Anda di halaman 1dari 28

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Tumor payudara merupakan lesi terpenting pada payudara perempuan.
Walaupun mungkin berasal daru jaringan ikat atau struktur epitel, tumor struktur
epitel yang sering menyebabkan neoplasma payudara. yang dikatakan kelainan
neoplasma jinak yaitu Fibroadenoma Payudara, Adenoma Laktasi, Papiloma
Duktus dan Tumor Sel Granular. Sedangkan neoplasma ganas antara kain
Karsinoma Payudara, Sistosarkoma Filoides dan Neoplasma ganas lain pada
payudara.
1

Amerika Serikat oleh American Cancer Society diperkirakan bahwa pada
tahun 2001 ditemukan kasus baru kanker payudara invasif sebanyak 192.200,
yang diprediksi 40.860 akan meninggal.
2
Insiden tumor payudara di Indonesia masih menduduki urutan kedua
terbanyak diantara berbagai jenis keganasan pada wanita dan masih merupakan
penyebab morbilitas dan mortilitas yang mencekam, karena umumnya penderita
datang berobat pada stadium telah lanjut, sehingga upaya terapi tidak dapat tuntas
adekuat dalam mengeliminasi sel ganas yang telah tumbuh atau menyebar luas.
2

Fibroadenoma adalah suatu neoplasma payudara jinak umum yang terjadi
pada semua usia dengan insidensi tertinggi pada wanita muda. Sering ditemukan
sebelum umur 30 tahun. Sebabnya mungkin sensitivitas jaringan setempat yang
berlebihan terhadap estrogen.
3,4

Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kwadran luar atas, muncul sebagai
nodul padat pada payudara yang berbatas tegas dan dapat digerakan dengan bebas.
Umunya fibroadenoma terbungkus didalam kapsul, teraba padat dan seluruhnya
rata bewarna putih keabuan.
3,4
Fibroadenoma biasanya berdiameter 1-5cm, tetapi dapat juga lebih besar yaitu
fibroadenoma raksasa yang berukuran dapat mencapai 10 cm- 15 cm. Pada
makroskopis fibroadenoma tampak suatu tumor yang bersimpai, bewarna putih
2

keabu-abuan, pada penampang tampak jaringan ikat yang bewarna putih, kenyal
serta tampak bagian-bagian yang menonjol kepermukaan bewarna ke kuning-
kuningan jernih yang merupakan komponen kelenjar. Karsinoma payudara bila
belum menembus membran basal disebut tahap in situ. Apabila tumor masih
mudah dikenali asalnya, khususnya untuk karsinoma duktal disebut berdiferensi
baik. Bila sukar atau tidak dapat dikenali lagi asalnya, disebut berdiferensiasi
buruk(anaplastik). Diameter karsinoma beragam mulai kurang dari 10 mm sampai
lebih dari 80 mm, tetapi paling sering ditemukan antara 20-30 mm.
4

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai diameter penderita tumor payudara pada Fibroadenoma Payudara dan
Karsinoma Payudara di Rumah Sakit Pirngadi Medan 2011-2012.

1.2 Rumusan Masalah
Latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah
mengetahui perbedaan diameter tumor payudara pada Fibroadenoma Payudara
dan Karsinoma Payudara di Rumah Sakit Pirngadi Medan 2011-2012.

1.3 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui diameter tumor payudara pada Fibroadenoma Payudara
di Rumah Sakit Pirngadi Medan 2011-2012.
2. Untuk mengetahui diameter tumor payudara pada Karsinoma Payudara di
Rumah Sakit Pirngadi Medan 2011-2012.
3. Untuk mengetahui perbedaan tumor payudara fibroadenoma Payudara
dengan Karsinoma Payudara berdasarkan diameter di Rumah Sakit
Pirngadi Medan 2011-2012.

1.4 Hipotesa
Ho : Tidak ada perbedaan diameter tumor payudara pada Fibroadenoma
Payudara dengan Karsinoma Payudara di Rumah Sakit Pirngadi Medan
2011-2012.
3

Ha : Ada perbedaan diameter tumor payudara pada Fibroadenoma
Payudara dengan Karsinoma Payudara di Rumah Sakit Pirngadi Medan
2011-2012.

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti dalam mengembangkan
kemampuan berfikir secara objektif serta dapat menfaatkan ilmu pengetahuan
untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1.5.2 Bagi Mahasiswa
Memberikan informasi kepada mahasiswa tentang penjelasan singkat tumor
payudara dan diameter tumor payudara pada Fibroadenoma Payudara dengan
Karsinoma Payudara di Rumah Sakit Pringadi Medan.
1.5.3 Bagi Masyarakat
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang perbedaan tumor
payudara jinak dengan tumor payudara ganas.








