Anda di halaman 1dari 5

Coix lacryma-jobi

HANJ ELI

Hanjeli adalah nama populer di daerah Sunda (Jawa Barat) untuk tanaman bernama
ilmiah Coix lacryma-jobi (beberapa literatur menulisnya sebagai lachryma-jobi). Nama
populer di Indonesia adalah jali atau jali-jali. Dalam bahasa Inggris disebut Jobs tears,
diambil dari nama Job (Nabi Ayyub a.s.) yang luar biasa kesabarannya menghadapi ujian
kesengsaraan. Di Filipina dikenal sebagai adlay. Kadang-kadang biji hanjeli disebut juga
sebagai Chinese pearl-barley, walaupun istilah ini bisa misleading karena tanaman ini
bukanlah barley (Hordeum vulgare).
Ada dua varietas yang ditanam orang. Yaitu :
Jenis yang dibudidayakan (var. ma-yuen) memiliki peranan penting sebagai sumber pangan
dan obat tradisional (khususnya Chinese medicines). Jenis ini memiliki cangkang yang tipis
dan mudah dipecahkan, sehingga mudah untuk mendapatkan biji dalamnya untuk bahan
makanan. Jenis ini pun memiliki sedikit variasi, misalnya hanjeli beras dan hanjeli ketan
(Nurmala, 2003)
Jenis yang liar (var. stenocarpa, var. monilifer, dll.) seringkali dianggap sebagai gulma,
karena mudah sekali tumbuh secara liar. Jenis ini memiliki cangkang yang sangat keras
bagaikan batu, sulit dipecahkan. Biji-biji ini seringkali dimanfaatkan sebagai bahan manik-
manik kalung (semacam tasbih atau rosario).
Kisah Usaha Tani Hanjeli
Triono Untung Piryadi menanam komoditas lawas yang terlupakan.
Ribuan jali yang berbaris rapi di lahan 4 ha itu seperti merunduk menahan malai.
Tanaman berumur 105 hari itu mulai mengering dan buah menua pertanda siap panen. Empat
pekerja memotong batang jali dan menyisakan sekitar 30 cm di atas tanah. Batang-batang
bermalai itu lalu terkumpul di atas terpal biru. Pekerja memeram batang jali selama semalam
agar buah jali mudah rontok.
pekerja merontokkan jali dengan cara para hari Keesokan memukulkan pada papan
perontok seperti panen padi. Dari lahan 4 ha pekebun di Cugenang, Provinsi Jawa Barat,
Triono Untung Piryadi, menuai total 40 ton biji kering. Produktivitas jali mencapai 10 ton per
ha.
Hemat benih
Triono menggambarkan penanaman jali sangat menguntungkan. Saat itu, pada kurun
2000-2009, ia hanya mengumpulkan 1.000 kg biji jali per
bulan dari petani-petani sekitarnya.
Untuk memenuhi permintaan itulah ia mengebunkan
tanaman bernama ilmiah Coix lacryma itu. Dalam bahasa
Latin lacryma berarti air mata. Bentuk biji jali yang bulat
menyerupai tetesan air mengilhami masyarakat Inggris
menjuluki jali sebagai Jobs tears alias tetesan air mata Ayub. Triono memanfaatkan ladang
menganggur yang penuh ilalang untuk membudidayakan jali.
Mula-mula, ia membabat bersih alang-alang yang tumbuh di lahan yang berada pada
ketinggian 750 m di atas permukaan laut. Setelah itu Triono langsung menanam jali.
Tanaman jali dapat tumbuh di tanah yang belum diolah, ujar Triono
Pada saat bersamaan, mereka membenamkan 10 g pupuk
NPK majemuk per tanaman. Sebelum kemudian, mereka
memberikan pupuk susulan dengan dosis yang sama. Jali
termasuk tanaman yang tahan serangan hama dan penyakit.
Triono belum menemui serangan hama dan penyakit
sehingga tak perlu pestisida.
Panen berkali-kali
Seminggu pascatanam, tanaman akan memunculkan 25-
35 batang anakan. Bunga muncul 2,5 bulan pascatanam dan
siap panen sebulan kemudian. Ketika panen para pekerja menyisakan batang 30 cm di atas
tanah. Batang yang tersisa itu lalu tumbuh kembali membentuk rumpun pada tujuh hari usai
panen. Triono mempertahankan batang itu hingga 4 kali panen sebelum membongkar
tanaman dan mengganti dengan bibit baru.
Artinya, sekali tanam pekebun itu 4 kali panen jali. Menurut
guru besar Fakultas Pertanian, Uiversitas Padjajaran, Bandung,
Jawa Barat, Prof Dr Ir Tati Nurmala MS, tanaman jali termasuk
serealia yang akarnya mampu membentuk anakan baru.
