Anda di halaman 1dari 27

1

TINJAUAN POLITIK HUKUM PIDANA TERHADAP


KEBIJAKAN KRIMINALISASI DELIK KESUSILAAN
DALAM UU PORNOGRAFI
Ari Wibowo
1

Abstrak
Pornography Act enactment caused controversy since it was drafted to the present.
Many people argue that Pornography Act could curb freedom of expression, so that
contrary to the spirit of a democratic regime. However Pornography Act is an urgent
need for Indonesia since pornography has become more widespread. The penal
policy may give legitimacy to the criminalization of the offenses in Pornography Act
that is to protect the morality of the people of Indonesia who still uphold the oriental
culture. In addition, the Pornography Act also can avoid the impact of pornography
that is very dangerous, especially to the children.

Keyword: Penal policy, pornography, criminalization

PENDAHULUAN
Indonesia termasuk Negara dengan tingkat konsumsi pornografi yang tinggi.
Berdasarkan data Internet Pornography Statistic tahun 2006, Indonesia berada pada
peringkat ketujuh pengakses kata sex tertinggi di internet. Sementara di tahun
2007, Googletrends menempatkan Indonesia pada peringkat kelima, sedangkan pada
tahun 2008 dan 2009 Indonesia sudah menempati peringkat tiga.
2
Semakin tingginya
tingkat akses dengan kata kunci sex dari tahun ke tahun merupakan salah satu

1
Peneliti dan Penulis HukumPidana, Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
IslamIndonesia, Yogyakarta.
2
Data ini diungkapkan oleh Peri Umar Farouk dari Gerakan Jangan Bugil Depan Kamera,
dikutip dalamDwi Haryadi, Pornografi dan Upaya Kriminalisasinya, Bangka Pos, 21 Oktober
2009
2

indikasi yang menunjukkan semakin tinggi pula tingkat akses konten-konten internet
yang mengandung pornografi.
Disamping tingginya tingkat konsumsi konten pornografi di internet, Roy
Suryo juga pernah melansir bahwa dari sekitar 24,5 juta situs dengan admin orang
Indonesia, lebih dari satu jutanya adalah situs porno.
3
Belum lagi peredaran buku,
komik, majalah, VCD dan lain sebagainya yang mengandung unsur pornografi juga
sudah tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Kondisi inilah yang mendorong
pemerintah untuk membuat undang-undang khusus mengatur masalah pornografi
yang lebih komprehensif, walaupun sebenarnya di dalam bab XIV Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana (KUHP) sudah terdapat pengaturan tentang kejahatan
kesusilaan. Dalam Buku III Bab VI tentang Pelanggaran Kesusilaan juga terdapat
pengaturan mengenai pornografi yang berupa mengungkapkan/ mempertunjukkan
sesuatu yang bersifat porno (pasal 532-534).
Sebenarnya, selain telah diatur dalam KUHP, di dalam UU No. 43 Tahun
1999 tentang Pers, UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, UU No. 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak, dan UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik (UU ITE) juga telah terdapat pengaturan tentang pornografi,
namun UU tersebut dinilai kurang memadai dan belum memenuhi kebutuhan hukum
serta perkembangan masyarakat sehingga perlu dibuat undang-undang baru yang
secara khusus mengatur pornografi.
4


3
Anonim. Situs Porno Asli Indonesia Lebih dari 1 juta. http://m.kompas.com, diakses
tanggal 22 Februari 2010
4
Penjelasan UmumUU No. 44 Tahun 2008 tetang Pornografi.
3

Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pornografi
5
telah disahkan
menjadi Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi)
dan mulai berlaku sejak tanggal 26 November 2008. Dengan berlakunya UU
tersebut, berarti telah dilakukan kriminalisasi terhadap beberapa delik kesusilaan.
Kriminalisasi sendiri bukan hanya diartikan sebagai proses penetapan suatu
perbuatan yang awalnya bukan merupakan tindak pidana menjadi tindak pidana,
6

namun lebih dari itu kriminalisasi juga termasuk penambahan (peningkatan) sanksi
pidana terhadap tindak pidana yang sudah ada.
7
J adi proses kriminalisasi bisa terjadi
pada perbuatan yang sama sekali sebelumnya tidak diancam dengan sanksi pidana,
namun juga bisa terjadi pada perbuatan yang sebelumnya sudah diancam dengan
sanksi pidana dengan memperberat ancaman sanksi pidananya. Proses kriminalisasi
diakhiri dengan terbentuknya UU yang mengandung ancaman pidana. Oleh karena
itu kebijakan kriminalisasi merupakan bagian dari kebijakan penal atau politik
hukum pidana (penal policy).
8

Sejak masih menjadi RUU hingga setelah disahkan, UU Pornografi menuai
banyak pro dan kontra. Bagi kelompok yang mendukung pengesahan RUU
Pornografi, moralitas menjadi alasan utama. Beberapa pihak seperti Majelis Ulama
Indonesia (MUI), Aliansi Pemuda dan Masyarakat Selamatkan Bangsa (APMSB),
dan beberapa organisasi masyarakat lain yang mendukung pengesahan RUU

5
Pada awal penyusunannya, RUU Pornografi bernama RUU Anti Pormografi dan Pornoaksi
(RUU APP), namun dalamperkembangannya kemudian berubah menjadi RUU Pornografi. Setelah
terjadi perdebatan sengit antar fraksi pada rapat paripurna DPR, akhirnya RUU Pornografi disahkan
menjadi Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi)
6
Barda Nawawi Arief. 2010. Kapita Selekta Hukum Pidana. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Hlm. 240.
7
Paul Cornili, dikutip dalamSalman Luthan. 2007. Kebijakan Penal Mengenai Kriminalisasi
di Bidang Keuangan (Studi Terhadap Pengaturan Tindak Pidana Dan Sanksi Pidana Dalam Undang-
Undang Perbankan, Perpajakan, Pasar Modal, Dan Pencucian Uang), disertasi pada Program Doktor
ProgramPascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta. Hlm. 54..
8
Barda Nawawi Arief, Op. Cit., hlm. 240.
4

Pornografi menilai bahwa UU Pornografi sudah menjadi kepentingan mendesak guna
menyelamatkan moral bangsa dari pornografi, terutama generasi muda.
9

