Anda di halaman 1dari 8

http://www.indonesian-publichealth.com/2013/01/prosedur-pengelolaan-limbah-medis.

html

Pengelolaan Limbah MedisRumah Sakit
Rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan diantaranya melaksanakan kegiatan dalam
katagori diagnosa dan pengobatan, perawatan, bahkan tindakan rehabilitasi. Rumah sakit dari
aspek kesehatan lingkungan dapat berpotensi, antara lain :
1. Dapat menjadi media pemaparan atau penularan bagi para pasien, petugas maupun
pengunjung oleh agent (komponen penyebab) penyakit yang terdapat di dalam
lingkungan rumah sakit (Darpito, 2003).
2. Sebagai penghasil sampah dan limbah yang berdampak bagi kesehatan
masyarakat dan lingkungan sekitar.
Sebagaimana rekan-rekan Sanitarian ketahui, dasar pelaksanaan penyehatan lingkungan
rumah sakit Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Rumah Sakit.
Ruang lingkup kesehatan lingkungan sesuai Permenkes 1204 tahun 2004 antara lain :
1. Penyehatan ruang bangunan dan halaman rumah sakit.
2. Hygiene sanitasi makanan dan minuman.
3. Penyehatan air.
4. Pengelolaan limbah.
5. Penyehatan tempat pencucian linen (laundry).
6. Pengendalian serangga, tikus, dan binatang pengganggu.
7. Dekontaminasi melalui sterilisasi dan disinfeksi.
8. Pengamanan dampak radiasi.
Upaya kesehatan lingkungan rumah sakit bertujuan untuk mewujudkan lingkungan rumah
sakit baik in door ataupun out door yang aman, nyaman, dan sehat bagi para pasien, pekerja,
pengunjung dan masyarakat di sekitar rumah sakit, kejadian pencemaran lingkungan dan
gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh rumah sakit dapat ditekan sekecil mungkin atau
bila mungkin dihilangkan.
Pengelolaan limbah dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan terhadap
limbah mulai dari tahap pengumpulan di tempat sumber, pengangkutan, penyimpanan serta
tahap pengolahan akhir yang berarti pembuangan atau pemusnahan.
Tindakan pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan pengelolaan limbah dari
tindakanpreventif dalam bentuk pengurangan volume atau bahaya dari limbah yang
dikeluarkan ke lingkungan. Atau minimasi limbah. Beberapa usaha minimasi meliputi
beberapa tindakan seperti usaha reduksi pada sumbernya, pemanfaatan limbah,daur
ulang, pengolahan limbah, serta pembuangan limbah sisa pengolahan.
Sedangkan tata lakana penanganan limbah medis sesuai permenkes meliputi kegiatan
Minimisasi dan Pemilahan Limbah dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
Usaha Minimisasi Limbah
1. Menyeleksi bahan-bahan yang kurang menghasilkan limbah sebelum membelinya.
2. Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia.
3. Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara kimiawi.
4. Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam kegiatan petugas
kesehatan dan kebersihan.
5. Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai menjadi limbah
bahan berbahaya dan beracun.
6. Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan.
7. Menggunakan bahan yang diproduksi lebih awal untuk menghindari kadaluarsa.
8. Menghabiskan bahan dari setiap kemasan.
9. Mengecek tanggal kadaluarsa bahan pada saat diantar oleh distributor.
Pemilahan Limbah
Dilakukan pemilihan jenis limbah medis mulai dari sumber yang terdiri dari limbah
infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, sitotoksis, limbah
kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan dan dengan kandungan
logam berat yang tinggi.
Pemisahan limbah berbahaya dari semua limbah pada tempat penghasil limbah adalah
kunci pembuangan yang baik.
Tempat Penampungan Sementara
Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus membakar
limbahnya selambat-lambatnya 24 jam.
Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator, maka limbah medis harus
dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak lain yang
mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan selambat-lambatnya 24 jam
apabila disimpan pada suhu ruang.
Transportasi
Kantong limbah medis sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut harus
diletakkan dalam kontainer yang kuat dan tertutu p.
Pengangkutan limbah keluar rumah sakit menggunakan kenderaan khusus.
Kantong limbah medis harus aman dari jangkauan manusia maupun binatang.
