Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No.

1 Mei 2012, hal 12-20


12
PRODUKSI CALON INDUK UNGGUL IKAN LELE
A. Jauhari, P., S. Muminah., B. Rahman, U. Cahyadi., P. Raharjo., A. Tyas.,
A. Surachman., Subandri., P. Sumedi., D. Fitria., Y. Margono., N. Suherman., A. Sunarma

Abstrak
Perkembangan akuakultur diyakini bergantung pada beragam faktor, diantaranya kebutuhan
pasar, pengembangan dan transfer teknologi terapan, ketersediaan sumber daya alam dan sumber
daya manusia, dorongan investasi serta penyediaan infrastruktur. Namun perkembangan tersebut
masih jarang memanfaatkan program pemuliaan ikan yang efisien dan sistemamatik yang dapat
mendukung peningkatan produksi. dengan target peningkatan produksi yang cukup tinggi tersebut
memerlukan penyelarasan teknologi yang lebih inovatif agar usaha budidaya lele menjadi lebih
efisien. Inovasi budidaya dapat dilakukan baik melalui mendekatan genetic, lingkungan maupun
pakan.
Pendekatan secara genetic perlu diarahkan pada produksi induk dan benih yang memiliki
karakter unggul. Produksi induk dapat dilakukan baik melalui peningkatan mutu genetic maupun
dengan perbanyakan. Melakukan produksi perbanyakan calon induk lele Sangkuriang yang dapat
didistribusikan kepada para pembudidaya atau stake holder lainnya. Menghasilkan calon induk lele
Sangkuriang sebanyak 4.500 ekor ukuran 500-600 gram/ekor. Dari kegiatan yang telah dilakukan
pada tahun 2011 maka diperoleh calon induk sebanyak 500 paket (5000 ekor betina, 2500 ekor
jantan) melebihi dari target yang ditentukan sebanyak 4500 ekor.


PENDAHULUAN
Latar belakang
Perkembangan akuakultur diyakini
bergantung pada beragam faktor,
diantaranya : kebutuhan pasar,
pengembangan dan transfer teknologi
terapan, ketersediaan sumber daya alam dan
sumber daya manusia, dorongan investasi
serta penyediaan infrastruktur. Namun
perkembangan tersebut masih jarang
memanfaatkan program pemuliaan ikan yang
efisien dan sistemamatik yang dapat
mendukung peningkatan produksi,
mengurangi biaya operasional, perbaikan
resistensi terhadap penyakit, perbaikan
pemanfaatan sumber pakan dan perbaikan
kualitas produksi (Gjedrem, 2005). Faktanya,
menurut Gjedrem (2005), lebih dari 90%
proses produksi akuakultur masih
menggunakan induk yang tidak diperbaiki
secara genetic.
Pada kasus akuakultur Indonesia,
penerapan program pemuliaan masih sangat
terbatas pada beberapa spesies ikan budidaya
sehingga pembudidaya umumnya
memanfaatkan induk yang bukan dari hasil
perbaikan mutu dengan penggunaa yang tidak
terkontrol. Hal tersebut telah semakin
mendorong terjadinya penurunan mutu ikan
sehingga dapat menyebabkan penurunan
efisiensi produksi. Contoh kasus penurunan
mutu ikan telah dilaporkan Rustisja (1998)
pada ikan lele dumbo. Dengan ketersediaan
pasar yang tinggi dan keunggulan komparatif
PRODUKSI CALON INDUK UNGGUL IKAN LELE
(A. Jauhari, P., S. Muminah., B. Rahman, U. Cahyadi., P. Raharjo., A. Tyas.,
A. Surachman., Subandri., P. Sumedi., D. Fitria., Y. Margono., N. Suherman., A. Sunarma)

