Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
Uvea adalah organ yang terdiri dari beberapa kompartemen mata yang berperan besar
dalam vaskularisasi bola mata. Terdiri atas iris, badan siliar dan koroid.
1
Secara anatomis
uvea merupakan lapisan vaskular tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera, juga
merupakan lapisan yang memasok darah ke retina. Perdarahan uvea dibagi antara bagian
anterior yang diperdarahi oleh 2 buah arteri siliar posterior longus yang masuk menembus
sklera di temporal dan nasal dekat tempat masuk saraf optik dan buah arteri siliar anterior
yang terdapat 2 pada setiap otot superior, medial, inferior serta pada otot rektus lateral. !rteri
siliar anterior posterior ini bergabung menjadi satu membentuk arteri sirkulari mayor pada
badan siliar. Uvea posterior mendapat perdarahan dari 1" # 2$ arteri siliar posterior brevis
yang menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik.
2
Uveitis adalah peradangan atau inflamasi yang terjadi pada lapisan traktus uvealis
yang meliputi peradangan pada iris, korpus siliaris dan koroid yang disebabkan oleh infeksi,
trauma, neoplasia, atau proses autoimun. Struktur yang berdekatan dengan jaringan uvea
yang mengalami inflamasi biasanya juga ikut mengalami inflamasi. Peradangan pada uvea
dapat hanya mengenai bagian depan jaringan uvea atau iris yang disebut iritis. %ila mengenai
badan tengan disebut siklitis. &ritis dengan siklitis disebut iridosiklitis atau disebut juga
dengan uveitis anterior. 'an bila mengenai lapisan korois disebut uveitis posterior atau
koroiditis. Uveitis umumnya unilateral, dan biasanya terjadi pada usia de(asa muda dan usia
pertengahan. 'itandai dengan adanya ri(ayat sakit, fotofobia, dan penglihatan kabur, mata
merah tanpa disertai sekret mata dan pupil kecil atau ireguler.
)
&nsiden uveitis di !merika Serikat dan di seluruh dunia diperkirakan sebesar 1"
kasus*1$$.$$$ penduduk dengan perbandingan yang sama antara laki+laki dan perempuan.
Uveitis merupakan salah satu penyebab kebutaan. ,orbiditas akibat uveitis terjadi karena
terbentuknya sinekia posterior sehingga menimbulkan peningkatan tekanan intraokuler dan
gangguan pada nervus optikus. Selain itu, dapat timbul katarak akibat penggunaan steroid.
-leh karena itu, diperlukan penanganan uveitis yang meliputi anamnesis yang komprehensif,
pemeriksaan fisik dan oftalmologis yang menyeluruh, pemeriksaan penunjang dan
penanganan yang tepat.
.
1
BAB II
PEMBAHASAN
ANATOMI UVEA
Uvea atau traktus uvealis merupakan lapisan vaskular di dalam bola mata yang terdiri
atas iris, badan siliar, dan koroid.
)
1. Iris
&ris merupakan suatu membran datar sebagai lanjutan dari badan siliar ke
anterior. 'i bagian tengah iris terdapat lubang yang disebut pupil yang berfungsi
untuk mengatur besarnya sinar yang masuk mata. Permukaan iris (arnanya sangat
bervariasi dan mempunyai lekukan+lekukan kecil terutama sekitar pupil yang
disebut kripta. Pada iris terdapat 2 macam otot yang mengatur besarnya pupil,
yaitu / ,usculus dilatator pupil yang berfungsi untuk melebarkan pupil dan
,usculus sfingter pupil yang berfungsi untuk mengecilkan pupil. 0edua otot
tersebut memelihara ketegangan iris sehingga tetap tergelar datar. 'alam keadaan
normal, pupil kanan dan kiri kira+kira sama besarnya, keadaan ini disebut isokor.
!pabila ukuran pupil kanan dan kiri tidak sama besar, keadaan ini disebut
anisokor. &ris menipis di dekat perlekatannya dengan badan siliar dan menebal di
dekat pupil. Pembuluh darah di sekeliling pupil disebut sirkulus minor dan yang
berada di dekat badan siliar disebut sirkulus mayor. &ris dipersarafi oleh nervus
nasoiliar cabang dari saraf cranial &&& yang bersifat simpatik untuk midriasis dan
parasimpatik untuk miosis.
"
2. Badan siliar
%adan siliar merupakan susunan otot melingkar dan mempunyai sistem
ekskresi di belakang limbus. %adan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang
2
sampai koroid terdiri atas otot+otot siliar dan prosesus siliaris. -tot+otot siliar
berfungsi untuk akomodasi.
%adan siliar berbentuk cincin yang terdapat di sebelah dalam dari tempat tepi
kornea melekat di sklera. %adan siliar merupakan bagian uvea yang terletak antara
iris dan koroid. %adan siliar menghasilkan humor akuos. 1umor akuos ini sangat
menentukan tekanan bola mata. 1umor akuos mengalir melalui kamera okuli
posterior ke kamera okuli anterior melalui pupil, kemudia ke angulus
iridokornealis, kemudia mele(ati trabekulum mesh(ork menuju canalis
Schlemm, selanjutnya menuju kanalis kolektor masuk ke dalam vena episklera
untuk kembali ke jantung.
"
3. Koroid
3
0oroid merupakan bagian uvea yang paling luar, terletak antara retina 2di
sebelah dalam3 dan sklera 2di sebelah luar3. 0oroid berbentuk mangkuk yang tepi
depannya berada di cincin badan siliar. 0oroid adalah jaringan vaskular yang
terdiri atas anyaman pembuluh darah. 4etina tidak menempati seluruh koroid,
tetapi berhenti beberapa milimeter sebelum badan siliar. %agian koroid yang tidak
terselubungi retina disebut pars plana.
5askularisasi uvea berasal dari arteri siliaris anterior dan posterior yang
berasal dari arteri oftalmika. 5askularisasi iris dan badan siliaris berasal dari
sirkulus arteri mayoris iris yang terletak di badan siliaris yang merupakan
anastomosis arteri siliaris anterior dan arteri siliaris posterios longus. 5askularisasi
koroid berasal dari arteri siliaris posterior longus dan brevis.
"
UVEITIS POSTERIOR
Uveitis posterior adalah proses peradangan pada segmen posterior uvea, yaitu pada
koroid, dan disebut juga koroiditis.
6
0arena dekatnya koroid pada retina, maka penyakit
koroid hampir selalu melibatkan retina 2korioretinitis3. Uveitis posterior biasanya lebih serius
dibandingkan uveitis anterior.
