Anda di halaman 1dari 21

PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW

DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KONVENSIONAL PADA MATA


PELAJARAN K3 TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SMK N 2 WONOSARI



PROPOSAL SKRIPSI










Disusun Oleh :
Ibnu Setyo Nugroho
11501244024

PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014


Bab I. Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Menengah Kejuruan adalah pendidikan yang menyiapkan
peserta didik menjadi manusia yang produktif, yang langsung dapat bekerja di
bidangnya setelah melalui pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi. Selain itu,
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan (diklat) berbagai program keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan
lapangan kerja. Untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan oleh
industri/dunia usaha/asosiasi profesi, substansi diklat dikemas dalam berbagai
mata diklat yang dikelompokan dan diorganisir menjadi program normatif, produktif,
dan adaptif.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu dasar
kompetensi kejuruan program produktif yang diajarkan pada Sekolah Menengah
Kejuruan program studi keahlian Teknik Elektro. Sebagai materi program produktif
dasar tentunya Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan materi yang sangat
penting dan mempunyai peran atau pengaruh yang besar terhadap kelancaran
pencapaian kompetensi lainnya. Kenyataannya dilapangan proses pembelajaran K3
menggunakan model pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru dengan
kata lain, guru sebagai sumber informasi dan menyajikan materi. Sedangkan siswa
hanya menerima materi pelajaran dan menghafalnya tanpa mengkonstruksi
pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.
Salah satu faktor yang mempengaruhi siswa dalam proses belajar mengajar
yaitu model yang digunakan guru dalam menyampaikan materi. Ketika model yang
digunakan tidak melibatkan siswa secara aktif, tujuan pembelajaran yang diharapkan
tidak tercapai.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alternatif adalah
pembelajaran kooperatif. Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw siswa
dikondisikan untuk belajar secara aktif. Selama proses tukar pendapat maupun
berbagi informasi yang berlangsung dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw,
setiap siswa berkesempatan untuk mengekspresikan apa yang dipahaminya kepada
orang lain, mengklarifikasi ide, maupun menawarkan alternatif ide. Melalui aktifitas
ini diharapkan tercipta kesempatan bagi siswa untuk meningkatkan pemahaman
mereka terhadap materi pelajaran.


B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, muncul beberapa permasalahan dalam
penelitian. Adapun hasil identifikasi dari permasalahan dilatar belakang, dapat
dijabarkan sebagai berikut:
1. Tuntutan dunia industri terhadap kualitas SDM yang berkualitas.
2. Keterbatasan guru dalam memberikan strategi pembelajaran menyebabkan siswa
cenderung bosan.
3. Kekurang aktifan siswa saat proses belajar mengajar karena kondisi kelas yang
kurang mendukung.
4. Keterbatasan model pembelajaran saat proses belajar mengajar berlangsung.

C. Pembatasan Masalah
Mengingat begitu luasnya permasalah yang ada dan adanya berbagai
keterbatasan, maka tidak semua permasalahan yang diungkapkan di atas dapat
dibahas. Penelitian ini penulis batasi pada penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe jigsaw untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah tersebut diatas, maka
dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana efektivitas implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
dalam meningkatkan prestasi belajar siswa SMK N 2 Wonosari pada mata
pelajaran K3?
2. Apakah implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar siswa SMK N 2 Wonosari pada mata pelajaran K3?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa yang mengikuti
pembelajaran K3 menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dengan prestasi belajar siswa yang mengikuti pembelajaran K3 menggunakan
model pembelajaran konvensional.
2. Mengetahui sejauh mana keberhasilan penerapan pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw untuk peningkatan prestasi belajar siswa smkn 2 wonosari pada mata
pelajaran K3.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat bagi beberapa pihak. Sehingga hasil
penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak-pihak berikut:
1. Bagi Pihak Sekolah
Menambah referensi untuk mengembangkan kualitas pembelajaran di SMK.
2. Bagi Guru
Dapat memberikan masukan dalam mengelola kelas tentang variasi model
pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran.
3. Bagi Peserta Didik
Dapat memancing daya tarik, kreatifitas, dan keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa.
4. Bagi Peneliti
Dapat menambah pengalaman sebelum terjun langsung kedalam dunia
pendidikan.
















