Anda di halaman 1dari 52

1

PENGARUH KEMAMPUAN MANAJERIAL DAN MOTIVASI KERJA KEPALA


SEKOLAH DALAN PENERAPAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
DI SMP TERPADU NURUL ILMI JAMBI















2

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . i
KATA PENGANTAR .. .ii
DAFTAR ISI . iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....1
B. Rumusan Masalah ..10
C. Tujuan Penelitian 10
D. Mamfaat Penelitian ...................... 11
BABII KAJIAN TEORI
2.1 Konsep Manajemen..12
2.2 Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah).13
2.3 Karakteristik MBS.18
Konsep Kemajuan Menejerial .19
2.5 Motivasi kerja .21
2.6 Kinerja Guru..23
2.5 Kerngka Berpikir ..............25
2.4 Hipotesis penelitian.27
BAB III METODE PENELITIAN
3. 1 Pendekatan Penelitian30
3.2 Lokasi penelitian.30
3

3.3 Variabel dan desain penelitian31
3.4 Definisi operasional variable32
3.5 Instrumen penelitian.34
3.6 Populasi dan sampel34
3.7 Teknik pengumpulan data35
3.8 Analisis data .38
3.9 Pengecekan Keabsahan data40
3.10 rencana Biaya Penelitian43
3.11 Jadwal Kegiatan Penelitian44
- DAFTAR
PUSTAKA.45
- Istrumen Pengumpulan Data 47










4


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan mutu pendidikan merupakan paran pembangunan di
bidang pendidikan Nasional dan merupakan bagianintegral dari upaya
peningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh. Dalam Undang-
Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3
menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskankeidupan bangsa, bertujuan untuk
mengembangkan potensi pesertadidik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada TuhanYang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan mejadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
1

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (MSDM)
merupakankebutuhan mendesak yang perlu di prioritaskan oleh pemerintah
dalam mengahadapi era globalisasi dimana perkembangan tekhnologi
daninformasi yang begitu cepat. Harus diakui bahwa yang menjadi pokok

1
Jakarta: RinekaciptaUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hlm. 12.
5

permasalah pendidikan di Indonesia adalah kinerja manajemen. Kinerja
manajemen ini di tenggarai sebagai salah satu faktor yang memilikipotensi
dalam mempengaruhi dunia pendidikan yang meliputi berbagai sumber daya
pendidikan yang terkait dengan mutu output yangdihasilkan.
2

Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan
mendasar dalam berbagai bidang kehidupan termasuk bidang pendidikan.
Salahsatu perubahan mendasar yang di gulirkan saat ini adalah manajemen
Negara , yaitu dari Manajemen Sentaralistik ke Manajemen berbasis Daerah.
Secara resmi perubahan ini di wujudkan dalam Undang-Undang No 32 Tahun
2004 tentang pemerintahan Daerah. Konsekuensi logis dalam Undang-
Undang tersebut adalah bahwa manajemen pendidikanharus di sesuaikan
dengan jiwa dan semangat otonomi Daerah.
.Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk
meningkatkanmutu pendidikan dengan cara menyempurnakan sistem
pendidikan, baik melalui penataan perangkat lunak maupun perangkat keras.
Upaya tersebut, antara lain di keluarkannya Undang-Undang No 22 dan 25
Tahun 1999 tentang otonomi Daerah serta diikuti oleh penyempurnaan
Undang-Undang sistem Pendidikan Nasional, yang secara langsung
berpengaruh terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan.
Dengan perubahan paradigma dari top-down ke bottom-up atau
desentaralisasi dalam wujud pemberdayaan sekolah, yang meyakini bahwa

2
. Manajemen Sumber DayaManusia. Jakarta: Bumi Aksara, 2007, hlm. 20.
2

6

untuk meningkatkan kualitas pendidikan sedapat mungkin keputusan harus di
buat oleh mereka yang berada di garis depan, yang bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan yaitu kepala sekolah dan guru.
Manajemen Berbasisi Sekolah (MBS) merupakan salah satu wujud
reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah untuk
mengatur kehidupan sesuai dengan potensi. tuntutan dan kebutuhannya.
Otonomi dalam manajemen merupakan tugas sekolahuntuk meningkatkan
kinerja para tenaga kependidikan, menawarkan partsispasi langsung
kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat
terhadap pendidikan. Manajemen Berbasis Sekolah yang ditawarkan sebagai
bentuk operasional desentaralisasi pendidikan dalam konteks otonomi
Daerahakan memberikan wawasan baru terhadap sistem yang berjalan
selamaini. Hal ini diharapkan dapat membawa dampak terhadap peningkatan
efisiensi, efektifitas dan kinerja sekolah dengan menyediakan layanan
pendidikan yang komperhensif dan tanggap tehadap kebutuhan
masyarakat.Dalam implementasi
3

kinerja paratenaga kependidikan, dan menciptakan kondisi
yang kondusif terhadap lingkungan satuan pendidikan dan penuh
pertimbangan baik sebagaiindividu maupun kelompok.
4


3
Abdurrahman, H. A. Leadership (Teori Pengembangan filosofi Kepemimpinan Kerja).
Jakarta: Dinas Latihan Jabatan LAN. 1996. Hlm, 23.
4
Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi Manajemen pemimpinan pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara 7.
4

7

Kepala sekolah selaku manajer mempunyai peranan pentingdalam
mengembangkan mutu pendidikan di sekolah. Sebagai manajer harus
mempertimbangkan peran penting yang tidak hanya membuat pengaruh tetapi
ia membina bawahan agar memiliki kemampuan dalam mengatur kinerjanya
baik kemampuan manajerial maupun kemampuan tehnis. Karena itulah, para
manajer di tuntut untuk memiliki pandangan dan starategi jangka panjang
kearah mana organisasi akan di bawah.
5

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) program-program sekolah
harus didukung oleh kemampuan manajerial kepala sekolah yang demokratis
dan professional. Kepala sekolah dan guru-guru sebagaitenaga pelaksana inti
program sekolah merupakan orang-orang yangmemiliki kemampuan dan
integritas professional. Kepala sekolah adalahmanajer pendidikan. Dalam
rangka melakukan peran dan fungsinyasebagai manajer, kepala sekolah harus
memilki strategi yang tepat untukmemberdayakan segala sumber daya
sekolah untuk menacapi tujuanpendidikan. Kemampuan manajerial kepala
sekolah yang baik dalammengkoordinasikan. menggerakan, dan
menyerasikan segala sumber daya yang pada dasarnya kemampuan
manajerial sangat terkait denganbagaimana penerapan fungsi-fungsi
manajemen atau prosesmanajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian,
kepemimpinan, pengontrolan, dan pengendalian.
6


5
Depdiknas, 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah .Jakarta: Tampa
Penerbit, 2000: hlm, 45-50.
6
Atribute On Theory Achievment Motivation and Educational Process (Review
Of Educational Research). Yulk. Gary. 1998.
8

Setiap kepala sekolah pada sebuah sekolah mempunyai
tujuanindividu yang arif serta senantiasa memperhatikan adanya
kesesuaianantara tujuan individu yang tidak jauh menyimpang dari
aktivitasorganisasi. Jika terjadi kesenjangan antara tujuan individu dan
dengantujuan organisasi, maka akan tercipta ketidakharmonisan kerja. Kepala
sekolah akan mudah menyalagunakan tugas kewajiban untukkepentingan
individunya.
7

Kemampuan kerja dapat diperoleh melalui pendidikan danpelatihan
serta pengalaman, juga diharapkan dapat memiliki motivasikerja yang tinggi.
Motivasi kerja tersebut merupakan kekuatan yangpenting yang harus ada
dalam diri kepala sekolah sehingga ia memilikikeinginan atau semangat yang
kuat untuk berusaha dan bekerja kerassehingga dapat diperoleh keberhasilan
bagi dirinya dan instansi dimanaia bekerja.
Siswanto (2005) mengatakan bahwa motivasi kerja dapatmemberi
energi yang menggerakkan segala potensi yang ada,menciptakan keinginan
yang tinggi dan luhur, serta meningkatkankegairahan bersama.
8
Menurut Uno
(2006) bahwa motivasi kerja merupakan salahsatu faktor yang turut
menentukan kinerja seseorang.
9
Lebih lanjut unomengatakan bahwa besar
atau kecilnya pengaruh motivasi pada kinerjaseseorang tergantung pada

