Anda di halaman 1dari 27

GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA MAHASISWA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SYIAH KUALA ANGKATAN 2010 YANG TINGGAL DI
RUMAH KOS

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi seperti saat ini, pendidikan menjadi sangatlah penting,
baik untuk mengembangkan potensi dalam diri maupun untuk mencapai impian
masa depan. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun
2003 tentang sistem pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 yang menyatakan
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasanan belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dan Pendidikan di Indonesia sendiri
terbagi menjadi Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas maupun Perguruan Tinggi. Biasanya
pendidikan dasar pada masyarakat Indonesia yang berupa Taman Kanak-Kanak,
maupun Sekolah Dasar, dilaksanakan di lembaga atau sekolah yang lokasinya
dekat dengan rumah atau dikota mereka masing-masing. Sedangkan untuk
Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas para orang tua di
Indonesia pada umumnya mendaftarkan anak-anak mereka dikota tempat tinggal
maupun diluar kota yang termasuk daerah yang dekat dengan rumah mereka, ..
Hal ini banyak terjadi karena masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa
anak umur sekolah, belum bisa mandiri dan mengatur kehidupan mereka sendiri.
Namun, biasanya pada saat anak menjalani masa untuk menempuh Perguruan
Tinggi, orang tua cenderung membolehkan dan mendukung anak mereka untuk
menjalani masa kuliah, baik di daerah mereka masing-masing maupun diluar
daerah, karena sebagai orang tua mereka menginginkan anak- anak mereka
Rumah Kontrakan
mendapatkan kualitas pendidikan terbaik, yang mungkin tidak selalu mereka
dapatkan di daerah mereka sendiri, walaupun dengan biaya yang tidak murah.
Hal tersebut juga banyak di lakukan oleh masyarakat luar daerah. Orang
tua mendukung anak-anak mereka, baik yang berjenis kelamin laki-laki maupun
yang berjenis kelamin perempuan untuk melanjutkan kuliah di luar kota, hal ini
terjadi karena meningkatnya kesadaran orang tua dalam bidang pendidikan, yang
tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dan adanya Undang-Undang
Dasar yang mengatur tentang penghapusan diskriminasi pendididkan terhadap
perempuan, yang termuat dalam pasal 10 bagian III yang menyatakan bahwa
Negara-negara peserta wajib membuat peraturan yang tepatuntuk menghapus
diskriminasi terhadap perempuan guna menjamin bagi mereka hak-hak yang
sama dengan laki-laki di lapangan pendidikan (Handayani, 2008).
Pemilihan Perguruan Tinggi atau Universitas di luar tempat tinggal asal
biasanya terjadi karena masyarakat menganggap bahwa Perguruan Tinggi atau
Universitas memiliki kualitas yang lebih baik, jika dibandingkan Universitas yang
berada di tempat tinggal asal. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan
bahwa banyak provinsi di Indonesia (terutama di luar pulauJawa) yang belum
memiliki cukup Perguruan Tinggi, baik dari segi kuantitas maupun
kualitas(Hidajat, dkk.,2000).
Banyak daerah yang bisa dijadikan pilihan dalam memilih tujuan kuliah di
pulau Jawa, misalnya kota Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat (Bandung, Bogor),
Jawa Tengah (Semarang, Solo), maupun Jawa Timur (Surabaya, Malang), karena
selain terdapat banyak pilihan perguruan tinggi, baik berupa perguruan tinggi
negeri maupun swasta yang menawarkan banyak pilihan fakultas, kota-kota
tersebut terkenal dengan kualitas perguruan tinggi yang baik, dan sudah terkenal
ke seluruh Indonesia. Selain itu, kota-kota tersebut juga memiliki iklim yang
kondusif dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh
Veni, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta yang berasa dari
Lampung pada bulan September 2008 ,Universitas yang dipilih oleh Veni untuk
melanjutkan program studinya adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta
tepatnya di propinsi Jawa Tengah, dan merupakan Universitas Islam terbesar di
Jawa Tengah. Dari data yang diperoleh dari, BAA (2008).
Dapat diketahui bahwa terdapat 134 mahasiswa luar jawa dari 4592
mahasiswa baru tahun 2007, yang berarti ada 2, 92% dari total populasi
mahasiswa baru UMS adalah mahasiswa yang berasal dari luar jawa. Karena
letaknya UMS yang berada di kota Solo, Universitas ini pun kental dengan
budaya Jawa, baik yang berupa adat istiadat, tata krama, unggah ungguh, maupun
bahasa. Masyarakat Solo sendiri adalah masyarakat yang masih menjunjung tinggi
adat istiadat Jawa, hal ini dimungkinkan karena dikota ini berdiri megah keraton
kasultanan Surakarta.
Masyarakat Solo juga terbiasa sejak kecil untuk menerapkan unggah
ungguh maupun tata krama, baik dalam berkomunikasi dengan orang tua maupun
orang lain. Selain itu, mayoritas penduduk Solo juga banyak yang mengunakan
bahasa Jawa, terutama dalam situasi informal, sehingga sedikit banyak, membuat
masyarakat yang berasal dari daerah lain merasa kesulitan berkomunikasi dengan
masyarakat setempat.
Menurut data dari penelitiian sebelumnya yang dilakukan mahasiswa-
mahasiswa baru tahun 2007 yang berasal dari luar jawa paling banyak adalah
yang berasal dari Lampung, diikuti dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,
Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Bengkulu, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara
Timur, maupun Nusa Tenggara Timur Perbedaan karakteristik sosial budaya
antara kota Surakarta dengan daerah asal, membuat mahasiswa baru harus banyak
melakukan adaptasi. Karena mahasiswa yang melanjutkan kuliahnya di
Universitas Muhammadiyah Surakarta berasal dari berbagai macam daerah,
berbagai macam suku bangsa dan tentu saja memiliki budaya yang berbeda oleh
(niam2000), .
Hal serupa juga diungkapkan yang menyatakan bahwa dampak negatif
dari kecemasan yang dialami oleh mahasiswa baru di New Zealand adalah
masalah akademis (termasuk didalamnya perbedaan bahasa dan sistem
pembelajaran disana), masalah sosial (tidak bisa berinteraksi dengan lingkungan
sekitar), dan masalah pribadi (karena merasa sendiri dan rindu rumah) (dalam
Sodjakusumah, 1996.
Mahasiswa banyak menghadapi berbagai permasalahan yang khas antara
lain perubahan sistem belajar dari sekolah lanjutan yang berbeda dengan
perguruan tinggi dan mereka menghadapi suatu lingkungan yang baru. Dalam
pondokan mahasiswa selalu menghadapi berbagai perubahan dalam
kehidupannya, baik tata cara bergaul, pola dan jenis makanan, bahasa untuk
komunikasi serta tata cara kehidupan secara menyeluruh. Berbagai perubahan itu
sering menimbulkan frustasi, konflik dan situasi krisis yang tidak dapat dihindari.
Stres dan adaptasi itulah yang menyebabkan kecemasan. Kecemasan dapat
mengakibatkan masalah akademik, olahraga dan penampilan sosial. Kecemasan
menimbulkan gangguan pada proses pikir, konsentrasi belajar, persepsi dan dapat
menimbulkan bahaya dalam kehidupan mereka yang masih belajar yang sudah
tentu mempengaruhi prestasi belajarnya (Prawirohusodo, 1991).
Kecemasan, diketahui sebagai rasa tidak aman yang timbul karena
kekhawatiran akan terjadinya sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sebagian
sumbernya tidak diketahui (Maramis, 1995), sehingga pada penelitian ini peneliti
akan mencoba untuk melihat gambaran tingkat kecemasan pada mahasiswa yang
tinggal di rumah kos pada mahasiswa angkatan 2010 program studi pendidikan
dokter universitas syahkuala yang tinggal di rumah kos

