Anda di halaman 1dari 67

Aborsi, telah ada dalam sejarah kehidupan

manusia sejak beberapa millenium silam.


Suku zaman purba harus berpindah tempat
secara cepat dan wanita-wanita yang tengah
hamil dapat memperlambat perjalanan
mereka. Dengan melakukan siksaan pada
bagian abdomen wanita dan kemudian di
teruskan dengan mengendarai kuda secara
cepat dan berlebihan dapat mengakibatkan
janin lahir secara prematur. Bayi ini biasanya
kemudian dibunuh atau ditinggalkan begitu
saja, bahkan beberapa ibu juga ikut kesakitan
hingga menghadapi kematian karena proses
kelahiran ini. Saat ini aborsi jauh lebih aman
bagi para wanita tapi tetap mengakibatkan
kematian bagi si bayi.
Pada kebudayaan lainnya pertanyaan
mengenai legalitas aborsi banyak
diperdebatkan. Kehidupan yang belum lahir
dilihat sama seperti kehidupan mereka
yang telah terlahir. Pada budaya zaman
dulu aborsi adalah hal yang sangat logis dan
tidak perlu penjelasan non-moral. Beberapa
ratus dan ribu tahun yang lalu tidak ada tes
kehamilan dan peralatan lainnya untuk
mengenali aborsi pada masa-masa awal
kehamilan. Pada saat aborsi di lakukan,
bayinya terlahir secara prematur namun
masih tetap hidup. Proses aborsinya akan
diselesaikan dengan membunuh bayi yang
telah terlahir.
Metode aborsi modern mulai muncul pada abad 19.
Tahun 1859, secara American Medical Association
diam-diam mengeluarkan resolusi yang berbunyi,
Melakukan aborsi, pada setiap tahap pembuahan
dapat diterima apabila diperlukan untuk
menyelamatkan kehidupan si ibu ataupun si anak.







Di beberapa wilayah di dunia, seperti di kekaisaran
China, aborsi terus dilakukan dan secara luas di
kenal oleh masyarakat, begitu pula di wilayah ini
pembunuhan terhadap bayi terus berlangsung.
Aborsi terus dilakukan dengan beberapa istilah yang
berbeda, dan pada tahun 1900 sekitar 1 dari 6 wanita
Amerika yang hamil diperkirakan pernah melakukan
aborsi (Sumber: Mother Earth oleh Emma Goldman,
1911). Bagaimanapun juga di bawah tekanan para
pemimpin masyarakat, aborsi menjadi tidak dapat
diterima dan hukum menjadi kasar melawan praktik
aborsi.
Hingga pertengahan abad ke-20 tidak ada yang secara
serius menentang bahwa bayi yang belum lahir dapat di
anggap sebagai anak. Sebuah kelompok seperti National
Abortion and Reproductive Rights Action League di
Amerika mengatakan bahwa bayi yang belum lahir tidak
bisa dianggap hidup. Hal inilah yang kemudian
meningkatkan jumlah praktik aborsi illegal di akhir
tahun 1960-an. NARAL mengatakan bahwa aborsi tidak
menyakiti si janin, dan dengan melegalkan aborsi maka
angka kekerasan terhadap anak, aborsi illegal dan
kehamilan remaja dapat menurun secara tajam.
Pada tahun 1973 Supreme Court mengeluarkan keputusan Roe
vs. Wade, melawan hukum anti-aborsi di seluruh Amerika
Serikat. Beberapa yang lainnya kemudian mengikuti, mendesak,
mengembangkan dan menyeimbangkan hak-hak unuk hidup
dan atau untuk memilih. Banyak Negara yang melewati
berbagai proses hokum untuk tetap melindungi kehidupan
anak yang belum lahir, namun walaubagaimanapun aborsi
tetap legal. Sejak di legalkan, justru tindak kekerasan terhadap
anak, aborsi illegal dan kehamilan remaja malah makin
meningkat.
Isu aborsi internasional yang terjadi adalah di Cina. Tingkat aborsi anak-anak
wanita sangat tinggi. Dan sebagaimana trend sejarah sebelumnya, hal ini
menandakan tingginya tingkat pembunuhan bayi yang sudah lahir.

Issue lainnya adalah mengenai Partial Birth Abortions, yaitu suatu terminologi
aborsi di mana bayi tersebut dilahirkan terlebih dahulu baru kemudian dibunuh.
Beberapa negara telah melarang Partial Birth Abortions dan beberapa di
antaranya telah digulingkan oleh pengadilan.

Hukum nasional mengenai pelarangan terhadap telah dikeluarkan oleh kongres
dan diveto oleh Presiden Bill Clinton pada beberapa kesempatan.