4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi Payudara Normal
Mamma merupakan kelenjar asesoris kulit yang berfungsi menghasilkan susu.
Papilla mammaria kecil dan dikelilingi oleh daerah kulit yang bewarna gelap,
disebut areola mamma. Pada masa pubertas, glandula mammaria perempuan
lambat laun membesar dan akan berbentuk setengah lingkaran. Pembesaran ini
diduga disebabkan oleh pengaruh hormon-hormon ovarium. Saluranya
memanjang, meskipun demikian pembesaran kelenjar terutama disebabkan
karena penimbunan lemak.
6

Payudara normal hanya sepasang, berkembang menonjol tegak dari daerah
subklavikula sampai dengan iga kelima atau sela iga kelima sampai keenam.
Setiap payudara terdiri dari 15-20 lobus, yang tersusun radier dan berpusat pada
papilla mammaria. Saluran utama dari setiap lobus bermuara di papilla mammaria
dan mempunyai ampulla yang melebar tepat sebelum ujungnya. Dasar papilla
mammaria dikelilingi oleh areola. Tenjolan-tonjolan halus pada areola diakibatkan
oleh kelenjar ereola di bawahnya.
2,6

Perdarahan
Perdarahan jaringan payudara berasal dari percabangan arteri mammaria
interna, arteri torakalis lateralis dan arteri interkostalis posterior.
2

Pembuluh vena
Pembuluh balik vena sesuai posisi ketiga feeding arteries, yang relatif cepat
dalam pengembalian sirkulasi darah, akan masuk dalam aliran vena kava
superior.
2

Sistem limfatik
Sistem limfatik terdiri atas:
1. Superior atau pleksus subareola yang mencakup bagian tengah payudara,
kulit, areola dan puting yang akan mengalir ke arah kelenjar getah bening
5

pektoralis anterior dan kelenjar getah bening aksila yang dengan mudah
dapat teraba pada pemeriksaan fisik penderita secara palpasi.
2

2. fasial atau pleksus propunda (deep plexus), mencakup daerah muskulus
pektoralis menuju kelenjar getah bening Rotter, kemudian ke kelenjar
getah bening subklavikula (route of groszman) dan lain-lain yang akan
menuju kelenjar getah bening mammaria interna(25%) sebagian lagi
menuju kelenjar getah bening mediastinum. Atau yang ke kelenjar getah
bening subdiafragma atau hati (saluran limfe abdominal) yang ditemukan
oleh Gerota (paramammary route of gerota), cross-mammary pathway
(saluran limfe superfisial menuju payudara dan kelenjar getah bening
aksila kontralateral), serta yang menuju kelenjar getah bening mediastinum
anterior di depan aorta.
2

Persarafan
Persarafan sensorik payudara berasal dari percabangan saraf interkostalis
kedua sampai keenam dan dari percabangan pleksus servikalis. Oleh karena itu
penyebaran rasa nyeri daerah payudara dapat mencapai dada, penggung, skapula,
lengan bagian tengah dan leher.
2




Gambar 1. Anatomi payudara
7

6

2.1.1 Fisiolagi Payudara
Secara fisiologik unit fungsional terkecil jaringan payudara adalah asinus. Sel
epitel asinus memproduksi air susu. Sel epitel asinus memproduksi air susu yang
berkomposisi unsur protein yang disekresi apparatus golgi bersama faktor imun
berbentuk IgA dan IgG sedangkan unsur lipid dalam bentuk droplet yang diliputi
sitoplasma sel.
2
Dalam perkembanganya kelenjar payudara dipengaruhi cukup banyak hormon
berasal dari berbagai kelenjar endokrin:
a. Hipofisis: somatotropin (STH), prolaktin, oksitosin dan yang berpengaruh
atas hormonal siklik FSH dan LH
b. Adrenal: kortikoid
c. Ovarium: estrogen dan progesteron, hormon siklus haid
d. Plasenta: gonadotropin korionik
e. Lain-lain: hormon kelenjar tiroid (tiroksin) dan dari kelenjar
pankreas(insulin).
2

Pengaruh hormon siklus haid yang paling sering menimbulkan dampak yang
nyata, secara individual payudara terasa tegang, membesar atau kadang-kadang
disertai rasa nyeri.
2


2.2 Neoplasma
Noeplasma biasanya berupa nodul dan karena payudara terletak superfisial
keberadaan nodul di payudara akan cepat disadari penderitanya.

Neoplasma pada
jaringan payudara dapat berasal parenkimal, mesenkimal atau campuran.
2
2.2.1 Etiologi
Etiologi tumor payudara belum diketahui dengan pasti, biasanya bersifat
multifaktor. Ada yang bersifat endogen (epigenetik genetik dan heredofamilial,
hormonal, status imun, nullipara, aging, stress psikis berat) atau eksogen seperti
faktor konsumtif ( difisiensi : protein, vitamin A dan derivatnya, antioksidan, diet
tinggi lemak) intake berlebih obesitas, alkoholik, perokok, pengguna terapi sulih
hormon, trauma/ pasca bedah lokal, inveksis virus Bittner pada hewan percobaan.
2

7

2.2.2 Epidemiologi
Insiden di Indonesia masih menduduki urutan kedua terbanyak diantara
berbagai jenis keganasan wanita dan masih merupakan penyebab morbiditas dan
mortalitas yang mencekam, karena pada umumnya penderita datang berobat pada
stadium telah lanjut, sehingga upaya terapi tidak dapat tuntas adekuat dalam
mengeliminasi sel ganas yang telah tumbuh menyebar luas, heterogen.
2

Untuk negara maju, misalnya di Amerika serikat oleh American cancer society
diperkirakan bahwa pada tahun 2001 ditemukan kasus baru kanker payudara
invasif sebanyak 192.200, yang diprediksi akan meninggal 40.860 dibawah angka
kematian kanker paru saat itu.
2

Usia penderita 75% di atas 50 tahun, yang berusia kurang dari 40 tahun hanya
5%. Dan cendrung ada peningkatan penderita sekitar 1% pertahun, mulai
menanjak sejak tahun 1980 dari 3% menjadi 4%.
2


