Anda di halaman 1dari 182

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) DJPU


TAHUN 2012

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA
INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
TAHUN 2012

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
i
2012 DJPU L LA AK KI IP P
PENGANTAR

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Direktorat Jenderal
Pengelolaan Utang (DJPU) merupakan perwujudan pertanggungjawaban atas kinerja
DJPU tahun 2012 sebagai salah satu Unit Eselon I Kementerian Keuangan. LAKIP DJPU
disusun dalam rangka memenuhi ketentuan Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang
Percepatan Pemberantasan Korupsi, serta dengan berpedoman pada Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Nomor 29 Tahun
2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan LAKIP diharapkan dapat menjadi wujud
akuntabilitas dan transparansi dalam pelaksanaan tugas, pencapaian visi, misi dan tujuan
organisasi serta sebagai alat penilaian dan pengendalian dalam rangka memacu
peningkatan kinerja organisasi.
Sejalan dengan proses reformasi birokrasi, indikator keberhasilan yang digunakan
dalam LAKIP DJPU diukur berdasarkan peta strategi (strategy map) DJPU yang disusun
dengan menggunakan metodologi Balanced Scorecard (BSC). Peta strategi tersebut
memetakan setiap Sasaran Strategis (SS) yang akan dicapai dalam rangka pencapaian
tujuan organisasi sesuai visi dan misi yang diemban. Setiap SS memiliki ukuran yang
disebut sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) dengan target kinerja yang telah
ditentukan. Pada tahun 2012, DJPU memiliki peta strategi dengan 12 SS dan 26 IKU yang
telah ditetapkan dalam Kontrak Kinerja Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dengan
Menteri Keuangan. Pengukuran LAKIP dengan menggunakan IKU diharapkan sekaligus
menjadi bentuk transparansi dan pertanggungjawaban pencapaian target kinerja dalam
setahun. Selain itu ditetapkan pula Inisiatif Strategis Direktur Jenderal Pengelolaan Utang
untuk Tahun 2012, yang terdiri dari 19 Inisiatif Strategis.
Secara best practice, agenda reformasi birokrasi telah memberikan tekanan
sekaligus tantangan yang cukup besar bagi DJPU untuk mampu mengombinasikan
fungsinya sebagai organisasi birokrasi sekaligus sebagai unit yang terkait dengan pasar
keuangan, baik domestik maupun internasional. Pasar keuangan yang berkembang
dengan sangat dinamis dan disertai dengan meningkatnya kompleksitas pekerjaan
K E M E NTERIAN KEUANGAN RE P II BLI K I N DON ESIA
D irc ktorot t e nd e ral Pe ngelalo d n tJtd ng
menuntut DIPU untuk menerapkan prinsip-prinsip good gouernance secatakonsisten serta
meningkatkan kualitas organisasi untuk dapat menjaga kepercayaan pasar.
Dalam menjalankan tugasnya, DIPU telah menetapkan visi, yaitu ""Menjadi
unit
yang profesional dalam mendukung pembiayaan APBN secata efisien dengan risiko yang
terukur untuk mempertahankan
kesinambungan
fiskal",
Visi tersebut kemudian
dijabarkan dalam 4 misi, yakni sebagai berikut:
a. Mewujudkan pengelolaan portofolio utang pemerintah yang efektif,
transparary dan akuntabel;
b. Mengendalikan pengadaanf penerbitan utang melalui penetapan kapasitas
berutang yang mendukung stabilitas fiskal;
c. Mewujudkan kemandirian pembiayaan pembangunan nasional melalui upaya
mengedepankan sumber-sumber dalam negeri dan pengembangan pasar
keuangan domestik yang efisien dan stabil; dan
d. Mewujudkan kerjasama intemasional dalam rangka memperoleh sumber
pembiayaan alternatif, sekaligus mendukung stabilitas pasar keuangan
regional.
Dengan mengacu pada visi dan misi yang telah ditetapkan untuk periode tahun 2010-
2014, DJPU diharapkan dapat mencapai target kinerja secara lebih terarah, transparary
dan akuntabel, serta mampu menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi dalam
pelaksanaan fugas.
Direktur
Jenderal
Kuasa Khusus,
1-
re RobertPakpahan
eiioinu'nii'r6'
iiiot l oolW
[RKIP DrPU2012
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
iii
2012 DJPU L LA AK KI IP P
IKHTISAR EKSEKUTIF
LAKIP DJPU Tahun 2012 disusun sebagai bentuk laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan kinerja DJPU selama tahun 2012. Pada tahun 2012 DJPU telah menetapkan
target kinerja yang akan dicapai dalam bentuk kontrak kinerja antara Direktur Jenderal
Pengelolaan Utang dengan Menteri Keuangan yang terdiri dari 12 SS dan 26 IKU. Capaian
SS dan IKU DJPU tahun 2012 adalah:
1. 10 SS dan 22 IKU berstatus hijau atau memenuhi dan/atau di atas target;
2. 2 SS dan 3 IKU berstatus kuning atau kurang memenuhi target; dan
3. 1 IKU berstatus abu-abu dikarenakan tidak terdapat obyek kinerja dan tidak
tersedianya data.
Secara garis besar, uraian atas pencapaian Sasaran Strategis beserta IKU DJPU
selama tahun 2012 adalah sebagai berikut:
1. Pencapaian SS Pembiayaan dalam jumlah yang cukup, efisien, dan aman untuk
mendukung kesinambungan fiskal dengan indikator persentase pemenuhan target
pembiayaan melalui utang yang cukup, persentase pencapaian target effective cost, dan
persentase pemenuhan target risiko portofolio utang, pada tahun 2012 dapat tercapai
dengan baik. Capaian IKU untuk SS tersebut pada tahun 2012, adalah sebagai berikut:
a. Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang cukup ditargetkan
sebesar 100% (Rp286,83 triliun) dengan realisasi sebesar 98,87% (Rp283,58 triliun);
b. Persentase pencapaian target effective cost ditargetkan sebesar 100% dengan
realisasi sebesar 80,58%. Keberhasilan penurunan biaya utang (target effective cost)
disebabkan antara lain, pemilihan instrumen pembiayaan melalui SBN yang tepat,
strategi komunikasi yang efektif dengan pelaku pasar, kondisi fundamental
ekonomi Indonesia yang baik, tingkat likuiditas pasar domestik dan internasional
masih cukup tinggi, serta transaksi pengelolaan portofolio SUN melalui cash
buyback dan debt switch dilaksanakan secara efektif;
c. Persentase pemenuhan target risiko portofolio utang direncanakan sebesar 100%,
dengan realisasi sebesar 98,13%. Realisasi tersebut disebabkan karena secara
umum pengelolaan portofolio utang telah sesuai dengan strategi pengelolaan
utang;
2. Pencapaian SS akuntabilitas pengelolaan utang dengan indikator opini BPK terhadap
LK BA Pengelolaan Utang dan Hibah, pada tahun 2012 relatif dapat tercapai dengan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
iv
2012 DJPU L LA AK KI IP P
baik. Pada tahun 2012, Opini BPK terhadap Laporan Keuangan Bagian Anggaran (LK
BA) Pengelolaan Utang dan Hibah Tahun Anggaran 2011 ditargetkan 100% (Wajar
Tanpa Pengecualian/WTP), dengan realisasi 87,50 %, yaitu:
a. LK BA Pengelolaan Utang memperoleh opini WTP (100%); dan
b. LK BA Hibah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) (75%).
LK BA Hibah Tahun Anggaran 2011 memperoleh opini WDP karena masih terdapat
donor atau Kementerian/Lembaga (K/L) yang belum sepenuhnya menaati peraturan,
yaitu terkait pengesahan realisasi pendapatan dan belanja yang bersumber dari hibah,
sehingga pendapatan hibah sebesar Rp0,29 triliun yang diterima K/L tidak disahkan
di Kementerian Keuangan.
3. Pencapaian SS kredibilitas dan transparansi pengelolaan utang dengan indikator
indeks kepuasan pengguna layanan dan persentase pembayaran utang tepat waktu,
tepat jumlah, dan tepat sasaran, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik. Capaian
IKU untuk SS tersebut pada tahun 2012, adalah sebagai berikut:
a. Indeks kepuasan pengguna layanan ditargetkan sebesar 3,9 dengan realisasi
sebesar 3,79. Survey ini dilaksanakan oleh tim Institut Pertanian Bogor (IPB) dan
dalam laporan hasil survey, terdapat dua unsur layanan DJPU yang masih perlu
diperbaiki, yaitu keterbukaan/kemudahan akses informasi dan waktu
penyelesaian layanan;
b. Persentase pembayaran utang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran
ditargetkan 100% dengan realisasi 100%, yaitu telah dilaksanakan secara tepat
waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran (tidak ada denda keterlambatan). Realisasi
pembayaran kewajiban utang pada tahun 2012 sebesar Rp274,36 triliun melalui
3.249 SPM.
4. Pencapaian SS perumusan strategi dan kebijakan pengelolaan utang yang berkualitas
dengan indikator persentase penyediaan peraturan yang mendukung pengembangan
pasar dan pengelolaan portofolio utang, persentase penyusunan dokumen strategi
pembiayaan tahunan melalui utang, dan persentase pelaksanaan kajian restrukturisasi
Surat Utang Pemerintah dalam rangka ALM, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan
baik. Capaian IKU untuk SS tersebut pada tahun 2012, adalah sebagai berikut:
a. Persentase penyediaan peraturan yang mendukung pengembangan pasar dan
pengelolaan portofolio utang selama tahun 2012 direncanakan sebesar 100% {8 set
(tiap set memilki bobot 12,5%)}, dengan realisasi sebesar 92,50%. Dari 8 set
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
v
2012 DJPU L LA AK KI IP P
peraturan yang menjadi target di tahun 2012, terdapat 2 set peraturan yang belum
dapat diselesaikan pada tahun 2012, yaitu: RPMK tentang Transaksi Lindung Nilai
dan RPMK tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Anggaran
Kewajiban Penjaminan Pemerintah. Saat ini, RPMK tentang Transaksi Lindung
Nilai telah disahkan oleh Menteri Keuangan melalui PMK Nomor
12/PMK.08/2013 tentang Transaksi Lindung Nilai pada tanggal 4 Januari 2013,
sedangkan untuk RPMK tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Anggaran Kewajiban Penjaminan Pemerintah sampai akhir tahun 2012 konsep
nota dinas bersama ke Menteri Keuangan masih berada di Direktorat Jenderal
Perbendaharaan;
b. Persentase penyelesaian dokumen strategi pengelolaan utang pada tahun 2012
ditargetkan sebesar 100% dengan realisasi sebesar 100%. Dokumen strategi
pengelolaan utang tahun 2013 telah ditetapkan dengan Keputusan Dirjen
Pengelolaan Utang Nomor: KEP-47/PU/2012 tanggal 19 Desember 2012; dan
c. Persentase pelaksanaan kajian restrukturisasi Surat Utang Pemerintah (SUP)
dalam rangka ALM selama tahun 2012 direncanakan sebesar 100%, dengan
realisasi sebesar 100%. Target yang diharapkan yaitu menyelesaikan model
restrukturisasi dan asumsi, penyelesaian naskah Revisi SKB mengenai
penyelesaian BLBI, serta penyelesaian kajian pelaksanaan konversi SUP dari non-
tradable menjadi tradable.
5. Pencapaian SS pengembangan pasar SBN yang dalam, aktif, dan likuid, dengan
indikator tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi dan Spread WAY yang
dimenangkan dengan highest yield awarded (tail), pada tahun 2012 dapat tercapai
dengan baik. Capaian IKU untuk SS tersebut pada tahun 2012, adalah sebagai berikut:
a. Tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi selama tahun 2012 ditargetkan sebesar
75% (efektif), dengan realisasi sebesar 75,83% (efektif). Capaian tersebut diperoleh
melalui penyebaran kuesioner kepada peserta sosialisasi SUN, sosialisasi SBSN,
serta sosialisasi Monitoring dan Evaluasi Pinjaman dan Hibah; dan
b. Spread WAY yang dimenangkan dengan highest yield awarded (tail) selama tahun
2012 ditargetkan sebesar 15 bps, dengan realisasi sebesar 4,29 bps. Rendahnya
spread antara highest yield yang dimenangkan dalam setiap lelang SBN di pasar
perdana dengan WAY yang dimenangkan menunjukkan lelang SBN yang efektif
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
vi
2012 DJPU L LA AK KI IP P
mengingat terdapat konvergensi persepsi investor terhadap yield yang wajar dari
seri yang dilelang.
6. Pencapaian SS pengelolaan portofolio utang yang optimal dengan indikator rasio
beban bunga terhadap rata-rata outstanding utang serta akurasi penetapan
yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman terhadap benchmark, pada tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik. Capaian IKU untuk SS tersebut pada tahun 2012, adalah sebagai
berikut:
a. Rasio beban bunga terhadap rata-rata outstanding utang selama tahun 2012
ditargetkan sebesar 5,72%, dengan realisasi sebesar 5,29%; dan
b. Akurasi penetapan yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman terhadap benchmark
selama tahun 2012 ditargetkan sebesar 90%, dengan realisasi sebesar 91,65%.
Capaian tersebut diperoleh dari rata-rata capaian akurasi antara benchmark yang
ditetapkan dengan yield SBN dan biaya pinjaman;
7. Pencapaian SS pengelolaan kewajiban utang yang efektif dengan indikator persentase
dokumen tagihan yang diverifikasi secara tepat waktu, selama tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik. Pada tahun 2012, persentase dokumen tagihan yang diverifikasi
secara tepat waktu pada tahun 2012 ditargetkan sebesar 100%, dengan realisasi
sebesar 100%, dimana terdapat 5.307 dokumen tagihan/NOP yang telah diverifikasi
secara tepat waktu, yaitu paling lambat 6 hari kerja sebelum tanggal jatuh tempo.
8. Pencapaian SS monitoring dan evaluasi kepatuhan yang efektif dalam pengelolaan
utang dengan indikator persentase tingkat kepatuhan pengelolaan utang yang sesuai
dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku, rata-rata persentase realisasi janji
layanan unggulan, dan Indeks ketepatan waktu penyelesaian tindak lanjut Instruksi
Presiden, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik. Capaian IKU untuk SS tersebut
pada tahun 2012, adalah sebagai berikut:
a. Persentase tingkat kepatuhan dalam pengelolaan utang selama tahun 2012
ditargetkan sebesar 100%, dengan realisasi sebesar 98,39% sehingga memperoleh
nilai capaian 116,78%. IKU ini menggunakan polarisasi stabilize, dimana capaian
yang diharapkan adalah sesuai atau mendekati target yang ditetapkan. Untuk
realisasi 90% mendapat nilai capaian 100% dan realisasi 100% mendapat nilai
capaian 120%;
b. Rata-rata persentase realisasi janji layanan unggulan ditargetkan sebesar 100%
dengan realisasi sebesar 100%. Monitoring terhadap pelaksanaan SOP Layanan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
vii
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Unggulan dilaksanakan pada Direktorat Pinjaman dan Hibah, Direktorat Surat
Utang Negara, Direktorat Pembiayaan Syariah, dan Direktorat Evaluasi,
Akuntansi, dan Setelmen; dan
c. Selama tahun 2012 tidak terdapat target yang harus dilaksanakan atau dicapai
oleh DJPU, terkait penyelesaian tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun
2011 tentang Aksi Pencegahan Korupsi.
9. Pencapaian SS Pembentukan SDM yang berkompetensi tinggi dengan indikator
persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya dan
persentase pemenuhan pelatihan pegawai sesuai dengan gap kompetensi pegawai
(hard competency), pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik. Capaian IKU untuk SS
tersebut pada tahun 2012, adalah sebagai berikut:
a. Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya selama
tahun 2012, terealisasi sebesar 96,58% dari target sebesar 82,50%; dan
b. Persentase pemenuhan pelatihan pegawai sesuai dengan gap kompetensi pegawai
(Hard Competency) pada tahun 2012 ditargetkan sebesar 100% (20 jenis diklat),
dengan realisasi sebesar 115% (23 jenis diklat sesuai dengan Standar Kompetensi
Jabatan (Hard Competency).
10. Pencapaian SS penataan organisasi yang adaptif dengan indikator persentase mitigasi
risiko yang selesai dijalankan, indeks reformasi birokrasi, indeks kepuasan pegawai,
dan persentase policy recommendation hasil pengawasan yang ditindaklanjuti, pada
tahun 2012 dapat tercapai dengan baik. Capaian IKU untuk SS tersebut pada tahun
2012, adalah sebagai berikut:
a. Tahun 2012, persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan selama tahun 2012
ditargetkan sebesar 70%, dengan realisasi sebesar 100%;
b. Berdasarkan penilaian Itjen, per 28 Desember 2012, Indeks Reformasi Birokrasi
DJPU mendapatkan skor sebesar 96,72% dari target dengan skor sebesar 92%;
c. Indeks kepuasan pegawai pada tahun 2012 ditargetkan sebesar 3, dengan realisasi
3,19. Dari 322 orang pegawai di lingkungan DJPU, 305 orang (94,72%) telah
mengisi survey dimaksud. Dari 6 variabel penilaian tersebut, terdapat 2 variabel
dengan selisih terbesar antara tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan yaitu
variabel Mutasi/Rotasi Pegawai dan variabel Imbalan, yang dapat diartikan
bahwa proses mutasi/rotasi dan faktor imbalan belum dianggap memuaskan bagi
sebagian besar pegawai DJPU; dan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
viii
2012 DJPU L LA AK KI IP P
d. Policy recommendation berdasarkan hasil pengawasan yang telah ditindaklanjuti
pada tahun 2012 ditargetkan 85%, dengan realisasi sebesar 100% (4 dari 4 policy
recommendation yang ditargetkan Tahun 2012).
11. Pencapaian SS Perwujudan TIK yang terintegrasi dengan indikator persentase
pengembangan database utang yang terintegrasi dan persentase akurasi data SIMPEG,
pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik. Capaian IKU untuk SS tersebut pada
tahun 2012, adalah sebagai berikut:
a. Persentase pengembangan database utang yang terintegrasi, dilaksanakan pada
tahun 2011 dan 2012. Pada tahun 2011 telah selesai sebesar 45%, sehingga sisa
pekerjaan sebesar 55% ditargetkan selesai pada tahun 2012. Pada tahun 2012
ditargetkan sebesar 100% dengan realisasi sebesar 100%; dan
b. Persentase akurasi data SIMPEG diukur secara semesteran. Berdasarkan hasil
pengujian dari 320 pegawai pada Semester II, realisasi persentase akurasi data
sebesar 100% dari target sebesar 100%.
12. Pencapaian SS Pelaksanaan anggaran yang optimal dengan indikator Persentase
penyerapan DIPA pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik. Persentase
penyerapan DIPA (Belanja Barang dan Belanja Modal) pada tahun 2012 ditargetkan
95,00% (Rp51,41 miliar), dengan realisasi sebesar 96,50% (Rp52,22 miliar).
Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar target kinerja
DJPU pada tahun 2012 telah berhasil dicapai. Keberhasilan pencapaian tersebut
diupayakan untuk semakin ditingkatkan, sedangkan untuk beberapa kegiatan yang
belum terlaksana/terdapat permasalahan (pending matters) akan diupayakan untuk dapat
diselesaikan.
Dengan disusunnya LAKIP ini diharapkan dapat memberikan informasi secara
transparan kepada seluruh pihak yang terkait dengan tugas dan fungsi DJPU dan menjadi
umpan balik peningkatan kinerja DJPU pada periode berikutnya.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
ix
2012 DJPU L LA AK KI IP P
DAFTAR ISI
Hal.
PENGANTAR ............................................................................................................................ i
IKHTISAR EKSEKUTIF........................................................................................................... iii

DAFTAR ISI ............................................................................................................................... ix

I. PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Tugas, Fungsi, Organisasi, dan Sumber Daya Manusia ............................... 1
B. Mandat yang Diberikan kepada Instansi ............................................................ 11
C. Peran Strategis Instansi ......................................................................................... 13
D. Sistematika Penyajian ............................................................................................ 15

II. RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA ................................... 17
A. Rencana Strategis 2010-2014 ................................................................................... 17
B. Penetapan Kinerja ................................................................................................... 25

III. AKUNTABILITAS KINERJA DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN ........... 34
A. Capaian IKU ............................................................................................................. 34
B. Evaluasi dan Analisis Kinerja Tahun 2012.................................................... 41
C. Kinerja Lainnya ........................................................................................................ 124
D. Progress Destination Statement DJPU Tahun 2014.......................................... 147
E. Perkembangan Pending Matters Renstra 2010-2014 ............................................ 150
F. Akuntabilitas Keuangan........................................................................................... 152

IV. PENUTUP ...................................................................................................................... 155
A. Kesimpulan ............................................................................................................... 155
B. Saran .......................................................................................................................... 157

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
x
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Hal.
DAFTAR BAGAN
Bagan 1.1 Proses Bisnis DJPU ... 4
Bagan 2.1 Nilai-nilai Kementerian Keuangan 19
Bagan 2.2 Peta Strategi DJPU Tahun 2012 ... 26
Bagan 3.1 Perguruan Tinggi yang telah bekerjasama dengan DJPU terkait
pengelolaan SUN sampai tahun 2012.....................................................

84
Bagan 3.2 Transformasi IKU terkait mitigasi risiko............................................ 109

DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1 Komposisi Pegawai Menurut Golongan.... 8
Grafik 1.2 Komposisi Pegawai Menurut Unit Eselon II..... 8
Grafik 1.3 Komposisi Pegawai Menurut Jabatan.... 9
Grafik 1.4 Komposisi Pegawai Menurut Jenis Kelamin. 9
Grafik 1.5 Komposisi Pegawai Menurut Pendidikan.... 9
Grafik 3.1 Ikhtisar Capaian Kinerja DJPU ... 42
Grafik 3.2 Realisasi pembayaran utang Tahun Anggaran 2007-2012.............. 73
Grafik 3.3 Tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi...................................... 82
Grafik 3.4 Perkembangan rasio beban bunga terhadap rata-rata outstanding
utang pada tahun 2007-20012...........................................................

93
Grafik 3.5 Penyerapan DIPA DJPU tahun 2010-2012....................................... 124

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Posisi Utang Pemerintah (2008-2012) .... 14
Tabel 2.1 Destination Statement Kementerian Keuangan Tahun 2014...... 21
Tabel 2.2 Destination Statement DJPU Tahun 2014..................................... 21
Tabel 2.3 Target Indikator Kinerja Utama Kemenkeu-One Tahun 2012... 27
Tabel 2.4 Matriks Hubungan Sasaran Strategis dan IKU ........................ 30
Tabel 3.1 Capaian IKU Kemenkeu-One Tahun 2012 ....................................... 34
Tabel 3.2 Perbandingan Capaian IKU Kemenkeu-One Tahun 2010 s.d. 2012.... 37
Tabel 3.3 Realisasi Pinjaman Tahun 2012.......................................................... 45
Tabel 3.4 Target dan Realisasi SBN Tahun 2012.............................................. 47
Tabel 3.5 Hasil Penerbitan SUN Tahun 2012................................................... 48
Tabel 3.6 Hasil Penerbitan SUN Melalui Lelang Tahun 2012.......................... 49
Tabel 3.7 Hasil penerbitan SUN berdenominasi USD di pasar perdana
internasional.......................................................................................

50
Tabel 3.8 Kinerja Pengelolaan SUN tahun 2010-2012..................................... 52
Tabel 3.9 Realisasi Penerbitan SBSN Tahun 2012............................................. 53
Tabel 3.10 Perkembangan Penerbitan SBSN Tahun 2010-2012......................... 56
Tabel 3.11 Kinerja lelang SBSN tahun 2010-2012............................................... 57
Tabel 3.12 Indeks kepuasan pengguna berdasarkan unsur/dimensi layanan.... 71
Tabel 3.13 Realisasi Pembayaran Utang Tahun Anggaran 2012....................... 72
Tabel 3.14 Realisasi peraturan dan keputusan yang mendukung pengelolaan
utang....................................................................................................

75
Tabel 3.15 Penyelenggaraan sosialisasi SUN tahun 2012................................... 83
Tabel 3.16 Tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi sosialisasi SBSN........... 86
Tabel 3.17 Target dan realisasi pembayaran bunga dan rata-rata outstanding... 92
Tabel 3.18 Capaian akurasi antara benchmark dengan yield SBN dan biaya
pinjaman...............................................................................................

95
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
xi
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.19 Hasil pengukuran tingkat kepatuhan tahun 2012............................ 100
Tabel 3.20 Hasil pengukuran rata-rata persentase realisasi janji layanan
unggulan tahun 2012.........................................................................

102
Tabel 3.21 Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi
jabatannya 2012 ..............................................................................

104
Tabel 3.22 Diklat yang dilaksanakan berdasarkan gap kompetensi pegawai
(hard competency)..................................................................................

106
Tabel 3.23 Target dan realisasi mitigasi risiko..................................................... 110
Tabel 3.24 Rincian nilai pelaksanaan Quality Assurance DJPU........................... 112
Tabel 3.25 Realisasi pengembangan Database Utang yang terintegrasi Tahun
2012.......................................................................................................

118
Tabel 3.26 Progress pemenuhan akurasi data SIMPEG....................................... 121
Tabel 3.27 Penyerapan DIPA (non belanja pegawai) DJPU Tahun 2012.......... 122
Tabel 3.28 Rincian penyelenggaraan dealers meeting pada tahun 2012............. 130
Tabel 3.29 Penyelenggaraan Analysts Meeting Tahun 2012................................ 131
Tabel 3.30 Partisipasi dalam forum regional dan internasional tahun 2012...... 132
Tabel 3.31 Tanggapan DJPU atas pemberitaan negatif terkait pengelolaan
utang....................................................................................................

134
Tabel 3.32 Realisasi publikasi pengelolaan SBN tahun 2012.............................. 135
Tabel 3.33 Penyelenggaraan konferensi pers Tahun 2012.................................. 135
Tabel 3.34 Tahapan rapat koordinasi terkait penerapan IT-ALM........................ 141
Tabel 3.35 Eksposur penjaminan pemerintah pada Proyek FTP I...................... 144
Tabel 3.36 Eksposur penjaminan pemerintah terhadap Proyek Percepatan
Penyediaan Air Minum.......................................................................

145
Tabel 3.37 Eksposur penjaminan pemerintah pada Proyek FTP II.................... 145
Tabel 3.38 Progress Destination Statement DJPU.................................................. 147
Tabel 3.39 Perkembangan Pending Matters Renstra 2010-2014.......................... 151
Tabel 3.40 Pagu dan Realiasi Anggaran Tahun 2012 (per belanja)....................... 152
Tabel 3.41 Pagu dan Realiasi Anggaran Tahun 2012 (per program-kegiatan-
output).................................................................................................

152

DAFTAR LAMPIRAN
1. Dokumen Kontrak Kinerja Kemenkeu-One Tahun 2012 yang berlaku sebagai Dokumen
Penetapan Kinerja (PK) DJPU Tahun 2012
2. Dokumen Pengukuran Kinerja Tahun 2012

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
1
2012 DJPU L LA AK KI IP P
BAB I
PENDAHULUAN
A. Tugas, Fungsi, Organisasi, dan Sumber Daya Manusia
1. Perkembangan Unit Pengelola Utang
Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas dan mutu
pelayanan kepada masyarakat, perlu diwujudkan suatu tata kelola yang baik di
lingkungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang. Unit pengelola utang telah
mengalami beberapa kali perubahan seiring dengan semakin meningkatnya
kompleksitas pengelolaan utang sebagai akibat semakin besar dan semakin
beragamnya jumlah dan jenis utang Pemerintah. Perkembangan unit pengelola
utang secara ringkas dapat disampaikan sebagai berikut:
a. Sebelum tahun 1998, sebagian besar utang pemerintah dalam bentuk pinjaman
luar negeri dikelola oleh Direktorat Dana Luar Negeri (DDLN) pada Direktorat
Jenderal Anggaran;
b. Tahun 1999, dibentuk Tim Debt Management Unit (DMU) di bawah Direktorat
Jenderal Lembaga Keuangan yang mempunyai tugas mengelola obligasi negara
yang diterbitkan untuk menyehatkan perbankan akibat krisis tahun 1998;
c. Tahun 2001, Tim DMU diubah menjadi Pusat Manajemen Obligasi Negara
(PMON) di bawah Sekretariat Jenderal yang secara khusus mengelola Surat
Utang Negara (SUN).
d. Tahun 2004, unit pengelolaan utang disatukan dalam Direktorat Jenderal
Perbendaharaan. PMON menjadi Direktorat Pengelolaan SUN sedangkan
DDLN menjadi Direktorat Pengelolaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri;
e. Tahun 2006, dengan berkembangnya ruang lingkup pengelolaan utang dan
dalam rangka memusatkan pengelolaanya dalam unit tersendiri, dibentuk
Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang; dan
f. Tahun 2007 s.d 2011, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang telah 2 kali
melaksanakan penataan organisasi (reorganisasi) yang ditetapkan melalui:
1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 100/PMK.01/2008 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Departemen Keuangan; dan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
2
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.01/2010 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Keuangan.
g. Tahun 2012, Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang kembali mengusulkan
penataan organisasi sebagai dampak likuidasi Badan Pengawas Pasar Modal
dan Lembaga Keuangan yang sebagian bergabung kedalam Otoritas Jasa
Keuangan. Sebagai respon, dilakukan reposisi Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal
untuk menjadi bagian dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang
sebelumnya merupakan unit Eselon II pada Badan Kebijakan Fiskal. Hal
tersebut juga ditujukan untuk melakukan integrasi pengelolaan risiko keuangan
baik fiskal maupun utang.
Oleh karena itu, nomenklatur Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang diusulkan
untuk diubah menjadi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko,
yang sampai akhir tahun 2012 masih menunggu pengesahan dalam bentuk
Peraturan Presiden maupun Peraturan Menteri Keuangan.
Penataan organisasi tersebut dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 76/PMK.01/2009 tentang Pedoman Penataan Organisasi di
Lingkungan Departemen Keuangan, merupakan suatu proses yang dilakukan
secara berkesinambungan untuk merespon dinamika perubahan lingkungan
dan tuntutan publik, baik sebagai regulator maupun sebagai pemberi layanan
kepada masyarakat. Penataan organisasi merupakan upaya untuk
menyempurnakan tugas, fungsi dan struktur organisasi demi terwujudnya
pencapaian visi dan misi organisasi secara efektif dan efisien.
2. Tugas dan Fungsi
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.01/2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan, tugas Direktorat Jenderal
Pengelolaan Utang adalah merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan
standardisasi teknis di bidang pengelolaan utang sesuai dengan kebijakan yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
3
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Dalam melaksanakan tugasnya, DJPU menyelenggarakan fungsi:
a. Perumusan kebijakan di bidang pengelolaan utang;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan utang;
c. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengelolaan
utang;
d. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang pengelolaan utang; dan
e. Pelaksanaan administrasi direktorat jenderal Pengelolaan Utang.
3. Organisasi
Dalam rangka penerapan international best practice organisasi pengelola utang,
Direktorat Jenderal Pegelolaan Utang mengkategorikan dan membagi struktur
organisasinya berdasarkan:
a. fungsi front office dilaksanakan oleh:
1) Direktorat Pinjaman dan Hibah (Dit PH);
2) Direktorat Surat Utang Negara (Dit SUN); dan
3) Direktorat Pembiayaan Syariah (Dit PS).
b. fungsi middle office dilaksanakan oleh Direktorat Strategi dan Portofolio Utang
(Dit SPU);
c. fungsi back office dilaksanakan oleh Direktorat Evaluasi, Akuntansi, dan
Setelmen (Dit EAS); serta
d. fungsi supporting and coordinating unit (sebagai pendukung dan koordinator
kegiatan teknis) dilaksanakan oleh Sekretariat Direktorat Jenderal.
Proses bisnis dari keempat fungsi tersebut tergambar dalam bagan berikut:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
4
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Bagan 1.1
Proses Bisnis DJPU

4. Stakeholders Pengelolaan Utang
Dalam pelaksanaan tugas selaku pengelola utang negara, peran DJPU terkait
secara langsung dengan berbagai institusi baik internal maupun eksternal
Kementerian Keuangan, yang dapat dijelaskan antara lain sebagai berikut:
a. Internal Kementerian Keuangan antara lain dengan:
1) Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) dalam penyusunan komponen
pembiayaan APBN dan penyusunan dokumen anggaran, serta penyiapan
Daftar Kegiatan (Proyek) yang telah mendapatkan alokasi dana dari APBN,
untuk digunakan sebagai underlying penerbitan Project Base Sukuk;
2) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) dalam pelaksanaan kebijakan fiskal;
3) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPBN) dalam:
a) koordinasi pengelolaan kas khususnya untuk mengharmonisasikan
pelaksanaan/eksekusi penerbitan/pengadaan utang tunai dengan
ketersediaan kas untuk pembiayaan.
b) koordinasi pengelolaan penerusan pinjaman.
4) Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dalam penyusunan
underlying asset yang akan digunakan dalam penerbitan sukuk;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
5
2012 DJPU L LA AK KI IP P
5) Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK)
sebagai regulator pasar modal dan secara bersama-sama berperan dalam
pengembangan pasar surat berharga dan infrastruktur pasar sekunder;
6) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terkait aspek perpajakan dalam
pengelolaan utang;
7) Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan:
a) Biro Perencanaan dan Keuangan terkait penyusunan rencana jangka
menengah, jangka pendek, strategis, dan rencana kerja tahunan, serta
penyusunan anggaran dan Laporan Keuangan Kementerian;
b) Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan terkait pelaksanaan penataan
organisasi, tata laksana, dan jabatan fungsional;
c) Biro Hukum terkait pelaksanaan perumusan peraturan perundang-
undangan dan memberikan pertimbangan hukum dalam rangka
penyelesaian masalah hukum yang berkaitan dengan tugas;
d) Biro Bantuan Hukum terkait koordinasi dan pelaksanaan penelaahan
kasus hukum, memberikan bantuan hukum, pendapat hukum, dan
perimbangan hukum yang berkaitan dengan tugas Kementerian
Keuangan;
e) Biro Sumber Daya Manusia terkait pembinaan dan pengelolaan sumber
daya manusia di lingkungan DJPU sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
f) Biro Komunikasi dan Layanan Informasi terkait pelaksanaan tugas
aktivitas komunikasi, layanan informasi kebijakan pengelolaan utang,
penyusunan strategi komunikasi kehumasan, penyusunan program
komunikasi publik, dan monitoring opini publik;
g) Biro Perlengkapan terkait pengelolaan perlengkapan DJPU berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
h) Biro Umum terkait pelaksanaan koordinasi urusan tata usaha dan
rumah tangga;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
6
2012 DJPU L LA AK KI IP P
i) Pusat Informasi dan Teknologi Keuangan (Pusintek) terkait aspek
pengembangan sistem teknologi, informasi, dan komunikasi di
lingkungan Kementerian Keuangan;
j) Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan terkait pelaksanaan analisis,
harmonisasi dan sinergi kebijakan atas pelaksanaan program dan
kegiatan Menteri Keuangan, pengelolaan program dan kegiatan
Menteri Keuangan, dan pengelolaan indikator kinerja utama di
lingkungan Kementerian Keuangan; dan
k) Pusat Layanan Pengadaan Secara Elektronik terkait pelaksanaan
pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik, pembinaan dan
pengawasan pelaksanaan pengadaan secara elektronik, pengelolaan
sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik serta memberikan
pelayanan pengadaan secara elektronik Kementerian Keuangan.
8) Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan terkait pelaksanaan
pengawasan intern; dan
9) Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) khususnya Pusdiklat
Keuangan Umum dan Pusdiklat Pengembangan SDM terkait pelaksanaan
Capacity Building DJPU.
b. Eksternal Kementerian Keuangan, antara lain dengan:
1) Dewan Perwakilan Rakyat antara lain terkait alokasi pembiayaan melalui
utang dalam APBN, persetujuan penggunaan BMN sebagai underlying asset
penerbitan SBSN, dan persetujuan penggunaan dana SAL untuk pembelian
SBN dalam rangka stabilisasi pasar SBN;
2) Bank Indonesia (BI) yang dalam kaitannya dengan pengelolaan utang
memiliki dua peran yaitu:
a) sebagai pengelola kebijakan moneter dan neraca pembayaran dalam
kerangka Asset and Liability Management (ALM); dan
b) sebagai mitra dalam pengembangan pasar dan sebagai agen lelang,
agen penatausahaan utang dan setelmen utang.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
7
2012 DJPU L LA AK KI IP P
3) Pelaku pasar/investor termasuk dealer utama/primary dealers dan peserta
lelang dalam mengembangkan kapasitas daya serap pasar dan
memperoleh input atas kondisi pasar keuangan pada umumnya (market
update), preferensi instrumen, dan rencana alokasi investasi;
4) Lembaga Pemeringkat/Rating agencies dalam rangka assessment tahunan
dan assessment transaksi penerbitan SBN valas;
5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dalam rangka:
a) koordinasi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM);
b) perencanaan usulan kegiatan yang dapat dibiayai dengan pinjaman
atau sebagai underlying asset sukuk project; dan
c) pelaksanaan dan monitoring/evaluasi kegiatan yang dibiayai dari
pinjaman.
6) Kementerian/Lembaga dalam rangka pelaksanaan kegiatan yang dibiayai
dari pinjaman dan penyiapan policy matrix pinjaman program/program
loan;
7) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam pemenuhan dokumen
pengefektifan pinjaman;
8) DSN MUI dalam rangka penerbitan Fatwa dan Pernyataan Kesesuaian
Syariah (Opini Syariah) penerbitan SBSN;
9) Pemberi Pinjaman/Lender dalam rangka memperoleh informasi mengenai
fokus pembiayaan dan indikasi besaran/alokasi pinjaman; dan
10) Lembaga atau negara pemberi donor.
5. Sumber Daya Manusia
a. Gambaran umum pegawai Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
Berdasarkan data pegawai per 31 Desember 2012, jumlah pegawai DJPU
adalah sebanyak 328 orang, dengan penjelasan sebagai berikut:
1) 321 orang berstatus Pegawai Negeri Sipil;
KEMENT
Direktora

K
N
TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
2) 7 o
lulu
pen
Ber
adalah
Komposisi P
No. Gol
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
JU
1
0
44
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
I
I
/
a
I
I
/
b
I
I
/
c
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
orang sedan
usan Progra
nerimaan S1
rdasarkan da
h sebagai ber
Grafik 1.1
Pegawai Men
ongan Pegawa
IV/d
IV/c
IV/b
IV/a
III/d
III/c
III/b
III/a
II/d
II/c
II/b
II/a
UMLAH




4
22
92
29
40
I
I
/
c
I
I
/
d
I
I
I
/
a
I
I
I
/
b
I
I
I
/
c
ONESIA
ng diusulkan
am Diploma
1 tahun 2012
ata pegawai
rikut:
1
nurut Golon
ai
Jum
Pega
3
2
14
15
66
40
29
92
22
44
0
1
32


0
66
15
14
2
I
I
I
/
c
I
I
I
/
d
I
V
/
a
I
V
/
b
I
V
/
c
n untuk me
a III Keuan
).
i per 31 Dese
ngan

Ko



mlah
awai

No
3 1
2 2
4 3
5 4
6 5
0 6
9
2
2
4
0
1
28



3
/
I
V
/
d
1
enjadi Calon
ngan STAN
ember 2012,
mposisi Peg
o. U
Setditjen
Dit PH
Dit SUN
Dit PS
Dit SPU
Dit EAS
JU






Dit. PS
12,5%
Dit. SPU
11,6%
Dit
18
n Pegawai N
tahun 2011
komposisi p
Grafik 1.2
gawai Menur
Unit Eselon II
UMLAH

Dit. SUN
12,2%
. EAS
8,9%
Negeri Sipil
dan 2 oran
pegawai DJP
2
rut Unit Ese

Ju
Pe
Setditjen
26,2%
Dit. PH
18,6%
(5
ng
PU
elon II

umlah
egawai
86
61
40
41
38
62
328







KEMENT
Direktora

TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
Komposisi
No. Jabat
1 Eselon I
2 Eselon I
3 Eselon I
4 Eselon I
5 Pelaksa
JUM
Dal
para p
baik m
Pela
2
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
<D3
17
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
Grafik 1.3
i Pegawai M

tan Pegawai
I
II
III
IV
ana
LAH

K
lam hal pen
egawai untu
melalui pro
Eselon II, 5
aksana,
211
3 D3 S1
7
67
170
ONESIA
3
Menurut Jaba
Jumlah Peg
0
5
23
89
211
328