Bab II. Kajian Pustaka

A. Kajian Teori
a. Model Pembelajaran
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga
diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan
pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan
berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak
kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
1. Ciri-ciri Model Pembelajaran
Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :
a. Rasional teoritik yang logis yangdisusun oleh para pencipta atau
pengembangnya.
b. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar.
c. Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat
dilaksanakandengan berhasil.
d. Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Sedangkan model pembelajaran menurut Kardi dan Nur ada lima model
pemblajaran yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran, yaitu:
pembelajaran langsung; pembelajaran kooperatif; pembelajaran berdasarkan
masalah; diskusi; dan learning strategi.
2. Memilih Model Pembelajaran Yang Baik
Sebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat
bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus
memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber
belajar yang ada agar penggunaan model pembelajara dapat diterapkan secara
efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa.
Seorang guru diharapkan memiliki motivasi dan semangat pembaharuan
dalam proses pembelajaran yang dijalaninya. Menurut Sardiman A. M. (2004 :
165), guru yang kompeten adalah guru yang mampu mengelola program belajar-
mengajar. Mengelola di sini memiliki arti yang luas yang menyangkut bagaimana
seorang guru mampu menguasai keterampilan dasar mengajar, seperti membuka
dan menutup pelajaran, menjelaskan, menvariasi media, bertanya, memberi
penguatan, dan sebagainya, juga bagaimana guru menerapkan strategi, teori
belajar dan pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Colin Marsh (1996 : 10) yang menyatakan
bahwa guru harus memiliki kompetensi mengajar, memotivasi peserta didik,
membuat model instruksional, mengelola kelas, berkomunikasi, merencanakan
pembelajaran, dan mengevaluasi. Semua kompetensi tersebut mendukung
keberhasilan guru dalam mengajar.
Setiap guru harus memiliki kompetensi adaptif terhadap setiap perkembangan
ilmu pengetahuan dan kemajuan di bidang pendidikan, baik yang menyangkut
perbaikan kualitas pembelajaran maupun segala hal yang berkaitan dengan
peningkatan prestasi belajar peserta didiknya.

b. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran
yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pembelajaran kooperatif dapat
didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang
termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson,
1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi
personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif (pembelajaran gotong
royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius yang menekankan bahwa
manusia adalah makhluk sosial.
Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar mengajar yang
menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di
antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri
dari dua orang atau lebih.
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang
berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa
anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk
memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan
belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan
pelajaran.
Menurut Anita Lie dalam bukunya Cooperative Learning, bahwa model
pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar kelompok, tetapi ada
unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang
dilakukan asal-asalan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua
kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif, untuk itu harus diterapkan
lima unsur model pembelajaran gotong royong yaitu :
1. Saling ketergantungan positif
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap
anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu
menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus
menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
2. Tanggung jawab perseorangan
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model
pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran
kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga
masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya
sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3. Tatap muka
Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan
kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan
memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan
semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan,
memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
4. Komunikasi antar anggota
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai
keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga
bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan
kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan
berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun,
proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh
untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental
dan emosional para siswa.
5. Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk
mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar
selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran
kooperatif yang diuraikan oleh Arends (1997) adalah sebagaimana terlihat
pada table berikut ini


Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan
teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan
teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode
pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Teknik ini dapat digunakan
dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang
pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan
pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama
siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk
mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw adalah suatu teknik pembelajaran
kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang
bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu
mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends,
1997).
Model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw merupakan model pembelajaran
kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 6
orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan
bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari
dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends,
1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap
pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya
mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan
dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan
demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama
secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu
untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic
pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali
pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain
tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw, terdapat kelompok asal
dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang
beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang
beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli
yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang
ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan
tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan
kepada anggota kelompok asal.
Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai
berikut (Arends, 1997) :





