Anda di halaman 1dari 19
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 7, No. 4, Januari 2004 Akreditasi No. 34/DIKTI/Kep./2003 ISSN 1410 - 6817 Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Financial Distress Suatu Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Luciana Spica Almia Pengaruh Partisipasi Pemakai Terhadap Kepuasan dalam Pengembangan Sistem Informasi dengan Lima Variabel Moderating Erreda Aplonia Lau % The Intervening Effect of Interpersonal Trust on The Relationship Between Multiple Measured-Based Performanced Evaluation and Job-Related Tension Siti Fathonah dan Mahfud Sholihin uf Pengaruh Negosias dan AsimetInormasi Terhadap Budget Outcomes. ‘Sebuah Eksperimen Puput Tri Komalasar, Jose Rizal Joesoef dan Moh. Nashin Pengaruh Faktor Kontekstual Tethadap Kegunaan Eamings dan Arus Kas Operasi dalam Menjelaskan Return Sanam Shinfa Raha Dian dan indra Wijaya Kusuma The No Order Effect of Accounting Information Jogiyanto Hartono Perbedaan Kinerja Auditor Dihat dari Segi Gender Si Trisnaningsih IKATAN AKUNTAN INDONESIA Frag KOMPARTEMEN AKUNTAN PENDIDIK Rd Editorial Staff Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Editor in Chief Zaki Baridwan Universitas Gadjah Mada Managing Editor Bambang Supomo Universitas Diponegoro Mahtuud Shotihin Universitas Gadjah Mada Editors Ainun Na’im Lwan Triyuwono Universitas Gadjah Mada ‘Cnneediie tiny ive: Arief Suadi Jogiyanto Hartono Universitas Gadjah Made Universitas Gadjah Mada Bambang Riyanto Katjep K. Abdoelkadir Universitas Gadjah Mada ‘niniershas Inaolieata jambang Sudibyo Koesbandijah AK Universitas Gadjah Mada STIE Bandung Basuki Mardiasmo Universitas Airlangga Universitas Gadjah Mada Djoko Susanto Mas’ud Machfoedz STIE YKPN Universitas Gadjah Mada Eddy R.Rasyid Ronny K. Muntoro Universitas Andalas Universitas Indonesia Eko Ganis Sukoharsono Siddharta Utama STIE Malangkucegwara Universitas Indonesia Gudono, Soegeng Soetedjo Universitas Gadjah Mada Universitas Airtangga llya Avianti Supriyadi Universitas Padjadjaran Universitas Gadjah Mada Imam Ghozali Suwardjono Universitas Diponegoro. Universitas Gadjah Mada Indra Bastian Tjiptohadi Sawarjuwono Universitas Gadjah Mada Universinas Airlangga Indra Wijaya Kusuma Wahyudi Prakarsa Universitas Gadjah Mada Universinas Indonesia Editorial Secretar Handayani Editorial Offi fer Sains Universitas Gadiah Mada JI, Nusantara, Kampus Bulaksumur, Yoovakarta $528) 24607- 609 Ext.L5 & 22: Fay, (0274) 524606; e-mail: jrai(@msi-ekonomi.ugm.ae.id Rekening : Bank Mandiri (ex. Bapindo) UGM No. Rek. 137.00096046350 Gedin - JURNAL RISET AKUNTANSI INDONESIA Vol. 7, No. 1, Januari 2004 Hal, 57-73 Pengaruh Negosiasi dan Asimetri Informasi Terhadap Budget Outcomes: Sebuah Eksperimen PUPUT TRI KOMALASARI Universitas Airlangga Surabaya JOSE RIZAL JOESEOF Universitas Gajayana Malang MOH. NASHIH Universitas Airlangga Surabaya Anggaran seringkali digunakan sebagai alat untuk perencanaan, koordinasi, alokasi sumberdaya dan juga digunakan untuk mengukur kinerja yang pada akhirnya digunakan untuk mengontrol dan mempengaruhi perilaku pihak-pihak yang terkait dengan penetapan dan pelaksanaan anggaran (yaitu superior dan subordinat). Di samping itu, banyak subordinat yang kompensasi insentifnya terkait secara langsung dengan anggaran dan pencapaian tujuan. Ketika insentif dan kompensasi terkait dengan anggaran, kecenderungan yang terjadi adalah munculnya perilaku opportunistik dari subordinat. Subordinat bisa memainkan budgeting games dalam upaya untuk memanipulasi informasi dan target guna mencapai bonus setinggi