Anda di halaman 1dari 15

PAPER

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Dalam era informasi seperti sekarang, kita menggunakan mata dalam posisi

melihat lebih sering dilakukan dari sebelumnya. Kedatangan era komputer, situasi
penglihatan dekat menjadi semakin rumit dan berganti dari melihat pekerjaan pada
permukaan horizontal menjadi ke permukaan vertikal. Layar monitor mempunyai
cahaya sendiri bukan cahaya terpantul dan kita menatap layar monitor berjam-jam
setiap hari, bahkan tanpa cukup berkedip.1,2
Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa operator komputer yang terus
menerus melihat monitor mengalami lebih banyak masalah yang menyangkut mata
dibandingkan dengan pekerja kantor yang tidak memakai monitor. Sejumlah peneliti
telah menunjukkan bahwa gejala penglihatan muncul pada 75-90% pengguna
komputer.3
Penyebab gejala itu adalah kombinasi dari masalah penglihatan individual
yang sudah ada sebelumnya, kondisi tempat kerja yang buruk dan kebiasaan kerja
yang tidak sehat. Survei yang dilakukan oleh optometris menunjukkan bahwa lebih
dari 10 juta pemeriksa mata pertahun di Amerika Serikat dilakukan untuk maslah
penglihatan oleh pengguna komputer. Penelitian tersebut menjabarkan serangkaian
gejala yang kemudian dikenal sebagai sindrom penglihatan pada pemakaian komputer
(Computer Vision Syndrome). Kondisi itu paling sering muncul ketika kebutuhan
melihat yang ditugaskan ternyata melebihi kemampuan penglihatan dari pengguna
komputer.3,4
Berdasarkan American Optometric Association mendefinisikan Computer
Vision Syndrome sebagai masalah mata majemuk yang berkaitan dengan pekerjaan
jarak dekat yang dialami seseorang ketika atau berhubungan dengan komputer. Gejala
bervariasi tetapi kebanyakan menyangkut mata tegang, sakit kepala, mata kabur, mata
kering dan mengalami iritasi, kemampuan memfokuskan mata melambat, sakit pada
leher atau punggung, peka terhadap cahaya. Computer Vision Syndrome adalah
penyebab berbagai efek yang sangat mengganggu produktivitas. Namun belum ada

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

bukti klinis yang menunjukkan bahwa pemakaian komputer menyebabkan masalah


penglihatan jangka panjang.4,5
1.2.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk mengetahui segala sesuatu yang

berhubungan dengan Computer Vision Syndrome mulai dari definisi, penyebab, gejala
hingga pencegahan dan penanganan dari Computer Vision Syndrome. Selain itu,
tujuan penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat menyelesaikan Pendidikan
Profesi Dokter di Departemen Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara / Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Mata
Yang termasuk media refraksi antara lain adalah kornea, pupil, lensa, dan
vitreous. Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Gangguan media refraksi
menyebabkan visus turun (baik mendadak ataupun perlahan).
Bagian berpigmen pada mata : uvea bagian iris, warna yang tampak tergantung
pada pigmen melanin dilapisan anterior iris.6

GAMBAR 2.1. ANATOMI MATA


2.2. Media Refraksi
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri
atas kornea, Aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous (badan kaca), dam
panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media penglihatan
dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan benda setelah
melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah macula lutea. Mata yang normal
disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

diretinanya pada keadaan mata tidak mealakukan akomodasi atau istirahat melihat
jauh.6
2.2.1. Kornea
Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya.
Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi bola mata sebelah depan terdiri
atas 5 lapis, yaitu :
1. Epitel
2. Membran Bowman
3. Stroma
4. Membran Descement
5. Endotel
Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata
di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri
dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakuan oleh kornea.6,7
2.2.2. Aqueous Humor (Cairan Mata)
Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya
tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan
mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk dengan
kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris, turunan khusus
lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea
dan akhirnya masuk ke darah. Jika aqueous humor tidak dikeluarkan sama cepatnya
dengan pembentukannya (sebagai contoh, karena sumbatan pada saluran keluar),
kelebihan cairan akan tertimbun di rongga anterior dan menyebabkan peningkatan
tekanan intraokuler (di dalam mata).6,7
2.2.3. Lensa
Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam
bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris dan

