Anda di halaman 1dari 68

1

PERATURAN DAERAH KABUPATENENDE


NOMOR 11 TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ENDETAHUN 2011 - 2031
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI ENDE,
Menimbang: a. bahwa untuk mengarahkan pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten Ende secara
berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pertahanan keamanan, perlu disusun
rencana tata ruang wilayah;
b. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar sektor, daerah
dan masyarakat, maka rencana tata ruang wilayah merupakan arahan lokasi
investasi pembangunan yang dilaksanakan Pemerintah, masyarakat, dan dunia
usaha;
c. bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Ende Nomor 5 Tahun 1999 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten Ende sudah tidak sesuai lagi dengan
perkembangan keadaan dewasa ini sehingga perlu ditinjau kembali;
d. bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, dan Peraturan Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Timur Nomor 1 Tahun 2011tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2010 2030, maka strategi dan arahan
kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional dan provinsi perlu dijabarkan
ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b,
huruf c dan huruf d, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Ende Tahun 2011-2031;
Mengingat: 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah
Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan
Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor
122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);


2

3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3888), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4374) yang telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 19
Tahun 2004 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4377);
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor Tahun 2004 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
6. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4433);
7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4437); sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844);
8. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4444);
9. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
10. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4725);
11. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739;


3

12. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4849);
13. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4851);
14. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4959);
15. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara
(Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
16. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4966);
17. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96 Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5025);
18. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5052);
19. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
20. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3776);
22. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk
Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor
20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3934);
23. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4587);


4

24. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 165 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4593);
25. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);
26. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
27. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan Tata Cara Peran
Masyarakat Dalam Penataan Ruang (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160)
28. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
29. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008 tentang Tata Cara Evaluasi
Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Daerah;
30. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan;
31. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor50 Tahun 2009 tentang Pedoman
Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
32. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11 Tahun 2009 tentang Pedoman
Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan Peraturan daerah, tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi dan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota beserta rincinya;
33. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN ENDE
dan
BUPATI ENDE
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN ENDE TAHUN 2011 2031

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Kabupaten Ende.
5

2. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat
3. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
4. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Ende.
5. Bupati adalah Bupati Ende.
6. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya
yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
7. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di
dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan
kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
8. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
9. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana
yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis
memiliki hubungan fungsional.
10. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan
ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.
11. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
12. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi pengaturan, pembinaan,
pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang.
13. Pengaturan penataan ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi Pemerintah,
pemerintah daerah, dan masyarakat dalam penataan ruang.
14. Pembinaan penataan ruang adalah upaya untuk meningkatkan kinerja penataan ruang yang
diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
15. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
16. Pengawasan penataan ruang adalah upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
17. Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang
meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
18. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan
rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.
19. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang.
20. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang.
21. Sistem wilayah adalah struktur ruang dan pola ruang yang mempunyai jangkauan pelayanan pada
tingkat wilayah
22. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten yang selanjutnya disingkat RTRW Kabupaten adalah
rencana tata ruang wilayah kabupaten di Ende
23. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya.
6

24. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian
lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
25. Kawasan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan
atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
26. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk
pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
27. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
28. Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah
perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang
ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hirarkhi keruangan satuan sistem permukiman
dan sistem agrobisnis.
29. Kawasan strategis nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan
keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah
ditetapkan sebagai warisan dunia.
30. Kawasan strategis provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan.
31. Kawasan strategis kabupaten/kota adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial,
budaya, dan/atau lingkungan.
32. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya
lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang
sengaja ditanam.
33. Satuan Wilayah Pengembangan yang selanjutnya disingkat SWP adalah suatu wilayah dengan
satu dan atau semua kabupaten/kota-perkotaan didalamnya mempunyai hubungan hirarki yang
terikat oleh sistem jaringan jalan sebagai prasarana perhubungan darat, dan atau yang terkait oleh
sistem jaringan sungai atau perairan sebagai prasarana perhubungan air.
34. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang berfungsi
untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/ kota.
35. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disebut PPK adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa
36. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat permukiman yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa
37. Energi baru dan terbarukan adalah bentuk energi yang dihasilkan oleh teknologi baru.
7

38. Energi terbarukan adalah bentuk energi yang dihasilkan dari sumberdaya energi yang secara
alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik.
39. Ekosistem adalah sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup
dengan lingkungannya.
40. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa
mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.
41. Daya dukung lingkungan adalah kemampuan ekosistem untuk mendukung kehidupan organisme
secara sehat sekaligus mempertahankan produktifitas, kemampuan adaptasi dan kemampuan
memperbarui diri.
42. Ramah lingkungan adalah suatu kegiatan industri, jasa dan perdagangan yang dalam proses
produksi atau keluarannya mengutamakan metoda atau teknologi yang tidak mencemari
lingkungan dan tidak berbahaya bagi makhluk hidup.
43. Sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proposional dengan bentuk dan
kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi kea rah darat.
44. Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan suatu kesatuan dengan sungai
dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang
berasal dari curah hujan ke danau atau laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah
topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas
daratan.
45. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan
pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan
tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan
air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel;
46. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok atau termasuk masyarakat hukum adat,
korporasi, dan/atau pemangku kepentingan nonpemerintah lain dalam penataan ruang.
47. Peran Masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

BAB II
TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI
PENATAAN RUANG WILAYAH KABUPATEN ENDE
Bagian Pertama
Tujuan
Pasal 2
Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Ende adalah untuk terwujudnya tata ruang Kabupaten Ende
yang berdaya saing, berbasis pertanian yang didukung oleh potensi kelautan, perikanan, pariwisata, dan
berwawasan lingkungan.

8

Bagian Kedua
Kebijakan

Pasal 3
Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, ditetapkan
kebijakan penataan ruang wilayah, meliputi:
a. pengembangan pusat pelayanan guna mendorong pertumbuhan wilayah disertai pemerataan secara
seimbang;
b. penyediaan prasarana wilayah guna mendorong investasi produktif sesuai kebutuhan masyarakat;
c. pemantapan fungsi kawasan lindung;
d. pengembangan budidaya melalui optimasi fungsi kawasan budidaya untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat berbasis pertanian yang didukung oleh sektor
kelautan, perikanan, pariwisata;
e. pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sesuai dengan fungsi sebagai penopang
kelestarian lingkungan hidup dan mendorong pertumbuhan wilayah; dan
f. pengembangan kawasan strategis di Kabupaten Ende dilakukan melalui pengembangan kawasan
sesuai fungsi masing-masingkawasan yang lestari dan berdaya saing tinggi.

Bagian Ketiga
Strategi

Pasal 4
(1) Untuk melaksanakan kebijakan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ditetapkan
strategi penataan ruang wilayah.
(2) Strategi untuk pengembangan pusat pelayanan wilayah Kabupaten Ende sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3huruf a, meliputi:
a. mendorong pertumbuhan wilayah perdesaan yang lebih mandiri;
b. meningkatkan aksesibilitas antar perdesaan dan perkotaan;
c. meningkatkan peran perkotaan sebagai pusat pertumbuhan wilayah sesuai hierarki masing-
masing;
d. mengintegrasikan pusat pengembangan baru dan lama sebagai satu sistem perkotaan; dan
e. mengembangkan kawasan agrowisata dan agropolitansebagai andalan pengembangan perdesaan
di Kabupaten Ende.
(3) Strategi untukpenyediaan prasarana wilayah Kabupaten Ende sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
huruf b, meliputi:
a. mengembangkan sistem jaringan transportasi darat, laut dan udara untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi dan peningkatan peluang investasi serta meningkatkan peran
kabupaten Ende sebagai fungsi regional;
9

b. mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi yang dapat menjangkau ke seluruh pelosok
wilayah secara proporsional dan terkendali;
c. mengembangkan sumberdaya pengairan dengan mengoptimalisasi fungsi dan pelayanan
prasarana pengairan secara terkontrol;
d. mengembangkan sistem jaringan energi dengan penyediaan prasarana/jaringan utama
listrik/energi termasuk gas pada kawasan yang belum mendapat layanan listrik/energi (gas);
dan
e. mengembangkan prasarana lingkungan dengan pengembangan sistem persampahan untuk
skala lokal dan dilakukan secara terpadu.
(4) Strategi untukpemantapanfungsi kawasan lindungwilayah Kabupaten Ende sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3huruf c, meliputi:
a. mengembangkan kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya
sebagai hutan lindung dan kawasan resapan air;
b. mengembangkan kawasan perlindungan setempat dengan pembatasan kegiatan yang tidak
berkaitan dengan fungsi ini guna perlindungan perairan;
c. mengembangkan kawasan cagar alam dan pelestarian alam ini hanya diperuntukkan bagi
kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian kawasan;
d. mengembangkan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan dengan pengamanan kawasan
dan/atau benda cagar budaya dan sejarah; dan
e. mengembangkan kawasan rawan bencana alam dengan menghindari kawasan yang rawan
terhadap bencana alam gunung api, gempa bumi, bencana geologi, tsunami, banjir, longsor
dan bencana alam lainnya sebagai kawasan terbangun.
(5) Strategi untukpengembangan kawasan budidaya wilayah Kabupaten Ende sebagaimana dimaksud
dalam Pasal3huruf d, meliputi:
a. mengembangakan kawasan hutan produksi dengan tetap mempertahankan fungsi kawasan
sebagai hutan produksi;
b. mengembangkan kawasan pertanian dilakukan melalui penetapan lahan pertanian pangan
berkelanjutan dan pengembangan spesialisasi komoditas pada setiap wilayah;
c. mengembangkan kawasan perkebunan dilaksanakan melalui peningkatan produktivitas dan
pengolahan hasil perkebunan dengan teknologi tepat guna;
d. mengembangkan kawasan perikanan dengan mengoptimalisasikan kawasan perikanan
tangkap, budidaya dan pengolahan di wilayah utara dan selatan Kabupaten Ende;
e. mengembangkan kawasan peternakan melalui pengembangan dan pengelolaan hasil
peternakan dengan industri peternakan yang ramah lingkungan;
f. mengembangkan kawasan pertambangan dilakukan melalui peningkatan nilai ekonomis hasil
pertambangan dengan melakukan pengolahan hasil tambang disertai penetapan pengolahan
pasca penambangan;
10

g. mengembangkan kawasan peruntukan industri melalui pengembangan kawasan industri
secara khusus yang ditunjang dengan promosi dan pemasaran hasil industri untuk menarik
investasi;
h. mengembangkan kawasan dan objek pariwisata melalui pengembangan obyek wisata andalan
melalui peningkatan promosi dan penyediaan sarana dan prasarana wisata, serta pelestarian
kawasan potensi pariwisata dan perlindungan budaya penunjang pariwisata;
i. mengembangkan kawasan permukiman perdesaan dan perkotaan disesuaikan dengan karakter
fisik, sosial-budaya dan ekonomi masyarakat terjangkau dan layak huni; dan
j. mengembangkan kawasan peruntukan lainnya yaitu berupa eksploitasi sumber daya air dan
mineral melalui pelestarian daerah di sekitar kawasan eksploitasi sumberdaya air dan mineral
dengan melalukan reboisasi.
(6) Strategi untuk pengembangan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah Kabupaten Ende,
sebagaimana yang dimaksud pada pasal 3 huruf e,meliputi:
a. melestarikan pada kawasan penunjang ekosistem pesisir sebagai kawasan konservasi;
b. mengembangkan kawasan pesisir sebagai kawasan permukiman, pelabuhan, pariwisata,
industri, perikanan dsb dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah fungsi pesisir dan
kelestariannya;
c. mengembangkan kawasan pesisir utara sebagai kawasan perikanan budidaya meliputi budidaya
rumput laut dan budidaya tambak; dan
d. mengembangkan kawasan pesisir selatan sebagai kawasan penangkapan.
(7) Strategi untuk pengembangan kawasan strategis wilayah Kabupaten Ende, sebagaimana yang
dimaksud pada pasal 3 huruf fmeliputi:
a. mengembangkan kawasan untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi, melalui kerjasama dalam
penyediaan tanah untuk pengembangan kegiatan industri skala besar, sedang dan kecil untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah Kabupaten Ende;
b. mengembangkan kawasan untuk kepentingan sosio-budaya, melalui upaya pelestarian kawasan
baik sebagai benda cagar budaya dan kawasan sekitarnya maupun kawasan permukiman yang
memiliki nilai budaya tinggi sekaligus sebagai identitas kawasan; dan
c. mengembangkan kawasan penyelamatan lingkungan hidup, dilakukan melalui peningkatan
keanekaragaman hayati kawasan lindung.

BAB III
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 5
(1) Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana
yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis
memiliki hubungan fungsional.
11

(2) Struktur ruang wilayah Kabupaten meliputi:
a. pengembangan sistem pusat permukiman;
b. pengembangan sistem jaringan transportasi;
c. pengembangan sistem sumber energi dan jaringan tenaga listrik;
d. pengembangan sistem jaringan telekomunikasi;
e. pengembangan sistem jaringan sumber daya air; dan
f. pengembangan prasarana lingkungan.
(3) Struktur pemanfaataan ruang wilayah diwujudkan berdasarkan arahan pengembangan sistem pusat
permukiman perdesaan dan sistem pusat permukiman perkotaan serta arahan sistem prasarana
wilayah.
(4) Struktur pemanfaatan ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi pusat
permukiman perdesaan, pusat permukiman perkotaan, dan prasarana wilayah.
(5) Rencana struktur ruang wilayah digambarkan dalam peta sebagaimana tercantum dalam lampiran I
dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Bagian Kedua
Rencana Pengembangan Sistem Pusat Permukiman
Paragraf 1
Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan

Pasal 6
(1) Rencana pengembangan sistem perkotaan dilakukan melalui pengembangan sistem kota-
kota yang sesuai dengan daya dukung sumber daya alam dan daya tampung lingkungan hidup serta
kegiatan dominannya.
(2) Pengembangan sistem pusat permukiman wilayah Kabupaten meliputi pengembangan pusat
permukiman perkotaan dan pusat permukiman perdesaan.
(3) Pengembangan pusat permukiman perkotaan dan pusat permukiman perdesaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) secara teknis diatur Pejabat yang berwenang.