mungkin. Salah satu cara yang digunakan oleh subordinat dalam budgeting games adalah melalui proses partisipasi. Penelitian temang dampak partisipasi anggaran terhadap kinerja subordinat telah banyak dilakukan. Satu hal yang belum dipertimbangkan adalah bahwa negosiasi merupakan salah satu konsekuensi logis dari partisipasi. Hal ini tampaknya sedikit sekali mendapat perhatian dikalangan peneliti. Dimotivasi oleh penetitian Fisher etal. (2000), secara khusus, penelitian ini bertujuan menguji pengaruh negosiasi dan asimetri informasi teradap budget level dan kinerja subordinat yang diukur dari kesenjangan anggaran (budget slack) dan kinerja subordinat dalam menghasitkan oulput produksi. Hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa negosiasi dapat mempengaruhi subordinat dalam memegang komitmen organisasional dan kinerja mereka. Negosiasi juga merupakan sarana untuk melakukan transfer informasi dari subordinat ke superior sehingga memungkinkan superior untuk melakukan konsesi dalam proses negosiasi. Pengujian terhadap kinerja subordinat (yang diukur dengan kemampuan dalam menghasilkan produk) dalam 3 tingkatan asimetri informasi (high, low dan none) menunjukkan bahwa kinerja subordinat lebih tinggi secara signifikan ketika asimetri informasinya rendah (low) dibandingkan ketika asimetri informasinya tinggi (high). ST 388 JRAL, Januari 2004 Kata kunci: Negosiasi; Asimetri informasi; Penganggaran partisipasi Budget slack; Kinerja subordinat, 1. Pendahuluan Anggaran (budget) merupakan rencana terinci yang disajikan secara kuantitatif yang menentukan bagaimana sumberdaya akan diperolch dan digunakan sclama periode waktu tertentu. Anggaran seringkali digunakan sebagai alat untuk perencanaan, koordinasi, alokasi sumberdaya ddan juga digunakan untuk mengukur kinerja yang pada akhirnya digunakan untuk mengontrol dan ‘mempengaruhi perilaku pihak-pihak yang terkait dengan penetapan dan pelaksanaan angearan (yaitu superior dan subordinat). Di samping itu, banyak subordinat yang kompensasi insentifnya terkait secara Jangsung dengan anggaran dan pencapaian tujuan, Ketika insentif dan kompensasi terkait dengan anggaran, kecenderungan yang terjadi adalah munculnya perilaku opportunistik dari subordinat. Subordinat bisa memainkan budgeting games dalam upaya untuk memanipulasi informasi dan target una mencapai bonus setinggi mungkin. Salah satu cara yang digunakan oleh subordinat dalam budgeting games adalah melalui proses partisipasi.. artisipasi memberikan peluang pada subordinat untuk mempengaruhi anggaran dalam cara yang mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan dan kepentingan superior. Misalnya, subordinat ‘mungkin menuntut sumberdaya diatas atau melebihi dari kebutuhan mereka guna memenuhi tujuan- tujuan anggaran mereka. Kondisi ini menimbulkan misalokasi sumberdaya yang dimiliki organisasi secara keseluruhan. Risiko lainnya adalah bahwa bisa jadi subordinat mendistorsi informasi dengan harapan dapat menurunkan ekspektasi manajemen terhadap kinerja mereka. Subordinat juga bisa menggunakan ketidakpastian lingkungan kerja sebagai sarana untuk ‘menjustifikasi tingkat anggaran yang lebih rendah. Jika upaya negosiasi ini berhasil, subordinat akan mengalami kemudahan untuk mencapai target. Kedua tindakan ini-menuntut kelebihan sumberdaya dan mendistori kinerja informasi-tercermin pada upaya untuk menciptakan kesenjangan anggaran (budget stack). Penelitian tentang pengaruh partisipasi anggaran telah banyak memberikan dukungan terhadap dugaan bahwa penganggaran partisipatif (participative budgeting) berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja dan kinerja subordinat dengan/atau tanpa moderating variable (misalnya Brownell, 1981; Chenhall, 1986; Chow, Cooper dan Waller, 1988; Frucot dan Shearon, 1991; dan Kren, 1992). Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut mengkondisikan bahwa anggaran X =F+AX-B) jikaBX jikaB Subordinat mengetahui kapabilitas kinerjanya. > Superior tidak mengetahui kapabilitas kinerja subordinat, > Superior tidak mengetahui detail pekerjaan produksi (superior di beri latihan proses. produksi dengan tingkat kesulitan yang rendah). 2. Low Asymmetry information : > Superior diberi latihan proses produksi. > Superior mengetahui kinerja masa lampau subordinat dan tidak mengetahui kinerja subordinat masa kini subordinat. 3. None Asymmetry Information : > Superior diberi latihan proses produksi. > Superior mengetahui kinerja subordinat masa lalu dan masa kini. Langkah-langkah dalam melakukan proses negosiasi adalah sebagai berikut: Superior (subordinat) membuat initial budget proposal (BID). ‘Subordinat (superior) melakukan penawaran awal (COUNTER). Superior (subordinat) membuat revisi usulan anggaran kedua dan seterusnya. Negosiasi berlangsung selama 5 ronde. JTika terjadi kesepakatan antara superior dan subordinat sebelum ronde ke 5, maka anggaran segera ditetapkan menjadi final budget. veer Puput Tri Komalasari, Jose Rizal Joesocf dan Moh. Nashih 65 6. _Jika sampai 5 ronde tidak terjadi kesepakatan, anggaran ditetapkan oleh pihak yang diberi kewenangan untuk menetapkan anggaran, Kepada partisipan dijelaskan bahwa mereka bekerja di sebuah perusahaan manufaktur. Sebagian dari partisipan bertindak sebagai superior, sebagian lagi bertindak sebagai subordinat. ‘Tugas produksi mereka adalah mengkonversi angka menjadi huruf dengan suatu kunci translasi ‘yang berbeda-beda setiap periode, Sebelum melakukan tugas produksi, mereka menetapkan anggaran baik secara unilateral maupun negosiasian, Proses negosiasi dilakukan secara manual melalui komunikasi tertulis. Setelah anggaran ditetapkan, subordinat mulai mengerjakan tugas produksi selama 3 periode untuk satu treatment. Tugas produksi dilakukan secara manual (tidak menggunakan perangkat soffware). Sebelum melakukan tugas produksi, subordinat diminta menentukan estimasi terbaik tentang kinerja mereka dan tingkat anggaran. Perbedaan antara estimasi subordinat tentang kinerjanya dan besanya anggaran menunjukkan besarnya kesenjangan anggaran. Pengukuran Variabel Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliput > FORECAST: estimasi kinerja subordinat tentang jumiah item yang dapat dikerjakan dengan benar dalam jangka waktu 2 menit untuk satu periode. > BID: initial budget proposal yang dibuat pada saat treatment yang melibatkan proses negosiasi. >» COUNTER: initial counteroffer yang diberikan oleh superior atau subordinat setelah menerima BID, > BUDGET: final budget, yaitu anggaran yang telah ditetapkan untuk dilaksanakan oleh subordinat. > SLACK: merupakan selisih antara FORECAST dan BUDGET. > PERFORM: ukuran kinerja subordinat yang diukur dari jumlah item yang berhasil dikerjakan oleh subordinat secara benar. 5, Analisis dan Interpretasi fipotesis 1 Hipotesis 1 mencoba membandingkan antara initial negotiation position dari negosiator yang memiliki otoritas final terhadap final budget. Diduga, bahwa negosiator menetapkan posisi lebih tinggi ketika mengajukan proposal anggaran dibandingkan dengan final budget karena pertimbangan norma-norma sosial dan/atau transfer informasi dari subordinat ke superior. Initial ‘budget positions adalah BID jika mereka yang pertama kali mengajukan proposal awal anggaran, dan COUNTER jika mereka bukan pihak yang pertama kali mengusulkan anggaran, Guna menguji hipotesis 1, kami membandingkan nilai rata-rata dari BID dan COUNTER terhadap BUDGET untuk trearment 2 dan 3, serta 5 dan 6. Hasil uj statistik dapat dilihat di tabel 1. 