Tabel 2.1 Sifat Tumor Jinak dan Ganas
8

Jinak Ganas
1. Diferensiasi
Anaplasia
Well diffentiared
Tidak ada
Poorly undifferentiated
Ada
2. Kecepatan tumbuh

Lambat, progresif,
mitosis normal, dan
kadangkala terhenti
sementara
Cepat, mitosis abnormal
3. Invasi lokal Massa kohesif
Tumbuh expansif
Berkapsul
Massa rapuh
Tumbuh infiltratif
Tak berkapsul
4. Metastase Tidak ada Ada



8

2.2.3 Faktor yang mempengaruhi kecepatan tumbuh tumor
a. Faktor penderita seperti umur, jenis kelamin dan penyakit
b. Faktor tumor seperti (1) jenis tumor umumnya disebut berdasarkan
nama organ tempat tumor itu pertama kali tumbuh. Tiap organ
mempunyai struktur, volume serta ketahanan tertentu terhadap
pertumbuhan tumor tertentu. (2) asal sel dapat dari jaringan epitel,
jaringan mesenchim, jaringan embrional atau campuran, yang masing-
masing mempunyai kecepatan tumbuh yang berbeda. (3) sifat tumor
seperti tumor jinak, tumor in situ, tumor ganas, tumor yang sifatnya
tidak tentu atau tidak jelas. (4) derajat keganasan dan (5) besar tumor.
8


2.3 Fibroadenoma
Merupakan jenis yang sering ditemukan pada masa reproduksi, tetapi paling
sering sebelum usia 30 tahun, yang berasal dari sel epitel dan jaringan ikat. Secara
klinis dengan palpasi mudah digerakan dari jaringan sekitar.
9
Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mamma yang paling banyak
ditemukan, dan merupakan tumor primer yang paling banyak ditemukan pada
kelompok umur muda.
9
Insiden tertinggi fibroadenoma pada dekade ketiga, walaupun dapat timbul
kapanpun setelah pubertas. Tumor umunya soliter, walaupun sebagian wanita
menunjukan fibroadenoma yang multipel.
9
Fibroadenoma berasal dari lobus mamma, dari unsur stroma jaringan ikat
longgor dan kelenjar. Karena merupakan tumor campuran, fibroadenoma seperti
jaringan mamma sekitarnya akan dipengaruhi hormon yang akan menirukan
beberapa perubahan.
9

2.3.1 Gambar Makroskopis
Fibroadenoma merupakan tumor yang terbatas jelas dan berlobus-lobus
dengan diameter 10-40 mm. Tumor dengan diameter yang lebih besar terjadi pada
fibroadenoma juvenil. Jaringan mamma sekitarnya dapat terdesak, tetapi tumor
9

tidak terikat. Tidak adanya fiksasi ini menyebabkan tumor dapat digerakan pada
pemeriksaan klinik, sehingga kadang-kadang disebut breast mouse. Pada wanita
muda, tumor teraba lunak dengan permukaan potongan agak gelatinosa akibat
hilangnya komponen jaringan ikat, sedangkan pada wanita berumur lebih tua
cendrung lebih keras karena jaringan ikat menjadi fibrosa yang kadang-kadang
disertai kalsifikasi.
9
2.3.2 Histologi
Fibroadenoma menunjukan struktur mirip duktus atau struktur duktus yang
pipih berkelok-kelok akibat terdesak oleh pertumbuhan jaringan ikat disekitarnya.
Fibroadenoma tidak berlanjut menjadi ganas walaupun pada beberapa tumor
ganas seperti karsinoma lobularis terdapat bagian fibroadenoma.
9

2.3.3 Fibroadenoma Juvenil
Fibroadenoma yang besar (diameter 50-100 mm) dapat timbul pada mamma
seorang gadis. Tumor tumbuh dengan cepat. Tumor lebih banyak ditemukan pada
orang Afrika dan India Barat dibandingkan pada orang Kaukasia. Tumor ini
bersifat jinak dan jaringan terkacaukan dengan tumor filodes.
8



Gambar 2. Mikroskopis Fibroadenoma (pembesaran 40x)
9




10

2.4 Papiloma Duktus
Papiloma duktus lebih jarang ditemukan dibandingkan dengan fibroadenoma.
Kedua jaringan ini juga berbeda pada beberapa aspek. Walaupun kelainan ini
dapat ditemukan pada wanita umur muda dan tua, jumlahnya lebih banyak pada
umur pertengahan.
9
Papiloma duktus merupakan penyebab terbanyak terjadinya discharge papila.
Sekitar 80% kasus papiloma duktus terdapat discharge mamma, yang sering
bercampur darah dan dapat teraba adanya benjolan. Tumor ini berasal dari epitel
duktus.
9
Papiloma duktus merupakan lesi soliter yang tumbuh di dalam duktus yang
besar, sampai 40 mm dari papila. Lesi ini terlihat sebagai struktur panjang
berkelok-kelok tumbuh sepanjang duktus atau sebagai sferoid yang menyebabkan
distensi duktus sehingga mempunyai bentuk mirip kista.
9
Tumor ini tumbuh sebagai massa yang lunak, bewarna putih atau merah
jambu, kecuali apabila timbul perdarahan, permukaan tumor menjadi coklat.
Bagian tengah papiloma duktus berupa jaringan ikat yang bercabang-cabang,
dilapisi oleh epitel yang secara sitologis jinak.
9
Papiloma duktus soliter bukan merupakan kondisi premaligna dan tidak
meningkatkan resiko terjadinya kanker. Yang jarang ditemukan yaitu bentuk
papiloma duktus multipel yang tumbuh dari duktus yang lebuh kecil, letaknya
jauh dari papila mamma sehingga akan ditemukan lebih sebagai benjolan
dibandingkan sebagai keluarganya discharge papila mamma. Kelainan ini
cendrung ditemukan pada kelompok umur muda dibandingkan dengan papiloma
duktus soliter dan kelainan ini akan meningkatkan resiko terjadinya kanker.
9