"
Peradangan di uvea posterior dapat menyebabkan gejala akut tapi biasanya
berkembang menjadi kronik. 0edua fase tersebut 2akut dan kronik3 dapat menyebabkan
pembuluh darah di retina menjadi saling tumpang tindih dengan proses peradangan di uvea
posterior.
Penyebab utama uvea posterior tidak berpengaruh pada faktor eksternal dari uvea
bagian posterior. 'engan pemeriksaan oftalmoskopi standar dan lamanya peradangan
panyakit secara lengkap dengan perubahan pada koroid sudah dapat dilihat kelainan.
Terjadinya perubahan elevasi yang memberi (arna kuning atau abu+abu yang dapat menutup
koroid sehingga pada pemeriksaan koroid tidak jelas.
Perdarahan di retina akan menutup semua area, pada beberapa kasus terdapat lesi
yang kecil disertai kelainan pada koroid tapi setelah beberapa minggu atau bulan akan
ditemukan infiltrat dan edema hilang sehingga menyebabkan koroid dan retina atrofi dan
saling melekat. 'aerah yang atrofi akan memberikan kelainan bermacam+macam dalam
bentuk dan ukuran. Perubahan ini akan menyebabkan perubahan (arna koroid menjadi putih,
kadang pembuluh darah koroid akan tampak disertai karakteristik dari deposit irregular yang
banyak atau berkurangnya pigmen hitam terutama pada daerah marginal.
7esi bisa juga ditemukan pada eksudat selular yang berkurang di koroid dan retina.
&nflamasi korioretinitis selalu ditandai dengan penglihatan kabur disertai dengan melihat lalat
berterbangan (floaters). Penurunan tajam penglihatan dapat dimulai dari ringan sampai berat
yaitu apabila koroiditis mengenai daerah makula atau papilomakula.
0erusakan bisa terjadi perlahan+lahan atau cepat pada humor vitreus yang dapat
dilihat jelas dengan fundus yang mengalami obstruksi. Pada korioretinitis yang lama biasanya
4
disertai floaters dengan penurunan jumlah produksi air mata pada trabekula anterior yang
dapat ditentukan dengan pemeriksaan fenomena Tyndall. Penyebab floaters adalah
terdapatnya substansi di posterior kornea dan agregasi dari presipitat mutton fat pada kornea
bagian dalam. ,ata merah merupakan gejala a(al sebelum menjadi kuning atau putih yang
disertai penglihatan kabur. %ila terdapat kondisi ini biasanya sudah didapatkan atrofi pada
koroid. Seringkali uveitis posterior tidak disadari oleh penderita sampai penglihatannya
kabur.
8ejala khas dari uveitis postrior adalah tajam penglihatan yang menurun, floating
spot dan skotoma. 0arena terdapat banyak kelainan pada badan vitreus sel yang disebabkan
fokal atau multifokal retina dan koroid gambaran klinis bisa juga secara bersamaan.
'iagnosis banding tergantung dari lama dan penyebab infeksi atau bukan infeksi. &nfeksi bisa
disebabkan virus, bakteri, jamur, proto9oa, dan cacing non infeksi. %isa juga disebabkan oleh
penurunan imunologik atau alergi organ, bisa juga penyebabnya tidak diketahui setelah
timbul endoftalmitis dan neoplasma.
'alam membuat diagnosis uveitis posteriorharus akurat dan lengkap tentang ri(ayat
perjalan penyakit dan sistem yang mendapat kelainan yang berhubungan dengan uveitis.
4i(ayat pemakan kortikosteroid yang lama, obat+obatan imunosupresan, terapi antibiotik,
obat+obat intravena atau pasien dengan hipereliminasi bakterial endogen, jamur, dan penyakit
virus. Pasien dengan penyakit sistemik kolagen vaskular yang berhubungan dengan
dermatologi, jaringan ikat, paru+paru, gastrointestinal dan saluran kemih yang dapat
mempermudah terjadinya inflamasi. Pertimbangan lain adalah umur pasien apakah timbulnya
unilateral atau bilateral. Pemeriksaan laboratorium dapat membantu memastikan.
6
1) Eiolo!i
a.
Penyakit virus
Penyakit 1erpes
7esi mata yang tersering dan paling serius adalah keratitis. 7esi
kulit vesikuler juga dapat muncul di kulit dan tepi kelopak. 1erpes
simpleks dapat menyebabkan iridosiklitis. 5irus herpes simpleks tipe &,
virus varicela 9oster, dan :,5 pernah dilaporkan sebagai penyebab
sindrom nekrosis retina akut.
"
Sindrom ;ekrosis 4etina !kut 2!4;3
!4; merupakan suatu proses nekrosis pada retina yang
disebabkan oleh infeksi. %iasanya mengenai kedua mata 2 pada )) <
pasien3, paling banyak berusia 26 tahun . Penyebab penyakit ini yang
paling sering adalah virus varisela 9oster, herpes simpleks tipe 2 dan
cytomegalovirus. 0adang penyakit ini tanpa gejala sehingga pasien
tampak sehat meskipun mengenai pasien dengan !&'S. !4;
merupakan diagnosis dari gejala klinik, pasien sering datang dengan
keluhan penglihatan kabur secara akut. Terdapat inflamasi segmen
anterior yang memberi rongga pada beberapa bagian disertai eksudat
pada badan vitreus. ,asa inkubasi 2 minggu sampai terbentuknya
5
sumbatan yang akan menyebabkan arteriolitis retinal, vitritis dan
bercak kuning # putih di posterior retina.
"
!&'S
Penyakit mata merupakan manifestasi umum dari !&'S, pasien
mengalami beberapa kondisi penyakit mata /
o -klusi mikrovaskular menyebabkan perdarahan retina dan
cotton wool spot 2daerah infark pada lapisan serabut saraf
retina3.
o 'eposit endotel kornea.
o ;eoplasma pada mata dan orbita.
o 8angguan neurooftalmika termasuk palsy okulomotorik.
4etinitis :ytomegalovirus
&nfeksi oportunistik yang paling umum adalah retinitis :,5.