13
budidaya lele dibanding dengan jenis ikan
lainnya, perbaikan mutu genetic lele
diharapkan dapat memberikan kontribusi
yang signifikan bagi peningkatan produksi
akuakultur.
Secara keseluruhan, produksi akuakultur
diproyeksikan dapat meningkat hingga 353%
dari tahun 2009 hingga tahan 2014. Dari
angka tersebut, produksi ikan lele
diproyeksikan dapat menjadi 900.000 ton
atau meningkat hingga 450% sehingga
diharapkan produksinya dapat menjadi salah
satu komoditas terbesar di dunia (KKP, 2010).
Untuk mencapai produksi tersebut, Direktorat
Perbenihan, Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya sudah memproyeksikan kebutuhan
benih ikan lele hingga 7.000.000 ekor dan
kebutuhan induk hingga 2.330.000 ekor pada
tahun 2014. meskipun saat ini diyakini bahwa
teknologi budidaya lele sudah dikuasai oleh
para pembudidaya, namun dengan target
peningkatan produksi yang cukup tinggi
tersebut memerlukan penyelarasan teknologi
yang lebih inovatif agar usaha budidaya lele
menjadi lebih efisien. Inovasi budidaya dapat
dilakukan baik melalui mendekatan genetic,
lingkungan maupun pakan. Pendekatan
secara genetic perlu diarahkan pada produksi
induk dan benih yang memiliki karakter
unggul. Produksi induk dapat dilakukan baik
melalui peningkatan mutu genetic maupun
dengan perbanyakan. Peningkatan mutu
genetic diarahkan untuk memperbaiki
karakteristik induk baik pertumbuhan
maupun daya tahan terhadap penyakit.
Proses produksi tersebut dapat dilakukan baik
melalui pendekatan konvensional sehingga
hibridisasi, introgesi dan seleksi maupun
pendekatan yang lebih modern seperti
manipulasi kromosom dan transgenic.
Sedangkan teknik perbanyakan digunakan
untuk dapat mempertahankan mutu genetic
yang sudah unggul atau menekan tejadinya
penurunan mutu akibat silang dalam.
Tujuan
Melakukan produksi perbanyakan calon
induk lele Sangkuriang yang dapat
didistribusikan kepada para pembudidaya
atau stake holder lainnya.
Target
Menghasilkan calon induk lele
Sangkuriang sebanyak 4.500 ekor ukuran 500-
600 gram/ekor.

METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Kegiatan dilakukan di Balai Besar
pengembangan Budidaya Air Tawar sejak
Januari Desember 2011.
Bahan dan Alat
Bahan
Bahan yang digunakan meliputi : induk
lele Sangkuriang F1, induk lele hasil introgesi
(kelompok SkxAF1, SkxAF2, AF1xSK, AF2xSK),
pakan induk, cacing, pakan larva, pakan benih,
pakan pembesaran, obat-obatan, vit C,
probiotik, hormon ovulasi, pupuk, kapur dan
bahan analis DNA.
Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 1 Mei 2012, hal
14
Alat
Alat yang digunakan meliputi : peralatan
packing, peralatan perikanan, hapa
penetasan, hapa hijau, alat pemijhan, fishing
wader, instalasi hapa, instalasi aerasi, adapt
microscope-camera, bak penetasan dan bak
inkubasi induk.