Komposisi P
ndidikan, DJ
uk melanjut
gram beasi
Eselon III,
23
Eselon IV,
89
S2 S3
0
72
2
atan



gawai

N







Grafik 1
Pegawai Men


N
1
2
3
4
5

PU membuk
kan pendidi
swa maupu
Kom
Menu
No. Jenis K
1 Laki-lak
2 Peremp
JUM




1.5
nurut Pendi
No. Tingk
1 S3
2 S2
3 S1
4 D3
5 < D3
JUM
ka kesempat
ikannya ke j
un dengan
Grafik 1.4
mposisi Peg
urut Jenis Ke

Kelamin Pegaw
ki
uan
MLAH
idikan
kat Pendidikan
MLAH

tan sebesar-
jenjang yan
biaya send
4
gawai
elamin
wai
Jum
Pega
25
74
32




n
Juml
Pegaw
2
72
17
67
17
328

-besarnya ba
g lebih ting
diri, sehing

lah
wai
4
4
8
lah
wai

2
0
7
7
8
agi
gi,
gga
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
10
2012 DJPU L LA AK KI IP P
kompetensi para pegawai DJPU dapat menjadi lebih baik dan dapat menopang
bidang tugas di mana pegawai itu berada.
Pada tahun 2012, DJPU telah memiliki peraturan terkait pola mutasi dan
pola karir sehingga penempatan para pegawai baik di unit-unit Eselon II
maupun pada jabatan-jabatan tertentu di lingkungan DJPU, diharapkan telah
sesuai dengan kompetensi yang dimiliki oleh seorang pegawai dan memang
dibutuhkan oleh unit atau jabatan tempat kerja pegawai bersangkutan.
Selain itu, dengan adanya pengarusutamaan gender, walaupun jumlah
pegawai perempuan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pegawai
laki-laki (dapat dilihat pada grafik 1.4 Komposisi Pegawai Menurut Jenis
Kelamin), perlakuan dan penilaian kinerja tetap dilakukan secara fair. Hal
tersebut terbukti dengan diisinya beberapa jabatan strategis di DJPU oleh para
pegawai perempuan, contohnya: dari 5 Pejabat Eselon II di DJPU, 2
diantaranya adalah perempuan.
b. Program pengembangan Pegawai
Unit organisasi yang handal tentu harus didukung penuh dengan sumber
daya manusia yang handal baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Selama
tahun 2007-2012, DJPU telah melakukan beberapa kebijakan dan kegiatan
sebagai bagian program peningkatan kompetensi dan kinerja pegawai.
Adapun kebijakan dan kegiatan tersebut antara lain:
1) Penyusunan dan penetapan Hard Competency Pegawai DJPU;
2) Penyusunan dan penetapan Soft Competency Pegawai DJPU;
3) Penyusunan dokumen Gap Hard Competency Pegawai DJPU;
4) Pelaksanaan Assesment Center (AC);
5) Pelaksanaan diklat teknis sesuai Standar Kompetensi Jabatan (SKJ) Hard
Competency;
6) Menugaskan pegawai untuk mengikuti Diklat Berbasis Kompetensi pada
Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan;
7) Menugaskan pegawai untuk mengikuti diklat sertifikasi keahlian
(CFA,CHRP,etc);
8) Peningkatan kemampuan Bahasa Inggris pegawai melalui TOEFL Training;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
11
2012 DJPU L LA AK KI IP P
9) Membuka kesempatan pegawai mengikuti short course (IMF, DMFAS ,etc)
sesuai bidang tugasnya;
10) Membuka kesempatan pegawai untuk mencari program beasiswa dengan
inisiatif sendiri di Dalam maupun Luar Negeri; dan
11) Mengirim pegawai mengikuti program beasiswa reguler baik dari Badan
Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, maupun Negara Lain (Australia,
Jepang, dll).
Dengan komposisi pegawai DJPU seperti dijelaskan di atas dan dengan
program pengembangan pegawai yang terus dilakukan, DJPU terbukti dapat
melaksanakan tugas dan fungsi dengan baik sesuai amanat peraturan
perundang-undangan. Hal ini juga membuktikan bahwa program
pengembangan pegawai DJPU berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan,
yaitu dalam rangka membentuk sumber daya manusia DJPU yang handal.
B. Mandat yang Diberikan kepada Instansi
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi DJPU berdasarkan mandat yang diberikan
oleh peraturan perundang-undangan, antara lain:
1. Pedoman umum meliputi:
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah
Kumulatif Defisit APBN dan APBD, yang mengatur bahwa:
1) Jumlah kumulatif defisit APBN dan APBD dibatasi tidak melebihi 3% dari
Produk Domestik Bruto (PDB) tahun bersangkutan; dan
2) Jumlah kumulatif pinjaman Pemerintah dan Pemda dibatasi tidak melebihi
60% dari PDB tahun yang bersangkutan.
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yang
mengatur antara lain:
1) Pembebanan biaya pengadaan utang/hibah Pemerintah pada APBN; dan
2) Tata cara pengadaan utang negara dan penerusan utang/hibah luar negeri
kepada Pemda dan BUMN/BUMD.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
12
2012 DJPU L LA AK KI IP P
c. Undang-Undang tentang APBN yang ditetapkan setiap tahun antara lain
menyebutkan bahwa Pemerintah dapat melakukan perubahan instrumen
utang dalam hal terdapat sumber utang yang lebih menguntungkan.
2. Pedoman khusus meliputi:
a. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang SUN, yang antara lain
mengatur tentang tujuan penerbitan SUN;
b. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang SBSN yang antara lain
mengatur tentang tujuan penerbitan SBSN;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengadaan
dan Penerusan Pinjaman Dalam Negeri Oleh Pemerintah, yang antara lain
mengatur tentang penggunaan pinjaman dalam negeri;
d. Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Tahun 2010-2014;
e. Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2011 tentang Dana Perwalian;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan
Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah, yang antara lain mengatur
tentang perencanaan, penggunaan, penatausahaan, pemantaun, evaluasi, dan
pelaporan serta pengawasan pinjaman luar negeri dan hibah;
g. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat;
h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 86/PMK.05/2008 tentang Sistem
Akuntansi Utang Pemerintah;
i. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK.08/2010 tentang Monitoring,
Evaluasi, Pelaporan, Publikasi, dan Dokumentasi Pinjaman dan/atau Hibah
Pemerintah;
j. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 90/PMK.08/2010 tentang Tata Cara
Pemilihan Calon Pemberi Pinjaman Dalam Negeri;
k. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme
Pengelolaan Hibah;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
13
2012 DJPU L LA AK KI IP P
l. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 230/PMK.05/2011 tentang Sistem
Akuntansi Hibah;
m. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.08/2012 tentang Tata Cara
Pengadaan Pembiayaan yang Bersumber dari Kreditor Swasta Asing;
n. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 514/KMK.08/2010 tentang Strategi
Pengelolaan Utang Negara Tahun 2010-2014; dan
o. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.08/2011 tentang Tata Cara
Perundingan Perjanjian Pinjaman Luar Negeri.
C. Peran Strategis Instansi
DJPU adalah organisasi yang memegang peranan strategis di bidang pengelolaan
utang. Peran strategis DJPU digambarkan sebagai berikut:
1. Memenuhi pembiayaan APBN yang bersumber dari utang
Selain penerimaan pajak dan bukan pajak, utang mempunyai kontribusi yang
penting dalam menjamin kesinambungan pelaksanaan kegiatan pemerintahan
dalam kerangka pembangunan nasional. Sampai saat ini peranan utang baik yang
bersumber dari dalam maupun luar negeri masih menjadi sumber utama
pembiayaan APBN. Untuk memenuhi pembiayaan APBN tersebut maka
pembiayaan melalui utang harus dapat disediakan dalam jumlah yang cukup,
tersedia pada saat diperlukan dengan biaya yang efisien dan tingkat risiko
terkendali.
Utang digunakan untuk membiayai defisit dan sebagian pengeluaran
pembiayaan antara lain pelunasan pokok utang jatuh tempo, buyback, dan
penerusan pinjaman. Sumber pembiayaan dari utang, meliputi penerbitan Surat
Berharga Negara (SBN) yaitu Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga
Syariah Negara (SBSN), serta pengadaan Pinjaman Luar Negeri (Pinjaman
Program dan Pinjaman Proyek) dan Pinjaman Dalam Negeri.
2. Mewujudkan kesinambungan fiskal melalui pengelolaan portofolio dan risiko
utang
Pengelolaan utang yang dilaksanakan secara profesional, akuntabel, dan
transparan dimaksudkan untuk mencapai kondisi keuangan negara yang sehat
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
14
2012 DJPU L LA AK KI IP P
dan mempertahankan kemampuan negara dalam melaksanakan pembiayaan
secara berkesinambungan.
Pengelolaan utang yang tidak profesional akan berdampak negatif terhadap
kondisi fiskal Pemerintah yang tercermin antara lain dalam ketidakmampuan
Pemerintah membayar kewajiban utang secara tepat waktu, tepat jumlah, dan
tepat sasaran, membengkaknya kewajiban utang di luar perkiraan, dan
terhambatnya kegiatan pemerintahan akibat tidak terjaminnya sumber
pembiayaan. Selain itu, dampak selanjutnya dapat berupa menurunnya
kepercayaan investor dan kreditor, terjadinya penurunan peringkat utang
(sovereign credit rating), terhambatnya perkembangan pasar keuangan domestik,
serta ekonomi biaya tinggi.
Sebagai gambaran, total jumlah nominal utang pada tanggal 31 Desember 2012
mencapai Rp1.975,42 triliun. Jumlah utang yang relatif besar tersebut memerlukan
pengelolaan secara cermat dan berhati-hati, karena utang mempunyai dimensi
risiko yang berpotensi menimbulkan masalah terhadap kesinambungan fiskal,
antara lain risiko nilai tukar, risiko tingkat bunga, dan risiko refinancing.
Tabel 1.1
Posisi Utang Pemerintah (2008-2012)


Catatan:
* Termasuk semi commercial
** Beberapa termasuk semi concessional
*** Seluruhnya termasuk commercial
Sumber: Perkembangan Utang Negara Edisi Januari 2013
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
15
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Oleh karena itu, pembiayaan APBN melalui utang harus didukung dengan
pengelolaan berbagai risiko dimaksud melalui upaya antara lain dengan
melakukan: debt securities buyback, loan prepayment, debt-switch/reprofiling, debt
swap, restrukturisasi pinjaman, dan hedging.
3. Pengembangan pasar yang dalam, aktif, dan likuid
Saat ini, peningkatan target pembiayaan melalui SBN belum sebanding dengan
pertumbuhan daya serap pasar SBN domestik yang masih terbatas. Peningkatan
likuiditas dan daya serap pasar SBN domestik diperlukan agar target pembiayaan
SBN dapat dipenuhi dengan biaya yang efisien tanpa menyebabkan peningkatan
risiko utang yang berlebihan. Basis investor baik domestik maupun luar negeri
yang besar dan terdiversifikasi, diperlukan untuk memperkuat dan menjaga
kestabilan permintaan terhadap instrumen utang negara.
Penerbitan utang dalam bentuk SBN berperan strategis dalam pengembangan
pasar keuangan khususnya pasar domestik antara lain:
a. Mendukung pengembangan institusi/lembaga keuangan domestik dengan
memberikan alternatif instrumen investasi;
b. Mendukung kebutuhan industri keuangan dalam pengelolaan ALM;
c. Yield SBN berperan sebagai benchmark bagi penerbitan instrumen keuangan
lainnya;
d. Pasar SBN yang berkembang akan mendukung terbentuknya pasar repo,
derivatif yang akan semakin mengefisienkan pasar keuangan secara
keseluruhan; dan
e. Memperluas basis investor domestik.
D. Sistematika Penyajian
LAKIP ini bertujuan untuk mengkomunikasikan pencapaian kinerja DJPU pada
tahun 2012, yaitu dengan melakukan analisis atas capaian kinerja (performance results)
tahun 2012 terhadap rencana kinerja (performance plans) tahun 2012. Analisis tersebut
memungkinkan teridentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) sebagai
umpan balik perbaikan kinerja di masa datang. Sejalan dengan hal tersebut,
sistematika penyajian LAKIP adalah sebagai berikut:
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
16
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Bab I Pendahuluan, menyajikan latar belakang, tugas dan fungsi, dan struktur
organisasi.
Bab II Rencana Strategis dan Penetapan Kinerja, menyajikan rencana strategis
tahun 2012 dan penetapan kinerja tahunan 2012.
Bab III Akuntabilitas Kinerja dan Akuntabilitas Keuangan, menyajikan analisis
terhadap capaian kinerja dan keuangan pada tahun 2012.
Bab IV Penutup, menyajikan simpulan terhadap pencapaian kinerja di tahun 2012.
Lampiran-lampiran
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
17
2012 DJPU L LA AK KI IP P
BAB II
RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA
A. Rencana Strategis 2010-2014
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Nomor KEP-
16/PU/2010 tentang Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Pengelolaan
Utang Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014, telah ditetapkan arahan dalam
pelaksanaan tugas DJPU dalam periode 5 tahun ke depan yang dituangkan dalam
Renstra. Penyusunan Renstra tersebut mempertimbangkan beberapa hal, yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, yang mewajibkan setiap kementerian/lembaga
menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL) untuk
menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan serta tercapainya penggunaan sumber daya secara
efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
2. Salah satu prioritas bidang ekonomi dalam RPJMN tahun 2010-2014, yaitu
Prioritas Pengelolaan APBN yang Berkelanjutan dengan Fokus Prioritas
Perumusan Kebijakan Fiskal, Pengelolaan Pembiayaan Anggaran, dan
Pengendalian Risiko. Fokus prioritas tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan
pengelolaan utang pemerintah, baik yang berasal dari SBN maupun pinjaman
dengan biaya dan tingkat risiko yang terkelola dengan baik untuk mendukung
kesinambungan fiskal.
3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 40/KMK.01/2010 tentang Rencana Strategis
Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014, yang mengamanatkan penyusunan
Renstra kepada unit-unit organisasi (Eselon I, Eselon II, Instansi Vertikal, dan Unit
Pelaksana Teknis/UPT) di lingkungan Kementerian Keuangan.
Dalam Renstra tersebut ditetapkan visi, misi, tujuan dan sasaran yang ingin
dicapai DJPU dalam periode Tahun 2010-2014, yaitu:
1. Visi
Visi DJPU untuk periode tahun 2010-2014 sebagaimana dalam dokumen
Rencana Strategis adalah Menjadi Pengelola Utang yang mampu menyediakan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
18
2012 DJPU L LA AK KI IP P
sumber pembiayaan APBN yang paling efisien dan aman melalui kegiatan
pengelolaan yang mengedepankan standar tata kelola internasional, dengan
mengutamakan pemanfaatan potensi pendanaan dari pasar keuangan domestik
namun dalam perkembangannya telah dilakukan penyempurnaan dan
dicantumkan dalam Peta Strategi Tahun 2012 yaitu Menjadi unit yang
profesional dalam mendukung pembiayaan APBN secara efisien dengan risiko
yang terukur untuk mempertahankan kesinambungan fiskal.
Visi tersebut di atas lebih menekankan pada pengelolaan utang secara
profesional, yaitu mampu memenuhi standar tata kelola internasional dan
memperhatikan penerapan prinsip-prinsip tatakelola yang baik (good governance
principles). Penyediaan sumber pembiayaan APBN dilakukan dengan tujuan agar
dalam jangka panjang dapat dicapai biaya utang yang minimal dengan tingkat
risiko yang terkendali. Di masa yang akan datang, DJPU sebagai unit pengelola
utang diharapkan mampu mengendalikan utang agar dapat mendukung
peningkatan kemampuan kemandirian keuangan negara.
2. Misi
Misi DJPU untuk periode tahun 2010-2014 sebagaimana tercantum dalam
dokumen Rencana Strategis adalah sebagai berikut:
a. Mewujudkan pengelolaan portofolio utang pemerintah yang efektif,
transparan, dan akuntabel dengan strategi yang mengedepankan peningkatan
daya dukung terhadap ketahanan dan kesinambungan fiskal;
b. Mengendalikan pengadaan/penerbitan utang melalui penetapan kapasitas
berutang yang mendukung stabilitas fiskal;
c. Mewujudkan kemandirian pembiayaan pembangunan nasional melalui upaya
mengedepankan sumber-sumber dalam negeri dan pengembangan pasar
keuangan domestik yang efisien dan stabil; dan
d. Mewujudkan kerjasama internasional dalam rangka memperoleh sumber
pembiayaan alternatif, sekaligus mendukung stabilitas pasar keuangan
regional.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
19
2012 DJPU L LA AK KI IP P
namun dalam perkembangannya telah dilakukan penyempurnaan dan
dicantumkan dalam Konsep Road Map DJPU Tahun 2010-2014 dan Laporan Review
Rencana Strategis Tahun 2010-2014 serta Rencana Kerja DJPU Tahun 2012, yaitu:
a. Mewujudkan pengelolaan portofolio utang pemerintah yang efektif,
transparan, dan akuntabel;
b. Mengendalikan pengadaan/penerbitan utang melalui penetapan kapasitas
berutang yang mendukung stabilitas fiskal;
c. Mewujudkan kemandirian pembiayaan pembangunan nasional melalui upaya
mengedepankan sumber-sumber dalam negeri dan pengembangan pasar
keuangan domestik yang efisien dan stabil; dan
d. Mewujudkan kerjasama internasional dalam rangka memperoleh sumber
pembiayaan alternatif, sekaligus mendukung stabilitas pasar keuangan
regional.
3. Nilai-Nilai
Menteri Keuangan telah melakukan Launching Nilai-Nilai Kementerian
Keuangan pada tanggal 29 Juli 2011. Nilai-nilai ini menjadi penting karena dengan
dasar itulah organisasi bergerak mencapai visi dan misinya. Sosialisasi Nilai-Nilai
Kementerian Keuangan di lingkungan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang telah
dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2011. Adapun Corporate value dimaksud
terdiri dari 5 nilai dan 10 perilaku utama yaitu:
a. Integritas
1) Bersikap jujur, tulus dan dapat dipercaya;
2) Menjaga martabat dan tidak melakukan
hal-hal tercela;
b. Profesionalisme
3) Mempunyai keahlian dan pengetahuan
yang luas;
4) Bekerja dengan hati;

Bagan 2.1
Nilai-nilai
Kementerian Keuangan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
20
2012 DJPU L LA AK KI IP P
c. Sinergi
5) Memiliki sangka baik, saling percaya dan menghormati;
6) Menemukan dan melaksanakan solusi terbaik;
d. Pelayanan
7) Melayani dengan berorientasi pada kepuasan pemangku kepentingan;
8) Bersikap proaktif dan cepan tanggap;
e. Kesempurnaan
9) Melakukan perbaikan terus menerus;
10) Mengembangkan inovasi dan kreativitas.
4. Destination Statement
Destination Statement merupakan pernyataan konkret dan nyata berisi
gambaran atau potret mengenai hal-hal yang diharapkan terwujud pada masa
depan untuk mencapai visi organisasi. Latar belakang diperlukannya Destination
Statement bagi unit organisasi antara lain:
a. Setiap organisasi pasti memiliki kendala/hambatan yang dapat
mempengaruhi keberhasilan pencapaian visi;
b. Kondisi ideal yang ingin dicapai untuk mengatasi masalah tersebut
dirumuskan dalam Destination Statement;
c. Destination Statement berfungsi sebagai milestone dan alat evaluasi pencapaian
visi; dan
d. Sebagai terobosan dalam pencapaian Destination Statement, perlu dirumuskan
inisiatif strategis.
Kementerian Keuangan dengan visi Menjadi pengelola keuangan dan
kekayaan negara yang dipercaya, akuntabel, dan terbaik di regional untuk
mewujudkan Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan telah
menetapkan Destination Statement tahun 2014 sebagaimana tercantum dalam tabel
di bawah ini:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
21
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 2.1
Destination Statement Kementerian Keuangan Tahun 2014
Tujuan Destination Statement Target
Pengelola
keuangan dan
kekayaan
negara
a. Rasio penerimaan pajak terhadap PDB 18%
b. Penyerapan Belanja Negara dalam
DIPA K/L
98%
c. Rasio utang terhadap PDB 22%
d. Jumlah BMN yang telah bersertipikat 20%
e. Defisit APBN 0
Dipercaya f. Tingkat kepuasan pengguna layanan 4,2 (skala 5)
g. Indeks integritas sektor publik
mencapai
8,5 (skala 10)
Akuntabel h. Indeks opini BPK atas LK BA 15, LK
BUN, dan LK BA 999
WTP
Terbaik di
regional
- (dengan beberapa indikator)
Sesuai dengan Destination Statement sebagaimana tersebut di atas,
diamanatkan pula kepada seluruh Eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan
untuk menyusun Destination Statement Eselon I tahun 2014. Atas arahan tersebut
berdasarkan hasil pembahasan dan penetapan Direktur Jenderal Pengelolaan
Utang, ditetapkan 6 (enam) Destination Statement DJPU tahun 2014, sebagaimana
tercantum dalam tabel di bawah ini:
Tabel 2.2
Destination Statement DJPU Tahun 2014
Tujuan Destination Statement Target
Unit pengelola
utang yang
profesional
a. Opini BPK terhadap LK BA 999 01 dan
LK BA 999 02.
WTP
Pembiayaan
APBN secara
efisien
b. Rasio pembayaran bunga/imbalan
terhadap outstanding utang yang
semakin efisien.
5,8%
Risiko yang
terukur
c. Rasio utang valas terhadap outstanding
utang yang semakin menurun.
43%
d. Risiko pembiayaan kembali (porsi
utang jatuh tempo <3 tahun) yang
semakin terkendali.
25%
e. Rasio tingkat bunga utang tetap (fixed
rate) terhadap outstanding utang yang
semakin meningkat.
80%
Kesinambungan
fiskal
f. Rasio utang terhadap PDB yang
semakin rendah.
22%
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
22
2012 DJPU L LA AK KI IP P
5. Tujuan
Berdasarkan visi dan misi DJPU tahun 2010-2014, maka ditetapkan tujuan
pengelolaan utang pada tahun 2010-2014 yaitu:
a. Mengamankan kebutuhan pembiayaan APBN melalui utang dengan biaya
minimal pada tingkat risiko terkendali sehingga kesinambungan fiskal dapat
terpelihara; dan
b. Mendukung upaya untuk menciptakan pasar SBN yang dalam, aktif dan
likuid.
Adapun tujuan jangka pendek pengelolaan utang tahun 2012, sebagaimana
tercantum dalam Strategi Pembiayaan Tahunan melalui Utang Tahun 2012 adalah
memenuhi target pembiayaan APBN tahun 2012 melalui utang dan membiayai
kembali utang yang jatuh tempo dengan biaya yang efisien dan risiko yang
terkendali.
6. Sasaran Strategis
Sasaran strategis pengelolaan utang untuk tahun 2012 sebagaimana tercantum
dalam Peta Strategi Kemenkeu-One, adalah sebagai berikut:
a. Pembiayaan dalam jumlah yang cukup, efisien, dan aman untuk mendukung
kesinambungan fiskal;
b. Akuntabilitas pengelolaan utang dan hibah;
c. Kredibilitas dan transparansi pengelolaan utang;
d. Perumusan strategi dan kebijakan pengelolaan utang yang berkualitas;
e. Pengembangan pasar SBN yang dalam, aktif, dan likuid;
f. Pengelolaan portofolio utang yang optimal;
g. Pengelolaan kewajiban utang yang efektif;
h. Monitoring dan evaluasi kepatuhan pengelolaan utang yang efektif;
i. Pembentukan SDM yang berkompetensi tinggi;
j. Penataan organisasi yang adaptif;
k. Perwujudan TIK yang Terintegrasi; dan
l. Pelaksanaan anggaran yang optimal.


KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
23
2012 DJPU L LA AK KI IP P
7. Kebijakan
Kebijakan yang ditetapkan DJPU pada tahun 2012, sebagaimana tercantum
dalam Strategi Pembiayaan Tahunan melalui Utang Tahun 2012, adalah sebagai
berikut:
a. Mengoptimalkan potensi pembiayaan utang dari pasar domestik melalui
penerbitan SBN Rupiah maupun penarikan pinjaman dalam negeri;
b. Terus melakukan diversifikasi instrumen utang agar diperoleh fleksibilitas
dalam memilih berbagai instrumen yang lebih cost-efficient dan risiko minimal;
c. Pengadaan pinjaman/kredit luar negeri dilakukan sepanjang untuk memenuhi
kebutuhan prioritas, memberikan terms and conditions yang menguntungkan
Pemerintah, dan tanpa agenda politik dari kreditor;
d. Tetap mempertahankan kebijakan pengurangan pinjaman/kredit luar negeri
secara bertahap;
e. Meningkatkan koordinasi dengan otoritas moneter dan otoritas pasar modal,
terutama dalam rangka mendorong upaya financial deepening; dan
f. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak dalam
rangka meningkatkan sovereign credit rating.
8. Strategi
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan strategi-strategi yang efektif dan
tepat sasaran, dimana di sisi lain dapat sekaligus mengatasi permasalahan yang
ada. Strategi-strategi yang disusun harus dapat mengoptimalkan potensi-potensi
yang dimiliki, baik internal maupun eksternal. Adapun strategi DJPU untuk
periode tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut:
a. Melaksanakan pengelolaan utang secara prudent dengan tujuan untuk
meminimalkan biaya utang pada tingkat risiko yang terkendali;
b. Meningkatkan koordinasi dengan unit terkait dalam rangka pengelolaan kas
dan kebijakan fiskal serta penyediaan underlying asset penerbitan SBSN;
c. Menyelesaikan penyusunan kerangka hukum dalam pengelolaan pinjaman,
hibah, kewajiban kontinjensi, dan hedging;
d. Menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan untuk pelaksanaan transaksi
dalam rangka pengelolaan portofolio utang;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
24
2012 DJPU L LA AK KI IP P
e. Melakukan pengembangan instrumen utang agar diperoleh fleksibilitas dalam
memilih berbagai instrumen yang lebih cost-efficient dan risiko minimal;
f. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), organisasi, teknologi
informasi dan komunikasi (termasuk sistem informasi manajemen utang), dan
pengelolaan anggaran;
g. Meningkatkan koordinasi dengan otoritas moneter dalam pelaksanaan Asset-
Liability Management (ALM);
h. Mengoptimalkan potensi pendanaan APBN melalui utang dari sumber
domestik melalui penerbitan SBN Rupiah maupun penarikan pinjaman dalam
negeri agar dapat mengurangi ketergantungan dari pembiayaan luar negeri;
i. Mempertahankan kebijakan pengurangan pinjaman luar negeri dalam periode
jangka menengah, pengadaan dilakukan sepanjang untuk memenuhi
kebutuhan prioritas, memberikan terms & conditions yang wajar (favourable)
bagi Pemerintah, dan tanpa agenda politik dari kreditor;
j. Meningkatkan koordinasi dengan otoritas moneter, otoritas pasar modal, dan
pelaku pasar dalam rangka mengembangkan pasar SBN domestik yang solid
dan efisien melalui perluasan basis investor domestik dan mengoptimalkan
infrastruktur pasar yang mendukung pasar SBN yang likuid;
k. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak dalam
rangka meningkatkan efisiensi pengelolaan pinjaman dan sovereign credit
rating;
l. Meningkatkan monitoring dan evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan
utang; dan
m. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada publik.
9. Program dan Kegiatan
Sejalan dengan penganggaran dengan dasar performanced based budgeting,
dalam pelaksanaan kegiatan operasional pada tahun 2012, DJPU memiliki
program pokok dan program penunjang. Program pokok adalah Pengelolaan dan
Pembiayaan Utang, yang dilaksanakan melalui Kegiatan sebagai berikut:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
25
2012 DJPU L LA AK KI IP P
a. Pengelolaan Pinjaman;
b. Pengelolaan Surat Utang Negara;
c. Pengelolaan Pembiayaan Syariah;
d. Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang; dan
e. Pelaksanaan Evaluasi, Akuntansi dan Setelmen Utang.
Sedangkan program penunjang yang ditujukan untuk memberikan pelayanan
teknis dan administrasi kepada semua unsur di lingkungan Direktorat Jenderal,
yaitu: kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJPU.
B. Penetapan Kinerja
Pada tahun 2012, DJPU telah menetapkan target kinerja yang akan dicapai dalam
bentuk kontrak kinerja antara Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dengan Menteri
Keuangan. Pada Kontrak kinerja tersebut terdapat peta strategi (strategy map) dengan
12 sasaran strategis (SS) yang ingin dicapai. Untuk setiap SS yang disusun dan
ditetapkan memiliki ukuran yang disebut sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU).
Keseluruhan IKU DJPU pada tahun 2012 untuk semua SS berjumlah 26 IKU. Selain itu
ditetapkan pula Inisiatif Strategis Direktur Jenderal Pengelolaan Utang untuk Tahun
2012, yang terdiri dari 19 Inisiatif Strategis.
Peta strategi merupakan suatu dashboard (panel instrument) yang memetakan SS ke
dalam suatu kerangka hubungan sebab akibat yang menggambarkan keseluruhan
perjalanan strategi DJPU. Peta strategi memudahkan DJPU untuk
mengkomunikasikan keseluruhan strateginya kepada seluruh pejabat/pegawai dalam
rangka pemahaman demi suksesnya pencapaian visi, misi, dan tujuan DJPU. Peta
strategi DJPU tahun 2012 yang disepakati antara Direktur Jenderal Pengelolaan Utang
dengan Menteri Keuangan pada tanggal 9 Februari 2012 ditunjukkan dalam bagan
berikut:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
26
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Bagan 2.2
Peta Strategi DJPU Tahun 2012

Peta strategi DJPU memetakan setiap SS yang disusun dalam rangka pencapaian
tujuan organisasi sesuai visi dan misi yang diemban. Dengan menggunakan
metodologi Balanced Scorecard, setiap SS dikelompokan kedalam empat perspektif,
yaitu stakeholders perspective, customers perpective, internal process perspective, dan
learning and growth perspective. Dari stakeholders perspective, terdapat SS yang disusun
untuk mewujudkan pembiayaan dalam jumlah yang cukup, efisien, dan aman untuk
mendukung kesinambungan fiskal. Dari customers perpective terhadap kreditor,
investor, dan donor, terdapat SS yang disusun untuk mewujudkan nilai transparansi,
akuntabilitas, dan kredibilitas dalam pengelolaan utang.
Dari internal process perspective DJPU, untuk mendukung pencapaian SS pada dua
layer stakeholders perspective dan customers perpective tersebut diperlukan adanya tiga
faktor penting berupa perumusan, pengelolaan, dan pengembangan serta pengawasan
terhadap core business DJPU. Dalam hal ini, proses internal yang dimaksud terkait
dengan proses perumusan strategi dan kebijakan pengelolaan utang yang berkualitas,
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
27
2012 DJPU L LA AK KI IP P
pengembangan pasar SBN yang dalam, aktif, dan likuid, pengelolaan portofolio utang
yang optimal, pengelolaan kewajiban utang yang efektif, dan monitoring dan evaluasi
kepatuhan pengelolaan utang yang efektif.
Sedangkan dari learning and growth perspective, terdapat empat faktor penting yang
harus dikelola dengan baik guna menciptakan modal utama untuk mencapai tujuan
organisasi yaitu faktor pengembangan sumber daya manusia, faktor organisasi, faktor
teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan faktor pengelolaan anggaran.
Sebagai alat ukur pencapaian SS, target 26 IKU DJPU yang ditetapkan pada awal
tahun 2012 adalah sebagai berikut:
Tabel 2.3
Target Indikator Kinerja Utama Kemenkeu-One Tahun 2012
No. Sasaran Strategis
Indikator Kinerja
Utama
Realisasi
2011
Target
2012
Perspektif
1. Pembiayaan dalam
jumlah yang
cukup, efisien, dan
aman untuk
mendukung
kesinambungan
fiskal
PU-1.1 Persentase
pemenuhan target
pembiayaan melalui
utang yang cukup
99,17%
(Rp218,13
triliun)
100%
(Rp286,57
triliun)
S
t
a
k
e
h
o
l
d
e
r
s

P
e
r
s
p
e
c
t
i
v
e

PU-1.2 Persentase
pencapaian target
effective cost
83,50% 100%
PU-1.3 Persentase
pemenuhan target
risiko portofolio utang
96,80% 100%
2. Akuntabilitas
pengelolaan utang
dan hibah
PU-2.1 Opini BPK
terhadap LK BA
Pengelolaan Utang
dan Hibah
87,5%
(1 WTP &
1 WDP)
100%
(2 WTP)
C
u
s
t
o
m
e
r

P
e
r
s
p
e
c
t
i
v
e

3. Kredibilitas dan
transparansi
pengelolaan utang
PU-3.1 Indeks
kepuasan pengguna
layanan
4,02 3,90
PU-3.2 Persentase
Pembayaran utang
tepat waktu, tepat
jumlah, dan tepat
sasaran
100% 100%
4. Perumusan strategi
dan kebijakan
pengelolaan utang
yang berkualitas
PU-4.1 Persentase
penyediaan peraturan
yang mendukung
pengembangan pasar
dan pengelolaan
143,75% 100%
I
n
t
e
r
n
a
l

p
r
o
c
e
s
s

P
e
r
s
p
e
c
t
i
v
e

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
28
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No. Sasaran Strategis
Indikator Kinerja
Utama
Realisasi
2011
Target
2012
Perspektif
portofolio utang
PU-4.2 Persentase
penyusunan dokumen
strategi pembiayaan
tahunan melalui utang
100% 100%
PU-4.3 Persentase
pelaksanaan kajian
restrukturisasi Surat
Utang Pemerintah
dalam rangka ALM
N/A 100%
5. Pengembangan
pasar SBN yang
dalam, aktif, dan
likuid
PU-5.1 Tingkat
efektifitas edukasi dan
komunikasi
76,32 75
(efektif)
PU-5.2 Spread WAY
yang dimenangkan
dengan highest yield
awarded (tail)
N/A 15 bps
6. Pengelolaan
portofolio utang
yang optimal
PU-6.1 Rasio beban
bunga terhadap rata-
rata outstanding utang
5,30% 5,72%
PU-6.2 Akurasi
penetapan
yield/imbalan SBN
dan biaya pinjaman
terhadap benchmark
95,56% 90%
7. Pengelolaan
kewajiban utang
yang efektif
PU-7.1 Persentase
dokumen tagihan
yang diverifikasi
secara tepat waktu
100% 100%
8. Monitoring dan
evaluasi kepatuhan
pengelolaan utang
yang efektif
PU-8.1 Persentase
tingkat kepatuhan
dalam pengelolaan
utang
99,62% 100%
PU-8.2 Rata-rata
persentase realisasi
janji layanan
unggulan
100% 100%
PU-8.3 Indeks
ketepatan waktu
penyelesaian tindak
lanjut Instruksi
Presiden
N/A 80%
(tepat
waktu)
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
29
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No. Sasaran Strategis
Indikator Kinerja
Utama
Realisasi
2011
Target
2012
Perspektif
9. Pembentukan SDM
yang
berkompetensi
tinggi
PU-9.1 Persentase
pejabat yang telah
memenuhi standar
kompetensi
jabatannya
87,83% 82,5%
L
e
a
r
n
i
n
g

&

G
r
o
w
t
h

P
e
r
s
p
e
c
t
i
v
e

PU-9.2 Persentase
pemenuhan pelatihan
pegawai sesuai
dengan gap
kompetensi pegawai
(hard competency)
N/A 100%
10. Penataan
organisasi yang
adaptif
PU-10.1 Persentase
mitigasi risiko yang
selesai dijalankan
N/A 70%
PU-10.2 Indeks
reformasi birokrasi
N/A 92%
PU-10.3 Indeks
kepuasan pegawai
N/A 3
PU-10.4 Persentase
policy recommendation
hasil pengawasan
yang ditindaklanjuti
N/A 85%
11. Perwujudan TIK
yang terintegrasi
PU-11.1 Persentase
pengembangan
database utang yang
terintegrasi
45% 100%
PU-11.2 Persentase
akurasi data SIMPEG
N/A 100%
12. Pelaksanaan
anggaran yang
optimal
PU-12.1 Persentase
penyerapan DIPA
95,57% 95%
Peta strategi DJPU tahun 2012 yang memetakan 12 SS dengan alat ukur
pencapaian berupa 26 IKU, telah disusun berdasarkan Renstra DJPU tahun 2010-2014.
Berikut matriks yang menunjukkan kesesuaian antara hal-hal tersebut.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
30
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 2.4
Matriks Hubungan Sasaran Strategis dan IKU
Sasaran Strategis
Indikator Kinerja
Utama Kemenkeu-
One tahun 2012
Rencana Strategis DJPU
Tahun 2010-2014
Peta Strategi DJPU
Tahun 2012
Strategi Pengelolaan Pinjaman
Sasaran Strategis 1 yaitu Pembiayaan yang
aman bagi kesinambungan fiskal melalui
pengadaan pinjaman.
Strategi Pengelolaan Surat Utang Negara
Sasaran Strategis 1 yaitu Terpenuhinya
pembiayaan yang aman bagi kesinambungan
fiskal melalui pengelolaan SUN.
Strategi Pengelolaan Pembiayaan Syariah
Sasaran Strategis 1 yaitu Pembiayaan yang
aman bagi kesinambungan fiskal melalui
SBSN.
Pembiayaan dalam
jumlah yang cukup,
efisien, dan aman
untuk mendukung
kesinambungan
fiskal
Persentase
pemenuhan target
pembiayaan melalui
utang yang cukup
Persentase
pencapaian target
effective cost
Persentase
pemenuhan target
risiko portofolio
utang
Strategi Pelaksanaan Evaluasi, Akuntansi,
dan Setelmen
Sasaran Strategis 3 yaitu akuntabilitas.
Akuntabilitas
pengelolaan utang
dan hibah
Opini BPK terhadap
LK BA Pengelolaan
Utang dan Hibah
Strategi Pengelolaan Pinjaman
Sasaran Strategis 3 yaitu Transparansi.
Strategi Pengelolaan Surat Utang Negara
Sasaran Strategis 2 yaitu Transparansi dalam
pengelolaan SUN.
Strategi Pengelolaan Pembiayaan Syariah
Sasaran Strategis 2 yaitu Transparansi
pengelolaan SBSN
Strategi Pengelolaan Strategi Dan Portofolio
Utang
Sasaran Strategis 4 yaitu Kredibilitas
Kredibilitas dan
Transparansi
pengelolaan utang
Pembayaran utang
tepat waktu, tepat
jumlah, dan tepat
sasaran
Indeks kepuasan
pengguna layanan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
31
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Utama Kemenkeu-
One tahun 2012
Rencana Strategis DJPU
Tahun 2010-2014
Peta Strategi DJPU
Tahun 2012
Sasaran Strategis 3 yaitu Transparansi
Strategi Pelaksanaan Evaluasi, Akuntansi,
dan Setelmen
Sasaran strategis 4 yaitu Kredibilitas.
Sasaran strategis 2 yaitu Transparansi
Strategi Pengelolaan Strategi dan Portofolio
Utang
Sasaran Strategis 1 yaitu Strategi pengelolaan
utang yang berkualitas.
Perumusan strategi
dan kebijakan
pengelolaan utang
yang berkualitas
Persentase
penyediaan
peraturan yang
mendukung
pengembangan
pasar dan
pengelolaan
portofolio utang
Persentase
penyusunan
dokumen strategi
pembiayaan
tahunan melalui
utang
Persentase
pelaksanaan kajian
restrukturisasi Surat
Utang Pemerintah
dalam rangka ALM
Strategi Pengelolaan Surat Utang Negara
Sasaran Strategis 3 yaitu Stabilitas Pasar SUN.
Pengembangan
pasar SBN yang
dalam, aktif, dan
likuid
Tingkat efektifitas
edukasi dan
komunikasi
Spread WAY yang
dimenangkan
dengan highest yield
awarded (tail)
Strategi Pengelolaan Strategi dan Portofolio
Utang
Sasaran Strategis 2 yaitu Pemenuhan target
penerbitan rekomendasi jaminan pemerintah
yang optimal.

