Anda di halaman 1dari 10

ISSN 2337-3776

1

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana Linn)
SEBAGAI LARVASIDA TEERHADAP LARVA Aedes aegypti INSTAR III

Putri Rahmawati
1)
, Tri Umiana Soleha
2)
, Syazili Mustofa
2)
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
1)
, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung
2)
Email : Putrifk09@gmail.com

ABSTRAK

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mempunyai perjalanan yang sangat cepat dan
sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meninggal akibat penanganannya yang terlambat.
Upaya pencegahan vektor penyakit DBD telah banyak dilakukan, salah satunya dengan
menggunakan insektisida buatan. Namun penggunaan insektisida buatan dapat menimbulkan
bahaya bagi kesehatan maupun lingkungan. Bahaya penggunaan insektisida buatan tersebut dapat
diminimalisir dengan menggunakan insektisda alami, salah satunya kulit buah manggis. Kulit buah
manggis (Garcinia mangostana Linn) memiliki kandungan senyawa aktif yaitu alfa-mangostin,
saponin, flavonoid dan tanin yang bersifat larvasida.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas, LC
50
dan LT
50
ekstrak
kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn). Desain penelitian yang digunakan adalah
eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Dibagi menjadi 6 kelompok uji
yaitu 0% (kontrol negatif), 0,25 %, 0,5%, 0,75%, 1% dan abate 1% (kontrol positif). Jumlah
sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 600 larva. Masing-masing kelompok berisi 25
larva dalam 200 ml larutan ekstrak ethanol 96% kulit buah Manggis. Dilakukan pengulangan 4
kali dan diberi makan pelet ikan selama penelitian. Uji yang digunakan adalah uji Kruskal- wallis
(p < 0,05), uji Post-hoc Man Whitney (p < 0,05) dan uji Probit untuk mencari LC
50
dan LT
50
.
Dari hasil penelitian didapatkan rata-rata jumlah larva yang mati sebesar 81 % pada
konsentrasi 0,25 %; 91 % pada kosentrasi 0,5 %; 95 % pada konsentrasi 0,75 % dan 100 % pada
konsentrasi 1 %. Berdasarkan hasil tersebut konsentrasi yang paling efektif yaitu konsentrasi 1 %
dikarenakan daya bunuhnya lebih cepat. Nilai LC
50
adalah 2,458 % di menit ke-40; 2,267% di
menit ke-60; 1,923% di menit ke-120; 1,096 % di menit ke-240; 0,585 % di menit ke-480; dan
0,219 % pada menit ke-1440 . Nilai LT
50
adalah 484,411 menit pada konsentrasi 0,25 %; 387,729
menit pada konsentrasi 0,5 %; 426,910 % pada konsentrasi 0,75 % dan 234,937 menit pada
konsentrasi 1 %.


Kata kunci : Aedes aegypti, kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn)
dan larvasida

ISSN 2337-3776
2

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


THE LARVACIDAL OF THE MANGOSTEEN (Garcinia mangostana Linn) PEEL
EXTRACT TO THIRD INSTAR Aedes aegypty LARVA

Putri Rahmawati
1)
, Tri Umiana Soleha
2)
, Syazili Mustofa
2)
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
1)
, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung
2)
Email : Putrifk09@gmail.com

