Anda di halaman 1dari 58

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial untuk mencapai kepuasan dalam
kehidupan, mereka harus membina hubungan inrerpersonal yang positif.
Hubungan interpersonal yang sehat terjadi jika individu yang terlibat saling
merasakan kedekatan sementara identitas pribadi tetap dipertahankan. Individu
juga harus membina hubungan saling tergantung, yang merupakan
kesimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam satu hubungan.
Jika manusia tidak membina hubungan interpersonal yang positif, maka
hubungan tersebut tidak berjalan dengan mulus. Sehingga terjadi kegagalan
dalam berinteraksi.
Kecenderungan meningkatnya angka gangguan mental dikalangan
masyarakat saatini dan yang akan datang akan terus menjadi masalah sekaligus
tantangan bagi tenagakesehatan khususnya profesi keperawatan.
Krisis multi dimensi telah mengakibatkan tekanan yang berat pada
sebagianbesar masayarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada
khususnya. Masyarakatyang mengalami krisis ekonomi tidak saja akan
mengalami gangguan kesehatanfisik, tetapi juga dapat mengalami gangguan
kesehatan mental yang pada akhirnyamenurunkan produktifitas kerja, kualitas
hidup secara nasional, negara telah danakan kehilangan satu generasi sehat
yang akan meneruskan perjuangan dan cita-cita bangsa.
Salah satu prilaku yang muncul pada gangguan mental adalah Isolasi
sosial.Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami
ataumerasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan
dengan oranglain tetapi tidak mampu membuat kontak
Salah satu bentuk kegagalan dalam berinteraksi dengan orang lain
adalah isolasi sosial.
2

Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok
mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan
keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu membuat kontak.
Upaya yang dilakukan oleh perawat diantaranya perventif, promotif,
kuratif, dan rehabilitative. Upaya perventif yaitu dengan mencegah kegawatan
agar tidak terjadi kerusakan komunikasi, upaya promotif yaitu memberikan
pendidikan kesehatan bagi keluarga tentang merawata pasien dengan isolasi
sosial dan mengetahui gejala awal dari menarik diri, upaya kuratif yaitu
kolaborasi dengan tim kesehatan untuk member pengobatan dan upaya
rehabilitative yaitu membantu klien dalam kegiatan sehari-hari dan dapat
kembali menjadi kehidupan yang normal.
Kasus isolasi sosial jika tidak segera ditangani dengan baik maka akan
menimbulkan masalah seperti halusinasi, curiga, deficit diri karena itulah peran
perawat sangatlah penting sebagai pelaksana asuhan keperawatan untuk pasien
dengan isolasi sosial.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan isolasi sosial dan
membandingkan asuhan keperawatan isolasi sosial secara teori
2. Tujuan Khusus
2.1 Memberikan gambaran aduhan keperawatan secara teori maupun
pada pasien dengan isolasi sosial
2.2 Mengetahui gambaran faktor pendukung dan penghambat dalam
asuhan keperawatan pada pasien dengan isolasi sosial

C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Dapat menjadi ssalah satu referensi bagi mahasiswa keperawatan
khususnya mahasiswa Stikes Bina Sehat PPNI Mojokerto

3

2. Manfaat Praktis
2.1 Perawat
Mengetahui bagaimana cara membuat asuhan keperawatan
yang komprehensif dan member perawatan yang optimal pada
pasien dengan isolasi sosial.
2.2 Institusi Pendidikan
Dijadikan contoh laporan kasus dalam melakukan asuhan
keperawatan pada psien dengan isolasi sosial.
2.3 Keluarga
Keluarga lebih mengetahui tanda dan gejala pasien dengan
isolasi sosial dan dapat mengetahui bagaimana cara merawat pasien
dengan isolasi sosial
4

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Isolasi Sosial
Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan
atau bahkan seorang sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain
disekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak, diterima, kesepian, dan tidak
mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain.
Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun
komunikasi dengan orang lain.
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yan g
terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan
perilaku maladaptive dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
sosial.
Isolasi sosial merupakan upaya menghindari komunikasi dengan
orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami
kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang
dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak
sanggup berbagi pengalaman.

B. Proses Terjadinya Masalah
Pola asuh
keluarga
Koping individu
tidak efektif
Gangguan tugas
perkembangan
Stress internal dan
eksternal
Misal: pada anak
yang
kelahirannya
tidak dikehendaki
akibat kegagalan
KB, hamil di luar
Misal: saat individu
menghadapi
kegagalan
menyalahkan orang
lain,
ketidakberdayaan,
Misal: kegagalan
menjalin
hubungan intim
dengan sesame
jenis atau lawan
jenis, tidak
Misal: stress
terjadi akibat
ansietas yang
berkepanjangan
dan terjadi
bersamaan dengan
5

nikah, jenis
kelamin y7ang
tidak diinginkan,
bentuk fisik
kurang menawan
menyebabkan
keluarga
mengeluarkan
komentar-
komentar yang
negative,
merendahkan,
menyalahkan
anak.
menyangkal tidak
mampu menghadapi
kenyataan dan
menarik diri dari
lingkungan, terlalu
tingginya self ideal
dan tidak mampu
menerima realitas
dengan rasa syukur.
mampu mandiri
dan
menyelesaikan
tugas, bekerja,
bergaul, sekolah
menyebabkan
ketergantungan
pada oranv tua,
rendahnya
ketahanan
terhadap berbagai
kegagalan.
keterbatasan
kemampuan
individu untuk
mengatasinya.
Ansietas terjadi
akibat berpisah
dengan orang
terdekatnya,
hilangnya
pekerjaan atau
orang yang
dicintai















Harga Diri Rendah Kronis
Isolasi Sosial
6

Menurut stuart Sundeen rentang respons klien ditinjau dari
interaksinya dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang
terbentang antara respons adaptif dengan maladaptive sebagai berikut:


Respon Adaptif Respon Maladaptif







Respons Adaptif:
Respons yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
kebudayaan secara umum serta masih dalam batas normal dalam
menyelesaikan masalah
1. Menyendiri : respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan
apa yang telah terjadinya di lingkungan sosialnya.
2. Otonomi : kemampuan individu untuk menentukan dan
menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan
sosial.
3. Bekerjasama : kemampuan individu yang saling membutuhkan satu
sama lain.
4. Interdependen : saling ketergantungan antara individu dengan oran lain
dalam membina hubungan interpersonal.
Respons Maladaptif:
Respons yang diberikan yang menyimpang dari norma sosial. Yang
termasuk respons maladaptive adalah:
1. Menarik diri : seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina
hubungan secara terbuka dengan orang lain
Menyendiri
Otonomi
Bekerjasama
Interdependen

Menarik diri
Ketergantungan
Manipulasi
Curiga
Merasa sendiri
Depedensi
Curiga
7

2. Ketergantungan : seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri
sehingga tergantung dengan orang lain.
3. Manipulasi : seseorang yang mengganggu orang lain sebagai
objek individu sehingga tidak dapat membina
hubungan sosial secara mendalam
4. Curiga : seseorang gagal mengembangkan rasa percaya
terhadap orang lain.