6

7
Duhou. Abu. School Based Management . Paris: InternasionalInstitute for Educational
Planning. 2002 . hlm 10.
8
Siswanto, Pengantar Manajemen . (Jakarta: Bumi Aksara, 2006) hlm, 119.
9
Uno. B. Hamzah.. Teori Motivasi dan Pengukurannya (.Jakarta: BumiAksara, 2006).
Hlm, 71
9

9

seberapa banyak intensitas motivasi yangdiberikan.Untuk mengoptimalkan
peran, fungsi dan kedudukan kepalasekolah dalam suatu instansi sekolah
dalam era manajemen berbasissekolah perlu dilakukan analisis terhadap
kemampuan manajerial danmotivasi kerja kepala sekolah, sebagai umpan
balik untuk mengetahu kekurangan dan kelemahan yang ada, sehingga dapat
dilakukanpembenahan peningkatan unsur yang dianggap perlu.
Hasil pengamatan awal penulis menunjukkan bahwa secaraumum
kualitas pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Nurul Ilmi masih
rendah walaupun telah banyak sekolah yang melaksanakanmanajemen
berbasis sekolah dengan baik. Beberapa fenomena yangmenunjukkan
diantaranya masih banyak kepala sekolah yang selalum meminta restu atau
petunjuk dari atasan yaitu pihak Dinas Pendidikandalam rangka merumuskan
kebijakan, namun dipihak lain ada kepala sekolah telah sukses
mengaplikasikan konsep manajemen berbasissekolah secara benar dengan
keberanian mengambil keputusan atasinisiatif sendiri bersama dengan guru
dan pegawai tata usaha sekolah. Berdasarkan paparan di atas bahwa
kemampuan manajerial danmotivasi kerja kepala sekolah memiliki peranan
penting dalam kualitaspenerapan Manajemen Berbasis Sekolah untuk
meningkatkan efisiensi,mutu, relevansi dan pemerataan pendidikan . Maka
dari itu, peneliti inginmengakaji secara ilimiah apakah kemampuan
manajerial dan motivasikerja kepala sekolah berpengaruh terhadap kualitas
penerapanmanajemen berbasis sekolah di SMP Terpadu Nurul Ilmi Kodya
Jambi.
10

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, terutama realitas yangterjadi di
Kabupaten Sinjai, maka dirumuskan masalah penelitiansebagai berikut:
Bagaimana gambaran kemampuan manajerial, motivasikerja kepala sekolah
dan kualitas pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Nurul
Ilmi Kodya Jambi?
Apakah ada pengaruh kemampuan manajerial kepalasekolah terhadap
kualitas pelaksanaan ManajemenBerbasis Sekolah di SMP Nurul Ilmi
Kodya Jambi?
Apakah ada pengaruh motivasi kerja kepala sekolahterhadap kualitas
pelaksanaan Manajemen BerbasisSekolah di SMP Nurul Ilmi Kodya
Jambi?
Apakah ada pengaruh secara bersama-sama antarakemampuan manajerial
dan motivasi kerja kepalasekolah terhadap kualitas pelaksanaan
ManajemenBerbasis Sekolah di SMP Nurul Ilmi Kodya Jambi?

1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
Untuk mengetahui gambaran kemampuan manajerial,motivasi kerja kepala
sekolah dan kualitas pelaksanaanManajemen Berbasis Sekolah di SMP
Nurul Ilmi Kodya Jambi
Untuk mengetahui pengaruh kemampuan manajerial kepalasekolah
11

terhadap kualitas pelaksanaan Manajemen BerbasisSekolah di SMP
Nurul Ilmi Kodya Jambi
Untuk mengetahui pengaruh motivasi kerja kepala sekolahterhadap kualitas
pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolahdi SMP Nurul Ilmi Kodya
Jambi
Untuk mengetahui pengaruh secara bersama sama antarakemampuan
manajerial dan motivasi kerja kepala sekolahterhadap kualitas
pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolahdi SMP Nurul Ilmi Kodya
Jambi

1.4Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini, peneliti mengharapkan dapat
memberikanmasukan dalam rangka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah
yangberkualitas di SMP Nurul Ilmi Kota Jambi yaitu:
Sebagai bahan masukan kepada Dinas Pendidikan Kota Madya Jambi untuk
meningkatkan kualitas pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah.
Sebagai bahan masukan bagi sekolah-sekolah yangberada pada kawasan
penelitian ataupun sekolah lain untuk menjadi bahan pertimbangan dalam
pengambilan keputusan.
Sebagai bahan informasi untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan,
khususnya bidang manajemenpendidikan sebagai suatu disiplin ilmu.

BABA II
12

KAJIAN TIORITIS

2.1 Konsep Manajemen
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel (dalam
Siswanto,2005) memberikan batasan manajemen sebagai berikut: manajemen
adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan
pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan seluruh-sumber daya
organisasi lainnya demi tercapainya tujuan organisasi Manajemen sebagai
proses, oleh para ahli diberikan pengertian yang berbeda-beda.
10
Menurut Daft
(2002) manajemen adalahpencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara
efektif dan efisien melalui perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan,
danpengendalian sumber daya organisasi.
11
The Liang Gie (dalam
Mahtika,2006) mengemukakan bahwa manajemen adalah segenap
perbuatanmenggerakkan sekolompok orang atau mengerahkan segala
fasilitasdalam suatu kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.Berdasarkan
definisi tersebut diatas, maka manajemenmempunyai tiga unsur pokok yaitu:
(1) adanya tujuan yang ingin dicapai,(2) tujuan dapat dicapai dengan
menggunakan kegiatan orang lain, dan(3) kegiatan-kegiatan orang lain itu
harus dibimbing dan diawasi.
12
Dengandemikian manajemen dapat
dipastikan adanya maksud untuk mencapaitujuan tertentu dari kelompok atau
organisasi yang bersangkutan. Sedangkan untuk mencapainya suatu

10
Siswanto, Pengantar Manajemen . (Jakarta: Bumi Aksara, 2006) hlm, 2
11
Daft, Richard L.. Manajemen . Jakarta: Erlangga.Jakarta: Erlangga, 2002)
12
The Liang Gie dalam Mahtika,2006: hlm, 6.
13

perencanaan yang baik pelaksanaan yang konsisten dan pengendalian yang
kontinyu, dengan hal tersebut dapat dipahami bahwa implementasi merupakan
penggunaan atau praktek secara inofatif secara actual dan nyata. selanjutnya
Fullanmengatakan bahwa implementasi merupakan suatu proses dalamrangka
mempraktekkan sebuah ide, program, atau seperangkat aktifitasyang bersifat
baru kepada orang lain dengan megharapkan adanyaperubahan yang
terjadi.
13
Lebih jauh Muslim (2003) mengemukakan bahwa
implementasiditinjau dari kenyataan yang subyektif adalah sebagai
prosespelaksanaan suatu ide, gagasan, program atau kegiatan lain
melaluiusaha agar terjadi suatu perubahan.
14
Poerwardarminta (1996)
menegemukakan bahwa implentasiadalah pelaksanaan suatu usaha-usaha yang
akan di jalankan.

