Anda di halaman 1dari 6

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Kegiatan Surveilans

Epidemiologi Penyakit Demam Berdarah Tingkat Puskesmas


di Kabupaten Jepara Tahun !"#
Demam berdarah masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di
seluruh daerah tropis dan sub-tropis di dunia. Penyakit demam berdarah dengue
merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan
oleh nyamuk Aedes aegypti, dengan peningkatan 30 kali lipat dalam insiden
global selama 50 tahun terakhir. Organisasi esehatan Dunia !"#O$
memperkirakan bah%a populasi di dunia yang berisiko terhadap penyakit D&D
men'apai (,5-3 miliar terutama yang tinggal di daerah perkotaan di negara tropis
dan subtropis. )aat ini juga diperkirakan ada 50 juta infeksi dengue yang terjadi di
seluruh dunia setiap tahun. Diperkirakan untuk *sia +enggara terdapat ,00 juta
kasus demam berdarah dengue !D&D$ dan 500.000 kasus D&D yang memerlukan
pera%atan di rumah sakit, dan -0. penderitanya adalah anak-anak yang berusia
kurang dari ,5 tahun dan jumlah kematian oleh penyakit D&D men'apai 5.
dengan perkiraan (5.000 kematian setiap tahunnya !"#O, (0,($.
Data dari seluruh dunia menunjukkan bah%a *sia menempati urutan
pertama dalam jumlah penderita D&D setia tahunnya. )ementara itu, terhitung
sejak tahun ,-/0 hingga (00-, "#O men'atat negara 1ndonesia sebagai negara
dengan kasus D&D tertinggi di *sia +enggara dan tertinggi nomor dua di dunia
setelah +hailand !emenkes, (0,0$.
Pada tahun (0,(, jumlah penderita D&D yang dilaporkan sebanyak -0.(25
kasus dengan jumlah kematian /,0 orang !Incidence Rate/ *ngka esakitan3
34,,, per ,00.000 penduduk dan 5673 0,-0.$. +erjadi peningkatan jumlah kasus
pada tahun (0,( dibandingkan tahun (0,, yang sebesar 05.4(5 kasus dengan 17
(4,04. +arget 7enstra angka kesakitan D&D tahun (0,( sebesar 53 per penduduk,
dengan demikian 1ndonesia telah men'apai target 7enstra (0,( !emenkes
71,(0,($.
Penyakit D&D masih merupakan masalah serius di Provinsi 8a%a tengah,
terbukti 35 kabupaten9kota sudah pernah terjangkit penyakit D&D. *ngka
kesakitan9 Incindence Rate !17$ D&D di Provinsi 8a%a +engah pada tahun (0,3
sebesar 3/,39,00.000 penduduk, meningkat bila dibandingkan tahun (0,( sebesar
,-,(-9,00.000 penduduk dan tahun (0,,sebesar ,5,(49,00.000 penduduk,
sementara masih dalam target nasional yaitu :(09,00.0000 penduduk. *ngka
kesakitan tertinggi di abupaten 8epara sebesar ,5/,09,009000 penduduk,
terendah di abupaten "onogiri sebesar 2,29,00.000 penduduk !Dinkes Prov
8ateng, (0,3$.
*ngka kematian9 Case Fatality Rate !567$ D&D tahun (0,3 sebesar
,,(,. menurun bila dibandingkan dengan tahun (0,( sebesar ,,5(., tetapi tetap
lebih tinggi dari target nasional :,.. *ngka kematian D&D tertinggi di Provinsi
8a%a +engah adalah di abupaten +egal sebesar 5,5. dan tidak ada kematian di -
kabupaten9kota. )edangkan kabupaten9kota dengan angla kematian ;,. sebanyak
,4 kabupaten9kota !Dinkes Prov 8ateng, (0,3$.
abupaten 8epara yang sebagian besar %ilayahnya merupakan daerah
pantai dan dataran rendah, merupakan daerah endemid D&D. +erjadi peningkatan
angka kejadian D&D setiap tahunnya, pada tahun (0,3 abupaten 8epara
menempati posisi pertama di 8a%a +engah dengan angka kesakitan9 Incindence
Rate !17$ sebesar ,5/,09,00.000 penduduk dengan 567 sebesar 0,0..
