Anda di halaman 1dari 21

PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI KATION-

KATION GOLONGAN IV
PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI KATION-KATION
GOLONGAN IV
Kation-kation golongan IV tak dapat
diendapkan langsung dari filtrat yang
diperoleh setelah pengendapan golongan
IIIB, karena ia mengandung garam-garam
amonium dalam konsentrasi yang terlalu
tinggi. Ini perlu dipertahankan sewaktu
kation golongan IIIA diendapkan, untuk
mencegah pengendapan magnesium
hidroksida bersama golongan ini.


Pemisahan kation-kation golongan IV terdapat
dua metode
1. Pemisahan kation-kation golongan IV
dengan metode sulfat
2. Pemisahan kation-kation golongan IV
dengan metode nitrat
1. Pemisahan kation-kation golongan IV dengan metode
sulfat
Endapan mungkin mengandung BaCO
3
, SrCO
3
, CaCO
3
.
cuci dengan sedikit air panas dan buang air cucian. Larutkan
endapan dalam 5 ml asam asetat 2 M yang panas dengan
menuangkan asam itu berulang-ulang melalui kertas saring.
Uji 1 ml terhadap barium dengan menambahkan larutan
K
2
CrO
4
setetes demi tetes kepada larutan yang hampir
mendidih. Terdapat endapan kuning.