Kelompok Asal

Kelompok Ahli
Gambar Ilustrasi Kelompok Jigsaw
Langkah-langkah dalam penerapan teknik Jigsaw adalah sebagai berikut :
Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap
kelompok terdiri dari 4 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda.
Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok
asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan
dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Dalam teknik Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu
bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi
pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut
kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa
mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun
rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke
kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw
(gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi
pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya
terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan
terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal
yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke
kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari
dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada
pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

Gambar Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw
Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal,
selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan
pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok
yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi
pembelajaran yang telah didiskusikan.
Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan
berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor
dasar ke skor kuis berikutnya.
Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian
materi pembelajaran.
Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi
baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut
serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan
mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat
menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran
kooperatif diantaranya adalah sebagai berikut :
Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran kooperatif.
Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru
terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir
orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.
Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran
kooperatif.
Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang
dapat mendukung proses pembelajaran.
Agar pelaksanaan pembelajaran kooperatif dapat berjalan dengan baik, maka
upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran
kooperatif di kelas dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan
kelas heterogen.
Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran kooperatif.
Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan
informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

c. Model Pembelajaran Konvensional
Model pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang biasa
dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Pada pola
pembelajaran konvensional, kegiatan proses belajar mengajar lebih sering
diarahkan pada aliran informasi dari guru ke siswa. Dalam model pembelajaran
konvensional, guru di sekolah umumnya memfokuskan diri pada upaya
penuangan pengetahuan kepada para siswa tanpa memperhatikan prakonsepsi
(prior knowledge) siswa atau gagasan-gagasan yang telah ada dalam diri siswa
sebelum mereka belajar secara formal di sekolah. Sekarang ini, salah satu
penyebab universal atas masih rendahnya hasil belajar biologi yang dicapai siswa
adalah terjadinya miskonsepsi pada siswa. Prakonsepsi (prior knowledge) siswa
yang pada umumnya bersifat miskonsepsi secara terus-menerus akan dapat
mengganggu pembentukan konsepsi ilmiah.
Kegiatan mengajar dalam pembelajaran konvensional cenderung diarahkan
pada aliran informasi dari guru ke siswa, serta penggunaan metode ceramah
terlihat sangat dominan. Pola mengajar kelihatan baku, yakni menjelaskan sambil
menulis di papan tulis serta diselingi tanya jawab, sementara itu peserta didik
memperhatikan penjelasan guru sambil mencatat di buku tulis. Siswa dipandang
sebagai individu pasif yang tugasnya hanya mendengarkan, mencatat, dan
menghafal. Pembelajaran yang terjadi pada model konvensional berpusat pada
guru, dan tidak terjadi interaksi yang baik antara siswa dengan siswa. Sehingga
pembelajaran konvensional lebih cenderung pada pelajaran yang bersifat hapalan
yang mentolerir respon-respon yang bersifat konvergen, menekankan informasi
konsep, latihan soal, serta penilaiannya masih bersifat tradisional dengan paper
and pencil test yang hanya menuntut pada satu jawaban yang benar. Hal tersebut
berimplikasi langsung pada proses pembelajaran di kelas yaitu pada situasi kelas
akan menjadi pasif karena interaksi hanya berlangsung satu arah serta guru kurang
memperhatikan dan memanfaatkan dan potensi-potensi siswa serta gagasan
mereka sebagai daya nalar (Widiana, 2006).