Induced abortion dapat ditelaah hingga ke zaman purba dahulu. Ada bukti yang
menguatkan bahwa dalam sejarah kehamilan banyak di akhiri melalui beberapa
metode termasuk dengan meminum bahan-bahan herba yang dapat
menggugurkan kandungan, menggunakan bahan tajam, melakukan tekanan dan
pemijatan pada bagian abdomen dan teknik-teknik lainnya.

Negara yang melegalkan aborsi sejak abad ke-20:
Jenis-Jenis
Aborsi
Jenis-Jenis Aborsi
Abortus terapeutik
Abortus septik
Abortus berulang

Abortus yang dilakukan pada usia
kehamilan kurang dari 12 minggu
atas pertimbangan kesehatan
wanita, di mana apabila kehamilan
itu dilanjutkan akan membahayakan
dirinya.
Misalnya pada wanita dengan
kelainan jantung. Dapat juga
dilakukan atas pertimbangan
kelainan janin yang berat.
Abortus Septik
Abortus spontan dapat diikuti dengan
komplikasi infeksi. Infeksi dapat terjadi
akibat tindakan abortus yang tidak
sesuai dengan prosedur (misalnya oleh
dukun). Infeksi yang terjadi pada
umumnya endometritis, yang bisa
berkembang menjadi parametritis dan
peritonitis.
Abortus Berulang
Abortus berulang adalah abortus yang
terjadi sebanyak 3 kali atau lebih pada 3
bulan pertama kehamilan.
Abortus berulang primer terjadi pada wanita
yang belum pernah memiliki anak yang
hidup sebelumnya.
Abortus berulang sekunder adalah abortus
yang terjadi pada wanita yang sebelumnya
sudah pernah memiliki anak lahir hidup.
Aborsi berdasarkan Caranya
Dilatasi / Kuret
Peracunan dengan Garam
Histerotomi / Caesar
Pengguguran kimia Prostaglandin
Dilatasi (Kuret)
Lubangrahimdiperbesar,agarrahim
dapatdimasukikuret,yaitusepotong
alatyangtajam.Kemudianjaninyang
hidupitudipotongkecil-kecil,
dilepaskandaridindingrahimdan
dibuangkeluar.Umumnyaterjadi
banyakpendarahan.Bidanoperasiini
harusmengobatinyadenganbaik,bila
tidak,akanterjadiinfeksi.
Adajugakuretdengancara
penyedotanyaitu,dilakukandengan
memperlebarlubangrahim,kemudian
sebuahatbungdimasukkankedalam
rahimdandihubungkandenganalat
penyedotyangkuat.Dengancara
demikian,bayidalamrahimtercabik-
cabikmenjadikepingan-kepingankecil,
laludisedotmasukkedalamsebuah
botol.
Peracunan dengan Garam
Pengguguran dengan peracunan garam ini dilakukan
pada janin berusia lebih dari 16 minggu, ketika sudah
cukup banyak cairan terkumpul di sekitar bayi dalam
kantong anak. Sebatang jarum yang panjang
dimasukkan melalui perut ibu ke dalam kantong bayi,
kemudian sejumlah cairan disedot keluar dan larutan
garam pekat disuntikkan ke dalamnya. Bayi dalam rahim
akan menelan garam beracun sehingga ia sangat
menderita. Bayi itu akan meronta-ronta dan menendang-
nendang karena dibakar hidup-hidup oleh racun itu.
Dengan cara ini, sang bayi akan mati dalam waktu kira-
kira 1 jam dan kulitnya benar-benar hangus. Dalam
waktu 24 jam kemudian, si ibu mengalami sakit beranak
dan melahirkan seorang bayi yang sudah mati. Namun,
sering juga terjadi bayi yang lahir itu masih hidup, tetapi
biasanya dibiarkan saja hingga mati.

Histerotomi / caesar terutama dilakukan 3
bulan terakhir dari kehamilan.
Rahim dimasuki alat bedah melalui
dinding perut.
Bayi kecil ini dikeluarkan dan dibiarkan
agar mati atau kadang-kadang langsung
dibunuh.
Pengguguran kimia Prostaglandin
Pengguguran cara terbaru ini memakai bahan-
bahan kimia yang dikembangkan. Bahan-bahan
kimia ini mengakibatkan rahim ibu mengkerut,
sehingga bayi dalam rahim itu mati dan
teerdorong keluar. Kerutan ini sedemikian
kuatnya sehingga ada bayi-bayi yang terpenggal.
Sering juga bayi yang keluar masih hidup. Efek
sampingan bagi si ibu yang menggugurkan
dengan cara ini banyak sekali, ada yang mati
akibat serangan jantung sewaktu cairan kimia itu
disuntikkan.
Aborsi menurut Alasannya

