Anda di halaman 1dari 19

1

Kemoterapi Adjuvantt Pada Wanita Tua yang Menderita Ca.


Mamma Stadium Dini
Hyman B. Muss, M.D., Donald A. Berry, Ph.D., Constance T. Cirrincione, M.S., Maria
Theodoulou, M.D., Ann M. Mauer, M.D., Alice B. Kornblith, Ph.D., Ann H. Partridge, M.D.,
M.P.H., Lynn G. Dressler, Ph.D., Harvey J. Cohen, M.D., Heather P. Becker, Patricia A.
Kartcheske, B.S., Judith D. Wheeler, M.P.H., Edith A. Perez, M.D., Antonio C. Wolff, M.D., Julie
R. Gralow, M.D., Harold J. Burstein, M.D., Ph.D., Ahmad A. Mahmood, M.D., Gustav Magrinat,
M.D., Barbara A. Parker, M.D., Ronald D. Hart, M.D., Debjani Grenier, M.D., Larry Norton,
M.D., Clifford A. Hudis, M.D., and Eric P. Winer, M.D., for the CALGB Investigators*

I. Abstrak
Latar Belakang
Wanita tua yang menderita ca. mamma kurang diperhitungkan pada
percobaan klinis dan data tentang efek kemoterapi adjuvantt pada pasien tersebut
sangat kurang. Peneliti menguji capacitadine sebagai perbandingan terhadap
kemoterapi standar pada wanita dengan ca. mamma yang berusia 65 tahun atau
lebih.
Metode
Peneliti secara acak memberikan kemoterapi standar kepada pasien ca.
mamma stadium I, II, IIIA atau IIIB (baik cyclophosphamide, methotrexate dan
fluorouracil atau cyclophosphamide + doxorubicin) atau capecitabine. Terapi
endokrin direkomendasikan setelah kemoterapi pada pasien dengan tumor
reseptor-hormon-positif. Sebuah desain penelitian statistik Bayesian digunakan
dengan jumlah sampel antara 600 sampai 1800 pasien. Titik akhirnya adalah
survival bebas relaps.


2

Hasil
Ketika pasien ke 600 didapatkan, kemungkinannya adalah bahwa dengan
follow up yang lebih lama, terapi capecitabine cenderung lebih buruk
dibandingkan dengan kemoterapi standar sesuai tingkat yang diresepkan, sehingga
penelitiannya dihentikan. Setelah setahun follow-up tambahan, rasio bahaya
rekurensi penyakit atau terjadinya kematian pada kelompok capecitabine adalah
2.09% (interval kepercayaan 95%, 1.38 hingga 3.17; P < 0.0001). Pasien yang
secara acak diberikan capecitabine memiliki kecenderungan 2 kali lipat
mengalami relaps dan hampir 2 kali lipat meninggal jika dibandingkan dengan
pasien yang secara acak diberikan kemoterapi standar (P=0.02). Pada saat 3 tahun,
tingkat survival bebas relaps pada pasien dalam kelompok capecitabine adalah
sebesar 68% jika dibandingkan dengan kelompok kemoterapi standar yaitu 85%,
dan tingkat survival rata-rata adalah 86% dibanding 91%. 2 pasien pada kelompok
capecitabine meninggal karena komplikasi terkait terapi; jika dibandingkan
dengan pasien yang menerima capecitabine, pasien yang menerima kemoterapi
standar memiliki resiko 2 kali lipat menderita efek toksik sedang sampai berat (64%
dibanding dengan 33%).
Kesimpulan
Kemoterapi adjuvant standar lebih baik daripada capecitadine pada pasien dengan
ca. mamma stadium dini yang berusia 65 tahun atau lebih.
Usia merupakan faktor resiko utama terjadinya ca. mamma. Di Amerika
Serikat, umur rata-rata pada saat diagnosis ca. mamma adalah sekitar 63 tahun,
dan kebanyakan kematian karena ca. mamma terjadi pada wanita berusia 65 tahun
atau lebih. Ca. mamma pada wanita tua tidak selamanya ditangani berdasarkan
3

