Anda di halaman 1dari 7

Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan

1
Kematian Ibu : Badai Yang Terus Berlanjut!
Henry S. Imbar, LPPM Politeknik Kesehatan Manado

Waktu terus bergulir, bangsa kita masih menjadi bangsa yang memiliki angka kematian
ibu (AKI) tertinggi di Asean. Persoalan kematian ibu menjadi persoalan yang cukup pelik
untuk dihadapi. Perlu disadari peranan ibu dalam menghasilkan sumber daya manusia
yang berkualitas sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian serius oleh segenap
komponen masyarakat. Kesehatan ibu menjadi salah satu agenda penting deklarasi
pembangunan milenium (MDGs) untuk menurunkan angka kematian ibu.Pemeriksaan
kehamilan pada fasilitas kesehatan, imunisasi tetanus toxoid, dan penolong persalinan oleh
tenaga professional merupakan program kesehatan ibu yang dapat menurunkan angka
kematian ibu.

Pendahuluan
Kematian ibu berkaitan erat dengan masalah kesehatan ibu terutama risiko pada waktu
hamil dan melahirkan. Kematian ibu juga merupakan masalah kompleks yang tidak
hanya memberikan pengaruh pada wanita saja, akan tetapi juga mempengaruhi keluarga
bahkan masyarakat sekitar. Kematian ibu pada usia reproduktif akan mengakibatkan
kerugian ekonomi yang signifikan dan dapat menyebabkan kemunduran perkembangan
masyarakat karena ibu merupakan pilar utama dalam keluarga yang berperan penting
mendidik anak-anak, memberikan perawatan kesehatan dalam keluarga dan membantu
perekonomian keluarga. Oleh sebab itu untuk menurunkan kematian ibu maka selama
kehamilan dan masa nifas setiap wanita direkomendasikan untuk memeriksakan
kehamilan pada fasilitas kesehatan, saat persalinan ditolong oleh penolong profesional,
dan melakukan perawatan nifas. Informasi tentang pemeriksaan kehamilan, penolong
persalinan, dan perawatan nifas sangat penting dalam mengidentifikasi kelompok wanita
yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan sebagai bahan dalam perencanaan dan
peningkatan pelayanan.

Pemeriksaan kehamilan
Pemeriksaan kehamilan dalam tulisan ini dibedakan menurut tenaga pemeriksa
kehamilan dan ibu mengalami komplikasi berhubungan dengan kehamilan, daerah
tempat tinggal.
Cakupan pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Utara pada dokter umum sebanyak 5
persen lebihtinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 2 persen. Ibu yang
memeriksakan kehamilan pada perawat, bidan, bidan desa menunjukkan proporsi
tertinggi sebesar 72 persen, sementara ibu yang memeriksa kehamilan pada dokter
kandungan 19 persen. Kesadaran ibu untuk memeriksakan kehamilannya sudah tinggi.



2

Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan

Gambar 1
Tenaga pemeriksa kehamilan

Sumber: SDKI,2007
Persentase ibu yang memeriksa kehamilan pada perawat,bidan,bidan desa di perdesaan
(77persen) lebih tinggi dibandingkan di perkotaan (63persen). Demikian pula,
pemeriksaan kehamilan pada dokter kandungan di perdesaan (17 persen) lebih rendah
dibandingkan diperkotaan (23 persen). Keadaanitu, tidak berbeda dengan di tingkat
nasional. Ada hubungan positif status ekonomi dan tingkat pendidikan ibu dengan
cakupan pemeriksaan kehamilan pada tenaga medis profesional.

Kunjungan pemeriksaan kehamilan
Pemeriksaan kehamilan dalam tulisan ini dibedakan menurut jumlah kunjungan
pemeriksaan kehamilan, daerah tempat tinggal, imunisasi tetanus toxoid, dan pemberian
pil zat besi.
Gambar 2
Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan

Sumber: SDKI,2007
Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan di Sulawesi Utara tergolong rendah. Ibu hamil
yang memeriksakan kehamilan sebanyak 4 kali atau lebih sebesar 78,8 persen lebih
rendah dari rata-rata nasional yakni sebesar 82 persen. Demikian pula, kunjungan
pemeriksaan paling sedikit sekali di trimester pertama, sekali di trimester kedua, dan
dua kali di trimester ketiga, Sulawesi Utara (50 persen) lebih rendah dari rata-rata
nasional (66 persen) ibu memenuhi jadwal yang dian jurkan pemerintah. Apalagi bila
3
Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan

dibandingkan dengan target program kesehatan ibu yaitu 90 persen ibu memenuhi
jadwal yang dianjurkan pemerintah. Persentase ibu yang memenuhi jadwal sesuai
anjuran, relative sama di perdesaan (50,3 persen) dan di perkotaan (49,2 persen).
Keadaan itu, jauh berbeda dengan di tingkat nasional dimana 77 persen di perkotaan dan
58 persen di perdesaan yang memenuhi jadwal yang dianjurkan.

