Anda di halaman 1dari 29

www.infid.

org


1

Agenda Pemajuan HAM
Usulan Masyarakat Sipil untuk Presiden Mendatang
RINGKASAN
1. MENYELESAIKAN KASUS PELANGGARAN HAM MASA LALU. Presiden terpiilh Joko Widodo berjanji
untuk menghapuskan peraturan-peraturan yang diskriminatif dan berpotensi melanggar hak asasi
manusia, menjamin pemenuhan hak asasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan jaminan social, serta
menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu seperti kasus kerusuhan Mei, Trisakti,
Semanggi 1 dan 2, Penghilangan Paksa, Talang Sari-Lampung, Tanjung Priok, dan Tragedi 1965.

2. KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI. Untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu
pemerintah harus serius dalam memperkuat pengadilan HAM dan segera menyelesaikan proses
drafting UU mengenai Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) baru yang mengacu pada standar
hukum HAM dan prinsip HAM internasional. Amnesti tidak boleh diberikan kepada pelaku pelanggaran
HAM berat. Di saat yang sama, pemerintah juga perlu untuk memperkuat mandate dan fungsi Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Peran Kejaksaan Agung selaku lembaga penyidik harus
dievaluasi karena selama ini penyelidikan kasus pelanggaran HAM mentok di lembaga ini.

3. CETAK BIRU KOTA DAN KABUPATEN HAM. Pemerintah mendatang perlu membangun cetak biru
pemerintahan daerah yang ramah terhadap hak asasi manusia (human rights cities). Pendekatan ini
diperlukan untuk menjembatani ketimpangan perlindungan dan pemenuhan HAM di daerah-daerah
seperti tecermin dalam beragam peraturan daerah yang diskriminatif, kekerasan atas nama agama di
daerah-daerah, serta memburuknya layanan kesehatan di daerah. Dengan pendekatan ini, pemerintah
pusat menetapkan standar norma HAM internasional, menyediakan anggaran, dan pengembangan
kapasitas untuk pemerintah lokal sebagai actor yang berdiri paling dekat dan berurusan dengan
pembangunan HAM dalam kehidupan sehari-hari.

4. MEMBAHAS DAN MENGESAHKAN RUU PEMBELA HAM. Sebagai pihak yang menandatangani Deklarasi
Pembela HAM, Pemerintah Indonesia mendatang harus memberikan pengakuan dan perlindungan
terhadap Pembela HAM salah satunya melalui pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-
Undang Pembela HAM yang telah diinisiasi masyarakat sipil sejak 2009.

5. SEGERA MENCABUT PASAL-PASAL DALAM UU NO 17/2013 TTG ORMAS. Di saat yang sama
pemerintahan mendatang juga harus mencabut peraturan-peraturan yang menghalangi kerja para
pembela HAM (human rights defender) seperti UU no 17/2013 mengenai Ormas, beberapa pasal di
KUHP (a.l. pasal 310 , 311 dan 315 terkait dengan pencemaran nama baik, pasal 154 dan 155 mengenai
tindak pidana menyatakan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan di muka umum
terhadap Pemerintah Republik Indonesia), (Haatzaai Artikelen) dan Pasal 27 ayat ( 3 ) dari UU No 11
tahun 2008 mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

6. PENGUATAN MANDAT KOMISI HAM ASEAN. Presiden mendatang juga perlu untuk memfokuskan
diplomasi HAM di kawasan Asia Tenggara menuju penguatan mandate perlindungan dan independensi
Komisi HAM ASEAN (AICHR). Pemerintah bisa memberikan dukungan anggaran dan kesekretariatan
yang lebih kuat kepada AICHR dan meneruskan inisiatif baik seperti Jakarta Human Rights Dialogue.
Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan berlaku pada tahun depan,
Pemerintah juga perlu mendorong AICHR untuk menyelaraskan aturan yang mengatur bisnis dan HAM
dengan standar dan norma HAM internasional yang telah ada

No.3Tahun2014
A
n
a
l
i
s
i
s
I
N
F
I
D

ANALISIS INFID disusun sebagai bahan masukan kepada calon presiden dan calon legislatif Indonesia yang akan berkampanye dan dipilih oleh rakyat Indonesia dalam
pemilu 2014 ini serta pengambil kebijakan.

Bahanbahan penulisan berdasarkan sumbersumber media dan kajian yang dapat dipercaya. Kesimpulan dan rekomendasinya diupayakan dapat diuji dan
diperdebatkan.

Tujuannya untuk menyuarakan suara dan usulanusulan kelompok masyarakat sipil Indonesia dan warga negara yang memimpikan politik yang cerdas dan berbasis
program dan menginginkan pembangunan yang lebih Inklusif, untuk semua dan melindungi hak asasi manusia.

Tim penyusun:
Chrisbiantoro, Hilman Handoni, Swandaru
** Diperkenankan untuk mengutip dengan menyebut judul dokumen dan nama penyusun.




www.infid.org


2
Agenda Femajuan HAM
UsuIan Masyarakat SIpII untuk FresIden Mendatang

Dalam bilangan bulan, Indonesia akan melantik presiden barunya: Joko
Widodo. Jokowi, begitu dia biasa disapa berjanji untuk menjadi presiden taat Konstitusi:
yang mengamanatkan perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia (HAM) dalam
bidang pekerjaan dan hak hidup, pendidikan, berekspresi dan berserikat, tempat
tinggal dan lingkungan yang layak, kesehatan, dst. Taat pada konstitusi berarti
melaksanakan pembangunan HAM yang menjadi amanat konstitusi.
Setelah 16 tahun reformasi, situasi HAM di Indonesia masih memprihatinkan.
Penuntasan kasus HAM masa lalu, seperti kerusuhan Mei, Trisakti, Semanggi 1 dan 2,
Penghilangan Paksa, Talang Sari-Lampung, Tanjung Priok, dan Tragedi 1965 masih
belum dituntaskan. Distribusi kekuasaan melalui otonomi daerah diwarnai dengan
kasus-kasus kekerasan atas nama agama. Dalam laporannya tahun 2013, Wahid
Institute mencatat dalam lima tahun terakhir angka pelanggaran kebebasan beribadah
dan berkeyakinan terus naik dan mencapai rata-rata 219 kasus per tahun. Komisi
Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) juga mencatat
peraturan daerah yang diskriminatif terhadap perempuan sepanjang 2013 adalah 342,
meningkat dari 282 pada tahun sebelumnya.1 Sementara itu dalam bidang pemenuhan
hak-hak kesehatan, angka kematian ibu meningkat dearah yang diskriminatif justru
bermunculan. Ketiadaan jaminan HAM menyebabkan ketidakpastian dan keresahan
terus-menerus. Sementara itu ketidakpastian penuntasan kasus HAM yang telah terjadi
sudah mencabik-cabik hak korban atas keadilan. Dia juga menjadi beban politik seluruh
bangsa Indonesia yang akhirnya mengganggu pembangunan secara keseluruhan.
Tulisan kompilasi ini berusaha menawarkan beberapa agenda pembangunan
HAM yang dapat dilaksanakan oleh presiden mendatang. Agenda-agenda ini adalah
beberapa prasyarat atau fondasi bagi pembangunan HAM di masa yang akan datang.
Empat agenda yang perlu menjadi prioritas tersebut adalah (i) mewujudkan standar
keadilan sebagai upaya untuk menuntaskan kasus HAM masa lalu (ii) memperkuat
pemerintah lokal untuk pemenuhan HAM di daerah (iii) perlindungan pembela HAM
dan (iv) diplomasi untuk memperkuat mekanisme HAM regional.

1
http://www.tempo.co/read/news/2014/01/20/063546436/Komnas-Perempuan-Perda-Diskriminatif-Meningkat

www.infid.org


3

Penuntasan PR HAM Masa lalu: Mewujudkan Standar Keadilan bagi Keadilan Transisi di
Indonesia
Proses transisi keadilan di Indonesia berjalan sangat lamban. Enam belas tahun
setelah Soeharto lengser, pemerintah transisi tidak kunjung mampu menjawab dan
menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu melalui mekanisme yang ada.
Namun demikian, ada beberapa hal positif yang telah dihasilkan oleh pemerintah
transisi, diantaranya adanya UU tentang pengadilan HAM, dan masih melakukan proses
drafting untuk UU KKR yang baru, kemudian pemerintah juga telah meratifikasi
sejumlah instrumen hukum HAM internasional, Qanun KKR untuk Aceh.
Tetapi, dari sederet catatan tersebut, pemerintah masih gagal untuk
memperkuat perlindungan dan pemenuhan HAM di tingkat nasional, khususnya untuk
mewujudkan keadilan bagi para korban. Sudah saatnya bagi pemerintah untuk
membangun standar keadilan bagi segala upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM
berat di Indonesia. Pemerintah dapat menggunakan konsepsi keadilan retributif dan
keadilan restoratif untuk mendukung mekanisme yang ada yakni pengadilan HAM dan
KKR. Selain itu, penting untuk dipikirkan bagi penguatan mandat dan fungsi Komnas
HAM, dan peran Kejaksaan Agung selaku lembaga penyidik harus dievaluasi, dalam
rangka membangun profesionalisme dan pengetahuan tentang HAM yang lebih baik.
Dalam konteks KKR, pemerintah tidak boleh menunda kembali dengan
berbagai alasan, karena dalam periode transisi, KKR sangat penting untuk melengkapi
mekanisme pengadilan HAM yang tersedia. Persoalan dari KKR Indonesia adalah
amnesty untuk pelaku, pemulihan hak korban dan pengungkapan kebenaran, oleh
karenanya KKR yang akan dibentuk kemudian harus dibentuk mengacu pada standar
hukum HAM dan prinsip HAM internasional, dimana amnesti tidak boleh diberikan
kepada pelaku pelanggaran HAM berat. Pemerintah harus mengubah sikap dan
menunjukan keseriusan untuk membangun standar keadilan yang akan
menguntungkan masyarakat Indonesia, khususnya para korban. Jika Indonesia
berhasrat membangun citra positif ditingkat internasional, maka tidak ada jalan lain
bahwa penegakan hukum harus menjadi andalan. Indonesia harus berani menghadapi
masa lalu dan belajar dari pengalaman tersebut, jika hal ini diabaikan, maka akan terus
terjadi keberulangan.