66 JRAL, Januari 2004 ‘Tabel 1, Rata-rata Initial Budget Proposal Superior dan Anggaran yang Ditetapkan secara Universal dalam 3 State of Nature State of Nature: High Asymmetry Information ‘Treatment | Keterangan 2 Mean BID FINALBUDGET| COUNTER — FINALBUDGET 17,80, 15,20 Variance 13,70 ~_17570 tStat P value 3 Mean Variance 1 Stat P value 3 Mean’ Variance t Stat P value Variance -s_ Mean | aaa 1 Stat. Pvalue [ee State of Nature: Low Asymmetry In Treatment | Keterangan ee 2 Mean BID FINALBUDGET 28,80 24,80 ‘Variance 20,70 5,70 1 Stat Mean’ P value ‘ Z 15,00, 14,00 Variance t Stat. Pvalue Mean’ ‘Variance tStat. P value Puput Tri Komalasari, Jose Rizal Joesoef dan Moh. Nashih 67 State of Nature: None Asymmetry Information [Treatment | Keterangan BID FINAL BUDGET | COUNTER — FINALBUDGET, a Mean 15,20 11,00 ‘Variance 2,70 9,50 Stat, 318 P value 0,02 Mean Variance tStat. Pyalue 2,75 0,03 Berdasarkan tabel 1, dapat disimpulkan bahwa dalam ketiga stare of nature (yaitu high asymmetry information, low asymmetry information, dan none asymmetry information) hampit semuanya menunjukkan bahwa besamya anggaran pada initial negotiation position lebih besar dibandingkan final budger, kecuali untuk treatment ke 6 dalam kondisi high asymmetry informa- tion yang menunjukkan posisi awal yang lebih kecil dibandingkan final budget. Hasil ujisignifikarSi (a=10%) secara statistis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara besarnya anggaran pada initial negotiation position dengan final budget pada saat: 0) Q State of nature : high asymmetry information ; ‘Superior membuat initial budget proposal dan memiliki otortas final untuk menetap- kan anggaran, Superior membuat initia? budget proposal dan subordinat memiliki otoritas final ‘untuk menetapkan angearan. * — Subordinat membuat initial budget proposal dan memiliki otoritas final untuk menetapkan anggaran, State of nature : low asymmetry information + % Superior membuat initial budget proposal dan memiliki otoritas final untuk menetap- kan anggaran. — Subordinat membuat initial budget proposal dan memiliki otoritas final untuk ‘menetapkan anggaran, State of nature : none asymmetry information : % Superior membuat initia! budget proposal dan memiliki otoritas final untuk menetap- kan anggaran, — Subordinat membuat initial budget proposal dan superior memiliki otoritas untuk 68 JRAL, Januari 2004 ‘menetapkan anggaran. + Superior membuat initial budget proposal dan subordinat memiliki otoritas final untuk menetapkan anggaran. 4 Subordinat membuat initial budget proposal dan memiliki otoritas final untuk menetapkan anggaran, Hasil tersebut mengindikasikan bahwa ketika tidak terdapat asimetri informasi, peran negosiasi cukup besar untuk dapat mempengaruhi final budget. Hal ini didorong oleh keterbukaan informasi antara superior dan subordinat schingga superior bisa menilai secara lebih tepat mengenai kinerja subordinat dibandingkan ketika terdapat asimetri informasi yang tinggi dan rendah. UjiHipotesis 2 Hipotesis 2 dimaksudkan untuk membandingkan antara anggaran negosiasian dan anggaran yang ditetapkan secara unilateral baik oleh superior saja atau subordinat saja. Hipotesis ini mengindi- kasikan 2 hal, yaitu 1) superior