Sementara gelombang penolakan terjadi di beberapa daerah seperti di
Provinsi Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Papua, serta sejumlah masyarakat
adat di beberapa daerah lain dengan alasan tidak menghormati keberagaman sesuai
dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika dan berpotensi mengancam eksistensi
beberapa kebudayaan daerah.
10
Dari kalangan budayawan, aktivis gender dan
kelompok masyarakat lain juga banyak yang menolak pengesahan RUU Pornografi
ini karena selain dapat mengancam kekayaan budaya Indonesia, RUU ini juga dinilai
diskriminatif terhadap perempuan karena perempuan lah yang nantinya akan menjadi
sasaran dalam RUU ini.
Setelah RUU Pornografi disahkan, masih banyak juga kelompok yang belum
bisa menerima yang kemudian berujung dengan pengajuan permohonan Judicial
Review kepada Mahkamah Konstitusi (MK).
11
Permohonan tersebut pada akhirnya
ditolak secara keseluruhan oleh Majelis Hakim MK. J ika putusan MK dalam
pengujian UU Pornografi sebatas pada penilaian sesuai tidaknya dengan UUD 1945,

12
maka tulisan ini mengkaji mengenai politik hukum pidana terhadap kebijakan
kriminalisasi delik kesusilaan dalam UU Pornografi. Objek kajian kebijakan

9
Timdakwatuna.com. UU Pornografi Cegah Kerusakan Moral. http://www.dakwatuna.com,
diakses tanggal 22 Februari 2010
10
Anonim. Ketua Tim Panja: RUU Pornografi Masih Mungkin Direvisi.
http://www.menkokesra.go.id, diakses tanggal 22 Februari 2010.
11
Mahkamah Konstitusi, Risalah Sidang Perkara Nomor 10/PUU-VII/2009, Perkara Nomor
17/PUU-VII/2009, dan Perkara Nomor 23/PUU-VII/2009, Perihal Pengujian Undang-Undang Nomor
44 Tahun 2008 tentang Pornografi terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, Jakarta, 6 Mei 2009.
12
Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
menyebutkan bahwa wewenang MK adalah menguji Undang-Undang terhadap Konstitusi atau
Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).
5

kriminalisasi dapat berupa latar belakang dari kebijakan tersebut, termasuk teori-teori
dalam hukum pidana yang dapat dijadikan sebagai dasar justifikasi kriminalisasi.

PEMBAHASAN
A. Tinjauan Umum Politik Hukum Pidana dan Kebijakan Kriminalisasi
Keberadaan sebuah UU tidak muncul secara tiba-tiba, namun sudah melalui
proses yang cukup panjang. Dalam proses pembentukannya, sebuah UU tidak
terlepas dari pergulatan politik yang kompleks. Dengan demikian maka bisa
dikatakan bahwa perkembangan hukum tidak terlepas dari perkembangan dinamika
atau pengaruh politik pada suatu masa.
13
Konsep inilah yang kemudian oleh
Mahfudz MD dipopulerkan dengan istilah politik hukum.
Menurut Sudarto, politik hukum adalah serangkaian usaha untuk menciptakan
norma-norma hukum yang sesuai dengan situasi dan kondisi pada masa tertentu.
Politik hukum menyangkut ius constituendum, yaitu hukum pada masa yang akan
datang dan dicita-citakan. Dua pertanyaan yang senantiasa muncul dalam politik
hukum, yaitu apakah perlu ada pembaharuan hukum? dan bidang-bidang apakah
yang harus diperbaharui?
14

Andy Hamzah mengemukakan bahwa pengertian politik hukum dalam arti
formal mencakup tahapan legislative drafting atau kebijaksanaan pemerintah dalam
membentuk produk hukum, sedangkan dalam arti materiil, politik hukum tidak hanya
mencakup legislative drafting, namun juga legal executing dan legal review.
15


13
Moh. Mahfud MD. 1999. Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Yogyakarta: Gama
Media. Hlm. 70-71.
14
Sudarto. 1981. Hukum dan Hukum Pidana. Bandung: Alumni. Hlm. 151.
15
Andi Hamzah. 1991. Politik Hukum Pidana. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Hlm. 24.
6

Bellfroid mendefinisikan politik hukum (rechtpolitiek) sebagai sebuah proses dalam
pembentukan ius contitutum (hukum positif) dari ius contituendum (rancangan
peraturan perundang-undangan) untuk memenuhi kebutuhan perubahan dalam
masyarakat.
16
Perubahan sosial yang terjadi akibat perkembangan masyarakat dan
lingkungannya meniscayakan adanya pembaharuan terhadap hukum. Dalam konteks
hukum pidana, hukum yang sudah tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi
masyarakat akan berakibat kepada benturan nilai-nilai yang bisa mengakibatkan
frustasi dan pada akhirnya berakibat pada tindakan-tindakan kriminal.
17

Politik hukum pidana merupakan bagian dari politik hukum nasional.
18

Politik hukum pidana dalam banyak literatur disebut dengan istilah kebijakan hukum
pidana (penal policy). Dengan melihat beberapa pengertian politik hukum di atas,
pengertian politik hukum pidana dapat diartikan kebijakan untuk menciptakan
peraturan perundang-undangan pidana yang baik, yaitu peraturan perundang-
undangan pidana yang dapat memberikan keadilan dan berdayaguna bagi
masyarakat.
19
Menurut Barda Nawawi Arief, politik hukum pidana merupakan
bagian dari penanggulangan kejahatan dengan menggunakan instrumen hukum
pidana yang merupakan bagian integral dari politik/ kebijakan sosial.
20


16
Sri Wahyuni. 2003. Politik Hukum Islam di Indonesia (Studi terhadap Legislasi Kompilasi
Hukum Islam), Jurnal Mimbar HukumNo. 59 Th. XIV, al-Hikmah, Jakarta, Januari-Maret. Hlm. 74.
17
Sudarto. Op. Cit.
18
Hukum hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan kriminal (criminal policy).
Kebijakan kriminal sendiri merupakan usaha rasional untuk menanggulangi kejahatan. Lihat Muladi
dan Barda Nawawi. 2007. Bunga Rampai Hukum Pidana. Bandung: Alumni. Hlm. 1.
19
Pengertian yang sama diungkapkan oleh March Ancel yang mendefinisikan penal policy
sebagai suatu ilmu sekaligus seni yang bertujuan membentuk peraturan perundang-undangan pidana
yang baik. Lihat Mokhammad Najih. 2008. Politik Hukum Pidana Pasca Reformasi. Malang: In-
TRANS Publishing. Hlm. 30.
20
Politik sosial dapat diartikan sebagai usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan
masyarakat (social welfare) yang juga mencakup perlindungan masyarakat (social defense). Lihat
Teguh Prasetyo dan Abdul HalimBarakatullah. 2005. Politik Hukum Pidana; Kajian Kebijakan
Kriminalisasi dan Dekriminalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm. 19.
7

