Anda di halaman 1dari 13

Analisa Bahan Baku Aspal PT.

Pertamina

Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sriwijaya

Annur T Wamayataqillah
08111003008
Aspal


Material berwarna hitam atau coklat tua.
Pada temperatur ruang berbentuk padat
sampai agak padat, jika dipanaskan
sampai temperatur tentu dapat menjadi
lunak / cair sehingga dapat
membungkus partikel agregat pada
waktu pembuatan campuran aspal beton
atau sapat masuk kedalam pori-pori
yang ada pada penyemprotan


Karakteristik Aspal yang Diharapkan
Agar aspal dapat berfungsi dengan baik maka aspal diantaranya
harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.Aspal harus dapat melapisi agregat dan mengisi rongga antar
agregat hingga perkerasan cukup rapat dan kedap dari air.
2. Aspal harus memberikan lapisan yang elastis sehingga
perkerasan tidak mudah retak.
3. Aspal tidak peka terhadap perubahan suhu di lapangan.
4. Aspal mempunyai adhesi yang baik terhadap agregat yang
dilapisi.
5. Aspal mempunyai kohesi yang baik.
6. Aspal tidak cepat rapuh atau lapuk.
7. Aspal mudah dikerjakan.
8. Aspal aman saat pengerjaan.
9. Aspal homogen dan tidak berubah selama penyimpanan.
10. Aspal memberikan kinerja yang baik terhadap campuran.


Jenis Aspal
Aspal Buatan
- Aspal Buatan adalah aspal yang diperoleh dari
hasil penyulingan minyak bumi
- Jenis Aspal Buatan mencakup Aspal Keras
(Pen), Aspal Cair (Cut Back) dan Aspal Emulsi

Aspal Alam
- Batuan (Rock Asphalt)
- Plastis (Trinidad)
- Cair (Bermuda Lake Asphalt)

Kandungan Utama Aspal
Senyawa karbon jenuh dan tak jenuh Alifatik dan
aromatik yang mempunyai atom karbon sampai
150 per molekul
Karbon (80%)
Hydrogen (10%)
Belerang (6%)
Nitrogen, Oksigen, renik besi, nikel & vanadium, dan
beberapa atom lain (4%)

Aspal dari PT. Pertamina
Aspal Pertamina Diproduksi di kilang
Pertamina UP IV Cilacap dari Cure Oil jenis
Asphallic berbentuk semisolid, bersifat non
metallic larut dalam CS
2
(carbon disulphide),
mempunyai sifat water proofing dan adhesive
Uji Mutu Aspal
SNI 06-2432-1991, Metoda pengujian titik lembek aspal
SNI 03-6399-2000, Tata cara pengambilan contoh aspal
SNI 19-6421-2000, Spesifikasi standar termometer
ASTM E 77, Metoda pengujian dan verifikasi cairan aspal

Skema Pembuatan Aspal Minyak
No. Jenis Pengujian Metode Persyaratan
1. Penetrasi, 25C; 100 gr; 5 detik; 0,1 mm SNI 06-2456-1991 60 - 79
2. Titik Lembek, C SNI 06-2434-1991 48 - 58
3. Titik Nyala, C SNI 06-2433-1991 Min. 200
4. Daktilitas 25C, cm SNI 06-2432-1991 Min. 100
5. Berat jenis SNI 06-2441-1991 Min. 1,0
6 Kelarutan dalam Trichlor Ethylen,% berat RSNI M -04-2004 Min. 99
7. Penurunan Berat (dengan TFOT),% berat SNI 06-2440-1991 Max. 0,8
8. Penetrasi setelah penurunan berat,% asli SNI 06-2456-1991 Min. 54
9. Daktilitas setelah penurunan berat, cm SNI 06-2432-1991 Min. 50
10. Uji noda aspal
- Standar Naptha
- Naptha Xylene
- Hephtane Xylene
SNI 03-6885-2002 Negatif
11. Kadar paraffin,% SNI 03-3639-2002 Maks. 2
Baku Mutu Aspal Minyak

1. Pengujian penetrasi
Pengujian ini merupakan pengukuran secara empiris
terhadap konsistensi aspal. Penetrasi adalah masuknya
jarum penetrasi ukuran tertentu, beban tertentu, dan waktu
tertentu ke dalam aspal pada temperatur tertentu.


2.Titik nyala dan titik bakar
Bertujuan untuk mendapatkan besaran temperatur dimana
terlihat nyala singkat < 5 detik (titik nyala) dan terlihat nyala
minimal 5 detik (titik bakar) diatas permukaan aspal sesuai
SNI 06-2433-1991. Titik nyala adalah temperatur pada saat
terlihat nyala singkat kurang dari 5 detik pada suatu titik
diatas permukaan aspal. Titik bakar adalah temperatur pada
saat terlihat nyala sekurang-kurangnya 5 detik pada suatu
titik pada permukaan aspal.

3.Pengujian titik lembek aspal.
Bertujuan untuk mendapatkan besaran titik lembek aspal.
Mencakup cara persiapan benda uji, peralatan, cara pengujian untuk
menentukan titik lembek bahan aspal yang berkisar 30
o
C sampai
200
o
C dengan cara ring and ball sesuai SNI 06-2434-1991

4. Pengujian daktilitas bahan-bahan aspal.
Daktilitas aspal adalah nilai keelastisitasan aspal, yang diukur dari
jarak terpanjang, apabila antara dua cetakan berisi bitumen keras
yang ditarik sebelum putus pada temperatur 25
o
C dan dengan
kecepatan 50 mm/menit.
5. Pengujian berat jenis aspal padat.
Bertujuan untuk mendapatkan nilai berat jenis aspal padat dengan
menggunakan rumus berat jenis hasil pengujian.
6. Pengujian kelarutan dalam CCL
4

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kadar aspal untuk
aspal keras.

Kesimpulan
Sebelum perkerasan suatu jalan dibuat, perlu dilakukan pemeriksaan
terhadap material penyusun jalan, yaitu aspal dan agregat secara
teliti. Hal ini untuk mengetahui sifat-sifat dari material-material
tersebut dimana merupakan faktor penentu kemampuan perkerasan
jalan dalam memikul beban lalu lintas dan daya tahan terhadap cuaca.
Pemeriksaan aspal dengan menggunakan acuan standar uji Standar
Nasional Indonesia (SNI) atau American Association of State Highway
and Transportation Officials (AASHTO), jika pada salah satu diantara
jenis uji tertentu tidak terdapat dalam SNI.