Gambar 1. Diagram Alir Kegiatan Perbanyakan Calon Induk Lele Sangkuriang

Induk yang digunakan merupakan induk
lele Sangkuriang F1 generasi Tahun 2007.
Pemijahan dilakukan secara buatan dan
serentak dengan jumlah induk sebanyak 30
pasang. Telur yang sudah dibuahi disebar
dalam hapa penetasan yang dipasang dalam
bak fiberglass. Larva yang dihasilkan
dipelihara dalam bak fiberglass bilat (indoor)
dan bak plastic (outdoor) selama 2
(pendederan 1). Pakan yang diberikan berupa
cacing dan pakan larva buatan. Pada akhir
pemeliharaan dilakukan pemanenan benih
dan sortasi ukuran.
Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 1 Mei 2012, hal 12-20
Alat yang digunakan meliputi : peralatan
packing, peralatan perikanan, hapa
penetasan, hapa hijau, alat pemijhan, fishing
wader, instalasi hapa, instalasi aerasi, adapter
camera, bak penetasan dan bak
Prosedur Kerja
Perbanyakan Calon Induk
Prosedur perbanyakan calon induk lele
Sangkuriang mengikuti protocol 01
Perbanyakan Calon Induk Lele Sangkuriang.
Protokol tersebut telah disusun oleh Pusat
Induk Ikan Lele (Gambar 1).
Gambar 1. Diagram Alir Kegiatan Perbanyakan Calon Induk Lele Sangkuriang
Induk yang digunakan merupakan induk
lele Sangkuriang F1 generasi Tahun 2007.
secara buatan dan
serentak dengan jumlah induk sebanyak 30
pasang. Telur yang sudah dibuahi disebar
dalam hapa penetasan yang dipasang dalam
bak fiberglass. Larva yang dihasilkan
dipelihara dalam bak fiberglass bilat (indoor)
ma 2-3 minggu
(pendederan 1). Pakan yang diberikan berupa
cacing dan pakan larva buatan. Pada akhir
pemeliharaan dilakukan pemanenan benih
Benih dipelihara lebih lanjut p
plastic dan kolam tanah selama 4
(pendederan 2). Pakan yang diberikan berupa
pellet komersial ukuran diameter 1 mm dan 2
mm disesuaikan dengan bukaan mulut. Pada
akhir pemeliharaan dilakukan pemanenan
benih dan sortasi ukuran.
Pembesaran dilakukan pada kolam tanah
selama 2-2,5 bulan (pembesaran 1) dan
dilanjutkan 3-4 bulan (pembesaran 2).
Pakanyang diberikan berupa pellet komersial
ukuran 3 mm. pada kahir masa pembesaran 1
dilakukan pemisahan kelamin jantan dan
Prosedur perbanyakan calon induk lele
Sangkuriang mengikuti protocol 01
Perbanyakan Calon Induk Lele Sangkuriang.
Protokol tersebut telah disusun oleh Pusat

Gambar 1. Diagram Alir Kegiatan Perbanyakan Calon Induk Lele Sangkuriang
Benih dipelihara lebih lanjut pada bak
plastic dan kolam tanah selama 4-6 minggu
Pakan yang diberikan berupa
pellet komersial ukuran diameter 1 mm dan 2
mm disesuaikan dengan bukaan mulut. Pada
akhir pemeliharaan dilakukan pemanenan
Pembesaran dilakukan pada kolam tanah
5 bulan (pembesaran 1) dan
4 bulan (pembesaran 2).
Pakanyang diberikan berupa pellet komersial
ukuran 3 mm. pada kahir masa pembesaran 1
dilakukan pemisahan kelamin jantan dan

betinadan masing-masing sortasi sebanyak
50% populasi atau ukuran minimal 100
g/ekor. Hasil sortasi dipelihara kembali secara
komunal dan pada akhir pembesaran
2dilakuak sortasi ukuran diatas 400 g/ekor.
Pembesaran akhir dilakukan di kolam
tanah selama 2-3 bulan untuk mencapai calon
induk ukuran 500-600 g/ekor yang siap untuk
didistribusikan. Pakan yang diberikan berupa
pellet komesial ukuran diameter 3 mm.
Uji Progeni Hasil Introgesi Lele Sangkuriang
Uji progeny ikan hasil kegiatan introgesi
lele Sangkuriang berdasarkan alur kegiatan
seperti pada Gambar 2a. Prosedur kegiatan

Gambar 2.
a) Diagram Alir Kegiatan Introgresi Lele
Sangkuriang. Kegiatan Tahun 2011 pada
Proses yang Dicetak Tebal

HASIL DAN PEMBAHASAN
Perbanyakan Calon Induk
Pemijahan
Pemijahan induk lele dilakukan secara
buatan dengan menggunakan 30 ekor jantan
dan 30 ekor betina. Dari kegiatan yang
PRODUKSI CALON INDUK UNGGUL
(A. Jauhari, P., S. Muminah., B. Rahman, U. Cahyadi., P. Raharjo., A. Tyas.,
A. Surachman., Subandri., P. Sumedi., D. Fitria., Y. Margono., N. Suherman., A. Sunarma