Menunjukkan bahwa Ba itu ada, panaskan sisa larutan sampai
hampir mendidih dan tambahkan larutan K
2
CrO
4
dengan sedikit
berlebihan (sampai larutan berwarna kuning dan pengendapan
telah sempurna). Saring dan cuci endapan (C) dengan sedikit air
panas. Filtrat yang panas dan air cucian dijadikan basa dengan
larutan NH
3
, dan tambahkan larutan (NH
4
)
2
CO
3
berlebihan atau
lebih baik lagi Na
2
CO
3
padat. Endapan putih menunjukan adanya
SrCO
3
dan atau CaCO
3
.cuci endapan dengan air panas dan larutkan
dalam 4 ml asam asetat 2 M panas, didihkan untuk menghilangkan
CO
2
yang berlebih (larutan A).
Menunjukan Ba tidak ada, buang bagian yang telah dipakai
untuk menguji terhadap barium dan pergunakan sisa larutan B,
setelah dididihkan selama 1 menit untuk menghilangkan CO
2
, untuk
menguji terhadap strontium dan kalsium.
Residu (C) Larutan A atau larutan B
Kuning: BaCrO
4
Cuci dengan baik
dengan air panas.
Larutkan endapan
dalam sedikit HCl
pekat, uapkan sampai
hampir kering dan
kenakan uji nyala.
Nyala hijau (hijau-
kekuningan).
Menunjukkan Ba ada.
Volume harus kira-kira 4 ml atau 2 ml dari larutan
dingin, tambahkan 2 ml larutan (NH
4
)
2
SO
4
jenuh,
tambahkan dengan 0,2 g natrium tiosulfat, panaskan
dengan piala berisi air mendidih selama 5 menit dan
diamkan selama 1-2 menit, kemudian disaring.
Atau kepada 2 ml larutan , tambahkan 2 ml
trietanolamina, 2 ml larutan (NH
4
)
2
SO
4
jenuh,
panaskan diatas penangas air mendidih sambil terus
diaduk selama 5 menit, dan diamkan selama 1-2
menit. Encerkan dengan air yang sama volumenya,
dan saring.
Residu Filtrat
Sebagian besar SrSO
4
dicuci dengan
sedikit air. Pindahkan endapan dan
kertas saring ke sebuah krus kecil,
panaskan sampai endapan telah
mengarang (bakar kertas saring dan
endapan, yang ditahan dengan kawat
Pt, di atas krus), basahkan abu
dengan beberapa tetes HCl pekat,
dan pakai uji nyala. Nyala merah-
keunguan, menunjukan Sr ada.
Mungkin mengandung kompleks Ca.
(jika Sr tidak ada, pakai 2 ml larutan A
atau B). Tambahkan sedikit larutan
(NH
4
)
2
C
2
O
4
, 2 ml CH
3
COOH 2 M dan
panaskan di atas penangas air.
Endapan putih CaC
2
O
4
. menunjukan
Ca ada.
Pastikan dengan uji nyala terhadap
endapan, nyala merah bata.
PENJELASAN
1. BaCrO
4
(Ks = 1,6x10
-10
) hampir tak larut dalam asam astetat encer,
sedangkan SrCrO
4
(Ks = 3,6x10
-5
) dan CaCrO
4
(Ks = 2,3x10
-2
) larut,
dan karenanya tak diendapkan dalam suasana asam asetat encer.
Ba
2+
+ CrO
4
2-
BaCrO
4
fungsi asam asetat adalah untuk mengubah sebagian dari ion
CrO
4
2-
menjadi ion Cr
2
O
7
2-
, jadi menurunkan konsentrasi ion
CrO
4
2-
sehingga hasil kali kelarutan dari SrCrO
4
dan CaCrO
4
tak
tercapai, dan akibatnya mereka tetap terlarut :
2 CrO
4
2-
+ 2CH
3
COOH Cr
2
O
7
2-
+ 2CH
3
COO
-
+H
2
O
jika ada konsentrasi ion H
+
yang besar (ini berbeda dari
konsentrasi ion H
+
yang terbatas, yang berasal dari asam asetat
yang lemah), banyaknya CrO
4
2-
mungkin hanya sedemikian
sehingga hasil kali kelarutan BaCrO
4
tak tercapai, dan dalam
keadaan demikian BaCrO
4
tak akan mengendap. Ini menjelaskan
larutnya garam ini dalam asam-asam mineral encer.
2. Dengan menambahkan larutan (NH
4
)
2
SO
4
jenuh dan dipanaskan,
SrSO
4
sebagian besar mengendap setelah didiamkan. Penambahan
sedikit Na
2
S
2
O
3
menambahkan kelarutan CaSO
4
dan ini akan
mengurangi banyaknya kopresipitasi dengan SrSO
4
. pembentukan
suatu garam kompleks yang larut, misalnya (NH
4
)
2
Ca(SO
4
)
2
, pernah
diajukan sebagai penyebab kegagalan CaSO
4
untuk mengendap
dalam jumlah yang berarti dengan larutan (NH
4
)
2
SO
4
.
3. Dengan trietanolamina, N(C
2
H
4
OH)
3
dan larutan (NH
4
)
2
SO
4
jenuh,
ada kemungkinan bahwa ion kompleks
heksokistrietanolaminokalsium(II) [Ca{N(C
6
H
4
OH)
3
}
6
]
2+
terbentuk
dan akibatnya hanya sedikit sekali CaSO
4
diendapkan. Namun,
konsentrasi ion Ca
2+
yang ditimbulkan oleh disosiasi ion kompleks ini
adalah sedemikian, sehingga hasil kali kelarutan CaC
2
O
4
(2,6x10
-9
)
akan dilampaui pada penambahan larutan (NH
4
)
2
C
2
O
4
.
4. SrSO
4
tak mudah memberi perwarnaan nyala, karena itu zat ini direduksi
sebagian menjadi SrS dengan karbon dari kertas saring. Pengolahan residu
yang mengandung SrS dengan HCl memberi SrCl
2
yang relatif mudah
menguap.
5. Kalsium mudah diidentifikasi dengan mengendapkannya sebagai CaC
2
O
4
,
disusul dengan uji nyala. Boleh juga zat ini diubah menjadi CaSO
4
.2H
2
O,
dan kristal-kristal yang khas di uji dengan mikroskop dengan pembesaran
kira-kira 100 diameter.
Suatu uji terhadap Ca. Taruh satu-dua tetes filtrat diatas lempeng
kaca mikroskop, tambahkan satu dua tetes H
2
SO
4
encer, dan pekatkan
dengan menaruh lempeng kaca diatas sebuah krus kecil lalu
memanaskannya sampai tepat mulai terjadi kristalisasi. Uji kristal-kristal
dalam mikroskop. Kumpulan jarum atau prisma yang memanjang
menunjukkan adanya kalsium.
2. Pemisahan kation-kation golongan IV dengan metode
nitrat
Endapan mungkin mengandung BaCO
3
, SrCO
3
, CaCO
3
. cuci dengan
sedikit air panas dan buang air cucian. Larutkan endapan dalam 5 ml asam
asetat 2 M yang panas dengan menuangkan asam itu berulang-ulang
melalui kertas saring. Uji 1 ml terhadap barium dengan menambahkan
larutan K
2
CrO
4
setetes demi tetes kepada larutan yang hampir mendidih.
Terdapat endapan kuning.
Menunjukkan bahwa Ba itu ada,panaskan sisa larutan sampai hampir
mendidih dan tambahkan larutan K
2
CrO
4
dengan sedikit berlebihan
(sampai larutan berwarna kuning dan pengendapan telah sempurna).
Saring dan cuci endapan (C) dengan sedikit air panas. Filtrat yang panas
dan air cucian (larutan A).
Menunjukan Ba tidak ada, buang bagian yang telah dipakai untuk
menguji terhadap barium dan pergunakan sisa larutan B, setelah
dididihkan selama 1 menit untuk menghilangkan CO
2
, untuk menguji
terhadap strontium dan kalsium.