ABSTRACT

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a fatal diseases because of its ability to become
severe in short periods and cause many deaths. The prevention of DHF by eliminating the vector
by using insectisicides is done all the time. Chemical insecticides have a lot of adverse effects to
humans health and enviorenment. Those adverse effects can be minimalited using natural
insecticides and one of them is mangosteen (Garcinia mangostana Linn) peel extract. The
mangosteen (Garcinia mangostana Linn) peel extract contains alfa-mangostin, saponin, flavonoid
and tanin that can kill the larva.
This research aims to know the effectiveness, LC
50
and LT
50
of mangosteen (Garcinia
mangostana Linn) peel extract larvacide. This study was an experimenal study and used
randomized control trial method. Divided into 6 groups of experiment wich is 0% (control
negative), 0,25 %, 0,5%, 0,75%, 1% and abate 1% (control positive). Each container was given
200 ml ethanol 96% mangosteen peel extract. Subjects are 600 third instar of Aedes aegypti,
contained 25 larvas and replicated four times and during the experimentation, larva are fed with
fish food. The result was analyzed using Kruskal-Wallis test and post-hoc Man Whitney.
The result showed that the average number of death larva are 81 % in 0,25 %
consentration; 91 % in 0,5 % consentration; 95 % in 0,75 % consentration and 100 % in 1 %
consentration. Therefore, the most effective consentration was the 1 % consentration because
could kill the larva faster. The LC
50
was 2,458 % in 40 minute; 2,267% in 60 minute; 1,923% in
120 minute; 1,096 % in 240 minute; 0,585 % in 480 minute and 0,219 % in 1440 minute. The LT
50

was 484,411 minute in 0,25 % consentration; 387,729 minute in 0,5 % consentration; 426,910
minute in 0,75 % consentration dan 234,937 minute in 1 % consentration.


Key words : Aedes aegypti, mangosteen (Garcinia mangostana Linn) peel extract and Larvacides






ISSN 2337-3776
3

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


Pendahuluan

Demam berdarah dengue (DBD) atau dengue haemorrhagie fever (DHF)
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue. Vektor utama virus
demam berdarah adalah nyamuk Aedes aegypti yang tergolong dalam kelas
insekta. Sampai saat ini penyakit DBD telah menular dan melanda hampir di
seluruh wilayah Indonesia, dengan jumlah kasus yang cukup banyak (Djunaedi,
2006).
Saat ini, belum ada obat maupun vaksin untuk mengatasi DBD.
Penatalaksanaannya hanya suportif berupa tirah baring dan pemberian cairan
intravena. Tindakan pencegahan dengan memberantas sarang nyamuk dan
membunuh larva serta nyamuk dewasa, merupakan tindakan yang terbaik (Daniel,
2008). Pemberantasan larva merupakan kunci strategi program pengendalian
vektor di seluruh dunia (Okumu, 2007).
Larvasida nabati merupakan salah satu sarana pengendalian alternatife
yang layak dikembangkan. Hal ini dikarenakan senyawa insektisida dari
tumbuhan tersebut mudah terurai di lingkungan dan relatife aman terhadap
makhluk bukan sasaran (Martono dkk., 2004). Sumber bahan dari berbagai jenis
tumbuhan yang telah diketahui mengandung senyawa seperti fenilpropan,
terpenoid, alkaloid, asetogenin, dan tanin yang bersifat sebagai larvasida atau
insektisida (Dharmalitha, 2006). Serta senyawa saponin juga memiliki aksi
sebagai insektida dan larvasida (Sparg dkk., 2004).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Larson dkk. (2010) menunjukkan
bahwa kandungan alfa mangostin dari manggis mampu menyebabkan kematian
larva secara tidak langsung akibat penurunan masa tubuh. Kulit buah manggis
j uga mengandung saponin yang dapat menurunkan tegangan permukaan selaput
mukosa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus menjadi korosif
(Aminah dkk., 2001). Sedangkan flavonoid merupakan senyawa pertahanan
tumbuhan yang dapat bersifat menghambat makan serangga dan juga bersifat
toksis (Dinata, 2009). Tanin dapat menurunkan kemampuan mencerna makanan
dengan cara menurunkan aktivitas enzim pencernaan (protease dan amilase)
(Dinata, 2009).
ISSN 2337-3776
4

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


Berdasarkan uraian di atas, maka peneli tertarik untuk mengetahui
bagaimana efektivitas ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana linn)
sebagai larvasida terhadap larva Aedes Aegypti instar III.