!(alnya ditemukan lebih dari 1*) pasien !&'S, namun populasi
beresiko telah berkurang secara bermakna sejak berkembangnya terapi
antivirus yang sangat aktif dalam terapi !&'S. 0has terjadi pada
pasien dengan hitung sel :'. = dan leukosit "* >l. Pasien biasanya
mengeluh penglihatan kabur atau floaters. 'iagnosis penyakit !&'S
biasanya telah ditegakkan dan sering ditemukan tampilan !&'S
lainnya seperti retinopati :,5 yang terdiri dari area retina keputihan
berhubungan dengan perdarahan disertai likenifikasi hingga terlihat
seperti keju softage. 7esi itu dapat mengancam makula atau lempeng
optik dan biasanya terdapat sedikit inflamasi pada vitreus.
2dikutip dari / (((.uveitis.org*medical*article*case*(ds*html 3
b.
Penyakit jamur
1istoplasmosis
6
,erupakan kelainan multifaktor korioretinitis, epidemiologinya
berhubungan dengan 1istoplasma capsulatum, yang merupakan jamur
dimorfik yang dalam perkembangannya dapat bertahan 2 tahun dalam
bentuk filamennya. Spora jamur tersebut dapat menyebabkan
terjadinya penyakit sistemik dan penyakit mata. %eberapa daerah di
!merika Serikat yang endemis histoplasmosis yaitu -hio dan lembah
sungai ,issisippi. 'iagnosis koroiditis yang diduga disebabkan oleh
histoplasmosis sering ditegakkan. &nfeksi primer pada mata terjadi
setelah kontak spora jamur yang berasal dari paru # paru. ?amur ini
dapat menyebar ke limpa, hati, dan koroid mengikuti infeksi yang
berasal dari paru # paru. 1istoplasmosis didapat kadang tidak
menimbulkan gejala atau akibat dari keadaan sakit yang tidak
berbahaya dan biasanya ditemukan pada anak # anak.
Pemeriksaan kulit pada pasien biasanya positif terhadap
histoplasmosis dan menunjukkan bercak # bercak khas pada perifer
fundus. %ercak # bercak ini berbentuk daerah # daerah kecil, bulat atau
lonjong tidak teratur, tanpa pigmen kadang # kadang dengan batas
berpigmen halus. 0adang dapat ditemukan atrofi peripapiler dan
hiperpigmentasi.
Bercak histo muncul pertama kali pada mata selama masa
remaja, tetapi makulopati baru berkembang pada usia 2$ +"$ tahun,
rata+rata pada usia .1 tahun. Secara patologi, lesi pertama muncul
dalam bentuk granuloma di koroid. 0oroiditis akan menyebabkan
penglihatan menurun dan terbentuk sikatrik disertai pigmentasi pada
pigmen epitelium, atau memberi gambaran rusaknya membran pigmen
epitelium yang disebabkan peningkatan kadar limfosit. Pada daerah
pusat koroiditis akan terbentuk pembuluh darah baru subretinal yang
baru, yang akan menyebabkan peningkatan cairan, lipid dan darah
yang dapat menyebabkan kerusakan pada fungsi makular.
'iagnosis histoplasmosis berdasarkan gejala klinis disertai
pembentukan bercak kecil yang menyebar, perubahan papil # papil di
pigmen dan pembentukan cincin pigmen dimakula sehingga
menyebabkan saraf sensorik retina saling tumpang tindih, kadang
disertai perdarahan. Pada permulaan histo akan terbentuk bercak
dimakula dan badan vitreus yang tidak terlihat pada histoplasmosis,
jarang didapat gejala yang menyertai bentuk atrofi. Sel vitreus tidak
terlihat pada -1S, dan gejala sering bersamaan dengan perifer dan
atropi bercak histo. %ercak tersebut fokal, sembuh dan terbentuk lesi
punched out yang disebabkan oleh jumlah yang bervariasi dari luka
yang terdapat pada koroid dan yang berlengketan pada retina lapisan
7
luar. 8angguan penglihatan pada pusat penglihatan karena keterlibatan
makula sehingga pasien harus dirujuk ke dokter mata.
Pada daerah koroiditis dapat diobati dengan kortikosteroid oral
dan lokal. Pada tahap a(al dari angiogram fluoresein, koroid aktif akan
menghambat 9at tersebut dan akan tampak hipofluoresein. Selanjutnya,
lesi koroid akan ber(arna dan menjadi hiperfluoresein. 'engan
kontras, area pada membran neovaskular subretina aktif akan menjadi
hiperfluoresein yang terjadi a(al pada angiogram.
,embran neovaskular penting jika hanya terdapat pada daerah
diskus+makula. ?ika di luar superotemporal dan inferotemporal
vascular arcades, hal tersebut tidak mengurangi penglihatan dan tidak
membutuhkan terapi. ;amun jika membran tersebut terletak di 1+2$$
@m dari tengah, laser fotokoagulasi diindikasikan untuk mencegah
hilangnya penglihatan.
,acular Photocoagulation Study 8roup bekerjasama dengan
,ulticenter Study menunjukan efek yang berguna dengan
fotokoagulasi argon biru+hijau. Pasien yang tidak diobati menunjukkan
persentase yang tinggi 2"$<3 kehilangan penglihatan dibandingkan
dengan pasien yang mendapatkan terapi laser 222<3 selama 2. tahun.
0rypton merah atau !rgon hijau gelombang tinggi dapat memberi
hasil penglihatan yang lebih baik dengan luka retina yang lebih sedikit
dibandingkan dengan fotokoagulasi argon biru+hijau.
6
0andidiasis
,eskipun tidak umum, insiden penyakit inflamasi bola mata
yang disebabkan oleh :andida albican meningkat khususnya sebagai
akibat dari penggunaan imunosupresan dan obat+obat intravena.
4etinitis kandida dapat terlihat pada penderita !&'S akibat
penggunaan obat intravena meskipun hal tersebut jarang terjadi.
:andida endoftalmitis terjadi pada 1$+)< pasien dengan kandidemia
yang tidak mendapat terapi anti jamur. Pada pasien yang mendapat
terapi anti jamur kemungkinan mengenai mata terjadi penurunan.
-rganisme menyebar secara metastasis ke koroid. 4eplikasi jamur
mempengaruhi vitreus dan retina sekunder. 8ejala dari kandidiasis
mata adalah penurunan tajam penglihatan atau floaters, tergantung
pada lokasi lesi. ,enyerupai koroiditis ToAoplasma lesi pada segmen
posterior tampak putih kuning dengan batas yang halus, dengan ukuran
dari spot woll yang kecil sampai beberapa pertambahan diameter
diskus. 7esi mula+mulanya terdapat di retina dan berakibat eksudasi ke
vitreus. 7esi perifer mungkin menyerupai pars planitis.
