Anda di halaman 1dari 13

INDONESIA DALAM ASEAN

Makalah Ini Disusun guna Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Kerjasama Internasional
Dosen: Anik Widiastuti, M. Pd. dan Dr. Taat Wulandari, M. Pd.











Disusun oleh:
Dyah Larasati (11416241011)
Dyah Nur Adiani (11416241016)
Vivi Novita Indah Sari (11416241018)
Dimas Indi Pramudita (11416241026)
Tectona Hangger Waluyo (11416241031)
Indri Hermaini (11416241036)
Anton Kurniawan (11416241040)
Andika Rahmat K. (11416241046)
Puji Lestari (11416241048)


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dunia ini banyak terdapat organisasi-organisasi bentukan dari
beberapa negara dalam regional tertentu, dan organisasi tersebut mayoritas
bertujuan sebagai wadah kerjasama dari negara-negara anggotanya. Seperti
kita tahu, negara sama halnya dengan individu, tidak akan dapat hidup sendiri
tanpa adanya kerjasama dengan negara lain. Kerjasama akan membantu suatu
negara dalam mengatasi permasalahan negaranya baik dalam bidang ekonomi,
politik, sosial, maupun di bidang lain. Hal inilah yang kemudian mendorong
terjadinya kerjasama internasional yang dilaksanakan berbagai negara.
ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) adalah salah satu
asosiasi yang dapat dijadikan contoh. ASEAN merupakan asosiasi yang
terbentuk dari lima negara Asia Tenggara, yang hingga kini berkembang
menjadi 10 negara dan Indonesia adalah salah satunya. Awalnya, ASEAN
terbentuk karena kelima negara berkeinginan menciptakan perdamaian dan
keamanan di kawasan Asia Tenggara. Namun dalam perkembangannya
ASEAN juga berkembang dalam bidang ekonomi, sosial, maupun budaya.
Indonesia memiliki beberapa peranan besar dalam ASEAN. Selain itu,
banyak manfaat yang diperoleh Indonesia saat mengikuti organisasi ini.
Namun demikian, terdapat hal-hal yang dapat menjadi ancaman bagi
Indonesia, antara lain di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Ketiga hal pokok
tersebut akan dijelaskan dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana peranan Indonesia dalam ASEAN?
2. Apa saja manfaat yang diperoleh Indonesia saat mengikuti ASEAN?
3. Apa saja ancaman bagi Indonesia saat mengikuti ASEAN?


3

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui peranan Indonesia dalam ASEAN.
2. Untuk memahami manfaat yang diperoleh Indonesia saat mengikuti
ASEAN.
3. Untuk mengetahui ancaman bagi Indonesia saat mengikuti ASEAN.


4

BAB II
PEMBAHASAN

A. Peran Indonesia dalam ASEAN
Indonesia memiliki beberapa peranan besar dalam organisasi ASEAN,
antara lain:
1. Sebagai Pelopor Berdirinya ASEAN
Keaktifan Indonesia dalam ASEAN (Asociaton of South East
Asian Nation) yang merupakan organisasi regional di kawasan Asia
Tenggara, tidak terlepas dari kemantapan Indonesia untuk mempraktikan
prinsip Bebas-Aktif yang telah dicanangkan. Berangkat dari landasan
konstitusional politik luar negeri Indonesia, yakni UUD 1945, Indonesia
berusaha mewujudkan perannya untuk melaksanakan ketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian yang abadi dan keadilan
sosial, sebagaimana tercantum pada pembukaan UUD 1945.
Peran aktif Indonesia juga memiliki prinsip-prinsip dasar yang
khas, yakni anti-kolonialisme, menjunjung persamaan/kesedarajatan antar
bangsa-bangsa di dunia, kepentingan nasional, dan penyelesaian-
penyelesaian multilateral dan institusional terhadap masalah-masalah
global (Ikrar Nusa Bhakti, 1997:31). Dalam memperjuangkan kepentingan
nasionalnya, Indonesia menapakkan langkah untuk menjadi salah satu
pemrakarsa terciptanya hubungan baik antara negara-negara di Asia
Tenggara. Kepercayaan diri Indonesia akan kemampuan Indonesia sebagai
negara terbesar di kawasan Asia Tenggara ditinjau dari luas wilayah dan
jumlah penduduknya, sumber daya alam, posisi geopolitik yang strategis
dan tradisi budaya dan warisan sejarah menjadi modal Indonesia untuk
bertindak sebagai salah satu negara terpenting di Asia Tenggara (Ikrar
Nusa Bhakti, 1997:33).
ASEAN merupakan sebuah organisasi dari negara-negara di
kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967
melalui Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura
5