Residu Larutan A atau Larutan B
Kuning: BaCrO
4
Cuci dengan baik
dengan air panas.
Larutkan endapan
dalam sedikit HCl
pekat, uapkan
sampai hampir
kering dan kenakan
uji nyala.
Nyala hijau (hijau-
kekuningan).
Menunjukkan Ba
ada.
Jadikan basa dengan larutan NH
3
, dan tambahkan
larutan (NH
4
)
2
CO
3
sedikit berlebihan atau lebih baik
lagi sedikit Na
2
CO
3
padat. Taruh tabung uji di atas
penangas air mendidih selama 5 menit. Endapan putih
menunjukkan adanya SrCO
3
dan atau CaCO
3
. saring
dan cuci karbonat yang diendapkan dengan air panas,
sampai air cucian menjadi tak berwarna dan buang air
cucian. Tiriskan air dari endapan sesempurna mungkin.
Pindahkan endapan ke piala kecil, tambahkan dengan
hati-hati 15-20 ml HNO
3
83%, aduk selama 3-4 menit
dengan batang kaca dan saring melalui krus dari kaca
masir.
Residu Filtrat
Putih : Sr(NO
3
)
2
Menunjukkan Sr ada.
Pastikan dengan nyala
merah keunguan.
Mungkin mengandung Ca
2+
. Pindahkan sebagian besar
cairan ke cawan porselen dan uapkan sampai hampir
kering (kamar asam). Larutkan residu dalam 2 ml air
(larutan B), jadikan basa dengan larutan NH
3
, lalu asamkan
dengan asam asetat encer, tambahkan larutan
(NH
4
)
2
(COO)
2
berlebihan dan panaskan di atas penangas
air.
Endapan putih Ca(COO)
2
Menunjukkan Ca ada
Saring endapan dan uji dengan uji nyala, nyala merah bata.
Cara lain taruh satu dua tetes larutan B di atas lempeng
kaca mikroskop dan tambahkan satu dua tetes H
2
SO
4

