Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN

Pelepah sawit merupakan jenis limbah padat


yang dihasilkan sepanjang tahun oleh perkebunan
kelapa sawit. Jumlahnya sangat besar, kira-kira
hampir sama banyak dengan produksi tandan buah
segarnya (TBS) seperti terlihat pada Tabel 1.
Limbah tersebut belum dimanIaatkan menjadi
produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan
hanya dibuang begitu saja menjadi mulsa di kebun.
Hal ini dapat menjadi sarang bagi hama dan
serangga, sehingga perlu lebih mendapat perhatian
agar tidak memberi pengaruh buruk bagi
lingkungan.
Pengembangan industri proses diarahkan pada
usaha pemanIaatan sumber daya alam yang dapat
diperbaharui semaksimal mungkin untuk memenuhi
segala kebutuhan hidup manusia, namun dengan
tetap memelihara keselamatan dan kelestarian
lingkungan. Penelitian-penelitian pemanIaatan
pelepah dan limbah padat sawit lainnya menjadi
produk yang memiliki nilai ekonomis sudah banyak
dilakukan, khususnya pemanIaatan selulosa sebagai
bahan baku pembuatan pulp, namun umumnya
dengan hasil-hasil yang belum begitu
menggembirakan karena hanya terbatas pada
pembentukan kualitas pulp rayon (ZulIansyah,
1998). Sedangkan penelitian mengenai pemanIaatan
lignin dalam pelepah sawit belum banyak
ditemukan, padahal jumlah lignin cukup besar
disamping selulosa dan hemiselulosa yaitu sekitar 18
- 20 berat kering bahan (Susanto, 1998).
Sjostrom (1995) dan Eengel (1995),
menyebutkan bahwa proses pemasakan sulIit pada
biomassa (proses pulping sulIit Arbiso) dapat
menghasilkan pulp sebagai produk utama dan
senyawa sodium lignosulIonat (SLS) sebagai produk
samping. Senyawa lignosulIonat merupakan produk
ABSTRACT
Sodium lignosulIonate (SLS) is well known as a dispersant and binder agent. The
commercial SLS is resulted Irom by product oI Arbiso sulIite pulping Iactory, but recently
the number oI the Iactory decreases because the gain margin and pulping strength
characteristic is less than kraIt pulping Iactory, thus made the SLS price quite expensive.
The research aim is to Iind the alternative solution to produce SLS using the cheap and
easy to Iind raw material and sulIonation agent. In the research, stem oI palm powder is
cooked by sodium bisulIite (NaHSO
3
) in batch pressurized reactor.IdentiIication results
showed that the stem oI palm consist oI lignin about 20,38. InIra red test to SLS
samples (research products) showed that the samples have been inserted by sulIon group
and the SLS yield was 13,31. Generally the SLS samples have the same characteristics
with the commercial SLS. Based on these results, it can be concluded that the lignin can
be deligniIicated and sulIonated simultaneously (direct sulIonation) Irom stem oI palm
powder using sodium bisulIite to produce SLS without doing the series oI deligniIication
and Iollowed by sulIonation process separately (two step process).
Keywords: lignin, lignosulIonate, sodium bisulIite, sulIonation
PEMBUATAN SODIUM LIGNOSULFONAT
DENGAN METODE SULFONASI LANGSUNG
BIOMASSA PELEPAH SAWIT
Amun Amri, Zulfansyah, M. Iwan Fermi, Suryani Ramadani
Jurusan Teknik Kimia, Eakultas Teknik Universitas Riau, Pekanbaru 28293
e-mail: amunamriyahoo.com
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 12
Sumber: Lubis (1994)
Tahun
Tandan
Buah Segar
(Ton Basah)
Pelepah
(Ton Kering)
1993 18.384.213 16.390.180
1994 20.645.476 17.924.130
1995 23.155.911 19.719.120
1996 25.713.425 20.430.280
1997 28.694.238 20.488.910
1998 31.342.133 20.940.390
1999 33.610.349 20.996.700
2000 35.690.597 21.038.100
Tabel 1. Ketersediaan Limbah Padat Sawit dan
Prediksinya antara Tahun 1993-2000

