Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemenuhan nutrisi penting yang dibutuhkan oleh seorang anak salah
satunya dengan memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif. Telah diketahui
bahwa sampai usia 6 bulan ASI adalah makanan yang ideal untuk bayi baik
ditinjau dari segi kesehatan fisik maupun psikis (Novita, 2008).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 tingkat
pemberian ASI di Indonesia baru mencapai 15,3 % dan pemberian susu
formula meningkat tiga kali lipat dari 10,3% menjadi 32,5%. Direktur
Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Kementerian Kesehatan,
Budiharja, menyatakan bahwa angka ini cukup memprihatinkan. Hal tersebut
menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan
pemberian ASI (Depkes, 2010).
Menurut Dinas Kesehatan Kota Surakarta (2012) tingkat pencapaian
ASI Eksklusif profil di kota Surakarta tahun rata-rata sudah mencapai 46,07%.
Pencapaian ini dirasakan masih kurang dibanding dengan target yang
diharapkan 80% yang mendapat ASI secara Eksklusif.
Pemberian ASI sejak bayi lahir akan menjamin seorang bayi
berkembang menjadi seorang anak yang cerdas. ASI mengandung semua zat
yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun faktor
lingkungan dan genetis juga berperan, namun faktor-faktor tersebut hanya
dapat muncul secara optimal jika didukung oleh asupan gizi yang benar. ASI
sebagai sumber gizi adalah fasilitas terbaik saat setahun pertama usia anak (
Khomsan, 2008).
Bayi akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat
pesat pada tahun pertamanya. Lima tahun pertama usia bayi sering disebut
sebagai usia keemasan (golden age) yang merupakan periode penting bagi
perkembangan anak. Pada usia ini anak mengalami kecepatan perkembangan
yang luar biasa dibanding usia sesudahnya, dimana dasar struktur kepribadian
dibangun dan dibentuk untuk sepanjang hidupnya (Sutomo, 2010).
Mengingat usia dini merupakan usia emas, maka pada masa itu
perkembangan anak harus dioptimalkan. Perkembangan anak usia dini
sifatnya holistik, yaitu dapat berkembang optimal apabila sehat badannya,
cukup gizinya dan didik secara baik dan benar. Anak berkembang dari
berbagai aspek yaitu berkembang fisiknya, baik motorik kasar maupun halus,
berkembang aspek kognitif, aspek sosial dan emosional (IDAI, 2008).
Perkembangan motorik kasar (Gross Motor Skill) sangat penting bagi
perkembangan ketrampilan anak secara keseluruhan. Perkembangan motorik
kasar merupakan area terbesar dalam perkembangan di usia batita ( bawah tiga
tahun). Kemampuan melakukan gerakan dan tindakan fisik untuk seorang
anak terkait dengan rasa percaya diri dan pembentukan konsep diri. Melalui
ketrampilan motorik kasar, seorang bayi menunjukkan kemandiriannya
bergerak dari suatu tempat ke tempat lainnya. Ini akan meningkatkan rasa
percaya dirinya dikemudian hari. Ketrampilan motorik yang baik juga
memudahkan seorang anak beradaptasi dengan lingkungan belajarnya. Anak
bisa bermain, berolah raga dan bergerak sesuka hati tanpa merasa tertekan.
Melalui motorik kasar juga anak dapat melakukan kesenangan dan hobinya
yang mungkin akan dapat dikembangkan sebagai potensi yang positif
dikemudian hari. Kemampuan ini juga akan memudahkan anak untuk bergaul
dengan teman-teman sebayanya. Oleh karena itu perkembangan motorik kasar
sama penjhtingnya dengan aspek perkembangan yang lain untuk anak usia
dini (Bulan, 2009).
Berdasarkan Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) yang dilakukan
di sangkrah pada tahun 2011, dari 2.387 balita terdapat 28 balita yang
mengalami keterlambatan perkembangan . Ini menunjukkan bahwa 2 % balita
di Sangkrah mengalami hambatan perkembangan. Atas dasar itulah peneliti
tertarik untuk menjadikan Sangkah sebagai lahan penelitian.
Penelitian yang mengamati pengaruh ASI eksklusif terhadap
perkembangan anak telah beberapa kali dilakukan, salah satunya oleh Ni
Made Lidya S. Rodiah, dengan judul Hubungan Pemberian Asi Ekslusif
Dengan Tumbuh Kembang pada Anak Usia 3 Sampai 6 Bulan di Puskesmas
Karanganyar . Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapatnya hubungan
antara pemberian ASI dengan perkembangan anak. Untuk itu, penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul Hubungan antara Pemberian ASI
Eksklusif dengan Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 6 12 bulan di
kelurahan Sangkrah Kota Surakarta .

B. Rumusan Masalah
1. Adakah hubungan pemberian ASI eksklusif dengan perkembangan
motorik kasar anak usia 6-12 bulan ?
2. Berapa nilai korelasi antara pemberian ASI eksklusif dengan
perkembangan motorik kasar pada anak usia 6-12 bulan ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pemberian
ASI eksklusif dengan perkembangan motorik kasar pada anak.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat pencapaian ASI eksklusif di Wilayah Cakupan
Puskesmas Sangkrah Kota Surakarta.
b. Mengetahui karakteristik perkembangan motorik kasar pada anak di
Kelurahan Sangkrah Kota Surakarta.
c. Menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dengan
perkembangan motorik kasar pada anak usia 6-12 bulan di Kelurahan
Sangkrah Kota Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Dapat menambah wawasan dalam promosi kesehatan tentang
pentingnya memberikan ASI eksklusif terhadap perkembangan motorik
kasar.

2. Manfaat aplikatif
a. Bagi tenaga kesehatan
Dapat menambah wawasan dalam promosi kesehatan tentang
pentingnya memberikan ASI eksklusif terhadap perkembangan
motorik kasar.
b. Bagi ibu atau orang tua
1) Dapat menambah wawasan tentang pentingnya memberikan ASI
eksklusif untuk mengoptimalkan perkembangan motorik kasar
pada anak.
2) Mengetahui pentingnya perkembangan motorik kasar dalam masa
tumbuh kembang anak.