Anda di halaman 1dari 6

Traumatologi Forensik

II.3.1. Definisi
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan
cedera yang hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa)
(Budiyanto dkk 1997).
II.3.2. Klasifikasi secara umum :
(Budiyanto dkk 1997)
1. Mekanik
a. Kekerasan oleh benda tumpul
I. Memar (kontusio, hematom)
II. Luka lecet (ekskoriasi, abrasi)
III. Luka terbuka/robek (vulnus laseratum)
b. Kekerasan oleh benda tajam
I. Luka iris/sayat
II. Luka tusuk
III. Luka bacok
c. Tembakan senjata api
I. Luka tembak temple (contact wound)
II. Luka tembak jarak dekat (close range wounds)
III. Luka tembak jarak jauh (long range wounds)
2. Fisika
a. Suhu
b. Listrik dan Petir
c. Perubahan tekanan udara
20
3. Kimia
a. Asam atau basa kuat

II.3.3. Kekerasan oleh Benda Tumpul (Budiyanto dkk 1997)
Benda benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka
seperti ini adalah benda yang memiliki permukaan tumpul. Luka yang
terjadi dapat berupa memar (kontusio, hematom), luka lecet (ekskoriasi,
abrasi) dan luka terbuka/robek (vulnus laseratum).

II.3.3.1. Luka Memar (Kontusio, Hematom)
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit atau
kutis akibat pecahnya kapiler dan vena yang disebabkan oleh kekerasan
benda tumpul (Budiyanto dkk 1997). Memar banyak terjadi karena tekanan
yang besar dalam waktu yang singkat (Catanese 2010). Penekanan ini
menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah kecil dan dapat
menimbulkan perdarahan pada jaringan bawah kulit atau organ dibawahnya
(Catanese 2010). Lokasi dari adanya luka memar disebabkan adanya gaya
gravitasi sehingga lokasi luka memar letaknya mungkin jauh dari letak
benturan (Budiyanto dkk 1997).

Letak, bentuk, luas dan adanya luka memar dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti (Budiyanto dkk 1997 & Kumar et all 2007) :
1. Besarnya kekuatan
- Semakin besar kekuatan yang diterima maka akan adanya luka
memar lebih besar.
2. Kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak)
- Semakin sedikit kandungan jaringan ikat longgar dan jaringan
lemak maka semakin mudah juga adanya luka memar.
3. Usia
- Semakin usia tua maka lebih mudah adanya luka memar, karena
pada usia tua lapisan kulit (epidermis dan dermis) lebih tipis,
21
keelastisitas kulit, dan pembuluh darah pada usia tua sudah
rapuh.
4. Jenis kelamin
- Pada wanita lebih mudah untuk menimbulkan adanya luka
memar, karena lapisan kulit pada wanita lebih tipis.
5. Corak dan Warna kulit
- Memar akan mudah terlihat pada kulit yang berwarna lebih
terang/putih.
6. Kerapuhan Pembuluh darah
- Semakin rapuh pembuluh darah maka semakin mudah adanya
luka memar, ini sejalan dengan bertambahnya umur.
7. Lokasi
- Lokasi yang memiliki pembuluh darah lebih banyak semakin
memudah adanya luka memar.

Secara histologi Kulit manusia terdiri atas 2 lapisan, yaitu
epidermis yang merupakan epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk
dan dermis yang mempunyai korium berupa jaringan ikat (Paparo LL 1996).
Lapisan kulit pada perempuan lebih tipis dibandingkan laki-laki (Snell RS
2006). Dermis terdiri atas jaringan ikat padat yang mengandung banyak
pembuluh darah, pembuluh limfatik, dan saraf. Dibawah bagian epidermis
dan dermis terdapat hipodermis (Subkutan/Fasia superficial) / lapisan bawah
kulit yang merupakan bukan bagian dari kulit, tetapi sebagai perluasan
bagian dalam dermis yang mempunyai jaringan ikat longgar dan lemak
(Paparo LL 1996). Dengan adanya jaringan ikat longgar ini memungkinkan
keleluasaan gerak kulit diatasnya, kecuali pada telapak tangan dan kaki
karena pada lokasi tersebut tergolong kulit tebal dan memiliki jaringan ikat
longgar yang serat-seratnya saling mencekram sehingga keleluasaan gerak
terbatas (Paparo LL 1996). Kepadatan dan susunan lapisan subkutan
menentukan morbilitas kulit dibawahnya (Paparo LL 1996). Jaringan ikat
longgar berfungsi juga untuk melekatkan jaringan epitel ke struktur
dibawahnya Sel lemak juga terdapat disini yang jumlahnya lebih banyak
pada perempuan dibandingkan laki-laki, tetapi jumlah sel lemak tergantung
pada keadaan gizi (Sherwood 2001).