Abortus
Provocatus
Spontaneous Abortion
Aborsi spontaneous atau dikenal sebagai keguguran merupakan
proses keluarnya embrio atau fetus akibat kecelakaan,
ketidaksengajaan atau penyebab alami lainnya yang
mengakibatkan terhentinya kehamilan sebelum minggu ke-22.
Aborsi spontan merupakan proses yang terjadi sendiri tanpa
campur tangan manusia.
Secara global, 10%-50% kehamilan berakhir dengan keguguran,
tergantung usia dan kesehatan perempuan hamil.
Kebanyakan keguguran terjadi di masa awal kehamilan, pada
kebanyakan kasus biasanya perempuan bahkan tidak menyadari
dirinya sedang hamil. Sebuah riset menunjukan bahwa 61.9%
keguguran terjadi sebelum kehamilan berusia 12 minggu, dan
91,7% diantaranya terjadi tanpa sepengetahuan si perempuan.
Spontaneous Abortion
Berdasarkan pengeluaran hasil konsepsi, terbagi menjadi:
a) Abortus Incompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Bila sebagian
dari buah kehamilan sudah keluar dan sisanya masih berada dalam
rahim, perdarahan yang terjadi biasanya cukup banyak namun tidak
fatal. Untuk pengobatan, perlu dilakukan kuret secepatnya.
b) Abortus Completus
Pengeluaran keseluruhan buah kehamilan dari rahim. Keadaan demikian
biasanya tidak memerlukan pengobatan karena semua hasil konsepsi
sudah dikeluarkan.
c) Missed Abortion
Keadaan di mana hasil pembuahan yang telah mati tertahan dalam
rahim selama 8 minggu atau lebih. Penderitanya biasanya tidak
menderita gejala, kecuali tidak mendapat haid. Kebanyakan akan
berakhir dengan pengeluaran buah kehamilan secara spontan dengan
gejala yang sama dengan abortus yang lain.
Abortus Provocatus
Abortus Provocatus adalah proses penghentian
kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan,
yang dilakukan dengan sengaja dengan tujuan tertentu.
Berdasarkan alasannya, Abortus Provocatus dapat
dikategorikan menjadi :
Abortus Therapeuticus
Eugenic Abortion
Abortus non-therapeticus
Abortus Therapeuticus
Pengakhiran kehamilan pada saat di mana janin belum dapat hidup
demi kepentingan kesehatan si ibu, yang disebabkan oleh hal-hal
sebagai berikut
Abortus yang mengancam (threatened abortion), disertai dengan
perdarahan yang terus menerus, atau jika janin telah meninggal
(missed abortion). Tindakan ini dilakukan karena keberadaan janin
mengancam keselamatan si ibu.
Mola Hidatidosa atau hidramnion akut. Hidramnion adalah keadaan
kehamilan di mana air ketuban diproduksi secara berlebihan (lebih
dari 2000cc), sehingga berpotensi menimbulkan infeksi bagi janin dan
membahayakan keselamatannya.
Infeksi rahim akibat tindakan aborsi yang tidak aman (unsafe
abortion), yang dilakukan pada kehamilan sebelumnya.
Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker serviks,
atau kondisi di mana kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk
penyakit keganasan lainnya pada tubuh, seperti kanker payudara.
Abortus Therapeuticus
Prolaps uterus gravid (kehamilan di mana posisi rahim turun akibat
adanya tekanan intra-abdomen) yang tidak bisa diatasi.
Telah berulang kali mengalami operasi caesar.
Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya
penyakit jantung organik dengan kegagalan jantung, hipertensi,
nephritis (radang pada ginjal), tuberkulosis paru aktif, toksemia
gravidarum (kondisi di mana kehamilan mengalami keracunan) yang
berat.
Penyakit-penyakit metabolik, misalnya diabetes yang tidak
terkontrol, yang disertai komplikasi vaskuler, hipertiroid, dll.
Epilepsi, sklerosis yang luas dan berat.
Hiperemesis gravidarum (mual-muntah yang parah sehingga
perempuan mengalami penurunan berat badan drastis dan
dehidrasi) dan chorea gravidarum (Kondisi kehamilan di mana terjadi
kontraksi otot di bagian tubuh tertentu akibat eclampsia atau kaki
gajah.
Gangguan jiwa, disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri.
Pada kasus seperti ini, sebelum melakukan tindakan abortus, calon
pelaku harus berkonsultasi dengan psikiater.

