Anda di halaman 1dari 20

1

SKENARIO D BLOK 25

Di Puskesmas Maju dengan penduduk 30.000 jiwa, dr. Bagus bersama timnya tidak
melakukan surveilan epidemiologi secara rutin, sehingga mereka tidak memahami riwayat
alamiah penyakit dan tahap perjalanan penyakit yang berpotensi KLB. Pada bulan Januari s/d
Maret tahun 2013, terjadi peningkatan kasus DBD yang baru disadari seteleh terjadi peningkatan
jumlah pasien yang dikirim ke RSU Daerah, karena perawatan darurat yang disiapkan di
Puskesmas tidak bisa lagi menampung pasien yang indikasi dirawat. Puskesmas Maju
sebenarnya belum memiliki fasilitas untuk pasien rawat inap. Setelah mengalami peristiwa
tersebut dr. Bagus melakukan evaluasi dan menyadari bahwa stafnya belum memiliki
pemahaman dan keterampilan mengenai surveilans. dr. Bagus mulai menyusun perencanaan
supaya kegiatan surveilans bisa dilakukan secara rutin, dan melatih tenaga perawat dan bidannya
memahami keterampilan penyelidikan wabah, studi epidemiologi, dan kegiatan statistika yang
terkait dengan surveilans dan penyelidikan wabah.

I. KLARIFIKASI ISTILAH
Surveilans : kegiatan memantau, memonitoring, menganalisis data secara
terus-menerus pada suatu wilayah yang hasilnya akan berguna
bagi pelaksana kesehatan di masyarakat. Ada dua jenis
surveilans yaitu surveilans aktif dan surveilans pasif. Surveilans
aktif merupakan usaha khusus yang dilakukan untuk
memperoleh kejadian yang lebih lengkap dengan sumber-
sumber yang ada. Surveilans pasif merupakan kejadian-kejadian
yang dilaporkan atau diterima tanpa ada usaha khusus untuk
memperoleh data yang lebih lengkap.
Epidemiologi : ilmu yang mempelajari distribusi (yang bersifat dinamis), dan
determinan dari masalah kesehatan dan penyakit-penyakit dalam
populasi manusia atau suatu komunitas.
Surveilans epidemiologi : kegiatan pengamatan secara sistematis dan terus-menerus
terhadap penyakit dan masalah-masalah kesehatan serta kondisi
yang mempengaruhi risiko terjadinya penyakit atau masalah-
2

masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan
penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses
pengumpulan, pengolahan data, dan penyebaran informasi
epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan.
KLB : salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk
mengklasifikasi peristiwa merebaknya suatu penyakit atau
meningkatnya suatu kesakitan atau kematian bermakna secara
epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu
Statistika : ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan,
mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi dan
mempresentasikan data.
Kegiatan statistika : kegiatan perencanaan, pengumpulan, penyusunan, interpretasi,
analisa, dan presentasi data.
Epidemiologi statistik : model-model statistik yang menjelaskan fenomena epidemiologi
Wabah : kejadian penyakit atau kematian yang meningkat sangat cepat
pada sekelompok penduduk di suatu wilayah melebihi jumlah
normal.
Penyelidikan wabah : suatu kegiatan untuk memastikan adanya KLB atau wabah,
mengetahui penyebab, mengetahui sumber penyebaran,
mengetahui faktor risiko, dan menetapkan program
penanggulangan KLB.
Desain epidemiologi : jenis penelitian yang mempelajari distribusi dan determinan
prevalensi penyakit dan statistik kesehatan pada populasi
manusia.
Investigasi : penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta dengan
melakukan peninjauan, percobaan, dan sebagainya dengan
tujuan memperoleh jawaban atas pertanyaan penyelidikan.
Riwayat alamiah penyakit : perkembangan penyakit itu sendiri tanpa intervensi dalam
bentuk apapun sehingga penyakit tersebut berjalan secara
natural atau alamiah, dibagi menjadi dua fase yaitu fase
prepatogeneis dan patogenesis.
3

Evaluasi : kegiatan yang membandingkan antara hasil implementasi
dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk menilai
keberhasilannya.

II. IDENTIFIKASI MASALAH
1. dr. Bagus bersama timnya tidak melakukan surveilans epidemiologi secara rutin di
Puskesmas Maju dengan penduduk 30.000 jiwa sehingga mereka tidak memahami
riwayat alamiah penyakit dan tahap perjalanan penyakit yang berpotensi KLB.
2. Pada bulan Januari s/d Maret 2013 terjadi peningkatan kasus DBD yang baru disadari
setelah terjadi peningkatan jumlah pasien yang dikirim ke RSU Daerah karena
perawatan darurat yang disiapkan di puskesmas tidak bisa menampung pasien yang
indikasi dirawat.
3. Puskesmas Maju belum memiliki fasilitas untuk rawat inap.
4. dr. Bagus melakukan evaluasi setelah mengalami peristiwa KLB dan menyadari bahwa
stafnya belum memiliki pemahaman dan keterampilan mengenai surveilans.
5. dr. Bagus mulai menyusun perencanaan supaya kegiatan surveilans bisa dilakukan
secara rutin, dan melatih tenaga perawat dan bidannya memahami keterampilan
penyelidikan wabah, studi epidemiologi, dan kegiatan statistika yang terkait dengan
surveilans dan penyelidikan wabah.