Kemampuan ini memang biasa dimanfaatkan petani untuk
menanam secara ratoon alias tanam berulang. Hasil yang
didapat tidak sebagus tanaman awal, bisa berkurang sampai
50%, tutur Tati.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik memerlukan tambahan nutrisi. Itulah sebabnya
Triono memberikan pupuk dua kali lipat pada periode budidaya yang kedua hingga keempat.
Alokasi dana untuk bibit dapat dialihkan untuk menambah jumlah pupuk sampai dua kali
lipat, ujar Triono. Wajar jika produksi pada panen kedua hingga keempat relatif stabil, yakni
10 ton per ha alias tak terjadi penurunan hasil.
Triono mengatakan jali toleran kondisi lingkungan
ekstrem. Ia pernah menanam jali di lahan yang selalu
basah dan tergenang air seluas kira-kira 150 m
2
. Di
lahan itu jali tetap tumbuh subur. Itu karena damu
Ayub-sebutan jali di Arab-menyesuaikan diri dengan
membentuk akar udara. Syarat utamanya, bebas
naungan. Jika ternaungi, hasilnya hanya 1-2 ton per
ha, ujar Triono.
Serbaguna
Budidaya jali relatif mudah lantaran toleran banjir, kekeringan, dan kekurangan hara.
Yang pasti jali juga bergizi. Grubben dan Partohardjono dalam Prosea Plant Resources of
South-East Asia menyebutkan kandungan protein jali mencapai 14,1% per 100 g, lebih tinggi
ketimbang jagung, sorgum, atau beras sekalipun. Begitu pun lemak, kalsium, dan vitamin B1
pada jali.
Filipina mengembangkan jali sebagai sebabnya Itulah substitusi padi. Periset di Biro
Penelitian Pertanian, Dr Nicomedes P Eleazar, mengembangkan jali sebagai pengganti beras.
Sinaing na adlai, maja blanca, dan sinukmani adalah jenis kuliner berbahan jali di Filipina.
Nicomedes menyebutkan jali juga dapat menjadi tepung, minuman siap seduh, dan minuman
fermentasi.
Di tanahair, jali menjadi komoditas asing yang kian langka. Pengembangannya sporadis
dalam skala kecil seperti di Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta,
Lembang, Bandung Selatan, dan Cianjur, Jawa Barat. Masyarakat mengenal jali dengan nama
lain hanjeli, singkoru, batu, kemangge, bukehang, atau kaselore. Kini tanaman asli Asia
Tenggara itu nyaris tinggal cerita di tanahair, hanya sedikit yang tahu pemanfaatan jali
sebagai bahan pangan.
Sebagian masyarakat hanya tahu biji jali sebagai bahan tasbih, mainan, atau aksesori.
Padahal, anggota famili Poaceae itu berpotensi sebagai alternatif pangan, herbal, dan pakan.
Itu membuktikan bahwa jali merupakan komoditas potensial. Budidaya relatif mudah, pasar
terbuka, dan berkhasiat pula. Di mancanegara, jali pun kondang sebagai bahan makanan dan
herbal lantaran bersifat antiinflamasi, antialergi, dan antidiabetes. Bagi pekebun seperti
Triono, jali adalah air mata bahagia karena mendatangkan laba.
Menurut pengamatan yang dilakukan, beberapa petani lokal menyatakan bahwa tanaman
ini hanya membutuhkan sedikit pupuk, dan tidak memiliki hama dan penyakit yang cukup
berarti. Satu-satunya ancaman utama adalah burung liar yang mengincar bijinya. Namun
budidaya tanaman hanjeli tetap memerlukan tanah yang baik, air yang cukup dan sinar
matahari yang cukup. Pemberian pupuk untuk menambah unsur hara nitrogen tetap
diperlukan (Nurmala, 2003). Kekurangan hanjeli dibandingkan padi dan jagung adalah
produktivitas (yield) yang masih relatif lebih rendah. Walaupun pada dasarnya tanaman ini
bersifat perennial (tahunan), tetapi untuk budidaya dianggap sebagai tanaman annual
(musiman). Usia panen sekitar 120 hari.
KANDUNGAN DAN FUNGSI JALI
Jali mengandung berbagai macam zat yang sangat diperlukan oleh tubuh.
Perbandingan kandungan biji jali dan beras putih dalam 100 gramnya antara lain sebagai
berikut
Bahan Kalori Karbohidrat Lemak Kalsium Protein Amonium Fosfor Zat
Besi
Vit.