Tempat persalinan
Secara nasional, 46 persen anak dalam lima tahun terakhir sebelum survei di lahirkan
pada fasilitas kesehatan. Persentase tertinggi 91 persen di Bali dan terendah 8 persen di
Sulawesi Selatan. Sulawesi Utara, 55persen anak dilahirkan pada fasilitas kesehatan dan
43 persen dilahirkan di rumah. Angka tersebut lebih besar dari rata-rata nasional, 53
persen anak dilahirkan di rumah, 36 persen pada fasilitas kesehatan swasta, dan 10
persen pada fasilitas kesehatan pemerintah.
Gambar 4
Tempat persalinan di Sulawesi Utara, 2007

Sumber: SDKI,2007
Kelahiran anak pada fasilitas kesehatan di Sulawesi Utara berhubungan positif dengan
tingkat pendidikan ibu dan kesejahteraan keluarga. Di daerah perkotaan lebih tinggi dari
pada di perdesaan anak yang dilahirkan pada fasilitas kesehatan.

Penolong persalinan
Departemen Kesehatan menetapkan target 90 persen persalinan di tolong oleh tenaga
medis pada tahun 2010. Hasil SDKI menunjukkan 73 persen dari kelahiran di Indonesia
ditolong oleh tenaga medis. Di Sulawesi Utara, 87,3 persen persalinan ditolong oleh
tenaga medis dan lebih tinggi dari tahun 2002-2003. Jadi, di Sulawesi Utara persalinan
oleh tenaga medis cenderung meningkat dan lebih tinggi dari rata-rata nasional.




4

Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan

Gambar 5
Tren penolong persalinan 1997- 2007

Sumber: SDKI,2007

Di Sulawesi Utara, persalinan yang ditolong tenaga medis 92 persen di perkotaan dan 85
persen di perdesaan. Secara nasional, di perkotaan 88 persen dan di perdesaan 63
persen. Jadi, target departemen kesehatan 90 persen persalinan ditolong tenaga medis,
sudah dicapai di perkotaan Sulawesi Utara sejak tahun 2007.Penolong persalinan oleh
tenaga medis berhubungan positif dengan umur ibu saat melahirkan, pendidikan ibu
dan kesejahteraan keluarga. Akan tetapi, berhubungan terbalik dengan urutan kelahiran.

Jumlah Kematian Ibu
Jumlah kasus kematian ibu di Provinsi Sulawesi Utara selang tahun 2008, 2009 dan
2010.
Gambar 6
Jumlah kasus kematian ibu di Sulawesi Utara 2007

Sumber: Dinas Kesehatan Prov.Sulut,2011

Kasus kematian ibu di Sulawesi Utara tahun2008 berjumlah 50 ibu yang meninggal
dari 38.472 kelahiran hidup, tahun2009 berjumlah 51 ibu meninggal dari 36.573
kelahiran hidup dan tahun 2010 berjumlah 67 ibu meninggal dari 36.503 kelahiran
hidup. Dari data tersebut terlihat kecenderungan kenaikan jumlah kasus kematian ibu
pada saat melahirkan di Sulawesi Utara.

5
Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan

Penyebab Kasus Kematian Ibu
Kasus kematian ibu di Sulawesi Utara kebanyakan karena terjadi komplikasi persalinan
seperti perdarahan, pre eklamsia, eklamsia dan partus lama.
Di Sulawesi Utara, tahun 2008 jumlah kematian ibu berdasarkan penyebab kematian ibu
karena pendarahan berjumlah 27 ibu, hipertensi dalam kehamilan, infeksi dan partus
lama masing-masing berjumlah 3 ibu, abortus jumlah 2 ibu, dan penyebab lainnya
berjumlah 12 ibu. Tahun 2009 penyebab kematian karena perdarahan 25 ibu, hipertensi
dalam kehamilan 7 ibu,abortus dan partus lama masing-masing 1 ibu dan penyebab lain
17 ibu namun tidak ada ibu yg meninggal akibat infeksi. Pada tahun 2010 penyebab
kematian ibu akibat pendarahan 32 ibu, hipertensi dalam kehamilan 12 ibu infeksi 4 ibu,
abortus dan partus lama masing-masing 1 ibudan akibat penyebab lain 17 ibu.

Gambar 7
Penyebab Kematian Ibu, Sulawesi Utara 2007


Sumber: Dinas Kesehatan Prov.Sulut,2011

Tingkat Putus Pakai Kontrasepsi
Perbaikan kualitas pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu tujuan dari program
kependudukan dan keluarga berencana. Salah satu ukuran dari kualitas pemakaian
adalah angka ketidak langsungan pemakaian kontrasepsi. Alasan putus pakai bisa
mencakup kegagalan kontrasepsi, ketidak puasan terhadap alat/cara KB, efek samping
dan kekurang tersediaan alt/cara KB.
Secara umum 20 persen wanita menggunakan kontrasepsi berhenti memakai alat/cara
KB dalam waktu 12 bulan dari mulai memakai. Tujuh persen berhenti karena ingin
hamil, empat persen berhenti menggunakan kontrasepsi karena mereka takut akan efek
samping atau masalah kesehatan, dua persen karena alasan ganti cara, dan selebihnya
karena alasan-alasan yang berkaitan dengan metode sera alasan lain seperti biaya mahal,
ketidak nyamanan memakai alat/cara KB, keretakan perkawinan/perceraian dan
abstinensi.