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik yang
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola post test-only control
group design. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah kulit buah
manggis (Garcinia mangostana Linn) sebanyak 20 g, ethanol 96 % sebanyak 20
ml sebagai pelarut saat pembuatan stock ekstrak, aquades sebanyak 200 ml
sebagai pengencer stock ekstrak untuk mendapatkan konsentrasi yang diinginkan.
Penelitian ini juga memerlukan pelet ikan sebagai makanan larva.
Larutan uji yang digunakan adalah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana Linn) dengan konsentrasi 0,25 %, 0,50 %, 0,75 %, dan 1 %. Uji
efektifitas ini dilakukan untuk menentukan nilai LC
50
(Lethal Consentration 50),
LT
50
(Lethal Time 50) dan konsentrasi yang paling efektif sebaga larvasida larva
Aedes aegypti. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn) dengan
berbagai konsentrasi tersebut diletakkan dalam gelas plastik. Larva diletakkan ke
dalam gelas plastik yang berisi berbagai konsetrasi ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana Linn) dengan menggunakan pipet larva. Perlakuan
menggunakan ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana Linn) hanya
diberikan pada kelompok eksperimen sebanyak 200 ml ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana Linn) pada tiap ulangan, sedangkan pada
kelompok kontrol diberikan perlakuan mengunakan air sumur dengan volume 200
ml pada tiap ulangan.
Masing-masing perlakuan berisi 25 larva Aedes aegypti instar III dengan
jumlah pengulangan sebanyak 4 kali. Jumlah pengulangan berdasarkan pada
WHO Guideline For Laboratory and Field Testing For Larvacide. Pengukuran
pada kelompok-kelompok sampel dilakukan dalam 24 jam menurut WHO (2005)
dan peneliti membagi pencatatan waktu selama perlakuan yaitu dengan interval
ISSN 2337-3776
5

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


waktu 5, 10, 20, 40, 60, 120, 240, 480, 1440 menit. Pengukuran berakhir pada
menit ke 1440 dengan cara menghitung larva yang mati.

Hasil dan Pembahasan

Data yang diperoleh dari hasil penelitian dihitung menggunakan analisis
statistik yaitu uji normalitas. Hasil yang diperoleh nilai p>0,05 dan sebaran data
tidak normal dengan > 2 kelompok yang tidak berpasangan. Untuk itu akan
dilakukan uji Kruskal-Wallis, uji ini digunakan sebagai uji alternatif. Hasil yang
diperoleh nilai p = 0,005 karena nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan bermakna
yang menunjukkan perbedaan jumlah larva yang mati selama pengamatan > 2
kelompok. Selanjutnya dilakukan uji post-hoc Man Withney terlihat bahwa nilai
p<0,05 adalah 0 % dan 0,25 %, 0 % dan 0,5 %, 0 % dan 0,75%, 0 % dan 1 %, 0 %
dan abate 1 %, 0,25% dan 1% serta 0,25 % dan abate 1 %, yang berarti pada
konsentrasi tersebut memiliki perbedaan bermakna
Uji efektivitas ini untuk mengetahui efektivitas kulit buah manggis dalam
membunuh larva nyamuk Aedes aegypti instar III dilihat berdasarkan persentase
rerata kematian larva nyamuk Aedes aegypti instar III berdasarkan waktu
pengamatan dan presentasi rerata dalam 24 jam per-pengulangan, disajikan dalam
tabel dan grafik berikut :

Tabel 1. Persentase Rerata Kematian Larva Aedes aegypti instar III pada Berbagai
Konsentrasi Berdasarkan Waktu Pengamatan.
Konsentrasi
(%)
Presentasi rerata kematian larva Aedes aegypti instar III pada
menit ke- dalam %
5 10 20 40 60 120 240 480 1440
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
0,25 0 0 0 0 0 13 31 50 81
0,5 0 0 0 0 3 22 38 46 91
0,75 0 0 0 1 3 13 30 41 95
1 0 0 0 1 5 20 41 87 100
Abate1% 0 0 0 0 2 9 18 32 100
ISSN 2337-3776
6

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013



Gambar 1. Persentase Rerata Kematian Larva Aedes aegypti instar III pada
Berbagai Konsentrasi Berdasarkan Waktu Pengamatan.