III. ANALISIS MASALAH
1. dr. Bagus bersama timnya tidak melakukan surveilans epidemiologi secara rutin di
Puskesmas Maju dengan penduduk 30.000 jiwa sehingga mereka tidak memahami
riwayat alamiah penyakit dan tahap perjalanan penyakit yang berpotensi KLB.

a. Apa tujuan kegiatan surveilans epidemiologi?
Kegiatan surveilans epidemiologi memiliki beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut :
Untuk memantau kecenderungan penyakit
Untuk deteksi dan prediksi terjadinya KLB (Kejadian Luar Biasa) dari sebuah
penyakit
Memantau kemajuan suatu program pemberantasan
4

Menyediakan informasi untuk perencanaan pembangunan pelayanan
kesehatan.
Memperkirakan besarnya suatu kesakitan atau kematian yang berhubungan
dengan masalah yang sedang diamati.
Bisa digunakan sebagai dasar penelitian untuk menentukan suatu tindakan
penanggulangan atau pencegahan penyakit
Mengidentifikasikan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian suatu
penyakit
Memungkinkan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap tindakan
penanggulangan
Mengawali upaya untuk meningkatkan tindakan-tindakan praktek klinis oleh
petugas kesehatan yang terlibat dalam sistim surveilans.
Pembuatan policy dan kebijakan pemberantasan penyakit

b. Bagaimana cara mengambil sumber data surveilans epidemiologi?
Sumber data dalam surveilans epidemiologi dikumpulkan melalui sistem
pelaporan yang ada. Pengumpulan data surveilans dapat dilakukan melalui surveilans
aktif dan pasif. Pada surveilans aktif didapatkan data primer yang dikumpulkan
secara langsung dari penderita di lokasi dan sarana kejadian penyakit. Sedangkan
pada surveilans pasif didapatkan data sekunder yang dikumpulkan dari sumber data
laporan rutin yang ada atau sumber khusus tambahan lain sesuai variabel yang
diperlukan. Surveilans secara rutin sering menggunakan cara ini. Selain itu ada data
tersier yaitu data yang diambil dari hasil kajian, analisis data atau makalah yang telah
dipublikasikan. Besarnya sumber data sangat tergantung pada populasi, yaitu data
yang diambil dari semua penduduk merupakan data yang diamati atau yang berisiko
terkena penyakit (reference population) di suatu wilayah dimana penyakit terjadi
(desa, kecamatan, kabupaten, provinsi atau negara).
Di kabupaten, pengambilan data surveilans dilakukan melalui laporan sarana
kesehatan (Puskesmas) yang menjangkau seluruh wilayah kabupaten. Untuk data
sampel, data yang diambil adalah dari sebagian penduduk atau sebagian Puskesmas
yang dianggap mewakili seluruh penduduk atau wilayah dimana kejadian penyakit
5

berlangsung atau berisiko terkena penyakit. Dalam survei khusus cara ini sering
dilakukan karena lebih cepat dan murah. Bila menggunakan sampel, pemilihan
sampel biasanya dilakukan mengikuti ketentuan statistik. Pertama, perlu menentukan
unit sampel yang akan dipilih yaitu sampel perorangan atau kelompok (kluster),
sehingga langkah selanjutnya dapat membuat daftar unit sampel secara berurutan,
dan menetapkan besar atau jumlah sampel.
Besar sampel ditentukan oleh populasi penduduk yang akan diwakili dan
perkiraan besarnya prevalensi dari penyakit yang dipantau. Umumnya makin besar
jumlah sampel, makin baik informasi yang dihasilkan tentang penduduk yang
diwakilinya. Sampel dapat berganti setiap waktu dan setiap pengamatan, atau dapat
berupa sampel tetap untuk diikuti terus selama periode pengamatan (sentinel, kohort).
Data dapat dikumpulkan sesaat, yaitu data tentang kejadian penyakit atau kematian
yang dikumpul pada tempat dan saat kejadian penyakit sedang berlangsung (cross
sectional). Data penyakit sesaat tersebut (prevalens) dapat dikumpul dalam suatu
periode waktu yang singkat (misalnya 1 hari, disebut point prevalence) atau periode
yang lebih panjang (minggu, bula, tahun, disebut period prevalence). Data kejadian
di waktu lalu, yaitu data yang dikumpul tentang kejadian penyakit atau kematian
yang sudah terjadi pada waktu lalu (restrospective).
Untuk pengumpulan data surveilans diperlukan alat bantu yang harus
disiapkan lebih dulu. Alat bantu pengumpulan data dapat berupa daftar register
penderita, kuesioner, formulir, tabel atau cheklist yang memuat variabel yang
berkaitan dengan penyakit yang diamati. Alat bantu baku disediakan untuk
pengumpulan data rutin. Pada KLB/ wabah perlu dibuatkan alat bantu baru tentang
faktor penyebab dan faktor risiko penularan yang berkaitan dengan penyakit pada
KLB/wabah tersebut.
Pengumpulan data membutuhkan serangkaian kegiatan pengelolaan
tersendiri oleh tim surveilans meliputi perencanaan kegiatan, pengorganisasian,
pembiayaan dan penjadwalan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi hasil
pengumpulan data. Pengumpulan data pada Surveilans Epidemilogi Terpadu pada
unit surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyimpulkan data dari :
1. Laporan bulanan Puskesmas (form 4, STP.Plus)
6

