Anda di halaman 1dari 13

Farmasi industri

Kasus industri
Daun salam telah terbukti berkhasiat sebagai
penurun asam urat pada hewan uji. Industri
farmasi ingin meningkatkan statusnya menjadi
fitofarmaka
Sirup sachet daun salam
Formulasi:
Ekstrak Syzygium Polyantha 1,5 gram
Pengawet gliserin
Pemanis sirup simplex
Perasa mint
Cmc na
Pewarna
Aquadest ad 15 ml



Penyiapan bahan

Pembuatan
Pencucian dan
perajangan
daun salam
Dikeringkan
dengan lemari
pengering
Penyerbukan
dan pengayakan
Penetapan
kadar air
dengan alat
halogen
moisturizer
Standarisasi ekstrak

Standarisasi bahan baku,ekstrak, dan
zat aktif

Pembuatan ekstrak dan metode
ekstraksi

Cara pembuatan dan IPCnya
Kemasan dan penandaan

Cara pemakaian

Standarisasi
1. Standarisasi Ekstrak
Standarisasi ekstrak (bahan) mengikuti prosedur baku berdasarkan Materia
Medika Indonesia dan Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat yang
direkomendasikan oleh BPOM RI, meliputi parameter spesifik dan non spesifik.
a. Parameter spesifik


a. Parameter non spesifik
a)Susut Pengeringan
Susut pengeringan merupakan pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105oC selama 30 menit
atau sampai konstan, yang dinyatakan dalam porsen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak mengandung minyak
menguap/atsiri dan sisa pelarut organik) identik dengan kadar air, yaitu kandungan air karena berada di
atmosfer/lingkungan udara terbuka (Depkes RI, 2000).


b)Bobot Jenis
Parameter bobot jenis ekstrak merupakan parameter yang mengindikasikan spesifikasi ekstrak uji. Parameter ini
penting, karena bobot jenis ekstrak tergantung pada jumlah serta jenis komponen atau zat yang larut didalamnya
(Depkes RI, 2000).


c)Kadar air
Kadar air adalah banyaknya hidrat yang terkandung zat atau banyaknya air yang diserap dengan tujuan untuk
memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan (Depkes RI, 2000).


d)Kadar abu
Parameter kadar abu merupakan pernyataan dari jumlah abu fisiologik bila simplisia dipijar hingga seluruh unsur
organik hilang. Abu fisiologik adalah abu yang diperoleh dari sisa pemijaran (Depkes RI, 2000).