Petugas yang menangani limbah, harus menggunakan alat pelindung diri yang terdiri:
Topi/helm, Masker, Pelindung mata, Pakaian panjang (coverall), Apron untuk
industri, Pelindung kaki/sepatu boot dan sarung tangan khusus (disposable gloves atau
heavy duty gloves).
Pengumpulan Limbah Medis
Pengumpulan limbah medis dari setiap ruangan penghasil limbah menggunakan troli
khusus yang tertutup.
Penyimpanan limbah medis harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling
lama 48 jam dan musim kemarau paling lama 24 jam.
Persyaratan Pewadahan Limbah Medis
Syarat tempat pewadahan limbah medis, antara lain :
Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai
permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass.
Di setiap sumber penghasil limbah medis harus tersedia tempat pewadahan yang
terpisah dengan limbah non-medis.
Kantong plastik di angkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3 bagian telah terisi
limbah.
Untuk benda-benda tajam hendaknya di tampung pada tempat khusus (safety box)
seperti botol atau karton yang aman.
Sayarat benda tajam harus ditampung pada tempat khusus (safety box) seperti botol,
jeregen atau karton yang aman.
Tempat pewadahan limbah medis infeksius dan sitotoksik yang tidak langsung kontak
dengan limbah harus segera dibersihkan dengan larutan desinfektan apabila akan
dipergunakan kembali, sedangkan untuk kantong plastik yang telah di pakai dan
kontak langsung dengan limbah tersebut tidak boleh digunakan lagi.

Label dan Wadah Limbah Medis
Standar lain yang harus dipenuhi dalam pewadahan limbah medis ini menyangkut
penggunaan label yang sesuai dengan kategori limbah. Detail warna dan lambah label pada
wadah limbah medis sebagai berikut :
Standar pewadahan dan penggunaan kode dan label limbah medis ini berfungsi untuk
memilah-milah limbah diseluruh rumah sakit sehingga limbah dapat dipisah-pisahkan di
tempat sumbernya :
Beberapa ketentuan juga memuat hal berikut ini
1. Bangsal harus memiliki minimal dua macam tempat limbah, satu untuk limbah medis
(warna kuning) dan satunya lagi untuk non-medis (warna hitam).
2. Semua limbah dari kamar operasi dianggap sebagai limbah medis.
3. Semua limbah dari kantor, biasanya berupa alat-alat tulis, dianggap sebagai limbah
non-medis.
4. Semua limbah yang keluar dari unit patologi harus dianggap sebagai limbah medis
dan perlu dinyatakan aman sebelum dibuang.
Sedangkan persyaratan yang ditetapkan sebagai tempat pewadahan limbah non-medis sebagai
berikut :
Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai
permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya fiberglass.
Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa mengotori tangan.
Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan kebutuhan.
Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 x 24 jam atau apabila 2/3
bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut supaya tidak menjadi
perindukan vektor penyakit atau binatang pengganggu.



http://www.indonesian-publichealth.com/2013/08/masalah-limbah-medis-dan-limbah-
b3.html
Definisi, Karakteristik, dan Masalah Limbah Medis danLimbah B3
Berdasarkan kajian WHO (1999), rata-rata produksi limbah rumah sakit di negara-negara
berkembang sekitar 1-3 kg/TT.hari, sementara di negara-negara maju (Eropa, Amerika)
mencapai 5-8 kg/TT.hari. Sedangkan berdasarkan kajian dan perkiraan Depkes RI timbulan
limbah medis dalam satu tahun berkisar 8.132 ton dari 1.686 RS seluruh Indonesia. Pada
tahun 2003, timbulan limbah medis dari Rumah Sakit sekitar 0,14 kg/TT.hari. Komposisi
limbah medis ini antara lain terdiri dari: 80% limbah non infeksius, 15% limbah patologi &
infeksius, 1% limbah benda tajam, 3% limbah kimia & farmasi, >1% tabung & termometer
pecah (Ditjen PP & PL, 2011).
Sementara berdasarkan kajian Depkes RI dan WHO, pada tahun 2009 di 6 Rumah sakit di
Kota Medan, Bandung dan Makasar, menunjukkan bahwa 65% Rumah Sakit telah
melakukan pemilahan antara limbah medis dan limbah domestik (kantong plastik kuning dan
hitam), tetapi masih sering terjadi salah tempat dan sebesar 65% RS memiliki insinerator
dengan suhu pembakaran antara 530 800 C, akan tetapi hanya 75% yang berfungsi.