2.5 Adenoma
Adenoma sangat jarang ditemukan dibandingkan dengan fibroadenoma dan
papiloma duktus. Adenoma tubuler merupakan tumor terbatas tegas, dengan
diameter 10 sampai 40 mm, ditemukan terutama pada wanita berumur
duapuluhan. Tumor ini tersusun atas struktur tubulus yang uniform, saling
11

berdekatan, dengan jaringan ikat yang sedikit sehingga tumor hanya tersusun dari
komponen kelenjar.
9
Lacting adenoma (adenoma yang mengeluarkan cairan) merupakan adenoma
tubuler yang mengalami perubahan sekresi pada waktu hamil. Adenoma papila
mamma merupakan benjolan dibawah papila mamma wanita, yang biasanya
mempunyai diameter kurang dari 15 mm dan terjadi pada setiap umur. Kulit yang
menutupinya sering ulserasi dan dapat disertai discharge yang bercampur darah,
sehingga pada pemeriksaan klinis sering dikekelirukan dengan penyakit peget.
Kelainan ini terbatas tegas, mengandung duktus kecil dan besar yang berisis
kolompok sel dan dikelilingi oleh stroma yang padat.
9

2.6 Tumor Phyloides
Secara mikroskopik mempuyai pola pertumbuhan seperti fibroadenoma
intrakanalikulare dengan stroma sangat seluler, tumbuh cepat, dapat disertai
pembentukan tukak pada kulit akibat desakan, sehingga menimbulkan nekrosis
iskemik lapis kulit terkait.
2
Berdasarkan gejala klinik yang ditimbulkan dan insidens usia yang juga
berada dalam resiko tinggi yaitu 40 tahun, tumor filodes merupakan diagnosis
banding karsinoma payudara. Prinsip penanggulangan tumor filodes sama seperti
tumor jinak lain yaitu operasi in toto. Tetapi pada kasus yang berlanjut dengan
berat tumor dapat mencapai 3 kg atau lebih, biasanya dilakuakn mastektomi untuk
mencegah residif. Residif berulang dapat menimbulkan degenerasi ganas (paling
sering dari unsur stroma) dan disebut tumor filodesmaligna. Bila ada metaplasia
keganasan stroma dapat bervariasi sarkoma osteogenik, sarkoma kondroblastik,
rabdomiosarkoma, dll. Bila degenerasi ganas terjadi pada kedua unsur lobulus,
yang meliputi unsur epitel dan stroma maka disebut karsinosarkoma.
2






12

2.7 Tumor Jinak unsur lain
Jaringan ikat (fibroma), lemak (lipoma), otot polos (leiomyoma), saraf (
neurofibroma, neurilemmoma, peripheral nerve sheath tumor), pembuluh darah
(hemangioma ), adneksa kulit / epidermis sangat jarang ditemukan.
2

Lipoma dan hemangioma dapat terjadi pada mamma, tetapi sering hamartoma.
Leiomioma dapat timbul pada bagian dalam mamma atau papila, berasal dari
jaringan otot polos yang sangat banyak ditemukan pada bagian dalam mamma.
9


2.8 Karsinoma Payudara
Karsinoma payudara adalah satu keganasan yang sering dijumpai, penyakit
ini merupakan penyebab sekitar 20 persen kematian akibat kanker pada wanita
kelompok umur 35-55 tahun.
5

Berbagai faktor resiko telah dapat diidentifikasi dewasa ini adalah :
a. Wanita resiko meningkat sesuai dengan bertambahnya umur
b. Jarak yang lama antara menarke dan menopause
c. Telah berusia tua sewaktu hamil yang pertama kali
d. Obesitas dan diet lemak yang tinggi
e. Riwayat keluarga adanya kanker payudara
f. Faktor geografik
g. Hiperplasia atipik pada hasil pemeriksaan biopsi sebelumnya.
5


Mekanisme etiologi
a. Pemberian estrogen berlebihan dan kekurangan progesteron
b. Tidak terdapat hubungan yang nyata dengan kontrasepsi
c. Sebagian tumor mengandung reseptor estrogen dan progestron, dan
mempunyai respons terhadap manipulasi hormonal
d. Tidak terdapat bukti yang nyata terhadap infeksi virus.
9


13

2.8.1 Karsinoma Non-Invasif
Pada umunya karsinoma mamma adalah adenokarsinoma yang berasal dari sel
epitel duktus atau kelenjar. Istilah non infasif berarti bahwa sel ganas terbatas
dalam duktus atau asinus lobulus, tidak terdapat bukti invasi sel tumor yang
menembus membran basalis masuk ke jaringan ikat sekitarnya.
9
Terdapat dua bentuk karsinoma non-invasif :
1. Karsinoma duktus in situ
2. Karsinoma lobuler in situ