2. Laporan bulanan rumah sakit (form 5a dan 5b, STP.RS)
3. Laporan bulanan laboratorium (form 6a. STP.Lab 1 dan form 6b. STP.Lab 2)
4. Laporan mingguan PWS-KLB (form 3. PWS-KLB).
Berikut adalah macam-macam sumber data dalam surveilans epidemiologi
(Kepmenkes RI No.1116/Menkes/SK/VIII/2003):
Data kesakitan yang dapat diperoleh dari unit kesehatan dan masyarakat
Data kematian yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan serta
laporan dari kantor pemerintah dan masyarakat
Data demografi yang dapat diperoleh dari unit statistik kependudukan dan
masyarakat
Data geografi yang dapat diperoleh dari Unit Metereologi dan Geofisika
Data laboratorium yang dapat diperoleh dari unit pelayanan kesehatan dan
masyarakat
Data kondisi lingkungan
Laporan wabah
Laporan penyelidikan wabah/KLB
Laporan hasil penyelidikan kasus perorangan
Studi epidemiologi dan hasil penelitian lainnya
Data hewan dan vektor sumber penularan penyakit yang dapat diperoleh dari
unit pelayanan kesehatan dan masyarakat
Laporan kondisi pangan

Waktu pengumpulan data pada sistem surveilans meliputi :
a. Rutin bulanan. Laporan yang berkaitan dengan perencanaan dan evaluasi program
dari sumber data yang dilakukan oleh Puskesmas yaitu SP2TP (Sistem Pencatatan
dan Pelaporan Terpadu Puskesmas).
b. Rutin harian dan mingguan. Laporan tersebut berkaitan dengan Sistem
Kewaspadaan Dini (SKD) dari kejadian Luar Biasa (KLB).
c. Insidensitil adalah laporan sewaktu-waktu seperti laporan W1 untuk Kejadian
Luar Biasa (KLB).
d. Laporan berdasarkan hasil survei.

c. Apa peran kegiatan statistik dalam surveilans epidemiologi?
Dalam surveilans epidemiologi, kegiatan statistik memiliki peranan penting
terutama dalam pengolahan data. Kegiatan statistik dalam surveilans epidemiologi
7

meliputi pemilihan dan pengumpulan sampel yang akan diteliti dengan metode
tertentu, penyusunan rancangan kuesioner dengan memperhatikan syarat-syarat baku,
pengolahan dan analisis data dengan metode tertentu untuk menghasilkan hasil yang
akurat, pengujian hipotesis, pembuatan kesimpulan umum dan presentasi data.

2. Pada bulan Januari s/d Maret 2013 terjadi peningkatan kasus DBD yang baru disadari
setelah terjadi peningkatan jumlah pasien yang dikirim ke RSU Daerah karena
perawatan darurat yang disiapkan di puskesmas tidak bisa menampung pasien yang
indikasi dirawat.

a. Apa kriteria KLB?
Menurut Permenkes 1501 Tahun 2010 yang menjadi kriteria Kejadian Luar Biasa
(KLB) adalah sebagai berikut :
Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau
tidak dikenal pada suatu daerah.
Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu
dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis
penyakitnya.
Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 bulan menunjukkan kenaikan
dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per bulan
dalam tahun sebelumnya.
Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 tahun menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian
kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 kurun
waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan
angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu
yang sama.
Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu
periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.