d. K3(Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
Keselamatan kerja adalah menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan,
baik jasmaniah maupun rohaniah manusia serta hasil karya dan budayanya tertuju
pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan manusia pada khususnya
(Depdiknas, 2005:30). Keselamatan kerja di Indonesia diatur dalam suatu
peraturan yaitu Undang-undang Nomor I Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
a. Bahaya Pada Area Kerja
Jika ditinjau dari awal perkembangan usaha keselamatan kerja
diperusahaan/industri, manusia menganggap bahwa kecelakaan terjadi karena
musibah, namun sebenarnya setiap kecelakaan disebabkan oleh salah satu
faktor sebagai berikut, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, yaitu:
1. Tindakan tidak aman dari manusia itu sendiri (unsafe act)
a. Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan.
b. Tidak menggunakan pelindung diri yang disediakan.
c. Berkelakar/bergurau dalam bekerja dan sebagainya.
2. Keadaan tidak aman dari lingkungan kerja (unsafe condition)
a. Mesin-mesin yang rusak tidak diberi pengamanan, kontruksi kurang
aman, bising dan alat-alat kerja yang kurang baik dan rusak.
b. Lingkungan kerja yang tidak aman bagi manusia (lantai licin, ventilasi
atau pertukaran udara, bising atau suara-suara keras.
Pencegahan dan pengendalian bahaya di tempat kerja dapat dilakukan
dengan berprinsip (Katman, 2008: 11) yaitu:
1. Antisipasi
2. Identifikasi
3. Penilaian dan evaluasi
4. Pengendalian
b. Pakaian Pengaman
Berikut alat-alat pelindung bagian tubuh yang digunakan dalam dunia
lapangan kerja:
1. Alat pelindung mata
Pelindung mata dan muka terdiri dari kacamata pengaman (spectacles),
goggles, tameng muka (face shield), tameng muka dan kacamata
pengaman dalam kesatuan (full face masker).
2. Alat pelindung kepala
Topi atau helm adalah alat pelindung kepala bila bekerja pada bagian
yang berputar, misalnya bor atau waktu sedang mengelas, hal ini untuk
menjaga rambut terlilit oleh putaran bor atau rambut terkena percikan api.
3. Alat pelindung telinga
Untuk melindungi telinga dari gemuruhnya mesin yang sangat bising
juga penahan bising dari letupan-letupan.
4. Alat pelindung hidung
Alat pelindung alat pernapasan dari kemungkinan terhisapnya gas-gas
beracun.
5. Alat pelindung tangan
Alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari
tangan dari berbagai hal yang dapat membahayakan. Jenis pelindung
tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari logam, kulit, kain
kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan sarung tangan yang tahan
bahan kimia.
6. Alat pelindung kaki
Alat pelindung kaki dapat menghindarkan tusukan benda tajam,
terbakar oleh zat kimia, dll. Terdapat dua jenis sepatu yaitu pengaman
yang bentuknya seperti halnya sepatu biasa hanya dibagian ujungnya
dilapisi dengan baja dan sepatu karet digunakan untuk menginjak
permukaan yang licin, sehingga pekerja tidak terpeleset dan jatuh.
7. Alat pelindung badan
Alat ini terbuat dari kulit sehingga memungkinkan pakaian biasa atau
badan terhindar dari percikan api, terutama pada waktu menempa dan
mengelas.

e. Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah
dicapai siswa dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang
diterima dalam jangka waktu tertentu. Prestasi belajar pada umumnya
dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan dengan satu
kriteria (Prakosa, 1991).
Prestasi belajar kemampuan seorang dalam pencapaian berfikir yang
tinggi. Prestasi belajar harus memiliki tiga aspek, yaitu kognitif, affektif dan
psikomotor. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya pada
seorang anak dalam pendidikan baik yang dikerjakan atau bidang keilmuan.
Prestasi belajar dari siswa adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa yang
didapat dari proses pembelajaran. Prestasi belajar adalah hasil pencapaian
maksimal menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap sesuatu
yang dikerjakan, dipelajari, difahami dan diterapkan.
Semua pelaku pendidikan (siswa, orang tua dan guru) pasti
menginginkan tercapainya sebuah prestasi belajar yang tinggi, karena prestasi
belajar yang tinggi merupakan salah satu indikator keberhasilan proses belajar.
Namun kenyataannya tidak semua siswa mendapatkan prestasi belajar yang
tinggi dan terdapat siswa yang mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
Tinggi dan rendahnya prestasi belajar yang diperoleh siswa dipengaruhi
banyak faktor.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa
selama proses belajarnya. Keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai faktor
yang saling berkaitan.
Menurut Muhibbin Syah (2006: 144) bahwa prestasi belajar siswa
dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor yakni:
a. Faktor internal
yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, faktor
intern terdiri dari:
1. Faktor jasmaniah yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh
2. Faktor psikologis yang meliputi tingkat inteligensi, perhatian, minat,
bakat, motif, kematangan dan kesiapan
3. Faktor kelelahan.
b. Faktor eksternal
yaitu faktor dari luar individu. Faktor ekstern terdiri dari:
1. Faktor keluarga yaitu cara orang tua mendidik, relasi antara anggota
keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang
tua, dan latar belakang kebudayaan
2. Faktor dari lingkungan sekolah yaitu metode mengajar guru,
kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar belajar diatas
ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah
3. Faktor masyarakat yaitu kegiatan siswa dalam masyarakat, mass
media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.
c. faktor pendekatan belajar (approach to learning)
yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang
digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi
pelajaran.