masing sortasi sebanyak
50% populasi atau ukuran minimal 100
ortasi dipelihara kembali secara
komunal dan pada akhir pembesaran
dilakuak sortasi ukuran diatas 400 g/ekor.
Pembesaran akhir dilakukan di kolam
3 bulan untuk mencapai calon
600 g/ekor yang siap untuk
an yang diberikan berupa
pellet komesial ukuran diameter 3 mm.
Uji Progeni Hasil Introgesi Lele Sangkuriang
Uji progeny ikan hasil kegiatan introgesi
lele Sangkuriang berdasarkan alur kegiatan
seperti pada Gambar 2a. Prosedur kegiatan
dapat dilihat pada g
dilakukan secara buatan pada tiap kelompok
induk SkxAF1, SkxAF2, AF1xSK, AF2xSK dan
SKxSK sebagai kontrol. Penetasan telur dan
pemeliharaan benih selanjutnya dari tiap
kelompok dipelihara secara terpisah baik pada
uji progeni maupun pad
Pendedera dilakukan pada bak fiberglass dan
kolam plastik sedangkan pembesaran pada
kolam plastik/tanah dan hapa yang dipasang
di kolam. Uji multilokasi dilakukan di UPT
Pusat/UPTD/UPR yang mewakili kondisi
temperatur perairan relatif di
panas.

Diagram Alir Kegiatan Introgresi Lele
Sangkuriang. Kegiatan Tahun 2011 pada


b) Diagram Alir Kegiatan Progeny Test dan Multilocation
Test pada Introgresi Lele Sangkuriang

Pemijahan induk lele dilakukan secara
buatan dengan menggunakan 30 ekor jantan
dan 30 ekor betina. Dari kegiatan yang
dilakukan diperoleh
sebesar 70 %, derajat penetasan telur
67 %, sintasan 5 hari sebesar 85 %
Pendederan
Pendederan pertama dilakukan di
beberapa kolam terpal, SR yang dihasilkan
PRODUKSI CALON INDUK UNGGUL IKAN LELE
A. Jauhari, P., S. Muminah., B. Rahman, U. Cahyadi., P. Raharjo., A. Tyas.,
A. Surachman., Subandri., P. Sumedi., D. Fitria., Y. Margono., N. Suherman., A. Sunarma)
15
dapat dilihat pada gambar 2b. Pemijahan
dilakukan secara buatan pada tiap kelompok
SkxAF1, SkxAF2, AF1xSK, AF2xSK dan
SKxSK sebagai kontrol. Penetasan telur dan
pemeliharaan benih selanjutnya dari tiap
kelompok dipelihara secara terpisah baik pada
uji progeni maupun pada uji multilokasi.
Pendedera dilakukan pada bak fiberglass dan
kolam plastik sedangkan pembesaran pada
kolam plastik/tanah dan hapa yang dipasang
di kolam. Uji multilokasi dilakukan di UPT
Pusat/UPTD/UPR yang mewakili kondisi
temperatur perairan relatif dingin, hangat dan

Diagram Alir Kegiatan Progeny Test dan Multilocation
Sangkuriang
dilakukan diperoleh derajat pembuahan
, derajat penetasan telur sebesar
sebesar 85 %.
Pendederan pertama dilakukan di
kolam terpal, SR yang dihasilkan
Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 1 Mei 2012, hal 12-20
16
rerata sebesar 44,01 %. benih terseleksi
dengan ukuran rerata panjang 2,09 cm dan
berat 0,106 gram yang dihasilkan sebanyak
70.427 ekor, selanjutnya dilakukan
pemeliharaan pendederan tahap kedua.
Pendederan kedua dilakukan pada kolam
tanah selama 1,5 bulan. Dari hasil kegiatan
didapatkan SR mencapai 53,82 % dengan
rata-rata pertumbuhan panjang mencapai
8,38 cm dan bobot 5,63 gram.
Pembesaran
Tahap berikutnya adalah kegiatan
pembesaran benih ukuran 7-9 cm hasil
seleksi. Pada kegiatan pembesaran pertama
diperoleh sintasan sebesar 78,82 % dengan
pertumbuhan seperti terlihat pada gambar 3.
Pertumbuhan lele Sangkuriang pada
pembesaran pertama yang dilakukan
pemeliharaan selama dua bulan, dihasilkan
calon induk lele dengan berat rerata 129 gram
dan panjang rerata 32,07 cm.
Pembesaran kedua selama empat bulan
menghasilkan calon induk lele dengan berat
rata-rata 518,437 g/e dan panjang rerata
40,73 cm. Pada pembesaran kedua diperoleh
sintasan sebesar 89,92 % (Gambar 4).
Dari kegiatan produksi calon induk lele
Sangkuriang ini menghasilkan calon induk lele
Sangkuriang sebanyak 500 paket (5000 ekor
betina, 2500 ekor jantan).
Diseminasi teknologi budidaya dilakukan
ke daerah pengembangan Diseminasi
teknologi proses produksi meliputi pembinaan
dan diarahkan pada penerapan standar
prosedur operasional pembenihan dan
pembesaran lele Sangkuriang serta bantuan
berupa calon induk ke beberapa daerah
antara lain Kabupaten Cianjur, Bangka
Tengah, Batam, Banyumas, Purbalingga,
Indramayu serta Bogor.