8

b. Apa tujuan penyelidikan KLB dan wabah?
Tujuan penyelidikan KLB selalu dimulai dengan tujuan utama mengadakan
penanggulangan dan pengendalian KLB, dengan beberapa tujuan khusus, di
antaranya :
Memastikan diagnosis penyakit
Menetapkan KLB
Menentukan sumber dan cara penularan
Mengetahui keadaan penyebab KLB

3. dr. Bagus melakukan evaluasi setelah mengalami peristiwa KLB dan menyadari bahwa
stafnya belum memiliki pemahaman dan keterampilan mengenai surveilans.

a. Apa saja yang harus diketahui dan keterampilan yang harus dimiliki oleh staf
Puskesmas mengenai surveilans epidemiologi?
Jawab:
Staf Puskesmas harus memiliki kemampuan serta pengetahuan dalam setiap kegiatan
surveilans epidemiologi baik perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data,
analisis dan evaluasi. Selain itu dalam pelaksanaanya staf puskesmas harus memiliki
keahlian yang saling mendukung dalam pembuatan surveilans epidemiologi. Secara
detail, kegiatan surveilans puskesmas adalah
1. Rencana analisis surveilans epidemiologi kesehatan
2. Pengumpulan, validasi, dan pengolahan data, serta pembuatan laporan
3. Pengiriman laporan
4. Pemantauan kecenderungan terjadinya KLB dengan PWS (mingguan), penyakit,
dan program
5. Konfirmasi dugaan adanya KLB (SKD-KLB)
6. Pertemuan analisis data surveilans
7. Surveilans aktif ke pelayanan swasta



9

IV. HIPOTESIS
Peningkatan kasus DBD di Puskesmas Maju pada Januari-Maret 2013 akibat pelaksanaan
surveilans epidemiologi tidak secara rutin sehingga dibutuhkan evaluasi dan pelatihan staf
Puskesmas tentang keterampilan penyelidikan wabah, studi epidemiologi, dan kegiatan
statistika.

V. LEARNING ISSUE

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
A. Pengertian KLB
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No . 949/ MENKES/SK/VII/2004,
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian
yang bermakna secara epidemiologi dalam kurun waktu dan daerah tertentu. Untuk
penyakit-penyakit endemis, maka KLB didefinisikan sebagai : suatu peningkatan
jumlah kasus yang melebihi keadaan biasa, pada waktu dan daerah tertentu. Pada
penyakit yang lama tidak muncul atau baru pertama kali muncul di suatu daerah (non-
endemis), adanya satu kasus belum dapat dikatakan sebagai suatu KLB. Untuk keadaan
tersebut definisi KLB adalah : suatu episode penyakit dan timbulnya penyakit pada dua
atau lebih penderita yang berhubungan satu sama lain. Hubungan ini mungkin pada
faktor saat timbulnya gejala (onset of illness), faktor tempat (tempat tinggal, tempat
makan bersama, sumber makanan), faktor orang (umur, jenis kelamin, pekerjaan dan
lainnya).

B. Kriteria KLB
Kejadian luar biasa meliputi hal yang sangat luas, maka untuk mempermudah
penetapan diagnosis KLB, ada 7 kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) Menurut
Permenkes 1501 Tahun 2010 adalah :
a) Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau
tidak dikenal pada suatu daerah.
b) Peningkatan kejadian kesakitan terus-menerus selama 3 (tiga) kurun waktu
dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
10

c) Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari, atau minggu menurut jenis
penyakitnya.
d) Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 bulan menunjukkan kenaikan
dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata jumlah per bulan
dalam tahun sebelumnya.
e) Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 tahun menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian
kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
f) Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 kurun
waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan
angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu
yang sama.
g) Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya
dalam kurun waktu yang sama.

C. Ruang Lingkup KLB
Ruang lingkup KLB tidak hanya sebatas pada penyakit infeksi menular saja, ada tiga
kategori penyakit yang masuk dalam KLB, yaitu :
a) Penyakit menular :misalnya Flu Burung (Avian Influenza).
b) Penyakit tidak menular : misalnya gizi buruk, keracunan makanan, keracunan
pestisida.
c) Bencana alam disertai dengan wabah penyakit : misalnya bencana alam banjir
yang menimbulkan penyakit penyakit kencing tikus (Leptospirosis).

D. Kewaspadaam dan Kesiapsiagaan Terhadap KLB
Kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB meliputi peningkatan kegiatan
surveilans untuk deteksi dini kondisi rentan KLB; peningkatan kegiatan surveilans
untuk deteksi dini KLB; penyelidikan epidemiologi adanya dugaan
11

