Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS / ALOKASI WAKTU EFEKTIF BELAJAR SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2014/2015

NAMA SEKOLAH : SMP NEGERI 3 PALU KELAS : VIII


MATA PELAJARAN : MATEMATIKA SEMESTER : I (SATU)
Bulan
tahun
Hari
Efektif
Sekolah
Jumlah Hari Efektif Belajar Jumlah
Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Hari Minggu
1. Juli 14 9 1 1 1 1 1 1 6 1
2. Agustus 14 24 4 4 4 4 4 4 24 4
3. September 14 26 5 5 4 4 4 4 26 4
4. Oktober 14 26 3 3 4 4 4 2 20 3
5. November 14 25 4 4 4 4 4 5 25 4
6. Desember 14 20 1 1 1 1 1 1 6 1
Jumlah 130 18 18 18 18 18 17 107 17

Minggu Efektif Belajar Semester Ganjil Thn 2014/2015 = 17 minggu
Jumlah Jam Pelajaran Semester Ganjil 17 x 5 jampel = 85 Jam Pelajaran
Penggunaan Waktu : Tatap Muka = 55 Jam Pelajaran
: Ulangan Harian 3 kali = 6 Jam pelajaran
: Ujian Tengah Semester = 5 Jam Pelajaran
: Perbaikan/ Pengayaan = 9 Jam Pelajaran
: Cadangan = 5 Jam Pelajaran
: Ujian Semester Ganjil = 5 jam Pelajaran
Jumlah = 85 Jam Pelajaran


Mengetahui Palu, 14 Juli 2014.
Kepala Sekolah, Guru Mata Pelajaran,


NURDIN I. UMAR, S.Pd. BENIAR, S.Pd.
Nip. 196507061987031018 Nip. 196707141989012003










Home
About Me
Contact Me
Daftar Isi Blog
Paling Sering Dibaca
Belajar HTML, Modul Dasar Cara Membuat Kode HTML
Profesionalisme Guru
Cara Membuat Siomay Tahu
Wirausaha Sukses Modal Kecil | Bisnis Modal Kecil
Peran Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
18 -August -2014 - 04:34
Artikel Terbaru
Cara Membuat Obat Penyakit Stroke Herbal Alami Tradisional Sederhana Tapi Ampuh
Penyebab Stroke Yang Luput Dari Perhatian
Mengenal Apa Itu Penyakit stroke
Jus Kelengkeng Mencegah Penyakit Jantung Secara Alami
Bisnis Besar Yang Dimulai Dari Arisan Ibu - Ibu
defaut dark light
search...

Kesehatan
Diabetes Melitus
Penyakit Jantung
Penyakit Stroke
Penyakit Ginjal
Penyakit Kolesterol
Tips Kesehatan
Ilmu Gizi
Asuransi Unit Link
Kategori Lainnya
Pendidikan
Pariwisata
Resep Makanan
Internet Dan Komputer
Kumpulan Ebook
Kumpulan Software
Ibu Dan Anak
Wirausaha
Peran Komite Sekolah Dalam
Meningkatkan
Mutu Pendidikan


Peran komite sekolah. Komite sekolah merupakan nama baru pengganti Badan
Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3). Secara substansial kedua istilah
tersebut tidak begitu mengalami perbedaan. Yang membedakan hanya terletak
pada pengoptimalan peran serta masyarakat dalam mendukung dan mewujudkan
mutu pendidikan.
Komite Sekolah adalah badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat
dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan
pendidikan di satuan pendidikan, baik pada pendidikan pra sekolah, jalur
pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan di luar sekolah (Kepmendiknas
nomor: 044/U/2002).

Tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah:
1. Mewadahi dan menyalurkan aspirasi serta prakarsa masyarakat dalam
melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di satuan
pendidikan.
2. Meningkatkan tanggung jawab dan peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3. Menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel, dan demokratis
dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan yang bermutu di satuan
pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Adapun fungsi Komite Sekolah, sebagai berikut:
1. Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap
penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi/ dunia
usaha/dunia industri) dan pemerintah berkenaan dengan penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu.
3. Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai
kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
Peran Komite Sekolah. Secara kontekstual, peran Komite Sekolah sebagai
berikut :
1. Pemberi pertimbangan (advisory agency) dalam penentuan dan pelaksanan
kebijakan pendidikan di satuan pendidikan.
2. Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran,
maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.
3. Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas
penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di satuan pendidikan.
4. Mediator antara pemerintah (eksekutif) dengan masyarakat di satuan
pendidikan (Kepmendiknas nomor: 044/U/2002).
Depdiknas dalam bukunya Partisipasi Masyarakat, menguraikan tujuh peran
Komite Sekolah terhadap penyelenggaraan sekolah, yakni:
1. Membantu meningkatkan kelancaran penyelenggaraan kegiatan belajar-
mengajar di sekolah baik sarana, prasarana maupun teknis pendidikan.
2. Melakukan pembinaan sikap dan perilaku siswa. Membantu usaha
pemantapan sekolah dalam mewujudkan pembinaan dan pengembangan
ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikan demokrasi sejak
dini (kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan pendahuluan bela
negara, kewarganegaraan, berorganisasi, dan kepemimpinan),
keterampilan dan kewirausahaan, kesegaran jasmani dan berolah raga,
daya kreasi dan cipta, serta apresiasi seni dan budaya.
3. Mencari sumber pendanaan untuk membantu siswa yang tidak mampu.
4. Melakukan penilaian sekolah untuk pengembangan pelaksanaan kurikulum,
baik intra maupun ekstrakurikuler dan pelaksanaan manajemen sekolah,
kepala/wakil kepala sekolah, guru, siswa, dan karyawan.
5. Memberikan penghargaan atas keberhasilan manajemen sekolah.
6. Melakukan pembahasan tentang usulan Rancangan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Sekolah (RAPBS).
7. Meminta sekolah agar mengadakan pertemuan untuk kepentingan tertentu
(Depdiknas, 2001:17).
Mutu dalam konteks "hasil" pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh
sekolah pada setiap kurun waktu tertentu. Prestasi yang dicapai atau hasil
pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis,
dapat pula prestasi bidang lain seperti olah raga, seni atau keterampilan tertentu
(komputer, beragam jenis teknik, jasa). Bahkan prestasi sekolah dapat berupa
kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin,
keakraban, saling menghormati, kebersihan, dan sebagainya.
Peran Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan perlu mendapat
dukungan dari seluruh komponen pendidikan, baik guru, Kepala Sekolah, siswa,
orang tua/wali murid, masyarakat, dan institusi pendidikan. Oleh karena itu perlu
kerjasama dan koordinasi yang erat di antara komponen pendidikan tersebut
sehingga upaya peningkatan mutu pendidikan yang dilaksanakan dapat efektif
dan efisien.
---------------
Kumpulan artikel pendidikan :
Bagaimana asuransi unit link menjamin DANA PENDIDIKAN anak anda
Pengembangan profesionalisme guru di abad pengetahuan
Pendidikan murah berkualitas hak masyarakat Indonesia
Kemandirian pendidikan nasional melalui research
Pendidikan berwawasan global
sumber : pendidikan.net
< Prev Next >

Joomla SEO powered by JoomSEF
Terkait Pendidikan

Total Quality Management Sebagai Wujud Peningkatan Mutu Pendidikan
Perubahan Kurikulum Berpengaruh Pada Kualitas Pendidikan
Sertifikasi Guru Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Guru Profesional Bukan Sekedar Lulus Sertifikasi
Peran Komite Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Kemandirian Pendidikan Nasional Melalui Research
Pendidikan Berwawasan Global
Pendidikan Murah, Berkualitas Hak Masyarakat Indonesia
Profesionalisme Guru
Cara Mendidik Anak
Unit Link
PELAJARI
RAHASIA MEMBELI
ASURANSI UNITLINK:

1. Strategi Menetapkan jumlah premi
2. Strategi Premi kecil manfaat lengkap
3. Memilih premi bulanan / tahunan
4. Dana investasi paling untung
5. Cuti premi tanpa rugi
6. Tarik dana tanpa kurangi investasi
7. Investasi tanpa bayar premi
8. Dana pendidikan dan pensiun
9. Strategi asuransi gratis
10. Hal pokok yang wajib anda tahu

DOWNLOAD SEKARANG
DI SINI



Copyright 2014. Tips Kesehatan. All Rights Reserved


Kompasiana Kompas.com Cetak ePaper Kompas TV Bola Entertainment Tekno Otomotif Female Health
Properti Urbanesia Images More
Games KompasKarier PasangIklan Grazera Forum
<a
href='http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=ac22031e&amp;cb=INSERT_RANDOM_NU
MBER_HERE' target='_blank'><img
src='http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=1319&amp;cb=INSERT_RANDOM_NU
MBER_HERE&amp;n=ac22031e' border='0' alt='' /></a>

Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green
Jakarta Fiksiana Freez
Home
Humaniora
Edukasi
Artikel
Edukasi

Fahmi Awaludin
Guru SD
Jadikan Teman | Kirim Pesan
0inShare
Peran Komite Sekolah
REP | 29 April 2012 | 03:23 Dibaca: 8078 Komentar: 9 1