)urveilans epidemiologi merupakan pengamatan penyakit pada populasi
yang dilakukan se'ara terus-menerus dan berkesinambungan, untuk menjelaskan
pola penyakit, mempelajari ri%ayat penyakit dan memberikan data dasar untuk
pengendalian dan penanggulangan penyakit tersebut. )urveilans epidemiologi
tidak terbatas pada pengumpulan data, tetapi juga tabulasi, analisis dan
interpretasi data serta publikasi dan distribusi informasi. 8enis data yang
dikumpulkan juga menyangkut subyek yang sangat luas, tidak hanya data
kesakitan, kematian, %abah, data rumah sakit tetapi lebih luas termasuk data
tentang faktor risiko individu, demografis maupun lingkungan. Dalam masalah
penyakit D&D, surveilans penyakit men'akup empat aspek yaitu !,$ surveilans
kasus, !($ vektor !termasuk ekologinya$, !3$ peran serta masyarakat dan !2$
tindakan pengendalian.
Dari kegiatan surveilans epidemiologi yang dilakukan masih terdapat
beberapa kendala. #asil analisis perkiraan %aktu terjadinya <& seringkali tidak
tepat. #al ini dipengaruhi oleh tingginya mobilitas penduduk, dimana kasus D&D
disuatu daerah terjadi akibat virus yang diba%a penduduk dari daerah lain. =paya
intervensi yang dilakukan !fogging$ terbatas pada pengendalian penyakit agar
kejadian D&D tidak meluas dan belum mampu mendeteksi seberapa besar
kemungkinan suatu daerah akan terjadi kasus D&D.
>asalah lain, data yang didapatkan dari form?P@ kurang lengkap karena
hanya meliputi pemeriksaan jentik dan pen'arian penderita baru yang terbatas
hanya di sekitar kasus. )edangkan faktor risiko lain yang berkaitan dengan
perilaku dan lingkungan !kebiasaan P)A, kebiasaan menggantung pakaian,
adanya tempat yang dapat menampung air hujan dan lain-lain$ belum ada. Data
P@ tahun lalu yang berupa house indeB !#1$ juga sering berubah, sehingga data
angka tersebut tidak dapat dijadikan pedoman untuk intervensi saat ini. =ntuk itu
diperlukan identifikasi faktor-faktor risiko terjadinya demam berdarah di suatu
%ilayah yang dilakukan tepat sebelum masa penularan sehingga dapat ditempuh
langkah antisipasi dalam rangka ke%aspadaan dini.
Penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan )urveilans epidemiologiC
6aktor-faktor yang &erhubungan dengan eterlambatan Petugas dalam
>elaksanakan Penyelidikan @pidemiologi Demam &erdarah Dengue !D&D$
Puskesmas di ota )emarang +ahun (0,0 !@ni #aryanti, (0,0$
#asil PenelitianC
- +erdapat hubungan antara imbalan !p30,002$, beban kerja !p30,003$ dan
motivasi !p30,0/$ dengan keterlambatan petugas dalam melaksanakan
penyelidikan epidemiologi Demam &erdarah Dengue !D&D$ Puskesmas
di ota )emarang.
- +idak ada hubungan antara pengetahuan !p30,/5,$, ketersediaan tenaga
!p30,000$, persepsi !p3,,000$ dan sikap !p3,,000$ dengan keterlambatan
petugas dalam melaksanakan penyelidikan epidemiologi Demam &erdarah
Dengue !D&D$ Puskesmas di ota )emarang.
6aktor yang &erhubungan dengan inerja Petugas esehatan dalam Diagnosis
Pneumonia dalam Diagnosis Pneumonia &alita pada )istem )urveilans
Pneumonia di abupaten &angli +ahun (000 !1 Dusti *gung etut )uardiana,
(00-$
#asil penelitianC
,. arakteristik individu yang berhubungan se'ara bermakna dengan kinerja
adalah pendidikan !p 3 0,05$ dan kemampuan !p 3 0,02-$, sedangkan yang
tidak berhubungan se'ara bermakna adalah umur !p 3 0,-5/$, jenis
kelamin!p 3 0,-0($, status perka%inan !p 3 0,-/4$ dan pelatihan !p 3
0,/53$.
(. 6aktor psikologis yaitu motivasi !p 3 0,/4($, persepsi !p 3 0,(00$ dan
sikap !p 3 0,3-/$, tidak berhubungan se'ara bermakna dengan kinerja.
3. arakteristik organisasi yaitu kepemimpinan !p 3 0,5(0$, supervisi !p 3
0,/,,$, penghargaan !p 3 0,0/5$, suasana lingkungan kerja !p 3 0,0/5$ dan
koordinasi !p 3 0,-/0$, tidak berhubungan se'ara bermakna dengan
kinerja.