Aborsi jenis ini adalah prosedur
pengguguran yang dilakukan terhadap
janin yang cacat.

Sebelumnya, dokter harus benar-benar
telah melakukan pemeriksaan mengenai
keadaan janin.
Abortus non-therapeticus
Aborsi yang
sengaja dilakukan tanpa
adanya indikasi medik
(ilegal).
Biasanya alasan perempuan melakukan aborsi ini
adalah karena ketidaksiapan menjadi orang
tua, baik itu secara psikis ataupun ekonomi.
Statistik Aborsi di Indonesia
Angka kejadian aborsi di Indonesia berkisar
2 2,6 juta kasus pertahun, atau 43 aborsi untuk
setiap 100 kehamilan.
Sekitar 30% di antara kasus aborsi itu dilakukan
oleh penduduk usia 15-24 tahun.
Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) yang mencakup perempuan kawin usia
1549 tahun menunjukkan tingkat aborsi pada
tahun 1997 diperkirakan 12% dari seluruh
kehamilan yang terjadi.
Statistik Aborsi di Indonesia
Kasus aborsi di perkotaan dilakukan secara diam-diam
oleh tenaga kesehatan (70%), sedangkan di pedesaan
dilakukan oleh dukun (84%). Klien aborsi terbanyak
berada pada kisaran usia 20-29 tahun.
Lebih dari separuh atau 57% wanita pelaku aborsi
adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun.
Bahkan 24% dari mereka adalah wanita remaja berusia
di bawah 19 tahun.
Untuk di Indonesia jumlah aborsi lebih besar karena
dalam adat timur, orang yang hamil sebelum menikah
adalah aib.
Statistik Aborsi di Indonesia
USIA JUMLAH PERSENTASE
< 15 th 14.200 0,9%
15-17 th 154.500 9,9%
18-19 th 224.000 14,4%
20-24 th 527.700 33,9%
25-29 th 334.900 21,5%
30-34 th 188.500 12,1%
35-39 th 90.400 5,8%
40 th > 23.800 1,5%
Statistik Aborsi di Dunia
Usia Jumlah Negara
Tahun
penelitian
Alasan
15 44 th 43,8 juta jiwa
Kebanyakan di
Afrika dan
Amerika
2008
Melakukan
segala
jenis
aborsi
Semua jenis umur
47,000 jiwa
meninggal
- 2008
Aborsi
tidak aman
-
8,5 juta jiwa
meninggal
Negara
berkembang
2008
Komplikasi
akibat
aborsi
Statistik Aborsi
Berdasarkan penelitian tingkat aborsi rata-
rata tertinggi di dunia diduduki oleh Eropa
Utara dengan 43 aborsi per 1.000 kehamilan,
sedangkan Amerika sebesar 19 aborsi per
1.000 kehamilan, dan yang terendah di Eropa
sebesar 12 aborsi per 1.000 kehamilan.

Biasanya wanita Amerika akan dengan mudah
melakukan aborsi ketika terjadi kehamilan di
luar nikah (82%)


Di Amerika, alasan-alasan
dilakukannya aborsi adalah:
* Tidak ingin memiliki anak
karena khawatir mengganggu
karier, sekolah, atau
tanggung jawab lain (75%)
* Tidak memiliki cukup uang
untuk merawat anak (66%)
* Tidak ingin memiliki anak
tanpa ayah (50%)

Data tersebut didukung oleh studi dari
Aida Torres dan Jacqueline Sarroch
Forrest (1998) yang menyatakan
bahwa hanya 1% kasus aborsi karena
perkosaan atau incest (hubungan intim
satu darah), 3% karena
membahayakan nyawa calon ibu, dan
3% karena janin akan bertumbuh
dengan cacat tubuh yang serius.
Sedangkan 93% kasus aborsi adalah
karena alasan-alasan yang sifatnya
untuk kepentingan diri sendiri
termasuk takut tidak mampu
membiayai, takut dikucilkan, malu atau
gengsi.
Silahkan saja!
No problem..
ABORSI
Pandangan Positif
Ahli kesehatan secara mutlak belum memberikan
tanggapan yang pasti.
Namun, secara samar-samar terlihat adanya
kesepakatan bahwa aborsi dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan penyebab, masa depan anak serta
alasan psikologis keluarga terutama ibu, asal
dilakukan dengan cara-cara yang memenuhi kondisi
dan syarat-syarat tertentu.
Ahli sosial kemasyarakatan juga mempunyai
pandangan yang tidak berbeda jauh dengan ahli
kesehatan tentang aborsi.