Pada bayi, luka memar cenderung lebih mudah terjadi karena sifat
kulit yang longgar dan masih tipisnya jaringan lemak subkutan, demikian
pula pada usia lanjut sehubungan dengan menipisnya jaringan lemak
subkutan dan penurunan struktur dan ketebalan pembuluh darah sehingga
pembuluh darah mudah rapuh dan kurang terlindung (Budiyanto dkk 1997).
Usia luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui
perubahan warnanya (Budiyanto dkk 1997). Pada saat timbul, memar
berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4-5
hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning
dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15 hari (Budiyanto dkk
1997). Itu semua disebabkan oleh aktivitas dari hemoglobin (Kumar et all
2007). Dimana hemoglobin ini akan keluar ke ruang ekstravaskular akibat
dari kekerasan benda tumpul. Setelah itu Hb akan di fagositosis oleh
makrofag dan degradasi yang berurutan dari Hb kemudian menjadi
biliverdin lalu bilirubin dan terakhir menjadi hemosiderin (Who Do Bruises
Change Colour ? and Other Question about Blood 2003). Dimana Hb ini
akan memberikan warna merah pada memar, biliverdin memberikan warna
hijau, bilirubin memberikan warna kuning, dan hemosiderin memberikan
warna emas/warna coklat (Gordon, Sharon, and Varquis, N 2002). Selain itu
juga perubahan itu disebabkan oleh faktor oksigen, dimana ketika perubahan
dari merah ke biru disebabkan Hb yang kehilangan oksigen dan ketika hijau
berubah menjadi kuning yangmerupakan disintegrasi dan penyerapan darah
secara bertahap (Royston, Angela, FL 2004).

Efek samping yang terjadi pada luka memar antara lain terjadinya
penurunan darah dalam sirkulasi yang disebabkan memar yang luas dan
masif sehingga dapat menyebabkan syok, penurunan kesadaran, bahkan
kematian (Knight 1996). Yang kedua adalah terjadinya agregasi darah di
bawah kulit yang akan mengganggu aliran balik vena pada organ yang
terkena sehingga dapat menyebabkan ganggren dan kematian jaringan.
Yang ketiga, memar dapat menjadi tempat media berkembang biak kuman
(Knight 1996). Kematian jaringan dengan kekurangan atau ketiadaaan aliran
darah sirkulasi menyebabkan saturasi oksigen menjadi rendah sehingga
kuman anaerob dapat hidup, kuman tersering adalah golongan clostridium
yang dapat memproduksi gas gangren (Knight 1996).
Pada identifikasi forensik jenazah terkadang antara luka memar
dengan lebam mayat sulit dibedakan, karena keduanya secara kasat mata
terlihat berwarna merah kehitam-hitaman. Cara membedakannya adalah
dengan melakukan penyayatan pada lokasi adanya luka memar ataupun
lebam mayat (Budiyanto 1997). Setelah dilakukannya penyayatan maka
langkah selanjunya adalah dengan mengaliri daerah luka memar ataupun
lebam mayatnya dengan air yang mengalir (Budiyanto 1997). Maka pada
luka memar penampang sayatan yang dialiri air akan tetap memberikan
gambaran yang merah kehitam-hitaman dan darah akan tetap mengalir
dikarenakan pada luka memar tumpukan darah terjadi di ruang
ekstravaskular karena robeknya pembuluh darah, sedangkan pada lebam
mayat setelah dialiri air maka, pada lebam mayat penampang sayatan akan
terlihat bersih dan tidak ada darah yang mengalir dikarenakan pada lebam
mayat tumpukan darah terjadi di ruang intravaskular karena warna merah
kehitam-hitamannya hanya berasal dari tumpukan eritrosit di bagian
terbawah tubuh di vena dan venulanya (Budiyanto 1997).