pedoman terapi, dan perubahan tersebut dapat mempengaruhi survival. Walaupun
kemoterapi adjuvant memiliki survival yang baik pada wanita dengan ca. mamma
stadium dini, analisis 15 tahun oleh Oxford Overview memasukkan terlalu sedikit
pasien yang berusia lebih tua dari 70 tahun untuk mengetahui efek kemoterapi
pada kelompok usia tersebut secara akurat. Wanita tua yang menderita ca.
mamma dengan kesehatan yang baik dapat mentoleransi kemoterapi sebaik pasien
yang lebih muda, dan semakin parah tingkat toksisitas kemoterapi pada pasien
yang lebih tua tidak mempengaruhi keuntungan dari kemoterapi adjuvant tersebut.
Peneliti melaporkan hasil percobaan Cancer and Leukemia Group B
(CALGB) 49907 yang didesain secara spesifik untuk membandingkan keefektifan
kemoterapi standar (baik cyclophosphamide, methotrexate, dan fluorouracil [CMF]
atau doxorubicin + cyclophosphamide) dengan prodrug fluorouracil oral,
capecitabine, pada wanita berusia 65 tahun atau lebih yang menderita ca. mamma
stadium dini. Pasien sering memilih kemoterapi oral dibandingkan kemoterapi
intravena, dan obat oral yang efektif untuk terapi adjuvant penting untuk
mengobati wanita tua yang menderita ca. mamma.
Capecitabine memiliki aktifitas antitumor substansial pada ca. mamma
metastatik, dengan tingkat respon sekitar 30%. Pada percobaan acak yang kecil
yang melibatkan wanita yang menderita ca. mamma metastatik, aktifitas
capecitabine sama dengan paclitaxel atau CMF, membuatnya menjadi obat
alternatif potensial untuk kemoterapi adjuvant standar.



4

II. Metode
Pasien
Wanita yang memenuhi syarat adalah yang berusia 65 tahun atau lebih dan
menderita adenocarcinoma mamma operabel yang telah dikonfirmasi secara
histologis, dengan status penampilan 0 sampai 2 (berdasarkan kriteria National
Cancer Institute [NCI]) dan tumor dengan diameter > 1 cm; status terkait estrogen
reseptor, progesterone reseptor, dan human epidermal growth factor receptor type
2 (HER2) tidak dianggap sebagai kriteria yang memenuhi syarat. Diperlukan
fungsi hematologis, renal, dan hepatik yang adekuat serta batas bedah yang jelas
untuk komponen invasif tumor. Penanganan axilla merupakan pilihan pasien dan
ahli bedahnya. Pasien dengan tumor reseptor-hormon-positif diberikan tamoxifen
atau aromatase inhibitor setelah kemoterapi. Pasien harus memiliki kemungkinan
survival lebih dari 5 tahun dan tidak ada kondisi medis yang akan membuat terapi
dengan protokol tersebut menjadi berbahaya. Kriteria eksklusi termasuk kanker
aktif lainnya atau riwayat kanker sebelumnya dengan resiko relaps yang lebih dari
30%.

Pengacakan dan pelaksanaan penelitian
Pasien diacak dengan probabilitas yang sama untuk mendapatkan
kemoterapi standar atau capecitabine. Kemoterapi standar terdiri dari CMF atau
doxorubicin + cyclophosphamide; pilihan dibuat sesuai keinginan pasien atau
dokternya. Regimen CMF terdiri dari cyclophosphamide dengan dosis 100 mg/m
2

permukaan tubuh diberikan secara oral dari hari pertama hingga hari ke 14,
methotrexate dengan dosis 40 mg/m
2
, dan fluorouracil 600 mg/m
2
diberikan
5