dan Thailand. Menurut Hendra Halwani (2002: 240), ASEAN memiliki
dua tujuan utama, yaitu:
a. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan
perkembangan kebudayaan melalui usaha bersama bagi masyarakat
bangsa Asia Tenggara yang makmur dan damai.
b. Meningkatkan cara kerja yang lebih efektif untuk mencapai daya guna
yang lebih besar dalam bidang pertanian, industry, dan perdagangan
internasional, serta meningkatkan taraf hidup rakyatnya. Hal-hal
tersebutlah yang mendorong Adam Malik untuk turut menjadi pelopor
berdirinya ASEAN.
Hal di ataslah yang mendorong Adam Malik (Menteri Luar Negeri
Indonesia kala itu) untuk turut mempelopori berdirinya ASEAN
(Luhulima, 1997: 227).
2. Sebagai Penyelenggara KTT ASEAN ke-1
KTT ini dilaksanakan di Bali pada tanggal 23-24 Februari 1976.
Salah satu kesepakatan yang dihasilkan KTT ASEAN I adalah
pembentukan Sekretariat ASEAN di Jakarta. Pada tanggal 7 Juni 1976
Indonesia ditunjuk sebagai tempat kedudukan Sekretariat Tetap ASEAN
dan sekaligus ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Pertama adalah Letjen.
H.R. Dharsono yang kemudian digantikan oleh Umarjadi Njotowijono.
Hal tersebut memberikan gambaran bahwa negara kita cukup berperan
besar dalam ASEAN.
3. Sebagai Penyelenggara KTT ASEAN ke-19
Pada KTT ASEAN ke 19 tanggal 17-19 November 2011, Indonesia
kembali menjadi tuan rumah. Salah satu catatan penting peran Indonesia
dalam ASEAN adalah kesepakatan Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia
Tenggara atau Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ).
Traktat yang sebelumnya sudah disusun di Bangkok, Thailand akhirnya
bisa diratifikasi selama Indonesia menjadi Ketua ASEAN. Melalui traktat
ini, negara-negara anggota berkewajiban untuk tidak mengembangkan,
memproduksi, atapun membeli, mempunyai atau menguasai senjata nuklir.
6

4. Indonesia Berperan dalam Menciptakan Perdamaian
Indonesia berusaha membantu pihak-pihak yang bersengketa untuk
mencari penyelesaian dalam masalah Indocina. Indonesia berpendapat
bahwa penyelesaian Indochina secara keseluruhan dan Vietnam khususnya
sangat penting dalam menciptakan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.
Pada tanggal 15-17 Mei 1970 di Jakarta diselenggarakan konferensi untuk
membahas penyelesaian pertikaian Kamboja. Dengan demikian Indonesia
telah berusaha menyumbangkan jasa-jasa baiknya untuk mengurangi
ketegangan-ketegangan dan konflik-konflik bersenjata di Asia Tenggara.
Indonesia banyak membantu negara-negara anggota ASEAN lain
yang sedang mengalami konflik. Indonesia pernah menjadi penengah
konflik antara Vietnam dan Kamboja. Konflik ini terjadi karena Vietnam
menduduki Kamboja. Indonesia menjadi penengah kedua belah pihak
sejak tahun 1987. Akhirnya, pada Konferensi Paris untuk Kamboja tahun
1991, Kamboja dan Vietnam menyepakati perjanjian damai.
Peran penting lainnya adalah saat Indonesia menjadi penengah
antara Pemerintah Filipina dan Moro National Front Liberation (MNLF).
Baik Pemerintah Filipina maupun MNLF sepakat untuk melakukan
pertemuan di Indonesia dan membuat perjanjian damai.
5. Pembentukan Komunitas ASEAN (ASEAN Community)
Pada KTT ASEAN ke-9 tanggal 7-8 Oktober 2003 di Bali,
Indonesia mengusulkan pembentukan Komunitas ASEAN (ASEAN
Community). Komunitas ini mencakup bidang keamanan, sosial-
kebudayaan, dan ekonomi.
6. Menjadi Tempat Peresmian ASEAN Forum
Pada bulan Agustus 2007 diresmikan ASEAN Forum 2007 di
Jakarta. Forum ini diselenggarakan untuk mendukung terwujudnya
Komunitas ASEAN 2015 diselenggarakan dalam rangka memperingati
hari jadi ASEAN ke-40.
7. Menjadi Negara Pemimpin ASEAN
7