2.2 Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)

a. Pengertian Manajemen berbasis Sekolah MBS
Istilah Manajemen berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari
School Based Management.. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika
Serikat ketika masyarakatmulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan
tuntutan dan perkembanganmasyarakat setempat.
15



13
Ibid, hlm, 7.
14
Muslim, S.Kinerja Kepala Sekolah dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) SLTP Negeri 2 Mataram :Universitas Negeri Surabaya. 2003: hlm, 13.
15
btisam Abu Duhou, School Based Management, (Jakarta:Kencana 2004) h.7
14

Pengertian Manajemen berbasis Sekolah menurut beberapa ahli:
Menurut E. Mulyasa : .MBS merupakan salah satu wujud dari
reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan
pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik. Otonomi dalam
manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para
staff, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok yang terkait, dan
meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan..
16
8
Menurut Nanang Fatah: .MBS merupakan pendekatan politik yang
bertujuan untuk mendesain ulang pengelolaan sekolah dengan memberikan
kekuasaan kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru, siswa, komite sekolah,
orang tua siswa dan masyarakat. Manajemen berbasis Sekolah mengubah sistem
pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan
keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal Local
Stakeholder..9
Menurut Bedjo sudjanto, .MBS merupakan model manajemen
pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Disamping itu,
MBS juga mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan
langsung semua warga sekolah yang dilayani dengan tetap selaras pada kebijakan
nasional pendidikan.
17

Jadi, MBS merupakan sebuah strategi untuk memajukan pendidikan

16
8 E. Mulyasa, Manajemen berbasis Sekolah, (Jakarta:Rosda 2004), cet ke.7, h.24
17
9 Nanang Fatah, Konsep Manajemen berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah .
(Bandung:Pustaka
17

15

dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan
pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah.
18
MBS menyediakan
kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses
pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan
anggaran, personil, serta kurikulum.
Dengandemikian dapat dikatakan bahwa implementasi Manajemen
BerbasisSekolah adalah upaya pelaksanaan program yang telah di tetapkansecara
konseptual dalam meningkatkan mutu pendidikan dan tetapmanagcu pada tujuan
pendidikan Nasional.Upaya pelaksanaan program MBS secara efektif dan
efisien,selain mamahami konsep implementasi dengan baik, harus juga didukung
oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dan profesional.Dana yang tersedia
juga cukup memadai untuk manggaji staf sesuaidengan tugas dan fungsinya
masing-masing, serta sarana dan prasarana didukung oleh masyarakat.
19

Mulyasa (2002) mengemukakan konsep pelaksanaanmanajemen
berbasis sekolah diantaranya adalah pengelompokansekolah yang di dasarkan
pada kemampuan manajemen dengan mempertimbangkan kondisi lokasi dan
kualitas sekolah.Pertimbangan-pertimbangan yang harus di perhatikan
dalamimplementasi MBS antara lain yaitu : kategori sekolah yang sudah
maju,sedang dan masih tertinggal.
20
Keadaan tersebut mengindikasikan bahwa
tingkat kemampuan sekolah dalam mengimplementasikan Manajemen berbasis
sekolah berbeda-beda antara satu sekolah dengan sekolah lain. Keragaman

18
Bedjo Sujanto, Mensiasati Manajemen berbasis Sekolah di Era Krisis yang berkepanjangan.
18
(Jakarta:ICW 2004) h.25
19
Poerwardarminta 1996: hlm, 327.
20
Mulyasa 2002: hlm34
16

kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing sekolahmenuntut perlakuan yang
berbeda dalam melaksanakan MBS.
Menurut Bellen, dkk (2000) ,mengemukakan konsep pelaksanaan
MBS antara lain (1) meningkatkan kemampuan personil sekolah dalam
pengelolaan sumberdaya dan penysusunan program,(2) memberikan wewenang
kepada kepala sekolah untuk mengelolasumber daya dan mengatur rumah tangga
sekolah untuk mencapaitujuan sekolah dalam batas-batas peraturan yang
berlaku,(3) mendorong partisipasi masyarakat yang lebih besar untukmendukung
pendidikan di sekolah serta melakukan control terhadapsekolah, (4) mendorong
pemanfatan anggaran sekolah sesuai kebutuhansekolah dengan memberikan
anggaran dana blok grant yang dimanfaatkan bersama dari sumber-sumber lain,
(5) mendorong adanyatransparansi dalam pengelolaan sekolah mulai dari
perencanaan sampai ada evaluasi, (6) mendorong dan memanfaatkan kemampuan
personilsekolah untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan yang
dapatmendukung terjadinya proses belajar mengajar yang efektif, kreatif
danmenyenangkan serta terciptanya sekolah yang sayang anak.
21

Kepala sekolah sebagai manajer dalam implementasi Manajemen
Berbasis SekolahBerdasarkan pengertian manajemen yaitu proses
merencanakan,mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan usaha-
usahaanggota organisasi serta pendayagunaan seluruh sumber daya yang
adadalam rganisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah di tetapkan.Ada
beberapa hal yang harus di perhatikan oleh yang berfungsi sebagaimanajer dalam

21
Bellen S. dkk.. Manajemen Berbasis Sekolah . Jakarta: UNESCO-UNICEF-Pemerintah
Indonesia2000: hlm, 21
17

sebuah organisasi yaitu: proses, pendayagunaan, dantujuan. Proses merupakan
sesuatu yang sistematik dalam melakukansesuatu untuk mencapai tujuan tertentu
(Wahjosumidjo: 2001).
22

Menurut Stoner (dalam Wahjosumidjo: 2001) adalah
delapanmacam fungsi manajer dalam suatu organisasi yaitu: (1) Kepala
sekolahbekerja dengan dan melalui orang lain, (2) kepala sekolah
bertanggung jawab dan memepertanggungjawabkan, (3) Kepala sekolah
harusmampu menghadapi berbagai persoalan dalam kondisi yang terbatas,(4)
Kepala sekolah harus berpikir secara analitik dan konsepsional,(5) Kepala
sekolah sebagai juru penengah, (6) Kepala sekolah sebagaipolitisi, (7) Kepala
sekolah adalah seorang diplomat (8) ungsi sebagai pengambil keputusan
untukmengimplementasikan manajemen berbasis sekolah (MBS) secara efektif
dan efisien kepala sekolah sebagai manajer perlumemiliki pengetahuan
kepemimpianan, perencanaan, pandangan yangluas tentang sekolah dan
pendidikan. Wibawa kepala sekolah harusditumbuh kembangkan dengan
meningkatkan sikap kepedulian,semangat belajar, disiplin kerja, keteladanan, dan
hubungan manusiawisebagai modal untuk menciptakan iklim yang kondusif.
Lebih lanjut lagikepala sekolah sebagai manajer di tuntut untuk melakukan
fungsinyadalam proses belajar mengajar, denngan melakukan supervisi
kelas,pembinaan dan memberikan saran positif kepada guru.
23

Dapat di simpulakn bahwa dalam implmentasi manajemen
berbasisekolah merupakan kunci keberhasilan peningkatan kualitaspendidikan

22
Wahjosumidjo: 2001: hlm.94
23
Stoner dalam Wahjosumidjo: 2001: hlm,96
18

sekolah. Karena dia diberi tanggung jawab untuk mengeloladan memberdayakan
berbagai potensi masyarakat serta orangtua untukmewujudkan visi, misi dan
tujuan sekolah. Oleh karena itu dalam implementasi manajemen berbasis sekolah
harus mempunyai visi,misidan wawasan luas tentang sekolah yang efektif serta
kemampuanprofessional dalam mewujudkannya melalui
perencanaan,kepemimpinan, manajerial, dan supervisi pendidikan. Ia juga di
Sekolah harus berada disekolah dan mempunyai tugas mengajar disamping tugas
sebagai kepala sekolah seperti yang telah ditentukan yaitu mengajar enam jam
pembelajaran dalam satu minggu.