secara IV pada hari ke 1 dan 8; siklusnya diulang setiap 28 hari selama total 6
siklus. Regimen doxorubicin + cyclophosphamide terdiri dari doxorubicin dengan
dosis 60 mg/m
2
, dan cyclophosphamide dengan dosis 600 mg/m
2
diberikan secara
IV pada hari ke 1; siklusnya diulang setiap 21 hari selama 4 siklus.
56 pasien pertama yang diberikan capecitabine mendapatkan 2000 mg/m2
per hari yang terbagi dalam 2 dosis selama 14 hari berturut-turut setiap 3 minggu
untuk total 6 siklus, dan dosisnya ditingkatkan menjadi 2500 mg/m
2
jika tidak ada
efek toksik pada siklus pertama. Karena efek toksisitas dari regimen ini berbahaya,
protokolnya dikembangkan untuk menghilangkan peningkatan dosis. Selama 10
minggu yang dibutuhkan, peningkatan hanya dilakukan pada kelompok
kemoterapi standar. Semua pasien diberikan infomed consent yang memenuhi
pedoman negara bagian, federal, dan isntitusional.

Analisis statistik
Percobaannya didesign untuk mengetes capecitabine jika dibandingkan
dengan kemoterapi standar sesuai dengan desain adaptif Bayesian. Titik akhirnya
adalah survival bebas relaps, yang didefinisikan sesuai dengan kriteria standar
mulai dari masa penelitian sampai rekurensi lokal, metastasis jauh, atau kematian
karena penyebab apapun yang dapat terjadi dengan cepat. Tujuan sekunder
termasuk survival rata-rata (didefinisikan mulai dari masa penelitian sampai
kematian karena penyebab apapun), adanya efek samping, kepatuhan meminum
kemoterapi oral, dan kualitas hidup serta status fungsional.
Pengukuran utama keefektifan adalah rasio bahaya rekurensi penyakit atau
kematian pada kelompok capecitabine jika dibandingkan dengan kelompok
6

kemoterapi standar. Capecitabine dianggap sama dengan kemoterapi standar jika
rasio bahaya > 0.8046. (Dengan lama penggunaan 5 tahun untuk tujuan deskriptif,
rasio ini sama dengan tingkat survival bebas relaps 5 tahun yaitu 60% untuk
kemoterapi standar dan 53% untuk capecitabine). Jumlah sampel yang
direncanakan adalah 600 sampai 1800 pasien. Monitoring interim terhadap
kegagalan dan tingkat kesamaan direncanakan setelah adanya 600, 900, 1200, dan
1500 pasien. Batas kegagalan dan tingkat kesamaan didefinisikan berdasarkan
probabilitas prediktif Bayesian dengan penggunaan distribusi noninformatif untuk
efek terapi yang sebenarnya. Analisis interim ini bukan tipe standar dimana hasil
percobaan diketahui setelah sebuah batas dilampaui. Keputusan untuk
menghentikan penelitian dibuat berdasarkan prediksi bahwa follow up yang akan
datang cenderung menghasilkan jawaban yang sudah memuaskan. Penelitian
dihentikan karena prediksi kegagalan probabilitas rasio bahaya kurang dari 0.8046
didapatkan pada setidaknya 80% dari 600 pasien, 70% dari 900 pasien, dan 60%
dari 1200 dan 1500 pasien yang telah diteliti. Kesamaan bisa didapatkan jika
probabilitas resiko bahaya > 0.8046 setidaknya 99%.
Untuk perbandingan primer terapi, Peneliti menggunakan model
proportional-hazard, disesuaikan dengan ukuran tumor, jumlah kelenjar limfe
yang ikut terkena, dan status receptor-hormon (reseptor-estrogen-positif, reseptor-
progesteron-positif, atau reseptor-estrogen-negatif dan reseptor-progesteron-
negatif). Untuk menentukan signifikansi statistik setiap variabel yang termasuk
dalam model tersebut, Peneliti menggunakan tes Wald chi-square. Estimasi
survival bebas relaps dihitung menggunakan teknik product-limit Kaplan-Meier.
Analisis ini berdasarkan pada prinsip intention-to-treat dan mencakup semua
7