1.2 Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas menjadi perumusan masalah dalam penitilian
ini adalah :
a. Apakah mahasiswa program studi pendidikan dokter fakultas kedokteran
universitas syiahkula angakatan 2010 yang tinggal di rumah kos(mahasiswa
perantauan) mengalami kecemasan?
b. Berapakah persentase terhadap gambaran kecemasan yang dialami mahasiswa
program studi pendidikan dokter fakultas kedokteran universitas syiahkula
angakatan 2010 yang tinggal di rumah kos(mahasiswa perantauan)

1.2 Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis fenomena dan persentase
gambaran kecemasan yang dialami oleh mahasiswa prodi pendidikan dokter
Sudah termasuk dalam rumusan masalah b
a.Berapakah persentase kecemasan mahasiswa
program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala angakatan 2010 yang tinggal
di rumah kontrakan?
b. Faktor-faktor apasaja yang menimbulkan
kecemasan mahasiswa program studi pendidikan
dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
angakatan 2010 yang tinggal di rumah kontrakan?

fakultas kedokteran unversitas syahkuala angkatan 2010 yang tinggal di rumah
kos(mahasiswa perantauan).




1.2.2 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui gambaran persentase kecemasan yang dialami
mahasiswa prodi pendidikan dokter fakultas kedokteran unversitas syahkuala
angkatan 2010 yang tinggal di rumah kos(mahasiswa perantauan) melaui 14
karakteristik gejala yang tercantum pada halminton ratting scale(vikram patel
2009)


1.3 Mamfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermamfaat bagi upaya-upaya
pemecahan problem psikiatri baik secara teoritis maupun praktis bagi pihak-pihak
seperti di bawah ini :
a. Memberikan data ilmiah tentang hasil gambaran persentase dan fenomena
mengenai kecemasan terhadap fenomena dan angka persentase pada mahasiswa
fakultas kedokteran angkatan 2010 yang bertempat tinggal di rumah kos melalui
hasil proposal dan skripsi yang dibuat oleh peneliti.
b. Secara akademis dapat menjadi penelitian awal yang dapat dikembangkan oleh
peneliti selanjutnya
c. Secara teoritis dapat diajadikan paduan atau bahan bacaan oleh mahasiswa baru
yang akan berpindah dari lingkungan sekolah menengah atas ke dunia unversitas
yang tak lain adalah lingkungan yang baru dan asing bagi mahasiswa.