akan mengambil posisi awal negosiasi yang tidak terinflasi oleh konsesi, 2) superior akan membuat konsesi selama negosiasi disebabkan oleh norma-norma sosial dan/atau transfer informasi. Guna menguji kemungkinan yang pertama, prosedur yang dilakukan adalah membandingkan posisi tawar pada awal negosiasi dengan final budget. Hasil pengujian dapat dilihat di tabel 2. Tabel 2. Nilai Rata-Rata dan Uji Beda Rata-Rata antara Initial Budget Proposal Superior dan Anggaran Unilateral Panel A. Membandingkan initial budget proposal superior dengan anggaran yang ditetapkan secara unilateral ‘Treatment “High informationasymmetry | BID@) | BUDGET() | BIDG) | BUDGET()” Mean pialical 8. Ds 204 2s Variance 137 467 428 467 __TStat. 7 134 048 PValue O13 033 Low information asymmetry. BID@) | BUDGET) | BIDG) | BUDGET)” Mean 288 16 144 16 Variance 207 355 333 355 T Stat. 614 “97 P Value 0,001 0.06 ‘Noneinformation asymmetry | BID@) | BUDGETA) | BIDG) | BUDGET) Mean 152 24 186 WA Variance 27 268 898 268 T Stat. =a 34 1,26 ~__PValue O01 013 Puput Tri Komalasari, Jose Rizal Jocsoef dan Moh. Nashih. 69 Panel B. Membandingkan antara final budget hasil negosiasi dengan penetapan secara unilateral ‘Treatment High Asymmetry Information | 2vs1 3ys1 Sys4 6vs4 Mean 15,2v522,8 | 23,6vs22.8 | 20vs268 |13,4vs268 Variance 17,7¥s46,7 | 8,8vs46,7 | 39,5 vs8,7_ | 25,3vs8,7 T Stat 278 0,19 -181 5:08, Pevalue 002 043 007 0,008 Low Asymmetry Information 2vs1 “3ys1 Sys4 6vs4 Mean 248vs16 | l4vsl6 | 14,6vs188 |214vs188 Variance 5,1v35,5_|_23vs35,5__| 23,8vs 16,7 |40,3vs 16,7 TStat 455 21 3.84 2:53 P-value (0,005 005 0,017 0,032 “None Asymmetry Information |“ 2vs1 || | Syst Svs4 | (6vs4 Mean 248vs16 | 14 vs16 | 14,6vs188 [21,4vs188 Variance 5,7¥835,5 | 23vs35,5 | 23,8vs16,7 [403s 167 T Stat 455 20 318 253 P-value 0,005 0,05 0016 003 Panel A menunjukkan perbandingan antara initial budget proposal superior dengan ang- garan yang ditetapkan secara unilateral. Secara umum terlihat bahwa superior menetapkan anggaran yang lebih tinggi ketika mereka menetapkan anggaran secara unilateral dibandingkan besarnya initial budget pada proses negosiasi. Hal ini menunjukkan bahwa superior mengambil posisi strategis dengan melakukan konsesi ketika bernegosiasi dengan subordinat. Panel B menunjukkan perbandingan antara anggaran negosiasian dengan budget yang ditetapkan secara unilateral. Dalam konsisi /ow asymmetry information dan none asymmetry infor- ‘mation terlihat bahwa besarnya anggaran negosiasian lebih rendah dibandingkan yang ditetapkan secara unilateral hanya ketika subordinat berhak mengajukan proposal anggaran dan superior memiliki otoritas final (treatment 3), dan ketika superior mengusulkan initial budget dan subordinat ‘memiliki otoritas final untuk menetapkan anggaran (treatment 5). Sedangkan hasil pembandingan treatment 2 dan 6 menunjukkan nilai rata-rata anggaran yang lebih rendah ketika ditetapkan secara unilateral dibandingkan anggaran negosiasian. Kondisi ini mengindikasikan bahwa ketika tingkat asimetri informasi rendah, superior akan melakukan konsesi dengan menurunkan anggaran sebagai akibat adanya transfer informasi dari initial budget yang diusulkan oleh subordinat dibandingkan ketika superior menetapkan anggaran secara unilateral. Ujiipotesis 3 Hipotesis 3 menyatakan bahwa besarnya anggaran ketika subordinat membuat initial bud- get proposal lebih rendah dibandingkan jika superior yang membuat initial budget proposal. Analisis menunjukkan bahwa terdapat kemiripan hasil pengujian secara statistik ketika terdapat 70 JRAL, Januari 2004 