Pada tahun 2004, Indonesia menjadi negara yang memimpin
ASEAN. Selama memimpin, Indonesia menyelenggarakan serangkaian
pertemuan. Diantara pertemuan itu adalah Pertemuan Tingkat Menteri
ASEAN (ASEAN Ministerial Meeting), Forum Kawasan ASEAN (ASEAN
Regional Forum), Pertemuan Kementerian Kawasan mengenai
penanggulangan berbagai masalah yang terjadi, dan beberapa pertemuan
lainnya.
8. Menjadi Tuan Rumah Pertemuan Khusus Pasca Gempa Bumi
dan Tsunami
Pada Januari 2005, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan
khusus pasca gempa bumi dan tsunami. Pertemuan ini bertujuan untuk
membicarakan tindakan-tindakan mengatasi bencana tsunami pada 26
Desember 2004. Negara ASEAN yang terkena tsunami adalah Indonesia,
Thailand, dan Malaysia.
9. Indonesia Berperan dalam Pembentukan Beberapa Perjanjian dan
Modalitas di ASEAN
Indonesia juga memiliki peran penting dalam pembentukan
beberapa perjanjian dan modalitas di ASEAN, antara lain Declaration on
Zone of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN,1971), ASEAN
Concord (1976), ASEAN Declaration on South China Sea (1992), ASEAN
Regional Forum (ARF,1995) dan ASEAN Community (2003).
10. Mempromosikan Suatu Bentuk Kehidupan Masyarakat Regional di Asia
Tenggara
Indonesia juga telah mempromosikan suatu bentuk kehidupan
masyarakat regional di Asia Tenggara yang menjunjung tinggi nilai-nilai
saling menghormati, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain,
penolakan penggunaan kekerasan serta konsultasi dan mengutamakan
konsensus dalam proses pengambilan keputusan.
11. Memperjuangkan Demokratisasi, Penghormatan serta Penegakan HAM
Indonesia merupakan Negara yang memperjuangkan
dimasukkannya elemen-elemen penting, seperti demokratisasi dan
8

penghormatan serta penegakan HAM dalam kerjasama politik dan
keamanan yang kemudian dituangkan dalam Piagam ASEAN dan cetak
biru kerjasama politik dan keamanan.
12. Tempat Pembuatan Pupuk se-ASEAN
Indonesia menjadi tempat pembuatan pupuk se-ASEAN, tepatnya
di Aceh yang nantinya akan digunakan negara-negara ASEAN, otomatis
Indonesia mendapatkan keuntungan dan juga bisa mengurangi
pengangguran di Indonesia.
13. Peran Indonesia dalam Konteks Perdagangan Barang di ASEAN
Dalam konteks perdagangan barang, Indonesia masih memiliki
peran besar di ASEAN. Kontribusi tenaga kerja Indonesia unskilled labor
dan skilled labor di ASEAN sangat besar. Sebagai negara periferi,
Indonesia mengurusi bagian manufacture hardware yang padat karya,
sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja murah yang tidak terlalu
terampil.

B. Manfaat Indonesia Mengikuti ASEAN
Terdapat beberapa manfaat (keuntungan) bagi Indonesia dengan
meratifikasi Piagam ASEAN, yaitu:
Pertama, terjaminnya integritas wilayah dan kedaulatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, terutama untuk menghindari penggunaan
wilayah-wilayah negara-negara anggota ASEAN untuk kegiatan yang dapat
membahayakan Indonesia.
Kedua, berkurangnya potensi ancaman dan kejahatan lintas negara,
baik dalam bentuk tradisional maupun nontradisional, melalui kerja sama yang
lebih intensif antarnegara anggota ASEAN.
Ketiga, terciptanya situasi kawasan yang lebih kondusif bagi Indonesia
untuk mengonsentrasikan sumber dayanya guna peningkatan pembangunan
nasional.
Keempat, terciptanya penguatan kapasitas ekonomi Indonesia dalam
berintegrasi ke ekonomi global dengan meningkatkan daya tarik ekonomi
9