Pasal 7
(1) Untuk mewujudkan struktur ruang wilayah, kebijakan pengembangan sistem perkotaan adalah
mengembangkan sistem perkotaan yang memiliki keterkaitan secara fungsional.
(2) Untuk mengembangkan struktur ruang wilayah meliputi sistem pusat permukiman perkotaan dan
pusat permukiman perdesaan dalam kesatuan hirarki agar berfungsi sebagai pusat-pusat
pertumbuhan, maka rencana pengembangan sistem pusat permukiman adalah sebagai berikut:
a. memantapkan peranan Kota Ende sebagai Ibukota Kabupaten dan pusat pengembangan
wilayah bagi Daerah;
b. mengembangkan keterkaitan antar kota secara fungsional melalui peningkatkan peran dan
fungsi; dan
12

c. mengembangkan desa-desa melalui penetapan desa pusat pertumbuhan sebagai pusat lokasi
distribusi bagi kegiatan ekonomi.
Pasal 8
(1) Sistem perkotaan di Kabupaten Ende dikaitkan dengan kedudukannya dalam RTRWN yaitu Kota
Ende sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
(2) Sistem perkotaan di Kabupaten Ende kedepan dicanangkan sebagai berikut:
a. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) meliputi Perkotaan Wolowaru dan Maurole.
b. Pusat Kegiatan LokalPromosi (PKLp) meliputi Perkotaan Detusoko dan Nangapanda.
c. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) meliputi perkotaan Wolojita, Wewaria, Ndona Timur, Ndona,
Kelimutudan Ende.
1. Wolojita di Kecamatan Wolojita;
2. Welamosa di Kecamatan. Wewaria;
3. Ndona di Kecamatan Ndona;
4. Demulaka di Kecamatan Ndona Timur;
5. Woloara di Kecamatan Kelimutu ; dan
6. Nangaba di Kecamatan Ende.
d. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) meliputi:
1. Maubasa di Kecamatan Ndori;
2. Maukaro di Kecamatan Maukaro;
3. Watuneso di Kecamatan Lio Timur;
4. Kotabaru di Kecamatan Kotabaru;
5. Watunggere di Kecamatan Detukeli;
6. Peibenga di Kecamatan Lempebusu Kelisoke dan
7. Rendoraterua di Kecamatan Pulau Ende.
(3) Sistem Perwilayahan di Kabupaten Ende, terbagi dalam 5 (lima) wilayah pengembangan:
a. Wilayah Pengembangan I
Wilayah pengembangan I meliputi Kecamatan Ende, Ende Tengah, Ende Selatan, Ende Timur,
Ende Utara, dengan pusat WP adalah Kecamatan Ende Tengah.
b. Wilayah Pengembangan II
Wilayah pengembangan IImeliputi Kecamatan Detusoko, Detukeli, Lepembusu
Kelisoke,Ndona Timur dan Ndona, dengan pusat WP adalah Kecamatan Detusoko.
c. Wilayah Pengembangan III
Wilayah pengembangan III meliputi Kecamatan Wolowaru, Wolojita, Kelimutu, Lio Timur,
Ndori, dengan pusat WP adalah Kecamatan Wolowaru.
d. Wilayah Pengembangan IV
Wilayah pengembangan IV meliputi Kecamatan Nangapanda, Pulau Ende dan Maukaro,
dengan pusat WP adalah Kecamatan Nangapanda.
13

e. Wilayah Pengembangan V
Wilayah pengembangan V meliputi Kecamatan Maurole, Wewaria, dan Kota Barudengan pusat
WP adalah Kecamatan Maurole.
(4) Setiap wilayah pengembangan diarahkan mempunyai fungsi wilayah sesuai dengan potensi wilayah
masing-masing.
a. Wilayah Pengembangan I sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a diarahkan pada kegiatan
utama sebagai pusat kegiatan perkotaan, pusat perdagangan, pusat kegiatan pemerintahan
kabupaten, kegiatan pendukung wilayah berupa bandara dan pelabuhan;
b. Wilayah Pengembangan II sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b diarahkan pada
kegiatan utama sebagai pusat kegiatan pariwisata, industri rumah tangga (pembuatan souvenir),
pertambangan, perkebunan, pertanian;
c. Wilayah Pengembangan III sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c diarahkan pada
kegiatan utama di bidang pertanian, pariwisata, industry dan pertambangan;
d. WilayahPengembangan IV sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d diarahkan pada
kegiatan utama untuk kegiatan transportasi, pertambangan, pariwisata, perkebunan dan
perikanan; dan
e. Wilayah pengembangan V sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e diarahkan pada
kegiatan utama untuk kegiatan pertambangan, perikanan, pertanianpeternakan dan industri.

Paragraf 2
Rencana Pengelolaan Sistem Perkotaan
Pasal 9
Rencana pengelolaan kawasan perkotaan meliputi:
a. fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat kegiatan ekonomi wilayah, pusat pengolahan dan
distribusi hasil pertanian, perdagangan, jasa, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, serta
transportasi, pergudangan dan sebagainya;
b. fungsi perkotaan sebagai pemasok kebutuhan dan lokasi pengolahan agroindustri dan berbagai
kegiatan agrobisnis;
c. kota sebagai pusat pelayanan, pusat prasarana dan sarana sosial ekonomi sebagai upaya
mempengaruhi pedesaan dalam peningkatan produktifitasnya;
d. menjaga pembangunan perkotaan yang berkelanjutan melalui upaya menjaga keseimbangan
wilayah terbangun dan tidak terbangun, mengembangkan hutan kota dan menjaga eksistensi
wilayah yang bersifat perdesaan di sekitar kawasan perkotaan;
e. masing-masing wilayah kota, harus merencanakan: penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka
hijau; penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka nonhijau; dan penyediaan dan pemanfaatan
prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sektor informal, dan ruang
evakuasi bencana, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai pusat
pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah; dan

14

f. ruang terbuka hijau terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat. Dengan
proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas
wilayah kota, dan proporsi ruang terbuka hijau publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua
puluh) persen dari luas wilayah kota.

Paragraf 3
Rencana Pengembangan Sistem Perdesaan

Pasal 10
(1) Sistem pusat permukiman perdesaan dilakukan dengan membentuk pusat pelayanan desa secara
berhirarki.
(2) Pusat permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan
pelayanan perdesaan secara berhirarki, meliputi:
a. setiap dusun memiliki pusat dusun (PPds);
b. setiap desa memiliki satu pusat kegiatan yang berfungsi sebagai pusat desa(PPd);
c. beberapa desa dalam satu kecamatan memiliki pusat kegiatan sebagai Pusat Pelayanan
Lingkungan (PPL);
d. beberapa desa/kelurahan yang memiliki ciri perkotaan dan menjadi pusat pelayanan kegiatan
bagi sekitarnya menjadi Pusat Pelayanan Kawasan (PPK); dan
e. perdesaan yang membentuk sistem keterkaitan atau berorientasi pada pusat wilayah
pengembangan disebut sebagai pusat kegiatan lokal (PKL).
(3) Pusat pelayanan perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) secara berhirarki memiliki
hubungan dengan pusat kecamatan sebagai kawasan perkotaan terdekat, dengan perkotaan sebagai
pusat wilayah pengembangan dan dengan ibukota kabupaten

Pasal 11
(1) Rencana pengembangan pusat permukiman perdesaan adalah penataan struktur ruang pedesaan
sebagai sistem pusat permukiman di pedesaan yang berpotensi menjadi pusat pertumbuhan di
perdesaan.
(2) Rencana pengembangan struktur ruang pedesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
melaluipembentukan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP), pembentukan Pusat Desa dan pembentukan
Desa Pendukung.
(3) Pengelolaan struktur ruang perdesaan merupakan upaya untuk mempercepat efek pertumbuhan di
kawasan perdesaan.
(4) Setiap pusat pelayanan dikembangkan melalui penyediaan berbagai fasilitas sosial-ekonomi yang
mampu mendorong perkembangan kawasan perdesaan.



15

Bagian Ketiga
Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana

Paragraf 1
Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi

Pasal 12
(1) Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi wilayah mencakup sistem jaringan transportasi
darat, sistem jaringan transportasi laut, dan sistem jaringan transportasi udara.
(2) Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup transportasi
jalan raya serta transportasi penyeberangan.
(3) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup pelabuhan laut
dan alur pelayaran.
(4) Sistem jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup jaringan rute
penerbangan yang membentuk suatu sistem angkutan udara.

Pasal 13
(1) Rencana pengembangan sistem prasarana transportasi jalan terdiri dari prasarana jalan umum yang
dinyatakan dalam status, fungsi jalan, sistem jaringan jalan dan prasarana terminal angkutan
penumpang.
(2) Pengelompokan jalan berdasarkan status dapat dibagi menjadi jalan nasional, jalan propinsi, dan
jalan kabupaten.
(3) Pengelompokan jalan berdasarkan fungsi jalan dibagi kedalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan
lokal dan jalan lingkungan.
(4) Pengelompokan jalan berdasarkan sistem jaringan jalan terdiri dari sistem jaringan jalan primer dan
sistem jaringan jalan sekunder.
(5) Pengembangan prasarana jalan meliputi arahan pengembangan bagi jalan nasional, jalan provinsi
dan jalan kabupaten.
(6) Pengembangan prasarana jalan meliputi pengembangan jalan baru dan pengembangan jalan yang
sudah ada.
Pasal 14
(1) Rencana Pengembangan Jalan Arteri Primer yang memiliki status jalan nasional dan provinsi yang
terdapat di Kabupaten ende yaitu jalan yang menghubungkan antara Sikka Ende Nagekeo
melewati Lio Timur Ndori Wolowaru Kelimutu Detusoko Ende Timur Ende Tengah
Ende Selatan Ende Utara Nangapanda dengan rincian ruas jalan arteri primer, meliputi:
a. ruas jalan Aegela Batas Kota Ende dengan panjang 54,004 km;
b. ruas jalan arah Bajawa Ende dengan panjang 0,934 Km;
c. ruas jalan Perwira dengan panjang 0,190 Km;
d. ruas jalan Soekarno dengan panjang 0,388 Km;
e. ruas jalan Katedral dengan panjang 0,723 Km;

16

f. ruas jalan dari batas Kota Ende ke Detusoko dengan panjang jalan 29,062 Km;
g. ruas jalan A.Yani dengan Panjang 1,458 Km;
h. ruas jalan Detusoko Wologai dengan panjang 8,800 Km;
i. ruas jalan Wologai/Junction dengan panjang jalan 9,548 Km;
j. ruas jalan Junction Wolowaru 13,501 Km;
k. ruas jalan Wolowaru Lianunu dengan panjang 14,264 Km; dan
l. ruas jalanLianunu Hepang dengan panjang 47,908.
(2) Rencana Pengembangan jalan lokal menjadi jalan kolektor primer yang termasuk status jalan
Kabupaten dan Provinsi di Kabupaten Ende meliputi:
a. jaringan jalan yang menghubungkan Nagekeo Ende Sikka melewati Maukaro Wewaria
Maurole Kota Baru;
b. jaringan jalan yang menghubungkan Ende - Sikka melewati Detusoko Wewaria Maurole
Kota Baru; dan
c. pengembangan jaringan jalan lingkar selatan dari pusat kota Ende ke Maumere melalui
Kecamatan Ende Timur Kecamatan Ndona Kecamatan Wolojita Kecamatan Ndori
Kecamatan Lio Timur.
(3) Rencana jaringan jalan lokal primer meliputi:
a rencana penambahan serta perbaikan kondisi perkerasan jalan yang meliputi:
1. perbaikan jalan dalam ibu kota kecamatan Maukaro dan daerah pesisir diluar Ibu kota
Kecamatan;
2. penambahan jaringan jalan kolektor di Kecamatan Ende Selatan;
3. perbaikan jalan lokal dan jenis jalan lainnya di kecamatan Maukaro;
4. penambahan dan atau perbaikan jalan di Nangapanda;
5. peningkatan perkerasan jalan di Kecamatan Detukeli;
6. pelebaran dan perbaikan jalan di Kecamatan Maurole;
7. perkerasan dan pelebaran jaringan jalan di Kecamatan Kelimutu; dan
8. penambahan dan atau perbaikan jalan di kecamatan lainnya yang memiliki potensi
pariwisata dan ekonomi lain seperti Kecamatan Detusoko dan Wolowaru.
b rencana pengembangan jalan untuk membuka wilayah terbelakang yang meliputi:
1. pengembangan jalan Nangapanda - Maukaro;
2. pengembangan jalan Ende Tengah Ndona Wolojita Ndori - Lio Timur;
3. pengembangan jalan Detukeli Maurole;
4. pengembangan jalan Kota Baru Lio Timur; dan
5. pengembangan jalan Kota Baru Kelimutu Wolowaru Lio Timur.
c rencana peningkatan jalan antar kecamatan dan simpul kegiatan.
(4) Rencana pengembangan terminal angkutanpenumpangdi Kabupaten Endemeliputi:
a arahan pengembangan terminal type B untuk penumpang di Kecamatan Ende Selatan;

17

b arahan pengembangan terminal type C untuk penumpang dan barang di Wolowaru, sebagai
penunjang kegiatan industri;
c arahan pengembangan terminal type C untuk penumpang di Kota Baru, sebagai pengembangan
wilayah perbatasan;
d arahan pengembangan terminal type C untuk penumpang dan barang di Nangapanda, sebagai
penunjang kegiatan pertambangan; dan
e arahan pengembangan terminal type C untuk penumpang di Kelimutu, sebagai penunjang
kegiatan pariwisata.
(5) Rencana trayek angkutan perintis di Kabupaten Ende meliputi:
a. Ende Watuneso;
b. Ende Maurole;
c. Ende Kotabaru;
d. Ende Riung;
e. Ende Jopu;
f. Ende Nggela; dan
g. Ende Maukaro;.
Pasal 15
Rencana pengembangan dermaga pelabuhan laut di Kabupaten Ende didasarkan pada pendekatan
sebagai berikut:
a. rencana pengembangan pelabuhan laut yang mendukung rencana sistem pengembangan kepulauan
di Provinsi Nusa Tenggara Timur;
b. pembangunan pelabuhan yang mendukung pengembangan ekonomi masyarakat dan memacu
perkembangan wilayah hinterland-nya; dan
c. pengembangan pelabuhan rakyat menjadi pelabuhan lokal yang dilakukan pada lokasi-lokasi
strategis dalam memperlancar transportasi orang/barang sehingga dapat memacu percepatan
pengembangan wilayah.
Pasal 16
(1) Rencana pengembangan prasarana transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat 3,
meliputi:
a. pengembangan dan peningkatan sarana, prasarana, dan pelayanan pelabuhan untuk perdagangan
regional;
b. pengembangan pelabuhan rakyat di Maurole menjadi pelabuhan perikanan untuk mendukung
kegiatan agropolitan perikanan bagian utara;
c. pengembangan pelabuhan perikanan di Paupanda Kecamatan Ende Selatan untuk mendukung
kegiatan agropolitan perikanan bagian selatan; dan
d. pengembangan dan pemantapan wilayah pesisir untuk pelabuhan kecil atau tempat bersandar
perahu kecil.


18

(2) Rencana pengembangan pelabuhan pengumpan meliputi:
a. pelabuhan Ende di Kota Ende; dan
b. pelabuhan Ippi di Kecamatan Ende Selatan.
(3) Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi laut menjadi pelabuhan lokalyaituPelabuhan
Nangakeo di kecamatan Nangapanda dan Pelabuhan di Kecamatan Maurole.
(4) Rute penyebrangan pelabuhan meliputi:
a. alur penyeberangan dalam Provinsi meliputi Ende Waingapu dan Ende Kupang;
b. alur pelayaran lintas Provinsi meliputi Ende - Denpasar - Kupang dan Ende - Maumere -
Surabaya.

Pasal 17
(1) Rencana pengembangan prasarana transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(4) adalah Bandar udara umum.
(2) Bandar udara umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu Bandar Udara Haji Hasan
Aroeboesman sebagai bandar udara pengumpul skala tersier.
(3) Rencana pengembangan Bandar Udara Haji Hasan Aroeboesman meliputi:
a. rencana peningkatan fasilitas Bandar Udara Haji Hasan Aroeboesman yaitu buffer zone bagi
area bandar udara demi keselamatan dan relokasi pemukiman sekitar bandar udara; dan
b. pengembangan Bandara Udara Haji Hasan Aroeboesmanmenjadi bandarudara pengumpul skala
sekunder.

Paragraf 2
Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Energi
Pasal 18
(1) Sumberdaya energi adalah sebagian dari sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai
sumber energi dan atau energi baik secara langsung maupun dengan proses konservasi atau
transportasi.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan energi dimaksudkan untuk menunjang penyediaan jaringan
energi listrik dan pemenuhan energi lainnya.
(3) Rencana pengembangan sumberdaya energi akan memberikan supply energi listrik di Wilayah
Kabupaten Ende.
(4) Rencana pengembangan energi baru dan terbarukan oleh pemerintah daerah meliputi PLTD, PLTU,
PLTM dan PLTS sesuai dengan potensi energi yang ada di daerah.
(5) Rencana pengembangan sarana listrik meliputi:
a. pembangunan PLTU Ropa di Maurole;
b. pengkajian dan pengembangan potensi Geothermal meliputi:
1. Panas Bumi Sokoria Ndona Timur (yang saat ini dalam pelaksanaan eksplorasi);
2. Panas Bumi Lesugolo Kecamatan Detukeli;

19

3. Panas Bumi Jopu Kecamatan Wolowaru; dan
4. Panas Bumi Detusoko Kecamatan Detusoko
c. pengembangan potensi Mikrohidro (PLTM) meliputi PLTM Ndungga Kecamatan Ende Timur;
d. peningkatan daya energi listrik pada daerah-daerah pusat pertumbuhan dan daerah
pengembangan berupa pembangunan dan penambahan gardu-gardu listrik;
e. pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk desa-desa terisolir yang
memiliki topografi yang sulit;
f. pengembangan Gardu Induk di GI Ende dengan Kapasitas 20 MW memiliki tegangan 70/20KV
serta GI Ropa dengan kapasitas 10 MW memiliki tegangan 70/20 KV;
g. penambahan dan perbaikan sistem jaringan listrik pada daerah-daerah yang belum terlayani,
terutama bagi sekitar 99 desa di 17 kecamatan yang belum memperoleh pelayanan energi
listrik yang bersumber dari PLN;
h. meningkatkan dan mengoptimalkan pelayanan listrik untuk mewujudkan pemerataan pelayanan
diseluruh wilayah Kabupaten Ende;
i. pengembangan areal konservasi disekitar jaringan SUTT dan SUTET yaitu 20 meter pada
setiap sisi tiang listrik untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan bagi masyarakat; dan
j. pengembangan potensi sumber energi sebagai pemenuhan kebutuhan listrik untuk masa yang
akan datang.