asimetriinformasi yang tinggi, rendah dan tidak ada asimetri informasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa hipotesis 3 didukung ketika subordinat membuat initial budget proposal dan memiliki otoritas untuk menetapkan anggaran dengan rata-rata perhedaan sebesar 8,8 dan signifikan secara statistik pada a 5%, Uji Hipotesis 4 dan 5 Hipotesis 4 dan 5 memprediksi bahwa kinerja subordinat-diukur dari slack budget dan kemampuan subordinat untuk menghasilkan output-ketika superior memiliki otoritas untuk menetapkan anggaran lebih tinggi dibandingkan ketika anggaran ditetapkan secara unilateral. Prosedur pengujian hipotesis 4 dan 5 ini dilakukan dengan cara membandingkan kinerja subordinat ketika anggaran ditetapkan secara unilateral oleh superior dan secara negosiasi dalam kondisi superior memiliki otoritas final. Pengujian terhadap hipotesis 4 menunjukkan bahwa rata-rata besamya slack ketika anggaran ditetapkan oleh superior secara unilateral lebih besar dibandingkan ketika anggaran ditetapkan sebagai hasil negosiasi dan superior memiliki otoritas untuk menetapkan anggaran, Jadi, hipotesis 4 tidak didukung oleh data eksperimen. Pengujian terhadap hipotesis 5 secara umum didukung oleh data eksperimen. Hasil pengujian techadap ketiga stare of nature menunjukkan bahwa secara rata-rata kinerja subordinat meningkat atau lebih tinggi ketika angearan ditetapkan melalui proses negosiasi dibandingkan ketika anggaran ditetapkan secara universal, Uji signifikansi secara statistik menunjukkan bahwa perbedaan itu cukup signifikan pada derajat kesalahan 10 %, Pengecualian yang terjadi pada uji hipotesis 5 ini adalah dalam kondisi tidak terdapat asimetriinformasi, kinerja subordinat menurun ketika anggaran ditetapkan oleh superior dan superior membuat initial budget proposal dibandingkan ketika ang- garan ditetapkan secara unilateral och superior. Sedangkan dalam kondisi asimetri informasi yang rendah menunjukkan arah perbedaan yang konsisten dengan hipotesis 5 namun tidak signifikan secara statistik dengan t-stat sebesar 1,15 dengan p-value 0,13, Uji potesis 6 dan7 Ujihipotesis 6 dan 7 pada dasaraya hampir sama dengan pengujian hipotesis 4 dan 5. Hanya saja, pada hipotesis 6 dan 7 ini lebih ditekankan pada pembandingan kinerja subordinat secara kescluruhan dalam 3 state of nature, yaitu high asymmetry information, low asymmetry informa- tion, dan none asymmetry information. Pada tahap awal, kami menguji kinerja subordinat (besarnya slack budgets) dalam ketiga kondisi tersebut dengan menggunakan analysis of variance dengan hasil sebagai berikut: ‘Tabel 3. Anova: Single Factor SUMMARY Groups Count Sum Average Variance Column 9 0656 74,2508 Column2 90 IL -1,567 54,9449 Column3 9 9 0167 138,1580 Puput Tri Komalasari, Jose Rizal Joesoef dan Moh. Nashih 7 ANOVA, Source of Variation __ SS df___MS F P-value Frit BetweenGroups 228,03 2 114 —1,27937 0.27091 3,029597906 Within Groups 237945 267 89,12 Total 240226 269 Berdasarkan analisis tersebut, diketahui bahwa pada dasamya kinerja subordinat tidak berbeda secara signifikan ketika dilakukan manipulasi tethadap tingkat asimetri informasi. Lebih Janjut lagi, kami melakukan uji beda secara individual dengan hasil sebagai berikut : Tabel4. Perbandingan Rata-Rata Kinerja Subordinat dalam 3 State of Nature State of Nature T Highvs.None | Highvs. Low Low vs. None Keterangan Asymmetry Asymmetry Asymmetry Information Information Information Mean 0,66 vs. -0,767 0,66 vs.-1,57 -1,57 vs. -0,767 Variance 74,25 vs. 138,16 | 74,25vs.54,94 | 54,945. 