phenil propana yang bersambung dalam tiga


dimensi (Eengel, 1995).
Proses pulping sulIit Arbiso merupakan salah
satu cara untuk memecah dan melepaskan lignin
alam (deligniIikasi) dari serat menjadi molekul-
molekul yang lebih kecil. Pada dasarnya tipe reaksi
yang berperan dalam deligniIikasi pada proses
tersebut adalah reaksi hidrolisis oleh H

dan
sulIonasi oleh HSO
3
-
(Gambar 1). Reaksi hidrolisis
memecah ikatan-ikatan eter antara unit-unit Ienil
propana menghasilkan gugus-gugus hidroksil Ienol
bebas, sedangkan reaksi sulIonasi menghasilkan
gugus-gugus asam sulIonat hidroIil dalam polimer
lignin hidroIob. Kedua reaksi ini menaikkan
hidroIilitas lignin sehingga lebih mudah larut
(Sjostrom, 1995).
Bahan perekasi aktiI HSO
3
-
dan H

berada
dalam kesetimbangan dengan H
2
SO
3
, HSO
3
2-
dan
SO
2
terlarut. Bahan-bahan tersebut diperoleh dari
proses penyiapan larutan pemasak yang diawali
dengan pembakaran belerang menjadi gas SO
2
dan
menyerapnya dengan air dan basa pada kolom
absorbsi gas-cair ber-packing. Sejumlah basa dalam
bentuk NaOH atau padatan Na
2
CO
3
dibutuhkan
untuk menetralkan dan mengikat asam-asam
lignosulIonat dan produk-produk degradasi asam
dan senyawa lain yang terbentuk dalam reaksi-
reaksi samping. Pengikatan ini dimaksudkan juga
untuk menghambat reaksi kondensasi yang dapat
menyebabkan lignin kembali bergabung dengan
struktur selulosa (Bruce, 2001). Pengikatan asam-
asam lignosulIonat oleh basa sodium menghasilkan
senyawa sodium lignosulIonat yang memiliki
karakter polidispersi akibat terdapatnya gugus
hidroIilik dan lipoIilik dalam satu molekul yang
sama. Jumlah sodium lignosulIonat yang terbentuk
sekitar 60-70 berat kering lindi spent sulfit liquor
(Eengel, 1995).
turunan lignin dalam biomassa yang tersulIonasi.
Senyawa ini dapat dimanIaatkan untuk berbagai
keperluan seperti surIaktan (dispersan, emulsiIier),
pengikat (binder agent), bahan pencampur pakan
ternak, resin penukar ion, sampai sebagai bahan
aditiI dalam industri kosmetik, Iarmasi dan bahan
dasar pembuatan lignin vanilin. Kesanggupan
dispersi yang tinggi dari lignosulIonat menyebabkan
jenis surIaktan ini banyak diminati dan memiliki
daya saing terhadap jenis surIaktan yang lain
(Gargulak, 2001).
Dewasa ini pabrik pulp sulIit Arbiso jumlahnya
terbatas dan semakin berkurang, meskipun tingkat
kecemerlangan pulp yang dihasilkan sangat baik. Hal
ini terutama akibat masalah gain profit serta siIat
kekuatan pulp yang rendah dibanding pabrik pulp
kraIt. Kecenderungan ini menyebabkan harga SLS
menjadi tinggi.
Beberapa alternatiI solusi sintesa sodium
lignosulIonat (SLS) telah dirintis oleh beberapa
peneliti. Agarwal (2002) mensintesa SLS dari Iraksi
ringan dan Iraksi menengah creosote oil. Meskipun
demikian proses sintesis harus melewati 2 tahap
proses yaitu pyrolisis dan sulIonasi secara terpisah.
Untuk itu diperlukan terobosan agar tahapan proses
dapat dipersingkat. Zhang (2007) melaporkan bahwa
starch sulIonat (SS) berhasil disintesa dari starch. SS
yang dihasilkan digunakan sebagai subtitusi SLS,
namun sayangnya siIat polidispersi SS lebih jauh
lebih rendah dari SLS.
Berdasarkan hal-HAL tersebut maka dipandang
perlu dilakukan penelitian sintesa sodium
lignosulIonat dengan bahan baku yang murah,
mudah didapat serta sederhana dalam sistem
produksinya. Salah satu alternatiI adalah proses
sulIonasi langsung serbuk biomassa menggunakan
pelarut NaHSO
3
dalam reaktor bertekanan sistim
batch.
TIN1AUAN PUSTAKA
Selain selulosa dan hemiselulosa, lignin
merupakan senyawa polimer organik yang melimpah
dan penting dalam dunia tumbuh-tumbuhan,
Iungsinya sebagai bahan pengikat antar serat. de
Candolle memperkenalkan pertama kali istilah ini
yang diambil dari bahasa latin untuk kayu, lignum.
Struktur dalam lignin sangat kompleks dan rumus
yang tepat bagi lignin belum ada. Hingga saat ini
struktur lengkap lignin masih merupakan model.
Walaupun demikian, struktur dasar lignin adalah
Tcnvvvn cvvn nc.v{v (/n c v)
Gambar 1. Reaksi lignin dengan cairan pensulfonat
yang mengandung bahan pereaksi aktif H
+
(hidrolisa) dan HSO
3
-
(sulfonasi)

vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 12


pensulIonasi senyawa organik (Bernardini (1983)
dan Watkins (2001) dalam Suryani, 2004b).
Biasanya reaksi sulIonasi dengan sodium bisulIite
merupakan reaksi satu Iase (cair-cair). Hingga saat
ini belum ditemukan literatur yang menyebutkan
reaksi sulIonasi cair-padat menggunakan bahan
pensulIonat sodium bisulIit. Suryani (2004b)
melaporkan bahwa surIaktan MES dapat disintesa
dari proses sulIonasi langsung metil ester minyak
inti sawit menggunakan larutan sodium bisulIit
(NaHSO
3
). Sodium bisulIit diperoleh dari pelarutan
bubuk sodium (meta) bisulIit. Proses ini
memudahkan dalam hal penyiapan larutan pemasak/
pensulIonasi, sederhana dan dapat meminimalisir
timbulan gas SO
2
. Pore (1993) dalam Suryani
(2004b) menyatakan bahwa lama reaksi sulIonasi
menggunakan senyawa sodium bisulIit berkisar 3-6
jam.
Berangkat dari ide penelitian Suryani (2004b)
tersebut, penelitian ini mencoba proses sulIonasi
langsung senyawa lignin dalam limbah pelepah
sawit menggunakan larutan pensulIonat berbahan
baku bubuk sodium (meta) bisulIit untuk mensintesa
surIaktan sodium lignosulIonat. Agar reaksi
mendekati sistem satu Iase (cair-cair) maka
biomassa pelepah sawit diserbukkan terlebih dahulu
sehingga mendekati karakter Iluid. Sedangkan
karakterisitik dan variabel proses yang diterapkan
tetap bertitik tolak dari proses Pulping Arbiso
sehingga dengan demikian proses ini dapat disebut
sebagai proses sulIonasi Arbiso yang dimodiIikasi.
Dengan cara ini, proses produksi sodium
lignosulIonat diharapkan menjadi lebih mudah,
murah dan sederhana. Penelitian sejenis ini belum
ditemukan, sehingga diperlukan untuk membuktikan
keberhasilan proses.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini bahan penelitian yang
digunakan berupa serbuk pelepah sawit seukuran
serbuk gergaji, sodium (meta) bisulIit teknis,
aquades, HCl (p.a), ethyl asetat dan crude oil.
Sedangkan peralatan berupa gergaji mesin untuk
penyerbukan pelepah, reaktor sulIonasi ukuran 1000
ml yang dilengkapi pemanas, thermokopel beserta
perangkat kontrol suhu on-off, pompa vakum,
corong buchner, kertas saring biasa dan whatman
42, oven, pH meter, timbangan, peralatan gelas
standar laboratorium kimia seperti gelas-gelas, labu
ukur, cawan, kolom titrasi, dan lain-lain.