8
'iagnosa kandidiasis mata dapat ditegakkan dengan kultur
darah positif yang didapat pada saat terjadi kandidemia. Seorang
dokter harus (aspada pada kemungkinan diagnosis kandidiasis pada
pasien ra(at inap yang menggunakan kateter intavena atau yang
mendapat terapi antibiotik sistemik, steroid dan antimetabolit. Pasien
yang dira(at karena kandidemia harus diperiksa kemungkinan
mengenai mata. Pada pasien tersebut pada dua pemeriksaan akan
ditemukan dilatasi fundus yang dilakukan secara terpisah selama 1+2
minggu untuk mendeteksi metastasis penyakit mata.
Pengobatan untuk kandidiasis mata meliputi intravena,
pengobatan anti jamur periokular dan intraokular seperti amphoterisin
% dan ketokona9ole, Blusitosin, Blucona9ole atau 4ifampin oral yang
dapat diberi dengan ditambah amphoterisin % intravena. %ila proses
inflamasi mengenai retina dan sampai ke dalam vitreus, anti jamur
intravitreal dan vitrektomi dapat dipertimbangkan. Terapi yang tepat
untuk lesi perifer memiliki prognosis yang baik. ;amun, pengobatan
yang cepat pada lesi sentral jarang menyelamatkan penglihatan karena
merusak fotoreseptor sentral. 0onsultasi dengan spesialis penyakit
infeksi dapat sangat membantu.
6
c.
Penyakit proto9oa

Toksoplasmosis
"
ToAoplasma gondii adalah parasit proto9oa obligat intraselular
yang menyebabkan nekrosis retina koroiditis. Terdapat ) bentuk/
+ -okista, atau bentuk tanah 21$+12@m3
+ Taki9oit, atau bentuk aktif infeksius 2 .+C @m3
+ 0ista jaringan atau bentuk laten 21$+2$$@m3, mengandung
sebanyak )$$$ bradi9oit
T. gondii adalah parasit usus yang ditemukan pada kucing.
-okista ditemukan pada feses kucing yang kemudian termakan oleh
tikus dan burung yang dapat berperan sebagai reservoir atau host
intermediet bagi parasit. 5ektor serangga dapat juga menyebarkan
T.gondii dari feses kucing ke sumber makanan manusia, termasuk
tumbuhan dan binatang herbivora.
,anusia terinfeksi lebih sering karena memakan daging yang
mentah dan kurang matang yang mengandung kista jaringan. Danita
yang mendapat ToAoplasmosis selama kehamilan dapat
mentransmisikan taki9oit ke janin dengan potensial mata yang parah,
SSP dan komplikasi sistemik. Danita hamil nonimun tanpa bukti
serologik terpapar toAoplasmosis harus berhati+hati bila memelihara
kucing dan harus menghindari daging mentah. Pasien !&'S juga
mudah terkena.
9
ToAoplasmosis tercatat pada +1"< dari uveitis. 0arena
penyakit tersebut dapat merusak penglihatan struktur mata, hal tersebut
penting bagi para ahli mata untuk mengenal lesi tersebut dan untuk
menghindari potensi kematian. 'iagnosis yang tepat pada (aktunya
sangat penting karena toAoplasmosis memberi respon pada terapi anti
mikroba dan itu merupakan bentuk yang masih dapat diobati pada
uveitis posterior.
"
Tergantung pada luasnya lokasi lesi, pasien mengeluh floating
spot unilateral atau penglihatan kabur. Secara umum segmen anterior
tidak mengalami inflamasi pada a(al penyakit, dan pasien
memperlihatkan mata putih dan penglihatan yang masih nyaman.
0adang+kadang inflamasi granulomatosa dapat terjadi peningkatan
tekanan bola mata khususnya pada penyakit yang berulang.
-pasitas vitreus secara umum terlihat jelas dengan pemeriksaan
mata baik dengan pemeriksaan direk maupun indirek. 0uning
keputihan, sedikit tinggi letaknya, lesi kabur dapat terlihat pada fundus,
lokasi lesi sering berada dekat dengan bekas luka korioretinal. 7esi
tersebut tampak pada bagian posterior dibandingkan pada fundus
bagian lain dan kadang+kadang terlihat berdekatan dengan papil nervus
optikus. Sering salah dianggap sebagai papilitis optik. Pembuluh darah
retina pada sekitar lesi aktif tampak perivaskulitis dengan sarung vena
dan arterial segmental yang difus. 0arakteristik lesi adalah retinitis
fokal eksudatif. Pada lapisan depan retina merupakan lokasi untuk
proliferasi T. gondii. 7esi ini tidak menyebabkan berkabut pada vitreus
pada tahap a(al penyakit, dan pasien tidak menyadari floating spot
sampai lapisan depan retina dan membran hialoid posterior terkena.
4etinitis toksoplasma dapat dimanifes oleh lesi retina perifer, kecil,
punctata, sering disebut Punctate -uter 4etinal ToAoplasmosis
2P-4T3.
"
'iagnosis ToAoplasmosis mata dibuat dengan/
1. -bservasi dari karakteristik lesi fundus 2fokal nekrosis
retinokoroiditis3
2. 'eteksi dari adanya antibodi anti ToAoplasma pada serum
pasien
). Pengeluaran dari penyakit infeksi lain yang dapat menyebabkan
nekrosis lesi pada fundus, seperti sifilis, sitomegalovirus dan
jamur.
Pemeriksaan toAoplasma dye Sabin dan Beldman, pemeriksaan
hemaglutinasi, atau pemeriksaan antibody immunofluoresen indirek
menyediakan fasilitas yang sama. ;amun E7&S! dapat memberi lebih
sensitifitas dan spesifisitas. 1arus di ingat bah(a titer serum pada
10
pemeriksaan tersebut dapat sangat rendah pada pasien dengan
toksoplasmosis mata dan tidak terdapat tanda sistemik lain pada
penyakit ini. Titer serum antibodi signifikan apabila terdapat lesi
fundus yang berhubungan dengan toksoplasmosis mata. Pemeriksaan
humor akous dapat digunakan untuk konfirmasi adanya penyakit
toksoplasma pada kasus yang masih meragukan. Pemeriksaan tersebut
lebih signifikan pada saat titer antibodi pada humor akous lebih tinggi
daripada dalam serum.