Gambar 8 : Luka memar berupa perdarahan tepi akibat jejas ban. (Idries AM, &
jiptomartono AW. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses Penyidikan.
Edisi Revisi. Jakarta : Sagung Seto, 2008.; p.292)
24

II.3.3.2. Luka Lecet
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan
dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Misalnya pada
kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal jalan, atau sebaliknya benda
tersebut yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit. Sesuai dengan
mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai luka gores
(scratch), luka lecet serut (graze), luka lecet tekan (impression, impak
abrasion), dan geser.
Gambar 9 : Gambar tersebut adalah luka lecet, arah dapat ditentukan dari dimana
terdapat kulit yang menumpuk pada satu sisi. (Jay Dix. Color Atlas Of Forensic
Pathology. Washington : CRC Press LLC, Amerika ; 2000)

1. Luka Lecet Gores/Scratch : Diakibatkan oleh benda runcing (misalnya
kuku jari yang menggores kulit) yang menggeser permukaan kulit
(epidermis) di depannya dan mengakibatkan lapisan tersebut terangkat
sehingga dapat menunjukan arah kekerasan yang terjadi. Berbeda
dengan luka iris dimana pada luka gores jaringan yang rusak
menyobek bukan mengiris.
2. Luka Lecet Serut (Graze) : Adalah variasi dari luka gores yang daerah
persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan
ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.
25
3. Luka Lecet Tekan : Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada
kulit. Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah
daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dan sekitarnya
akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta terjadinya
pengeringan yang berlangsung pasca mati.
4. Luka Lecet Geser
Disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser,
misalnya pada kasus gantung atau jerat serta korban pecut.
Gambar 10 : Gambar tersebut adalah luka lecet geser (Idries AM, Tjiptomartono
AW. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses Penyidikan. Edisi Revisi.
Jakarta : Sagung Seto ; 2008. P 292)

II.3.3.3. Luka Robek
Luka robek merupakan luka terbuka akibat trauma benda tumpul,
yang menyebabkan kulit teregang ke satu arah dan bila batas elastisitas kulit
terlampaui, maka akan terjadi robekan pada kulit. Luka robek disebabkan
oleh benda yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu tajam sehingga
merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan menyebabkan kerusakan
jaringan kulit dan bawah kulit (Catanese 2010). Tepi dari laserasi ireguler
dan kasar, disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian
yang lebih rata dari benda tersebut yang mengalami indentasi (Catanese
2010).
Luka ini mempunyai ciri bentuk luka yang umumnya tidak beraturan,
tepi atau dinding tidak rata, tampak jembatan jaringan antar kedua tepi luka,
26
bentuk dasar luka tidak beraturan, seiring tampak luka lecet atau luka
memar di sisi luka, ujung luka tidak runcing, akar rambut tampak hancur
atau tercabut.
Gambar 11 : Gambar tersebut adalah luka robek pada wajah (Jay Dix. Color Atlas
Of Forensic Pathology. Washington : CRC Press LLC, Amerika ; 2000)

PENGERTIAN TANATOLOGI

Tanatologi merupakan ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kematian yaitu: definisi atau
batasan mati, perubahan yang terjadi pada tubuh setelah terjadi kematian dan faktor-faktor yang
mempengaruhi perubahan tersebut.
Mati menurut ilmu kedokteran didefinisikan sebagai berhentinya fungsi sirkulai dan respirasi secara permanen
(mati klinis). Dengan adanya perkembangan teknologi ada alat yang bisa menggantikan fungsi sirkulasi dan
respirasi secara buatan. Oleh karena itu definisi kematian berkembang menjadi kematian batang otak. Brain
death is death. Mati adalah kematian batang otak.
WAKTU KEMATIAN