Pandangan Positif
Aborsi secara kesehatan di Indonesia dibenarkan dan mendapat perlindungan hukum
sebagaimana telah diatur dalam Pasal 15 ayat (1) dan (2) UU No. 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan.
Dalam ketentuan Pasal 15 ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa:
Pasal 15
1. Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan
atau janinnya, dapat ditakukan tindakan medis tertentu.
2. Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat
dilakukan
berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut;
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenang-an untuk itu
dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan
pertimbangan tim ahli;
dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya;
pada sarana kesehatan tertentu.
Pandangan Positif
Berdasarkan ketentuan tersebut, aborsi dapat dibenarkan secara hukum
apabila dilakukan dengan pertimbangan medis.
Dalam hal ini dokter atau tenaga kesehatan mempunyai hak untuk
melakukan aborsi dengan menggunakan pertimbangan demi
menyelamatkan ibu hamil atau janinnya.
Berdasarkan ketentuan pasal 15 ayat (2) UU No. 23 Tahun 1992, tindakan
medis (aborsi) sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan
atau janinnya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan
tanggung jawab profesi serta pertimbangan tim ahli.
Aborsi dapat dilakukan dengan persetujuan dari ibu hamil yang
bersangkutan atau suami atau keluargnya. Hal tersebut berarti bahwa
apabila prosedur tersebut telah terpenuhi maka aborsi yang dilakukan
bersifat legal atau dapat dibenarkan dan dilindungi secara hukum.
Dengan kata lain vonis medis oleh tenaga kesehatan terhadap hak
reproduksi perempuan bukan merupakan tindak pidana atau kejahatan.
Pandangan Positif
Ahli kesehatan Dr. Edward Armando dokter spesialis
aborsi.
Saya setuju melakukan aborsi asalkan pihak yang hamil
datang bersama suami sah ataupun keluarga



Pro choice
Mereka menyetujui legalisasi aborsi. Mereka menyebut
dirinya sebagai prochoice. Kelompok ini cenderung percaya
bahwa fetus bukan makhluk manusiawi sehingga aborsi
merupakan hal yang legal.
Pandangan Positif
Plato dalam Republic
Ia menganggap bahwa janin itu belum cukup untuk
dianggap manusia, tapi baru dapat dianggap
manusia jika sudah terlahir.



Aristoteles
Ia menyarankan bahwa semestinya aborsi dilakukan
sebelum sang janin dianggap hidup dan mampu
merasa. Artinya pada gerakan pertama sang janin.
Pandangan Positif
Gereja
Beberapa Gereja Katolik sudah ada yang menyetujui aborsi, baik yang secara
diam-diam maupun terang-terangan.
Salah satunya adalah FutureChurch di Cleveland Ohio, berdiri pada tahun
1990. Beberapa insan Katolik yang mencoba menghentikan penghujatan
terhadap aborsi bergabung dalam Catholic for Free Choice (CFC). Salah satu
pengurus CFC adalah Rosemary Ruether, profesor teologi di Garrett-
Evangelical Theological Seminary di Illinois. Berbasis di Washington DC, CFC
turut menandatangani pernyataan yang dipublikasikan di New York Times
pada 7 Oktober 1984.
Dalam pernyataan ini disebutkan, tradisi Gereja Katolik mempunyai lebih
dari satu pandangan mengenai aborsi sehingga pelaku aborsi tidak
seharusnya dijuluki sebagai orang berdosa.
Gereja Katolik lain yang tidak melontarkan hujatan akan aborsi adalah Gereja
Katolik Bebas. Salah satu pastor Gereja ini, Harry Aveling menyatakan bahwa
Gereja Katolik bebas tidak memberi pandangan tertentu mengenai aborsi
karena bagi mereka aborsi adalah masalah pribadi.
Dari sisi moral dan kemasyarakatan, sulit untuk
membiarkan seorang ibu yang harus merawat
kehamilan yang tidak diinginkan terutama karena hasil
pemerkosaan, hasil hubungan seks komersial (dengan
pekerja seks komersial) maupun ibu yang mengetahui
bahwa janin yang dikandungnya mempunyai cacat fisik
yang berat.
Anak yang dilahirkan dalam kondisi dan lingkungan
seperti itu, di kemudian hari kemungkinan besar akan
tersingkir dari kehidupan sosial kemasyarakatan yang
normal, kurang mendapat perlindungan dan kasih
sayang yang seharusnya didapatkan oleh anak yang
tumbuh dan besar dalam lingkungan yang wajar,
sehingga tidak tertutup kemungkinan anak tersebut
akan menjadi sampah masyarakat.
Berbeda halnya dengan aborsi yang dilakukan tanpa
adanya pertimbangan medis sebagaimana yang
ditentukan dalam pasal 15 ayat (1) dan (2) UU No. 23
Tahun 1992, aborsi dikategorikan sebagai tindakan
ilegal atau tidak dapat dibenarkan secara hukum.
Tindakan aborsi seperti ini dikatakan sebagai tindakan
pidana atau kejahatan.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
mengkualifikasikan perbuatan aborsi tersebut sebagai
kejahatan terhadap nyawa.
Ketentuan tentang aborsi dalam KUHP diatur dalam Bab
XIV Buku Kedua tentang kejahatan terhadap kesusilaan
khususnya Pasal 299, Bab XIX Buku Kedua KUHP
tentang kejahatan terhadap nyawa (khusus pasal 346-
349).
Pasal 299
Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita
atau menyuruh supaya diobati, dengan diberitahukan
atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu
hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun atau pidana denda
paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.
Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari
keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut
sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang
tabib, bidan atau juruobat, pidananya dapat ditambah
sepertiga
Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam
menjalankan pencariannya, dapat dicabut haknya untuk
menjalankan pencarian itu
Pasal 346 KUHP
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau
mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain
untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.
Pasal 348 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan
kandungan seorang wanita dengan persetujuannya,
diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun
enam bulan.
Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,
dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349 KUHP
Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu
melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun
melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan
yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana
yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan
sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan
pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.
Jika mencermati keempat pasal tersebut diatas, dapat
disimpulkan bahwa KUHP melarang terjadinya abortus
provocatus.
KUHP tidak melegalkan abortus provokatus tanpa
terkecuali, termasuk juga abortus provocatus
medicinalis dan abortus provocatus therapeuticus.
Dengan kata lain paradigma yang digunakan KUHP
adalah paradigma yang mengedepankan hak anak (pro
life).
Dalam KUHP tindakan aborsi dikualifikasikan sebagai
kejahatan terhadap nyawa.
Adapun yang dapat dikenai sanksi pidana berkaitan
dengan perbuatan aborsi adalah perempuan yang
menggugurkan kandungannya itu sendiri dan juga
mereka yang terlibat dalam proses terjadinya aborsi
seperti dokter, bidan atau juru obat.
Di sisi lain, dari segi ajaran agama,
agama manapun tidak akan
memperbolehkan manusia melakukan
tindakan penghentian kehamilan dengan
alasan apapun.