2.8.2 Karsinoma duktus in situ
Karsinoma duktus in situ dapat terjadi baik pada wanita pre-menopause
maupun pasca menopause, biasanya pada kelompok umur 40-60 tahun.
Karsinoma ini dapat timbul sebagai benjolan yang palpabel, terutama apabila
terdapat fibrosis. Apabila duktus yang lebih besar terkena, dapat timbul discharge
papila mamma atau sebagai penyakit Paget pada mamma. Kelainan ini ditemukan
secara kebetulan pada biopsi pembedahan atau terdeteksi pada saat skrining
mamografi. Karsinoma duktus in situ yang murni terdapat sekitar 5% dari
karsinona mamma.
9

Ukuran daerah mamma yang terkena berkisar antara 10-80 mm. Karsinoma ini
biasanya unifokal pada satu kwadran mamma, yang kadang-kadang ditemukan
multisentrik dengan lesi yang lebih luas, karsinoma ini jarang bilateral. Gambaran
makroskopisnya tergantung pada jenis karsinoma duktus in situ.
9

Secara histologis, perubahanya terletak pada duktus kecil atau medium,
sedangkan pada wanita yang lebih tua perubahanya terletak pada duktus yang
lebih besar. Berbagai pola yang berbeda dapat ditemukan, tetapi semua duktus
yang terkena mengandung sel berbagai tingkat sitoplasma dan inti yang
pleimorfik. Terdapat banyak mitosis yang dapat abnormal. Duktus terdapat terisis
penuh sel (tipe solid) atau mengandung nekrosis sentralis, mungkin disertai
kalsifikasi, sehingga lesi ini dapat terdeteksi secara mamografi. Karsinoma duktus
in situ dapat menyebar sepanjang sistem duktus atau kedalam lobulus.
9

14

Terapi yang dilakuakan pada penderita karsinoma duktus in situ ialah
mastektomi, sehingga sulit untuk mengetahui nasib lesi ini apabila ada yang
tertinggal. Estimasi perubahan karsinoma non invasif menjadi invasif bervariasi
antara sepertiga sampai setengah, berdasarkan penelitian dimana hanya dilakukan
eksisi lokal.
9

2.8.3 Karsinoma lobuler in situ
Karsinoma lobuler in situ (karsinoma intralobularis) terjadi terutama pada
wanita pre-menopause. Apabila ditemukan setelah menopause, biasanya
dihubungkan dengan adanya karsinoma infiltarif. Karsinoma lobuler in situ
ditemukan pada 6% dari seluruh karsinoma mamma. Masalah utamnya tumor ini
secara klinis tidak teraba, dan tumor ini ditemukan pad hasil biopsi yang
dilakukan atas indikasi adanya kista atau lesi palpabel jinak lainya.
9

Secara histologis, perubahan ini terdapat pada asinus (yang karenanya disebut
lobuler) walaupun dapat juga berkembang mengenai duktus ekstralobularis dan
mengganti epitel duktus. Didalam asinus, sel normal diganti oleh sel yang relatif
unifrom, bersitoplasma jernih tersusun longgar dan non-kohesif. Ukuran asinus
secara umum meningkat, tetapi bentuk lobulernya tetap tidak berubah. Tidak
seperti pada karsinoma duktus in situ, pada karsinoma lobuler in situ jarang
ditemukan nekrosis.
9



Gambar 3. Mikroskopis karsinoma lobular in situ
11


15

2.8.4 Karsinoma Invasif
Tumor disebut invasif apabila sel tumor telah menembus membran basalis
sekeliling struktur mamma dimana mereka tumbuh dan menyebar ke jaringan
sekitarnya. Karsinoma invasif dikelompokkan berdasarkan jenis histologis yang
berbeda, tetapi nama yang diberikan tidak selalu mempunyai arti bahwa tumor
tumbuh berasal hanya dari lokali tersebut.
9

Diameter karsinoma beragam mulai kurang dari 10 mm sampai dari 80 mm,
tetapi yang paling sering ditemukan antara 20-30 mm. Secara klinis teraba
benjolan kenyal keras dan terdapat kerutan pada kulit yang menutupinya atau otot
di bawahnya. Kulit juga menunjukan gambaran peau dorange, lekukan akibat
penyebaran limfatik. Papila mamma dapat mengalami penarikan akibat adanya
kerutan dan kontraksi ligamen intramamma.
9


Gambaran Makroskopis
Gambaran makroskopis tumor ini tergantung pada junis dan jumlah stroma di
dalam karsinoma. Keadaan ini menyebabkan digunakanya terminologi scirrhours,
meduler (ensefaloid) dan musinosa (koloid). Istolah scirrhous menunjukan terapat
reaksi jaringan fibrosa yang menonjol, terutama pada bagian sentral tumor.
Keadaan ini mengaakibatkan karsinoma tamapak padat keputihan, pada sayatan
tampak kasar. Terlihat garis-garis kekuningan akibat adanya jaringan elastis di
dalam tumor. Karsinoma dengan reaksi stroma yang menonjol biasanya
mempunyai tepi yang ireguler, menyebar ke jaringan lemak sekitar atau parenkim
mamma.
9


2.8.5 Karsinoma duktus invasif
Karsinoma duktus invasif merupakan sebagian besar karsinoma mamma
infiltratif (lebih dari 85%). Secara makroskopis, karsinoma ini biasanya
mempunyai konsistensi scriihous. Ukuran tumor berbeda-beda di antara penderita.
Karsinoma ini dapat timbul baik pada wanita pre-menopause maupun post-
menopause.
9
16

Secara histologis sel tumor tersusun dalam kelompok, batang atau sruktur
mirip kelenjar, perbedaan yang nyata terdapat pada berbagai karsinoma, walaupun
masih satu jenis.
9