B1
Jali 289 61 4 213 11,1 23 176 11,0 0,14
Beras 248 79 1,2 5 - 40 22 0,5 0,02
Sumber : http://azaima.tripod.com/kandungan_gizi/id2.html
Jali juga dapat dikatakan tanaman serbaguna. Mengapa serbaguna? Karena jali bukan hanya
sebagai tanaman yang menghasilkan makanan pokok, tapi juga dapat digunakan sebagai
makanan tambahan dan juga obat.
1. Jali Sebagai Makanan Pokok
Saat ini masyarakat masih bergantung pada beras sebagai makanan pokoknya.
Padahal masih banyak makanan lain yang bisa dijadikan sebagai pengganti beras. Salah
satunya ya jali ini. Toh rasanya tidak kalah dengan beras, kandungan gizinya pun cukup.
Menurut kebutuhan gizi, beras jali ini juga tidak jauh beda dengan makanan pokok lain.
Dalam 100 gram beras jali, terdapat 289 kalori, 11 gram protein, 4 gram lemak, 61 gram
karbohidrat, 213 mg kalsium, 176 mg fosfor, 11 mg zat besi, dan masih banyak kandungan
lainnya.
2. Jali Sebagai Makanan Tambahan
Jali sebagai makanan tambahan disini yang dimaksud adalah jali tidak hanya
digunakan sebagai makanan pokok, melainkan dapat dibuat menjadi dodol jali, tape jali,
ketan jali, jenang jali, bubur jali, dan masih banyak jenis makanan lainnya tergantung dari
kreatifitas masing masing. Orang tua saya baru pernah membuat jali sebagai tape, jenang, dan
bubur jali.
3. Jali sebagai Tanaman Obat
Setelah membaca beberapa artikel tentang jali, ternyata banyak juga manfaatnya.
Bukan hanya sebagai makanan pokok, dapat digunakan juga sebagai obat seperti : Diare,
radang paru paru, usus buntu, urin sedikit, keputihan, kutil, tidak datang haid, kanker mulut
rahim, sakit kuning, dan masih banyak lagi manfaatnya. Jali juga mengandung komponen
Coxenolide yang dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi Cortex Adrenal pada Ginjal.
Jadi, yang terkena penyakit yang berhubungan dengan ginjal, silahkan dengan memakan nasi
jali, InsyaAllah fungsi dari ginjal dapat bertambah. Jali juga dapat meingkatkan daya tahan
tubuh, mengobati rasa pegal, mengeluarkan nanah, anti toxic, menyembuhkan bisul,
cacingan, sakit otot, sakit tulang, sakit persendian, dll.
4. Jali sebagai tanaman langka.
Saat ini jali dapat dikategorikan sebagai tanaman langka, sebab banyak orang yang
tidak mengetahui apa itu jali, bagaimana bentuknya dan manfaat manfaatnya. Juga yang
tadinya di berbagai daerah ada, sekarang sudah tidak lagi dikembangkan. Padahal cara
penanamannya juga tergolong mudah dan biaya untuk menanam serta perawatannya juga
tergolong murah. Murah dalam arti lebih murah prosesnya daripada tanaman pangan lainnya
seperti beras dan jagung. Cara penanaman jali juga cukup mudah. Jali tidak harus ditanam di
lahan terbuka. Kebanyakan orang memang menanamnya di lahan terbuka/tegalan. Namun,
tidak harus di lahan terbuka. Di kebun yang banyak pepohonan pun juga bisa. Tidak hanya
itu saja. Jali juga dapat ditanam di lahan yang kurang subur. Seperti contoh yang ada di depan
rumah saya, ini tanahnya keras, dan banyak batu, namun bisa tetap tumbuh dengan baik.
Jali ketan ini cocok dengan lahan kering. Masa panen sekitar 4 bulan sejak biji
ditanam. Dalam satu rumpun dapat terdiri banyak tunas. Kalau dalam 1 lubang ditanam 2 biji,
maka dala satu rumpun akan tumbuh sekitar 7-10 tunas pada masa panen pertama. Pada masa
panen ke-2 akan menjadi lebih banyak lagi. Berbeda dengan jagung yang hanya satu kali
panen per 1x tanam. Tetapi jali dapat dipanen berkali kali dalam satu kali tanam.
Nah, itulah sedikit tentang jali di desa Ketenger. Sebenarnya masih banyak lagi hal
tentang jali. Jali sangat banyak manfaatnya. Namun masyarakat kurang peduli untuk
membudidayakan tanaman ini. Sekarang hampir menjadi tanaman langka. Karena alasan
itulah saya membudidayakan tanaman tersebut.