Paragraf 3
Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pasal 19
(1) Prasarana telekomunikasi adalah perangkat komunikasi dan pertukaran informasi yang
dikembangkan untuk sektor publik ataupun privat (swasta).
(2) Prasarana telekomunikasi yang dikembangkan, meliputi:
a. infrastruktur telekomunikasi berupa jaringan kabel telepon dan
b. infrastruktur telepon nirkabel.
(3) Rencana pengembangan prasarana telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. penerapan teknologi telematika berbasis teknologi modern dengan menciptakan teknologi duo
sistem yang menggabungkan teknologi telematika antara telepon umum dengan jaringan
internet dalam satu alat;
b. pengembangan tower bersama di dataran tinggi dengan prioritas pada wilayah yang terdapat
aktivitas masyarakatnya;
c. pembangunan teknologi telematika pada wilayah-wilayah pusat pertumbuhan sehingga dapat
menjangkau kebutuhan masyarakat; dan
d. membentuk jaringan telekomunikasi dan informasi yang menghubungkan setiap wilayah
pertumbuhan dengan ibu kota kabupaten sehingga memberikan kemudahan dalam mengakses
informasi yang dibutuhkan.

20

Paragraf 4
Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Pasal 20
(1) Prasarana sumberdaya air adalah prasarana pengembangan sumberdaya air untuk memenuhi
berbagai kepentingan.
(2) Rencana pengembangan prasarana sumberdaya air untuk air bersih diarahkan untuk
mengoptimalkan pemanfaatan sumber air permukaan dan sumber air tanah.
(3) Pengelolaan prasarana sumberdaya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a. pembangunan prasarana sumber daya air di 21 (dua puluh satu) kecamatan, yang meliputi 4
(empat) kecamatan dalam kota yaitu Kecamatan Ende Selatan, Ende tengah, Ende Utara dan
Ende Timur dan 17 kecamatan luar kota yaitu Kecamatan Nangapanda,Pulau Ende, Ende,
Ndona, Ndona Timur, Wolojita, Wolowaru, Ndori, Lio Timur, Detusoko, Kelimutu, Detukeli,
Maukaro, Maurole, Kotabaru, Wewaria dan Lepembusu Kelisoke;
b. semua sumber air baku dari dam, embung, waduk/danau, serta sungai - sungai yang airnya
dapat dimanfaatkan secara langsung dan dikembangkan untuk berbagai kepentingan.
Pengembangan DI berada di D.I. Aebela, D.I. Bhetolepe, D.I. Detu Kana, D.I. Detu Keli, D.I.
Detu Mbuja, D.I. Detu Oka, D.I. Detubela, D.I. Detudepa, D.I. Detuone, D.I. Detusoko, D.I.
Detusoko Kanan, D.I. Detusoko Kiri, D.I. Ekolea I&II, D.I. Ekoleta/wologai, D.I. Kojanara,
D.I. Lowo Welu I&II, D.I. Lowolengge I, D.I. Lowolengge II, D.I. Lowombangga, D.I.
Lowoone, D.I. Malaara III, D.I. Mulu Ola, D.I. Ndito, D.I. Ndondo, D.I. Ndori Maubasa, D.I.
Ngalu Polo, D.I. Ratebobi, D.I. Sokomaki, D.I. Tanali/tenda Leo, D.I. Tiwu Mboja, D.I.
Watuneso III, D.I. Wolo Budu, D.I. Wolo Gai, D.I. Wolo Oja, D.I. Wolo Tolo, D.I. Wolofeo I
& II, D.I. Wolomuku, D.I. Wotowaru, D.I. Aejelo, D.I. Aerea, D.I. Aeteu, D.I. Aewora, D.I.
Boamuku, D.I. Detu Age, D.I. Detuboti, D.I. Detukepi, D.I. Detulapu, D.I. Detumbawa, D.I.
Detuoka, D.I. Detupera, D.I. Doka, D.I. Hangalande, D.I. Hobatuwa, D.I. Kombo, D.I. Kopo
Nio, D.I. Ledandori, D.I. Lokalande, D.I. Lokaoja, D.I. Lowoketo, D.I. Marakisa, D.I.
Marambemba I & II, D.I. Mausambi, D.I. Mbira Ndawa, D.I. Murunggu, D.I. Nangamboa, D.I.
Napundora, D.I. Nggela, D.I. Nio Wula, D.I. Niomapa, D.I. Niopanda, D.I. Onelako, D.I. PuU
Tuga, D.I. Ranga, D.I. Ranga Ria, D.I. Rano, D.I. Rano Wawo, D.I. Ratemapa, D.I. Ria Raja,
D.I. Rowombojo, D.I. Sokobajo, D.I. Sokonaja, D.I. Sua Taka, D.I. Tendarea, D.I. Tiwu Tenda,
D.I. Tiwunaba, D.I. Watu Mere, D.I. Waturaka, D.I. Wolo Mage, D.I. Woloara, D.I. Wologawi,
D.I. Wolosambi, D.I. Wonda;
c. zona pemanfaatan DAS dilakukan dengan membagi DAS berdasarkan tipologinya;
d. penetapan zona pengelolaan sumber daya air sesuai dengan keberadaan wilayah sungai tersebut
pada zona kawasan lindung tidak diijinkan pemanfaatan sumber daya air untuk fungsi budidaya;
dan
e. prasarana sumberdaya air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan lintas wilayah
administratif kabupaten/kota, dikoordinasikan oleh Pemerintah Provinsi.

21

Paragraf 5
Rencana Pengembangan Sistem Prasarana Lingkungan
Pasal 21
(1) Prasarana lingkungan merupakan arahan pengelolaan prasarana yang digunakan lintas wilayah
administratif.
(2) Prasarana yang digunakan lintas wilayah secara administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi pengembangan TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Rate dan rencana pembangunan TPA di
Nangaba Kecamatan Ende untuk wilayah selatan dan di Kecamatan Maurole untuk Kabupaten
Ende bagian utara.
(3) Rencana pengembangan sistem prasarana lingkungan yang digunakan lintas wilayah secara
administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi:
a. kerjasama antar wilayah dalam hal pengelolaan dan penanggulangan masalah sampah terutama
di wilayah perkotaan;
b. pengalokasian tempat pembuangan akhir sesuai dengan persyaratan teknis;
c. pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kaidah teknis; dan
d. pemilihan lokasi untuk prasarana lingkungan harus sesuai dengan daya dukung lingkungan.

BAB IV
RENCANA POLA RUANG WILAYAH KABUPATEN ENDE
Bagian Pertama
Umum
Pasal 22
(1) Pola ruang wilayah menggambarkan rencana sebaran kawasan lindung dan kawasan budidaya.
(2) Kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kawasan yang memberikan
perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam dan
cagar budaya, dan kawasan rawan bencana alam.
(3) Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kawasan hutan produksi, kawasan
pertanian, kawasan perikanan dan kelautan, kawasan perkebunan, kawasan peternakan, kawasan
pariwisata, kawasan permukiman, kawasan industri, dan kawasan pertambangan.
(4) Rencana Pola Ruang wilayah digambarkan dalam peta sebagaimana tercantum pada lampiran II dan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan daerah ini.

Bagian Kedua
Rencana Pengembangan Kawasan Lindung
Pasal 23
Kawasan lindung meliputi:
a. kawasan hutan lindung;
b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;

22

c. kawasan perlindungan setempat;
d. kawasan rawan bencanaalam;
e. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;
f. kawasan lindung geologi; dan
g. kawasan lindung lainnya.

Pasal 24
Kawasan hutan lindung di Kabupaten Ende terdapat di Kecamatan Nangapanda, Maukaro, Ende,
Wewaria, Detusoko, Detukeli, Maurole, Kotabaru, Kelimutu, Lio Timur dan Kecamatan Lempebusu
Kelisoke dengan luas 24.193,34Ha.
Pasal 25
(1) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23huruf b, meliputi kawasan resapan air.
(2) Kawasan resapan air yang berfungsi sebagaikawasan yang memberikan perlindungan terhadap
kawasan bawahannya tersebar di Detusoko, Nangapanda, Maukaro, Ende, Ende Timur, Ndori,
Ndona Timur, Wolojita, Kelimutu, Wolowaru, Wewaria, Kotabaru, Detukeli dan Maurole.

Pasal 26
(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23huruf c, meliputi:
a. kawasan sempadan pantai;
b. kawasan sempadan sungai;
c. kawasan sempadan danau/waduk;
d. kawasan sempadan mata air; dan
e. kawasan sempadan irigasi.
(2) Kawasan sempadan pantai seluas 1.971,28 Ha dengan panjang sempadan pantai 100 m dari pasang
tertinggidi Kabupaten Ende terdapat di 15 (lima belas) kecamatan, yaitu Kecamatan Ende Selatan,
Ende Tengah, Ende Timur, Ende Utara, Kotabaru, Lio Timur, Maukaro, Maurole, Nangapanda,
Ndona, Ndori, Pulau Ende, Wewaria, Wolojita, dan Wolowaru.
(3) Kawasan sempadan sungaiseluas 4.484,47 Ha di Kabupaten Ende terdapat di Sungai Sungai
Wolowona, Sungai Nangaba, Sungai Lowo Daga, Sungai Lowo Dali/Welajawa, Sungai Lowo Rea,
Sungai Watuneso, Sungai Loworongga, Sungai Loworande, Sungai Koro, Sungai Lowo Moke,
Sungai Nangapanda, Sungai Kali Putih, Sungai Nangamboa, Sungai Ngalupolo, Sungai Wolotopo,
Sungai Lowo Loka, Sungai Lowo Bajo dan Sungai Maukaro.
(4) Kawasan sempadan danau/waduk di Kabupaten Ende terdapat di Kecamatan Kelimutu dan
Kecamatan Wewaria.
(5) Kawasan perlindungan sempadan mata air di Kabupaten Endeditetapkan dengan radius sekurang-
kurangnya 200 m dari tiap-tiap sumber mata air.
(6) Kawasan sempadan irigasi di Kabupaten Ende meliputi :
23

a. garis sempadan air untuk bangunan, diukur dari tepi atas samping saluran atau dari luar kaki
tangkis saluran atau bangunannya dengan jarak : 5 (lima) meter untuk saluran irigasi dan
pembuangan dengan kemampuan 4 m/detik atau lebih, 3 (tiga) meter untuk saluran irigasi dan
pembuangan dengan kemampuan 1 sampai 4 m/detik, 2 (dua) meter untuk saluran irigasi dan
pembuangan dengan kemampuan kurang dari 1 m/detik;
b. pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan saluran
dengan lebar jalan minimum 4 meter;
c. perlindungan pada irigasi sekunder baik di dalam maupun diluar permukiman ditetapkan
minimum 6 meter kiri-kanan saluran; dan
d. pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan saluran
dengan lebar jalan minimum 3 meter.

Pasal 27
(1) Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya, yang meliputi kawasan cagar alam,
kawasan pantai berhutan bakau, kawasan taman nasional, taman wisata alam, cagar budaya dan
ilmu pengetahuan dengan luas kawasan sekitar 77.669,34 Ha.
(2) Kawasan cagar alam yang ada di Kabupaten Ende memiliki luasan sekitar 1.958,24 Ha yang
letaknya menyebar di Kecamatan Detukeli, Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Nangapanda,
Kecamatan Maukaro, Kecamatan Ende, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Kelimutu, Kecamatan
Wolowaru dan Kecamatan Lio Timur.
(3) Kawasan pantai berhutan bakau yang merupakan kawasan lindung adalah kawasan pantai utara
yang memiliki kawasan hutan bakau yang meliputi Kecamatan Maukaro, Kecamatan Maurole,
Kecamatan Wewaria dan Kecamatan Kotabarudengan luasan 603,04 Ha.
(4) Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende ditunjuk sebagai Kawasan Taman Nasional dengan
luas 5.538,37 Ha yang merupakan wilayah yang harus dilindungi dan membatasi kegiatan
budidaya. Wilayah Kawasan Taman Nasional meliputi 4 (empat) kecamatan yaitu Kecamatan
Wolojita, Kecamatan Kelimutu, Kecamatan Detusoko dan Kecamatan Ndona Timur.
(5) Taman wisata alam yang terdapat di Kabupaten Ende adalah Taman Wisata Alam Kemang Boleng.
Taman Wisata Alam Kemang Boleng terdapat di Kecamatan Nangapanda, Maukaro, Ende,
Detusoko, Kelimutu, Wolowaru, Kotabaru dan Lio Timur. Perlindungan taman wisata alam ini
sangat penting yang merupakan kawasan resapan air dan melestarikan lingkungan beserta
ekosistemnya.
(6) Kawasan cagar budaya di Kabupaten Ende sekaligus merupakan kawasan dengan fungsi
pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kawasan pelestarian alam jenis cagar budaya yang terdapat di
Kabupaten Ende meliputi Benteng Morilonga, Situs Bung Karno, Mummi di Nuaone Detusoko,
Kompleks Rumah Adat Kanganara, Kompleks Rumah Adat Koanora, Senjata tradisional Jopu, Sao
Ria Raja Nggaji Wolojita, Rumah Adat Wiwipemo, Rumah Adat Wiwipemo, dan Megalith
Wolotopo.

24

Pasal 28
(1) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 huruf d, meliputi:
a. rawan gempa bumi;
b. rawan gunung api;
c. rawan longsor;
d. rawan banjir; dan
e. rawan gelombang pasang.
(2) Kawasan rawan gempa bumi dan tsunami sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi
Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Detukeli, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Nangapanda,
Kecamatan Pulau Ende, Kecamatan Maurole, Kecamatan Wewaria, dan Kecamatan Maukaro.
(3) Kawasan rawan gunung berapi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi Kecamatan
Ende Selatan, Kecamatan Pulau Ende, Kecamatan Ende Tengah, Kecamatan Ndona, Kecamatan
Ndona Timur, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Kelimutu, Kecamatan Wolojita, dan Kecamatan
Maurole.
(4) Kawasan rawan longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi Kecamatan
Nangapanda, Kecamatan Ende, Kecamatan Ende Utara, Kecamatan Ende Timur, Kecamatan Ndona,
Kecamatan Ndona Timur, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Wewaria, Kecamatan Maukaro,
Kecamatan Detukeli, Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Wolowaru, Kecamatan Kelimutu,
Kecamatan Wolojita, Kecamatan Lio Timur, dan Kecamatan Ndori.
(5) Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, meliputi kawasan sempadan
sungai yang rawan banjir terdapat di Sungai Wolowona ( 45 km) di Kecamatan Detusoko, Sungai
Nangaba ( 22,4 km) di Kecamatan Ende, Sungai Nangapanda (39,2 km) di Kecamatan Nangapanda,
Sungai Nangakeo ( 7 km) di Kecamatan Nangapanda, Sungai Lowobajo/ Nanganioniba (22,5 km)
di Kecamatan Maurole, Sungai Aepai (9,1 km) di Kecamatan Maurole, Sungai Lowolande ( 26,8
km) di - Kecamatan Kotabaru, Sungai Ndondo (33,6 km) di Kecamatan Kotabaru, Sungai Lowolise
(23,4 km) di Kecamatan Lio Timur, Sungai Ae Bara 16,5 km (Wolowaru) di Kecamatan Kelimutu,
Sungai Lowo Rea (33,6 km) di Kecamatan Maukaro dan Kecamatan Wewaria, Sungai Lowolaka
(18 km) di Kecamatan Wewaria dan Kecamatan Maurole, Sungai Loworongga (14 km) di
Kecamatan Wewaria, Sungai Lowodaga (12 km) dan Loworanda (11,2 km) di Kecamatan
Wewaria, Sungai Ratemangu ( 6,3 km) di Kecamatan Wewaria, Sungai Nangamboa ( 14 km) di
Kecamatan Nangapanda, Sungai Wolotopo (7 km) di Kecamatan Ndona, Sungai Ngalupolo (14
km) di Kecamatan Ndona, Sungai Ndori (7 km) di Kecamatan Ndori.
(6) Kawasan rawan gelombang pasang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi kawasan
pantai yang terdapat di Kecamatan Ende Selatan, Kecamatan Ende Utara, Kecamatan Ende Timur,
Kecamatan Ndona, Kecamatan Ende, Kecamatan Nangapanda, Kecamatan Wewaria, Kecamatan
Maukaro, Kecamatan Maurole, Kecamatan Kotabaru, Kecamatan Wolowaru,Kecamatan Lio
Timur, dan Kecamatan Ndori


25

Bagian Ketiga
Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya
Pasal 29

Pola pemanfaatan kawasan budidaya meliputi:
a. kawasan hutan produksi;
b. kawasan pertanian;
c. kawasan perkebunan;
d. kawasan peternakan;
e. kawasan perikanan dan kelautan;
f. kawasan pertambangan;
g. kawasan industri;
h. kawasan pariwisata;
i. kawasan permukiman;
j. kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau); dan
k. ruang dan jalur evakuasi.