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti cakram yang dapat
menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi.6
Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata
belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di
dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga
mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk
nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu
dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di dalam lensa dapat
dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di bagian luar nukleus ini terdapat
serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa. Korteks yang terletak
di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai korteks anterior, sedangkan
dibelakangnya korteks posterior. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras
dibanding korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat
Zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar.6,7
2.2.4. Vitreous Body (badan kaca)
Badan kaca menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini merupakan gel
transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen, dan molekul asam
hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan kaca mengandung sangat sedikit sel yang
menyintesis kolagen dan asam hialuronat. Peranannya mengisi ruang untuk
meneruskan sinar dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous disebabkan tidak
terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak terdapatnya
kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada pemeriksaan
oftalmoskopi. Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yang
sferis.6,7
2.3. Sistem Lakrimalis
Air mata melewati empat proses yaitu produksi dari aparatus atau sistem sekretori
lakrimalis, distribusi oleh berkedip, evaporasi dari permukaan okular, dan drainase
melalui aparatus atau sistem ekskretori lakrimalis. Abnormalitas salah satu saja dari
keempat proses ini dapat menyebabkan mata kering.7

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

2.3.1 Aparatus Lakrimalis


Aparatus atau sistem lakrimalis terdiri sari aparatus sekretori dan aparatus
ekskretori, yaitu :
1. Aparatus Sekretorius Lakrimalis
Aparatus sekretori lakrimalis terdiri dari kelenjar lakrimal utama, kelenjar
lakrimal assesoris (kelenjar Krausse dan Wolfring), glandula sebasea palpebra
( kelenjar meibom ), dan sel-sel goblet dari konjungtiva. Sistem sekresi terdiri
dari sekresi basal dan refleks sekresi. Sekresi basal adalah sekresi air mta tanpa
ada stimulus dari luar sedangkan refleks sekresi terjadi hanya bila ada rangsangan
eksternal.
2. Aparatus Ekskretorius Lakrimalis
Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan sesuai dengan kecepatan
penguapannya sehingga hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi. Dari
punkta, ekskresi air mata akan masuk ke kanalikulus kemudian bermuara di sakus
lakrimalis melalui ampula. Pada 90% orang, kanalikulus superior dan inferior
akan bergabung menjadi kanalikulus komunis sebeum ditampung dalam sakus
lakrimalis. Di kanalikulus, terdapat katup Rosenmuller yang berfungsi untuk
mencegah aliran balik air mata. Setelah ditampung di sakus lakrimalis, air mata
diekskresikan melalui duktus nasolakrimalis sepanjang 12-18 mm ke bagian akhir
di meatus inferior. Disini juga terdapat katup Hasner untuk mencegah aliran
balik.7

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

GAMBAR 2.3 SISTEM LAKRIMALIS


2.4 Computer Vision Syndrome
Computer Vision Syndrome adalah sebuah kondisi yang terjadi pada orangorang yang bekerja pada monitor komputer. Faktor faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya Computer Vision Syndrome adalah posisi yang tidak tepat seperti
duduk terlalu dekat ke monitor komputer, pencahayaan yang kurang, bertambahnya
tatapan ke layar dan frekuensi berkedip yang berkurang.3
Survei yang dilakukan oleh American Optometric Association (AOA) tahun
2004

menunjukkan

bahwa

61%

masyarakat

Amerika

Serikat

mengalami

permasalahan yang sangat serius pada penglihatan yang disebabkan oleh penggunaan
komputer dalam waktu lama. Banyak penelitian menunjukkan timbulnya Computer
Vision Syndrome pada pengguna komputer. American Optometric Association (AOA)
dan Federal Occupational Safety and Health Administration meyakini bahwa
Computer Vision Syndrome dimasa mendatang akan sangat banyak dikeluhkan para
pekerja.4
Gejala Computer Vision Syndrome dibedakan menjadi tiga bagian yaitu gejala
pada mata, gejala muskuloskeletal dan gejala umum. Sekitar 75-90% pengguna
komputer mengeluhkan gejala oftalmikus. Jenis jenis gejala oftalmikus yang dapat
dialami adalah mata lelah (asthenophia), mata kering, mata merah, kabur tegang, mata
terasa terbakar dan berair. 4
7