6

Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan


Gambar 8
Tingkat putus pakai kontrasepsi di Sulawesi Utara 2007

Sumber: SDKI,2007

Kebijakan
Program prioritas nasional bidang kesehatan pada RPJM ke-2 (2010-2014)
menitikberatkan pada: Pertama, menurunkan angka kematian ibu saat melahirkan dari
307 per 100.000 kelahiran pada 2008 menjadi 118 pada 2014. Kedua, peningkatan akses
dan kualitas pelayanan kesehatan secara merata di seluruh daerah. Ketiga, penerapan
Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga miskin dengan cakupan 100 persen
pada 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara 2012-
2014. Program tersebut sejalan dengan target DGs-5 untuk megurangi angka kematian
ibu hingga 75 persen.
Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan sesuai jadwal yang dianjurkan
pemerintah, pemeriksaan pada fasilitas kesehatan, tempat persalinan dan perawatan
nifas relative masih rendah di Sulawesi Utara. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa
perhatian pemerintah daerah terhadap kesehatan ibu masih rendah.

Rekomendasi Kebijakan dan Program
1. Peningkatan frekuensi dan kualitas layanan kesehatan ibu jangka pendek melalui
Posyandu sangat efektif untuk meningkatkan jumlah kunjungan pemeriksaan
kehamilan sesuai jadwal yang dianjurkan pemerintah, dan pemeriksaan melalui
fasilitas kesehatan. Dalam jangka panjang, pembangunan klinik-klinik kesehatan
atau sejenisnya, penempatan tenaga perawat dan bidan di perdesaan harus di
dasarkan pada population threshold dan kemudahan jangkauan.
2. Promosi kesehatan ibu dan anak lebih digalakkan, pemerintah dan masyarakat
bersinergis membangun komitmen meningkatkan kualitas kesehatan ibu, dan anak
bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan bersaing. Manfaatkan
institusi masyarakat yang ada di kelurahan dan di desa.
7
Policy Brief Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan

3. Instansi terkait atau rumah sakit perlu melakukan analisis situasi mengenai sistem
rujukan baik di tingkat pelayanan kesehatan dasar dan rumah sakit serta prosedur
penyediaan bank darah di tingkat pelayanan kesehatan rujukan.

Referensi
Arulita Ika Fibriana, 2007. Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi Kematian maternal
(studikasus di kabupaten cilacap), Program Studi Magister Epidemiologi Program
Pascasarjana UNDIP.
Bachri S. Kematian maternal oleh karena perdarahan.Bagian Kebidanan dan Kandungan
FK UNDIP/ RS dr. Kariadi. Semarang 1993.
Djaja S, Mulyono L, Afifah T, Penyebab kematian maternal di Indonesia, survey kesehatan
rumah tangga 2001.Majalah Kedokteran Atmajaya vol 2 No. 3, 2003:191-202.
Dinas Kesehatan Prov. Sulut, 2011. Catatan Laporan Angka Kematian Ibu.
Latuamury S.R. Hubungan antara keterlambatan merujuk dengan kematian ibu di RSUD
Tidar Kota Magelang. Universitas GadjahMada. Yogyakarta. 2001.
Laporan SDKI 2007 Provinsi Sulawesi Utara 2007. BkkbN Provinsi Sulawesi Utara,
Manado.
Soemantri S., Setyowati T., Wiryawan Y, Afifah T. Pedoman menghitung angka kematian
ibu (AKI). Jakarta .Badan Litbangkes. Depkes RI. 1997.
Setyowati T., Wiryawan Y, Sulistyowati N. Protap pencatatan / pelaporan kematian
maternal di puskesmas.Jakarta. Badan Litbangkes, Depkes RI. 2000.
Sekretariat Surkesnas Balitbangkes Depkes RI, 2011, Kajian Kematian Ibu, Kematian
Anak dan Status Gizi di Indonesia.
Stalker Peter, 2008. Kita Serukan MDGs Demi Pencapaiannya di Indonesia, BAPENAS dan
UNDP, Jakarta.
WHO. Maternal mortality in 2000. Department of Reproductive Health and Research
WHO, 2003.

Policy Brief ini ditulis oleh Henry S. Imbar, peneliti pada
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Politeknik Kesehatan Manado
Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis
Policy Brief ini disampaikan pada acara Diseminasi Hasil Penelitian dan Pengembangan
Kependudukan - BKKBN di Hotel Horison Bekasi, 16-18 Desember 2011.