pasien yang diberikan terapi. Evaluasi keamanan termasuk semua laporan efek
samping dan efek samping serius berdasarkan kriteria NCI Common Toxicity.
Karena tidak dispesifikkan, P-value yang dilaporkan memiliki 2 sisi.
Karena keuntungan kemajuan kemoterapi terbatas kepada pasien dengan
tumor estrogen-reseptor-negatif dan limfe positif, Peneliti membandingkan
keefektifan capecitabine dengan kemoterapi standar pada pasien dengan tumor
reseptor-hormon-positif dan reseptor-hormon-negatif. Post hoc analisis tidak
terancana ini tidak dijelaskan di dalam protokol. Untuk mengetes hubungan terapi
dengan status reseptor-hormon, Peneliti membandingkan capecitabine pada pasien
dengan tumor reseptor-hormon-negatif dan gabungan kelompok lain (sebagai
contoh capecitabine pada pasien dengan tumor reseptor-hormon-positif
dibandingkan dengan kemoterapi standar pada pasien dengan tumor reseptor-
hormon-positif dan tumor reseptor-hormon-negatif). Tidak dilakukan analisis
subkelompok post hoc lainnya.
Komite The CALGB Breast Cancer dan Cancer in the Elderly mendesain
penelitian ini. Obat kemoterapi standar dibeli oleh pasien, dan capecitabine
disediakan oleh NCI. Data diambil di kantor CALGB dan dianalisis oleh
statistikawan CALGB. Peneliti kepala dan peneliti pembantu bistatistika menulis
naskah, yang akan direview oleh semua peneliti yang akan menjamin keutuhan
dan keakurasian data.




8

III. Hasil
Melakukan percobaan
Percobaan dimulai pada 15 September 2001. Analisis pre-protokol yang
pertama pada November 2006 setelah didapatkannya 600 pasien, menunjukkan
adanya 16 rekurensi, metastasis jauh, atau kematian karena penyebab apapun pada
kelompok kemoterapi standar dan 24 pada kelompok capecitabine. Pada saat itu,
resiko bahaya rekurensi penyakit pada kelompok kemoterapi stander jika
dibandingkan dengan kelompok capecitabine adalah 0.53. Namun karena jumlah
kejadian yang sedikit, rasio bahaya tersebut masih tidak jelas. Tetapi probabilitas
Bayesian dari rasio bahaya kurang dari 0.8046 adalah sebesar 96% yang telah
melebihi batas 80% berdasarkan probabilitas prediktif yang pada follow-up
tambahan hasilnya akan menunjukkan suatu kegagalan. Komite data dan safety-
monitoring menghentikan percobaan tersebut pada 29 Desember 2006 setelah
medapatkan total 633 pasien. Peneliti melakukan analisis statistik untuk semua
data yang ada pada Mei 2008. Folow-up rata-rata adalah 2.4 tahun, dan follow up
paling lama adalah 5.6 tahun.
Pengacakan ditunda selama 10 minggu ketika protokolnya diubah karena
toksisitas capecitabine. 19 pasien yang didapatkan selama periode ini semua
diberikan kemoterapi standar. Analisis untuk inklusi dan eksklusi pasien tersebut
tidak menunjukkan adanya perbedaan substantif (data tidak ditunjukkan). Semua
pasien masuk kedalam analisis ini.



9

Pasien


10


Dari 633 pasien yang ada, 326 diberikan kemoterapi standar secara acak
(133 memilih CMF, 184 memilih doxorubicin + cyclophosphamide, dan 9 orang
mundur sebelum mendapatkan regimen) dan 307 diberikan capecitabine; 13
pasien (9 dari kelompok kemoterapi standar dan 4 dari kelompok capecitabine)
tidak pernah mendapatkan terapi yang diberikan. Tabel 1 menunjukkan
karakteristik pasien tersebut. Kedua kelompok tersebut seimbang kecuali sedikit
ketidakseimbangan untuk ukuran tumor (P=0.04). Sekitar
2
/
3
pasien berusia 70
tahun atau lebih, dan 5% berusia 80 tahun atau lebih. Kebanyakan memiliki status
penampilan yang baik (sebagai contoh, mereka masih dapat berjalan dan tidak
memiliki gejala), 11% berkulit hitam,
2
/
3
dengan tumor reseptor-hormon-positif,
10% menderita tumor HER-2 positif, dan 70% dengan pembesaran kelenjar limfe
positif; sekitar dari tumor tersebut memiliki diameter lebih dari 2 cm.
protokolnya diubah pada tahun 2006 untuk merekomendasikan terapi traztuzumab
11