Pasal 30
(1) Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalampasal 29 huruf a, adalah kawasan hutan
produksi tetap.
(2) Kawasan hutan produksi tetap jika dilihat dari luas kawasan hutan yang ada di Kabupaten Ende
didominasi oleh hutan produksi tetap seluas 35.291 Ha diikuti oleh hutan produksi terbatas
sebesar 6.151 HaHa dan hutan konversi seluas 1.186 ha.

Pasal 31
(1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksuddalampasal 29 huruf b, meliputi lahan
basah/sawah beririgasi, sawah tadah hujan/pertanian lahan kering dan pertanian holtikultura.
(2) Kawasan pertanian lahan basah di Kabupaten Ende terdapat di beberapa lokasi mengikuti aliran
sungai dan beberapa irigasi yang tersebar hampir di seluruh Kecamatan dengan luas 1.936 Ha.
Daerah-daerah pengembangan pertanian lahan basah di Kabupaten Ende di arahkan pada
Kecamatan Detusoko, Kecamatan Detukeli, Detusoko, Ende Selatan, Kelimutu, Kotabaru, Lio
Timur, Maukaro, Maurole, Nangapanda, Ndona, Ndona Timur, Ndori, Wewaria, Wolojita dan
Wolowaru.
(3) Kawasan pertanian lahan keringtersebar di Kecamatan Ende Tengah, Kecamatan Ende Timur,
Kecamatan Detukeli, Detusoko, Ende, Ende Tengah, Ende Timur, Ende Utara, Kelimutu,
Kotabaru, Lio Timur, Maukaro, Maurole, Nangapanda, Ndona, Ndona Timur, Ndori, Wewaria,
Wolojita, Wolowaru dan Pulau Endeseluas 38.237 Ha.
26

(4) Kawasan holtikultura di Kabupaten Ende tersebar di hampir seluruh kecamatan yang ada di
kabupaten Ende, diantaranya Kecamatan Wolowaru, Kecamatan Kelimutu, Kecamatan Detukeli,
Kecamatan Wolojita dan Kecamatan Detusoko.

Pasal 32
(1) Kawasan peruntukan perkebunan sebagaimana dimaksuddalampasal 29 huruf c, diarahkan di
seluruh kecamatan, untuk meningkatkan peran serta, efisiensi, produktivitas dan keberlajutan,
dengan mengembangkan kawasan industri masyarakat perkebunan.
(2) Kawasan perkebunan dimaksud pada ayat (1) dikembangkan dengan luas 14.366 Hadi setiap
lokasi pengembangan dan sentra produksi yang diselenggarakan dengan kebersamaan ekonomi
dan berwawasan lingkungan.
(3) Produksi sektor perkebunan di Kabupaten Ende meliputi 5 (lima) komoditi kelapa, kemiri, kakao,
kopi, dan jambu mete.
(4) Pengembangan kawasan perkebunan di arahkan pada Kecamatan Nangapanda, Kecamatan
Wolowaru, Kecamatan Ende, dan Kecamatan Maurole.Pengembangan perkebunan dilakukan
dengan mengembangkan industri pengolahan hasil komoditi diarahkan pada Kecamatan
Nangapanda, Wolowaru, Ende, dan Maurole.
(5) Pengembangan fasilitas sentra produksi dan pemasaran pada pusat kegiatan ekonomi di
Kecamatan Ende Tengah-Nangapanda-Wolowaru-Maurole.

Pasal 33
(1) Kawasan peruntukan peternakan sebagaimana dimaksuddalam pasal 29 huruf d, meliputi
peternakan ternak besar dan peternakan ternak kecil dengan luas9.279 Ha.
(2) Pengembangan kawasan peternakan di Kabupaten Ende di kalsifikasikan sebagai berikut:
a. pengembangan sentra ternak sapi di Kecamatan Maukaro, Kecamatan Kotabaru, dan
Kecamatan Maurole;
b. pengembangan sentra ternak kerbau di Kecamatan Maukaro, Kecamatan Kotabaru, dan
Kecamatan Maurole;
c. pengembangan sentra ternak kuda di Kecamatan Wolojita, Maukaro, Kotabaru, Maurole;
d. pengembangan sentra ternak babi di Kecamatan Lio Timur; dan
e. pengembangan sentra ternak kambing di Kecamatan Lio Timur.
(3) Sentra peternakan ternak kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan lokasi pengembangan
dapat dialokasikan di seluruh kecamatan dengan berpedoman pada potensi dan unggulan
peternakan pada masing-masing kecamatan.

Pasal 34
(1) Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksuddalampasal 29 huruf e, meliputi:
a. perikanan tangkap;
b. budidaya; dan
27

c. pengolahan hasil perikanan.
(2) Kawasan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri
ataspengembangan kawasan perikanan tangkap meliputi Kecamatan Ende Selatan, Kecamatan
Pulau Ende, Kecamatan Ende, Kecamatan Nangapanda, Kecamatan Ndona, Kecamatan Wolojita,
Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Ndori.
(3) Pengembangan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi
budidaya perikanan laut meliputi: budidaya mutiara seluas 251 ha di Kecamatan Maukaro;
budidaya rumput laut 5.987 ha tersebar di Kecamatan Kotabaru, Maurole, Wewaria, Maukaro
dan Ende Selatan; budidaya teripang seluas 112 ha di Kecamatan Maurole dan Kotabaru;
budidaya tambak seluas 1.090 ha tersebar di Kecamatan Maukaro, Kotabaru, Maurole dan
Wewaria; dan budidaya air tawar seluas 2.242 ha tersebar di Kecamatan Detusoko, Maurole,
Wolojita, Wolowaru, Kelimutu, Ende, Ende Timur, Ndona, Wewaria dan Detukeli.
(4) Pengembangan kawasan pengolahan hasil perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
diarahkan di setiap kecamatan pantai selatan dan utara wilayah Kabupaten Ende.

Pasal 35
(1) Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalampasal 29 huruf f, meliputi
pertambangan bahan galian golongan A, B dan C.
(2) Kawasan pertambangan yang ada di Kabupaten Ende merupakan kawasan yang diperuntukkan bagi
kawasan pertambangan yang secara ekonomis mempunyai potensi bahan tambang. Bahan tambang
yang ada di Kabupaten Ende ini mencakup bahan tambang golongan B (mineral logam) dan bahan
galian golongan C (batuan).
(3) Luas Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) di Kabupaten Ende dengan total luasan 7.610 ha yang
terdiri dari WUP mineral logam yang tersebar di Kecamatan Ende, Lio Timur, Maukaro, Ndori,
Wolojita dan Wolowaru dan WUP batuan yang tersebar di Kecamatan Ende Utara, Nangapanda
dan Maukaro.
(4) Pengembangan penambangan bahan galian sebagaimana dimaksud pada ayat (1),meliputi:
a. pengembangan kawasan pertambangan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi bahan
galian, kondisi geologi dan geohidrologi dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan;
b. pengelolaan kawasan bekas penambangan yang harus direhabilitasi/reklamasi sesuai dengan
zona peruntukkan yang ditetapkan, dengan melakukan penimbunan tanah subur dan/atau bahan-
bahan lainnya, sehingga menjadi lahan yang dapat digunakan kembali sebagai kawasan hijau,
ataupun kegiatan budidaya lainnya dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan
hidup;
c. setiap kegiatan usaha pertambangan harus menyimpan dan mengamankan tanah atas (top soil)
untuk keperluan rehabilitasi/reklamasi lahan bekas penambangan;


28

d. pada kawasan yang teridentifikasi bahan tambang golongan A (migas) atau B yang bernilai
ekonomi tinggi, sementara pada bagian atas kawasan penambangan adalah kawasan lindung
atau kawasan budidaya sawah yang tidak boleh alih fungsi, atau kawasan permukiman, maka
eksplorasi dan/atau eksploitasi tambang harus disertai AMDAL, kelayakan secara lingkungan,
sosial, fisik dan ekonomi terhadap pengaruhnya dalam jangka panjang dan skala yang luas;
e. menghindari dan meminimalisir kemungkinan timbulnya dampak negatif dari kegiatan sebelum,
saat dan setelah kegiatan penambangan, sekaligus disertai pengendalian yang ketat;

Pasal 36
(1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksuddalampasal 29 huruf g, meliputi :
a. industri besar;
b. industri sedang; dan
c. industri kecil.
(2) Kawasan industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah kawasan industri yang akan
dikembangkan di Kabupaten Ende meliputi industri sedang dan industri kecil.
(3) Pengembangan kawasan industrisedang di Kabupaten Ende, meliputi:
a. pengembangan kawasan industri di Kecamatan Ndona Timur terkait dengan pengeboran gas
bumi Mutubusa;
b. pengembangan kawasan industri agropolitan di Kecamatan Wolowaru, Kecamatan Detusoko,
dan Kecamatan Wewaria;
c. pengembangan kawasan industri pengolahan kacang mete, pabrik roti dan air kemasan di
Kecamatan Wolowaru;
d. pengembangan kawasan industri agrowisata di Kecamatan Kelimutu;
e. pengembangan kawasan industri tenun ikat di Kecamatan Wolowaru, Kecamatan Ende, dan
Kecamatan Wolojita;
f. pengembangan kawasan industri di Kecamatan Maurole, terkait adanya PLTU (Pembangkit
Listrik Tenaga Uap);
g. pengembangan kawasan industri perikanan di Kecamatan Nangapanda, Kecamatan Ende
Selatan, Kecamatan Pulau Ende, Kecamatan Ndona, Kecamatan Maukaro, Kecamatan Maurole
dan Kecamatan Kotabaru; dan
h. pengembangan industri air minum kemasan di 4 kecamatan dalam Kota Ende yaitu Kecamatan
Ende Tengah, Kecamatan Ende Utara, Kecamatan Ende Selatan dan Kecamatan Ende Timur.
(4) Pengembangan kawasan industri kecil diantaranya industri rumah tangga, meliputi :
a. industri rumah tanggatenun ikat di Kecamatan Ende, Kecamatan Wolojita, dan Kecamatan
Wolowaru;
b. industri rumah tangga souvenir yang berada di Kecamatan Ende Selatan dan Kecamatan
Kelimutu; dan
c. industri rumah tangga minuman berada di Kecamatan Kelimutu dan Kecamatan Detusoko.

29

Pasal 37
1) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalampasal 29 huruf (g) dengan luas
444 Ha, ditetapkan dengan kriteria memiliki objek dengan daya tarik wisata; dan/atau mendukung
upaya pelestarian budaya, keindahan alam, dan lingkungan, Kegiatan pariwisata di Kabupaten
Ende ditinjau dari karakteristik dan potensinya dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :
a. wisata alam;
b. wisata budaya; dan
c. wisata dengan minat khusus.
2) Kawasan wisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi :
a. Kawasan wisata Gunung Meja (Pui) terdapat di Kelurahan Rukun Lima Kecamatan Ende
Selatan;
b. Kawasan wisata Air Terjun Kedebodu terdapat di Desa Kedebodu Kecamatan Ende Timur;
c. Kawasan wisata Pantai Bita terdapat di Kelurahan Mautapaga Kecamatan Ende Timur;
d. Kawasan wisata Pantai Mbuu terdapat di Desa Nanganesa Kecamatan Ndona;
e. Kawasan wisata Pantai Nanganesa terdapat di Desa Nanganesa Kecamatan Ndona;
f. Kawasan wisata Sumber Air Panas Oka terdapat di Kelurahan Detusoko Kecamatan Detusoko;
g. Kawasan wisata Pantai Nggemo Jaga terdapat di Desa Kobaleba Kecamatan Maukaro;
h. Kawasan wisata Air Terjun Murundao terdapat di Desa Koanara Kecamatan Kelimutu;
i. Kawasan wisata Taman Nasioanal Kelimutu terdapat di Desa Pemo Kecamatan Kelimutu;
j. Kawasan wisata Air Panas Ae Wau terdapat di Desa Nggela Kecamatan Wolojita;
k. Kawasan wisata Air Panas Liasembe terdapat di Desa Koanara Kecamatan Kelimutu;
l. Kawasan wisata Gas Alam Mutubasa yang terdapat di Desa Sokoria Kecamatan Ndona Timur;
m. Kawasan wisata air terjun Murukalo yang terdapat di Desa Jopu Kecamatan Wolowaru;
n. Kawasan wisata Pantai Mausambi terdapat di Desa Mausambi Kecamatan Maurole;
o. Kawasan wisata Pantai Maurole terdapat di Desa Maurole Kecamatan Maurole;
p. Kawasan wisata Pantai Enabara terdapat di Desa Nanganio Kecamatan Maurole;
q. Kawasan wisata Gas Bumi Lesugolo terdapat di Desa Nida Kecamatan Detukeli;
r. Kawasan wisata Pantai Penggajawa terdapat di Desa Nggorea Kecamatan Nangapanda;
s. Kawasan wisata Pantai Nangalala terdapat di Desa Bheramari Kecamatan Nangapanda;
t. Kawasan wisata Pantai Teluk Nangakeo terdapat di Kecamatan Nangapanda; dan
u. Kawasan wisata Tiwu Bowu terdapat di Desa Kotabaru Kecamatan Kotabaru.
3) Kawasan wisata budaya yang dimaksud pada ayat (1) point b, meliputi :
a. Kampung Adat Wolotopo terdapat di Desa Wolotopo Kecamatan Ndona;
b. Kampung Adat Detusoko terdapat di Kelurahan Detusoko Kecamatan Detusoko;
c. Kampung Adat Wolondopo terdapat di Desa Nuaone Kecamatan Detusoko;
d. Kampung Adat Wologai terdapat di Desa Wologai Kecamatan Detusoko;
e. Kampung Adat Koanara terdapat di Desa Koanara Kecamatan Kelimutu;
f. Kampung Adat Pemo terdapat di Desa Pemo Kecamatan Kelimutu;

30

g. Kampung Adat Woloara terdapat di Desa Woloara Kecamatan Kelimutu;
h. Kampung Adat Nggela terdapat di Desa Nggela Kecamatan Wolojita;
i. Kampung Adat Jopu terdapat di Desa Jopu Kecamatan Wolowaru;
j. Kampung Adat Lisedetu terdapat di Desa Lisedetu Kecamatan Wolowaru;
k. Kampung Adat Ranggase terdapat di Desa Wolokoli Kecamatan Wolowaru;
l. Kampung Adat Watukamba terdapat di Desa Watukamba Kecamatan Maurole; dan
m. Kampung Adat Watu Nggere terdapat di Desa Watunggere Marilonga Kecamatan Detukeli.
4) Kawasan wisata dengan minat khusus untuk wisata edukatif yang dimaksud pada ayat (1) point c,
meliputi :
a. Situs Bung Karno terdapat di Kelurahan Kota Raja Kecamatan Ende Utara;
b. Museum Tenun Ikat terdapat di Kelurahan Kota Raja Kecamatan Ende Utara;
c. Museum Ikan Duyung Sapi terdapat di KelurahanKota Raja Kecamatan EndeUtara;
d. Taman Rendo terdapat di Kelurahan Kota Raja Kecamatan Ende Utara;
e. Taman Remaja terdapat di Kelurahan Kota Raja Kecamatan Ende Utara;
f. Gua Maria dan Gereja Tua terdapat di Desa Detusuko Kecamatan Detusuko;
g. Proses Pembuatan Gula Merah terdapat di Desa Watukamba Kecamatan Maurole;
h. Proses Pembuatan Arak terdapat di Desa Otogedu Kecamatan Maurole; dan
i. Benteng Portugis terdapat di Desa Ndoriwoy Kecamatan Pulau Ende.