www.infid.org


4
Pemerintahan lokal dan pemenuhan HAM
Dalam concluding observation sidang pemenuhan hak-hak ekonomi, sosial,
dan budaya (Ekosob) Indonesia pada Juli lalu, Komite Ekonomi dan Sosial PBB meminta
pemerintah meninjau dan membatalkan peraturan-peraturan daerah yang diskriminatif
terhadap perempuan dan kelompok marginal lainnya. Komite mengingatkan Kovenan
yang telah diratifikasi Indonesia adalah kewajiban pemerintah secara keseluruhan,
termasuk pemerintah daerah.
Era desentralisasi dimulai sejak lahirnya Undang-Undang Otonomi Daerah
tahun 1999. Namun distribusi kekuasaan itu tidak diikuti dengan peningkatan
kebebasan dan kesejahteraan masyarakat. Selain angka kematian ibu dan anak,
prevalensi gizi kurang pada balita juga tercatat masih tinggi (17,9%). Padahal MDGs
menargetkan gizi buruk ditekan hingga 15% hingga 2015.2 Dalam bidang hak-hak sipil,
kasus kekerasan atas nama agama terus meningkat di berbagai daerah, seperti yang
dicatatkan Wahid Institute. 3 Komisi Nasional Perempuan mencatat peningkatan
peraturan daerah yang diskriminatif terhadap perempuan. Jumlahnya, sepanjang 2013
adalah 342,meningkat dari 282 pada tahun sebelumnya.4
Pemerintah punya panitia pelaksana Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia
(RANHAM) mulai dari tingkat nasional sampai kabupaten. Tapi evaluasi SETARA
Institute menyebut dari 103 program RANHAM 2004-2009 hanya 56 program saja yang
jalan. Lainnya terhambat karena dorongan politik yang kurang dari birokrasi lintas
departemen sampai dengan pemerintah daerah, minimnya kecakapan panitia RANHAM
di daerah, hingga perencanaan yang tidak disertai dengan penganggaran.5 Pemerintah
juga mendorong peran aktif kabupaten/kota dalam memenuhi HAM melalui
penghargaan Kabupaten/Kota Peduli HAM. Namun kriteria dasar penghargaan: (i) hak
hidup, (ii) hak mengembangkan diri, (iii) hak atas kesejehteraan, (iv) hak atas rasa aman,
dan (v) hak perempuan dinilai kurang memadai karena lebih bersifat pelaporan rutin
dan tidak berorientasi pada pemecahan masalah. Dorongan juga tidak diikuti dengan
komitmen alokasi anggaran dan dukungan pengembangan kapasitas.
Pendekatan Human Rights City (Kota/Kabupaten Ramah HAM) bisa menjadi
jembatan mengatasi ketimpangan antara standar HAM internasional yang menjadi
domain pemerintah pusat dengan pelaksanaan di lapangan (daerah). Perlindungan dan

2
http://www.tempo.co/read/news/2013/02/25/173463527/2015-Indonesia-Masih-Menghadapi-Gizi-Buruk
3
http://www.freedomhouse.org/report/freedom-world/2014/indonesia-0#.U8krAfmSxqU
4
http://www.tempo.co/read/news/2014/01/20/063546436/Komnas-Perempuan-Perda-Diskriminatif-Meningkat
5
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b6aa27ae0e2f/ranham

www.infid.org


5
promosi HAM lebih efisien karena diurus oleh pemerintah yang berdiri paling dekat dan
mengurusi kehidupan sehari-hari warganya. Pemerintah pusat menetapkan standar
norma dan kebijakan HAM serta mendukung penuh anggaran dan pengembangan
kapasitas HAM pemerintah lokal.
Untuk disebut sebagai Human Right City, sebuah kota atau kabupaten harus
memenuhi beberapa prasyarat seperti (i) pembangunan kapasitas (pendidikan) HAM
untuk PNS (ii) sokongan anggaran (iii) Layanan (transportasi, trotoar, taman) untuk
orang, termasuk kaum difabel, anak, manula, (iv) informasi yang terbuka (v) mekanisme
aduan (vi) tata pemerintahan yang baik (vii) lingkungan hidup yang sehat (viii) eliminasi
kesenjangan kelas sebagai dasar untuk menciptakan masyarakat adil, dan (ix)
hubungan dengan pemerintahan pusat dalam rangka mendiskusikan dan
membangkitkan kesadaran nasional mengenai perlindungan HAM.6
Membela Para Pembela HAM di Indonesia
Dalam sepuluh tahun terakhir Imparsial mencatat kekerasan terhadap pembela
HAM mencapai rata-rata sekitar 25 kasus per tahun. Indonesian Corruption Watch (ICW)
mencatat sejak 1998 sekitar 40 orang penggiat anti korupsi telah mengalami ancaman
dengan beragam cara. Angka itu diyakini lebih kecil dari yang sebenarnya terjadi,
mengingat banyak kasus yang tidak mendapatkan liputan media atau tidak
terdokumentasi. Para pelaku seringkali tidak diproses secara formal di pengadilan dan
dihukum.
Pembela HAM berada di garis depan perjuangan penghormatan HAM di mana
terjadi pelanggaran HAM. Mereka adalah instrumen penting dalam mempertahankan
hak korban dan masyarakat luas. Tidak hanya mengkritisi otoritas yang melanggar hak
individu, tetapi juga melakukan upaya memajukan HAM, demokrasi, dan the rule of
law melalui publikasi instrumen HAM dan advokasi kebijakan terhadap otoritas
negara maupun lembaga-lembaga regional dan internasional.7
Meski Indonesia sudah menandatangani Deklarasi Pembela HAM, namun
pemerintah masih belum memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak
yang melekat pada pembela HAM. Masyarakat sipil berupaya mendorong pengakuan

6
D.B Seetulsingh, 2014, The Right to The City and Local Governments:: How Can Municipalitites Translate This Rights into Local Policies
makalah dipresentasikan pada World Human Rights Cities Forum di Gwangju, Korea Selatan.
7
General Assembly, Human Rights Defenders, Report of the Special Representative, The interim report of the Special Representative
(SRep), 2 July 2002.

www.infid.org


6
ini dengan inisiatif Rancangan Undang-Undang Pembela HAM. RUU ini masuk dalam
Program Legislasi Nasional 2010-2014sebuah prestasi yang cukup maju, mengingat
inisiatif semacam ini belum pernah ada dari negara manapun. Namun, hingga pemilu
kembali digelar tahun ini, RUU ini sama sekali tidak mengalami kemajuan bahkan buntu
karena sampai anggota legislative periode 2009-2014 berakhir, RUU sama sekali belum
dibahas.
Keadaan semakin berat menyusul disahkannya Undang-Undang (UU) Nomor 17
Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang bersemangat membatasi
dan berserikat dengan administrasi yang kelewat ketat dan pengaturan ideologi
organisasi. Gugatan atas UU ini masih berlangsung. Selain UU Ormas, UU lain lain yang
kerap dipakai untuk membatasi dan mengancam Pembela HAM di antaranya KUHP
Pasal 134, Pasal 136, dan Pasal 137 tentang tindak pidana penghinaan terhadap
Presiden dan/atau Wakil Presiden (putusan MK menyatakan UU ini melanggar
konstitusi dan tidak lagi punya kekuatan hokum), Pasal 310, Pasal 311, Pasal 315
tentang tindak pidana pencemaran nama baik (gugatan dua wartawan, Bersihar Lubis
dan Risang Bima Wijaya namun ditolak hakim), dan UU No. 1/PNPS/1965 tentang
Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (penggugat di antaranya, Abdurahman
Wahid, Musdah Mulia, Dawam Rahardjo. MK juga menolak permohonan ini).
Indonesia telah menandatangani Deklarasi Pembela HAM (Declaration on the
Rights and Responsibility of individuals, Groups, and Organs of Society to Promote and
Protect Universally Recognized Human Rights and Fundamental Freedom). Karena itu
pemerintah punya tanggung jawab melaksanakan dan menghormati semua ketentuan
dalam Deklarasi Pembela HAM. Pemerintah perlu menghidupkan RUU Pembela HAM.
Bersama dengan itu, berbagai aturan yang membatasi para pembela HAM juga mesti
dicabut. Selain itu sebagai komisi negara, Komnas HAM juga perlu memiliki desk khusus
yang bisa memfasilitasi semua aktivitas pembela HAM. Misalnya, membuka ruang
informasi, dan partisipasi yang seluas-luasnya, baik dalam proses pembentukan UU
maupun dalam penyelesaian kasus.
Perlindungan HAM Regional
Kebijakan liberalisasi investasi dan perdagangan regional telah menyebabkan
berbagai kasus pengrusakan lingkungan serta kepunahan keanekaragaman hayati,8