KLB; kesiapsiagaan menghadapi KLB dan mendorong segera dilaksanakan tindakan
penanggulangan KLB.
1. Deteksi Dini Kondisi Rentan KLB
Deteksi dini kondisi rentan KLB merupakan kewaspadaan terhadap timbulnya
kerentanan masyarakat, kerentanan lingkungan-perilaku, dan kerentanan pelayanan
kesehatan terhadap KLB dengan menerapkan cara-cara surveilans epidemiologi
atau Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) kondisi rentan KLB.
Identifikasi timbulnya kondisi rentan KLB dapat mendorong upayaupaya
pencegahan terjadinya KLB dan meningkatkan kewaspadaan berbagai pihak
terhadap KLB.
- Identifikasi Kondisi Rentan KLB
Mengidentifikasi secara terus menerus perubahan kondisi lingkungan,
kuwalitas dan kwantitas pelayanan kesehatan, kondisi status kesehatan
masyarakat yang berpotensi menimbulkan KLB di daerah.
- Pemantauan Wilayah Setempat Kondisi Rentan KLB
Setiap Sarana Pelayanan Kesehatan merekam data perubahan kondisi
rentan KLB menurut desa atau kelurahan atau lokasi tertentu lainnya,
menyusun tabel dan grafik pemantauan wilayah setempat kondisi rentan
KLB.
Setiap kondisi rentan KLB dianalisis terus menerus dan sistematis untuk
mengetahui secara dini adanya ancaman KLB.
Penyelidikan Dugaan Kondisi Rentan KLB dilakukan dengan cara:
- Sarana Pelayanan Kesehatan secara aktif mengumpulkan informasi
kondisi rentan KLB dari berbagai sumber termasuk laporan perubahan
kondisi rentan oleh masyarakat perorangan atau kelompok.
- Di Sarana Pelayanan Kesehatan, petugas kesehatan meneliti serta
mengkaji data kondisi rentan KLB, data kondisi kesehatan lingkungan dan
perilaku masyarakat, status kesehatan masyarakat, status pelayanan
kesehatan.
- Petugas kesehatan mewawancarai pihak-pihak terkait yang patut diduga
mengetahui adanya perubahan kondisi rentan KLB.
12

- Mengunjungi daerah yang dicurigai terdapat perubahan kondisi rentan
KLB.
2. Deteksi Dini Kejadian Luar Biasa (KLB)
Deteksi dini KLB merupakan kewaspadaan terhadap timbulnya KLB dengan
mengidentifikasi kasus berpotensi KLB, pemantauan wilayah setempat terhadap
penyakit-penyakit berpotensi KLB dan penyelidikan dugaan KLB.
a) Identifikasi Kasus Berpotensi KLBSetiap kasus berpotensi KLB yang
datang ke Unit Pelayanan Kesehatan, diwawancarai kemungkinan adanya
penderita lain di sekitar tempat tingggal, lingkungan sekolah, lingkungan
perusahaan atau asrama yang kemudian dapat disimpulkan dugaan adanya
KLB. Adanya dugaan KLB pada suatu lokasi tertentu diikuti dengan
penyelidikan.
b) Pemantauan Wilayah Setempat Penyakit Berpotensi KLBSetiap Unit
Pelayanan Kesehatan merekam data epidemiologi penderita penyakit
berpotensi KLB menurut desa atau kelurahan. Setiap Unit Pelayanan
Kesehatan menyusun tabel dan grafik pemantauan wilayah setempat KLB
sebagaimana lampiran grafik PWS-KLB.
c) Setiap Unit Pelayanan Kesehatan melakukan analisis terus menerus dan
sistematis terhadap perkembangan penyakit yang berpotensi KLB di
daerahnya untuk mengetahui secara dini adanya KLB. Adanya dugaan
peningkatan penyakit dan faktor resiko yang berpotensi KLB diikuti dengan
penyelidikan.
d) Penyelidikan Dugaan KLB
Penyelidikan dugaan KLB dilakukan dengan cara :
- Di Unit Pelayanan Kesehatan, petugas kesehatan menanyakan setiap
pengunjung Unit Pelayanan Kesehatan tentang kemungkinan adanya
peningkatan sejumlah penderita penyakit yang diduga KLB pada lokasi
tertentu.
- Di Unit Pelayanan Kesehatan, petugas kesehatan meneliti register rawat
inap dan rawat jalan terhadap kemungkinan adanya peningkatan kasus
13

yang dicurigai pada lokasi tertentu berdasarkan alamat penderita, umur
dan jenis kelamin atau karakteristik lain.
- Petugas kesehatan mewawancarai kepala desa, kepala asrama dan
setiap orang yang mengetahui keadaan masyarakat tentang adanya
peningkatan penderita penyakit yang diduga KLB.
- Membuka pos pelayanan di lokasi yang diduga terjadi KLB dan
menganalisis data penderita berobat untuk mengetahui kemungkinan
adanya peningkatan penyakit yang dicurigai.
- Mengunjungi rumah-rumah penderita yang dicurigai atau kunjungan
dari rumah ke rumah terhadap semua penduduk tergantung pilihan tim
penyelidikan.
3. Deteksi Dini KLB melalui Pelaporan Kewaspadaan KLB oleh Masyarakat
Laporan kewaspadaan KLB merupakan laporan adanya seorang atau
sekelompok penderita atau tersangka penderita penyakit berpotensi KLB pada
suatu daerah atau lokasi tertentu. Isi laporan kewaspadaan terdiri dari jenis penyakit;
gejala-gejala penyakit; desa/lurah, kecamatan dan kabupaten/kota tempat kejadian;
waktu kejadian; jumlah penderita dan jumlah meninggal. Perorangan dan organisasi
yang wajib membuat Laporan Kewaspadaan KLB antara lain :
a) Orang yang mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita penyakit
berpotensi KLB, yaitu orang tua penderita atau tersangka penderita, orang
dewasa yang tinggal serumah dengan penderita atau tersangka penderita,
Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun Warga, Ketua Rukun Kampung atau
Kepala Dukuh yang mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita
tersebut.
b) Petugas kesehatan yang memeriksa penderita, atau memeriksa bahan-bahan
pemeriksaan penderita penyakit berpotensi KLB, yaitu dokter atau petugas
kesehatan, dokter hewan yang memeriksa hewan sumber penyakit menular
berpotensi KLB dan petugas laboratorium yang memeriksa spesimen
penderita atau tersangka penderita penyakit berpotensi KLB.
c) Kepala stasiun kereta api, kepala pelabuhan laut, kepala bandar udara,
kepala terminal kendaraan bermotor, kepala asrama, kepala sekolah,
14