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

Berbagai gejala yang timbul pada pekerja komputer yang bekerja dalam waktu
yang lama selain diakibatkan oleh cahaya yang masuk ke bola mata, juga dikarenakan
mata seorang pekerja ketika menatap komputer maka kedipan mata berkurang sebesar
2/3 kali lebih sedikit dibandingkan normal. Berkurangnya kedipan mata menjadi
kering, teriritasi, tegang, lelah dan terasa terbakar.5
2.5 Penyebab
Biasanya orang kurang berkedip ketika bekerja dengan komputer sedangkan
berkedip penting untuk menjaga mata tetap lembab dan rileks. Kurang
berkedip menyebabkan penguapan airmata berlebihan dan mata menjadi
kering.
Beberapa orang sudah mempunyai masalah seperti koordinasi mata dan
pemfokusan yang tidak jelas terlihat pada aktivitas lain, tetapi menjadi
masalah besar ketika menggunakan komputer.
Komputer yang sering dipakai sedimikian rupa sehingga membuat mata
bekerja terlalu keras.

Jenis huruf komputer yang dipakai terlalu kecil

Pantulan dari sumber cahaya didekatnya

Monitor mungkin diletakkan terlalu tinggi untuk penglihatan normal


mata

Orang yang berusia 40 tahun dan memakai kacamata bifokal atau kacamata
baca sering mengalami masalah karena kacamata mereka terlalu diukur untuk
melihat buku yang dipegang 40cm jauhnya, dibandingkan dengan layar
monitor yang biasanya terletak 60 cm dari mata pengguna komputer.5,6

2.6 Gejala Klinis


Gejala-gejala dari Computer Vision Syndrome dikarateristikkan dengan sensasi
panas, berair, perasaan berat pada kelopak mata, nyeri dimata, sakit kepala, dan lainlain. Gejala-gejala dibawah ini mungkin pernah dirasakan oleh penderita Computer
Vision Syndrome , yaitu :
1.

Mata kering

2.

Kelelahan pada mata


8

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

3.

Iritasi mata

4.

Sakit kepala

5.

Penglihatan yang kabur

6.

Sensitif terhadap cahaya

7.

Penglihatan ganda

8.

Ketidakmampuan memfokuskan objek dalam jarak tertentu (pseudomyopia)

9.

Nyeri leher dan bahu

10.

Lemas dan lelah 5

Mata Tegang
Mata tegang adalah salah satu istilah kabur yang memiliki arti yang berbeda-beda
bagi banyak orang. Istilah yang dipakai oleh spesialis mata untuk mata tegang
adalah asthenopia. Asthenophia adalah keluhan subjektif penglihatan berupa
penglihatan yang tidak nyaman, sakit, dan kepekaannya berlebihan. Asthenopia
dapat disebabkan oleh masalah seperti otot mata kejang ketika memfokus, ada
perbedaan penglihatan dikedua mata, astigmatisma, hipermetropia (rabun jauh),
miopia (rabun dekat), cahaya berlebihan, kesulitan koordinasi mata dan lain-lain.
Di dalam lingkungan pemakaian komputer, mata tegang dapat disebabkan oleh
kondisi lingkungan dan penglihatan yang berbeda-beda.3,4

Kelelahan Mata
Mata lelah, tegang atau pegal adalah gangguan yang dialami mata karena ototototnya yang dipaksa bekerja keras terutama saat harus melihat objek dekat dalam
jangka waktu yang lama. Otot mata sendiri terdiri dari tiga sel-sel otot eksternal
yang mengatur gerakan bola mata, otot ciliary yang berfungsi memfokuskan lensa
mata dan otot iris yang mengatur sinar yang masuk kedalam mata. Semua
aktivitas yang berhubungan dengan pemaksaan otot-otot tersebut untuk bekerja
keras, sebagaimana otot-otot yang lain akan bisa membuat mata mengalami
gangguan ini. Gejala mata terasa pegal biasanya akan muncul setelah beberapa
jam kerja. Pada saat otot mata menjadi letihm mata akan menjadi tidak nyaman
atau sakit.4