2.3 Karakteristik MBS
MBS memiliki karakter yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan
menerapkannya, karakteristik tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki
sehingga membedakan dari sesuatu yang lain. MBS memiliki karakteristik
sebagai berikut:
a. Adanya otonomi yang luas kepada sekolah
b. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua siswa yang tinggi
c. Kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional
d. Adanya team work yang tinggi, dinamis dan profesional12

Karakteristik Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
(MPMBS) dapat dilihat pula melalui pendidikan sistem. Hal ini didasari oleh
pengertian bahwa sekolah merupakan . Sebuah sistem sehingga penguraian
19

karakteristik MPMBS berdasarkan pada input, proses dan output.13

2.4 Konsep Kemajuan Menejerial
Semua kegiatan di sekolah pada akhirnya ditujukan untukmembantu
siswa mengembangkan dirinya. Upaya itu akan optimal jikasiswa itu sendiri
secara aktif berupaya mengembangkan diri, sesuaidengan program-program
yang dilakukan sekolah. Oleh karena itu perankepala sekolah sangat penting
untuk menciptakan kondisi agar siswadapat mengembangkan diri secara
optimal. Misalnya, penerimaan siswabaru, pembinaan siswa, dan pemantapan
program kesiswaan.4) Keuangan segala kegiatan yang dilakukan di sekolah
perlu dana. Hal inidisebabkan pengelolaan pendidikan di sekolah dalam
segala aktivitasnyaperlu sarana dan prasarana untuk proses pengajaran,
layanan, supervise penggajian, dan kesejahteraan guru, dan staf lainnya
kesemuanya itumemerlukan dana.
24
( Cambell, dalam Maisyaroh, 2003).
Sarana dan prasarana. Para pakar pendidikan sering kali menegaskan bahwa
gurumerupakan sumber daya manusia yang menentukan keberhasilanprogram
pendidikan. Namun tidak berarti bahwa keberadaan unsur-unsur lain tidak
begitu penting. Tujuan manajemen sarana dan
prasarana di sekolah yaitu: (1) untuk mengupayakan pengadaan
melaluisistim perencanaan agar sesuai dengan kebutuhan sekolah,(2)
mengupayakan pemakaian secara tepat dan efisien,(3) mengupayakan

24
Maisyaroh. 2003. Manajemen Pendidikan. Malang :Universitas Negeri Malang :2003,
hlm,5.
20

pemeliharaan sehingga keberadaannya selalu dalamkondisi siap pakai.6)
Hubungan sekolah dengan masyarakatSekolah adalah bagian dari sistem
sosial yang berperang dalamrangka mencetak kader bangsa yang diharapkan
dapat meneruskan cita-cita pembangunan nasional.
Dengan dasar itu maka hubungan sekolahdengan masyarakat harus
dijalin dengan baik, karena mempunyai tujuanseperti yang dikemukakan oleh
Wahjosumidjo (1995),
25
tujuan pokokpengembangan hubungan efektif
dengan masyarakat setempat adalahuntuk memungkinkan orang tua dan
warga wilayah berpartisipasi aktif dan penuh arti di dalam
kegiatan.Pendekatan yang perlu diperhatikanoleh kepala sekolah dalam
menjalin hubungan dengan masyarakatadalah persuasif.
Atas dasar itu maka beberapa teknik yang dapatdigunakan antara
lain: (1) pertemuan dari hati kehati, kunjungan rumah,(2) laporan kemajuan
belajar siswa kepada orang tua, (3) pertemuankelompok, (4) tatap muka, (5)
tukar menukar pengalaman, (6) diskusibersama ( Husain, MS 2005).
26

Mintzberg (dalam Marzuzak, 2008) membagi tiga kemampuankepala sekolah
sebagai manajer di sekolahnya, yaitu: (1) impersonal,kepala sekolah sebagai
figur, pemimpin, dan juru runding, (2) informational, kepala sekolah
menjalankan fungsi sebagai pemantau,penyebar dan perantara, (3) desisional,
kepala sekolah menjalankan fungsi sebagai wiraswastawan, pengalokasi
sumber-sumber dan negosiator.


25
Wahjosumidjo 1995: hlm, 334.
26
Ibid. hlm, 339.
21

Motivasi kerja
Motivasi menurut Hasibuan (2000) adalah pemberian daya
penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang agar mereka mau bekerja
sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk
mencapai kepuasan. Jadi motivasi mempersoalkan bagaimana caranya
mengarahkan daya dan potensi bawahannya, agar mau bekerja sama secara
produktif, berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.
Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan,
menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan
antusias mencapai hasil yang optimal.
27

Motivasi kerja bagi guru sebagai pendidik diperlukan untuk
meningkatkan kinerjanya. Motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan
tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh
kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu.
Motivasi akan berakibat pada kepuasan kerja, Kepuasan kerja berkenaan
dengan kesesuaian antara harapan seseorang dengan imbalan yang
disediakan.
28

Motivasi kerja guru berdampak pada prestasi kerja, disiplin,
kualitas kerjanya. Pada guru yang puas terhadap pekerjaannya maka
kinerjanya akan meningkat kemungkinan akan berdampak positif terhadap
peningkatan mutu pendidikan.

27
Hasibuan, 2000: hlm, 142.
28
Ibid, hlm, 143.
22

Motivasi adalah : Dorongan kerja yang timbul pada diri seseorang
untuk berprilaku dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
(Wahjosumidjo, 1994).
29
Sedangkan menurut (Usman, 2002) motivasi adalah
suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah
laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau keadaan dan
kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat
sesuatu dalam mencapai tujuan. (Siagian, 2004 : 106) motivasi kerja adalah
keseluruhan proses pemberian motivasi bekerja kepada para bawahan
sedemikian rupa, sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi
tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis. Berdasarkan
uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi kerja adalah
keseluruhan proses pemberian motif atau dorongan kerja pada para bawahan
terutama para guru sebagai agen pendidikan dan pengajaran, agar tujuan
pendidikan dan pengajaran dapat tercapai sesuai dengan rencana apa yang
diharapkan.
30

Kinerja Guru

Menurut Mangkunegara dalam Vivi,Rorlen (2007:53)
mengatakan bahwan istilah kinerja berasal dari kata job performance atau
actual performance yaitu unjuk kerja atau prestasi sesungguhnya yang
dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya.

29
josumidjo, 1994 : hlm, 177.
30
Usman, 2002 : hlm, 28.
23

Menurut Purwadarminta (1990) kinerja atau prestasi kerja
adalah hasil yang telah dicapai, sedangkan menurut Saidi (1992) kinerja
adalah kemampuan, kesanggupan dan kecakapan seseorang atau suatu bangsa.
Prestasi kerja atau kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Secara
teoritis penilaian atau pengukuran prestasi kerja atau kinerja memberikan
informasi yang dapat digunakan pimpinan untuk membuat keputusan tentang
promosi jabatan. Penilaian prestasi kerja atau kinerja memberikan kesempatan
kepada pimpinan dan orang yang dinilai untuk secara bersama membahas
perilaku kerja dari yang dinilai. Pada umumnya setiap orang menginginkan
dan mengharapkan umpan balik mengenai prestasi kerjanya. Penilaian
memungkinkan bagi penilai dan yang dinilai untuk secara bersama
menemukan dan membahas kekurangan-kekurangan yang terjadi.
Menurut Steers (1985) prestasi kerja seseorang merupakan gabungan
dari tiga faktor penting yaitu: 1) Kemampuan, perangai, minat. 2) Kejelasan,
dan penerimaan atas penjelasan seorang pekerja. 3)Tingkat motivasi.
Menurut RefniDelfi,dkk ( 2007) kompetensi instruksional yang
diperlukan guru untuk mengajar di kelas meliputi:
penguasaan dasar-dasar ilmu kependidikan,
penguasaan teoribelajar dan prinsip-prinsip pembelajaran serta penerapannya
dalam proses pembelajaran,
kemampuan memahami karakteristik peserta didik sebagai warga belajar,
24

kemampuan memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai
dengan tujuan dan materi pelajaran.
31

kemampuan memilih dan mengembangkan alat dan bahan ajar serta
memanfaatkan media dansumber belajar,
kemampuan memilih dan mengembang-kan alat evaluasi
kemampuan menyusun rencana pembelajaran,
kemampuan mengelola interaksi kelas
kemampuan memperagakan unjuk kerja pembelajaran,
kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran,
kemampuan mengajarkan ilmu yang dimilikinya secara profesional.
32



2.3. Kerangka pikir

Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam
bebagai kehidupan termasuk kehidupan pendidikan. Salah satu perubahan
mendasar yang sedang di gulirkan saat ini adalahmenajemen Negara, yaitu
sentarlisasi ke desentaralisasi secara resmiperubahan itu telah di tuangkan
dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun2004 tentang pemerintahan Daerah.
Konsekuensi logis dari Undang-Undang tersebut adalah bahwamanajemen
pendidikan harus di sesuaikan dengan jiwa dan semangatotonomi. Berabagai