,eskipun diagnosis toksoplasmosis mata didasari dengan
pemeriksaan fisik, antibodi antitoksoplasmosis negatif perlu dipikirkan
diagnosis lain. Para dokter dalam hal menginterpretasikan standar
pemeriksaan antibodi &g8 harus mengingat bah(a laboratorium
menampilkan pemeriksaan pada dilusi 1 / C atau lebih, meskipun reaksi
antibodi positif ditemukan dilusi 1 / . atau kurang. Titer antibodi yang
sangat rendah ini tetap mengindikasikan terdapat toksoplasmosis yang
sebelumnya tetapi juga dapat mengarah ke positif palsu sebagai hasil
dari reaksi nonspesifik.
"
d.
Penyakit non infeksi

!utoimun / vaskulitis retina, penyakit %ehcet, oftalmia simpatis

0eganasan / leukemia, sarcoma sel retikulum, melanoma maligna

Etiologi tidak diketahui / sarkoiditis, epitelopati pigmen retina


Fang sering terjadi mengakibatkan uveitis posterior adalah /
1.
Penyakit %ehcet
'itemukan pada usia 2$+.$ tahun, pria lebih banyak dari
(anita.Penyebab diduga suatu proses imunologik tetapi virus sebagai
penyebab tidak dapat disingkirkan.

Dalaupun memiliki banyak gambaran
penyakit hipersensitivitas tipe lambat, adanya perubahan mencolok kadar
komplemen serum pada permulaan serangan mengisyaratkan suatu gangguan
kompleks imun. %aru+baru ini pada pasien %ehcet dapat dideteksi adanya
kompleks imun berkadar tinggi dalam darah. Sebagian besar pasien dengan
gejala mata positif untuk 17!+%"1, suatu subtipe 17!+%".

'itandai . kelainan yaitu /


Uveitis 2iridosiklitis, retinitis, retinokoroiditis3. Pada dasarnya
didapatkan peri arteritis dan end arteritis yang menyebabkan vaskulitis
obliteratif sehingga dapat terjadi iskemi retina, perdarahan retina, serta
11
ablasi. %ila terdapat hipopion maka hal ini merupakan gejala yang
lebih lanjut.
0elainan pada rongga mulut berupa stomatitis aftosa yang dapat
mengenai bibir, lidah, mukosa bukal, palatum durum serta palatum
molle.
0elainan kulit berupa eritema nodusum, folikulitis serta
hipersensitivitas kulit.
0elainan genital berupa ulserasi pada alat genital pria atau (anita.
C
Pengobatan sering berupa pemberian imunosupresan multipel 2mis/
steroid , siklosporin, a9atioprin3, (alaupun demikian hasil akhir
penglihatan tetap buruk pada 2"< kasus.
2.
Sindrom 5ogt 0oyanagi 1arada
6
Terdiri dari peradangan uvea pada satu atau kedua mata yang ditandai
oleh iridosiklitis akut, koroiditis bebercak dan pelepasan serosa retina.
Penyakit ini biasanya dia(ali oleh suatu episode demam akut disertai nyeri
kepala dan kadang+kadang vertigo.
Pada beberapa bulan pertama penyakit dilaporkan terjadi kerontokan
rambut bebercak atau timbul uban. Dalaupun iridosiklitis a(al mungkin
membaik dengan cepat, perjalanan penyakit di bagian posterior sering indolen
dengan efek jangka panjang berupa pelepasan serosa retina dan gangguan
penglihatan.
)
Pada sindrom 5ogt+0oyanagi+1arada diperkirakan terjadi
hipersensitivitas tipe lambat terhadap struktur+struktur yang mengandung
melanin. Tetapi virus sebagai penyebab belum dapat disingkirkan.
'iperkirakan bah(a suatu gangguan atau cedera, infeksi atau yang lain,
mengubah struktur berpigmen di mata, kulit dan rambut sedemikian rupa
sehingga tercetus hipersentivitas tipe lambat terhadap struktur+struktur
tersebut. %aru+baru ini diperlihatkan adanya bahan larut dari segmen luar
lapisan fotoreseptor retina 2antigen+S retina3 yang mungkin menjadi
autoantigennya. Pasien sindrom 5ogt+0oyanagi+1arada biasanya adalah
-riental, yang mengisyaratkan adanya disposisi imunogenetik.
).
-ftalmika Simpatika
)
Faitu pan uveitis granulomatosa pada mata yang semula sehat
2sympathetic eye3 yang timbul minimal dua minggu setelah terjadinya trauma
tembus pada mata yang lain 2exciting eye3. %iasanya exciting eye ini tidak
pernah senbuh total dan tetap meradang pasca trauma, baik tauma tembus
12
akibat kecelakaan ataupun trauma karena pembedahan mata. Tanda a(al dari
mata yang ber+simpati adalah hilangnya daya akomodasi serta terdapatnya sel
radang di belakang lensa. 8ejala ini diikuti oleh iridosiklitis sub akut, sebukan
sel radang dalam vitreus dan eksudat putih kekuningan pada jaringan diba(ah
retina. Penyakit ini dapat disertai dengan gejala+gejala sistemik lain seperti
vitiligo, alopesia dan poliosis 2uban3 sehingga mirip sindrom 501. %edanya
adalah pada sindrom 501 tidak ada ri(ayat trauma.
Penyebab yang pasti belum diketahui tetapi diduga kuat merupakan
suatu reaksi autoimun terhadap jaringan pigmen uvea atau pigmen epitel retina
yang telah berubah sifat menjadi antigen pasca trauma tembus mata.
Pengobatan / pemberian kortikosteroidG bila tidak memberikan
perbaikan dapat ditambah pemberian imunosupresan. Fang terpenting adalah
hati+hati dan (aspada menghadapi trauma tembus mata yang disertai destruksi
jaringan uvea.
..
Poliarteritis ;odosa
)
Penyakit kolagen ini mengenai arteri berukuran sedang, terutama pada
pria. Terjadi peradangan hebat pada semua lapisan otot arteri, dengan nekrosis
fibrinoid dan eosinofilia perifer. 8ambaran klinis utama adalah nefritis,
hipertensi, asma, neuropati perifer, nyeri dan atrofi otot dan eosinifilia perifer.
Sering terjadi kelainan jantung, (alaupun kematian biasanya disebabkan oleh
disfungsi ginjal.