Gambar 3. Grafik Pertumbuhan Lele Sangkuriang pada Pembesaran Pertama
8,38
12,82
16,64
19,43
32,07
5,64
18,06
39,93
66,9
129
0 2 4 6 8
Pertumbuhan Panjang dan Berat pada Pembesaran Pertama
panjang berat
PRODUKSI CALON INDUK UNGGUL IKAN LELE
(A. Jauhari, P., S. Muminah., B. Rahman, U. Cahyadi., P. Raharjo., A. Tyas.,
A. Surachman., Subandri., P. Sumedi., D. Fitria., Y. Margono., N. Suherman., A. Sunarma)

17


Gambar 4. Grafik Pertumbuhan Lele Sangkuriang pada Pembesaran Kedua

Tabel 1. Distribusi Calon Induk Lele Sangkuriang
NO BULAN JUMLAH (PAKET) TUJUAN
Juli 133 Komika - Sukabumi
Agustus 266 Komika - Sukabumi
Oktober 34 Komika - Sukabumi
Nopember 67 Ciparay- Majalaya Kab. Bandung
J U M L A H 500

Uji Progeny
Pemijahan
Pemijahan induk lele dilakukan secara
buatan pada tiap kelompok induk yaitu
SkxAF1, SkxAF2, AF1xSK, AF2xSK, dan SKxSK
sebagai kontrol. Pemijahan buatan ini
menggunakan 4 ekor jantan dan 4 ekor betina
dari masing-masing kelompok silangan. Dari
kegiatan yang dilakukan diperoleh derajat
pembuahan tiap kelompok silangan SkxAF1,
SkxAF2, AF1xSK, AF2xSK, dan SKxSK masing-
masing sebesar 86%, 74,9%, 72,8%, 88,5%,
dan 95,4%. Untuk derajat penetasan telur
pada tiap kelompok silangan SkxAF1, SkxAF2,
AF1xSK, AF2xSK, dan SKxSK masing-masing
sebesar 89,8%, 64,4%, 71,9%, 64,8% dan
69,7%.
Pendederan
Pendederan pertama dilakukan di bak
fiberglass dan kolam plastik. Pendederan
pertama berlangsung selama 14 hari.
Pemeliharaan di bak fiberglass dilakukan pada
indoor hatchery dan setiap bak fiberglass
diberikan water heater sehingga suhu air
selama pemeliharaan terkontrol. Pada
pemeliharaan pendederan 1 yang dilakukan
32,07 33,25 34,67 40,73
129,00
293,70
335,83
518,43
1 2 3 4
Pertumbuhan Panjang dan Berat pada Pembesaran kedua
panjang (cm) berat (g)
Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 1 Mei 2012, hal 12-20
18
pada bak fiberglass menghasilkan tingkat
kelangsungan hidup dari tiap kelompok
silangan SkxAF1, SkxAF2, AF1xSK, AF2xSK, dan
SKxSK yang beragam (Gambar 5).
Pemeliharaan di kolam plastik dilakukan
pada kolam berukuran 12 m selama 14 hari.
Pada pemeliharaan pendederan 1 yang
dilakukan pada kolam plastik menghasilkan
tingkat kelangsungan hidup dari tiap
kelompok silangan SkxAF1, SkxAF2, AF1xSK,
AF2xSK, dan SKxSK yang beragam (Gambar 6).
Tahap selanjutnya dilakukan
pemeliharaan pendederan kedua.
Pendederan kedua dilakukan pada kolam
tanah dan kolam plastik selama 4-6 minggu.
Dari hasil kegiatan didapatkan distribusi
ukuran tiap kelompok silangan SkxAF1,
SkxAF2, AF1xSK, AF2xSK, dan SKxSK yang
beragam (Gambar 7). Setelah proses
penyortiran, kemudian ukuran 5-7 cm dan
ukuran 7-9 cm dari tiap kelompok silangan
dipelihara secara terpisah untuk proses
selanjutnya yaitu pembesaran.
Pembesaran pada uji progeny ini
dilakukan pada hapa yang dipasang di kolam
tanah. Kepadatan pada tiap kelompok
silangan berbeda-beda. Selama masa
pemeliharaan dilakukan sampling
pertumbuhan untuk mengetahui
pertumbuhan panjang dan bobot ikan serta
untuk mengetahui jumlah pakan yang akan
diberikan pada bulan berikutnya. Sampling ini
dilakukan sekali dalam sebulan. Hasil sampling
selama masa pemeliharaan pembesaran
disajikan dalam bentuk grafik (Gambar 8
dan 9).