pada pasien dengan tumor HER2-positif; 8 dari 10 pasien dengan HER2-positif
mendapatkan trastuzumab.

Survival

Tabel 2 menunjukkan tingkat survival bebas relaps, relaps, survival rata-
rata, dan kematian serta penyebab kematian. Pada follo-up rata-rata 2.4 tahun,
tingkat relaps dan kematian pada kelompok capecitabine hanpir 2 kali lipat
dibandingkan dengan kelompok kemotarapi standar. Penyebab kematian yang
paling umum pada kelompok capecitabine adalah ca. mamma (18 dari 38 pasien
[47%]), dimana pada kelompok kemoterapi standar penyebab kematian tersering
adalah kanker lain atau penyakit cardiovaskular (12 dari 24 pasien [50%]). Tabel
12

3 menunjukkan hasil analisis multivariabel. Pada model ini, berdasarkan 622
pasien, 16% mengalami rekurensi penyakit, rasio bahaya rekurensi pada
kelompok capecitabine 2 kali lipat dari kelompok kemoterapi standar (rasio
bahaya 2.09; P < 0.0001). Selain itu, tumor yang lebih besar, jumlah pembesaran
kelenjar limfe yang lebih banyak, dan status reseptor-hormon negatif dihubungkan
dengan resiko relaps yang jauh lebih besar (P=0.05, P=0.004, dan P<0.001 untuk
ketiga perbandingan tersebut). Gambar 1A menunjukkan plot Kaplan-Meier untuk
survival bebas relaps berdasarkan kelompok terapi, tanpa adanya pengaturan
variabel klinis lain.

Tabel 3 juga menunjukkan hasil survival rata-rata multivariabel. Setelah
penyesuaian variabel, pasien yang mendapatkan capecitadine memiliki resiko
kematian yang hampir 2 kali lipat daripada pasien yang mendapatkan kemoterapi
standar (rasio bahaya 1.85; P=0.02). Jika dibandingkan dengan tumor berukuran
13

kecil dan reseptor-hormon-positif, tumor yang berukuran lebih besar dan reseptor-
hormon-negatif memiliki survival yang jauh lebih pendek (P=0.02 dan P<0.001).

Gambar 1B menunjukkan plot Kaplan-Meier untuk survival rata-rata
berdasarkan kelompok terapi. Estimasi survival bebas relaps dan survival rata-rata
14

setelah 3 tahun mengindikasikan keuntungan kemoterapi standar jika
dibandingkan dengan capecitadine (survival bebas relaps 85% dibanding 68%;
survival rata-rata 91% dibanding 86%). Peneliti tidak membandingkan secara
langsung doxorubicin + cyclophosphamide dengan CMF karena regimen ini tidak
diberikan secara acak. Namun, perbandingan capecitabine edngan doxorubicine +
cyclophosphamide atau CMF sama secara kualitatif (data tidak ditunjukkan).
Gambar IC hingga IF menunjukkan perbandingan keuntungan
capecitabine dengan kemoterapi standar pada wanita dengan tumor reseptor-
hormon-positif dan dengan tumor reseptor-hormon-negatif. Hubungan antara
terapi dengan status reseptor-hormon pada post hoc analisis ini signifikan baik
untuk survival bebas relaps maupun survival rata-rata. Diantara pasien dengan
tumor reseptor-hormon-negatif yang mendapatkan capecitabine, resiko relaps
lebih dari 4 kali lipat (rasio bahaya, 4.39; CI 95%, 2.9 hingga 6.7; P < 0.001), dan
resiko kematian lebih dari 3 kali lipat (resiko bahaya, 3.76; CI 95%, 2.23 sampai
6.34; P < 0.001), jika dibandingkan dengan gabungan pasien pada kelompok
lainnya. Tidak ada hubungan signifikan antara kelompok terapi dengan survival
bebas relaps atau survival rata-rata untuk pasien dengan tumor reseptor-hormon-
positif.