C. Penyebab
1. Faktor Predisposisi
1.1 Faktor Tumbuh Kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu, ada tugas
perkembangan yang harus dipenuhi dengan agar tidak terjadi
gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas perkembangan tidak
terpenuhi maka akan mengahambat fase perkembangan sosial yang
nantinya akan dapat menimbulkan masalah isolasi sosial.

1.2 Faktor Komunikasi dalam Keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung
terjadinya gangguan dalam hubungan sosial.dalam teori ini yang
termasuk dalam masalah berkomunikasi sehingga menimbulkan
ketidakjelasan yaitu suatu keadaan dimanaseorang anggota keluarga
menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersama atau
ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk
berhubungan dengan lingkungandiluar keluarga

1.3 Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial
merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam
hubungan sosial.hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah
dianut oleh keluarga dimana setiap anggota keluarga tidak produktif
8

seperti lanjut usia, penyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan
dari lingkungan sosialnya

1.4 Faktor Biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung
terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat
mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak,
misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam
hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti
atropi otak, serta perubahan ukurandan bentuk sel-sel dalam limbic
dan daerah kortikal.

1.5 Faktor predisposisi penyebab terjadinya perilaku menarik diri
(isolasi sosial) adalah kegagalan perkembangan yang dapat
mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya orang lain,
ragu takut salah, putus asa terhadap hubungan dengan orang lain,
menghindar dari orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan
dan merasa tertekan.

2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi atau stressor pencetus pada umumnya
mencakup peristiwa kehidupan yang menimbulkan stress seperti
kehilangan, yang memenuhi kemampuan individu berhubungan dengan
orang lain dan menyebabkan ansietas. Faktor pencetus dapat
dikelompokan dalam dua kategori yaitu sebagai berikut:
2.1 Stresor sosiokultural: stress yang dapat ditimbulkan oleh
menurunnya stabilitas unir keluarga dan berpisah dari orang yang
berarti.
2.2 Stresor psikologis: tututan untuk berpisah dengan orang terdekat
atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan.

9

3. Penilaian Terhadap Stressor
Rasa sedih karena suatu kehilangan atau beberapa kehilangan dapat
sangat besar sehingga individutidak mau menghadapi kehilangan di masa
depan, bukan mengambil resiko mengalami lebih banyak kesedihan.
Respon ini lebih mungkin terjadi jika individu mengalami kesulitan
dalam tugas perkembangan yang berkaitan dengan hubungan.

4. Sumber Koping
Sumber koping yang berhubungan dengan respon sosial
maladaptive adalah sebagai berikut:
4.1 Keterlibatan dalam hubungan keluarga yang luas dan teman
4.2 Hubungan dengan hewan peliaraan yaitu dengan mencurahkan
perhatian pada hewan peliaraan
4.3 Penggunaan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal
(misalnya: kesenian, music, atau tulisan)
Terkadang ada beberapa orang yang ketika ada masalah mereka
mendapat dukungan dari keluarga dan teman yang membantunya dalam
mencari jalan keluar, tetapi mengahadapinya dengan menyendiri dan
tidak mau menceritakan kepada siapapu, termasuk keluarga dan
temannya.

5. Mekanisme Koping
Individu yang mengalami respon sosial maladaptive menggunakan
berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi masalah ansietas.
Mekanisme tersebut berkaitan dengan dua jenis masalah hubungan yang
spesifik yaitu sebagai berikut:

5.1 Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian
antisocial:
10

5.1.1 Proyeksi merupakan keinginan yang tidak dapat di
toleransi, mencurahkan emosi kepada orang lain karena
kesalahan sendiri.
5.1.2 Spliting atau memisahkan merupakan kegagalan individu
dalam menginterpretasikan dirinya dalam menilai baik
buruk.
5.2 Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian ambang:
5.2.1 Spliting
5.2.2 Formasi reaksi
5.2.3 Proyeksi
5.2.4 Isolasi merupakan perilaku yang menunjukan pengasingan
diri dari lingkungan dan orang lain
5.2.5 Idealisasi orang lain
5.2.6 Merendahkan orang lain
5.2.7 Identifikasi proyeksi

Faktor presipitasi (pencetus) terjadinya perilaku menarik diri (isolasi
sosial) adalah dari faktor sosio-cultural karena menurunnya stabilitas
keluarga dan berpisah karena meninggal dan faktor psikologis seperti
berpisah dengan orang yang terdekat atau kegagalan orang lain untuk
bergantung, merasa tidak berarti dalam keluarga sehingga menyebabkan
klien berespons menghindar dengan menarik diri dari lingkungan

D. Tanda dan Gejala
Gejala Subjektif:
Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain
Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
Respons verbal kurang sangat singkat
Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
11

Klien merasa tidak berguna
Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidup
Klien merasa ditolak

Gejala Objektif:
Klien banyak diam dan tidak mau bicara
Tidak mengikuti kegiatan
Banyak berdiam diri di kamar
Klien menyendiri dan tidak mau berinteraksi dengan orang yang terdekat
Klien tampak sedih, ekspresi datar, dan dangkal
Kontak mata kurang
Kurang spontan
Apatis (acuh terhadap lingkungan)
Ekspresi wajah kurang berseri
Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
Mengisolasi diri
Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
Masukan makanan dan minuman terganggu
Retensi urin dan feses
Aktivitas menurun
Kurang energy (tenaga)
Rendah diri
Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin( khususnya pada posisi
tidur)






12

E. Pohon Masalah
Sensori persepsi : Halusinasi

Isolasi Sosial

Gangguan Konsep diri : HDR


















F. Diagnose Keperawatan
1. Isolasi Sosial
2. Harga Diri Rendah Kronis
3. Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi
4. Koping Keluarga Tidak Efektif
5. Koping Individu Tidak Efektif
6. Intoleran Aktivitas
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Malas beraktivitas
Deficit perawatan diri
Inefektif koping keluarga
Inefekfif Koping Individu
Harga diri rendah kronis
isolasi sosial
Perubahan persepsi sensori :
halusinasi
13

7. Defisit Perawatan Diri
8. Resiko Tinggi Mencederai Diri, Orang Lain, dan Lingkungan

G. Tindakan Keperawatan
1. Membina Hubungan Saling Percaya
2. Membantu Klien Menyadari Perilaku Isolasi Sosial
3. Melatih klien Cara-Cara Berinteraksi dengan Orang Lain secara Bertahap
4. Diskusikan dengan klien tentang kekurangan dan kelebihan yang dimiliki
5. Inventarisir kelebihan klien yang dapat dijadikan motivasi untuk
membangun kepercayaan diri klien dalam pergaulan
6. Ajarkan kepada klien koping mekanisme yang konstruktif
7. Libatkan klien dalam interaksi dan terapi kelompok secara bertahap
8. Diskusikan dengan keluarga pentingnya interaksi klien yang dimulai
dengan keluarga terdekat
9. Eksplorasi keyakinan agama klien dalam menumbuhkan sikap pentingnya
sosialisasi dengan lingkungan sekitar.