Pengelolaan abu belum dilakukan dengan baik. Selain itu belum ada informasi akurat
timbulan limbah medis karena 98% RS belum melakukan pencatatan (Ditjen PP & PL, 2011).
Pengertian Limbah Medis dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Pengertian limbah medis menurut EPA/U.S Environmental Protection Agency (2011), adalah
semua bahan buangan yang dihasilkan dari fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit,
klinik, bank darah, praktek dokter gigi, dan rumah sakit/klinik hewan, serta fasilitas
penelitian medis dan laboratorium. Sementara Depkes RI (2002) memberikan pengertian
limbah medis sebagai limbah yang berasal dari perawatan gigi, veterinary, farmasi atau
sejenis, serta limbah rumah sakit pada saat dilakukan perawatan/ pengobatan atau penelitian.
Pengertian limbah medis sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 18 jo 85 Tahun 1999, limbah medis termasuk
kedalam kategori limbah berbahaya dan beracun dengan kode limbah D227. Sedangkan limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3) merupakan sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung B3 yang
karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan menurut PP No. 74 Tahun 2001, B3
adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.
Menurut PP No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. , karakteristik
limbah berbahaya dan beracun (B3) antara lain:
1. Mudah meledak (Explosive) adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan
suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.
2. Mudah terbakar (Ignitable dan Flamable) adalah limbah yang bila berdekatan dengan api, percikan api,
gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus
terbakar hebat dalam waktu lama.
3. Bersifat reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima
oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
4. Beracun (Toxic) adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan.
Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan,
kulit atau mulut. Penentuan sifat racun untuk identifikasi limbah ini dengan menggunakan bahan baku
konsentrasi TCLP (Toxicity Characteristic Leaching Prosedure).
5. Menyebabkan infeksi (Infectious) adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah
yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh
manusia yang terkena infeksi.
6. Bersifat Korosif
7. Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit
8. Mempunyai pH 2 untuk limbah bersifat asam dan 12,5 untuk limbah yang bersifat basa.

Pengelolaan Limbah Cair B3
pada Sarana Pelayanan
Kesehatan
Sebagai tenaga kesehatan lingkungan atau praktisi kesehatan masyarakat, kita harus bisa memastikan, bahwa
sarana pelayanan kesehatan kita (Rumah Sakit, Puskesmas, Laboratorium, dan lainnya) sudah secara khusus
mengelola limbahmedis dan limbah cair B3 yang dihasilkannya. Patokan kita dalam pengelolaan ini, antara lain
merujuk peraturan pemerintah Nomor 18 tahun 1999, yang menyebutkan bahwa keberadaan limbah
medistermasuk limbah B3 pada sarana pelayanan kesehatan harus dikelola sesuai standar yang ditetapkan.
Selain itu berbagai upaya harus sudah dilaksanakan untuk minimalisasi limbah, sehingga usaha kelola itu dapat
berjalan efektif dan efisien.
Sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas, atau laboratorium lingkungan maupn medis, dalam
operasionalnya akan menghasilkan produk samping berupa limbah. Limbah dari sarana pelayanan kesehatan
tersebut secara spesifik kita kenal dengan limbah medis. Selain limbah medis, sarana pelayanan kesehatan juga
berpotensi menghasilkan lembah bahan Berbahaya dan beracun (B3), sesuai spesifikasi bahan dan jenis
pelayanan yang dihasilkan.
Suatu rumah sakit juga dapat menjadi sumber permasalahan terhadap lingkungan, terutama jika limbah yang
dihasilkan sebagai akibat aktifitas pelayanan kesehatan tidak dikelola dengan baik. Lebih spesifik lagi jika
limbah yang dihasilkan tersebut mempunyai beberapa karakteristik dan berpotensi menghasilkan dampak yang
digolongkan sebagai limbah yang mengandung Bahan Berbahaya Beracun (B3), yang berbahaya terhadap
kehidupan manusia, seperti pembuangan bekas jarum suntik, bekas jarum infus, yang dapat merupakan vektor
pembawa bibit penyakit.