Berapakah persentase kecemasan mahasiswa program studi
pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
angakatan 2010 yang tinggal di rumah kontrakan
Dibagi menjadi manfaat :
a. Akademis
.
b. Praktis
.
c. Institusional
.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Konsep Dasar Mahasiswa Kost
Kost-kostan alias pondokan yaitu sebagai tempat tinggal bagi pelajar atau
mahasiswa yang melanjutkan studinya di luar kota(mulyana2000).Kost atau
indekost adalah sebuah jasa yang menawarkan sebuah kamar atau tempat untuk
ditinggali dengan sejumlah pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu
(umumnya pembayaran per bulan. Kata "kost" sebenarnya adalah turunan dari frase
bahasa Belanda "In de kost". Definisi "In de kost" sebenarnya adalah "makan di dalam"
namun bila frase tersebut dijabarkan lebih lanjut dapat pula berarti "tinggal dan ikut
makan" di dalam rumah tempat menumpang tinggal(wikipedia)
Pada zaman kolonial / penjajahan Belanda di Indonesia, "in de kost"
adalah sebuah gaya hidup yang cukup populer di kalangan menengah ke atas
untuk kaum pribumi, terutama sebagian kalangan yang mengagung-agungkan
budaya barat / Eropa khususnya adat Belanda, dengan trend ini mereka berharap
banyak agar anaknya dapat bersikap dan berprilaku layaknya bangsa Belanda atau
Eropa yang dirasa lebih terhormat saat itu. (.)
Dalam masa penjajahan, bangsa Belanda ataupun bangsa Eropa pada
umumnya mendapat status sangat terpandang dan memiliki kedudukan tinggi
dalam strata sosial di masyarakat, terutama di kalangan masyarakat pribumi
Indonesia. Orang-orang yang bukan orang Belanda dan berpandangan non-
tradisional menganggap perlunya anak mereka bersikap "seperti layaknya" orang
Belanda. Dengan membayar sejumlah uang tertentu sebagai jaminan, anaknya
diperbolehkan untuk tinggal di rumah orang Belanda yang mereka inginkan,
dengan beberapa syarat yang sudah diperhitungkan, dan resmilah si anak diangkat
sebagai anak angkat oleh keluarga Belanda tersebut. (.)
Setelah tinggal serumah dengan keluarga Belanda tersebut, selain
diperbolehkan makan dan tidur di rumah tersebut, si anak tetap dapat bersekolah
dan belajar menyesuaikan diri dengan gaya hidup keluarga tempat ia menumpang.
Dari situasi inilah mungkin sisi paling penting dari konsep "in de kost" jaman
dulu, yaitu mengadaptasi dan meniru budaya hidup, bukan sekedar hanya makan
Wikipedia jangan dijadikan
referensi, lihat referensi apa
yang dicantumkan disana
dan tidur saja, namun diharapkan setelah berhenti menumpang, sang anak dapat
cukup terdidik untuk mampu hidup mandiri sesuai dengan tradisi keluarga tempat
dimana ia pernah tinggal. Hal ini dianggap mirip atau sama dengan konsep "Home
stay" (bahasa Inggris) di zaman sekarang. (.)
Mahasiswa atau Mahasiswi adalah panggilan untuk orang yang sedang
menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi Pada
dasarnya setiap lingkungan baru akan menghadirkan suasana yang tidak nyaman
bagi sebagian orang. Hal ini dikarenakan seseorang yang memasuki lingkungan
baru dituntut untuk mempunyai kemampuan beradaptasi (menyesuaikan diri) baik
secara fisik maupun psikologis. Lingkungan baru disini adalah seggala sesuatu
atau situasi yang ada ditempat dimana mahasiswa melaksanakan studi yang
langsung maupun tidak langsung dalam mempengaruhi proses belajar, baik fisik
maupun non fisik (Gunarsa, 1987 : 57)
Pada mahasiswa kost Kehadiran seseorang di dalam lingkungan baru akan
memberikan konsekuensi adanya penyesuaian diri, sehingga setiap individu
dituntut untuk mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang baik agar
dapat melakukan tugas-tugas perkembangan yang baik pula. Seseorang yang tidak
mampu menyesuaikan diri cenderung akan lebih banyak mengalami ketegangan,
kekhawatiran dan kecemasan. Sebaliknya individu yang mempunyai kemampuan
penyesuaian diri yang baik maka permasalahan yang dihadapi di lingkungan baru
tidak terlalu sulit untuk diatasi. Hal ini dapat kita pahami karena seseorang yang
mampu melakukan penyusuaian diri akan dapat berinteraksi dengan baik dan
berkomunikasi dengan diri dan lingkungannya untuk memperoleh informasi yang
tepat dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas atau tuntutan lingkungan
sekitar(andrian1997).
Dari hasil penelitian Niam (2008), mengungkapkan bahwa kesulitan yang
sering dialami mahasiswa luar daerah sewaktu pertama kali ketempat tujuan
adalah perbedaan bahasa dan rasa makanan. Seperti dialami beberapa mahasiswa
laki-laki yang berasal dari luar Pulau Jawa di kota Jogja, dalam wawancara yang
dilakukan oleh Kedaulatan Rakyat pada hari Minggu 2 Maret 2008, para
mahasiswa yang terkumpul dalam asrama tersebut merasa kurang dapat
menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan penduduk setempat, karena dalam
(Andrian, 1997)
pergaulan penduduk setempat masih menggunakan bahasa Jawa, sehingga mereka
pun merasa kesulitan dalam berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan lingkungan
mereka yang baru tersebut.
Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi
terciptanya kesehatan mental individu. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-
orang mengalami stress dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk
melakukan penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan. Banyak individu
yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena
ketidakmampuan hidupnya dalam menyesuaikan diri baik dengan kehidupan
keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya.Sebenarnya
dalam bahasa inggris, istilah penyesuaian diri memiliki dua kata yang berbeda
maknanya, yaitu adaptasi (adaptation) dan penyesuaian (adjustment). Kedua