Pengelolaan
portofolio utang
yang optimal
Rasio beban bunga
terhadap rata-rata
outstanding utang
Akurasi penetapan
yield/imbalan SBN
dan biaya pinjaman
terhadap benchmark
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
32
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Utama Kemenkeu-
One tahun 2012
Rencana Strategis DJPU
Tahun 2010-2014
Peta Strategi DJPU
Tahun 2012
Strategi Pelaksanaan Evaluasi, Akuntansi,
dan Setelmen
Sasaran Strategis 1 yaitu pelaksanaan
evaluasi, akuntansi dan setelmen pengelolaan
utang yang transparan, akuntabel dan
kredibel.
Pengelolaan
kewajiban utang
yang efektif
Persentase dokumen
tagihan yang
diverifikasi secara
tepat waktu
----- Monitoring dan
evaluasi kepatuhan
pengelolaan utang
yang efektif
Persentase tingkat
kepatuhan dalam
pengelolaan utang
Rata-rata persentase
realisasi janji
layanan unggulan
Indeks ketepatan
waktu penyelesaian
tindak lanjut
Instruksi Presiden
Strategi Reformasi Birokrasi (Dukungan
Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya
di Lingkungan DJPU)
Sasaran Strategis 2 yaitu pembentukan SDM
yang berintegritas dan berkompetensi tinggi.
Pembentukan SDM
yang berkompetensi
tinggi
Persentase pejabat
yang telah
memenuhi standar
kompetensi
jabatannya
Persentase
pemenuhan
pelatihan pegawai
sesuai dengan gap
kompetensi
pegawai (hard
competency)
Strategi Reformasi Birokrasi (Dukungan
Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya
di Lingkungan DJPU)
Sasaran Strategis 3 yaitu pengembangan
organisasi yang handal dan modern.




Penataan organisasi
yang adaptif
Persentase mitigasi
risiko yang selesai
dijalankan
Indeks reformasi
birokrasi
Indeks Kepuasan
pegawai
Persentase policy
recommendation hasil
pengawasan yang
ditindaklanjuti
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
33
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Utama Kemenkeu-
One tahun 2012
Rencana Strategis DJPU
Tahun 2010-2014
Peta Strategi DJPU
Tahun 2012
Strategi Reformasi Birokrasi (Dukungan
Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya
di Lingkungan DJPU)
Sasaran Strategis 4 yaitu pembangunan
sistem TIK yang terintegrasi.
Perwujudan TIK
yang terintegrasi
Persentase
pengembangan
database utang yang
terintegrasi
Persentase akurasi
data SIMPEG
Strategi Reformasi Birokrasi (Dukungan
Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya
di Lingkungan DJPU)
Sasaran Strategis 5 yaitu pengelolaan
anggaran yang optimal.
Pelaksanaan
anggaran yang
optimal
Persentase
penyerapan DIPA

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
34
2012 DJPU L LA AK KI IP P
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN
A. Capaian IKU
1. Capaian IKU Tahun 2012
Capaian IKU DJPU tahun 2012 pada stakeholders perspective, customer perspective,
internal process perspective, dan learning and growth perspectiv dapat dilihat pada tabel
di bawah ini:
Tabel 3.1
Capaian IKU Kemenkeu-One Tahun 2012
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi
Persentase
Pencapaian
Target
Polarisasi
1. Pembiayaan
dalam jumlah
yang cukup,
efisien, dan aman
untuk
mendukung
kesinambungan
fiskal
1.1 Persentase
pemenuhan target
pembiayaan
melalui utang yang
cukup
Persen 100,00% 98,87% 117,74% Stabilize
1.2 Persentase
pencapaian target
effective cost
Persen 100,00% 80,58% 119,42% Minimize
1.3 Persentase
pemenuhan target
risiko portofolio
utang
Persen 100,00% 98,13% 116,26% Stabilize
2. Akuntabilitas
pengelolaan
utang dan hibah
2.1 Opini BPK terhadap
LK BA Pengelolaan
Utang dan Hibah
Persen 100,00% 87,50% 87,50% Maximize
3. Kredibilitas
pengelolaan
utang
3.1

Indeks kepuasan
pengguna layanan
Indeks 3,90 3,79 97,18% Maximize
3.2

Persentase
pembayaran utang
tepat waktu, tepat
jumlah, dan tepat
sasaran
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
4. Perumusan
strategi dan
kebijakan
pengelolaan
utang yang
4.1 Persentase
penyediaan
peraturan yang
mendukung
pengembangan
pasar dan
Persen 100,00% 92,50% 92,50% Maximize
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
35
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi
Persentase
Pencapaian
Target
Polarisasi
berkualitas pengelolaan
portofolio utang
4.2 Persentase
penyelesaian
dokumen strategi
pengelolaan utang
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
4.3 Persentase
pelaksanaan kajian
restrukturisasi
Surat Utang
Pemerintah dalam
rangka ALM
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
5. Pengembangan
pasar SBN yang
dalam, aktif, dan
likuid
5.1 Tingkat efektifitas
edukasi dan
komunikasi
Persen 75,00% 75,83% 101,11%

Maximize
5.2 Spread WAY yang
dimenangkan
dengan highest yield
awarded (tail)
Bps 15,00 4,29 120,00% Minimize
6. Pengelolaan
portofolio utang
yang optimal
6.1 Rasio beban bunga
terhadap rata-rata
outstanding utang
Persen 5,72% 5,29% 107,52% Minimize
6.2 Akurasi penetapan
yield/imbalan SBN
dan biaya pinjaman
terhadap benchmark
Persen 90,00% 91,65% 101,83% Maximize
7. Pengelolaan
kewajiban utang
yang efektif
7.1 Persentase
dokumen tagihan
yang diverifikasi
secara tepat waktu
Persen 100,00% 100,00% 100,00%

Maximize
8. Monitoring dan
evaluasi
kepatuhan
pengelolaan
utang yang
efektif
8.1 Persentase tingkat
kepatuhan dalam
pengelolaan utang
Persen 100,00% 98,39% 116,78% Stabilize
8.2 Rata-rata persentase
realisasi janji
layanan unggulan
Persen 100,00% 100,00% 100,00%

Maximize
8.3 Indeks ketepatan
waktu penyelesaian
tindak lanjut
Instruksi Presiden
Persen 80% - - Maximize
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
36
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi
Persentase
Pencapaian
Target
Polarisasi
9. Pembentukan
SDM yang
berkompetensi
tinggi
9.1 Persentase pejabat
yang telah
memenuhi standar
kompetensi
jabatannya
Persen 82,50% 96,58% 117,07% Maximize
9.2 Persentase
pemenuhan
pelatihan pegawai
sesuai dengan gap
kompetensi
pegawai (hard
competency)
Persen 100,00% 115,00% 115,00% Maximize
10. Penataan
organisasi yang
adaptif
10.1 Persentase mitigasi
risiko yang selesai
dijalankan
Persen 70,00% 100,00% 120,00% Maximize
10.2 Indeks reformasi
birokrasi
Indeks 92,00% 96,72% 105,13% Maximize
10.3 Indeks kepuasan
pegawai
Indeks 3,00 3,19 106,33% Maximize
10.4 Persentase policy
recommendation
hasil pengawasan
yang
ditindaklanjuti
Persen 85,00% 100,00% 117,65% Maximize
11. Perwujudan TIK
yang terintegrasi
11.1 Persentase
pengembangan
database utang yang
terintegrasi
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
11.2 Persentase akurasi
data SIMPEG
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
12. Pelaksanaan
anggaran yang
optimal
12.1 Persentase
penyerapan DIPA
Persen 95,00% 96,50% 101,58% Maximize
*Keterangan: polarisasi adalah ekspektasi arah nilai aktual dari IKU dibandingkan relatif terhadap nilai target



KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
37
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2. Perbandingan Capaian IKU tahun 2010 s.d. 2012
Perbandingan capaian IKU DJPU tahun 2010 s.d. 2012 pada stakeholders
perspective, customer perspective, internal process perspective, dan learning and growth
perspective dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3.2
Perbandingan Capaian IKU Kemenkeu-One Tahun 2010 s.d. 2012
No
Indikator Kinerja
Utama
2010 2011 2012
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
1. Pemenuhan target
pembiayaan melalui
utang
100,00% 99,47% Penyempurnaan IKU
2. Persentase pemenuhan
target pembiayaan
melalui utang yang
cukup, efisien, dan aman
N/A N/A 100,00% 99,17% Penyempurnaan
IKU
3. Persentase pemenuhan
target pembiayaan
melalui utang yang cukup
N/A N/A N/A N/A 100,00% 98,87%
4. Pencapaian target effective
cost
100,00% 80,02% Penyempurnaan IKU
5. Persentase pencapaian
target effective cost
N/A N/A 100,00% 83,50% 100,00% 80,58%
6. Persentase pemenuhan
struktur portofolio utang
sesuai dengan strategi
100,00% 96,04% 100,00% 96,80% Penyempurnaan
IKU
7. Persentase pemenuhan
target risiko portofolio
utang
N/A N/A N/A N/A 100,00% 98,13%
8. Ketersediaan informasi
dalam rangka
transparansi pengelolaan
utang
518 set 610 set Penyempurnaan
IKU
Dihapus
9. Persentase publikasi
dalam rangka
transparansi pengelolaan
utang
N/A N/A 100,00% 104,87% Dihapus
10. Opini BPK terhadap LK
BA Pengelolaan Utang
dan Hibah
100,00%

87,50% 100,00% 87,50% 100,00% 87,50%
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
38
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No
Indikator Kinerja
Utama
2010 2011 2012
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
11. Indeks kepuasan
pengguna layanan
N/A N/A 3,87 4,02 3,90 3,79
12. Pembayaran utang tepat
waktu, tepat jumlah, dan
tepat sasaran
100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
13. Jumlah peraturan dan
keputusan yang
mendukung pengelolaan
utang
36 set 40 set Penyempurnaan IKU
14. Persentase penyediaan
peraturan dan keputusan
yang mendukung
pengelolaan utang
N/A N/A 100,00% 143,75% Penyempurnaan
IKU
15. Persentase penyediaan
peraturan yang
mendukung
pengembangan pasar dan
pengelolaan portofolio
utang
N/A N/A N/A N/A 100,00% 92,50%
16. Tersedianya dokumen
strategi pengelolaan
utang
2 dok 2 dok Penyempurnaan IKU
17. Persentase penyelesaian
dokumen strategi
pengelolaan utang
N/A N/A 100,00% 100,00% Penyempurnaan
IKU
18. Persentase penyusunan
dokumen strategi
pembiayaan tahunan
melalui utang
N/A N/A N/A N/A 100,00% 100,00%
19. Persentase pelaksanaan
kajian restrukturisasi
Surat Utang Pemerintah
dalam rangka ALM
N/A N/A N/A N/A 100,00% 100,00%
20. Peningkatan pemahaman
masyarakat dan pelaku
ekonomi terhadap
pengelolaan SBN
67,50% 76,74 % Penyempurnaan IKU
21. Tingkat efektifitas
edukasi dan komunikasi
N/A N/A 70,00% 76,33% 75,00% 75,83%
22. Partisipasi investor dalam 145,00% 265,06% Penyempurnaan Dihapus
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
39
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No
Indikator Kinerja
Utama
2010 2011 2012
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
penerbitan SBN IKU
23. Persentase jumlah
nominal penawaran yang
masuk dalam transaksi
SBN rupiah terhadap
target indikatif
N/A N/A 151,50% 338,71% Dihapus
24. Spread WAY yang
dimenangkan dengan
highest yield awarded (tail)
N/A N/A N/A N/A 15,00
bps
4,29 bps
25. Efektifitas instrumen
pembiayaan baru
100,00% 0% Dihapus
26. Rasio beban bunga
terhadap rata-rata
outstanding utang
6,94% 5,33% 6,11% 5,30% 5,72% 5,29%
27. Akurasi penetapan
yield/imbalan SBN dan
biaya pinjaman terhadap
benchmark
N/A N/A 100,00% 95,56% 90,00% 91,65%
28. Persentase pemenuhan
target pembiayaan
melalui utang yang
bersumber dari dalam
negeri
N/A N/A 100,00% 99,88% Dihapus

29. Persentase dokumen
tagihan yang diverifikasi
secara tepat waktu
100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
30. Tingkat kepatuhan
pengelolaan utang yang
sesuai dengan ketentuan
dan prosedur yang
berlaku
100,00% 94,73% Penyempurnaan IKU
31. Persentase tingkat
kepatuhan pengelolaan
utang yang sesuai dengan
ketentuan dan prosedur
yang berlaku
N/A N/A 100,00% 99,62% Penyempurnaan
IKU
32. Persentase tingkat
kepatuhan dalam
pengelolaan utang
N/A N/A N/A N/A 100,00% 98,39%
33. Rata-rata persentase N/A N/A 100,00% 100,00% 100,00% 100,00%
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
40
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No
Indikator Kinerja
Utama
2010 2011 2012
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
realisasi janji layanan
unggulan
34. Indeks ketepatan waktu
penyelesaian tindak lanjut
Instruksi Presiden
N/A N/A N/A N/A 80,00% N/A
35. Persentase pejabat yang
telah memenuhi standar
kompetensi jabatannya
(soft competency)
80,00% 90,00% Penyempurnaan IKU
36. Persentase pejabat yang
telah memenuhi standar
kompetensi jabatannya
N/A N/A 80,00% 87,83% 82,50% 96,58%
37. Persentase jam pelatihan
pegawai DJPU terhadap
jam kerja
5,70% 5,90% Penyempurnaan
IKU
Dihapus
38. Rasio jam pelatihan
pegawai DJPU
dibandingkan jam kerja
N/A N/A 2,18% 2,33% Dihapus
39. Persentase penyusunan
Standard Kompetensi
Jabatan (Hard Competency)
N/A N/A 100,00% 100,00% Dihapus
40. Persentase pemenuhan
pelatihan pegawai sesuai
dengan gap kompetensi
pegawai (hard competency)
N/A N/A N/A N/A 100,00% 115,00%
41. Jumlah pegawai yang
dijatuhi hukuman disiplin
sedang atau berat
1 orang 0 orang Dihapus
42. Jumlah dokumen
perencanaan dan evaluasi
kinerja organisasi
6 dok 6 dok 4 dok 4 dok Dihapus
43. Persentase UPR yang
menerapkan manajemen
risiko
N/A N/A 60,00% 100,00% Dihapus
44. Persentase penyelesaian
SOP
100,00% 100,00% 100,00% 100,00% Dihapus
45. Persentase mitigasi risiko
yang selesai dijalankan
N/A N/A N/A N/A 70,00% 100,00%
46. Indeks reformasi birokrasi N/A N/A N/A N/A 92,00 96,72
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
41
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No
Indikator Kinerja
Utama
2010 2011 2012
Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi
47. Indeks kepuasan pegawai N/A N/A N/A N/A 3,00 3,19
48. Persentase policy
recommendation hasil
pengawasan yang
ditindaklanjuti
N/A N/A N/A N/A 85,00% 100,00%
49. Persentase penyelesaian
penataan/modernisasi
organisasi
100,00% 100,00% Dihapus
50. Persentase
pengembangan database
utang yang terintegrasi
N/A N/A 45,00% 45,00% 100,00% 100,00%
51. Persentase akurasi data
SIMPEG
N/A N/A N/A N/A 100,00% 100,00%
52. Sistem aplikasi TIK di
bidang pengelolaan utang
yang terimplementasi
sesuai rencana
100,00% 100,00% Dihapus
53. Persentase penyerapan
DIPA
85,00% 84,42% 80,00% 95,57% 95,00% 96,50%
54. Persentase pencapaian
penyerapan anggaran dan
kinerja output
100,00% 114,95% 100,00% 101,54% Dihapus
B. Evaluasi dan Analisis Kinerja Tahun 2012
Capaian SS dan IKU DJPU tahun 2012 dari 12 SS dan 26 IKU adalah:
1. 10 SS dan 22 IKU berstatus hijau atau memenuhi dan/atau di atas target;
2. 2 SS dan 3 IKU berstatus kuning atau kurang memenuhi target; dan
3. 1 IKU berstatus abu-abu dikarenakan tidak terdapat obyek kinerja dan tidak
tersedianya data.
Dengan nilai kinerja sebesar 108,82%.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
42
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Grafik 3.1
Ikhtisar Capaian Kinerja DJPU

Secara detail capaian SS dan IKU tersebut adalah sebagai berikut:
1. SS Pembiayaan dalam jumlah yang cukup, efisien, dan aman untuk
mendukung kesinambungan fiskal dengan indikator:
a. Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang cukup
Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang cukup
yang menjadi IKU unit pengelola utang dihitung dari realisasi penerbitan
SBN dan pengadaan pinjaman program. Pemenuhan pembiayaan dari
pinjaman yang digunakan sebagai komponen IKU hanya yang berasal dari
pinjaman program, tidak termasuk pinjaman proyek karena sifat pinjaman
program yang relatif sama dengan SBN dalam hal pola penarikannya.
Pinjaman proyek tidak dimasukkan ke dalam komponen IKU karena
penyerapan pinjaman proyek sangat dipengaruhi oleh pelaksanaan
kegiatan/proyek pada Kementerian/Lembaga sebagai Executing Agency.
Dalam memenuhi target pembiayaan melalui utang, realisasi penerbitan
SBN/pengadaan pinjaman program dilakukan dengan menggunakan
konsep gross agar lebih mencerminkan upaya/kinerja Pemerintah dalam
memenuhi total kebutuhan pembiayaan APBN yang berasal dari utang.
IKU ini menggunakan polarisasi stabilize, dimana capaian yang
diharapkan adalah sesuai atau mendekati target yang ditetapkan. Adapun
deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
43
2012 DJPU L LA AK KI IP P
1) Pada tahun 2012, persentase pemenuhan target pembiayaan melalui
utang yang cukup ditargetkan sebesar 100% (Rp286,83 triliun) dengan
realisasi sebesar 98,87% (Rp283,58 triliun), sehingga terdapat kekurangan
sebesar 1,13% (Rp3,25 triliun), dengan perincian:
a) Kekurangan realisasi penerbitan SUN bruto terutama disebabkan
oleh adanya rencana buyback dan rencana penerbitan SPN 3 bulan
yang tidak terlaksana seluruhnya. Rencana buyback tidak terlaksana
seluruhnya karena buyback yang semula disiapkan untuk berjaga-jaga
pada saat kondisi pasar SUN tertekan ternyata tidak perlu dilakukan
mengingat kondisi pasar SUN tahun 2012 yang cukup kondusif,
ditandai dengan masuknya dana asing, menyebabkan harga SUN
menjadi lebih mahal. Adapun realisasi penerbitan SPN 3 bulan yang
tidak sesuai dengan rencana penerbitan semula disebabkan oleh
permintaan atas SPN 3 bulan yang tidak signifikan, di atas benchmark
serta sangat volatile; dan
b) Kekurangan penarikan pinjaman karena terdapat pinjaman DPL8
dari JICA yang tidak dapat ditarik sebesar USD200 juta, disebabkan
keterlambatan penyelesaian Exchange of Note oleh Kementerian Luar
Negeri.
Persentase pemenuhan target pembiayaan melalui utang yang cukup,
efisien, dan aman ditargetkan sebesar 100% (Rp286,83 triliun) dengan
realisasi sebesar 98,87% (Rp283,58 triliun), yang terdiri dari:
a) Pinjaman Program
Pembiayaan atas defisit APBN diusahakan dalam jumlah yang
cukup, tersedia pada saat diperlukan, dan dengan biaya yang efisien
serta tingkat risiko yang terkendali. Sumber pembiayaan defisit
APBN antara lain melalui pengadaan pinjaman luar negeri (Pinjaman
Tunai dan Pinjaman Kegiatan) dan pinjaman dalam negeri yang
bersumber dari kreditor multilateral, bilateral, dan kreditor komersial
swasta asing.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
44
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Pengadaan pinjaman harus didukung oleh verifikasi atas readiness
criteria proyek yang ketat dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi
pinjaman proyek yang efektif. Selain itu, berbagai risiko yang terkait
dengan pinjaman (Exchange Risk, Interest Risk, Market Risk,dan
Refinancing Risk) harus dikelola dengan baik antara lain dengan
pengelolaan portofolio utang Pemerintah melalui securities buyback,
loan prepayment, debt-switch/reprofiling, debt swap, debt restructuring,
dan transaksi hedging.
Pemenuhan target pembiayaan melalui Pinjaman Program adalah
persentase realisasi pembiayaan melalui Pinjaman Program terhadap
target pembiayaan dalam UU APBN atau perubahannya. Perubahan
target pembiayaan dapat dilakukan apabila terdapat perubahan
target APBN atau kebijakan Pimpinan (Menteri) dengan
memperhatikan proyeksi kebutuhan riil pembiayaan (realisasi defisit
APBN). Untuk pengadaan pinjaman program, data target
menggunakan kurs APBN dan realisasi berdasarkan kurs pada saat
disbursement date.
Dalam rangka memenuhi pembiayaan APBN, pada tahun 2012
dilakukan perjanjian Pinjaman Program dengan pemberi pinjaman
multilateral dan bilateral yaitu World Bank, Asian Development Bank
(ADB) dan Islamic Development Bank (IDB). Selama tahun 2012, telah
ditandatangani tujuh perjanjian Pinjaman Program (dengan target
penarikan sebesar USD1.750 juta (APBN-P 2012)). Penarikan
pinjaman program sampai dengan Triwulan IV tahun 2012
ditargetkan 100% (Rp15,6 triliun/USD1.750 juta) dengan realisasi
sebesar 96,15% (Rp15,003 triliun/USD1.566 juta). Rincian realisasi
tersebut terdiri atas:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
45
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.3
Realisasi Pinjaman Program tahun 2012

No Lender Target Realisasi Keterangan
1. World Bank 903,8 907
a. Institutional, Tax Administration, Social And
Investment Development Policy Loan
(INSTANSI-DPL)
300 300 fully disbursed
b. BOS-KITA Refinancing 2 113,3 113,5 fully disbursed
c. PNPM Refinancing Rural 4, Urban 3 248,9 251,9 fully disbursed
d. Local Gov. Dev't Program - DAK Reimburs't 41,6 41,6 fully disbursed
e. Connectivity Development Policy Loan 100 100 fully disbursed
f. Financial Sector and Investment Climate
Reform and Modernization Development
Policy Loan (FIRM DPL)
100 100 fully disbursed
2. Asian Development Bank 600 600
a. Capital Market Development Program
(Financial Market Dev and Integration
Program)
300 300 fully disbursed
b. Enhancing Inclusive Growth Through
Connectivity (EIGTC)
300 300 fully disbursed
3. JICA, Japan 200 -
DPL8 - Cofinancing with WB 200 - Loan belum di
tandatangani
dan
menunggu
Exchange of
Note (Kemlu
Duta Besar
Jepang)



KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
46
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No Lender Target Realisasi Keterangan
4 Islamic Development Bank 59,2 59,2
Integrated Community Driven Development
(ICDD)
59,2 59,2 fully disbursed
TOTAL (USD JUTA) 1.750 1.566
Terdapat satu pinjaman program yang tidak bisa ditarik pada
tahun 2012, yaitu pinjaman program DPL8 dari JICA, Jepang sebesar
USD200 juta disebabkan keterlambatan penyelesaian Exchange of Note
oleh Kementerian Luar Negeri.
Untuk tahun 2013, DJPU akan meningkatkan koordinasi dengan
Kementerian/Lembaga, Menko Perekonomian, dan Bappenas terkait
dengan penyiapan policy matrix, sedangkan penarikan pinjaman
program sesuai dengan kebutuhan riil pembiayaan juga memerlukan
koordinasi dengan Ditjen Perbendaharaan terkait dengan manajemen
kas Pemerintah.
b) Surat Berharga Negara
Realisasi penerbitan SBN Neto pada tahun 2012 adalah sebesar
Rp159,8 Triliun dengan jumlah penerbitan SBN Gross sebesar Rp268,5
Triliun, SBN jatuh tempo sebesar Rp107,6 Triliun, dan buyback
sebesar Rp1,1 Triliun. Perhitungan SBN Neto tersebut telah
memperhitungkan net utang bunga.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
47
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.4
Target dan Realisasi SBN Tahun 2012
(dalam jutaan rupiah)

Realisasi penerbitan SBN yang dominan dilakukan melalui lelang
SBN di pasar perdana domestik yaitu sebanyak 22 kali lelang SUN
dan 19 kali lelang SBSN, menggambarkan masih tingginya minat
investor terhadap pasar SBN, dimana penawaran yang masuk pada
setiap kali lelang sangat tinggi dengan tingkat WAY yang relatif
rendah. Untuk hasil penerbitan SBN Valas pada tahun 2012 terdiri
dari SUN Valas (USD) sebesar USD4,25 miliar, Samurai Bond 2012
sebesar JPY60 miliar, serta SUKUK Valas (USD) sebesar USD1 miliar.
Sedangkan untuk hasil penerbitan SBN ritel tahun 2012 sebesar
Rp26,28 triliun yang terdiri dari Obligasi Negara Ritel (ORI009)
sebesar Rp12,68 triliun dan Sukuk Ritel (SR004) sebesar Rp13,6
triliun. Selain itu, terdapat juga realisasi dari penerbitan SDHI
melalui Private Placement sebesar Rp15,34 triliun.
(1) Surat Utang Negara
(a) Realisasi Capaian Target Penerbitan SUN tahun 2012
Sampai dengan berakhirnya kegiatan penerbitan SUN
pada tahun 2012, realisasi penebitan Surat Utang Negara
adalah sebesar Rp211,459 triliun atau sebesar 98,71% dari
target tahunan penerbitan gross sebesar Rp214,23 triliun.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
48
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Sampai akhir tahun 2012, dari sisi pemenuhan
pembiayaan melalui SUN dapat tercapai sesuai target
penerbitan. Secara komposisi, penerbitan SUN melalui
lelang dalam mata uang rupiah sebesar Rp152,76 triliun,
sedangkan dalam mata uang asing sebesar Rp46 triliun
dengan rincian Rp39 triliun dalam denominasi USD dan Rp7
triliun dalam denominasi JPY. Pada tahun 2012, SUN ritel
diterbitkan satu kali yaitu seri ORI009 sebesar Rp12,67
triliun.
Tabel 3.5
Hasil Penerbitan SUN Tahun 2012

(b) Penerbitan SUN melalui lelang
Penerbitan SUN melalui lelang diawali dengan
pelaksanaan rapat rencana lelang yang dilakukan beberapa
hari sebelum pelaksanaan lelang dan dihadiri oleh unit-unit
terkait, antara lain Bank Indonesia selaku agen lelang dan
otoritas moneter serta Ditjen Perbendaharaan. Pada
penerbitan tahun 2012, seri-seri SUN yang ditawarkan pada
saat lelang selain yang tercantum dalam Calendar of Issuance,
juga terdapat satu seri tambahan yang ditentukan
berdasarkan hasil survey sebelum pelaksanaan rapat
rencana lelang kepada peserta lelang dalam hal ini Primary
Dealers (PDs) yang terdiri dari 14 bank dan 4 perusahaan
sekuritas. Survey tersebut bertujuan untuk mengetahui
Jeni s Total Penawaran
Total Penawaran
Memenuhi Benchmark
Total Penawaran
Di teri ma
FR 298,268,400 170,290,600 122,245,000
VR
ORI 12,765,145 12,676,745 12,676,745
SPN 132,318,900 65,942,300 30,520,000
ON Valas 105,577,000 39,005,000 39,005,000
Samurai Bond 12,107,918 7,012,308 7,012,308
Grand Total 561,037,363 294,926,953 211,459,053
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
49
2012 DJPU L LA AK KI IP P
minat pasar terhadap SUN yang akan ditawarkan
Pemerintah.
Lelang SUN dilakukan secara elektronik dengan
menggunakan sistem lelang BI-SSSS (Bank Indonesia-
Scripless Securities Settlement System) dengan peserta PDs,
Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Penawaran berupa seri, yield/price, dan volume, hanya dapat
dimasukkan pada waktu lelang. Selanjutnya, Pemerintah
menetapkan penawaran yang dimenangkan, mulai dari
yield/price yang terbaik untuk Pemerintah. Berikut hasil
penerbitan SUN melalui lelang tahun 2012:

Tabel 3.6
Hasil Penerbitan SUN Melalui Lelang Tahun 2012
Jenis Instrumen Frekuensi
Lelang
Nominal
(triliun rupiah)
Obligasi Negara (ON) 21 122,245
Surat Perbendaharaan
Negara (SPN)
22 30,520
Total 152,765
(c) Penerbitan Surat Utang Negara Berdenominasi valuta asing
Sejak dilakukannya penerbitan, SBN (termasuk SUN)
menjadi sumber utama pemenuhan target pembiayaan
dalam APBN. Pemerintah berupaya semaksimal mungkin
untuk menggali potensi sumber pembiayaan dalam negeri.
Namun, dengan mempertimbangkan beberapa hal antara
lain keterbatasan daya serap pasar SUN dalam negeri,
pembentukan benchmark SUN dalam denominasi USD di
pasar internasional maupun JPY di pasar Jepang, kebutuhan
untuk meningkatkan cadangan devisa, pembayaran
kewajiban dalam valuta asing, dan antisipasi terhadap
kondisi pasar keuangan yang penuh ketidakpastian, maka
sejak tahun 2004 Pemerintah menerbitkan SUN dalam
valuta asing. Pada tahun 2012 Pemerintah menerbitkan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
50
2012 DJPU L LA AK KI IP P
SUN dalam valuta asing berdenominasi USD dan JPY,
dengan rincian sebagai berikut:
i) Penerbitan SUN berdenominasi USD di pasar perdana
internasional
Pada tahun 2012, Pemerintah menerbitkan SUN
berdenominasi USD di pasar perdana internasional
sebanyak 2 kali dengan total penerbitan sebesar
USD4,25 miliar dengan rincian: USD1,75 miliar pada
tanggal 17 Januari 2012 dan sebesar USD2,50 miliar pada
tanggal 25 April 2012. Ringkasan hasil penerbitan SUN
berdenominasi USD di pasar perdana internasional
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.7
Hasil penerbitan SUN berdenominasi USD di pasar perdana internasional

(d) K
i
n
e
r
j
a

P
e
n
g
e
l
o

Keterangan
Seri Surat Utang Negara
Penerbitan I Penerbitan II
RI0142
(new issuance)
RI0422
(new issuance)
RI0142
(reopening)
Jumlah nominal
yang
dimenangkan
USD
1,750,000,000
USD
2,000,000,000
USD
500,000,000
Tingkat Kupon 5,25% 3,75% 5,25%
Tingkat yield
yang
dimenangkan
5,375% 3,85% 4,95%
Jatuh Tempo 17 Januari 2042 25 April 2022 17 Januari 2042
Tanggal Setelmen 17 Januari 2012 25 April 2012
Listing Singapore Stock Exchange
Trustee, Registrar,
Transfer Agent,
Paying Agent
Bank of New York Mellon
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
51
2012 DJPU L LA AK KI IP P
ii) Penerbitan SUN berdenominasi JPY di pasar perdana
Jepang
Pada tanggal 22 November 2012 Pemerintah
menerbitkan SUN dalam denominasi Yen (Samurai
Bonds), seri RIJPY1122 yang jatuh tempo pada tanggal 22
November 2022 dengan nominal JPY60 miliar dengan
menggunakan program Guarantee and Acquisition toward
Tokyo market Enhancement (GATE).
(d) Penerbitan Obligasi Negara Ritel ORI009
Dalam rangka perluasan basis investor serta untuk
mendorong terciptanya investment-oriented society, sejak
tahun 2006, Pemerintah menerbitkan ORI. ORI adalah
obligasi negara yang dijual kepada individu atau orang
perseorangan Warga Negara Indonesia melalui agen
penjual. Pada tahun 2012, Pemerintah kembali menerbitkan
ORI dengan seri ORI009. Hal yang baru pada penerbitan
ORI009 ini adalah pemberlakuan Minimum Holding Periode
(MHP). Berdasarkan ketentuan ini, pemilik ORI tidak dapat
memindahbukukan kepemilikan ORI-nya selama 1 periode
kupon pertama. Tujuan penerapan MHP ini adalah:
i) Mengurangi laju perpindahan kepemilikan ORI dari
investor individu ke investor institusi/lainnya;
ii) Memperluas basis investor ritel; dan
iii) Memperluas kesempatan investor ritel untuk
memperoleh penjatahan ORI di pasar perdana.
Dengan fitur ini, diharapkan tujuan utama penerbitan
ORI dapat lebih tepat sasaran. Selanjutnya, Untuk ORI009,
MHP diberlakukan 1 (satu) periode kupon pertama yang
berlaku dari tanggal 10 Oktober s.d. 15 November 2012.
ORI009 diterbitkan dengan tenor 3 tahun dan tingkat
kupon tetap yang dibayarkan secara bulanan sebesar 6,25%
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
52
2012 DJPU L LA AK KI IP P
per tahun. Berdasarkan hasil penjatahan ORI009 ditetapkan
penjualan ORI009 sebesar Rp12,67 triliun.
(e) Kinerja Pengelolaan SUN tahun 2010-2012
Tabel 3.8
Kinerja pengelolaan SUN tahun 2010-2012
Instrumen 2010 2011 2012
Frek. Rp
(miliar)
Frek. Rp
(miliar)
Frek. Rp
(miliar)
ON
21 72.100,- 22 98.850,- 21 122.245,-
SPN
29.795,- 40.000,- 22 30.520,-
Global Bond
1 18.550,- 1 21.442,- 2 39.005,-
Samurai
Bond
1 6.491,- - - 1 7.012,-
ORI
1 8.000,- 1 11.000,- 1 12.676,-

134.936,- 171.292,- 211.459,-
(2) Surat Berharga Syariah Negara
(a) Realisasi Capaian Target Penerbitan SBSN tahun 2012
Sampai dengan berakhirnya kegiatan penerbitan SBSN
pada tahun 2012, realisasi penebitan Surat Berharga Syariah
Negara (SBSN)/Sukuk Negara telah mencapai sebesar
Rp57,09 triliun atau 100% dari total target tahun 2012 yaitu
Rp57 triliun. Adapun rincian realisasi sebagaimana tabel
berikut:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
53
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.9
Realisasi Penerbitan SBSN Tahun 2012
Instrumen Metode Penerbitan Jumlah
(Rp miliar)
Porsi
(%)
IFR Lelang 400,00 1
PBS Lelang 16.714,00 29
SPN-S Lelang (termasuk Lelang
GSO)
1.380,00 2
SR Bookbuilding 13.613,81 24
SDHI Private Placement 15.342,00 27
SNI* I-GMTN Program (intl) 9.639,00 17
Total 57.088,81 100
Penerbitan Sukuk Negara valuta asing di pasar perdana internasional sebesar
USD1 miliar dengan kurs setelah closing date Rp9.639,-

Total realisasi penerbitan SBSN pada tahun 2012 tersebut
mengalami peningkatan dari jumlah nominal, yaitu sebesar
1,71 kali lipat atau 171% dibandingkan total realisasi
penerbitan SBSN tahun 2011 sebesar Rp33,3 triliun. Selain itu
juga adanya peningkatan dari komposisi instrumen yang
diterbitkan.
Faktor-faktor yang turut berkontribusi dalam pencapaian
tersebut, antara lain:
i. Ketersediaan underlying asset, baik berupa BMN maupun
proyek K/L, yang memenuhi kebutuhan dalam jumlah
dan waktu yang tepat;
ii. Lelang SBSN yang dilaksanakan secara
berkesinambungan serta tepat waktu sesuai dengan
calendar of issuance yang dipublikasikan;
iii. Minat yang tinggi terhadap Sukuk Ritel seri SR-004, baik
peningkatan dari jumlah institusi yang berminat menjadi
Agen Penjual maupun jumlah investor dan nominal
penerbitan. Dimana hasil penjualan SR-004 meningkat
hampir 2 kali lipat dibandingkan SR-003 pada tahun 2011,
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
54
2012 DJPU L LA AK KI IP P
serta total investor yang mencapai 17.606 yang
merupakan jumlah investor terbanyak dalam penerbitan
Sukuk Ritel selama ini; dan
iv. Total penerbitan instrumen non tradable SDHI secara
nominal mengalami peningkatan serta merupakan yang
paling tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi
komposisinya justru menurun menjadi 27%, tidak sebesar
tahun sebelumnya yang mencapai 33% dari total
penerbitan.
(b) Penerbitan SBSN dalam mata uang rupiah
Penerbitan SBSN dalam mata uang rupiah sebesar Rp47,44
triliun atau 83% dari total penerbitan SBSN, yang terdiri dari:
i. Penerbitan SBSN melalui metode lelang di pasar perdana
dalam negeri.
Realisasi penerbitan SBSN seri IFR, PBS, dan SPN-S
dengan metode lelang di pasar perdana dalam negeri yang
dilakukan secara reguler selama tahun 2012 sebanyak 19
kali lelang dengan realisasi jumlah penerbitan sebesar
Rp18,49 triliun atau 32% dari total penerbitan SBSN.
Jumlah penawaran (bid) pembelian yang disampaikan oleh
investor melalui lelang SBSN tahun 2012 cukup besar,
yaitu mencapai Rp56,084 triliun atau rata-rata mencapai
Rp2,957 triliun. Hal ini mencerminkan permintaan pasar
atas SBSN yang cukup baik dalam setiap penerbitan SBSN,
namun Pemerintah selalu memperhatikan cost and risk of
borrowing, sehingga tidak selalu memenangkan seluruh bid
yang masuk.
ii. Penerbitan SBSN melalui metode Private Placement.
Penerbitan SBSN melalui metode Private Placement selama
tahun 2012 dilakukan dengan seri Sukuk Dana Haji
Indonesia (SDHI) yang merupakan bentuk kerjasama
antara Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
55
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Kementerian Agama Republik Indonesia. Penerbitan SBSN
seri SDHI selama tahun 2012 dilakukan sebanyak 4 kali
dengan realisasi jumlah penerbitan sebesar Rp15,34 triliun
atau 27% dari total penerbitan SBSN.
iii. Penerbitan SBSN/Sukuk Negara Ritel melalui metode
bookbuilding di pasar perdana dalam negeri.
Sukuk Negara Ritel ini adalah salah satu jenis Sukuk
Negara yang didesain khusus untuk investor individu
Warga Negara Indonesia di pasar perdana. Sejak
penerbitan Sukuk Negara Ritel yang pertama kali, yaitu
seri SR-001 pada tahun 2009, Pemerintah melakukan
penerbitan Sukuk Negara Ritel secara berkelanjutan satu
kali penerbitan setiap tahun. Sampai dengan tahun 2012,
Pemerintah telah melakukan 4 kali penerbitan Sukuk
Negara Ritel. Realisasi jumlah penerbitan Sukuk Negara
Ritel seri SR-004 pada tahun 2012 sebesar Rp13,61 triliun
atau 24% dari total penerbitan SBSN.
(c) Penerbitan SBSN dalam valuta asing di pasar internasional
Pada tahun 2012 dilakukan penerbitan SBSN dalam valuta
asing di pasar internasional melalui metode bookbuilding,
dengan pertimbangan sebagai berikut:
i. Menciptakan benchmark di pasar keuangan syariah
internasional;
ii. Perluasan basis investor, khususnya Islamic investors dari
pasar internasional;
iii. Menjaga kontinuitas eksistensi dan kehadiran Indonesia di
pasar keuangan syariah internasional;
iv. Menghindari terjadinya crowding out di pasar dalam
negeri; dan
v. Mengurangi tekanan terhadap kondisi pasar Surat
Berharga Negara (SBN) di dalam negeri.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
56
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Realisasi jumlah penerbitan Global Sukuk pada tahun 2012
sebesar USD1 miliar (ekuivalen Rp9,6 triliun) atau 17% dari
total penerbitan SBSN, yang merupakan:
i. Tenor 10 tahun terpanjang selama penerbitan sukuk
valas (sebelumnya 5 dan 7 tahun);
ii. Tingkat imbalan 3,3% yang terendah selama penerbitan
SBN valas (termasuk Global Bond);
Penerbitan Global Sukuk pada tahun 2012 tersebut
memperoleh penghargaan internasional, berupa:
i. Best Sukuk Deal dari Euromoney Islamic Finance Awards;
ii. Indonesia Deal of the Year dari Islamic Finance News;
iii. Highly Commended Islamic Deal Indonesia dari The Asset;
iv. Highly Commended Sovereign Sukuk dari The Asset.
(d) Kinerja Pengelolaan SBSN tahun 2010-2012
i. Perkembangan penerbitan SBSN selama tiga tahun
terakhir adalah sebagai berikut:
Tabel 3.10
Perkembangan Penerbitan SBSN Tahun 2010-2012
T
e
r
k
a
i
t

d
e
n
g

Instrumen Metode
Penerbitan
2010 2011 2012
Frek. Rp
(miliar)
% Frek Rp
(miliar)
% Frek Rp
(miliar)
%
IFR Lelang 13 6.150,00 8 4.610,00 14 19 400,00 0,7
PBS Lelang - - - - 16.714,00 29,
3
SPN-S Lelang - - 1.320,00 4 1.380,00 2
SR Bookbuilding 1 8.033,86 1 7.341,41 22 1 13.613,81 24
SNI Bookbuilding
(intl)
- - - 1 9.030,00 27 1 9.638,00 17
SDHI Private
Placement
5 12.783,00 3 11.000,00 33 4 15.342,00 27
Total 26.966,86 100 33.301,41 100 57.088,81 100
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
57
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Perkembangan penerbitan SBSN tersebut dapat dijelaskan
dengan hal-hal sebagai berikut:
(i) Pelaksanaan lelang SBSN pada tahun 2011 lebih sedikit
dibandingkan dengan tahun 2012 karena pada tahun 2011
pelaksanaan lelang SBSN terkendala oleh keterbatasan
ketersediaan underlying asset untuk memenuhi kebutuhan
penerbitan SBSN;
(ii) Pada tahun 2011 lelang SBSN menawarkan seri-seri IFR,
serta SPNS baru ditawarkan pada Kuartal III tahun 2011.
Sedangkan pada tahun 2012 lelang SBSN menawarkan
seri-seri PBS dan SPN-S;
(iii) Pada tahun 2012 terdapat beberapa fitur yang berbeda
dalam penerbitan Sukuk Ritel, yaitu penggunaan akad
ijarah asset to be leased dengan underlying asset berupa
proyek, adanya batasan jumlah maksimal pembelian Rp5
miliar per investor, serta tenor 3,5 tahun;
(iv) Penerbitan Sukuk Global sebesar USD1 miliar pada tahun
2012 menggunakan format Islamic GMTN Program.
ii. Ringkasan kinerja lelang SBSN tahun 2010 2012