Dari segi hukum, masih ada perdebatan-
perdebatan dan pertentangan dari yang
pro dan kontra soal persepsi atau
pemahaman mengenai undang-undang
yang ada sampai saat ini.
Sumpah Hippokrates adalah sumpah yang
secara tradisional dilakukan oleh
para dokter tentang etika yang harus
mereka lakukan dalam melakukan praktik
profesinya.
Sebagian besar orang menganggap bahwa
sumpah ini ditulis sendiri Hippocrates pada
400 tahun sebelum masehi atau oleh salah
seorang muridnya.
Seorang peneliti, Ludwig Edelstein
mengajukan pendapat lain bahwa sumpah
tersebut ditulis oleh Pythagorean.
Akan tetapi teori ini masih diragukan karena
sedikitnya bukti yang mendukungnya.
Isi Sumpah Hippokrates.
Saya bersumpah demi (Tuhan) ... bahwa saya akan
memenuhi sesuai dengan kemampuan saya dan penilaian
saya guna memenuhi sumpah dan perjanjian ini.
Memperlakukan guru yang mengajarkan ilmu (kedokteran)
ini kepada saya seperti orangtua saya sendiri dan
menjalankan hidup ini bermitra dengannya, dan apabila ia
membutuhkan uang, saya akan memberikan, dan
menganggap keturunannya seperti saudara saya sendiri dan
akan mengajarkan kepada mereka ilmu ini bila mereka
berkehendak, tanpa biaya atau perjanjian, memberikan
persepsi dan instruksi saya dalam pembelajaran kepada anak
saya dan anak guru saya, dan murid-murid yang sudah
membuat perjanjian dan mengucapkan sumpah ini sesuai
dengan hukum kedokteran, dan tidak kepada orang lain.
Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang
sakit sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak
akan pernah untuk mencelakai atau berbuat salah dengan
sengaja. Tidak akan saya memberikan racun kepada siapa
pun bila diminta dan juga tak akan saya sarankan hal seperti
itu.
Isi Sumpah Hippokrates.
Juga saya tidak akan memberikan wanita alat untuk
menggugurkan kandungannya, dan saya akan memegang
teguh kemurnian dan kesucian hidup saya maupun ilmu saya.
Saya tak akan menggunakan pisau, bahkan alat yang berasal
dr batu pada penderita(untuk percobaan), akan tetapi saya
akan menyerahkan kepada ahlinya.
Ke dalam rumah siapa pun yang saya masuki, saya akan
masuk untuk menolong yang sakit dan saya tidak akan
berbuat suatu kesalahan dengan sengaja dan merugikannya,
terutama menyalahgunakan tubuh laki-laki atau perempuan,
budak atau bukan budak.
Dan apa pun yang saya lihat dan dengar dalam proses profesi
saya, ataupun di luar profesi saya dalam hubungan saya
dengan masyarakat, apabila tidak diperkenankan untuk
dipublikasikan, maka saya tak akan membuka rahasia, dan
akan menjaganya seperti rahasia yang suci.
Apabila saya menjalankan sumpah ini, dan tidak
melanggarnya, semoga saya bertambah reputasi
dimasyarakat untuk hidup dan ilmu saya, akan tetapi bila
saya melanggarnya, semoga yang berlawanan yang terjadi.
Pada abad ke-19, Paus Pius IX
memproklamirkan bahwa aborsi merupakan
Pembunuhan dan Dosa Besar. Bahkan,
pemakaian kontrasepsi pun akhirnya dilarang
dan dianggap sebagai pembunuhan janin
yang akan terbentuk.
Pada 22 Februari 1987, Kongregasi bagi
Doktrin Iman (CDF) mengeluarkan sebuah
instruksi berjudul Donum Vitae. Pada Bab 5:
Kehidupan manusia adalah kudus karena
sejak awal ia membutuhkan 'kekuasaan
Allah Pencipta' dan untuk selama-lamanya
tinggal dalam hubungan khusus dengan
Penciptanya, tujuan satu-satunya. Hanya
Allah sajalah Tuhan kehidupan sejak awal
sampai akhir: tidak ada seorang pun boleh
berpretensi mempunyai hak, dalam keadaan
mana pun, untuk mengakhiri secara
langsung kehidupan manusia yang tidak
bersalah
Dalam Gereja, aborsi hanya dibenarkan dalam dua kasus
dilematis berikut:
Pertama, yakni situasi dimana jelas bahwa janin akan mati
bersama ibunya apabila tidak dilaksanakan pengguguran.
Kedua, yakni situasi dimana ibu akan meninggal bila janin
tidak digugurkan.


