Anda di halaman 1dari 16

Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka

Wijaya

Abstrak

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan masalah yang kompleks pada suatu proyek
konstruksi. Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja umumnya disebabkan oleh faktor manajemen,
disamping faktor manusia dan teknis. Tingkat pengetahuan, pemahaman, perilaku, kesadaran, sikap
dan tindakan masyarakat, tenaga kerja, aparatur pemerintah dan masyarakat dalam upaya
penanggulangan masalah keselamatan kerja masih sangat rendah dan belum ditempatkan sebagai
suatu kebutuhan pokok bagi peningkatan kesejahteraan secara menyeluruh termasuk peningkatan
produktivitas kerja. Keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan
menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap
sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak
biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang yang
memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang.

BAB I
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Menurut Undang-Undang no.18 tahun 1999 dan PP 29 tahun 2000, definisi
kegagalan bangunan secara umum adalah merupakan keadaan bangunan yang tidak
berfungsi, baik sacara keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat,
keselamatan dan kesehatan kerja dan/atau keselamatan umum, sebagai akibat
kesalahan penyedia jasa dan atau pengguna jasa setelah penyerahan akhir pekerjaan
konstruksi berfungsi sebagai mana mestinya. Dengan demikian pekerjaan konstruksi
direncanakan agar dapat memberi pelayanan terhadap pengguna bangunan konstruksi
dengan persyaratan nyaman dan aman (Comfortable and Safe). Sehingga dapat
dikatakan bahwa kenyamanan dan keamanan adalah merupakan faktor yang dapat
dipakai sebagai indikator untuk menilai apakah suatu pekerjaan konstruksi
mengalami kegagalan fungsi Bangunan atau tidak. Secara khusus definisi Kegagalan
bangunan adalah suatu kondisi dimana bangunan konstruksi tidak mampu melayani
penggunan sesuai dengan rencana secara Nyaman dan Aman.
Kegagalan bangunan dari segi tanggung jawab dapat dikenakan kepada
institusi maupun orang perseorangan, yang melibatkan dua unsur yang terkait yaitu :
1. Menurut Undang-undang No. 18 tahun 1999, pasal 26, ketiga unsur utama
proyek yaitu: Perencana, Pengawas dan Kontraktor (pembangun).
2. Menurut Undang-undang No. 18 tahun 1999, pasal 27, jika disebabkan
karena kesalahan pengguna jasa/bangunan dalam pengelolaan dan
menyebabkan kerugian pihak lain, maka pengguna jasa/bangunan wajib
bertanggung-jawab dan dikenai ganti rugi.

Kegagalan Perencana
Penyebab kegagalan perencana umumnya disebabkan oleh :
a. Tidak mengikuti TOR,
b. Terjadi penyimpangan dari prosedur baku, manual atau peraturan yang
berlaku,
c. Terjadi kesalahan dalam penulisan spesifikasi teknik,
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

d. Kesalahan atau kurang profesionalnya perencana dalam menafsirkan data


perencanaan dan dalam menghitung kekuatan rencana suatu komponen
konstruksi,
e. Perencanaan dilakukan tanpa dukungan data penunjang perencanaan yang
cukup dan akurat,
f. Terjadi kesalahan dalam pengambilan asumsi besaran rencana (misalnya
beban rencana) dalam perencanaan,
g. Terjadi kesalahan perhitungan arithmatik
h. Kesalahan gambar rencana.

Kegagalan Pengawas
Penyebab kegagalan pengawas umumnya disebabkan oleh :
a. Tidak melakukan prosedur pengawasan dengan benar,
b. Tidak mengikuti TOR,
c. Menyetujui proposal tahapan pembangunan yang tidak sesuai dengan
spesifikasi,
d. Menyetujui proposal tahapan pembangunan yang tidak didukung oleh metode
konstruksi yang benar,
e. Menyetujui gambar rencana kerja yang tidak didukung perhitungan teknis.

Kegagalan Pelaksana
Penyebab kegagalan pelaksana umumnya disebabkan oleh :
a. Tidak mengikuti spesifikasi sesuai kontrak,
b. Salah mengartikan spesifikasi,
c. Tidak melaksanakan pengujian mutu dengan benar,
d. Tidak menggunakan material yang benar,
e. Salah membuat metode kerja,
f. Salah membuat gambar kerja,
g. Pemalsuan data profesi,
h. Merekomendasikan penggunaan peralatan yang salah.

