Anda di halaman 1dari 5

PL 4004 Perencanaan Patrisipatif

Perencanaan Partisipatif Berdasarkan Analisis Gender



Happy Tiara Asvita 15409001
Dinar Suryandari 15409036
Sekar Utami 15409078


Penjelasan Analisis Gender
Metode untuk analisis sosial adalah metode yang menggabungkan partisipasi dan analisis sosial
dalam proses perencanaan. Metode ini juga dilakukan di negara ekonomi dan sektor kerja untuk
membangun kerangka partisipasi dan mengidentifikasi prioritas area untuk analisis sosial. Seperti
metode berevolusi untuk memenuhi kebutuhan untuk memperhatikan sistematis untuk isu-isu
tertentu yang tradisional telah diabaikan oleh para perencana pembangunan. Teknik dalam metode
ini adalah Penilaian Sosial (Social Assessment) dan Analisis Gender (gender Analysis).

Analisis gender merupakan suatu teknik dalam metode untuk mengalisis sosial dalam perencanaan
partisipatif. Munculnya teknik analisis gender ini dilatarbelakangi oleh munculnya pemahaman
bahwa wanita menerima manfaat pembangunan yang lebih kecil dari pria. Hal ini dapat disebabkan
karena kebijakan yang ada seringkali bersifat netral gender, yaitu hanya memperhatikan dari sudut
pandang tugas dan fungsi dari instansi tersebut atau prioritas nasional semata, tanpa melihat adanya
kelompok yang terlibat dan pengguna manfaat (kelompok sasaran) yang berbeda. Contohnya adalah
pada suatu desa terdapat program pembangunan jalan. Hasil dari pembangunan tersebut
manfaatnya akan lebih terasa bagi kaum pria, karena kaum pria bekerja diluar rumah. Sedangkan
kaum wanita tidak terlalu merasakan manfaat dari pembangunan jalan tersebut karena kaum wanita
lebih banyak bekerja di dalam rumah.
Analisis gender ini fokus pada pemahaman dan mendokumentasikan berbagai perbedaan dalam
peran gender, akses mereka ke sumber daya, kegiatan, dan kendala yang mereka hadapi relatif satu
sama lain, kebutuhan, dan kesempatan pada suatu konteks tertentu. Analisis gender digunakan
untuk menganalisis kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan dalam masyarakat agar dapat
memastikan peran serta laki-laki dan perempuan yang sesuai dengan kelebihan dan kebutuhan yang
dimiliki masing-masing jenis kelamin.
Tujuan dari analisis gender yang diterapkan dalam intervensi pembangunan adalah membantu
mengidentifikasi perbedaan mengakses sumber daya untuk memprediksi bagaimana perbedaan
anggota rumah tangga, kelompok, dan masyarakat akan berpartisipasi dalam dan dipengaruhi oleh
intervensi pembangunan yang direncanakan; mengijinkan perencana untuk mencapai tujuan
efektifitas, efisiensi, kesetaraan, dan pemberdayaan melalui merancang reformasi kebijakan dan
strategi program mendukung, dan paket pelatihan; dan mengembangkan pelatihan untuk
pengembangan staf tentang isu-isu gender dan strategi pelatihan bagi penerima manfaat.
Selain itu analisis gender juga dapat memberikan informasi mengenai manfaat langsung atau tidak
langsung pembangunan pada perempuan dan laki-laki, untuk mencapai kesetaraan. Dengan
informasi ekuitas ini apat dibuat untuk mengatasi kesenjangan dan untuk meminimalisasi
terjadinya dampak negatif yang terjadi dari pembangunan terhadap perempuan, dimana fokus
pembangunan secara tidak langsung berpihak pada laki laki. Sehingga manfaat pembangunan dan
sumber daya dapat diterima secara adil dan efektif bagi laki laki maupun perempuan.
Terdapat beberapa prinsip utama dalam melakukan analisis gender, yaitu :
Perencanaan merupakan suatu proses.
Hal ini berarti program analisis gender bergantung pada kefleksibelan proses perencanaan.
Diagnosis gender.
Data yang ada harus dapat mengemukakan masalah utama dalam gender yang mendasari
masalah pada laki laki dan perempuan.
Tujuan gender.
Tujuan ini berisi masalah gender apa yang akan diselesaikan serta strategi dan tindakan apa
yang dapat dillakukan untuk mencapai tujuan.
Strategi gender.
Strategi ini digunakan untuk mencapai tujuan.
Evaluasi dan monitoring gender.
Perencanaan yang fleksibel membutuhkan evaluasi dan monitoring gender untuk
membolehkan pengaturan untuk akuntabilitas dari komitmen untuk mencapai prioritas
spesifik gender.