Gambar 5. Grafik Kelangsungan Hidup Pendederan 1 pada Bak Fiberglass

6,228
1,86 1,904 1,896
2,3
1,532
5,068
1,86
5,444
6,02
SA1 SA2 A1S A2S SK
Kelangsungan Hidup Pendederan 1 pada bak fiberglass
SR (%)
PRODUKSI CALON INDUK UNGGUL IKAN LELE
(A. Jauhari, P., S. Muminah., B. Rahman, U. Cahyadi., P. Raharjo., A. Tyas.,
A. Surachman., Subandri., P. Sumedi., D. Fitria., Y. Margono., N. Suherman., A. Sunarma)

19

Gambar 6 . Grafik kelangsungan Hidup Pendederan 1 pada Kolam Plastik


Gambar 7 . Grafik Distribusi Ukuran pada Pendederan 2 di Kolam Plastik


Gambar 8 . Grafik Pertumbuhan Panjang pada pembesaran
78,872
51,484
88,864
44,484
84,796
63
37,40
49,38
74,66
32,54
SA1 SA2 A1S A2S SK
Kelangsungan Hidup Pendederan 1 pada kolam plastik
SR(%)
14,47
6,47
9,18
22,40
43,21
29,07
33,90
55,39
40,01
61,37
54,37
21,84
2,31 3,09 2,56
0,37
SA1 SA2 A1S A2S SK
Distribusi ukuran pada Pendederan 2
ukuran 4-6 cm (%) ukuran 5-7 cm 9%) ukuran 7-9 cm (%) uk > 9cm (%)
0
5
10
15
20
25
30
1 2 3
Pertumbuhan panjang pada Pembesaran
SA1
SA2
A1S
A2S
SK
Jurnal Budidaya Air Tawar Vol. 9 No. 1 Mei 2012, hal 12-20
20

Gambar 9 . Grafik Pertumbuhan Bobot pada Pembesaran

KESIMPULAN
Dari kegiatan yang telah dilakukan pada
tahun 2011 maka diperoleh calon induk
sebanyak 500 paket (5.000 ekor betina, 2.500
ekor jantan) melebihi dari target yang
ditentukan sebanyak 4500 ekor. Adapun yang
telah didistribusikan sebagai bantuan
sebanyak 148 paket (1.480 ekor betina dan
740 ekor jantan).


DAFTAR PUSTAKA
Nurhidayat, M. A., A. Sunarma, D. Hidajat, B.
Rahman, J. Purwanto. 2000. Rekayasa
peningkatan mutu lele dumbo (Clarias
gariepinus x c. Fuscus). Dalam Laporan
Tinjauan Hasil bagian Proyek Pengembangan
Teknik Budidaya Air Tawar Sukabumi 2000
(Harmurti Adi, et al., eds). Balai Budidaya Air
Tawar Sukabumi. Sukabumi. Hal 53-61
Nurhidayat, M. A., A. Sunarma, J. Trenggana. 2001.
Rekayasa uji keturunan (progeny test) lele
dumbo hasil back cross. Dalam Laporan
Tinjauan Hasil Proyek Pengembangan
Perekayasa Teknologi BBAT Sukabumi 2001
(Harmurti Adi, et al., eds). Balai Budidaya Air
Tawar Sukabumi. Sukabumi. Hal 53-61.

-20
0
20
40
60
80
100
120
1 2 3
B
o
b
o
t

(
g
)
Sampling ke-
Pertumbuhan Bobot pada Pembesaran
SA1
SA2
A1S
A2S
SK

Anda mungkin juga menyukai