Pasal 38
(1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 huruf (i) meliputi
kawasan permukiman perdesaan, kawasan permukiman perkotaan dan kawasan permukiman
khusus dengan luasan 12.878 Ha.
(2) Kawasan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi seluruh kecamatan
di Kabupaten Ende kecuali Kecamatan Ende Tengah.
(3) Kawasan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Kecamatan Ende,
Ende Tengah, Ende Timur, Ende Utara, Ende Selatan, Detusoko dan Kecamatan Ndona.Dalam
kawasan permukiman perkotaan, pemerintah kabupaten harus menyediakan peruntukan lahan
perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah seluas areal berdasarkan kebutuhan dan atau
sesuai ketentuan dalam pembangunan perumahan dan permukiman dengan lingkungan yang
berimbang.
(4) Kawasan permukiman khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah Kawasan permukiman
yang timbul akibat perkembangan infrastruktur di kawasan perkotaan Ende akibat pengembangan
industri, permukiman yang timbul akibat kegiatan sentra ekonomi;permukiman di sekitar pintu
perkotaan Ende diarahkan untuk permukiman dengan intensitas tinggi, memiliki kegiatan utama
perumahan, perdagangan-jasa dan industri. Untuk menghindari kepadatan lalu-lintas yang tinggi di
kawasan ini, maka diperlukan penataan kawasan dengan menghindari perkembangan linier.


31

(5) Ruang dan Jalur Evakuasi Bencana meliputi:
a. Ruang evakuasi untuk bencana Gunung Meletus : lokasi evakuasi Ndona Timur, Wolowaru, Lio
Timur;
b. Ruang evakuasi untuk bencana Tsunami/Gelombang Pasang : Gelombang Pasang Ndori lokasi
evakuasi Desa Wonda (Ndori) dan Lio Timur. Gelombang Pasang/Tsunami di Ende Selatan
jalur evakuasi ke Ende Utara dan Ende Timur, Gelombang Pasang Nangapanda lokasi evakuasi
ke Desa Ndorurea I atau Desa Ondorea Barat di Kecamatan Nangapanda, Lokasi Gelombang
Pasang di Maurole, lokasi evakuasi di Desa Ranakolo, Aepoli, atau desa Otogedu;
c. Ruang evakuasi untuk bencana Longsor : Menghindari jalur jalan negara Kabupaten Ende yang
berpotensi gerakan tanah dan longsor. Perlu dihindari dan dibuat perlakuan khusus untuk
perkembangan wilayah untuk Sekitar Kecamatan Ende ( Daerah koridor jalan Nasional Ende
Maumere Km 10-18 di desa Tomberabu I dan II), Kecamatan Detusoko (Daerah koridor jalan
Nasional Km 19-28), Kecamatan Ndona di desa Sokoria dan Roga, Kecamatan Wolowaru
(Daerah koridor jalan Nasional di desa Nua lise, Lisedetu, Wolosambi dan Watuneso; dan
d. Ruang evakuasi untuk bencana Banjir : di Kecamatan Nangapanda dengan lokasi evakuasi
sekitar desa Ondorea Barat, desa Ndorurea I di kecamatan Nangapanda, Banjir Ende dengan
lokasi evakuasi di Kecamatan Ende Utara dan Ende Timur.

Bagian Keempat
Rencana Pengelolaan kawasan Lindung dan Budidaya
Paragraf 1
Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung

Pasal 39
(1) Rencana pengelolaan kawasan lindung meliputi semua upaya perlindungan, pengawetan,
konservasi dan pelestarian fungsi sumber daya alam dan lingkungannya guna mendukung
kehidupan secara serasi yang berkelanjutan dan tidak dapat dialihfungsikan menjadi kawasan
budidaya.
(2) Rencana konservasi kawasan lindung meliputi kawasan cagar alam, suaka alam, kawasan
pelestarian alam, dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
(3) Rencana pengelolaan kawasan lindung tidak dapat dialihfungsikan.
(4) Rencana pengelolaan kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain:
a. pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya;
b. mempertahankan fungsi ekologis kawasan alami;
c. pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan lindung;
d. penambahan luasan kawasan lindung, yang merupakan hasil alih fungsi hutan produksi menjadi
hutan lindung;
e. pengembangan kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan kawasan lindung; dan
32

f. percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk di dalam kriteria kawasan
lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat di gunakan sebagai
perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil hasil hutan non-kayu, melalui upaya :
1. menanamkan rasa memiliki/mencintai alam.
2. pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian dan pengembangan
kecintaan terhadap alam.
3. percepatan rehabilitasi hutan/reboisasi hutan lindung dengan tanaman yang sesuai dengan
fungsi lindung.
(5) Rencana pengelolaan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) antara lain:
a. pengembangan pemanfaatan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan lindung;
b. peningkatan luasan kawasan lindung, yang merupakan hasil alih fungsi hutan produksi menjadi
hutan lindung;
c. percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk di dalam kriteria kawasan
lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat di gunakan sebagai
perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil dari hasil hutan non-kayu;
d. percepatan rehabilitasi hutan/reboisasi hutan lindung dengan tanaman yang sesuai dengan
fungsi lindung;
e. pelestarian ekosistem yang merupakan ciri khas kawasan melalui tindakan pencegahan
perusakan dan upaya pengembalian pada rona awal sesuai ekosistem yang pernah ada; dan
f. membuka jalur wisata jelajah/pendakian untuk menanamkan rasa memiliki/mencintai alam,
serta pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian dan pengembangan
kecintaan terhadap alam.
(6) Rencana pengelolaan kawasan lindung setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain:
a. perlindungan kawasan melalui tindakan pencegahan, pemanfaatan kawasan pada kawasan
lindung setempat;
b. pengembangan kegiatan yang bersifat alami dan mempunyai kemampuan memberikan
perlindungan kawasan seperti wisata air;
c. perlindungan kualitas air melalui pencegahan penggunaan area di sekitar kawasan lindung; dan
d. menindak tegas prilaku vandalisme terhadap fungsi lindung.
(7) Rencana pengelolaan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain :
a. perlindungan dan pelestarian keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;
b. perlindungan keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi kepentingan
plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan;
c. mempertahankan fungsi ekologis kawasan alami baik biota maupun fisiknya melalui upaya
pencegahan pemanfaatan kawasan pada kawasan suaka alam dan upaya konservasi;
d. perlindungan dan pelestarian habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberikan
perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan;

33

e. pengembangan dan perlindungan kegiatan budidaya di kawasan sekitar pantai dan lautan;
f. perlindungan kekayaan budaya berupa peninggalan-peninggalan sejarah, bangunan arkeologi,
monumen nasional dan keragaman bentuk geologi; dan
g. pengembangan kegiatan konservasi dan rehabilitasi yang bergunauntuk mengembangkan ilmu
pengetahuan dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia.
(8) Rencana pengelolaan kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain :
a. perlindungan taman nasional yang mempunyai vegetasi tetap, yang memiliki tumbuhan dan
satwa yang beragam;
b. perlindungan arsitektur bentang alam unik atau khas yang;
c. perlindungan dan pelestarian koleksi tumbuhan;
d. pelestarian alam di darat maupun di laut yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi
alam; dan
e. peningkatan kualitas lingkungan sekitar taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata
alam melalui upaya pencegahan kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan pencemaran.
(9) Rencana pengelolaan kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara
lain:
a. perlindungan manusia melalui upaya pencegahan pemanfaatan kawasan rawan bencana untuk
kegiatan permukiman;
b. perlindungan kawasan yang berpontensi mengalami longsor, banjir melalui upaya mitigasi; dan
c. pelarangan kegiatan pemanfaatan tanah yang mempunyai potensi longsor dan banjir.
(10) Rencana pengelolaankawasan lindung lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), antara lain :
a. perlindungan dan pelestarian satwa melalui pengelolaan taman nasional;
b. penetapan areal pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan bagi satwa tersebut; dan
c. pelestarian kawasan pantai berhutan bakau melalui upaya perlindungan pembabatan tanaman
bakau untuk kegiatan lain.

Paragraf 2
Rencana Pengelolaan Kawasan Budidaya

Pasal 40
(1) Rencana pengelolaan kawasan budidaya meliputi segala usaha untuk meningkatkan
pendayagunaan lahan yang dilakukan di luar kawasan lindung, yang kondisi fisik dan sumber daya
alamnya dianggap potensial untuk dimanfaatkan, tanpa mengganggu keseimbangan dan
kelestarian ekosistem.
(2) Rencana pengelolaan kawasan hutan produksi antara lain:
a. kawasan hutan produksi yang mempunyai tingkat kerapatan tegakan rendah harus dilakukan
percepatan reboisasi, serta percepatan pembangunan hutan rakyat; dan
b. mengarahkan di setiap wilayah kawasan perkotaan dan kecamatan mewujudkan hutan kota.

34

(3) Rencana pengelolaan kawasan pertanian antara lain :
a. peningkatan kegiatan usaha tani baik melalui intensifikasi, ekstensifikasi maupun diversifikasi;
b. penggunaan pupuk kandang guna mengganti unsur hara yang hilang akibat penanaman yang
telah dilakukan sebelumnya;
c. penerapan sistem mixed farming;
d. pengembangan bidang-bidang unggulan pada setiap jenis tanaman dan pada kawasan-kawasan
yang potensial;
e. pencetakan sawah baru yang disertai dengan perbaikan sistem irigasi primer dan sekunder
guna mendukung sistem pertanian kawasan;
f. perbaikan saluran dan pembuatan embung pada wilayah-wilayah yang rawan kekeringan;
g. perubahan kawasan pertanian harus tetap memperhatikan luas kawasan yang dipertahankan
sehingga perlu adanya ketentuan tentang pengganti lahan pertanian; dan
h. pemanfaatan kawasan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktifitas
tanaman pangan.
(4) Rencana pengelolaan kawasan perikanan antara lain :
a. mempertahankan, merehabilitasi dan merevitalisasi tanaman bakau/mangrove;
b. pengembangan budidaya perikanan tangkap dan budidaya perikanan laut;
c. menjaga kelestarian sumber daya air terhadap pencemaran limbah industri maupun limbah
lainnya; dan
d. peningkatan produksi dengan memperbaiki sarana dan prasarana perikanan.
(5) Rencana pengelolaan kawasan perkebunan antara lain :
a. pengembangan kawasan perkebunan hanya di kawasan yang dinyatakan memenuhi syarat;
b. dalam penetapan komoditi tanaman tahunan selain mempertimbangkan kesesuaian lahan,
konservasi tanah dan air juga perlu mempertimbangkan aspek sosial ekonomi dan
keindahan/estetika; dan
c. peningkatan pemanfaatan kawasan perkebunan dilakukan melalui peningkatan peran serta
masyarakat yang tergabung dalam kawasan kimbun masing-masing.
(6) Rencana pengelolaan kawasan peternakan, antara lain :
a. meningkatkan kegiatan peternakan secara alami dengan mengembangkan padang
penggembalaan;
b. kawasan peternakan diarahkan mempunyai keterkaitan dengan pusat distribusi pakan ternak;
c. pengembangan kawasan peternakan diarahkan kepada pengembangan komoditas ternak
unggulan yang dimiliki oleh daerah yaitu komoditas ternak yang memiliki keunggulan
komparatif dan kompetitif;
35

d. kawasan budidaya ternak yang berpotensi untuk dapat menularkan penyakit dari hewan ke
manusia atau sebaliknya pada permukiman padat penduduk, akan dipisahkan sesuai standart
teknis kawasan usaha peternakan; dan
e. peningkatan nilai ekonomi ternak dengan mengelola dan mengolah hasil ternak, seperti
pembuatan industri pengolah hasil ternak, mengolah kulit, dan sebagainya.
(7) Rencana pengelolaan kawasan pariwisata antara lain :
a. tetap melestarikan budaya dan alam sekitar untuk menjaga keindahan obyek wisata;
b. tidak melakukan pengerusakan terhadap obyek wisata alam seperti menebang pohon;
c. melestarikan perairan pantai, dengan memperkaya tanaman mangrove untuk mengembangkan
ekosistem bawah laut termasuk terumbu karang dan biota laut yang dapat di jadikan obyek
wisata taman laut;
d. menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah;
e. meningkatkan pencarian/penelusuran terhadap benda bersejarah untuk menambah koleksi
budaya;
f. pada obyek yang tidak memiliki akses yang cukup, perlu ditingkatkan pembangunan dan
pengendalian pembangunan sarana dan prasarana transportasi ke obyek-obyek wisata alam,
budaya dan minat khusus;
g. meningkatkan daya tarik wisata melalui penetapan jalur wisata, kalender wisata, informasi dan
promosi wisata;
h. menjaga keserasian lingkungan alam dan buatan sehingga kualitas visual kawasan wisata tidak
terganggu; dan
i. meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian obyek wisata, dan daya
jual/saing.
(8) Rencana pengelolaan kawasan permukiman antara lain :
a. pengembangan kawasan budidaya yang secara teknis dapat digunakan untuk permukiman harus
aman dari bahaya bencana alam, sehat, mempunyai akses untuk kesempatan berusaha dan dapat
memberikan manfaat bagi peningkatan ketersediaan permukiman, mendayagunakan fasilitas
dan utilitas disekitarnya serta meningkatkan sarana dan prasarana perkembangan kegiatan
sektor ekonomi yang ada;
b. pengembangan permukiman perdesaan dilakukan dengan menyediakan fasilitas dan
infrastruktur secara berhirarki sesuai dengan fungsinya sebagai: pusat pelayanan antar desa,
maupun pusat pelayanan setiap desa;
c. menjaga kelestarian permukiman perdesaan khususnya kawasan pertanian;
d. pengembangan permukiman perkotaan dilakukan dengan tetap menjaga fungsi dan hirarki
kawasan perkotaan;
e. membentuk cluster-cluster permukiman untuk menghindari penumpukan dan penyatuan antar
kawasan permukiman, dan diantara cluster permukiman disediakan ruang terbuka hijau;
36

f. permukiman kawasan khusus seperti penyediaan tempat peristirahatan pada kawasan
pariwisata, kawasan permukiman baru sebagai akibat perkembangan infrastruktur, kegiatan
sentra ekonomi, sekitar lokasi industri, dilakukan dengan tetap memegang kaidah lingkungan
hidup; dan
g. ruang evakuasi bencana seperti kawasan untuk pengungsi saat kondisi bencana alam
(9) Rencana pengelolaan peruntukan industri antara lain :
a. pengembangan peruntukan industri dilakukan denganmempertimbangkan aspek ekologis;
b. jenis industri yang dianggap potensial menimbulkan pencemaran udara, tanah dan air harus di
lokasikan berjauhan dengan kawasan permukiman dan sebaliknya;
c. peruntukan industri harus memiliki sistem pengolahan limbah dan air buangan lainnya;
d. peruntukan industri harus terdapat jalur hijau sebagai pembatas kawasan industri dengan
kawasan permukiman;
e. perlu pengaturan zoning kawasan dan penggunaan tanah pada peruntukan industri dan
sekitarnya agar tidak terjadi konflik penggunaan; dan
f. perlu pengadaan dan perencanaan sarana/prasarana atau infrastruktur sebagai penunjang
peruntukan industri.
(10) Rencana pengelolaan kawasan pertambangan antara lain :
a. pengembangan kawasan pertambangan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi bahan
galian, kondisi geologi dan geohidrologi dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan; dan
b. pengelolaan kawasan bekas penambangan harus direhabilitasi/reklamasi sesuai dengan zona
peruntukan yang ditetapkan, sehingga menjadi lahan yang dapat digunakan kembali ataupun
kegiatan budidaya lainnya dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan hidup.