Hasil presentase rerata kematian larva dimulai pada menit ke-40 pada
konsentrasi 0,75% dan 1% dengan persentase rerata kematian larva uji sebesar
1%, kematian larva uji terus berlanjut hingga mencapai 100% pada konsentrasi
1% di menit ke-1440. Hal ini berarti kematian larva Aedes aegypti instar III
sebesar 100% dapat dicapai oleh ekstrak kulit buah Manggis (Garcinia
mangostana Linn) pada menit ke-1440 (24 jam) pada pemaparan dengan
konsentrasi sebesar 1%.
LC
50
adalah besar konsentrasi yang dapat menyebabkan kematian sebesar
50% dari total larva uji. LC
50
pada menit ke-5 sampai menit ke-20 tidak dapat
dianalisis karena tidak terdapat larva uji yang mati. Kematian larva uji baru terjadi
pada menit ke-40 sampai pada menit ke-1440. Hasil analisis Probit yang telah
dilakukan didapatkan nilai LC
50
yang semakin menurun artinya semakin lama
larva uji terpajan oleh zat racun yang terkandung pada ekstrak kulit buah manggis
semakin cepat larva akan mati, seperti yang terlihat pada grafik berikut :
0
20
40
60
80
100
120
5 10 20 40 60 120 240 480 1440
K
e
m
a
t
i
a
n

l
a
r
v
a

(
%
)

Waktu
menit ke-
Rata-rata Kematian Larva dalam Waktu Pengamatan
0%
0,25%
0,50%
0,75%
1%
abate 1%
ISSN 2337-3776
7

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013



Gambar 2. Grafik nilai LC
50
dari menit ke-480 sampai ke-1440

Hasil analisis probit lethal time 50 dapatkan penurunan nilai LT
50
dari
konsentrasi terendah (0,25%) sampai konsentrasi tertinggi (1%). Hal ini
menunjukkan semakin besarnya konsentrasi yang diberikan maka semakin tinggi
pula kandungan racun yang terpajan pada larva uji, sehingga semakin sedikit
waktu yang dibutuhkan untuk membunuh 50% larva uji, terlihat pada grafik
berikut :


Gambar 3. Grafik nilai LT
50
pada tiap konsentrasi

2.458
2.67
1.923
1.096
0.585
0.219
1 1 1 1 1 1
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
40 60 120 240 480 1440
Lethal Concention 50 (LC50)
LC50(%)
Standar
WHO
484
388
427
235
1,440 1,440 1,440 1,440
0
200
400
600
800
1,000
1,200
1,400
1,600
0.25% 0.50% 0.75% 1%
Lethal time 50 (LT50)
LT50
(menit)
Menit
ke-
1440
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

(
%
)


Waktu (menit)

W
a
k
t
u

(
m
e
n
i
t
)


Konsentrasi (%)

ISSN 2337-3776
8

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


Berdasarkan hasil penelitian seperti terlihat pada tabel dapat diketahui
bahwa ekstrak kulit buah manggis memiliki efek larvasida terhadap larva Aedes
aegypti instar III. Hal ini sesuai dengan dasar teori dari penelitian ini bahwa dalam
kulit buah manggis terdapat beberapa bahan aktif yang diduga memiliki efek
larvasida yaitu alfa mangostin, saponin, flavonoid, dan tanin.
Cara kerja senyawa-senyawa kimia tersebut adalah sebagai stomach
poisoning atau racun perut yang dapat mengakibatkan gangguan pada sistem
pencernaan larva Aedes aegypti L., sehingga larva tersebut gagal tumbuh dan
akhirnya mati (Dinata, 2009). Alfa mangostin menekan aktivitas esterase dan
menurunkan metabolisme lipid dalam larva, yang mengakibatkan menurunkan
massa tubuh larva. Adanya -mangostin secara drastis mengurangi protein terlarut
total dan massa rata-rata tubuh pada larva setelah paparan 24 jam yang
menunjukkan bahwa enzim ini memainkan peran utama dalam detoksifikasi
(Larson, 2010).
Saponin ternyata dapat mengikat sterol bebas dalam pencernaan makanan,
di mana sterol berperan sebagai prekusor hormon edikson, sehingga dengan
menurunnya jumlah sterol bebas akan mengganggu proses pergantian kulit pada
serangga (moulting) (Dinata, 2009). Pengaruh saponin pada gangguan fisik tubuh
serangga bagian luar (kutikula), yakni mencuci lapisan lillin yang melindungi
tubuh serangga dan menyebabkan kematian karena serangga akan kehilangan
banyak cairan tubuh. Saponin juga dapat masuk melalui organ pernapasan dan
menyebabkan membran sel rusak atau proses metabolisme terganggu (Novizan,
2002).
Flavonoid mempunyai sejumlah kegunaan sebagai bahan aktif dalam
pembuatan insektisida nabati (Dinata, 2009). Smith menyatakan bahwa flavonoid
merupakan senyawa pertahanan tumbuhan yang dapat bersifat menghambat
makan serangga dan juga bersifat toksik (Dinata, 2009).
Tanin dapat menurunkan kemampuan mencerna makanan pada serangga
dengan cara menurunkan aktivitas enzim pencernaan (protease dan amilase).
Tanin juga mampu mengganggu aktivitas protein pada dinding usus. Respon
jentik terhadap senyawa ini adalah menurunnya laju pertumbuhan dan gangguan
ISSN 2337-3776
9