8
Misalkan laporan Greenpeace mengenai dampak perkebuna sawit terhadap pupulasi harimau sumatera dalam laporan berjudul Licence
to Kill http://www.greenpeace.org/international/en/publications/Licence-to-kill/

www.infid.org


7
termasuk pelanggaran hak asasi manusia. 9 ASEAN akan memberlakukan skema
perdagangan tersebut lewat Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan berlaku pada akhir
tahun depan. Celakanya, negara-negara ASEAN memiliki kelemahan dan kesenjangan
hukum yang mengatur bisnis dan pemenuhan hak asasi manusia, seperti yang
ditunjukkan dalam studi Human Rights Resource Center for ASEAN. 10 Untuk itu
dibutuhkan mekanisme perlindungan HAM regional yang kuat untuk mengantisipasi
dampak buruk Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Indonesia telah berperan aktif atas perumusan Piagam ASEAN pada 2008, yang
mengandung nilai-nilai demokrasi dan pemajuan serta perlindungan HAM. Piagam
tersebut diikuti dengan pembentukan Komisi HAM Antar-Negara ASEAN (AICHR), yang
dimandatkan untuk melindungi dan mempromosikan HAM di kawasan Asia Tenggara.
Namun lima tahun sejak didirikannya, tak ada satupun kasus pelanggaran HAM yang
direspons, apalagi diselesaikan oleh Komisi ini.
Kritik yang disuarakan masyarakat sipil menyebut kelemahan perlindungan
mandate AICHR ini disebabkan ketiadaan instrumen untuk menerima aduan dari
perseorangan maupun kelompok sebagai basis dari penyelidikan kasus HAM. Sebagai
badan konsultatif di bawah secretariat ASEAN, AICHR juga dinilai tidak independen
karena terikat dengan kepentingan pihak negara anggotanya. Hanya ada dua negara,
Indonesia dan Thailand yang memberlakukan proses rekrutmen terbuka dengan uji
kepatutan. Yang lainnya dipilih dan kadang-kadang tidak memiliki kompetensi dalam
bidang HAM.
Ada paling tiga hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kinerja AICHR. Yang
pertama memperkuat mandate perlindungan AICHR. Ini bisa dilakukan dengan
memasukkan prosedur komunikasi di AICHR untuk menerima, menganalisis, dan
menginvestigasi pengaduan terkait dengan pelanggaran HAM. Kedua, AICHR harus
independen, tidak sebatas badan antar-pemerintah yang hanya bersifat konsultatif.
Rekruitmen anggota AICHR mesti dilakukan secara terbuka dan akuntabel dan betul-
betul memerhatikan rekam jejak kandidat. Penting juga menyediakan dukungan
anggaran dan kesekretariatan yang kuat untuk menunjang fungsi AICHR. Ketiga, AICHR
perlu mengembangkan kerja sama dengan para stakeholders termasuk badan-badan
sektoral ASEAN lain, institusi HAM nasional, dan masyarakat sipil. AICHR perlu

9
http://www.businessweek.com/articles/2013-07-18/indonesias-palm-oil-industry-rife-with-human-rights-abuses
10
http://khabarsoutheastasia.com/id/articles/apwi/articles/features/2013/05/04/feature-02

www.infid.org


8
melangsungkan dialog-dialog konstruktif secara regular dengan para stakeholders
untuk mendapatkan input-input yang bermakna untuk kerja mereka.
Lantas apa yang bisa dilakukan presiden mendatang? Presiden mendatang bisa
memberi dukungan anggaran dan kesekretariatan yang lebih kuat untuk membantu
kerja-kerja AICHR. Dengan lokasi Sekretariat ASEAN yang sudah ada di Jakarta, rasanya
tak sulit bagi Indonesia untuk mengambil inisiatif penguatan anggaran dan
kesekretariatan AICHR. Yang tak kalah penting, presiden mendatang perlu melakukan
diplomasi intensif untuk mendorong level kenyamanan negara-negara anggota ASEAN
untuk membicarakan dan memajukan HAM di negara masing-masing dan di kawasan.
Kenyamanan ini penting untuk menghasilkan dukungan politik yang kuat terhadap
AICHR untuk memperkuat mandate perlindungannya dan mempertegas
independensinya. Dengan reputasi proses demokratisasi yang berjalan relative damai
dan sebagai sebagai negeri demokratis ketiga terbesar di dunia, Indonesia punya
modal untuk melakukan diplomasi tersebut.



www.infid.org


9
LAMPIRAN 1.

FLFLUNYA MLWU1UDKAN STANDAF KLADILAN
A6I KLADILAN TFANSISI DI INDDNLSIA

DIeh : ChrIsbIantoro
11


Pendahuluan
Sejak Soeharto jatuh pada tanggal 20 Mei 1998, akibat derasnya gelombang reformasi,
Indonesia sampai saat ini belum mampu menyelesaikan beragam bentuk pelanggaran HAM dan
ketidakadilan yang terjadi pada masa Orde Baru, bahkan ketika Soeharto meninggal pada 2008
silam, tidak nampak ada kemajuan dalam penegakan HAM. Kondisi ini sunggung ironis, meskipun
pemerintah transisi telah mengesahkan beberapa Undang-Undang ditingkat nasional yang
mengatur tentang HAM dan pengadilan HAM, bahkan Indonesia juga pernah membentuk
pengadilan HAM, namun keadilan untuk korban masih tetap sulit diwujudkan. Terkait kondisi ini,
Professor Suzannah Linton menyatakan bahwa mengadopsi hukum-hukum yang menyisakan
celah, dan pengadilan yang lemah, tanpa prinsip-prinsip dan keyakinan mendasar tentang
transparansi, proses hukum yang jujur dan akuntabilitas penegakan hukum, hanya akan
meninggalkan luka mendalam untuk Indonesia.
12

Tulisan ini akan menguji dan mengupas lebih mendalam hambatan dan tantangan dari
transisi keadilan di Indonesia, dengan memberikan penekanan pada standar keadilan bagi
penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Dalam konteks ini, standar keadilan
mengacu pada dua aliran pemikiran tentang keadilan, yakni keadilan retributif dan keadilan
restoratif.
Selain itu, tulisan ini juga akan menguji prinsip-prinsip yang terkandung dalam aliran
pemikiran keadilan tersebut, yang mungkin akan sangat berguna bagi penyelesaian kasus
pelanggaran HAM berat di Indonesia, khususnya yang terjadi di masa lalu. Tulisan ini memberikan
penekanan bahwa kegagalan selama enam belas tahun reformasi, hanya menambah kesedihan
dan penderitaan, serta ketidakpastian nasib para korban dan keluarga korban. Namun demikian,
tulisan ini akan memberikan saran kepada pemerintah Indonesia, bahwa jika pemerintah memiliki

11
Penulis adalah wakil Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan [KontraS]
12
Suzannah Linton, Accounting for atrocities in Indonesia', Singapore year book of international law and contributors, 2006,31

www.infid.org


10
keseriusan dan komitmen, maka prinsip keadilan retributif dan restoratif, setidaknya dapat
digunakan sebagai panduan atau referensi dalam membangun standar keadilan bagi
penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu. Kedua prinsip keadilan tersebut, dapat
melengkapi satu dengan yang lain, salah satunya memperkuat opsi jika kasus pelanggaran HAM
berat harus dibawa ke Pengadilan HAM. Kedua prinsip keadilan tersebut juga selaras dengan
gagasan pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi sebagai pelengkap mekanisme pengadilan.
Standar Keadilan : Menjembatani Penuntutan dan Rekonsiliasi
Kita tidak tahu apa itu HAM. Apa yang kita tahu adalah yang terjadi dan pernah menimpa kita, itulah
yang disebut HAM. Kami hanya ingin bertanya kepada pemerintah untuk memberikan perhatian
kepada kami sebagai korban konflik. Jika anda bertanya apa itu HAM, maka kami akan menjawab
kami tidak tahu, namun kami adalah korban.
13

Kutipan kalimat diatas hanyalah contoh dari sebuah perasaan dan harapan korban di
Indonesia untuk mendapatkan keadilan. Namun sayang, tidak satupun, baik pemerintah daerah,
maupun pemerintah pusat yang mau secara ikhlas memberikan perhatian dan pemulihan hak
para korban, meski belakangan terbentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh, namun
sejauh ini peran pemerintah Aceh masih sangat minim, setidaknya proses sosialisasi tidak
menyeluruh dapat di akses dan dipamai oleh korban dan keluarga korban. Hal yang paling simple
diabaikan oleh pemerintah adalah sejauh ini tidak ada mekanisme atau proses pemulihan yang
diprioritaskan kepada korban, baik pemulihan trauma dan pemulihan secara fisik akibat dari
pelanggaran HAM yang dialami.
Oleh karenanya, nasib para korban dan keluarga korban masih tidak menentu hingga saat
ini, pengadilan HAM telah gagal menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat, semisal kasus
pelanggaran HAM berat Tanjung Priok, kasus Timor-Timur pasca jajak pendapat, dan kasus
Abepura Papua. Selain itu, KKR yang pernah dibentuk oleh pemerintah dan DPR, juga tidak
menentu kejelasannya hingga kini, pasca Mahkamah Konstitusi [MK] mencabut UU KKR No 27
Tahun 2004. Namun demikian, Indonesia sebagai anggota dari PBB dan juga anggota Dewan HAM
PBB, dan telah meratifikasi beberapa instrumen penting dari hukum HAM internasional,
pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk meningkatkan standar dan kualitas pemajuan
serta perlindungan HAM didalam negeri, secara khusus penanganan terhadap kasus pelanggaran
HAM berat.
Salah satu jawaban penting dari berlarutnya penyelesaian kasus pelanggaran HAM di
Indonesia adalah tidak adanya standar keadilan yang dimiliki oleh pemerintah, yang tentu saja

13
The International Center for Transitional Justice, Considering Victims the Aceh Peace Process from a Transitional Justice Perspective,
2008, 19

www.infid.org


11
harus didasarkan dan mengacu pada instrumen hukum HAM internasional. Dalam konteks ini,
penuntutan perkara pelanggaran HAM berat, yang diatur oleh UU No 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan HAM, dapat dikategorikan kedalam pendekatan konsep liberal perdamaian. Karena
pengadilan mengedepankan penuntutan sebagai solusi utama dalam rangka menyelesaikan
pelanggaran HAM berat. Dengan kata lain, pendekatan dengan model ini percaya bahwa hanya
melalui penghukuman atau penuntutan, keadilan sebagai sebuah tujuan utama dapat diwujudkan
dan ini juga diyakini sebagai jaminan untuk tidak berulangnya peristiwa serupa dimasa depan.
Dalam pengertian ini, pendekatan model perdamaian liberal akan memperkuat kerangka
penegakan hukum. Hal ini tercermin dari pengalaman, dibawah supervisi PBB, para pelaku
kejahatan pelanggaran HAM berat, diadili di pengadilan HAM semisal pengadilan Kejahatan
Internasional untuk Bekas Negara Yugoslavia [ICTY], dan pengadilan Kejahatan Internasional untuk
Rwanda [ICTR].
14

Merefleksikan persoalan yang muncul dalam sistem peradilan HAM di Indonesia, tulisan ini
menegaskan bahwa persoalan utama adalah buruknya kredibilitas pengadilan itu sendiri, baik
hakim, jaksa termasuk pembela yang menggunakan berbagai cara untuk mementahkan dakwaan.
Selain itu, lemahnya bukti dan pembuktian dalam proses persidangan, membawa dampak pada
kegagalan total dari pengadilan untuk mengungkap kejahatan pelanggaran HAM berat. Ini adalah
kelemahan mendasar dari model keadilan retributif, yang hanya memandang penuntutan sebagai
jalan utama, tanpa memperhitungkan dukungan yang lemah dari pemerintah. Desmond Tutu
pernah mengkritik mekanisme ini sebagai mekanisme balas dendam dan tidak memiliki semangat
untuk merestorasi hubungan yang pernah dikoyak oleh kejahatan HAM. Meski demikian, konsepsi
keadilan retributif yang sesungguhnya, belum hadir di Indonesia, karena pengadilan HAM yang
ada tidak ubahnya pengadilan yang lemah sejak awal, dan dimasutkan untuk gagal.
15

Terkait penyelesaian kejahatan HAM berat melalui jalan penuntutan, Daniel Philpott
memiliki pandangan lain, memahami restorasi, penuntutan adalah dimensi dari keadilan yang
melekat pada mekanisme rekonsiliasi, hal ini tergambar dari sebuah kemurahan hati, dan
bertujuan untuk menjaga perdamaian. Restorasi keadilan, konsepsi ini juga dikenal dalam tradisi
masyarakat Yahudi, Kristen, dan Islam.
16
Dalam konteks ini, pemikiran Daniel Philpott setidaknya
menjelaskan dua hal yang mengkritik pendekatan keadilan secara liberal, selain itu dia juga
menegaskan bahwa kerangka dari keadilan restoratif dan pendekatan restoratif tidak akan
mengorbankan supremasi hukum itu sendiri.