31
RefniDelfi,dkk. Hlm. 111.
32
Ade Irawan dkk, mendagangkan Sekolah (studi kebijakan Manajemen Berbasis
Sekolah). (Jakarta:ICW 2004) h.14
25

upaya telah di lakukan oleh pemerintah dalamupaya meningkatakn mutu
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhanamasyarakat.
33

Manajemen Berbasis (MBS) merupakan salah satu kebijakan yang di
keluarkan oleh pemerintah yaitu dengan memberikan otonomi yang seluas-
luasnya kepada sekolah dalam mengatur,mengelola dan melaksanakan
kebijakan pendidikan yang sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat
serta memberikan kesempatan yangseluas-luasnya kepada masyarakat untuk
berperan serta dalampelakasaan pendidikan yang bermutu di sekolah.
34

Dalam Implementasi manajemen berbasis sekolah, kepala sekolah
merupakan kuncikeberhasilan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di
sekolah,Manajemen Berbasis Sekolah di harapkan dapat menunjangkegiatan
pembelajaran sekolah sehingga upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu
pendidikan secara keseluruhan di lembaga pendidikan dapat tercapai.
Beberapa pokok yang perlu di perhatikanagar manajemen berbasisi sekolah
dapat terlaksana dengan baikanatara lain: (1) kinerja kepala sekolah, (2)
kinerja guru, (3) peran sertamasyarakat.
Pelaksanaan MBS menuntut kepemimpinan kepala sekolah
professional yang memiliki kemampuan manjerial dan integritas pribadiuntuk
mewujudkan visi menjadi aksi, serta demokratis dan taransparan dalam
berbagai pengambilan keputusan. kemampuan manjerial kepala sekolah adalah
kapasitas yang di miliki oleh seorang kepala sekolah dalam mengelola

33
7Depdiknas, MPMBS, konsep & Pelaksanaan ( Jakarta: depdiknas dirjen diknasmen
direktorat SLTP, 2001), h.9
34
Udin Syarifudin sa.ud ,.implementasi school based management, sebagai strategi
pengembangan otonomi sekolah, 2001
26

organisasi dan sumber daya yang ada guna mencapai tujuan organisasi dengan
indikator: (1) kemampuan merencanakan (2)kemampuan mengorganisasikan
(3) kemampuan dalam pelaksanaandan (4) kemampuan mengadakan
pengawasan.Motivasi kerja adalah daya dorong yang menggerakkan kepala
sekolah melaksanakan tugas yang bersumber dari dalam dirinya maupunyang
diluar dirinya yang dapat diukur dengan indikator (1) meningkatkanprestasi,
(2) menghindari kegagalan, (3) bekerja keras,(4) mengaktualisasikan diri, (5)
pujian, (6) hukuman, (7) aturan.
35


Sedangkan kualitas manajemen berbasis sekolah adalah
terlaksananya segala kegiatan yang berhubngan dengan manajemen berbasis
ccxppkesiswaan, (4) sarana dan prasarana (5) anggaran(6) partisipasi
masyarakat.
36
Untuk lebih jelasnya kerangka pikir tersebut maka dapat di
gambarkan dalam skema berikut ini

KEPALA SEKOLAH




KEMAMPUAN
MANEJERIAL
MOTIVASI KERJA
MOTIVASI KERJA

35
Muslim, S. 2003.Kinerja Kepala Sekolah dalam Implementasi Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) SLTP Negeri 2 Mataram :Universitas Negeri Surabaya. Hlm. 38.
36
Ibid
27



MOTIVASI KERJA


KUALITAS MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH


Gambar 1. Skema kerangka pikir
2.4 Hipotesis penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, kajian teori,
dankerangka pikir diatas, maka rumusan hipotesis penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Hipotesis pertamaTerdapat pengaruh positif kemampuan manajerial
kepalasekolah terhadap kualitas penerapan manajemen berbasis sekolah di
SMP Terpadu Nurul Ilmi Kota Jambi. Hipotesis statistik :
H0:Tidak terdapat pengaruh positif kemampuan anajerial KepalaSekolah
terhadap kualitas penerapan manajemen berbasissekolah
H1:Terdapat pengaruh positif kemampuan manajerial Kepalasekolah
terhadap kualitas penerapan manajemen berbasissekolah di SMP Nurul
Ilmi. Dengan simbol:
H0: B1= 0
H1: B
2
0
28

Hipotesis keduaTerdapat pengaruh positif motivasi kerja Kepala
Sekolahterhadap kualitas penerapan manajemen berbasis sekolah di SMP
Nurul Ilmu Kota Madya Jambi.Hipotesis statistik :
H0:Tidak terdapat pengaruh positif motivasi kerja Kepala
Sekolahterhadap kualitas penerapan manajemen berbasis sekolah
diKabupaten Sinja
iH1:Terdapat pengaruh positif motivasi kerja Kepala Sekolahterhadap
kualitas penerapan manajemen berbasis sekolah diKabupaten
SinjaiDengan symbol:
H0: B1= 0H
1: B2 0c.
37

Hipotesis KetigaTerdapat pengaruh positif secara bersama sama
kemampuanmanajerial dan motivasi kerja Kepala Sekolah terhadap
kualitaspenerapan manajemen berbasis sekolah di SMP Nurul Ilmi
Hipotesis statistik :
H0:Tidak terdapat pengaruh positif kemampuan manajerial danmotivasi
kerja Kepala Sekolah terhadap kualitas penerapanmanajemen
berbasis sekolah SMP Terpadu Nurul Ilmi
H1:Terdapat pengaruh positif kemampuan manajerial dan motivasikerja
Kepala Sekolah terhadap kualitas penerapan manajemenberbasis
sekolah di SMP Nurul Ilmi Kota Jambi Dengan simbol:
H0: B1 2= 0H

37
Rita Hanafi, Filsafat ilmu dan metedologi Penelitian, CV Andi Offset, 2007.
29

1: B1 2 0















BAB III
METODE PENELITIAN

3. 1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dikategorikan sebagai deskriptif korelasional
karenaberusaha memaparkan hubungan faktor-faktor atau berbagai variable
yang mempengaruhi keadaan tanpa memanipulasi variabel tersebut.Apabila
30

dilihat dari segi pendekatannya, penelitian ini dikategorikan sebagai
penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif mencobamembuktikan kebenaran
teori dengan observasi yang didahului denganmengajukan hipotesis dan
operasionalisasi variabel. Sedang dalampenelitian deskriptif tidak ada
perlakuan yang diberikan atau dikendalikansebagaimana penelitian
eksperimen. Karenapenelitian ini dapat juga disebut penelitian
noneksperimen.Selanjutnya karena penelitian ini bertujuan untuk
mengungkapkanadanya hubungan antara variabel bebas dengan variabel
terikat,penelitian ini juga disebut penelitian korelasional.
38


3.2 Lokasi penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Terpadu Nurul Ilmi, Kecamatan
Telanai Pura, Kelurahan Pematang Sulur, Kota Madya Jambi.