Dalam analisis gender terdapat beberapa model yang digunakan untuk menganalisis, yaitu :
Model Harvard dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development bekerja
sama dengan Kantor Women in Development (WID)-USAID. Model Harvard didasarkan pada
pendekatan efisiensi WID yang merupakan kerangka analisis gender dan perencanaan
gender paling awal. Model analisis Harvard lebih sesuai digunakan untuk perencanaan
proyek, menyimpulkan data basis atau data dasar.
Model Moser didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat teknis dan
politis, kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam perencanaan dan proses
transformasi serta mencirikan perencanaan sebagai suatu debat. Terdapat kelemahan
dalam model ini yang tidak memperhitungkan kebutuhan strategis laki-laki.
Model SWOT dengan analisis manajemen dengan cara mengidentifikasi secara internal
mengenai kekuatan dan kelemahan dan secara eksternal mengenai peluang dan ancaman.
Model PROBA (Problem Base Approach) yang dikembangkan atas kerjasama Kementrian
Pemberdayaan Perempuan, BKKBN dan UNFPA di tingkat pusat, propinsi dan
kabupaten/kota, teknik ini sedikit berbeda dengan Gender Analysis Pathway.
Model GAP (Gender Analysis Pathway) atau Alur Kerja Analisis Gender (AKAG) adalah alat
analisis gender yang dikembangkan oleh BAPPENAS yang dapat digunakan untuk membantu
para perencana dalam melakukan pengarusutamaan gender dalam perencanaan kebijakan,
program, proyek dan atau kegiatan pembangunan. Pengarustamaan gender adalah strategi
yang ditempuh untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui kebijakan dan
program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan
perempuan dan laki laki ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi
dari seluruh kebijakan dan program di berbagai bidang.