Rapat Pesantren Ramadhan
Di lingkungan pendidikan formal bernama sekolah banyak sekali pihak-pihak yang berkaitan apakah pihak
sekolah meliputi yayasan jika sekolah itu adalah swasta, kepala sekolah selaku pengelola dan guru selaku
pelaksana di lapangan dibantu oleh staf administrasi dan juga petugas lapangan dan yang tak kalah
pentingnya kehadiran siswa dan orang tua.
Selama ini seperti kita ketahui bersama, di zaman modern ini, sekolah dituntut untuk memberikan yang
terbaik bagi putra-putri generasi penerus bangsa dimana orang tua yang menyekolahkan anaknya sangat
memercayakannya. Sekolah sejatinya sebagai lembaga resmi dibawah naungan pemerintah memiliki
kewajiban untuk mencetak generasi penerus bangsa. Namun perlu di ingat keberhasilan peserta didik erat
kaitannya dengan berbagai pihak salah satunya peran orang tua. Mengapa demikian? Karena bagaimanapun
juga orang tua dan guru adalah pendidik bagi putra-putri yang tengah mencari ilmu. Maka dari itu keberadaan
orang tua dalam membantu keberhasilan putra-putrinya sangat diperlukan. Lalu bagaimana caranya?
Pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasioanl mengeluarkan surat keputusan yang tercantum
dalam Kepmendiknas bernomor: 044/U/2002 tentang Peran dan Fungsi Komite Sekolah.
Peran dan fungsi komite sekolah diantaranya pertama sebagai advisor. Pada tahap ini komite sekolah
mempunyai tugas memberikan masukan atau saran dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan
ekstrakurikuler serta dalam hal sarana dan prasarana sekolah. Jelas hal ini akan membantu dan menjaga
kelancaran kegiatan sekolah yang akan dan tengah dilaksanakan. Karena tanpa pemberian masukan langsung
dari komite sekolah, pihak sekolah akan membutuhkan banyak waktu untuk sekadar menerima masukan atau
saran saat dan setelah kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Demikian pula dengan sarana atau prasarana
terutama sekolah yang dikelola swasta, keberadaan masukan lewat bentuk nyata perlu kiranya dikelola
dengan baik. Karena komite sekolah sebagai jembatan antara orang tua dan guru/ yayasan akan terasa
manfaatnya jika ini digali dengan sangat serius terutama untuk mendukung kelancaran dalam melaksanakan
program pemelajaran di sekolah.
Yang kedua, peran komite sekolah yakni supporting. Tindakan nyata dari persatuan orang tua dan guru ini
berupa memberikan dukungan terhadap program-program sekolah, selama program tersebut baik bagi siswa,
guru maupun orang tua. Dukungan dapat berupa dana, dan non dana (ide, pemikiran, dll). Artinya setiap
orang tua siswa dalam hal ini memiliki program nyata dan biasanya dibagi ke dalam dua hal. Dukungan yang
bersifat materil berupa sumbangan terhadap kegiatan di sekolah seperti membantu sekolah dalam
penggalangan dana untuk kegiatan yang bersifat sosial seperti membantu korban banjir, rumah rusak, longsor
dan lain sebagainya pun yang bersifat keagamaan seperti santunan anak yatim-piatu, jompo dan lainnya. Di
sisi lain sumbangsih orang tua terhadap non-materil juga dibutuhkan. Adanya program sekolah yang
berkenaan dengan semangat dan pemberian motivasi bagi keberhasilan siswa perlu kiranya dianggap serius
seperti penyelenggaraan career days, how to get success in the future, dan lain sebagainya. Dan diharapkan
kesinambungan antara supporting orang tua dengan guru berjalan selaras demi mewujudkan putra-putri
bangsa yang cemerlang.
Kemudian yang ketiga adalah controlling. Komite sekolah berperan dalam mengawasi sejauh mana
pelaksanaan program, kurikulum, proses belajar-mengajar dan kegiatan-kegiatan lainnya apakah sudah
dilaksanakan optimal atau belum juga dapat mengawasi apakah sarana dan prasarana yang sudah ditetapkan
atau dijanjikan dapat direalisasikan atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan di atas harus ditanggapi dengan
serius selaku penyelenggara pendidiakn formal.
Sebagai komite sekolah yang memiliki peran untuk mengawasi, akan sangat penting program pendidikan
diinformasikan sesering mungkin apakah lewat media sekolah seperti bulletin sekolah, website atau pun
media komunikasi yang komite sekolah buat. Karena ini akan mempermudah dalam pengawasan terutama
bagi orang tua yang tidak sempat atau sibuk sehingga tidak bisa ke sekolah langsung.
Dan yang terakhir, komite sekolah berperan sebagai mediator yakni antara orang tua dengan guru, orang tua/
guru dengan perguruan/ yayasan. Semua saran, usualan atau masukan yang diterima oleh komite sekolah
disampaikan kembali kepada sekolah/ perguruan/ yayasan. Komite sekolah berfungsi sebagai mediator bukan
sebagai pengambil keputusan atau decision maker.
(Fahmi Awaludin)
Tags: peran komite sekolah freez

Laporkan
Tanggapi
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
1

bain saptaman
Aktual
KOMENTAR BERDASARKAN :
28 April 2012 22:35:09
Mengajar di mana pak ..
Salam Kenal
Laporkan Komentar

0

Balas
Opa Jappy
29 April 2012 22:23:52
Mengajar di SD Bosowa Bina Insani Bogor.
Salam kenal kembali, Pak.
Laporkan Komentar

1

Balas
Fahmi Awaludin
28 April 2012 22:44:51
setuju pak
sayang ada komite yg malah MENJEGAL kebijakan sekolah
demi mencari nama pribadi
.
semua kembali ke anak didik nantinya..
Laporkan Komentar

1

Balas
Bain Saptaman
29 April 2012 07:02:16
betul3x,.. salam upin ipin.
Laporkan Komentar

0

Balas
Muhammad Yusuf
29 April 2012 22:26:41
@Pak Bain Saptaman, segera laporkan saja kepada organisasi orang tua. Karena yang berbuat
tidak baik orangnya bukan organisasi atau komitenya.
@Pak Muhammad Yusuf,,,, salam kembali.
Laporkan Komentar

0

Balas
Fahmi Awaludin
28 April 2012 23:42:22
Pendidikan itu, ya sinergi. Jadi semua memiliki sumbangsih, betul kan, Pak?
Laporkan Komentar

0

Balas
Jepes
29 April 2012 22:27:09
Benar, Pak.
Laporkan Komentar

0

Balas
Fahmi Awaludin
29 April 2012 21:10:11
Fungsi pendidikan menurut UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pasal 3, adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada TUHAN Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggungjawab.
Tetapi, dalam berbagai hal, pada umumnya pendidikan di Indonesia masih terjadi berbagai
hal, antara lain
selanjutnaya klik
http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/31/tantangan-pada-dunia-pendidikan-di-indonesia/
Laporkan Komentar

0

Balas
Opa Jappy
30 April 2012 00:21:53
Terima kasih atas komentar dan alamat artikelnya, Pak.
Laporkan Komentar

0

Balas
Fahmi Awaludin
14 January 2013 11:48:26
saya mau minta masukan pak
baikkah komite sekolah melakukan pertemuan di luarsekolah tanpa memberitahukan pihak
sekolah ?
Laporkan Komentar

0

Balas
Agus Onar
Tulis Tanggapan Anda


REGISTRASI | MASUK




FEATURED ARTICLE

Nasionalisme Kain Seprai Merah Putih
Winarto

HEADLINE ARTICLES
Inilah 17 Artikel Paling Indonesia
Kompasiana | | 17 August 2014 | 15:56
Inikah Bukti Nasionalisme TKI di
Padlilsyah | | 17 August 2014 | 13:06
Kemerdekaan Indonesia Earned
Anjo Hadi | | 17 August 2014 | 18:11
Anak Garuda
Tasch Taufan | | 17 August 2014 | 12:08
[Proyek Buku] Catatan Warga Indonesia di 10
Kompasiana | | 12 August 2014 | 23:19

TRENDING ARTICLES
Cara Alami Mengurangi Minus Mata
Intan Putri | 15 jam lalu
Prabowo Tidak Memberikan Pembelajaran
Opa Jappy | 15 jam lalu
Agenda Besar di Balik Sidang Sengketa
Budi Haryono | 16 jam lalu
Hamdan Zoelva: Sistim Noken tidak berlaku
Ipiet Priyono | 18 jam lalu
(J okowi RI-1) Sebuah Rencana yang Paling
Joko Siswonov | 22 jam lalu
INFO & PENGUMUMAN
KONTAK KOMPASIANA
INDEX
Inilah 17 Artikel Paling Indonesia
Pro Kontra: Bolehkah Menteri Rangkap
[Proyek Buku] Catatan Warga Indonesia
TERAKTUAL
INSPIRATIF
Anak Garuda Merdeka Itu Disini Luka Luka Bendera Kek Benarkah Kompasiana Ajang Sharing And
Connecting? Persembahanku di Usia Kemerdekaan 69 Tahun Rahasia Sehat Bugar dan Mesra Hingga Jadi Opa
dan Oma Ironi Merdeka Atau Mati 69 Bukan Sekedar Posisi Foreplay Menanti Kemerdekaan
BERMANFAAT
MENARIK
Subscribe and Follow Kompasiana:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana
Toolbar
2008-2014
<a
href='http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a48ec3c1&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUM
BER_HERE' target='_blank'><img
src='http://ads6.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=1025&amp;cb=INSERT_RANDOM_NU
MBER_HERE&amp;n=a48ec3c1' border='0' alt='' /></a>























Beranda

PENULIS BLOG

FOTO-FOTO

PROFIL SMAN 1 LHOONG

DATA SEKOLAH
SMAN 1 LHOONG BLOGS
Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah
buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti
pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta
Oktober 23, 2009
PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN
BERBASIS SEKOLAH
Posted by RAISUL AKBAR, S.Pd, M.Pd underhttp://www.raisulakbar.wordpress.com
[2] Comments
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia
dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu
sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka Pemerintah telah
berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih
berkualitas melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana
pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan
lainnya. Tetapi kenyataan belum cukup dalam meningkatkan kualitas pendidikan (Depdiknas, 2001:2).
1
Salah satu wujud aktualisasinya dibentuklah suatu badan yang mengganti keberadaan Badan Pembantu
Penyelenggara Pendidikan (BP3) yakni Komite Sekolah melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional
nomor : 044/U/2002 tanggal 2 April 2002. Penggantian nama BP3 menjadi Komite Sekolah didasarkan atas
perlunya keterlibatan masyarakat secara penuh dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Salah satu tujuan pembentukan Komite Sekolah adalah meningkatkan tanggung jawab dan peran serta
masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. Hal ini berarti peran serta masyarakat
sangat dibutuhkan dalam peningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya sekadar memberikan bantuan
berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan
inovatif demi kemajuan suatu sekolah.
Otonomi daerah sebagai wahana untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan di masyarakat, lancar dan
tidaknya realisasi pelaksanaan otonomi daerah tersebut, sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat itu
sendiri. Kemampuan yang dibutuhkan antaranya adalah kemampuan sumber daya manusia untuk mengelola
dinamika masyarakat, kemampuan untuk mengalokasikan sumber finansial daya alam, secara tepat,
memotifasi lembaga-lembag pendukung pembangunan, serta keberanian untuk mengambil keputusan-
keputusan untuk kemajuan daerah. Dalam rangka pelaksanaan otonomi pendidikan sebagai salah satu bagian
dari otonomi daerah, maka untuk meningkatkan peran serta masyarakat di bidang pendidikan, diperlukan
suatu wadah yang dapat mengakomodasikan pandangan, aspirasi dan menggali potensi masyarakat untuk
menjamin terciptanya demokratisasi, transparasi, dan akuntabilitas pendidikan. Salah satu wadah tersebut
adalah dewan pendidikan di tingkat Kabupaten/ Kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan.
Keberadaan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah ini telah mengacu kepada undang-undang nomor 25
tahun 2000 tentang Progam Pembangunan Nasional (Propenas) tahun 2000-2004, dan sebagai implementasi
dari undang-undang tersebut telah diterbitkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002
tanggal 2 April 2002 tentang dewan Pendidikan dan Komite Sekolah.
Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang bersifat universal, untuk seluruh umat dimanapun dan
kapanpun. Di Indonesia pendidikan merupakan kebutuhan seluruh warga negara, maka pengembangannya
harus konseptual, menyeluruh, fleksibel dan berkesinambungan (Hardono, 1999:1). Untuk meningkatkan
mutu penyelenggaraan di antaranya kebijakan pembentukan dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang
akhir-akhir ini menjadi agenda terhangat dalam dunia pendidikan di Indonesia. Konsep baru ini cenderung
disambut dan diapresiasi sebagai sebuah angin segar dalam proses perjalanan penyelenggaraan lembaga
pendidikan dengan lebih mengintensifkan pelibatan masyarakat.
Adanya perubahan paradigma sistem pemerintahan dari sentralisasi menjadi desentralisasi telah membuka
peluang bagi mmasyarakat utnuk dapat meningkatkan peran sertanya dalam pengelolaan pendidikan, Salah
satunya upaya untuk mewujudkan peluang tersebut adalah melalui Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten
/Kota dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah merupakan
amanat rakyat yang telah tertuang dalam UU RI No.25 tahun 2000 tentang Progam Pembangunan Nasional
(Propenas) 2000-2004. Amanat rakyat ini selaras dengan kebijakan otonomi daerah, yang telah memposisikan
Kabupaten/Kota sebagai pemegang kewenangan dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pelaksanaan pendidikan di daerah tidak hanya diserahkan kepada Kabupaten/Kota, melainkan juga dalam
beberapa hal telah diberikan kepada satuan pendidikan, baik pada jalur pendidikan sekolah maupun luar
sekolah. Dengan kata lain, keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung
jawab pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah propinsi, Kabupaten/Kota, dan pihak sekolah orang tua,
dan masyarakat atau stakeholder pendidikan. Hal ini sesuai dengan konsep partisipasi bebasis masyarakat
(community based participation) dan Manajemen Berbasis Sekolah (school based management) yang kini tidak
hanya menjadi wacana, tetapi mulai dilaksanakan di Indonesia. Inti dari penerapan kedua konsep tersebut
adalah bagaimana agar sekolah dan semua yang berkompeten atau stakeholder pendidikan dapat memberikan
layanan pendidikan yang berkualitas. Untuk itu diperlukan kerjasama yang sinergis dari pihak sekolah,
keluarga, dan masyarakat atau stakeholder lainnya secara sitematik sebagai wujud peran serta dalam
melakukan pengelolaan pendidikan melalui Dewan Pendidikan dan Komite sekolah.
Sesuai dengan perkembangan tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang semakin
meningkat dewasa ini, maka dalam era manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pengelolaan pendidikan perlu
dibenahi selaras dengan tuntutan perubahan yang dilandasi oleh adanya kesepakatan, komitmen, kesadaran,
kesiapan membangun budaya baru dan profesionalisme dalam mewujudkan Masyarakat Sekolah yang
memiliki loyalitas terhadap peningkatan mutu sekolah.
Pendidikan dengan segala persoalannya tidak mungkin diatasi hanya oleh lembaga persekolahan. Untuk
melaksanakan program-progamnya, sekolahan perlu mengundang berbagai pihak yaitu keluarga, masyarakat,
dan dunia usaha/ industri untuk beraptisipasi secara aktif dalam berbagai program pendidikan. Paertisipasi ini
perlu dikelola dan dikoordinasikan dengan baik agar lebih bermakna bagi sekolah, terutama dalam
peningkatan mutu dan efektifitas pendidikan lewat suatu wadah yaitu Dewan Pendidikan di tingkat
Kabupaten/ Kota dan Komite Sekolah di setiap satuan pendidikan. Dengan demikian pelaksanaan MBS
disatuan pendidikan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa alasan penulis memilih tema di atas adalah: 1) adanya fenomena yang berkembang di masyarakat
terhadap keberadaan Komite Sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan 2) Komite Sekolah
merupakan organisasi baru dalam dunia pendidikan yang menarik untuk ditelaah lebih mendalam khususnya
dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Dengan uraian diatas maka dalam penelitian ini mengkaji eksistensi komite dalam Pelaksanaan Manajemen
Berbasis Sekolah yang terjadi di lingkungan SMP Negeri 1 Seulimeum.
B. Rumusan Masalah
Pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah yang melibatkan masyakat secara aktif dalam
setiap langkah yang ditempuh oleh pihak sekolah adalah merupakan pemaknaan dari penerapan konsep
Manajemen Berbasis Sekolah, namun disebabkan hal tersebut adalah suatu konsep dalam pendidikan,
sehingga perlu untuk melakukan suatu kajian untuk melihat keaktifan masyarakat dalam penerapan konsep
Manajemen Berbasis Sekolah.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi pokok permasalahan utama dalam
penelitian ini adalah: Bagamanakah peranserta komite sekolah dalam meningkatan mutu
pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah untuk di SMP Negeri 1 Seulimeum?
C. Tujuan Penelitian
Mengingat penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengungkap secara menyeluruh
dan komprehensif semua aspek yang terkait tentang Eksistensi Komite Sekolah Dalam Pelaksanaan
Manajemen Berbasis Sekolah, dengan mengambil kasus yang terjadi di SMP Negeri 1 Seulimeum Lebih lanjut,
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis:
Bagaimana peran Komite sekolah yang telah diterapkan secara konsekuensi di SMP Negeri 1 Seulimeum ?
Bagaimana cara-cara komite sekolah dalam menjalankan peranannya dalam penyelenggaraan pendidikan
dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum
Sejauh mana ketercapaian pelaksanaan peran komite sekolah dalam memberikan jaminan pelibatan
stakeholder pendidikan dalam mendukung proses pendidikan.
Faktor pendorong dan faktor penghambat yang dapat mempengaruhi eksistensi sekolah dalam pelaksanaan
Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum.
D. Pertanyaan Penelitian
Adapun pokok- pokok masalah penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
Bagaimanakah peran Komite sekolah yang telah diterapkan secara konsekuensi di SMP Negeri 1 Seulimeum ?
Bagaimanakah cara-cara komite sekolah dalam menjalankan peranannya dalam penyelenggaraan pendidikan
dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum
Sejauh manakah ketercapaian pelaksanaan peran komite sekolah dalam memberikan jaminan pelibatan
stakeholder pendidikan dalam mendukung proses pendidikan.
Bagaimnakah faktor pendorong dan faktor penghambat yang dapat mempengaruhi eksistensi sekolah dalam
pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 1 Seulimeum.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang berupa eksistensi Komite Sekolah dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di
SMP Negeri 1 Seulimeum akan bermanfaat bagi para penyelenggara pendidikan (kepala sekolah), departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, para pengurus komite sekolah, serta para stakeholder pendidikan terutama
untuk :
1. Manfaat teoritis
Menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama tentang eksistensi komite sekolah dalam pelaksanaan MBS.
Peneliti dapat menyumbangkan gagasannya yang berkaitan dengan eksistensi sekolah dalam pelaksanaan
MBS.
Hasil-hasil yang diperoleh dapat menimbulkan permasalahan baru untuk diteliti lebih lanjut.
2. Manfaat praktis
Bagi pengurus komite sekolah
Mengungkapkan beberapa kendalaatau hambatan terhadap profil dan peran komite sekolahyang pada
akhirnya dapat digunakan oleh pengurus komite sekolahsebagai tataran pelaksanaan di lapangan, serta
keberadaaannya yang cukup strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
b. Bagi penyelenggara pendidikan
Memberikan sumbangan pemikiran dan masukan bagi penyelenggara pendidikan akan pentingnya profil dan
peran Komite Sekolah yang berguna dalam upaya peningkatan komitmen dan profesionalisme dalam
mewujudkan Masyarakat Sekolah yang memiliki loyalitas terhadap peningkatan mutu sekolah.
c. Bagi Dinas Pendidikan Nasional
Membentuk pihak-pihak yang berkepentingan dalam menjelaskan berbagai isu terhadap pembentukan Komite
Sekolah hanya sekedar merubah nama dari BP3 sekaligus memberi masukan yang penting bagi para pemerhati
pendidikan untuk lebih memiliki integritas yang tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di satuan
pendidikan masing-masing.
G. Landasan Teoritis
Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan di tingkat pendidikan dasar tetapi hasilnya tidak begitu
menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan
bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara
merata.
Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output)
terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.
Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya
ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang
menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu
yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal
tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran
pendidikan menjadi kurang termotivasi.
Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya
terbatas pada dukungan dana. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan
antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.
Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui Manajemen
Berbasisi Sekolah (School Based Management).
Faktor Pendorong Perlunya Desentralisasi Pendidikan
Saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan
1
. Beberapa perubahan tersebut
antara lain,
Orientasi manajemen yang sarwa negara ke orientasi pasar. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan
pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul.
Orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem
yang mengutamakan peranan rakyat. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang
demokratis.
Sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan
dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.
Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi
batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. Keadaan ini membawa akibat
tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan
global.
Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang
tidak bisa dihindari. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif, yaitu untuk mengurangi
wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kebijakan umum
yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan
daerah. Disamping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal), menghambat kreativitas, dan menciptakan
budaya menunggu petunjuk dari atas. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk
memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan.
Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah
atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong
penerapan desentralisasi terinci sbb.:
tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta
mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.
anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan
partisipasi siswa bersekolah.
ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan
masyarakat yang beragam.
penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat
tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.
Desentralisasi pendidikan, mencakup tiga hal, yaitu;
manajemen berbasis lokasi (site based management).
pendelegasian wewenang
inovasi kurikulum.
Pada dasarnya manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan penyelenggaraan
pendidikan di sekolah. Pengurangan administrasi pusat adalah konsekwensi dari yang pertama dengan diikuti
pendelegasian wewenang dan urusan pada sekolah. Inovasi kurikulum menekankan pada pembaharuan
kurikulum sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua peserta didik.
Kurikulum disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di daerah atau sekolah. Pada kurikulum 2004
yang akan diberlakukan, pusat hanya akan menetapkan kompetensi-kompetensi lulusan dan materi-materi
minimal. Daerah diberi keleluasaan untuk mengembangkan silabus (GBPP) nya yang sesuai dengan kebutuhan
peserta didik dan tuntutan daerah. Pada umumnya program pendidikan yang tercermin dalam silabus sangat
erat dengan program-program pembangunan daerah. Sebagai contoh, suatu daerah yang menetapkan untuk
mengembangkan ekonomi daerahnya melalui bidang pertanian, implikasinya silabus IPA akan diperkaya
dengan materi-materi biologi pertanian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian. Manajemen
berbasis lokasi yang merujuk ke sekolah, akan meningkatkan otonomi sekolah dan memberikan kesempatan
kepada tenaga sekolah, orangtua, siswa, dan anggota masyarakat dalam pembuatan keputusan.
Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi
penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran,
personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan
menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi
desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional. Jika pengelola di
tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa
negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko,
Nigeria, dan Zimbabwe.
Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang
menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya
konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi dilakukan dengan
mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan
dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikulum lokal. Kurikulum juga harus mengembangkan
kebudayaan daerah dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional.
Proses belajar mengajar menekankan terjadinya proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran
lingkungan yaitu memanfaatkan lingkungan baik fisik maupun sosial sebagai media dan sumber belajar,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan alat pemersatu bangsa.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara
mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan
sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu
sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
H. Pendekatan Penelitian
Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengguna metode dan
pendekatan tersebut mengingat tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menganalisis
mengenai upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penerapan MBS di SMP
Negeri 1 Seulimeum Kabupaten Aceh Besar, oleh Kepala Sekolah maupun guru yang terjadi pada saat sekarang.
Sebagaimana yang di kemukakan oleh Latunussa (1989:55) bahwa:
Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu pertanyaan mengenai hakikat gejala
atau pertanyaan mengenai apa itu atau mendiskripsikan tentang apa itu, sehingga diperoleh informasi keadaan
gejala yang sedang berlangsung sebagai pemecahan masalah yang ada, masalah yang hangat dan actual, dalam
bentuk kata atau kalimat sehingga memberikan makna.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong (1996:31) mengemukakan
bahwa:
Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati yang
diarahakan pada latar dan individu secara holistik.
I. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah tokoh masyarakat, Kepala Sekolah, Guru dan pihak- pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan kegiatan di persekolahan, dan yang akan dijadikan sebagi lokasi penelitian ini adalah di
Kecamatan Lhoong. pengambilan sumber data dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu
pilihan peneliti tentang aspek apa dan siapa yang jadikan focus pada saat situasi tertentu dan karena itu uterus
menerus sepanjang penelitian. Sampling kualitatif yang tergantung pada tujuan focus pada saat itu. Penelitian
ini berprinsip bahwa penelitian kualitatif yang dipentingkan adalah konteks dan bukan jumlah sumber
datanya. Sumber data awal ini menjadi pegangan dalam penelitian ini, sedangkan data dapat diperoleh dari
banyak informasi (menggelinding), sehingga mencapai taraf konsisten.
Namun untuk menjadi suatu pedoman dalam pelaksanaan penelitian dan untuk memudah pelaksanaan, maka
dalam hal ini jumlah subjeknya adalah: 1 (satu) orang kepala sekolah, 4 (empat) orang dari masing- masing
pengurus komite sekolah, 4 (empat) orang guru dari sekolah dan tokoh masyarakat dari sekitar sekolah yang
bersangkutan.
J. Teknik Pengumpulan Data
Keberhasilan suatu penelitian terutama penelitian kualitatif, tergantung beberapa factor. Paling tidak
ditentukan oleh factor kejelasan tujuan dan permasalahan penelitian, ketepatan pemilihan pendekatan/
metodelogi, ketelitian dan kelengkapan data/ informasi itu sendiri. Dalam penelitian yang mendasarkan pada
pendekatan kualitatif ini dipergunakan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu teknik observasi, wawancara
dan studi dokumentasi. Ketiga teknik yang akan dijalaskan berikut ini, digunakan peneliti dalam rangka
memperoleh informasi saling melengkapi.
Observasi; dilakukan dengan pengamatan tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Observasi sebagai pengumpulan data/ informasi dilakukan
secara sistematis, bukan sebagai sambilan atau kebetulan saja. Dan dalam observasi ini akan diusahakan
mengamati keadaan yang wajar dan sebenarnya tanpa usaha yang disengaja untuk mengatur, mempengaruhi
atau memanipulasi objek pengamatan yang sedang diobservasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi focus dari
observasi adalah kegiatan- kegiatan yang berkenaan tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam menghadapi penerapan MBS. Seperti Pertemuan antara pihak sekolah dengan
komite sekolah, kegiatan seharian di sekolah dan kegiatan lain yang berkenaan dengan tujuan dari penelitian
ini.
Wawancara; yaitu dengan melakukan tanya jawab atau mengkonfirmasikan kepada sampel penelitian dengan
sistematis (wawancara terstruktur). Dalam wawancara ini, pertanyaan dan jawaban akan bersifat verbal atau
semacam percakapan yang bertujuan memperoleh data atau informasi. Dalam penelitian ini, yang menjadi
sasaran dari wawancara adalah Kepala Sekolah, pengurus Komite Sekolah, guru, tokoh masyarakat dan sumber
lainnya yang relevan.
Studi dokumentasi; yaitu suatu alat penelitian yang bertujuan untuk melengkapi data (sebagai bukti
pendukung), yang bersumber bukan dari manusia yang memungkinkan dilakukannya pengecekan untuk
mengetahui kesesuiannya. Sumber data yang menjadi focus dalam penelitian ini adalah Notulen Rapar pihak
sekolah dengan Komite sekolah, orang tua siswa dan dengan masyarakat. Serta dokumen lainnya yang
mendukung kajian penelitian ini.
Dalam penelitian kualitatif tidak terdapat prosedur pengumpulan data yang memiliki pola yang pasti. Nasution
(1982:37) mengatakan masing- masing peneliti dapat memberi sejumlah petunjuk dan saran berdasarkan
pengalaman masing- masing, namun demikian Lincoln dan Guba (Nasution, 1996) mengatakan terdapat
rangkaian prosedur dasar yang dipergunakan dalam penelitian kualitatif, prosedur itu meliputi tahap orientasi,
explorasi, dan member check. Pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kegiatan sebagai
berikut:
Tahap Orientasi
Pada saat ini peneliti melakukan kegiatan:
Pendekatan kelembaga-lembaga yang menjadi lokasi penelitian, dengan tujuan untuk memperoleh gambaran
tentang lokasi dan focus masalah penelitian , serta memilih jumlah informan awal yang memadai untuk
memperoleh informan yang tepat.
Melakukan pendalaman terhadap sumber-sumber bacaan yang berhubungan dengan masalah penelitian, guna
menyusun kerangka penelitian dan teori-teori.
Melakukan wawancara awal untuk memperoleh informasi yang bersifat umum yang berkenaan dengan ruang
lingkup penelitian ini.
Tahap Eksplorasi
Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan:
Mengadakan wawancara secara intensif dengan subjek penelitian, yaitu kepala sekolah, pengurus komite
sekolah, guru dan tokoh masyarakat, terutama yang berperan aktif dalam kegiatan peningkatan partisipasi
masyarakat.
Melakukan observasi persiapan dan pelaksanaan dalam konteks upaya pihak sekolah dalam meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam manajemen berbasis sekolah.
Mengumpulkan dan mempelajari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan kegiatan upaya pihak sekolah
dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam manajemen berbasis sekolah.
Tahap Member check
Pada tahap ini, semua data dan informasi yang telah dikumpulkan dan dicek ulang dengan metode triangulasi,
untuk melihat kelengkapan atau kesempurnaan serta validitas data. Pengecekan data-data ini dilakukan
dengan kegiatan sebagai berikut:
Mengecek ulang data-data yang sudah terkumpul, baik data yang terkumpul dari wawancara, hasil observasi
maupun dokumen.
Meminta data atau informasi ulang kepada subjek penelitian apabila ternyata data yang terkumpul tersebut
belum lengkap.
Meminta penjelasan kepada pihak terkait tentang upaya pihak sekolah dalam meningkatkan partisipasi dalam
penerapan manajemen berbasis sekolah
K. Teknik Analisis Data
Tujuan utama penelitian ini adalah memahami prilaku manusia dalam konteks tertentu. Sebagai konsekuensi
dari tujuan , sifat dan pendekatan penelitian kualitatif tersebut, maka proses dan teknik analisa data yang
ditempuh peneliti cenderung beragam. Kualitas konseptual, kreativitas dan intuisi peneliti menentukan
keberhasilan analisanya. Sesuai dengan sifat penelitian yang naturalistic-fenomenologiskualitatif, tentunya
semua informasi yang dijaring dengan berbagai macam alat dalam studi ini berupa uraian yang penuh
deskripsi mengenai subjek yang diteliti, pendapat, pengetahuan, pengalaman dan aspek lainya yang berkaitan.
Tentu tidak semua data itu dipindahkan dalam laporan penelitian, melainkan dianalisis dengan menggunakan
prosedur menurut Nasution ( 1988:129-130) yaitu: (1) reduksi data, (2) display data, (3) mengambil keputusan
dan verifikasi. Analisis data dalam penelitian naturalisti kualitatif menurut Moelong (2000) adalah proses
mengatur data untuk ditafsirkan dan diketahui maknanya.
1. Reduksi Data
Tahap ini dilakukan dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara,
pengamatan lapangan, dan dokumen, sehingga dapat ditemukan hal- hal pokok dari proyek yang diteliti yang
berkenaan dengan fokus penelitian.
2. Display Data
Pada tahap ini, dilakukan dengan merangkum hal- hal pokok yang ditemukan dalam susunan yang sismatis,
yaitu data disusun dengan cara menggolongkannya ke dalam pola, tema, unit atau katagori, sehingga tema
sentral dapat diketahui dengan mudah, kemudian diberi makna sesuai materi penelitian. Lebih jelasnya apa
yang dimaksud dengan analisis dan interpretasi data adalah merupakan proses penyederhanaan dan
trasformasi timbunan data mentah, sehingga menjadi kesimpulan- kesimpulan yang singkat, padat dan
bermakna.
3. Verifikasi
Pada tahap ini dilakukan pengujian tentang kesimpulan yang telah diambil dengan data pembandingan yang
bersumber dari hasil pengumpulan data dan penunjang lainnya. Pengujian ini dimaksudkan untuk melihat
kebenaran hasil analisis sehingga melahirkan kesimpulan yang diambil dilakukan dengan menghubungkan
atau mengkomunikasikan hasil- hasil penelitian dengan teori- teori para ahli. Terutama teori yang menjadi
kerangka acuan peneliti dan keterkaitannya dengan temuan- temuan dari penelitian lainnya yang relevan,
melakukan proses member- chek mulai dari tahap orientasi sampai dengan kebenaran data terakir, dan
akhirnya membuat kesimpulan untuk dilaporkan sebagai hasil penelitian.
L. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian dilakukan melalui (1) trianggulasi, baik metode, dan sumber untuk mencek kebenaran
data dengan membandingkannya dengan data yang diperoleh sumber lain, dilakukan, untuk mempertajam
tilikan kita terhadap hubungan sejumlah data; (2) melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi, memberikan
masukan dan kritik dalam proses penelitian; (3) menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan nilai
kepercayaan akan kebenaran data yang diperoleh, (4) member check, pengecekan terhadap hasil-hasil yang
diperoleh guna perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dalam memberikan
data yang dibutuhkan peneliti.
About these ads
Share this:
StumbleUpon
Reddit
Surat elektronik
Facebook5
Twitter
Cetak

Terkai t
konsep perencanaan human investment & social demandIn "my job"
IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHIn
"http://www.raisulakbar.wordpress.com"
PEMBIAYAAN PENDIDIKANIn "MPd.doc"

2 TANGGAPAN TO PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
1. Opayat Says:

Januari 17, 2010 at 8:50 am
Mana hasilnya pak
Balas
1. RAISUL AKBAR Says:

Januari 30, 2010 at 7:32 pm
sedang dalam penyelesaian
Balas
TINGGALKAN BALASAN

Archived Entry
Post Date :
Oktober 23, 2009 at 11:36 am
Category :
http://www.raisulakbar.wordpress.com
Do More :
You can leave a response, ortrackback from your own site.
Blog pada WordPress.com. The Connections Theme.
Ikuti
Follow SMAN 1 LHOONG BLOGS
Get every new post delivered to your Inbox.
Sign me up

Ditenagai oleh WordPress.com