138,16 Stat. 089 194 -0526 02 0300 | Mean 17,86 vs. 18,07 17,86s.20,67_| 20,67 vs. 18,08 Variance 80,93,s.60,43 | 80,93s.65,12_| 65,12 vs. 6043 Stat, O16 2AT 2,102 p-value 044 0007 | 0019 Secara individual, terlihat bahwa terdapat perbedaan kinerja subordinat yang signifikan ketika high asymmetry information dibandingkan ketika low asymmetry information. Berdasarkan {abel 4 tersebut terlihat bahwa slack budget lebih tinggi pada saat high asymmetry information dibandingkan saat low asymmetry information. Sedangkan ditinjau dari kinerja subordinat dalam menghasilkan output menunjukkan bahwa kinerja subordinat lebih tinggi ketika low asymmenry information dibandingkan ketika high asymmetry information. 6. Kesimpulan Dilandasi oleh penelitian Fisher et al. (2000), penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh negosiasi dan asimetri informasi terhadap anggaran dan konsekuensi ekonomi dari anggaran (yaitu budgetary stack dan kinerja subordinat). Manipulasi yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan JRAL, Januari 2004 terhadap penetapan anggaran negosiasian versus unilateral dan pihak yang membuat initial bud- ‘get proposal serta manipulasi terhadap pihak yang berwenang untuk menetapkan anggaran. Manipulasi tersebut dikondisikan dalam 3 state of nature, yaitu high asymmetry information, low asymmetry information, dan non asymmetry information. Hasi! pengujian menunjukkan bahwa anggaran negosiasian lebih rendah dibandingkan anggaran yang ditetapkan secara unilateral hanya ketika terdapat perbedaan antara pihak yang ‘membuat initial budget proposal dan pihak yang memiliki otoritas untuk menetapkan anggaran. Hal ini terjadi dalam kondisi tingkat asimetri informasi yang rendah dan ketika tidak terdapat asimetri informasi. Hal ini menunjukkan bahwa konsesi yang dilakukan oleh superior dalam proses penetapan anggaran lebih banyak dilakukan ketika mereka merasa yakin bahwa proses negosiasi telah memberikan transfer informasi privat dari subordinat ke superior. Pengujian terhadap kinerja subordinat menunjukkan bahwa secara rata-rata, kinerja subordinat -yang diukur dengan kemampuan untuk menghasilkan output produksi (PERFORM)- lebih tinggi ketika anggaran ditetapkan melalui proses negosiasi dibandingkan ketika anggaran ditetapkan secara unilateral, Namun, hasil ini berkebalikan dengan kinerja subordinat yang diukur dengan besarnya budget slack. Pembandingan kinerja subordinat dalam ketiga state of nature ‘menunjukkan bahwa kinerja subordinat (PERFORM) lebih tinggi dalam kondisi tingkat asimetri informasi yang rendah dibandingkan tingkat asimetri informasi yang tinggi, sedangkan diukur dari besamya budget slack memberikan hasil yang berlawanan, Keterbatasan yang terdapat pada penelitian ini adalah penggunaan prosedur eksperimen yang dilakukan secara manual menimbulkan sedikit kesulitan dalam mengontrol proses eksperimen Gan dalam memanipulasi treatment yang ditetapkan. Disamping itu, peluang terjadinya gender bias juga cukup besar mengingat dalam terdapat satu kelompok yang superior dan subordinatnya perempuan semua dan satu kelompok lagi adalah laki-laki semua. Hal ini bisa jadi mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Beberapa ekstensifikasi dapat dilakukan dari hasil penelitian ini, diantaranya adalah memasukkan dampak gender kedalam pengujian, memanipulasi skema kompensasi (berdasarkan truth-inducing pay scheme dan slack-inducing pay scheme). Faktor individual juga dapat dimasukkan dalam pengujian, seperti misalnya preferensi superior dan subordinat terhadap risiko (Baiman, 1982; Waller, 1988) dan variabel-variabel