0elainan mata dijumpai pada 2$< kasus dan terdiri dari episkleritis
dan skleritis yang sering tidak nyeri. !pabila pembuluh+pembuluh limbus
terkena, dapat terjadi pembentukan alur+alur di kornea perifer. Sering terjadi
mikrovaskulopati retina. 1ilangnya penglihatan secara mendadak mungkin
disebabkan oleh neuropati optikus iskemik yang mencerminkan keparahan
vaskulitis di pembuluh siliaris atau sumbatan arteri retina sentralis. 'apat
terjadi oftalmoplegia akibat arteritis vasa nervorum. 0ortikosteroid sistemik
dan siklofosfamid memberi manfaat, tetapi prognosis jangka panjang tetap
buruk
2) Pao"isiolo!i
Peradangan uvea biasanya unilateral, dapat disebabkan oleh efek langsung
suatu infeksi atau merupakan fenomena alergi. &nfeksi piogenik biasanya
mengikuti suatu trauma tembus okuli, (alaupun kadang+kadang dapat juga terjadi
13
sebagai reaksi terhadap 9at toksik yang diproduksi oleh mikroba yang
menginfeksi jaringan tubuh diluar mata.
Uveitis yang berhubungan dengan mekanisme alergi merupakan reaksi
hipersensitivitas terhadap antigen dari luar 2antigen eksogen3 atau antigen dari
dalam 2antigen endogen3. 'alam banyak hal antigen luar berasal dari mikroba
yang infeksius. Sehubungan dengan hal ini peradangan uvea terjadi lama setelah
proses infeksinya yaitu setelah munculnya mekanisme hipersensitivitas. 4adang
iris dan badan siliar menyebabkan rusaknya Blood Aueous Barrier sehingga
terjadi peningkatan protein, fibrin, dan sel+sel radang dalam humor akuos. Pada
pemeriksaan biomikroskop 2slit lamp3 hal ini tampak sebagai flare, yaitu partikel+
partikel kecil dengan gerak %ro(n 2efek tyndall3.
Pada proses peradangan yang lebih akut, dapat dijumpai penumpukan sel+
sel radang berupa pus di dalam :-! yang disebut hipopion, ataupun migrasi
eritrosit ke dalam :-!, dikenal dengan hifema. !pabila proses radang
berlangsung lama 2kronis3 dan berulang, maka sel+sel radang dapat melekat pada
endotel kornea, disebut sebagai keratic precipitate 20P3. !da dua jenis keratic
precipitate, yaitu /
1. ,utton fat 0P / besar, kelabu, terdiri atas makrofag dan pigmen+pigmen
yang difagositirnya, biasanya dijumpai pada jenis granulomatosa.
2. Punctate 0P / kecil, putih, terdiri atas sel limfosit dan sel plasma, terdapat
pada jenis non granulomatosa.
!pabila tidak mendapatkan terapi yang adekuat, proses peradangan akan
berjalan terus dan menimbulkan berbagai komplikasi. Sel+sel radang, fibrin, dan
fibroblas dapat menimbulkan perlekatan antara iris dengan kapsul lensa bagian
anterior yang disebut sinekia posterior, ataupun dengan endotel kornea yang
disebut sinekia anterior. 'apat pula terjadi perlekatan pada bagian tepi pupil,
yang disebut seklusio pupil, atau seluruh pupil tertutup oleh sel+sel radang,
disebut oklusio pupil.
Perlekatan+perlekatan tersebut, ditambah dengan tertutupnya trabekular
oleh sel+sel radang, akan menghambat aliran akuos humor dari bilik mata
belakang ke bilik mata depan sehingga akuos humor tertumpuk di bilik mata
belakang dan akan mendorong iris ke depan yang tampak sebagai iris bombans
14
2iris bombe3. Selanjutnya tekanan dalam bola mata semakin meningkat dan
akhirnya terjadi glaukoma sekunder.
)
3) #$%ala &linis
a.
Penurunan penglihatan / Penurunan ketajaman penglihatan dapat terjadi pada
semua jenis uveitis posterior dan karenanya tidak berguna untuk diagnosis
banding
b.
&njeksi mata / 0emerahan mata tidak terjadi bila hanya segmen posterior yang
terkena. ?adi gejala ini jarang pada Toksoplasmosis dan tidak ada pada
histoplasmosis. %iasa terlihat seperti lalat yang berterbangan 2floaters3
c.
Sakit / 4asa sakit terdapat pada pasien dengan sindrom nekrosis retina akut,
Sifilis, &nfeksi bakteri endogen, Skleritis posterior dan pada kondisi+kondisi
yang megenai ;. &&.
)
d.
Botofobia.
Uveitis Posterior Akut Kronik
+ Edema
retina dan
sub retina.
+ Eksudat
eksudat
k!oroid
+ "etina
ter#ibat.
$en%o#ok den&an
kesuraman 'in&&ir
neuroretina# dan retina#
vas(u#ar bed.
)idak ada eksudat
besar*kadan&kadan&
aera! tertentu in+#trasi
#ebi! da#am
)idak ada atau terbatas
'ada e'ite# 'i&men
keru(ut dan batan&.
,iasan%a rin&an atau
sedan& dan berada sekitar
eksudat.
Eksudateksudat besar
'in&&ir'in&&ir susut akibat
retina atau edema sub
retinasekitarn%a.
-ekstrusi retina
') P$($ri&saan
Pemeriksaan pada mata
Terdiri dari pemeriksaan visus, pemeriksaan dengan binokuler, pemeriksaan
dengan funduskopi dan pemeriksaan lapangan gelap.
Pemeriksaan darah
Terdiri dari pemeriksaan darah rutin dan indikator leukosit yang akan diamati.
Pemeriksaan etiologi
Seperti apabila dicurigai penyebabnya kuman T%: dilakukan ,antouA test
2test untuk Tuberkulosis3 dan rontgen 2ThoraA 3.
15
Pada umumnya segmen anterior bola mata tidak menunjukkan tanda+tanda
peradangan sehingga seringkali proses uveitis posterior tidak disadari oleh penderita
sampai penglihatannya kabur.
7esi pada fundus biasanya dimulai dari retinitis atau koroiditis tanpa
komplikasi. !pabila proses peradangan berlanjut akan didapatkan retinikoroiditis, hal
yang sama terjadi pada koroiditis yang akan berkembang menjadi korioretinitis. Pada
lesi yang baru didapatkan tepi lesi yang kabur dan lesi terlihat ) dimensional dan
dapat disertai perdarahan disekitarnya, dilatasi vaskuler atau sheating pembuluh
darah.
Pada lesi lama didapatkan batas yang tegas seringkali berpigmen rata atau
datar dan disertai hilang atau mengkerutnya jaringan retina atau koroid. Pada lesi yang
lebih lama didapatkan parut retina atau koroid tanpa bisa dibedakan jaringan mana
yang lebih dahulu terkena.