14
Daniel Phillpott, Just and Unjust Peace An Ethic of Political Reconciliation, Oxford University Press, 2012 at 207
15
David A. Crocker, Retribution and Reconciliation, Report from the Institute and Public Policy, 2000, 2- 3
16
Daniel Philpott, Supra Note 4, 208

www.infid.org


12
Lebih jauh lagi, dalam hal kemungkinan untuk membentuk KKR nasional, ini bisa menjadi
alternatif bagi korban atas keadilan yang mereka harapkan. Namun demikian, penting untuk
memastikan agar KKRtetap sinergi dan melengkapi penuntutan kasus pelanggaran HAM berat
melalui peradilan, hal ini sebagaimana disampaikan oleh Jenifer Liewellyn bahwa Dalam KKR
juga melekat prinsip tentang keadilan restoratif melalui keterlibatan publik, bukan keadilan
parsial. Pengertian tentang keadilan restoratif sebagai keadilan yang menyeluruh, yang berarti
bahwa KKR, sejauh ini sebagai bentuk keadilan restoratif, dimana penuntutan dimungkinkan.
17

Dalam konteks mewujudkan standar keadilan yang lebih baik terhadap kejahatan masa
lalu, pemerintah Indonesia harus mengevaluasi penegakan hukum yang sejauh ini diterapkan,
khususnya kegagalan dari pengadilan HAM dan celah yang muncul antara konsepsi hukum dan
praktik hukum, serta nihilnya komitmen pemerintah sebagaimana ditegaskan dalam beberapa
instrumen hukum HAM internasional yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Indonesia
harus mewujudkan dan memperkuat standar keadilan dengan mengkombinasikan antara
keadilan retributif dan keadilan restoratif, karena kedua konsepsi keadilan ini, melengkapi satu
dengan yang lain. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Jonathan Burnside, bahwa keadilan
retributif dan keadilan restoratif sama-sama memiliki keterbatasan. Keterbarasan dari keadilan
restributif dikaitkan dengan persepsi si pelaku. Persepsi yang dipengaruhi oleh tindakan,
sementara dalam batas tertentu keadilan restoratif tidak memiliki keinginan untuk memasuki
tindakan atau motif dari pelaku.
18
Dengan demikian, pemerintah Indonesia, setidaknya memiliki
opsi untuk menggabungkan keduanya.
Amnesty Internasional dalam laporan studi tentang 40 KKR dari berbagai negara, antara
1974 hingga 2010, menyimpulkan bahwa keadilan retributif dan keadilan restoratif dapat
melengkapi satu dengan yang lain, dan seharusnya tidak dipisahkan.
19
Dalam laporannya,
Amnesty menegaskan bahwa bedasarkan perbedaan antara keadilan retributif dan keadilan
restoratif, menandakan bahwa negara-negara memiliki pilihan untuk memutuskan keadilan
seperti apa, atau standar seperti apa yang akan diwujudkan atau hendak dicapai. Negara-negara
dapat memutuskan tidak melakukan penyelidikan dan penuntutan dari kejahatan pelanggaran
HAM berat, semisal genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang, namun
lebih mementingkan pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi komunitas.
20

Dalam konteks transisi keadilan di Indonesia, perangkat hukum yang ada, serta partisipasi
masyarakat sipil dan korban, sebenarnya merupakan modal yang sudah lebih dari cukup.

17
Jennifer Liewellyn, Hand Book of Restorative Justice: Truth Commission and Restorative Justice, Willan Publishing, (Geryy Johnstone et al,
eds 2006)
18
Gerry Johnstone et al, Handbook of Restorative Justice, Willan Publishing, 2007, 142 - 144
19
Amnesty International, Commission Justice; Truth Commission and Criminal Justice, 2010, p 5, Available at
http://www.amnesty.org/en/library/info/POL30/004/2010
20
Id

www.infid.org


13
Indonesia telah meratifikasi beragam instrumen hukum HAM internasional, yang memperkuat
sistem hukum ditingkat nasional. Selain itu, Indonesia juga memiliki UU Pengadilan HAM,
Pembatalan UU KKR No 27 Tahun 2004 adalah bentuk dari perhatian dan partisipasi publik yang
kuat terhadap upaya mewujudkan upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masa lalu,
tanpa mengorbankan keadilan itu sendiri. Bahkan, inisiatif-inisiatif dari masyarakat sipil juga tidak
sedikit, mereka membangun alternatif healing dan penguatan-penguatan korban, sehingga satu-
satunya masalah yang paling mendasar adalah buruknya komitmen pemerintah.
Indonesia harus menunjukan kemauan dan kemampuannya untuk menyelesaikan
kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi dimasa lalu, secara khusus dalam empat praktis politik
rekonsiliasi, yaitu: pengakuan, reparasi, penuntutan dan permaafan dari negara kepada korban
dan keluarga korban. Terkait dengan empat hal tersebut, Daniel Philpott secara jelas menyatakan
bahwa empat praktis politik rekonsiliasi, idealnya dilakukan dengan saling melengkapi satu
dengan yang lain, dan bergerak secara bersama. Keempat praktis tersebut tidak bisa
menggantikan atau diposisikan menghapuskan satu kewajiban dengan kewajiban lainnya. Namun
jika salah satunya tidak dapat diwujudkan, akan menjadi dimensi penting bagi perwujudan
keadilan melalui rekonsiliasi.
21

Upaya Mengikis Tembok Tebal Impunitas
Hingga tahun 2013 dan setelah melewati 16 tahun reformasi, KontraS mencatat bahwa
penanganan terhadap kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu, sama sekali tidak
mengalami kemajuan. Tragisnya, pada pertengahan November 2013, Kejaksaan Agung RI justru
mengembalikan berkas-berkas perkara pelanggaran HAM berat ke Komnas HAM, yang seharusnya
disidik oleh Kejaksaan Agung, seperti biasa dengan dalih untuk dilengkapi.
22
Bahkan sebelumnya,
KontraS mencatat pada bulan Februari 2013, dalam rapat kerja antara perwakilan Kepresidenan,
Kementrian Polhukam dan DPR RI untuk membahas empat rekomendasi DPR RI tahun 1999, yang
salah satunya merekomendasikan pembentukan pengadilan HAM ad hoc untuk kasus
penghilangan paksa aktivis 1997-1998, berkasnya akhirnya juga dikembalikan ke Komnas HAM.
Meski perdebatan terkait pengembalian berkas ini tidak terjadi satu kali ini saja, KontraS
menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung RI merupakan bentuk
pengingkaran dan penghinaan terhadap ketentuan UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan

21
Daniel Philpott, Supra Note 4, 171
22
Berdasarkan informasi yang dihimpun KontraS, berkas-berkas perkara yang dikembalikan ke Komnas HAM tidak disertai dengan petunjuk
atau keterangan yang jelas, pada bagian apa dan informasi apa yang harus dilengkapi oleh Komnas HAM

www.infid.org


14
HAM, dimana Kejaksaan Agung, tidak menjalankan mandat sebagaimana diatur dalam ketentuan
pasal 21,
23
dan pasal 22.
24

Terkait ratifikasi Konvensi internasional untuk perlindungan setiap orang dari
penghilangan paksa [sering disebut juga konvensi anti-penghilangan paksa], KontraS mencatat
bahwa proses ratifikasi sudah berada di Komisi I DPR RI. Beberapa kali KontraS melakukan upaya
lobby untuk menanyakan perkembangan ratifikasi, namun tidak mendapatkan hasil optimal,
selain penjelasan normatif dan janji-janji akan ditindaklanjuti. Komisi I DPR RI mengaku, terkait
ratifikasi, telah melakukan Rapat Umum Dengar Pendapat [RDPU] dengan Komnas HAM, Mabes
Polri dan TNI, Menkopolhukam dan kementrian luar negeri, namun tidak ada kejelasan lagi setelah
itu.