B. Kerangka Berpikir
Peningkatan prestasi belajar siswa merupakan salah satu masalah pendidikan
yang masih banyak diteliti. Salah satu alasan kurang meningkatnya prestasi belajar
siswa merupakan indikator belum tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Permasalahan tentang peningkatan prestasi belajar siswa berhubungan erat dengan
pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar.
Keberhasilan kegiatan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh guru sebagai pengelola
utama.
Kemampuan guru mengatur serta mengorganisir lingkungan yang ada di
sekitar peserta didik dapat mendorong peserta didik melakukan proses belajar secara
efektif dan efisien. Di samping itu guru juga harus mampu menjabarkan mata
pelajaran K3 yang diampunya ke dalam kegiatan pembelajaran yang dapat mendorong
peserta didik terlihat aktif didalamnya.
Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sangat dimungkinkan
untuk lebih mengefektifkan kegiatan belajar siswa karena dengan dimanfaatkannya
model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw motivasi siswa untuk belajar semakin
meningkat. Selain itu model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat mewujudkan
belajar yang lebih berkonsentrasi karena setiap siswa bertanggung jawab atas
penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada
anggota lain dalam kelompoknya.
C. Hipotesis
1. Terdapat peningkatan prestasi belajar siswa yang signifikan pada mata pelajaran
K3 di SMK Negeri 2 Wonosari setelah menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw.
2. Terdapat perbedaan prestasi belajar antara kelas XI.Elektro A dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelas XI.Elektro B
yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pada mata
pelajaran K3.

















Bab III. Metode Penelitian

A. Desain Eksperimen
Penelitian dengan judul Perbandingan model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw dengan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran K3 terhadap
prestasi belajar siswa smkn 2 wonosari ini ini menggunakan pendekatan kuasi
eksperimen.
Group Pretest Treatment Posstest
Experimental E X O1
Control K . O2
Tabel Skema Penelitian
Experimental :kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan media
modul menggunakan mesin untuk operasi dasar.
Control :kelompok siswa yang tidak mendapatkan pembelajaran dengan media
modul menggunakan mesin untuk operasi dasar.
E :hasil pretest kelompok eksperimen sebelum diberikan perlakuan.
O1 :hasil posttest kelompok eksperimen setelah diberikan perlakuan.
K :hasil pretest kelompok kontrol sebelum diberikan perlakuan.
O2 :hasil posttest kelompok kontrol.
X :treatment yang diberikan pada kelompok eksperimen.
. :Tidak adanya perlakuan pada kelompok kontrol.
B. Tempat Dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 2 Wonosari yang beralamatkan
Gunungkidul, Yogyakarta.
2. Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil Tahun Ajaran 2014/2015.
C. Prosedur Penelitian
Prosedur atau langkah-langkah penelitian dibagi tiga tahap yaitu:
1. Tahap persiapan penelitian
a. Survey sekolah, observasi untuk menemukan masalah
b. Melakukan koordinasi dengan pihak sekolah
c. Menentukan materi pembelajaran dan alokasi waktu
d. Menyusun RPP dan Instrumen penelitian
e. Menentukan populasi dan sampel
2. Tahap pelakasanaan penelitian
a. Menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen
b. Menguji coba instrumen
c. Mengolah dan menganalisis data uji coba instrumen
d. Pengadaan tes awal (pretest) untuk kelas eksperimen dan kelas
kontrol
e. Pemberian treatment (perlakuan)pada kelompok eksperimen
f. Pengadaan tes akhir (posttest) untuk kelas eksperimen dan kelas
kontrol
3. Tahap penyelesaian penelitian
a. Mengolah dan menganalisis data penelitian
b. Komparasi data antara kelompok kontrol dan eksperimen
c. Penyelesaian laporan penelitian