15

Toksisitas

Tabel 4 menunjukkan insidens efek samping grade 3, 4, dan 5 yang
possible, probable, atau definit terhadap terapi. Ada 2 kematian karena obat pada
kelompok capecitabine. Pada pasien yang mendapatkan CMF, 70% menderita
efek samping grade 3 atau grade 4, jika dibandingkan dengan 60% pasien yang
menerima doxorubicin + cyclophosphamide dan 34% pasien yang menerima
capecitabine. Diatara pasien yang mendapatkan CMF atau doxorubicin +
cyclophosphamide, 52% dan 54% mengalami toksisitas hematologis grade 3 dan
grade 4, tatapi hanya 2% dari kelompok capecitabine yang mengalami efek toksik.
Efek samping non-hematologis grade 3 dan 4 terjadi pada 41% pasien yang
mendapatkan CMF, 25% pada yang mendapatkan doxorubicine +
cyclophpsphamide, dan 33% pada yang mendapatkan capecitabine. 2 pasien yang
16

mendapatkan doxorubicin + cyclophosphamide memerlukan transfusi PRC. Gagal
jantung kongestif terjadi pada 1 pasien yang mendapatkan CMF dan tidak ada
pada pasien yang mendapatkan doxorubicin + cyclophosphamide; myelodysplasia
terjadi pada 1 pasien yang mendapatkan capecitabine. Sebanyak total 62% pasien
pada kelompok CMF, 92% pasien pada kelompok doxaorubicin-
cyclophosphamide, dan 80% pasien pada kelompok capecitabine mendapatkan
semua siklus terapi yang direncanakan.
Pada sebuah penelitian tambahan, ketaatan minum obat capecitabine
dinilai pada 161 pasien yang menggunakan botol pil obat yang dimonitor secara
mikroelektronik. Ketaatan minum obat didefinisikan sebagai jumlah dosis yang
dipakai dibagi dengan jumlah dosis yang direncanakan. Kepatuhan didefinisikan
sebagai penerimaan 80% dosis yang direncanakan atau lebih. Dari pasien tersebut,
76% meminum lebih dari 80% dari dosis yang direncanakan, 14% meminum 60%
hingga 79% dari dosis yang direncanakan. Karakteristik klinis dari pasien tersebut
sama dengan pasien yang ada pada kelompok capecitabine. Usia tidak
berhubungan dengan kepatuhan minum obat.

Diskusi
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemoterapi adjuvant standar
dengan CMF atau doxorubicin + cyclophosphamide lebih baik daripada
capetitabine pada wanita berusia tua yang menderita ca. mamma stadium dini.
Keuntungan kemoterapi standar dinyatakan pada wanita dengan tumor reseptor-
hormon-negatif. Kebanyakan pasien mengalami efek toksik substansial. Hanya 62%
pasien yang mendapatkan CMF yang mampun menyelesaikan 6 siklus yang
17