istilah tersebut sama-sama mengacu pada pengertian menganai penyesuaian diri,
tetapi memiliki perbedaan makna yang mendasar. (.)
Adaptasi memiliki pengertian individu melakukan penyesuaian diri
dengan lingkungan. Pengertian ini lebih menekankan pada perubahan yang
individu lakukan terhadap dirinya supaya tetap bisa sesuai dengan lingkungannya.
Penyesuaian diri (adjustment) dipahami sebagai mengubah lingkungan agar
menjadi lebih sesuai dengan diri individu. Pengertian ini lebih menekankan pada
perubahan lingkungan yang dilakukan oleh individu sehingga tetap sesuai dengan
dirinya. (.)
Penyesuaian diri yang dimaksud dalam pembahasan ini meliputi
penyesuaian diri baik dalam pengertian adaptation maupun adjustment. Individu
yang mampu menyesuaikan diri dengan baik idealnya mampu menggunakan
kedua mekanisme penyesuaian diri tersebut secara luas, tergantung pada
situasinya. Sebaliknya, individu dianggap kaku bila kurangmampu menggunakan
kedua mekanisme tersebut dengan baik atau hanya salah satu cara saja yang
dominan digunakan. Menjadi mahasiswa mengharuskan remaja yang
bersangkutan untuk melakukan penyesuain diri dengan situasi dan tuntutan yang
baru. Kekurangmampuan dalam melakukan penyesuaian diri dengan situasi dan
tuntutan yang ada dapat menimbulkan tekanan-tekanan bagi remaja yang
bersangkutan. Hal ini bila dibiarkan tanpa penyelesaian akan mempengaruhi
kesehatan mental yang bersangkutan. (.)
beberapa masalah yang harus diperhatikan oleh mahasiswa dalam
kaitannya dengan penyesuaian diri dengan situasi dan status baru yang dihadapi.
Kegagalan dalam melakukan penyesuaian diri dari beberapa masalah tersebut
dapat menimbulkan gangguan mental bagi yang bersangkutan,(Alisjahbana,1983).
Masalah pertama yang perlu diperhatikan adalah mngenai perbedaan cara
belajar. Pelajar SMU biasanya memiliki cara belajar yang lebih pasif bila
dibandingkan dengan mahasiswa. Ini disebabkan oleh cara pembelajaran yang
memang berbeda. Hamper semua materi pelajaran SMU diberikan oleh guru.
Berbeda dengan perguruan tinggi yang menuntut mahasiswa untuk lebih aktif
dalam mempelajari dan memahami materi. Belum lagi perbedaan system paket
yang diterapkan di SMU dan system SKS yang berlaku diperguruan tinggi
(Maslim, 1997).
Masalah kedua adalah berkaitan dengan perpindahan tempat. Bagi
sebagian besar mahasiswa, memasuki perguruan tinggi berarti juga harus
berpindah dari tempat tinggal bersama dengan orangtua, menjadi tinggal bersama
dengan oranglain entah itu kost, kontrakan atau tinggal bersama saudara. Belum
lagi bila situasi di tempat asal ternyata berbeda sama sekali dengan situasi di
tempat yang baru. Perpindahan tempat semacam ini membutuhkan energi yang
besar untuk melakukan penyesuaian diri pada awalnya(Maslim, 1997) .
Masalah ketiga berkaitan dengan mencari teman baru dan hal-hal yang
berkaitan dengan pergaulan. Mencari teman yang cocok bukanlah merupakan hal
yang mudah. Apalagi biasanya teman-teman kuliah maupun di tempat sekitar
tinggal biasanya juga berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. (.)
Masalah keempat berkaitan dengan pengaturan waktu. Ketidakmampuan
dalam mengatur waktu antara kegiatan kuliah, belajar, bermain dan aktifitas
lainnyadapat mengakibatkan munculnya masala-masalah lain yang terutama
berkaitan dengan tugas belajarnya(Maslim, 1997) .
Masalah lainnya menyangkut nilai-nilai hidup. Berbagai macam orang
yang ditemui serta berbagai macam informasi yang diterima di perguruan tinggi
yang biasanya lebih terbuka, bisa mengakibatkan mahasiswa yang bersangkutan
di perguruan tinggi. (Maslim,
1997)
mengalami krisis nilai. Tidak jarang pada masa krisisi ini, kahidupan masiswa
yang bersangkutan menjadi tidak menentu dan membawa dampak yang negatife
bagi kesejahteraanya(Maslim, 1997) .
Masalah-masalah diatas menjadi sumber tekanan atau stress dan
membangkitkan emosi tersendiri bagi mahasiswa. Bila mahasiswa yang
bersangkutan berhasil menangani tekanan-tekanan yang dihadapinya tersebut
dengan sukses, maka dia akan menjalani kehidupan dan perananya sebagai
mahasiswa dengan baik dan lancar. Namun bila mahasiswa tersebut gagal
menangani tekana-tekanan yang ada, maka perananya sebagai mahasiswa dan
kehidupan pribadinya akan mengalai gangguan dan hambatan. Gangguan dan
hambatan tersebut bermacam-macam bentuknya, mulai dari kekurangmampuan
untuk menunjukkan hasil yang optimal dalam belajar gangguan-gangguan psikis,
seperti gangguan suasana perasaan (Maslim, 1997)
2.2 Kecemasan
Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa
Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.
mengatakan bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu
tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi
adaptif yang sesuai(Alwisol, 2005:28).
Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang melindungi ego karena
kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak
dilakukan tindakan yang tepat maka bahaya itu akan meningkat sampai ego
dikalahkan.kecemasan ialah suatu pengalaman subjektif mengenai ketegangan
mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dan ketidakmampuan
menghadapi masalah atau adanya rasa aman. Perasaan yang tidakmenyenangkan
ini umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar,berkeringat,
detak jantung meningkat, dan lain-lain) dan gejala-gejala psikologis (sepertipanik,
tegang, bingung, tak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya). Perbedaan intensitas
kecemasan tergantung pada keseriusan ancaman dan efekivitas dari operasi-
operasikeamanan yang dimiliki seseorang. Mulai munculnya perasaan-perasaan
tertekan, tidakberdaya akan muncul apabila orang tidak siap menghadapi ancaman
Taylor (1995).