pimpinan perusahaan, kepala kantor pemerintah dan swasta, kepala Unit
Pelayanan Kesehatan.
d) Nakhoda kapal, pilot pesawat terbang, dan pengemudi angkutan darat.
4. Kesiapsiagaan Menghadapi KLB
Kesiapsiagaan menghadapi KLB dilakukan terhadap sumber daya manusia,
sistem konsultasi dan referensi, sarana penunjang, laboratorium dan anggaran biaya,
strategi dan tim penanggulangan KLB serta jejaring kerja tim penanggulangan KLB
Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat.
a) Kesiapsiagaan Sumber Daya Manusia.
Tenaga yang harus disiapkan adalah tenaga dokter, perawat, surveilans
epidemiologi, sanitarian dan entomologi serta tenaga lain sesuai dengan
kebutuhan. Tenaga ini harus menguasai pedoman penyelidikan dan
penanggulangan KLB yang diprioritaskan di daerahnya.Pada daerah yang
sering terjadi KLB harus memperkuat sumber daya manusia sampai di
Puskesmas, Rumah Sakit dan bahkan di masyarakat, tetapi pada KLB yang
jarang terjadi memerlukan peningkatan sumber daya manusia di Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Propinsi dan atau di
Departemen Kesehatan saja.
b) Kesiapsiagaan Sistem Konsultasi dan Referensi
Setiap KLB mempunyai cara-cara penyelidikan dan penanggulangan yang
berbeda-beda, bahkan setiap daerah memiliki pola KLB yang berbeda-beda
juga. Oleh karena itu, setiap daerah harus mengidentifikasi dan bekerjasama
dengan para ahli, baik para ahli setempat, Kabupaten/Kota atau Propinsi lain,
nasional dan internasional, termasuk rujukan laboratorium. Kesiapsiagaan
juga dilakukan dengan melengkapi kepustakaan dengan referensi berbagai
jenis penyakit berpotensi KLB.
c) Kesiapsiagaan Sarana Penunjang dan Anggaran Biaya
Sarana penunjang penting yang harus dimiliki adalah peralatan komunikasi,
transportasi, obat-obatan, laboratorium, bahan dan peralatan lainnya,
termasuk pengadaan anggaran dalam jumlah yang memadai apabila terjadi
suatu KLB.
15

d) Kesiapsiagaan Strategi dan Tim Penanggulangan KLB
Setiap daerah menyiapkan pedoman penyelidikanpenanggulangan KLB dan
membentuk tim penyelidikanpenanggulangan KLB yang melibatkan lintas
program dan UnitUnit Pelayanan Kesehatan.
e) Kesiapsiagaan Kerjasama Penanggulangan KLB
Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota;
Dinas Kesehatan Propinsi dan Departemen Kesehatan melalui Ditjen
PPM&PL serta unit terkait membangun jejaring kerjasama penanggulangan
KLB.
5. Tindakan Penanggulangan KLB Yang Cepat dan Tepat.
Setiap daerah menetapkan mekanisme agar setiap kejadian KLB dapat
terdeteksi dini dan dilakukan tindakan penanggulangan dengan cepat dan tepat.
6. Advokasi dan Asistensi Penyelenggaraan SKD-KLB
Penyelenggaraan SKD-KLB dilaksanakan terus menerus secara sistematis di
tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota dan di masyarakat yang membutuhkan
dukungan politik dan anggaran yang memadai di berbagai tingkatan tersebut untuk
menjaga kesinambungan penyelenggaraan dengan kinerja yang tinggi.
7. Pengembangan SKD-KLB Darurat
Apabila diperlukan untuk menghadapi ancaman terjadinya KLB
penyakit tertentu yang sangat serius dapat dikembangkan dan atau ditingkatkan
SKD-KLB penyakit tertentu dan dalam periode waktu terbatas dan wilayah terbatas.