14

BAB III
TINJAUAN KASUS

Kasus
Klien Tn.N, 26 tahun, anak ke 2 dari 4 bersaudara (2 orang adik lain
ibu), dari keluarga Bpk. W dan ibu L (almarhum),Bpk.P menikah lagi sekitar
21 tahun yang lalu, bertempat tinggal di Jombang, agama Kristen protestan.
Klien masuk RS tanggal 09 November 2012, dengan keluhan utama pasien
sering menyendiri dan diam selama 5 bulan terakhir, tidak pernah berinteraksi
dengan orang lain. Sejak kecil, klien dianggap mengalami gangguan
jiwa,klien menganggap dirinya bodoh, selalu diejek dengan teman sebayanya
sehingga klien tidak mau di sekolahkan, dirumah selalu dikucilkan dan tidak
pernah diajak berkomunikasi, tidak mempunyai teman dekat,klien hanya
dekat dengan ibu kandungnya. Akibatnya klien sering menyendiri. Keluarga
merasa tidak mampu untuk merawat dan akhirnya membawa klien ke RSJ
dengan alasan mau diajak nonton film.
Selama di RSJ, ibu tiri klien tidak pernah menjenguk dan sekali- kali kakak
kandung klien datang ke RSJ, untuk membawa pakaian serta membayar biaya
obat- obatan tapi kakaknya tidak mengakui klien sebagai adiknya.
Dari hasil observasi didapat data bahwa rambut kotor dan bau, banyak kutu,
wajah lusuh, tatapan mata kosong, gigi kuning, tercium bau yang tidak enak,
bayak kotoran,pada hidung tidak terdapat sekret, telinga kotor, ada serumen,
kulit terlihat kotor, kuku panjang dan kotor, tidak memakai alas kaki. Gaya
bicara klien hati hati, bicara apabila ditanya, jawaban singkat. Klien sering
duduk sendiri dan banyak tidur. TD: 100/80 mmHg, N: 76x/menit, RR:
18x/menit, S: 37,1C, BB:48 kg ,TB:160 cm.





15

Pengkajian keperawatan kesehatan jiwa
Ruang rawat wisma sadewa , tanggal di rawat 09 november 2012 jam 11.10 WIB
I. IDENTITAS KLIEN
Nama : Tn.N
Umur : 26 th
Jenis kelamin : laki-laki
Pendidikan : -
Pekerjaan : -
Suku/bangsa : jawa/ Indonesia
Alamat : Jombang
No.CM : 63248
Tanggal pengkajian : 09 November 2012
Dx.medis : Isolasi Sosial

II. ALASAN MASUK
Pasien di bawa ke rumah sakit karena pasien sering menyendiri dan
diam selama 5 buan terakhir.

III. FAKTOR PREDISPOSISI
Sejak kecil, klien dianggap mengalami gangguan jiwa, diangap bodoh
sehingga klien tidak disekolahkan, dirumah selalu dikucilkan dan tidak pernah
diajak berkomunikasi, tidak mempunyai teman dekat, tidak ada anggota
keluarga yang dianggap teman dekat klien. Akibatnya klien sering menyendiri
dan melamun.

IV. FAKTOR PRESIPITASI
Adanya stress, akibat kematian ibu kandungnya.

V. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum : baik
Kesadaran : composmentis
16

GCS : 15 , E4V5M6
2. Vital sign :
TD : 100/80 mmhg
N : 76 x/mnt
S : 37,1
RR : 18 x/mnt
3.TB : 160 cm
BB : 48 kg
3. keluhan fisik
-
4. Pemeriksaan fisik head to toe
a. Kepala
Tidak ada lesi.
b. Rambut
rambut kotor dan bau, banyak kutu.
c. Mata
pandangan mata kosong
d. Hidung
tidak ada sekret.
e. Telinga
telinga kotor, ada serumen
f. Mulut dan gigi
Gigi kuning, bayak kotoran, tercium bau yang tidak enak . Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan pembesaran vena
jugularis.
g. Kulit
kulit terlihat kotor, kuku panjang dan kotor.




17

VI. Psikososial
1. Genogram





Keterangan
Laki laki
Perempuan
Ibu(alm)
Tn.A
--- tinggal serumah

2. Konsep diri
a. Citra tubuh
pasien merasa bahwa dirinya bodoh.
b. Identitas diri
mengakui bahwa dirinya seorang laki-laki
c. Peran diri
Pasien anak ke 2 dari 4 bersaudara (2 saudara berbeda ibu). Pasien tidak
mampu berinteraksi dengan orang lain.

d. Ideal diri
pasien menginginkan untuk bersekolah, namun selalu di ejek oleh teman
sebayanya.
e. Harga diri
Pasien merasa minder,dikarenakan tidak merasakan bangku sekolah,
merasa terasingkan, merasa bodoh dan tidak memiliki teman.
3. Hubungan sosial
18

Pasien mengatakan dekat dengan ibu kandungnya sebelum beliau
meninggal. Semenjak kepergian ibunya, pasien mengatakan tidak ada
orang yang dekat dengan pasien.
4. Spiritual
Menurut pasien, semua ini tidak adil bagi dirinya karena semua ini terjadi
pada dirinya.

VII. Status mental
1. Penampilan
Pasien terlihat kotor.
2. Pembicaraan
Nada bicara pelan, hampir tidak terdengar dan respon lambat saat diajak
bicara.
3. Aktivitas motorik
Pasien gugup ketika diajak interaksi dan mencoba untuk menghindar.
4. Alam perasaan
Pasien mengatakan perasaanya berubah-ubah, kadang sedih, takut, kuatir
ataupun senang.
5. Afek
Afek pasien afek tumpul, sulit berekspresi dan bereaksi dengan stimulus
yang kuat.
6. Interaksi selama wawancara
Pasien terlihat takut dan waspada,dan kontak mata kosong. Pasien lebih
sering merunduk ketika diajak interaksi, mencoba untuk menghindar.
7. Persepsi
Pasien tidak mengalami perubahan persepsi sensori.
8. Isi pikir
Pasien takut dengan semua orang, terutama otang tuanya.
9. Proses pikir
Pasien tidak mengalami proses pikir.
10. Tingkat kesadaran
19

Composmentis, orientasi tempat dan waktu dan orang baik.
11. Memori
Pasien tidak mengalami gangguan daya ingat jangka panjang ; pasien
mengingat jelas tentang kebersamaannya dengan ibunya.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Pasien hanya mampu berhitung sederhana.
13. Kemampuan penilaian
Pasien tidak mampu mengambil keputusan.

VIII. Mekanisme Koping
Pasien mengatakan apabila pasien mengalami masalah pasien lebih
suka di pendam sendiri daripada bercerita dengan orang lain.
IX. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Pasien mengalami masalah penolakan dari keluarganya, karena
dianggap bodoh oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya sehingga pasien
merasa di kucilkan.
20

POHON MASALAH
Pohon Masalah





























Kekerasan, resiko tinggi
Koping, keluarga
inefektif :
ketidakmampuan
keluarga merawat
klien
Harga diri rendah kronis
Intoleransi
aktivitas
Defisit perawatan
diri
Interaksi sosial, kerusakan
masalah utama
Perubahan sensori-
perceptual : pendengaran
Ketegangan peran
pemberi
perawatan
21

ANALISA DATA
Nama klien : Tn.A
No.Register : 63248 Dx.Medis : F 20.3

No. Hari/tgl/jam Data focus Masalah keperawatan TTD
1.













2.








Selasa, 09
November
2012












Selasa, 09
November
2012
Ds : keluarga
mengatakan pasien
sering menyendiri dan
diam selama 5 bulan
terakhir, tidak pernah
berinteraksi dengan
orang lain
Do : pasien sering
menyendiri, Pasien
tidak mau bercakap-
cakap dengan orang
lain.


Do: rambut kotor dan
bau, banyak kutu,
wajah lusuh, tatapan
mata kosong, gigi
kuning, tercium bau
yang tidak enak,
bayak kotoran,pada
hidung tidak terdapat
sekret, telinga kotor,
ada serumen, kulit
terlihat kotor, kuku
panjang dan kotor
Isolasi Sosial : Menarik
Diri












Defisit Perawatan Diri
(mandi dan
berdandan)

22

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama klien : Tn.A No.Register : 63248
Dx.Medis : F 20.3
No. Diagnosa Keperawatan Tanggal ditemukan Tanggal teratasi TTD
1

2


Isolasi Sosial : Menarik

Defisit perawatan diri
( mandi dan berdandan ).
09 November 2012

09 November 2012

-

-

















23

INTERVENSI KEPERAWATAN

No
Dx
Diagnosa
Keperawatan
PERENCANAAN
TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI
1. Isolasi social Pasien mampu :
1. Menyadari
penyebab isolasi
2. Berinteraksi
dengan orang lain.
Setelah 3 X pertemuan
pasien mampu :
1. Membina hubungan saling
percaya
2. Menyadari penyebab
isolasi social, keuntungan
dan kerugian berinteraksi
dengan orang lain.
3. Melakukan interaksi
dengan orang lain secara
bertahap.
SP 1 Pasien
1. Identifikasi penyebab
a. Siapa yang satu rumah dengan pasien?
b. Siapa yang dekat dengan pasien? apa
sebabnya?
c. Siapa yang tidak dekat dengan pasien dan
apa sebabnya?
2. Tanyakan keuntungan dan kerugian
berinteraksi dengan orang lain.
a. Tanyakan pendapat pasien tentang
24

kebiasaan berinteraksi dengan orang lain.
b. Tanyakan apa yang menyebabkan pasien
tidak ingin berinteraksi dengan orang lain.
c. Diskusikan keuntungan bila pasien
memiliki banyak teman dan bergaul akrab
dengan orang lain.
d. Diskusikan kerugian bila pasien hanya
mengurung diri dan tidak bergaul dengan
orang lain.
e. Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap
kesehatan fisik pasien.
3. Latih berkenalan
a. Jelaskan kepada Pasien cara berinteraksi
dengan orang lain.
25

b. Berikan contoh cara berinteraksi dengan
orang lain.
c. Berikan kesempatan pasien mempraktikan
cara berinteraksi dengan orang lain yang
dilakukan di hadapan perawat.

SP 2 Pasien
1. Evaluasi Sp 1
2. Latih berhubungan sosial secara bertahap
3. Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien.

SP 3 Pasien
1. Evaluasi Sp 1 dan 2
26

2. Latih cara berkenalan dengan 2 orang
atau lebih
3. Masukkan jadwal kegiatan pasien.
3.
Setelah tindakan
keperawatan,
keluarga dapat
merawat pasien
isolasi sosial.
Setelah 3 X pertemuan,
keluarga mampu:
1. Menjelaskan masalah
keluarga dalam merawat
pasien isolasi sosial
2. Menegerti penyebab isolasi
sosial
3. Memperagakan cara
merawat pasien isolasi
sosial
SP 1 Keluarga
1. Diskusikan masalah yang dialami keluarga
dalam merawat pasien
2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala
isolasi sosial yang dialami pasien beserta
proses terjadinya
3. Jelaskan cara-cara merawat pasien isolasi
sosial

SP 2 Keluarga
27

4. Mempraktikan cara
merawat pasien isolai sosial
5. Menyusun perencanaan
pulang bersama keluarga
1. Latih keluarga mempraktikan cara
merawat pasien dengan isolasi sosial
2. Latih keluarga melakukan cara merawat
langsung pada pasien isolasi sosial

SP 3 Keluarga
1. Bantu keluarga membuat jadwal aktivitas
dirumah termasuk minum obat
(perencanaan pulang)
2. Jelaskan tindakan tindak lanjut pasien
setelah pulang


28

STRATEGY PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : isolasi social
Pertemuan : 1
Tanggal : 09 November 2012
Jam : 13.00

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data subjektif:
Klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain.
Klien mengatakan orang-orang jahat dengan dirinya
Klien merasa orang lain tidak selevel.
Data objektif:
Klien tampak menyendiri
Klien terlihat mengurung diri
Klien tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial
3. Tujuan Umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
Khusus:
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien dapat menyebutkan penyebab isolasi social
29

c. Klien mampu menyebutkan keuntungan dan kerugian hubungan dengan
orang lain
d. Klien dapat melaksanakan hubungan social secara bertahap
e. Klien mampu menjelaskan perasaan setelah berhubungan dengan orang
lain
f. Klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan social
g. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
4. Tindakan Keperawatan
a. Membina hubungan saling percaya
b. Mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
c. Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan
orang lain.
d. Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian berinteraksi dengan
orang lain
e. Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
f. Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-
bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian
C. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Orentasi
a. Salam Terapeutik
Selamat Pagi pak! Perkenalkan nama saya L, biasa di panggil suster L,
saya mahasiswa STIKES BINA SEHAT PPNI Kab.Moker. Saya praktek
disini mulai dari hari ini sampai tanggal 23 Desember 2012 dari jam
08.00-14.00 WIB. Nama bapak siapa? Senang di panggil apa?
30

b. Validasi
Bagaimana perasaan ibu hari ini ?
c. Kontrak
Topik
Senang ya bisa berkenalan dengan bapak hari ini, bagaimana
kalau kita berbincang-bincang untuk lebih saling mengenal
sekaligus agar bapak dapat mengetahui keuntungan dan kerugian
berinteraksi dengan orang lain?
Waktu
berapa lama bapak punya waktu untuk berbincang-bincang
dengan saya? Bagaimana kalau 15 menit saja?
Tempat
di mana bapak mau berbincang-bincang dengan saya? Ya sudah...
di ruangan ini saja kita berbincang-bincang...
Tujuan
Agar bapak dengan saya dapat saling mengenal sekaligus bapak
dapat mengetahui keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan
kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
2. Fase kerja
bapak, kalau boleh saya tau orang yang paling dekat dengan bapak siapa?
Menurut bapak apa keuntungann berinteraksi dengan orang lain dan
kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain? Kalau bapak tidak tahu saya
akan memberitahukan keuntungan dari berinteraksi dengan orang lain yaitu
bapak punya banyak teman, saling menolong, saling bercerita, dan tidak
selalu sendirian. Sekarang saya akan mengajarkan bapak berkenalan.
Bagus... ibu dapat mempraktekkan apa yang saya ajarkan tadi.. bagaiman
31

kalau kegiatan berbincang-bincang dengan orang lain di masukkan kedalam
jadwal kegiatan harian?
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
1. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang tadi?
2. Evaluasi Objektif
coba bapak ceritakan kembali keuntungan berinteraksi dan
kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain?
b. Tindak Lanjut
tadi saya sudah menjelaskan keuntungan dan kerugian tidak
berinteraksi dengan orang lain dan cara berkenalan yang benar. Saya
harap bapak dapat mencobanya bagaimana berinteraksi dengan orang
lain!
c. Kontrak yang akan datang
Topik
baiklah... pertemuan kita cukup sampai disini. Besok kita akan
berbincang-bincang lagi tentang jadwal yang telah kita buat dan
mempraktekkan cara berkenalan dengan orang lain?
Waktu
berapa lama bapak punya waktu untuk berbincang-bincang
dengan saya besok? Bagaimana kalau 15 menit saja?
Tempat
di mana bapak mau berbincang-bincang dengan saya besok? Ya
sudah.Bagaimana kalau besok kita melakukannya disini saja?
32

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN
Masalah : isolasi social
Pertemuan : 2 ( dua )
Tanggal : 28 april 2012
Jam : 13 :00

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data subjektif:
Klien mengatakan malas berinteraksi
Klien mengatakan cepat lelah kalau banyak jalan
Data objektif:
Klien menyendiri di kamar
Klien tidak mau melakukan aktivitas di luar kamar
Klien tidak mau melakukan interaksi dengan yang lainnya
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial : Menarik diri
3. Tujuan
a. Klien dapat mempraktekkan cara berkenalan denagn orang lain
b. Klien memiliki keinginan untuk melakukan kegiatan berbincang-
bincang dengan orang lain


33

4. Tindakan Keperawatan
a. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
b. Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara
berkenalan dengan satu orang
c. Membenatu pasien memasukkan kegiatan berbincang-bincang dengan
orang lain sebagai salah satu kegiatan harian
B. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Orentasi
a. Salam Terapeutik
Selamat Pagi! masih ingat dengan saya? Benar bapak! saya suster L
b. Validasi
Bagaimana perasaan ibapak hari ini ? masih ingat dengan yang kemarin
saya ajarkan?
c. Kontrak
- Topik
sesuai dengan janji kita kemarin, hari ini kita akan
mempraktekkan bagaimana cara berkenalan dengan satu...
- Waktu sesuai dengan kesepakatan kita kemarin, kita akan
melakukannya selama 15 menit... bagaimana menurut bapak?
- Tempat
kesepakatan kita kemarin!! Kita akan melakukannya di teras depan...
apakah bapak setuju?
Tujuan
34

Agar bapak dengan orang lain dapat saling kenal
2. Fase kerja
sebelum kita berkenalan dengan orang lain, coba bapak
perlihatkan kepada saya bagaimana cara berkenalan dengan orang
lain? Hebat... bapak dapat melakukannya dengan baik... sekarang,
mari kita melakukannya dengan satu orang yang bapak belum
kenal!! Bagus... bapak dapat mempraktekkan dengan baik dan
sesuai dengan apa yang saya ajarkan.. bagaimana kalau kegiatan
berkenalan dengan orang lain yang baru dikenal di masukkan
kedalam jadwal kegiatan harian?
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi
1. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang
tadi?
Siapa nama orang yang bapak ajak berkenalan tadi?
2. Evaluasi Objektif
klien terlihat berkenalan dengan orang yang baru di
kenalnya sebanyak 1 orang
b. Tindak Lanjut
bapak, saat saya tidak ada bapak dapat melakukan hal seperti
yang bapak lakukan tadi dengan orang yang belum bapak kenal...
kemudian bapak ingat nama yang pernah bapak ajak kenalan atau
bisa bapak catat di buku saat berkenalan.
c. Kontrak yang akan dating
- Topik
35

baiklah... pertemuan kita cukup sampai disini. Besok kita akan
melakukan interaksi/ berkenalan dengan orang lain sebanyak 2
orang atau lebih?
- Waktu
berapa lama bapak punya waktu untuk interaksi dengan orang
lain? Bagaimana kalau besok kita melakukannya selama 15 menit?
- Tempat
di mana bapak bisa melakukannya besok? Ya sudah... bagaimana
kalau besok kita melakukannya di tempat ini lagi?...
selamat siang bapak!!!













36

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN ISOLASI SOSIAL

Masalah : ISOS ( ISOLASI SOSIAL )
Pertemuan : 3 ( tiga )
Tanggal : 09 November 2012
Jam : 08 : 00
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data subjektif:
- Klien mengatakan sudah dapat berinteraksi dengan orang lain
- Klien mengatakan sudah mengajak beberapa untuk berkenalan
Data objektif:
- Klien tampak sudah mau keluar kamar
- Klien dapat melakukan aktivitas di ruangan
2. Diagnosa Keperawatan
Isolasi Sosial : Menarik diri
3. Tujuan
- Klien mempu berkenalan dengan dua orang atau lebih
- Klien dapat memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian
4. Tindakan Keperawatan
a. mengevaluasi jadwal kegitan harian pasien
b. memberikan kesempatan pada klien berkenalan
37