Kelebihan dan Kekurangan pada Analisis Gender
Analisis terhadap gender dinilai penting karena membantu kita untuk mengerti bagaimana
perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dipengaruhi beberapa hal seperti usia, kelas, agama,
budaya dan lokasi.Gender berfokus pada tingkatan hubungan. Yang dapat kita lihat misalnya adalah
ketidaksamaan peran dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Terlebih pada isu gender
adalah adanya ketidakseimbangan nilai yang diberikan kepada pekerjaan perempuan. Kemudian
alasan pentingnya analisis gender adalah ketidaksamaan akses kepada kekuasaaan, pembuatan
keputusan, dan lain-lain. Kebanyakan isu gender mengangkat ketidaksamaan porsi yang
diberlakukan pada kaum laki-laki dan perempuan, terutama bentuk-bentuk intimidasi terhadap
para perempuan.
Perbedaan gender adalah pembeda antara kegiatan sehari-sehari laki-laki dan perempuan. Tentunya
tidak semua kegiatan sehari-hari manusia dapat dilakukan oleh keduanya. Beberapa hanya mampu
dilakukan kaum laki-laki dan lainnya bersifat terlalu perempuan. Perbedaan antara keduanya terlihat
dari bagaimana cara mengakses serta mengontrol sumber daya dan kuasa dalam membuat
keputusan. Perbedaan kegiatan pada setiap gender ini salah satunya dapat diimplementasikan pada
kebijakan pengelolaan dan intervensi.
Analisis gender merupakan salah satu bentuk metode dari analisis sosial, metode lainnya adalah
social assessment (SA). Metode analisis sosial adalah metode yang menggabungkan partisipasi dan
analisis sosial ke dalam tahapan perancangan proyek. Penggunaan metode ini tentunya memberikan
kelebihan dan kekurangan. Berikut ini akan dipaparkan kelebihan dan kekurangan penggunaan
metode analisis gender. Kelebihan penggunaan metode analisis gender :
1. Metode ini menyediakan proses untuk membangun informasi ke dalam rencana dan rencana ke
dalam aksi.
2. Sistematika metode ini mengidentifikasi apa yang masyarakat pikir mereka butuhkan dan
menyiapkan cara untuk mengomunikasikan ini kembali ke pada badan yang
mengimplementasikan metode ini.
3. Kerangka berpikir yang fleksibel dari metode ini membolehkan rancangan yang konsisten
terhadap proyek atau komponen kebijakan serta tujuan dari penggunaan metode ini.
4. Metode ini bertujuan mempersempit atau meniadakan kesenjangan gender.
5. Analisis ini tidak memandang/memperlakukan kaum perempuan sebagai kelompok homogen
atau atribut gender yang dianggap tidak ada atau tidak dihitung suaranya.
6. Kaum laki-laki dan perempuan dianggap memiliki kesempatan untuk berpartisipasi yang sama
dalam pembangunan.
Namun ternyata, penggunaan metode analisis gender tidak hanya memiliki kelebihan, namun
ternyata masih memiliki kekurangan. Kekurangan dari penggunaan metode analisis gender ini adalah
sebagai berikut:
1. Pada metode ini, pengumpulan data dan analisis harus difokuskan atau hanya difokuskan pada
isu yang diprioritaskan, dibandingkan dengan pengumpulan data secara umum yang tidak
terkait langsung ke proyek atau fokus kebijakan.
2. Metode ini harus melibatkan konsultan lokal yang berpengalaman dari berbagai macam disiplin,
untuk menghasilkan suatu analisis yang dapat direalisasikan hasilnya.
3. Seringkali tahapan konsultasi proyek dilakukan terbatas dan tergesa-gesa.
4. Konsultasi yang efektif dan pendekatan partisipatif membutuhkan waktu, sumber daya, dan
usaha serta komunitas yang tidak homogen.
5. Jika pengumpulan data mengenai kebutuhan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat
diidentifikasi dengan baik, maka jelas hasil analisis gender ini gagal dan sia-sia karena kuncinya
terdapat dalamm proses mendapatkan data yang fokus dari isu tersebut.
6. Terdapat kerangka berpikir metode analisis gender yang malah menghilangkan kebutuhan
strategis laki-laki.
Contoh Penerapan Analisis Gender