Berlarutnya penyelesaian kasus masa lalu, telah membawa dampak buruk bagi korban
yang rata-rata mengalami masalah kesehatan dan ekonomi. Terkait situasi ini, KontraS telah
mengadvokasi agar persoalan ini dapat dijawab [address] oleh pemerintah, namun upaya ini tidak
mendapatkan respons, sebaliknya persoalan kesehatan dan ekonomi korban hanya direspons
secara terbatas oleh LPSK, berupa bantuan atas akses kesehatan, sekali lagi, ini masih sangat
terbatas pada kelompok kecil korban.
Sedikit angin segar berhembus untuk Aceh, pada 5 Oktober 2013, Komnas HAM melalui
rapat paripurna mengesahkan agenda penyelidikan pro-yustisia berdasarkan UU 26 Tahun 2000
tentang Pengadilan HAM untuk Aceh. Meski sempat mendapat tentangan dan penolakan, bahkan
dari ketua Komnas HAM sendiri, akhirnya penyelidikan proyustisia disetujui.
Disamping itu, seiring dengan rencana Dewan Perwakilan Rakyat Aceh [DPRA]
mengesahkan Rancangan Qanun tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi [selanjutnya disebut
Raqan KKR], yang diprediksi pada akhir tahun 2013 atau pada awal tahun 2014.
Meski masih terdapat persoalan substansi dari Raqan KKR, namun kehadiran regulasi ini
setidaknya membawa sedikit harapan untuk para korban dan keluarga korban di Aceh. KontraS
mencatat kelemahan substansi Raqan diantaranya:
a) Mandat KKR hanya sebatas memberikan rekomendasi dan tidak memiliki kewenangan
untuk memaksa atau memastikan pemerintah menjalankan rekomendasi;

23
Pasal 21 ayat 1 Penyidik Perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat dilakukan oleh Jaksa Agung;
24
Pasal 22 [ayat 1] Penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan (3) wajib diselesaikan paling lambat 90 (sembilan puluh)
hari terhitung sejak tanggal hasil penyelidikan diterima dan dinyatakan lengkap oleh penyidik;[ayat 2] Jangka waktu sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dapat diperpanjang untuk waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari oleh Ketua Pengadilan HAM sesuai dengan
daerah hukumnya; [ayat 3] Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) habis dan penyidikan belum dapat
diselesaikan, penyidikan dapat diperpanjang paling lama 60 (enam puluh) hari oleh Ketua Pengadilan HAM sesuai dengan daerah
hukumnya;

www.infid.org


15
b) Tidak ada pasal atau klausul dalam Qanun KKR yang menyebutkan relasi KKR dengan
Pengadilan HAM ad hoc untuk Aceh sebagaimana dimandatkan dalam perjanjian damai
Helsinki;
c) Kerjasama dengan instansi lain terkait pemberian reparasi tidak jelas,
d) Qanun KKR tidak memberikan garis tegas antara reparasi untuk korban dan program
pembangunan sebagai kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah, mengingat Qanun
KKR meminta dengan jelas bahwa program-program pemerintah yang telah dilakukan
sebelumnya, untuk dapat dipertimbangkan sebagai reparasi;
e) Pengungkapan kebenaran tidak menyentuh aktor / pelaku ditingkat nasional;
f) Rekonsiliasi hanya menjadi agenda lokal antara korban dan pelaku di Aceh.
25


Selain problem substansi, KontraS mencatat ada persoalan non substansi yang juga tidak
kalah serius, yakni tidak ada sosialisasi yang baik [sistematis], dari DPRA kepada para korban dan
keluarga korban yang tersebar di 13 Kabupaten dan Kota diseluruh Nanggroe Aceh Darrusalam
[NAD]. Mempertimbangkan urgensi persoalan tersebut, KontraS bersama dengan organisasi HAM
di Aceh melakukan sosialisasi dan diskusi dengan komunitas korban di 13 wilayah kabupaten dan
kota di Aceh.
Disisi yang lain, angin segar juga berhembus untuk korban peristiwa 1965-1966, terkait
putusan Mahkamah Agung RI Nomor 33 P/HUM/2011 mengenai permohonan Hak Uji Materiil
terhadap keputusan Presiden RI No 28 Tahun 1975, tertanggal 25 Juni 1975 tentang Perlakuan
Terhadap Mereka yang terlibat G.30 S/PKI Golongan C. Bahwa pada 2 Desember 2013, MA
mengabulkan permohonan uji materi yang diakukan oleh korban peristiwa 1965-1966. Dalam
amar putusannya, MA menyatakan bahwa Presiden RI harus mencabut Keputusan Presiden RI
Nomor 28 Tahun 1975.
Kerangka Dasar Reparasi [Pemulihan Hak Korban]
Mekanisme reparasi merupakan bagian tak terpisahkan dari instrumen hukum
internasional dan sudah seharusnya praktik di level domestik menyelaraskan dengan setandar
internasioanl. Dan berikut adalah beberapa instrumen hukum internasional yang spesifik
mengatur reparasi untuk korban pelanggaran ham ;

25
Informasi lengkap terkait masukan korban dan KontraS pada DPRA, lihat Surat KontraS untuk ketua DPRA, Masukan Korban Pelanggaran
HAM Aceh tentang Rancangan Qanun KKR, KontraS. Dapat diakses di http://www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&id=1823




www.infid.org


16
No
Nama
Instrumen
Hukum
Pasal Keterangan
1 Deklarasi
Umum Hak
Asasi Manusia
(DUHAM)
Pasal 8
Setiap orang berhak atas pemulihan yang efektif (effective
remedy) oleh Pengadilan Nasional yang kompeten bagi mereka
yang mengalami tindakan pelanggaran hak-hak dasar yang
diberikan atas dasar konstitusi atau perundang-undangan
Indonesia
terikat secara
Moral (Moral
Binding)
2 Kovenan Hak
Sipil dan Politik
Pasal 2 ayat 3
Setiap negara yang mengakui kovenan ini harus mengambil
langkah-langkah :
- memastikan orang yang mengalami pelanggaran HAM
mendapatkan pemulihan efektif (effective remedy).
- memastikan mereka yang berhak tersebut haknya ditentukan
oleh otoritas peradilan, administratif, atau legislatif, atau instansi
negara lain yang berwenang menurut sistem hukum negara
bersangkutan.menjamin instansi berwenang itu akan
menegakkan upaya hukum tersebut
Pasal 14 ayat 6
Bagi mereka yang telah dihukum untuk suatu pelanggaran
pidana dan kemudian keputusan tersebut berbalik atau ia diberi
ampun berdasarkan fakta yang baru, yang menunjukkan adanya
kesalahan dalam penerapan hukum, maka orang tersebut berhak
mendapat ganti rugi
Pemerintah
terikat secara
hukum (Legaly
Binding)
3 Konvensi Hak
Anak
Pasal 39
Negara harus memberikan pemulihan fisik dan psikis bagi anak
yang menjadi korban eksploitasi, kekerasan, penelantaran,
penyiksaan, bentuk perlakuan tidak manusiawi dan kejam, atau
korban perang
Pemerintah
terikat secara
hukum (Legaly
Binding)
4 Konvensi anti
penyiksaan
dan perbuatan
tidak
manusiawi
lainnya
Pasal 14
Negara harus menjamin dalam sistem hukumnya bahwa korban
penyiksaan memperoleh ganti rugi, kompensasi, dan rehabilitasi
yang memadai dan seadil mungkin. Bila si korban telah
meninggal maka orang yang menjadi tanggungannya harus
mendapat kompensasi
Pemerintah
terikat secara
hukum (Legaly
Binding)
5 Statuta Roma Pasal 75
Bahwa mahkamah harus menetapkan prinsip-prinsip yang
berkenaan dengan ganti rugi kepada, atau berkenaan dengan
korban, termasuk restitusi, kompensasi dan rehabilitasi
kompensasi
Indonesia
terikat secara
Moral (Moral
Binding)
6 Konvensi anti
penghilangan
orang secara
paksa
Pasal 24 ayat 4
Setiap Negara pihak harus menjamin dalam sistem hukum yang
berlaku di wilayahnya bahwa seseorang yang menjadi korban
penghilangan paksa mempunyai hak memperoleh pemulihan
dan kompensasi yang wajar dan adil secara cepat
Pasal 24 ayat 6
Tanpa mengesampingkan kewajiban untuk melanjutkan
penyelidikan sampai nasib orang hilang dapat diklarifikasi, setiap
negara pihak harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan
berkaitan dengan situasi hukum orang hilang yang nasibnya
masih belum jelas dan anggota keluarga mereka, dalam hal
kesejahteraan sosial, masalah keuangan, peraturan rumah tangga
dan hak milik pribadi
Pemerintah
terikat secara
hukum (Legaly
Binding)
Reparasi ini bisa saja merujuk pengalaman negara lain. Argentina, Chile, Brazil, El Salvador
adalah beberapa diantara sekian negara negara yang memiliki pengalaman reparasi korban
pelanggaran HAM berat. Rata rata dari mereka merupakan korban rezim pemerintahan otoriter

www.infid.org


17
maupun kekejaman perang yang pernah terjadi dan negara merupakan pihak yang harus
bertanggungjawab atas upaya pemulihan tersebut.
Pengalaman di Argentina pada tahun 1976 1983 merupakan masa berkabung untuk
Argentina karena lebih dari 30.000 orang mengalami penahanan dan pembunuhan diluar
prosedur hukum dan penghilangan paksa oleh kekuasaan junta militer dan kelompok para militer.
Pemerintah Argentina kemudian menggelar peradilan untuk mengadili para pelaku dari kelompok
junta militer. Tahun 1989 Presiden Carlos Menem pernah memaafkan para petinggi militer namun
keputusan ini di cabut oleh Hakim Rodolfo Corral (Hakim Federal) pada 19 Maret 2004 dan
kemudian diperkuat oleh Mahkamah Agung karena bertentangan dengan konstitusi. Tentu saja ini
merupakan peluang untuk kembali memperjuangkan hak hak korban yang dihilangkan dan
mengadili para pelaku. Argentina, akan membayarkan U$$ 5,6 juta berbentuk surat obligasi
pemerintah pada 140 orang yang disekap sewenang-wenang dalam tahanan akibat perang tahun
1976-1983.
26

Maka kembali pada uraian awal diatas, penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di
Indonesia, merupakan keharusan bagi pemerintah Indonesia. Ini harus disegerakan. Ada sejumlah
alasan mengapa hal ini bersifat mendesak :
Pertama, kondisi para korban yang masih terus tercerabik dari hak-haknya. Padahal hak-
hak tersebut telah dijamin oleh UUD 1945, terutama Amandemen II (2000).
Kedua, bangsa Indonesia penting untuk membongkar fakta perihal yang sesungguhnya
terjadi, terutama soal kekerasan atau pelanggaran HAM yang terjadi dimasa lalu maupun yang
berimbas hingga kini.
Ketiga, diharapkan dengan diketahuinya kebenaran atas pelanggaran HAM tersebut
mampu menjadi tali pengikat (rekonsiliasi) dengan warganegara lainnya yang selama ini
terdistorsi akan cerita dan stigma negatif yang melekat pada para korban.
Keempat, kebenaran tentang fakta pelanggaran HAM bisa dijadikan dasar pemberian
rekomendasi reparasi bagi korban dan penuntutuan jika didapati pihak-pihak yang diduga terlibat
dan bersalah.



