Anda di halaman 1dari 5

1

Penulisan essay ini berawal dari masalah yang saya temukan dalam wawancara mendalam.
Dalam penugasan wawancara mendalam ini, saya memilih pengamen sebagai responden.
Berawal dari permasalahan sama yang di alami oleh kedua responden dalam wawancara
mendalam yang saya lakukan, yakni tentang ASKESKIN. Mereka kurang tahu dalam
pelayanan kesehatan yang diterimanya. Sebagai akibatnya mereka lebih memilih untuk
beristirahat dirumah atau membeli obat obatan yang dijual secara bebas di warung daripada
berobar di Puskesmas atau di Rumah Sakit. Mereka melakukannya tanpa tahu bahwa
tindakan yang mereka lakukan tersebut dapat memperparah kondisi yang mereka alami
walaupun tampak luarnya mereka merasa sudah sembuh hanya dengan cukup istirahat.
Mengetahui keadaan tersebut, dapat disimpulkan tentang pentingnya penyuluhan yang
diberikan oleh pemerintah tentang program yang ditujukan pada rakyat. Dalam hal ini
khususnya program bernama ASKESKIN. Essay ini ditulis untuk mengetahui apakah
program askeskin itu dan pelaksanaannya di lapangan.
Sebagai informasi tambahan, askeskin merupakan asuransi kesehatan untuk masyarakat
miskin. Diberikan bagi keluarga yang kurang mampu (dikategorikan miskin) untuk menjalani
perawatan kesehatan baik rawat inap maupun rawat jalan di Rumah Sakit Pemerintah dengan
cuma-cuma. Pihak Pemerintah (Departemen Kesehatan) yang akan membayar semua biaya
yang sudah dikeluarkan pihak Rumah Sakit
Mekanisme pelayanan kesehatan pemegang askeskin adalah sebagai berikut. Masyarakat
miskin dan tidak mampu yang memerlukan pelayanan kesehatan berkunjung ke puskesmas
dan jaringannya. Puskesmas dan jaringnya akan memberikan Pelayanan Kesehatan Dasar
sesuai kebutuhan dan standar Pelayanan. Pelayanan kesehatan rujukan diberikan atas dasar
indikasi medis dengan disertai surat rujukan dari Puskesmas, bagi masyarakat miskin rujukan
disertai kartu JPK MM Askeskin oleh PT Askes ( persero ). Rumah sakit wajib memberikan
rujukan balik ke puskesmas apabila kasus tersebut sudah dapat dilanjutkan di puskesmas.
Pelayanan Rawat inap di rumah sakit hanya diberikan di fasilitas kelas III. Dalam kondisi
Gawat Darurat masyarakat dapat langsung ke Rumah Sakit melalui Unit Gawat Darurat,
setelah mendapatkan pelayanan dilakukan verifikasi oleh petugas apabila terindikasi sebagai
keluarga miskin maka dapat menggunakan SKTM (surat ketererangan tidak mampu).


2

Kenyataannya dilapangan, banyak kendala yang terjadi dalam penerapan program
ASKESKIN. Seperti yang tertulis dalam artikel yang ditulis oleh Siswono dalam gizi.net :
Gizi.net - Subarjo (55 tahun) warga Bantul, harus pasrah ketika diminta untuk
membayar uang Rp 240 ribu setelah berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSD),
Wirosaban Yogyakarta. Bersamaan dengan Subarjo mengeluarkan uang, datang
rombongan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah, melakukan inspeksi mendadak (sidak)
ke RSD Wirosaban Yogyakarta. Saat itu Menkes memang sengaja bertandang ke
puskesmas dan RSU di Yogyakarta.
Menkes yang melihat peristiwa itu geram. Karena tahu bahwa Subarjo sudah
menunjukkan kartu sehat, tapi masih saja dikenai biaya kesehatan. Karena, dengan
kartu sehat itu ada jaminan mendapatkan pengobatan gratis di Puskesmas atau
rumah sakit kelas III. ''Pemegang kartu sehat harus gratis. Kembalikan uang bapak
ini,'' kata Menkes kepada petugas rumah sakit.
Setelah Menkes menegur petugas, akhirnya petugas rela mengembalikan uang
berobat Subarjo sebesar Rp 240 ribu. Nominal uang ini bagi Subarjo cukup berarti
karena dia hanyalah seorang buruh di terminal bus kota Yogyakarta. Kalau sedang
sakit kencing batu seperti sekarang, dia harus hutang ke sana ke mari untuk biaya
pengobatan.









3









Bapak Pagito merupakan satu dari sekian banyak masyarakat miskin yang kurang tahu dengan
program ASKESKIN










Tempat Bapak Pagito biasa bekerja membuatnya beresiko terkena berbagai penyakit

Bapak Pagito merupakan satu dari sekian banyak masyarakat miskin yang kurang tahu
dengan program ASKESKIN. Padahal program tersebut memang dikhususkan untuk
masyarakat miskin. Kurangnya sosialisasi merupakan kelemahan dari program tersebut,
sehingga masyarakat miskin yang menjadi sasaran dalam program tersebut kurang bisa
memanfaatkan layanan kesehatan yang seharusnya bisa didapat.

4

Menurut Zuber Syafawi dalam penerapan program ASKESKIN berpendapat sebagai berikut :
Pemerintah maupun Askes gencar melakukan sosialisasi program Askeskin
kepada masyarakat. Sosialisasi itu, bisa menyangkut tujuan, penyelenggaraan,
prosedur pelayanan kesehatan, maupun pemantauan, dan evaluasi program. Hal itu
guna menghindari kesalahpahaman dan penyimpangan dalam pelaksanaannya.
Bagaimana pun Askeskin hak masyarakat miskin dan tidak mampu, sehingga
sangat wajar bagi masyarakat untuk mengetahuinya.
Contoh paling nyata dari manfaat gencarnya sosialisasi Askeskin, imbuh dia,
pengurus RT dan RW setempat tanggap bila ada warganya yang sakit dan ternyata
miskin. Mereka dapat dengan cepat membawanya ke puskesmas atau rumah
sakit." tandas Zuber

Program ASKESKIN yang seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya dalam
bidang kesehatan ternyata mengalami banyak hambatan saat diterapkan di lapangan. Hal tersebut
dikarenakan rumitnya proses dalam mekanisme pelayanan kesehatan dan kurang disosialisasikannya
nya program tersebut pada masyarakat miskin. Sehingga hal hal yang seharusnya dilakukan
pemerintah dalam menangani masalah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Memperjelas ketepatan sasaran keluarga miskin melalui verifikasi lapangan.
Sasaran askeskin adalah orang miskin dan masyarakat tidak mampu. Hal ini tentunya dalam
rangka mencapai keterjangkauan biaya pelayanan kesehatan. Oleh karena itu masyarakat
yang mampu menjangkau biaya kesehatan tidak diberi kesempatan mendapatkan
pengobatan gratis dengan askekin. Namun yang terjadi setelah diberlakukannya kebijakan
ini adalah munculnya orang miskin dadakan. Orang-orang yang berobat ke rumah sakit
berlomba-lomba ingin gratis. Hal ini merupakan penyakit sosial yang harus ditangani
secara tegas. Oleh karena itu perlu memperjelas ketepatan sasaran keluarga miskin melalui
verifikasi lapangan. Pemerintah bekerjama dengan pihak tertentu untuk menelusuri
kejujuran oknum pemberi askeskin (kepala desa, RT, dan sebagainya). Hal ini demi
tepatnya sasaran Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPK MM) dan
efisiensi dana yang ada.




5

2. Pencerdasan pemegang askeskin
a. Pendidikan kesehatan.
Setelah kembali dari rumah sakit, pasien askeskin diharapkan bukan sekedar sembuh fisik
akan tetapi juga bertambah pengetahuannya tentang kesehatan sehingga mengubah sikap
dan perilaku dalam menjalani kehidupan. Meskipun rumah sakit berfokus pada intervensi
kuratif (pengobatan) rumah sakit juga bertanggung jawab dalam memberi pendidikan
kesehatan bagi pasien atau pun keluarga pasien. Kominukasi dengan pasien hendaklah
bukan sekedar anamnesis (tanay jawab seputar penyakit) akan tetapi juga memberi
informasi tenatng kesehatan. Misalnya pada pasien hipertensi deberi tahu makanan dan
pola hidup apa saja yang seharusnya dilakuakn atau ditinggalkan. Selain itu penting juga
memberi pendidikan tentang perilaku hidup bersih sehat.

b. Mengemukakan pendapat dan kritik.
Idealnya seorang pasien memberi masukan atau kritik dalam pelayanan yang diteriamnya.
Namun sebagaian besar pemegang askeskin yang nota bene berlatar belakang pendidikan
rendah tidak pernah memberi kritik kepada rumah sakit berkaitan dengan pelayanan
kesehatan yang ia terima.

3. Mengendalikan faktor di luar pelayanan kesehatan.
Pelayanan kesehatan bagi orang miskin adalah masalah yang kompleks. Sekalipun sudah
diajamin dengan askeskin, belum tentu warga memanfaatkannya dengan optimal.
Diantaranya adalah kendala jarak. Pertimbangan ongkos transport cukup menjadi hambatan
warga untuk datang ke rumah sakit seandainya ia dirujuk ke rumah sakit. Belum lagi jika
harus mendapat perawatan inap maka biaya yang dikeluarkan bertambah dengan biaya
hidup penunggu/ keluarga pasien. Pandangan masyarakat bahwa pengguna askeskin akan
mendapat perawatan yang jelek dan lambat turut membuat masyarakat enggan
menggunakan kartu askeskin dan memilih alternative pengobatan yang lain.