Anda di halaman 1dari 6

MORBIDITAS DAN MORTALITAS

LANSIA DI INDONESIA
Untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik




Disusun Oleh:

Azmi tanjung 043-315-09-1-007


PRODI S-1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN (STIKep) PPNI JABAR
Jl.Muhammad No.34 Bandung
2012-2013

MORBIDITAS DAN MORTALITAS LANSIA DI INDONESIA

I. MORBIDITAS
Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota
masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan
hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen
dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat
menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia menjadi
15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh penduduk. Dan diperkirakan
pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 persen. Hal ini menunjukkan bahwa
penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup
penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45,7
tahun, pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1985 : 58,19 tahun, pada tahun 1990 :
61,12 tahun, dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun 2000 : 64.05 tahun (BPS.2000).
Angka kesakitan (morbidity rates) lansia adalah proporsi penduduk lansia yang
mengalami masalah kesehatan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari selama satu bulan
terakhir. Angka kesakitan merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur
derajat kesehatan penduduk. Angka kesakitan tergolong sebagai indikator kesehatan negatif.
Semakin tinggi angka kesakitan, menunjukkan derajatkesehatan penduduk semakin buruk.
Sebaliknya, semakinrendah angka kesakitan, menunjukkan derajat kesehatan penduduk yang
semakin baik.
ANGKA KESAKITAN LANSIA


0
5
10
15
20
25
30
35
40
2005 2007 2009
pedesaan
perkotaan
pedesaan+perkotaan
Angka kesakitan penduduk lansia tahun 2009 sebesar 30,46 persen, artinya bahwa
dari setiap 100 orang lansia terdapat sekitar 30 orang diantaranya mengalami sakit. Angka
kesakitan penduduk lansia perkotaan (27,20 persen) lebih rendah dibandingkan lansia
perdesaan (32,96 persen). Hal ini menunjukkan bahwa derajat kesehatan penduduk lansia di
perkotaan relatif lebih baik dibandingkan lansia di daerah perdesaan. Bila dilihat
perkembangannya, derajat kesehatan penduduk lansia relatif tidak berbeda. Angka kesakitan
penduduk lansia pada tahun 2005 sebesar 29,98 persen, tahun 2007 sebesar 31,11 persen,
dan tahun 2009 sebesar 30,46 persen. Pola yang serupa terjadi baik di daerah perkotaan
maupun daerah perdesaan.
Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk berstruktur lanjut
usia (aging struktured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun ke atas
sekitar 7,18%. Provinsi yang mempunyai jumlah penduduk Lanjut Usia (Lansia)nya
sebanyak 7% adalah di pulau Jawa dan Bali. Peningkatan jumlah penduduk Lansia ini antara
lain disebabkan antara lain karena 1) tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat,
2)kemajuan di bidang pelayanan kesehatan, dan 3) tingkat pengetahuan masyarakat yang
meningkat.



















II. MORTALITAS

Menurut PBB dan WHO, kematian adalah hilangnya semua tanda-tanda kehidupan
secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Still birth dan
keguguran tidak termasuk dalam pengertian kematian. Perubahan jumlah kematian (naik
turunnya) di tiap daerah tidaklah sama, tergantung pada berbagai macam faktor keadaan.
Besar kecilnya tingkat kematian ini dapat merupakan petunjuk atau indikator bagi tingkat
kesehatan dan tingkat kehidupan penduduk di suatu wilayah.
Konsep-konsep lain yang terkait dengan pengertian mortalitas adalah:
a. Neo-natal death adalah kematian yang terjadi pada bayi yang belum berumur satu bulan.
b. Lahir mati (still birth) atau yang sering disebut kematian janin (fetal death) adalah
kematian sebelum dikeluarkannya secara lengkap bayi dari ibunya pada saat dilahurkan
tanpa melihat lamanya dalam kandungan.
c. Post neo-natal adalah kematian anak yang berumur antara satu bulan sampai dengan
kurang dari satu tahun.
d. Infant death (kematian bayi) adalah kematian anak sebelum mencapai umur satu tahun.

Jumlah lanjut usia Indonesia, menurut sumber BPS bahwa pada tahun 2004 sebesar
16.522.311, tahun 2006 sebesar 17.478.282, dan pada tahun 2008 sebesar 19.502.355 (8,55%
dari total penduduk sebesar 228.018.900), sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan jumlah
lanjut usia sekitar 28 juta jiwa. Sungguh suatu jumlah yang sangat besar sehingga jika tidak
dilakukan upaya peningkatan kesejateraan lanjut usia sejak sekarang akan menimbulkan
permasalahan dan bisa jadi merupakan bom waktu di kemudian hari. Kecenderungan
timbulnya masalah ini ditandai pula dengan angka ketergantung lanjut usia sesuai Susenas
BPS 2008 sebesar 13,72%. Angka ketergantungan penduduk akan menjadi tinggi dan
dirasakan oleh penduduk usia produktif jika ditambah dengan angka ketergantungan
penduduk usia kurang dari 15 tahun, dimana saat ini jumlah penduduk kurang dari 15 tahun
sebesar 29,13%.















DAFTAR PUSTAKA

http://www.komnaslansia.or.id/
http://sp2010.bps.go.id/index.php
http://world.bymap.org/InfantMortality.html
http://www.census.gov/
http://oldkesra.menkokesra.go.id
Komisi Nasional Lanjut Usia. (2009). Profil Penduduk Lanjut Usia 2009. Komnas Lansia :
Jakarta