Bagian Kelima
Rencana Pengembangan Kawasan Pesisir Dan Kepulauan

Pasal 41
(1) Rencana pengelolaan sumberdaya kelautan pada kepulauan untuk pelestarian fungsi alami dan
pemanfaatan secara ekonomi maupun sumber daya terbarukan lainnya wajib didasarkan pada
azas kecocokan dan keberlajutan daya dukung lingkungan alam.
(2) Rencana pengembangan kawasan pesisir, meliputi:
a. menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil;
b. mengembangkan pola ruang pantai berdasar sumber daya yang ada;
c. menjaga fungsi tumbuhan pantai/mangrove, terumbu karang dan ekosistem pantai secara
lestari dan alami;
d. menjaga fungsi biodegradasi di pesisir akibat perencanaan dari daratan;
e. memelihara fasilitas publik dan kemudahan akses di wilayah pesisir;
f. mengembangkan masyarakat pesisir melalui program ekonomi, pendidikan dan sosial;
37

g. pemberdayaan masyarakat dan aparat pemerintah untuk melindungi ekosistem dan sumber
daya pesisir, untuk pemanfaatan yang berkelanjutan;
h. mengendalikan pemanfaatan ruang pesisir untuk kegiatan yang berpotensi memberikan
dampak lingkungan yang besar dan luas; dan
i. mengkhususkan pengelolaan lokasi di wilayah pesisir yang digunakan untuk kepentingan
militer keamanan dan kepentingan strategis negara.
(3) Setiap upaya eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut dan pulau mengikuti peraturan dan
perundangan yang berlaku.

BAB V
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS
Bagian Pertama
Umum

Pasal 42
(1) Rencana pengembangan kawasan strategis merupakan kawasan yang mempunyai karakter khusus
dan perlu ditangani secara tersendiri.
(2) Kawasan strategis bercirikan oleh adanya aglomerasi kegiatan ekonomi dan sentra-sentra
produksi/distribusi, adanya potensi sumberdaya dan sektor unggulan yang dapat dikembangkan,
serta tersedianya prasarana penunjang.
(3) Kawasan strategis kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. bidang sosial budaya;
b. bidang pendayagunaaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi;
c. bidang penyelamatan lingkungan hidup; dan
d. bidang pertumbuhan ekonomi.
(4) Rencana pengembangan kawasan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1),
meliputi :
a kawasan yang berpotensi mendorong perkembangan kawasan sekitar dan atau berpengaruh
terhadap perkembangan wilayah secara umum.
b pengembangan sektor di wilayah tersebut mempunyai dampak yang luas, baik secara regional
maupun nasional;
c kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan
yang mendesak;
d pengembangan sektor di wilayah tersebut membutuhkan ruang kegiatan dalam skala luas; dan
e pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam
lingkup regional maupun nasional dan mendorong perkembangan/revitalisasi potensi wilayah
yang belum berkembang.
(5) Penetapan kawasan strategis digambarkan dalam peta sebagaimana tercantum dalam lampiran III
dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
38


Bagian Ketiga
Kawasan Strategis Bidang Sosial Budaya

Pasal 43
(1) Kawasan strategis kabupaten bidang sosial budaya yang di maksud dalam pasal 42 ayat (3) huruf a
meliputi :
a. Museum;
b. Benteng; dan
c. Kampung Adat.
(2) Kawasan strategis peruntukan museumsebagaimana di maksud pada ayat (1) huruf aadalah
Museum Bung Karno yang terletak di Kecamatan Ende Utara.
(3) Kawasan strategis peruntukan bentengsebagaimana dimaksud padaayat (1) huruf badalah Benteng
Portugis yang terletak di Kecamatan Pulau Ende.
(4) Kawasan strategis peruntukan kampung adat yang di maksud pada ayat (1) huruf c meliputi Pasar
Tradisional Nduria dan Adat Moni yang terletak di Kecamatan Kelimutu, serta beberapa kampung
adat lainnya yang tersebar di beberapa Kecamatan seperti Kecamatan Detusoko, Kecamatan
Wolojita,Kecamatan Ndona Timur, Kecamatan Ndona, Kecamatan Lio Timur dan Kecamatan
Wolowaru.

Bagian Keempat
Kawasan Strategis Bidang Pendayagunaaan Sumber Daya Alam
dan/atau Teknologi Tinggi

Pasal 44
Kawasan strategis bidang pendayagunaaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi dimaksud
dalam pasal 42 ayat (3) huruf b yaitu :
a. potensi Pembangkit Listrik Tenaga Air yang terletak menyebar mengikuti DAS yang berada di
Kecamatan Nangapanda, Kecamatan Detusoko, Kecamatan Kotabaru, dan Kecamatan
Wolowaru; dan
b. potensi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Mutubusa Desa Sokoria Kecamatan Ndona
Timur.
Bagian Kelima
Kawasan Strategis Bidang Penyelamatan Lingkungan Hidup

Pasal 45
Kawasan strategis bidang penyelamat lingkungan hidup dimaksud dalam pasal 42 ayat (3) huruf c yaitu
kawasan Taman Nasional Kelimutu yang terdapat di Kecamatan Kelimutu.

39

Bagian Keenam
Kawasan Strategis Bidang Pertumbuhan Ekonomi

Pasal 46
Kawasan strategis bidang pertumbuhan ekonomi dimaksud dalam pasal 42 ayat (3) huruf d meliputi :
a. Industri pengolahan kacang mete di Kecamatan Wolowaru;
b. Pabrik roti di Kecamatan Wolowaru; dan
c. Air kemasan yang berada di Kecamatan Wolowaru.

BAB VI
ARAHAN PEMANFATAAN RUANG WILAYAH KABUPATEN
Bagian Pertama
Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah
Paragraf 1
Perumusan Kebijakan Strategis Operasionalisasi

Pasal 47
(1) Penataan ruang dilaksanakan secara sinergis dengan peraturan daerah lain yang ada di Kabupaten
Ende.
(2) Penataan ruang dilaksanakan secara terus menerus dan sinergis antara perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Paragraf 2
Prioritas dan Tahapan Pembangunan

Pasal 48
(1) Prioritas pelaksanaan pembangunan disusun berdasarkan atas kemampuan pembiayaan dan
kegiatan yang mempunyai efek mengganda sesuai arahan umum pembangunan daerah.
(2) Pelaksanaan pembangunan berdasarkan tata ruang dilaksanakan selama 20 tahun, dibagi menjadi 4
tahap.
(3) Tahapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan dalam kurun waktu 5 tahun setiap
tahapnya.
(4) Pemanfaatan ruang wilayah kabupaten meliputi :
a. penetapan struktur ruang wilayah;
b. penetapan pola ruang wilayah; dan
c. penetapan kawasan strategis.



40


Pasal 49
(1) Pemanfaatan ruang di daerah bertujuan untuk meningkatkan kegiatan pembangunan, kesejahteraan
masyarakat, investasi dan memelihara serta mencegah terjadinya kerusakan lingkungan hidup.
(2) RTRW Kabupaten melakukan sinkronisasi dan keterpaduan dengan penyusunan RTRW Nasional
dan RTRWProvinsi.
(3) Untuk mewujudkan perwujudan arahan pemanfaatan ruang kabupaten, disusun prioritas dan
tahapan pembangunan.
(4) Prioritas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi prioritas program utama.
(5) Tahapan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi tahapan 5 (lima) tahunan.
(6) Syarat zoning pemanfaatan ruang yang lebih detail diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Pasal 50
(1) Prioritas utama program 5 tahun pertama sebagaimana dimaksud dalam pasal 49 ayat (3) meliputi:
pelaksanaan pembangunan yang telah direncanakan sebelumnya dan menyelesaiakan
pembangunan yang sudah berjalan sampai pada tahap yang telah direncanakan sebelumnya.
(2) Indikasi program kegiatan tercantum dalam lampiran IV dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Bagian Ketiga
Arahan Pemanfaatan Ruang untuk Penetapan
Struktur Ruang dan Pola Ruang Wilayah

Paragraf 1
Arahan Pemanfaatan Ruang untuk Penetapan Struktur Ruang Wilayah

Pasal 51
Pemanfaatan ruang untuk penetapan struktur ruang wilayah meliputi :
a. pemanfaatan ruang untuk sistem perdesaan yaitu pengembangan kawasan perdesaan sesuai potensi
masing-masing kawasan yang dihubungkan dengan pusat kegiatan pada setiap kawasan perdesaan;
b. pemanfaatan ruang untuk sistem perkotaan dengan membentuk pusat kegiatan yang terintegrasi
dan berhirarki di seluruh wilayah Kabupaten Ende;
c. pengembangan orde perkotaan secara berjenjang dan bertahap sesuai pengembangan perkotaan
secara keseluruhan; dan
d. pemanfaatan ruang untuk pengembangan prasarana wilayah.



41


Pasal 52
Pemanfaatan ruang untuk penetapan fungsi kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 51 meliputi :
a. Penetapan fungsi kawasan perdesaan :
1 tempat permukiman perdesaan;
2 pelayanan jasa pemerintahan; dan
3 pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
b. Penetapan fungsi kawasan perkotaan :
1 pusat kegiatan ekonomi wilayah, pusat pengolahan dan distribusi hasil pertanian, perdagangan
dan jasa, pemerintahan, pendidikan, kesehatan serta industri pergudangan;
2 sebagai pemasok kebutuhan dan lokasi pengolahan agroindustri dan berbagai kegiatan
agrobisnis; dan
3 pusat pelayanan, pusat prasarana dan sarana sosial ekonomi.

Pasal 53
Pemanfaatan untuk wilayah untuk pengembangan prasarana wilayah sebagaimana dimaksud dalam
pasal 51 meliputi :
a. Pengembangan transportasi jalan raya :
1 pengembangan jalan dalam mendukung pertumbuhan dan pemerataan wilayah; dan
2 pengembangan infrastruktur pendukung pertumbuhan wilayah berupa terminal.
b. Pengembangan transportasi laut :
1 pengembangan akses eksternal kawasan dalam lingkup yang lebih luas;
2 pengembangan akses internal kawasan yang menghubungkan simpul-simpul kegiatan;
3 optimalisasi pelayanan pelabuhan dari segi ketersediaan sarana pendukung;
4 optimalisasi pelayanan pelabuhan dari segi ketersediaan prasarana pendukung;
5 optimalisasi pelayanan pelabuhan dari segi sosial ekonomi; dan
6 penyiapan kelembagaan operasional pengelola kawasan pelabuhan dan Kawasan Sendangbiru
secara keseluruhan.
c. Pengembangan transportasi udara dengan optimalisasi Bandara Haji Hasan Aroeboesman:
1 optimalisasi penerbangan komersil;
2 optimalisasi tingkat pelayanan dan kelas bandara ke tingkat yang lebih baik; dan
3 optimalisasi tingkat kenyamanan dan keselamatan penerbangan.
d. Pengembangan prasarana telekomunikasi :
1 peningkatan jangkauan pelayanan dan kemudahan mendapatkannya; dan
2 peningkatan jumlah dan mutu telekomunikasi tiap wilayah.
e. Pengembangan prasarana pengairan :
1 peningkatan sistem jaringan pengairan; dan
2 optimalisasi fungsi dan pelayanan prasarana pengairan.
42

f. Pengembangan prasarana energi / listrik :
1 optimalisasi tingkat pelayanan; dan
2 perluasan jangkauan listrik sampai ke pelosok desa;
g. Pengembangan prasarana lingkungan :
1 mereduksi sumber timbunan sampah sejak awal;
2 optimalisasi tingkat penanganan sampah perkotaan;
3 optimalisasi tingkat penanganan sampah perdesaan; dan
4 menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih.

Paragraf 2
Arahan Pemanfataan Ruang untuk Penetapan Pola Ruang Wilayah

Pasal 54
Pemanfaatan ruang untuk penetapan pola ruang wilayah meliputi :
a. pemanfaatan ruang untuk pemantapan kawasan lindung;
b. pemanfaatan ruang untuk pengembangan kawasan budidaya; dan
c. pemanfaatan ruang untuk pengelolaan kawasan lindung dan budidaya.

Pasal 55
Pemanfaatan ruang untuk pemantapan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam pasal 54huruf a
meliputi :
a. pemantapan fungsi lindung pada kawasan yang memberi perlindungan kawasan bawahannya;
b. pemantapan kawasan perlindungan setempat;
c. pemantapan kawasan suaka alam dan pelestarian alam;
d. penanganan kawasan rawan bencana alam; dan
e. pemantapan kawasan lindung lainnya.

Pasal 56
Pemanfaatan ruang untuk pengembangan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
54huruf b meliputi :
a. pengembangan hutan produksi;
b. pengembangan kawasan pertanian;
c. pengembangan kawasan perkebunanan;
d. pengembangan kawasan peternakan;
e. pengembangan kawasan pertambangan;
f. pengembangan kawasan industri;
g. pengembangan kawasan pariwisata;
h. pengembangan kawasan permukiman perdesaan dan perkotaan; dan
i. penetapan kawasan konservasi budaya dan sejarah.
43

Pasal 57
Pemanfaatan ruang untuk pengelolaan kawasan lindung dan budidaya sebagaimana dimaksud Pasal 54
huruf c meliputi :
a. pengoptimalan dan pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung dan budidaya;
b. pemantapan kawasan lindung sesuai fungsi perlindungan masing-masing;
c. arahan penanganan kawasan budidaya; dan
d. pengaturan kelembagaan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya.

Paragraf 3
Arahan Pemanfaatan Ruang Untuk Penetapan Kawasan Strategis

Pasal 58
Pemanfaatan ruang untuk penetapan kawasan strategis meliputi :
a. mengendalikan perkembangan ruang sekitar kawasan strategis kabupaten;
b. memantapkan fungsi lindung pada kawasan sosio-kultural; dan
c. memantapkan kawasan perlindungan ekosistem dan lingkungan hidup.

Pasal 59
Pemanfaatan ruang untuk penataan kawasan pesisir dan kepulauan meliputi :
a. pemanfaatan wilayah pesisir sebagai kawasan budidaya dan konservasi;
b. konservasi kawasan pulau di kecamatan pulau ende sesuai fungsinya sebagai kawasan wisata; dan
c. mempertahankan dan memperbaiki ekosistem pesisir.

Pasal 60
Pemanfaatan ruang untuk penataan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna
sumberdaya alam lainnya meliputi :
a. meningkatkan keserasian antar fungsi dalam penatagunaan tanah;
b. pemantapan fungsi kawasan dalam mendukung penatagunaan hutan;
c. pemantapan fungsi dalam penatagunaan air;
d. pengaturan keselamatan dan kenyamanan pada penatagunaan udara; dan
e. penatagunaan sumberdaya lainnya.

B A B VII
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Bagian Pertama
Umum
Pasal 61
(1) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui penetapan peraturan zonasi,
perijinan, pemberian insentif dan disinsentif, dan pengenaan sanksi.
44

(2) Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan
pengendalian pemanfaatan ruang dan prosedur pelaksanaan pembangunan wilayah kabupaten.
(3) Pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas:
a. peraturan zonasi wilayah;
b. perizinan;
c. pemberian insentif dan disinsentif; dan
d. sanksi.

Bagian Kedua
Peraturan Zonasi Wilayah

Pasal 62
(1) Peraturan zonasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 61 disusun sebagai pedoman pengendalian
pemanfaatan ruang.
(2) Peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat tentang apa yang harus ada, apa
yang boleh dan apa yang tidak boleh.
(3) Peraturan zonasi sistem wilayah meliputi indikasi arahan peraturan zonasi untuk struktur ruang
dan pola ruang, yang terdiri atas :
a. struktur ruang dan sistem perkotaan;
b. sistem jaringan prasarana wilayah; dan
c. kawasan lindung dan budidaya.

Paragraf 1
Peraturan Zonasi Untuk Struktur Ruang Dan Sistem Perkotaan

Pasal 63
Peraturan zonasi untuk sistem perkotaan wilayah dan jaringan prasarana wilayah meliputi :
a. zonasi pemanfaatan ruang di sekitar jaringan prasarana wilayah untuk mendukung berfungsinya
sistem perkotaan wilayah dan jaringan prasarana wilayah terdiri dari kegiatan di kawasan lindung
dan budidaya sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan;
b. pelarangan melakukan pemanfaatan ruang yang menyebabkan gangguan terhadap berfungsinya
sistem perkotaan wilayah dan jaringan prasarana wilayah;
c. pembatasan intensitas pemanfaatan ruang agar tidak mengganggu fungsi sistem perkotaan wilayah
dan jaringan prasarana wilayah; dan
d. peraturan zonasi untuk PKL disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan
ekonomi berskala kabupaten yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang
sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya.