.
)) P$naala&sanaan
Tujuan utama dari pengobatan uveitis adalah untuk mengembalikan atau
memperbaiki fungsi penglihatan mata. !pabila sudah terlambat dan fungsi
penglihatan tidak dapat lagi dipulihkan seperti semula, pengobatan tetap perlu
diberikan untuk mencegah memburuknya penyakit dan terjadinya komplikasi yang
tidak diharapkan. !dapun terapi uveitis dapat dikelompokkan menjadi /
)
T$ra*i non s*$si"i& +
1. Penggunaan kacamata hitam
0acamata hitam bertujuan untuk mengurangi fotofobi, terutama akibat
pemberian midriatikum.
2. 0ompres hangat
'engan kompres hangat, diharapkan rasa nyeri akan berkurang, sekaligus
untuk meningkatkan aliran darah sehingga resorbsi sel+sel radang dapat lebih
cepat.
). ,idritikum* sikloplegik
Tujuan pemberian midriatikum adalah agar otot+otot iris dan badan silier
relaks, sehingga dapat mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan.
16
Selain itu, midriatikum sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya sinekia,
ataupun melepaskan sinekia yang telah ada.
,idriatikum yang biasanya digunakan adalah/
a. Sulfas atropin 1< sehari ) kali tetes
b. 1omatropin 2< sehari ) kali tetes
c. Scopolamin $,2< sehari ) kali tetes
.. !nti inflamasi
!nti inflamasi yang biasanya digunakan adalah kortikosteroid, dengan dosis
sebagai berikut/
'e(asa / Topikal dengan deAamethasone $,1 < atau prednisolone 1 <. %ila
radang sangat hebat dapat diberikan subkonjungtiva atau periokuler / /
a. 'eAamethasone phosphate . mg 21 ml3
b. Prednisolone succinate 2" mg 21 ml3
c. Triamcinolone acetonide . mg 21 ml3
d. ,ethylprednisolone acetate 2$ mg
%ila belum berhasil dapat diberikan sistemik Prednisone oral mulai C$ mg
per hari sampai tanda radang berkurang, lalu diturunkan " mg tiap hari.
!nak / prednison $," mg*kgbb sehari ) kali.
Pada pemberian kortikosteroid, perlu di(aspadai komplikasi+komplikasi yang
mungkin terjadi, yaitu glaukoma sekunder pada penggunaan lokal selama lebih dari
dua minggu, dan komplikasi lain pada penggunaan sistemik.
T$ra*i s*$si"i&
Terapi yang spesifik dapat diberikan apabila penyebab pasti dari uveitis
anterior telah diketahui. 0arena penyebab yang tersering adalah bakteri, maka
obat yang sering diberikan berupa antibiotik, yaitu /
'e(asa / 7okal berupa tetes mata kadang dikombinasi dengan steroid.
!nak / :hloramphenicol 2" mg*kgbb sehari )+. kali.
Dalaupun diberikan terapi spesifik, tetapi terapi non spesifik seperti
disebutkan diatas harus tetap diberikan, sebab proses radang yang terjadi adalah
sama tanpa memandang penyebabnya.
,) P$n-.li
+ 0eratopati pita
Uveitis kronik dalam beberapa tahun khususnya pada anak akan menimbulkan
pengendapan kalsium pada membrane basalis dan lapisan bo(man. Endapan
kalsium biasanya ditimbulkan pada daerah intrapalpebra sering meluas ke
daerah sumbu penglihatan. Terapi dilakukan dengan cara epitel kornea sentral
17
dilepaskan dengan 1" bard parker blade dengan meninggalkan sel # sel stem
limbal secara utuh, kemudian ditetesi E'T! $,)"< " menit kemudian dicuci
dengan %SS. Proses ini diulang hingga beberapa kali sampai deposit kalsium
hilang dan dipasang bandage lensa kontak kemudian diberi antibiotik dan
sikloplegik.
+ 0atarak
Penanganan katarak pada kasus uveitis bisa dilakukan dengan
fakoemulsifikasi dengan implantasi !"# in the bag. Pada kasus ?4! terkait
uveitis penanganan operasi katarak dilakukan dengan menunggu ketenangan
reaksi dalam ) bulan, kemudian diberi steroid pre operasi selama 1 hingga 2
minggu. 'ilakukan sinekiolisis dengan viskoelastik diikuti oleh kapsuloresis
dan fakoemulsifikasi serta implantasi !"# in the bag. Steroid diberikan hingga
" bulan. 'ianjurkan menggunakan &-7 akrilik hidrofobik. Penggunaan
intraoperatif tiamsinolon asetonid . mg intravitreal dapat mencegah terjadinya
fibrin pasca bedah katarak dibandingkan dengan penggunaan steroid
intravenus intraoperatif.
+ 8laukoma
'apat berupa hipertensi okular, glaukoma uveitik, glaukoma sekunder sudut
sempit, glaukoma sekunder sudut terbuka, glaukoma induksi kortikosteroid,
glaukoma uveitis mekanisme kombinasi. Pemeriksaan pasien dengan
hipertensi okuli dan uveitis dianjurkan diperiksa foto papil. Evaluasi -:T
papil nervus optikus dan pemeriksaan lapangan pandang secara berkala.
Tindakan operasi pada uveitis adam antiades %ehcet dengan mitomisin :
intraoperatif pada trabekulotomi dapat mengontrol tekanan bola mata tanpa
obat # obatan pada C) < pasien pada akhir tahun pertama dan 62 < pada "
tahun pasca bedah. %eberapa penyulit dijumpai / katarak, kebocoran bleb, dan
efusi koroid. %eberapa kasus khusus misalnya pada pseudofakik atau afakik
membutuhkan alat drainase seperti implan monteno, implan ahmed, dan
implan baerveldt. Untuk mencegah terjadinya glaukoma steroid lebih aman
digunakan fluorometolol, loteprednol atau rimeksolon.
+ !blasi retina
!blasi retina rematogenues terjadi pada ) < pasien dengan uveitis, panuveitis,
infeksi uveitis, pars planitis dan uveitis posterior paling sering terjadi ablasi
retina. 7ebih dari )$ < kasus uveitis dengan ablasi retina terjadi proliferasi
18
vitreoretina 2PU43 dalam hal ini maka sklera buckling dan vitrektomi pars
plana perlu dilakukan. !ngka keberhasilan operasi sebesar 6$ < dengan visus
akhir kurang dari 6 * 6$.