ASEAN melalui penciptaan pasar tunggal dan berbasis produksi (single
market and production base).
Kelima, terciptanya peningkatan kesadaran dan penghormatan
masyarakat di kawasan akan keanekaragaman budaya, kearifan lokal, dan
warisan Indonesia.
Keenam, terciptanya peningkatan kerja sama di berbagai bidang sosial,
antara lain, pengelolaan lingkungan hidup, pendidikan, ilmu pengetahuan dan
teknologi, pemuda, perempuan, kesehatan, serta penanganan bencana alam.
Ketujuh, terpusatnya kegiatan ASEAN di Indonesia seiring dengan
peningkatan fungsi kelembagaan Sekretariat ASEAN dan pembentukan
Perutusan Tetap Negara-Negara Anggota ASEAN di Jakarta melalui
peningkatan frekuensi pertemuan ASEAN yang diadakan di Jakarta
(http://www.academia.edu/7085020/Manfaat_Asean_Untuk_Indonesia_dan_A
sia_Tenggara).
Selain hal di atas, Leo Suryadinata (1998:83) juga mengungkapkan
bahwa ASEAN merupakan fondasi politik luar negeri Indonesia yang penting
bagi terciptanya stabilitas dan keamanan Indonesia. Dengan eksistensi
ASEAN, maka negara-negara di Asia Tenggara yang menjadi anggotanya,
termasuk Indonesia mampu berkembang tanpa campur tangan kekuatan-
kekuatan besar di luar kawasan.

C. Ancaman bagi Indonesia dalam Mengikuti ASEAN
Keikutsertaan Indonesia dalam ASEAN memang memberikan banyak
manfaat, namun di sisi lain hal ini dapat menimbulkan ancaman bagi
Indonesia, seperti:
1. Indonesia Kembali Dijajah
Indonesia berpotensi kembali 'dijajah' oleh negara lain ketika
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai berlaku pada 2015. Yang
dimaksud dalam hal ini adalah penjajahan di bidang ekonomi. Pasalnya,
80 persen pengangguran di tanah air berpendidikan rendah. Jelas berbeda
apabila dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang sebagian besar
10

penganggurannya lulusan SMA dan perguruan tinggi. "Mereka akan
mendesak di MEA nanti menggunakan standar Bahasa Inggris, ucap
Pengamat Ekonomi Hendri Saparini (www.merdeka.com).
2. Rakyat Kecil Menjadi Sasaran Kesengsaraan
Seperti dilansir www.merdeka.com, lembaga swadaya Indonesia
for Global Justice (IGJ) menuding pemerintah tidak memiliki strategi dan
rencana yang tepat untuk melindungi kepentingan petani, nelayan, buruh,
dan pedagang tradisional, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN yang mulai efektif tahun 2015.
Hal tersebut berpotensi mendorong hilangnya akses rakyat
terhadap sumber daya alam dan tingginya angka kemiskinan di pedesaan.
Direktur Eksekutif IGJ, Riza Damanik menyatakan, nelayan, petani,
buruh, maupun pedagang pasar tradisional adalah kelompok paling
dirugikan atas pemberlakuan MEA tahun depan. Alasannya, pemerintah
tidak memiliki strategi dan rencana aksi yang melibatkan petani, buruh,
nelayan, dan pedagang tradisional.
3. Terancamnya Pengusaha Kecil
Chief Executive Officer CIMB Group, Nazir Razak mengatakan,
kebijakan MEA bisa membunuh usaha kecil menengah (UKM) di ke-10
negara anggota ASEAN. Tapi, itu hanya akan menimpa pengusaha yang
tidak siap. Bila mau menangkap peluang, Nazir yakin pengusaha kecil
menengah bakal diuntungkan karena bisa bebas melakukan ekspansi ke
seluruh Asia Tenggara (www.merdeka.com).
4. Industri Perbankan Kalah Bersaing
Ketua Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas), Sigit
Pramono menilai perbankan nasional dinilai belum siap untuk menghadapi
era keterbukaan ekonomi di ASEAN pada 2015. Menurutnya, perbankan
nasional masih perlu meningkatkan tata kelola perusahaan yang baik atau
Good Corporate Governance ((GCG). Misalnya, sering di dalam hal yang
menyangkut kesepakatan internasional termasuk di ASEAN, Indonesia
selalu menjadi negara yang tidak siap (www.merdeka.com).
11