Tabel 3.11
Kinerja lelang SBSN tahun 2010-2012
No. Deskripsi 2010 2011 2012
1.
Frekuensi lelang 13 kali 8 kali 19 kali
2.
Jumlah penawaran yang
masuk
Rp21,558 T Rp33,705 T Rp56,084 T
3.
Jumlah penawaran yang
memenuhi benchmark
Rp6,950 T Rp14,456 T Rp26,358 T
4.
Jumlah penawaran yang
dimenangkan
Rp6,150 T Rp5,930 T Rp18,494 T
5.
Rata-rata penawaran
yang masuk
Rp1,661 T Rp4,213 T Rp2,952 T
6.
Rata-rata penawaran
yang memenuhi
benchmark
Rp0,535 T Rp1,807 T Rp1,387 T
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
58
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No. Deskripsi 2010 2011 2012
7.
Rata-rata penawaran
yang dimenangkan
Rp0,473 T Rp0,741 T Rp0,973 T
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pemenuhan target pembiayaan
melalui utang yang cukup, antara lain:
a) Pembiayaan melalui utang khususnya SBN perlu memperhatikan
keseimbangan antara realisasi penyerapan/belanja pada APBN dan
kondisi saldo kas pemerintah dengan keteraturan penerbitan SBN di
pasar keuangan;
b) Proyeksi realisasi defisit APBN tidak dapat diketahui secara akurat
lebih awal sehingga berdampak pada operasi penerbitan dan buyback
SBN;
c) Potensi daya serap pasar SBN domestik relatif masih terbatas, yang
disebabkan antara lain tingginya tingkat imbal hasil/return yang
diharapkan oleh institusi keuangan domestik, termasuk masih
rendahnya partisipasi investor terhadap instrumen yang berbasis
syariah;
d) Risiko nilai tukar cukup tinggi mengingat penerbitan SBN valas
masih diperlukan akibat pasar SBN domestik yang masih terbatas,
serta untuk menghindari crowding out effect;
e) Tingginya kepemilikan asing pada portofolio SBN mengakibatkan
terjadinya peningkatan volatilitas pasar SBN domestik sehingga
menghambat upaya Pemerintah untuk menyediakan pembiayaan
APBN melalui penerbitan SBN dengan tingkat biaya yang wajar serta
terdapat potensi risiko pembalikan arus modal asing (sudden reversal);
f) Terbatasnya sumber pembiayaan dalam bentuk pinjaman lunak
seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia yang
ditunjukkan oleh meningkatnya GDP per Kapita;
g) Krisis keuangan yang masih berlanjut di beberapa kawasan di dunia
terutama di zona eropa turut memberikan ketidakpastian antar
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
59
2012 DJPU L LA AK KI IP P
pelaku pasar. Situasi yang serba sulit akibat beban utang yang tinggi
di negara-negara zona eropa tersebut berpotensi mempengaruhi arus
dana masuk dan keluar dari dan ke Indonesia yang berdampak pada
pasar keuangan di Indonesia;
h) Keterbatasan jumlah dan jenis underlying assets yang siap digunakan
untuk penerbitan SBSN;
i) Tingginya dominasi oleh sektor perbankan pada basis investor SBN
domestik, sehingga menuntut Pemerintah secara aktif mendorong
investor domestik seperti Perusahaan Asuransi, Dana Pensiun, Reksa
dana, Perusahaan Sekuritas, dan investor individu atau ritel untuk
mampu berperan lebih besar sebagai penyeimbang dominasi
perbankan dalam berinvestasi pada SBN serta diharapkan dapat
mengurangi derasnya arus dana asing yang masuk ke Indonesia;
j) Belum lengkapnya infrastruktur pasar SBN yang dapat mendukung
pengembangan pasar repo dan pasar derivatif;
k) Saat ini investor ritel masih belum banyak yang berinvestasi di SBN
dibandingkan dengan besarnya dana pihak ketiga yang berada
perbankan;
l) Pasar sekunder SBSN yang belum likuid; dan
m) Kapasitas daya serap dan partisipasi investor dan/atau institusi
syariah, baik di pasar perdana maupun sekunder, yang masih belum
besar.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Meningkatkan koordinasi dengan Otoritas Moneter, Ditjen
Anggaran, Ditjen Perbendaharaan, dan BKF;
b) Meningkatkan akurasi proyeksi kas pemerintah oleh tim Cash
Planning Information Network (CPIN);
c) Bekerjasama dengan lembaga terkait (antara lain SRO, Bank
Indonesia, Bapepam-LK) dalam mengupayakan pengembangan
pasar SBN domestik antara lain melalui deregulasi aturan terkait
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
60
2012 DJPU L LA AK KI IP P
investasi oleh lembaga keuangan domestik, memperluas basis
investor SBN domestik, dan mengembangkan instrumen SBN;
d) Mengembangkan strategi pengelolaan risiko nilai tukar melalui
instrumen derivatif (hedging) dan penerapan konsep Asset Liability
Management dengan Ditjen Perbendaharaan dan Bank Indonesia
(natural hedging);
e) Meningkatkan koordinasi dengan lembaga keuangan baik domestik
maupun internasional dalam rangka mendapatkan sumber
pembiayaan utang alternatif;
f) Mengimplementasikan CMP (Crisis Management Protocol) dan Bond
Stabilization Framework (BSF) dalam rangka pemeliharaan stabilitas
pasar SBN dari potensi sudden reversal dan mengefektifkan
pelaksanaan transaksi langsung SBN dengan tujuan stabilisasi pasar
SBN;
g) Mengoptimalkan penggunaan pinjaman secara efektif yang
didukung pemanfaatan pemberi pinjaman sesuai dengan expertise
dan spesialisasinya. Dengan fokus kegiatan yang sesuai dengan
spesialisasinya, pemberi pinjaman menurunkan kebutuhan untuk
tambahan biaya pendampingan dan supervisi kegiatan yang pada
akhirnya akan ditransmisikan ke biaya pinjaman. Selain itu, pemberi
pinjaman juga dapat dipastikan telah memiliki pengalaman untuk
mengerjakan sebuah kegiatan tertentu sehingga kemampuan
menganalisa pada saat perencanaan lebih terjamin kualitasnya dan
kemungkinan gagal dalam pelaksanaan relatif kecil. Dua hal ini akan
mengurangi beban biaya baik bagi pemberi pinjaman (overhead cost)
maupun bagi Pemerintah (cost of capital);
h) Mengingat pasar SBSN domestik baru mulai terbentuk dan masih
dalam tahap pengembangan, maka secara konsisten akan terus
melakukan berbagai aktivitas meliputi, penyempurnaan mekanisme
penerbitan SBSN, penguatan infrastruktur dalam rangka peningkatan
kinerja pasar sekunder SBSN, dan transparansi harga SBSN;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
61
2012 DJPU L LA AK KI IP P
i) Menjamin ketersediaan underlying asset sesuai dengan jumlah
kebutuhan penerbitan, dengan terus melakukan kajian diversifikasi
Aset SBSN dan mengembangkan instrumen SBSN baru
menggunakan underlying selain Barang Milik Negara seperti proyek-
proyek pada APBN;
j) Kajian program Primary Dealers (PDs) dan Benchmark Series SBSN;
k) Penyiapan transaksi buyback dan switching SBSN;
l) Implementasi Green Shoe Option (GSO) dalam lelang SBSN;
m) Meningkatkan size penerbitan SBSN yang tradable;
n) Meningkatkan efektifitas edukasi/sosialisasi/diseminasi SBSN
kepada masyarakat, investor, dan pelaku pasar; dan
o) Melakukan riset/survey untuk mengetahui preferensi investor SBSN
(termasuk terhadap jenis instrumen baru), serta mengukur potensi
demand SBSN.
b. Persentase pencapaian target effective cost
Effective cost merefleksikan biaya riil yang harus dikeluarkan oleh
Pemerintah dalam menerbitkan/mengadakan utang. IKU ini bertujuan
supaya Pemerintah dalam menerbitkan/mengadakan utang dengan biaya
utang yang wajar sesuai target yang ditetapkan. Persentase pencapaian
target effective cost adalah pengukuran tingkat biaya utang dalam berbagai
mata uang dan jenis instrumen utang yang diterbitkan dalam satu tahun
terhadap target. Pencapaian target effective cost berarti kombinasi tingkat
biaya utang yang diterbitkan dalam satu tahun sama dengan atau di bawah
target effective cost yang ditetapkan.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang lebih rendah dari
target (minimize), dimana capaian yang makin rendah dari target adalah
capaian yang diharapkan. Adapun deskripsi atas IKU ini adalah:
1) Pada tahun 2012, pencapaian target effective cost selama 2012 ditargetkan
sebesar 100%, dengan realisasi sebesar 80,58%. Adapun rincian
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
62
2012 DJPU L LA AK KI IP P
pencapaian effective cost berdasarkan mata uang sampai dengan kuartal
lV tahun 2012 adalah sebagai berikut:
a) Realisasi effective cost IDR sebesar 5,84% dari target sebesar 6,91%
(84,57%);
b) Realisasi effective cost USD sebesar 4,51% dari target sebesar 5,35%
(84,32%); dan
c) Realisasi effective cost JPY sebesar 1,76% dari target sebesar 2,42%
(72,86%).
Keberhasilan penurunan biaya utang (target effective cost) antara lain
disebabkan oleh:
a) Strategi penerbitan SBN yang tepat, melalui:
(1) Penetapan target indikatif penerbitan yang disesuaikan dengan
kondisi pasar keuangan; dan
(2) Pemilihan instrumen pembiayaan melalui SBN yang tepat
dengan kombinasi penerbitan SPN/SPNS yang memiliki biaya
yang rendah serta pengelolaan risiko yang optimal melalui
penerbitan SBN jangka panjang sehingga biaya yang ditanggung
pemerintah dalam setiap penerbitan SUN menjadi lebih efisien.
b) Strategi komunikasi yang efektif dengan pelaku pasar saat lelang
SBN dan kreditor dalam negosiasi pinjaman, sehingga didapatkan
biaya pinjaman yang lebih rendah;
c) Kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik, yang
ditunjukkan dengan:
(1) Tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2012 mencapai 6,23%;
(2) Tingkat inflasi pada Desember tahun 2012 tercatat sebesar 4,30%
yoy; dan
(3) Pencapaian level Investment Grade dari Fitch dan Moodys
mendorong masuknya modal asing dalam jumlah yang cukup
signifikan dalam pasar keuangan domestik sehingga berperan
dalam menurunkan yield SUN.
d) Tingkat likuiditas pasar domestik dan internasional masih cukup
tinggi sehingga memberikan demand yang cukup besar bagi
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
63
2012 DJPU L LA AK KI IP P
penerbitan SBN dan menjaga bunga pinjaman luar negeri dan dalam
negeri pada level yang cukup rendah; dan
e) transaksi pengelolaan portofolio SUN melalui cash buyback dan debt
switch dilaksanakan secara efektif dalam mendukung terwujudnya
likuiditas SUN seri benchmark.
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target effective cost
adalah:
a) Kondisi pasar keuangan yang fluktuatif berpotensi dapat
meningkatkan yield SBN, sehingga biaya utang yang ditanggung
pemerintah meningkat;
b) Tingginya biaya utang melalui pinjaman komersial yang disebabkan
adanya tambahan biaya-biaya terkait penarikan utang.
3) Upaya yang dilakukan dalam menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Memperhatikan kondisi pasar keuangan untuk menentukan waktu
penerbitan SBN yang optimal sehingga dapat menurunkan yield
penerbitan SBN;
b) Meningkatkan usaha negosiasi terms and conditions pinjaman untuk
menekan/mengurangi biaya-biaya terkait penarikan pinjaman
komersial;
c) Mengefektifkan strategi komunikasi dengan dealer utama dan pelaku
pasar lainnya baik saat transaksi secara reguler maupun yang
sifatnya ad hoc;
d) Mengoptimalkan pelaksanaan transaksi Debt Switch maupun Cash
Buyback.
c. Persentase pemenuhan target risiko portofolio utang
Persentase pemenuhan target risiko portofolio utang merefleksikan
komposisi instrumen utang yang memiliki tingkat risiko yang terkendali.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang diarahkan kepada
ketepatan atas target (stabilize), dimana capaian yang makin mendekati target
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
64
2012 DJPU L LA AK KI IP P
adalah capaian yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini
sebagai berikut:
1) Pada tahun 2012, persentase pemenuhan target risiko portofolio utang
direncanakan sebesar 100%, dengan realisasi sebesar 98,13%. Realisasi
tersebut disebabkan karena secara umum pengelolaan portofolio utang
telah sesuai dengan strategi pengelolaan utang, dengan perincian:
a) Realisasi utang valas sebesar 44,41% dari target sebesar 44,78%;
b) Realisasi utang Variable Rate (VR) sebesar 16,24% dari target sebesar
16,62%; dan
c) Realisasi Short Term Debt (STD) sebesar 6,48% dari target sebesar
6,66%.
Struktur portofolio utang relatif mendekati target strategi, dimana
pencapaian struktur tersebut dilakukan melalui penerbitan/pengadaan
utang baru serta transaksi pasar sekunder seperti buyback dan debt switch.
Secara keseluruhan risiko utang yang dicapai lebih rendah dari yang
ditargetkan tanpa meningkatkan biaya utang secara signifikan.
Keberhasilan indikator ini didukung dengan kegiatan:
a) Penerbitan/pengadaan utang baru sesuai strategi yang ditetapkan;
b) Pengurangan utang melalui pembelian kembali sebelum jatuh
tempo (buyback); dan
c) Restrukturisasi utang melalui skema debt switching.
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator
persentase pemenuhan struktur portofolio utang sesuai dengan strategi
antara lain:
a) Besarnya jumlah utang yang jatuh tempo dalam jangka pendek,
terutama disebabkan penerbitan SPN 3 bulan untuk acuan bunga
obligasi variable rate sehingga menyebabkan risiko refinancing; dan
b) Melemahnya rupiah terhadap USD pada akhir tahun yang
disebabkan krisis keuangan di Eropa.


KEMENT
Direktora

TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
3) U
a
b
Sec
ditarget
menunju
d. Penc
untu
pem
penc
risik

P
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
Upaya yang
a) Melakuka
dalam 5 t
lebih pan
b) Menjaga
cara keselu
tkan tanp
ukkan kene
capaian SS
uk menduku
menuhan tar
capaian tar
ko portofolio
Penandatangan
Pengelolaan
ONESIA
dilakukan m
an debt swit
tahun denga
njang; dan
penerbitan S
ruhan, risik
pa mening
erja pengelo
Pembiayaan
ung kesinam
rget pembia
rget effectiv
o utang, pa
an indemnity ag
n Utang dengan
menghadapi
tching denga
an utang ya
SBN valas d
ko utang ya
gkatkan b
olaan risiko
n dalam jum
mbungan fi
ayaan mela
ve cost, da
ada tahun 2
greement antara
n JBIC dalam r
tantangan t
an menukar
ng memiliki
dalam jumlah
ang dicapai
biaya utan
o yang efek
mlah yang c
iskal denga
alui utang y
an persenta
2012 dapat t
a Pemerintah R
rangka penerbi
ersebut adal
utang yang
i jangka wak
h yang terke
i lebih rend
ng secara
ktif.
cukup, efisie
an indikato
yang cukup
ase pemen
tercapai den
RI yang diwakil
itan samurai bo
lah:
g jatuh temp
ktu pelunas
endali.
dah dari yan
a signifika
en, dan am
or persenta
p, persenta
nuhan targ
ngan baik.
li oleh Dirjen
ond 2012
po
an
ng
an
an
ase
ase
get


KEMENT
Direktora


TERIANKEUANGA
atJenderalPenge


Dir
Hija
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
rjen Pengelolaa
uku Negeriku. O
ONESIA
an Utang dan p
ORI009 telah be
Islamic
para Direktur se
erhasil menghi
c Financial Inclu
elepas peluncu
impun dana pu
usive System, So
uran balon laun
ublik sebesar R
olo.
nching ORI009:
Rp12,67 triliun.


KEMENT
Direktora


2.
TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
. SS Akun
terhadap
Opin
Pengelola
Pemeriks
pengelola
Hibah ad
fungsi M
utang yan
yakni (i)
wajar de
(adversed
opinion).
Penc
(maximize
baik/dih
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
ntabilitas pe
p LK BA Pen
ni BPK ter
aan Utang
sa Keuangan
aan utang d
dalah Lapor
Menteri Keu
ng dikelola
opini waja
engan peng
opinion), da

capaian IKU
e), dimana c
harapkan. A
ONESIA
engelolaan
ngelolaan Ut
rhadap Lap
dan Hibah
n (BPK) terh
an hibah yan
ran Keuang
angan selak
DJPU. Terda
ar tanpa pe
gecualian (W
an (iv) perny
U ini menu
capaian yang
dapun desk
Kick-off Meeti
utang dan h
tang dan Hi
poran Keua
adalah opin
hadap Lapo
ng dikelola
gan Pemerin
ku Bendaha
apat 4 jenis o
engecualian
WDP/qualifi
yataan men
uju kepada
g semakin ti
kripsi capaian
ing penerbitan
hibah deng
ibah
angan Bagi
ni audit yan
oran Keuang
DJPU. LK B
ntah Pusat
ara Umum
opini yang d
(WTP/unqu
ied opinion),
nolak memb
capaian ya
inggi dari ta
n atas IKU in
Sukuk Valas ta
gan indikato
ian Anggar
ng diberika
gan atas bag
A Pengelola
Bagian Ang
Negara atas
dapat diberi
ualified opini
, (iii) opini
erikan opin
ang melebih
arget adalah
ni sebagai be
ahun 2012
or Opini BP
ran (LK BA
an oleh Bad
gian anggar
aan Utang d
ggaran terka
s pengelola
kan oleh BP
ion), (ii) opi
i tidak waj
i (disclaimer
hi dari targ
h capaian yan
erikut:

PK
A)
an
an
an
ait
an
PK,
ini
jar
of
get
ng
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
68
2012 DJPU L LA AK KI IP P
a. Pada tahun 2012, Opini BPK terhadap LK BA Pengelolaan Utang dan Hibah
tahun 2011 ditargetkan 100% (WTP), dengan realisasi 87,50%, yaitu:
1) LK BA Pengelolaan Utang memperoleh opini WTP (100%); dan
2) LK BA Pengelolaan Hibah memperoleh opini WDP (75%).
b. Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator opini
BPK terhadap LK BA Pengelolaan Utang dan Hibah antara lain:
1) Terdapatnya pendapatan hibah sebesar Rp0,29 triliun yang diterima K/L
tetapi tidak disahkan di Kementerian Keuangan; dan
2) Masih terdapat donor atau K/L yang belum menaati peraturan terkait
pengesahan realisasi pendapatan dan belanja yang bersumber dari hibah
sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 191/PMK.05/2011 tentang
Mekanisme Pengelolaan Hibah maupun PMK Nomor 230/PMK.05/2011
tentang Sistem Akuntansi Hibah.
c. Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
1) Menerbitkan Surat Menteri Keuangan kepada Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional untuk mendorong pelaporan atas
hibah langsung dan kepada Kreditur/Donor agar menaati aturan dan
sistem lokal seperti PMK 230/PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi
Hibah;
2) Melakukan rekonsiliasi dengan K/L atau donor;
3) Memfasilitasi rekonsiliasi donor dengan K/L;
4) Mendorong K/L untuk mengesahkan hibah langsung (kas, barang, jasa,
dan SBN);
5) Melakukan sosialisasi kepada K/L untuk memberikan informasi terkait
pengelolaan registrasi, pengesahan, dan penyampaian laporan
penerimaan hibah yang diterima oleh K/L; dan
6) Melakukan koordinasi dengan DJA dan DJPB terkait upaya pengesahan
pendapatan hibah langsung.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
69
2012 DJPU L LA AK KI IP P
d. Pencapaian SS akuntabilitas pengelolaan utang dengan indikator opini BPK
terhadap LK BA Pengelolaan Utang dan Hibah, pada tahun 2012 relatif
dapat tercapai dengan baik.
3. SS Kredibilitas dan transparansi pengelolaan utang dengan indikator:
a. Indeks kepuasan pengguna layanan
Indeks kepuasan pengguna layanan merupakan nilai kepuasan
pengguna layanan DJPU. Nilai ini ditinjau dari pelayanan unggulan (quick
win) yang dimiliki oleh DJPU yang melayani investor, kreditor, donatur, dan
Kementerian/Lembaga. Indikator ini mencerminkan kepuasan atas layanan
Kementerian Keuangan dan akan menjadi target bagi semua unit eselon I
yang memiliki SOP layanan unggulan, kecuali BKF karena berfungsi sebagai
formulator kebijakan. SOP layanan unggulan adalah SOP yang disusun
dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan eksternal dan/atau internal
untuk kepentingan masyarakat atau para pemangku kepentingan lainnya
atas jasa dan/atau pelayanan administrasi yang disediakan oleh DJPU.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang semakin tinggi dari target adalah capaian
yang baik/diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai
berikut:
1) Pada tahun 2012, Indeks kepuasan pengguna layanan ditargetkan
sebesar 3,9 dengan realisasi sebesar 3,79. Berdasarkan laporan hasil
survey dari tim IPB terdapat dua unsur layanan DJPU yang perlu
diperbaiki, yaitu:
a) keterbukaan/kemudahan akses informasi:
(1) perbaikan sistem agar tidak sering error dan menganggu
transaksi;
(2) penyampaian informasi lebih baik lagi di website;
(3) website harus sering dilakukan update; dan
(4) website harus dibuat lebih menarik.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
70
2012 DJPU L LA AK KI IP P
b) waktu penyelesaian layanan:
memperjelas atau jika diperlukan adanya peraturan kepastian waktu
pengumuman pemenang lelang.
Terhadap masukan dari hasil survei di atas, dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a) Sejak 2012, seluruh infrastruktur jaringan sistem TI dan data storage
pada DJPU sudah diintegrasikan dengan Pusintek. Pasca integrasi,
DJPU hanya mengelola infrastruktur jaringan di dalam kantor DJPU
dan link jaringan ke Pusintek, sedangkan dari Kemenkeu ke pihak
eksternal, termasuk ke BI dan para peserta lelang, sepenuhnya
dikelola oleh Pusintek. Dalam proses migrasi infrastruktur TI
sepanjang tahun 2012 memang belum sepenuhnya sempurna
sehingga masih beberapa kali terjadi error;
b) Rencana lelang penerbitan SBN telah diumumkan untuk 1 tahun
kalender pada setiap awal tahun, melalui dokumen kalender
penerbitan yang dipublikasikan melalui website, yang berisi informasi
mengenai tanggal, tenor, dan jumlah. Adapun rencana lelang secara
rinci yang meliputi seri yang akan dilelang dan target indikatif setiap
seri, diumumkan paling lambat 3 hari sebelum pelaksanaan lelang.
Untuk pengumuman rencana lelang buyback/switching, dilakukan
paling lambat 2 jam sebelum pelaksanaan lelang. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindari praktik penggiringan harga (market
cornering) yang berpotensi merugikan Pemerintah.
c) Window lelang dibuka pukul 10.00 13.00 WIB, rapat penetapan
lelang dan pengumuman pemenang dilakukan 1 sampai 2 jam
kemudian, sementara perdagangan di bursa tutup pukul 15.59.
Dengan demikian, jeda waktu yang tersedia bagi peserta lelang
untuk menindaklanjuti hasil lelang memang terbatas (kurang lebih 1
jam);
d) Pasca pemindahan kantor DJPU dari Gedung AA Maramis II ke
Gedung Frans Seda, jaringan telepon pada DJPU menjadi terbatas,
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
71
2012 DJPU L LA AK KI IP P
karena penarikan/pemindahan nomor oleh PT Telkom dari Gedung
AA Maramis II ke Gedung Frans Seda belum optimal.
2) Pengukuran Indikator ini dilakukan dengan metode penyebaran
kuesioner layanan DJPU kepada stakeholders oleh pihak independen (IPB)
yang dikoordinasikan oleh Biro Komunikasi dan Layanan Informasi,
Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Adapun hasil pengukuran
kepuasan pengguna layanan dimaksud, berdasarkan unsur/Dimensi
Layanan terdapat pada Tabel 3.12:
Tabel 3.12
Indeks kepuasan pengguna berdasarkan unsur/dimensi layanan
No Berdasarkan Unsur/Dimensi Layanan Skor
1 Informasi Persyaratan 3,84
2 Keterbukaan 3,87
3 Kesesuaian Prosedur 3,91
4 Waktu Penyelesaian 3,91
5 Kemampuan 3,85
6 Kesesuaian Pembayaran 3,74
7 Sikap Petugas/Pegawai 3,61
8 Pengenaan Sanksi 3,77
9 Akses Terhadap Kantor Layanan 3,72
10 Lingkungan Pendukung 3,55
Dengan demikian, target pencapaian indikator Indeks kepuasan
pengguna layanan, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan relatif baik.
b. Persentase pembayaran utang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran
IKU ini dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan kredibilitas
pengelolaan utang melalui pembayaran kewajiban pokok utang, bunga, dan
biaya utang secara tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran, sehingga
dapat menghindari kerugian negara. Kegiatan penyelesaian pembayaran
kewajiban utang meliputi penyelesaian pembayaran pokok, bunga, dan
biaya atas pinjaman dan SBN (SUN dan SBSN).
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
72
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang semakin tinggi dari target adalah capaian
yang baik/diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai
berikut:
1) Pada tahun 2012, persentase pembayaran utang tepat waktu, tepat
jumlah, dan tepat sasaran ditargetkan 100% dengan realisasi 100%, yaitu
telah dilaksanakan secara tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran
(tidak ada denda keterlambatan). Realisasi pembayaran kewajiban utang
pada tahun 2012 sebesar Rp274,36 triliun melalui 3.249 SPM, terdiri atas:
a) Pembayaran pokok sebesar Rp174,42 triliun;
b) Pembayaran bunga sebesar Rp95,50 trilliun; dan
c) Pembayaran biaya sebesar Rp4,44 triliun.
Perkembangan realisasi pembayaran utang selama Tahun Anggaran
2012 dan Tahun Anggaran 2007 sampai 2012 sebagaimana tercantum
pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.13
Realisasi Pembayaran Utang Tahun Anggaran 2012




KEMENT
Direktora

TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
2) B
p
l
a
b
c
d
3) L
t
a
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
Rea
Beberapa t
pembayaran
ain:
a) Terdapat
yang be
pinjaman
b) Terdapat
dari pem
berpenga
c) Masih d
tentative d
d) Terdapat
pembaya
Langkah-lan
ersebut, ant
a) Meningk
terkait, s
maupun
pengelola
0
50
100
150
200
250
300
350
2007
221.3
1
ONESIA
alisasi pemba
antangan
n utang tepa
t tagihan (N
elum diteri
n yang bersa
t data penari
mberi pinjam
aruh terhada
ditemukanny
di database p
t beberapa
arannya.
ngkah yang
ara lain:
katkan koor
seperti Direk
lender/don
aan utang;
7 2008
228.8
197.4 19
Gr
ayaran utan

yang diha
at waktu, te
Notice of Pay
ima hingga
angkutan;
ikan (Notice
man yang d
ap data outst
ya jadwal
pengelolaan
tagihan fe
diambil da
rdinasi dan
ktorat Jende
nor dalam
2009
248
97.7
209
Pagu
rafik 3.2
g Tahun An
adapi dalam
pat jumlah
yment/NOP
a mendekat
of Disbursem
diterima tida
tanding pinja
pembayara
utang; dan
ee yang be
alam rangka
n komunika
ral Perbend
rangka me
2010
234.6
9.8
214.2
Anggaran
nggaran 2007
m rangka
dan tepat s
) dari pemb
ti tanggal
ment) pinjam
ak tepat wa
aman luar ne
an utang d
elum dapat
a menghada
asi dengan
daharaan, Ba
eningkatan
2011
267.6
2
226.6
7-2012
pelaksnaa
sasaran anta
beri pinjam
jatuh temp
man luar nege
aktu, sehing
egeri;
dengan stat
dijadwalk
api tantang
n pihak-pih
ank Indones
akurasi da
2012
314.9
274.4

an
ara
an
po
eri
gga
tus
an
an
hak
ia,
ata
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
74
2012 DJPU L LA AK KI IP P
b) Menerbitkan Notice Of Payment (NOP) Pengganti untuk tagihan yang
telah mendekati jatuh tempo tetapi belum diterima;
c) Melakukan optimalisasi sistem informasi alat kendali NOP dan SPM
untuk monitoring proses pelaksanaan pembayaran utang; dan
d) Melakukan updating database utang sesuai hasil rekonsiliasi data
posisi utang dan data pembayaran utang.
Dengan demikian, target pencapaian indikator persentase pembayaran
utang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran, pada tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik.
c. Pencapaian SS kredibilitas dan transparansi pengelolaan utang dengan
indikator indeks kepuasan pengguna layanan dan persentase pembayaran
utang tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran, pada tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik.
4. SS Perumusan strategi dan kebijakan pengelolaan utang yang berkualitas
dengan indikator:
a. Persentase penyediaan peraturan yang mendukung pengembangan pasar
dan pengelolaan portofolio utang
Peraturan yang mendukung pengembangan pasar dan pengelolaan
portofolio utang bertujuan untuk memberikan landasan dan kepastian
hukum dalam pelaksanaan pengelolaan utang. Indikator ini diukur
berdasarkan tersusunnya rancangan Peraturan yang disampaikan kepada
Menteri Keuangan atau yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal dalam
rangka mendukung pengembangan pasar dan pengelolaan portofolio utang.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian
yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Pada tahun 2012, persentase penyediaan peraturan yang mendukung
pengembangan pasar dan pengelolaan portofolio utang selama tahun
2012 direncanakan sebesar 100% {8 set (tiap set memilki bobot 12,5%)},
dengan realisasi sebesar 92,50%. Rincian peraturan dan keputusan yang
telah diselesaikan dapat dilihat dalam tabel 3.14 sebagai berikut:
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
75
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.14
Realisasi peraturan dan keputusan yang mendukung pengelolaan utang
No. Jumlah Peraturan Pendukung Pengelolaan Utang
1. 1 set
PP Nomor 58 tahun 2012 tentang Pendirian
Perusahaan Penerbit SBSN Indonesia IV
2. 1 set
PP Nomor 73 tahun 2012 tentang Perubahan Atas PP
Nomor 56 Tahun 2008 tentang Perusahaan Penerbit
SBSN
3. 1 set
PMK Nomor 05/PMK.08/2012 tentang Penerbitan dan
Penjualan SBSN di Pasar Perdana Dalam Negeri
Dengan Cara Lelang
4. 1 set
PMK Nomor 14/PMK.08/2012 tentang Tata Cara
Pengadaan Pembiayaan yang bersumber dari Kreditor
Swasta Asing
5. 1 set
PMK Nomor 128/PMK.08/2012 tentang Penjualan
SUN dalam Valuta Asing di Pasar Perdana Domestik
dengan Cara Bookbuilding
6. 1 set
PMK Nomor 236/PMK.08/2012 tentang Pembelian
Kembali SUN Dalam Valuta Asing di Pasar
Internasional

Dari 8 set Peraturan yang menjadi target di tahun 2012, terdapat 2 set
peraturan yang belum dapat diselesaikan pada tahun 2012, yaitu:
a) PMK Nomor 12/PMK.08/2013 tentang Transaksi Lindung Nilai.
Draft telah disampaikan kepada Sekretaris Jenderal Kementerian
Keuangan pada tanggal 29 Juni 2012 untuk dilakukan review oleh Biro
Hukum. Hasil review tersebut sudah disampaikan kepada Menkeu
pada tanggal 3 Januari 2013, dan ditetapkan Menkeu pada tanggal 4
Januari 2013 sehingga dinilai terlambat dan mendapatkan bobot 10%;
b) RPMK tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Anggaran
Kewajiban Penjaminan Pemerintah.
Revisi modul sebagaimana kesepakatan hasil rapat dengan Direkotrat
Jenderal Perbendaharaan pada tanggal 17 Desember 2012 telah
ditindaklanjuti dan disampaikan melalui surat elektronik kepada
Direkotrat Jenderal Perbendaharaan pada tanggal 19 Desember 2012.
Namun, sampai dengan akhir tahun 2012 konsep nota dinas bersama
ke Menteri Keuangan masih berada di Direkotrat Jenderal
Perbendaharaan sehingga hanya mendapatkan bobot 7,5%.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
76
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2) Hambatan dan/atau tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian
target indikator tersedianya peraturan dan keputusan yang mendukung
pengelolaan utang antara lain:
a) Penyelesaian target melibatkan banyak unit di Kementerian
Keuangan, sehingga prosedur penetapannya membutuhkan
persetujuan terlebih dahulu dari unit-unit terkait baik atas draft
peraturan maupun keputusan;
b) Persetujuan atas draft peraturan dan keputusan oleh unit terkait di
Kementerian Keuangan memakan waktu lama dan hal tersebut
berada di luar kendali DJPU; dan
c) Kondisi pasar keuangan yang dinamis membuat penyusunan
peraturan terkait pengelolaan utang perlu dilakukan berbagai
penyesuaian;
3) Upaya yang dilakukan menghadapi hambatan dan/atau tantangan
tersebut adalah:
a) Meningkatkan koordinasi dengan unit-unit terkait untuk segera
menyampaikan persetujuan/tanggapan atas draft peraturan dan
keputusan;
b) Melakukan koordinasi secara intensif terkait penyempurnaan
mekanisme penyampaian peraturan dan keputusan sampai proses
penetapannya sehingga kendala keterlambatan dalam proses
penetapan dapat diminimalkan; dan
c) Melakukan publikasi dan informasi secara rutin kepada stakeholders
terkait adanya peraturan baru atau adanya perubahan peraturan.
Dengan demikian, target pencapaian indikator persentase penyediaan
peraturan yang mendukung pengembangan pasar dan pengelolaan
portofolio utang, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan relatif baik.
b. Persentase penyusunan dokumen strategi pembiayaan tahunan melalui
utang
Dokumen strategi pengelolaan pembiayaan tahunan melalui utang
memberikan pedoman umum kepada setiap unit/lembaga/otoritas yang
terkait dengan pengelolaan utang agar proses pengambilan keputusan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
77
2012 DJPU L LA AK KI IP P
merefleksikan keselarasan antar kebijakan pengelolaan utang, fiskal,
moneter, dan pengembangan pasar keuangan serta memberikan keyakinan
kepada semua pihak yang berkepentingan dengan penyelenggaraan
keuangan negara bahwa utang Pemerintah akan dikelola secara baik dan
bertanggung jawab melalui suatu proses pengelolaan utang yang transparan
dan akuntabel.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang semakin tinggi dari target adalah capaian
yang baik/diharapkan. Adapun diskripsi capaian atas IKU ini sebagai
berikut:
1) Persentase penyelesaian dokumen strategi pengelolaan utang pada tahun
2012 ditargetkan sebesar 100% dengan realisasi sebesar 100%. Dokumen
strategi pengelolaan utang tahun 2013 telah ditetapkan dengan
Keputusan Dirjen Pengelolaan Utang Nomor: KEP-47/PU/2012 tanggal
19 Desember 2012. Selain penyusunan dokumen strategi pengelolaan
utang tahun 2013 yang menjadi target IKU, pada tahun 2012 juga
ditetapkan:
a) Dokumen Revisi Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah 2010-
2014 yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan Keputusan
Menteri Keuangan Nomor:37/KMK.08/2013 tanggal 21 Januari 2013
tentang Strategi Pengelolaan Utang Negara 2013-2016; dan
b) Dokumen Revisi Strategi Pembiayaan Tahunan melalui Utang Tahun
2012 yang ditetapkan melalui Keputusan Dirjen Pengelolaan Utang
Nomor: KEP-36/PU/2012 tanggal 18 Juli 2012.
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka penyediaan dokumen strategi
pengelolaan utang antara lain:
a) Proyeksi pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari utang (disbursement
plan) kurang akurat karena tidak semua K/L pelaksana kegiatan
dapat menyusun dan menyediakan proyeksi yang diperlukan secara
akurat dan tepat waktu;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
78
2012 DJPU L LA AK KI IP P
b) Ketersediaan data yang diperlukan untuk menyusun proyeksi nilai
tukar, tingkat bunga, dan variabel makro ekonomi lainnya dalam
berbagai jenis untuk periode jangka menengah tidak mencukupi; dan
c) Pergerakan kondisi pasar keuangan dan faktor-faktor yang
mempengaruhi secara signifikan terhadap penerapan strategi
pengelolaan utang.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar unit perencanaan,
penganggaran, dan pembiayaan dalam hal penyediaaan data dan
perbaikan proses bisnis;
b) Menetapkan metode proyeksi nilai tukar, tingkat bunga, dan asumsi
makro lainnya berdasarkan data yang tersedia dengan menggunakan
metodologi yang memberikan hasil paling lengkap dan konservatif;
dan
c) Melakukan monitoring pergerakan kondisi pasar keuangan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi secara signifikan terhadap
penerapan strategi pengelolaan utang dan melakukan revisi apabila
diperlukan.
Dengan demikian, target pencapaian indikator persentase penyusunan
dokumen strategi pembiayaan tahunan melalui utang, pada tahun 2012
dapat tercapai dengan baik.
c. Persentase pelaksanaan kajian restrukturisasi Surat Utang Pemerintah
dalam rangka Asset Liability Management (ALM)
Surat Utang Pemerintah (SUP) yang saat ini dimiliki oleh BI merupakan
surat utang yang diterbitkan oleh Pemerintah kepada BI dalam rangka
membiayai pengalihan KLBI/BLBI pada Bank Exim, program penjaminan
perbankan, dan pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)
kepada perbankan nasional pada saat terjadinya krisis moneter dan ekonomi
tahun 1997-1998.
Pada awal penerbitannya, SUP terdiri atas empat seri yaitu SU-001, SU-002,
SU-003, dan SU-004 dengan jumlah nominal sebesar Rp218,3 triliun. Hingga
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
79
2012 DJPU L LA AK KI IP P
saat ini, SUP telah mengalami beberapa kali restrukturisasi yang dilakukan
dalam rangka meringankan beban APBN dengan tetap menjaga sustainability
keuangan BI.
Setelah beberapa kali melakukan program restrukturisasi, Pemerintah dan
BI akan kembali melakukan restrukturisasi berikutnya. Dalam rencana
restrukturisasi tersebut dikaitkan dengan kepentingan pengelolaan Asset
Liability Management (ALM) yang melihat Pemerintah dan BI sebagai satu
entitas. Dari sisi Pemerintah, penilaian atas rencana restrukturisasi berkaitan
dengan kesinambungan fiskal (APBN). Kajian yang disusun dimaksudkan
untuk melihat dampak dari skema rencana restrukturisasi yang akan
dijalankan terhadap pengelolaan risiko portofolio utang pemerintah dan
kesinambungan pembiayaan atas APBN.
Tahapan dalam melakukan penyusunan kajian antara lain proses
pengumpulan informasi, melakukan analisa, dan menyusun rekomendasi
restrukturisasi SUP dalam prespektif pengelolaan portofolio dan risiko utang
serta pembiayaan APBN melalui utang. Pada tahun 2012 telah disusun kajian
dampak restrukturisasi Surat Utang Pemerintah terhadap risiko portofolio
utang dan pembiayaan yang disampaikan kepada Menteri Keuangan melalui
Nota Dinas Dirjen Pengelolaan Utang nomor ND-236/PU/2012 tanggal 27
Desember 2012.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang semakin tinggi dari target adalah capaian
yang baik/diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai
berikut:
1) Pada tahun 2012, persentase pelaksanaan kajian restrukturisasi Surat
Utang Pemerintah (SUP) dalam rangka ALM selama tahun 2012
direncanakan sebesar 100%, dengan realisasi sebesar 100%. Target yang
diharapkan yaitu menyelesaikan model restrukturisasi dan asumsi,
penyelesaian naskah Revisi SKB mengenai penyelesaian BLBI, serta
penyelesaian kajian pelaksanaan konversi SUP dari non-tradable menjadi
tradable.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
80
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pelaksanaan kajian
restrukturisasi Surat Utang Pemerintah dalam rangka Asset Liability
Management (ALM) antara lain:
a) Peristiwa yang mendasari penerbitan Surat Utang Pemerintah adalah
krisis yang terjadi pada tahun 1998-1999 sehingga terdapat kesulitan
untuk mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan;
b) Skema rencana restrukturisasi yang dijalankan masih merupakan
perkiraan, belum bersifat final. Jika skema restrukturisasi berubah,
kesimpulan pada analisis kemungkinan tidak lagi sesuai;
c) Tools yang digunakan merujuk pada indikator pengelolaan utang
yang selama ini digunakan. Dampak restrukturisasi diluar ruang
lingkup kajian tidak disampaikan, mengingat kajian masih berupa
gambaran awal dampak yang dihasilkan jika skema restrukturisasi
dilaksanakan; dan
d) Penyelesaian permasalahan BLBI hanya didasarkan atas kesepakatan
Pemerintah dan BI dengan persetujuan DPR. Sementara mengenai
eligibility pengalihan tagihan BLBI kepada Pemerintah hingga saat ini
belum terverifikasi dengan pasti, untuk itu perlu dilakukan
penyusunan buku putih yang memuat informasi mengenai kebijakan
Rekapitalisasi Perbankan dan BLBI sesuai dengan arahan Menteri
Keuangan.
3) Upaya yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Melakukan komunikasi dengan Bapepam-LK dan pihak terkait
lainnya untuk memperoleh bahan dan informasi yang dimiliki,
mengingat Bapepam-LK sangat berperan saat SUP tersebut
diterbitkan;
b) Menentukan dan membatasi ruang lingkup kajian dan skema yang
paling potensial akan dijalankan dalam program restrukturisasi;
c) Terus melakukan pengkajian mengenai kemungkinan pelaksanaan
konversi SU menjadi SBN tradable dari berbagai aspek dengan
mempertimbangkan potensi risiko yang dapat timbul;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
81
2012 DJPU L LA AK KI IP P
d) Berkoordinasi dengan BI dan Menko Perekonomian terkait addendum
ketentuan pasal II Perubahan SKB tahun 2003 yang tenggat
waktunya habis tanggal 31 Oktober 2012;
e) Terus berkoordinasi dengan pihak BI terutama yang terkait dengan
updating proyeksi modal BI terkini apabila penyelesaian
restrukturisasi mendekati tahap akhir; dan
f) Segera membentuk tim/task force yang melibatkan pelaku-pelaku
yang terkait dengan kebijakan dalam rangka penanganan krisis
keuangan untuk penyusunan Buku Putih atas Kebijakan Pemerintah
dalam rangka Penanganan Krisis Keuangan Tahun 1997/1998,
dengan melibatkan lembaga independen (lembaga riset).
Dengan demikian, target pencapaian indikator Persentase pelaksanaan
kajian restrukturisasi Surat Utang Pemerintah dalam rangka Asset Liability
Management (ALM), pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik.
d. Pencapaian SS perumusan strategi dan kebijakan pengelolaan utang yang
berkualitas dengan indikator persentase penyediaan peraturan yang
mendukung pengembangan pasar dan pengelolaan portofolio utang,
persentase penyusunan dokumen strategi pembiayaan tahunan melalui
utang, dan persentase pelaksanaan kajian restrukturisasi Surat Utang
Pemerintah dalam rangka ALM, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan
baik.
5. SS Pengembangan pasar SBN yang dalam, aktif, dan likuid, dengan indikator:
a. Tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi
Dalam rangka memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat
dan pelaku ekonomi akan fungsi SBN dan mekanisme pengelolaan pinjaman
dan hibah, perlu dilakukan edukasi dan komunikasi kepada para
stakeholders.
Efektivitas edukasi dan komunikasi merupakan bentuk pengukuran
tingkat keberhasilan peserta (stakeholders) dalam hal pemahaman
substansi/materi pengelolaan SBN dan mekanisme pengelolaan pinjaman
dan hibah yang disampaikan melalui sosialisasi yang dilaksanakan.
KEMENT
Direktora

TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
IK
pihak
pema
(bob
ini m
sehin
kegia
terha
hadir
dari
P
(max
yang
1) T
d
(e
k
M
b
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
KU ini hany
k eksternal
ahaman pes
ot 20%), dan
mempertimb
ngga sejak
atan penin
adap pengel
r minimal 5
peserta yang
Pencapaian
ximize), dima
g diharapkan
Tingkat efe
ditargetkan
efektif). Ca
kepada pese
Monitoring d
berikut:



Pe
75%
7
ONESIA
ya menguku
l. Variabel
serta (bobot
n fasilitas te
bangkan frek
awal tahu
ngkatan pem
lolaan SBN d
50 peserta da
g hadir, dan
IKU ini me
ana capaian
n. Adapun d
ektifitas ed
sebesar 75
apaian terse
erta sosiali
dan Evaluas
Ting
mahaman
72%72%
74%
ur edukasi d
yang diuku
65%), baha
empat pelak
kuensi maup
un sudah h
mahaman
dan Sistem A
an yang men
n disesuaikan
enuju kepad
n yang mak
deskripsi cap
ukasi dan
5% (efektif)
ebut dipero
isasi SUN,
si Pinjaman
Graf
gkat efektifit
Mater
81%81%
78%
Q1
dan komunik
ur dalam k
an presentas
ksanaan (bob
pun tingkat
harus ditarg
masyarakat
Akuntansi H
ngembalikan
n dengan da
da capaian y
kin tinggi da
paian atas IK
komunika
, dengan r
oleh melalu
sosialisasi
n dan Hibah
fik 3.3
tas edukasi d
i P
83%
%
77%
1 Q2 Q3
kasi yang di
kuisioner a
si (bobot 10%
bot 5%). Per
pemahaman
getkan bera
t dan pela
Hibah. Targe
n kuesioner
aftar hadir.
yang melebi
ari target ad
KU ini sebag
asi selama
realisasi se
ui penyebar
SBSN, ser
h, dengan ri
dan komuni
Pembicara
%
82%
81%81%
Q4
isampaikan
dalah tingk
%), pembica
rhitungan IK
n masyarak
apa frekuen
aku ekonom
t peserta yan
r minimal 50
ihi dari targ
dalah capai
ai berikut:
tahun 20
ebesar 75,83
ran kuesion
rta sosialisa
incian sebag
ikasi
Fasilita
83%
84%
85
ke
kat
ara
KU
at,
nsi
mi
ng
0%
get
an
012
3%
ner
asi
gai
as
%
81%

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
83
2012 DJPU L LA AK KI IP P
a) Sosialisasi SUN
Program sosialisasi SUN merupakan salah satu program tahunan
DJPU. Pada kegiatan sosialisasi SUN tahun 2012, DJPU melibatkan
peserta dari kalangan akademisi dengan bekerjasama dengan pihak
perguruan tinggi dengan rincian pelaksanaan sebagai berikut :

Tabel 3.15
Penyelenggaraan sosialisasi SUN tahun 2012
No Perguruan Tinggi Lokasi
Sosialisasi
Tanggal
Sosialisasi
1. FE Universitas
Parahyangan
Bandung 2 Februari 2012
2. FE Universitas Sultan
Ageng Tirtayasa
Banten 8 Maret 2012
3. FE Universitas Riau Pekanbaru 15 Maret 2012
4. FE Universitas Islam
Sumatera Utara
Medan 25 Mei 2012
5. FE Universitas Bangka
Belitung
Bangka 1 Juni 2012
6. FE Universitas Surabaya Surabaya 7 Juni 2012

7. FE Universitas
Muhammadiyah Malang
Malang 23 November 2012
Dengan tambahan 7 perguruan tinggi pada tahun 2012, maka total
pelaksanaan sosialisasi SUN yang dilaksanakan untuk kalangan
akademisi sebanyak 34 perguruan tinggi terdapat pada Bagan 3.1:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
84
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Bagan 3.1
Perguruan Tinggi yang telah bekerjasama dengan DJPU terkait
pengelolaan SUN sampai tahun 2012

Untuk mengetahui tingkat efektifitas penyampaian informasi
melalui kegiatan sosialisasi SUN dimaksud, maka dilakukan
pengukuran terhadap pemahaman masyarakat dan pelaku ekonomi
yang menjadi peserta sosialisasi tentang pengelolaan SUN.
Berdasarkan hasil kuesioner yang disampaikan kepada peserta,
persentase pemahaman masyarakat dan pelaku ekonomi terhadap
pengelolaan SUN pada tahun 2012 ditargetkan sebesar 75% dengan
realisasi sebesar 76,44%.
b) Sosialisasi SBSN
Dalam rangka menyebarluaskan informasi dan pemahaman
mengenai SBSN, DJPU secara rutin melaksanakan program sosialisasi
SBSN ke berbagai daerah di Indonesia. Di samping itu, terdapat pula
kegiatan sosialisasi secara khusus kepada kalangan akademis yang
dinamakan Sukuk Negara Goes to Campus. Kegiatan sosialisasi
SBSN tahun 2012 seluruhnya menggunakan konsep seminar dengan
menghadirkan pembicara dari DJPU dan moderator yang memandu
acara.
(1) Sosialisasi Daerah
Sosialisasi daerah adalah sosialisasi yang dilaksanakan di
berbagai daerah di Indonesia dengan target perserta adalah
UNUD
UNSRAT
UNDIP
UNAIR
UNAND
UNPAD
UNSRI
UGM
UNEJ
UPR
UNSOED
UNRAM
UNLAM
UNISYIAH
UNIBRA
USU
UNIJOYO
IPB
UNJA
Unmul
UNTAN
UNIB
UNILA
UNNES
UII
UI
UNPAR
UNTIRTA
UNRI
UISU
UBB
UBAYA
UMM
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
85
2012 DJPU L LA AK KI IP P
masyarakat umum yang terdiri antara lain dari perwakilan
kantor vertikal Kementerian Keuangan, Bank Indonesia,
Pemerintah Daerah, bank, lembaga keuangan daerah non-bank,
pondok pesantren, dan media massa lokal. Pemilihan lokasi
pelaksanaan sosialisasi daerah didasarkan pada data bahwa di
daerah tersebut belum pernah dilaksanakan sosialisasi SBSN
sebelumnya.
Dalam penyelenggaraan sosialisasi daerah, DJPU
bekerjasama dengan dengan pihak-pihak terkait seperti
Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Materi yang
disampaikan pada acara sosialisasi daerah mencakup tema: (i)
Aspek Hukum & Instrumen Pembiayaan APBN, (ii)
Perkembangan Pasar SBSN, (iii) Sukuk Negara Ritel, yang
seluruhnya disampaikan oleh pembicara dari Direktorat Jenderal
Pengelolaan Utang.
Pada tahun 2012, sosialiasi daerah dilaksanakan di 4 kota
yaitu Cirebon, Purwokerto, Kupang, dan Kediri.
(2) Sosialisasi Kampus (Sukuk Negara Goes to Campus)
Sosialisasi kampus adalah pelaksanaan sosialisasi yang
bekerjasama dengan perguruan tinggi di beberapa daerah di
Indonesia dengan target peserta lebih spesifik, yaitu kalangan
akademisi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa. Target utama
peserta sosialisasi kampus adalah dosen dan mahasiswa fakultas
hukum, ekonomi, dan pasca sarjana. Kampus yang dipilih
sebagai tempat pelaksanaan adalah kampus yang dianggap
memiliki perhatian khusus terhadap perkembangan pasar sukuk
di Indonesia.
Materi yang disampaikan pada sosialisasi kampus hampir
sama dengan materi sosialisasi daerah, namun lebih menekankan
pada sisi akademis. Adapun pembicara yang menyampaikan
materi adalah dari DJPU untuk tema: (i) Sukuk Negara Sebagai
Sumber Pembiayaan APBN dan Instrumen Investasi, serta
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
86
2012 DJPU L LA AK KI IP P
pembicara dari kampus untuk tema materi (ii) Keuangan
Syariah: Perkembangan, Prospek dan Tantangan. Khusus untuk
sosialisasi kampus yang diadakan di Universitas Airlangga
Surabaya, hadir pula perwakilan dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam
Indonesia (IAEI) sebagai salah satu pembicara.
Untuk menyukseskan penyelenggaraan acara sosialisasi
kampus, DJPU bekerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti
Dekan Fakultas tempat penyelenggaraan acara serta Sekretariat
Jenderal Kementerian Keuangan. Adapun sosialisasi kampus
pada tahun 2012 dilaksanakan di kampus Fakultas Ekonomi
Universitas Airlangga Surabaya dan Fakultas Ekonomi
Universitas Padjadjaran Bandung.
Rincian Pelaksanaan Sosialisasi SBSN dan tingkat
pemahanan peserta pada tahun 2012 adalah sebagai berikut:

Tabel 3.16
Tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi sosialisasi SBSN
No Tanggal Lokasi Peserta Hasil
1.
15 Mei 2012 Cirebon 73 80,10%
2.
25 Mei 2012 Purwokerto 74 78,45%
3.
31 Mei 2012 Kupang 71 76,09%
4.
7 Juni 2012 Universitas Airlangga 176 76,56%
5.
13Juni 2012 Universitas
Padjajdjaran
84 73,07%
6.
18 Juli 2012 Kediri 108 75,21%
RATA-RATA
76,24%

c) Sosialisasi Monitoring dan Evaluasi Pinjaman dan Hibah:
Selama tahun 2012, DJPU telah melakukan 2 jenis sosialisasi dalam
rangka memberikan pemahaman kepada stakeholder tentang
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
87
2012 DJPU L LA AK KI IP P
mekanisme monitoring pinjaman dan hibah serta mekanisme
pengelolaan hibah.
(1) Sosialisasi tata cara pemantauan dan evaluasi atas pinjaman dan
hibah kepada pemerintah
Sosialisasi dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 5 Juni
2012, guna menjelaskan kepada kementerian/lembaga mengenai
mekanisme pemantauan dan evaluasi atas pinjaman dan hibah
kepada pemerintah sesuai dengan PMK nomor 224/PMK.08/2011
(2) Sosialisasi mekanisme pengelolaan dan akuntansi hibah
Sosialisasi dilaksanakan sebanyak 4 kali di Makassar,
Balikpapan, Semarang, dan Jakarta. Sosialisasi ini merupakan
tindak lanjut temuan BPK pada Laporan Keuangan Bagian
Anggaran (LK BA) 999.02 Pengelolaan Hibah tahun 2011 dan
guna memberikan pemahaman yang lebih atas Peraturan Menteri
Keuangan 191 PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan
Hibah dan Peraturan Menteri Keuangan nomor
230/PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi Hibah.
Selama sosialisasi tersebut, tingkat pemahaman stakeholders
terhadap materi yang disampaikan oleh DJPU sudah cukup baik.
2) Hambatan dan/atau tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian
target indikator tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi antara lain:
a) Banyaknya jumlah satker yang menerima hibah dan tersebar luas;
b) Kurangnya pemahaman satker dalam pelaporan hibah; dan
c) Anggaran sosialisasi yang kurang terkait pembatasan anggaran
pejalanan dinas PNS.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi hambatan dan/atau tantangan
tersebut adalah:
a) Menyediakan informasi dan peraturan yang berkaitan dengan
pengelolaan utang dalam situs resmi DJPU dengan alamat
www.djpu.kemenkeu.go.id; dan
b) Menyediakan anggaran sosialisasi yang cukup dalam DIPA DJPU
tahun 2013.
KEMENT
Direktora

TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
D
dan k


ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
Dengan dem
komunikasi
ONESIA
mikian, target
i, pada tahun
Talkshow Sukuk
Sukuk Negara
t pencapaian
n 2012 dapat
k Negara Ritel
a Goes to Campu
n indikator t
t tercapai de
Radio Trijaya
us: Universitas
tingkat efek
engan baik.
FM, Manado
Padjadjaran
tifitas edukaasi


KEMENT
Direktora

TERIANKEUANGA
atJenderalPenge

b. Sprea
P
meng
pend
aman
yang
pada
rend
meng
rend
SBN
S
highe
(term
yang
yang
kons
ditaw
adala
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
ad WAY yan
Pengembang
gembangkan
dukung pas
n, heterogen
g cukup untu
a tingkat ha
dah, serta var
gukur pasa
dahnya sprea
di pasar per
Spread WAY
est yield yan
masuk SPN
g dimenangk
Tail yang di
g dimenang
sensus inves
warkan dala
ah tail yang
Suasa
ONESIA
ng dimenang
gan pasar
n Pasar S
sar yang ko
nitas yang ti
uk menyera
arga yang w
riasi instrum
r SBN yang
d antara hig
rdana denga
Y yang dimen
ng dimenang
dan SPNS)
kan.
iukur dari se
gkan dalam
stor/pelaku
am lelang te
g rendah ya
ana sosialisasi M
di Yogy
gkan dengan
SBN yang
SBN yang
ompetitif, in
nggi di anta
ap SBN yang
wajar/ kom
men dan jum
g dalam, ak
ghest yield ya
an WAY yan
nangkan den
gkan dalam
dikurangi d
elisih antara
m suatu lel
pasar terha
ersebut. Sal
ang menunju
Monitoring dan
yakarta pada ta
n highest yie
g dalam,
g memiliki
nfrastruktur
ara pelaku p
g ditransaks
mpetitf deng
mlah nomina
ktif, dan lik
ang dimenan
ng dimenang
ngan highest
setiap lelan
dengan Weig
a yield tertin
lang SBN
adap nilai w
ah satu ind
ukkan kesam
n Evaluasi Pinj
anggal 5 Juni 2
eld awarded
aktif, dan
karakteris
pasar yan
pasar dengan
sikan, transa
gan biaya tr
al SBN yang
kuid yang t
ngkan dalam
gkan.
t yield awarde
ng SBN di p
ghted Average
nggi dengan
menggamba
wajar instrum
dikator kesu
maan pend
aman dan Hib
2012
d (tail)
likuid yai
stik strukt
ng efektif d
n jumlah da
aksi yang ak
ransaksi yan
cukup. Untu
ercermin da
m setiap lelan
ed (tail) adal
pasar perda
e Yield (WA
rata-rata yie
arkan tingk
men SBN yan
uksesan lelan
apat sebagi
ah

itu
tur
an
na
ktif
ng
uk
ari
ng
ah
na
AY)
eld
kat
ng
ng
an
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
90
2012 DJPU L LA AK KI IP P
besar pelaku pasar terhadap nilai wajar SBN serta upaya menghindari
pemberian yield yang terlalu besar untuk sebagian kecil investor, di atas rata-
rata yield yang dimenangkan.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang lebih rendah dari
target (minimize), dimana capaian yang makin rendah dari target adalah
capaian yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai
berikut:
1) Spread WAY yang dimenangkan dengan highest yield awarded (tail) selama
tahun 2012 ditargetkan sebesar 15 bps, dengan realisasi sebesar 4,29 bps.
Rendahnya spread antara highest yield yang dimenangkan dalam setiap
lelang SBN di pasar perdana dengan WAY yang dimenangkan
menunjukkan lelang SBN yang efektif mengingat terdapat konvergensi
persepsi investor terhadap yield yang wajar dari seri yang dilelang. Hal
ini secara implisit menunjukkan jika mekanisme price discovery di pasar
SBN sudah semakin efektif yang menunjukkan pasar SBN yang semakin
dalam, aktif, dan likuid.
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian Spread WAY yang
dimenangkan dengan highest yield awarded (tail) antara lain:
a) Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen keuangan yang
dibutuhkan dalam pengembangan pasar uang dan pasar modal
sebagai benchmark;
b) Masih rendahnya kapasitas daya serap pasar SBN domestik; dan
c) Tingginya dominasi oleh sektor perbankan pada basis investor SBN
domestik.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Memaksimalkan penerbitan di pasar domestik, terutama penerbitan
seri benchmark;
b) Meningkatkan transparansi dan prediktabilitas jadwal dan target
lelang penerbitan;
c) Penyempurnaan infrastruktur pendukung kegiatan perdagangan
SBN;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
91
2012 DJPU L LA AK KI IP P
d) Komunikasi dua arah yang intensif dan berkelanjutan dengan pelaku
pasar dan pemangku kepentingan lainnya;
e) Mengoptimalkan fungsi dealer utama (primary dealers);
f) Pengembangan pasar SBN domestik tetap menjadi program prioritas
Pemerintah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendorong
investor domestik seperti Perusahaan Asuransi, Dana Pensiun, Reksa
Dana, Perusahaan Sekuritas, dan investor individu atau ritel untuk
mampu berperan lebih besar sebagai penyeimbang dominasi
perbankan dalam berinvestasi; dan
g) Meningkatkan likuiditas pasar sekunder SBN domestik melalui
program buyback dan debt switch untuk seri yang tidak bersifat likuid.
Dengan demikian, target pencapaian Spread WAY yang dimenangkan
dengan highest yield awarded (tail), pada tahun 2012 dapat tercapai dengan
baik.
c. Pencapaian SS pengembangan pasar SBN yang dalam, aktif, dan likuid,
dengan indikator tingkat efektifitas edukasi dan komunikasi dan Spread
WAY yang dimenangkan dengan highest yield awarded (tail), pada tahun 2012
dapat tercapai dengan baik.
6. SS Pengelolaan portofolio utang yang optimal dengan indikator:
a. Rasio beban bunga terhadap rata-rata outstanding utang
Rasio beban bunga terhadap rata-rata outstanding utang menggambarkan
beban utang yang harus ditanggung pemerintah dalam bentuk pembayaran
beban bunga, biaya, dan imbal hasil dalam tahun berjalan dibandingkan
dengan rata-rata outstanding utang pada tahun tersebut. IKU ini merupakan
salah satu alat untuk mengukur efisiensi beban bunga yang harus
ditanggung oleh Pemerintah dalam memenuhi target pembiayaan utang
dalam satu tahun anggaran. Efisiensi dilakukan agar realisasi pembayaran
bunga utang lebih rendah dari alokasi bunga utang yang ditetapkan dalam
APBN, dengan tetap mempertimbangkan risiko dan pemenuhan target
pembiayaan melalui utang. Hal ini berdampak pada rasio beban bunga
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
92
2012 DJPU L LA AK KI IP P
terhadap rata-rata outstanding utang yang semakin rendah dan menunjukkan
bahwa pengelolaan utang pada tahun anggaran tersebut telah efisien.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang lebih rendah dari target
(minimize), dimana capaian yang makin rendah dari target adalah capaian
yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Rasio beban bunga terhadap rata-rata outstanding utang selama tahun
2012 ditargetkan sebesar 5,72%, dengan realisasi sebesar 5,29% dengan
nilai capaian 107,52%, dengan rincian:
Tabel 3.17
Target dan realisasi pembayaran bunga dan rata-rata outstanding
Uraian Target 2012 Realisasi
Pembayaran bunga Rp107,79 triliun Rp99,90 triliun
Rata-rata outstanding Rp1.885,89 triliun Rp1.889,25 triliun
Rasio 5,72% 5,29%
Realisasi rasio beban bunga yang lebih rendah dari target, terutama
disebabkan karena:
a) realisasi yield yang lebih rendah dibanding asumsi awal akibat
kondisi pasar keuangan yang lebih baik dari asumsi yang
diperkirakan semula;
b) pengelolaan portofolio utang yang optimal sehingga menurunkan
tingkat risiko dan biaya utang;
c) realisasi discount yang lebih rendah dari perkiraan, karena
penerbitan SPN lebih rendah dari target dan sebagian besar
penerbitan ON berada pada harga premium; dan
d) tingkat bunga SPN 3 bulan yang lebih rendah dari asumsi APBN
menyebabkan pembayaran kupon SBN VR lebih rendah dari
perkiraan.
Pada periode 20072012, perkembangan realisasi rasio beban bunga
terhadap rata-rata outstanding utang menunjukkan indikator yang
semakin baik, dalam artian cenderung menurun. Perkembangan rasio
beban bunga terhadap rata-rata outstanding utang selama periode 2007
2012 dapat dilihat pada Grafik 3.4.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
93
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Grafik 3.4
Perkembangan rasio beban bunga terhadap rata-rata outstanding
utang pada tahun 2007-20012

2) Beberapa tantangan dalam penurunan rasio beban bunga terhadap rata-
rata outstanding utang, antara lain:
a) Kondisi pasar keuangan yang dinamis, yang antara lain
mempengaruhi:
(1) Fluktuasi yield SBN yang berdampak pada pembayaran bunga
SBN baru yang diterbitkan;
(2) Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing
terutama mata uang JPY dan USD yang sangat volatile.
Pergerakan nilai tukar berdampak signifikan, baik pada
pembayaran bunga utang valas maupun outstanding utang
valas; dan
(3) Perubahan risk appetite investor yang berpengaruh pada
pemilihan jenis instrumen SBN yang diterbitkan. Pemilihan
jenis instrumen yang diterbitkan berdampak pada pembayaran
bunga utang dan komposisi outstanding utang.
b) Realisasi penarikan pinjaman proyek tidak ditentukan oleh
Kementerian Keuangan, tetapi ditentukan oleh pelaksana kegiatan,
yaitu Kementerian/Lembaga. Besaran realisasi penarikan pinjaman
proyek berdampak pada pembayaran bunga dan posisi outstanding
pinjaman.
6.05
5.91
5.78
5.41
5.16
5.29
4.6
4.8
5
5.2
5.4
5.6
5.8
6
6.2
2007 2008 2009 2010 2011 2012
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
94
2012 DJPU L LA AK KI IP P
3) Langkah-langkah yang diambil dalam rangka menghadapi tantangan
tersebut, antara lain:
a) Mengakomodasi perkiraan fluktuasi dan pergerakan atas nilai tukar
dan yield/tingkat bunga dalam perhitungan pembayaran bunga
utang; dan
b) Meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait dalam penerapan
readiness criteria dan penyusunan proyeksi penarikan pinjaman
proyek.
Dengan demikian, target pencapaian indikator rasio beban bunga
terhadap rata-rata outstanding utang, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan
baik.
b. Akurasi penetapan yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman terhadap
benchmark
Indikator ini berguna untuk mengukur tingkat ketepatan penentuan
benchmark yang menjadi acuan dalam operasional penerbitan utang,
sehingga dapat diperoleh suatu benchmark yang wajar, yang pada akhirnya
akan meningkatkan efisiensi pengelolaan utang.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang lebih rendah dari target
(minimize), dimana capaian yang makin rendah dari target adalah capaian
yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Akurasi penetapan yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman terhadap
benchmark selama tahun 2012 ditargetkan sebesar 90%, dengan realisasi
sebesar 91,65%, sehingga memperoleh nilai capaian 101,83%. Capaian
tersebut diperoleh dari rata-rata capaian akurasi antara benchmark yang
ditetapkan dengan yield SBN dan biaya pinjaman, dengan perincian:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
95
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.18
Capaian akurasi antara benchmark dengan yield SBN dan biaya pinjaman
Instrumen Frekuensi
2012
Target Realisasi
Rata-rata
akurasi
Pinjaman komersial 64 45 bps 73 bps 83,90%
Lelang penerbitan SUN 22 15 bps 4,66 bps 96,90%
Lelang penerbitan SBSN 18 15 bps 6,88 bps 95,42%

Akurasi penetapan yield/imbalan SBN terhadap benchmark adalah
tingkat ketepatan penetapan benchmark yang digunakan dalam
operasional lelang penerbitan SBN, diukur melalui selisih benchmark
dimaksud dengan realisasi yield SBN saat lelang penerbitan. Sedangkan
akurasi penetapan biaya pinjaman terhadap benchmark diperoleh dari
rata-rata capaian akurasi antara benchmark yang ditetapkan dengan biaya
pinjaman.
Akurasi penetapan yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman
terhadap benchmark bertujuan untuk mengukur tingkat kehandalan
penentuan benchmark yang menjadi acuan, sehingga dapat diperoleh
suatu benchmark yang wajar, yang pada akhirnya akan meningkatkan
efisiensi pengelolaan SBN dan pinjaman.
Hal tersebut menjadi sangat penting karena akan mencerminkan
kemampuan Pemerintah untuk menanggung biaya pada setiap
penerbitan instrumen SBN dan pelaksanaan pinjaman. Untuk
mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut, penyusunan harga acuan
memerlukan metodologi perhitungan yang komprehensif agar angka
yang dihasilkan dapat benar-benar mencerminkan kondisi pasar dan
kemampuan Pemerintah untuk mengakomodasi demand pasar terhadap
SBN dan meminimalisir cost.
Capaian indikator ini dapat melebihi target antara lain disebabkan:
a) Penetapan benchmark telah mempertimbangkan kondisi pasar SBN
menjelang berakhirnya lelang dan proyeksi demand pada saat lelang;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
96
2012 DJPU L LA AK KI IP P
b) Minat investor yang tinggi terhadap SBN mendorong kompetisi dan
kualitas harga/yield yang semakin baik dalam pelaksanaan lelang
SBN; dan
c) Khusus pinjaman komersial, terdapat beberapa biaya pinjaman yang
jauh lebih rendah dari benchmark karena keberhasilan negosiasi yang
membuat capaian effective cost jauh lebih rendah daripada benchmark
yang ditetapkan sebelum negosiasi.
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator
akurasi penetapan yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman terhadap
benchmark yang antara lain:
a) Harga/yield acuan (benchmark price/yield) menjadi sangat penting
karena akan mencerminkan kemampuan Pemerintah untuk
menanggung biaya pada setiap penerbitan instrumen SBN;
b) Metodologi penetapan benchmark price/yield perlu terus
disempurnakan agar benchmark price/yield yang dihasilkan dapat
benar-benar mencerminkan kondisi pasar dan kemampuan
Pemerintah untuk mengakomodasi demand pasar terhadap SBN dan
meminimalisir cost;
c) Kondisi pasar keuangan yang belum stabil menyulitkan apabila
ketepatan penetapan benchmark price/yield yang digunakan dalam
operasional lelang penerbitan SBN sebagai alat ukur cost yang efisien;
d) Indikator ini kurang sesuai jika diterapkan terhadap pengelolaan
pinjaman karena dengan membandingkan nilai benchmark dan effective
cost pinjaman, dimana hasil pada tahun 2012 nilai effective cost
pinjaman yang jauh lebih rendah dibanding nilai benchmark nya, hal
tersebut sebenarnya mencerminkan keberhasilan DJPU dalam
melakukan negosiasi dengan lender. Sementara target indikator ini
adalah untuk mengukur akurasi nilai benchmark agar setidaknya sama
dengan besarnya effective cost, yang justru akan membuat realisasi
pengelolaan pinjaman menjadi tidak bagus, padahal sebetulnya
dengan nilai effective cost yang lebih rendah dari benchmark justru hal
tersebut menguntungkan bagi Pemerintah dalam hal menekan cost
biaya pinjaman.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
97
2012 DJPU L LA AK KI IP P
3) Upaya yang dilakukan menghadapi hambatan dan/atau tantangan
tersebut adalah:
a) Penetapan benchmark price/yield diupayakan senantiasa
mempertimbangkan kondisi pasar SBN dengan dilakukan menjelang
berakhirnya lelang dan diharapkan dapat memperhitungkan
proyeksi demand pada saat lelang;
b) Terus dilakukan penyempurnaan terhadap metodologi penetapan
benchmark price/yield;
c) Tim harga dalam menyusun benchmark price/yield menggunakan
berbagai sumber data yang kompeten antara lain dari Indonesia Bond
Pricing Agency (IBPA), PLTE, Bloomberg, dan data setelmen BI;
d) Penyediaan market update, pemutakhiran arus kas, dan analisis Crisis
Management Protocol (CMP) secara rutin;
e) Terus melakukan pemantauan dan analisis terhadap kinerja dan
potensi pasar SBN termasuk pasar uang dan derivatif; dan
f) Mempertimbangkan kembali kesesuaian penetapan indikator ini
terhadap pengelolaan pinjaman agar ke depan indikator terkait
pengelolaan pinjaman dapat menjadi semakin baik.
Dengan demikian, target pencapaian indikator akurasi penetapan
yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman terhadap benchmark, pada tahun 2012
dapat tercapai dengan baik.
c. Pencapaian SS pengelolaan portofolio utang yang optimal dengan indikator
rasio beban bunga terhadap rata-rata outstanding utang serta akurasi
penetapan yield/imbalan SBN dan biaya pinjaman terhadap benchmark, pada
tahun 2012 dapat tercapai dengan baik.
7. SS Pengelolaan kewajiban utang yang efektif dengan indikator persentase
dokumen tagihan yang diverifikasi secara tepat waktu
Indikator persentase dokumen tagihan yang diverifikasi secara tepat
waktu diselesaikan paling lambat 6 hari kerja sebelum jatuh tempo. Hal ini untuk
menghindari terjadinya keterlambatan pembayaran atas tagihan utang, dimana
jumlah hari tersebut terbagi masing-masing sebagai berikut:
a) 2 hari kerja untuk proses penerbitan SPM di DJPU;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
98
2012 DJPU L LA AK KI IP P
b) 2 hari kerja untuk proses penerbitan SP2D di DJPB; dan
c) 2 hari kerja untuk proses pembayaran/transfer kepada lender di Bank
Indonesia.
Indikator ini bertujuan untuk menjamin pelaksanaan pembayaran kewajiban
tepat waktu, menjamin mekanisme kontrol internal terhadap pelaksanaan
pembayaran agar sesuai jadwal, dan menghindari kerugian negara.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang semakin tinggi dari target adalah capaian yang
baik/diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
a. Persentase dokumen tagihan yang diverifikasi secara tepat waktu pada tahun
2012 ditargetkan sebesar 100%, dengan realisasi sebesar 100%, dimana terdapat
5.307 dokumen tagihan/NOP yang telah diverifikasi secara tepat waktu, yaitu
paling lambat 6 hari kerja sebelum tanggal jatuh tempo.
b. Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator
persentase dokumen tagihan yang diverifikasi secara tepat waktu antara lain:
1) Masih terdapat kreditor yang belum menyampaikan dokumen tagihan
(Notice of Payment) maupun dokumen penarikan pinjaman (Notice of
Disbursement) kepada Kementerian Keuangan;
2) Terdapatnya perbedaan penentuan tingkat interest rate/fees yang
digunakan dalam perhitungan pembayaran utang; dan
3) Terdapatnya tagihan dari kreditor yang nilainya kurang sesuai
sebagaimana perhitungan yang seharusnya.
c. Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
1) Menerbitkan Notice of Payment Pengganti apabila sampai dengan 6 hari
kerja sebelum jatuh tempo belum diterima tagihan dari kreditor;
2) Melakukan rekonsiliasi data dengan Ditjen Perbendaharaan, Bank
Indonesia, maupun kreditor; dan
3) Dilakukan konfirmasi dengan instansi terkait, Kementerian/Lembaga
maupun dengan kreditor sehingga ditetapkannya jumlah pembayaran
utang yang harus dilaksanakan.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
99
2012 DJPU L LA AK KI IP P
d. Pencapaian SS pengelolaan kewajiban utang yang efektif dengan indikator
persentase dokumen tagihan yang diverifikasi secara tepat waktu, selama
tahun 2012 dapat tercapai dengan baik.
8. SS Monitoring dan evaluasi kepatuhan pengelolaan utang yang efektif dengan
indikator:
a. Persentase tingkat kepatuhan dalam pengelolaan utang
Tingkat kepatuhan dalam pengelolaan utang merupakan upaya untuk
mengetahui sejauh mana tingkat kepatuhan terhadap perundangan dan
prosedur dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan utang. Ketentuan dan
prosedur yang dievaluasi adalah semua item/butir tahapan yang terdapat
dalam SOP yang dilaksanakan pada tahun yang dievaluasi. Evaluasi
dilakukan oleh unit yang bertanggung jawab terhadap kepatuhan internal.
Tujuan indikator ini adalah meningkatkan akuntabilitas pelaksanaan
kegiatan pengelolaan utang.
Pemantauan pengendalian intern pada tahun 2011 dilaksanakan pada 1
kegiatan sebagai pilot project, yaitu kegiatan Lelang SUN di Pasar Perdana.
Sedangkan pada tahun 2012, pemantauan pengendalian intern di lingkungan
DJPU dilaksanakan pada 6 kegiatan yang terdiri dari pemantauan lanjutan
terhadap kegiatan tahun 2011 dan 5 kegiatan lain yang dipilih pada tahun
2012. Pemilihan 5 kegiatan baru tersebut mempertimbangkan kegiatan utama
(core business) dari setiap unit Eselon II serta faktor risiko dan dampaknya
terhadap pencapaian tujuan organisasi DJPU.
IKU ini menggunakan polarisasi stabilize, dimana capaian yang
diharapkan adalah sesuai atau mendekati target yang ditetapkan. Adapun
diskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Persentase tingkat kepatuhan dalam pengelolaan utang selama tahun
2012 ditargetkan sebesar 100%, dengan realisasi sebesar 98,39%, sehingga
memperoleh nilai capaian 116,78%, dengan rincian:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
100
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.19
Hasil pengukuran tingkat kepatuhan tahun 2012
No. Unit Nama Kegiatan % Tingkat
Kepatuhan
1. Setditjen Penerbitan SPP dan SPM LS (sampai
dengan pencairan dana)
99,70%
2. Dit. PH Pengadaan Pinjaman Proyek
(Multilateral)
97,92%
3. Dit. SUN Lelang SUN di Pasar Perdana 99,98%
4. Dit. PS Lelang SBSN di Pasar Perdana 96,85%
5. Dit. SPU Penyusunan dokumen strategi
pengelolaan utang tahun 2013
100,00%
6. Dit. EAS Pelaksanaan Pembayaran Pokok, Bunga,
Biaya Pinjaman/Biaya Hibah (mulai dari
pengiriman reminder, pelaksanaan
verifikasi NoP, sampai dengan
penerbitan SPM)
95,90%
Kegiatan pengukuran tingkat kepatuhan terhadap SOP tidak
semata-mata dilakukan untuk mencari kesalahan dalam pelaksanaan
kegiatan, melainkan untuk mengembangkan fungsi konsultasi dan
memberikan assurance bahwa pelaksanaan tugas telah sesuai dengan
prosedur yang berlaku di lingkungan DJPU. Selanjutnya, melalui
penyampaian rekomendasi dan mekanisme pemantauan tindak lanjut
atas rekomendasi tersebut, diharapkan dapat dikembangkan langkah-
langkah perbaikan dalam rangka merespon risiko dan kelemahan yang
telah diidentifikasi, serta dimonitor perkembangan (progress) dalam
menyelesaikan langkah perbaikan tersebut.
Dengan demikian, pelaksanaan pengukuran tingkat kepatuhan
terhadap SOP tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi yang
bernilai (valuable contribution) bagi DJPU melalui evaluasi dan
pengembangan (improvement) sebagai hasil rekomendasi. Lebih lanjut,
pengukuran tingkat kepatuhan terhadap SOP diharapkan dapat menjadi
bagian dari sistem pengendalian intern di lingkungan DJPU untuk
mendukung peningkatan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas dalam
pengelolaan utang sebagai bagian dari pengelolaan keuangan negara.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
101
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator
tingkat kepatuhan pengelolaan utang yang sesuai dengan ketentuan dan
prosedur yang berlaku adalah:
a) Keterbatasan jumlah petugas pelaksana pemantauan pada Unit
Kepatuhan Internal DJPU;
b) Awareness yang belum memadai terkait pentingnya SOP sebagai
prosedur dan panduan formil bagi pelaksanaan tugas; dan
c) Pendokumentasian kegiatan belum sepenuhnya dilaksanakan dengan
baik.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Untuk pelaksanaan tugas pemantauan diupayakan untuk
mengoptimalkan petugas dan/atau melakukan penambahan SDM
Unit Kepatuhan Internal DJPU;
b) Melaksanakan capacity building dengan mengikuti pelatihan (training)
atau workshop, baik yang berkaitan dengan hard competency maupun
yang bersifat teknis secara umum;
c) Menyampaikan rekomendasi kepada unit yang menjadi obyek
pemantauan terkait pelaksanaan tugas yang belum memadai dan
perlunya penyempurnaan SOP;
d) Melakukan pemantauan terhadap penyelesaian tindak lanjut
rekomendasi yang disampaikan kepada unit yang menjadi obyek
pemantauan; dan
e) Meningkatkan koordinasi dengan seluruh unit di lingkungan internal
DJPU terkait pendokumentasian pelaksanaan pemantauan.
b. Rata-rata persentase realisasi janji layanan unggulan
Rata-rata persentase realisasi janji layanan unggulan merupakan ukuran
untuk mengetahui apakah pelayanan yang diberikan di bidang pengelolaan
utang kepada para pengguna jasa sudah sesuai dengan Quick Win Standard
Operating Procedures (SOP) berdasarkan KMK nomor 187/KMK.01/2010
tentang Standar Prosedur Operasi (Standard Operating Procedure) Layanan
Unggulan Kementerian Keuangan. Tujuan IKU ini adalah untuk mengukur
ketepatan waktu janji layanan untuk setiap tahapan dalam SOP serta
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
102
2012 DJPU L LA AK KI IP P
mengetahui apakah pelayanan yang diberikan kepada para stakeholders sudah
sesuai dengan Quick Win Standard Operating Procedures (SOP).
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang semakin tinggi dari target adalah capaian
yang baik/diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai
berikut:
1) Pada tahun 2012, rata-rata persentase realisasi janji layanan unggulan
ditargetkan sebesar 100% dengan realisasi sebesar 100%. Monitoring
terhadap pelaksanaan SOP Layanan Unggulan dilaksanakan pada
Direktorat Pinjaman dan Hibah, Direktorat Surat Utang Negara,
Direktorat Pembiayaan Syariah, serta Direktorat Evaluasi, Akuntansi, dan
Setelmen. Dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 3.20
Hasil pengukuran rata-rata persentase realisasi janji
layanan unggulan tahun 2012
No SOP Standar
waktu
Frek SOP
tepat
waktu
%
1 Pengadaan Pinjaman
Dalam Negeri
78 hari
kerja
1 1 100%
2 Lelang SUN di Pasar
Perdana dan
Penyelesaian
Transaksinya
10 hari
kerja
22 22 100%
3 Lelang SBSN di Pasar
Perdana dan
Penyelesaian
Transaksinya
10 hari
kerja
18 18 100%
Rata-rata 100%