Kegagalan Pengguna Bangunan


Penyebab kegagalan pengawas umumnya disebabkan oleh :
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

a. Penggunaan bangunanan yang melebihi kapasitas rencana,


b. Penggunaan bangunan diluar dari peruntukan rencana,
c. Penggunaan bangunan yang tidak didukung dengan program pemeliharaan
yang sudah ditetapkan,
d. Penggunaan bangunan yang sudah habis umur rencananya.

Pada masalah kegagalan bangunan salah satunya adalah masalah keselamatan


dan kesehatan kerja. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum di
Indonesia masih sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka
kecelakaan kerja. Di Indonesia, setiap tujuh detik terjadi satu kasus kecelakaan kerja
(”K3 Masih Dianggap Remeh,” Warta Ekonomi, 2 Juni 2006). Hal ini tentunya sangat
memprihatinkan. Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah. Padahal
karyawan adalah aset penting perusahaan.

I.2 Tinjauan Pustaka


• Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) :
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
bagi kemanusiaan.
• Undang-Undang No. 13 tahun 2003 pasal 86 :
1) Setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh
perlindungan atas :
a. Keselamatan dan kesehatan kerja
b. Moral dan kesusilaan
c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia
serta nilai-nilai agama.
1) Untuk melindungi keselamatan kerja atau buruh guna mewujudkan
produktivitas yang optimal diselenggarakan upaya K3.
2) Perlindungan sebagaimana pada ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan
dengan peraturan perundangan yang berlaku.

• Undang-Undang No. 13 tahun 2003 pasal 87 :


Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

1) Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan


dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen
perusahaan.
2) Ketentuan mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
• Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
• Undang-Undang No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.
• Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa
Konstruksi.
• Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah.
• Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum
No.174/MEN/1986 dan 104/KPTS/ 1986 tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan Konstruksi.
• Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No.2 Tahun 1970
tentang Pembentukan Panitia Pembina Keselamatan Kerja di Tempat Kerja.
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.05/ MEN/1996 tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).
• Suma’mur (1981:4) mengungkapkan : “keselamatan kerja erat kaitannya
dengan peningkatan produksi dan produktivitas. Produktivitas adalah
perbandingan di antara hasil kerja (= output) dan upaya yang dipergunakan
(= input)”. Hubungannya adalah sebagai berikut :
a. Tingkat keselamatan kerja yang tinggi, dapat mereduksi kecelakaan-
kecelakaan.
b. Tingkat keselamatan yang tinggi dapat menciptakan kondisi-kondisi
yang mendukung kenyamanan serta kegairahan kerja.
c. Praktek keselamatan tidak bisa dipisahkan dari keterampilan,
keduanya berjalan sejajar dan merupakan unsur-unsur esensial bagi
kelangsungan proses produksi.
d. Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya didukung
dengan partisipasi pengusaha dan tenaga kerja akan membawa iklim
keamanan dan ketenangan kerja, sehingga sangat membantu bagi
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

hubungan pekerja dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi


terciptanya kelancaran produksi.

1.3 Tujuan
Pada dasarnya penulisan makalah ini mengacu pada beberapa tujuan yang ingin
dicapai, yaitu :
1. Agar tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dalam
pekerjaannya.
2. Agar orang lain yang berada di tempat kerja perlu menjamin keselamatan
pekerja.
3. Agar sumber-sumber produksi dapat dipakai secara aman dan efisien.

1.4 Ruang Lingkup


Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap pembahasan yang
dipaparkan serta menjaga agar tidak terjadi penyimpangan terhadap judul penulisan
ini, maka makalah ini dibatasi hanya pada penerapan sistem keselamatan dan
kesehatan kerja yang terintegritas.

1.5 Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini digunakan metode Studi pustaka, yaitu dengan
mempelajari masalah yang berkaitan dengan topik yang dipaparkan dalam makalah
ini yang bersumber dari buku dan literatur.

BAB II
PERMASALAHAN

II.1 Kesadaran Perusahaan Jasa Konstruksi Tentang K3 Masih


Rendah
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

Kewajiban untuk menyelenggarakaan Sistem Manajemen K3 pada


perusahaan-perusahaan besar melalui UU Ketenagakerjaan, masih rendah hanya
beberapa perusahaan berskala besar di Indonesia yang sudah menerapkan Sistem
Manajemen K3. Minimnya jumlah itu sebagian besar disebabkan oleh masih adanya
anggapan bahwa program K3 hanya akan menjadi tambahan beban biaya perusahaan.
Padahal jika diperhitungkan besarnya dana kompensasi/santunan untuk korban
kecelakaan kerja sebagai akibat diabaikannya Sistem Manajemen K3 sangat besar,
jelaslah bahwa masalah K3 tidak selayaknya diabaikan.
Di samping itu, yang masih perlu menjadi catatan adalah standar keselamatan
kerja di Indonesia ternyata paling buruk jika dibandingkan dengan negara-negara
Asia Tenggara lainnya, termasuk dua negara lainnya, yakni Bangladesh dan Pakistan.
Masalah umum mengenai K3 ini juga terjadi pada penyelenggaraan
konstruksi. Sektor jasa konstruksi adalah salah satu sektor yang paling berisiko
terhadap kecelakaan kerja. Sebagai besar dari pekerja hanya berstatus tenaga kerja
harian lepas atau borongan yang tidak memiliki ikatan kerja yang formal dengan
perusahaan. Kenyataan ini tentunya mempersulit penanganan masalah K3 yang
biasanya dilakukan dengan metoda pelatihan dan penjelasan-penjelasan mengenai
Sistem Manajemen K3 yang diterapkan pada perusahaan konstruksi.

II.2 Kurang Disiplinnya Para Pekerja Dalam Menggunakan Alat


Keselamatan Kerja
Para pekerja konstruksi di Indonesia adalah orang-orang yang sangat
pemberani, misalnya dalam sebuah konstruksi pembangunan gedung bertingkat para
pekerja lalu lalang di ketinggian dengan perlengkapan safety yg minim. Ruang
lingkup pelaksanaan sebuah proyek konstruksi bangunan gedung mempunyai potensi
kecelakaan kerja yang cukup tinggi. Dalam perkembangannya, program Kesehatan
dan Keselamatan Kerja ( K3 ) yang dilaksanakan dalam upaya pencegahan terjadinya
kecelakaan kerja dalam pelaksanaannya semakin lama semakin dibutuhkan.
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

Pekerja tidak memakai alat standar pengamanan kerja

Para pekerja konstruksi jarang menggunakan alat pengaman dikarenakan oleh


banyak faktor, diantaranya dikarenakan apabila memakai alat pengaman maka kerja
mereka akan menjadi terganggu atau ribet, disisi lain dikarenakan para pekerja
konstruksi sama sekali tidak mengerti prosedur pelaksanaan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.

Pekerja hanya mengandalkan seutas tali dalam bekerja

BAB III
PEMBAHASAN
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

III.1 Strategi, Program, dan Pendekatan Keselamatan Kerja


Tidak jarang para pekerja dihadapkan pada persoalan di keluarga dan
perusahaan. Tekanan persoalan dapat berupa aspek emosional dan fisik, terbatasnya
biaya pemeliharaan kesehatan, dan berlanjut terjadinya penurunan produktivitas
pekerja. Pihak perusahaan seharusnya mampu mengakomodasi persoalan pekerja
sejauh terkait dengan kepentingan perusahaan. Pertimbangannya adalah bahwa
unsur kesehatan dan pekerja memegang peranan penting dalam peningkatan mutu
kerja pekerja. Semakin cukup jumlah dan kualitas fasilitas kesehatan dan
keselamatan kerja maka semakin tinggi pula mutu kerja karyawan. Dengan demikian
perusahaan akan semakin diuntungkan dalam upaya pengembangan bisnisnya.
Setiap perusahaan sewajarnya memiliki strategi memperkecil dan bahkan
menghilangkan kejadian kecelakaan kerja di kalangan karyawan sesuai dengan
kondisi perusahaan. Strategi yang perlu diterapkan perusahaan meliputi :
a. Pihak perusahaan perlu menetapkan bentuk perlindungan bagi pekerja
dalam menghadapi kejadian kecelakaan kerja. Misalnya karena alasan
finansial, kesadaran pekerja tentang keselamatan kerja dan tanggung
jawab perusahaan dan pekerja maka perusahaan bisa jadi memiliki tingkat
perlindungan yang minimum bahkan maksimum.
b. Pihak perusahaan dapat menentukan apakah peraturan tentang
keselamatan kerja bersifat formal ataukah informal. Secara formal
dimaksudkan setiap aturan dinyatakan secara tertulis, dilaksanakan dan
dikontrol sesuai dengan aturan. Sementara secara informal dinyatakan
tidak tertulis atau konvensi dan dilakukan melalui pelatihan dan
kesepakatan-kesepakatan.
c. Pihak perusahaan perlu proaktif dan reaktif dalam pengembangan
prosedur dan rencana tentang keselamatan dan kesehatan kerja pekerja.
Proaktif berarti pihak perusahaan perlu memperbaiki terus menerus
prosedur dan rencana sesuai kebutuhan perusahaan dan pekerja.
Sementara arti reaktif, pihak perusahaan perlu segera mengatasi masalah
keselamatan dan kesehatan kerja setelah suatu kejadian timbul.
d. Pihak perusahaan dapat menggunakan tingkat derajat keselamatan dan
kesehatan kerja yang rendah sebagai faktor promosi perusahaan ke
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

khalayak luas. Artinya perusahaan sangat peduli dengan keselamatan dan


kesehatan kerja.
Sesuai dengan strategi di atas maka program yang diterapkan untuk
menterjemahkan strategi itu diantara perusahaan biasanya dengan pendekatan yang
berbeda. Hal ini sangat bergantung pada kondisi perusahaan. Secara umum program
memperkecil dan menghilangkan kejadian kecelakaan kerja dapat dikelompokkan :
telaahan personal, pelatihan keselamatan kerja, sistem insentif, dan pembuatan aturan
penyelamatan kerja.
a. Telaahan Personal
Telaahan personal dimaksudkan untuk menentukan karakteristik
pekerja tertentu yang diperkirakan potensial berhubungan dengan kejadian
keselamatan kerja:
1) Faktor usia; apakah karyawan yang berusia lebih tua cenderung lebih
aman dibanding yang lebih muda ataukah sebaliknya,
2) Ciri-ciri fisik karyawan seperti potensi pendengaran dan penglihatan
cenderung berhubungan derajat kecelakaan karyawan yang kritis, dan
3) Tingkat pengetahuan dan kesadaran karyawan tentang pentingnya
pencegahan dan penyelamatan dari kecelakaan kerja.
Dengan mengetahui ciri-ciri personal itu maka perusahaan dapat
memprediksi siapa saja pekerja yang potensial untuk mengalami kecelakaan
kerja. Lalu sejak dini perusahaan dapat menyiapkan upaya-upaya
pencegahannya.
b. Sistem Insentif
Insentif yang diberikan kepada karyawan dapat berupa uang dan
bahkan karir. Dalam bentuk uang dapat dilakukan melalui kompetisi antarunit
tentang keselamatan kerja paling rendah dalam kurun waktu tertentu,
misalnya selama enam bulan sekali. Siapa yang mampu menekan kecelakaan
kerja sampai titik terendah akan diberikan penghargaan. Bentuk lain adalah
berupa peluang karir bagi para pekerja yang mampu menekan kecelakaan
kerja bagi dirinya atau bagi kelompok pekerja di unitnya.
c. Pelatihan Keselamatan Kerja
Pelatihan keselamatan kerja bagi pekerja biasa dilakukan oleh
perusahaan. Fokus pelatihan umumnya pada segi-segi bahaya atau resiko dari
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

pekerjaan, aturan dan peraturan keselamatan kerja, dan perilaku kerja yang
aman dan berbahaya.
d. Peraturan Keselamatan Kerja
Perusahaan perlu memiliki semacam panduan yang berisi peraturan
dan aturan yang menyangkut apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh
karyawan di tempat kerja. Isinya harus spesifik yang memberi petunjuk
bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dengan hati-hati untuk mencapai
keselamatan kerja maksimum. Sekaligus dijelaskan beberapa kelalaian kerja
yang dapat menimbulkan bahaya individu dan kelompok pekerja serta tempat
kerja. Dalam pelaksanaannya perlu dilakukan melalui pemantauan,
penumbuhan kedisiplinan dan tindakan tegas kepada pekerja yang cenderung
melakukan kelalaian berulang-ulang.
Untuk menerapkan strategi dan program di atas maka ada beberapa
pendekatan sistematis yang dilakukan secara terintegrasi agar manajemen program
kesehatan dan keselamatan kerja berjalan efektif berikut ini.
a. Pendekatan Keorganisasian
1. Merancang pekerjaan,
2. Mengembangkan dan melaksanakan kebijakan program,
3. Menggunakan komisi kesehatan dan keselamatan kerja,
4. Mengkoordinasi investigasi kecelakaan.
a. Pendekatan Teknis
1. Merancang kerja dan peralatan kerja,
2. Memeriksa peralatan kerja,
3. Menerapkan prinsip-prinsip ergonomi.
a. Pendekatan Individu
1. Memperkuat sikap dan motivasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja,
2. Menyediakan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja,
3. Memberikan penghargaan kepada karyawan dalam bentuk program
insentif.

III.2 Konsep Penerapan Sistem Manajement Keselamatan Dan


Kesehatan Kerja
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan instrumen yang


memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar dari
bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang
wajib dipenuhi oleh perusahaan.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan
menihilkan risiko kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh
dianggap sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai
bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang berlimpah pada
masa yang akan datang.
Setiap perusahaan dan pekerja harus memikirkan kesehatan dan keselamatan
kerja agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar. Dalam hal ini perlu di buat suatu
sistem kesehatan dan keselamatan kerja yang terintegritas.

Konsep Penerapan Sistem Manajement Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Konsep ini diharapkan mampu menihilkan kecelakaan kerja sehingga


mencegah terjadinya cacat atau kematian terhadap pekerja, kemudian mencegah
terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja. Konsep ini juga mencegah
pencemaran lingkungan hidup dan masyarakat sekitar tempat kerja.
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

Norma kesehatan kerja diharapkan menjadi instrumen yang mampu menciptakan dan
memelihara derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya.

III.3 Alat Pengaman Standar Keselamatan Kerja

Dalam melakukan pekerjaan proyek, perusahaan dan pekerja harus menyadari


pentingnya penggunaan standar keamanan keselamatan kerja. Hal ini bertujuan untuk
mengurangi resiko kecelakaan kerja bahkan meniadakan kecelakaan kerja.

Standar Alat Pengaman Keselamatan Kerja

➢ Helmet Standar Kerja


➢ Safety Belt
➢ Baju Kerja
➢ Sarung Tangan
➢ Masker
➢ Kacamata Kerja
➢ Sepatu
➢ Kaus Kaki

Pekerja dengan standar alat keselamatan kerja

Secara umum, pemakaian alat keselamatan kerja berpengaruh positif dan


signifikan terhadap tingkat produktivitas karyawan/pekerja dalam proyek
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

pembangunan. Apabila alat standart keselamatan kerja tidak digunakan secara


optimal maka akan rentan terjadinya kecelakaan kerja dan akan berdampak pada
produktivitas kerja bahkan mengakibatkan cacat atau kematian bagi pekerja yang
mengalami kecelakaan kerja.

Akibat kecelakaan kerja terhada pekerja dan korban

Terhadap Proses Produksi

Terhadap Karyawan

BAB IV
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
Dari uraian mengenai berbagai aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada
penyelenggaraan konstruksi di Indonesia, dapat diambil kesimpulan bahwa berbagai
masalah dan tantangan yang timbul tersebut berakar dari rendahnya taraf kualitas
hidup sebagian besar masyarakat. Dari banyak pekerja konstruksi Indonesia, lebih
dari 50% di antaranya hanya mengenyam pendidikan maksimal sampai dengan
tingkat Sekolah Dasar. Mereka adalah tenaga kerja lepas harian yang tidak meniti
karir ketrampilan di bidang konstruksi, namun sebagian besar adalah para tenaga
kerja dengan ketrampilan seadanya dan masuk ke dunia jasa konstruksi akibat dari
keterbatasan pilihan hidup.
Permaslahan K3 pada jasa konstruksi yang bertumpu pada tenaga kerja
berkarakteristik demikian, tentunya tidak dapat ditangani dengan cara-cara yang
umum dilakukan di negara maju. Langkah pertama perlu segera diambil adalah
keteladanan pihak Pemerintah yang mempunyai fungsi sebagai pembina dan juga
“the biggest owner.” Pihak pemilik proyek lah yang memiliki peran terbesar dalam
usaha perubahan paradigma K3 konstruksi. Di samping itu, hal yang terpenting
adalah aspek sosialisasi dan pembinaan yang terus menerus kepada seluruh
komponen dalam Jasa Konstruksi seperti manajement perusahaan dan pekerja,
karena tanpa program-program yang bersifat partisipatif, keberhasilan penanganan
masalah K3 konstruksi tidak mungkin tercapai.

IV.2 Saran
Berkaitan dari hasil pembuatan makalah ini yang membahas bahwa
pemakaian alat keselamatan kerja mampu mempengaruhi secara signifikan tingkat
produktivitas karyawan/pekerja dan terbantahnya anggapan bahwa produktivitas
kerja akan lebih tinggi jika karyawan/pekerja bekerja dengan tanpa menggunakan
alat keselamatan kerja, maka hendaknya:
1. Pekerja menyadari bahwa pemakaian alat keselamatan kerja memiliki
peranan penting bagi keselamatan kerja dan peningkatan produktivitas kerja.
Teknik Sipil Universitas Sriwijaya Eka
Wijaya

2. Pihak manajemen proyek diharapkan dapat mengupayakan agar para


pekerja/karyawan dengan sukarela sadar untuk menggunakan alat
keselamatan kerja saat bekerja.