Derajat diferensiasi tumor didasarkan pada perluasan dimana ada kemiripan
dengan mamma yang tanpa tumor yaitu apakah selnya mempunyai pola mirip
kelenjar atau kelompok solid, derajat pleimorfisme initi dan jumlah mitosis yang
ada. Karsinoma duktus infiltratif yang berdiferensiasi baik cendrung kurang
agresif dibandingkan dengan tumor yang berdeferensiasi buruk, yang tersusun
atas kelompok sel pleiomorfik disertai jumlah mitosis yang banyak.
9


Gambar 4. Makroskopis dan mikroskopis karsinoma duktus invasif
11


2.8.6 Karsinoma lobuler invasif
Karsinoma lobuler in situ biasanya terdapat pada wanita pre-menopause,
sedangkan lesi infiltratif terjadi pada wanita post-menaupose. Di Inggris jumlah
karsinoma lobuler invasif sebanyak 10% dari karsinoma mamma invasif. Insiden
ini berbeda-beda di antara berbagai negara di dunia.
9
Karsinoma lobuler invasif mempunyai stroma fibrosa yang banyak, sehingga
secara makroskopis selalu berbentuk scirrhous . karsinoma duktus invasif
biasanya berbentuk pada satu daerah tertentu pada mamma, sedangkan karsinoma
lobuler invasif dapat tumbuh multifokus pada seluruh bagian mamma.
9
Gambarkan histologis menunjukan sel yang kecil, uniform yang tersusun
tunggal, tersebar atau dalam kelompok kolom satu sel dalam stroma yang padat.
Sel tersebut mengadakan infiltrasi ke duktus mamma dan asinus disekitarnya, dan
tidak menghancurkanya seperti pada karsinoma duktus invasif. Cara infiltrasi
17

seperti ini juga dapat ditemukan pada tumor yang bersifat multifokus, walaupun
ini dapat juga sebabkan oleh perkembangan karsinoma lobelur in situ. Sel pada
bagian karsinoma berbentuk cincin (signet-ring) akibat akumulasi musin di
dalam asinus intrasitoplasmik, yang mendesak inti ke tepi. Sisa karsinoma lobuler
in situ masih sering ditemukan pada tumor invasif.
9


Gambar 5. Mikroskopis karsinoma lobular invasif
11


2.8.7 Karsinoma musinosa
Karsinoma musinosa (disebut juga sebagai karsinoma koloid, mukoid atau
galatinosa) umumnya timbul pada wanita post-menopause dan jumlahnya sekitar
2-3% dari seluruh karsinoma invasif.
9
Secara makroskopis, tumor ini berbatas tegas, yang pada sayatan penampang
menunjukan permukaan yang lunak bewarna abu-abu, bergelatin. Diameter tumor
beragam antara 20-50 mm. Karena stromanya tidak padat dan tepinya melingkar,
tumor ini tidak menyebabkan retraksi papila mamma atau kerutan kulit.
9
Karsinoma ini terdiri dari sel tumor yang tersususn dalam bentuk sarang-
sarang kecil atau batang, yang menunjukan pleimorfisme ringan, berada di dalam
musin yang sangat banyak. Musin tersusun atas glikoprotein asam lemah atau
bahkan netral, yang disekresi oleh sel tumor dan berbeda dengan glikoprotein
stroma.
9
Keberhasilan hidup penderita ini lebih baik dibandingkan dengan penderita
karsinoma duktus invasif atau karsinoma lobuler invasif.
18



Gambar 6. Makroskopis dan mikroskopis karsinoma musinosum
11


2.8.8 Karsinoma tubuler
Sesuai dengan namanya, karsinoma tubuler merupakan karsinoma
berdiferensiasi baik yang terdiri atas sel ganas yang tersusun tubuler. Karsinoma
ini biasanya berupa sel kecil, berdiameter kurang dari 10 mm, kenyal, membentuk
benjolan dengan batas ireguler. Karsinoma tubuler merupakan 1-2% dari
karsinoma invasif, dimana tumor ini banyak terdeteksi pada saat skrining.
9
Secara histologis, karsinoma ini terdiri dari struktur tubuler yang sempurna,
sel yang agak pleimorfik dengan aktivitas mitotik ringan. Stroma tersebut padat,
sering disertai elastosis.
9
Prognosis penderita karsinoma tubuler lebih baik dibandingkan dengan
penderita karsinoma duktus invasif yang berdiferensiasi baik.
9


Gambar 7. Mikroskopis Karsinoma tubuler
11



19

2.8.9 Karsinoma meduler
Insiden karsinoma meduler sulit diketahui karena tidak semua kriteria
diagnostik digunakan secara ketat di dalam berbagai penelitian. Karsinoma ini
termasuk yang jarang ditemukan (sampai 5%). Tumor ini mungkin kurang dari
1% seluruh karsinoma invasif, dan biasanya ditemukan pada wanita post-
menopause.
9
Karsinoma meduler berbatas jelas, dan sering besar dengan daerah nekrosis.
Secara histologis, karsinoma ini terdiri dari atas kelompok besar sel dengan
stroma sedikit. Sel menunjukan pleimorfisme yang nyata dan banyak ditemukan
mitosis. Tidak pernah ditemukan bentuk kelenjar. Gambaran sitologis
menunjukan karsinoma berdiferensiasi buruk. Disekitar pulau sel tumor terdapat
sebukan limfosit yang prominen terutama limfosist T dengan makrofag.
9
Walaupun gambaran sitologisnya sel tumor tampak agresif, angka 10 year
survival tumor rate tumor ini lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat
pada penderita karsinoma duktus invasif. Terdapatnya infiltrasi limfosit dan
magrofag mengkin menunjukan efek yang menguntungkan, dan keadaan ini
merangsang penelitian lebih lanjut mengenai respons imunologis terhadap tumor
secara umum.
9