Politik hukum pidana tidak diawali dengan proses kriminalisasi.
Kriminalisasi merupakan penetapan suatu perbuatan yang awalnya bukan merupakan
tindak pidana menjadi tindak pidana. Proses ini diakhiri dengan terbentuknya
undang-undang yang mengancam perbuatan tersebut dengan saksi pidana. Kebalikan
dari kriminalisasi adalah dekriminalisasi, yaitu menghilangkan sifat dapat
dipidananya suatu perbuatan. Pengertian dekriminalisasi ini hampir mirip dengan
depenalisi, yaitu sama-sama menghilangkan sifat dipidanya suatu perbuatan, hanya
saja jika suatu perbuatan didepenalisasi masih dimungkinkan untuk dilakukan
penuntutan menggunakan instrumen hukum lain, misalnya hukum perdata atau
administrasi Negara.
21
Kriminalisasi juga bisa diartikan tidak saja berupa penetapan
suatu perbuatan sebagai tindak pidana, namun termasuk juga penambahan sanksi
pidana terhadap tindak pidana yang sudah ada.
22


B. Delik Kesusilaan dalam UU Pornografi
Delik kesusilaan adalah delik yang berhubungan dengan kesusilaan. Definisi
ini jika dikaji lebih lanjut terdapat persoalan terutama menyangkut ruang lingkup
kesusilaan karena batasan-batasan kesusilaan berbeda-beda tergantung kepada
pandangan dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Umumnya, kesusilaan
dibatasi pada kesusilaan di bidang seksual, namun Roslan Saleh mengemukakan
bahwa kesusilaan tidak terbatas pada bidang seksual saja, namun meliputi hal-hal
lain yang termasuk dalam penguasaan norma-norma kepatutan bertingkah laku dalam

21
Sudarto. Op. Cit.. Hlm. 31-32.
22
Paul Cornili, dikutip dalamSalman Luthan. Op. Cit.
8

kehidupan bermasyarakat.
23
J ika dilihat dari batasan definisi tersebut, tindak pidana
yang dikriminalisasi di dalam UU Pornografi merupakan tindak pidana di bidang
seksual, sehingga dapat dikategorikan sebagai delik kesusilaan.
Ada tiga model pengaturan pornografi di berbagai negara, yaitu tidak
memberikan definisi, memberikan definisi, dan hanya memberikan pedoman umum.
Kebanyakan negara tidak memberikan definisi, namun Indonesia termasuk negara
yang mendefinisikan pornografi sebagaimana dalam Pasal 1 ayat (1) UU
Pornografi.
24
Pendefinisian pornografi merupakan salah satu upaya untuk
menciptakan UU Pornografi yang memenuhi syarat lex scripta (tertulis), lex certa
(terperinci dan cermat), dan lex stricta (ketat).
25
Pasal 1 ayat (1) UU Pornografi
mendefinisikan pornografi sebagai:
gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak,
animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya
melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di
muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang
melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Dalam definisi tersebut terdapat kalimat melalui berbagai bentuk media
komunikasi dan/ atau pertunjukan di muka umum yang mengandung makna bahwa
ketentuan ini ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari hal-

23
Eman Sulaeman. 2008. Delik Perzinaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana di Indonesia.
Semarang: Walisongo Press. Hlm. 76.
24
Definisi pornografi yang digunakan dalam UU Pornografi tentu telah melalui studi
komparatif terhadap undang-undang yang mengatur pornografi di berbagai negara. Definisi ini
termasuk sudah rinci karena memang tidak mudah mendefinisikan delik kesusilaan yang terkait
dengan kesusilaan yang berlaku di suatu masyarakat tertentu. Lihat Barda Nawawi Arief.
Kriminalisasi Kebebasan Pribadi dan Pornografi/ Pornoaksi dalam Perspektif Kebijakan Pidana.
Makalah disampaikan dalam Seminar tentang Kriminalisasi Kebebasan Pribadi dan Pornografi-
Pornoaksi dalam RUU KUHP. Diselenggarakan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dkk pada
tanggal 20 Desember 2005 di Hotel Graha Santika Semarang. Hlm. 25.
25
Eddy O.S Hiariej. 2009. Asas Legalitas dan Penemuan Hukum dalam Hukum Pidana.
Erlangga: Jakarta. 2009. Hlm. 4.
9

hal yang bersifat asusila. Simons dan Van Hattum berpandangan bahwa makna
dipertunjukkan di depan umum tidak harus dilakukan di tempat umum, melainkan
cukup perbuatan tersebut dapat dilihat umum dari suatu tempat umum.
26

Delik-delik kesusilaan yang telah dikriminalisasi dalam UU Pornografi diatur
dalam Bab II tentang Larangan dan Pembatasan, antara lain:
1. Memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan,
menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan,
memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang
secara eksplisit memuat:
27

a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
b. kekerasan seksual;
c. masturbasi atau onani;
d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
e. alat kelamin; atau
f. pornografi anak.
2. Menyediakan jasa pornografi yang:
28

a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang
mengesankan ketelanjangan;
b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin;
c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau

26
Lamintang. 1990. Delik-Delik Khusus: Tindak Pidana-Tindak Pidana Melanggar Norma
Kesusilaan dan Norma-Norma Kepatutan. Bandung: Mandar Maju. Hlm.16.
27
Pasal 4 ayat 1
28
Pasal 4 ayat 1
10

d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak
langsung layanan seksual.
3. Meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (1).
29

4. Memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau
menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1), kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-
undangan.
30

5. Mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4.
31

6. Menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi.
32

7. Menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung
muatan pornografi.
33

8. Mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka
umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual,
persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya.
34

9. Melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai objek sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, Pasal 8, Pasal 9, atau Pasal
10.
35


29
Pasal 5
30
Pasal 6
31
Pasal 7
32
Pasal 8
33
Pasal 9
34
Pasal 10
35
Pasal 11
11

10. Mengajak, membujuk, memanfaatkan, membiarkan, menyalahgunakan
kekuasaan atau memaksa anak dalam menggunakan produk atau jasa
pornografi.
36


C. Tinjauan Politik Hukum Pidana terhadap Kebijakan Kriminalisasi Delik
Kesusilaan dalam UU Pornografi
Menurut Oemar Seno Adji, dasar-dasar kriminalisasi terhadap delik
kesusilaan adalah sebagai berikut:
37