26
Lihat Pablo De Greiff [Ed], The Handbook of Reparation, Oxford University Press, 2006

www.infid.org


18
III. Kesimpulan
Proses transisi keadilan di Indonesia berjalan sangat lamban. Enam belas tahun setalah
Soeharto lengser, pemerintah transisi tidak kunjung mampu menjawab dan menyelesaikan kasus
pelanggaran HAM berat masa lalu melalui mekanisme yang ada. Namun demikian, ada beberapa
hal positif yang telah dihasilkan oleh pemerintah transisi, diantaranya adanya UU tentang
pengadilan HAM, dan masih melakukan proses drafting untuk UU KKR yang baru, kemudian
pemerintah juga telah meratifikasi sejumlah instrumen hukum HAM internasional, Qanun KKR
untuk Aceh.
Tetapi, dari sederet catatan tersebut, pemerintah masih gagal untuk memperkuat
perlindungan dan pemenuhan HAM di tingkat nasional, khusunya untuk mewujudkan keadilan
bagi para korban. Sudah saatnya bagi pemerintah untuk membangun standar keadilan bagi
segala upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia, satu hal yang ditekankan
dalam tulisan ini adalah pemerintah dapat menggunakan konsepsi keadilan retributif dan keadilan
restoratif untuk mendukung mekanisme yang ada yakni pengadilan HAM dan KKR. Selain itu,
penting untuk dipikirkan bagi penguatan mandat dan fungsi Komnas HAM, dan peran Kejaksaan
Agung selaku lembaga penyidik harus dievaluasi, dalam rangka untuk membangun
profesionalisme dan pengetahuan tentang HAM yang lebih baik.
Dalam konteks KKR, pemerintah tidak boleh menunda kembali dengan berbagai alasan,
karena dalam periode transisi, KKR sangat penting untuk melengkapi mekanisme pengadilan HAM
yang tersedia. Persoalan dari KKR Indonesia adalah amnesty untuk pelaku, pemulihan hak korban
dan pengungkapan kebenaran, oleh karenanya KKR yang akan dibentuk kemudian harus dibentuk
mengacu pada standar hukum HAM dan prinsip HAM internasional, dimana amnesty tidak boleh
diberikan kepada pelaku pelanggaran HAM berat. Pemerintah harus merubah sikap dan
menunjukan keseriusan untuk membangun standar keadilan yang akan menguntungkan
masyarakat Indonesia, khususnya para korban. Jika Indonesia berhasrat membangun citra positif
ditingkat internasional, maka tidak ada jalan lain bahwa penegakan hukum harus menjadi
andalan. Indonesia harus berani menghadapi masa lalu dan belajar dari pengalaman tersebut, jika
hal ini diabaikan, maka akan terus terjadi keberulangan.





www.infid.org


19
Daftar Pustaka
1. Buku-Buku
Carrie Menkel Meadow, Restorative Justice : What is it and Does It Work ?, Annual Review, 2007
Colleen Murphy, A Moral Theory of Political Reconciliation, Cambridge University Press,2010
Daniel Philpott, Just and Unjust Peace An Ethic of Political Reconciliation, Oxford University Press,
2012
Gerry Johnstone et al, Handbook of Restorative Justice, Willan Publishing, 2007
Jennifer Liewllyn, Handbook of Restorative Justice: Truth Commission and Restorative Justice,
Willan Publishing, (Gerry Johnstone et al, eds 2006)
Jennifer Lind, Sorry States Apologies in International Politics, Cornel University Press, 2010
Judith Herman, MD, Trauma and Recovery The Aftermath of Violence from domestic abuse to
political terror, Basic Books, 1997
John H. McGkynn et al., Indonesia in the Soeharto Years : Issues, Incidents and Images Jakarta,
Lontar Foundation, 2005
Marlies Glasius, Foreign Policy on Human Rights its Influence on Indonesia under Soeharto, Oxford,
1999
Pablo De Greiff [Ed], The Handbook of Reparation, Oxford University Press, 2006
Phil Clark, The Gacaca Courts Post Genocide Justice and Reconciliation in Rwanda, Cambridge
University Press, 2010
Priscilla B. Hayner, Unspekable Truths Transitional Justice and the Challenge of Truth Commissions,
Routledge Taylor Francis Group, 2010
Tim Lindsey et al, Indonesia Law and Society, the Federation Press, 2008
The Commission for Disappeared and Victims of Violence (KontraS) and the International Center
for Transitional Justice (ICTJ), Derailed Transitional Justice in Indonesia Since the Fall of Soeharto,
2011.
2. Jurnal dan Artikel

David A. Crocker, Retribution and Reconciliation, Report from the Institute and Public Policy, 2000

www.infid.org


20
David Cohen, Intended to Fail the Trials before the Ad Hoc Human Rights Court in Jakarta, the
International Center for Transitional Justice, 2003
Suzannah Linton, Accounting for atrocities in Indonesia', Singapore year book of international law
and contributors, 2006



www.infid.org


21
LAMPIRAN 3.

FLMLLA HAM DI INDDNLSIA
Swandaru
27

Pendahuluan
Majelis Umum (1998) PBB pada 1998 telah mengadopsi "Declaration on the Rights and
Responsibility of individuals, Groups, and Organs of Society to Promote and Protect Universally
Recognized Human Rights and Fundamental Freedom atau biasa disebut dengan Deklarasi Pembela
HAM. Alasan mendasar munculnya deklarasi ini adalah terkait dengan banyaknya laporan para
aktivis pembela HAM yang mendapat ancaman kekerasan berupa teror, intimidasi, dan bentuk
pengurangan/penghilangan kebebasan bahkan dihilangkan nyawanya. Istilah Pembela HAM
(Human Rights Defenders/HRDs) kemudian digunakan untuk menggeneralisir berbagai macam
istilah-istilah seperti pekerja HAM, aktifis HAM ataupun berbagai istilah lainnya. Sesuai dengan
dengan yang tertera dalam deklarasi tersebut, yang dimaksud dengan Pembela HAM adalah bisa
individu, kelompok masyarakat ataupun organisasi.
Pembela HAM berada di garis depan perjuangan penghormatan HAM di mana terjadi
pelanggaran HAM. Mereka menyuarakan aspirasi publik, khususnya korban pelanggaran HAM
sehingga berperan sebagai the voice of the voiceless. Pembela HAM adalah instrumen penting
dalam mempertahankan hak korban dan masyarakat luas. Pembela HAM tidak hanya mengkritisi
otoritas yang melanggar hak individu, tetapi juga melakukan upaya memajukan HAM, demokrasi,
dan the rule of law melalui publikasi instrumen HAM dan advokasi kebijakan terhadap otoritas
negara maupun lembaga-lembaga regional dan internasional.
28

Dalam Deklarasi Pembela HAM memiliki hak-hak yang melekat padanya, yaitu:
1. Mencari proteksi dan realisasi HAM pada tingkat nasional dan internasional
2. Melakukan Kerja HAM secara individu dan kelembagaan bersama orang lain
3. Membentuk asosiasi dan NGO
4. Melakukan pertemuan atau berkumpul secara damai
5. Mencari, mendapatkan, menerima dan memegang informasi yang berkaitan dengan HAM
6. Mengembangkan dan mendiskusikan gagasan dan prinsip HAM dan mengadvokasi
prinsip dan gagasan tersebut

27
Peneliti di Imparsial, The Indonesian Human Rights Monitor, Jakarta.
28
General Assembly, Human Rights Defenders, Report of the Special Representative, The interim report of the Special Representative
(SRep), 2 July 2002.

www.infid.org


22
7. Menyampaikan ke lembaga pemerintahan yang berhubungan dengan kritisisme terhadap
masalah publik dan proposal untuk memperbaikinya dan menarik perhatian pada
berbagai aspek pekerjaan pemerintahan yang mungkin menghalangi realisasi HAM
8. Membuat pengaduan tentang polisi dan melakukan tindakan yang berhubungan dengan
HAM dan mengadakan pengaduan yang demikian ditinjau oleh polisi
9. Mengusahakan dan mendorong bantuan legal yang dikualifikasi secara profesional atau
saran dan bantuan dalam upaya pembelaan HAM
10. Menghadiri public hearing, membawa ke pengadilan untuk menilai ketundukannya di
bawah hukum nasional, dan kewajiban HAM internasional
11. Tak adanya rintangan akses kepada dan komunikasi dengan organisasi No pemerintah dan
antar pemerintah
12. Mendapat manfaat dalam pemulihan yang efektif
13. Mendapat praktek sesuai ketentuan hukum dalam pekerjaan atau profesi sebagai pembela
HAM.
14. Mendapat perlindungan efektif dibawah hukum nasioanal di dalam melakukan reaksi
melawan atau berseberangan melalui cara-cara yang damai.
15. Mengumpulkan, menerima dan memanfaatkan sumberdaya untuk perlindungan HAM
(termasuk mendapatkan dana dari luar negeri)
Indonesia sebagai anggota PBB yang telah menandatangani Deklarasi ini memiliki
tanggungjawab untuk melaksanakan dan menghormati semua ketentuan dalam Deklarasi
Pembela HAM. Kewajiban ini adalah bagian dari kewajiban untuk melindungi dan memajukan
HAM secara keseluruhan sebagai salah satu bentuk komitmen yang dituangkan dalam DUHAM.

Kondisi Umum Pembela HAM di Indonesia.
Syarat untuk disebut sebagai Pembela HAM itu sebenarny mudah, selama memenuhi
standar minimum yaitu menerima prinsip HAM universal, pengesamping dikotomi salah-benar
dan melakukan aksinya secara damai.
29
Dalam sepuluh tahun terakhir ini menurut catatan
Imparsial terjadi kekerasan rata-rata sekitar 25 kasus pertahunnya. Jumlah angka tersebut
tentunya lebih kecil dari angka yang sebenarnya terjadi, karena kasus-kasus yang berhasil dicatat
kebanyakan berdasarkan dari sumber sekunder. Di lapangan kami percaya masih banyak kasus
yang terjadi dan tidak mendapatkan liputan dari media ataupun tidak terdokumentasi oleh
berbagai LSM yang ada, sehingga angka menjadi semacam puncak gunung es saja.