3.3Variabel dan desain penelitian
a. Variabel penelitian
Variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas(predictor)yaitu
kemampuan manajerial (X1), dan motivasi kerja (X2), satu variabelterikat
(kriterium) kualitas penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (Y).

b.Desain penelitian
Penelitian ini ingin mengkaji hubungan antara kemampuanmanajerial

38
Arikunto, 2002: hlm. 87
31

dan motivasi kerja kepala sekolah terhadap kualitaspenerapan manajemen
berbasis sekolah di SMP Nurul Ilmi Kota Madya Jambi dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan noneksperimen,yang
berarti penelitian mengkaji fakta-fakta yang telah terjadi. Penelitianini
bersifat korelasional dengan desain survey.
Dengan demikian, pada saat penelitian dilakukan para respondenmemiliki
penghayatan, persepsi, pengalaman, dan perasaan sertapenilaian tertentu
yang merefleksikan persepsi mereka terhadap semuaaspek kegiatan dan
keadaan pada lingkungan kerjanya.Adapun pola hubungan antara variabel
bebas dan variabel terikat,secara sederhana dan skematis digambarkan
sebagai berikut:





X1
X1

Y


32



X2
X2


Gambar 2. Pola hubungan antar variable
Keterangan :
X1= Kemampuan manajerial
X2= Motivasi Kerja
Y= Kualitas penerapan manajemenberbasis sekolah

3.4Definisi operasional variabel
Untuk memperoleh kesamaan persepsi mengenai penelitian
inidan mengarahkan peneliti untuk merumuskan instrumen penelitian
makadirumuskan definisi operasional sehubungan dengan variabel yang
adadalam penelitian ini, yaitu :
Kemampuan manajerial kepala sekolah adalah kemampuankepala
sekolah dalam mengelola organisasi dan sumber dayayang ada
untukmencapaitujuan yang telah di telah ditetapkan yang di ukur dengan; (1)
33

kemampuan merencanakanyaitu mampu menyususn rencana dan
menetapkan strategisserta mampu mengefektifkan perencanaan, (2)
kemampuanmengorganisasikan yaitu meliputi mampu
melakukanpembangian tugas dan tanggung jawab serta mampumengelola
personil, (3) kemampuan pelaksanaan yaitu mampumengambil keputusan
dan mampu menjalin komunikasi, dan(4) kemampuan pengawasan yaitu
mampumengendalikanorganisasi.
39

Motivasi kerja adalah daya dorong yang menggerakkan
kepalasekolah dalam melaksanakan tugas yang bersumber daridalam dirinya
maupun yang diluar dirinya guna mencapai hasilkerja yang memuaskan yang
dapat diukur dari indicator yaitu: (1) meningkatkan prestasi, (2)
menghindari kegagalan,(3) bekerja keras, (4) mengak tualisasikan diri, (5)
pujian, 6) hukuman, (7) aturan.Kualitas pelaksanaan Manajemen Berbasis
Sekolah adalahupaya pelaksanaan program-program pendidikan yang telah
ditetapkan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui otonomisekolah yang
mengacu pada tujuan pendidikan nasional. Danindikatornya meliputi (1)
organisasi, (2) kurikulum,(3) kesiswaan, (4) sarana dan prasarana (5)
anggaran(6) partisipasi masyarakat.
40





39
Sugiono, 2006: hlm, 114.
40
Ibid, hlm 11
34

3.5 Instrumen penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang di gunakan
untukmengukur fenomena alam maupun sosial yang di amati (Sugiono,
2006:114). Kedudukan instrumen dalam penelitian ini adalah sebagai
alatpengumpul data di lapangan. Dalam penelitian ini ada tigainstrument
penelitian yang di gunakan yaitu:

Kuesioner dipergunakan untuk mengetahui Kemampuanmanajerial, Motivasi
kerja, dan Kualitas pelaksanaan ManajemenBerbasis Sekolah di SMP
Nurul Ilmu Kota Madaya Jambi yang diberi nilai 1,2,3,4 dan 5 untuk
nilaipositif dan 5,4,3,2, dan 1 untuk nilai negatif.
Dokumentasi adalah alat yang di gunakan untuk mengumpuldata yang
berhubungan dengan karakter responden yaitu kepala sekolah, Guru.
3.6 Populasi dan sampel
a. digunakan adalah Populasi penelitian ini adalah Kepala Sekola Nurul Ilmu
Kota Madya Jambi Provinsi. Guru-Guru Nurul Ilmim dan Siswa.
b.SampelMenurut Sugiyono (2003:91) mengatakan bahwa sampel
adalahsebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasitersebut. Teknik pengambilan sampel yang
randomsampling dengan mengambil sampel sebesar 25 % dari sumber
35

data.
41
Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto(2006:134), yang
menyatakan bahwa jika jumlah populasi penelitiandibawah 100 maka
sebaiknya diambil semua, tetapi jika jumlahpopulasinya diatas 100 maka
jumlah sampelnya dapat diambil 10-15%atau 20 25 % atau lebih
tergantung dari ketersediaan waktu, tenaga,dan dana serta kemampuan
peneliti termasuk sempit luasnya wilayahpenelitian.
42

3.7 Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh imformasi
data-data yang diinginkan, dengan menerapkan beberapa Metode sebagai
berikut:
a. Observasi
Metode observasi atau disebut juga dengan
pengamatan merupakan kegiatan pemuatan perhatian semua objek
dengan menggunakan seluruh indera.
2
dari pengertian diatas observasi
dapat dibedakan menjadi tiga jenis. PertamaObservasi persiapan yang
mana pengamat atau peneliti benar-benar terlibat dan ikut bagian dalam
dalam kegiatan observasi. Kedua, observasi sistimatis atau observasi
terstruktur, yang mana ciri utamanya adalah mempunyai struktur atau
kerangka yang jelas atau didalamnya berisikan semua factor yang
diperlukan dan sudah dikelompokkan kedalam kategori=kategori atau

41
Sugiyono 2003: hlm, 91.
42
Arikunto 2006: hlm, 134.
36

tabulasi-tabulasi tertentu. Ketigaobservasi eksperimental, dimana
observasi ini bertujuan untuk mengetahui adanya erubahan-perubahan
timbulnya variable-variabel dan gejala-gejala kelainan, sebagai situasi
eksperimen yang sengaja diadakan utnuk diteliti.
43

Adapun metode observasi yang dipersiapkan dalam
penelitian ini adalah metode observasi non persiapan, yang mana
peneliti melibatkan diri secara langsung dalam lingkungan penelitian,
dengan demikian diharapkan bahwa data pengaruh manajerial kepala
sekolah dan motifasi kerja kepala sekolah Nurul ilmi.
b. Wawancara
Wawancara atau interviu adalah suatu bentuk komunikasi
verbal semacam percakapan untuk memperoleh imformasi. Interviu
digunakanoleh peneliti untuk untuk mencari tentang variable, manajerial
kepala sekolah, motivasi kerja kepala sekolah, serta pengaruhnya
terahadap kinerja guru.
3

Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian
ini adalah wawancara terstruktur atau terpimpin, wawancara yang
dilakukan terhadap subjek penelitian, yaitu Kepala sekolah, Guru-guru,
yang digunakan untuk mengumpulkan data yang relepan atau sesuai
dengan permasalahan penelitian dan memperoleh data komplik tentang
Pengaruh Kemampuan mananerial Dan Motivasi Kepala sekolah Dalam
Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Dan hal-hal lain yang berkaitan

43
Suhaimin Arikunto, Prosedur Penelitian. Hlm, 129
37

dengan penelitian ini, terutama yang berkaitan dengan input proses dan
out put.
44

Dokumentasi
Untuk mendapatkan imformasi non Manusia, berupa catatan-
catatan, pengumuman, instruksi, laporan-laporan atau surat-surat lainnya.
Data yang dikumpulkan mengenai tekhnik tersebut berupa kata-kata,
tindakan dan dokumen tertulis lainnya. Dicatat dengan menggunakan
catatan-catatan. Catatan ini bisa berupa sketsa-sketsa atau gambar-ganbar.
Sdangkan kata-kata sari dari hasil pembicaraan dan pengamatan serta aksi
dalam pengamatan ini apa yang dilihat didengar ddan dirasa serta apa
yang dipikirkan yang merupakan deskripsi dari peristiwa dan refleksi dari
data tersebut. Catatan ini digunakan sebagai perantara untuk membuat
catatan yang lebih lengkap.
Adapun data yang diperoleh melalui dokumentasi adalah data-data
tentang historis dan giografis, struktur organisasi, program di sekolah
SMP Nurul Ilmi Kota Madya Jambi, serta dokumentasi lain yan berkaitan
dengan masalah manajerial kepala sekolah.
45






