimana mestinya.
Untuk memastikan penduduk memiliki tingkat perumahan atau permukiman yang baik, aman, dan
sesuai untuk kebutuhan rumah tangga serta berperan untuk sifat fisik dari semua area pembaharuan, sasaran
proyek sebagai bentuk urban renewal diataranya :
LAPORAN ANTARA | Rencana Tindak Penataan dan Revitalisasi Kawasan Kab.Bangkep
II- 58

Punya impact yang positif pada tampilan visual adan lingkungan fisik.
Menerapkan prinsip CPTED ( Crime Prevention Through Environmental Design ) dalam proses
peningkatan.
Menawarkan kesempatan untuk kepemilikan rumah dengan harga yang terjangkau untuk menciptakan
banyak keseimbangan masyarakat.
Meningkatkan mutu fisik area.
Menghasilkan peningkatan pilihan dalam hal perumahan atau permukiman.
Menciptakan peluang ketenagakerjaan untuk pengangguran lokal melalui suatu program kerja.
Salah satu upaya di dalam urban renewal adalah adanya pemeliharaan bangunan tua. Adapun metode-
metode yang dapat dilakukan untuk pemeliharaan bangunan tua tersebut adalah:
1) Perlindungan yang sah.
Metode ini menggunakan hukum dan peraturan (ordonansi) untuk mengendalikan apa yang terjadi
terhadap hal milik bersejarah.
2) Hukuman
Lebih condong kepada undang-undang/ peraturan yang merupakan pelengkap sebagai alat
pencegahan bagi pengabaian atau perusakan kekayaan bangunan bersejarah.
3) Pemakaian kembali adaptif
Bangunan lama digunakan lagi sesuai dengan perkembangan yang ada, tetapi metode ini dapat
mengurangi nilai budaya, historis dan keaslian bangunan karena pemakaian baru cenderung
menghendaki perubahan fisik agar memenuhi ciri arsitektur bangunan.
4) Penjualan hak-hak pembangunan.
Nilai lahan perkotaan yang tinggi mendorong pembongkaran bangunan bersejarah untuk
mengeksploitasi nilai lahan dimana bangunan tersebut berdiri.