E. Langkah Langkah Menghadapi KLB
Didalam epidemiologi prinsip dasar dalam mengahadapi wabah umumnya sama,
pada penyakit menular maupun pada penyakit tidak menular.
1) Garis besar pelacakan wabah / Kejadian Luar BiasaPengumpulan data dan
informasi secara saksama langsung di lapangan / tempat kejadian. Langkah
langkah ini merupakan pedoman dasar yang kemudian harus dikembangkan
sendiri oleh setiap investigator (pelacak) dalam menjawab setiap pertanyaan yang
mungkin timbul dalam kegiatan pelacakan tersebut. Walaupun penentuan langkah
langkah tersebut sangat bergantung pada tim pelacak, namun beberapa hal yang
16

bersifat prinsip dasar seperti penentuan diagnosis serta penentuan adanya wabah
harus mendapatkan perhatian lebih awal dan harus ditetapkan sedini mungkin.
2) Analisis situasi awal
Pada tahap awal pelacakan suatu situasi yang diperkirakan bersifat wabah atau
situasi luar biasa dengan melakukan kegiatan awal berupa:
Penentuan/penegakan diagnosis
Untuk kepentingan diagnosis maka diperlukan penelitian/ pengamatan
klinis dan pemeriksaan laboratorium. Harus diamati secara tuntas apakah
laporan awal yang diperoleh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
(perhatikan tingkat kebenarannya). Umumnya wabah penyakit demam
berdarah harus jelas secara klinis maupun laboratorium. Hal ini mengingat
bahwa gejala demam berdarah dapat didiagnosis secara tidak tepat, di
samping itu pemeriksaan laboratorium kadang kadang harus dilakukan
lebih dari satu kali.
Penentuan adanya wabah
Sesuai dengan definisi wabah atau kejadian luar biasa (KLB) maka untuk
menentukan apakah situasi yang sedang dihadapi adalah wabah atau tidak,
perlu diusahakan untuk melakukan perbandingan keadaan jumlah kasus
sebelumnya untuk melihat apakah terjadi kenaikan frekuensi yang istimewa
atau tidak. Artinya apakah jumlah kasus yang dihadapi jauh lebih banyak
dari sebelumnya, atau apakah jumlah kasus lebih tinggi dari yang
diperkirakan (estimated) sebelumnya.
Uraian keadaan wabah
Bila keadaan dinyatakan wabah ,segera melakukan uraian keadaan wabah
berdasarkan tiga unsur utama yakni waktu, tempat dan orang. Membuat
kurva epidemic dengan menggambarkan penyebaran kasus menurut waktu
mulainya timbul gejala penyakit. Di samping itu, gambarkan penyebaran
sifat epidemic berdasarkan penyebaran kasus menurut tempat/ secara
geografis (spot map epidemi).
3) Analisis lanjutan
17

Setelah melakukan analisis awal dan menetapkan adanya situasi wabah maka
selain tindak pemadaman wabah, perlu dilakukan pelacakan lanjut serta analisis
situasi secara berkesinambungan. Ada beberapa hal pokok yang perlu
mendapatkan perhatian pada tindak lanjut tersebut, yaitu:
Usaha penemuan kasus tambahan
Untuk usaha penemuan kasus tambahan, harus ditelusuri kemungkinan
dengan menggunakan berbagai cara, antara lain :
- Pelacakan ke rumah sakit dan ke dokter praktik umum setempat
untuk mencari kemungkinan mereka menemukan penderita
penyakit yang sedang diteliti dan belum termasuk dalam laporan
yang ada.
- Pelacakan dan pengawasan yang intensif terhadap mereka yang
tanpa gejala atau mereka dengan gejala ringan/ tidak spesifik,
tetapi mempunyai potensi menderita atau termasuk kontak dengan
penderita. Keadaan ini sering dijumpai pada beberapa penyakit
tertentu yang selain penderita dengan klinis jelas, juga
kemungkinan adanya penderita dengan gejala ringan dan tanpa
gejala kunig, di mana diagnosis pastinya hanya mungkin
ditegakkan dengan melalui pemeriksaan laboratorium
Analisis data
Analisis data dilakukan secara berkesinambunagn sesuai dengan tambahan
informasi yang didapatkan dan laporkan hasil interpretasi data tersebut.
Menegakkan hipotesis
Berdasarkan hasil analisis dari seluruh kegiatan, dibuatlah keputusan hasil
analisis yang bersifat hipotesis tentang keadaan yang diperkirakan. Dalam
hal ini harus diperhatikan bahwa kesimpulan dari semua fakta yang
ditemukan dan diketahui harus sesuai dengan apa yang tercantum dalam
hipotesis tersebut.
Tindakan pemadaman wabah dan tindak lanjut
Tindakan pemadaman suatu wabah diambil berdasarkan hasil analisis dan
sesuai denga keadaan wabah yang terjadi. Harus diperhatikan bahwa
18

setiap tindakan pemadaman wabah disertai dengan berbagai kegiatan
tindak lanjut ( follow up) sampai keadaan sudah normal kembali. Biasanya
kegiatan tindak lanjut dan pengamatan dilakukan sekurang kurangnya dua
kali masa tunas penyakit yang mewabah. Setelah keadaan normal, maka
untuk beberapa penyekit tertentu yang mempunyai potensi untuk
menimbulkan wabah (keadaan luar biasa) susulan, harus disusunkan suatu
program pengamatan yang berkesinambungan dalam bentuk surveilans
epidemiologi, terutama pada kelompok dengan resiko tinggi.