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Indonesia memiliki beberapa peranan besar dalam organisasi ASEAN,
antara lain: sebagai pelopor berdirinya ASEAN, sebagai penyelenggara KTT
ASEAN ke-1 dan ke-19, berperan dalam menciptakan perdamaian, pengusul
terbentuknya Komunitas ASEAN (ASEAN Community), menjadi tempat
peresmian ASEAN Forum, menjadi Negara pemimpin ASEAN, menjadi tuan
rumah pertemuan khusus pasca gempa bumi dan tsunami, berperan dalam
pembentukan beberapa perjanjian dan modalitas di ASEAN, mempromosikan
bentuk kehidupan masyarakat regional di Asia Tenggara, memperjuangkan
demokratisasi, penghormatan serta penegakan HAM, tempat pembuatan
pupuk se-ASEAN, serta peran Indonesia dalam konteks perdagangan barang
di ASEAN.
Dalam mengikuti organisasi ini, Indonesia memperoleh banyak
manfaat di berbagai bidang, seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Namun
demikian, terdapat beberapa ancaman yang dapat merugikan Indonesia, antara
lain: Indonesia kembali dijajah, rakyat kecil menjadi sasaran kesengsaran,
terancamnya pengusaha kecil, dan industry perbankan akan kalah saing.

B. Saran
Setiap Negara perlu mengadakan kerjasama dengan Negara lain untuk
memperoleh keuntungan (manfaat) dari hal tersebut. Salah satu cara untuk
membangun kerjasama yaitu dengan mengikuti organisasi internasional,
seperti ASEAN. Bagi Indonesia sendiri, keikutsertaannya dalam ASEAN tidak
hanya untuk meningkatkan stabilitas ekonomi, sosial, budaya, politik,
pertahanan, dan keamanan, juga dapat mempertahankan eksistensinya di mata
internasional.
Dalam mengikuti organisasi tersebut, pemerintah Indonesia sebaiknya
juga perlu memperhatikan berbagai ancaman yang kemungkinan muncul.
12

Langkah yang tepat untuk mengatasinya yaitu dengan cara memperbaiki
kualitas diri, agar tidak kalah saing dengan Negara anggota ASEAN lainnya.


13

DAFTAR PUSTAKA

Hendra Halwani. 2002. Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Ikrar Nusa Bhakti. 1997. Isu-Isu Strategis dalam Politik Luar Negeri. Jakarta:
Pusat Penelitian Pengembangan Politik Kewilayahan LIPI.
Leo Suryadinata. 1998. Hubungan Indonesia dengan Negara-Negara ASEAN:
Stabilitas Regional dan Peran Kepemimpinan, dalam Politik Luar Negeri
Indonesia di Bawah Soeharto. Jakarta: LP3ES.
Luhulima. 1997. ASEAN Menuju Postur Baru. Jakarta: Centre for Strategic and
International Studies.
Internet:
http://handikap60.blogspot.com/2013/01/perkembangan-asean-dan-peran-
indonesia.html. Diakses pada Tanggal 25 Mei 2014 Pukul 11.43 WIB.
http://sosbud.kompasiana.com/2013/07/01/peranan-indonesia-dalam-pbb-dan-
asean-573461.html. Diakses pada Tanggal 25 Mei 2014 Pukul 11:58 WIB.
http://www.parunten.com/2014/04/13/menakar-integrasi-ekonomi-asia-tenggara-
aec-2015/. Diakses pada Tanggal 25 Mei 2014 Pukul 13.44 WIB.
http://www.kas.de/wf/doc/kas_3135-1442-20-30.pdf?110311094602. Diakses
pada Tanggal 25 Mei 2014 Pukul 14.22 WIB.
http://www.academia.edu/7085020/Manfaat_Asean_Untuk_Indonesia_dan_Asia_
Tenggara. Diakses pada Tanggal 25 Mei 2014 Pukul 10.00 WIB.
http://www.merdeka.com. Diakses pada Tanggal 25 Mei 2015 pukul 16.00

Anda mungkin juga menyukai