Bahkan dalam kasus kedua itu beberapa ahli
moral masih meragukan apakah hidup ibu selalu
layak lebih diutamakan dibandingkan dengan
hidup janin.
Dalam Dokumen Gereja Gaudium Et Spes
dalam Bab 27 dinyatakan bahwa:

Selain itu apa saja yang berlawanan dengan
kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan
yang mana pun juga, penumpasan suku,
pengguguran (aborsi), eutanasia atau bunuh diri
yang disengaja; apa pun yang melanggar
keutuhan pribadi manusia, . apa pun yang
melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi
hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan
yang sewenang-wenang, pembuangan orang-
orang, perbudakan, pelacuran, perdagangan
wanita dan anak-anak muda; begitu pula
kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga
kaum buruh diperalat semata-mata untuk
menarik keuntungan. itu semua dan hal-hal lain
yang serupamemang perbuatan yang keji. Dan
sementara mencoreng peradaban manusiawi,
perbuatan-perbuatan itu lebih mencemarkan
mereka yang melakukannya, dari pada mereka
yang menanggung ketidak-adilan, lagi pula
sangat berlawanan dengan kemuliaan Sang
Pencipta.
Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya,
Humanae Vitae 13 mengutip Paus Yohanes
XXIII mengatakan, Hidup manusia adalah
sesuatu yang sakral, dari sejak permulaannya,
ia secara langsung melibatkan tindakan
penciptaan oleh Allah. Maka manusia tidak
mempunyai dominasi yang tak terbatas
terhadap tubuhnya secara umum; manusia
tidak mempunyai dominasi penuh atas
kemampuannya berkembang biak justru
karena pemberian kemampuan berkembang
biak itu ditentukan oleh Allah untuk memberi
kehidupan baru, di mana Tuhan adalah
sumber dan asalnya.
Dalam surat ensiklik yang sama, Paus Paulus
VI juga menyebutkan kedua aspek perkawinan
yaitu persatuan (union) dan penciptaan
kehidupan baru (pro-creation). Maka usaha
interupsi/ pemutusan terhadap proses
generatif yang sudah berjalan, dan
terutama,aborsi yang dengan sengaja
diinginkan, meskipun untuk alasan terapi,
adalah mutlaktidak termasuk dalam cara-cara
yang diizinkan untuk pengaturan kelahiran.

Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa aborsi menghancur-
kan kehidupan manusia. Aborsi menentang kebajikan keadilan
dan merupakan pelanggaran perintah Jangan membunuh.
Menurutnya, aborsi berasal dari mental hedonistik yang tidak mau
menanggung akibat dalam hal seksualitas, berpusat pada
kebebasan yang egois, yang menganggap pro-creation sesuatu
beban untuk pencapaian cita-cita/ personal fulfillment.
Paus Yohanes Paulus II menyebutkan mentalitas itu mendorong
bertumbuhnya culture of death dalam masyarakat, yang pada
dasarnya menentang kehidupan. Dalam mentalitas ini, bayi/anak-
anak dianggap sebagai beban sehingga muncul budaya aborsi.
Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa Gereja menyadari
bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita
melakukan aborsi. Gereja mengajak para wanita yang telah
melakukan aborsi dan orang-orang yang terkait proses aborsi
termasuk dokter dan juru obat untuk menghadapi segala yang
telah terjadi dengan jujur. Perbuatan aborsi tetap merupakan
perbuatan yang sangat salah dan dosa, namun juga jangan
berputus asa dan kehilangan harapan.
Larangan aborsi sudah berlaku sejak abad
ke-1.
Dalam Didache (Pengajaran dari Kedua
Belas Rasul; 80110), aborsi telah dilarang
secara jelas.
Dalam Didache Bab 2:
Bab 2. Perintah Kedua: Dosa Berat Yang
Dilarang. Dan dalam Perintah kedua
diajarkan : Jangan terlibat pembunuhan, ,
jangan terlibat perjantanan (semburit),
jangan terlibat perzinahan, jangan mencuri,
jangan melakukan praktek-praktek gaib,
sihir, jangan membunuh nyawa bayi melalui
aborsi atau membunuh bayi yang lahir.
Seorang senator di negara bagian
Rhode Island, Patrick Kennedy,
dilarang menerima sakramen komuni.
Hukuman itu dijatuhkan Uskup Thomas
Tobin setelah Patrick mendukung hak
aborsi bagi warga di negara bagian
Amerika Serikat itu.
Sebagai tokoh panutan, Kennedy
dianggap tidak mampu mengemban
ajaran agama secara positif, terutama
terkait aborsi.
Larangan itu telah mendapat
persetujuan dari Gereja dan Keuskupan
Rhode Island
Resiko Aborsi
Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap
kesehatan maupun keselamatan seorang
wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa
jika seseorang melakukan aborsi ia "tidak
merasakan apa-apa dan langsung boleh
pulang".

Ini adalah informasi yang sangat
menyesatkan bagi setiap wanita, terutama
mereka yang sedang kebingungan karena
tidak menginginkan kehamilan yang sudah
terjadi.
Ada 2 macam resiko
kesehatan terhadap
wanita yang
melakukan aborsi
Resiko
Kesehatan
dan
Keselamata
n Secara
Fisik
Resiko
Gangguan
Psikologis
Resiko kesehatan dan
keselamatan secara fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan
aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi
seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku
"Facts of Life" yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd:
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius
disekitar kandungan
4. Rahim yang sobek (uterine perforation)
5. Kerusakan leher rahim (cervical lacerations) yang
akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
Resiko kesehatan dan
keselamatan secara fisik
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon
estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (ovarian cancer)
8. Kanker leher rahim (cervical cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan
menyebabkan cacat
pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat
kehamilan berikutnya
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi
(Ectopic Pregnancy)
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
Resiko Kesehatan Mental
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang
memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan
keselamatan seorang wanita secara fisik,
tetapi juga memiliki dampak yang sangat
hebat terhadap keadaan mental seorang
wanita.

Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi
sebagai "Post-Abortion Syndrome" (Sindrom
Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini
dicatat dalam "Psychological Reactions
Reported After Abortion" di dalam penerbitan
The Post-Abortion Review (1994).
Resiko Kesehatan Mental
Pada dasarnya seorang wanita yang
melakukan aborsi akan mengalami hal-hal
seperti berikut ini:
1. Kehilangan harga diri (82%)
2.Berteriak-teriak histeris (51%)
3.Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi
(63%)
4.Ingin melakukan bunuh diri (28%)
5.Mulai mencoba menggunakan obat
terlarang (41%)
6.Tidak bisa menikmati lagi hubungan
seksual (59%)

Di luar hal-hal tersebut diatas para wanita
yang melakukan aborsi akan dipenuhi
perasaan bersalah yang tidak hilang selama
bertahun-tahun dalam hidupnya.