encer. Pekatkan dengan menaruh lempeng kaca di atas
krus kecil, dan panaskan sampai tepat mulai terjadi
kristalisasi. Uji kristal-kristal itu dengan mikroskop.
Kumpulan jarum dan prisma memanjang. Menunjukkan Ca
ada.
PENJELASAN
1. Barium dipisahkan sebagai BaCrO
4
, strontium dan kalsium diendapkan
sebagai karbonat oleh larutan (NH
4
)
2
CO
3
dengan adanya sedikit larutan air
dari amonia. Lebih baik dipakai Na
2
CO
3
untuk mengendapkan karbonat,
dengan demikian pengaruh dari garam-garam amonium yang cenderung
mengurangi konsentrasi ion karbonat dihilangkan.
2. Campuran SrCO
3
dan CaCO
3
diolah dengan hati-hati dengan HNO
3
83%,
maka karbonat-karbonat diubah menjadi nitrat-nitrat. Sr(NO
3
)
2
tak larut
dalam suasana ini, sedangkan Ca(NO
3
)
2
melarut. Sr(NO
3
)
2
dikumpulkan
dengan menyaring melalui krus atau corong dari kaca masir. Adanya Sr
dipastikan dengan uji nyala, sebaiknya dengan bantuan suatu spektroskop.
3. Setelah filtrat diuapkan dengan perlahan-lahan untuk
menghilangkan HNO
3
, diperoleh Ca(NO
3
)
2
. yang terakhir ini
dilarutkan dalam air, dijadikan amoniakal kemudian sedikit
agak asam dengan asam asetat encer. Tambahkan larutan
(NH
4
)
2
C
2
O
4
pada mana CaC
2
O
4
akan mengendap, uji nyala
dapat dipakai terhadap endapan CaC
2
O
4
. Cara lain adalah
kalsium dapat diubah menjadi sulfatnya, CaSO
4
.H
2
O dan yang
terakhir ini diidentifikasi di bawah mikroskop.

PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI KATION-KATION GOLONGAN V
Pemisahan kation golongan V dapat disebut juga dengan
golongan sisa karena tidak bereaksi dengan reagensia-
reagensia golongan sebelumnya. Kation-kation golongan V
(Mg
2+
, Na
+
, K
+
, dan NH
4+
)

dapat diidentifikasikan satu per satu
tanpa pemisahan pendahuluan. Dapat dilihat pada tabel
dibawah ini. Pemisahan parsial Mg diikuti dengan uji-uji
terhadap K dan Na.
Identifikasi kation-kation golongan V
Olah residu yang kering dari golongan IV dengan 4 ml air, aduk,
panaskan selama 1 menit dan saring.
Jika residu melarut sempurna (hampir sempurna) dalam air,
encerkan larutan yang terjadi (jika perlu setelah disaring) sampai kira-kira
6 ml, dan bagi menjadi tiga bagian yang kira-kira sama.
1 Pakai bagian pertama untuk menguji terhadap Mg dengan larutan
oksina yang telah disiapkan, pastikan Mg dengan memberlakukan uji
magneson kepada 3-4 tetes larutan dan 2 dan 3 uji terhadap Na dan K.
Residu Filtrat
Larutkan dalam beberapa tetes HCl encer dan
tambahkan 2-3 ml air. Bagi larutan menjadi dua
bagian yang tak sama.
1. Bagian yang lebih banyak: olah 1 ml larutan
oksina 2% dalam asam asetat 2M, dengan 5
ml larutan amonia 2M, dan jika perlu
panaskan untuk melarutkan setiap oksina
yang diendapkan. Tambahkan sedikit larutan
NH4Cl kepada larutan uji, diikuti dengan
reagensia oksina amoniakal, dan panaskan
sampai titik didih selama 1-2 menit (bau
NH3 harus terbedakan). Endapan kuning
muda Mg oksinat. Mg ada.
2. Bagian yang lebih sedikit: kepada 3-4 tetes,
tambahkan 2 tetes reagensia magneson
diikuti dengan beberapa tetes larutan NaOH
sampai basa. Endapan biru memastikan Mg.
Dibagi menjadi dua bagian (a) dan (b).
(a) Tambahkan sedikit uranil magnesium
asetat, kocok dan diamkan selama
beberapa menit. Endapan kristal
kuning. Na ada. Pastikan dengan uji
nyala, nyala kuning yang bertahan lama.
(b) Tambahkan sedikit larutan natrium
heksanitriokobaltat(III) atau kira-kira 4
mg zat padatnya dan beberapa tetes
asam asetat encer. Aduk-aduk dan jika
perlu diasamkan selama 1-2 menit.
Endapan kuning K
3
[Co(NO
2
)
6
]. K ada.
Pastikan dengan uji nyala dan pandang
melalui dua lapisan kaca kobalt, warna
merah (biasanya tidak tetap (transein)).
PENJELASAN
1. Filtrat dari golongan IV mungkin mengandung garam-garam Mg, Na, K, dan
NH
4+
. Filtrat diuapkan sampai kering dan dipanaskan sampai semua garam
amonium telah menguap, adanya residu menunjukan adanya satu atau
lebih dari logam ini. Residu yang kering itu diekstraksi dengan air untuk
memisahkan garam Na dan K yang larut, yang disaring: residunya diuji
terhadap Mg dan filtratnya diuji terhadap Na dan K.
2. Residu ini dilarutkan dalam HCl encer dan suatu bagian yang lebih banyak
dari larutan yang dihasilkan diuji terhadap Mg dengan reagensia oksina,
bagian yang lebih sedikit dikenakan uji magneson pada mana endapan
biru harus diperoleh. Pengendapan Mg sebagai Mg(NH
4
)PO
4
.6H
2
O atau
dengan penambahan sedikit NH
4
Cl dan Na
2
HPO
4
yang berlebihan kepada
larutan amoniakal tersebut. Kadang-kadang agak lama, juga runutan
logam golongan IV cenderung mengganggu, oleh sebab ini uji oksina dan
magneson lebih disukai.
Namun, jika dikehendaki untuk melakukan uji Na
2
HPO
4
yang kurang
memuaskan sebagai perbandingan dengan uji oksina terhadap Mg, olah
larutan dalam asam itu dengan sedikit NH
4
Cl, diikuti dengan larutan NH
3