29
Al Araf dkk, Perlindungan Terhadap Pembela Hak Asasi Manusia, Imparsial. Jakarta.2005

www.infid.org


23
Berbagai jenis kekerasan yang terjadi adalah berupa Intimidasi, Ancaman, Teror,
Kekerasan dan Penganiayaan, Penangkapan dan Penahanan sewenang-wenang, Penculikan,
Kriminalisasi, Penyiksaan bahkan hingga Pembunuhan. Pelaku berbagai macam jenis tindakan
kekerasan tersebut bisa dari aparat negara, seperti Polisi, Tentara, Satpol PP ataupun Pejabat
Pemerintahan, bahkan dalam beberapa kasus kriminalisasi melibatkan Jaksa dan Hakim. Selain
dari aparat negara, kekerasan juga dilakukan oleh perusahaan, kelompok vigilante dan preman
dengan berbagai modusnya.
Masalah lain yang sering timbul adalah adanya praktik impunitas, dimana seringnya para
pelaku tidak diproses secara formal di pengadilan dan dihukum atas tindakan yang telah
dilakukan, melainkan bebas begitu saja. Tak jarang juga kasus-kasus kekerasan yang menimpa
Pembela HAM tidak ditindaklajuti oleh kepolisian sehingga ketika tidak jelas siapa pelakunya.
Tidak terbongkarnya kasus ini seperti yang terjadi pada Jafar Sidik Hamzah, Ketua
International Forum Aceh, yang sempat hilang selama 3 minggu dan kemudian ditemukan
meninggal dengan tangan terikat di belakang pada September 2000. Begitupun dengan kasus
wartawan TV Merauke Papua, Ardiansyah Matrais, yang sebelumnya sempat mengalami teror
lewat pesan pendek namun ditemukan meninggal di sungai setelah 2 hari hilang pada Juli 2010.
Kedua Pembela HAM tersebut meninggal secara tak wajar diduga karena aktivitas mereka dalam
rangka memajukan hak asasi dalam bentuknya masing-masing, Jafar dalam rangka membela para
korban kekerasan operasi militer dan Ardyansah melakukan liputan yang terkait dengan illegal
logging.
Menurut catatan dari Indonesian Corruption Watch (ICW) sejak 1998 sekitar 40 orang
penggiat anti korupsi telah mengalami ancaman dengan beragam cara. Yang paling sering terjadi
adalah ancaman dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik dan juga tindakan
kekerasan lainnya. Tindakan tersebut biasanya dilakukan oleh mereka diduga terlibat dari kasus
korupsi yang dilaporkan oleh para pegiat anti korupsi. Bahkan hingga sekarang sudah 8 orang staf
ICW yang pernah dilaporkan ke Polisi atas tuduhan pencemaran nama baik, namun tak ada satu
pun kasusnya di bawa pengadilan ataupun kasusnya ditutup oleh Polisi.
30

Peraturan yang mengancam dapat diklasikasikan jika mengandung ketentuan-ketentuan
seperti, memberikan legitimasi kekerasan atau ancaman kekerasan, menghambat Pembela HAM
dengan kriminalisasi dan membatasi hak-hak yang dimiliki untuk melakukan kerja perlindungan
dan pemajuan HAM dan melegitimasi impunitas terhadap pelanggar HAM.
31


30
Shadow Report on the Situation of Human Rights Defenders in Indonesia for the 13
th
Session of the UN Universal Periodic Review for
Indonesia by the Civil Society Coalition for the Protection of Human Rights Defenders. 2012.
31
Tim Imparsial. Perlindungan Terhadap Human Rights Defender (Hambatan dan Ancaman dalam Peraturan Perundang-Undangan.
Imparsial. Jakarta. 2006.

www.infid.org


24
Pasal-pasal yang digunakan untuk melakukan kriminalisasi terhadap para pembela HAM
biasanya adalah menggunakan KUHP pada pasal 310 , 311 dan 315 yang terkait dengan
pencemaran nama baik, pasal 154 dan 155 mengenai tindak pidana menyatakan perasaan
permusuhan, kebencian, atau penghinaan di muka umum terhadap Pemerintah Republik
Indonesia, 160, 161 dan 207 (Haatzaai Artikelen) dan Pasal 27 ayat ( 3 ) dari Undang-Undang 2008
Informasi dan Transaksi Elektronik ( UU No 11 ), yang merupakan tindak pidana dan ancaman
hukuman maksimal enam tahun penjara atau denda enam miliar Rupiah. Selain itu juga ada UU
Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat yang berpotensi akan membatasi
kebebasan berserikat dan berorganisasi karena kontrol pemerintah begitu dalam UU ini.
Sementara menurut Komnas Perempuan, situasi Perempuan Pembela HAM (Women
Human Rights Defenders/WHRDs) berhadapan dengan kerentanan dan kekerasan khusus yang
muncul dalam dua bentuk. Pertama, serangan terhadap tubuh dan seksualitas perempuan yang
merupakan elemen utama penilaian kesucian dan harga diri perempuan di masyarakat yang
patriarchal. Kedua, serangan terhadap perempuan atas dasar stereotype dan atas dasar peran
gendernya. Berdasarkan pengalaman dari 58 Perempuan Pembela HAM tercatat 19 bentuk
kerentanan dan kekerasan, 10 diantaranya dialami khusus oleh Perempuan Pembela HAM dan
sembilan lainnya juga dialami oleh Pembela HAM yang laki-laki.
32

Kerentanan dan Kekerasan Umum Kerentanan dan Kekerasan Khusus
Pembunuhan
Penyiksaan
Penganiayaan
Pengrusakan property
Kriminalisasi, penangkapan dan Penahanan
sewenang-wenang
Penghancuran sumber penghidupan
Pencemaran nama baik
Stigmatisasi
Intimidasi lainnya
Perkosaan
Penyiksaan seksual
Teror seksual
Pelecehan seksual
Stigmatisasi seksual
Serangan pada sebagai ibu, istri dan anak
Pengikisan kredibilitas dengan status
perkawinan
Pengucilan dan penolakan atas dasar moralitas,
agama, adat, budaya dan nama baik keluarga
Pengerdilan kapasitas dan isu perempuan
Eksploitasi identitas perempuan



Menuju Pengakuan dan Perlindungan terhadap Pembela HAM.
Masih banyaknya kekerasan yang menimpa Pembela HAM di Indonesia adalah karena
hingga sampai saat ini tidak ada pengakuan dari Pemerintah walaupun Indonesia sudah ikut

32
Cahyani. D. Y., Perempuan Pembela HAM; Berjuang dalam Tekanan. Komnas Perempuan. Jakarta. 2007.

www.infid.org


25
menandatangani Deklarasi ini. Dengan tidak adanya pengakuan membuat perlindungan yang
seharusnya diberikan menjadi tidak nihil, hal ini menunjukan kewajiban yang melekat pada
pemerintah tidak dilaksanakan secara sungguh-sungguh.
Upaya masyarakat sipil untuk mendorong adanya pengakuan dan perlindungan terhadap
Pembela HAM lebih dominan daripada upaya Pemerintah sebagai pihak yang menandatangi
Deklarasi tersebut. Sejak 2006 telah mulai dilaksanakan berbagai kegiatan sebagai upaya untuk
mendorong pemerintah agar ada pengakuan dan perlindungan. Berbagai aktivitas yang
diselenggarakan akhirnya bisa membawa inisiatif ini menghasilkan adanya Rancangan Undang-
Undang Pembela HAM . Setelah penyelenggaraan Pemilu 2009, RUU tersebut akhirnya masuk
menjadi salah RUU dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2010-2014 sebagai RUU inisitiatif
dari DPR. Hal ini tentunya suatu prestasi yang cukup maju, mengingat inisiatif semacam ini belum
pernah ada dari negara manapun.
Pertimbangan untuk mengajukan RUU ini adalah karena lemahnya payung hukum yang
memberikan pengakuan terhadap Pembela HAM dan ketiadaan lembaga yang memberikan
perlindungan ketika Pembela HAM sedang menghadapi suatu ancaman terhadap dirinya. Dalam
konstitusi Pasal 28C ayat (2) berbunyi Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam
memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara, hal
ini bisa menjadi landasan umum atas keberadaan Pembela HAM dan di UU Nomor 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia pada pasal 100 103 mengatur tentang partisipasi masyarakat dalam
perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak asasi manusia. Namun dari UU ini tidak ada sama
sekali yang mengatur tentang perlindungan Pembela HAM.
Dalam proses perjalanan RUU ini, walau sudah masuk dalam Prolegnas 5 tahunan namun
ternyata tidak pernah masuk sebagai RUU priotitas di Prolegnas tahunan, sehingga bisa dikatakan
pembahasan RUU ini sama sekali tidak ada kemajuan. Walaupun upaya untuk mendorong agar
masuk sebagai RUU prioritas terus dilakukan dengan melakukan berbagai macam pertemuan
dengan Pemerintah, dalam hal ini Dirjen HAM Kementrian Hukum dan HAM, dan juga Parlemen
melalui anggota, fraksi dan Komisi III yang membawahi bidang Hukum dan HAM, namun belum
menunjukan hasilnya.
Dengan macetnya proses legislasi di Parlemen akhirnya ada perubahan strategi untuk
mendorong adanya pengakuan dan perlindungan terhadap Pembela HAM. Rencana adanya revisi
UU 39/99 tentang HAM dengan memisahkan Komnas HAM menjadi UU tersendiri bisa menjadi
pintu masuk karena keberadaan Pembela HAM secara langsung ataupun tidak langsung adalah
membantu dari kerja-kerja Komnas HAM. Oleh karena itu jika ada kewenangan untuk memberikan
perlindungan terhadap Pembela HAM tentunya masih cukup relevan. Namun setelah adanya
beberapa kali kegiatan untuk memadukan berbagai ide-ide ke dalam draft RUU Komnas HAM

www.infid.org


26
ternyata pada pertengahan 2012 pasal-pasal yang mengatur mengenai pengakuan dan
perlindungan terhadap Pembela HAM tidak masuk dalam draft yang diserahkan kepada Komisi III
DPR.
Inisiatif lain yang dilakukan oleh masyarakat sipil terkait dengan masalah perlindungan
Pembela HAM adalah mendorong Komnas HAM agar memiliki desk khusus. Diharapkan desk ini
nantinya akan memberikan perlindungan yang mencakup pada dua dimensi perlindungan, yaitu
proteksi dan efektivitas kerja. Untuk efektivitas kerja, dimensinya adalah memfasilitasi semua
aktivitas human right defender, terutama untuk pembelaan HAM dan pembela kebijakan publik.
Misalnya, membuka ruang informasi, dan partisipasi yang seluas-luasnya, baik dalam proses
pembentukan UU maupun dalam penyelesaian kasus. Sehingga tidak ada lagi pembela HAM yang
bekerja dalam menyelesaikan kasus, meminta dokumen-dokumen kasus yang diperlukan harus
bayar.
33