45

Paragraf 2
Peraturan Zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana Wilayah

Pasal 64
(1) Peraturan zonasi untuk sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten disusun dengan meliputi
jaringan sarana prasarana transportasi, jaringan dan sarana prasarana Telekomunikasi, jaringan
sarana prasarana pengairan, jaringan sarana prasarana energi dan jaringan sarana prasarana
lingkungan.
(2) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana transportasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan nasional dan kabupaten harus sesuai dengan
ketentuan perundangan yang mengatur tentang jalan; dan
b. pengendalian ketat dilakukan pada kawasan dengan kecenderungan perkembangan tinggi
dengan memperhatikan bangkitan dan tarikan laulintas, ketersediaan sarana prasarana jalan
dan persimpangan lalulintas.
(3) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana telekomunikasi sebagaimana dimaksud ayat (1),
meliputi :
a. pengembangan jaringan telekomunikasi disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang
berlaku; dan
b. penempatan sarana dan prasarana telekomunikasi bisa memanfaatkan kawasan lindung
maupun budidaya selama tidak mengganggu fungsi dasar yang telah ditetapkan dalam
rencana tata ruang, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas
kawasan di sekitarnya.
(4) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana pengairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi :
a. pengembangan jaringan pengairan disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
b. pembatasan dan pengendalian pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang sisi jaringan
pengairan dan di kawasan yang peka terhadap fungsi dan keberadaan jaringan sarana
prasarana pengairan; dan
c. pemanfaatan ruang di sepanjang jaringan sarana prasarana pengairan tidak boleh mengurangi
dan mengganggu fungsi dan keberadaan sarana prasarana yang ada.
(5) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi :
a. pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik harus memperhatikan jarak aman dari
kegiatan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
b. pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang jalur transmisi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
46

(6) Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi persampahan dan sanitasi lingkungan.
a. Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana persampahan meliputi :
1. pemanfaatan ruang di sekitar lokasi tpa harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan
lain sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku; dan
2. pemanfaatan ruang pada sekitar jaringan persampahan harus memperhatikan aspek
kesehatan dan keselamatan lingkungan dan meminimalisasi kemungkinan terkena
dampak.
b. Peraturan zonasi pada jaringan sarana prasarana sanitasi meliputi:
1 pemanfaatan ruang diwajibkan mempertimbangkan penyediaan sanitasi dan mendukung
pengembangan sistem pengelolaan sanitasi wilayah; dan
2 pemanfaatan ruang di sekitar lokasi instalasi pengelolaan limbah harus memperhatikan
dampak yang akan timbul dari kegiataan pengelolaan.

Paragraf 4
Peraturan Zonasi Kawasan Lindung dan Budidaya
Pasal 65
Peraturan zonasi untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan dan penelitian tanpa mengubah bentang alam;
b. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang yang membahayakan keselamatan umum;
c. pembatasan pemanfaatan ruang di sekitar kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan rawan
bencana alam; dan
d. pembatasan pemanfaatan ruang yang menurunkan kualitas fungsi lingkungan.

Paragraf 5
Peraturan Zonasi Kawasan Lindung
Pasal 66
(1) Peraturan zonasi kawasan lindung diarahkan pada kawasan-kawasan lindung yang ditetapkan
sebagai fungsi lindung dan berdasarkan kewenangan perencanaan sampai pengelolaannya.
(2) Peraturan zonasi kawasan hutan lindung disusun dengan memperhatikan:
a. arahan peraturan zonasi kawasan hutan lindung dilakukan pada kawasan yang ditetapkan
fungsi sebagai hutan lindung yang menjadi kewenangan daerah;
b. pemanfaatan ruang wilayah kabupaten untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;
c. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi permukiman
penduduk asli dengan luasan tetap/terbatas, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di
bawah pengawasan ketat secara teknis oleh instansi terkait yang berwenang; dan
d. ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan
tutupan vegetasi.

47

(3) Peraturan zonasi untuk kawasan resapan air disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki
kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan; dan
b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan terbangun yang sudah ada.
(4) Peraturan zonasi untuk sempadan pantai disusun dengan memperhatikan:
a. prioritas pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau dan fungsi konservasi lainnya;
b. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi;
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pelabuhan, perikanan dan
rekreasi pantai;
d. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c kecuali
bangunan penunjang pelabuhan dan perikanan; dan
e. ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan
estetika kawasan.
(5) Peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan kawasan sekitar bendungan disusun dengan
memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;
b. ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk
pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air;
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi maupun fasilitas
pendukungnya, dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kualitas dan daya dukung-
daya tampung sungai dan atau bendungan yang ada serta keamanan dari masyarakat secara
umum yang memanfaatkan ruang tersebut; dan
d. penetapan lebar sempadan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Peraturan zonasi untuk ruang terbuka hijau disusun dengan memperhatikan:
a. Ruang Terbuka Hijau dimanfaatkan sebagai ruang untuk kegiatan rekreasi, perlindungan
kawasan, makam, pendidikan dan penelitian serta kegiatan sejenis;
b. Ruang Terbuka Hijau diperuntukan kepentingan publik maupun privat, dimana Ruang
Terbuka Hijau publik antara lain taman kota, taman pemakaman umum dan jalur hijau
sepanjang jalan, sungai dan pantai; sedangkan Ruang Terbuka Hijau privat antara lain kebun
atau halaman rumah/gedung milik masyarakat atau swasta yang ditanami tumbuhan;
c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas
umum lainnya;
d. ketentuan pelarangan pendirian bangunan permanen selain yang dimaksud pada huruf b; dan
e. fungsi dasar Ruang Terbuka Hijau tidak boleh berkurang karena pendirian bangunan
penunjang Ruang Terbuka Hijau dimaksud.
(7) Peraturan zonasi untuk taman nasional, disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;
b. ketentuan pelarangan kegiatan selain yang dimaksud pada huruf a;
48

c. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan sebagaimana dimaksud pada
huruf a;
d. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c; dan
e. ketentuan pelarangan terhadap penanaman flora dan pelepasan satwa yang bukan merupakan
flora dan satwa endemik kawasan.
(8) Peraturan zonasi untuk kawasan pantai berhutan bakau disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan, penelitian, dan wisata alam;
b. ketentuan pelarangan pemanfaatan kayu bakau; dan
c. ketentuan pelarangan kegiatan yang dapat mengubah mengurangi luas dan/atau mencemari
ekosistem bakau.
(9) Peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan disusun dengan
memperhatikan:
a. pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, dan pariwisata; dan
b. ketentuan pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan fungsi
kawasan.
(10) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan tanah longsor disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman bencana;
b. penentuan lokasi dan jalur evakuasi dari permukiman penduduk; dan
c. pembatasan pendirian bangunan kecuali untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan
kepentingan umum.
(11) Peraturan zonasi untuk kawasan rawan banjir disusun dengan memperhatikan:
a. penetapan batas dataran banjir;
b. pemanfaatan dataran banjir bagi ruang terbuka hijau dan pembangunan fasilitas umum dengan
kepadatan rendah; dan
c. ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bagi kegiatan permukiman dan fasilitas umum
penting lainnya.
(12) Peraturan zonasi untuk kawasan sempadan mata air disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau; dan
b. pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air.

Paragraf 6
Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya
Pasal 67
(1) Peraturan Zonasi untuk Kawasan Budidaya diarahkan pada kawasan-kawasan budidaya yang
ditetapkan sebagai fungsi budidaya dan berdasarkan kewenangan perencanaan sampai
pengelolaannya.
(2) Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi disusun dengan memperhatikan:
a. pembatasan pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya
kehutanan;
49

b. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan; dan
c. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada
huruf b.
(3) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian lahan basah (sawah) disusun dengan
memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah;
b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun)
kecuali terbatas untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama, dan fasilitas pendukung
pertanian yang sangat mempengaruhi pada upaya peningkatan produktivitas dan pengolahan
hasil panen sesuai ketentuan/peraturan yang berlaku;
c. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun)
sebagaimana diuraikan pada huruf a dan b diatas, yang termasuk sebagai lahan pertanian
pangan berkelanjutan atau yang ditetapkan oleh sebagai sentra lahan pertanian basah (sawah);
dan
d. ketentuan alih fungsi lahan pertanian sawah mengikuti ketentuan yang berlaku.
(4) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertanian lahan kering disusun dengan
memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk rencana pengembangan kawasan pertanian sawah tadah hujan,
tegalan, ladang, kebun campur, perkebunan, hortikultura, peternakan, serta perikanan darat,
sesuai kebijakan dan strategi pengembangan dari masing-masing jenis kawasan;
b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun)
kecuali terbatas untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama, dan fasilitas pendukung
pertanian yang sangat mempengaruhi pada upaya peningkatan produktivitas dan pengolahan
hasil panen sesuai ketentuan/peraturan yang berlaku; dan
c. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan menjadi lahan budidaya non pertanian (terbangun)
sebagaimana diuraikan pada huruf a dan b diatas, yang termasuk sebagai kawasan sentra
budidaya pertanian khusus sesuai ketentuan/peraturan yang berlaku.
(5) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perikanan (pantai dan laut) disusun dengan
memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dan/atau nelayan dengan kepadatan rendah;
b. pemanfaatan ruang untuk kawasan penghijaun dan/atau
c. kawasan sabuk hijau; dan
d. pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi lestari.
(6) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pertambangan disusun dengan memperhatikan:
a. ketentuan pelarangan pemanfaatan pertambangan pada kawasan dengan fungsi lindung,
kawasan pertanian lahan basah (sawah), serta kawasan budidaya terbangun (permukiman,
industri, pariwisata, dan sejenisnya termasuk sistem jaringan prasarana utama); dan

50

b. ketentuan pemanfaatan pertambangan pada kawasan yang telah diarahkan sebagai rencana
pengembangan penambangan, dengan memperhatikan keseimbangan antara biaya dan
manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat, termasuk pengaturan bangunan lain
disekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya
dengan memperhatikan kepentingan, berdasarkan analisa teknis dari instansi teknis yang
terkait.
(7) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan industri dan pergudangan disusun dengan
memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan kawasan industri, Kawasan Peruntukan Industri, dan
industri rumah tangga,
b. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan
teknologi, potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah sekitarnya;
c. pembatasan pembangunan rumah tinggal di dalam lokasi kawasan peruntukan industri untuk
mengurangi dampak negatif pengaruh dari keberadaan industri terhadap permukiman yang
ada;
d. ketentuan pelarangan peruntukkan lain selain industri maupun fasilitas pendukungnya dalam
kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan industri sesuai ketentuan/peraturan yang berlaku,
kecuali kawasan peruntukan industri, industri rumah tangga serta kawasan industri
e. pemanfaatan ruang kawasan industri, diarahkan untuk pemanfaatan rumah tinggal, kegiatan
produksi, tempat proses produksi, fasilitas pendukung/penunjang permukiman maupun
industri akan diatur tersendiri secara khusus berdasarkan peraturan yang berlaku;
f. pemanfaatan ruang untuk home industri, diijinkan pemanfaatannya dalam kawasan
permukiman dengan pembatasan pada luasan lahan, dan dampak yang ditimbulkan
(berdasarkan batasan kapasitas produksi, tenaga kerja, transportasi yang dihasilkan, dan
limbah yang dihasilkan berdasarkan analisa daya dukung dan daya tampung lokasi) sesuai
peraturan yang berlaku; dan
g. pemanfaatan ruang untuk pergudangan antara lain berupa gudang untuk industri,
perdagangan, stasiun pengisian bahan bakar dan kegiatan sejenis diijinkan pemanfaatannya
dalam kawasan permukiman dengan pembatasan pada luasan lahan, dan dampak yang
ditimbulkan sesuai peraturan yang berlaku.
(8) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan pariwisata disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung
lingkungan;
b. perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau;
c. pembatasan pendirian bangunan (kecuali permukiman penduduk) pada koridor jalur wisata
utama maupun kawasan/obyek wisata hanya untuk kegiatan/peruntukan lahan yang
menunjang kegiatan pariwisata; dan
d. ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c.

51

(9) Peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan permukiman disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang untuk peruntukkan industri rumah tangga dengan kepadatan rendah dan
batasan khusus sesuai ketentuan yang berlaku;
b. penetapan fasilitas pendukung kegiatan permukiman dan aktivitas masyarakat yang
dibutuhkan secara proporsional sesuai peraturan yang berlaku, antara lain berupa fasilitas
pendidikan, kesehatan, peribadatan, rekreasi, olah raga dan lain-lain sesuai kebutuhan
masyarakat setempat;
c. penetapan amplop bangunan;
d. penetapan tema arsitektur bangunan;
e. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan; dan
f. penetapan jenis dan syarat penggunaan bangunan yang diizinkan.

Bagian Ketiga
Ketentuan Perijinan

Pasal 68
(1) Pendayagunaan mekanisme perijinan pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan merupakan
bagian dari pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah agar pemanfaatan ruang atau
pembangunan sesuai dengan RTRW Kabupaten.
(2) Pendayagunaan mekanisme perijinan pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan dilakukan
melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
a. tahap gagasan/ ide;
b. tahap pemberian ijin lokasi;
c. tahap kegiatan pembangunan;
d. tahap kegiatan berusaha;
e. tahap perubahan pembangunan; dan
f. tahap evaluasi kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang wilayah.
(3) Tahap gagasan/ide sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a yaitu
investor/masyarakat/pemerintah memberi suatu studi kelayakan seperti prastudi kelayakan, studi
kelayakan, kelayakan ekonomi dan lingkungan.
(4) Tahap pemberian ijin lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
a. persetujuan prinsip percadangan tanah;
b. persetujuan penguasaan peruntukan ruang;
c. persetujuan pembebasan peruntukan ruang;
d. persetujuan ruang;
e. persetujuan tetangga sekitar; dan
f. penyelesaian administrasi pertanahan.
52

(5) Tahap kegiatan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c yaitu pengaturan dan
pengendalian proses fisik pembangunan kawasan lindung, kawasan budidaya dan kawasan khusus
yang terdapat pada wilayah perencanaan.
(6) Tahap kegiatan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d yaitu mengontrol kegiatan-
kegiatan berusaha/ usaha yang diisyaratkan sehingga tercapai pertumbuhan ekonomi wilayah yang
diharapkan.
(7) Tahap perubahan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e yaitu upaya
penyesuaian fungsi-fungsi kawasan sesuai dengan perkembangan yang terjadi serta dampak-
dampak yang ditimbulkannya.
(8) Penataan yang dilakukan oleh seluruh pihak terkait dengan pelaksanaan RTRW Kabupaten sebagai
kebijakan matra ruang akan diberikan insentif atau disinsentif yang akan diatur dengan Peraturan
Bupati.
Bagian Keempat
Ketentuan Insentif dan Disinsentif

Pasal 69
(1) Dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang dapat diberikan insentif dan/atau disinsentif oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah.
(2) Insentif sebagaimana dimaksud diatas, yang merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan
imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang, berupa:
a. keringanan pajak,
b. pemberian kompensasi,
c. subsidi silang, imbalan, sewa ruang, dan urun saham;
d. pembangunan serta pengadaan infrastruktur;
e. kemudahan prosedur perizinan; dan/atau
f. pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta dan/atau pemerintah daerah.
(3) Disinsentif sebagaimana dimaksud, yang merupakan perangkat untuk mencegah, membatasi
pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, berupa:
a. pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk
mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan ruang; dan/atau
b. pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi, dan penalti.
(4) Insentif dan disinsentif diberikan dengan tetap menghormati hak masyarakat.
(5) Insentif dan disinsentif dapat diberikan oleh:
a. pemerintah kepada pemerintah daerah;
b. pemerintah daerah kepada pemerintah daerah lainnya; dan
c. pemerintah kepada masyarakat.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pemberian insentif dan disinsentif diatur
dengan Peraturan Bupati.

53

Bagian Kelima
Arahan Sanksi

Pasal 70
Arahan sanksi merupakan acuan dalam pengenaan saksi terhadap :
a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah
Kabupaten Ende;
b. pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi sistem kabupaten;
c. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten
Ende;
d. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan
RTRW Kabupaten Ende;
e. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam prasyarat izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan
berdasarkan RTRW Kabupaten Ende;
f. pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-
undangan dinyatakan sebagai milik umum; dan/atau
g. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar.

Pasal 71
(1) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 huruf a, huruf b, huruf d, huruf e,
huruf f, dan huruf g dikenakan sanksi administrasi berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pencabutan izin;
f. pembatalan izin;
g. pembongkaran bangunan;
h. pemulihan fungsi; dan/atau
i. denda administratif.
(2) Terhadap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 huruf c dikenakan sanksi
administratif berupa :
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pembongkaran bangunan;
f. pemulihan fungsi ruang; dan/atau
g. denda administratif.
54

B A B VIII
PERAN MASYARAKAT
Bagian Pertama
Hak

Pasal 72
Dalam kegiatan mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah, masyarakat berhak:
a. ikut serta dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan
ruang;
b. mengetahui secara terbuka RTRW Kabupaten, rencana tata ruang kawasan, rencana rinci tata ruang
kawasan;
c. menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari penataan ruang; dan
d. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan
kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang.