c. menganjurkan pasien memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.
B. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Orentasi
a. Salam Terapeutik
Selamat Pagi Pak! masih ingat dengan saya? Benar bapak! saya suster
L.
b. Validasi
Bagaimana perasaan bapak hari ini ? masih ingat dengan yang
kemarin ibu lakukan?
c. Kontrak
- Topik
sesuai dengan janji kita kemarin, hari ini bapak akan melakukan
interaksi dengan orang lain sebanyak 2 orang atau lebih pada orang
yang tidak bapak kenal atau orang baru...
-Waktu
sesuai dengan kesepakatan kita kemarin, kita akan melakukannya
selama 15 menit... bagaimana menurut bapak?
-Tempat
kesepakatan kita kemarin!! Kita akan melakukannya di teras...
apakah bapak setuju?
-Tujuan
Agar bapak dengan orang lain dapat saling kenal dan mempunyai
teman yang banyak
1. Fase kerja
sebelum kita berkenalan dengan orang lain, coba bapak perlihatkan
kepada saya bagaimana cara berkenalan dengan orang lain? Hebat... bapak
38

dapat melakukannya dengan baik... sekarang, mari kita melakukannya
dengan orang lain yang bapak tidak kenal sebanyak 2 orang atau lebih!!
Bagus... bapak dapat mempraktekkan dengan baik dan mulai berkembang
dalam berinteraksi dengan orang lain.. bagaimana kalau kegiatan
berkenalan dengan orang lain yang baru dikenal di masukkan kedalam
jadwal kegiatan harian?
2. Fase Terminasi
a. Evaluasi
1. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang tadi?
Siapa-siapa saja nama orang yang bapak ajak berkenalan tadi?
2. Evaluasi Objektif
klien terlihat berkenalan dengan orang yang baru di kenalnya
sebanyak 3 orang
b. Tindak Lanjut
nah.. saat saya tidak ada, bapak dapat melakukannya hal seperti yang
ibu lakukan tadi dengan orang yang baru ibu kenal... kemudian bapak
ingat nama yang pernah bapak ajak kenalan atau bisa bapak catat di
buku saat berkenalan.
c. Kontrak yang akan dating
Topik
baiklah... pertemuan hari ini kita akhiri. Besok kita ulangi apa
yang telah kita pelajari dari kemarin ya pak.. apakah bapak
bersedia?
-Waktu
berapa lama bapak mau melakukannya? Bagaimana kalau besok
kita melakukannya selama 15 menit?
39

Tempat
di mana bapak bisa melakukannya besok? Baiklah kita
melakukannya di sini saja....selamat siang bapak!!!








40

STRATEGY PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN

Masalah : isolasi social
Pertemuan : ke 1 sp keluarga
Tanggal : 09 November 2012
Jam : 13 :00
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
Data subjektif:
Klien mengatakan malas berinteraksi dengan orang lain.
Klien mengatakan orang-orang jahat dengan dirinya
Klien merasa orang lain tidak selevel.
Data objektif:
Klien tampak menyendiri
Klien terlihat mengurung diri
Klien tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain.
2. Diagnosa Keperawatan:
Isolasi sosial: Menarik diri
TUK :
1. Klien dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga.
2. keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk
berhubungan dengan orang lain
TINDAKAN KEPERAWATAN
41

1. Kaji pengetahuan keluarga tentang perilaku menyendiri klien
2. Berikan pendidikan kesehatan kepada keluarga mengenai masalah
isolasi social , penyebab isolasi social, dan cara merawat pasien isolasi
social.
B. STRATEGY KOMUNIKASI
ORIENTASI
1. Salam terapeutik
Selamat pagi nama saya perawat L, saya yang merawat Tn.N, nama
bapak siapa dan bisa di pangil apa ?
2. Evaluasi
Bagaimana perasaan bapak hari ini ? bagaimana keadaan Tn.n saat ini?
3. Kontrak
Topik : Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang adik bapak
dan cara perawatannya?
Tempat : mau dimana kita berbincang bincang? Bagaimana kalau
diruang perawat?
Waktu : tidak lama kok pak, Cuma 10 menit saja
2. FASE KERJA
Apa masalah yang bapak hadapi dalam merawat Tn.N? apa saja yang
sudah di lakukan ?
Bagaimana kalau kita latihan untuk melakukan cara merawat Tn.N ?
Coba sekarang bapak peragakan cara berkomunikasi seperti saya
contohkan !! bagus, bapak telah memperagakan dengan baik.

42

3.TERMINASI
a. evaluasi subyektif
bagaimana perasaan anda setelah berbincang bincang?
b. evaluasi obyektif
bagaimana perasaan bapak setelah latihan tadi ? bapak sudah bagus
melakukanya.
d. tindak lanjut klien
mulai sekarang bapak sudah dapat melakukan cara merawat Tn.N, nanti kalau
bertemu dengan Tn.N, coba bapak praktekkan.

KONTRAK YANG AKAN DATANG
Bagaimana kalau tiga hari lagi kita bertemu untuk latihan langsung dengan Tn.N?
Tiga hari lagi, kita bertemu di sini ya pak,dalam jam yang sama. Selamat pagi!


















43

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAAN
PADA KLIEN ISOLASI SOSIAL

Masalah : isolasi social
Pertemuan : 2 sp keluarga
Tanggal : 12 November 2012
Jam : 09.00
A. Proses keperawatan
Kondisi klien : klien sudah mau di ajak berinteraksi, klien juga telah
mengetahui ke untugan berinteraksi dan kerugian tidak
berinteraksi. Klien tanpak tindak murung lagi
Diagnose keperawatan : isolasi sosial:menarik diri
TUK : - Keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk
berhubungan dengan orang lain
Tindakan keperawatan
1. Kaji cara pasien merawat pasien isolasi social
2. Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
berkomunikasi dengan orang lain
3. Latih keluarga mempraktikan cara merawat klien
4. Anjurkan anggota keluarga untuk cara rutin dan bergantian
mengunjungi klien minimal 1x seminggu.
5. Beri reinforcement atas hal- hal yang di capai keluarga






44

B. Strategi komunikasi
Orientasi
1. Salam terapeutik
selamat pagi, bapak masih ingat dengan saya? Benar sekali,saya perawat L
yang merawat adik bapak.
Evaluasi/ validasi
bagaimana perasaan bapak setelah pertemuan kemarin? Apakah bapak
masih ingat latihan cara merawat adik bapak seperti yang kita lakukan
kemarin?
2. Kontrak
Topic : baiklah,, bagaimana kalau kita praktikan langsung pada Tn.N ?
Waktu: baik, kita akan coba 30 menit.
Tempat : untuk tempatnaya, bagaimana kalau disini saja?

Kerja
selamat pagi Tn.N bagaimana perasaan bapak hari ini?
Kaka bapak datang menjenguk, ayo kita beri salam!! Bagus sekali.
Nah , sekarang bapak dapat mempraktikan apa yang sudh kita latihan
kemarin. ( perawat observasi tindakan keluarga )
Bagai mana perasaan Tn.N setelah berbincang- bincang dengan
kakanya?
baiklah, sekarang saya dan kakak Tn.N ke ruang perawat dulu.

Terminasi
1. Evaluasi subyektif
Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang bincang dengan Tn.N ?
45

2. Evaluasi subyektif
Mulai sekarang, bapak sudah dapat melakukan cara tersebut kepada klien .
Tindak lanjut
Baiklah, 3 hari lagi kita akan mendiskusikan tentang pengalaman bapak
merawat Tn.N.
Kontrak yang akan datang
Topic : Nanti, saya tunggu tiga hari lagi untuk mendiskusikan
pengalaman bapak merawat Tn.N.
Tempat : Bagaimana kalau tempatnya disini saja ?
Waktu : bagaimana kalau jam 13.00 wib








46

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK
SOSIALISASI SESSI 1-3

1. Pengertian
TAKS sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi
sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial (Budi Anna kelliat &
Akemat,2005)
2. Tujuan
Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara
bertahap
3. Tujuan Khusus
a. Klien mampu memperkenalkan diri
b. Klien mampu berkesahan dengan anggota kelompok
c. Klien mampu berinteraksi dengan anggota kelompok
d. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan
e. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi
dengan orang lain
f. Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosialisasi kelompok
g. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan
TAKS yang telah dilakukan
4. Indikasi
a. Klien menarik diri yang telah mulai melakukan isolasi interpersonal
b. Klien kerusakan komunikasi verbal yang telah berespon sesuai dengan
stimulus
5. Tempat Ruang Mawar Merah
6. Waktu pelaksanaan
a. Dilaksanakan selama 3 hari
b. Pelaksanaannya 1 hari 1 x pertemuan
c. Setiap pertemuan waktunya 45 menit
d. Setiap sessi 1 kali pertemuan
7. Metode
47

a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan tanya jawab
c. Bermain peran / simulasi
8. Evaluasi
a. Setiap selesai pertemuan dalam pelaksanaan masing-masing sessi
b. Setelah selesai pelaksanaan seluruh sessi
c. Menggunakan lembar observasi TAKS dan lembar respon tingkah laku
menarik diri
9. Pengorganisasian TAKS
a. Terapis
Peran dan fungsi
1) Leader : Citra Agustin
Tugas
Menyusun rencana TAKS
Mengarahkan kelompok dalam mencapai tujuan
Memotivasi dan memfasilitasi anggota untuk mengekspresikan
perasaan, mengajukan pendapat dan memberikan umpan balik
Sebagai role model
Menjelaskan jalannya permainan dan melakukan kontrak waktu
2) Co leader : Aliyatur Rofiah
Membantu leader dalam menggorganisasikan kelompok
Menghidupkan alat musik
3) Fasilitator : Arif Rahman P., Kholifatur Rosyida, Endy Eko A.
Membantu leader dalam memfasilitasi anggota kelompok untuk
berperan aktif dan memotivasi anggota
Memfokuskan kegiatan
Membantu menkoordinir anggota kelompok
Duduk di sela-sela pasien
Menghidupkan situasi permainan atau menyemangati pasien
dalam bermain
48

4) Observer : Meica Panca
Mengobservasi semua respon klien
Mencatat semua proses yang terjadi dan semua perubahan
prilaku klien
Memberikan umpan balik pada klien pada kelompok
Duduk tidak dilingkungan permainan/diluar
Mengevaluasi setiap keaktifan kelompok
Mengevaluasi tugas leader, co leader dan fasilitator
b. Nama klien yang mengikuti TAKS:
1. Tn. N
2. Tn. A
3. Tn. R
4. Ny. B
5. Ny. L
6. Tn.M
7. Ny. K
8. Ny. Y
9. Ny. U
c. Alat alat
Tape/hp/laptop, kertas, pulpel, bola











49

PEDOMAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI
SESSI I

SESSI I : memperkenalkan diri
A. TAKS Sesi 1
1. Tujuan
Klien mampu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap,
nama panggilan, asal, dan hobi.
2. Setting
a. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang .
3. Alat
a. Tape recorder
b. Kaset
c. Bola tennis
d. Buku catatan dan pulpen
e. Jadwal kegiatan klien
4. Metoda
a. Dinamika kelompok
b. Diskusi dan tanya jawab
c. Bermain peran/simulasi
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1) Memilih klien dengan indikasi yaitu menarik diri
2) Membuat kontrak dengan klien
3) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
b. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan:
1) Memberi salam terpaeutik: salam dari terapis.
2) Evaluasi/validasi: Menanyakan perasaan klien saat ini
3) Kontrak:
50

a) Menjelaskan tujuan kegiatan yaitu memperkenalkan diri.
b) Menjelaskan aturan main berikut :
(1). Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus
meminta ijin kepada terapis.
(2). Lama kegiatan 45 menit.
(3). Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
c. Tahap kerja
1) Jelaskan kegiatan, yaitu kaset pada tape recorder akan dihidupka
serta boala akan diedarkan.berlawanan dengan arah jarum jam
(yaitu ke arah kiri) dan pada saat tape dimatikan maka anggota
kelompok yang memegang bola memperkenalkan diri.
2) Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis
berlawanan dengan arah jarum jam .
3) Pada saat tape dimatikan anggota kelompok yang memegang boal
mendapat giliran untuk menyebutkan : salam, nama lengkap, nama
panggilan, hobi, dan asal, dimulai oleh terapis sebagai contoh.
4) Tulis nama panggilan pada kertas/papan nama dan tempel/pakai.
5) Ulangi tiga langkah terakhir samapai semua anggota kelompok
mendapat giliran.
6) Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan
memberi tepuk tangan.
d. Tahap terminasi
1) Evaluasi
a) Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok.
3) Rencana tindak lanjut
a) Menganjurkan tiap anggota kelompok melatih
memperkenalkan diri kepada orang lain di kehidupan sehari-
hari.
b) Memasukkan kegiatan memperkenalkan diri pada jadwal
kegiatan harian klien
51

4) Kontrak yang akan dating
a) Menyepakati kegiatan berikut yaitu berkenalan dengan anggota
kelompok.
b) Menyepakati waktu dan tempat
6. Evaluasi dan Dokumentasi
Format/lembar observasi TAKS sessi 1












52

PEDOMAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK : SOSIALISASI SESSI 2
Sessi 2 : Berkenalan dengan anggota kelompok