encer sampai bersifat basa, dan tambahkan larutan Na
2
HPO
4
. kocok dan
aduk kuat. Endapan kristalin putih, Mg(NH
4
)PO
4
.6H
2
O, menunjukkan Mg.
Endapan ini kadang-kadang memisah dengan lambat.
3. Pengendapan yang paling memuaskan untuk ion-ion natrium adalah
pengendapan dengan uranil magnesium atau zink asetat. Uji nyalanya
dalam mana dihasilkan perwarnaan kuning kuat yang bertahan lama
adalah khas. Runutan natrium mungkin terbawa masuk dari reagensia
selama analisis, maka penting untuk mencari perwarnaan kuning yang
kuat dan bertahan lama, perwarnaan kuning yang lemah boleh diabaikan.

4. Pengendapan kalium heksanitritokobaltat(III) yang kuning dengan
Na
3
[Co(NO
2
)
6
] dan uji nyalanya (paling baik diamati melalui suatu
mikroskop)adalah khas. Sebaiknya kaca kobalt itu diuji dengan garam
kalium untuk memastikan bahwa kaca itu memuaskan, beberapa contoh
kaca kobalt menyerap sama sekali garis-garis merah dari kalium.
Dianjurkan untuk memakai spektroskop sederhana bila tersedia.
5. Terhadap amonia telah diuji pendahuluan. Dengan memanaskan zat asli
dengan larutan NaOH, NH
3
akan dilepaskan dari garam-garam amonium.
Gas NH
3
ini bisa diidentifikasi dari baunya, dari kerjanya atas kertas lakmus
atau atas kertas saring yang dibasahi dengan larutan merkurium(I)nitrat,
atau dengan uji asam tanat-perak nitrat. Dengan menyumbatkan
gumpalan kapas longgar-longgar pada bagian atas tabung, tak ada lagi
bahaya bahwa cipratan-cipratan larutan NaOH akan mempengaruhi kertas
reagensia itu.