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

Mata kering dan iritasi


Permukaan depan mata diliputi oleh suatu jaringan yang mengandung kelenjar

yang menghasilkan air, mukus, dan minyak. Ketiga lapisan itu disebut air mata yang
membatasi permukaan mata dan mempertahankan kelembaban yang diperlukan agar
mata dapat berfungsi dengan normal. Air mata juga membantu mempertahankan
keseimbangan oksigen yang tepat pada struktur mata bagian depan dan untuk
mempertahankan sifat optik sistem penglihatan. Lapisan air mata dalam keadaan
normal dihapus dan disegarkan kembali oleh kelopak mata dengan cara berkedip.5
Refleks berkedip adalah salah satu refleks yang paling cepat pada tubuh manusia
dan sudah ada sejak lahir. Kecepatan berkedip permenit berbeda-beda pada berbagai
aktivitas. Berkedip lebih cepat bila sedang aktif, dan lebih lambat bila mengantuk atau
sedang berkonsentrasi. Penelitian telah menunjukkan bahwa kecepatan berkedip
pengguna komputer turun secara bermakna pada saat bekerja didepan komputer
dibandingkan dengan sebelum atau sesudah kerja. Penjelasan mengapa kecepatan
berkedip berkurang antara lain karena konsentrasi pada tugas atau kisaran gerak mata
yang relatif terbatas. Besarnya bukaan mata terkait dengan arah pandangan. Makin
tinggi pandangan yang diarahkan, mata akan terbuka lebih lebar. Banyaknya
penguapan ada kaitannya dengan besarnya bukaan mata. Bila memandang monitor
yang lebih tinggi, bukaan mata lebih lebar dan penguapan air mata lebih banyak.
Sudut pandangan yang lebih tinggi mungkin pula mengakibatkan banyak kedipan
yang tidak lengkap.4,5
2.7. Patofisiologi
Computer Vision Syndrome disebabkan oleh penurunan refleks berkedip saat
bekerja dalam waktu yang lama dan fokus pada layar komputer. Frekuensi berkedip
normal adalah 16-20 kali per menit. Studi menunjukkan frekuensi berkedip menurun
hingga 6-8 kali per menit pada pekerja yang menggunakan komputer. 8
Pemfokusan dalam jarak dekat untuk durasi yang lama memaksa kerja dari otot
siliaris pada mata. Hal ini memicu gejala-gejala astenophia dan memberi rasa lelah
pada mata setelah bekerja dalam waktu yang lama. Beberapa orang dengan umur 3040 tahun mengeluhkan ketidakmampuan dalam memfokuskan objek-objek dekat
10

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

setelah bekerja dalam waktu yang singkat, yang berakhir pada penurunan mekanisme
fokus akomodasi dari mata dan presbyopia. 8
Selain itu, tampilan dan huruf-huruf dimonitor komputer bervariasi dalam
intensitas cahaya, yang mana juga menambah nilai kontras yang rendah. Hal ini
menyebabkan mata harus tetap fokus secara spontan untuk menjaga ketajaman
gambar sehingga memaksa kerja dari otot siliaris pada mata. Kelemahan akomodasi
juga meningkatkan kerja dari otot siliaris pada mata.5,6
2.8. Diagnosis
Diagnosis Computer Vision Syndrome dapat dilakukan :
1. Pemeriksaan ocular
2. Direct opthalmoscopy
3. Visual acuity
4. Tonometry5
2.9. Pencegahan
1. Letakkan monitor 40-60 cm dari mata, tergantung kenyamanan. Duduk tegak
santai.
2. Monitor sebaiknya dipasang 10-20 cm lebih rendah dari mata, jadi dapat melihat
lebih ke bawah. Layar monitor sebaiknya dimiringkan sedikit ke atas, seperti
ketika sedang membaca sebuah buku atau majalah. Dengan melihat kearah bawah,
mata lebih tertutup sehingga penguapan air mata dari permukaan yang tersingkap
lebih sedikit.
3. Tempatkan sumber cahaya pada bidang tegak lurus terhadap komputer, sehingga
cahayanya tidak menyilaukan mata dan tidak terlihat pantulannya pada layar
monitor. Jika mempunyai masalah kesilauan yang disebabkan pemantulan,
pertimbangkan untuk memasang sebuah filter monitor atau pasang sebuah penutup
berisisi tiga pada komputer.
4. Gunakan jenis huruf yang cukup besar. Cobalah menggunakan berbagai jenis huruf
dan warna latar belakang yang berbeda untuk menemukan kombinasi mana yang
lebih mudah yang dapat dibaca.
5. Atur monitor pada kontras yang dirasakan paling nyaman.
11

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

6. Berusahalah untuk berkedip lebih sering.


7. Seringlah mengistirahatkan mata sejenak yaitu denagn tidak melihat ke layar
monitor atau tutuplah mata secara berkala selama beberapa detik/menit. Setelah
bekerja dengan komputer selama dua jam pejamkan mata sementara.
8. Orang yang berusia lebih dari 40 tahun yang menggunakan kacamata bifokal
mungkin membutuhkan kacamata khusus untuk memakai komputer.5,6
2.10. Penatalaksanaan
Mata kering lebih sering menjadi target terapi pada Computer Vision
Syndrome . Penggunaan larutan counter artificial tear dapat mereduksi efek-efek mata
kering pada Computer Vision Syndrome . Gejala-gejala asthenopia dapat direduksi
dengan mengisitirahatkan mata beserta ototnya. Berkedip rutin juga dianjurkan untuk
membantu pengisian kembali dari tear film. Untuk mengurangi kerja dari otot siliaris
dapat dibantu dengan sesekali melihat keluar jendela dan menatap langit.8
Setiap 20 menit, fokuskan mata pada objek berjarak 20feet (6 meter) selama
20 detik. Hukum ini dikenal dengan 20-20-20 rule. Selain ini juga bisa dianjurkan
untuk menutup kedua mata selama 20 detik, dilakukan sesering mungkin atau
sekurangnya dalam waktu setengah jam. Kemampuan fokus yang menurun dapat
dikurangi keparahannya dengan memakai kacamata positif berkekuatan kecil (+1
sampai dengan +1.5). kacamata ini akan membantu penderita untuk mengembalikan
kemampuan fokus penderita.8,9
2.11. Lamanya Penggunaan Komputer dengan Gejala Computer Vision
Syndrome
Peningkatan jumlah keluhan oftalmikus dan lamanya waktu bekerja ditemukan
berkaitan erat. Penelitian di University of South California mengkategorikan
penggunaan komputer menjadi tiga kategori yaitu kategori ringan (kurang dari 2 jam),
sedang (2-4 jam), dan berat (lebih dari 4 jam) per hari. Menurut penelitian
menunjukkan hampir stetengah dari pengguna komputer menggunakan komputer
secara terus menerus tanpa istirahat lebih dari 2 jam per harinya. Gejala oftalmikus
timbul setelah 2 jam penggunaan komputer secara terus-menerus. 8,10
2.12. Jarak Monitor dengan Gejala Computer Vision Syndrome
12

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

Postur tubuh pada saat bekerja dengan komputer umumnya dalam posisi duduk.
Pengguna komputer harus mempertahankan postur tubuh dengan posisi kepala,
tangan, dan telapak tangan pada keadaan yang tetap. 9,10
Untuk meminimalisasi timbulnya gejala Computer Vision Syndrome pada para
pengguna komputer adalah pengaturan jarak monitor dengan mata dan hal ini tidak
lepas dari ukuran huruf pada komputer. Jarak ideal monitor komputer dengan mata
pengguna komputer adalah 50 cm.9,10