Gambar 8. Makroskopis karsinoma medular
10




20

2.8.10 Karsinoma papiler
Karsinoma papiler merupakan tumor yang jarang ditemukan dan timbul pada
wanita post- menopause. Karsinoma ini biasanya berupa tumor yang berbatas
tegas disertai nekrosis fokal, dengan reaksi stroma yang ringan. Tumor ini
membentuk struktur papiler, dan daerah pertumbuhan papiler intraduktus biasanya
ditemukan. Prognosis karsinoma ini lebih baik dibandingkan dengan karsinoma
duktus invasif.
9

2.8.11 Jenis lainya
Jenis karsinoma mamma alainya yang sangat jarang ditemukan ialah
karsinoma adenoid kistik, karsinoma sekretori yang banyak ditemukan pada
juvenil, karsinoma apokrin yang tersusun atas sel dengan sitoplasma eosinofilik
yang banyak dan karsinoma dengan metaplasia, misalnya gambaran skuamosa,
sel kumparan, kartilaginosa dan gambaran penulangan.
9















21

2.9 Kerangka teori






















Neoplasma Jinak Payudara Neoplasma Ganas Payudara
Makroskopis
Tampak suatu tumor yang bersimpai
Bewarna putih keabu-abuan
Pada penampang tampak jaringan
ikat bewarna putih
Kenyal serta tampak bagian-bagian
yang menonjol kepermukaan
Besarnya 2-6 cm
Makroskopis
Tumor terbatas pada duktus
(karsinoma duktus in situ)
Perubahan pada asinus disebut
karsinoma lobuler in situ
Tumor menembus membran basalis
disebut karsinoma invasif
Diameter karsinoma beragam mulai
kurang dari 10 mm sampai lebih dari
80 mm, tetapi paling sering ditemukan
antara 20-30 mm





Mikroskopis
Terdiri dari sel epitel dan stroma
Pada bentuk perikanalikulus sel
epitel dan miopitel membentuk
duktus bundar sampai memanjang
yang dikelilingi oleh stroma
fibroblastik longgar
Kelainan Payudara
Mikroskopis
Pada karsinoma duktus in situ duktus
dapat terisi penuh sel (tipe solid) atau
mengandung nekrosis sentral
Pada karsinoma lobular in situ di
dalam asinus sel normal diganti oleh
sel yang relatif uniform, bersitoplasma
jernih tersusun longgar dan non
kohesif
Pada karsinoma invasif terdapatnya
reaksi jaringan fibrosa yang menonjol
terutama pada bagian sentral tumor

22

BAB 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN
DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep
Kerangka operasional peneliti tentang Diameter Tumor Payudara Pada
Fibroadenoma Mamae dan Karsinoma Mamae di Rumah Sakit Pirngadi Medan
2012-2013.




3.2 Variabel Penelitian
Sesuai dengan hipotesis dan desain penelitian yang akan dilakukan, maka
variabel dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel bebas : Diameter Tumor Fibroadenoma Payudara dengan
Karsinoma Payudara di Rumah Sakit Pirngadi Medan 2011-2012
berdasarkan pemeriksaan fisik yang diperoleh dari rekam medik.
2. Variabel tergantung : Fibroadenoma Mamae dan Karsinoma Mamae di
Rumah Sakit Pirngadi Medan 2011-2012.

3.3 Defenisi operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
Diameter Tumor Payudara adalah diameter tumor terbesar yang
dijumpai pada hasil operasi.
Fibroadenoma Mammae adalah tumor jinak payudara yang berbatas
tegas dengan konsistensi padat kenyal yang didiagnosa dari hasil
histopatologi PA.
Diameter tumor payudara Fibroadenoma Payudara
Karsinoma Payudara
23

Karsinoma mammae adalah tumor ganas payudara yang dijumpai
adanya sel ganas dari hasil histopatologi tanpa melihat jenis varianya.

3.4 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian Analitik Katagorik Berpasangan Dengan
Dua Hipotesa

3.5 Waktu Dan Tempat Penelitan
3.5.1 Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2013 sampai oktober 2013
3.5.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Pirngadi Medan di Jalan Prof. HM.
Yamin Sh No.47

3.6 Populasi Dan Sampel Penelitian
3.6.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah semua data rekam medis pasien Tumor
Payudara Pada Fibroadenoma Mamae dengan Karsinoma Mamae yang memiliki
data yang lengkap yaitu nama, jenis kelamin, alamat, dan pemeriksaan
laboratorium pada Periode di Rumah sakit Pirngadi medan 2011-2012.

3.6.2 Sampel Penelitian
Besar sampel yang diambil dari pasien Tumor Payudara Pada Fibroadenoma
Mamae dengan Karsinoma Mamae yang tercatat dalam rekam medis di Rumah
Sakit Pirngadi Medan. Teknik pengambilan sampal dilakukan dengan teknik
Simple Random Sampling yaitu dengan pengambilan sampel secara acak dan
sederhana yaitu dengan mengundi data Rekam Medik penderita Fibroadenoma
Payudara dan karsinoma Payudara di Rumah Sakit Pirngadi Medan 2011-2012.