1. Delik-delik kesusilaan pada pokoknya dicari pada syarat kuishcid,
chastity, sexual purity or decency. Artinya bahwa delik-delik kesusilaan
harus didasarkan pada kesesuaian atau kepatutan, kesucian/ sakralitas
perbuataan seksual, sehingga kejahatan terhadap hal-hal tersebut di atas
masuk pada kategori delik kesusilaan.
2. Kriminalisasi yang ditujukan untuk tujuan perlindungan terhadap anak-
anak muda, supaya mereka jangan sampai menghadapi shocks dalam
perkembangan seksual mereka. Seperti hubungan seksual dan perbuatan
cabul yang dilakukan terhadap orang yang masih di bawah umur.
3. Mencegah orang-orang yang tidak berdaya, misalnya orang yang tidak
sadar terhadap serangan-serangan seksual.
4. Untuk melindungi anak-anak dari perbuatan cabul yang dilakukan oleh
orang-orang yang memiliki hubungan tertentu yang didasarkan atas
hubungan kesusilaan, seperti perbuatan cabul kepada anak kandung,

36
Pasal 12
37
Eman Sulaeman. Op. Cit. Hlm. 43-45.
12

anak tiri, anak angkat, anak yang ada di bawah pengawasannya, kemudian
perbuatan cabul yang dilakukan oleh pejabat terhadap bawahannya,
pengurus, dokter, guru, dan lain-lain terhadap pasien dan muridnya.
5. Adanya kekerasan atau ancaman kekerasan untuk berhubungan seksual di
luar pernikahan/ perbuatan cabul.
6. Adanya faktor-faktor komersil dalam hubungan seksual di luar
pernikahan, seperti pelacuran dan rumah-rumah bordir.
7. Adanya perlindungan terhadap kesucian lembaga perkawinan seperti
larangan perzinahan (adultery).

Selain faktor-faktor di atas, Oemar Seno Adji juga menekankan pentingnya
unsur agama dan moral dalam melakukan kriminalisasi terhadap delik-delik
kesusilaan. Artinya, perbuatan yang dapat melukai moral keagamaan dapat
dikriminalisasi.
38
Alasan-alasan ini lah yang menjadi pertimbangan utama
pembentukan UU Pornografi sebagaimana tercantum dalam konsideran UU tersebut
yang salah satunya berbunyi:
Negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila
dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, akhlak mulia, dan
kepribadian luhur bangsa, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, menghormati kebinekaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara, serta melindungi harkat dan martabat setiap
warga negara.

Konsideran tersebut sangat relevan jika dikaitkan dengan sila pertama
Pancasila yang berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam kaitannya dengan

38
Ibid.
13

persoalan moralitas, sila pertama ini dapat dihubungkan dengan pasal keempat yang
berbunyi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dalam hubungan antara sila
pertama dengan keempat ini dapat dipahami bahwa pemerintah dan penyelenggara
negara berkewajiban menjaga terselenggaranya kehidupan yang beradab atau
bermoral berdasarkan nilai-nilai ketuhanan yang Maha Esa.
39

Dalam diskursus hukum pidana, nilai-nilai moral dapat dijadikan sebagai
justifikasi terhadap kriminalisasi suatu perbuatan. Artinya perbuatan yang immoral
dapat dilegalisasi oleh legislatif menjadi perbuatan kriminal atau tindak pidana.
Ketika perbuatan immoral tidak dikriminalisasi, maka akan terjadi ketegangan antara
hukum pidana dan moral.
40
Ketegangan ini dapat terjadi karena hukum pidana akan
dinilai tidak bisa menjaga nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi dalam pergaulan
hidup masyarakat.
41

Terdapat tesis moderat dalam memandang moralitas sebagai dasar
kriminalisasi suatu perbuatan. Salah satu orang yang mempertahankan tesis ini
adalah hakim utama di Inggris, Devlin, yang berpandangan bahwa pelanggaran
moralitas merupakan pelanggaran kepada seluruh masyarakat, dan masyarakat dapat
menggunakan instrumen hukum pidana dalam melindungi moralitas. Moralitas
diakui sama pentingnya dengan eksistensi masyarakat. Moralitas publik merupakan
perekat masyarakat, dan tanpa keberadaannya, yang ada hanyalah individu-individu
kolektif, bukan masyarakat. Bahkan hakim Devlin menyatakan bahwa sekalipun
pelanggaran terhadap moral tidak merugikan orang lain, namun perbuatan tersebut
tetap dapat dihukum karena telah mengancam prinsip moral agung yang menjadi

39
Kaelan. 1996. Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Penerbit Paradigma. Hlm. 9
40
Salman Luthan. Op. Cit., hlm. 72.
41
Romli Atmasasmita. 1984. Bungan Rampai Kriminologi. J akarta: CV. Rajawali. Hlm. 56-57.
14

dasar masyarakat.
42
J ika merujuk kepada pendapat hakim Devlin, perbuatan immoral
yang tidak merugikan orang lain seperti homoseksual dan percobaan bunuh diri dapat
dikriminalisasi apabila dianggap bertentangan dengan moral agung masyarakat.
Seringkali muncul perdebatan terkait dengan batasan moralitas yang dapat
dijadikan justifikasi terhadap kriminalisasi. Dalam kaitannya dengan persoalan ini,
maka terdapat sebuah doktrin bahwa moralitas dapat diukur menggunakan ukuran
akal sehat masyarakat, dan untuk mengetahui pendapat masyarakat terhadap suatu
perbuatan dapat dilakukan melalui pendekatan ilmiah (scientific approach), misalnya
dengan penelitian. Di J erman misalnya, ketika akan dilakukan kriminalisai berkenaan
dengan percobaan bunuh diri, terlebih dahulu dilakukan penelitian mengenai respon
masyarakat terhadap percobaan bunuh diri tersebut. Hasilnya 30% menganggapnya
sebagai tindak pidana, 38% berpendapat bahwa perbuatan itu bertentangan dengan
moral, 1% menganggap bahwa perbuatan itu harus dihukum dan 47% menyatakan
tindakan tersebut tidak perlu dihukum. Penelitian lain juga pernah dilakukan
berkaitan dengan kriminalisasi terhadap seseorang yang mengetahui tentang adanya
rencana perampokan dan tidak melaporkannya kepada polisi. Sebanyak 89% dari
responden menyetujui hal itu, 60% menganggapnya berlawanan dengan moral, 21%
menyatakan bahwa orang tadi perlu dihukum, sedangkan 3% menyatakan tidak perlu
dihukum.
43
Pendekatan ilmiah dalam melakukan kriminalisasi ini dapat diterapkan di
Indonesia agar perbuatan yang dikriminalisasi benar-benar merupakan perbuatan