BAB 3
KESIMPULAN
Computer Vision Syndrome adalah sebuah kondisi yang terjadi pada orangorang yang bekerja pada monitor komputer. Faktor faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya Computer Vision Syndrome adalah posisi yang tidak tepat seperti
duduk terlalu dekat ke monitor komputer, pencahayaan yang kurang, bertambahnya
tatapan ke layar dan frekuensi berkedip yang berkurang.
Survei yang dilakukan oleh American Optometric Association (AOA) tahun
2004

menunjukkan

bahwa

61%

masyarakat

Amerika

Serikat

mengalami

permasalahan yang sangat serius pada penglihatan yang disebabkan oleh penggunaan
13

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

komputer dalam waktu lama. Banyak penelitian menunjukkan timbulnya CVS pada
pengguna komputer. American Optometric Association (AOA)

dan Federal

Occupational Safety and Health Administration meyakini bahwa Computer Vision


Syndrome dimasa mendatang akan sangat banyak dikeluhkan para pekerja.
Ada bebrapa faktor yang bisa menyebabkan munculnya Computer Vision
yndrome, yaitu jenis atau karakteristik monitor komputer, lamanya pengguna
komputer, serta adanya kelainan refraksi pada pengguna. Pemakaian kacamata yang
tidak tepat atau melepas kacamata pada pengguna komputer dengan kelainan refraksi
baik minus maupu plus akan emmperburuk Computer Vision Syndrome yang terjadi.
Ini dikarenakan mata terpaksa melakukan akomodasi atau penyesuaian terhadap jarak
objek secara kuat.
Gejala Computer Vision Syndrome yaitu mata kering, lelah mata, sakit kepala,
iritasi mata, sensasi benda asing, penglihatan kabur, sensitif terhadap cahaya,
penglihatan ganda dan lain-lain.
Untuk pencegahan dari Computer Vision Syndrome adalah dengan cara jaga
jarak komputer dengan mata minimal 50 cm, atur posisi monitor, atur pencahayaan
sehingga tidak ada pantulan cahaya yang menyilaukan, berkediplah lebih sering untuk
menjaga mata agar tidsk kering, istirahatkanlah mata setiap 2-3 jam sekitar 10 menit
untuk mencegah kelelahan pada mata, mengkonsumsi vitamin A agar mata tetap sehat.
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Description and classification of vi- sual display
terminals. In: Visual display terminals and workers health. Geneva: WHO
offset publication; 1987;99:22-7.
2. World Health Organization. Effects on the eyes and vision. In: Visual display
terminals and workers health. Geneva: WHO offset publica- tion; 1987;99:85103.
3. Izquierdo, Natalio J.; Townsend, William. Computer Vision Syndrome.
Medscape Reference: Drugs, Diseases & Procedures. WebMD LLC.
http://emedicine.medscape.com/article/1229858#showall.
4. Computer
Vision
Syndrome. American
Optometric

Association

http://www.aoa.org/

14

PAPER
DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN USU/ RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

NAMA : MAYA FITRIE NADYA LBS


NIM
: 090100176

5. Kundart, James; John R. Hayes, Yu-Chi Tai, Jim Sheedy (2007). Gunnar
Optiks Study: Accommodation and Symptoms (2007). Pacific University
Oregon: Common Knowledge. http://commons.pacificu.edu/verg/2/.
6. West CE, Asbury T. In Riordan-Eva P, Whitcher JP, editors. Oftalmology
Umum Vaughen & Asbury [ B. Pendit, trans]. 17th ed. Jakarta. EGC; 2008
7. Friedman, NJ; Kaiser, PK. Ocular Anatomy, Physiology, and Embryology. In
Essentials of Opthalmology. First. London. Elsevier Saunders 2007. 1-17
8. American Optometric Association (AOA), 2003. Computer Vision Syndrome
(CVS.) Available from: http://www.aoa.org/x5374.xml. (Accessed 9 Febr.
2011).
9. Bali, J.; N. Navin and B.R. Thakur, 2007. Computer Vision Syndrome: A
Study of the Knowledge, Attitudes nd Practices in Indian Ophthalmologists.
Indian J. Ophthalmol. 55: 289-294.
10.Barar, A.; I.D. Apatachioaie; C. Apatachioaie and B.L. Marceanu, 2007.
Ophthalmologist and Computer Vision Syndrome. Ophthalmologia 51 (3):
104-109.

15

Beri Nilai