Selain upaya untuk mendorong adanya pengakuan dan perlindungan Pembela HAM
melalui jalur legislasi, ada pula upaya lain dengan mengajukan judicial review beberapa pasal
dalam KUHP ataupun UU yang dianggap mengancam Pembela HAM dan bertentangan dengan
Konstitusi di Mahkamah Konstitusi. Beberapa gugatan yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi
diantaranya adalah KUHP Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 tentang tindak pidana
penghinaan terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden yang diajukan oleh Pandapotan Lubis dan
Dr. Eggi Sudjana. Dalam putusannya MK menyatakan bahwa pasal-pasal tersebut bertentangan
dengan Pasal 28, Pasal 28D, serta Pasal 28E ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 dan tidak mempunyai
kekuatan hukum mengikat sejak diputuskan pada 2006.
Untuk Pasal 310, Pasal 311, Pasal 315 tentang tindak pidana pencemaran nama baik
diajukan yang diajukan oleh dua wartawan, Bersihar Lubis (Koran Tempo) dan Risang Bima Wijaya
(Radar Yogya) karena bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1), Pasal 28E dan Pasal 28 UUD 1945,
dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Namun gugatan mereka ditolak hakim pada
2008.
dr. R. Panji Utomo dari Aceh pada 2007 mengajukan pengujian Pasal 107, Pasal 154, Pasal
155, Pasal 160, Pasal 161, Pasal 207, dan Pasal 208 KUHP. MK mengabulkan permohonan terhadap
Pasal 154 dan Pasal 155 KUHP mengenai tindak pidana menyatakan perasaan permusuhan,
kebencian, atau penghinaan di muka umum terhadap Pemerintah Republik Indonesia karena
pasal-pasal tersebut tidak menjamin adanya kepastian hukum dan secara tidak proporsional
menghalang-halangi kemerdekaan untuk menyatakan pikiran dan sikap serta kemerdekaan untuk
menyampaikan pendapat sehingga bertentangan dengan Pasal 28, Pasal 28E ayat (2) dan ayat (3)
UUD 1945. MK memutuskan bahwa Pasal 154 dan Pasal 155 KUHP tidak memiliki kekuatan hukum

33
www.hukumonline.com, Pembela HAM Butuh Perlindungan, diakses pada 25 Mei 2014

www.infid.org


27
mengikat. Sedangkan terhadap Pasal 160, Pasal 161, Pasal 207, dan Pasal 208 KUHP MK
menyatakan tidak memiliki kaitan dengan kerugian konstitusional yang diderita pemohon.
Terhadap Pasal 160 KUHP, Dr. Rizal Ramly juga pernah mengajukan judicial review ke MK
dan diputus pada Rabu, 22 Juli 2009. MK menyatakan bahwa Pasal 160 tidak bertentangan dengan
UUD 1945. Keberadaan pasal itu masih relevan dan diperlukan. Namun demikian, dalam
pertimbangan hukum putusan tersebut MK memberikan tafsir baru, bahwa Pasal 160 merupakan
delik material, bukan delik formal. Oleh karena itu MK menyatakan Pasal 160 KUHP konstitusional
bersyarat, yaitu harus diberlakukan sebagai delik materiil sehingga harus ada tindak pidana yang
disebabkan oleh penghasutan dimaksud.
Kemudian pengujian UU No. 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan
Agama ke MK dengan tuntutan meminta agar seluruh isi pasal dalam UU itu dinyatakan tidak
mempunyai kekuatan hukum tetap. Para penggugat di antaranya, Abdurahman Wahid, Musdah
Mulia, Dawam Rahardjo, Maman Imanul Haq dan beberapa LSM yang selama bergerak di dalam
isu HAM. Pertimbangan untuk mengajukan UU ini adala seringnya UU ini digunakan pemerintah
untuk melarang sejumlah aliran keagamaan yang dianggap melenceng dari agama resmi yang
telah ditetapkan pemerintah. Namun MK pada 19 April 2010 menolak permohonan ini dengan
alasan bahwa UU Penodaan Agama tidak bertentangan dengan konstitusi.
Saat ini yang sedang diajukan di MK adalah Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013
tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Sejak proses pembahasannya telah banyak
mendapatkan penolakan dari berbagai organisasi masyarakat dan LSM karena isinya dipandang
tumpang tindih dengan UU Yayasan serta kontrol negara yang terlalu kuat terhadap berbagai
organisasi masyarakat. Setelah melewati beberapa kali penundaaan pengesahan di DPR akhirnya
disahkan juga, tapi sebelum setahun berjalan UU ini sudah digugat di MK oleh Muhammadyah
yang sedari awal memang menolak diteruskannya pembahasan UU-nya. Setelah Muhammadyah
mengajukan gugatan, kemudian masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Kebebasan
Berserikat juga ,mengajukan gugatan. Proses persidangannya masih berjalan sampai dengan
sekarang.
Tidak hanya menggunakan mekanisme nasional, mekanisme internasional pun digunakan
juga oleh masyarakat sipil untuk mendorong adanya pengakuan dan perlindungan terhadap
Pembela HAM. Hal ini dilakukan dengan mengirimkan shadow report ketika Indonesia
mendapatkan kesempatan memberikan laporan dalam Universal Periodic Review putaran Kedua,
yang dilakukan 4 tahun sekali, pada 2012. Selain shadow report secara umum, dibuat juga shadow
report yang berisi khusus tentang situasi Pembela HAM Indonesia. Respon yang muncul pun
cukup bagus karena 7 negara mengajukan tanggapan atas laporan Indonesia yang terkait dengan
Pembela HAM.

www.infid.org


28

Penutup.
Saat ini satu-satunya negara yang secara resmi memiliki UU yang mengatur tentang
perlindungan terhadap Pembela HAM dan Jurnalis hanyalah Meksiko. Namun di level regional, di
Africa terdapat African Commision on Human and Peoples Rights yang memiliki deklarasi tentang
Pembela HAM dan pelapor khususnya. Begitupun di kawasan regional Amerika yang terdiri dari
berbagai negara Amerika selatan dan tengah, mereka juga memiliki Inter-America Commision on
Human Rights yang juga terdapat deklarasi dan pelapor khusus untuk Pembela HAM. Sementara
di Eropa, Uni Eropa mengeluarkan Panduan Uni Eropa tentang Pembela HAM yang menjadi
pegangan bagi berbagai kedutaan negara anggota Eropa dalam usahakan meningkatkan
dukungan dan perlindungan bagi Pembela HAM.
Kembali ke Indonesia, berakhirnya masa kerja DPR periode 2009 2014 menjadi pertanda
bahwa upaya untuk membuat adanya UU khusus tentang Pembela HAM adalah sudah berakhir
pula. Harapan akan adanya pengakuan dan perlindungan melalui suatu produk hukum kini tinggal
melalui revisi UU 39/99 tentang HAM dengan adanya RUU Komnas HAM. Nasib yang sama
sebenarnya juga terjadi pada RUU yang telah diserahkan pada 2012. Namun hal tersebut menjadi
peluang untuk kembali membahas draft yang pernah disampaikan kepada DPR agar lebih
akomodatif terhadap kepentingan Pembela HAM.
Komnas HAM juga belum efektif dalam memberikan perlindungan terhadap Pembela
HAM, dalam dua periode terakhir ini selalu ada satu komisioner dari Subkom Pemantauan dan
Penyelidikan yang ditunjuk untuk bertanggung jawab terhadap isu Pembela HAM. Namun dalam
prakteknya tidak banyak peran yang dimainkannya. Pembentukan desk khusus perlu kiranya
untuk segera dilakukan sehingga nantinya harapan akan perlindungan bisa lebih terwujud. Karena
ketika berada dalam desk khusus tentunya akan ada kewenanga khusus serta dukungan yang
lebih kuat lagi di internal Komnas HAM, baik secara administrative maupun operasional.
Potensi akan adanya berbagai peraturan yang mengancam terhadap Pembela HAM juga
akan masih ada. Peran aktif masyarakat sipil dalam mengawasi dan terlibat aktif dalam pembuatan
peraturan masih tetap diperlukan, sehingga ketika rancangan yang berpotensi mengancam atak
kerja-kerja Pembela HAM dapat segera di respon.





www.infid.org


29
J l. J atipadang Raya Kav.3 No.105 Pasar Minggu
J akarta Selatan, 12540
Phone : 021 7819734, 7819735
Fax : 021 78844703
e-mail : infid@infid.org, Facebook : infidjakarta, Twitter: @_infid_
website : www.infid.org














INFID adalah organisasi yang berdiri sejak tahun 1985 beranggotakan organisasi masyarakat sipil
yang tersebar di seluruh Indonesia. INFID memiliki status sebagai lembaga nonprofit yang
diakreditasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) UN Special Consultation Status with the
Economic and Social Council sejak 2004. INFID juga merupakan anggota IFP (International Forum for
National NGO Platform) berbasis di Paris, Prancis. IFP adalah jaringan NGO global yang mewadahi
forum-forum NGO nasional di seluruh dunia (http://www.ong-ngo.org/en) sejak 2009. INFID juga
merupakan anggota Executive Committee dari Beyond 2015 (www.beyond2015.org), sebuah jaringan
CSO mutinasional dari negara-negara Utara dan Selatan yang melakukan kampanye untuk agenda
pembangunan Pasca-2015.