44
Ibid..
45
Arikunto, Prosedur penelitian. Hlm, 155.
38

3.8Analisis data
a.Analisis data
Data yang telah dikumpulkan, diolah dengan menggunakan
duamacam teknik statistik yaitu teknik analisis statistik deskriptif dan
teknikanalisis statistik inferensial. Teknik analisis statistik deskriptif
dimaksudkan untukmendeskripsikan karakteristik masing- analisis statistik
inferensial dimaksudkan untukmenguji hipotesis penelitian dengan
menggunakan analisis korelasi dan masing variabel penelitian
denganmenggunakan rata-rata, standar deviasi, skor tertinggi, skor
terendah,tabel frekuensi, dan persentase.
Sedangkan analisis regresi. Rumus korelasi ganda yang
dikemukakan oleh Sudjana(1991:369 dan 385) adalah sebagai berikut :
rXY = n XY ( X) (Y)
{n X 2 (X) 2 }{n Y 2 ( Y) 2

Sedangkan untuk mencari r 12 dilakukan dengan rumus sebagai beriku:

rXY = Angka IndeksKolerasi r oductMoment
N =NumberOf Cases
XY =JumlahHasil Perkalian Antara Sektor X dan SektorY
X =Jumlah Seluruh Sector X
Y =Jumlah Seluruh SectorY
46


46
Suhaimin Arikunto, Prosedur Penelitian. Hlm, 129
39

b. Uji Signifikansi
Setelah memperoleh nilai .r. kemudian untuk mengetahui
signifikansikorelasi yang telah ditetapkan, maka dilakukan pengujian
signifikansi denganKriteria yang digunakan untuk interpretasi nilai adalah
sepertiyang dikemukakan oleh Tiro (1999) yaitu: r

Tabel 1. Konversi nilai kualitatif nilai IKH
Nilai IKH Hubungan
0,80 1,00 Sangat Kuat
0,60 0,79 Kuat
0,40 0,59 Sedang
0,20 0,39 Lemah
0,00 0,19 Sangat lemah

Sedangkan rumus regresi ganda yang dikemukakan oleh
Tiro(2000:109), adalah sebagai berikut :
= a0 + a 1X1+ a2X2+ E
Keterangan :
: Kualitas penerapan manajemen berbasis sekolah
X: Kemampuan manajerial
X2 : Motivasi Kerja
E :Variabel ganguan stokastic
A: Konstanta regresi.
47


3.9 Pengecekan Keabsahan data

47
Tiro, 2000:hlm. 109.
40

Tekhnik pengecekankeabsahan data yang didasarkan atas sejumlah
criteria Mendapatkan data yang terpercaya (trust worthiness) tentunya
diperlukan tertentu. Sebagaimana diketahui bahwa dalam penelitian
kualitatif, seorang peneliti mengunakan tehknik untuk menguji keabsahan
data dengan cara perpanjangan keikutsertaan , ketekunan observasi,
trianggulasi, dan diskusi sejawat.
Perpanjangan keikutsertaan
Perpanjangn keikutsertaan ini menuntut peneliti untuk terjun
langsung kedalam lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang untuk
mendeteksi (penyimpangan) yang mungkin akan merusak data ,baik distori
peneliti secara pribadi, maupun distori yang timbul oleh responden dengan
demikian melalui perpanjangan keikutsertaan ini diharapkan peneliti dapat
menentukan distori yang terjadi dalam penelitian sehingga peneliti dapat
mengatasi masalah .

Ketelitian pengamatan

Ketelitian pengamatan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi
karakteristik dan elemen dalam situasi yang sangat relevan dengan
permasalahan atau isu yang sedang diteliti dan memfokuskan dengan
terperinci . peneliti berupaya mengadakan observasi atau pengamatan secara
teliti danrinci secara terus menerus terhadap factor factor yang menonjol
41

kemudian peneliti menelaah secara terinci smpai pada suatu titik sehingga
pada pemerisaan tahap awal akn kelihatan salh satuatau keseluruhan factor
yang dipahami mengenai penagaruh manajerial dan motifasi kerja kepala
sekolah Nurul Ilmi
Trianggulasi

Trianggulasi adalah tehknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan suatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau
sebagai perbandingan data itu . dalam hal ini mengecek sumber data yang
diperoleh dilapanagan yang berkenan dengan penelitan ini. Setidaknya ada
empat jenis trianggulasi yaiyu dengan menggunakan sumber yakni
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan atau imformasi yang
diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif. Hal
ini dapat dicapai dengan cara/ jalan sebagai berikut:
1). Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
2). Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang
dikatakan secara pribadi
3).membandingkan apa yang dikatakn orang-orang tentang situasi penelitian
dengan apa yang dikatakan sepanjang wktu
4).membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbegai pendapat
dan pandangan orang seperti rakyat biasa,orang berpendidikan menengah
42

atau tinggi, orang kaya, pemerintah
5).membandingkan hasil wawancara dengan suatu dokumen yang berkaitan.
Trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengcek
kembali derajatkepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan
alat yang berbeda dalam metode kualitatif . kensep trianggulisasi denga metode
yang berbeda mengimplikasikan adanya model-model pengumpulan data secara
berbeda (observasi dan wawancara) dengan pola berbeda .trianggulasi dengan
sumber ini dapat dilaksanakan dalam bentuk mengkomparasikan data yang
diperolh dari hasil wawancara dengan pengamatan langsung peneliti
dilapangan.madrasah aliyan negri olak kemang dalam pembinaan akhlak siswa.
Trianggulasi dengan metode adalah : pertama,pengecekan derajat
kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa tekhnik pengumpulan data ,
kedua, pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode
yang sama.trianggulasi dengan penyidik memanfaatkan peneliti atau pengamat
lainya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data atau
dengan cara membandingkan hasil pekerjaan seorang analisis dengan analisis
lainny. Sedangkan trianggulasi dengan tiori dapat diakuka dengan dua cara ,
secara indikatif dan secara logika.
Trianggulasi dengan metiode di,maksud untk membandingkan atau
memeriksa reaksi yang timbul oleh sekolah engenai manajemen kapela sekola
selanjutnyam, tri anggulasi dengantiori didasarkan pada asumsi bahwa fakta
tertentu tidak dapat diperiksa keaterpercayaan nya hanya dengan suatu tiori,
43

artinya,fakta yang dioroleh didalam penelitian ini harus dapat dikomfermasikan
dengan dua tiori atau lebih . trianggulasi dengan tiori ini penulis di terapkan
dalam bentuk, Satu, menghubungkan antara keberadaan manajemen, kedua,
menghubungkan atau memeriksa apakah tiori yang dianut dalam manajerial
kepala sekolah SMP Terpadu Nurul Ilmi. Dengan demikian trianggulasi
dengantiori ini pada prinsipnya bertujuan untuk membandingkan informasi yang
diperoleh dari pihak untuk menjamin tingkat kepercayaan data yang sekaligus
untuk mencegah timbulnya subjektifitas peneliti.

3.9 Rencana Biaya Penelitian

Rencana biaya dipakai dalam pelaksanaan penelitian ini adalahsebagai berikut :
Biaya persiapan Rp. 500.000.
Biaya pengumpulan data Rp 3.000.000.
Biaya pengolahan dan analisis data Rp 1.000.000
4. Biaya penyusunan laporan Rp 1.000.000.
Biaya seminar hasil Rp 1.000.000.
Biaya perbaikan dan penggandaan Rp 1.000.000
Jumlah Rp 7.500.000




44

3.10Jadwal Kegiatan
Penelitian ini akan direncanakan dan dilaksanakan selamaempat
bulan dengan jadwal penelitian sebagai berikut :

Tabel 1. Jadwal Kegiatan
NO JenisKegiatan
P
e
b
r
u
a
r
i

M
a
r
e
t

A
p
r
i
l

M
a
i


1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1
Persiapan penyusunan proposal
x x x x
2
Pelaksanaan seminar proposa x
3
Perbaikan revisi proposa x
4
Pengurusan Izin x x x
5
penyusunan instrument x x
6
Pengujicobaaninstrumen x
7
Pengumpulan data x
45

8
Pengolahan dan analisisdata x
9
Penyusunan laporanpenelitian
x x
10
Pelaksanaan seminar hasil x
11
Perbaikan laporanpenelitian x x
12
Penyajian laporan(tesis) x

Daftar Pustaka

Abdurrahman, H. A. 1996. Leadership (Teori Pengembangan
filosofi Kepemimpinan Kerja). Jakarta: Dinas Latihan Jabatan LAN.
Arikunto, Suharsimi. 2002.Prosedur Penelitian. Suatu
PendekatanPraktis. Jakarta: Reneka cipta.

