Anda di halaman 1dari 3

BAB III RESUME KASUS HALUSINASI DENGAR

BAB III
RESUME KASUS

Tn. S berumur 29 tahun, berjenis kelamin laki-laki, rumah klien di desa Gunung Kidul DIY, klien
beragama islam, pendidikan klien hanya sampai sekolah dasar dan klien belum menikah.
Penanggung jawab klien adalah Tn.G sebagai Paman dari Tn. S yang juga beragama islam. Pekerjaan
Tn. P adalah pedagang, dengan alamat di desa Gunung Kidul DIY.
Tn. S dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. Soeroyo Magelang 7 November 2010, jam 09.30 WIB di
ruang Unit Pelayanan Intensif. Tn. S masuk ruang P9 Wisma Gatotkaca pada tanggal 18 November
2010 jam 11.30 WIB dengan Nomor Register 2844884. Sebelumnya klien juga pernah masuk RSJ
pada tahun 2007. Saat ini klien di diagnosa oleh dokter yaitu F 20 (skizofren tak terinci).
Pada saat pengkajian pada tanggal 20 November 2011 sampai dengan tanggal 23 November 2011.
Pengkajian pertama didapatkan data subjektif sebagai berikut: klien mengatakan mendengar suara-
suara yang berisi ngapain kamu disini? Pulang saja! Percuma hidupmu sudah hancur, menurut
klien suara itu munculnya saat menjelang tidur dan saat klien menyendiri. Dalam satu hari suara-
suara itu munculnya lima sampai 10 kali sehingga klien merasa terganggu dengan suara itu. Namun
selain suara itu, ada suara yang menurut klien munculnya saat di kamar mandi. Menurut klien suara
itu mengajaknya bersetubuh. Menurut klien, klien sering melakukan onani karena suara itu
membuat nafsu seksualnya muncul. Menurut klien cara yang sudah dilakukan untuk mengusir
halusinasinya yaitu dengan menutup kedua telinganya. Namun suara itu masih tetap terdengar.
Selain itu klien juga mengatakan minder dan malu dengan tetangganya karena kondisi dirinya. Klien
mengatakan hidupnya tidak berguna lagi dan klien ingin cepat mati saja supaya tidak merepotkan
orang lain. Klien mengatakan jika waktu bisa diulang kembali, klien tidak akan menjadi preman dan
menurut dengan perintah ibunya. Klien mengatakan dirinya adalah orang yang paling bodoh dan
klien merasa orang yang paling jahat dan tidak patuh pada kedua orang tua. Tn. S mengatakan
sebelum masuk ke rumah sakit jiwa, dirumah klien sering berkelahi dengan ayahnya bahkan klien
juga sering mengamuk. Klien mengatakan pernah melakukan aniaya fisik terhadap dirinya yaitu
dengan membentur-benturkan kepalanya di tembok, serta menyayat tangan kanannya. Selain itu
klien mengatakan bahwa ia pernah memperkosa saudara sepupunya. Data objektif : suhu 36,5 o C,
nadi : 84 X/ menit, tekanan darah : 110/80 mmHg, RR : 20X/ menit, berat badan : 60 Kg, tinggi badan
: 165 cm. Saat klien menyendiri klien sering seperti mendengarkan dengan memusatkan telinga
pada suatu arah. Klien tampak sering melamun, klien modar-mandir, saat beraktivitas mulut klien
komat-kamit, klien terlihat lesu dan tidak bersemangat, ada jejas pada perut dan ada tato pada
punggung badan klien. Hasil dari pengkajian fokus keperawatan didapatkan diagnosa: Perubahan
Persepsi Sensori ; Halusinasi Dengar, Harga Diri Rendah dan Risiko Perilaku Kekerasan.
Berdasarkan masalah yang ditemukan pada saat pengkajian 20 November 23 November 2010,
penulis menyusun rencana intervensi sebagai berikut : a). Rencana Intervensi untuk mengatasi
halusinasi : Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip terpeutik ; bantu klien
mengenali halusinasinya ; ajarkan klien cara menghardik halusinasinya ; bantu klien cara mengontrol
halusinasinya ; manfaatkan sistem pendukung keluarga untuk mendukung klien mengontrol
halusinasinya. b). Rencana Intervensi untuk mengatasi harga diri rendah : bantu klien
mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki ; bantu klien menilai kemampuan yang
digunakan ; bantu klien membuat rencana kegiatan ; bantu klien melakukan kegiatan sesuai kondisi
sakitnya.
Implementasi yang dilakukan selama empat hari yaitu mulai tanggal 21 November 2011 sampai 24
November 2011 yaitu membina hubungan saling percaya dengan cara menyapa klien dengan ramah
