Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Anatomi dan Fisiologi pada Cavum Pelvis
Pelvis atau panggul merupakan bagian dari inferioposterior batang pada perut
di daerah transisi antara batang tubuh dan anggota tubuh bagian bawah (paha hingga
kaki). Pelvis merupakan kata lain dari cekungan dan merupakan nama bagi panggul,
disebut cekungan karena panggul kita berbentuk cekungan.
Pelvis adalah daerah batang tubuh yang berada di sebelah dorsokaudal
terhadap abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke extremitas
inferior. Pelvis bersendi dengan vertebra lumbalis ke-5 di bagian atas dan dengan
caput femoris kanan dan kiri pada acetabulum yang sesuai. Cavum pelvis dibentuk
oleh bagian spina iliaca anterior superior hingga tepi atas simfisis pubis. Cavum
pelvis terdapat berbagai macam organ seperti organ reproduksi, urinaria, colon,
hingga rectum.
Pada manusia dewasa, panggul terbentuk di punggung posterior (belakang)
olehsakrum dan tulang ekor (bagian ekor dari kerangka axial), lateral dan anterior
oleh sepasang tulang pinggul (bagian dari kerangka apendikularis). Pada manusia
dewasa,panggul normal terdiri dari tiga tulang besar dan tulang ekor (3-5 tulang).
Namun,sebelum masa pubertas tulang pinggul terdiri dari tiga tulang yang terpisah
yaitu ilium, ichium, dan pubis.

Organ urinaria terdiri atas ginjal beserta salurannya, ureter, buli buli dan
uretra, sedangkan organ reproduksi pada pria terdiri atas testis, epididimis, vas
deferens, vesikula seminalis, prostat dan penis. Kecuali testis, epididimis, vas
deferens, penis, dan uretra, sistem urogenital terletak di rongga retroperitoneal dan
terlindung oleh organ lain yang mengelilinginya. Vesika urinaria, uretra posterior,
vesikula seminalis dan prostat merupakan organ urogenital yang berada dalam rongga
pelvic.


BULI - BULI
Buli buli adalah organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot detrusor yang
saling beranyaman. Di sebelah dalam adalah otot longitudinal, di tengah merupakan
otot sirkuler, dan paling luar merupakan otot longitudinal. Mukosa buli buli terdiri
atas sel sel transisional yang sama seperti pada mukosa mukosa pada pelvis
renalis, ureter, dan uretra posterior. Pada dasar buli buli kedua muara ureter dan
meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum buli buli.
Secara anatomik bentuk buli buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu :
1. Permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum
2. Dua permukaan inferiolateral
3. Permukaan posterior
Permukaan superior merupakan lokus minoris ( daerah terlemah ) dinding buli
buli. Buli buli berfungsi menampung urin dari ureter dan kemudian
mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme miksi ( berkemih ). Dalam
menampung urin, buli buli mempunyai kapasitas maksimal, yang volumenya untuk
orang dewasa kurang lebih adalah 300 450 ml, sedangkan kapasitas buli buli pada
anak menurut formula dari koff adalah :
Kapasitas buli buli = ( umur
(tahun)
+ 2) x 30 ml
Pada saat kosong, buli buli terletak dibelakang simfisis pubis dan pada saat
penuh berada di atas simfisis sehingga dapat dipalpasi dan diperkusi. Buli buli yang
terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen dan menyebabkan aktivasi
pusat miksi di medula spinalis segmen sakral S
2-4
. Hal ini akan menyebabkan
kontraksi otot detrusor, terbentuknya leher buli buli, dan relaksasi sfinter uretra
sehingga terjadilah proses miksi.

URETRA
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin keluar dari buli buli
melalui prostat miksi. Secara anatomis uretra dibagi menjadi 2 bagian yaitu uretra
posterior dan uretra anterior. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan
cairan mani. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada
perbatasan buli buli dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada
perbatasan antara uretra anterior dan posterior.
Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang dipersarafi oleh sistem
simpatis sehingga pada saat buli buli penuh, sfingter ini terbuka. Sfingter uretra
eksterna terdiri atas otot bergaris dipersarafi oleh sistem somatik yang dapat
diperintah sesuai dengan keinginan seseorang. Pada saat kencing sfingter ini terbuka
dan tetap tertutup pada saat menahan kencing.
Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu bagian uretra
yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars membranasea. Di bagian
posterior lumen uretra prostatika, terdapat suatu tonjolan verumontanum, dan di
sebelah proximal dan distal dari verumontanum ini terdapat di pinggir kiri dan kanan
verumontanum, sedangkan sekresi kelenjar prostat bermuara di dalam duktus
prostatikus yang tersebar di uretra prostatika.


Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis.
Uretra anterior terdiri atas :
1. Pars bulbosa
2. Pars pendularis
3. Fossa navikularis
4. Meatus uretra eksterna
Di dalam lumen uretra anterior terdapat beberapa muara kelenjar yang
berfungsi dalam proses reproduksi, yaitu kelenjar cowperi berada di dalam diafragma
urogenitalis dan bermuara di uretra pars bulbosa, serta kelenjar littre yaitu kelenjar
parauretralis yang bermuara di uretra pars pendularis.
Panjang uretra wanita kurang lebih 4 cm dengan diameter 8 mm. Berada di
bawah simfisis pubis dan bermuara di sebelah anterior vagina. Di dalam uretra
bermuara kelenjar pariuretra, diantaranya adalah kelenjar skene. Kurang lebih
sepertiga medial uretra, terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri atas otot
bergaris. Tonus otot sfingter uretra eksterna dan tonus otot levator ani berfungsi
mempertahankan agar urin tetap berada di dalam buli buli pada saat perasaan ingin
miksi. Miksi terjadi jika tekanan intravesica melebihi tekanan intrauretra akibat
kontraksi otot detrusor, dan relaksasi sfingter uretra eksterna.
KELENJAR PROSTAT
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli buli,
di depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuk seperti buah kemiri
ukuran 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. Kelenjar ini terdiri atas
jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah atau zona,
yaitu :
- Zona perifer
- Zona sentral
- Zona transisional
- Zona preprostatik sfingter
- Zona anterior
Secara histopatologi kelenjar prostat terdiri atas komponen kelenjar dan
stroma. Komponen stroma ini terdiri atas otot polos, fibroblas, pembuluh darah, saraf,
dan jaringan penyangga yang lain. Prostat menghasilkan suatu cairan yang
merupakan salah satu komponen dari cairan ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui
duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan
bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat
merupakan 25 % dari seluruh volume ejakulat. Prostat mendapatkan inervasi
otonomik simpatik dan parasimpatik dari pleksus prostatikus. Pleksus prostatikus
(pleksus pelvikus) menerima masukan serabut parasimpatik dari korda spinalis dari
S2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2). Stimlasi parasimpatik
meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatik
menyebabkan pengeluaran cairan prostat kedalam uretra posterior, seperti pada saat
ejakulasi. Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula
prostat, dan leher buli buli. Ditempat tempat itu banyak terdapat reseptor
adrenergik alfa. Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankan tonus otot polos
tersebut. Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah menjadi kanker
ganas dapat membuntu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi
saluran kemih.