+ ;eovaskularisasi retina dan khoroid
'apat terjadi pada setiap uveitis kronik khususnya pada pars planitis,
panuveitis sarkoidosis, beberapa variasi kasus vaskulitis retina termasuk
penyakit ecles. ;eovaskularisasi retina terjadi pada radang kronis atau
nonperfusi kapiler. Terapi dapat dilakukan dengan steroid atau imunodulator
atau fotokoagulasi laser scatter didaerah iskemik.
;eovaskularisasi kronik dapat berkembang pada uveitis posterior dan
panuveitis pada umumnya terjadi pada histoplasmosis, koroiditis pungtata,
koroiditis multifaktor idiopatik serta koroiditis serpiginosa. Terapi dilakukan
dengan fotokoagulasi lokal peripapiler ditempat terjadi ;U0. %eberapa
imunomodulator dapat dapat dikombinasi dengan anti 5E8B seperti
pegabtanid, bevaci9umab, ranibi9umad.
+ Endoftalmitis
'ikaitkan dengan inflamasi bola mata yang melibatkan vitreus dan segmen
depan namun kenyataan juga dapat melibatkan koroid dan retina. Pada
prinsipnya endoftalmitis dibagi 2 bentuk yaitu infeksi dan noninfeksi.
%entuk endoftalmitis yang paling sering dijumpai adalah endoftalmitis infeksi
yang dapat terjadi secara eksogen maupun endogen. Endoftalmitis infeksi
disebut juga endoftalmitis steril disebabkan oleh stimulus non+ infeksi
misalnya sisa massa lensa pasca operasi katarak * atau bahan toksik yang
masuk ke dalam bola mata karena trauma.
8ejala klinik yang sering timbul adalah penurunan tajam penglihatan,
hipopion, vitritis. Penurunan tajam penglihatan mendadak dapat berkisar mulai
dari ringan hingga berat, nyeri sering menyertai kasus endoftalmitis, kadang
didapat hiperemia maupun kemosis konjungtiva dan terdapat udem pada
kelopak mata dan kornea.
/) Ko(*li&asi
+ 1ipopion
Penyakit segmen posterior yang menunjukan perubahan+perubahan
peradangan dalam uvea anterior dan disertai hipopion adalah leukemia,
penyakit behcet, sifilis, toksokariasis, dan infeksi bakteri.
+ 8laukoma
19
8laukoma sekunder mungkin terjadi paad pasien sindom nekrosis retina akut,
toksoplasmosis, tuberculosis.
+ 5itritis
Peradangan korpus vitreum dapat menyertai uveitis posterior.peradangan
dalam vitreum berasal dari focus+focus radang di segmen posterior mata.
Peradangan dalam vitreus tidak terjadi pada pasien koroiditis geografik atau
histoplasmosis. Sedikit sel radang dalam vitreus dapat terlihat pada pasien sel
sarcoma reticulum, infeksi cytomegalovirus, rubella, dan beberapa kasus
toksoplasmosis dengan focus+fokus kecil pada retina. Sebaliknya, peradangan
berat dalam vitreus dengan banyak sel dan eksudat terdapat pada tuberculosis,
toksokariasis, sifilis.
0) Pro!nosis
Uveitis umumnya berulang, penting bagi pasien untuk melakukan
pemeriksaan berkala dan cepat me(aspadai bila terjadi keluhan pada matanya. Tetapi
tergantung di mana letak eksudat dan dapat menyebabkan atropi. !pabila mengenai
daerah makula dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang serius.
20
BAB III
KESIMPULAN
Uveitis posterior adalah proses peradangan pada segmen posterior uvea, yaitu pada
koroid, dan disebut juga koroiditis. Peradangan di uvea posterior dapat menyebabkan gejala
akut tapi biasanya berkembang menjadi kronik. 8ejala khas dari uveitis posterior adalah
tajam penglihatan yang menurun, floating spot dan skotoma.
'alam membuat diagnosis uveitis posteriorharus akurat dan lengkap tentang ri(ayat
perjalan penyakit dan sistem yang mendapat kelainan yang berhubungan dengan uveitis.
4i(ayat pemakan kortikosteroid yang lama, obat+obatan imunosupresan, terapi antibiotik,
obat+obat intravena atau pasien dengan hipereliminasi bakterial endogen, jamur, dan penyakit
virus. Pasien dengan penyakit sistemik kolagen vaskular yang berhubungan dengan
dermatologi, jaringan ikat, paru+paru, gastrointestinal dan saluran kemih yang dapat
mempermudah terjadinya inflamasi. Pertimbangan lain adalah umur pasien apakah timbulnya
unilateral atau bilateral.
Tujuan utama dari pengobatan uveitis adalah untuk mengembalikan atau memperbaiki
fungsi penglihatan mata. !pabila sudah terlambat dan fungsi penglihatan tidak dapat lagi
dipulihkan seperti semula, pengobatan tetap perlu diberikan untuk mencegah memburuknya
penyakit dan terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan.
Uveitis umumnya berulang, penting bagi pasien untuk melakukan pemeriksaan
berkala dan cepat me(aspadai bila terjadi keluhan pada matanya.
21
DA1TAR PUSTAKA
1. 1artono. 4ingkasan !natomi dan Bisiologi ,ata. U8,. Fogyakarta. 2$$
2. 4iordan Paul # Eva et al / H!natomi dan Embriologi ,ataH dalam / 4iordan Paul #
Eva, et al / H5aughan I !sbury -ftalmologi UmumH. ?akarta / E8:, edisi 1, 2$$J
). 5aughan, 'ale. $eneral "phtalmology (terjemahan3, Edisi 1.. ?akarta/ Didya
,edika, 2$$$.
.. &lyas, S, Penuntun &lmu Penyakit ,ata Edisi ketiga. Bakultas 0edokteran Universitas
&ndonesia. ?akarta / 2$$.
". Dijaya,;ana. Il(. P$n-a&i Maa. :etakan ke+6. Semarang. Universitas
'iponegoro. 1JJ) / "+6.
6. P'S,&. &lmu Penyakit ,ata. P'S,& 1JJC / 1"J+16
. :onrad. Uveitis Posterior. 'iunduh dari/ E/Kuveitis ne(sLfilesKimgres.htm 2$ -ktober
2$$C.
C. B0U0&. Teknik Penulisan &lmiah. ,ajalah 0edokteranG 'esember 2$$".
22

Anda mungkin juga menyukai