baik verbal maupun non verbal ; memperkenalkan diri dengan sopan, menanyakan ulang nama
lengkap klien dan nama yang disukai klien; menjelaskan tujuan pertemuan. Setelah melakukan
percakapan selama 15 menit hubungan saling percaya telah dicapai ditunjukkan dengan penerimaan
klien terhadap tawaran untuk menyelesaikan masalah. Dan klien juga mau untuk berkenalan. Selain
itu, klien juga menerima tawaran kontrak pertemuan selanjutnya.
Pertemuan kedua yaitu membantu klien mengenali halusinasinya dengan menanyakan isi halusinasi
pasien, menanyakan kapan halusinasi itu muncul, menanyakan frekuensi halusinasi itu muncul,
menanyakan situasi yang menimbulkan halusinasi, menanyakan respon pasien terhadap halusinasi,
dan menanyakan cara yang sudah dilakukan klien untuk mengusir halusinasi yang dialami klien dan
mengajarkan pasien penghardik halusinasi, serta menganjurkan pasien untuk memasukkan cara
menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian pasien. Setelah melakukan percakapan selama
15 menit, klien mampu menyebutkan halusinasinya, klien mampu menyebutkan waktu dimana
halusinasi itu mucul, klien mampu menyebutkan frekuensi muculnya halusinasi yang dialami, klien
mampu menyebutkan situasi yang menyebabkan halusinasi itu mucul, klien juga mampu
mengungkapakn perasaanya saat halusinasi itu mucul. Serta klien menyebutkan cara yang sudah
dilakuakan untuk mengusir halusinasi yang dialaminya. Klien juga mampu mendemonstrasikan ulang
cara menghardik halusinasi yang telah diajarkan.
Pertemuan ketiga yaitu mengajarkan klien cara mengontrol halusinasinya dengan melakukan
kegiatan ( bercakap-cakap dengan orang lain ) dan menganjurkan pasien memasukkan ke jadwal
kegiatan harian serta membantu pasien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang
dimiliki. Setelah melakukan percakapan selama 25 menit klien mampu mengikuti dan
mendemonstrasikan mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.
Menurut klien, cara menghardik halusinasi yang diajarkan pertama telah dilakukan namun suara-
suara yang klien dengar belum hilang sepenuhnya ketika diusir. Suara-suara yang klien ceritakan
masih menggangu klien. Selain dapat mengikuti latihan cara mengontrol halusinasinya klien juga
dapat menyebutkan aspek positif yang dimilikinya yaitu klien suka olahraga sepakbola dan klien suka
main gitar.
Pertemuan keempat mengkaji ulang halusinasi yang dialami klien dan mengevalusai cara yang sudah
diterapkan klien untuk mengsuir halusinasinya serta mengajarkan klien mengendalikan
halusinasinya dengan cara melakukan kegiatan yang biasa dilakukan klien. setelah bercakap-cakap.
Setelah bercakap-cakap selama 20 menit, klien mengatakan masih mendengar suara-suara yang
berisi ngapain kamu disini? Pulang saja! Percuma hidupmu sudah hancur, suara itu muncul saat
klien mau tidur dan saat klien menyendiri. Dalam satu hari suara itu muncul tiga sampai empat kali
perhari. Cara yang sudah dilakukan untuk mengusir halusinasinya yaitu dengan menghardik. Dari
cara tersebut menurut klien dapat mengusir halusinasinya. Klien belum mampu mengikuti latihan
cara mengontrol halusinasi dengan melakukan aktivitas sehari-hari yang dilakukannya karena klien
masih bingung dan belum mempunyai rutinitas yang pasti.
Pertemuan kelima membantu klien menilai kemampuan klien untuk melakukan sesuai dengan aspek
positif yang dimilki klien dan membuat rencana kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan kondisi
klien. Setelah berbincang-bincang selama 20 menit, klien menilai bahwa dirinya masih mampu
melakukan kemampuanya untuk main gitar dengan kondisinya sekarang. Saat merencanakan
kegiatan yang akan dilakukanya klien juga mau untuk membuat jadwal main gitar di unit rehabiliasi.
Pertemuan keenam melakukan kegiatan yang telah direncanakan yaitu main gitar di ruang
rehabilitasi. Setelah dilakukan kegiatan, klien masih terlihat malu-malu dan tidak mau berinteraksi
dengan temannya.

Anda mungkin juga menyukai