Anda di halaman 1dari 9

Sejarah perkembangan penentuan struktur

Bagi kalangan saintis, penentuan struktur suatu senyawa sudah


menjadi kebutuhan primer. Ibaratnya, mereka mencari struktur seperti
seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang.
Dahulu (sebelum tahun 1900 M), belum ada alat-alat modern (seperti IR,
NMR, MS, dll) untuk menentukan struktur, tetapi yang namanya saintis
tetap saja berusaha mengetahui struktur dari senyawa tertentu.
Karena belum ada alat, dulunya para saintis hanya bisa melakukan
pembandingan antara struktur senyawa yang ingin diketahui
strukturnya dengan senyawa yang strukturnya sudah diketahui, yaitu
dengan membandingkan sifat fisik dan kimianya. Jika sifat-sifatnya sama,
maka senyawanya sama.
Selain itu, dulu para saintis juga mengandalkan reaksi kimia dalam
menentukan struktur, jika memiliki respon reaksi yang sama terhadap
dengan reagen tertentu, maka struktur dari senyawa-senyawa tersebut
diasumsikan sama.
Misalnya, senyawa A dan B sama-sama direaksikan dengan reagen fehling,
ternyata kedua senyawa sama-sama menghasilkan endapan merah bata,
maka diasumsikan senyawanya adalah sama.
Padahal, hal itu jauh dari kebenaran, karena senyawa yang berbeda tetapi
sama-sama pada golongan aldehid, reaksi dengan reagen fehling hampir
semuanya akan menghasilkan endapan merah bata. Jadi, senyawa
asetaldehid dengan butanaldehid sama-sama akan menghasilkan endapan
merah bata jika direaksikan dengan reagen fehling. Sementara asetaldehid
dan butanaldehid merupakan senyawa yang berbeda, sifat dan fungsinya
pun berbeda.
Kebutuhan untuk menentukan struktur menjadi meningkat sejak para
saintis berusaha mengisolasi atau mensintesis suatu senyawa. Isolasi adalah
proses mengekstrak (mengambil) suatu senyawa kimia tertentu yang
terkandung pada suatu bahan (seperti pada daun, batang, dll) dengan
maksud tertentu.
Umumnya, suatu senyawa diisolasi karena diketahui bahwa senyawa
tersebut memiliki aktivitas untuk mengobati penyakit.
Tentunya, senyawa yang diisolasi perlu ditentukan strukturnya agar
diketahui senyawa apa yang sebenarnya diperoleh dari hasil isolasi
tersebut.
Selain isolasi, para saintis juga sering melakukan sintesis, yaitu membuat
suatu senyawa yang diinginkan dari senyawa-senyawa lain. Senyawa yang
disintesis perlu ditentukan strukturnya untuk membuktikan keberhasilan
sintesis yang telah dilakukan.
Semakin bertambahnya usia zaman, teknologi
semakin berkembang. Pada pertengahan abad
ke-20, mulailah muncul alat-alat modern untuk
penentuan struktur senyawa kimia.
Ultraviolet Spectroscopy (UV) mulai
diperkenalkan pada tahun 1930-an
I nfrared Spectroscopy (IR) tahun 1940-an,
Mass Spectroscopy (MS) tahun 1950-an.

Spektroskopi UV-Vis

Pada metode ini cahaya yang diserap bukan hanya cahaya
tampak tapi cahaya dari ultraviolet (UV). Dengan cara ini
larutan tidak berwarna juga dapat diukur, misalnya aseton dan
asetaldehid.
Pada Spektroskopi UV ini, energi cahaya terserap
digunakan untuk transisi elektron (electronic transition)
(Hendayana, 1994). Apabila pada molekul tersebut dikenakan
radiasi elektron magnetik maka akan terjadi eksitasi elektron
ke tingkat energi yang lebih tinggi yang dikenal sebagai orbital
elektron antibonding.
Pada senyawa organik dikenal pula gugus auksokrom yang
merupakan gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas
seperti OH; -O; -NH2; -OCH3 yang memberikan transisi
elektron. Terikatnya gugus auksokrom oleh gugus kromofor
akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke
panjang gelombang yang lebih panjang disertai peningkatan
intensitas (Mulja, 1995).
Pemilihan pelarut
Pelarut yang dipakai pada spektrofotometer UV-
Vis harus mempunyai sifat tidak mengabsorpsi
cahaya pada panjang gelombang yang sama pada
pengukuran sampel. Mulja (1995) menyebutkan
syarat-syarat untuk pelarut tersebut, antara lain:
1)Tidak mengandung ikatan terkonjugasi
pada struktur molekulnya dan tidak
berwarna.
2)Tidak berinteraksi dengan molekul yang
dianalisa
3)Harus mempunyai kemurnian yang
tinggi
Pada umumnya pelarut yang sering
dipakai dalam analisa spektrofotometer
UV-Vis adalah air, etanol, siklo-heksana,
dan isopropanol.
Kepolaritasan pelarut juga perlu
diperhatikan karena dapat mempengaruhi
pergeseran spektrum molekul yang
dianalisa.

Cara kerja
Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai
berikut.
Menempatkan larutan pembanding, misalnya blanko dalam sel
pertama sedangkan larutan yang akan dianalisa pada sel
kedua.
Kemudian memilih fotosel yang cocok, misalnya 200-650 nm
agar daerah panjang gelombang yang diperlukan dapat
teramati.
Mengemisikan sinar yang berasal dari sumber (lampu
deuterium atau lampu wolfram) sehingga melewati sel sampel
dan blanko.
Pada dasarnya prinsip dari alat spektrofotometer adalah
membandingkan cuplikan dan standart, dalam hal ini standar
yang digunakan adalah pelarut sampel. Dari penelitian ini akan
grafik hasil spektrofotometer yang menunjukkan hubungan
tranmitansi dan panjang gelombang ().
Analisa kualitatif dengan spektrofotometer
UV-Vis ini hanya digunakan untuk data
pendukung. Dengan metode ini dapat
ditentukan kemurnian senyawa dan
penentuan panjang gelombang maksimal
(l.maks).