2. arakteristik pekerjaan yaitu umpan balik !p 3 0,2,,$, masa kerja !p 3
0,245$ dan beban kerja !p 3 0,-03$, tidak berhubungan se'ara bermakna
dengan kinerja.
6aktor-faktor yang &erhubungan dengan eterlambatan Petugas dalam
>enyampaikan <aporan <& dari Puskesmas ke Dinas esehatan !)tudi di ota
)emarang$ !)utarman, (00/$
#asil penelitianC
6aktor-faktor yang terbukti berhubungan dengan keterlambatan petugas dalam
menyampaikan laporan <& dari Puskesmas ke Dinas esehatan adalahE <ama
tugas : ,2 tahun O73 3,-, !-5 . 513,,0/ ? ,2,,2$, lama menangani <& ; 0
tahun O732,0/ !-5. 51 3 ,,(- ? ,/,//$, tidak pahamnya petugas mulai lapor
<& O73 5,-0 !-5. 513 ,,40 ? (0,/4$, tidak ada %-, di Puskesmas O73 5,(3
!-5. 51 3 ,,3/ ? ,-,4-, tugas rangkap O73 5,/- !-5. 513 ,,35 ? (5,4-$, tidak
ada motivasi dari pimpinan Puskesmas O73 4,-( !-5. 513 ,,(2 ? (4,-4$ dan
tidak ada perhatian dari pimpinan Puskesmas O735,-5 !-5. 513 ,,44 ? (0,0($.
6aktor yang tidak terbukti berhubungan adalah faktor pendidikan, lama tugas,
pelatuhan surveilans epidemiologi, faktor pemahaman petugas untuk penentuan
<& dan kebijakan pimpinan puskesmas.
6aktor-faktor yang &erhubungan dengan inerja Petugas )urveilans @pidemiologi
Penyakit >alaria +ingkat Puskesmas di abupaten ebumen +ahun (0,( !Oliva
FirviGat Prasastin, (0,3$
#asil penelitianC
- +erdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan !p30,0,0$
dan ketersediaan sarana !p30,002$ dengan kinerja petugas surveilans
epidemiologi penyakit malaria tingkat puskesmas di abupaten kebumen
tahun (0,(.
- +idak ada hubungan antara jenis kelamin !p30,3,0$, lama kerja !p30,024$,
tingkat pendidikan !p3,,000$, pelatihan surveilans !p30,-//$, disiplin
kerja )OP !p30,,00$, dan pemberian motivasi !p30,-44$ dengan kinerja
petugas surveilans epidemiologi penyakit malaria tingkat puskesmas di
abupaten kebumen tahun (0,(.
&eberapa 6aktor Petugas yang &erhubungan dengan Pelaksanaan )urveilans
@pideimiologi >alaria +ingkat Puskesmas di abupaten Pur%orejo !Aur hayati,
(0,($
#asil penelitianC
- +erdapat hubungan antara lama kerja !p30,0,/$ dan tingkat pendidikan
!p30,0(5$ dengan hasil pelaksanaan kegiatan surveilans amalaria tingkat
puskesmas di abupaten Pur%orejo.
- +idak ada hubungan antara tingklat pengetahuan !p30,50-$, sikap petugas
!p30,(42$, dukungan pimpinan !p3,,000$ dan kelengkapan sarana
!p30,5-0$ dengan hasil pelaksanaan kegiatan surveilans malaria tingkat
puskesmas di abupaten Pur%orejo.
Pengaruh )umber Daya Organisasi Puskesmas terhadap inerja Petugas
)urveilans @pidemiologi dalam Pelaporan esehatan 1bu dan *nak !1*$ di
abupaten &ireuen !)afriGal, (00-$
#asil penelitianC
#asil penelitian menunjukkan bah%a dari - variabel independen yang diteliti,
setelah dianalisis dengan uji Chi Square terdapat 0 variabel yang berhubungan
se'ara signifikan dengan kinerja petugas surveilans epidemiologi 1* yaitu
variabel pendidikan, pengetahuan, keterampilan, motivasi, dana dan prosedur
kerja !p:0,05$. #asil uji regres linier berganda didapat variabel yang berpengaruh
se'ara signifikan terhadap kinerja petugas adalah pengetahuan, motivasu dan
prosedur kerja !p:0,05$. 6aktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja
petugas surveilans epidemiologi 1* adalah motivasi !koefisien-H 3 0,24/$.