24

Besar sampel yang akan diteliti dihitung dengan menggunakan rumus berikut :


Z : Defiat Baku Alfa
Z

: Defiat Baku Beta
: Besarnya diskordan (ketidaksesuaian)
P
1
- P
2
: Selisih proporsi minimal yang dianggap bermakna
Untuk menentukan besar sampel, peneliti menetapkan bahwa perbedaan
proporsi minimal adalah sebesar 20% dengan proporsi diskordan 0,4. Bila
ditetapkan kesalahan tipe I sebesar 5%, kesalahan tipe II sebesar 20%, dengan
hipotesis dua arah. Peneliti menetapkan alfa sebesar 5% sehingga nilai Z

= 1,96 ,
Z

= 0,84 , P
1
- P
2
= 0,2 , = 0,4 Dengan demikian, besar sampel yang diperlukan
adalah:
n
1
= n
2
= (Z+Z

)
2

(P
1
-P
2
)
2

= (1,96 + 0,84)
2
0,4
(0,2)
2
= 78,40 (dibulatkan menjadi 79)
Dengan demikian, besar sampel untuk tiap kelompok adalah 79.

3.7 Kriteria inklusi dan Eksklusi
3.7.1 Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian pada populasi
target dan pada populasi terjangkau.
n
1
= n
2
= (Z+Z

)
2

(P
1
-P
2
)
2

25

Kriteria Inklusi dalam penelitian ini adalah :
Wanita/Pria
Memiliki hasil pemeriksaan histopatologi Fibroadenoma Mamae atau
Carsinoma Mamae
Data yang lengkap mengenai diameter tumor payudara
3.7.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi sampel adalah sebagian subjek yang memenuhi kriteria
inklusi harus dikeluarkan dari situasi karena berbagai sebab.
Kriteria Eksklusi pada penelitian ini adalah :
Data yang tidak lengkap mengenai hasil histopatologi tumor
Fibroadenomam Mamae dan Carsinoma Mamae

3.8 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder
yang diperoleh dari kartu rekam medik pasien Tumor Payudara Pada
Fibroadenoma Mamae dengan Karsinoma Mamae di Rumah Sakit Pirngadi
Medan 2011-2012.

3.9 Metode Pengolahan Data
Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan
atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara tertentu:
1. Editing
Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data.
2. Coding
Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapanya
kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan
komputer.


26

3. Entry
Data yang telah dibersihkan kemudian dimasukan ke dalam program
komputer.
4. Cleaning
Pemeriksaan semua data yang telah dimasukan ke dalam komputer guna
menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data.
5. Saving
Penyimpanan data untuk siap dianalisa.

3.10 Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan bantuan program SPSS for windows
(sistem komputerisasi) untuk melihat presentase yang terkumpul. Uji
normalitas data untuk Diameter Tumor Payudara Pada Fibroadenoma
Mamae dipakai uji normalitas kormogrove-sminnov sedangkan untuk
Diameter Tumor Payudara Karsinoma Mamae digunakan uji normalitas
Shapiro-Wilk. Uji hipotesis dengan Independent T-Test untuk mengetahui
apakah ada perbedaan signifikan antara Diameter Tumor Payudara Pada
Fibroadenoma Mamae dan Karsinoma Mamae.











27

DAFTAR PUSTAKA

1. Kumar V, Cotran R.S, Robbins S.L. Buku Ajar Patologi Robbins Edisi 7.
Volume 2. Jakarta: EGC,2007 hal 788-800
2. Nasar MI, Himawan S, Marwato W. Buku Ajar Patolgi II (khusus).
Jakarta: Sagung Sato,2010 hal 375-399
3. Soedoko R, Chandrasoma P. Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2Cetakan
I. Jakarta:EGC,2005 hal 742-751
4. Himawan S. Kumpulan Kuliah Patologi. Jakarta: FK UI hal 329-336
5. Sander AM. Atlas Bewarna Patologi Anatomi Jilid 2. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada,2007 hal 67-71
6. Snel,RS. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran.
Jakarta:EGC,2006 hal 420-525
7. http://www.google.com/search?q=gambar+payudara+normal&oe=utf-
8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client di kutip tanggal 4 April
2013 jam 15.30 WIB
8. Sander AM. Atlas Bewarna Patologi Anatomi Jilid 1. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada,2007 hal 29-33
9. Underwood, Sarjadi. Patologi Umum dan Sistematik Edisi 2.
Jakarta:EGC,1999 hal 544-566
10. http://www.google.com/search?q=mikroskopis+fibroadenoma&oe=utf-
8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client di kutip tanggal 4 April
2013 jam 15.30 WIB
11. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16747/4/Chapter%20II.pd
f di kutip tanggal 4 April 2013 jam 15.30 WIB
12. Notoatmodjo ,S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta:Rineka
Cipta,2010 hal 24-242

28

DAFTAR RIWAYAT HIDUP






I. KETERANGAN PERORANGAN
Nama : Rika Susanti
Nim : 10.100.1201
Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 16 Mei 1992
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Mahasiswi
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum Menikah
Tempat Tinggal : Jl. AR Hakim Gg Tengah No 20 Medan

II. RIWAYAT PENDIDIKAN
1998 2004 : SD 38 Limau Hantu
2004 2007 : SMP Negeri 3 Medan
2007 2010 : SMA Harapan Mandiri Medan
2010 Sampai sekarang : Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sumatera Utara