Faktor-faktor yang digunakan untuk menentukan saat terjadinya kematian adalah:
1. Livor mortis (lebam jenazah)
2. Rigor mortis (kaku jenazah)
3. Body temperature (suhu badan)
4. Degree of decomposition (derajat pembusukan)
5. Stomach Content (isi lambung)
6. Insect activity (aktivitas serangga)
7. Scene markers (tanda-tanda yang ditemukan pada sekitar tempat kejadian)
Livor mortis
Livor mortis atau lebam mayat terjadi akibat pengendapan eritrosit sesudah kematian akibat berentinya
sirkulasi dan adanya gravitasi bumi . Eritrosit akan menempati bagian terbawah badan dan terjadi pada bagian
yang bebas dari tekanan. Muncul pada menit ke-30 sampai dengan 2 jam. Intensitas lebam jenazah meningkat
dan menetap 8-12 jam.
Lebam jenazah normal berwarna merah keunguan. Tetapi pada keracunan sianaida (CN) dan karbon
monoksida (CO) akan berwarna merah cerah (cherry red).
Rigor Mortis
Rigor mortis atau kaku jenazah terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin
dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena pada saat kematian terjadi penurunan cadangan
ATP maka ikatan antara aktin dan myosin akan menetap (menggumpal) dan terjadilah kekakuan jenazah.
Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin bertambah hingga mencapai maksimal pada 12
jam postmortem. Kemudian setelah itu akan berangsur-angsur menghilang sesuai dengan kemunculannya.
Pada 12 jam setelah kekakuan maksimal (24 jam postmortem) kaku jenazah sudah tidak ada lagi. Faktor-
faktor yang mempengaruhi terjadinya kaku jenazah adalah suhu tubuh, volume otot dan suhu lingkungan.
Makin tinggi suhu tubuh makin cepat terjadi kaku jenazah. Rigor mortis diperiksa dengan cara menggerakkan
sendi fleksi dan antefleksi pada seluruh persendian tubuh.
Hal-hal yang perlu dibedakan dengan rigor mortis atau kaku jenazah adalah:
1. Cadaveric Spasmus, yaitu kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap sesudah kematian
akibat hilangnya ATP lokal saat mati karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum mati.
2. Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein karena panas sehingga serabut otot
memendek dan terjadi flexi sendi. Misalnya pada mayat yang tersimpan dalam ruangan dengan pemanas
ruangan dalam waktu yang lama.
3. Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan yang dingin sehingga terjadi pembekuan cairan
tubuh dan pemadatan jaringan lemak subkutan sampai otot.
Body Temperature
Pada saat sesudah mati, terjadi karena adanya proses pemindahan panas dari badan ke benda-benda di
sekitar yang lebih dingin secara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Penurunan suhu badan
dipengaruhi oleh suhu lingkungan, konstitusi tubuh dan pakaian. Bila suhu lingkugan rendah, badannya kurus
dan pakaiannya tipis maka suhu badan akan menurun lebih cepat. Lama kelamaan suhu tubuh akan sama
dengan suhu lingkungan.
Perkiraan saat kematian dapat dihitung dari pengukuran suhu jenazah perrektal (Rectal Temperature/RT).
Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus PMI (Post Mortem Interval) berikut.
Formula untuk suhu dalam
o
Celcius
PMI = 37
o
C-RT
o
C +3
Formula untuk suhu dalam
o
Fahrenheit
PMI = 98,6
o
F-RT
o
F
1,5
Decomposition
Pembusukan jenazah terjadi akibat proses degradasi jaringan karena autolisis dan kerja bakteri. Mulai muncul
24 jam postmortem, berupa warna kehijauan dimulai dari daerah sekum menyebar ke seluruh dinding perut
dan berbau busuk karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lainlain. Gas yang terjadi menyebabkan
pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah dicabut, wajah membengkak, bola mata melotot,
kelopak mata membengkak dan lidah terjulur. Pembusukan lebih mudah terjadi pada udara terbuka suhu
lingkungan yang hangat/panas dan kelembaban tinggi. Bila penyebab kematiannya adalah penyakit infeksi
maka pembusukan berlangsung lebih cepat.
Proses-Proses Spesifik pada Jenazah Karena Kondisi Khusus
Mummifikasi
Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan terdehidrasi dengan cepat. Mummifikasi
terjadi pada 12-14 minggu. Jaringan akan berubah menjadi keras, kering, warna coklat gelap, berkeriput dan
tidak membusuk.
Adipocere
Adipocere adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak dan berminyak yang terjadi di
dalam jaringan lunak tubuh postmortem. Lemak akan terhidrolisis menjadi asam lemak bebas karena kerja
lipase endogen dan enzim bakteri.
Faktor yang mempermudah terbentuknya adipocere adalah kelembaban dan suhu panas. Pembentukan
adipocere membutuhkan waktu beberapa minggu sampai beberap bulan. Adipocere relatif resisten terhadap
pembusukan.
Gastric Emptying
Pengosongan lambung dapat dijadikan salah satu petunjuk mengenai saat kematian. Karena makanan
tertentu akan membutuhkan waktu spesifik untuk dicerna dan dikosongkan dari lambung. Misalnya sandwich
akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna.
Aktivitas Serangga
Aktivitas serangga juga dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian yaitu dengan menentukan umur
serangga yang biasa ditemukan pada jenazah. Necrophagus species akan memakan jaringan tubuh jenazah.
Sedangkan predator dan parasit akan memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species akan memakan
keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah
sesudah 1-2 hari postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem. Sedangkan larva dewasa yang
akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari.