Anda di halaman 1dari 27

RHINITIS ALERGI

Pembimbing :
Prof. Mulyardjo, dr, Sp.THT

Penyusun :
Winda Eka Permatasari
2007.04.0.0021

DEFINISI
Von Pirquet,Peradangan mukosa hidung
yang disebabkan oleh reaksi alergi yg
sebelumnya sudah tersensitisasi dg alergen
yg sama serta dikeluarkanny mediator kimia
ketika terjadi paparan ulang

WHO, Kelainan pada hidung ditandai bersin-
bersin, rinore, gatal, dan tersumbat setelah
terpapar alergen yg diperantarai IgE



EPIDEMIOLOGI

Prevalensi rhinitis alergi berkisar 4 40%
Ada kecenderungan peningkatan prevalensi
rhinitis alergi di AS dan di seluruh dunia
Penyebab belum bisa dipastikan, tetapi
nampaknya ada kaitan dengan meningkatnya
polusi udara, populasi dust mite, kurangnya
ventilasi di rumah atau kantor, dll.
JENIS ALERGEN
Berdasarkan cara masuknya alergen :
Alergen inhalan (merupakan alergen utama) : debu
rumah, tungau, jamur, bulu binatang
Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna
berupa makanan : susu, telur, coklat, ikan laut,
udang, kepiting, kacang-kacangan.
Alergen injektan, yang masuknya melalui suntikan
atau tusukan : penisillin dan sengatan lebah
Alergen Kontaktan, yang masuknya melalui kontak
kulit atau jaringan mukosa : bahan kosmetik,
perhiasan.
KLASIFIKASI
Dahulu rhinitis alergi dibedakan dalam 2 macam
berdasarkan sifat berlangsungnya, yaitu :
1. Seasonal allergic rhinitis (SAR)
terjadi pada waktu yang sama setiap tahunnya :
musim bunga, banyak serbuk sari beterbangan
2. Perrenial allergic rhinitis (PAR)
terjadi setiap saat dalam setahun, penyebab utama
: debu, animal, jamur, kecoa


Klasifikasi rhinitis alergi menurut
guideline ARIA (2001)

ARIA : Allergic Rhinitis and its Impact
on Asthma


1. Berdasarkan lamanya terjadi gejala




Klasifikasi Gejala dialami selama
Intermiten kurang dari 4 hari seminggu, atau kurang dari 4 minggu
setiap saat kambuh
persisten lebih dari 4 hari seminggu, atau lebih dari 4 minggu setiap
saat kambuh
2. Berdasarkan Keparahan dan kualitas
hidup
Klasifikasi Gejala dialami selama
ringan tidak mengganggu tidur, aktivitas harian,
olahraga, sekolah,
atau pekerjaan
tidak ada gejala yang mengganggu
sedang sampai
berat
mengganggu tidur, aktivitas harian olahraga,
sekolah,
atau pekerjaan terganggu,
ada gejala yang mengganggu
PATOGENESIS
Komponen :
1. Alergen
2. Immunoglobulin (IgE)
3. Mastosit (sel mast)
4. Eosinofil


Pada SAR : sneezing, runny nose, watery & itchy eyes
Pada PAR : nasal congestion, post-nasal drip

gejala lambat berlangsung setelah fase cepat sampai 24
jam . Bila paparan alergen berlangsung terus kronis
GEJALA

Bersin berulangkali
Hidung berair
(rhinorrhea)
Tenggorokan, hidung,
kerongkongan gatal
Mata merah, gatal, berair
DIAGNOSIS
Anamnesis
Bersin > 5x (tiap serangan)
Rinore (ingus, bening, encer)
Gatal hidung, tenggorok, langit-langit, telinga
Hidung tersumbat (menetap atau berganti)
Hiposmia/anosmia
Faktor pemicu (kontak dengan alergen)


Anamnesa (gejala subjektif)
batuk kronis
Frekuensi serangan, berat penyakit,
Lama sakit, intermitten, persisten
Pengaruh terhadap kegiatan sehari-hari
Anamnesa lain :
Manifestasi penyakit alergi lain
Riwayat atopi keluarga
Riwayat terapi
Pemeriksaan Fisik
Mukosa konka pucat/kebiruan, odem,
sekret encer bening
Mata kemerahan dengan hiperlakrimasi
Pada anak :alergi shiner, allergic salute
Dinding faring posterior kasar akibat
sekret hidung yang mengalir pada
tenggorok (post nasal drip)
Pemeriksaan penunjang
1. Jika diperlukan, lakukan test : skin test/skin prick
test atau RAST (Radioallergosorbent test)

Cara skin test
Menyuntikkan ekstrak alergen (senyawa test)
secara subkutan kulit digores dengan jarum
steril, ditetesi senyawa alergen tunggu reaksinya
2. IgE serum spesifik dan IgE serum total
3. Eosinofil darah dan sekret hidung
TERAPI
1. Menghindari alergen
2. Medikamentosa
3. Imunoterapi
4. Pembedahan

Tujuan Terapi
Mengurangi secara maksimal gejala
rhinitis
Mencegah komplikasi
Tata laksana terapi
1. Menghindari pencetus (alergen)

Amati benda-benda apa yang menjadi pencetus
(debu, serbuk sari, bulu binatang, dll). Jika perlu,
pastikan dengan skin test
Jaga kebersihan rumah, jendela ditutup, hindari
kegiatan berkebun. Jika harus berkebun, gunakan
masker wajah
2. Menggunakan obat untuk mengurangi
gejala
Antihistamin
Dekongestan
Kortikosteroid nasal
Sodium kromolin
Ipratropium bromida
Leukotriene antagonis

3. Imunoterapi : terapi desensitisasi
Obat-obatan yang digunakan
Anti Histamin
Anti histamin adalah medicamentosa
utama untuk terapi penyakit alergi
Efek : menghilangkan bersin dan rinore
tetapi kurang efektif untuk buntu hidung



Anti histamin generasi I :

Short acting
Efek sedasi ok dapat menembus sawar otak
Ikatan tidak spesifik juga mengikat
reseptor cholinergic (muscarinic) mulut
kering, takikardi, konstipasi
Obat : CTM, dipenhidramin, tripolidin


Anti histamin generasi II dan III :
Long acting
Lebih spesifik terhadap reseptor H1
mengurangi ESO
Anti inflamasi yang kuat ok menghambat
lepasnya berbagai mediator inflamasidari
jaringan dan sel darah
Contoh :loratadin, terfenadin, setrizin
desloration, levosetirizin
DECONGESTAN
Bermanfaat untuk RA dengan gejala buntu hidung
yang menonjol
Golongan simpatomimetik vasokonstriksi,
menciutkan mukosa yang membengkak, dan
memperbaiki pernafasan
Bentuk topikal lebih efektif mengatasi buntu hidung
Penggunaan agen topikal yang lama (lebih dari 3-5
hari) dapat menyebabkan rinitis medikamentosa, di
mana hidung kembali tersumbat akibat vasodilatasi
perifer batasi penggunaan
Ex : efedrin, pseudoefedrin
ES oral: gelisah, insomia, mudah marah
KI : penyakit jantung, HT, DM, penyakit tiroid
KORTIKOSTEROID INTRANASAL
Sangat efektif mencegah timbulnya
gejala nasal pada RA baik pada early
dan late onset
Anti inflamasi lokal yang kuat
Terapi lini1 untuk RA
musiman/intermitten maupun
persisten/perineal terutama kategori
sedang atau berat
Contoh : momentason furoat, fluticason
propionate




TERIMA KASIH