Bagian Kedua
Kewajiban

Pasal 73
Dalam kegiatan penataan ruang wilayah Kabupaten Ende, masyarakat wajib :
a. mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan ruang sesuai dengan ijin pemanfaatan ruang;
c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan ijin pemanfaatan ruang; dan
d. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan
dinyatakan sebagai milik umum.

Pasal 74
Dalam pengendalian pemanfaatan ruang, peran masyarakat dapat berbentuk :
a. pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan, termasuk pemberian informasi
atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan dimaksud; dan
b. bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan ruang.

B A B IX
KETENTUAN PENYIDIKAN

Pasal 75
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kabupaten diberikan wewenang
untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran ketentuan-ketentuan dalam Peraturan
Daerah ini.
55

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah :
a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan
tindak pidana di bidang penataan ruang agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap
dan jelas;
b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang
kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan di bidang penataan ruang;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana
di bidang penataan ruang;
d. memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumendokumen lain berkenaan tindak pidana di
bidang penataan ruang;
e. melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan
dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di
bidang penataan ruang;
g. menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat
pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang
dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang penataan ruang;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan; dan
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang
penataan ruang menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
l. Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan
menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.

B A B X
KETENTUAN PIDANA

Pasal 76
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 70 dipidana dengan
pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh
juta rupiah);
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran;
(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.



56

B A B XI
KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 77
(1) Jangka waktu Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Ende adalah 20 (dua puluh) tahun sejak
tanggal ditetapkan dan ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(2) Dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar
dan/atau perubahan batas teritorial wilayah kabupaten yang ditetapkan dengan peraturan
perundang-undangan, RTRW Kabupaten Ende dapat ditinjau kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam
5 (lima) tahun.
(3) Peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) juga dilakukan apabila terjadi perubahan
kebijakan propinsi dan strategi yang mempengaruhi pemanfaatan ruang kabupaten dan/atau
dinamika internal kabupaten.
(4) RTRW Kabupaten sebagaimana dimaksud dilengkapi dengan lampiran berupa buku Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Ende 2011 2031 dan album peta skala 1:100.000.
(5) Buku RTRW Kabupaten dan album peta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian
tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 78
(1) izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah
ini tetap berlaku sampai dengan berakhir masa berlakunya;
(2) izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan
Daerah ini berlaku ketentuan:
a. untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut disesuaikan dengan fungsi
kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini;
b. untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, pemanfaatan ruang dilakukan sampai izin
terkait habis masa berlakunya dan dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan
Peraturan Daerah ini;
c. untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak memungkinkan untuk dilakukan
penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin yang telah
diterbitkan dapat dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin
tersebut dapat diberikan penggantian yang layak; dan
d. Ketentuan dan tata cara pemberian penggantian yang layak sebagaimana dimaksud pada huruf c
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.


57

(3) Pemanfaatan ruang di daerah yang diselenggarakan tanpa izin ditentukan sebagai berikut:
a. yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, pemanfaatan ruang yang
bersangkutan ditertibkan dan disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini; dan
b. yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, dipercepat untuk mendapatkan izin yang
diperlukan.
Pasal 79
(1) Kawasan lindung yang difungsikan untuk kegiatan budidaya secara bertahap dikembalikan
fungsinya sebagai kawasan lindung setelah izin kegiatan budidaya habis masa berlakunya.
(2) Perubahan status dan/atau fungsi kawasan hutan, kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan
harus mematuhi ketentuan peraturan perundangan.

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 80
Peraturan pelaksanaan ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah ditetapkan peraturan daerah ini.

Pasal 81
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Ende.








Diundangkan di Ende
pada tanggal 21 Desember 2011
SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN ENDE,

YOSEPH ANSAR RERA
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ENDE TAHUN 2011 NOMOR 11

Ditetapkan di Ende
pada tanggal 19 Desember 2011

BUPATI ENDE,



DON BOSCO M. WANGGE

58

PENJELASAN

ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENDE
NOMOR 11 TAHUN 2011

TENTANG

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN ENDE TAHUN 2011-2031

I.UMUM
1. Ruang Wilayah Kabupaten Ende sebagai bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, pada hakikatnya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus
dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal agar dapat menjadi wadah bagi
kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya secara berkelanjutan demi kelangsungan hidup
yang berkualitas.
Pancasila merupakan dasar negara dan falsafah negara, yang memberikan keyakinan bahwa
kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan, keserasian dan
keseimbangan, baik dalam hubungannya dengan kehidupan pribadi, hubungan manusia dengan
manusia lain, hubungan manusia dengan alam sekitarnya maupun hubungan manusia dengan
Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan
konstitusional mewajibkan agar sumberdaya alam dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati oleh generasi sekarang
maupun generasi yang akan datang.
2. Ruang sebagai sumberdaya alam tidaklah mengenal batas wilayah, karena ruang pada dasarnya
merupakan wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya untuk hidup dan
melakukan kegiatannya, akan tetapi jika ruang dikaitkan dengan pengaturannya, haruslah
mengenal batas dan sistemnya. Dalam kaitan tersebut, ruang wilayah Kabupaten Ende meliputi
tiga matra, yakni ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara.
Ruang wilayah Kabupaten Ende sebagai unsur lingkungan hidup, terdiri atas berbagai ruang
wilayah yang masing-masing sebagai sub sistem yang meliputi aspek alamiah (fisik), ekonomi,
sosial budaya dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan lainnya.
Pengaturan pemanfaatan ruang wilayah yang didasarkan pada corak dan daya dukungnya akan
meningkatkan keselarasan, keseimbangan sub sistem, yang berarti juga meningkatkan daya
tampungnya. Pengelolaan sub-sistem yang satu akan berpengaruh kepada kepada sub-sistem
yang lain, yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. Oleh
karena itu, pengaturan ruang menuntut dikembangkan suatu sistem dengan keterpaduan sebagai
ciri utamanya.

59


Ada pengaruh timbal balik antara ruang dan kegiatan manusia. Karakteristik ruang menentukan
macam dan tingkat kegiatan manusia, sebaliknya kegiatan manusia dapat merubah, membentuk
dan mewujudkan ruang dengan segala unsurnya. Kecepatan perkembangan manusia seringkali
tidak segera tertampung dalam wujud pemanfaatan ruang, hal ini disebabkan karena hubungan
fungsional antar ruang tidak segera terwujud secepat perkembangan manusia. Oleh karena itu,
rencana tata ruang wilayah yang disusun, haruslah dapat menampung segala kemungkian
perkembangan selama kurun waktu tertentu.
3. Ruang wilayah Kabupaten Ende, mencakup wilayah kecamatan yang merupakan satu kesatuan
ruang wilayah yang terdiri atas satuan-satuan ruang yang disebut dengan kawasan. Dalam
berbagai kawasan terdapat macam dan budaya manusia yang berbeda, sehingga diantara
berbagai kawasan tersebut seringkali terjadi tingkat pemanfaatan dan perkembangan yang
berbeda-beda.
Perbedaan ini apabila tidak ditata, dapat mendorong terjadinya ketidakseimbangan
pembangunan wilayah. Oleh karena itu, rencana tata ruang wilayah, secara teknis harus
mempertimbangkan : (i) keseimbangan antara kemampuan ruang dan kegiatan manusia dalam
memanfaatkan serta meningkatkan kemampuan ruang ; (ii) keseimbangan, keserasian dan
keselarasan dalam pemanfaatan antar kawasan dalam rangka meningkatkan kapasitas
produktivitas masyarakat dalam arti luas.
4. Meningkatnya kegiatan pembangunan yang memerlukan lahan, baik tempat untuk memperoleh
sumber daya alam mineral atau lahan pertanian maupun lokasi kegiatan ekonomi lainnya,
seperti industri, pariwisata, pemukiman dan administrasi pemerintahan, potensial meningkatkan
terjadinya kasus-kasus konflik pemanfaatan ruang dan pengaruh buruk dari suatu kegiatan
terhadap kegiatan lainnya. Berkenaan dengan hal tersebut, diperlukan perencanaan tata ruang
yang baik dan akurat, agar perkembangan tuntutan berbagai kegiatan pemanfaatan ruang dan
sumberdaya yang terdapat di dalamnya dapat berfungsi secara optimal, terkendali, selaras
dengan arah pembangunan Daerah Kabupaten Ende.
5. Kendatipun perencanaan tata ruang sepenuhnya merupakan tindak pemerintahan atau sikap
tindak administrasi negara, dalam proses penyusunan sampai pada penetapannya perlu
melibatkan peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat dalam perencanaan tata ruang
menjadi penting dalam kerangka menjadikan sebuah tata ruang sebagai hal yang responsif
(responsive planning), artinya sebuah perencanaan yang tanggap terhadap preferensi serta
kebutuhan dari masyarakat yang potensial terkena dampak apabila perencanaan tersebut
diimplementasikan. Tegasnya, dalam konteks perencanaan tata ruang, sebenarnya ada dua hal
yang harus diperhatikan. Pertama, kewajiban Pemerintah untuk memberikan informasi, Kedua,
hak masyarakat untuk di dengar (the right to be heard). Dalam praktek, pada dasarnya dua
aspek ini saling berkaitan karena penerapannya menunjukkan adanya jalur komunikasi dua
arah. Dengan kewajiban pemerintah untuk memberi informasi yang menyangkut rencana
kegiatan/perbuatan administrasi, dan adanya hak bagi yang terkena (langsung maupun tidak
60

langsung) oleh kegiatan/perbuatan pemerintah, mengandung makna bahwa mekanisme itu telah
melibatkan masyarakat dalam prosedur administrasi negara, di pihak lain dapat menunjang
pemerintahan yang baik dan efektif, karena dengan mekanisme seperti itu pemerintah dapat
memperoleh informasi yang layak sebelum mengambil keputusan. Mekanisme seperti itu dapat
menumbuhkan suasana saling percaya antara pemerintah dan rakyat sehingga dapat mencegah
sengketa yang mungkin terjadi serta memungkinkan terjadinya penyelesaian melalui jalur
musyawarah.
6. Secara normatif, perencanaan tata ruang dimaksud perlu diberi status dan bentuk hukum agar
dapat ditegakkan, dipertahankan dan ditaati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Hanya
rencana yang memenuhi syarat-syarat hukumlah yang dapat melindungi hak warga masyarakat
dan memberi kepastian hukum, baik bagi warga maupun bagi aparatur pemerintah termasuk
didalamnya administrasi negara yang bertugas melaksanakan dan mempertahankan rencana,
yang sejak perencanaannya sampai penetapannya memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.
Apabila suatu rencana telah diberi bentuk dan status hukum, maka rencana itu terdiri atas atas
susunan peraturan-peraturan yang pragmatis, artinya segala tindakan yang didasarkan kepada
rencana itu akan mempunyai akibat hukum.
7. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang pada Pasal 78 mengamanatkan
bahwa Peraturan Daerah Kabupaten tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten disusun atau
disesuaikan paling lambat dalam waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini
diberlakukan.
Dengan demikian maka Pemerintah Daerah Kabupaten Ende harus segara menyusun dan
menetapkan peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Ende yang
sesuai dengan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
8. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu disusun Peraturan Daerah yang akan menjadi acuan
dalam pelaksanaan program-program pembangunan di daerah serta mendorong percepatan
perkembangan masyarakat secara tertib, teratur dan berencana. Peraturan Daerah sendiri
merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan sistem perundang-undangan secara nasional,
oleh karena itu peraturan daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi atau bertentangan dengan kepentingan umum. Kepentingan umum
yang harus diperhatikan bukan saja kepentingan rakyat banyak Daerah yang bersangkutan,
melainkan kepentingan Daerah lain dan kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Ini berarti,
pembuatan peraturan peraturan perundang-undangan tingkat daerah, bukan sekedar melihat
batas kompetensi formal atau kepentingan Daerah yang bersangkutan, tetapi harus dilihat pula
kemungkinan dampaknya terhadap daerah lain atau kepentingan nasional secara keseluruhan.

II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas

61

Pasal 2
Cukup Jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Cukup jelas
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan Pejabat yang berwenang adalah Bupati Ende.
Pasal 7
Cukup jelas
Pasal 8
Cukup jelas
Pasal 9
Cukup jelas
Pasal 10
Cukup jelas
Pasal 11
Cukup jelas
Pasal 12
Cukup jelas
Pasal 13
Cukup jelas
Pasal 14
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas

Pasal 16
Cukup jelas

Pasal 17
Cukup jelas
62

Pasal 18
Cukup jelas
Pasal 19
Cukup jelas
Pasal 20
Cukup jelas
Pasal 21
Cukup jelas
Pasal 22
Cukup jelas
Pasal 23
Cukup Jelas
Pasal 24
Cukup Jelas
Pasal 25
Cukup jelas
Pasal 26
Cukup jelas
Pasal 27
Cukup jelas
Pasal 28
Cukup jelas
Pasal 29
Cukup Jelas
Pasal 30
Cukup Jelas
Pasal 31
Cukup jelas
Pasal 32
Cukup jelas
Pasal 33
Cukup jelas
Pasal 34
Cukup jelas

Pasal 35
Cukup jelas
Pasal 36
Cukup jelas
63

Pasal 37
Cukup jelas
Pasal 38
Cukup jelas
Pasal 39
Cukup jelas
Pasal 40
Cukup jelas
Pasal 41
Cukup jelas
Pasal 42
Cukup jelas
Pasal 43
Cukup jelas
Pasal 44
Cukup jelas
Pasal 45
Cukup Jelas
Pasal 46
Cukup Jelas
Pasal 47
Cukup jelas
Pasal 48
Cukup jelas
Pasal 49
Cukup jelas
Pasal 50
Cukup Jelas
Pasal 51
Cukup jelas
Pasal 52
Cukup Jelas
Pasal 53
Cukup jelas
Pasal 54
Cukup Jelas
Pasal 55
Cukup Jelas

64

Pasal 56
Cukup Jelas
Pasal 57
Cukup Jelas
Pasal 58
Cukup Jelas
Pasal 59
Cukup Jelas
Pasal 60
Cukup Jelas
Pasal 61
Cukup jelas
Pasal 62
Cukup jelas
Pasal 63
Cukup jelas
Pasal 64
Cukup jelas
Pasal 65
Cukup jelas
Pasal 66
Cukup jelas
Pasal 67
Cukup jelas
Pasal 68
Cukup jelas
Pasal 69
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan insentif dalam ketentuan ini kemudahan yang diberikan
terhadap pemberian izin pemanfaatan ruang untuk mendorong tercapainya
perlindungan terhadap kawasan perencanaan.
Yang dimaksud dengan disinsentif dalam ketentuan ini adalah pengekangan yang
dilakukan terhadap pemberian izin pemanfaatan ruang untuk membatasi
kecenderungan perubahan dalam pemanfaatan ruang.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas

65

Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Cukup jelas
Ayat (6)
Cukup jelas
Pasal 70
Cukup jelas
Pasal 71
Cukup jelas
Pasal 72
Cukup Jelas
Pasal 73
Cukup jelas
Pasal 74
Cukup jelas
Pasal 75
Cukup jelas
Pasal 76
Cukup Jelas
Pasal 77
Cukup jelas
Pasal 78
Cukup jelas
Pasal 79
Cukup jelas
Pasal 80
Cukup jelas
Pasal 81
Cukup jelas

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN ENDE TAHUN 2011 NOMOR 11

LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENDE
NOMOR : 11 TAHUN 2011
TANGGAL : 19 DESEMBER 2011
























BUPATI ENDE,


DON BOSCO M. WANGGE
LAMPIRAN II : PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENDE
NOMOR : 11 TAHUN 2011
TANGGAL : 19 DESEMBER 2011




































BUPATI ENDE

DON BOSCO M. WANGGE
LAMPIRAN III :PERATURAN DAERAH KABUPATEN ENDE
NOMOR : 11 TAHUN 2011
TANGGAL : 19 DESEMBER 2011

























BUPATI ENDE

DON BOSCO M. WANGGE