2.3 Faktor-Faktor resiko Yang Menimbulkan Kecemasan dan etiologinya
2.3.1 Etiologi
Ada beberapa teori mengenai penyebab kecemasan: (.)
a) Teori Psikologis
Dalam teori psikologis terdapat 3 bidang utama:
b) Teori psikoanalitik
Freud menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu sinyal kepada ego yang
memberitahukan adanya suatu dorongan yang tidak dapat diterima dan
menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam
tersebut. Idealnya, penggunaan represi sudah cukup untuk memulihkan
keseimbangan psikologis tanpa menyebabkan gejala, karena represi yang efektif
dapat menahan dorongan di bawah sadar. Namun jika represi tidak berhasil
sebagai
Pertahanan, mekanisme pertahanan lain (seperti konversi, pengalihan, dan
regresi) mungkin menyebabkan pembentukan gejala dan menghasilkan gambaran
gangguan neurotik yang klasik (seperti histeria, fobia, neurosis obsesif-kompulsif).
c) Teori perilaku
Teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan disebabkan oleh stimuli
lingkungan spesifik. Pola berpikir yang salah, terdistorsi, atau tidak produktif
dapat mendahului atau menyertai perilaku maladaptif dan gangguan emosional.
Penderita gangguan cemas cenderung menilai lebih terhadap derajat bahaya dalam
situasi tertentu dan menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman.
d) Teori eksistensial
Teori ini memberikan model gangguan kecemasan umum dimana tidak
terdapat stimulus yang dapat diidentifikasikan secara spesifik untuk suatu perasaan
kecemasan yang kronis.
e) Teori Biologis
Peristiwa biologis dapat mendahului konflik psikologis namun dapat juga
sebagai akibat dari suatu konflik psikologis.
f) Sistem saraf otonom
Stresor dapat menyebabkan pelepasan epinefrin dari adrenal melalui
mekanisme berikut ini:
Fondnya harus sama semua
Ancaman dipersepsi oleh panca indera, diteruskan ke korteks serebri,
kemudian ke sistem limbik dan RAS (Reticular Activating System), lalu ke
hipotalamus dan hipofisis. Kemudian kelenjar adrenal mensekresikan katekolamin
dan terjadilah stimulasi saraf otonom (Mudjaddid, 2006).
Hiperaktivitas sistem saraf otonom akan mempengaruhi berbagai sistem
organ dan menyebabkan gejala tertentu, misalnya:
- kardiovaskuler (contohnya: takikardi), muskuler (contohnya: nyeri kepala), -
- gastrointestinal (contohnya: diare), dan pernafasan (contohnya: nafas cepat).
g) Neurotransmiter
Tiga neurotransmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan adalah
norepinefrin, serotonin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA).
2.4 Patofisiologi
(.)
a. Norepinefrin
Pasien yang menderita gangguan kecemasan mungkin memiliki
sistem noradrenergik yang teregulasi secara buruk. Badan sel sistem
noradrenergik terutama berlokasi di lokus sereleus di pons rostral dan
aksonnya keluar ke korteks serebral, sistem limbik, batang otak, dan medula
spinalis. Percobaan pada primata menunjukkan bahwa stimulasi lokus
sereleus menghasilkan suatu respon ketakutan dan ablasi lokus sereleus
menghambat kemampuan binatang untuk membentuk respon ketakutan. Pada
pasien dengan gangguan kecemasan, khususnya gangguan panik, memiliki
kadar metabolit noradrenergik yaitu 3-methoxy-4-hydroxyphenylglycol
(MHPG) yang meninggi dalam cairan serebrospinalis dan urin.
b. Serotonin
Badan sel pada sebagian besar neuron serotonergik berlokasi di
nukleus raphe di batang otak rostral dan berjalan ke korteks serebral, sistem
limbik, dan hipotalamus. Pemberian obat serotonergik pada binatang
menyebabkan perilaku yang mengarah pada kecemasan. Beberapa laporan
menyatakan obat-obatan yang menyebabkan pelepasan serotonin,
menyebabkan peningkatan kecemasan pada pasien dengan gangguan
kecemasan.
c. Gamma-aminobutyric acid (GABA)
Dikutip darimana?
Peranan GABA dalam gangguan kecemasan telah dibuktikan oleh
manfaat benzodiazepine sebagai salah satu obat beberapa jenis gangguan
kecemasan. Benzodiazepine yang bekerja meningkatkan aktivitas GABA pada
reseptor GABAA terbukti dapat mengatasi gejala gangguan kecemasan umum
bahkan gangguan panik. Beberapa pasien dengan gangguan kecemasan
diduga memiliki fungsi reseptor GABA yang abnormal (Kaplan dan Saddock,
2005). Faktor budaya juga merupakan salah satu penyebab kecemasan yang
penting. Pekerjaan, pendidikan, institusi agama, dan sosial budaya semuanya
dapat menjadi konflik yang menyebabkan kecemasan.

2.5 Faktor faktor resiko kecemasan (Solomon, 1974).
Mengemukakan bahwa factor yang melatarbelakangi munculnya kecemasan
adalah situasi yang mengancam keberadaan individu antara lain konflik dan
berbagai frustasi, ancaman terhadap keselamatan, ancaman terhadap self esteem
dan tekanan-tekanan untuk bertindak diluar kemampuannya. Lebih lanjut Ia
mengatakan ada beberapa situasi yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan,
antara lain :
a. Adanya motif-motif yang saling bertentangan
b. Mengalami konflik antara perilaku dan nilai
c. Memasuki situasi yang tidak biasa, dimana individu tidak dapat memahami dan
menyesuaikan diri dengan cepat terhadap situasi tersebut
d. Memasuki situasi yang tidak menentu yang tidak dapat diramalkan
Collins (dalam Surabda, 1983:48) menyebutkan bahwa kecemasan timbul
karena adanya beberapa factor, antara lain :
a. Threat (ancaman)
b. Conflict (pertentangan)
c. Fear (ketakutan)
d. Unmet Needs (kebutuhan yang tidak terpenuhi)

2.5.1 Kecemasan Merupakan Pengalaman Emosional
Reaksi emosional/cemas terhadap situasi yang menekan merupakan bagian
dari pengalaman manusia sehari-hari. Kecemasan memiliki tingkatan tertentu
yaitu kecemasan yang wajar atau tidak. Kecemasan yang wajar tidak akan
Referensi tidak boleh dicantumkan di judul
Fond harus sama
mengganggu kehidupan manusia sehari-hari, dan akan mendorong individu untuk
lebih berhati-hati dalam menghadapi situasiyang mengancam (Barstein, 1994).
Kecemasan dapat timbul ketika individu menghadapi pengalaman-
pengalaman baru seperti masuk sekolah, memulai pekerjaan baru atau melahirkan
bayi (Stuart & Sundeen,1993).
Kecemasan juga merupakan sesuatu yang diperoleh dari belajar. Hal ini
ditunjukkan dengan kesukaran berfikir jernih dan bertindak secara efektif terhadap
tuntutan lingkungan (Mischel, 1991).
Individu akan belajar dari pengalaman kegagalan memenuhi tuntutan
lingkungan yang mengancam. Individu yang merasa terancam akan menimbulkan
kecemasan. Kecemasan sebagai sesuatu emosi yang muncul dari pengalaman
subyektif individu biasanya tidak dapat dikenali secara nyata. Hal ini berdasarkan
pernyataan bahwa Emosi yang tidak disertai dengan obyek yang spesifik
biasanya dibangkitkan oleh sesuatuyang tidak dikenal.(Stuart & Sundeen, 1993).
Kecemasan merupakan perasaan subyektif yang dialami oleh individu. Hal
ini disebabkan oleh situasi-situasi yang mengancam sehingga menyebabkan
ketidakberdayaan individu (Freud, 1954).
Kecemasan pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari
respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Kecemasan merupakan suatu
penyerta normal dari pertumbuhan, perubahan, pengalaman sesuatu yang baru dan
belum dicoba serta penemuan identitas diri dan juga menemukan arti hidup.
(Kaplan, dkk, 1996).
Dari sumber lain juga mengemukakan kecemasan sebagai pengalaman
individu yang timbul karena menghadapi konflik, ketegangan, ancaman
kegagalan, maupun badaman. Individu yang mengetahui penyebab sumber
kecemasannya merupakan suatu pertanda bahwakecemasan tersebut adalah suatu
emosi yang wajar. Whitehead, (1985)
2.5.2 Kecemasan Merupakan Hasil dari Situasi yang Mengancam
Kecemasan ditandai dengan kekhawatiran, keprihatinan dan rasa takut.
Segala bentuk situasi yang mengancam kesejahteraan organisme dapat
menyebabkan kecemasan (Atkinson,1996).
Referensi sudah terlalu lama
sebaiknya 5 tahun terakhir
Situasi yang mengancam meliputi ancaman fisik, ancaman terhadap harga
diri, dan tekanan untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan juga dapat
menyebabkan kecemasan.Kecemasan merupakan akibat dari suatu konflik,
ketegangan, ancaman kegagalan maupun perasaan tidak aman (Whitehead, 1985).
Individu yang merasa berada pada suatu kondisi yang tidak jelas akan
menimbulkan kecemasan, contohnya: khawatir akan kehilangan orang yang kita
cintai, perasaan-perasaan bersalah dan berdosa yang bertentangan dengan hati
nurani, dan sebagainya (Kartono, 1981).
bahwa kecemasan merupakan perasaan yang tidak menyenangkan karena
individu mengalami frustasi dan ketidakpastian tentang apa yang terjadi dimasa
yang akan datang, juga adanya suatu ancaman tentang kegagalan dan rasa sakit
yang akan dialaminya. Kecemasan merupakan bagian dari kondisi manusia yang
dianggap mengancam keberadaan individu dinyatakan Branca (1946).
cemas merupakan afek atau perasaan yang tidak menyenangkan dan dapat
berupa ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul akibat sesuatu
yang mengecewakan serta ancaman terhadap keinginan pribadi. Kecemasan
sebagai suatu tanda bahaya yang membuat orang bersangkutan waspada dan
bersiap diri melakukan upaya untuk mengatasi ancaman yang bersifat internal,
dan tidak jelas. (May, 1950).
kecemasan adalah emosi yang dikarakteristikkan oleh keadaan pemikiran dan
pengantisipasian terhadap bahaya. Hal ini muncul dikarenakan keputusasaan
individu yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya (Hurlock, 1978).
Kecemasan digunakan untuk menggambarkan respon seseorang yang berada
dalam bahaya. Sumber bahaya tersebut tidak bisa diidentifikasi dengan jelas
(Chruden & Sherman, 1972).
Kecemasan merupakan implementasi rasa aman dari situasi yang menyatakan
bahwa situasi kecemasan seperti ini biasanya dialami saat seorang wanita
menjalani kehamilan dan persalinan. Kebutuhan rasa aman ini menyangkut
kegelisahan dan ketakutan yang dialami Hal ini berdasarkan Kartono, (1992) .
2.5.3 Gejala Fisik, Psikologis, Sosial dari Kecemasan
Adanya gejala-gejala fisik maupun psikologis yang menyertai kecemasan
dapat dijelaskan sebagai berikut: gejala fisik meliputi telapak tangan basah,
tekanan darah meninggi, badan gemetar, denyut jantung meningkat dan keluarnya
keringat dingin. gejala-gejala fisik yang menyertai kecemasan adalah palpitasi,
keringat dingin, telapak tangan basah, denyut jantung meningkat, serta keluarnya
keringat dingin Hal ini berdasarkan (Maramis, 1980; Sulistyaningsih, 2000)
Kecemasan merupakan respon terhadap kondisi stres atau konflik.
Rangsangan berupakonflik, baik yang datang dari luar maupun dalam diri sendiri.
Hal ini akan menimbulkan respon dari sistem syaraf yang mengatur pelepasan
hormon tertentu. Akibat pelepasan hormon tersebut, maka muncul perangsangan
pada organ-organ seperti lambung, jantung, pembuluh darah maupun alat-alat
gerak. Selain itu juga dapat memicu Sistem Simpatis sebagai mekanisme
pertahanan tubuh. Sistem ini menutup arteri-arteri yang mengalir ke organ-organ
yang tidak esensial untuk pertahanan. Sistem simpatis ini mempersiapkan tubuh
untuk menghadapi kondisi darurat dan bahaya (Mongan, 2005:55)
Individu yang mengalami ancaman akan mengakibatkan perubahan-
perubahan fisiologik dari sistem endokrin. Hal ini akan menyebabkan peningkatan
kerja dari simpatik dan parasimpatik susunan syaraf otonom. Gangguan hormonal
inilah yang akan menyebabkan terjadinya perubahan aktivitas metabolik di dalam
tubuh (Simandjuntak, dkk,1984)
Kecemasan akan melibatkan komponen kejiwaan maupun fisik. Hal
tersebut pada tiap individu bentuknya berbeda-beda. Gejala-gejala tersebut
merupakan akibat dari rangsangan sistem syaraf otonom maupun viceral. Individu
akan mengeluh sering kencing atau susah kencing, mulas, mencret, kembung,
perih di lambung, keringat dingin, berdebar-debar, darahtinggi, sakit kepala, dan
sesak nafas. (..)
Ada faktor-faktor yang dapat menyebabkan individu mengalami
kecemasan. Faktor faktor tersebut adalah keadaan biologis, kemampuan
beradaptasi/ mempertahankan diri terhadap lingkungan yang diperoleh dari
perkembangan dan pengalaman, serta adaptasi terhadap rangsangan, situasi atau
stressor yang dihadapi. Sumber stressor/situasi yang dapat menyebabkan
kecemasan didapatkan dari lingkungan sosial. (..)
Lingkungan sosial mempunyai aturan-aturan, kebiasaan, hukum-hukum
yang berlaku di daerah tertentu. Hal inilah yang menyebabkan individu harus
dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang ada. Individu yang tidak
dapat menyesuikan diri dengan norma/aturan dalam masyarakat akan
menyebabkan ketidakseimbangan dalam diri dan sosialnya, sehingga dapat
menimbulkan kecemasn (Simandjuntak, dkk, 1984)
Anxietas Dapat disebabkan oleh ancaman terhadap konsep diri, status
kesehatan, status sosial ekonomi, fungsi peran, pola interaksi ataupun lingkungan.
Adanya ancaman terhadap kehidupan, konflik yang tidak disadari oleh individu,
kebutuhan yang tidak terpenuhi ataupun karena adanya flashback. Hal ini
dibuktikan oleh adanya tanda dan gejala otonom seperti takikardi, nafas cepat,
palpitasi, ketegangan otot dan diaphoresis. Perasaaan ketakutan, cemas dan
khawatir. Peningkatan gejala-gejala seperti mimpi buruk/flashback dan
ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan. (..)
ada dua tingkatan kecemasan. Pertama, kecemasan normal, yaitu pada saat
individu masih menyadari konflik-konflik dalam diri yang menyebabkan cemas.
Kedua, kecemasan neurotik, ketika individu tidak menyadari adanya konflik dan
tidak mengetahui penyebab cemas, kecemasan kemudian dapat menjadi bentuk
pertahanan diri ,Jersild (1963).
Bucklew (1980), para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua
tingkat, yaitu :
1. Tingkat psikologis. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan,
seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak
menentu dan sebagainya.
2. Tingkat fisiologis. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada
gejala-gejala fisik, terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat
tidur, jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.
Simptom-simptom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan
menurut adalah muntah-muntah, diare, denyut jantung yang bertambah keras,
seringkali buang air, nafas sesak disertai tremor pada otot.
kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil, sangat mudah
tersinggung dan marah, sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah
Stern(1964) .



manifestasi kecemasan terwujud dalam empat hal berikut ini. ( Kartikasari, 1995)

Penelitian mengatakan sumber-sumber ancaman yang dapat menimbulkan
kecemasan tersebut bersifat lebih umum. Penyebab kecemasan menurut Horney,
dapat berasal dari berbagai kejadian di dalam kehidupan atau dapat terletak di
dalam diri seseorang Horney (dalam Arndt, 1974),.
Suatu kekaburan atau ketidakjelasan, ketakutan akan dipisahkan dari
sumber-sumber pemenuhan kekuasaan dan kesamaan dengan orang lain adalah
penyebab terjadinya kecemasan dalam konsep kecemasan Angyal (Arndt, 1974).
Selanjutnya, berkaitan dengan sebab-sebab kecemasan, mengemukakan
bahwa lemahnya ego akan menyebabkan ancaman yang memicu munculnya
kecemasan. Freud berpendapat bahwa sumber ancaman terhadap ego tersebut
berasal dari dorongan yang bersifat insting dari id dan tuntutan-tuntutan dari
superego. ego disebut sebagai eksekutif kepribadian karena ego mengontrol pintu-
pintu ke arah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia akan memberikan
respon, dan memutuskan insting- insting manakah yang akan dipuaskan dan
bagaimana caranya. Dalam melaksanakan fungsi-fungsi eksekutif ini, ego harus
berusaha mengintegrasikan tuntutan id, superego, dan dunia luar yang sering
No. Komponen Simptom
1. Suasana hati Diikuti oleh symptom psikologis berupa perasaan
tegang, dan mudah marah
2. Pikiran Diikuti oleh symptom berupa rasa kuatir, sukar
berkonsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan
ancaman, memandang diri sangat sensifit dan merasa
tidak berdaya
3. Motivasi Diikuti oleh symptom berupa menghindari situasi
ketergantungan yang tinggi dan ingin melarikan diri dari
masalah
4. Perilaku Diikuti oleh symptom berupa gugup, kewaspadaan yang
berlebihan, gelisah
5. Gejala biologis Berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual dan
sering buang air
bertentangan. Hal ini sering menimbulkan tegangan berat pada ego dan
menyebabkan timbulnya kecemasan Freud (dalam Hall dan Lindzay, 1995)
sumber-sumber ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan tersebut
bersifat lebih umum. Penyebab kecemasan menurut Horney, dapat berasal dari
berbagai kejadian di dalam kehidupan atau dapat terletak di dalam diri seseorang
Horney (dalam Arndt, 1974).
Suatu kekaburan atau ketidakjelasan, ketakutan akan dipisahkan dari
sumber-sumber pemenuhan kekuasaan dan kesamaan dengan orang lain adalah
penyebab terjadinya kecemasan dalam konsep kecemasan Angyal (Arndt, 1974).
sumber-sumber kecemasan adalah need-need untuk menghindar dari terluka
(harmavoidance), menghindari teracuni (infavoidance), menghindar dari
disalahkan (blamavoidance) dan bermacam sumber-sumber lain. Disamping
ketiga need tersebut, kecemasan dapat merupakan reaksi emosional pada berbagai
kekhawatiran, seperti kekhawatiran pada masalah sekolah , masalah finansial,
kehilangan objek yang dicintai dan sebagainya (Arndt 1974).
Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, perempuan lebih
cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif,
eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Penelitian lain menunjukkan
bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan (Power dalam Myers, 1983).
perempuan memiliki skor yang lebih tinggi pada pengukuran ketakutan dalam
situasi sosial dibanding laki-laki Morris (dalam Leary, 1983)
juga mengungkapkan bahwa neurosa kecemasan ialah kondisi psikis
dalam ketakutan dan kecemasan yang kronis, sungguhpun tidak ada rangsangan
yang spesifik Kartono (1981).
Ada perbedaan mendasar antara kecemasan dan ketakutan. Pada
ketakutan, apa yang menjadi sumber penyebabnya selalu dapat ditunjuk secara
nyata, sedangkan pada kecemasan sumber penyebabnya tidak dapat ditunjuk
dengan tegas, jelas dan tepat.( Wignyosoebroto 1981).







2.6 Kerangka teori



















MAHASISWA
KOST

Stresor :
ganguan penyesuaian pada mahasiswa
perantauan (Maslim, R: 1997)
a) lingkungan tempat tinggal baru.
b) perbedaan cara belajar
c) perbedaan budaya dengan tempat
tinggal asal
d) nilai hidup
e) pergaulan baru
f) kebutuhan waktu terbatas
Tekanan mental: (niam2005)
a) gangguan alam perasaan
b) kecemasan/anxietas
c) depresi
d) culture shock
Kecemasan:
a) definisi cemas
b) etiologi cemas
c) patofisiologi cemas
d) gejala dan manifestasi klinis cemas
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Survey deskriptif yang dilakukan
dengan bertujuan untuk melihat gambaran fenomena, yang terjadi pada populasi
tertentu.survey deskriptif juga dapat didefenisikan suatu penelitiaan yang
dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang
terjadi dalam masyarakat(notoadmojo2010)

3.2 Definisi Operasional

variabel Definisi
operasional
Alat ukur Hasil ukur skala
Cara
Penyesuaian
Mahasiswa
Kos
Persepsi
mengenai
menghadapi
berbagai
permasalahan
yang khas antara
lain perubahan
sistem belajar
dari sekolah
lanjutan yang
berbeda dengan
perguruan tinggi
dan mereka
menghadapi
suatu
lingkungan yang
baru
Kuisioner A
terdiri dari 8
pertanyaanmen
gunakan skala
brugman untuk
pertanyaan
0= tidak
1= ya
Jumlah Total skor
tentang persepsi
permasalahan
mengenai
adaptasi pada
mahasiswa kos
nilai ukur
Skor minimal =0
Skor maksimal=8
Untuk
menjelaskan
secara deskriptif
maka data
dikategorikan
6-8=BURUK
3-6=BAIK
<3= BAIK

Interval
Tidak sesuai
judul
Gambaran
Tingkat
kecemasan
pada
mahasiswa
perantauan(
kos)
Adalah respon
emosional
terhadap situasi
yang
menyebabkan
cemas
KuisionerB(ha
rs)halminton
anxiety ratting
scale yang
terdiri dari 14
jumlah
pertanyaan
untuk
kecemasan
menjelaskan
secara
deskriptif
maka
dikategorikan:
0= tidak ada
pernah ada
gejala
1=ada gejala
(ada dari satu
point)
2=sedang(sepa
ruh dari point
yang ada pada
hars
3=berat dari
gejala separuh
yang ada
4=sama/sekali
panik(semua
gejal yang ada)
Total nilai ukur
Total nilai
<14=tidak ada
kecemasan
>20=cemas
ringan
21-27 cemas
sedang
28-41=cemas
berat
42-56=cemas
berat sekali
interval



3.2.1 Penjabaran Variabel

Variabel independent :
1. Gambaran kecemasan
Bucklew (1980), para ahli membagi bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat,
yaitu :

a) Tingkat psikologis. Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan,
seperti tegang, bingung, khawatir, sukar berkonsentrasi, perasaan tidak menentu
dan sebagainya.
b) Tingkat fisiologis. Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada
gejala-gejala fisik, terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur,
jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.

Simtom-simtom somatis yang dapat menunjukkan ciri-ciri kecemasan menurut
adalah muntah-muntah, diare, denyut jantung yang bertambah keras, seringkali
buang air, nafas sesak disertai tremor pada otot. Kartono (1981) menyebutkan
bahwa kecemasan ditandai dengan emosi yang tidak stabil, sangat mudah
tersinggung dan marah, sering dalam keadaan excited atau gempar gelisah
Stern(1964) .
Sue, dkk (dalam Kartikasari, 1995) menyebutkan bahwa manifestasi kecemasan
terwujud dalam empat hal berikut ini.

No. Komponen Simptom
1. Suasana hati Diikuti oleh symptom psikologis berupa
perasaan tegang, dan mudah marah
2. Pikiran Diikuti oleh symptom berupa rasa kuatir,
sukar berkonsentrasi, pikiran kosong,
membesar-besarkan ancaman, memandang diri
sangat sensifit dan merasa tidak berdaya
3. Motivasi Diikuti oleh symptom berupa menghindari
situasi ketergantungan yang tinggi dan ingin
melarikan diri dari masalah
4. Perilaku Diikuti oleh symptom berupa ,gugup,gemetar
kewaspadaan yang berlebihan, gelisah
5. Gejala biologis Berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar,
mual dan sering buang air


2. penyesuaian
Penyesuaian diri adalah pengertian adaptation maupun adjustment.
Individu yang mampu menyesuaikan diri dengan baik idealnya mampu
menggunakan kedua mekanisme penyesuaian diri tersebut secara luas, tergantung
pada situasinya. Sebaliknya, individu dianggap kaku bila kurangmampu
menggunakan kedua mekanisme tersebut dengan baik atau hanya salah satu cara
saja yang dominan digunakan. (Alisjahbana,1983)

Variable dependent : Mahasiswa kost
Mahasiswa kos adalah, yang berpindah dari tempat tinggal bersama
dengan orangtua, menjadi tinggal bersama dengan oranglain entah itu kost,
kontrakan atau tinggal bersama saudara
Pada mahasiswa kost Kehadiran di dalam lingkungan baru akan
memberikan konsekuensi adanya penyesuaian diri, sehingga setiap individu
dituntut untuk mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang baik agar
dapat melakukan tugas-tugas perkembangan yang baik pula. Seseorang yang tidak
mampu menyesuaikan diri cenderung akan lebih banyak mengalami ketegangan,
kekhawatiran dan kecemasan. Sebaliknya individu yang mempunyai kemampuan
penyesuaian diri yang baik maka permasalahan yang dihadapi di lingkungan baru
tidak terlalu sulit untuk diatasi. Hal ini dapat kita pahami karena seseorang yang
mampu melakukan penyusuaian diri akan dapat berinteraksi dengan baik dan
berkomunikasi dengan diri dan lingkungannya untuk memperoleh informasi yang
tepat dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas atau tuntutan lingkungan
sekitar(andrian1997).

3.3 Tempat dan Waktu
3.3.1 Tempat
tempat penelitian di fakultas kedokteran universitas syahkuala.
3.3.2 Waktu:
waktu penelitian pada bulan februari?
3.4 Populasi dan Sample
Populasi dalam penelitian adalah semua mahasiswa) angkatan 2010 program studi
pendidikan dokter fakultas kedokteran universitas syahkuala sebanyak 250
orang,sementara sample adalah mahasiswa (perantauan ) angkatan 2010 program
studi pendidikan dokter fakultas kedokteran universitas syahkuala yang tinggal di
rumah kos sebanyak 60 orang
Dalam penelitian ini ,pengambilan sample disesuaikan dengan rumus yang
dikemukakan oleh slovin (1960),yang dikutip oleh (Notoadmojo2005) yaitu
sebagai berikut :

n = N
1+N(d)
Keterangan
N = BESAR populasi
n = BESAR sample
d = Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketidaktepatan
yang diinginkan(10%)
Kriteria inklusi dan eklusi:
Inklusi:
1.Mahasiswa luar daerah
2.Sudah 18 bulan tinggal di rumah kos
3.Kuliah di fakultas kedokteran sejak tahun 2010
4.Masih aktif di fakultas kedokteran (angkatan 2010)
5.Bersedia menjadi responden
Eklusi:
1.Mengalami penurunan status mental
2.Meninggalkan kuisioner ,karena berbagai alasan
3.5 Alur penelitian
Berapa besar sampelnya?
Survey lapangan dengan pengambilan data mahasiswa program studi pendidikan
dokter angkatan 2010 pada bagian subpendidikan fakultas kedokteran universitas
syiah kuala banda aceh,kemudian dilanjutkan dengan survey lapangan
menggunakan 2 buah kuisioner :
1.Kuisioner A.
hamilnton rating scalle untuk melihat kecemasan secara umum,penjabaran
pertanyaan dcamtumkan dalam 14 butir dengan skor tertentu.
2.kuisioner B.
yaitu kuisioner yang berisi 8 pertanyaan untuk mengetahui masalah yang
dialami mahasiswa kos dalam kehidupan sehari-hari.kuisioner ini menggunakan
skala ggrutman Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. Skala ini
mempunyai ciri penting, yaitu merupakan skala kumulatif dan mengukur satu
dimensi saja dari satu variabel yang multi dimensi, sehingga skala ini termasuk
mempunyai sifat undimensional. Skala Guttman yang disebut juga metode
scalogram atau analisa skala (scale analysis) sangat baik untuk menyakinkan
peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering
disebut isi universal (universe of content) atau atribut universal (universe
attribute). Dalam prosedur Guttman, suatu atribut universal mempunyai dimensi
satu jika menghasilkan suatu skala kumulatif yang sempurna,yaitu semua responsi
diatur sebagai YA DAN TIDAK
(..) kemudian dilanjutkan dengan studi pustaka,hal ini dilakukan
untuk menunjang pengumpulan informasi atau data untuk menjawab masalah-
masalah yang sudah dirumuskan .di samping itu studi pustaka juga dilakukan
untuk mendapatkan kerangka teoritis dalam penelitian,studi pustaka dalam
penelitian ini diambil dari beberapa jurnal dan buku metode penelitian sebagai
mana dijelaskan pada bab II dan bab III yang tertera pada proposal.
3.6 teknik analisis data penelitian
teknik analis data pada penelitian ini hanya sampai pada analisis univariate
yaitu untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristikan setiap variabel
penelitian (notoadmojo2010)
3.7 analisis data
analisis data dilakukan secara deskriptif dengan teknik analisi univariate.data
kemudian diinterprestasikan dalam tabel distribusi frekuansi.kemudian
dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian sesuai dengan teori kepustakaan
(chandra,2008).




Untuk mengukur ujivaliditas pada kuisioner B digunakan uji Koefisien
Reprodusibilitas, yang mengukur derajat ketepatan alat ukur yang telah dibuat
(yaitu daftarpertanyaan tadi) dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

Kr = 1- e
n
di mana:
n = total kemungkinan jawaban, yaitu jumlah pertanyaan x jumlah responden.
e = jumlah error.
Kr = koefisien reprodusibilitas

Koefisien Skalabilitas:

Ks =1- e
p

dimana:
e = jumlah error.
p = jumlah kesalahan yang diharapkan.
Ks = koefisien skalabilitas.



Perbaikan:
1. Koreksi kata/kalimat yang diberi warna merah
2. Fond penulisan harus sama (Time New Roman
3. Huruf awal Judul sub Bab ditulis huruf besar
4. Ketikan alenia pertama dalam 5 ketukan

Anda mungkin juga menyukai