B. TAKS Sesi 2
1. Tujuan
Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok :
a. Memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, nama
panggilan, asal, dan hobi.
b. Menanyakan diri anggota kelompok lain : nama lengkap, nama
panggilan, asal, dan hobi.
2. Setting
a. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang.
3. Alat
a. Tape recorder.
b. Kaset.
c. Bola tennis.
d. Buku catatan dan pulpen.
e. Jadwal kegiatan klien.
4. Metode
a. Dinamika kelompok.
b. Diskusi dan tanya jawab.
c. Bermain peran/simulasi.
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1) Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada sesi 1
TAKS.
2) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
b. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan:
1) Memberi salam terpaeutik:
53

a) Salam dari terapis.
b) Peserta dan terapis memakai papan nama.
2) Evaluasi/validasi.
a) Menanyakan perasaan klien saat ini.
b) Menanyakan apakah telah mencoba memperkenalkan diri pada
orang lain.
3) Kontrak.
a) Menjelaskan tujuan kegiatan dengan anggota kelompok.
b) Menjelaskan aturan main berikut :
(1) Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok harus
meminta ijin kepada terapis.
(2) Lama kegiatan 45 menit.
(3) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.
c. Tahap kerja :
1) Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis
berlawanan dengan arah jarum jam.
2) Pada saat tape dimatikan anggota kelompok yang memegang bola
mendapat giliran untuk :
a) Menyebutkan : salam, nama lengkap, nama panggilan, hobi,
dan asal.
b) Menanyakan nama lengkap, nama panggilan, asal dan hobi
lawan bicara.
c) Dimulai oleh terapi sebagai contoh.
3) Ulangi langkah 1 dan 2 sampai semua anggota kelompok mendapat
giliran.
4) Hidupkan kembali kaset tape recorder dan edarkan bola. Pada saat
tape dimatikan, minta pada anggota kelompok yang memegangbola
untuk memperkenalkan anggota kelompok yang disebelah kanannya
kepada kelompok, yaitu : nama lengkap, nama panggilan, asal dan
hobi. Dimulai dari terapis sebagai contoh.
54

5) Ulangi langkah keempat sampai semua anggota kelompok mendapat
giliran.
6) Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok dengan
memberi tepuk tangan.
d. Tahap terminasi
1) Evaluasi.
a) Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok.
2) Rencana tindak lanjut.
a) Menganjurkan tiap anggota kelompok latihan berkenalan.
b) Memasukkan kegiatan memperkenalkan diri pada jadwal
kegiatan harian klien.
3) Kontrak yang akan datang.
a) Menyepakati kegiatan berikut yaitu bercakap cakap tentang
kehidupan pribadi.
b) Menyepakati waktu dan tempat.
6. Evaluasi dan Dokumentasi
Format / lembar observasi TAKS sessi 2













55

PEDOMAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK ; SOSIALISASI SESSI 3
Sessi 3 : kemampuan berinteraksi/bercakap-cakap dengan anggota kelompok.

c.TAKS Sesi 3
1. Tujuan
Klien mampu bercakap-cakap dengan anggota kelompok :
a. Menanyakan kehidupan pribadi kepada satu oarng anggota
kelompok yang lain.
b. Menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi.
2. Setting
a. Klien dan terapis duduk bersama dalam lingkaran.
b. Ruangan nyaman dan tenang.
3. Alat
a. Tape recorder.
b. Kaset.
c. Bola tennis.
d. Buku catatan dan pulpen.
e. Jadwal kegiatan klien.
4. Metoda
a. Dinamika kelompok.
b. Diskusi dan tanya jawab.
c. Bermain peran/simulasi.
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1) Mengingatkan kontrak dengan anggota kelompok pada sesi 2
TAKS.
2) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan.
b. Orientasi
Pada tahap ini terapis melakukan:
1) Memberi salam terapeutik:
a) Salam dari terapis.
56

b) Peserta dan terapis memakai papan nama.
2) Evaluasi/validasi.
a) Menanyakan perasaan klien saat ini.
b) Menanyakan apakah telah mencoba berkenalan dengan
orang lain.
3) Kontrak:
a) Menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu bertanya dan menjawab
tentang kehidupan pribadi
b) Menjelaskan aturan main berikut :
(1). Jika ada klien yang akan meninggalkan kelompok
harus meminta ijin kepada terapis.
(2). Lama kegiatan 45 menit.
(3). Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai
selesai.
c. Tahap kerja
1) Hidupkan kaset pada tape recorder dan edarkan bola tenis
berlawanan dengan arah jarum jam.
2) Pada saat tape dimatikan anggota kelompok yang memegang
bola mendapat giliran untuk bertanya tentang kehidupan
pribadi anggota kelompok yang ada disebelah kanan dengan
cara :
a) Memberi salam.
b) Memanggil panggilan.
c) Menanyakan kehidupan pribadi; orang
terdekat/dipercayai/disegani, pekerjaan.
d) Dimulai oleh terapi sebagai contoh.
3) Ulangi langkah 1 dan 2 sampai semua anggota kelompok
mendapat giliran.
4) Beri pujian untuk setiap keberhasilan anggota kelompok
dengan memberi tepuk tangan.
d. Tahap terminasi
57

1) Evaluasi.
a) Menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK.
b) Memberi pujian atas keberhasilan kelompok.
2) Rencana tindak lanjut.
a) Menganjurkan tiap anggota kelompok bercakap-cakap
tentang kehidupan pribadi dengan orang lain pada
kehidupan sehari-hari.
b) Memasukkan kegiatan bercakap-cakap pada jadwal
kegiatan harian klien.
3) Kontrak yang akan datang.
a) Menyepakati kegiatan berikut yaitu menyampaikan dan
membicarakan topik tertentu.
b) Menyepakati waktu dan tempat.
6. Evaluasi dan Dokumentasi






58


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Isolasi soaial merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang
terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan
perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan
social
Dalam pemberian asuhan keperawatan pada Tn. N terdapat beberapa
faktor pendukung dan juga faktor penghambat. Faktor pendukung dalam
pemberian asuhan keperawatan pada Tn. N adalah sikap pasien yang
kooperatif dan juga adanya kerjasama anatar penulis dan juga perawat
ruangan. Sedangkan faktor penghambatnya adalah terbatasnya dukungan
dari anggota keluarga.

4.2 Saran
Mahasiswa merupakan calon penerus perawat yang ada diruangan,
sehingga diharapkan mahasiswa agar mampu memanfaatkan waktu yang
ada pada saat praktik semaksimal mungkin, agar ilmu yang didapatkan
tidak hanya di ruang kelas, melainkan juga dilapangan, Pendidikan
keperawatan merupakan pencetak perawat-perawat dimasa depan,
hendaknya pihak pendidikan dapat memberikan banyak materi
pembelajaran dan praktik terkait perkembangan keperawatan jiwa yang
dirasakan semakin menjadi msalah kesehatan jiwa. Begitu juga dengan
literatur yang disediakan, agar buku-buku yang disediakan diperpustakaan
selalu diupgrade, sehingga sumber yang disediakan merupakan sumber
terbaru. Dalam hal pembuatan laporan kasus ini diharapkan menjadi
pertimbangan agar waktu pembuatan laporan kasus ini dapat
diperpanjang, agar pembuatan laporan kasus ini dapat dimanfaatkan
secara maksimal dengan hasil yang juga maksimal.