Analisis Gender Dalam Penataan Ruang
Analisis gender dalam penataan ruang terlihat pada proses perencanaan dan pelaksanaannya.
Proses perencanaan tata ruang terdiri dari beberapa tahapan. Dalam setiap tahapan tersebut
terdapat beberapa isu gender, antara lain:
- Dalam tahap penentuan arah pengembangan, kegiatannya belum mengarah pada
pengembangan kegiatan yang responsif gender baik dalam hal tinjauan terhadap aspek ekonomi,
sosial, budaya, dll.
- Dalam tahap identifikasi potensi dan masalah pembangunan, kurang adanya keterlibatan yang
seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam pelaksanaan sosialisasi sehingga pada saat
penentuan identifikasi kebutuhan antara laki-laki dan perempuan tidak seimbang yang
menyebabkan manfaat yang dirasakan sangat berbeda. Selain itu keterlibatkan stake holder dan
masyarakat (laki-laki dan perempuan dengan komposisi tidak proporsional) karena tidak ada
ketetapan persyaratan komposisi peserta yang proporsional.
- Dalam tahap perumusan rencana struktur tata ruang kawasan perkotaan metropolitan, aspirasi
perempuan belum muncul secara optimal pada saat forum publik. Perempuan dan laki-laki
memiliki peran, kebutuhan, dan persepsi yang berbeda, perbedaaan ini sering tidak
dipertimbangkan sehingga dapat menghambat pencapaian tujuan program. Partisipasi
perempuan masih bersifat partisipasi nominal (jumlah yang hadir) belum berpartisipasi secara
efektif (mengeluarkan aspirasi dan mengambil keputusan).
- Dalam tahap penetapan rencana tata ruang, kurangnya keterlibatan perempuan dan laki-laki
yang seimbang dalam proses pengambilan keputusan. Dalam sebuah pertemuan/rapat
perencanaan, peranan perempuan cenderung lebih mengambil posisi diam dan tidak dilibatkan
dalam pengambilan keputusan, dimana kondisi ini disebabkan peran laki-laki yang dominan dan
berasumsi bahwa apa yang diputuskan merupakan perwakilan dari perempuan, perempuan
cenderung menerima keputusan dari pihak laki-laki.

Selain isu-isu yang telah disebutkan pada proses perencanaan, terdapat pula isu gender dalam
praktik pelaksanaan tata ruang. Dalam kegiatan penyusunan Norma standar pedoman dan manual
(NSPM) bidang penataan ruang di pusat maupun daerah tidak memasukkan data terpilah gender
dalam dokumennya. Data komposisi demografis yang dimasukkan masih bersifat umum. Hal ini
karena dirasakan bahwa perempuan dan laki-laki adalah masyarakat, sehingga data yang dikeluarkan
beradasarkan data masyarakat secara keseluruhan baik dilihat dari akses, partisipasi, kontrol dan
manfaatnya, belum dipilah berdasarkan jenis kelamin.
Beberapa isu gender antara lain:
- Tidak tersedianya Juklak/Juknis yang memadai untuk memastikan peran efektif perempuan dan
laki-laki yang proporsional dalam penyusunan kegiatan.
- Kurang adanya keterlibatan yang seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam proses
perencanaan fasilitas umum (contoh : fasilitas pendidikan, pasar, fasilitas kesehatan)
- Kurangnya partisipasi yang seimbang antara perempuan dan laki-laki dalam proses perencanaan.
- Dalam pelaksanaan kegiatan penataan ruang baru mempertimbangkan manfaat yang diterima
masyarakat secara umum belum berdasarkan manfaat yang diterima oleh perempuan dan laki-
laki.
- Kurangnya keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dalam penyusunan
kegiatan.
- Kurangnya media untuk penyampaian materi sosialisasi kepada masyarakat laki-laki dan
perempuan secara proporsional.
- Kurang adanya keterlibatan yang seimbang antara perempuan dan laki-laki sebagai peserta dan
dalam pelaksanaan sosialisasi
- Dalam perencanaan kegiatan penataan ruang masih bersifat teknis dan umum, belum
mempertimbangkan sesuai dengan kebutuhan perempaun dan laki-laki.

Dari isu isu yang telah dijelaskan di atas, peran analisis gender belum terlihat pada proses
perencanaan maupun pelaksanaan tata ruang. Seharusnya agar peran analisis gender terlihat, pada
saat identifikasi permasalahan, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama
dalam menyampaikan kebutuhannya. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah sebaiknya
memperbanyak program pemberdayaan perempuan, agar perempuan memiliki kemandirian dalam
berpikir sehingga dalam mengambil keputusan tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain dalam hal
ini adalah laki laki. Selain itu pemerintah juga harus lebih banyak membuka kesempatan pada
setiap program pembangunan dan penataan ruang, sehingga perempuan lebih terfasilitasi dalam
pemenuhan kebutuhan.