2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian rata-rata persentase
realisasi janji layanan unggulan antara lain:
a) Terdapat kesulitan dalam perhitungan rentang waktu efektif
pelaksanaan layanan unggulan Pengadaan Pinjaman Dalam Negeri,
karena banyak proses yang tergantung pada pihak lain yang dianggap
sebagai masa tunggu;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
103
2012 DJPU L LA AK KI IP P
b) Ditunda atau dibatalkannya rencana pelaksanaan transaksi lelang SBN
yang telah dijadwalkan sesuai dengan Calendar of Issuance yang telah
dipublikasikan, antara lain karena:
(1) Kondisi pasar keuangan global yang tidak kondusif; dan
(2) Perubahan strategi dan kebijakan pengelolaan utang dan/atau
pengelolaan kas yang terkait dengan penurunan/pengurangan
jumlah target atau penundaan pelaksanaan penerbitan SBN.
c) Adanya gangguan pada infrastruktur pendukung pelaksanaan lelang
SBN.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Menentukan mekanisme yang lebih efektif dalam menilai realisasi janji
layanan unggulan Pengadaan Pinjaman Dalam Negeri, yaitu dengan
mengikuti proses penyelesaian tiap output kegiatan di dalamnya;
b) Meningkatkan koordinasi dengan pihak-pihak terkait dan komunikasi
secara efektif dengan pimpinan terkait dengan antisipasi terhadap
penundaan/pembatalan jadwal lelang SBN, baik karena adanya
perubahan strategi/kebijakan maupun kondisi pasar;
c) Melakukan penyiapan dan uji coba sistem pendukung/infrastruktur
transaksi secara berkala, terutama menjelang pelaksanaan lelang SBN.
Dengan demikian, target pencapaian indikator rata-rata persentase
realisasi janji layanan unggulan, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik.
c. Indeks ketepatan waktu penyelesaian tindak lanjut Instruksi Presiden
Selama tahun 2012 tidak terdapat target yang harus dilaksanakan atau
dicapai oleh DJPU, terkait penyelesaian tindak lanjut Instruksi Presiden
Nomor 17 Tahun 2011 tentang Aksi Pencegahan Korupsi.
d. Pencapaian SS monitoring dan evaluasi kepatuhan yang efektif dalam
pengelolaan utang dengan indikator persentase tingkat kepatuhan
pengelolaan utang yang sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku,
rata-rata persentase realisasi janji layanan unggulan, dan indeks ketepatan
waktu penyelesaian tindak lanjut Instruksi Presiden, pada tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
104
2012 DJPU L LA AK KI IP P
9. SS Pembentukan SDM yang berkompetensi tinggi dengan indikator:
a. Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya
Indikator persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi
jabatannya bertujuan untuk menyediakan pejabat yang mempunyai
kompetensi sesuai jabatannya dalam rangka meningkatkan dan
mengamankan keuangan dan kekayaan negara. Variabel kompetensi jabatan
adalah Standar Kompetensi Jabatan (SKJ/Jenis dan level kompetensi yang
menjadi syarat keberhasilan pelaksanaan tugas suatu jabatan) dan Job Person
Match (JPM). Indeks kesesuaian antara kompetensi pejabat dengan SKJ (JPM
minimal sebesar 72%). Data indikator ini diukur dari hasil Assessment Center
tingkat Pusat (Eselon II s.d. Eselon IV) dan data penempatan pegawai yang
menduduki jabatan sesuai SKJ.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian
yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya
selama tahun 2012, terealisasi sebesar 96,58% dari target sebesar 82,50%,
sehingga memperoleh nilai capaian 117,07%, dengan rincian sebagai
berikut:
Tabel 3.21
Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya
Tahun 2012
No Eselon Jumlah
Pejabat
Pejabat yg Telah
Mengikuti Assessment
Pejabat dengan
JPM 72%
%
1 II 6 6 5 83,33
2 III 22 22 20 90,91
3 IV 89 89 88 98,88
Jumlah 117 117 113 96,58
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mendukung tercapainya
indikator pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya,
adalah dengan melakukan pelaksanaan diklat kompetensi dan
pelaksanaan assesment center.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
105
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2) Kendala/hambatan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target
persentase pejabat yang memenuhi standar kompetensi jabatannya,
antara lain:
a) Masih kurangnya kesadaran pegawai tentang pentingnya Assessment
Center; dan
b) Hanya beberapa pegawai saja yang belum memenuhi standar
kompetensi jabatannya.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut, antara lain:
a) Peningkatan kegiatan coaching dan counceling dari atasan yang
bersangkutan dalam rangka meningkatkan kemampuan soft
competency; dan
b) Peningkatan kesadaran self learning kepada pegawai yang
bersangkutan mengingat hanya beberapa pegawai saja yang belum
memenuhi target standar kompetensi jabatannya;
Dengan demikian, target pencapaian indikator persentase pejabat
yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya, pada tahun 2012
dapat tercapai dengan baik.
b. Persentase pemenuhan pelatihan pegawai sesuai dengan gap kompetensi
pegawai (hard competency)
Pelatihan pegawai yang dimaksud adalah diklat teknis seperti tersebut
dalam Standar Kompetensi Jabatan hard competency DJPU, yaitu Kepdirjen PU
Nomor Kep-47/PU/2011 Tanggal 29 Desember 2011 Tentang Standar
Kompetensi Jabatan Hard Competency Eselon III dan IV di lingkungan DJPU,
yang diselenggarakan dalam rangka pemenuhan gap kompetensi pegawai.
Gap kompetensi diperoleh dengan membandingkan antara dokumen hard
competency dengan pelatihan dan jenis pelatihan yang telah diikuti oleh
pegawai DJPU. Indikator ini bertujuan untuk mengukur pengembangan SDM
DJPU dalam rangka menghasilkan SDM yang kompetitif dalam pengelolaan
utang. Bagi Pejabat Eselon II dan pelaksana, jenis pelatihan adalah sesuai
dengan bidang tugasnya dengan tetap mengacu pada Standar Kompetensi
Jabatan hard competency DJPU.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
106
2012 DJPU L LA AK KI IP P
IKU Persentase pemenuhan pelatihan pegawai sesuai dengan gap
kompetensi pegawai (hard competency) merupakan transformasi dari IKU
sebelumnya yaitu rasio jam pelatihan pegawai DJPU dibandingkan jam kerja.
Berdasarkan hasil evaluasi pada IKU rasio jam pelatihan pegawai DJPU
dibandingkan jam kerja, para pegawai mengikuti pelatihan baik yang sesuai
dengan kompetensinya maupun tidak, hal tersebut hanya untuk memenuhi
rasio jam pelatihan yang telah ditentukan. Melalui pelatihan pegawai sesuai
dengan gap kompetensi pegawai (hard competency) diharapkan pegawai di
lingkungan DJPU dapat mengikuti diklat yang benar-benar sesuai dengan
kompetensi yang dibutuhkan dan dapat menunjang pada pekerjaan tugas
sehari-hari pegawai yang bersangkutan.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian
yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Persentase pemenuhan pelatihan pegawai sesuai dengan gap kompetensi
pegawai (Hard Competency) pada tahun 2012 ditargetkan sebesar 100% (20
jenis diklat), dengan realisasi sebesar 115% (23 jenis diklat sesuai dengan
Standar Kompetensi Jabatan (Hard Competency). Adapun diklat-diklat
yang telah diselenggarakan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.22
Diklat yang dilaksanakan berdasarkan gap kompetensi pegawai (hard competency)
NO PROGRAM PELATIHAN JUMLAH
PESERTA
TEMPAT JADWAL
PELAKSANAAN
1. Pelatihan Bloomberg 56 orang Jakarta 3 Februari 2012
29 Februari
2012
1 Maret 2012
2. Pelatihan Tata Cara
Pemantauan dan Evaluasi
atas Pinjaman dan Hibah
Kepada Pemerintah
20 orang Yogyakarta 28 Februari s.d. 1
Maret 2012
3. Fundamental of Risk
Management Practices
3 orang Jakarta 20 - 22 Maret 2012
4. Pelatihan Tools dan Teknik
Audit, Audit Sampling dan
Fraud Auditing
13 orang Jakarta 26 - 30 Maret 2012
5. Pelatihan TOEFL untuk 49 orang Jakarta 23 April-25 Juli
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
107
2012 DJPU L LA AK KI IP P
NO PROGRAM PELATIHAN JUMLAH
PESERTA
TEMPAT JADWAL
PELAKSANAAN
para pejabat eselon IV 2012
6. Talent Management 2 orang Jakarta 23 - 24 Mei 2012
7. Sertifikasi Ahli Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah
5 orang Jakarta 2 s.d. 5 Juli
2012
5 - 8 November
2012
19 - 22
November
2012
8. Management for Professional
Secretary
5 orang Jakarta 10 s.d. 12 Juli 2012
9. Pelatihan How to Design
Your Training Program
2 orang Jakarta 4-6 September
2012

10. Pelatihan Workplace
Productivity Improvement
1 orang Jakarta 4-6 September
2012
11. Pelatihan Mengaudit
Proses Manajemen Risiko
3 orang Jakarta 13 - 14 September
2012
12. Pelatihan Penyusunan
Pola Karir dan
Transformasi Organisasi
pada DJPU
14 orang Bogor 14 - 15 September
2012
13. Assessment Center Assessor
Certification
1 orang Jakarta 8 - 12 Oktober 2012
14. Report Writing 10 orang Jakarta 9 - 11 Oktober 2012
15. Pelatihan TOEFL
Preparation
56 orang Jakarta 11 Oktober 7
Desember 2012
16. Pelatihan Fraud Auditing 1 3 orang Jakarta 16 - 19 Oktober
2012
17. Financial Risk Management 9 orang Jakarta 23 - 25 Oktober
2012
18. Modern Financial Modeling 6 orang Jakarta 23 - 24 Oktober
2012
19. Pelatihan Business Process
Management (BPM)
13 orang Bandung 24 - 25 Oktober
2012
20. Pelatihan Teknik
Penyusunan Kontrak dan
Penyegaran Pengadaan
Barang dan Jasa
12 orang Jakarta 31 Okt - 1 Nov
2012
21. Pelatihan Master of
Ceremony
17 orang Jakarta 5 - 8 November
2012
22. Business Analyst Body of
Knowledge
9 orang Jakarta 3 - 7 Desember
2012
23. Project Risk Management 13 orang Jakarta 5 - 6 Desember
2012
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
108
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pemenuhan pelatihan pegawai
sesuai dengan gap kompetensi pegawai (hard competency) antara lain:
a) Tingginya work load unit-unit di DJPU dan jumlah SDM yang
terbatas menyebabkan pengiriman peserta pelatihan seringkali tidak
dapat maksimal; dan
b) Terbatasnya pengiriman peserta pada suatu diklat akibat jumlah
SDM yang terbatas.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Permintaan usulan peserta diklat diupayakan jauh sebelum
pelaksanaan diklat sehingga pengiriman peserta dapat disesuaikan
volume perkerjaan unit-unit di DJPU;
b) Menyelenggarakan diklat secara bertahap.
Dengan demikian, persentase pemenuhan pelatihan pegawai sesuai
dengan gap kompetensi pegawai (hard competency), pada tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik.
c. Pencapaian SS Pembentukan SDM yang berkompetensi tinggi dengan
indikator persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi
jabatannya dan persentase pemenuhan pelatihan pegawai sesuai dengan gap
kompetensi pegawai (hard competency), pada tahun 2012 dapat tercapai
dengan baik.
10. SS Penataan organisasi yang adaptif, dengan indikator:
a. Persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan
Risiko adalah segala sesuatu yang berdampak negatif terhadap
pencapaian tujuan yang diukur berdasarkan kemungkinan dan dampaknya.
Sedangkan, manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/
metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman
terjadinya hambatan dalam pencapaian tujuan bahkan kerugian.
Persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan adalah perbandingan
antara jumlah persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan pada seluruh
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
109
2012 DJPU L LA AK KI IP P
unit Eselon I dibandingkan dengan jumlah rencana mitigasi risiko unit Eselon
I di lingkungan Kementerian Keuangan.
Pada tahun 2012, IKU Persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan
diukur dari dua kegiatan. Pada Semester I, IKU tersebut diukur dengan
presentase mitigasi risiko yang dijalankan oleh seluruh unit Eselon II di
lingkungan DJPU selaku UPR. Pada Semester II, IKU dimaksud diukur
dengan presentase mitigasi risiko yang dijalankan oleh DJPU selaku UPR.
Pengukuran IKU pada semester I tahun 2012 didasarkan pada penerapan
manajemen risiko sesuai dengan PMK Nomor 191/PMK.09/2008 tentang
Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Departemen Keuangan yang
dilaksanakan oleh seluruh unit Eselon II di lingkungan DJPU selaku UPR.
Penerapan manajemen risiko ini telah dimulai sejak Semester I Tahun 2010
yang selanjutnya disebut sebagai penerapan manajemen risiko tahap 1
st

assessment. Sampai dengan Semester II Tahun 2012, penerapan manajemen
risiko di lingkungan DJPU telah memasuki tahap 6
th
assessment. Profil risiko
masing-masing UPR didasarkan pada peta strategi Kemenkeu-Two masing-
masing UPR.
Bagan 3.2
Transformasi IKU terkait mitigasi risiko

Penerapan manajemen risiko di Lingkungan DJPU telah dilaksanakan
sejak tahun 2010, sampai dengan semester II tahun 2012 telah sampai pada
tahap 6
th
assessment dengan time horizone setiap tahap 6 bulan. Pada tahun
2010 dan tahun 2011 pengukuran penerapan manajemen risiko di ukur dari
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
110
2012 DJPU L LA AK KI IP P
penerapan manajemen risiko yang dijalankan oleh Unit Pemilik Risiko (UPR)
di lingkungan DJPU, ditargetkan 60% dan dapat tercapai 100% karena
seluruh UPR di lingkungan DJPU telah melaksanakannya. Sedangkan pada
tahun 2012 penerapan risiko di ukur dari mitigasi risiko yang dijalankan oleh
masing-masing UPR dengan target 70% tercapai 100%, sehingga memperoleh
nilai capaian sebesar 120%, karena mitigasi yang telah direncanakan dapat
dilaksanakan.
Pengukuran IKU pada semester II tahun 2012 didasarkan pada penerapan
manajemen risiko level Eselon I yang dilaksanakan berdasarkan arahan dari
Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan (Pushaka) dan Inspektorat
Jenderal (Itjen) agar seluruh unit Eselon I di lingkungan Kementerian
Keuangan menyusun profil risiko tingkat Eselon I. Pengelolaan risiko pada
tingkat Eselon I didasarkan pada peta strategi Kemenkeu One DJPU, dengan
menggunakan sasaran strategis yang terdapat pada layer Stake Holders
Perspektive dan Customer Perspektive sebagai tujuan yang akan dicapai.
Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Tahun 2012, persentase mitigasi risiko yang selesai dijalankan selama
tahun 2012 ditargetkan sebesar 70%, dengan realisasi sebesar 100%,
dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 3.23
Target dan realisasi mitigasi risiko
Semester Risiko Mitigasi Risiko
yang
direncanakan
Mitigasi Risiko
yang selesai
dijalankan
%
I (obyek adalah
UPR eselon II)
153 220 220 100
II (obyek adalah
profil risiko
eselon I)
16 63 63 100
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka persentase mitigasi risiko yang
selesai dijalankan antara lain:
a) Belum adanya kejelasan peraturan dan framework terkait penerapan
manajemen risiko level Eselon I, dan framework yang mengatur
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
111
2012 DJPU L LA AK KI IP P
hubungan pelaksanaan manajemen risiko pada level Eselon I dan yang
dilaksanakan oleh masing-masing unit Eselon II selaku UPR;
b) Belum tersedianya aplikasi dalam rangka penerapan manajemen
risiko, antara lain dalam hal pengolahan data dan pengisian form
sesuai dengan lampiran PMK Nomor 191/PMK.09/2008. Sampai
dengan saat ini, penerapan manajemen risiko masih menggunakan
worksheet manual dengan aplikasi microsoft excel;
c) Ketidak jelasan arahan dan informasi dikarenakan "dualisme
komando" dalam penerapan manajemen risiko di lingkungan
Kementerian Keuangan yang berasal dari Inspektorat Jenderal sebagai
Compliance Office for Risk Management dan Pusat Analisis dan
Harmonisasi Kebijakan (Pushaka);
d) Tidak adanya review atau feedback dari Pushaka dan atau Inspektorat
Jenderal terhadap profil risiko dan laporan penerapan manajemen
risiko yang telah disampaikan. Review atau feedback tersebut akan
digunakan untuk perbaikan penerapan manajemen risiko selanjutnya;
dan
e) Kurangnya awareness dari pegawai dan pejabat yang terlibat dalam
proses manajemen risiko.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Mengusulkan adanya keseragaman arahan dari unit yang ditunjuk
selaku koordinator pelaksanaan manajemen risiko di lingkungan
Kementerian Keuangan. Sebaiknya unit yang ditunjuk hanya satu unit,
sehingga tidak terjadi dualisme arahan dan penunjukan unit
dimaksud dilakukan dengan penetapan;
b) Mengusulkan agar dilakukan revisi terhadap peraturan pelaksanaan
manajemen risiko dan petunjuk teknisnya, terutama terkait framework
penerapan manajemen risiko level Eselon I serta hubungan
pelaksanaan manajemen risiko pada level Eselon I dengan yang
dilaksanakan oleh masing-masing unit Eselon II selaku UPR;
c) Mengusulkan agar penerapan manajemen risiko dilaksanakan dengan
bantuan sistem aplikasi, sehingga lebih memudahkan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
112
2012 DJPU L LA AK KI IP P
proses identifikasi risiko dan pengadministrasiannya, serta
terdokumentasikannya risiko-risiko pada semester sebelumnya; dan
d) Meningkatkan koordinasi dengan UPR-UPR di lingkungan DJPU
dalam rangka penerapan manajemen risiko.
Dengan demikian, target persentase mitigasi risiko yang selesai
dijalankan, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik.
b. Indeks reformasi birokrasi
Indeks reformasi birokrasi adalah skor yang dihasilkan dari penilaian
atas pelaksanaan program-program reformasi birokrasi di lingkungan DJPU.
Indeks Reformasi Birokrasi diukur dengan menggunakan alat yang
ditetapkan oleh MenPAN-RB dan dilaksanakan oleh BPKP/Itjen untuk
menilai kualitas reformasi birokrasi.
Ukuran tersebut meliputi: Pola Pikir dan Budaya Kerja, Penataan Peraturan
Perundang-undangan, Penataan dan Penguatan Organisasi, Penataan
Tatalaksana, Penataan Sistem SDM Aparatur, Penguatan Pengawasan,
Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dan Peningkatan Kualitas Pelayanan
Publik. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Berdasarkan penilaian Itjen, per 28 Desember 2012, Indeks Reformasi
Birokrasi DJPU mendapatkan skor sebesar 96,72% dari target dengan
skor sebesar 92%, sehingga memperoleh nilai capaian sebesar 105,13%,
dengan rician sebagai berikut:
Tabel 3.24
Rincian nilai pelaksanaan Quality Assurance DJPU
No Area Perubahan Bobot (%) Nilai
1. Pola Pikir dan Budaya Kerja 10 8,79
2. Penataan Peraturan Perundang-undangan 10 10,00
3. Penataan dan Penguatan Organisasi 10 10,00
4. Penataan Tatalaksana 10 10,00
5. Penataan Sistem SDM Aparatur 20 20,00
6. Penguatan Pengawasan 10 9,84
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
113
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No Area Perubahan Bobot (%) Nilai
7. Penguatan Akuntabilitas Kinerja 10 8,49
8. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik 20 19,60
Jumlah 100 96,72
Predikat Sangat Baik
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator
Indeks reformasi birokrasi:
a) Masih terdapatnya perbedaan persepsi dalam hal parameter dan
dokumen yang dibutuhkan antara pihak Tim Itjen dengan
perwakilan DJPU;
b) Pada beberapa area masih terdapat ketidakselarasan informasi antara
Indikator, Parameter, Proksi Parameter, Variabel Pengukuran
Dibandingkan dengan Dokumen yang Dinilai, serta Dokumen yang
Diberikan;
c) Awareness terkait pentingnya pelaksanaan Quality Assurance (QA)
sebagai bentuk tindakan nyata pelaksanaan reformasi birokrasi
cenderung masih rendah sehingga mempengaruhi pemenuhan
dokumen-dokumen yang diperlukan;
d) Penilaian QA merupakan kegiatan yang baru dan cakupannya
meliputi area yang cukup luas sehingga menyulitkan koordinasi dan
menimbulkan ketidakjelasan unit in charge beberapa kegiatan/
dokumen; dan
e) Terdapat parameter-parameter pada beberapa Area yang dalam
penilaiannya, tidak dimungkinkan memperoleh nilai maksimal,
mengingat penilaiannya bagi satu Kementerian Keuangan dan DJPU
tidak memiliki kontrol untuk itu.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a) Melakukan koordinasi secara intensif dengan pihak-pihak terkait
terutama Itjen agar diperoleh kesepahaman;
b) Melakukan monitoring atas progres tindak lanjut pemenuhan
dokumen setiap area;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
114
2012 DJPU L LA AK KI IP P
c) Menyusun time line (jadwal) untuk meyakini proses pencapaian dapat
terpenuhi dan menyiapkan langkah-langkah antispatif jika
pelaksanaan di lapangan tidak sesuai dengan jadwal yang telah
disusun; dan
d) Melakukan sosialisasi kepada unit-unit terkait di lingkungan internal
DJPU melalui PIC masing-masing tentang pentingnya reformasi
birokrasi beserta agenda dan tahapan penilaiannya.
Dengan demikian, target indeks reformasi birokrasi, pada tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik.
c. Indeks kepuasan pegawai
Indeks Kepuasan pegawai adalah rata-rata tingkat kepuasan pegawai
DJPU terhadap organisasi dan kepegawaian yang diukur melalui survey.
Tujuan dari survey ini adalah:
1) Mengetahui sejauh mana kepuasan yang dirasakan oleh pegawai DJPU
terhadap kondisi tata kelola SDM dan organisasi serta ekspektasi pegawai
atas kondisi tata kelola SDM dan organisasi DJPU saat ini;
2) Mengidentifikasi dan menganalisis tingkat kepuasan pegawai pada
semua unsur/faktor yang mempengaruhi kepuasan;
3) Mengidentifikasi dan menganalisis unsur/faktor kepuasan pegawai yang
sudah baik sehingga perlu dipertahankan dan faktor layanan apa yang
perlu ditingkatkan; dan
4) Merumuskan rekomendasi kebijakan tata kelola SDM dan organisasi
DJPU.
Pengumpulan data kepada responden dilakukan secara online melalui situs
www.surveyku.depkeu.go.id dan juga melalui wawancara langsung kepada
responden terpilih (in depth interview). Adapun variabel yang diukur adalah
pandangan terhadap penugasan/pekerjaan saat ini, pekerjaan, imbalan,
pengembangan kompetensi/skill pegawai, mutasi/rotasi pegawai, supervisi,
dan rekan kerja.
Skala pengukuran menggunakan skala angka dari 1 s.d. 5 (sangat tidak
puas s.d. sangat puas).
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
115
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang lebih tinggi dari target
(maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian
yang diharapkan.
1) Indeks kepuasan pegawai pada tahun 2012 ditargetkan sebesar 3, dengan
realisasi 3,19 sehingga memperoleh nilai capaia 106,33%. Dari 322 orang
pegawai di lingkungan DJPU, 305 orang (94,72%) telah mengisi survey
dimaksud. Dari 6 variabel penilaian tersebut, terdapat 2 variabel dengan
selisih terbesar antara tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan yaitu
variabel Mutasi/Rotasi Pegawai dan variabel Imbalan, yang dapat
diartikan bahwa proses mutasi/rotasi dan faktor imbalan belum dianggap
memuaskan bagi sebagian besar pegawai DJPU.
2) Tantangan yang dihadapi dalam upaya peningkatan level kepuasan
terhadap kondisi tata kelola SDM dan organisasi serta ekspektasi pegawai
yaitu:
a) Masih terdapatnya perbedaan imbalan antar unit Eselon II tertentu
pada DJPU; dan
b) Belum berjalannya pola mutasi/rotasi sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan, yaitu Perdirjen Pengelolaan Utang No. Per-
02/PU/2010 tentang Pola Mutasi Jabatan Karir di lingkungan DJPU
dan Kepdirjen PU No. Kep -41/PU/2011 tentang Pola Mutasi
Pelaksana di lingkungan DJPU.
3) Upaya yang dilakukan terhadap tantangan tersebut:
a) Melakukan review terhadap uraian jabatan sehingga diperoleh
kesesuaian besaran grading (TKPKN) dengan kompetensi, proses, dan
hasil kerja/output; dan
b) Melakukan pola mutasi/rotasi sesuai ketentuan yang telah ditetapkan
sebagaimana tersebut di atas.
Dengan demikian, target indeks kepuasan pegawai, pada tahun 2012 dapat
tercapai dengan baik.
d. Persentase policy recommendation hasil pengawasan yang ditindaklanjuti
Policy recommendation adalah langkah tindak yang diusulkan oleh Itjen
kepada unit Eselon I untuk melakukan perubahan, penambahan dan/atau
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
116
2012 DJPU L LA AK KI IP P
penyempurnaan peraturan, kebijakan, maupun sistem dan prosedur
administrasi/operasi. Output policy recommendation dapat berupa:
1) Usulan strategis (berupa butir-butir penting dari suatu ketentuan) yang
disampaikan secara tertulis kepada pimpinan unit Eselon I dalam rangka
merubah, menambah, dan/atau menyempurnakan kebijakan; atau
2) Rancangan/konsep keputusan, instruksi peraturan, surat edaran, atau
surat pada level Pemerintah, Presiden, Kemenkeu, maupun pada level
unit eselon I.
Yang dimaksud ditindaklanjuti adalah telah dilakukannya seluruh langkah
tindak oleh unit Eselon I sesuai usulan strategis dalam policy recommendation.
Keberhasilan pencapaian policy recommendation diukur dari pencapaian
terhadap output yang ditetapkan pada tahun berjalan dan mendapat
persetujuan tertulis dari Itjen (pejabat setingkat eselon 2) atas capaian
tersebut.
Setiap policy recommendation yang diusulkan oleh Itjen harus dimuat dalam
suatu matriks yang berisi tentang output serta batas waktu penyelesaiannya
secara definitif.
1) Policy recommendation berdasarkan hasil pengawasan yang telah
ditindaklanjuti pada tahun 2012 ditargetkan 85%, dengan realisasi sebesar
100% (4 dari 4 policy recommendation yang ditargetkan Tahun 2012),
sehingga memperoleh nilai capaian 117,65%, dengan rincian sebagai
berikut:
a) PMK Nomor: 230/PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi Hibah
sebagai pengganti PMK-40/PMK.05/2009 tentang Sistem Akuntansi
Hibah;
b) PMK Nomor: 191/PMK.05/2011 tentang Mekanisme Pengelolaan
Hibah;
c) Revisi KMK Nomor 339/KMK.01/2011 tentang SOP Yang Bertautan
(SOPLink) Kementerian Keuangan dengan target 2012 adalah
pengajuan kepada Biro Organta Setjen; dan
d) Penyusunan/revisi SOP pembayaran utang pada DJPU sesuai hasil
penelaahan Itjen.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
117
2012 DJPU L LA AK KI IP P
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka mencapai target indikator
persentase policy recommendation hasil pengawasan yang ditindaklanjuti,
antara lain dalam hal upaya mencapai taget IKU tersebut, diperlukan
koordinasi yang baik antar unit terkait, baik di internal DJPU maupun
dengan unit-unit lain di lingkungan Kementerian Keuangan. Hal ini
mengingat policy recommendation yang diusulkan oleh Itjen untuk
diselesaikan oleh DJPU pada tahun 2012 antara lain terkait dengan bidang
tugas unit eselon I lain, yaitu Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
3) Upaya yang dilakukan terhadap tantangan tersebut adalah dengan
melakukan koordinasi secara intensif dengan Direktorat Jenderal
Perbendaharaan, terutama pada proses penyelesaian kedua PMK terkait
hibah yang direkomendasikan oleh Itjen. Di samping itu, untuk
mendukung penyelesaian revisi SOP-Link dan SOP pembayaran utang,
telah dilakukan koordinasi di lingkungan internal DJPU dan Sekretariat
Jenderal Kementerian Keuangan.
Dengan demikian, target Persentase policy recommendation hasil
pengawasan yang ditindaklanjuti, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan
baik.
e. Pencapaian SS penataan organisasi yang adaptif dengan indikator persentase
mitigasi risiko yang selesai dijalankan, indeks reformasi birokrasi, indeks
kepuasan pegawai, dan persentase policy recommendation hasil pengawasan
yang ditindaklanjuti, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik.
11. SS Perwujudan Sistem TIK yang Terintegrasi, dengan indikator:
a. Persentase pengembangan Database Utang yang terintegrasi
Pengintegrasian TIK dalam hal ini penyatuan database Pinjaman dan
Hibah (PH) dan database Surat Berharga Negara (SBN) ke dalam Data
Warehouse terdiri dari tiga tahap, sebagai berikut :
1) Tahap I merupakan kegiatan pengintegrasian database PH dengan bobot
45% (2011);
2) Tahap II merupakan kegiatan pengintegrasian database SBN dengan
bobot 35% (2012);
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
118
2012 DJPU L LA AK KI IP P
3) Tahap III merupakan kegiatan pengintegrasian dengan database TIK
Kementerian Keuangan dengan bobot 20% (2012).
IKU Persentase pengembangan Database Utang yang terintegrasi adalah
IKU yang disusun dan diimplementasikan semenjak tahun 2011. Adapun
progress yang telah dicapai sampai dengan akhir tahun 2011 adalah sampai
pada tahap pendefinisian desain serta penyusunan dan implementasi untuk
database utang terutama untuk instrumen pinjaman dan hibah. Adapun
progress yang telah dicapai sampai dengan akhir tahun 2012 adalah
penambahan elemen data untuk instrumen Surat Berharga Negara dan
penambahan elemen data terkait pelaksanaan Pertukaran Data Elektronik di
lingkungan Kementerian Keuangan.
Tujuan IKU ini adalah untuk menyediakan data outstanding dan cash flow
utang pemerintah yang utuh, tepat waktu, akurat, dan dapat digunakan
untuk proses pengambilan keputusan bagi pimpinan.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian
yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Persentase pengembangan database utang yang terintegrasi, dilaksanakan
pada tahun 2011 dan 2012. Pada tahun 2011 telah selesai sebesar 45%,
sehingga sisa pekerjaan sebesar 55% ditargetkan selesai pada tahun 2012.
Realisasi pada 2012 sebesar 100%, dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 3.25
Realisasi pengembangan Database Utang yang terintegrasi Tahun 2012
Proses/Kegiatan Keterangan Bobot Realisasi
Waktu
Status
Pengembangan
Datawarehouse
Pengelolaan
Surat Berharga
Negara (SBN)
Penyelesaian pembuatan desain
Database SBN;
5% Q1
Penyelesaian pembuatan Tabel
Dimension SBN dan
penambahan elemen data BA
999. 01 dan BA 999.02 untuk
keperluan elektronik audit BPK;
5% Q1
Penyelesaian pembuatan Tabel
Fact SBN;
5% Q2
Penyelesaian pembuatan script
pemutakhiran data Fact table
10% Q2
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
119
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Proses/Kegiatan Keterangan Bobot Realisasi
Waktu
Status
dan Dimension table SBN;
Otomatisasi pemutakhiran data
dimension dan fact SBN
5% Q3
Restore dan update database
untuk keperluan
pengembangan IT-ALM dan
penyesuaian Linkserver dari
database Pertukaran Data
Elektronik ke database untuk
pengembangan IT-ALM, serta
testing dan penyempurnaan
tabel dimension dan fact SBN
sampai dengan persetujuan
Sekretaris Direktorat Jenderal
5% Q3
Implementasi Datawarehouse
SBN:
a. Cleansing dan finalisasi
Datawarehouse
b. Penyusunan dokumentasi
dan dokumen-dokumen
administratif
5% Q3
Pemenuhan
kebutuhan data
interchange
Kemenkeu

Analisis dan penyelesaian
desain database untuk
keperluan Data Interchange
Kemenkeu; dan
5% Q4
Penyelesaian pembuatan script
dan testing script untuk
keperluan Data Interchange
Kemenkeu.
5% Q4
Implementasi pemutakhiran
Data Interchange Kemenkeu
sampai persetujuan Sekretaris
Direktorat Jenderal.
5% Q4
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator
persentase pengembangan database utang yang terintegrasi antara lain:
a) Kurangnya akurasi data pada data sumber yang disebabkan karena
ketidaksesuaian data pada proses entry data dan tidak terdapatnya
prosedur validasi yang memadai; dan
b) Kebutuhan data yang masih dan akan terus berkembang.


KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
120
2012 DJPU L LA AK KI IP P
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah
a) Perbaikan atas kondisi data dan pelaksanaan prosedur validasi secara
rutin dan memadai termasuk penyediaan alat monitoring akurasi
data; dan
b) Segala kebutuhan data yang timbul di masa yang akan datang akan
dianalisa dan akan di definisikan untuk melakukan penyesuaian
terhadap database utang terintegrasi sehingga dapat memenuhi
kebutuhan tersebut.
b. Persentase akurasi data SIMPEG
Pengelolaan data kepegawaian memerlukan manajemen yang sistematik
dan terpadu sehingga dapat menyajikan informasi kepegawaian yang yang
cepat serta akurat sebagai pertimbangan pimpinan dalam pengambilan
keputusan kepegawaian yang tepat. Untuk mengembangkan dan menyajikan
informasi data kepegawaian secara akurat pada implementasi Sistem
Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG), perlu pemutakhiran data
kepegawaian secara elektonik, periodik, dan teratur.
Mengingat bahwa pengelolaan SIMPEG merupakan kewenangan
Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, dalam hal ini Biro Sumber Daya
Manusia, sedangkan unit Eselon I pengguna hanya diberi hak akses data serta
pemutakhiran data sesuai kewenangan yang diberikan maka diperlukan
koordinasi serta rekonsiliasi data kepegawaian baik secara internal di
lingkungan DJPU maupun Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.
Kendala yang dihadapi adalah masih terdapatnya ketidaksesuaian fitur yang
tersedia pada aplikasi sehingga masih diperlukan penyediaan data secara
manual.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang lebih tinggi dari target
(maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian
yang diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
1) Persentase akurasi data SIMPEG diukur secara semesteran. Berdasarkan
hasil pengujian dari 320 pegawai pada semester II, realisasi persentase
akurasi data sebesar 100% dari target sebesar 100%.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
121
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.26
Progress pemenuhan akurasi data SIMPEG
No Periode Validasi Objek
Validasi
Data yang
Akurat
Persentase
(%)
1 Semester I 82 80 97,56
2 Triwulan IV 320 320 100
2) Tantangan yang dihadapi dalam rangka pencapaian target indikator
Persentase akurasi data SIMPEG antara lain:
a. Ketidakjelasan mekanisme pengukuran validitas data SIMPEG
Terdapat perbedaan mekanisme pengukuran validitas data
SIMPEG antar unit Eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan.
Sebagai contoh, pengukuran yang dilakukan di DJPU adalah dengan
mengonfirmasikan akurasi print out Daftar Riwayat Hidup (DRH)
kepada pegawai yang menjadi sampel, sedangkan di Sekretariat
Jenderal Kementerian Keuangan pengukuran akurasi data SIMPEG
dilakukan secara online, dimana seluruh pegawai dapat mengakses
dan mengisi form kelengkapan data melalui portal Biro Sumber Daya
Manusia Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan.
b. Aplikasi SIMPEG yang dikelola oleh Sekretariat Jenderal Kementerian
Keuangan belum dapat mengakomodir kebutuhan pengelolaan data
kepegawaian di DJPU, antara lain disebabkan oleh:
1) Kurangnya referensi dalam beberapa field. Sebagai contoh dalam
nama/jenis pendidikan, nama jabatan selain jabatan struktural dan
fungsional, serta unit kerja;
2) Hasil print out DRH tidak sesuai dengan data yang telah tersimpan
dalam database. Sebagai contoh, dalam database telah diinput data
anak, tetapi dalam DRH belum tercantum.
c. Kurangnya kepedulian pegawai terhadap data masing-masing
Terdapat pegawai yang tidak menyampaikan perubahan data
kepegawaian secara teratur kepada user SIMPEG, sehingga tidak
dapat dilakukan up dating ke dalam aplikasi. Hal tersebut berakibat
pada ketidakakuratan data dalam SIMPEG. Sebagai contoh, masih
terdapatnya pegawai yang mengikuti training/workshop/seminar
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
122
2012 DJPU L LA AK KI IP P
selain yang diselenggarakan DJPU namun tidak melaporkan
keikutsertaannya.
3) Upaya yang dilakukan menghadapi tantangan tersebut adalah:
a. Melakukan revisi Standard Operating Procedure terkait
pengadministrasian data pegawai;
b. Membuat standar mekanisme pengukuran, yaitu Manual Perekaman
SIMPEG;
c. Melakukan koordinasi dengan Sekretariat Jenderal Kementerian
Keuangan terkait permasalahan pada aplikasi SIMPEG.
c. Pencapaian SS Perwujudan TIK yang terintegrasi dengan indikator
persentase pengembangan database utang yang terintegrasi dan persentase
akurasi data SIMPEG, pada tahun 2012 dapat tercapai dengan baik.
12. SS Pelaksanaan anggaran yang optimal dengan indikator Persentase
penyerapan DIPA
Indikator persentase penyerapan DIPA bertujuan untuk mengukur sejauh
mana perencanaan anggaran dilaksanakan sehingga dapat dilakukan perbaikan
dalam proses perencanaan.
Pencapaian IKU ini menuju kepada capaian yang melebihi dari target
(maximize), dimana capaian yang makin tinggi dari target adalah capaian yang
diharapkan. Adapun deskripsi capaian atas IKU ini sebagai berikut:
a. Persentase penyerapan DIPA (Belanja Barang dan Belanja Modal) pada tahun
2012 ditargetkan 95,00% (Rp51,41 miliar), dengan realisasi sebesar 96,50%
(Rp52,22 miliar), sehingga memperoleh nilai capaian 101,58%, dengan rincian:
Tabel 3.27
Penyerapan DIPA (non belanja pegawai) DJPU Tahun 2012
No Belanja Pagu DIPA Realisasi % Sisa
1 Barang
Rp 43,60 miliar
Rp42,11 miliar 96,58% 1,49 milyar
2 Modal Rp10,51 miliar Rp10,11 miliar 96,20% 0,40 milyar
Jumlah Rp54,11 miliar Rp52,22 miliar 96,50% 1,89 Milyar


KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
123
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Rincian sisa anggaran sebesar 3,50% (Rp1,89 miliar) sebagai berikut:
1) Belanja barang sebesar Rp1,49 miliar merupakan hasil efisiensi dari
pelaksanan kegiatan, dengan rincian sebagai berikut:
a) Belanja Barang operasional Rp0,25 milyar;
b) Belanja Barang Non Operasional sebesar Rp0,88 milyar;
c) Belanja Jasa Rp0,05 milyar
d) Belanja Pemeliharaan Rp0,16 milyar; dan
e) Belanja Perjalanan dinas Rp0,15 milyar.
2) Belanja modal sebesar Rp0,40 miliar, merupakan hasil efisiensi dari
pelaksanaan pengadaan barang dan jasa TA 2012.
b. Tantangan yang dihadapi dalam melakukan pencapaian target indikator
kinerja persentase penyerapan DIPA adalah:
1) Penundaan/perubahan jadwal kegiatan yang telah direncanakan baik
yang disebabkan kendala internal maupun eksternal;
2) Adanya kebijakan pembatasan palaksanaan kegiatan rapat internsif
(konsinyering) dan adanya kebijakan penghematan anggaran; dan
3) Disiplin pada rencana penarikan anggaran yang telah ditetapkan.
c. Upaya yang dilakukan antara lain:
1) Melakukan mitigasi dan mengambil langkah-langkah antisipasi lebih
cepat atas penundaan dan perubahan jadwal kegiatan;
2) Penyesuaian jadwal pelaksanaan kegiatan dilakukan tanpa
mempangaruhi target capaian kinerja yang telah ditetapkan;
3) Alokasi anggaran yang terkena dampak kebijakan pembatasan dan
penghematan direalokasi untuk kegiatan lain yang lebih mendesak;
4) Berupaya melaksanakan kegiatan sesuai jadwal yang telah ditetapkan;
5) Memonitor dan mempercepat proses tagihan pelaksanaan kegiatan
seperti tagihan hotel, honor kegiatan, honor tim, biaya diklat, dan
pembayaran atas pengadaan barang modal dan tagihan lainnya.
KEMENT
Direktora

C. K
d
y
1.
TERIANKEUANGA
atJenderalPenge
Beriku
tahun 2012
Denga
pada tahun
Kinerja lainn
Disampin
dengan SS t
yaitu:
Pelaksana
Pinjam
portofolio)
pembiayaa
dilaksanak
Negeri ya
Daerah se
Pengadaan
Untuk
Nomor 22
0
50
100
150
200
250
ANREPUBLIKINDO
elolaanUtang
ut ini adalah
2.
n demikian,
n 2012 dapa
nya
ng SS yang
ersebut dan
aan Pinjama
man Dalam
untuk mem
an terhadap
kan pada ta
ang dapat d
esuai klasifik
n dan Peneru
k Tahun An
Tahun 2011
0
0
201
1
ONESIA
h grafik pen
Penyerapan
, target pen
at tercapai de
g tersebut d
n lebih bers
n Dalam Ne
Negeri mer
menuhi keb
p Defisit A
ahun 2010 m
diikuti oleh
kasi dalam
usan Pinjam
nggaran 201
1 Tentang A
10
171.34
204.
nyerapan D
Grafik
n DIPA DJPU
ncapaian ind
engan baik.
di atas, terd
ifat outcome
egeri Tahun
rupakan div
butuhan Pe
APBN. Pinja
melalui Sele
h BUMN, P
PP Nomor
man Dalam N
12, telah d
Anggaran Pe
2011
93.01
74
Realisasi
IPA DJPU
3.5
U tahun 201
dikator perse
dapat beber
es, namun ti
n 2012
versifikasi s
merintah se
aman Dala
eksi Calon P
Perusahaan
r 54 Tahun
Negeri (PDN
ialokasikan
endapatan d
97.33
Pagu
pada tahun
10-2012
entase peny
rapa kinerja
idak menjad
sumber pem
ebagai alter
m Negeri
Pemberi Pin
Daerah dan
2008 tenta
N) oleh Peme
dalam Un
dan Belanja N
2012
52.22
54.1
n 2010 samp
yerapan DIP
a yang terka
di IKU DJP
mbiayaan (ne
rnatif sumb
pertama k
njaman Dala
n Pemerint
ng Tata Ca
erintah.
ndang-Undan
Negara Tahu
11
pai

PA,
ait
PU,
ew
ber
ali
am
ah
ara
ng
un
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
125
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Anggaran 2012, Pembiayaan melalui PDN untuk memenuhi kebutuhan belanja
Alut Polri dan Alutsista TNI/Kementerian Pertahanan.
Pelaksanaan PDN Tahun Anggaran 2012 untuk komitmen sebesar Rp1 Triliun
telah selesai dilaksanakan, dengan pemenang adalah PT. Bank Pembangunan
Daerah Jawa Barat dan Banten, Tbk. Kontrak PDN telah ditandatangani pada
tanggal 11 Juni 2012.
Implementasi Perjanjian PDN menggunakan mekanisme Credit Line, dimana
perjanjian dibuat dalam bentuk General Agreement (Perjanjian Induk) yang
mengatur Pinjaman secara umum dan Individual Contract Loan Agreement
(Perjanjian Realisasi) yang syarat dan ketentuannya disesuaikan dengan masing-
masing Kontrak Jual Beli (KJB) untuk Alut Polri dan Alutsista TNI berkenaan.
Naskah Perjanjian Induk PDN dengan PT. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat
dan Banten, Tbk. senilai Rp1 Triliun telah ditandatangani pada tanggal 29 Juni
2012.
2. Pelaksanaan Pinjaman Kreditor Swasta Asing (KSA) Tahun 2012
Pelaksanaan seleksi calon Kreditor Swasta Asing (KSA) merupakan implikasi
dari ketentuan dalam Pasal 27 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 Tahun 2011
tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah yang
mengatur bahwa untuk pinjaman yang ditetapkan bersumber dari KSA, maka
pengadaan pembiayaannya dilaksanakan secara terpisah dengan pengadaan
barang/jasa berkenaan. Hal ini merupakan hal yang baru dan berbeda dengan
ketentuan dalam PP pendahulunya (PP No.2 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman
dan/atau Hibah Luar Negeri) di mana pengadaan pembiayaan baik yang
bersumber dari KSA (sebelumnya disebut komersial) maupun yang bersumber
dari Lembaga Penjamin Kredit Ekspor (LPKE) satu paket dengan pengadaan
barang/jasa berkenaan.
Berkenaan dengan hal tersebut, Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata
Cara Pengadaan Pembiayaan dari KSA (PMK PKSA) telah ditetapkan dan
diundangkan pada tanggal 30 Januari 2012 dengan Nomor 14/PMK.08/2012.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
126
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Proses seleksi calon KSA melalui tahapan sebagaimana tertuang dalam PMK
PKSA dimulai sejak Executing Agency menyampaikan Surat Konfirmasi Pengadaan
Barang dan Jasa (SKPBJ) kepada Kemenkeu yang telah dapat dilakukan sejak
pemenang kontrak mendapat penetapan. Selanjutnya dilakukan proses persiapan
seleksi oleh unit struktural DJPU, termasuk:
a. Proses shortlisting KSA;
b. Penyampaian Request For Interest/RFI kepada shortlisted KSA;
c. Penerimaan Letter of Interest/Surat Pernyataan Kesediaan Pembiayaan (SPKP)
dari calon KSA (selama 14 hari kerja); dan
d. Perhitungan benchmark (dilakukan menjelang evaluasi).
Berdasarkan hasil penerimaan SPKP oleh unit struktural, pelaksanaan seleksi
kemudian dilakukan oleh Panitia Seleksi dibantu Tim Sekretariat, meliputi:
a. Penyampaian Request for Proposal/RFP;
b. Penerimaan Loan Proposal/Surat Tawaran Pembiayaan (STP), selama 21 hari
kerja;
c. Pelaksanaan evaluasi atas STP;
d. Penyampaian rekomendasi pemenang kepada Direktur Jenderal Pengelolaan
Utang;
e. Penyampaian pemenang seleksi; dan
f. Penerimaan Letter of Commitment dari pemenang seleksi.
Dalam hal ini, penetapan pemenang dilakukan oleh Direktur Jenderal
Pengelolaan Utang. Setelah proses seleksi selesai, pemenang seleksi akan
menyampaikan Letter of Commitment kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Utang
untuk diteruskan kepada unit struktural yang menangani pinjaman dari cabang
negara yang diwakili oleh pemenang seleksi untuk ditindaklanjuti dengan
pelaksanaan negosiasi Loan Agreement (selain financial terms and conditions) sampai
dengan penandatanganannya.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
127
2012 DJPU L LA AK KI IP P
3. Penyelesaian Revisi SKB Tahun 2003 tentang penyelesaian BLBI (Menko
Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Gubernur BI)
Revisi SKB Tahun 2003 tentang penyelesaian BLBI (Menko Perekonomian,
Menkeu dan Gubernur BI) telah ditandatangani pada tanggal 31 Juli 2012. Adapun
pokok-pokok SKB tersebut antara lain:
a. Restrukturisasi SRBI-01, sebesar Rp126,7 triliun;
b. Menyesuaikan kewajiban Pemerintah untuk menutup kekurangan modal BI
sesuai dengan UU BI yaitu apabila kurang dari Rp2 triliun; dan
c. Pemerintah dapat melakukan pelunasan SRBI-01/MK/2003 lebih cepat dengan
cara konversi SRBI-01 menjadi SBN tradable dengan persyaratan dan ketentuan
yang disepakati bersama antara Pemerintah dan BI.
4. Penyiapan Pelaksanaan Konversi SUP menjadi SBN Tradable
Yang telah dilakukan DJPU dalam rangka persiapan pelaksanaan konversi
antara lain:
a. Sesuai dengan pertemuan tanggal 28 Agustus 2012, Menkeu pada prinsipnya
setuju dengan draft final SKB restrukturisasi dan/atau konversi SUP
dimaksud, namun demikian DJPU diminta untuk membuat bahan presentasi
yang lebih detil, antara lain mencakup hasil audit BPK terhadap bank rekap,
sejarah bank rekap, sejarah BLBI, dan data-data dari BPPN. Wamen II diminta
menjadi koordinator penyiapan bahan-bahan dimaksud termasuk dari sumber
yang kredibel, yaitu pejabat yang terlibat dalam proses rekap dan BLBI;
b. Draft paper terkait obligasi rekap dan bahan presentasi yang lebih detil serta
diagram skematik terkait sejarah SU1, SU2, SU3, dan SU4 telah disampaikan
kepada Sekretariat Jenderal c.q. Pushaka pada tanggal 2 Oktober 2012;
c. Telah dilaksanakan rapat dengan Biro Hukum Kementerian Keuangan dan
Internal DJPU pada tanggal 30 Oktober 2012 dengan agenda rapat
Pembahasan tanggapan surat Gubernur Bank Indonesia kepada Menteri
Keuangan mengenai tindak lanjut penyelesaian draft SKB Restrukturisasi
dan/atau Konversi Surat Utang Pemerintah menjadi SBN tradable (SKB
Konversi);
d. Telah dilaksanakan rapat lanjutan dengan Bank Indonesia, Biro Hukum
Kementerian Keuangan dan Internal DJPU pada tanggal 7 November 2012
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
128
2012 DJPU L LA AK KI IP P
dengan agenda rapat Pembahasan surat Gubernur Bank Indonesia kepada
Menteri Keuangan mengenai tindak lanjut penyelesaian draft SKB
Restrukturisasi dan/atau Konversi Surat Utang Pemerintah menjadi SBN
tradable (SKB Konversi), dengan kesimpulan rapat:
1) Berhubung batas waktu tanggal 31 Oktober 2012 sudah terlampaui maka
pihak Kementerian Keuangan mengajukan usulan untuk melakukan
addendum ketentuan pasal II Perubahan SKB tahun 2003 yang telah
ditandatangani tanggal 31 Juli 2012;
2) Untuk sementara pihak Bank Indonesia belum dapat mengambil
keputusan terkait usulan addendum dari pihak tim teknis Kementerian
Keuangan. Namun demikian, tim teknis Bank Indonesia mengusulkan agar
kiranya pihak Kementerian Keuangan untuk tetap menyampaikan jawaban
atas Surat Gubernur Bank Indonesia sebagai dasar untuk koordinasi
internal lebih lanjut di Bank Indonesia;
3) Updating proyeksi modal BI terkini akan disampaikan apabila penyelesaian
restrukturisasi mendekati tahap akhir; dan
4) Masing-masing pihak akan melaporkan hasil pertemuan ini kepada
Pimpinan dan tetap berkoordinasi atas perkembangan SKB konversi.
e. Surat Menteri Keuangan telah disampaikan kepada Gubernur Bank Indonesia
melalui surat nomor: S-860/MK.08/2012 tanggal 3 Desember 2012 mengenai
Penyampaian Tanggapan terkait Tindak Lanjut Penyelesaian Draft SKB
Restrukturisasi dan/atau Konversi SUP menjadi SBN Tradable (SKB Konversi).
5. Implementasi Crisis Management Protocol pasar SBN sebagai salah satu sub-
protocol dalam CMP-Nation Wide;
CMP Pasar SBN telah terintegrasi dengan CMP Nation Wide atau CMP
Nasional. CMP Nasional merupakan pedoman dan tata cara dalam melaksanakan
langkah-langkah pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan secara
nasional. CMP Nasional merupakan integrasi dari CMP Nilai Tukar, Perbankan,
Lembaga Keuangan Bukan Bank (asuransi, dana pensiun, dan perusahaan
pembiayaan), Pasar Modal, Pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan Fiskal. CMP
Nasional diintegrasikan melalui peran koordinator di masing-masing lembaga
yang berfungsi sebagai penghubung dalam pertukaran data dan informasi
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
129
2012 DJPU L LA AK KI IP P
surveillance terhadap indikator CMP di masing-masing lembaga. Hasil surveillance
tersebut mengindikasikan kondisi normal atau kondisi tidak normal (waspada,
siaga, atau mengarah krisis). Indikasi kondisi dimaksud kemudian menjadi dasar
pelaksanaan koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas
Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan, serta menjadi dasar bagi proses
pengambilan keputusan yang dilakukan melalui Forum Koordinasi Stabilitas
Sistem Keuangan (FKSSK).
Dalam kondisi normal, FKSSK wajib melakukan pemantauan dan evaluasi
stabilitas sistem keuangan, melakukan rapat koordinasi, memberikan rekomendasi
kepada setiap anggota untuk melakukan tindakan dan/atau membuat kebijakan
dalam rangka memelihara stabilitas sistem keuangan, dan melakukan pertukaran
informasi. Dalam kondisi tidak normal, tiap anggota FKSSK yang
mengindikasikan adanya krisis pada sistem keuangan, dapat mengajukan ke
FKSSK untuk mengadakan rapat koordinasi untuk memutuskan langkah-langkah
pencegahan atau penanganan krisis.
DJPU juga telah mempunyai Crisis Binder Pasar SBN yang merupakan
panduan rinci dalam melakukan langkah pencegahan dan penanganan krisis pasar
SBN. Crisis Binder Pasar SBN telah terintegrasi dengan Crisis Binder Sekretariat
FKSSK yang merupakan gabungan crisis binder Kementerian Keuangan (Pasar SBN
dan Fiskal), Bank Indonesia (Nilai Tukar dan Perbankan), OJK (Pasar Modal dan
Lembaga Keuangan Bukan Bank), dan LPS (Perbankan).
DJPU telah terlibat secara aktif dalam memberikan kontribusi assessment pasar
SBN, market update harian CMP Pasar SBN, menghadiri pertemuan-pertemuan Tim
Teknis Sekretariat FKSSK, Deputies Meeting, maupun pertemuan FKSSK antara
Menteri Keuangan, Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner OJK dan Ketua
Dewan Komisioner LPS, menghadiri capacity building/seminar/workshop dalam
stabilitas sistem keuangan, serta aktif dalam simulasi CMP nasional (fire drill).
6. Investor Gathering
Investor Gathering adalah agenda tahunan DJPU yang diselenggarakan sebagai
sarana untuk menyampaikan informasi mengenai pencapaian, arah kebijakan dan
strategi pengelolaan utang serta untuk mengetahui tanggapan dari para
pemangku kepentingan (stakeholder) DJPU atas kebijakan tersebut.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
130
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Pelaksanaan investor gathering DJPU tahun 2012 diselenggarakan pada tanggal
29 November 2012 bertempat di Ruang Mezzanine, Gedung Djuanda I lantai M,
Jakarta Pusat.
7. Penyelenggaraan Dealer Meeting
DJPU secara rutin menyelenggarakan pertemuan dengan dealer utama (dealers
meeting) dengan tujuan untuk memberikan update informasi serta memperoleh
masukan mengenai penerapan kebijakan baru, baik yang masih dalam tataran
proses pengambilan keputusan maupun yang telah ditetapkan terkait dengan
pengelolaan SBN. Selain itu, pertemuan tersebut juga dimaksudkan untuk
menyampaikan evaluasi kinerja dealer utama selama periode tertentu dan
memperoleh kondisi pasar terkini yang diharapkan dapat menunjang
pengambilan kebijakan pengelolaan SBN. Adapun rincian penyelenggaraan dealers
meeting pada tahun 2012 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.28
Rincian penyelenggaraan dealers meeting pada tahun 2012
No Tanggal Agenda
1
28 Februari 2012 Diskusi mengenai perkembangan kondisi pasar
terkini
2
31 Mei 2012 a. Pembahasan Rancangan Peraturan Menteri
Keuangan tentang Penjualan Surat Utang
Negara Dalam Valuta Asing di Pasar Perdana
Domestik Dengan Cara Bookbuilding; dan
b. Pembahasan Rancangan Peraturan Menteri
Keuangan tentang Lelang Surat Utang Negara
Dalam Mata Uang Rupiah dan Valuta Asing di
Pasar Perdana Domestik.
3
10 Agustus 2012 a. Evaluasi kinerja Dealer Utarna Semester I tahun
2012; dan
b. Diskusi mengenai perkernbangan kondisi
pasar terkini
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
131
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No Tanggal Agenda
4
8 November 2012 Evaluasi kinerja dealer utama dan rencana
transaksi SUN pada tahun 2013
8. Penyelenggaraan Analysts Meeting
Dalam rangka memperoleh update informasi mengenai perkembangan pasar
terkini serta outlook perekonomian global dan domestik, DJPU secara rutin
mengadakan pertemuan dengan analis (analyst meeting). Pada tahun 2012, analyst
meeting yang dilakukan oleh DJPU adalah sebagai berikut:
Tabel 3.29
Penyelenggaraan Analysts Meeting Tahun 2012
No. Tanggal Topik
1 13 Januari 2012 Perkembangan pasar terkini serta outlook
perekonomian global dan domestik
2 22 Februari 2012 Perkembangan pasar terkini serta outlook
perekonomian global dan domestik
3 5 April 2012 Diskusi mengenai kebijakan pengelolaan Surat Utang
Negara
4 27 April 2012 Perkembangan pasar terkini serta outlook
perekonomian global dan domestik
5 28 Mei 2012 Pertemuan Menteri Keuangan dengan para Analis
dan Pengamat Ekonomi
9. Koordinasi dan Kerjasama dengan Instansi maupun Pelaku Pasar baik
Domestik maupun Internasional
DJPU juga melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan hubungan
kelembagaan dengan lembaga-lembaga terkait dengan pengelolaan SBN seperti
lembaga rating, komunikasi dengan publik meliputi berbagai kalangan masyarakat
mencakup akademisi, kalangan profesional, dan pelaku pasar terutama investor,
serta pengembangan basis investor agar dapat menjaga debt sustainability. Selain
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
132
2012 DJPU L LA AK KI IP P
itu, hal ini juga diharapkan agar DJPU dapat selalu mengetahui informasi yang
berkembang baik dari internal Pemerintah maupun pihak eksternal.
Adapun rincian forum kerja sama domestik dan internasional pada tahun 2012
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.30
Partisipasi dalam forum regional dan internasional tahun 2012
No. Tanggal Tempat Agenda
1 8 - 9 Februari 2012 Hongkong ASEAN + 3 Bond Market Forum
(ABMF)
2 9 April 2012 Indonesia AMRO Visit
3 17 - 18 April 2012 Filipina ASEAN + 3 Bond Market Forum
(ABMF)
4 16 April 12 Indoneisa ADB Bond Monitor Launch
5 13 - 15 Juni 2012 Turki Gemloc Investor-Country Conference
and Advisory Services Workshop
6 21 - 22 November
2012
Thailand 10th Meeting of ASEAN+3 Bond
Market Forum (ABMF)
Selain beberapa forum kerja sama regional dan internasional di atas, DJPU juga
mengikuti beberapa forum domestik diantaranya Investor Summit yang
diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia pada tanggal 28 November 2012 di
Jakarta dan 5 Desember 2012 di Surabaya.
10. Sharing knowledge dengan negara lain
Selain sosialisasi yang dilaksanakan di berbagai perguruan tinggi, DJPU juga
aktif dalam proses sharing knowledge dengan negara lain yang mengirimkan
delegasinya. Pada tahun 2012, sharing knowledge yang dilakukan oleh DJPU untuk
negara lain adalah sebagai berikut:
a. Sharing knowledge dalam rangka Kerja Sama Selatan-selatan dan Triangular
(KSST) pada tanggal 17 September 2012 bertempat di Ruang Rapat Bhinneka
Tunggal Ika, Gedung Frans Seda (DJPU), Jakarta;
b. Delegasi dari Kerajaan Bhutan pada tanggal 5 s.d. 7 November 2012;
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
133
2012 DJPU L LA AK KI IP P
c. Capacity building untuk negara Brunei, Cambodia, Laos, Myanmar, dan
Vietnam (BCLMV) pada tanggal 7 November 2012 bertempat di Ruang Rapat
Bhinneka Tunggal Ika, DJPU, Jakarta; dan
d. BCLMV Knowledge Support - Kick off Seminar pada tanggal 6 s.d. 7 Desember
2012 bertempat di Shanghai, China.



Suasana Capacity building untuk negara Brunei, Cambodia, Laos, Myanmar, dan Vietnam
(BCLMV) pada tanggal 7 November 2012
Kegiatan sharing knowledge bersama delegasi dari Kerajaan Bhutan
pada tanggal 5 November 2012
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
134
2012 DJPU L LA AK KI IP P
11. Monitoring opini publik
Menjaga kredibilitas pengelolaan utang yang baik sangat penting untuk
menunjang pengembangan pasar utang karena dapat menigkatkan kepercayaan
investor dalam berinvestasi di utang. Salah satu cara untuk menjaga kredibilitas
pengelolaan utang tersebut adalah dengan melakukan monitoring opini publik
agar pemberitaan yang beredar di media masa sesuai dengan fakta pengelolaan
utang. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menunjang proses
monitoring opini publik, pada tahun 2012 DJPU melakukan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
a. Analisis pemberitaan media
DJPU melakukan inventarisasi pemberitaan media masa terkait dengan
pengelolaan utang secara harian untuk kemudian dianalisis secara berkala.
Pada awalnya analisis pemberitaan media dilakukan secara berkala tiap
kuartal, namun dengan mempertimbangkan tingkat akurasi dan update analisis
pemberitaan media tersebut maka analisis dilakukan secara bulanan.
b. Tanggapan atas pemberitaan negatif
Selain melakukan pemantauan dan analisis pemberitaan media, DJPU juga
secara aktif melakukan tanggapan atas pemberitaan negatif yang berkembang
di media masa baik langsung maupun melalui Biro Komunikasi dan Layanan
Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Beberapa tanggapan
yang dilakukan oleh DJPU melalui Biro Komunikasi dan Layanan Informasi
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.31
Tanggapan DJPU atas pemberitaan negatif terkait pengelolaan utang
No Tanggal Keterangan
1. 30 Mei 2012 Tanggapan pemberitaan negatif mengenai pengelolaan
utang Pemerintah di beberapa media cetak pada tanggal 28
Mei 2012
2. 7 September
2012
Tanggapan atas pemberitaan di Koran Jakarta pada tanggal
7 September 2012 dengan judul artikel "Pembayaran
Obligasi Rekap Miskinkan Generasi Mendatang"
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
135
2012 DJPU L LA AK KI IP P
12. Publikasi / informasi dalam rangka transparansi pengelolaan SBN
Untuk menjaga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan SBN
yang transparan dan akuntabel, DJPU secara aktif melakukan publikasi dalam
rangka transparansi pengelolaan SBN melalui siaran pers, press conference, update
informasi di website, dan memberikan tanggapan atas pertanyaan dan permintaan
data yang dilaksanakan langsung oleh DJPU dan/atau bekerja sama dengan Biro
Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI), Sekretariat Jenderal Kementerian
Keuangan.
Tabel 3.32
Realisasi publikasi pengelolaan SUN tahun 2012

Penyampaian informasi kepada publik juga dilaksanakan melalui konferensi
pers yang dilaksanakan bekerja sama dengan Biro Komunikasi dan Layanan
Informasi (KLI), Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan. Adapun rincian
konferensi pers yang dilaksanakan selama tahun 2012 adalah sebagai berikut:

Tabel 3.33
Penyelenggaraan konferensi pers Tahun 2012
No. Tanggal Tema
1. 26 Januari 2012 Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN)
tahun 2012
2. 27 April 2012 Penerbitan Second Drawdown GMTN 2012
Renc Rea
1 Siaran Pers Terkait Transaksi SUN Sesuai Kalender Penerbitan 46 60 120%
2
Data perkembangan SUN
(bahan penyusunan buku saku)
Sebulan sekali 12 12 100%
3 Presentasi investor meeting Sebulan 2 kali +tiap ada kunjungan investor 24 24 100%
4 Bahan update di web 636 1.116 120%
- Posisi outstanding
sebulan min. 3 kali (awal, akhir, & apabila ada
perubahan outstanding utang)
45 192
- Perdagangan ON domestik seri benchmark 1 minggu sekali (2 bahasa) 120 296
- Perdagangan rata-rata harian ON domestik
berdasarkan sektor
1 bulan sekali (2 bahasa) 30 22
- Perdagangan rata-rata harian ON domestik 1 bulan sekali (2 bahasa) 30 22
- Kepemilikan SBN-dlm 2 bahasa Setiap hari (2 bahasa) 450 486
- Daftar kuotasi harga seri benchmark 1 minggu sekali (2 bahasa) 120 98
5 Berita terkait pengelolaan SUN dan jadwal lelang Sesuai event 1 14 120%
112%
Ket No. Uraian
Max
120%
2012
%
2012
Keterangan
Rata - rata
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
136
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No. Tanggal Tema
3. 29 Juni 2012 Presentasi obligasi rekap
4. 12 Juli 2012 Presentasi pengelolaan Surat Berharga
Negara (SBN)
5. 21 September 2012 Launching ORI009
6. 8 Oktober 2012 Penjatahan ORI009
13. Penyelesaian kajian instrumen terkait pengelolaan SBN
Secara berkelanjutan, DJPU terus berupaya melakukan pengembangan
instrumen SUN melalui berbagai macam kajian pengembangan instrumen SUN
untuk meningkatkan fleksibilitas Pemerintah dalam pembiayaan fiskal yang
bersumber dari dalam negeri (SUN rupiah) dan dari luar negeri (SUN valas)
sehingga dapat meningkatkan kapasitas sumber pembiayaan dan mengurangi
ketergantungan pembiayaan dari instrumen pembiayaan tertentu.
Selama tahun 2012, DJPU berhasil menyusun empat kajian pengembangan
instrumen SUN yaitu :
a) Kajian Samurai Bond tanpa Jaminan JBIC yang dilaporkan kepada Menteri
Keuangan melalui nota dinas Direktur Jenderal Pengelolaan Utang nomor ND-
32/PU/2012 tanggal 12 Februari 2012;
b) Kajian mengenai mekanisme distribusi ORI di pasar perdana yang dilaporkan
kepada Menteri Keuangan melalui nota dinas Direktur Jenderal Pengelolaan
Utang nomor ND-214/PU/2012 tanggal 26 November 2012;
c) Kajian liabilities management melalui buyback/debswitch ON Valas yang
dilaporkan kepada Menteri Keuangan melalui nota dinas Direktur Jenderal
Pengelolaan Utang nomor ND-213/PU/2012 tanggal 26 November 2012; dan
d) Kajian mengenai Penerbitan SUN Valas di Pasar Internasional dengan
menggunakan Format SEC Registered yang dilaporkan kepada Menteri
Keuangan melalui nota dinas Direktur Jenderal Pengelolaan Utang nomor ND-
238/PU/2012 tanggal 28 Desember 2012.
14. Penyiapan infrastruktur dalam rangka penerbitan SUN Valas Dalam Negeri
Beberapa upaya yang telah dilakukan dalam rangka penerbitan SUN Valas
dalam negeri antara lain:
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
137
2012 DJPU L LA AK KI IP P
a. Penyusunan kajian terkait penerbitan SUN Valas dalam negeri yang telah
selesai dilaksanakan;
b. Penerbitan PMK No.128/PMK.08/2012 tentang Penjualan SUN dalam Valas di
Pasar Perdana Domestik dengan Cara Bookbuilding;
c. Penyusunan RPMK tentang Penjualan SUN dalam Valas di Pasar Perdana
Domestik dengan Lelang yang saat ini sedang dalam proses.
d. Terkait dengan kesiapan sistem lelang dan penatausahaan setelmen serta agen
pembayaran untuk transaksi SUN Valas di pasar domestik, Pemerintah telah
menyampaikan surat kepada BI terkait matriks terms and conditions Obligasi
Negara berdenominasi USD di pasar domestik serta tindak lanjut persiapan
rencana penerbitan SUN valas di pasar domestik melalui metode bookbuilding
atau lelang dengan menggunakan BI SSSS.
Saat ini BI sedang menyiapkan sistem BI SSSS Generasi II untuk dapat
mengakomodasi transaksi SUN Valas (multi currencies) di pasar perdana domestik.
Telah dilakukan pertemuan dengan Tim BI SSSS, dimana BI menyatakan
kesanggupan untuk menyiapkan infrastruktur, dan ditargetkan dilakukan
simulasi pada semester I tahun 2013.
15. Penerbitan PBS (Project Base Sukuk)
Penerbitan instrumen SBSN baru berupa PBS (Project Base Sukuk), dengan
menggunakan akad Ijarah asset to be leased dan underlying asset berupa proyek-
proyek Pemerintah yang telah masuk dalam APBN tahun 2012, sebesar Rp30,3
triliun atau 53,12% dari total penerbitan SBSN tahun 2012, terdiri dari:
a. Lelang SBSN seri PBS Rp16,7 triliun;
b. Sukuk Ritel SR-004 Rp13,6 triliun.
16. Pengendalian Utang Pemerintah
a. Batas Maksimal Pinjaman Luar Negeri
Batas Maksimal Pinjaman Luar Negeri (BMPLN) merupakan indikasi batas
tertinggi penarikan PLN yang dapat dialokasikan dalam APBN. Tujuan dari
penyusunan BMPLN adalah untuk mengendalikan pinjaman luar negeri dari
segi jumlahnya dalam periode jangka menengah. Penyusunan BMPLN
disesuaikan dengan strategi utang jangka menengah dan menjadi salah satu
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
138
2012 DJPU L LA AK KI IP P
pertimbangan dalam menyusun Rencana Pemanfaatan Pinjaman Luar Negeri
(RPPLN). BMPLN ditinjau kembali (review) setiap tahun untuk disesuaikan
dengan perkembangan kebutuhan pembiayaan tahunan. Review tersebut untuk
mengetahui jumlah komitmen yang telah dilakukan, dan untuk menyesuaikan
kembali dengan arahan kebijakan pengelolaan utang.
Hasil review tahun 2012 menunjukkan bahwa implementasi BMPLN tahun
2013 telah sesuai bila dilihat dari sisi penerapan kebijakan net negative transfer,
namun perlu ditingkatkan kembali dengan cara mempertajam fungsi BMPLN
sebagai alat pengendalian pinjaman luar negeri. Di samping itu, terdapat
perubahan-perubahan yang perlu diakomodasi dalam peningkatan kualitas
pengelolaan pinjaman luar negeri baik dari sisi kuantitatif maupun kualitatif.
Sehubungan dengan hal-hal tersebut, perlu dipertimbangkan untuk menyusun
revisi BMPLN yang dapat mengakomodasi perubahan-perubahan dimaksud,
yaitu:
1) Percepatan penarikan atas stock undisbursed;
2) BMPLN perlu menetapkan batasan komitmen pinjaman luar negeri baru
secara absolut;
3) Perlunya pembagian batasan untuk pinjaman luar negeri bagi pemerintah
pusat dan penerusan pinjaman;
4) Perlu penyesuaian BMPLN dengan Strategi Pengelolaan Utang Negara
2013-2016 antara lain dengan mempertimbangkan;
a) Pembiayaan melalui pinjaman luar negeri untuk periode 2014-2016
hanya untuk kegiatan dalam rangka infrastruktur, energi, dan
pembangunan Minimum Essential Force (MEF); dan
b) Menghentikan komitmen baru pinjaman tunai/program mulai tahun
2014. Pinjaman tunai/program yang dapat dilaksanakan merupakan
implementasi dari pinjaman-pinjaman untuk program yang masih
berjalan (on-going); dan
c) Kegiatan-kegiatan yang diperkirakan tidak dapat terselesaikan pada
akhir periode jangka menengah diusulkan untuk tidak dilanjutkan.
b. Pengendalian Pinjaman Dalam Negeri
Pelaksanaan Pinjaman Dalam Negeri (PDN) masih dalam tahap awal yang
memerlukan familiarity dan berbagai penyempurnaan di setiap tahapan. Untuk
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
139
2012 DJPU L LA AK KI IP P
itu, besaran alokasi PDN untuk kurun waktu 2010-2014 ditetapkan dengan
jumlah yang relatif kecil dengan alokasi setiap tahun sebesar Rp1 triliun. Pada
kuartal 4 tahun 2012, telah dilaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan PDN
untuk periode 2010-2012. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa secara umum
pelaksanaan PDN masih mengalami berbagai hambatan yang mengakibatkan
realisasi penyerapan yang tidak optimal.
Permasalahan pelaksanaan PDN tersebut diantaranya adalah kurang
akuratnya perencanaan kegiatan dan terlambatnya pelaksanaan kegiatan atau
penyediaan barangnya oleh pihak ketiga. Hingga 31 Oktober 2012, total
outstanding PDN adalah sebesar Rp1,38 triliun. Jumlah tersebut telah
memperhitungkan realisasi pembayaran pokok sebesar Rp70,63 miliar dimana
sesuai persyaratan dan ketentuan dalam masing-masing perjanjian pinjaman,
pembayaran pokok dilakukan mulai Semester II Tahun 2012.

c. Batas Maksimal Penerbitan SBSN untuk Pembiayaan Proyek
Dalam rangka efisiensi pengelolaan utang, diperlukan pengembangan
instrumen yang dapat digunakan untuk pembiayaan. Salah satu yang
dilakukan adalah penerbitan SBSN dengan skema project financing. Salah satu
peran DJPU agar instrumen ini dapat digunakan adalah penetapan indikasi
proyek yang akan dibiayai dari penerbitan SBSN yang meliputi besaran dan
jenis/kriteria proyek yang siap dilaksanakan. Penetapan indikasi tersebut
dilakukan dengan Batas Maksimal Penerbitan SBSN untuk membiayai proyek
(BMP-SBSN Proyek) yang bersifat tahunan dan digunakan sebagai dasar
penyusunan resource envelope dan penetapan pagu anggaran.
Pemenuhan dan kesesuaian dengan prinsip-prinsip syariah merupakan
salah satu kriteria proyek yang akan dibiayai dengan SBSN. Selain itu, proyek
yang dibiayai harus memenuhi readiness criteria sesuai ketentuan yang berlaku
dengan tetap memperhatikan kualitas penyiapannya. Keberhasilan penerbitan
SBSN dengan skema project financing mensyaratkan koordinasi intensif dalam
penyediaan pembiayaan, serta disiplin dalam pelaksanaan proyek secara tepat
waktu. BMP-SBSN sebagai pedoman bagi Bappenas dalam melakukan
perencanaan kegiatan yang akan dibiayai dengan penerbitan SBSN.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
140
2012 DJPU L LA AK KI IP P
17. Penerapan Asset Liability Management
Visi Kementerian Keuangan adalah Menjadi Pengelola Keuangan dan
Kekayaan Negara yang Dipercaya dan Akuntabel untuk Mewujudkan Indonesia
yang Sejahtera, Demokratis, dan Berkeadilan". Dalam mewujudkan visi tersebut
dilakukan reformasi pengelolaan keuangan negara dimana salah satu area yang
menjadi sasaran adalah pengelolaan risiko keuangan negara yang berkaitan
dengan Neraca Keuangan (balance sheet) Pemerintah. Dalam kerangka kerja
pengelolaan risiko keuangan negara tersebut mulai diperkenalkan sistem
pengelolaan risiko keuangan negara dengan menggunakan pendekatan Asset
Liability Management (ALM).
ALM dapat didefinisikan sebagai suatu teknik pengelolaan risiko keuangan
negara yang berkaitan dengan Neraca Keuangan Pemerintah dengan
mengkoordinasikan pengelolaan aset dan pengelolaan kewajiban untuk
mengendalikan risiko keuangan negara dalam rangka mencapai efisiensi dan
efektivitas pengelolaan keuangan negara. Risiko keuangan negara yang dicakup
dalam ALM antara lain risiko likuiditas dan risiko pasar (risiko tingkat bunga dan
risiko nilai tukar).
Untuk mengelola keuangan Pemerintah dengan menggunakan ALM
dibutuhkan suatu sistem Teknologi Informasi yang terintegrasi sehingga dapat
memberikan gambaran posisi keuangan pemerintah utamanya eksposur risiko dan
dampak yang terjadi terhadap eksposur risiko dimaksud apabila terjadi
perubahan faktor ekonomi makro dan pasar keuangan. Adanya sistem informasi
ALM dapat membantu pengambil keputusan dalam memahami kondisi risiko
keuangan negara pada suatu waktu secara komprehensif sehingga menunjang
pelaksanaan pengelolaan risiko keuangan yang dihadapi Pemerintah secara
optimal.
Pembangunan IT ALM System dimulai pada tahun 2011 berupa pengadaan
hardware, software, dan aplikasi dasar ALM yang utamanya terkait dengan proyeksi
cash flow Pemerintah. Pada tahun 2012, IT ALM System yang telah dibangun pada
tahap I tersebut di atas, dilanjutkan dengan pembangunan aplikasi pengelolaan
risiko keuangan Pemerintah berdasarkan ALM framework yang dilengkapi dengan
simulasi yang dinamis dan stress test terhadap pengelolaan risiko tersebut.
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
141
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Dalam rangka penerapan ALM secara komprehensif, telah dilakukan
serangkaian koordinasi yang melibatkan unit-unit terkait di lingkungan
Kementerian Keuangan (DJPU, DJPb, DJA, BKF, dan Setjen) dibantu dengan Tim
Asistensi Penyempurnaan Sistem Treasury yang terdiri dari para praktisi pasar
keuangan khususnya perbankan, yang menguasai best practice penerapan ALM
perbankan untuk kiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan penerapan ALM
Kementerian Keuangan. Berikut rangkaian rapat koordinasi yang telah
dilaksanakan selama tahun 2012:

Tabel 3.34
Tahapan rapat koordinasi terkait penerapan IT-ALM
Tanggal Pokok Pembahasan
9 Maret 2012 ALM Framework
6 Juli 2012 Pembentukan Komite ALM dan Perkembangan IT ALM
System
8 Agustus 2012 Kick Off Meeting IT ALM System
14 Agustus 2012 Presentasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara
(SPAN)
14 September
2012
Penyampaian Hasil Kajian atas ALM Australia, Business
Requirement Document IT ALM Tahap II dan Organisasi ALM
25 Oktober 2012 Presentasi Konsultan terkait Progress Pembangunan IT ALM
System
6 November
2012
Koordinasi Kebutuhan dan Suplai Data IT ALM System
20 November
2012
Formula Proyeksi berdasarkan Driver IT ALM Kementerian
Keuangan
11 Desember
2012
Presentasi Konsultan terkait Progress Pembangunan IT ALM
System
18. Penerapan Fleksibilitas Pembiayaan Utang
Fleksibilitas pembiayaan utang merupakan suatu mekanisme yang untuk
mengganti instrumen utang yang digunakan untuk membiayai kegiatan prioritas
dengan instrumen utang yang lain yang lebih menguntungkan dan tersedia di
pasar keuangan. Tujuannya adalah untuk menjamin terlaksananya kegiatan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
142
2012 DJPU L LA AK KI IP P
prioritas dan untuk memperoleh instrumen utang yang lebih menguntungkan
bagi pemerintah. Mekanisme dapat dijalankan dalam hal terdapat instrumen
pembiayaan utang yang lebih menguntungkan dan/atau ketidaktersediaan salah
satu instrumen pembiayaan utang.
Pertimbangan tersebut menjadi relevan ketika kondisi pasar keuangan
internasional tidak kondusif sehingga menyebabkan ketidaktersediaan instrumen
pinjaman luar negeri atau pinjaman tersebut tersedia namun dengan cost of
borrowing yang tinggi. Dalam penerapannya, diperlukan upaya agar fleksibilitas
pembiayaan melalui utang dapat dilaksanakan, antara lain:
a. Perlu kepastian kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran
berkenaan;
b. Persyaratan efektif kontrak tidak dikaitkan dengan pembiayaan, namun
dipersyaratkan agar kegiatan telah disetujui oleh DPR melalui UU APBN;
c. Dengan adanya jaminan atas pembiayaan kegiatan, pemblokiran (tanda
bintang) anggaran tidak diperlukan; dan
d. Kementerian/Lembaga pelaksana kegiatan memastikan agar kegiatan dapat
dilaksanakan pada awal tahun anggaran berkenaan.
Selama tahun 2012, DJPU telah melakukan beberapa upaya agar kebijakan
fleksibilitas pembiayaan utang dapat dilaksanakan. Salah satu upaya yang telah
dilakukan yaitu dengan mengusulkan klausul mengenai fleksibilitas pembiayaan
utang dalam APBN-P tahun 2012 dan APBN tahun 2013. Klausul dimaksud
diperlukan mengingat dalam APBN yang berlaku, anggaran untuk masing-masing
instrumen pembiayaan melalui utang bersifat mengikat. Anggaran SBN dan
Pinjaman merupakan anggaran nilai bersih maksimal yang dapat dilaksanakan
oleh Pemerintah.
Selanjutnya, pelaksanaan fleksibilitas pembiayaan utang perlu didukung oleh
mekanisme operasional yang dituangkan dalam peratuan pelaksanaan. Oleh
karena itu, DJPU mengupayakan penyusunan Peraturan Menteri Keuangan yang
memuat operasionalisasi fleksibilitas pembiayaan utang. Peraturan dimaksud
diharapkan dapat ditetapkan pada tahun 2013 sehingga fleksibilitas pembiayaan
utang dapat segera terealisasi untuk mewujudkan jaminan ketersediaan
pembiayaan yang efektif dan efisien.