direncanakan, dan 80% dari pasien yang mendapatkan capecitabine
menyelesaikan 6 siklus yang direncanakan. Walaupun doxorubicin +
cyclophosphamide memiliki toksisitas susbtansial, 92% pasien menyelesaikan 4
siklus, dan tidak ada laporan gangguan jantung atau leukemia. Pasien pada
percobaan ini memiliki status penampilan yang baik dan tidak ada disfungsi organ
penting. Toksisitas regimen ini terhadap pasien yang lemah mungkin lebih tinggi
daripada toksisitas yang diamati pada pasien dalam penelitian ini, dan regimen
tersebut harus diberikan secara hati-hati atau tidak semuanya pada pasien seperti
itu.
Percobaan Peneliti merupakan 1 dari sedikit percobaan yang
memfokuskan kepada kemoterapi adjuvant pada wanita tua yang menderita ca.
mamma. Sebuah penelitian kemoterapi adjuvant sebelumnya dengan wanita tua
menunjukkan bahwa menambahkan epirubicin dengan tamoxifen berhubungan
dengan perbaikan signifikan pada survival bebas relaps tetapi tidak pada survival
rata-rata, jika dibandingkan dengan tamoxifen saja. Percobaan kemotarapi
adjuvant yang menggunakan wanita yang lebih muda dari 70 tahun telah
membandingkan penggunaan kemoterapi multiagent dengan single agent dan
menunjukkan bahwa pengguaan kemoterapi multiagent lebih baik. Peneliti
memilih capecitabine sebagai single agent karena efektif ketika diberikan secara
oral dan dianggap sama, jika tidak lebih buruk, jika dibandingkan dengan CMF
untuk menangani ca. mamma metastasis. Karena penelitian acak yang besar telah
menunjukkan bahwa kemoterapi adjuvant CMF dan doxorubicin +
cyclophosphamide memiliki keefektifan yang sama, sehingga ada pilihan
18

kemoterapi standar yang membuat percobaan Peneliti atraktif bagi pasien dan
dokternya.
Analisis subkelompok menunjukkan bahwa keuntungan utama kemoterapi
standar didapatkan pada pasien dengan tumor reseptor-hormon-negatif. Penemuan
ini sama dengan Overview Oxford, yang juga menunjukkan keuntungan
kemoterapi pada wanita dengan tumor reseptor-hormon negatif tanpa memandang
usia, dan dengan observasi Peneliti sebelumnya yang menunjukkan bahwa
perbaikan kemoterapi didapatkan terbesar pada pasien dengan tumor reseptor-
hormon-negatif.
Beberapa fleksibilitas pada desain percobaan ini penting bagi pasien
berusia tua, yang jarang dipresentasikan pada percobaan acak kemoterapi kanker;
bias usia masih menjadi faktor utama dalam percobaan klinis. Percobaan Peneliti
menggunakan adaptasi dari desain statistik Bayesian; desai nini telah sukses
digunakan pada percobaan evaluasi obat lainnya.
Hasil Peneliti menunjukkan bahwa kemotarapi adjuvant memperbaiki
survival diantara wanita berusia tua. Sebuah analisis retrospektif dari 4 percobaan
acak CALGB yang membandingkan kemoterapi kurang agresif dengan
kemoterapi yang lebih agresif untuk ca. mamma nodul positif menunjukkan
bahwa semakin agresif terapi maka maka semakin baik survival bebas relaps dan
survival rata-rata, tanpa ada pengaruh usia. Namun, toksisitas lebih banyak pada
pasien yang lebih tua. Penelitian lain telah menunjukkan tingkat toksisitas jantung
dan leukemia sekunder yang lebih tinggi pada pasien berusia tua yang
mendapatkan regimen berbasis anthracycline. Regimen nonanthracycline terbaru
dapat dipertimbangkan ketika ada masalah toksistas jantung karena anthracycline.
19

Wanita berusia tua cenderung diterapi dengan dosis kemoterapi yang lebih rendah
daripada wanita muda, namun percobaan kemoterapi adjuvant untuk ca. mamma
telah menganjurkan sebuah batas dosis. Peneliti menggunakan dosis CMF dan
doxorubicin + cyclophosphamide yang telah terbukti efektif. Untuk pengobatan
pada pasien yang lebih tua, pemilihan obat kemoterapi, dosis, jadwal, dan
modifikasi dosis harus berdasarkan rencana terapi dari laporan yang terpublikasi.
Data Peneliti adalah bagian dari bukti yang menyatakan bahwa pemilihan
kemoterapi adjuvant penting pada wanita tua yang menderita ca. mamma dan
bahwa kemoterapi standar lebih baik daripada obat oral capecitabine.