42
H.L.A Hart. 2009. Law, Liberty, and Morality (Terj. Ani Mualiful Maisah). Yogyakarta:
Genta Publihing. Hlm. 67.
43
Soerjono Soekanto dkk. 1981. Kriminologi Suatu Pengantar. Jakarta: Ghalia Indonesia. Hlm.
63.
15

yang dianggap immoral oleh masyarakat. Dengan demikian, kriminalisasi yang
berlebihan (overcriminalization) akan dapat dihindari.
Menurut J .E Sahetapy, beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam
pengambilan kebijakan kriminalisai antara lain nilai-nilai sosial, aspek budaya, dan
faktor struktural dari masyarakat tertentu. Terkait dengan nilai, di dalam masyarakat
selalu ada skala nilai yang bertalian dengan agama, moral, budaya, dan sosial. Suatu
perbuatan pantas dikriminalisasi atau tidak, didasarkan pada pertimbangan
bergantung pada dampak dan implikasi perbuatan itu bertalian dengan agama, moral,
budaya, dan sosial.
44
Dari pendapat ini dapat dikatakan bahwa moral merupakan
salah satu nilai yang harus diperhatikan dalam pengambilan kebijakan kriminalisasi
suatu perbuatan. Manakala suatu perbuatan berimplikasi pada terlanggarnya nilai-
nilai moralitas, maka perbuatan itu layak untuk dikriminalisasi.
Di Indonesia sendiri yang masih menjunjung tinggi budaya ketimuran, tentu
mempertunjukkan di muka umum segala sesuatu yang memuat kecabulan dan
eksploitasi seksual dianggap tabu dan sangat bertentangan dengan moralitas yang
berlaku pada masyarakat. Di Negara-negara barat saja, mayoritas negara tetap
memberlakukan pasal-pasal tentang pornografi, seperti Polandia, Norwegia,
Yugoslavia dan lain-lain.
45

Dari penjelasan tersebut, selain berdasarkan akal sehat, ukuran moralitas
dapat didasarkan pada nilai-nilai agama yang dianut oleh masyarakat. Di dalam
agama Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia misalnya, terdapat

44
J. E. Sahetapy. 1992. Teori Kriminologi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Hlm. 82.
45
Barda Nawawi Arief. 2006. Perbandingan Hukum Pidana. Jakarta: PT. RajaGrafindo
Persada. Hlm. 178-180.
16

larangan untuk mengumbar aurat (bagian tubuh yang haram untuk di lihat dan
diperlihatkan), terutama bagian-bagian tubuh yang dapat merangsang syahwat, salah
satunya alasannya karena merupakan perbuatan yang mendekati zina. Dalam al-
Qur'an surat Al-Isra ayat 32 disebutkan:

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Bangkitnya nafsu birahi akibat dari pornografi merupakan tahap awal dari
perbuatan mendekati zina yang sangat diharamkan oleh agama Islam. Bahkan
perbuatan melihat sesuatu yang membangkitkan gairah (an-nazhar bi syahwah),
dalam hal ini pornografi dapat juga dikategorikan sebagai zina (zina mata) dan
hukumnya haram sebagaimana terdapat dalam hadits riwayat Abu Hurairah dalam
kitab Jawahir Al-Bukhori. Menurut sebagian ulama, adanya pelarangan itu karena
pandangan tersebut dapat mendorong seseorang untuk melakukan zina yang
sesungguhnya.
46


46
Sahal Mahfudh. 2003. Dialog Dengan Kiai Sahal, Solusi Problematika Umat. Surabaya:
Lajnah Talif wan Nasyr NU Jawa Timur. Hlm. 360. Dalam ilmu Usul Fiqh terdapat suatu kaidah,
yang timbul dari pemahaman ayat di atas, yang menyatakan bahwa semua hal yang dapat
menyebabkan terjadinya perbuatan haram adalah haram. Kaidah lain menyebutkan Segala sesuatu
yang lahir dari sesuatu yang haram adalah haram. Jadi ketika pornografi pada akhirnya
mengakibatkan hal-hal yang berbahaya yang kesemuanya adalah haram untuk dilakukan, maka
pornografi dengan sendirinya juga menjadi haram hukumnya, sebagaimana kaidah di atas. Lihat
Keputusan Fatwa Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang: 1. Pornografi dan Pornoaksi. 2.
Risywah, Ghulul dan Hadiah untuk Pejabat. Yogyakarta: Sekretariat MUI D.I. Yogyakarta. Hlm. 6-
14. Larangan keras Islamterhadap perzinaan adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan yang sangat
dianggap primer (Dhorury) oleh Islam, yaitu melindungi kehormatan dan keturunan (Hifdzul ardh
17

Berbagai hasil pertemuan Kongres PBB mengenai The Prevention of Crime
an the Treatment of Offenders semakin memperkuat argumentasi bahwa moralitas
yang didasarkan perpaduan antara akal sehat dan nilai-nilai agama dapat menjadi
justifikasi kriminalisasi terhadap suatu perbuatan, yang oleh karenanya dapat juga
memberikan justifikasi terhadap kriminalisasi delik kesusilaan dalam UU Pornografi.
Berbagai hasil pertemuan PBB tersebut sering menghimbau agar dalam melakukan
kebijakan kriminalisasi digunakan pendekatan filosofik/ kultural, pendekatan moral
religius, dan pendekatan humanis yang diintegrasikan dengan pendekatan rasional
yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach). Beberapa pernyataan
dalam kongres tersebut intinya menyatakan:
1. Perlu adanya harmonisasi/ sinkronisasi/ konsistensi antara pembangunan/
pembaharuan hukum nasional dengan nilai-nilai atau aspirasi sosio-
filosofik dan sosio kultural.
2. Sistem hukum yang tidak berakar pada pada nilai-nilai budaya dan
bahkan ada diskrepansi dengan aspirasi masyarakat, merupakan faktor
kontribusi untuk terjadinya kejahatan (a contributing factor to the
increase of crime).
3. Kebijakan pembangunan yang mengabaikan nilai-nilai moral dan
kultural, dapat menjadi faktor kriminogen.
4. Ketiadaan konsistensi antara undang-undang dengan kenyataan
merupakan faktor kriminogen.