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
143
2012 DJPU L LA AK KI IP P
19. Penggunaan instrument derivatif dalam pengelolaan utang
Sebagai salah satu bentuk pengelolaan portofolio dan risiko utang, pemerintah
akan menggunakan transaksi lindung nilai (hedging) dengan menggunakan
instrumen derivatif di pasar keuangan. Dalam merealisasikan tujuan tersebut,
diperlukan infrastruktur yang memadai diantaranya adalah peraturan, teknologi
informasi, dan bisnis proses untuk mendukung kelancaran dan transparansi
pelaksanaannya.
Pada tahun 2012 telah disusun Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur
tentang penggunaan transaksi lindung nilai. Dalam peraturan tersebut diatur
tentang hal-hal sebagai berikut:
a. Pengaturan umum yang meliputi ketentuan umum, ruang lingkup, dan
tujuan transaksi lindung nilai;
b. Organisasi pelaksana yang meliputi pembagian tugas dan kewenangan
transaksi antara Meneri Keuangan, Dirjen PU, Komite dan unit-unit pelaksana
di internal DJPU;
c. Pelaksanaan transaksi lindung nilai yang mencakup perencanaan kebijakan
lindung nilai, identifikasi kebutuhan transaksi lindung nilai, pemilihan
counterparty lindung nilai, dan proses pelaksanaan transaksi;
d. Pelaksanaan pentausahaan transaksi lindung nilai yang mencakup
dokumentasi transaksi, penganggaran transaksi, setelmen transaksi dan
akuntansi dan pelaporan transaksi; dan
e. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi transaksi lindung nilai yang mencakup
kondisi dan kinerja counterparty serta efektivitas transaksi lindung nilai.
Namun demikian, pelaksanaan transaksi lindung nilai masih memerlukan
infrastruktur penunjang transaksi, diantaranya kebijakan sebagai pedoman
pelaksanaan lindung nilai, dan standar operasional prosedur (SOP) transaksi. Hal
lainnya yang akan dipersiapkan untuk mendukung pelaksanaan transaksi lindung
nilai yakni:
a. Penyesuaian perjanjian induk sesuai international best practice (ISDA Master
Agreement) yang disesuaikan dengan hukum bisnis di Indonesia;
b. Capacity building untuk meningkatkan pemahaman atas legal clauses dalam
dokumen ISDA agar tidak terjadi konflik hukum pada saat pelaksanaan
transaksi lindung nilai; dan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
144
2012 DJPU L LA AK KI IP P
c. Peningkatan pemahaman konsep lindung nilai terhadap seluruh stakeholder
untuk memperlancar pelaksanaannya.
20. Perkembangan pengelolaan kewajiban kontinjensi
Dalam rangka mendukung percepatan pembangunan infrastruktur diperlukan
campur tangan pemerintah mengingat besarnya kebutuhan dana investasi yang
dibutuhkan. Bentuk campur tangan pemerintah tersebut diantaranya dengan
menyediakan fasilitas pemberian jaminan kepada pelaksanaan proyek
infrastruktur.
Dukungan penjaminan pemerintah diterjemahkan dalam mekanisme
pembiayaan dengan penjaminan pemerintah dan kerjasama pemerintah dengan
swasta, dengan tujuan untuk memberikan kepastian investasi sehingga dapat
menarik minat investor/kreditur untuk berpartisipasi dalam pembangunan
infrastruktur. Namun di sisi lain, program ini memberikan konsekuensi timbulnya
kewajiban kontinjensi dan risiko fiskal, baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Untuk itu, diperlukan pengelolaan kewajiban kontinjensi yang prudent
dimulai dari proses evaluasi, mitigasi risiko transaksi, penerbitan jaminan
Pemerintah, sampai monitoring potensi gagal bayar.
Program yang mendapatkan penjaminan Pemerintah sampai dengan akhir
tahun 2012 adalah sebagai berikut:
a. Pemberian jaminan penuh terhadap pembayaran kewajiban PT PLN (Persero)
kepada kreditur yang menyediakan pendanaan Kredit Perbankan untuk FTP I.
Jumlah penjaminan program ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.35
Eksposur penjaminan pemerintah pada Proyek FTP I

Nilai Outstanding
Proyek
jutaUSD miliarRupiah
Total,ekuivalen
dlm.miliarRupiah
jutaUSD miliarRupiah
Total,ekuivalen
dlm.miliarRupiah
Pembangkit 3,958.7 30,279.0 68,559.8 3,137.4 20,626.6 50,965.6
Transmisi 5,938.0 5,938.0 4,673.9 4,673.9
EksposurePenjaminan 3,958.7 36,217.0 74,497.8 3,137.4 25,300.5 55,639.5
asumsikurs:Rp.9.670/USD
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
145
2012 DJPU L LA AK KI IP P
b. Pemberian jaminan sebesar 70% pembayaran kembali pokok kredit investasi
PDAM kepada perbankan dalam program percepatan penyediaan air minum
yang dilaksanakan oleh PDAM. Nilai penjaminannya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.36
Eksposur penjaminan pemerintah terhadap Proyek Percepatan Penyediaan
Air Minum

c. Pemberian jaminan kepada pengembang listrik swasta atas kelayakan usaha PT
PLN (Persero) untuk membeli tenaga listrik berdasarkan Perjanjian Jual Beli
Listrik pada program pembangunan pembangkit tenaga listrik dengan
menggunakan energi terbarukan, batubara, dan gas (FTP II).
Tabel 3.37
Eksposur penjaminan pemerintah pada Proyek FTP II

d. Program jaminan infrastruktur melalui skema Kerjasama Pemerintah Swasta
(KPS). Nilai penjaminan yang telah dilakukan sebesar Rp28,5 triliun untuk
pembangunan PLTU Jawa tengah yang dilaksanakan oleh PT Bhimasena Power
Indonesia.
21. Penyelesaian pembayaran biaya transfer pembayaran utang
Pembayaran utang pemerintah terhadap beberapa kreditor di luar negeri
menimbulkan beban biaya transfer antar rekening yang harus ditanggung. Setelah
(miliarrupiah)
PihakTerjamin Nilai Outstanding
PDAMKab.Ciamis 14.7 5.4
PDAMKab.Bogor 24.3 15.7
PDAMKab.LombokTimur 11.2 3.5
PDAMKotaMalang 110.0
EksposurePenjaminan 160.2 24.6
(miliarUSD)
Proyek PenerimaJaminan Nilai
PLTPRajabasa PT.SupremeEnergyRajabasa 663.3
PLTPMuaralaboh PT.SupremeEnergyMuaralaboh 602.7
PLTAWampu PT.WampuElectricPower 174.2
PLTPRantauDedap PT.SupremeEnergyRantauDedap 664.0
EksposurePenjaminan 2,104.2
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
146
2012 DJPU L LA AK KI IP P
dilakukan koordinasi dengan Bank Indonesia dan unit Eselon I terkait di
lingkungan Kementerian Keuangan, maka mulai tahun 2012, beban biaya transfer
pembayaran utang pemerintah ke luar negeri yang semula menjadi beban Bank
Indonesia telah dialihkan menjadi kewajiban Kementerian Keuangan yang
ditindaklanjuti dengan dilakukannya auto debet ke rekening biaya transfer yang
telah ditetapkan.
22. Penyusunan Laporan Evaluasi Kinerja dan Permasalahan Pinjaman
Dalam rangka mendukung amanat peraturan tata cara pemantauan dan
evaluasi atas pinjaman dan hibah kepada pemerintah dipandang perlu untuk
disusun Laporan evaluasi kinerja dan permasalahan pinjaman. Dengan penyunan
laporan ini maka dapat dilakukan identifikasi permasalahan yang dihadapi oleh
Kementerian/ Lembaga dalam pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari pinjaman
luar negeri yang meliputi kendala dalam penarikan dana pinjaman, kemajuan
fisik, proses pengadaan barang/jasa, maupun kendala-kendala lain yang
diketemukan dalam pelaksanaan pinjaman luar negeri.
23. Optimalisasi Sistem Aplikasi Debt Management Financial Analysis System
(DMFAS) untuk pemanfaatan pengelolaan pinjaman dan Surat Berharga Negara
Sejak tahun 1999 telah terdapat 2 (dua) aplikasi yang digunakan dalam rangka
pengelolaan utang pemerintah, yaitu Debt Management and Financial Analysis
System (DMFAS) untuk pengelolaan pinjaman dan Aplikasi Pusat Manajemen
Obligasi Negara (PMON) untuk pengelolaan Surat Berharga Negara. Dalam
rangka meningkatkan integrasi data utang, pada tahun 2012 telah dilakukan
kerjasama antara Kementerian Keuangan dengan United Nations Conference on
Trade and Development (UNCTAD) untuk melakukan ujicoba penyatuan sistem
aplikasi dan Database pengelolaan pinjaman dengan Surat Berharga Negara yang
diakomodir dengan pengembangan Aplikasi DMFAS versi 6.0.
D. Progress Destination Statement DJPU Tahun 2014
Selama tahun 2012, DJPU senantiasa berusaha untuk mencapai Destination
Statement yang telah ditetapkan. Adapun progress capaian Destination Statement
hingga akhir tahun 2012 adalah sebagai berikut:

KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
147
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.38
Progress Destination Statement DJPU


a. Opini BPK terhadap LK BA 999 01 dan LK BA 999 02.
Pada tahun 2014, ditargetkan bahwa Opini BPK atas LK BA Pengelolaan
Utang dan LK BA Pengelolaan Hibah mendapatkan Opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP).
Hal ini karena sejak tahun 2009 s.d. 2011, DJPU baru mendapatkan Opini
WTP untuk LK BA Pengelolaan Utang, adapun untuk LK BA Pengelolaan
Hibah masih mendapatkan Opini WDP.
b. Rasio pembayaran bunga/imbalan terhadap outstanding utang yang semakin
efisien.
Pada tahun 2014, ditargetkan rasio pembayaran bunga/imbalan terhadap
outstanding utang menjadi maksimum 5,5%. Penetapan target maksimum yang
sama dengan tahun 2013 dan lebih besar dari tahun 2012 bertujuan untuk
mengakomodasi peningkatan pembayaran bunga utang dengan asumsi tingkat
bunga yang diproyeksikan terjadi peningkatan rata-rata sebesar 8% (misalnya
yield SBN tenor 5 10 tahun dari kisaran 6,2% menjadi 6,7%), asumsi nilai
keterangan: perubahan target 2014 mengacu pada dokumen revisi strategi pengelolaan utang jangka
menengah tahun 2013-2016 yang dihitung berdasarkan MTDS World Bank
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
148
2012 DJPU L LA AK KI IP P
tukar rupiah terhadap valuta asing yang diproyeksikan melemah sebesar 4,5%,
dan alokasi biaya untuk pengelolaan utang (loss on bonds redemptions) yang
lebih besar dari realisasi tahun 2012. Asumsi nilai tukar dan tingkat bunga
merupakan faktor eksternal yang berada diluar kontrol pengelola utang
(DJPU) sehingga untuk mengantisipasi ketidakpastian kondisi pasar keuangan,
digunakan asumsi terjadi pemburukan tingkat bunga dan nilai tukar.
Selain itu, peningkatan rasio juga dipengaruhi oleh faktor pembagi yaitu
outstanding utang tahun 2014 yang meningkat hanya sebesar 7,5%, lebih rendah
dibandingkan peningkatan tahun 2013 sebesar 8,2%.
Namun, apabila kondisi makro ekonomi tahun 2014 sama dengan tahun
2013 dimana tidak terjadi pelemahan rupiah, serta peningkatan outstanding
utang tahun 2014 sama dengan tahun 2013, maka rasio pembayaran bunga
terhadap outstanding utang pada tahun 2014 akan lebih rendah dari tahun 2013.
Dengan demikian, peningkatan rasio bunga utang terhadap outstanding
utang tetap menunjukkan trend yang semakin efisien karena peningkatan rasio
tersebut telah mengakomodasi pemburukan kondisi pasar keuangan.
c. Rasio utang valas terhadap outstanding utang yang semakin menurun.
Pada tahun 2014, ditargetkan rasio utang valas terhadap outstanding utang
menjadi maksimum 43%, lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Rasio
porsi valas dalam outstanding utang yang semakin rendah menunjukkan
komitmen Pemerintah untuk memprioritaskan sumber pembiayaan dalam
negeri utamanya dalam mata uang rupiah, sekaligus mencerminkan semakin
rendahnya risiko nilai tukar (currency risk) dalam pengelolaan utang.
d. Risiko pembiayaan kembali (porsi utang jatuh tempo <3 tahun) yang semakin
terkendali.
Pada tahun 2014, ditargetkan risiko pembiayaan kembali (refinancing risk)
yang tercermin pada porsi utang jatuh tempo kurang dari 3 tahun tercapai
maksimum sebesar 25%, lebih tinggi dari tahun 2013. Peningkatan target ini
terutama akibat penerbitan SBN jangka pendek yang meningkat cukup
signifikan untuk membiayai tambahan gross utang baru yang meningkat tajam
akibat adanya SBN valas jatuh tempo pada tahun 2014 sebesar USD2,95 miliar
ekuivalen Rp29,2 triliun. Penerbitan SBN jangka pendek melalui SBN ritel
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
149
2012 DJPU L LA AK KI IP P
dengan tenor 3 tahun dan SPN diperlukan untuk meningkatkan peran investor
domestik terutama ritel dalam rangka mengakomodasi kebutuhan investor
potensial dan meminimalkan biaya utang (cost risk trade off) apabila kondisi
pasar keuangan benar-benar memburuk. Namun, apabila kondisi pasar
keuangan relatif stabil atau lebih baik dari kondisi saat ini sehingga upaya
pengelolaan portofolio melalui buyback dan debt switch SBN dapat dilakukan
secara optimal, maka porsi utang jatuh tempo kurang dari 3 tahun akan lebih
rendah dari porsi tahun 2013.
Dengan demikian, peningkatan porsi utang jatuh tempo yang kurang dari
3 tahun sebesar maksimum 25% tetap dapat mencerminkan risiko yang
terkendali karena telah mengakomodasi asumsi kondisi pasar keuangan yang
memburuk dan menyebabkan upaya pengelolaan portofolio tidak dapat
dilakukan secara optimal. Disamping itu, indikator ATM dari total utang pada
tahun 2014 ditetapkan minimal 9,4 tahun, dimana hal ini menunjukkan bahwa
risiko refinancing sebenarnya masih sangat terkendali.
e. Rasio tingkat bunga utang tetap (fixed rate) terhadap outstanding utang yang
semakin meningkat.
Pada tahun 2014, ditargetkan porsi utang dalam tingkat bunga tetap (fixed
rate) mencapai minimum 85%, lebih tinggi dari periode sebelumnya. Rasio
tingkat bunga tetap yang semakin meningkat menunjukkan semakin
rendahnya risiko volatilitas suku bunga (interest rate) sekaligus memberikan
kepastian yang lebih baik bagi Pemerintah dalam melaksanakan pengelolaan
utang.
f. Rasio utang terhadap PDB yang semakin rendah.
Pada tahun 2014, ditargetkan jika rasio utang terhadap PDB mencapai
maksimum 22%. Rasio utang terhadap PDB yang semakin rendah
menunjukkan kesinambungan fiskal yang semakin baik, meskipun secara
nominal utang mengalami peningkatan.
E. Perkembangan Pending Matters Renstra 2010-2014
Dalam hal pembiayaan APBN, tujuan dan sasaran tahun 2010-2014 sebagian
besar telah dapat dicapai dengan baik. Namun demikian, masih terdapat beberapa
target yang belum dapat terealisasikan (pending matters) antara lain penyediaan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
150
2012 DJPU L LA AK KI IP P
landasan hukum yang berkaitan dengan pemenuhan pembiayaan APBN, yang
sampai dengan saat ini masih dalam proses penyelesaian. Sampai dengan akhir
tahun 2012 masih terdapat 1 pending matters yaitu terkait penyusunan Undang-
Undang tentang Pinjaman Luar Negeri Pemerintah.
Rencana penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Pinjaman Luar Negeri
Pemerintah telah tercantum dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) periode
2005-2009. Sampai dengan akhir tahun 2010, Panitia Antar-Departemen (PAD)
penyusunan RUU Pinjaman Luar Negeri Pemerintah telah melaksanakan berbagai
kegiatan dalam rangka mengumpulkan bahan, masukan, dan menyelesaikan legal
drafting RUU. Namun demikian sampai dengan tahun 2010, pengajuan dan
pembahasan RUU Pinjaman Luar Negeri Pemerintah kepada Dewan Perwakilan
Rakyat belum dapat dilaksanakan.
Dinamika pembahasan RUU tentang Pinjaman Luar Negeri Pemerintah antara
lain menyangkut perubahan ketentuan/pasal dalam RUU yaitu perubahan lingkup
dan judul RUU, yakni semula RUU Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (RUU PHLN)
menjadi RUU Pinjaman Luar Negeri Pemerintah (RUU PLNP). Pertimbangannya
adalah pengaturan mengenai penerimaan hibah cukup dimuat dalam peraturan
setingkat Peraturan Pemerintah. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam
rangka menyelesaikan RUU PLNP antara lain melaksanakan rapat pembahasan,
melaksanakan roundtable discussion penyusunan RUU PLNP, melaksanakan bilateral
meeting dengan stakeholders utama terkait pengelolaan pinjaman luar negeri
pemerintah serta penyempurnaan Naskah Akademis sebagai pengantar
penyampaian RUU PLNP.
Pada awal tahun 2011, Panitia Antar-Departemen Penyusunan RUU Pinjaman
Luar Negeri Pemerintah telah menyelesaikan draf RUU dan telah dijadwalkan untuk
menyampaikan presentasi perkembangan penyusunan RUU PLNP kepada Menteri
Keuangan. Pada kesempatan presentasi tersebut disampaikan bahwa rencana
penyusunan RUU Pinjaman Luar Negeri Pemerintah tidak lagi masuk dalam
Program Legislasi Nasional (Prolegnas) periode 2010-2015 yang selanjutnya Menteri
Keuangan memberikan arahan agar kegiatan pembahasan RUU Pinjaman Luar
Negeri Pemerintah dihentikan karena tidak adanya RUU tersebut dalam Prolegnas
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
151
2012 DJPU L LA AK KI IP P
periode 2010-2015 serta pertimbangan bahwa pengelolaan pinjaman luar negeri
pemerintah cukup diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Berdasarkan arahan tersebut maka sejak tahun 2011 kegiatan pembahasan RUU
PLNP tidak ada lagi dalam rencana kegiatan DJPU, sehingga sampai dengan tahun
2012 pengelolaan pinjaman luar negeri diatur melalui Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman
Luar Negeri dan Penerimaan Hibah.
Tabel 3.39
Perkembangan Pending Matters Renstra 2010-2014
No Tahun 2011 Tahun 2012 Status
1 Penyusunan
Undang-Undang
tentang Pinjaman
Luar Negeri
Pemerintah
Penyusunan
Undang-Undang
tentang Pinjaman
Luar Negeri
Pemerintah
Pembahasan RUU Pinjaman
Luar Negeri Pemerintah
dihentikan, pengelolaan
pinjaman luar negeri pemerintah
cukup diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
2 Pengelolaan
portofolio dan risiko
utang pemerintah
dengan
menggunakan
instrumen derivatif
---- Pada tahun 2012 telah disusun
Peraturan Menteri Keuangan
yang mengatur tentang
penggunaan transaksi lindung
nilai dan telah disahkan melalui
PMK Nomor 12/PMK.08/2013
tentang Transaksi Lindung Nilai
pada tanggal 4 Januari 2013
F. Akuntabilitas Keuangan
Alokasi pagu awal tahun 2012 yang disediakan dalam rangka pembiayaan
pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada DJPU adalah sebesar Rp87,56miliar. Namun,
selama tahun 2012, DJPU mengalami lima kali revisi DIPA sehingga pagu terkahir
adalah Rp70,75miliar.
Capaian Realisasi Anggaran DJPU Tahun 2012 sebesar 96,33%. Berikut ini akan
disampaikan pagu dan realisasi anggaran Tahun 2012, sebagai berikut:
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
152
2012 DJPU L LA AK KI IP P
Tabel 3.40
Pagu dan Realiasi Anggaran Tahun 2012
(per belanja)
(dalam miliar rupiah)
No Belanja Pagu revisi Realisasi Realisasi (%)
1 Belanja Pegawai 16,636 15,932 95,77
2 Belanja Barang 43,604 42,111 96,58
3 Belanja Modal 10,509 10,110 96,20
J u m l a h 70,750 68,153 96,33
Tabel 3.41
Pagu dan Realiasi Anggaran Tahun 2012
(per program-kegiatan-output)
(dalam miliar rupiah)
No Uraian Pagu
revisi
Realisasi Realisasi
(%)
1. Program Pengelolaan dan
Pembiayaan Utang
70,75 67,953 96,05
a. Pelaksanaan Eevaluasi, Akuntansi,
dan Setelmen Utang
3,785 3,629 95,88
1) Laporan Pelaksanaan Evaluasi,
Akuntansi, Setelmen Utang
dan Hibah
2,787 2,673 95,86
2) SPM Pembayaran Kewajiban
Utang
0,997 0,956 95,92
b. Pengelolaan Pembayaran Syariah 4,633 4,501 97,16
1) Transaksi Pengelolaan
Portofolio SBSN
1,265 1,238 97,85
2) Layanan Pengembangan Pasar
SBSN
1,535 1,504 97,98
3) Laporan Analisis Dan
Keuangan Pasar SBSN
0,604 0,583 96,51
4) Dokumen Peraturan,
Dokumen Hukum Dan
Kebijakan Operasional
Pengelolaan SBSN
1,228 1,175 95,75
c.
Pengelolaan Pinjaman
4,49 4,467 99,49
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
153
2012 DJPU L LA AK KI IP P
No Uraian Pagu
revisi
Realisasi Realisasi
(%)
1) Dokumen Perjanjian Pinjaman
Dan Hibah
4,49 4,467 99,49
d.
Pengelolaan Strategi Dan Portofolio
Utang
2,432 2,325 95,58
1) Dokumen Strategi Pengelolaan
Utang
0,921 0,888 96,52
2) Rekomendasi Pengelolaan
Kewajiban Kontinjensi

0,896 0,861 96,09
3) Laporan Kepatuhan Dan
Manajemen Risiko
Pengelolaan Utang
0,615 0,574 93,44
e. Pengelolaan Surat Utang Negara 6,058 5,792 95,60
1) Transaksi Pengelolaan
Portofolio SUN
1,615 1,502 93,02
2) Layanan Pengembangan Pasar
SUN
1,839 1,766 96,04
3) Laporan Analisis dan
Pemutakhiran Informasi Pasar
Keuangan dan SUN
1,866 1,800 96,47
4) Dokumen Peraturan,
Kebijakan Operasional dan
Monitoring Pelaksanaan
Transaksi SUN
0,737 0,723 97,95
f. Dukungan Manajemen dan
Dukungan Teknis Lainnya Djpu
49,35 47,238 96
1) Layanan Perkantoran 29,912 28,645 95,76
2) Dokumen Perencanaan 4,685 4,375 93,38
3) Laporan Keuangan dan
Kegiatan
2,918 2,674 91,66
4) Layanan Kepegawaian 2,022 1,943 96,11
6) Perangkat Pengolahan Data 0,779 0,767 98,32
7) Peralatan Fasilitas Perkantoran 5,579 5,379 96,41
8) Gedung Dan Bangunan 3,454 3,454 100
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
154
2012 DJPU L LA AK KI IP P
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.01/2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Pengelolaan
Utang memiliki tugas untuk melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di
bidang pengelolaan utang sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri
Keuangan. Sebagai organisasi pengelola utang, DJPU memiliki 3 peran strategis,
yakni:
1. Memenuhi pembiayaan APBN yang bersumber dari utang;
2. Mewujudkan kesinambungan fiskal melalui pengelolaan portofolio dan risiko
utang; dan
3. Pengembangan pasar yang dalam, aktif, dan likuid.
Dalam rangka melaksanakan peran strategis tersebut di atas, pada tahun 2012
DJPU telah menetapkan target kinerja yang akan dicapai dalam bentuk Kontrak
Kinerja antara Direktur Jenderal Pengelolaan Utang dengan Menteri Keuangan.
Pada Kontrak Kinerja tersebut terdapat peta strategi dengan 12 sasaran strategis
(SS) yang ingin dicapai. Untuk setiap SS yang disusun dan ditetapkan memiliki
ukuran yang disebut sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU). Keseluruhan IKU DJPU
pada tahun 2012 berjumlah 26 IKU. Capaian SS dan IKU DJPU tahun 2012 dari 12
SS dan 26 IKU adalah:
1. 10 SS dan 22 IKU berstatus hijau atau memenuhi dan/atau di atas target;
2. 2 SS dan 3 IKU berstatus kuning atau kurang memenuhi target; dan
3. 1 IKU berstatus abu-abu dikarenakan tidak terdapat obyek kinerja dan tidak
tersedianya data.
Dengan nilai kinerja sebesar 108,82%(diatas target).
Disamping SS yang tersebut di atas, terdapat beberapa kinerja yang terkait
dengan SS tersebut dan lebih bersifat outcomes, namun tidak menjadi IKU DJPU,
yaitu:
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
155
2012 DJPU L LA AK KI IP P
1. Dari sisi instrumen utang terdapat suatu kecenderungan pergeseran pola
pembiayaan yang mengarah pada market based financing melalui penerbitan SBN;
2. Berkaitan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2003,
rasio utang terhadap PDB menurun dari 35,1% pada akhir tahun 2007 dan
menjadi 23,9% pada akhir tahun 2012. Rasio ini mengindikasikan bahwa jumlah
utang yang ditarik oleh pemerintah setiap tahun telah dilakukan secara hati-hati,
terencana, dan tepat sasaran sehingga kontribusinya terhadap perekonomian
nasional telah mendorong peningkatan ekonomi dalam jumlah yang lebih besar
dibandingkan peningkatan utang itu sendiri;
3. Perkembangan stok utang luar negeri secara absolut/nominal berdasarkan mata
uang menunjukkan perkembangan yang bervariasi. Dalam original currency, stok
utang dalam mata uang USD menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan,
sedangkan stok utang dalam mata uang JPY dan EUR mengalami penurunan.
4. Seiring dengan membaiknya kondisi fundamental perekonomian Indonesia serta
pengelolaan fiskal dan utang yang semakin baik ditunjukkan melalui beberapa
indikator, antara lain:
a. Perbaikan sovereign credit rating Indonesia. Sebuah lembaga rating terkemuka
Fitch Rating Agency menaikkan tingkat rating utang pemerintah Republik
Indonesia satu level dari BB+ menjadi BBB- serta Moodys yang memberikan
rating Baa3. Ini artinya sovereign credit rating Indonesia telah mencapai level
investment grade. Dengan demikian, Indonesia menjadi tempat tujuan
investasi yang lebih menarik bagi investor di seluruh dunia;
b. Penurunan yield curve (downward shift) selama periode pengamatan 2008
2012;
c. Kinerja Surat Berharga Negara di pasar sekunder terus meningkat; dan
d. Pengelolaan utang yang efisien telah berhasil menurunkan Refinancing Risk.
5. Dalam rangka pelaksanaan Asset Liability Management (ALM), pada tahun 2012 IT
ALM System yang telah dibangun pada tahun 2011 (Tahap I), dilanjutkan dengan
pembangunan aplikasi pengelolaan risiko keuangan Pemerintah berdasarkan
ALM framework yang dilengkapi dengan simulasi yang dinamis dan stress test
terhadap pengelolaan risiko. Dalam rangka penerapan ALM secara
komprehensif, telah dilakukan serangkaian koordinasi yang melibatkan unit-unit
terkait di lingkungan internal Kementerian Keuangan (DJPU, DJPb, DJA, BKF,
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
156
2012 DJPU L LA AK KI IP P
dan Setjen) dibantu dengan Tim Asistensi Penyempurnaan Sistem Treasury yang
terdiri dari para praktisi pasar keuangan khususnya perbankan, yang menguasai
best practice penerapan ALM perbankan untuk dapat dijadikan bahan
pertimbangan penerapan ALM Kementerian Keuangan.
6. Dalam rangka penanganan dan pemeliharaan stabilitas pasar SBN, DJPU telah
melakukan penyempurnaan dan implementasi Crisis Management Protocol (CMP)
guna mencegah dan menangani krisis sistem keuangan secara nasional. Selain
itu, DJPU juga telah mempunyai Crisis Binder Pasar SBN yang merupakan
panduan rinci dalam melakukan langkah pencegahan dan penanganan krisis
pasar SBN. Crisis Binder Pasar SBN telah terintegrasi dengan Crisis Binder
Sekretariat FKSSK yang merupakan gabungan crisis binder Kementerian
Keuangan (Pasar SBN dan Fiskal), Bank Indonesia (Nilai Tukar dan Perbankan),
OJK (Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Bukan Bank), dan LPS (Perbankan).
Perkembangan penyelesaian pending matters Renstra 2010-2014 sampai dengan
akhir tahun 2012 yaitu rencana penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang
Pinjaman Luar Negeri Pemerintah tidak menjadi prioritas dalam Prolegnas periode
2010-2015 dengan pertimbangan bahwa pengelolaan pinjaman luar negeri
pemerintah cukup diatur dengan Peraturan Pemerintah. Berdasarkan arahan Menteri
Keuangan maka sejak tahun 2011 kegiatan pembahasan RUU PLNP tidak ada lagi
dalam rencana kegiatan DJPU sehingga sampai dengan tahun 2012 pengelolaan
pinjaman luar negeri diatur melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan
Penerimaan Hibah.
B. Saran
Berbagai keberhasilan kinerja yang telah dicapai di atas kiranya dapat
dipertahankan bahkan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Sementara untuk
beberapa program/kegiatan yang capaian kinerjanya belum mencapai target
sebagaimana direncanakan akan ditingkatkan kinerjanya pada tahun-tahun
mendatang.
Dengan disusunnya LAKIP ini diharapkan dapat memberikan informasi secara
transparan baik kepada Pimpinan maupun seluruh pihak yang terkait dengan tugas
dan fungsi DJPU, sehingga dapat memberikan umpan balik guna peningkatan
KEMENTERIANKEUANGANREPUBLIKINDONESIA
DirektoratJenderalPengelolaanUtang

LaporanAkuntabilitas KinerjaInstansiPemerintah
157
2012 DJPU L LA AK KI IP P
kinerja pada periode berikutnya agar lebih mampu memberikan manfaat kepada
masyarakat maupun kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan pengelola
utang.
Kontrak Kinerja Kemenkeu-One DJPU
Tahun 2012 yang berlaku sebagai
Penetapan Kinerja (PK) DJPU Tahun
2012
Pengukuran Kinerja
DJPU Tahun 2012
PENGUKURAN KINERJA
Unit Organisasi : Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
Tahun Anggaran : 2012
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi
Persentase
Pencapaian
Target*
Polarisasi**
1. Pembiayaan
dalam jumlah
yang cukup,
efisien, dan aman
untuk
mendukung
kesinambungan
fiskal
1.1 Persentase
pemenuhan target
pembiayaan
melalui utang yang
cukup
Persen 100,00% 98,87% 117,74% Stabilize
1.2 Persentase
pencapaian target
effective cost
Persen 100,00% 80,58% 119,42% Minimize
1.3 Persentase
pemenuhan target
risiko portofolio
utang
Persen 100,00% 98,13% 116,26% Stabilize
2. Akuntabilitas
pengelolaan
utang dan hibah
2.1 Opini BPK terhadap
LK BA Pengelolaan
Utang dan Hibah
Persen 100,00% 87,50% 87,50% Maximize
3. Kredibilitas
pengelolaan
utang
3.1

Indeks kepuasan
pengguna layanan
Indeks 3,90 3,79 97,18% Maximize
3.2

Persentase
pembayaran utang
tepat waktu, tepat
jumlah, dan tepat
sasaran
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
4. Perumusan
strategi dan
kebijakan
pengelolaan
utang yang
berkualitas
4.1 Persentase
penyediaan
peraturan yang
mendukung
pengembangan
pasar dan
pengelolaan
portofolio utang
Persen 100,00% 92,50% 92,50% Maximize
4.2 Persentase
penyelesaian
dokumen strategi
pengelolaan utang
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi
Persentase
Pencapaian
Target*
Polarisasi**
4.3 Persentase
pelaksanaan kajian
restrukturisasi
Surat Utang
Pemerintah dalam
rangka ALM
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
5. Pengembangan
pasar SBN yang
dalam, aktif, dan
likuid
5.1 Tingkat efektifitas
edukasi dan
komunikasi
Persen 75,00% 75,83% 101,11%

Maximize
5.2 Spread WAY yang
dimenangkan
dengan highest yield
awarded (tail)
bps 15,00 4,29 120,00% Minimize
6. Pengelolaan
portofolio utang
yang optimal
6.1 Rasio beban bunga
terhadap rata-rata
outstanding utang
Persen 5,72% 5,29% 107,52% Minimize
6.2 Akurasi penetapan
yield/imbalan SBN
dan biaya pinjaman
terhadap benchmark
Persen 90,00% 91,65% 101,83% Maximize
7. Pengelolaan
kewajiban utang
yang efektif
7.1 Persentase
dokumen tagihan
yang diverifikasi
secara tepat waktu
Persen 100,00% 100,00% 100,00%

Maximize
8. Monitoring dan
evaluasi
kepatuhan
pengelolaan
utang yang
efektif
8.1 Persentase tingkat
kepatuhan dalam
pengelolaan utang
Persen 100,00% 98,39% 116,78% Stabilize
8.2 Rata-rata persentase
realisasi janji
layanan unggulan
Persen 100,00% 100,00% 120,00%

Maximize
8.3 Indeks ketepatan
waktu penyelesaian
tindak lanjut
Instruksi Presiden
Persen 80% - - Maximize
9. Pembentukan
SDM yang
berkompetensi
tinggi
9.1 Persentase pejabat
yang telah
memenuhi standar
kompetensi
jabatannya
Persen 82,50% 96,58% 117,07% Maximize
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Satuan Target Realisasi
Persentase
Pencapaian
Target*
Polarisasi**
9.2 Persentase
pemenuhan
pelatihan pegawai
sesuai dengan gap
kompetensi
pegawai (hard
competency)
Persen 100,00% 115,00% 115,00% Maximize
10. Penataan
organisasi yang
adaptif
10.1 Persentase mitigasi
risiko yang selesai
dijalankan
Persen 70,00% 100,00% 120,00% Maximize
10.2 Indeks reformasi
birokrasi
Indeks 92,00% 96,72% 105,13% Maximize
10.3 Indeks kepuasan
pegawai
Indeks 3,00 3,19 106,33% Maximize
10.4 Persentase policy
recommendation
hasil pengawasan
yang
ditindaklanjuti
Persen 85,00% 100,00% 117,65% Maximize
11. Perwujudan TIK
yang terintegrasi
11.1 Persentase
pengembangan
database utang yang
terintegrasi
Persen 100,00% 100,00% 100,00% Maximize
11.2 Persentase akurasi
data SIMPEG
Persen 100,00% 100,00% 120,00% Maximize
12. Pelaksanaan
anggaran yang
optimal
12.1 Persentase
penyerapan DIPA
Persen 95,00% 96,50% 101,58% Maximize
*) dihitung berdasarkan Nilai Kinerja Unit
**) polarisasi adalah ekspektasi arah nilai aktual dari IKU dibandingkan relatif terhadap nilai target
Jumlah Anggaran Program Pengelolaan dan Pembiayaan Utang Tahun 2012 : Rp70.750.000.000
Realisasi Pagu Anggaran Program Pengelolaan dan Pembiayaan Utang Tahun 2012 : Rp67.952.559.059