personalitas (Brownell, 1981; Stevens, 2000). DAFTAR PUSTAKA ‘Anthony, R. J., dan V, Govindarajan, 1994, Management Control Systems, New York, NY: Irwin. Baiman, S., 1982, Agency Theory in Managerial Accounting: A Survey, Journal of Accounting Literature 1 (Spring), 154-213. Brownell, PJ., 1981, participation in Budgeting, Locus of Control and Organizational Effectiveness, Account. ing Review 56(Oktober), 844-860. Chenhall, Robert H., 1986, Authoritarianism and Participative Budgeting: A Dyadic Analysis, Accounting Review (April), 263-271. Chow, C.,, J. Cooper, dan W. Waller, 1988, Participative budgeting: Effects of a Truth-Inducing pay Scheme and Information Asymmetry on Slack and Performance, Accounting Review 63 (Januari), 111-122. Christensen, J., 1982, The Determination of Performance Standards and Participation, Journal of Accounting ‘Research (Autumn), 589-603. Dunk, Alan S., 1993, The Effect of Budget Emphasis and Information Asymmetry on the Relation Between ‘Budgetary participation and Slack, Accounting Review 68(April), 400-410. Bisenhardt, K. 1989, Ageney Theory: an Assessment and Review, Academy of Management Review. 14(1), 57-74. Puput Tri Komalasari, Jose Rizal Joesoef dan Moh. Nashih 73 Fisher, Joseph G., James R. Frederickson, dan Sean A. Peffer,2000, Budgeting: an Experimental Investigation of the Effects of Negotiation, Accounting Review 75(Januari), 93-114. Frucot, Veronique., dan Winston T. Shearon, 1991, Budgetary participation, Locus of Control, and Mexican Managerial Performance and Job Satisfaction, Accounting Review 66( Januari), 80-99, Henderson R., 1989, Compensation Management: Rewarding Performance, Reston, VA: Reston. Kren, Leslie. 1992, Budgetary participation and managerial Performance: the Impact of Information and Environmental Volatility, Accounting Review 67%(Juli), 511-526. Magee, R. P., 1980, Equilibria in Budget Participation, Journal af Accounting Research (Autumn), 551-573 Muminghan, J. K., dan Max H. Bazerman, 1990, A Perspective on Negotiation Research in Accounting and Auditing, Accounting Review 65 (Juli), 642-657 (Onsi, M., 1973, Factor Analysis of Behavioral Variables Affecting Budgetary Slack, Accounting Review (Juli), 535-548, Penno, M., 1984, Asymmetry of Predecision Information and Managerial Accounting, Journal of Accounting Research (Spring), 177-1991. Pruitt, D. G, dan P. J. Carnevale, 1993, Negotiation in Social Conflict, Pacific Grove, CA: Brooks/Cole Publishing, Schiff, M. dan A. Y. Lewin, 1970, The Impact of People on Budgets, Accounting Review (April), 259-268, Stevens, Douglas E., 2000, Determinants of Budgetary Slack in the Laboratory: An Investigation of Controls for Self-Interested Behavior, working paper, March, hitp://papers.ssmn.com/ aper.taPPabstract_id=219131, Tubbs, M. E., dan S. E. Ekerberg, 1991, The Role of Intentions in Work Motivation: Implications for Goal Setting Theory and Research, Academy of Management Review 16: 180-199, Umapathy, S., 1987, Current Budgeting Practice in U.S. Industry, New york, NY: Quorum Books, ‘Waller, W., 1988, Slack in Participative Budgeting: the Joint Effect ofa Thruth: inducing pay Scheme and Risk Preference, Accounting, Organizations and Society 13 (1), 87-98. Williamson, O.E., 1964, The Economics of Discretionary Behavior: Managerial Objectives ina Theory ofthe Firm, Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall. ‘Young, S. M., 1985, participative Budgeting: the Effects of Risk Aversion and Asymmetric Information on Budgetary Slack, Journal of Accounting Research 23 (Autumn), 829-842.