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


nutrisi (Dinata, 2008). Kenaikan konsentrasi ekstrak diikuti dengan kenaikan
jumlah kematian larva sampai pada konsentrasi tertentu. Kenaikan konsentrasi
ekstrak menyebabkan kenaikan konsentrasi zat-zat yang mempunyai efek
larvasida sehingga daya bunuh terhadap larva lebih tinggi.

Simpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, kulit buah manggis (Garcinia mangostana
Linn) efektif sebagai larvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III.
Konsentrasi yang efektif dalam membunuh larva Aedes aegypti instar III adalah
konsentrasi 1 %.

Daftar Pustaka

Aminah N.S,S. Sigit, S. Partosoedjono, Chairul. 2001. S.Lerak, D. Metel dan E.
Prostata sebagai Larvasida Aedes aegypti. Cermin Dunia Kedokteran
No.131.

Daniel. 2008. Ketika Larva dan Nyamuk Dewasa Sudah Kebal Terhadap
Insektisida. FARMACIA Vol.7 No.7.

Dharmalitha, S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 5. Pustaka Bunda.
Jakarta. 160 hlm.

Dinata, A. 2009. Atasi Jentik DBD dengan Kulit Jengkol.http://arda.students-
blog.undip.ac.id/2009/10/18/atasi-jentik-dbd-dengan-kulit-jengkol Diakses
tanggal 30 Oktober 2012.

Dinata, A. 2009. Basmi Lalat dengan Jeruk Manis.http:// http://arda.students-
blog.undip.ac.id/2009/11/04/basmi-lalat-dengan-jeruk-manis/ Diakses tanggal
30 Oktober 2012.

Djunaedi, D. 2006. Deman berdarah dengue (DBB). Malang: UMM.
Hoedjojo, R. 2003. Morfologi Daur Hidup dan Perilaku Nyamuk, Parasitologi
Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

ISSN 2337-3776
10

MAJORITY (Medical Journal of Lampung University) | Volume 2 No
2 Februari 2013


Larson, dkk.2010. The Biological Activity of -Mangostin, a Larvicidal Botanic
Mosquito Sterol Carrier Protein-2 Inhibitor. Jurnal Medical
Entomology.National Institutes of health (NIH public Access).

Martono, B., Endang, H., Laba, U. 2004.Plasma Nutfah Insektisida Nabati.
Perkembangan Teknologi TRO 16(1);43-59

Novizan. 2002. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. Agro
Media Pustaka. Jakarta. pp: 37-40.

Sparg, S., M. E. Light dan J. Staden. 2004. Biological activities and distribution
of plant saponin. Jurnal Ethopharmacol. ISSN 219-243.

Universitas Lampung. 2012. Format Penulisan Karya Ilmiah. Universitas
Lampung. 60 hlm.

World Health Organization. 2005. Guidelines for Laboratory and Field Testing of
Mosquito Larvasides. WHO/CDS/WHOPES/GCDPP/2005/13.