Jika mengacu Kepututusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 58 tahun 1995 tentang baku mutu
limbah cair rumah sakit, tercantum kewajiban pengelola dan penanggung jawab sarana pelayanan kesehatan
untuk mengelola dan memantau limbah cair yang dihasilkan, baik pada komponen fisika, kimia, mikrobiologi
dan radioaktif, atau parameter yang spesifik lainnya.
Menurut Nomor PP No. 18/1999 Jo. PP No.85/1 999, bahwa limbah medis termasuk limbah B3 definisi limbah
B3 menurut PP No.18/1 999 Jo. PP No.85/1999 Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun disingkat
B3 adalah sisa atau suatu usaha dan / atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang
karena sifat dan/atau persentasinya dan/atau jumlah, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup dan/atau membahayakan lingkungan hidup kesehatan.
Demikian pula limbah dari kegiatan radiologi, kedokteran nuklir, pengobatan cancer dan limbah laboratorium
yang sebagian merupakan limbah dengan kandungan B3. Dengan kata lain limbah cair B3 dapat memberikan
dampak pada kesehatan akibat kontak dengan B3 atau terpapar oleh pencemar melalui berbagai cara maka
dampak kesehatan yang timbul bervariasi dari ringan, sedang sampai berat bahkan sampai menimbulkan
kematian, tergantung dari dosis dan waktu perjalanan. Jenis penyakit yang ditimbulkan, pada umumnya
merupakan penyakit non infeksi antara lain : keracunan, kerusakan organ, kanker, hypertensi, asma brochioli,
pengaruh pada janin yang dapat mengakibatkan lahir cacat (cacat bawaan), kemunduran mental, gangguan
pertumbuhan baik fisik maupun psikis, gangguan kecerdasan dan lain-lain.
Prinsip Pengelolaan Limbah cair Rumah Sakit
Rumah Sakit dalam menjalankan fungsi operasionalnya
menghasilkan limbah, baik itu limbah domestik, limbah padat, limbah cair dan limbah gas serta limbah
radioaktif. Secara prinsip manajemen pengelolaan limbah medis rumah sakit dimulai dengan suatu perencanaan
(Planning), pelaksanaan (Implementing), pengawasan (Controling) dan evaluasi(Evaluation). Pengelolaan
limbah yang sesuai standar baku mutu lingkungan perlu di informasikan kepada masyarakat agar tidak
menimbulkan persepsi yang negatif yang pada akhirnya akan merugikan rumah sakit itu sendiri.
Tindakan pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan pengelolaan limbah cair adalah tindakan
pencegahan. Tindakan tersebut dilakukan dalam bentuk pengurangan volume atau bahaya dari limbah yang
dikeluarkan ke lingkungan. Tindakan itu dikenal dengan istilah minimasi limbah yang meliputi beberapa
tindakan dengan urutan prioritas sebagai berikut : Reduksi pada sumbernya (reduce), pemanfaatan limbah yang
terdiri dari kegiatan penggunaan kembali (reuse), daur ulang (recycling) dan pemulihan kembali (recovery)
Keuntungan yang diperoleh dari upaya minimisasi limbah adalah sebagai berikut: penggunaan sumberdaya alam
lebih efisien, efisiensi produksi meningkat, mencegah atau mengurangi terbentuknya limbah dan bahan
pencemar pada umumnya, mencegah pindahnya pencemar antar media, mengurangi terjadinya resiko kesehatan
manusia dan lingkungan, mendorong dikembangkan dan dilaksanakannya teknologi bersih dan produk akrab
lingkungan. Mengurangi biaya pentaatan hukum, terhindar dari biaya pembersihan lingkungan, meningkatakan
daya saing di pasar internasional, pendekatan pengaturan bersifat fleksibel dan sukarela.
Tujuan utama dari pengelolaan limbah cair rumah sakit untuk mendegadrasikan pencemarannya, sehingga
kualitas efluen yang dihasilkan memenuhi syarat-syarat tertentu. Pengelolaan limbah cair merupakan upaya
untuk mengurangi volume, konsentrasi atau bahaya limbah, setelah keluar dari proses produksi (end of pipe)
melalui proses fisik, kimia dan biologi.