F. Penanggulangan KLB
Penanggulangan KLB adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menangani penderita,
mencegah perluasan KLB, mencegah timbulnya penderita atau kematian baru pada
suatu KLB yang sedang terjadi. Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem
Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan
dan penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi
KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan terus-menerus
yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu
perubahan status kesehatan masyarakat. Upaya penanggulangan KLB meliputi:
a. Penyelidikan epidemiologis;
Mengetahui sebab-sebab penyakit wabah
Menentukan faktor penyebab timbulnya wabah
Mengetahui kelompok masyarakat yang terancam terkena wabah
Menentukan cara penanggulangan wabah
Kegiatan:
Mengumpulkan data morbiditas dan mortalitas penduduk
Pemeriksaan klinis, fisik, laboratorium dan penegakan diagnosis
Pengamatan terhadap penduduk, pemeriksaan, terhadap makhluk hidup dan
benda-benda yang ada di suatu wilayah yang diduga mengandung penyebab
penyakit wabah
b. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan
karantina, tujuannya adalah:
19

Memberikan pertolongan medis kepada penderita agar sembuh dan
mencegah agar mereka tidak menjadi sumber penularan
Menemukan dan mengobati orang yang tampaknya sehat, tetapi
mengandung penyebab penyakit sehingga secara potensial dapat
menularkan penyakit (carrier)
c. Pencegahan dan pengebalan; tindakan-tindakan yang dilakukan untuk memberi
perlindungan kepada orang-orang yang belum sakit, tetapi mempunyai resiko
terkena penyakit.
d. Pemusnahan penyebab penyakit, terutama pemusnahan terhadap bibit
penyakit/kuman dan hewan tumbuh-tumbuhan atau benda yang mengandung
bibit penyakit.
e. Penanganan jenazah akibat wabah; penanganan jenazah yang kematiannya
disebabkan oleh penyakit yang menimbulkan wabah atau jenazah yang
merupakan sumber penyakit yang dapat menimbulkan wabah harus dilakukan
secara khusus menurut jenis penyakitnya tanpa meninggalkan norma agama
serta harkatnya sebagai manusia. Penanganan secara khusus itu meliputi
pemeriksaan jenazah oleh petugas kesehatan dan perlakuan terhadap jenazah
serta sterelisisasi bahan-bahan dan alat yang digunakan dalam penanganan
jenazah diawasi oleh pejabat kesehatan.
f. Penyuluhan kepada masyarakat, yaitu kegiatan komunikasi yang bersifat
persuasif edukatif tentang penyakit yang dapat menimbulkan wabah agar mereka
mengerti sifat-sifat penyakit, sehingga dapat melindungi diri dari penyakit
tersebut dan apabila terkena, tidak menularkannya kepada orang lain.
Penyuluhan juga dilakukan agar masyarakat dapat berperan serta aktif dalam
menanggulangi wabah.
g. Upaya penanggulangan lainya adalah tindakan-tindakan khusus masing-masing
penyakit yang dilakukan dalam rangka penanggulangan wabah.




20

DAFTAR PUSTAKA
Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan. (Online)
(http://www.scribd.com/doc/87009816/KMK-No-1116-Ttg-Pedoman-Penyelenggaraan-
Sistem-Surveilans-Epidemiologi-Kesehatan, diakses 2 Juni 2014)
Murti, Bhisma. Investigasi Outbreak. (Online) (http://fk.uns.ac.id/index.php/download/file/16,
diakses 2 Juni 2014)
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No . 949/ MENKES/SK/VII/2004 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini KLB. (Online)
(http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ve
d=0CCEQFjAA&url=http%3A%2F%2Fdinkes.ntbprov.go.id%2Fsistem%2Fdata-
dinkes%2Fuploads%2F2013%2F10%2FPermenkes-949-2004-Pedoman-Penyelenggaraan-
KLB.pdf&ei=2ACOU9rCLNGiugSOlIGQAw&usg=AFQjCNEBTeqIm8Yda2U8e0mNp_umOz
XNHw, diakses 2 Juni 2014)

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menteri/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular
Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan. (Online)
(http://www.ziddu.com/download/18494857/PermenkesNo.1501thn2010PMWABAH.p
df.html, diakses 2 Juni 2014)

Anda mungkin juga menyukai