D. Populasi dan Sempel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI Program Keahlian Teknik
Elektro Semester Ganjil SMK Negeri 2 Wonosari Tahun Ajaran 2014/2015. Siswa
kelas XI Teknik Elektro ini terdiri atas dua kelas, yaitu kelas XI.Elektro A yang
terdiri dari 32 siswa dan kelas XI.Elektro B yang terdiri dari 32 siswa.
2. Sampel
Sampel yang dipakai pada penelitian ini adalah dua kelas dari kelas XI
Program Keahlian Teknik Elektro SMK Negeri 2 Wonosari(XI.Elektro A dan
XI.Elektro B). Dari kedua kelas tersebut, satu kelas dikelompokkan menjadi kelas
eksperimen (XI.Elektro A) dan satu kelas lain sebagai kelas kontrol (XI.Elektro
B). Karena subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga
penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa
penelitian ini merupakan penelitian populasi.




E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
tes prestasi belajar. Variabel prestasi belajar menggunakan pengujian tes prestasi
belajar peserta didik pada mata pelajaran K3. Tes prestasi belajar dilakukan untuk
mengetahui pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar peserta didik.

F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data pada penelitian ini
menggunakan tes prestasi. Data variabel prestasi belajar yang diwujudkan dengan
hasil tes pretasi teori hasil ujian teori mata pelajaran K3.
Penyusunan tes prestasi belajar didasarkan dari silabus proses belajar
mengajar pada kompetensi mata pelajaran K3. Dari silabus disusun menjadi kisi-kisi
soal tes prestasi belajar. Kisi- kisi soal tes prestasi belajar ini yang nantinya akan
dibuat soal-soal untuk mengukur prestasi belajar peserta didik selama mengikuti
pembelajaran mata diklat yang diajarkan.
Soal-soal tes prestasi belajar dibuat dalam bentuk obyektif dengan jenis tes
pilihan berganda. Karena dengan instrumen tersebut akan memudahkan dalam
melakaukan analisa data.
Setelah instrumen disusun kemudian dikonsultasikan kepada Dosen
Pembimbing, dan setelah mendapat persetujuan kemudian diujicobakan.

G. Analisis Data
Analisis data yang digunakan untuk mendeskripsikan data hasil penelitian ini
adalah statistik deskriptif dengan menggunakan modus, median, mean, varians, dan
standar deviasi. Sedangkan untuk menganalisis data dilakukan uji persyaratan analisis
dengan uji homogenitas dan uji normalitas. Untuk menguji hipotesis perbedaan hasil
belajar siswa, data yang berdistribusi normal menggunakan statistik parametris
dengan uji t-test. Sedangkan data yang tidak berdistribusi normal maka digunakan
statistik non-parametris dengan tes kolmogorov-smirnov dua sampel.






Referensi:
Emildadiany, Novi. 2008. Penerapan Model Pembelajaran Cooperative LearningTeknik
Jigsaw. http://akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses tanggal 5 april 2014
Colin Marsh. (1996). Handbook for beginning teachers. Sydney : Addison Wesley Longman
Australia Pry Limited.
Sardiman, A. M. (2004). Interaksi dan motivasi belajar-mengajar. Jakarta: Rajawali
http://belajarpsikologi.com/pengertian-model-pembelajaran/
http://azharm2k.wordpress.com/2012/05/09/definisi-pengertian-dan-faktor-faktor-yang-
mempengaruhi-prestasi-belajar/
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN
MENGGUNAKAN MESIN UNTUK OPERASI DASAR DENGAN BANTUAN MODUL
DI SMK ISLAM YOGYAKARTA
MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA DIKLAT
TEORI DASAR ELEKTRONIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN MUHAMMADIYAH PRAMBANAN