Asad. Moch. 1987. Psikologi Industri Yogyakarta: Liberty.

Bafadall, Ibrahim. 1992. Supervisi Pengajaran Teori dan Aplikasinya
dalam Pembina Profesional Guru . Bandung: Bumi Aksara.

Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi Manajemen
epemimpinan pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Daft, Richard L. 2002. Manajemen . Jakarta: Erlangga.

Bellen S. dkk. 2000. Manajemen Berbasis Sekolah . Jakarta: UNESCO-
UNICEF-Pemerintah Indonesia

Depdiknas, 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah
.Jakarta: Tampa Penerbit
Duhou. Abu. 2002. School Based Management . Paris:
InternasionalInstitute for Educational Planning
Fattah. 1999. Landasan Manajemen Pendidikan Remaja. Bandung:Rosda
Karya
Handoko, T. Hani.2003. Manajemen Edisi 2, Yogyakarta: BPFE
46


Hasibuan, S.P. Melayu. 2001. Manajemen Dasar, Pengertian,
danMakalah. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara

.---------------------------------. 2007. Manajemen Sumber DayaManusia.
Jakarta: Bumi Aksara

Kartono, K. 1997. Psikologis Sosial Untuk Manajemen Perusahaan dan Industri.
Jakarta: Rajawali PressYogyakarta: Kanisius

Liputo, Benyamin. 1998. Pengantar Manajemen . Jakarta.
DepartemenPendidikan dan Kebudayaan.

Mahtika, Hanafie. 2006. Ilmu administrasi Konsep dan
Organisasi Terhadap Pembinaan Pegawai . Jakarta: Gunung Agung

Manangkasi. 1998. Statistik Terapan . Ujung Pandang: FIP IKIP

Maisyaroh. 2003. Manajemen Pendidikan. Malang : Universitas Negeri
Malang.

Moenir. 1996.Pendekatan Manusiawi dan Organisasi
TerhadapPembinaan Pegawai. Jakarta: Gunung Agung.

Mondy, R Wayne dan Shane R. Premeaux. 1993.Management:Concept,
Practices, and Skill . Boston: Allyn and Bacon
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah . Bandung:
RemajaRosda Karya

----------------. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional.
Bandung:Remaja Rosda Karya

Muslim, S. 2003.Kinerja Kepala Sekolah dalam
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) SLTP Negeri 2
Mataram :Universitas Negeri Surabaya.

Nawawi, H. 1999. Administrasi Pendidikan Indonesia . Jakarta: Toko
Gunung Agung.

Purwanto. M. Ngalim, 1998. Administrasi dan Supervisi Pendidikan.
Bandung: Remaja

Rosda Karya.Purwanto. 1990. Psikologis Pendidikan . Bandung: Remaja
47

Rosda Karya.




lampiran
Instrumen Pengumpulan Data
a. Pedoman Observasi
Ingin melihat kemampuan Manajerial kepala sekolah dalam mempengaruhi
kinerja guru
Ingin melihat bagaimana cara kepala sekolah memberi memotivasi guru guna
untuk meningkatkan kinerja guru
Ingin melihat bagaimana sikap kepala sekolah terhadap guru-guru yang ada di
Nurul Ilmi dalam keseharian sebagai seorang kepala sekolah

b. Pedoman wawancara
Pedoman wawancara dengan Kepala Sekolah


48

Bagaimana cara bapak menciptakan kerja sama yang lebih efisien?
Bagaimana cara bapak mengembangkan ketrampilan dan kemampuan
bawahan?
Bagaimana cara bapak menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
kepada Guru-guru yang ada di Nurul Ilmi?
Bagaimana cara bapak mengusahakan lingkungan kerja yang dapat
meningkatkan motivasi dan prestasi kerja guru yang ada di Nurul Ilmi ini?
Apa yang bapak lakukan untuk membuat organisasi berkembang lebih
dinamis?
Bagaimana cara bapak menempat guru yang ada di Nurul Ilmi?
Apakah bapak melakukan konsultasi dengan bawahan untuk
mengkoordinasikan setiap rencana?
Bagaimana bapak mengebangkan prosedur-prosedur untuk memantau
kemajuan bawahan?
Bagaimanakah tindakan yang bapak ambil dalam menghadapi krisis?
Apakah bapak mengadakan pertemuan dengan bawahan untuk bersama-sama
mendifinisikan tugas
Bagaimana bapak menjelaskan wewenang jangkauan bawahan
Apakah bapak menerangkan secara jelas tugas yang diberikan kepada Guru
49

yang ada di SMP Nurul Ilmi ini?
Bagaimana cara bapak menanggapi imformasi yang yang diutarakan oleh
bawahan?

Pedoman Wawancara Dengan Guru

Bagaimanakah manajerial kepala sekolah menurut ibu/bapak dalam
mempengaruhi kinerja guru yang ada di SMP Nurul Ilmi ini?
Apakah ada kepala sekolah memberi memotivasi guru guna untuk
meningkatkan kinerja?
Bagaimana pendapat ibu/bapak tentang sikap kepala sekolah terhadap guru-
guru yang ada di Nurul Ilmi dalam keseharian sebagai seorang kepala
sekolah?
Apakah menurut ibu kepala sekolah telah menciptakan kerja sama yang lebih
efisien?
Apakah menurut ibu Kepala sekolah telah mengembangkan ketrampilan dan
kemampuan Guru-guru yan ada di SMP Nurul Ilmi ini?
Apakah menurut Ibu.Bapak kepala Sekolah telah menanamkan kepada Guru-
gur ynag ada di Nurul Ilmi rasa memiliki dan menyukai pekerjaan?
Apakah menurut Ibu kepala sekolah telah mengusahakan lingkungan kerja
50

yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi kerja guru yang ada di
Nurul Ilmi ini?
Apakah menurut ibu/bapak kepala sekolah telah membuat organisasi
berkembang lebih dinamis?
Apakah menurut Ibu kepala sekolah Sudah menempatkan Guru yang ada di
SMP Nurul Ilmi ini sesuai dengan kompentensi yang dimiliki masing-
masing guru ?
Apakah Kepala sekolah pernah berkonsultasi dengan bawahan untuk
mengkoordinasikan setiap rencana?
Apakah kepala sekolah mengebangkan prosedur-prosedur untuk memantau
kemajuan bawahan?
Bagaimanakah tindakan kepala sekolahdalam menghadapi krisis?
Apakah kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan bawahan untuk
bersama-sama mendifinisikan tugas
Apakah mepala sekolah pernah menyampaikan wewenang jangkauan
bawahan
Apakah kepala sekolah menerangkan secara jelas tugas yang diberikan kepada
Guru yang ada di SMP Nurul Ilmi ini?
Bagaimana pendapat Ibu/baoak atas tanggapan kepala sekolah menanggapi
imformasi yang yang diutarakan oleh bawahan?
51












Kata Pengantar
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, akhirnya Proposalini dapat diselesaikan.
Proposal ini menguraikan bagaimana pengaruh Kemampuan
Manajerial Dan Motivsi Kerja Kepaa Sekolah Dalam Penerapan
Manajemen Berbasis Sekolah Di SMP Terpadu Nurul Ilmi Kota Jambi
52

Proposal inimerupakan tugas akhir untuk mata kuliah
Meteodologi Penelitian. Dan disamping itu pula, dapat digunakan oleh
keala Sekolah atau calon kepala sekolah untuk menerapkan
Manajemen berbasis Sekolah
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam
proposal ini saran dan kritik yang membangun bagi yang membaca
sangat diharapkan guna untuk penyempurnaan Proposal ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat. Sebelumnya kami sampaikan
terima kasih.
Penulis
(REPLIANIS)