Pemanasan pada Proses Arbiso dilakukan dan
dikontrol dengan injeksi uap langsung atau dengan
pemanasan tak langsung menggunakan penukar
panas hingga mencapai suhu pemasakan maksimal
antara 150-170
o
C. Kenaikan suhu selama waktu
pemanasan untuk mencapai suhu akhir harus
perlahan-lahan agar reaksi deligniIikasi sempurna
dan kondensasi awal tidak terjadi. Waktu yang
diperlukan untuk mencapai suhu maksimum sekitar
3 jam. Waktu pemasakan dipengaruhi oleh suhu
maupun komposisi lindi pemasak, maka biasanya
waktu pemasakan pada suhu maksimum lebih cepat
dari waktu proses yang lain, karena perpanjangan
waktu lebih lama akan menurunkan rendemen dan
siIat-siIat kekuatan pulp (Eengel, 1995).
Impregnasi serpih-serpih biomassa dipengaruhi
oleh Iaktor penetrasi dan diIusi lindi pemasak.
Penetrasi terutama dipengaruhi oleh tekanan dan
ukuran serpih yang digunakan. Tekanan pemasakan
bervariasi antara 5 sampai 7 bar dan ukuran lebar
serpih sekitar 8 mm. Sedangkan laju diIusi
ditentukan oleh konsentrasi bahan pemasak dan
ukuran pori biomassa. Konsentrasi bahan pemasak
yang dipakai menyebabkan pH antara 3-5. Nisbah
larutan pemasak terhadap biomassa selama tahap
impregnasi biasanya 5:1.
Untuk memastikan agihan lindi pemasak yang
seragam maka dilakukan pemutaran dengan
pengaduk maupun dengan pompa sirkulasi larutan
pemasak. Sebelum suhu pemasakan akhir dicapai
maka sebagian lindi dipindahkan (pembebasan
samping), diikuti dengan pembebasan gas SO
2
dari
bagian atas bejana pemasak (pembebasan atas).
Semua karakteristik Proses Arbiso tersebut di
atas lebih berorientasi pada kualitas pembentukan
pulp daripada kualitas dan optimalisasi
pembentukan hasil samping senyawa lignosulIonat.
Sehingga semestinya perlu diketahui karakteristik
proses yang lebih berorientasi pada optimasi
pembentukan senyawa lignosulIonat.
Meskipun proses Arbiso dikenal menghasilkan
pulp dengan tingkat kecemerlangan yang tinggi,
namun jenis pabrik pulp yang mengaplikasikan
proses Arbiso ini hingga saat ini jumlahnya sangat
terbatas dan semakin berkurang. Hal ini akibat kalah
bersaing dengan pabrik pulp kraIt dan pabrik pulp
yang lain terutama masalah eIisiensi energi dan siIat
kekuatan pulp. Sehingga harus dicari cara lain untuk
menghasilkan produk sodium lignosulIonat.
Sodium bisulIit merupakan salah satu bahan

Pelepah sawit yang digunakan, kadar ligninnya


dianalisa di Balai Besar Pulp dan Kertas Bandung
menggunakan metode klason berdasarkan SNI 14-
0492-1990.
Deskripsi percobaan dilaksanakan sebagai
berikut, mula-mula padatan serbuk pelepah dan
larutan sodium bisulIit (pH 4,7) masing-masing
ditimbang, sehingga diperoleh rasio berat padat-cair
1:18. Kemudian serbuk kering (misal C gram)
dimasukkan dalam reaktor dan diikuti pemasukkan
cairan. Reaktor ditutup rapat dan dipanaskan.
Selama pemanasan dijaga jangan sampai terjadi
kebocoran reaktor. Pemanasan dilakukan secara
bertahap selama 3 jam sampai mencapai suhu
maksimum 150
0
C dan dipertahankan selama 2 jam,
lalu pemanas dimatikan.
Semua cairan hasil pemasakan ditimbang (misal
A gram), lalu diambil 10 ml cairan sampel dan
disaring dua kali menggunakan kertas saring biasa
dan kertas saring Whatman 42 pada corong Buchner
dan pompa vakum, lalu ditampung dalam gelas
beker dan ditimbang (misal beratnya B gram).
Diperiksa pH cairan, bila pH di atas 5 maka
turunkan pH-nya dengan menambahkan HCl 4N
sampai pH di bawah 5. Ditambahkan 10 ml ethyl
asetat lalu dikocok hingga merata. Kemudian
didiamkan sesaat dan akan terlihat dua lapisan
berupa senyawa organik yang berada di lapisan atas
dan senyawa anorganik di lapisan bawah. Senyawa
organik diambil dan dimasukkan ke gelas ukur 5 ml.
Dipanaskan gelas ukur yang berisi senyawa organik
tersebut ke dalam oven pada suhu 100
0
C selama
sekitar 2,5 - 3,5 jam. Pemanasan dihentikan jika
selisih penimbangan gelas sudah tidak signiIikan.
Catat berat padatan tersisa berupa serbuk sodium
lignosulIonat yang berwarna coklat (misal beratnya
D gram). Rendemen sodium lignosulIonat dihitung
dengan rumus (Nugroho, 2000):
rendemen (D x A)/(B x C) x 100
SLS yang diperoleh dari percobaan dianalisa
dengan spektrometri infra red untuk melihat
keberhasilan proses sulIonasi, dan dibandingkan
dengan karakteristik spektra infra red lignin yang
diperoleh dengan proses deligniIikasi pelepah tanpa
melibatkan unsur senyawa sulIur (deligniIikasi
acetosolv). SLS yang diperoleh juga diuji secara
empiris siIat-siIat kelarutannya dalam air, siIat
higroskopis, siIat bau-perabaan-warna serta siIat
polidipersinya pada sistem air-crude oil, lalu
kemudian dibandingkan dengan SLS komersial
(Aldrich).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Identifikasi Bahan
Pengujian kandungan lignin berdasarkan
metode klason (SNI 14-0492-1990) menunjukkan
bahwa pelepah sawit yang menjadi objek
penelitian mengandung 20,38 lignin. Hasil ini
relatiI mirip dengan kandungan lignin dalam
pelepah sawit seperti yang dilaporkan penelitian-
penelitian sebelumnya, dimana kandungan lignin
pelepah sawit berkisar antara 1820 (MustaIa,
2001). Hal ini dapat dijelaskan bahwa analisa
kandungan lignin pada biomassa sangat
tergantung dengan metode analisa, jenis dan umur
tanaman dan perbagian tanaman serta Iaktor-
Iaktor teknis lainnya.
Pada percobaan diperoleh rendemen SLS
sebesar 13,31. Dari pengujian infra red
terhadap sampel produk SLS terdeteksi adanya
sulfonic group pada 624,13 cm
-1
seperti terlihat
pada Gambar 3, dimana menurut Silverstein
(1988) bahwa pada senyawa organik, vibrasi
ikatan C-S sulfonic group terletak pada rentang
vibrasi lemah antara 700590 cm
-1
. Sebagai
pembanding adalah hasil uji infra red terhadap
lignin yang diperoleh dari proses deligniIikasi
acetosolv yang tidak melibatkan unsur sulIur,
dimana tidak ditemukan adanya gugus sulfonic
group seperti terlihat pada Gambar 4 (Amri,
2006).
Eakta-Iakta ini meng-indikasikan keberhasilan
penyisipan gugus sulIonat pada proses sulIonasi
lignin dengan metode langsung. Untuk
memperkuat kesimpulan maka dilakukan uji siIat-
siIat berikut.
Tcnvvvn cvvn nc.v{v (/n c v)
Gambar 2. Reaktor sulfonasi dan instrumen pendukung

Sifat Kelarutan dan Higroskopis


Salah satu siIat SLS yang utama adalah larut
dalam air. Dari percobaan yang dilakukan, terlihat
SLS larut sempurna dan tidak terjadi pengendapan
meskipun dalam waktu yang relatiI cukup lama
(Gambar 5). Padahal siIat lignin alam ataupun
produk degradasinya bersiIat hidroIob atau tidak
larut dalam air (Amri, 2006). Hal ini menunjukan
bahwa penyisipan gugus sulIon mengubah karakter
lignin alam atau produk degradasinya menjadi SLS
yang dapat larut dalam air.
Uji siIat higroskopis dilakukan dengan
membiarkan sampel SLS di ruang terbuka selama
selama sehari semalam. Hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa semua SLS menjadi cair
seperti terlihat pada Gambar 6. Hal yang sama
terjadi pula pada SLS komersial.
Sifat Bau, Perabaan dan Warna
Uji siIat bau, perabaan dan warna dilakukan
secara empiris dengan membandingkan dengan
SLS komersial. SiIat bau SLS sampel beraroma
harum coklat, meskipun tidak sekuat aroma harum
coklat SLS komersial. Hal ini kemungkinan
konsentrasi SLS sampel yang dihasilkan lebih
rendah dari SLS komersial.
Uji perabaan terhadap sampel SLS dilakukan
dengan mengosok-gosokkan sampel SLS ke tangan.
Diketahui bahwa sampel akhirnya mencair dan
terasa berminyak. Hal yang serupa juga dilakukan
terhadap SLS komersial, dan diperoleh hal yang
sama.
Uji warna dilakukan secara kualitatiI dengan
membandingkan warna dari SLS sampel dengan
SLS komersial. Diketahui bahwa secara umum
warna sampel SLS lebih gelap dari SLS komersial.
Hal ini kemungkinan terjadi akibat metode
produksi dan sumber biomassa lignin yang berbeda,
disamping itu kemurnian SLS sampel belum sebaik
SLS komersial, dimana masih terdapat senyawa
lain dan telah terjadi proses pengarangan pada SLS
sampel.
Uji Sifat Polidispersitas
Uji polidispersitas SLS dilakukan dengan
menambahkan SLS ke dalam droplet crude oil yang
mengapung (tidak terdispersi) dipermukaan air.
Eengel (1995) menyebutkan bahwa meskipun SLS
bersiIat hidroIil (dapat larut dalam air), namun
bagian lain dari struktur molekul SLS masih
membawa karakter alam lignin yang bersiIat larut
dalam pelarut organik (non polar). Hal ini
mengakibatkan SLS memiliki siIat polidispersi.
Dengan demikian dalam hal ini diharapkan SLS
sampel juga dapat terdispersi/larut dalam crude oil.
Hasil uji dispersiIitas SLS dalam droplet crude
oil dipermukan air menunjukkan bahwa SLS
sampel mampu memecah droplet crude oil dan
terdispersi dalam air seperti terlihat pada Gambar 7.
Hal ini secara kualitatiI menunjukkan bahwa SLS
mampu menurunkan tegangan muka dari droplet
crude oil dan bersiIat sebagai surIaktan.
Dari berbagai pengujian di atas dapat
ditegaskan bahwa telah berhasil terbentuk sodium
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 12
E:\GANFEL\EAFFLEE!M\L!CM!MC.D L!CM!MC GCL!E 2S/4D/2DD7
S
7
B
B
.
D
B
S
4
5
7
.
4
5
2
S
C
4
.
4
4
4
C
S
5
.
5
D
4
4
D
B
.
S
D
4
2
D
D
.
5
S
C
2
4
.
4
S
5DD 4DDD 45DD 2DDD 25DD SDDD S5DD 4DDD
VevenUmUercm-4
D
2
D
4
D
C
D
B
D
4
D
D
4
2
D
4
4
D
T
r
e
n
s
m
i
t
t
e
n
c
e

[

Gambar 3. Spektra SLS


E:\GANFEL\EAFFLEE!M\L!CM!ME.D L!CM!ME GCL!E 2S/4D/2DD7
S
7
B
B
.
D
D
S
4
5
5
.
7
4
2
D
2
B
.
S
C
2
S
C
4
.
5
2
4
7
2
C
.
D
4
4
C
2
C
.
5
B
4
4
4
C
.
2
C
4
2
2
7
.
5
D
4
4
4
5
.
C
D
5DD 4DDD 45DD 2DDD 25DD SDDD S5DD 4DDD
VevenUmUer cm-4
D
2
D
4
D
C
D
B
D
4
D
D
4
2
D
4
4
D
T
r
e
n
s
m
i
t
t
e
n
c
e

[

Gambar 4. Spektra lignin acetosolv

lignosulIonat (SLS) dari proses sulIonasi langsung


serbuk biomassa. Sehingga dengan demikian dengan
cara ini dapat menyederhanakan jalur sintesa SLS
dari dua tahap yaitu proses deligniIikasi dan yang
dikuti sulIonasi, menjadi hanya satu tahap saja yaitu
deligniIikasi dan sulIonasi secara simultan.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini
adalah sebagai berikut: pelapah sawit mengandung
lignin sekitar 20,38. Struktur lignin pelepah sawit
dapat disisipi gugus sulIon dengan menggunakan
pelarut NaHSO
3
menjadi senyawa sodium
lignosulIonat dengan metode sulIonasi langsung.
Secara empiris siIat kelarutan dalam air, siIat
higroskopis, siIat bau, perabaan dan warna serta
siIat polidispersitas SLS sampel secara umum
telah sesuai dengan SLS komersial. Dengan
metode sulIonasi langsung dapat
menyederhanakan jalur produksi SLS dari dua
tahap menjadi satu tahap deligniIikasi dan
sulIonasi secara simultan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih diucapkan kepada Bagian
Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi,
Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan
Nasional yang telah mendanai penelitian ini
dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian
No. 022/SP2H/PP/DP2M/III/2007 Tanggal 29
Maret 2007.
DAFTAR PUSTAKA
Agarwal, S.K. 2002. Development oI water reducing
agent Irom creosote oil. J. Conc. Sci, 63(2), 111-
123.
Amri, A., Zulfansyah & Helwani, Z. 2006. Lignin
precipitation oI black liquor oI empty Iruit bunch
acetosolv deligniIication: InIluence oI dilution and
speed oI mixing. HEDS Seminar On Science &
Technologv (HEDS-SST) 2006. Jakarta, November
2006.
Bruce, B.S. & Allen, L. 2001. The eIIect oI wood
extractive on system closure. TAPPSA Journal,
Canada.
Fengel, D. & Wegener, G. 1995. Kavu. Kimia, ultra
struktur dan reaksi-reaksi. Terjemahan oleh
Hardjono Sastrohamidjojo. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Gargulak, 1.D., Bushar, L.L. & Sengupta, A.K.
2001. Ammoxidized lignosulIonate cement
dispersant. US-Patent. US 6,238,475 B1
Lubis, A.U., Guritno, P. & Darnoko. 1994. Prospek
industri dengan bahan baku limbah padat kelapa
sawit di indonesia. Berita Pusat Penelitian Kelapa
Sawit. 2(3), 102-109.
Mustafa, Adisalamun & Auda, N. 2001. Studi
pemanIaatan serbuk gergaji sebagai bahan baku
pembuatan pulp. Prosiding Seminar Nasional
Kefuangan Teknik Kimia 2001: UPN Veteran
Yogyakarta, 25 Januari 2001
Nugroho, T. 2000. Pembuatan surfaktan dari tandan
dan pelepah kelapa sawit. Laporan Penelitian,
Jurusan Teknik Kimia. Yogyakarta: UGM.
Silverstein, R.M & Webster, F.X. 1988. Spectromet-
ric identification organic compound. New York:
John Wiley and Sons Inc.
Sjostrom, E. 1995. Kimia kavu. Dasar-dasar dan
Tcnvvvn cvvn nc.v{v (/n c v)
Gambar 5. SLS dalam bentuk serbuk padat
dan yang terlarut dalam air
Gambar 6. Uji sifat higroskopis sampel SLS
hasil percobaan
Gambar 7. Pengujian sifat polidispersitas SLS

penggunaan. Terjemahan oleh Hardjono


Sastrohamidjojo. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Suryani, A. & Hambali, E. 2004. Proses produksi
surIaktan MES dari metil ester minyak inti sawit
dan aplikasinya pada deterjen. Prosiding SNTPK
JI 2004 UI Jakarta. Jakarta November 2004.
Susanto, H. 1998. Pengembangan proses pemisahan
IurIural dari black liquor pemasakan tandan kosong
sawit dalam pelarut organik. Prosiding
Eundamental dan Aplikasi Teknik Kimia 1998, ITS
Surabaya.
Zulfansyah & Susanto, H. 1998. Pembuatan pulp dari
tandan kosong sawit dengan proses asetat. Prosiding
Eundamental dan Aplikasi Teknik Kimia 1998, ITS
Surabaya.
Zhang, D.F., 1u, B.Z., Zhang, S.F., He, L. & Yang,
1.Z. 2007. The study on the dispersing mechanism
oI starch sulIonate as a water-reducing agent Ior
cement . J. Mat. Eng., 10(1).
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 12