wan nasl). Lihat Abu Ishak al-Syatibi. 1415 H/1994 M. al-Muwafaqat f Ushl al-Ahkam. Beirut: Dar
al-Marifah. Hlm. 20
18

5. Semakin jauh UU bergeser dari perasaan dan nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat, semakin besar ketidakpercayaan akan keefektifan
sistem hukum.
47


Menurut Sudarto, selain harus memperhatikan aspek moralitas, salah satu
syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan kriminalisasi adalah, bahwa perbuatan
yang dikriminalisasi merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat.
Perbuatan yang tidak dikehendaki adalah perbuatan yang mendatangkan kerugian
atas warga masyarakat. Ada kerugian berarti ada korbannya, baik korban yang
sifatnya jelas atau yang biasa dikenal sebagai direct victim (korban langsung),
maupun korban yang sifatnya tidak tampak atau yang biasa dikenal sebagai indirect
victim (korban tidak langsung).
48
Delik-delik kesusilaan yang dikriminalisasi melalui
UU Pornografi jelas merupakan perbuatan yang dapat menimbulkan korban, baik
langsung maupun tidak langsung. Anak-anak merupakan salah satu pihak yang
rawan menjadi korban langsung perbuatan tersebut. Oleh karenanya, pada pasal 11
UU Pornografi secara khusus ditegaskan mengenai larangan untuk menjadikan anak-
anak sebagai objek yang mengandung muatan pornografi (child pornography).
Bahaya child pornography bukan hanya terhadap anak yang menjadi korban
langsung, namun dapat pula berakibat pada perubahan pola seksual orang dewasa
menjadi pedophile (orang yang mempunyai nafsu seksual kepada anak-anak). Semua
negara di dunia ini harus mengutuk child pornography karena hal ini sudah menjadi

47
Barda Nawawi Arief. Kriminalisasi Kebebasan Pribadi dan Pornografi/ Pornoaksi
.................. Op. Cit. Hlm17-18
48
Sudarto. Op. Cit. Hlm. 37.
19

standar universal, dan mutlak harus dikriminalisasi,
49
lebih-lebih di Indonesia yang
merupakan pemasok besar pornografi anak di dunia yang terungkap pada tahun 2002
ketika jaringan pornografi anak terbongkar di Texas, AS.
50

Selain dapat menimbulkan korban langsung, delik kesusilaan yang
dikriminalisasi dalam UU Pornografi juga dapat menimbulkan dampak tidak
langsung yang sangat berbahaya terutama bagi anak-anak. Berdasarkan penelitian,
kasus pemerkosaan yang dilakukan seorang anak kepada anak yang lebih lemah
terjadi hampir di seluruh Indonesia setelah menonton VCD porno. Hal ini karena
konsumsi pornografi pada anak dapat menimbulkan kecanduan dan keinginan untuk
menirunya. Anak usia 8 sampai 14 tahun ketika libido seksnya terpacu,
pelampiasannya adalah onani atau memperkosa. Penelitian yang dilakukan Komisi
Perlindungan Anak Indonesia menyebutkan 80% penghuni penjara anak-anak adalah
akibat melakukan pelanggaran seksual, seperti pemerkosaan dan pelecehan.
51
Data
Departemen Kominfo menunjukan bahwa 90 persen anak-anak di Indonesia yang
berusia antara 8 hingga 16 tahun yang menggunakan internet pernah melihat situs
porno di internet dan sebagain besar dari mereka mengaksesnya di Warnet (Warung
Internet) bersama 25 juta pengguna lain.
52
Berdasarkan temuan Yayasan Kita dan
Buah Hati, bahwa saat ini akses pornografi telah menjangkit 50 persen anak berumur
9 sampai 12 tahun di wilayah J abotabek.
53


49
Lesli C Esposito. Regulating the Internet: The New Battle Against Child Pornography.
Case Western Reserve J ournal of International Law. Spring/Summer 1998. 30. 2,3. ABI/ INFORM
Global. Hlm. 544-545.
50
Anonim. RUU Pornografi Lindungi Kerusakan Moral. Media Indonesia. 29 Oktober 2008
51
Ibid
52
Redaksi-kabarindonesia. Situs Porno di Indonesia Ditutup.
http://www.kabarindonesia.com, diakses tanggal 22 Februari 2010
53
Arya Hermawan. Pendukung RUU APP Kembali Unjuk Gigi.
http://www.kabarindonesia.com, diakses tanggal 22 Februari 2010.
20

Pornografi dapat berdampak negatif bukan saja terhadap diri pelaku, namun
juga terhadap hubungan perkawinan, sistem keluarga, dan anak-anaknya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika, akibat pornografi bagi pelaku
diantaranya dapat merubah pola tidur, kecenderungan mengisolasi diri dari keluarga,
mengabaikan tanggung jawab, berdusta, berubah kepribadiannya, kehilangan daya
tarik terhadap pasangannya, tidak percaya diri, hilangnya rangsangan nafsu dan
ereksi. Sedangkan akibat bagi pasangan dan anaknya antara lain timbul perasaan
dihianati, dilukai, dikesampingkan, dihancurkan, ditelantarkan, kesepian, malu,
cemburu, kehilangan harga diri, perasaan hina, anak-anak merasa kehilangan
perhatian orang tua, dan depresi.
54

Melihat dampak negatif pornografi yang sangat besar, maka persoalan
pornografi ini sudah menjadi keprihatinan dunia internasional, terutama terkait
dengan eksploitasi seks anak seperti terlihat dengan diselenggarakannya World
Congress against Commercial Sexual Exploitation of Children di Stockholm
Sweden, pada tahun 1996, dan International Conference on Combating Child
Pornography on the Internet di Vienna, Hofburg pada tahun 1999. Di Indonesia
sendiri, keberadaan UU Pornografi sudah menjadi kebutuhan mendesak. Kantor
Berita Associated Press pada tahun 2004 bahkan sudah menyebut Indonesia sebagai
The Next Heaven of Pornographi setelah Rusia dan Swedia.
55
UU Pornografi juga
sangat penting untuk memberantas bisnis majalah pornografi yang semakin meluas
dan dari segi ekonomi sangat menjanjikan. Penerbit tinggal mendown-load tulisan-

54
Barda Nawawi Arief. Kriminalisasi Kebebasan Pribadi dan Pornografi/ Pornoaksi
................. Op. Cit. Hlm. 23.
55
Azimah Soebagijo. 2008. Pornografi; Dilarang Tapi Dicari. Jakarta: Gema Insani Press.
Hlm. 4
21

tulisan dan gambar-gambar yang tersedia bebas di internet, sementara foto-foto syur
dapat didapatkan dengan murah bahkan gratis dari para Wanita Tuna Susila (WTS)
yang ingin mempromosikan diri. Kita bisa mengambil contoh, Oplah Tabloid Porno,
hanya dengan menggaji 2-3 karyawan saja, dapat menerbitkan sekitar 10.000-80.000
eksemplar sepekan sekali, serta selalu habis terjual. Seorang agen bahkan pernah
mengatakan bahwa hadirnya tabloid porno ini membuat cash flow usahanya semakin
lancar.
56

Setiap kebijakan kriminalisasi seharusnya memang ditujukan untuk
mendukung pencapaian tujuan negara,
57
karena kebijakan kriminalisasi pada
hakekatnya merupakan bagian dari kebijakan hukum pidana (penal policy) yang juga
bagian dari kebijakan sosial dengan tujuan menciptakan kesejahteraan masyarakat.
58

Keberadaan UU Pornografi selaras dengan tujuan negara dalam mewujudkan
pendidikan nasional yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta
akhlak mulia dalam rangka pencerdasan bangsa.
59
Selain itu, UU Pornografi juga
dapat menjadi instrumen untuk memberikan jaminan terhadap hak anak atas
kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.
60

Kebijakan kriminalisasi terhadap delik kesusilaan dalam UU Pornografi juga
hendaknya dilihat dari tujuan nasional sebagaimana ditegaskan dalam pembukaan

56
Ibid. Hlm. 5.
57
Mokhammad Najih. Op. Cit. Hlm. 44.
58
Lilik Mulyadi. 2007. Kapita Selekta Hukum Pidana, Kriminologi, dan Victimologi. Jakarta:
Penerbit Njambatan. Hlm. 30. Lihat juga dalamTeguh Prasetyo. 2010. Kriminalisasi dalam Hukum
Pidana. Bandung: Nusa Media. Hlm. 27.
59
Pasal 31 ayat (3) UUD 1945
60
Pasal 28 B ayat (2) UUD 1945
22

UUD 1945 yang berbunyi kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Kemerdekaan
disini dapat dimaknai sebagai dua hal, yaitu:
1. Menjamin kebebasan kehidupan bangsa yang berlandaskan nilai dan
budaya Pancasila. Paradigma nilai dan budaya Pancasila pada hakekatnya
mengandung keseimbangan antara nilai ketuhanan (moral-religius), nilai
kemanusiaan (humanistik), dan nilai kerakyatan (nasionalistik,
demokratik, dan keadilan sosial).
2. Mencegah segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan moral,
penjajahan budaya, penjajahan ekonomi, dan penjajahan politik.
61


Pembukaan UUD 1945 di atas juga dapat memberikan pemahaman bahwa
kebebasan tidak lah mutlak, namun harus dilihat menggunakan paradigma Pancasila
yang salah satunya harus mempertimbangkan nilai-nilai ketuhanan (moral-religius).
Dengan demikian, terkait dengan pandangan beberapa kelompok bahwa UU
Pornografi ini dinilai dapat mengekang kebebasan berekspresi terutama yang terkait
dengan seni tidaklah tepat, karena kebebasan tetap ada batasannya. Dalam pasal 28 J
ayat (2) juga disebutkan bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap
orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang
dengan maksud sematamata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak
kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan
pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu
masyarakat demokratis.

61
Barda Nawawi Arief. Kriminalisasi Kebebasan Pribadi dan Pornografi/ Pornoaksi
................. Op. Cit. Hlm. 19.
23

Selain itu, jika merujuk kepada International Covenant on Civil and Political
Rights (ICCPR),
62
kebebasan berekspresi merupakan hak yang masih dapat dibatasai
(derogable right).
63
Selanjutnya pasal 19 ICCPR mengatur hal-hal yang dapat
membatasi kebasan berekspresi, yaitu:
1. Everyone shall have the right to hold opinions without interference.
2. Everyone shall have the right to freedom of expression; this right shall
include freedom to seek, receive and impart information and ideas of all
kinds, regardless of frontiers, either orally, in writing or in print, in the
form of art, or through any other media of his choice.
3. The exercise of the rights provided for in paragraph 2 of this article
carries with it special duties and responsibilities. It may therefore be
subject to certain restrictions, but these shall only be such as are
provided by law and are necessary:
a) For respect of the rights or reputations of others;
b) For the protection of national security or of public order (ordre
public), or of public health or morals.

Dalam pasal 19 ayat (1) huruf b di atas dikatakan bahwa salah satu aspek yang dapat
dijadikan alasan untuk membatasi kebebasan berekspresi adalah moralitas. J adi,
kriminalisasi delik kesusilaan dalam UU Pornografi yang dimaksudkan untuk
melindungi moralitas, menurut ICCPR dapat membatasi hak asasi berupa kebabasan
berekspresi. Apalagi dalam pasal 3 huruf b UU Pornografi disebutkan bahwa UU ini
bertujuan menghormati, melindungi, dan melestarikan nilai seni dan budaya, adat
istiadat, dan ritual keagamaan masyarakat Indonesia yang majemuk. Sehingga

62
Indonesia telah meratifikasi ICCPR dengan UU No. 12 tahun 2005 tentang Pengesahan
International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil
Dan Politik).
63
Dalam pasal 4 (2) ICCPR disebutkan, hak yang tidak dapat dibatasai (non-derogable right)
adalah; (1) Hak hidup; (2) Hak untuk tidak disiksa atau diperlakukan secara kejam, tidak manusiawi
dalamperlakuan atau hukuman; (3) Hak bebas dari perbudakan; (4) Hak untuk tidak dipenjara semata-
mata atas dasar ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban kontrak/ perjanjian; (5) Hak untuk tidak
dituntut atas dasar hukumberlaku surut (retroaktif); (6) Hak untuk diakui sebagai subjek hukum
dimanapun seseorang berada; (7) Hak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama.
24

semestinya UU Pornografi ini tidak perlu dikhawatirkan dapat memperhangus
keneka ragaman seni, budaya, dan adat istiadat masyarakat Indonesia.

KESIMPULAN
Kebijakan kriminalisasi delik kesusilaan melalui UU Pornografi merupakan
kebutuhan yang sangat mendesak, karena penyebaran konten pornografi sudah
semakin merajalela, lebih-lebih dengan perkembangan teknologi internet yang
memberikan kesempatan kepada semua orang untuk dapat mengaksesnya dengan
mudah. Kriminalisasi delik kesusilaan ini lebih didasarkan pada perlindungan
terhadap moralitas masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi budaya
ketimuran. Moralitas disini dapat diukur menggunakan akal sehat masyarakat dan
nilai-nilai agama. Dalam kaitannya dengan nilai-nilai agama, di dalam agama Islam,
yaitu agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, pornografi
merupakan perbuatan yang terlarang (haram).
Selain itu, kriminalisasi delik kesusilaan melalui UU Pornografi juga
dilakukan dalam rangka mencapai tujuan Negara sebagaimana yang diamanatkan
oleh UUD 1945, khususnya pasal pasal 31 ayat (1) dan 28 B ayat (2). Pornografi
sangat berbahaya bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak dan remaja, bahkan
bahaya ini sudah diakui oleh masyarakat internasional. Pornografi juga memiliki
banyak dampak negatif bukan saja terhadap pelakunya tetapi juga terhadap sistem
dalam keluarga, pasangan, dan anak-anaknya.


25

Daftar Pustaka
Abu Ishak al-Syatibi. 1415 H/1994 M. al-Muwafaqat f Ushl al-Ahkam. Beirut: Dar
al-Marifah.
Andi Hamzah. 1991. Politik Hukum Pidana. J akarta: RajaGrafindo Persada.
Anonim. Situs Porno Asli Indonesia Lebih dari 1 juta. http://m.kompas.com.
-------------------, Ketua Tim Panja: RUU Pornografi Masih Mungkin Direvisi.
http://www.menkokesra.go.id.
-------------------, RUU Pornografi Lindungi Kerusakan Moral. Media Indonesia. 29
Oktober 2008
Arya Hermawan, Pendukung RUU APP Kembali Unjuk Gigi,
http://www.kabarindonesia.com.
Azimah Soebagijo. 2008. Pornografi; Dilarang Tapi Dicari. J akarta: Gema Insani
Press.
Barda Nawawi Arief. 2010. Kapita Selekta Hukum Pidana. Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti.
-------------------, 2006. Perbandingan Hukum Pidana. J akarta: PT. RajaGrafindo
Persada.
-------------------, Kriminalisasi Kebebasan Pribadi dan Pornografi/ Pornoaksi dalam
Perspektif Kebijakan Pidana. Makalah disampaikan dalam Seminar tentang
Kriminalisasi Kebebasan Pribadi dan Pornografi-Pornoaksi dalam RUU
KUHP. Diselenggarakan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dkk pada
tanggal 20 Desember 2005 di Hotel Graha Santika Semarang.
Dwi Haryadi, Pornografi dan Upaya Kriminalisasinya, Bangka Pos, 21 Oktober
2009
Eddy O.S Hiariej. 2009. Asas Legalitas dan Penemuan Hukum dalam Hukum
Pidana. Erlangga: J akarta.
Eman Sulaeman. 2008. Delik Perzinaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana di
Indonesia. Semarang: Walisongo Press.
H.L.A Hart. 2009. Law, Liberty, and Morality (Terj. Ani Mualiful Maisah).
Yogyakarta: Genta Publihing.
International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)
J . E. Sahetapy. 1992. Teori Kriminologi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti.
Lamintang. 1990. Delik-Delik Khusus: Tindak Pidana-Tindak Pidana Melanggar
Norma Kesusilaan dan Norma-Norma Kepatutan. Bandung: Mandar Maju.
Lesli C Esposito. Regulating the Internet: The New Battle Against Child
Pornography. Case Western Reserve J ournal of International Law.
Spring/Summer 1998. 30. 2,3. ABI/ INFORM Global. Hlm. 544-545.
26

Lilik Mulyadi. 2007. Kapita Selekta Hukum Pidana, Kriminologi, dan Victimologi.
J akarta: Penerbit Njambatan.
Kaelan. 1996. Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Penerbit Paradigma.
Mahkamah Konstitusi, Risalah Sidang Perkara Nomor 10/PUU-VII/2009, Perkara
Nomor 17/PUU-VII/2009, dan Perkara Nomor 23/PUU-VII/2009, Perihal
Pengujian Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi terhadap
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, J akarta, 6 Mei
2009.
Moh. Mahfud MD. 1999. Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Yogyakarta:
Gama Media.
Mokhammad Najih. 2008. Politik Hukum Pidana Pasca Reformasi. Malang: In-
TRANS Publishing.
Muladi dan Barda Nawawi. 2007. Bunga Rampai Hukum Pidana. Bandung: Alumni.
Redaksi-kabarindonesia. Situs Porno di Indonesia Ditutup.
http://www.kabarindonesia.com.
Romli Atmasasmita. 1984. Bungan Rampai Kriminologi. J akarta: CV. Rajawali.
Sahal Mahfudh. 2003. Dialog Dengan Kiai Sahal, Solusi Problematika Umat.
Surabaya: Lajnah Talif wan Nasyr NU J awa Timur.
Salman Luthan. 2007. Kebijakan Penal Mengenai Kriminalisasi di Bidang
Keuangan (Studi Terhadap Pengaturan Tindak Pidana Dan Sanksi Pidana
Dalam Undang-Undang Perbankan, Perpajakan, Pasar Modal, Dan Pencucian
Uang), disertasi pada Program Doktor Program Pascasarjana Fakultas Hukum
Universitas Indonesia J akarta.
Sekretariat MUI D.I. Yogyakarta. Keputusan Fatwa Komisi Fatwa Majelis Ulama
Indonesia Tentang: 1. Pornografi dan Pornoaksi. 2. Risywah, Ghulul dan
Hadiah untuk Pejabat. Yogyakarta: Sekretariat MUI D.I. Yogyakarta.
Soerjono Soekanto dkk. 1981. Kriminologi Suatu Pengantar. J akarta: Ghalia
Indonesia.
Sri Wahyuni. 2003. Politik Hukum Islam di Indonesia (Studi terhadap Legislasi
Kompilasi Hukum Islam), J urnal Mimbar Hukum No. 59 Th. XIV, al-Hikmah,
J akarta, J anuari-Maret.
Sudarto. 1981. Hukum dan Hukum Pidana. Bandung: Alumni.
Tim dakwatuna.com, UU Pornografi Cegah Kerusakan Moral,
http://www.dakwatuna.com.
Teguh Prasetyo. 2010. Kriminalisasi dalam Hukum Pidana. Bandung: Nusa Media.
---------------------, dan Abdul Halim Barakatullah. 2005. Politik Hukum Pidana;
Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
27

Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. 44 Tahun 2008 tetang Pornografi.
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi.